Beng Ciang Hong In Lok Jilid 46

Mode Malam
 
Seng Liong Sen terkejut bukan kepalang. Segera dia menoleh ke belakang, tapi tidak melihat orang yang dia curigai. Di tengah orang demikian banyak, sulit bagi Seng Liong Sen menentukan siapa orang yang tadi membisikinya.

"Hm, jangan-jangan orang she Khie itu mengirim orang untuk mengawasiku!" pikir Seng Liong Sen." Jika aku tidak melaksanakan tusasnya, pasti berabe!"

Dia jadi kaget dan sedikit kuatir juga.

Dengan jantung berdebar diam-diam dia kembali ke ruang depan. Kebetulan saat itu Ti-hu Gak Liang Cun baru muncul di ruang depan diiring oleh sahabat-sahabat dan beberapa pengawalnya. Segera Gak Liang Cun mengambil tempat duduk.

Sedang di belakang Bupati Gak Liang Cun berdiri dua orang perempuan cantik, keduanya berpakaian mewah. Seng Liong Sen mengira kedua wanita itu pasti isteri muda Gak Liang Cun..... "Aneh, bukan isteri pertamanya yang keluar, malah kedua isteri mudanya yang ikut keluar." bisik seseorang.

"Ah, kebetulan kalau begitu!" pikir Seng liong Sen. "Jadi aku tidak perlu membuat kaget isteri tuanya!"

Sesudah memberi hormat pada para tamunya Gak Liang Cun lalu berkata, "Aku girang, Tuan-tuan mau datang ke pestaku! Terima kasih atas kedatangan kalian ke pestaku yang sederhana ini!"

"Tutup mulutmu pembesar anjing, serahkan jiwamu padaku!" begitu tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring.

Bersamaan dengan teriakan itu, orang itu maju ke depan.

Dia tendang meja yang penuh dengan barang antaran.

"Braak!" meja pun terbalik.dan berhambuiran di lantai.

Tentu bukan saja Gak Liang Cun tapi semua tamu termasuk Seng Liong Sen pun kaget. Dua pria yang tubuhnya kekarkekar langsung menerjang. Mereka itu Tu Hok dan Chan It Hoan.

Sebelum Tu Hok dan Chan It Hoan sampai, dua orang yang berpakaian mirip pelayan sudah menghunus golok mereka dan mencoba menghalangi majunya Tu Hok dan Chan It Hoan.

Chan It Hoan seorang jago kawakan kalangan kang-ouw, sedangkan Tu Hok seorang jago dari Kim-kee-leng, mereka berdua ahli silat kenamaan. Ilmu silat mereka memang lihay. Tu Hok lebih lihay dari Chan It Hoan.

Kedua orang pengawal Gak Liang Cun itu, entah dari mana asalnya. Ilmu golok mereka sangat aneh, seorang memegang golok dengan tangan kanan yang seorang lagi menggunakan tangan kiri untuk memegang goloknya. Kedua golok mereka secara bersamaan menyerang dari dua arah, seolah hendak memotong lawan yang datang mendekati majikan mereka.

Di luar rumah Gan Liang Cun terdengar suara letusan hebat. Orang-orang yang tadi menyamar seperti pengemis, mereka telah membakar yan-hwee atau petasan terbang yang tadi mereka sembunyikan di balik pakaian mereka. Suara letusan petasan itu terdengar di mana-mana. Suaranya memekakkan telinga.

Suara letusan itu disusul oleh suara bentakan keras. "Kami orang gagah dari Kim-kee-leng, kalian yang  tidak

berdosa jangan takut. Kami hanya akan membunuh  musuh

kita dan ingin menangkap pembesar korup! Bagi orang Han kuanjurkan jangan ikut campur!" teriak orang itu.

Di antara pembesar dan prajurit yang ada di ruang pesta sebagian besar memang bangsa Han. Melihat para pengemis itu menerjang laksana harimau lapar, mereka gugup dan bingung sekali..

Ruang pesta dalam

panik dan berlarian ke berbagai arah untuk menyelamatkan diri. Panglima militer kota Yang-ciu seorang bangsa Kim yang sudah berpengalaman di medan perang, dengan tenang dia berteriak.

"Jangan panik, tutup pintu. Kita tangkap para penjahat itu!" teriaknya.

Melihat keadaan demikian kacau, kesempatan ini tak disiasiakan oleh Seng Liong Sen. Segera dia maju, sekali lompat dia melesat ke arah Gak Liang Cun dan kedua isterinya. Melihat Seng Liong Sen meluncur ke arah majikan mereka, dua orang pengawal yang berada di depan Gak Liang Cun maju mencoba akan menghalangi Seng Liong Sen. Tapi pemuda ini lebih gesit, segera dia tusuk kedua pengawal itu hingga roboh tak bernyawa. Sesudah itu dengan sekali salto Seng Liong Sen sudah berdiri tepat di depan kedua isteri Gak Liang Cun.

Kedua perempuan itu terkejut, karena tidak menyangka akan diserang, maka itu keduanya berteriak.

"Am..........ampuni kami....." katanya. "Aduh..."

Secepat kilat Seng Liong Sen telah memotong kepala isteri kedua Gak Liang Cun dengan mudah. Sesudah itu dia tendang isteri ketiga Gah hingga terpental. Sesudah itu dia jumput kepala perempuan malang atau isteri kedua Gak segera dia masukkan ke kantung kulit yang sudah dia siapkan.

Sesudah itu Seng Liong Sen memutar tubuhnya dan menerjang ke arah Gak Liang Cun. Ketika itu Gak Liang Cun sudah dikawal oleh dua pengawal lain, tapi sayang kepandaian kedua orang itu tidak setinggi kedua temannya. Mereka ketika itu bermaksud mencegat Seng Liong Sen. Dengan suara agak serak Seng Liong Sen membentak.

"Jika kalian sayang nyawamu, lekas pergi dari sini!" kata Seng Liong Sen.

Pedang pemuda itu bergerak cepat, hingga salah seorang dari pengawal tertusuk pedangnya. Untung yang seorang lagi segera menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan bergulingan menyelamatkan diri. Dua orang pengawal yang menghadang Tu Hok dan Chan It Hoan agak jerih.

Tiba-tiba Tu Hok mengayunkan goloknya. "Kena!" bentak Tu Hok. Saat goloknya menyambar, budak yang ada di sebelah kiri terbacok hingga berdarah-darah. Chan It Hoan tidak mau ketinggalan, dengan bertangan kosong dia pun maju. Dia rampas golok pengawal itu dengan tangan kosong.

Tapi Seng Liong Sen lebih cepat, hanya dua kali melompat dia sudah berada dekat Gak Liang Cun sebelum Chan It Hoan sampai ke sana. Tak diduga sama sekali, Seng Liang Sen sudah berada di samping Bupati itu. Saat itu juga dia tampar bupati itu dengan tangan kanannya. Sesudah itu Liong Sen mengepit tubuhnya. Gak Liang Cun dia bawa ke ruang dalam.

Saat Seng Liong Sen beraksi tadi, saudagar she Lauw dan she Sun pun ikut bergerak di bagian lain. Orang she Lauw mendekati komandan militer bangsa Kim dan bertanya.

"Tay-jin, siapa yang hendak kau tangkap?" tanya orang she Lauw itu.

Ternyata panglima kota Yang-ciu itu kenal pada saudagar she Lauw. Saat si komandan keheranan melihat seorang saudagar cita berani berkeliaran di tempat pertempuran, mendadak komandan itu merasakan sebagian tubuhnya kesemutan. Tanpa diduga kedua tangan komandan telah diikat oleh saudagar she Lauw.

"Eh, kenapa kau menangkapku. Bukankah kau saudagar Lauw?" tanya komandan kota Yang-ciu keheranan.

Orang she Lauw itu hanya tertawa sambil menjawab dengan tenang.

"Kau benar, sekarang aku bukan saudagar lagi. Sesudah aku menangkapmu, aku tak perlu lagi jadi pedagang!" kata orang she Lauw sambil tertawa. Orang she Sun mengayunkan cambuk, langsung menghajar anak buah komandan kota yang hendak mereka bantu. Mereka terhajar oleh cambuk orang she Sun. senjatanya langsung berjatuhan terhajar cambuk yang lihay.

Sesudah Seng Liong Sen berhasil mengempit Gak Liang Cun, dia langung membawanya ke ruang belakang. Tentu saja kedua saudagar she Lauw dan she Sun itu keheranan.

"Ah, ternyta dia kelompok kita, tetapi kenapa dia bunuh isteri Gak Liang Cun dan menawan serta membawanya ke ruang belakang?" pikir orang she Lauw.

Melihat pemuda itu masuk ke ruang dalam, mereka mengira Seng Liong Sen salah jalan saking paniknya.Maka itu mereka berteriak memangggil pemuda itu.

"Saudara Liong, jangan ke sana. Mari keluar, jangan membunuh anggota keluarganya!" teriak orang she Lauw.

Ketika itu Chan It Hoan berniat mengejar Seng Liong Sen, tapi tidak sempat karena pintu ruang belakang langsung ditutup oleh Seng Liong Sen.

Ketika terjadi keributan di ruang depan, Ci Giok Hian yang ada di ruang belakang yang diundang oleh nyonya rumah, Giok Hian yang cerdik, bertanya-tanya dalam hatinya.

"Kenapa isteri Bupati mengundangku ke ruang belakang?" pikir Ci Giok Hian. "Apa dia mengenali penyamaranku?"

Maka itu terpaksa Ci Giok Hian harus berhati-hati ketika dia ke ruang belakang bersama pelayan nyonya rumah itu. Isteri tua Bupati itu ternyata ramah sekali, sambil tertawa ia berkata, "Aku dengar kau pandai menyanyi, ternyata kau juga cantik sekali! Maka itu aku memanggilmu ke mari. Kau she apa dan sudah berkeluarga belum?" Mendengar bicara nyonya rumah itu demikian ramah, Ci Giok Hian lega juga hatinya. Maka itu dia jawab pertanyaan nyonya rumah dengan ramah pula. Dia tahu nyonya ini tidak memasang perangkap baginya.

"A Lan, suguhi tamu kita teh hangat," kata Nyonya Gak. "Terima kasih, Nyonya!" kata Ci Giok Hian. "Jangan

repotrepot!"

Tetapi nyonya Gak tetap menyuruh pelayannya menyuguhi secawan arak untuk Ci Giok Hian. Ci Giok Hian tidak dapat menolak suguhan itu, dia menerimanya.

Tetapi dia tetap waspada pada segala kemungkinan yang akan terjadi. Saat dia mengangkat cawan araknya, tangan Ci Giok Hian gemetar hingga isi cangkir tercecer sedikit. Ketika arak itu menyiram lantai, seketika timbul uap hitam. Kiranya arak itu telah dicampur dengan racun yang ganas.

"Eh, kenapa kau tumpahkan araknya, kurang ajar!" tegur nyonya rumah kaget dan jengkel.

Ketika itu di ruang depan sudah terjadi pertempuran hebat. Ci Giok Hian yang kaget, langsung berniat menangkap isteri Bupati itu untuk dijadikan sandera.

Ketika Ci Giok Hian maju hendak menyandera nyonya Gak, nyonya itu pun sudah mendahului menyerang Ci Giok Hian. Terpaksa nona Ci melemparkan cangkir teh ke arahnya. Tapi dengan gesit nyonya Gak mengibaskan lengan bajunya dan....

"Praang!"

Cangkir teh itu jatuh ke lantai langsung hancur berantakan. Rupanya nyonya Bupati ini seorang ahli silat. Ci Giok Hian maju, dengan jarinya dia menotok jalan darah  nyonya  Gak.  Kembali  nyonya  Gak  mengibaskan lengan bajunya. Terdengar suara kain robek ternyata jari nona Ci berhasil merobek lengan baju nyonya pembesar itu. Ci Giok Hian pun kaget karena dia rasakan serangan nyonya itu sakit sekali.

"Kau anak Khie Wie kan? Kenapa kurang ajar? Apa kau tidak tahu siapa aku ini?" bentak nyonya Bupati.

Ketika itu Ci Giok Hian bingung.

"Bukan! Aku orang dari Kim-kee-leng untuk menghabisi pejabat korup!" kata Ci Giok Hian. "Ternyata kau juga bukan orang baik!"

Nyonya Bupati ini pun tidak yakin Khie Wie akan mengirim puterinya, sekalipun dia dendam padanya. Maka itu dia melancarkan serangan berbahaya ke arah Ci Giok Hian.

Sedikitpun Ci Giok Hian tidak mengira kalau nyonya Bupati itu lihay sekali. Sedang pertarungan di ruang depan sedang berlangsung dengan sengit, maka itu dia berpikir harus bertempur mati-matian untuk membereskan nyonya rumah secepatnya.

Ci Giok Hian yang bertangan kosong agak terdesak oleh nyonya rumah, maka itu dia segera menghunus pedangnya. Dengan cepat pula dia menyerang dengan jurus "Giok-li- coanso" atau "Gadis manis melemparkan tambang" Ujung pedang nona Ci mengarah jalan darah lawan.

"Nyonya, tongkatmu!" teriak seorang pelayan sambil melemparkan sebuah tongkat pada nyonya rumah. Dengan cepat Ci Giok Hian hendak mencegah nyonya Gak memperoleh tongkat itu. Maka itu dia babat tongkat itu dengan pedangnya.

"Traang!" Saat kedua senjata beradu, tongkat itu tetap meluncur ke arah majikannya. Sekarang nyonya rumah sudah memegang tongkat kepala naga sebagai senjatanya.

Ci Giok Hian buru-buru lari ke ruang dalam maksudnya akan meloloskan diri ke ruang depan. Tetapi nyonya rumah tak tinggal diam, dia membentak sambil mengayunkan tongkatnya. Ci Giok Hian hendak menangkis tongka lawan dengan pedangnya. Kembali terdengar suara bentrokan senjata, kali ini hampir saja pedang Ci Giok Hian terlepas dari tangannya. Buru-buru Ci Giok Hian menghindar dan lari. Sedang lawannya pun terus memburunya.

Dari ruang dalam ke luar harus melewati taman yang luas. Dari jarak jauh Ci Giok Hian sudah melihat pintu keluar tertutup rapat. Dia kaget bukan kepalang...

Di pihak lain Seng Liong Sen yang sudah ada di ruang dalam, buru-buru menurunkan Gak Liang Cun dari kepitannya.

"Lekas selamatkan dirimu!" kata Liong Sen. "Jika terlambat, aku juga tak akan mampu melindungimu!"

Gak Liang Cun kaget seolah dia tidak percaya, kenapa pembunuh isteri keduanya ini malah menolonginya? Gak Liang Cun kelihatan agak ragu-ragu, sedang pemuda itu menyuruhnya segera pergi. Tiba-tiba terdengar suara benturan senjata, saat itu Ci Giok Hian muncul sedang dikejar oleh nyonya Gak. Melihat suaminya berada dengan orang yang tak dikenal, nyonya Gak kaget dan mengira suaminya sudah jatuh ke tangan musuh.

Tadi Seng Liong Sen masuk ke ruangan dalam untuk mencari Ci Giok Hian. Dia jadi kaget melihat Ci Giok Hian sedang dikejar-kejar oleh nyonya rumah. Dalam paniknya nyonya rumah mengejar Ci Giok Hian dan mengurungnya dengan tongkat kepala naganya.

"Jika kau bunuh suamiku, maka kawanmu pun akan kubunuh!" ancam nyonya Gak.

Dengan tak banyak bicara tiba-tiba pedang Seng Liong Sen mengarah ke jalan darah nyonya Gak, hingga terpaksa nyonya Gak harus menolong jiwanya dulu. Serangan pemuda ini di luar dugaan nyonya Gak. Sesudah berkelit tangan kanan nyonya Gak bergerak hendak menangkap tangan Seng Liong Sen.

Ternyata nyonya Gak tua-tua keladi, dia lihay, hampir saja lengan Seng Liong Sen tercengkram oleh cengkramannya. Bahkan pedang pemuda itu akan berpindah tangan.

Seng Liong Sen tidak kalah gesitnya, dia berkelit dari serangan itu. Sedang pedangnya dipakai membabat tangan lawan. Saat cengkramannya tak mngenai sasaran, Gak Hu- jin kaget. Dia tahu bahaya mengancam dirinya, buru-buru dia mundur.

"Breet!"

Ujung lengan bajunya tak urung terbabat pedang Seng Liong Sen. Keadaan di taman agak gelap dan remang- remang. Ci Giok Hian girang karena ada yang menolonginya. Maka diam-diam dia awasi orang itu. Ternyata orang itu seorang pemuda bermuka jelek sekali. Tetapi hatinya terkesiap, seolah dia pernah melihat orang berperawakan demikian, hanya wajahnya saja yang membuat dia pangling. Ci Giok Hian melongo keheranan.

"Kau., .kau siapa. " kata nona Ci..

Pada saat yang sama nyonya rumah pun bertanya. "Siapa kau? Dengan Khie Wie kau ada hubungan apa?" tanya Gak Hu-jin.

Ketika Seng Liong Sen menyerang dia menggunakan jurus ilmu silat ajaran Khie Wie, karena dia takut Ci Giok Hian mengenali jurusnya. Maka itu nyonya rumah mengenali jurus itu.

"Nona, lekas lari!" kata Liong Sen dengan mengubah suaranya.

Ketika para penjaga gedung Ti-hu mendenga suara keributan di bagian dalam, mereka bemunculan hendak memberikan bantuan. Tetapi karena pintu terkunci, terpaksa mereka menggedornya berkali-kali. Dengan tak berpikir panjang lagi, Ci Giok Hian membalikan tubuh dan melompat ke atas genting.

"Orang itu entah siapa, biar akan kutanyakan pada Paman Chan dan Tu, mungkin mereka tahu siapa orang yang berwajah buruk itu?" pikir Ci Giok Hian. Ketika itu Seng Liong Sen sudah menghadapi Gak Hu-jin dan menangkis serangan tongkatnya.

"Aku tidak bermaksud membunuh suamimu. Tak perlu kau menanyakan siapa aku!" kata Seng Liong Sen.

Para pengawal gedung itu sudah bisa masuk, mereka mengepung Seng Liong Sen.

"Orang ini telah membunuh isteri kedua Lo-ya, tangkap dia!" kata para pengawal itu.

Gak-hu-jin terkejut juga girang.

"Ternyata kau telah membantu aku membunuh perempuan itu, maka kau pun tidak akan aku ganggu!" kata Gak hu-jin. "Silakan pergi!" "Hu-jin, kita juga harus lari. Penjahat Kim-kee-leng telah menangkap panglima kota," kata Gak Liang Cun pada isterinya.

Gak Liang Cun ini licin, segera dia bertukar pakaian dengan pakaian pengawal. Dengan menyamar sebagai pengawal dia berusaha akan kabur. Sedangkan isterinya disuruh mengawal si pengawal gedung yang dipakai bajunya untuk meloloskan diri jika pintu depan dibobol oleh musuh.

Ketika Seng Liong Sen sudah melompat ke atas genting akan menyusul Ci Giok Hian ternyata sang isteri sudah menghilang. Kebetulan saudagar she Lauw juga ada di atap rumah, maksud dia akan menyusup ke ruangan dalam untuk membuka pintu. Mereka berdua berpapasan di atas genting.

"Mana nona Ci?" kata orang she Lauw itu.

"Dia sudah kabur, apa kau tidak melihatnya?" jawab Seng Liong Sen.

"Mana Gak Liang Cun?" tanya orang she Lauw lagi.

"Di sana! Dia lari ke sana!" kata Seng Liong Sen asal tunjuk."Hati-hati isterinya lihay!"

Terpaksa dia berbohong karena tugas dari orang she Khie, dia harus melindungi Gak Liang Cun. Saat orang she Lauw pergi hendak mengejar Gak Liang Cun, Seng Liong Sen tersenyum karena puas orang she Lauw sudah tertipu olehnya.

Dia segera meninggalkan tempat itu. Sesudah merasa jauh, ia menoleh dari jauh dia lihat gedung bupati she Gak itu kelihatan terbakar. Mungkin dibakar oleh para pejuang dari Kim-kee-leng. "Tugas dari Khie Wie sudah beres semua, sekarang aku harus segera kembali ke sana untuk menemui dan menyerahkan kepala ini! Tapi aku akan tinggal dulu beberapa hari di Yang-ciu untuk menyelidiki Giok Hian." pikir Seng Liong Sen.

Dia tidak kembali lagi ke penginapan, saat dia sampai di persimpangan jalan yang menuju ke Pek-hoa-kok, dia bimbang. Mau ke sana atau jangan?

Dalam pengejarannya orang she Lauw berhasil menyusul nyonya Gak dan Gak Liang Cun palsu. Setelah bertarung beberapa jurus, mereka tahu pintu depan telah bobol didobrak musuh. Tu Hok memburu ke dalam. Bupat palsu itu sudah tertangkap. Sedangkan nyonya Gak berhasil kabur.

Setelah diadakan pemeriksaan, Tu Hok berteriak penasaran karena merasa tertipu. Dia tampar pengawal itu lalu melepaskannya. Tu Hok dan kawan-kawannya mencoba menggeledah seluruh pelosok gedung pembesar itu. Namun, Gak Liang Cun entah sudah kabur ke mana?

Untung mereka berhasil menangkap perwira tinggi bangsa Kim. Walau tidak berhasil menangkap Gak Liang Cun mereka cukup puas. Mereka segera membongkar gudang dan mengambil harta pembesar she Gak itu. Sesudah gedung itu dibakar. Mereka tinggalkan gedung itu. 

-o~DewiKZ~Aditya~aaa~o-

Rombongan Kim-kee-leng meninggalkan kota Yang-ciu. Setiba di luar kota. mendadak Tu Hok ingat  kepada pemuda bermuka buruk itu, Tu Hok langsung bertanya pada kawannya, ternyata tidak ada yang kenal. Mereka juga tidak tahu siapa dan ke mana perginya pemuda cacat itu.

"Apa yang kau maksudkan pemuda yang wajahnya penuh luka itu?" tanya Ci Giok Hian.

"Kau benar, tadi dia berhasil menawan Gak Liang Cun, lalu pergi ke ruang dalam," kata Tu Hok. "Sesudah itu aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana!"

"Untung dia ke dalam, aku pun diselamatkan olehnya," kata Ci Giok Hian. "Mungkin karena ingin menolongku, Gak Liang Cun yang sudah dia tangkap dilepaskan lagi!"

"Aku kira dia terjebak akal licik Gak Liang Cun," kata saudagar she Lauw. "Aku juga heran, bagaimana mungkin bedebah itu bisa menyamar jadi pengawal dalam waktu sesingkat itu?"

"Siapa dia dan dari mana asalnya?" tanya Ci Giok Hian. "Kebetulan dia tinggal bersama kami di satu penginapan.

Kepada    saudara    Sun    dia    mengaku    bernama  Liong

Sin!"jawab orang she Lauw. "Siapa, Liong Sin?" kata Ci Giok Hian sedikit kaget. Dia pikir nama itu mirip dengan nama suaminya.

"Bagaimana kalian bisa berkenalan dengannya?" tanya Ci Giok Hian.

Orang she Lauw bilang dia bertemu dan berkenalan di penginapan, di kamar pemuda itu. Demikian juga Tu Hok ikut menceritakan, bagaimana pemuda itu mengacau di ruang pesta dan berhasil membunuh isteri kedua orang she Gak. Sesudah itu dia kepit Gak Liang Cun, dan anehnya pemuda itu justru masuk ke ruang dalam.

"Apa mungkin dia? Aku rasa bukan dia?" pikir nona Ci. "Dia jatuh ke jurang yang demikian curamnya, sekalipun tidak mati, tapi mana mungkin dia bisa sembuh dalam waktu demikian singkat?"

"Jika benar, kenapa dia membunuh isteri kedua Gak Liang Cun, dan melindungi pejabat korup itu!" pikir Ci Giok Hian lagi. "Tapi jika bukan dia.....aku rasa pernah melihatnya?"

"Perbuatan pemuda itu mengherankan! Nanti akan kutanyakan pada teman-teman yang lain. Aku rasa kita akan tahu siapa dia sebenarnya?" kata Tu Hok.

"Nona Ci, sudah jangan kau pikirkan soal itu! Apa kau mau ikut kami ke Kim-kee-leng? Aku kira tak lama lagi nona Han pun sudah akan ke sana!"

Kelihatan Ci Giok Hian agak ragu.

"Terima kasih, aku harus pulang dulu," kata si nona. "Ajakanmu akan kupertimbangkan!"

"Nona, bagaimana jika kau ikut aku saja," kata Chan It Hoan. "Kejadian yang menimpa suamimu harus segera kau laporkan pada guru suamimu. Bagaimana pendapatmu?" "Masalah ini kita bicarakan besok saja, bagaimana jika Paman Chan ikut aku ke Pek-hoa-kok?" kata Ci Giok Hian pada Chan It Hoan.

Saat itu Tu Hok dan kawan-kawannya sedang mengawal barang hasil rampasan. Sesudah berbincang sejenak, Chan It Hoan setuju ikut Ci Giok Hian, mereka pun langsung pamit.

Tu Hok mengambil jalan sendiri, sedang Chan It Hoan dan Ci Giok Hian berjalan menuju ke Pek-hoa-kok. Di tengah jalan otak Ci Giok Hian bekerja.

"Bila benar orang itu suamiku, apa yang harus aku perbuat? Apa aku maafkan dia, atau jangan?" begitu pikir Ci Giok Hian.

Tiba-tiba dia jadi geli sendiri.

"Kenapa aku ingat dia? Tapi mungkinkah dia? Mengapa aku harus memikirkannya?" begitu Ci Giok Hian mengambil putusan.

Di luar dugaan saat Ci Giok Hian dan Chan It Hoan sedang berjalan ke Pek-hoa-kok, Seng Liong Sen justru sedang menunggu kedatangan Ci Giok Hian di taman bunga milik nona Ci.

Semula Seng Liong Sen ragu, akankah dia menemui istrinya atau tidak? Tapi kemudian dia berpikir, sudah lama dia ingin melihat isterinya. Kenapa saat ada kesempatan malah disiasiakan? Maka itu dia berjalan menuju ke Pek- hoa-kok dan menunggu kedatangan isterinya.

Begitu Seng Liong Sen sampai di Pek-hoa-kok, hari sudah hampir tengah malam. Diam-diam dia berharap semoga saja malam itu Ci Giok Hian pulang. Dia berjalan dan melompati pagar tembok, lalu masuk ke dalam taman bunga. Kemudian bersembunyi di balik sebuah gunung- gunungan.

Sesudah menunggu cukup lama, tapi isterinya belum juga pulang. Seng Liong Sen jadi cemas dan sedikit kuatir, dia takut terjadi apa-apa pada isterinya.

"Sudah lewat tengah malam begini kenapa dia belum pulang juga?" pikir Seng Liong Sen. "Ah, jangan-jangan dia tidak pulang!"

Saat sedang kebingungan Seng Liong Sen mendengar langkah kaki orang mendatangi. Dari tempat gelap dia awasi, ternyata ada dua bayangan hitam sedang menuju ke arahnya.

"Siapa mereka itu?" pikir Seng Liong Sen.

Dengan bantuan cahaya rembulan Seng Liong Sen bisa melihat dengan jelas. Kedua orang itu muncul di taman. Seorang lelaki dan seorang lagi perempuan. Yang perempuan bukan Ci Giok Hian, tapi isteri tua Gak Liang Cun.

Seng Liong Sen penasaran mencoba memperhatikan yang laki-laki. Bukan main kagetnya Seng Liong Sen. Ternyata orang itu Wan-yen Hoo, atau orang yang menjerumuskan dirinya hingga dia mau bergabung dengannya. Akibatnya hampir saja dia tewas di jurang.

Tak lama terdengar Nyonya Gak bicara.

"Siauw Ong-ya, apa kau yakin orang itu dia?" kata Gak Hujin.

"Dari bentuk tubuh dan gerak-geriknya, iya!" jawab Wan-yen Hoo. "Aku yakin dia itu Ci Giok Hian!" Tiba-tiba dari dalam rumah Ci Giok Hian muncul seseorang. Ternyata dia jago silat bangsa Kim yang berumur sekitar empat puluh tahun.

"Cian Ciang-kun, apa kau menemukan sesuatu di rumah ini?" tanya Wan-yen Hoo.

"Tidak, selain seorang pelayan tua rumah ini," jawab jago Kim itu. "Dia pun tak bisa silat, tadi aku menotoknya! Dia bilang nonanya sudah lama tidak ada di rumah!"

"Aku yakin orang yang menyanyi itu Ci Giok Hian!" kata Wan-yen Hoo. "Mungkin tak lama lagi dia pulang. Tunggu saja di sini! Dia akan kutangkap agar kau tidak penasaran terus! Ditambah lagi kedudukan suamimu tergantung kepadanya!"

"Baik, Siauw Ong-ya, aku harap kau mau menjelaskan pada Ayahmu!" kata Gak Hu-jin.

Sebenarnya dia tidak mengharapkan suaminya lagi. Tapi karena ada yang lain yang dia harapkan, maka dia setuju saja. Tapi entah kenapa dia tidak mau berterus-terang kepada Wan-yen Hoo.

Jantung Seng Liong Sen berdebar keras. Melawan Wan- yen Hoo saja dia belum tentu menang, apalagi sekarang ada bu-su Kim dan Gak Hu-jin. Bagaimana dia tidak cemas? Dia memang pernah mendengar tentang orang she Cian itu karena dia pernah datang ke tempat guru Seng Liong Sen. Malah Cian Tiang Cun pun pernah bertarung melawan Pek Tek, katanya ilmu silatnya seimbang.

"Aku dengar nona Ci isteri Seng Liong Sen, apa benar?" tanya Cian Tiang Cun.

"Ya!" kata Wan-yen Hoo sambil tertawa. "Karena itu aku ingin menangkapnya hidup-hidup!" "Apa antara Pangeran dengan dia bermusuhan?" kata Cian Tiang Cun.

"Tidak! Dia sudah kutaklukkan, ilmu silatnya juga sudah kukerjai hingga dia menurut. Tapi sayang ketika dia kuperintahkan menyergap Kong-sun Po, dia malah ingkar! Maka itu terpaksa kupukul dia hingga jatuh ke jurang! Tapi aku belum tahu apa dia sudah mampus atau masih hidup?"

"Jadi, Siauw Ong-ya mau menangkap Ci Giok Hian untuk menyelidiki, apakah suaminya sudah mati atau masih hidup?" tanya Nyonya Gak.

"Ya," kata Wan-yen Hoo. "Aku kira sekalipun dia beruntung lolos dari maut, pasti dia akan mengasingkan diri, sedikitnya untuk beberapa tahun. Sesudah itu baru dia berani keluar lagi. Tapi aku kira dia tidak berani membohongi isterinya, maka itu aku dan Cian Ciang-kun sengaja datang ke Yang-ciu."

Ternyata Cian Tiang Cun mendapat tugas dari Wan-yen Tiang Cie, ayah Wan-yen Hoo untuk mengambil perbekalan dan sekalian mewakili Wan-yen Tiang Cie untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada Gak Liang Cun. Sedang kedatangan Wan-yen Hoo untuk menyelidiki keberadaan Seng Liong Sen.

Dia seorang pangeran, untuk menjaga harga diri, dia tidak mau tampak di depan umum, apalagi memberi selamat kepada seorang bawahan ayahnya. Maka itu Wan- yen Hoo sengaja datang terlambat. Maksudnya dia datang setelah pesta bubar.

Saat Wan-yen Hoo tiba, gedung milik Gak Liang Cun sedang terbakar. Ketika itu dia sempat melihat isteri Gak Liang Cun berlari keluar gedung. Dari nyonya Gak ini Wan-yen  Hoo  mendapat  keterangan  tentang  nona  yang menyanyi di tempat pesta. Dia yakin wanita itu pasti Ci Giok Hian, isteri Seng Liong Sen.

Seng Liong Sen terkejut mendengar pembicaraan mereka itu.

"Bangsat Wan-yen Hoo! Ternyata kau masih saja ingin menggangguku. Jika dulu aku matipun, pasti kau masih mengejarku! Akan kubalas kejahatanmu ini, Wan-yen Hoo!" pikir Seng Liong Sen. "Aku akan berusaha agar tidak bertemu dengannya. Semoga saja malam ini Ci Giok Hian tidak pulang!"

Harapan tinggal harapan, justru saat itu Ci Giok Hian dan Chan It Hoan sampai. Sebelum orangnya kelihatan, suara Chan It Hoan sudah terdengar sedang bicara dengan nona Ci.

Ketika mereka sampai di depan pintu pekarangan, Ci Giok Hian berkata pada Chan It Hoan.

"Mungkin pegawaiku sudah tidur," kata si nona. Dia terus berjalan sampai akhirnya dia kaget sendiri.

"Eh. Kok pintu pagarnya terbuka? Kenapa dia tak mengunci pintu pagar?" kata Ci Giok Han.

"Dia sudah tua, mungkin karena sudah pikun, dia lupa mengunci pintu pagar," kata Chan It Hoan.

Mereka masuk ke pekarangan, langkah kaki mereka terdengar jelas di malam hari yang sunyi itu. Di tempat persembunyiannya Seng Liong Sen bingung.

"Haruskah aku keluar? Tapi jika aku keluar berbahaya bagiku, jika aku tidak keluar, istriku yang akan terperangkap musuh! Aku pernah bersalah, sekarang aku tak boleh melakukan kesalahan lagi!" pikir Seng Liong Sen. Dengan tak berpikir lagi Seng Liong Sen muncul secara tiba-tiba. Begitu keluar Seng Liong Sen berteriak, "Kalian lari!"

Sesudah itu dia melompat ke arah Wan-yen Hoo yang sedang bersembunyi. Teriakan Seng Liong Sen mengejutkan Ci Giok Hian dan Chan It Hoan. Saat nona Ci menoleh ke arah suara teriakan itu, dia mengenali pemuda berwajah buruk dari bantuan cahaya rembulan.

"Eh, dia lagi yang menyelamatkan aku," pikir Ci Giok Hian. "Tapi anehnya, sekarang suaranya tidak seperti ketika di gedung Gak Liang Cun? Suara ini seperti aku kenal!"

Saat itu Nyonya Gak dan Cian Tiang Cun memburu ke arah Chan It Hoan dan Ci Giok Hian.

"Cepat lari, Nona Ci!" kata Chan It Hoan.

Chan It Hoan pernah melihat kepandaian Cian Tiang Cun di rumah Bun Yat Hoan. Dia duga kepandaian Nyonya Gak pasti lebih tinggi dari Cian Tiang Cun. Karena berpikir mereka tak mungkin melawan musuh, Chan It Hoan menganjurkan agar Ci Giok Han lari. Tapi karena Ci Giok Hian terkejut dia diam saja. Melihat nona Ci diam saja, buru-buru Chan It Hoan menarik tangan si nona.

Dalam keadaan terdesak, jalan yang paling baik adalah lari.

Saat Seng Liong Sen sampai di depan Wan-yen Hoo, dia langsung menusukkan pedangnya ke arah Wan-yen Hoo. Serangan itu sangat cepat, hampir saja Wan-yen Hoo tertusuk. Terpaksa Wan-yen Hoo berkelit mundur beberapa langkah. Melihat si muka buruk mampu mengatasi Wan- yen Hoo, Ci Giok Hian yang ditarik tangannya oleh Chan It Hoan ikut berlari kencang. "Hm! Ci Giok Hian, kau mau lari ke mana? Tetap kau akan kukejar!" kata Nyonya Gak Liang Cun yang terus mengejar

Jarak antara Ci Giok Hian yang dikejarnya sudah semakin dekat saja. Sedang di tempat lain Wan-yen Hoo yang memang lihay, mampu mengatasi serangan Seng Liong Sen. Sekarang serangan Seng Liong Sen bisa diatasi, hingga Seng Liong Sen tidak bisa menyerang seperti tadi.

Wan-yen Hoo mengeluarkan kipas baja dan menggunakan jurus ampuh dia menotok ke arah lawan ybryk melakukan serangan balasan. Setiap totokan mengarah ke jalan darah Seng Liong Sen yang berbahaya. Tak lama kelihatan Seng Liong Sen mulai terdesak.

Semula untuk mengelabui Wan-yen Hoo dia menggunakan jurus yang diajarkan oleh Khie Wie. Tapi karena terus terdesak Seng Liong Sen akhirnya mengeluarkan ilmu silat ajaran gurunya. Si Sastrawan Berpit Baja.

Sekalipun masih berada di bawah kepandaian Wan-yen Hoo, tapi Seng Liong Sen mulai mampu mengatasi serangan lawannya. Dengan demikian Wan-yen Hoo tidak bisa berbuat seperti tadi, dia jadi sulit untuk mengalahkan lawannya ini.

Sesudah bertarung cukup lama, sekarang Seng Liong Sen menggunakan jurus dari Bun Yat Hoan. Karena mereka bertarung dari jarak dekat, Wan-yen Hoo pun bisa mengenali siapa lawannya? Sekalipun wajah Seng Liong Sen telah berubah, tapi gerak-geriknya masih dikenali Wan- yen Hoo.

"Eh, siapa kau? Apa kau setan......" belum habis ucapan Wan-yen Hoo, Seng Liong Sen sudah memotong kata- katanya. "Benar, aku ini setan!" kata Seng Liong Sen sengaja mengubah suaranya hingga menyeramkan

Saat itu bukan main kagetnya Wan-yen Hoo'

"Oh, jadi benar kau... kau Seng. " kata Wan-yen Hoo.

Kembali ucapan Wan-yen Hoo terputus.

Waktu itu pedang Seng Liong Sen yang meluncur deras sekali berhasil melukai Wan-yen Hoo.

"Kau harus mengembalikan nyawaku!" kata Seng Liong Sen.

Karena keadaan di tempat mereka bertarung agak gelap dan samar-samar, membuat suara Seng Liong Sen yang tinggi sangat menakutkan. Mendengar suara yang menyeramkan itu mau tak mau Wan-yen Hoo ngeri juga. Dia bingung, benarkah dia sedang berhadapan dengan setan? Karena serangan datang bertubi-tubi dan Wan-yen Hoo merasa ngeri, dia sedikit agak lalai. Maka itu dia memilih lebih baik kabur. Ketika ada kesempatan baik, Wan-yen Hoo melompat dan kabur.

Melihat Wan-yen Hoo kabur, Seng Liong Sen tidak mengejarnya, karena dia menguatirkan keselamatan istrinya. Maka itu dia membalikkan tubuhnya lalu meninggalkan tempat itu untuk mencari isterinya. Tapi sebelum Wan-yen Hoo berlari jauh, dia sudah berhenti.

"Eh, kenapa aku lari? Bukankah orang itu mirip dengan Seng Liong Sen yang hendak kuselidiki? Ah bodoh benar aku ini!" pikir Wan-yen Hoo.

Setelah hatinya tenang Wan-yen Hoo memutar tubuhnya, kembali ke tempat tadi untuk mencari lawannya itu. Tapi begitu sampai Wan-yen Hoo tidak menemukan lawannya itu. Saat itu sayup-sayup dia mendengar suara bentrokan senjata tajam.

Sedang Chan It Hoan dan Ci Giok Hian yang sedang melarikan diri dikejar dua lawannya. Akhirnya Chan It Hoan terkejar juga. Di belakang dia, Nyonya Gak sudah mengayunkan tongkat berkepala naga ke arah Chan It Hoan. Melihat ada bahaya, Chan It Hoan berbalik, tangannya dia ulurkan untuk menangkap tongkat Nyonya Gak Liang Cun.

"Roboh!" teriak Nyonya Gak.

Tongkat Nyonya Gak berhasil menggaet kaki Chan It Hoan hingga Chan It Hoan roboh dan bergulingan di tanah. Sesudah merobohkan Chan It Hoan Nyonya Gak langsung mengejar Ci Giok Hian. Mendengar Chan It Hoan jatuh nona Ci kaget. Dia berniat kembali untuk menolong Chan It Hoan. Tapi tahu-tahu nyonya Gak sudah ada di depan Ci Giok Hian.

"Anak liar, menyerahlah!" kata Nyonya Gak.

Ketika itu tongkat naga Nyonya Gak sudah menyerang ke arah Ci Giok Hian, nona Ci terpaksa menangkis. Sekarang mereka mulai bertarung. Ci Giok Hian  melakukan perlawanan dengan sengit. Tetapi sesudah beberapa puluh jurus, dia mulai terdesak. Tubuh nona Ci sudah terkurung oleh tongkat berkepala naga milik Nyonya Gak yang lihay. Ci Giok Hian tak bisa berbuat banyak, kecuali bertahan, karena tidak sanggup membalas serangan lawan.:

Ketika itu Chan It Hoan sudah melompat bangun, tapi sayang Cian Tiang Cun sudah sampai dan menyerangnya.

"Bangsat! Mari kita adu jiwa!" bentak Chan It Hoan nekat. "Hm! Kau mau mengadu jiwa denganku? Kau jangan sombong!" kata Cian Tiang Cun.

Chan It Hoan maju sambil menyerang Cian Tiang Cun dengan hebat, mereka sudah langsung bertarung hebat. Tibatiba terdengar suara mengejutkan.

"Krek! Aduh!" teriak Chan It Hoan.

Saat agak lengah, tangan Chan It Hoan tertangkap oleh Cian Tiang Cun. Dengan kejam orang she Cian itu mematahkan tangan Chan It Hoan yang tampak kesakitan bukan main.

"Hm! Sekarang kau baru tahu bagaimana kelihayanku!" kata Cian Tiang Cun sambil tertawa.

Cian Tiang Cun maju, dia hendak menghabisi jiwa Chan It Hoan. Tapi tiba-tiba...

Datang serangan dari Seng Liong Sen, pedangnya menusuk ke bahu lawan. Namun. Cian Tiang Cun lihay. Ketika dia merasakan ada angin dari belakang, buru-buru dia berkelit dan menoleh ke belakang.

"Hm! Rupanya kau lagi!" kata Cian Tiang Cun gemas sekali.

Sambil berbalik ke belakang Cian Tiang Cun menggunakan tangan kosong untuk menangkap pedang di tangan Seng Liong Sen. Tapi Seng Liong Sen bukan anak kemarin sore. Setelah menghindari cengkraman Cian Tiang Cun, dia kembali menyerang hingga terjadi pertarungan hebat. Sambil bertarung Cian Tiang Cun berpikir.

"Eh, bukankah si buruk ini sedang melawan Wan-yen Hoo? Tetapi kenapa dia bisa ke mari? Apakah Wan-yen Hoo terluka olehnya?" pikir Cian Tiang Cun. Ketika Seng Liong Sen menyerang, terpaksa Tiang Cun mundur beberapa langkah ke belakang. Tapi saat serangan Seng Liong Sen yang gencar itu ingin mendesak Cian Tiang Cun, tiba-tiba Wan-yen Hoo muncul. Dari jauh dia langsung membentak.

"Tahan dia, jangan sampai kabur!" teriak Wan-yen Hoo.

Melihat Wan-yen Hoo tidak terluka dan datang ke tempat itu, semangat bertarung Cian Tiang Cun bangkit lagi.

"Baik, Pangeran! Dia tidak akan lolos dari tanganku!" kata Cian Tiang Cun.

Ketika itu Seng Liong Sen melihat Ci Giok Hian sedang terancam bahaya. Tongkat Nyonya Gak menyerangnya dengan ganas. Melihat hal itu Seng Liong Sen mau tak mau gugup dan kuatir. Seketika itu nekatlah Seng Liong Sen. Tibatiba pedangnya menusuk ke dada Cian Tiang Cun. Rupanya Seng Liong Sen sudah mengambil keputusan, jika perlu dia siap mati bersama lawan.

Diserang demikian hebat Cian Tiang Cun kaget juga. Segera dia berkelit menghindari serangan lawan. Tapi gerakan pedang Seng Liong Sen saat menyerang musuh sangat aneh. Ketika tusukan Seng Liong Sen luput, pedang itu menebas ke bagian bawah tubuh Cian Tiang Cun. Betapa gesitnya Ciang Tiang Cun menghindar, tidak urung lututnya tertusuk juga oleh ujung pedang Seng Liong Sen.

Tapi kepandaian bertarung jarak dekat Cian Tiang Cun cukup lihay. Maka itu sekalipun lututnya terluka, dia masih sempat menampar wajah Seng Liong Sen dua kali. Hajaran tangan Cian Tiang Cun cukup hebat, saat itu wajah Seng Liong Sen berlumuran darah, hingga wajahnya bertambah tidak karuan. Sebaliknya luka di lutut Cian Tiang Cun pun membuat dia kurang leluasa. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Seng Liong Sen, secepat kilat dia memburu ke arah Gak Hu-jin yang sedang menghadapi Ci Giok Hian. Melihat kedatangan Seng Liong Sen yang maju kalap, hal ini membuat Nyonya Gak kaget. Sekalipun kepandaian Nyonya Gak cukup tinggi, tapi karena diserang demikian hebat oleh orang yang sedang kalap, mau tidak mau dia keder dan jerih juga. Dengan adanya bantuan dari suaminya itu, keadaan Ci Giok Hian yang tadi terdesak, sekarang agak bebas. Dia sangat berterima kasih kepada pemuda yang berwajah buruk itu walau merasa heran.

"Kenapa dia begitu mati-matian menerjang musuh untuk menolongiku tanpa menghiraukan keselamatannya sendiri?" pikir Ci Giok Hian.

"Terima kasih, Toa-ko! Siapa sebenarnya Toa-ko ini. "

kata Ci Giok Hian ragu-ragu. "Aku punya obat, lekas obati lukamu!"

Ci Giok Hian melemparkan sebungkus obat bubuk yang selalu dia bawa-bawa dan langsung disambuti pemuda itu tanpa menyahut.

Sementara itu dia langsung menerjang ke arah Nyonya Gak dengan lebih hebat lagi. Karena serangan itu demikian nekat, tanpa terasa obat bubuk dari Ci Giok Hian terjatuh ke tanah. Padahal wajah pemuda yang berdarah itu semakin banyak saja mengeluarkan darah.

Saat itu Wan-yen Hoo sudah sampai di situ. Mendengar kata-kata Ci Giok Hian, Wan-yen Hoo keheranan.

"Jadi dia belum tahu, kalau orang ini suaminya!" pikir Wan-yen Hoo. Saat itu Wan-yen Hoo memang belum tahu kalau penyakit Seng Liong Sen sudah diobati oleh Khie Wie, dan sudah sembuh! Maka itu dia masih tetap berusaha hendak menaklukkan Seng Liong Sen agar pemuda itu bisa dia peralat. Maka itu dia tidak membuka rahasia itu di depan  Ci Giok Hian.

Saat itu Cian Tiang Cun yang lututnya berlumuran darah sedang berusaha menahan sakit dan memaki ke arah pemuda berwajah buruk itu. Dia sedang memburu dengan kaki pincang ke arah Seng Liong Sen.

"Istirahat saja Cian Ciang-kun, biar aku yang hadapi dia!" kata Wan-yen Hoo..

Ketika keadaan sedang tegang, tiba-tiba terdengar suara seruan.

"Hai, kau Cici Giok Hian bukan? Cici, kami datang untuk membantumu!" kata orang itu.

"Wan-yen Hoo, kau juga ada di sini? Saudara Kok, bangsat ini anak Wan-yen Tiang Cie. Kali ini jangan biarkan dia lolos!" kata seorang lelaki.

Rupanya orang yang datang itu Kiong Mi Yun yang ditemani Kong-sun Po dan Kok Siauw Hong. Bukan main girangnya Ci Giok Hian melihat kedatangan sahabatnya itu. Dia langsung berteriak dengan nyaring.

"Ah, kiranya kalian! Ayo tolongi dia! Toa-ko ini terluka!" kata Ci Giok Hian sambil menunjuk ke arah Seng Liong Sen.

Kedatangan ketiga orang itu tentu saja membuat Seng Liong Sen jadi serba salah. Dia girang tapi juga kaget.

"Ah, mereka datang! Jangan-jangan aku akan dikenali oleh mereka! Apalagi oleh Kong-sun Po. Aku juga tidak ingin Kok Siauw Hong berkumpul lagi dengan Ci Giok Hian!" pikir Seng Liong Sen.

Karena berpikir begitu tiba-tiba dia menyerang dengan hebat ke arah musuh. Saat musuh menghindar kesempatan itu dia gunakan untuk kabur, sebelum Kong-sun Po dan kawan-kawannya tiba!

Melihat pemuda yang wajahnya buruk tiba-tiba pergi, Ci Giok Hian kaget dan heran.

"Hai mau ke mana kau, Toa-ko?" teriak Ci Giok Hian. Tapi teriakan isterinya tak dihiraukannya, Seng Liong

Sen malah mempercepat larinya lalu menghilang di kegelapan malam.

Saat Ci Giok Hian agak lengah tiba-tiba nyonya Gak muncul, dia mencoba akan menangkap nona Ci.

"Kau mau lari ke mana!" bentak Nyonya Gak.

Serangan Nyonya Gak diketahui oleh nona Ci. Dia berkelit, tapi pakaiannya terjambret oleh Nyonya Gak hingga robek. Saat itu Kong-sun Po tiba. Dia menyaksikan keganasan Nyonya Gak.

"Sadis sekali perempuan tua ini!" kata Kong-sun Po. "Saudara Kok, kau hadapi Wan-yen Hoo! Biar kuhadapi dia!"

Dengan bersenjata payung baja, Kong-sun Po langsung maju. Karena belum tahu keampuhan senjata pemuda ini, Gak Hu-jin langsung menyambut serangannya dengan tongkat kepala naganya dengan menggunakan jurus "Kie- hwee-liauwthian" (Menyuluhi langit dengan sebuah obor).

"Trang!"

Terdengar suara nyaring beradunya besi. Lelatu api memancar ke segala penjuru. Gak-hu-jin kaget tangannya bergetar, terpaksa dia mundur beberapa langkah. Tongkat berkepala naganya hampir saja terlepas dari pegangannya. Tongkat itu beratnya sekitar  kati, belum lagi serangan Nyonya Gak demikian hebat. Rupanya dia mengira payung Kong-sun Po akan rusak, tetapi ternyata payung itu tetap utuh tak apa-apa. Ketika datang bantuan dari Kong-sun Po, Ci Giok Hian punya kesempatan untuk melompat keluar dari kalangan pertempuran. Namun, si pemuda berwajah buruk itu sudah tidak kelihatan lagi, sekali pun hanya bayangannya.

Tiba-tiba dia lihat Chan It Hoan sedang bersandar di sebuah pohon dengan lengan kanan terluka mungkin patah oleh lawannya. Ci Giok Hian segera memburu ke tempat Chan It Hoan untuk menolongnya.

"Nona Ci, lukaku tidak parah, kau bantu saja kawan kita mengusir mereka!" kata Chan It Hoan.

"Jangan kuatir, mereka cukup tangguh untuk melawan musuh," kata Ci Giok Hian. "Biarlah kuobati dulu lukamu, Paman Chan!"

Sesudah tangan Chan It Hoan diperiksa, ternyata tangan itu tidak patah, tapi hanya terkilir saja. Segera Ci Giok Hian mengurut dan membetulkan lengan Chan It Hoan hingga pulih, walau sakitnya masih terasa.

Saat itu Kok Siauw Hong dan Kiong Mi Yun sedang bertarung. Kiong Mi Yun menghadapi Cian Tiang Cun, sedangkan Kok Siauw Hong melawan Wan-yen Hoo.

Sekalipun kepandaian Cian TiangCun jauh lebih tinggi dari Kiong Mi Yun, tapi karena lututnya sedang terluka, gerakan Cian Tiang Cun tidak leluasa. Kelemahan ini tentu saja tidak disia-siakan oleh Kiong Mi Yun. Sengaja Kiong Mi Yun berputar-putar menghadapinya, hingga Cian Tiang Cun sulit menghadapi nona Kiong yang lincah itu. Sebentar ada di depan sebentar lagi ada di belakang dia. Terpaksa dia pun harus terus bergerak hingga kakinya bertambah sakit. Kiong Mi Yun sengaja lari kian ke mari mengadu kelincahan hingga Cian Tiang Cun sibuk bukan main menghadapinya.

Di tempat lain Wan-yen Hoo kuatir dan jerih berhadapan dengan Kong-sun Po, ketika dia harus menghadapi lawan yang lain, hatinya lega juga. Tak diduga Cit-siu-kiam-hoat yang dipakai Kok Siauw Hong sangat lihay. Sekalipun tenaganya tidak sehebat Kong-sun Po tapi serangan Kok Siauw Hong lebih lihay.

Wan-yen Hoo saat itu telah nengeluarkan segenap kemampuannya untuk menangkis, tapi dia cuma sanggup bertahan saja dan belum mampu membalas. Sekilas dia lihat Gak-hu-jin sedang terdesak. Melihat hal itu Wan-yen Hoo diam-diam kuatir juga. Maka itu dia berpikir untuk menyelamatkan diri. Mendadak dia pura-pura menyerang, tapi sesudah itu dia memutar tubuhnya dan kabur.

"Kau mau kabur ke mana?" bentak Kok Siauw Hong. Dia terus mengejar lawannya.

Wan-yen Hoo yang dikejar segera bersuit. Tak lama seekor kuda putih lari keluar dari dalam hutan. Kuda putih itu kuda pilihan hadiah dari raja Kim kepada ayahnya. Kuda perang ini pun sudah terlatih, tubuhnya tinggi besar. Begitu Wan-yen Hoo naik ke atas kudanya, dia langsung melarikan kuda itu secepatnya.

Kok Siauw Hong segera melepaskan dua buah senjata rahasia, tapi tidak mencapai sasaran, karena Wan-yen Hoo sudah jauh bersama kuda putihnya.

Cian Tiang Cun yang ditinggal sendirian jadi kelabakan dan cemas bukan kepalang. Dengan sedikit nekat dia serang Kiong Mi Yun, dia menghantam pedang lawan. Saat itu tangan Cian Tiang Cun tertusuk. Namun karena pedang Kiong Mi Yun terlepas, pedang itu jatuh ke tanah. Sedang tubuh Kiong Mi Yun sempoyongan lalu duduk di tanah.

Cian Tiang Cun bersuit memanggil kudanya, lalu melompat dan kabur. Kok Siauw Hong tidak mengejar, karena mengkuatirkan keadaan Kiong Mi Yun.

Kong-sun Po kaget ketika melihat Kiong Mi Yun terjatuh. Saat dilihat Kong-sun Po agak lengah. Nyonya Gak langsung menghantam payung Kong-sun Po sekuat tenaganya. Saat Kong-sun Po mundur dia juga kabur.

"Bagaimana keadaanmu, adik Mi Yun?" tanya Kong-sun Po.

"Aku tak apa-apa," kata Kiong Mi Yun yang langsung berdiri. "Sayang tak seorang pun berhasil kita tangkap!"

Kong-sun Po mencoba memegang nadi Kiong Mi Yun, dia lega karena kekasihnya tak apa-apa.

"Biar hari ini dia lolos dari tanganku, lain kali dia akan jatuh lagi ke tanganku!" kata Kong-sun Po.

Ketika itu Ci Giok Hian sudah selesai membalut luka Chan It Hoan. Kemudian dia mendekati Kong-sun Po.

"Terima kasih, Kong-sun Toa-ko!" kata Ci Giok Hian. "Kebetulan kami bertemu dengan Tu Hok hingga kami

tahu kau sudah pulang!" kata Kiong Mi Yun.

Ketika Kiong Mi Yun dan Kong-sun Po ke Kim-kee- leng, Tu Hok baru saja berangkat ke Yang-ciu. Sedang Hong-lay-mo-li yang kuatir Tu Hok tidak membawa pembantu yang dapat diandalkan, meminta agar Kong-sun Po dan Kiong Mi Yun menyusul Tu Hok ke Yang-ciu. Sedang Kok Siauw Hong yang baru datang pun langsung bergabung hingga mereka bersama-sama berangkat ke Yang-ciu.

Kiong Mi Yun mendekati Ci Giok Hian.

"Kakak Ci, mari ikut kami ke Kim-kee-leng. Di sana kau tidak akan kesepian!" kata Kiong Mi Yun.

"Bangsat Wan-yen Hoo itu telah mencelakakan Seng Toako, kami ikut berduka dan bersumpah akan menuntut balas!" kata Kok Siauw Hong.

"Terus-terang mula-mula aku kurang simpati pada suamimu, tapi setelah aku lihat dia melawan Wan-yen Hoo hingga tewas, aku jadi hormat kepadanya. Dia seorang lakilaki sejati. Kau harus bangga pada suamimu!" kata Kiong Mi Yun.

Ci Giok Hian senang karena dia tahu Kiong Mi Yun tidak membuka rahasia keburukan suaminya pada orang lain. Maka itu dia sangat bersyukur juga. Tapi tak urung dia merasa malu, sebab lambat-laun perbuatan suaminya akan ketahuan juga.

"Mudah-mudahan tidak!" pikir Ci Giok Hian. Lalu dia memutuskan akan ikut mereka ke Kim-kee-leng. Tanpa diminta Kiong Mi Yun memberi penjelasan begini.

"Semula Kok Toa-ko ke sini akan mencari kakak Han Pwee Eng, tapi tidak bertemu. Sekarang dia sudah tahu di mana Kakak Han Pwee Eng berada!" kata Kiong Mi Yun.

"Dia ada di mana ?" tanya Ci Giok Hian.

"Di tempat Theng Siok Peng, seorang pendekar yang telah mengasingkan diri di Souw-ciu. Theng Loo-cian-pwee kawan lama ayah Han Pwee Eng," kata Kiong Mi Yun. "Jika masalah di Yang-ciu sudah selesai, Kok Toa-ko akan pergi menemui Cici Han. Maka jika kau ikut kami ke Kim- kee-leng, kita bisa bertemu dengannya di sana."

Ci Giok Hian senang, tetapi juga berduka.

"Jika tahu nasibku akan jadi begini, dulu aku tidak melakukan kesalahan sampai mengacaukan perjodohan mereka?" pikir Ci Giok Hian. "Ah, aku malu rasanya bertemu dengannya! Tak lama lagi mereka akan menikah, sebaliknya aku jadi seorang janda. Masih untungjika perbuatan suamiku tak diketahui oleh mereka!"

Ketika Kong-sun Po ingat peristiwa yang baru saja terjadi, dia berkata pada Ci Giok Hian.

"Nona Ci, siapa orang yang membantumu tadi?" kata Kong-sun Po.

"Aku sendiri belum tahu siapa dia?" jawab Ci Giok Hian. "Kelakuan orang itu sangat aneh, dia sudah dua kali menyelamatkan jiwaku. Tetapi selalu secara terburu-buru menghilang!"

"Aku rasa aku pernah melihatnya, tetapi lupa entah di mana?" kata Kong-sun Po.

"Wajahnya penuh bekas luka, jika kau pernah melihatnya tak mungkin kau tidak ingat?" kata Kiong Mi Yun.

"Maka itu aku heran dan kenapa aku tidak ingat," kata Kong-sun Po.

"Siapa tahu mukanya cacat belum lama!"

"Ya, barangkali luka di mukanya itu baru dan belum lama. Mungkin dulu mukanya tidak begitu." kata Kiong Mi Yun. Nona Kiong cerdik, sejak tadi dia curiga, sambil tertawa dia berkata, "Sudah, tidak perlu menerka siapa dia? Jika dia kenalan kita, kenapa dia kabur begitu saja?"

"Kau benar," kata Kong-sun Po. "Yang pasti dia bukan musuh kita. Setiba di Kim-kee-leng kita akan segera tahu siapa dia sebenarnya?"

Kiong Mi Yun berkata begitu untuk menghilangkan keraguan Ci Giok Hian. Tapi sesudah mendengar kata-kata Kong-sun Po, nona Ci semakin sangsi dan curiga.

"Ah, ternyata Kong-sun Toa-ko saja mengaku pernah betemu dengannya. Lalu siapa dia?" pikir nona Ci. "Jika dia suamiku... .Ah tidak mungkin! Tak mungkin dia masih hidup?"

Saat itu Seng Liong Sen sedang kebingungan seperti nona Ci. Sesudah meninggalkan mereka dia lari ke tengah hutan bukan main sedih hatinya. Seng Liong Sen terharu dan melamun. Tiba-tiba dia mendengar suara panggilan untuknya. Nada suara orang itu lirih sekali. Seng Liong Sen kaget, dia menoleh, tetapi dia tidak melihat siapa-siapa.

"Sahabat, siapa kau?" kata Seng Liong Sen.

"Hm! Kau pandai berbohong! Tapi jangan harap kau bisa membohongiku!" kata suara itu.

Sesudah itu terdengar suara tertawa.

Seng Liong Sen tak bisa mengenali suara siapa. Dia jadi cemas dan kuatir entah berapa orang yang mengetahui rahasia pribadinya? Dia bergerak ke tempat suara itu.

"Siapa kau? Katakan apa maumu?" kata Liong Sen. "Serrr!"

Seng Liong Sen waspada itu pasti senjata rahasia lawan.

Dia menghunus pedang dan menangkis serangan itu. "Taak!"

Ternyata sebuah batu kerikil mengarah padanya, sekarang batu itu jatuh tersampok pedangnya.

"Jika kau berani, ikut aku!" ejek orang itu

Seng Liong Sen cuma mendengar suara tapi dia tidak melihat orangnya. Ternyata kerikil yang dilontarkan orang itu sebagai tanda agar dia menuju ke arah itu. Jadi bukan sebuah serangan gelap. Seng Liong Sen berlari ke arah petunjuk kerikil itu, maksudnya akan menemui orang itu.

"Dia harus kutemui, kalau perlu kutangkap dia!" pikir Seng Liong Sen.

Dengan menggunakan tenaga dalam yang tinggi dia berlari mencari orang itu. Tapi ternyata sia-sia saja, karena dia tidak dapat menemukannya. Dia berhenti.

"Ah, biar aku tak mencarinya!" pikir Seng Liong Sen.

Saat dia akan kembali ke tempat semula, lagi-lagi sebuah kerikil melesat ke arahnya. Mau tak mau Seng Liong Sen harus mengelak dari serangan batu kecil itu. Bukan main dongkolnya Seng Liong Sen yang merasa dipermainkan itu. Dia mengejar terus hingga sampai di puncak gunung sebelah timur. Sampai di tempat yang sepi, di tempat itu terdapat belukar dan pepohonan yang lebat, sehingga cahaya matahari agak terhalang. Suasana tempat itu terasa sangat menyeramkan.

"Dia seperti setan, aku harus hati-hati jangan sampai terjebak olehnya!" pikir Seng Liong Sen.

Saat Seng Liong Sen sedang bingung dan berdiri dengan tidak tenang, terdengar suara itu lagi.

"Baik, kau berdiri di situ! Mari kita bicara!" kata orang itu. Hati Seng Liong Sen panas, dia maju hendak mencengkram orang itu. Tapi dengan mudah orang itu menepis dan menangkis serangannya.

"Jangan main gila, kau mau apa sebenarnya?" bentak Seng Liong Sen.

"Hm!" ejek orang itu. "Jika mau bertarung denganku, kau harus belajar lagi selama sepuluh tahun pada orang she Khie itu!" kata orang itu.

Saat diamati ternyata orang itu seorang lelaki mengenakan pakaian hitam. Wajahnya kaku tidak berperasaan, suaranya parau tak enak didengar. Usia orang itu sulit diduga. Entah umur berapa dia? Seng Liong Sen merasa ngeri juga, dia mencoba menenangkan diri. 

"Kau siapa? Apa maksudmu mengajakku ke mari?" kata Seng Liong Sen.

Orang itu tertawa sejenak.

"Hm! Apa kau lupa, aku pernah memberi peringatan padamu, saat kau ada di gedung orang she Gak itu!" kata orang itu. "Kau kuajak ke mari karena ada yang ingin kutanyakan padamu!"

Ucapan itu menyadarkan Seng Liong Sen. Jelas dia orang yang dikirim Khie Wie untuk memata-matai dia. Seng Liong Sen berkata.

"Hm! Kau sebenarnya mau apa?" kata Seng Liong Sen. "Kau jangan berpura-pura bodoh," kata orang itu. "Aku

tahu Ci Giok Hian itu isterimu! Dengan licik kau menipu anak perempuan Khie Wie untuk menemui isterimu! Jika hal ini diketahui oleh Khie Wie, kau tahu sendiri akibatnya!" Mendengar ancaman orang itu Seng Liong Sen merinding juga. Maka itu dia pikir jalan keluar satu-satunya dia harus membunuh orang itu! Dulu Khie Wie mengatakan jika dia berkhianat kepada perguruan, dia pasti akan dibunuh oleh Khie Wie. Apa lagi dia telah menipu anak perempuannya. Tak mungkin Khie Wie rela membiarkan anaknya dipermainkan?

"Baik, aku takluk padamu, lalu bagaimana baiknya menurutmu?" kata Seng Liong Sen.

Tapi sambil berkata dia menusukkan pedangnya ke arah orang itu. Ternyata orang itu sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Ketika serangan datang dia egos, jarinya dia tusukkan ke mata Seng Liong Sen.

"Apa kau mau buta? Atau kau sudah bosan hidup?" kata orang itu.

Mendapat serangan duajari lawan, Seng Liong Sen menunduk, sekuat tenaganya dia putarkan pedangnya. Tak ampun lagi lengan baju orang itu terpapas pedang Seng Liong Sen yang tajam. Dia kaget, tapi puas. Tadi jika Seng Liong Sen lengah, matanya sudah buta! Kejadian yang demikian sempat mengejutkan Seng Liong Sen, maka itu dia jadi jerih dan diam tak berani menyerang orang itu.

"Hm! Kau akan membunuhku untuk menghilangkan saksi. Jangan berharap kau bisa melakukannya!" kata orang itu.

Seng Liong Sen diam tak menjawab.

"Aku kira kau juga tidak bodoh! Jika kau berhasil membunuhku, apa kau kira Khie Wie tidak akan curiga? Karena dia yakin kau telah membunuhku. apa kau kira dia tidak akan mencarimu?" kata orang itu. Seng Liong Sen kaget. Tubuhnya sedikit merinding dan mengeluarkan keringat dingin karena ngerinya. Dia sadar orang itu dikirim oleh Khie Wie untuk mengawasi dia. Jika dia binasa pasti Khie Wie curiga.

Sekarang Seng Liong Sen jadi serba-salah, sebab ilmu silatnya kalah. Menyerang secara diam-diam pun gagal hingga akhirnya dia bingung sendiri. Karena putus-asa dia sodorkan gagang pedangnya pada orang itu.

"Sekarang silakan kau bunuh saja aku!" kata Seng Liong Sen. Orang itu tertawa terbahak-bahak.

"Sudah simpan pedangmu, aku tidak bermaksud membunuhmu. Aku ingin bersahabat denganmu asal kau turuti kata-kataku!" kata orang itu.

"Sebenarnya apa maumu?" tanya Seng Liong Sen.

"Aku cuma ingin kau ajari rahasia tenaga dalam ajaran Khie Wie," kata orang itu.

Mendengar ucapan itu Seng Liong Sen heran.

"Aneh!" pikir Seng Liong Sen. "Jika dia dikirim oleh Khie Wie, setidaknya dia orangnya atau muridnya. Tapi ternyata dia minta rahasia ilmu tenaga dalam Khie Wie?"

Melihat Seng Liong Sen ragu orang itu langsung bicara, seolah dia tahu kalau pemuda itu ragu-ragu.

"Sebenarnya aku bisa minta diajari langsung oleh Khie Wie. Tapi menurut Khie Wie, ilmu itu masih ada bagian yang belum bisa dia pelajari! Jika ada orang lain yang mengajarkan ilmu itu, dia tidak keberatan. Sebab jika datang bencana yang celaka pasti orang lain!" kata orang itu.

"Kenapa kau tak sabar hingga kau minta aku yang mengajarimu?" kata Seng Liong Sen. "Terus-terang aku katakan kepadamu, aku ingin segera menguasai ilmu itu agar aku dapat segera membalas dendam," kata orang itu. "Jika menunggu dia yang mengajariku, entah kapan aku akan diajari olehnya? Dan mana bisa aku menunggu terlalu lama?"

"Apa kau tidak bicara terus-terang kalau kau mau membalas-dendam?" tanya Seng Liong Sen.

Mendengar pertanyaan Seng Liong Sen yang terlalu melitmelit, kelihatan dia tidak senang.

"Sudah jangan banyak omong! Sekarang aku cuma mengajakmu tukar-menukar sesuatu. Aku berjanji tidak akan membocorkan perbuatanmu yang busuk itu, asal kau mau mengajariku rahasia tenaga dalam ilmu silat ajaran Khie Wie padaku!" kata orang itu. "Jika kau tidak mau, tak apa. Aku kira yang rugi bukan aku kok!"

"Mendengar ucapannya, aku yakin dia tak akur dengan Khie Wie. Lalu kenapa aku takut kepadanya?" pikir Seng Liong Sen.

"Sabar!" kata Seng Liong Sen. "Aku mau saja berdamai denganmu. Tapi sebenarnya aku ingin tahu, apa hubunganmu dengan Khie Wie?"

Sesudah adu bicara Seng Liong Sen sadar bahwa orang itu bukan murid Khie Wie.

"Baik, jika kau setuju aku mau berterus-terang padamu. Aku bernama Uh-bun Tiong. Hubunganku dengan Khie Wie dia sahabat lamaku!" kata orang itu.

Seng Liong Sen mengangguk. Dia pun percaya pada ucapan Uh-bun Tiong karena Khie Wie pernah bilang, bahwa ilmu tenaga dalamnya hanya diajarkan kepada famili dekatnya. Jika Uh-bun Tiong bukan sanaknya, jelas dia tak akan diajari ilmu itu. "Baik, sejak saat ini kita bersahabat!" kata Seng Liong Sen

"Aku sudah berlatih tenaga dalam selama tiga bulan. Sesudah tugasku di sini selesai, aku harus kembali menemui dia. Maka itu yang akan kuajarkan padamu hanya inti dari rahasianya saja. Kau boleh melatihnya sendiri!" kata Seng Liong Sen.

"Ya, aku mengerti. Memang ilmu ini harus dilatih lama, mana mungkin tamat dalam tiga bulan?" kata Uh-bun Tiong. "Kalau begitu mari kau ikut aku!"

Dia mengajak Seng Liong Sen ke suatu tempat, di sana ada sebuah gubuk atap di balik semak-semak yang rindang. Di gubuk itu terdapat sebuah gentong besar penuh berisi beras dan satu gentong lain berisi air minum. Selain itu tersediajuga makanan kering lainnya sebagai persediaan untuk beberapa bulan lamanya.

"Aku tidak perlu lama-lama, sebulan saja sudah cukup," kata Uh-bun Tiong.

Sesudah itu Seng Liong Sen mulai mengajari teori tenaga dalam yang diajarkan Khie Wie pada Uh-bun Tiong. Sedang Uh-bun Tiong menghafalkannya dengan teliti. Dia mulai bersemedi berkonsentrasi penuh, sehingga di ubun- ubunnya muncul uap putih. Ketika itu apapun yang terjadi di sekitarnya tak dia perhatikan. Malah jika mau Seng Liong Sen bisa membunuhnya dengan mudah, tapi hal itu tidak dilakukannya. Sesudah setengah harian belajar, baru Uh-bun Tiong berhenti latihan. Dia menyeka keringat di dahinya, lalu mengucapkan terima kasih kepada Seng  Liong Sen. Dia sangat ber-syukur.

"Sungguh berbahaya, jika dia tahu aku bukan sahabat Khie Wie malah musuhnya, jiwaku bisa dikatakan berada di tangannya." pikir Uh-bun Tiong. Sejak saat itu Seng Liong Sen mengajari Uh-bun Tiong berlatih tenaga dalam. Tanpa terasa sudah hampir sebulan mereka berlatih.

Pada suatu malam, sekitar lewat tengah malam, mendadak Seng Liong Sen dibangunkan oleh Uh-bun Tiong.

Seng Liong Sen terbangun kaget, tapi Uh-bun Tiong berbisik di telinganya.

"Jangan kaget dan jangan bersuara! Mari ikuti aku!" kata Uh-bun Tiong.

Seng Liong Sen tidak mengerti apa maksud sahabat barunya itu, tapi terpaksa Seng Liong Sen bangun dan mengikuti Uh-bun Tiong yang berjalan perlahan-lahan.

Gubuk itu dikelilingi pohon-pohon yang rindang, jika orang tidak teliti sulit bisa menemukan bubuk itu.  Ditambah lagi gubuk itu berada di balik batu-batu yang cukup besar. Lewat celah batu itulah mereka keluar. Seng Liong Sen heran melihat Uh-bun Tiong begitu hati-hati. Di antara batu-batu itu terdapat celah hingga tidak perlu mendorong batu penutup jika mau keluar masuk. Dengan tenaga dalam mereka yang lumayan, mereka pun bisa melompat ke atas tanpa kesulitan.

Seng Liong Sen curiga melihat sikap Uh-bun Tiong yang tampak tegang, apalagi dia diminta agar tidak bersuara. Terpaksa Seng Liong Sen menahan rasa herannya. Uh-bun Tiong segera mengajak kawannya ke tepi jurang yang terletak di belakang gubuk atap mereka, di situ baru Uh-bun Tiong berkata perlahan.

"Tak lama lagi aku akan kedatangan beberapa orang musuhku. Kau harus membantuku." bisik Uh-bun Tiong. "Jadi kau bersembunyi di sini untuk menyergap mereka?" tanya pemuda itu.

Dia bertanya begitu karena kurang menghargai sikap Uh- bun Tiong. Karena itu bukan cara seorang ksatria yang berani menghadapi musuh. Seng Liong Sen heran, padahal dia tahu kepandaian Uh-bun Tiong cukup tinggi tetapi kenapa dia masih minta bantuan kepadanya? Maka itu sadarlah Seng Liong Sen, betapa lihay musuh kawan barunya itu.

"Benar, jika aku tak sanggup melawan mereka, akan kupancing mereka datang ke tempat ini!" kata Uh-bun Tiong. "Jika kau mampu mengalahkan salah satu saja dari mereka, aku yakin kita bisa mengalahkan mereka! Tapi ingat! Jangan gunakan senjata rahasia, percuma saja!"

"Siapa mereka itu? Apa mereka lihay sekali?" tanya Seng Liong Sen.

"Ya! Maka itu kita harus menghadapi mereka dengan akal," jawab Uh-bun Tiong. "Jika kita kalah, maka kita yang akan binasa di tangan mereka! Kau jangan tanya siapa mereka!"

Selesai mengatur siasat Uh-bun Tiong kembali ke gubuk atap meninggalkan Seng Liong Sen di tempat itu sendirian. Tidak lama Seng Liong Sen mencoba membuka telinganya. Sayup-sayup dia sudah mendengar suara langkah kaki orang sedang mendatangi.

-o~DewiKZ~Aditya~aaa~o- Ketika itu jantung Seng Liong Sen berdebar-debar tak hentinya. Dia sedang gelisah. Dengan bantuan cahaya rembulan dia lihat keempat orang itu sudah muncul semua. Dari tempat persembunyiannya Seng Liong Sen mengintai. Mereka datang yang terdiri dari seorang Hwee-shio,  seorang To-su dan dua orang perwira pengawal Gak Liang Cun.

Hwee-shio dan To-su itu tidak dia kenal, tapi kedua perwira itu sudah pernah dia lihat. Kedua orang itu orang yang melindungi Gak Liang Cun ketika terjadi pertarungan di kediaman pembesar itu. Sekarang mereka berdua sudah berganti pakaian seragam tentara. 

Merasa sanggup menghadapi kedua pengawal Gak Liang Cun, Seng Liong Sen tidak gentar karena mungkin mereka hanya menjadi penunjuk jalan saja. Sedangkan jago yang mereka jadikan andalan yaitu Hwee-shio dan To-su itu. Dugaan Seng Liong Sen tidak meleset. Tak lama salah seorang dari perwira berseragam itu berkata pada hwee-sho dan to-su itu.

"Gunung ini tempat yang baik untuk bersembunyi, lebih baik kita mulai menggeladah di sekitar gunung ini saja." kata perwira itu.

"Jadi kau sudah tahu Uh-bun Tiong hanya seorang diri saja?" kata si Hwee-shio.

"Ada kawan yang melihatnya, dia sendiri saja! Aku tak tahu sekarang dia sudah punya kawan atau belum!" kata perwira itu. "Kata Nyonya Ti-hu mungkin saja orang she Liong itu ada di sini," kata perwira yang lain.

"Ya. Aku dengar dia murid Khie Wie!" kata si To-su. "Jadi jelas dia tidak akan bersahabat dengan Uh-bun Tiong! Tadi kami tak bilang apa-apa, sebab jika aku katakan, nyonyamu tidak akan mengantarkan kami ke sini!"

"Aneh sekali, mereka bilang aku murid Khie Wie, tetapi kenapa aku tidak mungkin bergaul dengan Uh-bun Tiong?" pikir Seng Liong Sen agak curiga. "Apa Uh-bun Tiong musuh Khie Wie?"

Saat itu Uh-bun Tiong yang ada di dalam gubuk hatinya kebat-kebit, karena jika si To-su dan si Hwee-shio membuka rahasia hubungan dirinya dengan Khie Wie, pasti hal itu akan diketahui Seng Liong Sen. Sebelum To-su itu bicara lebih jauh, tiba-tiba si Hwe-shio menemukan rumah atap di semak-semak itu.

"Lihat! Kita sudah menemukan gubuk itu!" kata si hweeshio.

"Hai, Uh-bun Tiong, ayo keluar!"

"Jika kalian berani, mari masuk!" jawab Uh-bun Tiong. "Hati-hati, mungkin dia telah memasang perangkap!"

kata si To-su memperingatkan.

"Ya. Kita bakar saja gubuknya!" kata si hwee-shio.
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Beng Ciang Hong In Lok Jilid 46"

Post a Comment

close