Beng Ciang Hong In Lok Jilid 62

Mode Malam
 
Ternyata Hong-lay-mo-li telah menduga, bahwa mata- mata musuh yang berhasil menyusup ke Kim-kee-leng itu akan berusaha menggagalkan segala rencananya. Maka itu sebelum hal itu terjadi Cee-cu telah mengatur penjagaan dengan ketat. Dia tahu Ci Giok Hian cerdik dan cermat. Khie Kie berasal dari keluarga yang terkenal, pengetahuannya tentang racunpun melebihi orang lain. Karena itu kedua nona itu diminta mengawasi dan memeriksa makanan di dapur dan ternyata hasilnya cukup memuaskan. Mereka menemukan racun dalam makanan yang disediakan untuk Han Hie Sun sehingga usaha pembunuh gelap itu gagal total.

"Padahal manusia macam Han Hie Sun pantas mampus diracun orang," kata Khie Kie sambil tertawa.

"Hal itu harus kita pikirkan lebih lanjut, aku ingin memberi kesempatan pada Han Hie Sun untuk memperbaiki kesalahannya" kata Hong-lay-mo-li sambil tertawa. "Kaum pendekar harus bisa berpikir dan bertindak bijaksana, betapapun kita tak akan sem-barangan membunuh orang. Kecuali jika orang itu memang jahat dan tidak mungkin diberi ampun lagi."

Mendengar ucapan itu Seng Liong Sen agak tersinggung dan terharu, disamping itu dia malu juga Tapi dia sangat berterima  kasih  pada  Hong-lay-mo-li  dan  kenalan  lama yang telah memberi kesempatan kepadanya agar dia menjadi manusia baru. Hong-lay-mo-li berkata pula pada Sen Liong Sen.

"Ada seorang kawan yang akan ikut kau ke Kang-lam, aku harap kau tak akan menolaknya." kata Hong-lay-mo-li.

Saat Seng Liong Sen hendak bertanya siapa kawan yang dimaksud, tiba-tiba dua anak buah Kim-kee-leng telah membawa masuk seorang pemuda, dia Han Hie Sun. Han Hie Sun yang mengira dia akan dihina dan disiksa sebelum dibunuh, jadi nekat dan tetap bersikap angkuh.

"Jika kalian akan membunuhku, silakan bunuh saja! Seorang lelaki sejati lebih baik mati daripada dihina. Jangan kalian harap kalian akan bisa mengorek sesuatu dariku." kata Han Hie Sun.

"Bagus, ucapanmu sesuai dengan dirimu sebagai putra Perdana Menteri, tetapi untuk mengaku sebagai lelaki sejati... Huh, rasanya masih jauh dari tingkah-lakumu," ejek Hong-laymo-li. "Hm, mungkin dalam pandanganmu kami ini penjahat Tapi sasaran kami hanya pada kaum pembesar korup dan hartawan jahat! Kami tidak pernah membuat susah rakyat jelata. Malah kami berdiri di pihak rakyat untuk bersama-sama membela negara dan bangsa. Sebaliknya pembesar seperti kalian, ayah dan anak yang bersekongkol dengan musuh, sungguh memalukan! Kalian ingin menggunakan Wan-yen Tiang Cie sebagai sandaran, tapi Wan-yen Tiang Cie sendiri mengekor ke pihak Mongol. Jadi kalian boleh dikatakan cuma budak-budaknya belaka. Ingat, seorang Bu-su Mongol saja berani meremehkan kau, bahkan mau membunuhmu .Sungguhnya menjadi budaknyapun tidak mudah, apa memang itu berharga bagimu?" Mendengar kata-kata itu Han Hie Sun malu, apa yang diucapkan Hong-lay-mo-li, memang benar dan nyata. Tidak ada kata-kata untuk mendebatnya. Dengan muka merah akhirnya Han Hie Sun berkata.

"Aku sudah jatuh ke tanganmu, akupun tahu tak akan luput dari kematian. Silakan bunuh aku dengan demikian semua akan beres." kata Han Hie Sun.

"Kau salah sangka," kata Hong-lay-mo-li sambil tertawa, "kami justru tidak ingin membunuhmu, atau menyiksamu. Han Kong-cu, kami malah ingin mengucapkan selamat jalan kepadamu."

Han Hie Sun hampir tidak percaya kepada telinganya sendiri, dia tertegun sejenak, lalu menegaskan.

"Apa katamu? Maksudmu kalian hendak membebaskan aku?" kata Han Hie Sun heran.

"Benar," jawab Hong-lay-mo-li. "Kau jangan sangsi, kami membebaskan kau tanpa syarat. Aku harap kau bersedia menyampaikan apa yang kukatakan tadi kepada ayahmu. Mudah-mudahan dia mau bersatu dengan kami untuk menghadapi musuh dari luar. Tapi dia bersedia atau tidak itu urusannya. Terus-terang, kami-pun tidak mengharap berlebihan kepada ayahmu."

Ingat pada penghinaan Bu-su Mongol tempo hari, dia merenungkan apa yang dikatakan Hong-lay-mo-li. Mau tak mau Han Hie Sun jadi lunak, bahkan malu hingga dia berterima kasih. Walaupun belum bisa mengubah pandangannya. Tapi sedikit-nya kesan buruknya terhadap pihak Kim-kee-leng sudah tidak seperti dulu lagi. Malah sudah mulai timbul kesan baik. Sesudah itu dia berkata, "Baiklah, sepulangku dari sini akan kunasehati Ayahku menurut katakatamu tadi." "Bagus, jika demikian! Sekarang kau boleh berangkat bersama Seng Siauw-hiap dan nona Khie," kata Hong-lay- mo

li.

Han Hie Sun melengak, dia jadi serba-salah saat mengetahui orang yang akan mengantarkannya pulang itu Seng Liong Sen.

"Kalian kenalan lama, bukan?" kata Hong-lay-mo-li sambil tertawa.

"Benar, Saudara Seng pernah mewakili gurunya berunding dengan Ayahku," jawab Han Hie Sun. "Saudara Seng, ketika kau ada di rumahku, aku merasa. "

"Urusan yang sudah lalu tidak perlu diungkit lagi," kata Seng Liong Sen. "Setiba di Kang-lam, aku akan ke tempat Guruku dan tak ikut ke tempatmu Jika kau bersedia menasihati ayahmu, berhasil atau tidak, kita tetap bersahabat."

Begitulah Hong-lay-mo-li mengantar keberangkatan mereka. Khie Kie merasa berat berpisah dengan Ci Giok Hian. Ketika itu kedua nona itu meneteskan air mata.

Kemudian Hong-lay-mo-li mengantar keberangkatan Siangkoan Hok, Kong-sun Po dan Kiong Mi Yun bertiga. Suasananya berbeda dengan keberangkatan Han Hie Sun tadi. Siang-koan Hok bertiga akan melakukan tugas besar di Tay-toh, oleh sebab itu, walaupun timbul rasa berat untuk berpisah, tapi lebih besar pula rasa gembiranya. Hanya seorang yang masih dirundung rasa duka yaitu Ci Giok Hian.

Setelah mengantar kepergian Khie Kie, Ci Giok Hian kembali ke kamarnya. Dia lihat Ciu Hong sedang menyulam sarung bantal dengan lukisan sepasang merpati. Ci Giok Hian jadi ingat pada masa lalu, ketika itu dia pernah menyulam sarung bantal gambar merpati, karena itu diajadi bertambah murung.

Ciu Hong bekas pelayan pribadi Ci Giok Hian. Meskipun resminya majikan Ciu Hong, tetapi sebenarnya mereka mirip kakak-beradik. Selama beberapa hari di Kim- kee-leng Ciu Hong sekamar dengan Ci Giok Hian. Melihat Ciu Hong sibuk menyulam sarung bantal, Giok Hian menggodanya.

"Ciu Hong, kau sedang menyiapkan keperluan pengantin bukan?" kata Ci Giok Hian.

Sambil menghela napas Ciu Hong menjawab.

"Sio-cia, terkadang bila ingat pengalamanmu, sungguh hatiku jadi dingin dan tidak ingin menikah, aku rasa di dunia ini tak ada lelaki yang baik," kata Ciu Hong.

"Tolol," Ci Giok Hian mengomel sambil tersenyum getir. "Di dunia ini memang banyak lelaki jahat, tetapi tidak bisa dianggap semuanya sama begitu. Apalagi pengalamanku tidak bisa membuktikan kesimpulanmu itu."

"Masa ucapanku salah? Misalnya orang she Seng itu, dia pernah menikah denganmu. Kenapa dia beralih pada Nona Khie, padahal kau bisa menandingi kecantikannya? Malah dia meninggalkan kau. Tapi dia bahkan sengaja membawa kekasih barunya menemuimu?! Bukankah dia sengaja ingin membuatmu dongkol?"

"Tapi sedikitpun aku tidak dongkol. Ketahui olehmu aku justru ingin menjodohkan mereka. Pribadi nona Khie sangat baik."

"Bukan maksudku menjelekkan Nona Khie, yang kumaksud orang she Seng itu! Sio-cia, kau sungguh baik padanya, betapapun aku merasa. " "Sebenarnya kita tidak bisa menyalahkan Liong Sen, watakku memang tidak cocok dengannya. Apalagi saat aku jadi istrinya selama setahun, sesungguhnya kami cuma suami istri bohongan saja. Karena kau kuanggap adikku, maka itu aku bicara terus-terang dari hari ke hati. Sesungguhnya tubuhku ini masih tetap suci bersih!"

"Ya aku tahu, Sio-cia," jawab Ciu Hong. "Cuma ada sesuatu yang membingungkan aku, tentang kau dan Kok Siauw Hong. ”

Hati Ci Giok Hian jadi sedih, segera dia memotong. "Sudahlah, jangan menyebutnya lagi. Masa kau tidak

ingin kalau dia menikah selekasnya dengan nona Han?"

"Jusrtu itu aku merasa penasaran padamu," kata Ciu Hong. "Dulu dia begitu baik padamu, tapi kenapa dia berubah secara tiba-tiba begitu? Sungguh tak diduga dia lelaki yang ingkar janji!"

-o~DewiKZ~Aditya~aaa~o-

Ci Giok Hian menunduk, dia tampak terharu juga Tetapi Ci Giok Hian seorang yang hatinya teguh dan tabah luar biasa, maka itu dia langsung berkata lagi. "Yang harus disesalkan nasibku sendiri yang malang, semula aku kira Kok Siauw Hong sudah meninggal, maka itu aku menikah dengan Seng Liong Sen," kata Ci Giok Hian sambil menghela napas panjang. "Tetapi harus kau ingat, Han Pwee Eng kawanku yang paling baik, sebenarnya dia lebih cocok untuk Kok Siauw Hong." Melihat Ci Giok Hian bicara dengan sesungguh hati dan matanya tampak basah, Ciu Hong tidak berani menyambung kata-katanya lagi, dia hanya bilang, "Baiklah, pasti Siocia sudah lelah, silakan istirahat saja"

Saat tidur Ci Giok Hian gelisah, dia bergulingan di atas tempat tidur tak bisa tidur pulas. Ketika dia lihat Ciu Hong sudah tidur, dia segera bangun dan mencoba berjalan ke belakang gunung.

Bulan sabit kelihatan sudah condong ke sebelah barat, itu tanda sudah lewat tengah malam dan hampir pagi. Tanpa terasa Ci Giok Hian berjalan ke hutan yang biasa didatanginya Suasana hutan sunyi-senyap, ketika itu hanya terdengar suara jangkrik, binatang malam dan sebangsanya memecah kesepian malam. Dalam keadaan yang sunyi- senyap itulah, pikiran Ci Giok Hian bergolak bagai ombak di tengah samudera.

Dia seorang nona yang suka menang sendiri, karena itu rasa derita batinnya tidak ingin diperlihatkan di depan orang lain. Sikapnya di depan Han Pwee Eng dan Khie Kie sengaja dia memperlihatkan sikap yang wajar-wajar saja. Ketika itu seperti tidak terjadi sesuatu apa-apa atas dirinya. Tapi di kala sedang sendirian dia tak dapat menahan rasa duka hatinya.

Saat hati Ci Giok Hian diliputi rasa masgul itu, tiba-tiba terlihat sesosok bayangan orang berkelebat di depan matanya dalam kegelapan malam. Dia terkejut dan segera memburu ke arah bayangan itu, sambil berlari dia membentak.

"Siapa itu? Berhenti! Di sini Ci Giok Hian!"

Orang itu tidak berhenti, malah berlari lebih kencang. "Tangkap mata-mata musuh!" teriak Ci Giok Hian. Pada saat yang hampir bersamaan itulah, mendadak orang itu memutar tubuhnya. Ci Giok Hian merasakan angin berkesiur perlahan, tahu-tahu orang itu seperti berbisik kepadanya.

"Ssst, jangan berisik, aku bukan mata-mata musuh!" bisiknya

Ci Giok Hian yang merasa tidak mengenali orang itu, tanpa pikir lagi pedangnya langsung menusuk. Serangan dalam jarak dekat sebenarnya sulit untuk dielakkan. Siapa duga gerakan orang itu ternyata gesit dan cepat luar biasa.

"Cring!"

Mendadak jari orang itu menyentil, tepat mengenai pedang hingga terpental ke samping.

Itulah ilmu "Sian-cie-sin-thong" (Ilmu tenaga jari sakti) yang maha lihay, jago yang ada di Kim-kee-leng tidak ada yang mampu menggunakan kepandaian itu kecuali Hong- laymo-li, Kong-sun Po dan Kok Siauw Hong bertiga.

"Nona Ci tidak perlu sangsi, tidak lama kau pasti akan tahu masalahnya. Sekarang lekas kembali ke tempatmu, jangan merintangiku!" kata orang itu.

Di kegelapan malam Ci Giok Hian tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang itu. Apalagi dia tidak kenal, suaranya juga asing baginya. Maka itu jelas Ci Giok Hian tak bisa mempercayai kata-kata orang itu..

"Jangan kau kira aku anak kecil yang bisa kau bohongi!" kata Ci Giok Hian sambil menyerang tiga kali secara beruntun, lalu dia bersuit sekerasnya untuk memberi tanda bahaya pada kawan-kawannya.

Rupanya karena orang itu kuatir kalau jago-jago Kim- keeleng yang lain akan bermunculan, maka itu dia segera melancarkan serangan balasan ke arah Ci Giok Hian. Dengan tangan kosong dia menyerang dengan dahsyat, sehingga Ci Giok Hian terdesak. Setelah berada di atas angin, orang itu berkata pula.

"Pek-hoa-kiam-hoatmu memang hebat, cuma sayang aku tak bisa melayanimu lebih lama Maaf, nona Ci, terpaksa untuk sementara aku menyusahkanmu!" kata orang itu.

Sesudah berkata begitu tiba-tiba dia melangkah maju, jarinya segera menotok dan tepat ke jalan darah bagian bahu Ci Giok Hian. Ci Giok Hian menggeliat, tapi tidak sampai roboh. Namun, kesempatan itu telah digunakan orang itu untuk kabur.

Dongkol, terkejut dan heran Ci Giok Hian dibuatnya. Tapi jelas kepandaian orang itu jauh lebih tinggi di atas dia. Karena totokannya tadi tidak menggunakan tenaga keras, maka itu dia tidak sampai roboh. Tampak orang itu sengaja bermurah hati kepadanya.

"Apa barangkali benar orang itu bukan mata-mata musuh?" pikir nona Ci.

Terpaksa nona Ci mengerahkan tenaga dalam untuk melancarkan jalan darahnya.

Pada saat itu terdengar suara orang berlari mendatangi. Walau jalan darah Ci Giok Hian yang tertotok belum lancar kembali, dia tetap bisa bicara. Karena dia kira yang datang itu kawan sendiri, dia berseru.

"Mata-mata musuh sudah kabur ke arah Barat sana, lekas kejar dia!" kata Ci Giok Hian.

Dua orang berbaju kelabu muncul di depan nona Ci, Tapi wajah mereka tidak jelas dalam kegelapan. Karena seruan Ci Giok Hian, kedua orang itu berlari ke arahnya. Segera suara seorang yang belum dikenalnya berkata. "Oh, kau nona Ci? Kenapa kau!" kata orang itu. Ci Giok Hian girang dia menjawab.

"Ya aku Ci Giok Hian. Aku tidak apa-apa, hanya kesemutan sedikit, lekas kejar dia saja!"

Tak diduga kedua orang itu tertawa terbahak-bahak. "Ha. .ha. .ha! Rupanya saudara tua kita merasa kasihan

pada si cantik ini, tapi kenapa tidak sekalian dibawa pergi?!"

kata orang itu heran.

"Ini malah kebetulan, dia buat kita saja!" kata kawannya, "dia tidak mau, kita yang ambil saja!"

"Benar, dengan membawa nona Ci berarti kita punya sandera," kata orang pertama. "Eh, nona Ci, pasti kau belum bisa berjalan, biar akan kugendong kau!"

Sekarang Ci Giok Hian tahu bahwa kedua orang itu kawanan "mata-mata musuh". Bukan main kaget dan kuatirnya Giok Hian. Kedua orang itu semakin dekat kepadanya. Padahal jalan darahnya yang tertotok belum bebas. Ci Giok Hian cemas dan putus asa. Dia pikir jika perlu dia akan menggunakan sedikit tenaga yang terkumpul untuk bunuh diri dengan memutuskan urat nadi sendiri. Tapi pada detik yang paling gawat, sesuatu yang sama sekali tak terduga terjadi lagi. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu sepotong batu kecil menyambar tepat mengenai Hiat-to di bagian dengkul nona Ci. Karena itu jalan darah di kakinya, maka seketika itu sudah lancar kembali darahnya. Rupanya batu kecil itu sengaja disambitkan untuk menolong nona Ci.

Pada saat yang sama terdengar suara 'trang', hingga golok yang terpegang oleh salah seorang berbaju kelabu itu, terlepas dari cekalannya oleh timpukan sepotong batu. Hampir   berbareng   dengan   itu   orang   yang   keduapun menggeliat tersambit oleh senjata rahasia. Tampaknya dia tidak sanggup berdiri dan hampir bertekuk lutut.

"Keparat! Sebentar lagi pasti akan kubereskan jiwa kalian!" terdengar suara bentakan orang yang berkumandang dari jauh.

Pada saat itu juga Ci Giok Hian langsung membentak. "Bangsat, lekas serahkan dirimu jika ingin hidup" kata Ci

Giok Hian nyaring.

Berbareng dengan itu pedang si nona menusuk ke kanan dan ke kiri. Rupanya dari suara bentakan itu kedua orang itu baru mengetahui, bahwa orang yang dikira  "saudara tua" itu, ternyata bukan saudaranya. Jelas mereka jadi ketakutan dan cepat saling memberi tanda. Sambil mengelak serangan Ci Giok Hian segera mereka angkat kaki. Karena dia hanya seorang yang harus mengejar dua orang musuh, Ci Giok Hian jadi serba salah. Apalagi dia baru bisa bergerak, langkahnya agak lamban. Tidak lama kedua musuh itu pun sempat menghilang di kegelapan malam. Ketika itu terdengar orang itu berseru kepadanya. Disusul suara teriakan lain.

"Cici kembalilah!"

Ci Giok Hian menoleh. Samar-samar kelihatan sepasang muda mudi berlari mendatanginya. Sesudah dekat, ternyata orang itu Ciauw Siang Hoa dan Yo Kiat Bwee berdua. Kedua orang ini datang bersama Kok Siauw Hong dan Han Pwee Eng beberapa bulan yang lalu. Memang Yo Kiat Bwee kenalan lama Ci Giok Hian. Setelah berkumpul beberapa bulan di Kim-keeleng, hubungan mereka bertambah akrab saja.

"Ada dua orang mata-mata musuh lari ke sana!" kata Ci Giok Hian. "Lekas kalian kejar mereka!" "Liu Beng-cu sedang mencarimu," kata Kiat Bwee sambil tertawa. "Jangan kuatir, biangkeladi mata-mata itu sudah tertangkap, rasanya anak buahnya juga tak akan bisa berkutik lagi."

"Hei, biangkeladinya sudah tertangkap? Siapa  dia?" tanya Ci Giok Hian kaget dan girang.

"Kamipun belum tahu siapa dia, mungkin untuk masalah itu Liu Beng-cu mencarimu," kata Kiat Bwee sambil mengejar ke arah yang ditunjuk oleh Ci Giok Hian.

Ci Giok Hian segera kembali dan mendatangi Hong-lay- mo

li. Di sana dia lihat Kok Siauw Hong dan Han Pwee Eng sudah ada. Ci Giok Hian melapor apa yang dialaminya tadi.

"Memang mata-mata musuh sudah kita tangkap di sini," kata Hong-lay-mo-li. "Ternyata di Kim-kee-leng ada matamata musuh, tapi juga ada sahabat kita yang membantu secara diam-diam."

Sesudah itu Hong-lay-mo-li menceritakan bagaimana matamata musuh itu bisa tertangkap.

Ketika Hong-lay-mo-li memeriksa Ong Siu-pi kemarin, timbul rencananya untuk memancing musuh agar muncul, yakni dengan menggunakan Ong Siu-pi sebagai umpan. Sengaja dia mengurung Ong Siu-pi di "Ouw-hong-tong", sebuah gua di belakang gunung. Dia duga musuh pasti akan berusaha menolongi atau membunuh Ong Siu-pi agar rahasianya tidak terbuka. Ternyata musuh memang terpancing, tapi tidak datang ke Ouw-hong-tong melainkan menyusup ke kamar Hong-lay-mo-li dengan maksud mau membakar kamarnya. Nanti jika keadaan sudah kacau dan api   sudah   berkobar,   musuh   baru   akan   turun   tangan membunuh tawanan. Syukur rencana musuh bisa terbongkar berkat kabar rahasia yang diterima Hong-lay- mo-li dari secarik kertas yang disambitkan oleh seorang yang tak dikenal ke Ouw-hong-tong. Pada saat yang tepat Hong-lay-mo-li sempat kembali ke kamarnya dan kebetulan memergoki musuh yang hendak membakar kamarnya itu hingga musuh tertangkap.

"Siapa mata-mata musuh itu?" tanya Ci Giok Hian. "Belum jelas karena dia memakai topeng kulit tipis. Ilmu

silatnya sangat tinggi, dia berasal dari aliran Siauw-lim- pay," kata Hong-lay-mo-li. "Sebentar kita akan tahu siapa dia."

Tidak berapa lama beberapa anak buah Kim-kee-leng menyeret seorang tawanan. Topeng yang dipakai tawanan itu sudah dibuka dan wajah asli orang itu jelas.

Mendadak Kok Siauw Hong bangun dan membentak. "Bagus, kiranya kau murid murtad Siauw-lim-pay, anjing

bangsa Kim!" kata Siauw Hong. Hong-lay-mo-li pun mengejek.

"Soa Heng Liu, sungguh berani kau ini. Dulu kau pernah membuat susah dan menghancurkan hidup Su-hengku Kong-sun Kie. Namun, selama ini aku belum lagi mengadakan perhitungan denganmu. Sekarang kau berani menyusup ke tempatku menjadi mata-mata Wan-yen Tiang Cie!" kata Hong-lay-mo-li.

Mata-mata musuh yang tertawan itu murid Siauw-lim- pay yang telah berkhianat pada perguruannya Dia bernama Soa Heng Liu. Duapuluh tahun yang lalu, Kong-sun Kie, ayah Kong-sun Po sampai tersesat dan berbuat jahat, justru karena bergaul dengan Soa Heng Liu ini. Merasa dirinya sudah  banyak  berdosa,  terpaksa  Soa  Heng  Liu  bekerja untuk Wan-yen Tiang Cie. Ketika Kok Siauw Hong dan rombongannya bermalam di rumah Teng Sit, di antraa orang-orang yang dikirim Wan-yen Tiang Cie untuk menggerebek, dan menangkap mereka terdapat Soa Heng Liu.

Tadi Soa Heng Liu telah melakukan perlawanan ketika hendak ditangkap oleh Hong-lay-mo-li. Tapi akhirnya berhasil dirobohkan oleh ujung kebutan Hong-lay-mo-li yang tajam laksana jarum, mengenai jalan darahnya hingga tak bisa berkutik lagi. Dia sedang kesakitan seperti digigit beribu-ribu ular berbisa rasanya hingga penderitaannya sulit dikatakan. Mendengar makian Kok Siauw Hong dan Hong- lay-mo-li tadi, karena keras kepala Soa Heng Liu yang keras kepala masih berani menjawab.

"Hm! Jika tak ada laporan rahasia kau tak akan mengetahui rencanaku. Kini sesudah aku tertangkap olehmu, kalau mau membunuhku silakan saja Tidak perlu kalian banyak bicara!" kata Soa Heng Liu dengan berani.

"Hm! Kau masih berlagak jantan?" bentak Hong-lay-mo- li dengan gusar.

Kembali Hong-lai-mo-li menyambet perlahan ke tubuh Soa Heng Liu. Seketika ke- itu jalan darah di tubuhnya laksana digigit dan dihisap tulang sumsumnya oleh ribuan ular. Sakitnya tidak kepalang.

"Nah, lekas katakan siapa kawanmu yang masih berada di sini?" bentak Hong-lay-mo-li pula.

Dalam keadaan menderita, terpaksa Soa Heng Liu mengaku. "Kedua kawanku si Pencuri Pauw Kang dan Han Ngo, si Golok Cepat dari Khong-tong-pay. Mereka bekerja untuk Wan-yen Tiang Cie. Liu-lihiap, aku mohon kemurahan hatimu, harap bunuh saja aku!" "Hm! Karena kau murid murtad dari Siauw-lim-sie, kau harus dihukum menurut aturan perguruanmu sendiri," kata Hong-lay.

Hong-lay-mo-li lalu memerintahkan tawanan itu dibawa pergi ke kamar tahanan. Kemudian Hong-lay-mo-li memberi tahu Kok Siauw Hong dan Pwee Eng, bahwa ayah Pwee Eng saat itu sedang pesiar ke Siauw-lim-sie. Maka itu Kok Siauw Hong berdua akan ditugaskan mengawal Soa Heng Liu ke sana, untuk sekalian mengundang Han Tay Hiong datang ke Kim-kee-leng.

Sudah tentu Siauw Hong dan Pwee Eng menyatakan setuju dengan girang.

"Kalau begitu kalian boleh berangkat besok!" kata Hong- lay-mo-li.

Setelah Siauw Hong dan Pwee Eng mohon diri, kemudian Hong-lay-mo-li berkata pada Ci Giok Hian.

"Adik Giok Hian, aku lebih tua beberapa tahun darimu, maka itu kau kuanggap seperti keponakanku. Aku harap kau tidak sungkan padaku, anggap saja aku ini bibimu. Kini aku ingin tahu lebih jelas tentang orang yang menotokmu dan sekaligus menolongimu. Menurutmu bagaimana macam orang itu? Berapa usianya dan aliran mana ilmu silatnya?"

"Dalam kegelapan aku tidak begitu jelas melihatnya, aku kira usianya sekitar tigapuluh tahun," kata Ci Giok Hian. "Gaya silatnya aneh, karena cupetnya aku tidak mengenal aliran silatnya itu. Ketika kutegur, dia tak mau menjelaskan siapa dia Tapi dia membantah dan mengatakan dia bukan mata-mata musuh, sebagaimana dugaanku semula. Ketika itu dia seperti tergesa-gesa dan pergi begitu saja!" "Ya, sekarang kita tahu bahwa orang itu kawan dan bukan lawan.," kata Hong-lay-mo-li sambil tertawa.

Ci Giok Hian sedikit tertarik dan bertanya.

"Jadi Bibi Liu sudah tahu asal-usulnya?" kata si nona "Orang ini bisa jadi murid seorang sahabatku, cuma

akupun belum berani memastikannya," kata Hong-lay-mo- li. "Watak sahabatku itu sangat aneh. Kelakuannya sering di luar dugaan. Maka itu aku yakin sifat muridnyapun sama seperti gurunya."

"Kelakuan orang itu memang aneh dan sukar dimengerti," kata Ci Giok Hian. "Aku kira dia membantu kita secara diamdiam, bahkan sudah lama tinggal di sini. Entah kenapa dia tidak mau memperkenalkan diri pada kita?"

Sementara itu Ciau Siang Hoa dan Yo Kiat Bwee yang tadi mengejar musuh sudah kembali bersama Toa-thauw- bak Lui Biauw, si golok emas.

"Bagaimana hasil pengejaran kalian?" tanya Hong-lay. "Sudah ditemukan, tapi tidak dalam keadaan hidup lagi,"

kata Lui Biauw. "Kematian kedua orang itu agak aneh. Mayat mereka kami temukan di semak-semak di kaki gunung. Semula kami tidak tahu kalau mereka tertotok oleh totokan hebat. Setelah kami periksa baru kami tahu mereka ditotok, kemudian dibinasakan dengan ilmu Bian-ciang (pukulan halus) yang lihay."

"Sungguh aneh," kata Ci Giok Hian.

"Orang yang menotok mereka pasti orang yang mengirim kabar rahasia padaku," kata Hong-lay-mo-li.

"Benar, akupun berpikir begitu, tapi aneh siapa yang membunuh kedua musuh itu?" tanya Ci Giok Hian. "Bukan mustahil di tempat ini masih ada mata-mata musuh yang lain."

"Menurut laporan rahasia yang aku terima dari orang itu, sepengetahuannya kawan Soa Heng Liu hanya dua orang, yaitu Pauw Kang dan Han Ngo, jadi tak ada yang lain," kata Hong-lay-mo-li, nadanya seperti percaya pada kabarvrahasia itu. "Tetapi tak ada buruknya jika kita waspada terhadap segala kemungkinan, pesanku ini harap Liu Cian-pwee dan nona Yo sampaikan pada semua saudara kita."

Setelah Lui Biauw bertiga mengundurkan diri, Hong-lay- moli berkata pada Giok Hian, "Apa kau ngantuk, Giok Hian? Jika tidak kita bicara sebentar."

"Karena pagi sudah hampir tiba, rasa kantuk pun hilang. Yang akan Bibi katakan silakan saja," jawab Ci Giok Hian.

"Yang ingin kubicarakan mengenai masalah pribadi," kata Hong-lay-mo-li sambil tersenyum. "Aku tahu kau dan Seng Liong Sen hanya suami istri bohongan. Sekarang kalian sudah berpisah secara resmi. Kau gadis cerdik, pasti kau paham apa yang ingin aku bicarakan denganmu."

Wajah Ci Giok Hian seketika menjadi merah. Dalam hatinya memang sudah bisa menerka sebagian pembicaraan itu.

"Nasibku ditakdirkan begini, terima kasih atas perhatianmu Sesungguhnya aku tak tahu apa yang ingin Bibi bicarakan." kata Giok Hian.

"Kau gadis pandai dan bijaksana, memang kau ingin menyerah pada nasib? Aku rasa nasib seseorang harus ditentukan oleh orang yang bersangkutan. Seandainya nasibmu memang jelek, sedikitnya masih bisa diatasi." "Kata-kata Bibi benar. Akupun percaya bahwa nasib memang bisa diubah. Hanya sayangnya aku sendiri yang menyerah kepada nasib," kata Ci Giok Hian.

"Usiamu masih muda, jadi tidak seharusnya kau putus- asa. Aku kira hari depanmupun masih cerah, sebagai anak perempuan kau masih perlu mencari jodoh yang cocok bagimu."

"Aku memang pernah menikah sekali, walaupun cuma suami istri omong kosong. Tapi bagiku itu sudah cukup, hatiku sudah dingin." kata Ci Giok Hian.

"Kau masih muda, apa yang menyebabkan hatimu dingin? Apakah karena kau belum bertemu dengan orang yang cocok?" kata Hong-lay-mo-li sambil tersenyum. "Jika ada seorang pemuda yang segala sesuatunya memuaskan kau. "

"Terima kasih atas perhatian Bibi, sesungguhnya aku memang tidak ingin menikah lagi," kata Ci Giok Hian.

"Aku justru ingin menjadi perantaramu, aku harap kau mau mengubah pendirianmu," kata Hong-lay-mo-li sambil tertawa.

Sebenarnya Ci Giok Hian tertarik pada pembicaraan itu, tapi sayangnya dia tidak tahu pemuda mana yang akan dijodohkan oleh Hong-lay-mo-li kepadanya? Walau begitu dia tidak enak jika ber-tanya pada sang bibi walau dia ingin tahu. Dia yang sudah dua kali gagal bercinta, hatinya sudah dingin hingga tidak ingin menikah lagi. Maka itu dia berkata.

"Aku paham maksud baik Bibi. Tapi soal jodoh hendaknya jangan disebut-sebut lagi. Bila Bibi tidak menolak, aku bersedia mengabdi di sampingmu." "Mana bisa begitu," jawab Hong-lay-mo-li sambil tertawa. "Di sini walau tenagamu diperlukan, tapi tidak perlu menghalangi kebahagiaan dalam membina rumah- tangga?"

"Kau bicara tentang rumah tangga, aku jadi ingat pada rumahku," kata Ci Giok Hian. "Jika Bibi tidak keberatan, biar aku pulang dulu untuk menemui Kakakku dan mengatur rumah sekedarnya. Nanti aku datang lagi ke sini. Karena aku punya rumah tidak perlu rumah yang lain."

Melihat si nona bicara tegas begitu, terpaksa Hong-lay- moli berkata lagi.

"Sungguh sayang, padahal orang yang ingin kujodohkan denganmu pernah kau lihat, ilmu silatnya pun sudah kau kenal. Dia benar-benar seorang pemuda serba-bisa. Sayang kau tidak mau. Setiap manusia punya cita-cita sendiri,  maka itu akupun tidak ingin memaksamu. Walau demikian aku tetap berharap suatu hari kau mengubah pendirianmu."

Keterangan Hong-lay-mo-li membuat hati Ci Giok Hian tergerak.

"Orangnya pernah kulihat, dan kepandaiannya pun pernah kukenal, siapakah dia? Apa mungkin lelaki misterius yang kupergoki malam itu?" pikir nona Ci.

Walau rasa ingin tahunya sangat kuat mengenai nama dan asal-usul orang itu, namun harga diri seorang gadis membuat dia diam hingga pembicaraan pun berakhir sampai di sini.

Hong-lay-mo-li berkata lagi.

"Baiklah, jika kau ingin pulang. Sebelumnya bisa kuceritakan sedikit mengenai keadaan kampung halamanmu. Sekarang kau bisa melakukan dua pekerjaan untukku.   Pertama   kau   harus   mem-beritahu   kakakmu, bahwa mertuanya, Wan To-cu sedang mencarinya. Wan To-cu akan datang ke Kim-kee-leng. Jika beliau datang dan kalian belum muncul, tentu Wan To-cu akan aku minta untuk menyusul kalian ke Pek-hoa-kok. Masalah yang kedua mengenai Haysoa-pang. Kawanan bajak dan pedagang garam gelap itu kini sudah masuk perserikatan kita. Sepulang ke Yang-ciu kau harus berhubungan dengan mereka."

Ci Giok Hian menerima baik tugas itu. Dia juga menyatakan akan membawa Ciu Hong pulang ke rumahnya. Sedangkan Ciu Tiong Gak akan ke Po-teng untuk menemui bakal besannya dan berunding mengenai hari pernikahan Ciu Hong, dan seterusnya menetap di Pek- hoa-kok. Maka itu kelak jika Ci Giok Hian dan kakaknya pergi, di sana ada penjaganya yang bisa dipercaya.

Esok harinya Kok Siauw Hong dan Han Pwee Eng berangkat ke Siauw-lim-sie dengan membawa Soa Heng Liu. Sedang Ci Giok Hian berangkat bersama Ciu Hong. Ciu Tiong Gak menuju ke Po-teng di bagian Utara.

Di sepanjang jalan tak terjadi apa-apa. Saat Ci Giok Hian dan Ciu Hong tiba di Pek-hoa-kok, hari sudah magrib. Pintu gerbang rumahnyapun tertutup rapat. Di sana-sini terdapat sarang laba-laba seakan rumah itu sudah tak berpenghuni.

"Aneh, ke mana Paman Ong? Kenapa dia begini malas? Tampaknya dia tidak pernah menyapu," kata Ciu Hong sambil tertawa.

"Jangan salahkan dia, dia cuma sendirian mana sanggup mengurus rumah seluas ini," kata Ci Giok Hian.

"Mari kita lompat masuk melalui pagar taman belakang untuk mengagetkan dia," kata Ciu Hong. Di luar dugaan, mereka kaget karena di taman belakang rumah juga kotor tak terurus. Rumput tumbuh liar memenuhi halaman. Suasana di tempat itu sunyi sekali. Yang membuat mereka kaget di pojok taman itu terdapat setumpuk tanah merah, nampaknya baru digali dan masih baru. Jelas itu sebuah kuburan baru. Ciu Hong mencoba menyalakan api untuk menerangi batu nisan kuburan itu. Tanpa disadari dia berseru, "Hei, Paman Ong sudah meninggal!"

Di atas batu nisan itu tertulis nama Ong Hok, tukang kebun yang ditugaskan menjaga rumah. Hati Ci Giok Hian berdebardebar. Mendadak dia ingat pengalaman Han Pwee Eng ketika pulang ke rumahnya dulu. Begitu nona itu masuk ke rumahnya di Lok-yang, dia lihat mayat pelayannya tergeletak di lantai. Ayahnya yang sedang sakit juga hilang. Kemudian Han Pwee Eng baru mengetahui kalau rumahnya didatangi Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya. Sedangkan ayahnya dibawa pergi oleh Seng Cap-si Kouw. Apa yang dilihat oleh Ci Giok Hian, rasanya mirip. Walau hatinya tenang, tapi berdebar juga.

"Coba kita periksa bagian dalam rumah," ajak Giok Hian.

Namun, beberapa pintu ruangan digembok. Ci Giok Hian yang tak sabar segera menebas gembok dengan pedangnya Kerika ruang itu dia periksa, akan tetapi tak ada sesuatu yang ditemukannya

"Sio-cia, biar kucari keterangan pada Ciu Toa-nio, tetangga kita di ujung jalan sana," kata Ciu Hong yang tampak cemas.

Ci Giok Hian setuju. Tapi sebelum Ciu Hong pergi nona

Ci

berpesan agar Ciu Hong cepat kembali. Sepeninggal Ciu Hong, Ci Giok Hian mencoba masuk ke kamarnya. Dia lega sebab tak ada tanda rumahnya pernah dikacau orang. Andai kedatangan musuhpun, pasti kakaknya dan nona Wan tidak akan menyerah begitu saja Tapi du sana tak ada tanda pernah ada orang bertempur di situ.

Dia coba menyalahkan lilin, lalu meneliti keadaan kamarnya Semua masih dalam keadaan seperti saat dia tinggalkan. Walau di sana-sini berdebu, tapi selimut di atas ranjangnya masih terlipat rapih, malah bantal sulam yang belum selesai dikerjakanpun masih terletak di tempat semula. Melihat barang yang disediakan untuk dipakai di kamar pengantin dulu itu, dia tertegun. Kini semua tinggal kenangan. Tanpa terasa hati Ci Giok Hian pedih.

Sambil membersihkan kamar dia meneliti sesuatu dengan cermat, tiba-tiba di keranjang sampah, terlihat ada sisa bakaran. Dia mengambil bagian kertas yang belum terbakar, dan disambung-sambung. Isi tulisan itu demikian "di rumah jangan......." Lanjutan tulisan itu sudah terbakar tidak bisa diketahui maksudnya: "Jangan apa?"

Dari gaya tulisan surat itu, jelas bukan tulisan tangan Ci Giok Phang, kakaknya tapi juga bukan gaya tulisan wanita. Karena Ci Giok Hian tidak kenal gaya tulisan Wan Say Eng, dia tidak tahu Wan Say Engkah yang menulis atau bukan? Saat sedang memikirkan apa arti tulisan yang dibacanya itu, tibatiba terdengar suara langkah orang. Baru saja dia mau menegur, terdengar Ciu Hong berseru.

"Aku, Sio-cia. Apa kau menemukan sesuatu?"

"Oh, kau sudah kembali," jawab Giok Hian. "Belum ditemukan apa-apa bagaimana keterangan yang kau peroleh?" Tak lama Ciu Hong cerita. Kata mereka Ci Giok Phang dan Wan Say Eng pernah pulang dan tinggal beberapa bulan di rumah.

Mereka baru pergi sebulan yang lalu. Menurut keterangan Ciu Toa-nio, tetangga yang dimintai keterangan dan masih terhitung adik ipar Ong Hok si tukang kebun itu, Ong Hok meninggal karena sakit. Mungkin karena Ong Hok sudah tua.

Malam itu Ci Giok Hian dan Ciu Hong sudah tidur. Tiba-tiba Ci Giok Hian dikejutkan oleh munculnya suara di atas genting rumahnya. Tanpa pikirpanjang dia keluar hingga terjadilah pertarungan antara Ci Giok Hian dengan seseorang dalam gelap. Tiba-tiba Ci Giok Hian merasa ada sambaran angin dari belakang dia. Dengan cepat Ci Giok Hian menghindari cengkraman orang itu sambil balas menyerang dengan cepat. Ternyata orang itu Gak Hu-jin! Ketika itu dia tidak mengira kalau cengkramannya tidak berhasil mengenai Ci Giok Hian. Dia heran lalu berkata.

"Eh, ilmu pedangmu sudah jauh lebih maju dibanding dulu. Tetapi jangan harap kau bisa lolos dari tanganku! Lihat saja nanti!" kata Gak Hu-jin.

Selang beberapa bulan di Kim-kee-leng, Ci Giok Hian memang mendapat petunjuk dari Hong-lay-mo-li. Sekarang ilmu silatnya jauh lebih maju dibanding dulu. Bahkan serangan Ci Giok Hian hampir melukai Gak Hu-jin, jika dia tidak cepat menarik kembali tangannya. Tapi apa yang dikatakan Gak Hujin benar. Walau kepandaian Ci Giok Hian sudah bertambah maju, tetap saja dia bukan tandingan Gak Hu-jin. Belasan jurus kemudian Giok Hian mulai kewalahan menghadapi tongkat Gak Hu-jin. Suatu ketika mendadak Gak Hu-jin maju, lalu dengan cepat dia coba merampas pedang Ci Giok Hian. Tapi Giok Hian sempat membalikkan pedangnya lalu menebas dengan tak terduga "Hm! Kau masih berani bertarung denganku!" ejek Gak Hujin sambil tertawa.

"Trang!"

Dengan tepat tongkat Gak Hu-jin membentur pedang Ci Giok Hian. Seketika Giok Hian merasa tangannya kesemutan, pedangnya hampir saja terlepas dari cekalannya. Ketika itu dia tahu bahwa Gak Hu-jin sengaja bermurah hati kepadanya, jika tidak pasti dia sudah terluka parah.

"Nah, rasakan olehmu! Lekas ikut aku pulang!" kata Gak Hu-jin.

Mendadak Ci Giok Hian menyambitkan pedangnya sambil melarikan diri.

"Mana bisa kau lolos!" teriak Gak Hu-jin.

Benar saja baru belasan langkah Ci Giok Hian berlari, tahu-tahu Gak Hujin sudah menghadang di depannya. Karena Ci Giok Hian lebih hafal keadaan taman miliknya, dia berlari mengitari taman kian ke mari. Tapi tetap saja dia tak bisa melepaskan diri dari kejaran Gak Hu-jin.

Diam-diam Giok Hian mengeluh karena khawatir tak bisa lolos dari cengkraman musuh. Saat keadaan mulai gawat, tiba-tiba terdengar jeritan Ciu Hong hingga Gak Hu- jin berhenti mengejarnya

Ci Giok Hian yang kaget mengawasi ke arah jeritan tadi. Ternyata di sana tampak tiga sosok bayangan muncul di atas rumahnya. Saat itu Ciu Hong dikejar kedua bayangan itu. Dalam keadaan demikian sekalipun Ci Giok Hian ingin menolongnya   tidak   akan   keburu   lagi,   karena jaraknya cukup jauh. Saat Ci Giok Hian sedang kuatir, tiba-tiba Gak Hu-jin mengayunkan tangannya sambil membentak.

"Padahal sudah kubilang kalian jangan mengejutkan Nona Ci, kenapa kalian tidak mendengar perintahku?" kata Gak Hujin.

Tak lama menyusul suara gabrukan orang yang jatuh dari atas atap rumah. Ternyata tiga orang terjungkal ke bawah. Tapi di antara ketiga orang itu tak ada Ciu Hong.

Rupanya saat Gak Hu-jin menghamburkan senjata rahasia, dari sudut lain mendadak muncul seseorang. Begitu muncul dia terjungkal terkena senjata rahasia, tapi arah terjungkalnya berlawanan dengan arah kedua orang yang jatuh tadi.

Hal itu membuat Ci Giok Hian keheranan, karena orang ketiga itu jelas bukan terkena senjata rahasia yang disambitkan Gak Hujin melainkan ada orang gagah yang belum menampakkan diri.

Benar saja, tak lama terdengar suara suitan nyaring seseorang, Dari suaranya yang melengking tajam jelas dia bukan sembarangan orang.

"Bagus, akupun tahu bahwa sewaktu-waktu kau si bangsat tua pasti akan mencari perkara denganku. Ternyata kini kau benar-benar datang!" bentak Gak Hu-jin sambil tubuhnya melayang ke arah orang itu.

Entah dia mengejar "bangsat tua" yang disebutnya itu atau melarikan diri yang jelas dalam sekejap dia menghilang. Sedang "bangsat tua" yang dimaksudkannya itu hanya terdengar suaranya tapi tidak terlihat orangnya.

Saat itu Ciu Hong mendekati Ci Giok Hian, lalu menceritakan apa yang dialaminya. Rupanya dia terjaga karena  mendengar suara  benturan  senjata  tajam  ketika Ci Giok Hian bertarung dengan Gak Hu-jin. Ketika dia memburu keluar, tapi disergap oleh dua orang itu. Untung seseorang berbisik memperingatinya, sehingga serangan kedua orang itu bisa dihindarinya. Tapi tak lama kedua penyerang itupun terjungkal ke bawah rumah.

"Ya, sungguh berbahaya, syukur ada orang gagah yang diam-diam melindungi kita," kata Ci Giok Hian.

Sesudah itu mereka langsung memeriksa ketiga musuh yung terjungkal itu. Sungguh heran dan sangsi mereka, setelah melihat ketiga orang itu. Ternyata mereka berseragam perwira Kim. Satu di antaranya Ci Giok Hian merasa pernah bertarung dengannya di kantor Kabupaten Yang-ciu. Ketiga orang itu tergeletak terpisah di dua tempat. Sedang yang terkena serangan Gak Hu-jin sudah tidak bernyawa lagi. Muka mereka hitam dan pelipisnya tertancap sebuah jarum kecil. Jelas mereka terkena jarum beracun.

"Keji sekali perempuan tua itu, siapa dia, Sio-cia?" tanya Ciu Hong.

"Dia istri Gak Liang Cun, Bupati Yang-ciu," jawab Ci Giok Hian. "Kelihatannya ketiga orang ini anak buah suaminya. Bisa jadi kedatangan Gak Hu-jin ke sini di luar tahu suaminya atau siapapun? Oleh sebab itu dia merasa perlu membunuh anak buah suaminya agar perbuatannya tidak ketahuan."

Ketika mereka memeriksa orang ketiga, ternyata dia tidak mati, dan tidak ada tanda terkena senjata rahasia. Cuma saja orang itu tidak bisa bergerak. Sebagai jago silat, setelah merenung sejenak, Giok Hian menyatakan rasa herannya. "Aneh sekali, orang ini rupanya tertotok jalan darahnya hingga dia tak bisa berkutik. Bisa jadi dia tersambit oleh sebutir batu kecil." kata si nona.

Ketika Ci Giok Hian memeriksanya, ternyata cara menyambitkan senjata rahasia dan mengincar jalan darah itu serupa dengan orang yang menyambit Pauw Kang dan Han Ngo di Kim-kee-leng.

"Tapi orang itu bukan orang tua, walau aku tidak sempat melihat wajahnya. Kenapa Gak Hu-jin memaki dia si "Bangsat tua"?" pikir nona Ci.

"Sio-cia buka saja jalan darahnya agar bisa kita tanya dia," kata Ciu Hong.

"Mana bisa aku membebaskannya?" kata Ci Giok Hian. Tiba-tiba dia berkata.

"Kau jaga rumah, aku akan memeriksa ke sekeling rumah ini. Masalah ini harus kuselidiki hingga jelas." kata Ci Giok Hian.

"Gak Hu-jin mengejar orang itu, pasti bisa kusaksikan pertarungan mereka yang menarik." pikir nona Ci.

Benar saja, tidak lama di tengah hutan di belakang rumahnya terdengar suara gemerincing beradunya senjata tajam. Ternyata Gak Hu-jin berhasil menyusul orang misterius itu, sekarang mereka sedang bertempur dengan sengit. Perlahan-lahan Ci Giok Hian menyusup ke dalam hutan. Karena pertarungan berlangsung sengit, kedua orang itu seperti tidak mengetahuinya ada orang yang datang ke tempat itu. Ci Giok Hian memanjat ke sebuah pohon. Dengan bantuan sinar rembulan yang remang-remang dia coba mengamat-amati pertarungan itu. Ternyata lawan Gak Hu-jin seorang lelaki berusia belum  tahun. Perawakannya serta gaya ilmu silatnya memang sama dengan lelaki aneh yang dipergoki Ci Giok Hian di Kim-keeleng tempo hari. Lelaki itu menggunakan pedang, permainan pedangnya luar biasa hebat. Serangannya juga cepat dan lincah. Setiap jurus serangannya selalu mengincar ke jalan darah di tubuh Gak Hu-jin. Melihat hal itu tidak kepalang terkejut dan kagetnya Ci Giok Hian. Diam-diam dia mengakui kehebatan ilmu pedang orang itu. Cit-siu- kiam-hoat milik Kok Siauw Hong rasanya kalah setingkat dibanding ilmu pedang orang aneh itu.

Tapi kepandaian Gak Hu-jin ternyata lain dari yang lain. Tongkatnya menyambar kian ke mari hingga menimbulkan suara menderu-deru. Segenap penjuru seakan-akan bayangan tongkatnya saja. Tanpa terasa Ci Giok Hian merasa kuatir juga. Kini tahulah dia bahwa Gak Hu-jin memberi kelonggaran kepadanya. Jika tidak, dengan permainan tongkat yang dahsyat seperti itu, pasti dia tidak akan sanggup melawannya.

"Hm! Kepandaianmu memang asli pelajaran dari gurumu! Tapi untuk bisa menandingiku sedikitnya kau harus berlatih lagi selama tiga tahun," ejek Gak Hu-jin. "Nah, lekas katakan di mana gurumu? Apa dia sengaja mengutusmu ke sini untuk mengacaukan aku?"

"Ha,ha,ha!" orang itu tertawa. "Apa benar kau ingin mencari Guruku? Jika demikian silakan kau bertanya pada Giam-lo-ong (Raja Akhirat) saja!"

Gak Hu-jin melenggak kaget.

"Apa katamu? Gurumu sudah mati?" kata Gak Hu-jin. "Sudah sepuluh tahun yang lalu Su-hu meninggal dunia," jawab orang itu. "Kelihatannya kau tidak punya sumber yang akurat."

"Lalu siapa yang menyuruhmu menggangguku di sini?

Apa Khie Wie?" bentak Gak Hu-jin.

"Sudah lama memang aku mendengar nama Lo Cian- pwee itu, cuma sayang aku belum pernah bertemu dengannya," sahut orang itu. "Cuma perlu kukatakan, kedatanganku ini bukan sengaja hendak mengganggumu. Tapi aku datang karena kau mengganggu Nona Ci yang kebetulan kupergoki."

"Aku punya urusan dengan Ci Giok Hian, kenapa kau berani ikut campur urusanku?" bentak Gak Hu-jin.

"Nona Ci pembantu kepercayaan Liu Li-hiap. Jadi jika kau punya masalah dengan Guruku, masakan kau tak tahu tentang hubungan erat antara beliau dengan Liu Li-hiap?" jawab orang itu. "Singkat kata, apapun urusanmu dengan Nona Ci, jelas aku akan ikut campur."

"Bagus! Kau berani mengancamku dengan nama Hong- laymo-li? Hm! Sekalipun dia ada di sini, aku tidak gentar! Apalagi saat ini dia tidak ada di sini. Apa kau minta agar aku membunuhmu dengan tongkatku ini?" damprat Gak Hu-jin gusar.

Mendengar percakapan mereka, Ci Giok Hian tergetar hatinya. Baru sekarang dia tahu, bahwa murid sahabat Hong-lay-mo-li yang pernah diceritakan itu, benar orang ini. Tanpa terasa mukanya merah sendiri. Pemuda itu bicara lagi.

"Hm, memang gampang kau mau membunuhku dengan tongkatmu itu?" kata pemuda itu. "Huh, gurumu almarhum saja jerih padaku, tapi kau berani memandang ringan padaku? Kau kira aku tidak mampu membunuhmu? Hm, lihat saja nanti!" ejek Gak Hu- jin.

Saat kedua orang itu hampir bertarung lagi, tiba-tiba Gak Hu-jin bicara.

"Sekarang kau kuberi kesempatan. Ceritakan tentang Uh- bun Tiong! Di mana dia sekarang? Bagaimana keadaannya. Maka kematianmu bisa kuampuni walau kau tetap harus diberi hukuman yang setimpal." kata Gak Hu-jin.

"Aku sendiri tidak tahu di mana dia sekarang. Tapi aku kira kau bisa minta keterangan pada Hong-lay-mo-li di Kim-keeleng. Itupun jika kau berani ke sana!" jawab pemuda itu. "Kecuali itu, berita Kay-pang biasanya tajam, kau juga boleh menanyakannya pada Liok Pang-cu."

"Kurang ajar! Rupanya kau sengaja mempermainkan aku. ya? Kalau gurumu sudah mati, biar kau yang membayar hutangnya!" teriak Gak Hu-jin dengan gusar.

Tongkatnya segera terayun dengan dahsyat, hingga terpaksa pemuda itu melompat mundur. Ci Giok Hian yang merasa tidak sanggup membantu pemuda itu berpikir.

"Kedatangan Gak Hu-jin ke tempatku bisa jadi cuma ingin tahu tentang Uh-bun Tiong. Jika kuberitahu kejadian yang sebenarnya, aku kira itu cara terbaik untuk menolongi pemuda itu!" pikir Ci Giok Hian..

Karena berpikir begitu dia bersiap untuk melompat ke bawah. Tapi saat itu Gak Hu-jin sudah mendengar suara kresekan daun di atas pohon, maka itu dia membentak.

"Siapa yang bersembunyi di situ?" kata Gak Hu-jin. Dengan gaya "Burung walet menyusuri hutan" Ci Giok Hian melompat turun, lalu menjawab.

"Aku tahu tentang Uh-bun Tiong! Kau bebaskan dia dan akan kuberi tahu kau!" kata nona Ci.

"Bagaimana keadaan Uh-bun Tiong sekarang? Lekas katakan!" bentak Gak Hu-jin.

"Keponakan kesayanganmu itu sudah lama mati!" jawab Ci Giok Hian.

"Apa katamu?" bentak Gak Hu-jin kaget. "Bagaimana matinya? Apa dia dibunuh oleh Khie Wie?"

"Dia mati sendiri akibat penyakit Cauw-hwee-jip-mo.

Dia mati di daerah Biauw!" kata Ci Giok Hian.

"Aku tidak percaya! Pasti kalian yang membunuhnya!" teriak Gak Hu-jin kalap.

Mendadak wajah Gak Hu-jin berubah jadi beringas. Kedua matanya merah membara. Tiba-tiba dia mengerang keras seperti binatang buas hendak menerkam mangsanya. Dia maju sambil berteriak.

"Bagus, kalau musuhku sudah mati, dan keponakanku juga sudah mati, aku akan menagih hutang padamu. Kau harus mengganti jiwa!" kata Gak Hu-jin.

-o~DewiKZ~Aditya~aaa~o-

Tiba-tiba Gak Hu-jin menyerang dengan ganas, wanita itu kelihatan gusar bukan buatan. Dia kelihatan begitu benci pada pemuda itu. Maka itu dia menyerang dengan ganas sekali. Tiba-tiba terdengar suara. "Trang!"

Suara beradunya senjata yang nyaring sekali. Pemuda itu terpaksa menangkis hajaran tongkat Gak Hu-jin, hingga tangannya kesakitan, pedangnya pun hampir terlepas dari tangannya. Tapi melihat keadaan Gak Hu-jin yang sedang kalap, mau tak mau dia bingung juga. Dia heran kenapa tenaga Gak Hu-jin mendadak bisa bertambah kuat, padahal tadi mereka sudah bertempur sekian lama, Gak Hu-jin seperti sudah kehilangan akal sehatnya. Setelah tongkatnya beradu keras dengan pedang pemuda itu, tongkat Gak Hu- jin menyabet ke samping mengarah ke perut Ci Giok Hian.

Dengan cepat Ci Giok Hian melompat ke atas sehingga tongkat musuh menyambar lewat bawah kakinya. Di luar dugaan, mendadak tongkat Gak Hu-jin berbalik menghantam pula. Dalam keadaan demikian jelas Ci Giok Hian tidak sempat menghindar lagi. Begitu pula dengan pemuda itu, dia tidak sempat untuk menolonginya. Jika serangan Gak Hu-jin diteruskan, pasti jiwa Ci Giok Hian akan melayang. Tapi aneh sekali, mendadak Gak Hu-jin menghentikan tongkatnya di udara, menyusul itu dia berteriak dengan suara serak seperti setengah menangis sedih.

"Oh, putri kesayanganku! Lekas cium Ibumu. Jangan takut, masa Ibu tega memukulmu?" kata Gak Hu-jin pada Giok Hian.

Sesudah itu tongkatnya diturunkan, lalu berlari ke arah nona Ci dengan maksud menarik Ci Giok Hian. Rupanya Giok Hian dianggap anak perempuannya yang sudah meninggal untuk dipeluk. Sudah tentu Giok Hian ketakutan, cepat dia mengegos ke kiri.

"Beeet!" Lengan baju nona Ci robek. Sebenarnya maksud nona Ci memberitahu kematian Uh-bun Tiong pada Gak Hu-jin agar pikiran Gak Hu-jin kacau. Dengan demikian pemuda itu bisa mendapat kemenangan. Siapa tahu Gak Hu-jin mendadak jadi gila dan beringas.

Kuatir Ci Giok Hian dicelakakan Gak Hu-jin, pemuda itu menusuk punggung Gak Hu-jin dengan pedangnya. Tapi dalam keadaan sintingpun kepandaian Gak Hu-jin tidak berkurang. Malah serangan pemuda itu dengan mudah bisa ditangkis olehnya.

"Ha..ha...ha! Aku kenal kau! Kau ini Khie Wie yang membunuh putriku!" teriak Gak Hu-jin.

Berbareng dengan kata-katanya itu, tongkatnya dia putarkan lalu menyerang secara membabi-buta. Cuma caranya dia menyerang sudah tidak teratur lagi. Sebagai seorang ahli silat, pemuda itu pun tahu, jika dia mampu bertahan sebentar saja, kemenangan sudah pasti bukan di tangannya. Sekarangpun tenaga Gak Hu-jin mendadak bertambah kuat walau dalam keadaan gila. Untuk menangkis sepuluh jurus saja rasanya sukar baginya. Akhirnya dalam keadaan serba salah itu, terdengar Ci Giok Hian berseru.

"Perempuan ini sudah gila sulit untuk dilawan!"

"Benar, ayo kita lari berpisah ke dua arah!" jawab si pemuda.

"Bagus! Kau anak kandungku, malah memakiku!" seru Gak Hu-jin. "Hai, kau musuhku, masa kau ingin kabur begini saja?"

Tampaknya dia ingin menyusul "anaknya" itu. Tapi setelah berhenti sejenak, akhirnya dia mengejar ke arah pemuda itu. Melihat hal itu Ci Giok Hian segera berputar dan berseru pada Gak Hu-jin.

"Kejar aku!" katanya.

Maksud nona Ci supaya dialah yang dikejar. Tapi si pemudapun mengolok-olok Gak Hu-jin untuk memancing supaya Gak Hu-jin mengejarnya

Saat dua muda-mudi itu berebut ingin menggoda Gak Hujin agar dipancing kemarahannya itu, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda ramai sekali. Tak lama tampak empat penunggang kuda sedang mendatangi dari atas bukit.

Keempat orang itu berseragam perwira yang dikenal Ci Giok Hian di antaranya Koan Kun Ngo yang dulu pernah ikut menyerang ke Pek-hoa-kok. Semula Koan Kun Ngo seorang penjahat, entah mengapa sekarang dia menjadi perwira dan antek Gak Liang Cun. Melihat Ci Giok Hian, Koan tampak tertawa. Dia langsung berseru.

"Ah, rupanya kau, Nona Ci? Kau sudah pulang Nona Ci? Sungguh kebetulan Gak Tay-jin mengundangmu dan ingin menemuimu!" kata Koan Kun Ngo.

"Hei, Gak Hu-jinpun ada di sini!" seru seorang perwira yang lain. "Lekas kita tangkap dulu gadis ini."

Ci Giok Hian yang gusar lalu memapak mereka. Sedang perwira yang naik kuda itu bermaksud menerj angnya Ketika kuda lawan sudah dekat, Ci Giok Hian mengegos ke samping sambil menebas dengan cepat. Penunggang kuda itu memang sempat turun ke bawah dari pelana kudanya, tapi karena tebasan pedang Ci Giok Hian telah  memutuskan tali pengikat pelana itu dan melukai perut kudanya, orang itu langsung terguling jatuh! Kudanyapun meringkik dan melonjak-lonjak kesakitan dan akhirnya lari seperti sedang kesetanan. Koan Kun Ngo dan dua perwira yang lainpun sudah melompat turun dari kuda mereka, lalu menyerang ke arah Ci Giok Hian bersama-sama. Tidak lama perwira yang terguling itupun ikut menyerbu. Dengan cepat Ci Giok Hian memutarkan pedangnya untuk menghadapi kerubutan empat lawannya itu. Karena satu lawan empat, tidak mudah bagi nona Ci melawan mereka. Maka itu si nona jadi sibuk sendiri. Lama kelamaan daya tahannya mulai berkurang. Beberapa kali dia harus menghadapi serangan berbahaya dari musuh-musuhnya.

"Nona Ci, daripada kau adu jiwa, lebih baik kau menyerah saja! Masakan pada nona manis sepertimu kami tega mencelakakannya?" kata Koan Kun Ngo sambil tertawa ceriwis.

"Jangan ngaco!" bentak Ci Giok Hian sambil menyerang tiga kali. Tapi karena tenaganya sudah mulai lemah, serangannyapun gagal terus. Sebaliknya dia hampir terbacok oleh golok seorang musuh. Ci Giok Hian akhirnya jadi nekat.

"Daripada mati konyol, lebih baik kubunuh satu dua musuh. Dengan demikian jiwaku mendapat imbalan yang setimpal." pikir si nona.

Saat Ci Giok Hian nekat karena keadaannya mulai gawat, tiba-tiba tampak Gak Hu-jin berlari ke arahnya dengan rambut terurai. Saat itu kuda yang terluka oleh pedang Ci Giok Hianpun sedang berlari ke arah Gak Hu- jin.

"Awas, Gak Hu-jin!" teriak Koan Kun Ngo. "Anak gadis ini sudah tak berdaya! Dia akan segera tertangkap. Kau tak perlu membantu kami!"

Tapi sebelum suara Koan Kun Ngo berhenti, mendadak terdengar ringkikan kuda yang terluka itu. Menyusul kuda itu roboh terkulai. Ternyata sekali hantam Gak Hu-jin membuat batok kepala kuda itu hancur berantakan. Sekarang Koan Kun Ngo tahu keadaan Gak Hu-jin yang ganjil itu, Dia melengak kaget tapi saat itu secepat angin Gak Hu-jin sudah menerjang sambil membentak.

"Bagus, kalian berani mengerubuti putriku! Hm, biar kubunuh kalian semua!" bentak Gak Hu-jin.

Koan Kun Ngo yang kaget, berpikir. "Apa Nyonya Bupati ini sudah gila?" pikirnya. "Hei, Gak Hu-jin, masa kau lupa pada kami?" seru seorang perwira.

Baru saja ucapan itu selesai, tahu-tahu Gak Hu-jin sudah menyerangnya. Leher orang itu seperti dijepit oleh jepitan besi, hingga roboh terkulai tak bernyawa. Melihat hal itu Koan Kun Ngo segera kabur. Namun kedua perwira yang lain terlambat kabur. Ketika mereka sadar pada keadaan Nyonya Gak dan bermaksud lari, dengan susul-menyusul mereka dicengkram oleh Gak Hu-jin dan terbanting mati.

Pada waktu Gak Hu-jin membereskan perwira-perwira itu, kesempatan itu digunakan oleh Ci Giok Hian untuk menyembunyikan diri di tengah semak-semak. Ketika Gak Hujin berpaling dan tidak melihat Ci Giok Hian, dia cemas lalu berseru dengan suara serak.

"Oh, apa dosaku sehingga putriku sendiri tak mau mengakuiku!" kata Gak Hu-jin.

Saat itu si pemuda sudah kembali, segera dia berseru pada Gak Hu-jin.

"Putrimu sudah mati, Nyonya Gak!"

Mendadak sebagian pikiran Gak Hu-jin seperti pulih lagi. Sambil mengerang keras sekali, dia melompat ke atas seekor kuda yang kebetulan ada di sebelahnya dan langsung dilarikan  secepatnya.  Tidak  berapa  lama,  terdengar suara jeritan mengerikan. Itu jeritan Koan Kun Ngo! Walau orangnya tidak kelihatan, tapi Ci Giok Hian mengenali teriakan Koan Kun Ngo yang dibinasakan oleh Gak Hu-jin itu. Setelah menenangkan diri, Giok Hian keluar dari tempat persembunyiannya untuk menemui pemuda itu. Tapi dia bingung entah apa yang harus dikatakannya.

"Kau pasti kaget, Nona Ci?" kata pemuda itu sambil tertawa. "Semua ini gara-gara aku hingga membuatmu susah."

"Ah, membuat susah apa? Padahal sudah dua kali kau membantuku. Sedang aku belum pernah mengucapkan terima kasih padamu. Lagipula siapa kaupun aku belum tahu," kata Giok Hian.

"Penglihatan Nona Ci memang tajam. Memang akulah orang yang pernah kau curigai sebagai mata-mata musuh di Kim-kee-leng," jawab anak muda itu. "Aku she Tio namaku It Heng."

"Tio Tay-hiap, kau telah menolongku, tapi kenapa kau tidak mau bertemu muka dengan kami tempo hari?" kata Ci Giok Hian.

"Aku tahu kalian pasti menganggapku aneh, padahal aku kira Liu Li-hiap sendiri sudah tahu asal-usulku." kata Tio It Heng.

Diam-diam hati Giok Hian tergetar, Dia pikir pasti pemuda yang ingin dikenalkan Hong-lay-mo-li orang ini! Untung di kegelapan malam Tio It Heng tidak melihat perubahan air muka Ci Giok Hian. Sambil tersenyum Ci Giok Hian berkata, "Tapi aku belum tahu asal-usulmu."

"Baik, akan kuceritakan sekarang," kata lio It Heng. "Pernahkah kau mendengar nama To Pek Seng?" "Apa yang kau maksudkan itu Ek-pak-jin-mo To Pek Seng?" kata Ci Giok Hian.

"Benar, Ek-pak-jin-mo (Manusia iblis daerah Utara) gelar yang diberikan oleh bangsa Kim kepada beliau. Sebenarnya dia tidak jahat seperti dugaan orang," kata Tio It Heng. "Semasa hidupnya beliau banyak membunuh bangsa Nuchen (Kim) yang selalu menyerang bangsa Han. To Pek Seng bukan nama asli, namanya yang asli ialah To Kiam Hoo."

"Ya, aku pernah mendengar cerita para pendekar angkatan tua. Konon beliau pernah membunuh pembesar jahat negeri Kim di berbagai kota. Bahkan aku dengar dia bersumpah akan membunuh pembesar musuh sedikitnya di  buah kota. Kebetulan beliau she To (Sembelih), maka itu orang memberi nama To Pek Seng (Menyembelih orang di  kota) kepadanya. Cuma sayang sebelum cita-citanya terlaksana, dia sudah dikepung oleh jago-jago pilihan musuh hingga terpaksa beliau menyingkir ke wilayah Utara Bahkan meninggal di Mongol. Tapi entah betul atau tidak?"

"Benar, beliau meninggal di Mongol belasan tahun yang lalu," kata Tio It Heng.

Dalam hati Ci Giok Hian sudah bisa menerka beberapa bagian, maka itu dia coba menegaskannya.

"Dari mana Tio Tay-hiap mengetahui riwayatnya sejelas itu, apa kau. "

"Ya, To Pek Seng itu Guruku," jawab Tio It Heng sambil tertawa.

"Tapi yang kudengar, katanya To Pek Seng cuma punya seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan serta dua orang murid yang masing-masing she Liong dan she Ciok," kata  Ci  Giok  Hian  pula.  "Anak  lelakinya  bernama  To Liong, jiwanya kotor dan sudah lama mati. Muridnya yang she Liong sudah lama meninggal juga Putri To Hong diperistri oleh Jiesuhengnya, yaitu Ciok Bok yang kini menjadi Cee-cu di Longsia-san."

"Kau benar! Sebenarnya aku murid yang diterima oleh Guruku ketika beliau ada di Mongol. Mungkin Su-ci To Hongpun tidak mengetahui kalau dia punya adik seperguruan seperti aku ini," kata Tio It Heng.

"Kau baru dari Mongol?" tanya Ci Giok Hian.

"Sudah setahun aku pulang ke sini, tapi aku belum sempat ke Long-sia-san," jawab Tio It Heng. "Sepengetahuanku, Guruku masih punya seorang murid lagi di Mongol, namanya Hong Thian Yang. Sekarang usia Hong Thian Yang mungkin baru  atau  tahun. Aku sendiri belum kenal dengannya Bisa jadi dia baru masuk perguruan setelah Guruku wafat."

"Aneh! Setelah gurumu meninggal dia masih bisa menerima murid?" kata Ci Giok Hian.

"Guruku meninggal di Mongol karena serangan musuh. Ayah Hong Thian Yang sahabat karib Guruku. Menurut pesan terakhir Guruku, kitab-kitab pelajaran ilmu silat Guruku harus diberikan kepada Hong Thian Yang karena dia dianggap sebagai muridnya yang terakhir," kata Tio It Heng. "Cuma saja peristiwa itu tidak aku ketahui dengan jelas. Aku baru mendengarnya dua tahun yang lalu, setelah Guruku wafat."

"Ya, aku harap kau ceritakan saja kisahmu sendiri," kata Ci Giok Hian.

"Kalau begitu kita cerita tentang Gak Hu-jin. Sebenarnya sebelum menjadi istri Gak Liang Cun dia sudah bersuami. Sesudah suaminya mati, baru dia menikah lagi dengan Gak Liang Cun. Malah kabarnya mereka cuma suami istri bohongan saja." kata Tio It Heng.

"Soal itu aku sudah tahu," kata Ci Giok Hian. "Aku dengar dari kawanku Han Pwee Eng. Ketika itu dia bertemu dengan Khie Wie. Karena suami Gak Hu-jin yang pertama seorang penjahat besar, dia punya tiga saudara angkat. Tapi ketiga saudara angkatnya itu berkomplot  untuk membunuh suami Nyonya Gak. Untuk membalas sakit hati kematian suaminya, Gak Hu-jin menikah lagi dengan Gak Liang Cun dan membantunya dalam tugas hingga suami barunya itu mencapai pangkat Bupati. Dengan kekuasaan Gak Liang Cun itulah dia berhasil membunuh ketiga saudara angkat suaminya yang pertama. Putrinya dari suami yang pertama, semula ingin dijodohkan dengan Uh-bun Tiong, tapi putrinya lebih mencintai Khie Wie, akibatnya terjadi onar besar."

"Benar, tapi masih ada sesuatu yang tidak diketahui oleh Khie Wie," kata Tio It Heng. "Sebenarnya ilmu silat suami Gak Hu-jin yang pertama sangat tinggi. Jadi tidak mungkin tiga saudara angkatnya bisa membunuhnya. Tapi beberapa hari sebelum kematiannya, suami Nyonya Gak telah bertempur dengan Guruku, dengan demikian sudah tentu banyak mengurangi kekuatannya hingga ketiga saudara angkatnya berhasi membunuh dia!"

"Pantas Gak Hu-jin bertekad ingin menuntut balas kepada Gurumu," kata Ci Giok Hian.

"Ya, Gak Hu-jin menganggap Gurukulah yang mengakibatkan kematian suaminya! Maka itu dia bersumpah akan menuntut balas. Sedang Guruku sudah menyingkir ke Mongol, sebenarnya untuk menghindari Gak Hu-jin."

"Dengan Uh-bun liong " "Ya, aku memang pernah bertengkar dengan Uh-bun Tiong," kata Tio It Heng. "Untuk menarik hati Gak Hu-jin karena ingin diambil sebagai menantu, dia menyusup ke Mongol mencari tahu gerak-gerik Guruku. Tapi dia tidak tahu kalau Guruku sudah wafat. Ketika dia kepergok olehku maka terjadilah pertarungan. Ketika itu kepandaianku masih rendah hingga aku kalah olehnya. Tapi setelah aku pulang dari Mongol dan kembali bertemu dengannya, kami bertarung lagi. Kali ini dialah yang kalah. Sebenarnya kepulanganku ini untuk menemui Su-ci di Long-sia-san. Tapi karena ada urusan yang tak terduga, maka itu aku datang dulu ke Kim-kee-leng."

"Urusan apa itu? Bisa kau ceritakan?" kata Ci Giok Hian.

"Bicara tentang urusan ini, memang ada hubungannya dengan penangkapan mata-mata musuh di Kim-kee-leng tempo hari," kata Tio It Heng. "Han Ngo, salah seorang yang tertangkap itu, putra seorang sahabat karib Guruku. Menurut pesan Su-hu, hubungan antara keturunan kedua keluarga harus tetap dijaga erat. Untuk memenuhi pesan Guruku itu, sekembali aku ke sini aku segera mencari kabar tentang Han Ngo. Tapi yang aku dengar dia hidup di Kotaraja Kim dan menjadi antek Wan-yen Tiang Cie. Semula aku meragukan kabar itu. Ketika aku menyusup ke Tay-toh untuk mencarinya dan memperkenalkan diri padanya, di sana baru aku percaya kalau Han Ngo menjadi anak buah Wan-yen Tiang Cie.

Ternyata Han Ngo sangat menghargai hubungan orang tua kami, dia juga menganggap aku sebagai sahabat karibnya walau kami baru bertemu. Saat itu dia memberitahu rencana kerjanya akan menyusup ke Kim-kee- keng. Malah diapun mengajakku ikut serta untuk mencari nama    dan    kedudukan.    Sudah    tentu    aku    berusaha menginsafkan dia dengan segala macam dalih. Tampak hatinya mulai goyah. Tapi karena ada sesuatu yang sulit dikatakan, dia belum bisa menjawab secara tegas padaku. Esok harinya 
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Beng Ciang Hong In Lok Jilid 62"

Post a Comment

close