Beng Ciang Hong In Lok Jilid 20

Mode Malam
Sebenarnya Seng Cap-si Kouw berharap Han Pwee Eng segera meninggalkan mereka berdua, lebih cepat lebih baik, oleh karena itu dia langsung ikut bicara.

"Legakan hatimu Nona Han, aku pasti akan mengurus ayahmu dengan baik!" kata Seng Cap-si Kouw.

Han Pwee Eng mengawasi ke arah ayahnya, dia lihat ayahnya berkeras menyuruh dia segera pergi mencari Siauw Hong, sedang nona Han tahu benar adat ayahnya. Jika dia tidak segera pergi ada kemungkinan ayahnya mencurigainya. Maka nona Han pun akhirnya berpikir.

"Seng Lo-cian-pwee ini dengan tidak menghiraukan nyawanya bertarung melawan kedua iblis tua itu. Bahkan dia juga telah cekcok dengan saudara misannya Beng Cit Nio. Dia yang menyelamatkan kami dari ruang tahanan. Pasti dia akan mengobati luka Ayahku dengan sepenuh hati hingga sembuh. Ditambah lagi aku tidak mengerti ilmu pengobatan apalagi tentang racun, jadi jika aku diam bersama Ayahpun aku tidak bisa berbuat apa-apa?" pikir Han Pwee Eng.

"Kalau begitu baiklah Ayah, aku menuruti perintah Ayah. Tetapi izinkan aku mengantarkan Ayah dulu sampai di rumah Seng Lo-cian-pwee, setelah itu baru aku pergi!" kata Han Pwee Eng.

"Sebaiknya kau segera pergi mencari Siauw Hong," kata ayahnya dengan suara lemah.

Han Pwee Eng mengangguk.

Sesudah itu mereka langsung berangkat ke rumah Seng Cap-si Kouw. Begitu sampai Han Pwee Eng melihat rumah Cap-si Kouw itu bagus sekali, Han Pwee Eng girang melihat rumah itu. Seng Cap-si Kouw menyilakan Han Tay Hiong masuk ke sebuah kamar.

"Tay Hiong, lihatlah! Apa kau cocok dengan kamar ini?" kata Seng Cap-si Kouw sambil tertawa.

Han Pwee Eng mengawasi keadaan kamar itu dengan seksama.. Tiba-tiba mata nona Han terbelalak. Dia lihat di dinding kamar itu bergantungan lukisan-lukisan milik ayahnya. Sedangkan tata ruangan itu dibuat sama dengan tata  ruangan  di  rumah  Han  Tay  Hiong.  Han  Pwee Eng benar-benar kaget seolah dia mengira dia berada dalam alam mimpi saja.

"Aku tahu kau sangat menyukai lukisan. Ketika aku mendengar khabar rumahmu akan diserang musuh, aku buruburu ke sana! Tetapi sayang aku tiba terlambat di rumahmu, ternyata kau telah jatuh ke tangan Beng Cit Nio. Malah merekajuga sedang mencari-cari hartamu. Sayang aku tidak berhasil melindungimu, namun aku masih berhasil menyelamatkan benda-benda kesayanganmu. Aku bawa lukisan-lukisan itu ke rumahku ini!" kata Seng Cap-si Kouw.

Begitu Han Tay Hiong melihat lukisan-lukisan itu, dia seolah merasa bertemu kembali dengan kawan lamanya, tentu saja Han Tay Hiong girang sekali. Tetapi dalam girang hati Han Tay Hiong tercekam oleh sesuatu. Dia tahu Seng Cap-si Kouw banyak akalnya Belasan tahun yang lalu, dengan mendadak isterinya meninggal diracun orang. Siapa yang meracuni isterinya sampai sekarang belum terjawab. Memang Han Tay Hiong pernah mencurigai Seng Cap-si Kouw sebagai pelakunya. Tetapi pengalaman hari ini, telah timbul kembali keragu-raguan Han Tay Hiong tentang pelaku pembunuh isterinya itu. Dalam hati Han Tay Hiong berpikir, bagaimanapun Seng Cap-si Kouw lebih menakutkan dibanding Beng Cit Nio, sekalipun Seng Cap-si Kouw telah menyelamatkan nyawanya dan begitu baik kepadanya.

Hati Han Tay Hiong begitu kacau dan akhirnya dia bicara.

"Terima kasih atas kebaikanmu. Aku sekarang merasa berada di rumahku sendiri..." kata Han Tay Hiong. Mendengar ucapan ayahnya yang tulus Han Pwee Eng merasa girang.

"Kalau begitu, Ayah aku mohon pamit!" kata puterinya. "Dengar anakku, jika kau tidak bisa masuk ke kota

Lokyang, kau boleh temui anggota Kay-pang untuk minta keterangan dari mereka. Bagaimanapun kau harus menemukan Kok Siauw Hong!" kata Han Tay Hiong.

"Baik, Ayah!" jawab Han Pwee Eng sambil mengangguk.

"Maaf Nona Han, aku tidak mengantarkanmu," kata Seng Cap-si Kouw yang kelihatan girang karena Han Pwee Eng akan segera meninggalkan mereka. Kemudian dia menoleh ke arah Tik Bwee sambil berkata.

"Tik Bwee kau antarkan Nona Han sampai turun gunung!" kata Seng Cap-si Kouw.

"Baik, Majikan!" jawab Tik Bwee.

Bersama-sama dengan Han Pwee Eng dia berjalan meninggalkan rumah majikannya. Selang sesaat Han Pwee Eng seolah mengenali pelayan Tik Bwee ini. Ketika dia akan menegur pelayan itu, malah Tik Bwee mendahuluinya bicara.

"Nona Han, apakah kau masih ingat padaku? Hari itu akulah yang mengantarkan Nona Ci ke tempatmu ditahan, saat nona Ci akan berpura-pura menjadi pelayan Beng Cit Nio," kata Tik Bwee.

"Oh, jadi kau itu! Pantas aku merasa kenal padamu!" kata Han Pwee Eng.

"Nona Han aku kira Nona Ci itu kawan baikmu, dia berani menempuh bahaya untuk menyelamatkan kalian!" kata Tik Bwee. "Kau benar! Dia dan aku seperti saudara kandung saja," jawab Han Pwee Eng.

Tetapi sesudah bicara begitu Han Pwee Eng merasa tidak enak hati pada Ci Giok Hian. Sekarang dia yakin sekali Ci Giok Hian bukan orang yang meracuni ayahnya, tetapi dia dan

ayahnya telah menuduh dia sebagai orang yang meracun ayahnya.

Saat Han Pwee Eng sedang terkenang pada Ci Giok Hian tiba-tiba Tik Bwee bicara lagi.

"Nona Han, sebenarnya aku ingin menitipkan sesuatu padamu," kata Tik Bwee.

"Menitipkan apa?" tanya Han Pwee Eng.

"Sebuah benda untuk Siauw-ya kami," jawab Tik Bwee. Mendengar ucapan Tik Bwee nona Han jadi tertegun.

"Tapi aku tidak kenal dengan Siauw-ya kalian!" kata Han Pwee Eng.

"Dia bersama Nona Ci pergi bersama-sama. Aku dengar mereka sudah bertunangan. Jika Nona Han  bertemu dengan Nona Ci, pasti kau akan bertemu dengan dia!" kata Tik Bwee.

Mendengar kata-kata itu hati Han Pwee Eng agak tersentak, nyaris dia tidak percaya pada kata-kata pelayan itu. "Eh, kau bilang apa? Nona Ci dan Siauw-yamu sudah bertunangan?" kata Han Pwee Eng agak kaget.

-o-DewiKZ^~^aaa-o- Sambil menunduk malu pelayan Seng Cap-si Kouw itu mengangguk perlahan. Dia awasi nona Han dengan tajam lalu berkata dengan perlahan pula.

"Ya, mereka telah bertunangan," jawab Tik Bwee. "Sebenarnya akupun tidak menduga hal itu akan terjadi, karena mereka baru saling kenal tidak lebih dalam sehari saja! Malam itu mereka bertemu, keesokan harinya mereka sudah, sudah. "

Tik Bwee tidak bisa meneruskan kata-katanya, mungkin hatinya berat untuk mengatakan mereka sudah bertunangan.

Han Pwee Eng teringat kejadian saat ayahnya minum arak yang dibawa oleh Ci Giok Hian, dan ayahnya keracunan. Tibatiba Beng Cit Nio muncul di kamar tahanan dengan gusar ingin membunuh Ci Giok Hian. Tanpa sengaja Beng Cit Nio melihat cincin yang ada pada Ci Giok Hian, karena cincin itu Beng Cit Nio batal membunuh Ci Giok Hian. Saat itu seolah Han Pwee Eng mendengar Beng Cit Nio mengatakan sesuatu, dia bilang dengan memandang cincin itu dia tidak akan membunuh Ci Giok Hian. Han Pwee Eng juga ingat Beng Cit Nio menyebut nama seseorang, karena saat itu Han Pwee Eng sedang panik melihat ayahnya keracunan jadi dia tidak mendengar apa yang dikatakan Beng Cit Nio denganjelas.

"Siapa nama Siauw-ya kalian itu?" tanya Han Pwee Eng. "Seng Liong Sen," jawab Tik Bwee.

Mendengar nama itu disebut Han Pwee Eng berseru tidak tertahan.

"Benar, Beng Cit Nio memang menyebutkan nama itu!" kata Han Pwee Eng. Tik Bwee tertawa.

"Pasti begitu! Cincin itu hadiah dari Beng Cit Nio untuk Siauw-ya kami, cincin khusus untuk pertunangannya," kata Tik Bwee.

Sesudah itu kelihatan wajah Tik Bwee berubah pilu. "Benarkah itu cincin pertunangan antara Ci Giok Hian

dan  Seng  Liong  Sen?  Ah,  tidak  mungkin!  Karena  demi

cintanya pada Kok Siauw Hong, Ci Giok Hian telah menghancurkan pertunanganku dengan Kok Siauw Hong. Malah kejadian itu telah menimbulkan badai di lembah Pek-hoa-kok. Apa mungkin tiba-tiba dia berganti kekasih bahkan bertunangan dengan laki-laki yang baru dikenalnya. Tapi, ketika Beng Cit Nio melihat cincin itu Beng Cit Nio batal membunuh Ci Giok Hian. Jadi apa yang dikatakan pelayan ini pasti bukan untuk mengada-ada." pikir Han Pwee Eng.

Saat Han Pwee Eng sedang berpikir, hatinya jadi bertambah bingung, sehingga dia tidak mendengar Tik Bwee tertawa. Sedangkan Tik Bwee tidak memperhatikan perubahan wajah nona Han.

Tiba-tiba Han Pwee Eng mendengar Tik Bwee bicara lagi.

"Itu yang dinamakan jodoh, sekalipun jauhnya ribuan li tetap akan bertemu! Nona Han kenapa kau tidak ikut gembira untuk mereka?" kata Tik Bwee.

Han Pwee Eng tersentak kaget.

"Oh! Tentu aku ikut bergembira, malah gembira sekali! Tetapi aku belum yakin atas kejadian itu?!" kata Han Pwee Eng. "Tetapi setelah kau bertemu dengan mereka pasti kau akan percaya kata-kataku," kata Tik Bwee meyakinkan nona Han.

"Lalu kau mau titip apa untuk Siauw-yamu itu?" kata Han Pwee Eng.

Tik Bwee merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kantung terbuat dari kain.

"Ini barang titipan dari Siauw-yaku, dia lupa membawanya, maka benda ini aku titipkan padamu untuk kau serahkan pada Siauw-yaku!" kata Tik Bwee.

Melihat kantung terbuat kain itu Han Pwee Eng tercengang, sebab dia lihat kantung kain itu hanya benda biasa, tetapi dia heran kenapa Tik Bwee menganggap kantung kain itu bagaikan sebuah pusaka. Rupanya diam- diam Tik Bwee mencintai Seng Liong Sen. Sedang Tik Bwee berharap setelah Seng Liong Sen melihat kantung kain itu, Liong Sen akan tetap ingat padanya.

"Sekalipun aku hanya seorang pelayan, tetapi aku harus tetap bisa dipercaya, maka itu benda ini harus aku kembalikan kepadanya," kata Tik Bwee.

Saat itu hati Han Pwee Eng pun telah terganjal oleh berbagai masalah, maka itu dia tidak banyak bertanya. Kemudian nona Han menyimpan kantung kain itu ke sakunya.

"Baiklah, jika aku bertemu dengan mereka, pasti benda itu akan aku sampaikan kepadanya," kata Han Pwee Eng. "Nah, sampai bertemu!"

Keduanya lalu berpisahan. Han Pwee Eng meneruskan perjalanannya.

Di sepanjang jalan Han Pwee Eng masih berpikir. "Ooh, entah di mana mereka sekarang? Setelah aku bertemu dengan mereka maka masalah ini baru akan jelas!" pikir Han Pwee Eng.

-o-DewiKZ^~^aaa-o-

Hari itu saat Ci Giok Hian dan Tik Po mendengarkan pembicaraan murid Jen Thian Ngo dengan Chu Kiu Sek. Ih Hua Liong, murid Jen Thian Ngo berjalan keluar bersama Chu Kiu Sek. Tiba-tiba Chu Kiu Sek mendengar suara di balik gunung-gunungan. Tetapi mereka tidak yakin itu suara orang.

Ih Hua Liong ini licik tetapi banyak akalnya mirip dengan gurunya. Segera dia memberi isyarat pada Chu Kiu Sek. Tidak lama kelihatan Ih Hoa Liong membisiki Chu Kiu Sek, rupanya dia sedang memberi keterangan tentang rute perjalanan yang akan ditempuh oleh rombongan pembawa harta untuk para pejuang. Saat itu Ih Hua Liong yang tahu ada orang ikut mendengarkan pembicaraan mereka, dengan sengaja dia mengatakan jalur perjalanan yang salah, agar orang yang mendengar tentang perjalanan rombongan itu tersesat, karena jalur yang dikatakannya jalur palsu.

Tidak heran sekalipun Ci Giok Hian sangat cerdas, namun sedikitpun dia tidak menduga bahwa dia disesatkan oleh murid Jen Thian Ngo yang licik itu, dengan demikian Ci Giok Hian dan Seng Liong Sen telah mengambil jalan yang salah, malah mereka semakin menjauhi lokasi yang sebenarnya.

Di tempat lain Ci Giok Phang sebagai wakil Jen Thian Ngo sedang bertugas mengawal harta. Ketika itu yang diketahui Ci Giok Phang bahwa Jen Thian Ngo adalah tokoh tua yang patriotik, dan tidak menyangka bahwa Jen Thian   Ngo   telah   mengatur   siasat   busuk   bersekongkol dengan Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya untuk menguasai harta itu.

Jarak kota Lok-yang ke tempat para pejuang sekitar limaratus li jauhnya. Sekalipun jaraknya tidak terlalu jauh namun perjalanan itu sangat sulit, karena rombongan itu harus melewati pegunungan yang licin dan curam. Bukan saja jalannya sukar, kereta yang mengangkut hartapun berat, tidak heran jika perjalanan jadi sangat lambat dan tersendat-sendat. Kelambatan ini ditambah lagi oleh karena mereka dilarang berjalan malam oleh Jen Thian Ngo. Bahkan Jen Thian Ngo seolah-olah sangat hati-hati. Jika mereka akan menempuh jalan yang sukar, dia mengutus orang dulu untuk menyelidikinya, apakah jalan itu aman atau tidak. Setelah mendapat laporan bahwa jalan aman baru rombongan diperbolehkan melanjutkan perjalanan. Tidak heran jika hal itu sangat menyita waktu. Setiap hari mereka hanya mampu menempuh lima sampai enampuluh li. Ci Giok Hian kelihatan tidak sabar, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena tahu tanggung-jawab Jen Thian Ngo memang berat sekali, jadi prinsip Jen Thian Ngo lebih baik lambat asal selamat, maka itu Ci Giok Phang harus taat pada perintah Jen Thian Ngo.

Sebenarnya Jen Thian Ngo sedang gelisah, karena sudah melakukan perjalanan sekitar tujuh hari, kenapa Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya belum juga muncul? Oleh karena itu Jen Thian Ngo kebingungan dan gugup sekali.

Hari itu rombongan Jen Thian Ngo sudah sampai di lembah Cing Liong (Lembah Naga Hijau, Red). Begitu rombongan ini keluar dari lembah Naga Hijau berarti mereka sudah akan memasuki wilayah kekuasaan para pejuang. Tahu bahwa rombongan itu hampir sampai Jen Thian Ngo bertambah gugup, tiba-tiba dia mengeluarkan perintah agar rombongan berhenti dengan alasan semakin dekat ke markas para pejuang, situasi akan bertambah berbahaya. Maka itu dia bilang akan menyelidiki situasi dulu sebelum meneruskan perjalanan.

"Kita hampir sampai ke tempat para pejuang, kenapa harus berhenti? Aku khawatir jika kita berhenti di sini siapa tahu akan terjadi sesuatu yang tidak terduga?" kata Ci Giok Phang pada Jen Thian Ngo.

"Justru karena kita hampir sampai kita harus lebih waspada! Dengan demikian perjalanan kita jadi tidak sia- sia!" jawab Jen Thian Ngo.

Di tendanya Jen Thian Ngo tampak panik.

"Celaka! Apakah Ih Hua Liong tidak bertemu dengan Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya? Jika hari ini mereka tidak muncul, habis sudah kesempatan baik ini!" pikir Jen Thian Ngo.

Tiba-tiba Ci Giok Phang menemuinya, menanyakan apakah perjalanan akan diteruskan atau tidak.

"Sudah aku katakan kita bersabar dulu, selidiki dulu situasi di sekitar tempat ini!" kata Jen Thian Ngo.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita kirim orang ke tempat para pejuang untuk menghubungi mereka, katakan kita sudah sampai di sini sekalian kita minta bantuan dari mereka untuk mengangkut harta ini!" kata Ci Giok Phang.

Jen Thian Ngo berpikir sejenak kemudian dia manggutmanggut.

"Baik, kalau begitu kau saja yang ke sana!" kata Jen Thian Ngo.

Perintah ini sengaja dia berikan pada Ci Giok Phang karena sebenarnya Jen Thian Ngo ingin agar Ci Giok Phang tidak ada di dekatnya, sebab jika ada kesempatan baik dia bisa turun tangan tanpa mendapat gangguan dari pemuda itu.

"Baik," kata Ci Giok Phang.

Tapi mendadak terdengar suara hiruk-pikuk. Suara itu disusul oleh derap kaki kuda. Tak lama mereka menyaksikan banyak orang yang berlari ke arah rombongan mereka Ternyata para penunggang kuda itu adalah pasukan berkuda tentara Mongol. Sebagai pemimpin pasukan Mongol itu kiranya See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek. Tidak heran hanya dalam sekejap mata tentara Kay-pang sudah langsung terkepung.

Melihat kedatangan tentara Mongol bersama Chu Kiu Sek dan See-bun Souw Ya, tentu saja Jen Thian Ngo girang bukan kepalang, namun hal itu tidak diperlihatkan. Malah Jen Thian Ngo pura-pura kaget dan gusar, dia memacu kudanya ke depan sambil membentak.

"Jen Thian Ngo berada di sini! Aku tidak akan membiarkan kalian bertingkah di tempat ini!" kata Jen Thian Ngo dengan gagah.

Rupanya kedatangan See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek terhambat karena harus bertarung melawan Beng Cit Nio maupun Seng Cap-si Kouw dan Han Tay Hiong. Hal inilah yang membuat mereka terlambat dua hari. Ditambah lagi mereka terluka. Sesudah meloloskan diri dari Han Tay Hiong mereka berdua membawa pasukan berkuda Mongol pilihan, dan langsung memacu ke tempat yang mereka janjikan. Ternyata Jen Thian Ngo dan rombongan pembawa harta sudah hampir mendekati tempat para pejuang saat mereka tiba di sana.

Jen Thian Ngo mencabut pedangnya dan menyerang dua penunggang kuda prajurit Mongol, seketika itu dua prajurit itu  terjungkal  dari  kudanya,  sekalipun  pedang  Jen Thian Ngo berhasil merobek pakaian lapis baja tentara Mongol itu, namun kedua prajurit itu tidak terluka.

"Bagus Jen Thian Ngo!" bentak See-bun Souw Ya. "Sebenarnya kau bukan orang Kay-pang, kenapa kau membantu orang Kay-pang? Kau sangat kurangajar aku ingin mencoba kelihayanmu!"

Sesudah itu See-bun Souw Ya langsung menyerang ke arah Jen Thian Ngo, seketika itu tercium bau amis yang luar biasa. Dua orang anak buah Kay-pang yang ada di sisi kanan dan sisi kiri Jen Thian Ngo ketika mencium bau amis itu langsung pingsan.

"Kalian mundur semua, biar aku yang menghadapi kedua Iblis Tua ini!" teriak Jen Thian Ngo.

"Ha, ha, ha, hari ini adalah urusan Mongol dengan Tay Song (Kerajaan Song yang besar, Red)," kata Chu Kiu Sek. "Siapa yang akan bertarung denganku satu lawan satul"

Tak lama Chu Kiu Sek memerintahkan pasukan Mongol yang membawa panah untuk segera memanah lawan.

"Panah! Panah mereka!" teriak Chu Kiu Sek.

Serempak sesudah itu terjadi hujan anak panah. Di sanasini mulai terdengar suara jeritan orang-orang yang terluka terkena panah. Banyak anggota Kay-pang yang roboh terpanah. Tetapi dengan gagah berani anggota Kay- pang yang lain terus maju bertarung menghadapi pasukan berkuda bangsa Mongol. Maka terjadilah pertarungan yang sangat dasyat antara anggota Kay-pang dengan tentara berkuda Mongol.

Jen Thian Ngo yang berada di atas kudapun dihujani anak panah. See-bun Souw Ya tertawa terkekeh mentertawakan Jen Thian Ngo yang sibuk menangkis serangan anak panah.

"Hm, Tua Bangka, sekarang baru kau tahu lihaynya kami!" kata See-bun Souw Ya.

"Iblis Tua, rasakan ilmu pedang Cit-siu-kiam-hoatku ini!" teriak Jen Thian Ngo sengit.

Pedang di tangan Jen Thian Ngo berkelebat-kelebat membentuk tujuh bunga pedang. Ujung pedang Jen Thian Ngo berhasil melukai sepasang kaki kuda yang ditunggangi See-bun Souw Ya dan membuat kuda itu terjungkal ke tanah.

Untung See-bun Souw Ya sendiri berhasil melompat menyelamatkan diri.

"Orang lain boleh takut pada ilmu pedang Cit-siu- kiamhoatmu, tetapi aku tidak!" kata See-bun Souw Ya. "Apa hebatnya ilmu pedangmu itu, aku ingin melihat apa yang bisa kau lakukan terhadapku?"

Sepasang telapak tangan See-bun Souw Ya berkelebat, bergerak di antara bayangan pedang Jen Thian Ngo. Pertarungan yang pura-pura ini jadi kelihatan seperti sungguhan dan kelihatan hebat sekali. Pertarungan itu mengakibatkan batu kerikil di tempat itu berterbangan tersampok oleh angin pukulan mereka berdua.

Ci Giok Phang saat itu juga sedang bertarung, dia menggunakan ilmu pedang Pek-hoa-kiam-hoat. Tubuhnya bergerak kian ke mari tanpa henti-henti, dia mencoba menyerang kaki kuda tentara Mongol dengan pedangnya yang lihay.

Akibat dari banyaknya kuda-kuda tentara Mongol yang terluka  oleh  sabetan  pedang  Ci  Giok  Phang,  sekarang terpaksa tentara Mongol itu bertarung dengan anggota Kay- pang sambil jalan kaki.

Melihat kelihayan Ci Giok Phang itu Chu Kiu Sek yang melihatnya langsung tertawa.

"Hm! Kiranya bocah busuk ini, kau  adalah pecundangku, apa kau masih berani berlagak di depanku?" kata Chu Kiu Sek.

"Iblis Tua kebetulan kita bertemu di sini! Aku ingin membuat perhitungan denganmu! Hari ini jika bukan kau yang mampus, akulah yang mati di tanganmu!" kata Ci Giok Phang dengan gagah.

Chu Kiu Sek tertawa mendengar tantangan itu.

"Hm! Hanya dengan kepandaianmu itu, mana mungkin kau bisa mengalahkan aku?" kata Chu Kiu Sek.

Ci Giok Phang mengertakkan giginya dan langsung menyerang dengan sengit. Chu Kiu Sek menangkis dan membalas menyerang dengan ilmu Siu-lo-im-sat-kang. Suara serangan mereka terdengar menderu saking dasyatnya. Jika jarak mereka dekat Ci Giok Phang merasakan ada hawa dingin menyerang ke arahnya.

Wajah Ci Giok Phang yang terkena serangan Chu Kiu Sek berubah kehijauan. Rupanya Ci Giok Phang sudah terkena pukulan Chu Kiu Sek yang dahsyat dan beracun. Sekalipun demikian ilmu pedang Ci Giok Phang tidak jadi kacau oleh karena serangan itu.

Tentu saja apa yang disaksikan Chu Kiu Sek karena Ci Giok Phang tidak segera roboh, dia jadi keheranan bukan kepalang. "Baru lewat beberapa bulan saja sejak aku bertarung dengannya, bagaimana mungkin kepandaian bocah ini bisa bertambah demikian maju?" pikir Chu Kiu Sek.

Chu Kiu Sek tidak perlu heran jika dia sadar bahwa setelah dia bertarung melawan Han Tay Hiong dua hari yang lalu, jelas hawa murninya sedikit buyar. Ini bukan karena kepandaian Ci Giok Phang yang bertambah maju melainkan kehebatan Siu-lo-im-sat-kang Chu Kiu Sek menjadi kurang keampuhannya. Ditambah lagi Ci Giok Phang sering minum arak Kiu-thian-sun-yang-Pek-hoa-ciu, tidak heran jika tubuh pemuda ini agak tahan terhadap serangan racun.

Chu Kiu Sek sudah melancarkan serangan lebih dari tigapuluh jurus, tetapi Ci Giok Phang tetap mampu bertahan dari serangannya itu. Tetapi sesudah lewat beberapa jurus lagi mulai kelihatan Ci Giok Phang mulai sedikit goyah dan tubuhnya kedinginan, sedangkan giginya beradu gemeretuk.

Di tempat lain pertarungan antara anggota Kay-pang melawan tentara Mongol semakin seru saja. Sekalipun sudah banyak tentara Mongol yang binasa, tetapi tentara Mongol itu masih cukup banyak, dan diperkirakan jumlah tentara Mongol jauh lebih banyak dibanding anggota Kay- pang yang dihadapinya. Tidak heran kalau anggota Kay- pang mendapat kesulitan besar.

Melihat anggota Kay-pang mulai kewalahan Ci Giok Phang jadi gugup bukan kepalang. Ketika Ci Giok Phang sedang panik Chu Kiu Sek menyerangnya. Jangankan dia bisa menolong anggota Kay-pang yang sedang terdesak tentara Mongol, menyelamatkan diri sendiripun dia sulit bukan main.

Chu Kiu Sek tertawa. "Bocah busuk, hari itu kau lolos dari tanganku, tapi hari ini ajalmu sudah sampai! Tidak mungkin ada orang yang bisa menolongimu. Ha, ha, ha! Sekalipun kau memiliki  saya pun kau tidak akan bisa lolos dari tanganku. Apa kau tidak mau menyerah?" kata Chu Kiu Sek.

Kali ini Ci Giok Phang benar-benar putus asa, dia sudah menyaksikan banyak anggota Kay-pang yang telah kehilangan jiwanya

Tiba-tiba terlihat tiga orang penunggang kuda mendatangi dengan cepat. Penunggang kuda yang paling depan sudah langsung membentak.

"Iblis Tua, ternyata kalian sedang berlagak di tempat ini. Bagus! Hari ini kalian harus bertarung dengan kami sampai ada kepastian!" kata penunggang kuda itu.

Tiga orang penunggang kuda itu ternyata Kong-sun Po.

Kiong Mi Yun dan Kok Siauw Hong.

Chu Kiu Sek pernah bertarung dengan kedua pemuda dan pemudi itu, tetapi Kiong Mi Yun tidak diperhitungkan oleh si Iblis Tua. Kepandaian Kong-sun Po dan Kok Siauw Hong tidak berada di bawah kepandaian Chu Kiu Sek. Sekalipun kepandaian Kiong Mi Yun tidak diperhitungkannya, tetapi Kiong Mi Yun ini puteri pulau Hek-hong, tentu saja Chu Kiu Sek agak segan pada nona Kiong ini, terutama pada ayahnya Hek-hong To-cu. Sekarang tiba-tiba kiong Mi Yun muncul bersama kedua pemuda gagah itu. Sekalipun Chu Kiu Sek berilmu tinggi dan bernyali besar tak urung dia kaget juga.

Ketika Kok Siauw Hong tidak berhasil menemukan Ci Giok Hian dan kakaknya, dia bertemu dengan Kong-sun Po dan Kiong Mi Yun. Lalu mereka bertiga ke tempat Kay- pang untuk mencari keterangan. Saat berjalan bersama suatu ketika Kiong Mi Yun berkata pada Kok Siauw Hong dengan terus terang.

"Kok Toa-ko, aku paling tidak tahan menyimpan sesuatu dalam hatiku. Kau jangan menyalahkan aku jika aku kelepasan bicara!" kata Kiong Mi Yun.

Kok Siauw Hong sudah tahu adat Kiong Mi Yun yang bicaanya blak-blakan. Dia tersenyum pada nona Kiong.

"Kau ingin bilang apa, silakan saja!" kata Kok Siauw Hong.

"Menurut pendapatku, pamanmu itu bukan orang baikbaik," kata nona Kiong.

Mendengar ucapan nona Kiong tentu saja Kok Siauw Hong jadi tertegun. "Mengapa kau berpendapat begitu?" kata Kok Siauw Hong.

"Sadarkah kau, mengapa kau tidak bisa menemukan Nona Ci? Terus-terang aku katakan, Nona Ci pergi karena tertipu oleh Pamanmu itu!" jawab Kiong Mi Yun.

Kemudian Kiong Mi Yun menceritakan mengenai apa yang didengarnya ketika dia bersembunyi di kolong tempat tidur di kamar Han Pwee Eng. Setelah mendengar cerita Kiong Mi Yun, barulah Kok Siauw Hong sadar bahwa pamannya telah mengarang cerita bohong, bahwa dia sedang menemui Han Pwee Eng dengan diam-diam, kemudian dia pergi bersama Han Pwee Eng entah ke mana.

Kemudian nona Kiong melanjutkan ceritanya.

"Aku melihatnya pada saat pamanmu datang ke rumah Han Tay Hiong dan aku tahu dia berniat tidak baik! Aku lihat sendiri pamanmu membongkar semua peti yang ada di rumah Han Tay Hiong. Aku tidak tahu apa yang dia cari. Kelihatan dari sikapnya dia ingin merampok harta milik Han Tay Hong!" kata Kiong Mi Yun

Sebenarnya Kok Siauw Hong sendiri kurang menyukai pamannya itu, bahkan dia juga mencurigai sang paman ini. Kemudian dia berpikir.

"Paman Jen pernah memburuk-burukan nama Paman Han di depanku, dia bilang Paman Han bersekongkol dengan bangsa Mongol. Sekarang terbukti tuduhannya itu tidak benar! Mengapa dia menuduh Paman Han begitu? Apa karena dia salah paham ata sebab lain? Ibuku juga tidak cocok dengan Paman Jen ini, tetapi Ibu bilang Paman Jen itu orang jujur, malah kata Ibu dia seorag Bu-lim Cian- pwee yang sangat terkenal dalam Dunia Persilatan. Jadi tidak mungkin kalau dia menginginkan harta Paman Han!" pikir Kok Siauw Hong.

Malam itu mereka telah tiba di tempat tujuan. Bersama para pengungsi mereka masuk ke dalam kota Lok-yang. Malam itu juga mereka bertemu dengan Liok Kun Lun, ketua perkumpulan Kay-pang. Dari Liok Kun Lun inilah Kok Siauw Hong baru mengetahui bahwa Ci Giok Phang telah sampai ke markas Kay-pang, malah sekarang Ci Giok Phang bersama Jen Thian Ngo sedang mengawal harta yang akan disumbangkan kepada para pejuang. Mendengar keterangan ini Kok Siauw Hong terkejut bukan kepalang, sedangkan Kiong Mi Yun malah tertawa dingin.

"Bagaimana Han Toa-ko, apa kau masih belum percaya pada kata-kataku?" kata nona Kiong.

Liok Kun Lun tertegun mendengar ucapan nona Kiong itu.

"Apa maksud kata-kata Nona Kiong?" kata Liok Kun Lun. Kok Siauw Hong sadar ini masalah besar, maka dia tidak berani membohongi Liok Kun Lun.

"Terus terang Nona Kiong mencurigai Pamanku, katanya Pamanku itu mengincar harta itu! Ucapan Nona Kiong cukup beralasan karena dia melihat sendiri Paman Jen membongkar semua peti yang ada di rumah Paman Han!" jawab Kok Siauw Hong.

Sambil menggelengkan kepala Liok Kun Lun berkata lirih.

"Jen Lo Cian-pwee saat ini merupakan tokoh persilatan tua yang gagah berani, bahkan namanya sangat terkenal. Mana mungkin dia berbuat seperti itu?" sanggah Liok Kun Lun.

Kiong Mi Yun tertawa dingin mendengar sanggahan itu. "Hm! Kelak saat kalian percaya pada kata-kataku, maka

menyesal pun aku kira sudah terlambat!" kata Kiong Mi

Yun sinis.

Kok Siauw Hong menyela.

"Maksud Nona Kiong baik," kata Kok Siauw Hong. "Sekalipun ternyata dia salah menilai Pamanku, aku tidak akan menyalahkan dia! Liok Pang-cu, bagaimana kalau kami bertiga pergi menyusul rombongan yang membawa harta itu. Siapa tahu kami bisa membantu mengawal harta itu dengan selamat?"

Kong-sun Po pun ikut bicara.

"Saudara Kok benar, ini bukan karena kami mencurigai Paman Jen tetapi jika bertambah orang yang mengawal harta itu aku kira itu lebih baik lagi. Dengan demikian kita bisa mengurangi bahaya yang mengancam harta itu!" kata Kong-sun Po. Sebenarnya Liok Kun Lun sangat percaya pada Jen Thian Ngo. Tetapi setelah mendengar keterangan Kok Siauw Hong dan Kiong Mi Yun dan melihat Kok Siauw Hong pun mencurigai pamannya, Liok Kun Lun lalu berpikir. Tak lama Liok Kun Lun mengambil keputusan.

"Baiklah! Jika kalian bersedia membantu tentu saja lega hatiku!" kata Liok Kun Lun.

Maka berangkatlah Kok Siauw Hong ditemani oleh Kong-sun Po dan Kiong Mi Yun. Tak lama mereka sudah berhasil menyusul rombongan Jen Thian Ngo. Ketika mereka tiba Kok Siauw Hong melihat Jen Thian Ngo sedang bertarung sengit sekali melawan See-bun Souw Ya. Dia kaget tetapi hati anak muda itu sedikit lega.

"Ah, ternyata aku salah telah mencurigai Paman Jen?" pikir Kok Siauw Hong.

Saat itu situasi yang dihadapi Jen Thian Ngo maupun Ci Giok Phang benar-benar berbahaya. Menyaksikan hal itu hati Kok Siauw Hong jadi cemas bukan main. Dia segera berkata pada Kong-sun Po.

"Kong-sun Toa-ko, aku akan membantu Pamanku melawan See-bun Souw Ya, kau yang melawan Chu Kiu Sek!" kata Kok Siauw Hong.

"Baik," jawab Kong-sun Po.

Sesudah itu Kong-sun Po bergerak maju ke arah Chu Kiu Sek, dengan jurus Ki-hwee-soh-thian (Mengangkat obor membakar langit), Kong-sun Po menyerang Chu Kiu Sek dengan ujung payungnya yang lihay. Tahu lihaynya payung Kong-sun Po si Iblis Tua buru-buru berkelit dan langsung balas menyerang Kong-sun Po dengan sebuah pukulan yang dasyat. Sesudah Ci Giok Phang bisa meloloskan diri dari hadapan Chu Kiu Sek, dia bisa langsung bergabung dengan Kiong Mi Yun dan langsung menyerang tentara Mongol yang sedang mengepung anggota Kay-pang. Mereka berhasil menolong anggota Kay-pang yang terkepung oleh tentara Mongol yang ganas itu. Dalam pertarungan yang kacau itu sekarang pihak Kay-pang tidak terdesak lagi seperti tadi.

Melihat Kong-sun Po mampu menghadapi Chu Kiu Sek, Kok Siauw Hong lega hatinya. Tapi mendadak Kok Siauw Hong mendengar teriakan Jen Thian Ngo yang sengit.

"Iblis Tua, aku akan adu jiwa denganmu!" bentak Jen Thian Ngo dengan gagah.

Ketika Kok Siauw Hong menoleh ke arah suara pamannya, dia lihat Jen Thian Ngo terhuyung, dia terkena pukulan yang dilancarkan oleh See-bun Souw Ya, tapi beruntung Jen Thian Ngo berhasil menusuk dengan pedangnya ke arah See-bun Souw Ya dan berhasil melukai bahu kanan si Iblis Tua See-bun Souw Ya.

"Oh sayang, tusukanku tidak mengenai tulang pipe si Iblis Tua!" kata Jen Thian Ngo sedikit kecewa.

"Jen Thian Ngo, aku ingin tahu berapa hebatnya kau mampu menangkis pukulan Hua-hiat-to ini!" kata See-bun Souw Ya sambil meringis kesakitan.

Kembali keduanya bertarung dengan hebat. Tapi dari mulut Jen Thian Ngo kelihatan darah segar mengalir. Menyaksikan hal itu tentu saja Kok Siauw Hong kaget bukan kepalang. Buru-buru pemuda itu menerjang ke arah kedua jago tua yang sedang bertarung itu, tetapi gerakan Kok Siauw Hong agak terhambat oleh serbuan prajurit Mongol yang langsung menghadang pemuda ini. Dengan gagah Kok Siauw Hong menerjang dan mengayunkan pedangnya ke berbagai penjuru, dia menyerang tentara Mongol dengan hebat. Serangan Kok Siauw Hong ini hebat sekali, dia berhasil memporak- porandakan para pengepungnya dengan mudah sekali. Tetapi tidak urung kepungan tentara Mongol itu tetap menyita waktu yang tidak sedikit.

Saat itu baik Jen Thian Ngo maupun See-bun Souw Ya sedang saling menyerang dengan hebat; serangan-serangan dari kedua ago tua ini sangat dasyat dan mengerikan. Kelihatan See-bun Souw Ya melancarkan serangan maut, dan serangan itu berhasil mengenai dada Jen Thian Ngo. Sebaliknya serangan Jen Thian Ngo pun berhasil melukai perut See-bun Souw Ya, hingga pakaian si Iblis Tua iu berlumuran darah.

Kok Siauw Hong melesat ke arah See-bun Souw Ya. "Iblis Tuajangan buang lagak di sini!" bentak Kok Siauw

Hong sengit bukan kepalang.

Kok Siauw Hong langsung melancarkan serangan dengan jurus Cit-siu-kiam-hoat. Pedang Kok Siauw Hong menyerang ke arah tujuh jalan darah See-bun Souw Ya dengan ganas.

Menyaksikan serangan itu See-bun Souw Ya tertawa dingin.

"Bocah busuk! Sia-sia saja kau datang ke mari, kau  hanya akan mengantarkan jiwamu saja!" kata See-bun Souw Ya.

"Kebetulan memang aku akan mengantarkan nyawa kalian berdua ke neraka!"

Melihat serangan Kok Siauw Hong hampir mengenai dirinya,  See-bun  Souw  Ya  berkelit  sekaligus  menyerang. Tak lama tercium bau amis yang luar biasa. Tentu saja serangan See-bun Souw Ya ini membuat mual Kok Siauw Hong, akibatnya nyaris pemuda ini muntah-muntah. Buru- buru Kok Siauw Hong menggunakan jurus Siauw-yang-sin- kang, sesudah itu dia baru merasa lega.

Sekalipun dia mampu mengatasi pukulan si Iblis Tua namun Kok Siauw Hong tetap cemas. Dia berpikir keras.

"Si Iblis Tua sudah dua kali terkena tusukan Paman Jen, tetapi heran sekali dia masih begitu hebat dan mampu melancarkan serangan mautnya. Kalau begitu hari ini aku harus adu jiwa dengannya!" pikir Kok Siauw Hong.

Sesudah mengambil putusan akan adu jiwa, hati Kok Siauw Hong jadi tenang luar biasa.

Di pihak lain See-bun Souw Ya tak kalah kagetnya. "Ilmu Hua-hiat-to tidak bisa melukai bocah busuk ini.

Jika aku ingin mengalahkan dia mungkin aku harus bertarung sampai lebih dari seratus jurus dan aku juga khawatir, apakah pihak Kay-pang akan mengirim bala- bantuan atau tidak? Jika mereka minta bantuan dan muncul lagi para pesilat tinggi, maka pekerjaanku hari ini sia-sia saja!"

Dua hari yang lalu See-bun Souw Ya telah mengadu kepandaian melawan Han Tay Hiong, tidak heran kalau hawa muminya belum pulih lagi. Sebaliknya Kok Siauw Hong ahli ilmu Siauw-yang-sin-kang, dan ilmu itu khusus untuk menghadapi ilmu silat Siu-lo-im-sat-kang. Jadi kehebatan ilmu itu akan berkurang jika berhadapan dengan ilmu Hua-hiat-to milik See-bun Souw Ya. Untung saat itu kesehatan See-bun Souw Ya belum pulih benar, tidak heran jika Kok Siauw Hong mampu menghadapinya. Jen Thian Ngo yang terkena serangan See-bun Souw Ya yang dasyat itu telah roboh, tapi sekarang dia sedang berusaha bangkit kembali dan berusaha mendekati keponakannya, sedangkan wajahnya basah oleh keringat.

"Paman Jen istirahat saja, biar aku sendiri yang menghadapi Iblis Tua ini!" kata Kok Siauw Hong dengan gagah.

"Siauw Hong, kau mundur saja! Kau anak satu-satunya dari keluarga Kok, jika terjadi sesuatu atas dirimu, mana mungkin aku bisa menemui ibumu? Paman sudah tua, matipun aku tidak akan penasaran! Biar aku yang mengadu jiwa dengan Iblis Tua ini!" kata Jen Tian Ngo.

Kemudian tanpa menghiraukan cegahan Kok Siauw Hong, orang she Jenm ini maju, dia gerakkan pedangnya menyerang See-bun Souw Ya. See-bun Souw Ya tertawa terkekeh-kekeh ketika menyaksikan Jen Thian Ngo berusaha menyerangnya.

"Eh! Rupanya kalian berdua saling berebut ingin buru- buru ke neraka, baiklah aku akan mengabulkan keinginan kalian berdua!" kata See-bun Souw Ya sambil tertawa.

See-bun Souw Ya langsung melancarkan dua pukulan ke arah Jen Thian Ngo. Sadar kalau pamannya sedang terluka, Kok Siauw Hong maju untuk menyambut pukulan si Iblis Tua itu.

Sama sekali Kok Siauw Hong tidak sadar kalau pamannya itu sedang main sandiwara di depannya. Sebenarnya Jen Thian Ngo tidak terluka parah, begitu pun See-bun Souw Ya. Si Iblis Tua itu hanya terluka ringan pada bahu kanannya, sedangkan tusukan ke arah perut See- bun Souw Ya itu hanya tusukan tipuan. Kiranya See-bun Souw Ya yang licik telah menaruh sepotong daging yang sengaja dibungkus dan masih berdarah. Tentu saja ketika tertusuk oleh Jen Thian Ngo bungkusan itu mengeluarkan darah!

Di tempat lain Kong-sun Po sedang bertarung mati- matian melawan Chu Kiu Sek. Kepandaian Chu Kiu Sek lebih tinggi setingkat dibanding dengan Kong-sun Po. Berhubung hawa murni Chu Kiu Sek telah terkuras dua  hari yang lalu, yaitu saat menghadapi Beng Cit Nio, Seng Cap-si Kouw dan Han Tay Hiong, jadi tenaganya belum pulih benar. Hari itu dia tidak mengira akan berhadapan dengan Kong-sun Po yang masih muda dan gagah berani. Tidak heran pertarungan kedua orang ini jadi seimbang.

Di tangan Kong-sun Po tergenggam payung pusakanya yang lihay. Jika dalam keadaan terlipat payung itu bisa berfungsi sebagai pedang maupunpoan-koan-pit untuk menotok jalan darah lawan. Sebaliknya jika payung itu mengembang, payung itu bisa digunakan untuk menangkis pukulan yang dilancarkan oleh lawan maupun senjata rahasia lawan. Tidak heran lama-lama Chu Kiu Sek yang tak mampu melukai penmuda itu akhirnya kewalahan juga.

Dengan jurus Tay-mok-hu-eng (Uap Rase Gurun Pasir) Kong-sun Po menggunakan payungnya untuk menusuk tenggorokan Chu Kiu Sek.

"Hai bocah busuk, kau berani menghinaku?!" bentak Chu Kiu Sek.

Mendadak dia nmenggunakan jurus Tay-kin-na-ciu-hoat (Ilmu Cengkraman) dan berusaha untuk merebut payung yang ada di tangan Kong-sun Po, sedangkan tangan kiri Chu Kiu Sek digunakan pukulan dari jurus Siu-lo-im-sat- kang untuk menghantam lengan Kong-sun Po. 

Ilmu pedang yang digunakan Kong-sun Po jurus- jurusnya   sangat   aneh.   Sekalipun   telah   berusaha sekuat tenaga ternyata Chu Kiu Sek tidak berhasil merebut payung yang ada di tangan Kong-sun Po, tetapi pukulan Siu-lo-im- sat-kangnya yang ada di tangan kiri Chu Kiu Sek hanya mengenai payung pemuda itu. Tiba-tiba terdengar suara nyarung.

"Buum!"

Chu Kiu Sek kaget dia merasakan tulang lengannya seperti patah, sakitnya bukan kepalang. Tiba-tiba Chu Kiu Sek ingat kalau payung yang ada di tangan Kong-sun Po itu terbuat dari baja murni.

"Bocah keparat! Walau pun kau menggunakan payung itu kau kira aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadapmu? Hari ini aku bersumpah, jika aku tidak bisa membunuhmu, aku tidak akan menemui orang lagi!" kata Chu Kiu Sek bersumpah.

Chu Kiu Sek yang gusar lupa menghemat tenaga, dia terus menyerang dan menyerang. Dia kerahkan jurus Siu-lo- im-satkang sampai tingkat delapan. Melihat musuh menggunakan ilmu andalannya Kong-sun Po buru-buru membentangkan payungnya untuk menangkis serangan lawan. Tetapi selain menangkis pemuda ini pun balas menyerang lawan. Angin serangan keduanya terdengar menderu-deru. Sekalipun payung baja itu mampu menangkis serangan si Iblis Tua, tetapi Kong-sun Po tetap menggigil kedinginan karena serangan pukulan lawan.

"Iblis Tua kau memang bukan manusia!" bentak Kong- sun Po. "Baiklah, kau boleh keluarkan seluruh kepandaianmu, aku ingin tahu apa yang bisa kau perbuat terhadapku?"

Serangan Chu Kiu Sek telah dilancarkan secara bertubi- tubi, namun Kong-sun Po belum mampu dia robohkan. Sebaliknya Kong-sun Po tampak tegar dan bersikap biasa- biasa saja. Tak lama kelihatan pemuda itu maju sambil membentak nyaring.

"Jika kau bisa melancarkan pukulan beracun, apa kau kira aku tidak bisa?" bentak Kong-sun Po dengan sengit. "Sekarang terimalah pukulan beracunku!"

Kong-sun Po menurunkan payung besinya, lalu dia membentangkan telapak tangan kanannya yang tampak memerah, dia langsung melancarkan pukulan yang dasyat dengan mengeluarkan bau amis.

Melihat pukulan Kong-sun Po itu, Chu Kiu Sek kaget bukan kepalang, kiranya Kong-sun Po menggunakan jurus Hua-hiatto, yang jelas dikenal Chu Kiu Sek dengan baik. Saat melihat telapak tangan Kong-sun Po terlihat merah darah, dia bertambah kaget sebab ilmu Hua-hiat-to yang dimiliki Kongsun Po lebih tinggi dari ilmu Hua-hiat-to milik See-bun Souw Ya. Jelas ini membuat Chu Kiu Sek terkejut dan gentar sekali.

Payung besi di tangan kiri Kong-sun Po bergerak menghalangi supaya Chu Kiu Sek tidak bisa menghindar dari serangan pukulan dasyatnya, Kong-sun Po yang mengarah ke tubuh Chu Kiu Sek bisa dikatakan dia hampir tak ada jalan untuk mengelak.

Tampak Chu Kiu Sek gugup dan panik sekali. Dengan tidak menghiraukan rasa malu lagi, Chu Kiu Sek merunduk hampir menyentuh tanah, kemudian menerobos kabur meninggalkan Kong-sun Po lewat di bawah payung besi. Gerakannya cukup gesit jika tidak tubuhnya akan terhajar oleh payung besi itu. Sekalipun dia lolos dari pukulan dasyat Kong-sun Po dan bisa meloloskan diri, tapi tak urung punggungnya tetap tergores oleh ujung payung. Dengan demikian darah segar mengalir dari tubuhnya yang terluka. Walau sakit dia tidak berani menjerit atau mengeluarkan suara.

Chu Kiu Sek tidak mengira kalau Kong-sun Po bisa ilmu Hua-hiat-to bahkan lebih lihay dari See-bun Souw Ya, rupanya Chu Kiu Sek lupa, bahwa lwee-kangnya lebih tinggi dari See-bun Souw Ya. Maka itu jika tadi dia berani mengadu pukulan dengan Kong-sun Po, sekalipun tenaganya belum pulih dia tidak akan terluka seperti itu.

Menyaksikan Kong-sun Po berhasil mengalahkan Chu Kiu Sek, Kiong Mi Yun dan Ci Giok Phang sangat girang. Semangat kedua muda-mudi ini segera bangkit. Mereka langsung menyerang tentara Mongol dengan hebat hingga banyak tentara Mongol yang terluka atau binasa di tangan mereka.

Di pihak lain See-bun Souw Ya yang mengetahui Chu Kiu Sek telah terjungkal di tangan Kong-sun Po tentu saja dia kaget bukan kepalang, dengan keras See-bun Souw Ya membentak.

"Bagus, tua bangka Jen Thian Ngo, aku akan mencabut nyawa tuamu. Sesudah itu baru aku bereskan bocah busuk itu!" kata See-bun Souw Ya sengit.

"Hm! Ternyata sudah waktunya aku mengakhiri sandiwara ini," pikir Jen Thian Ngo.

Dengan sikap nekat Jen Thian Ngo maju seolah dia sudah tidak sayang pada jiwanya sendiri. Saat See-bun Souw Ya menyerangnya dia tidak berkelit atau menghindar, dia malah maju menerjang dengan pedangnya ke arah See- bun Souw Ya.

"Iblis Tua, aku akan mengadu jiwa denganmu!" kata Jen Thian Ngo. Tetapi tak lama kemudian terdengar suara jeritan Jen Thian Ngo.

"Aduh! Aduh!"

Jen Thian Ngo terpukul oleh pukulan See-bun Souw Ya, dan pedang di tangannya pun terpental ke udara, dari mulut Jen Thian Ngo menyembur darah segar.

Melihat Jen Thian Ngo terpukul dan terluka parah, Kok Siauw Hong yang tidak jauh dari situ, buru-buru memburu dan memeluk tubuh pamannya. Saat Kok Siauw Hong memeluk Jen Thian Ngo, kesempatan ini digunakan oleh si Iblis Tua untuk menyerang Kok Siauw Hong. 

Karena tangan kanannya sedang memeluk pamannya, Kok Siauw Hong terpaksa bertarung melawan See-bun Souw Ya dengan hanya menggunakan tangan yang satunya. Sudah tentu pertarungan ini jadi tidak seimbang, dan Kok Siauw Hong mulai kewalahan.

Melihat Kok Siauw Hong dalam bahaya, Kiong Mi Yun dan Ci Giok Phang segera melompat ke arah Kok Siauw Hong untuk membantunya. Di tempat lain Kong-sun Po terus menghadang Chu Kiu Sek, dengan demikian Chu Kiu Sek tidak bisa membantu See-bun Souw Ya.

Tiba-tiba Kok Siauw Hong menjerit, bahu kirinya terhajar oleh pukulan See-bun Souw Ya, lukanya pun cukup parah. Tapi untung Kok Siauw Hong masih sempat menusuk dengan pedangnya ke arah See-bun Souw Ya. See- bun Souw Ya sedikit pun tidak mengira kalau Kok Siauw Hong dalam keadaan terluka parah, masih bisa melancarkan serangan yang berbahaya, dan dia berani mengadu jiwa dengannya. Tentu saja See-bun Souw Ya tidak siap, saaat pedang Kok Siauw Hong menusuknya, tapi sayang pedang itu tidak tepat mengenai sasaran ke tubuh See-bun  Souw  Ya.  Dengan  demikian  See-bun  Souw  Ya hanya terluka ringan, tetapi ini pun cukup membuat dia terhuyung ke belakang karena terkejut.

Saat Ci Giok Phang dan Kiong Mi Yun sampai, Kiong Mi Yun langsung menyerang See-bun Souw Ya dengan jurus Cit-satciang. See-bun Souw Ya mengenali jurus itu berasal dari Hekhong-to.

"Beberapa bocah ini punya asal-usul yang luar biasa.

Aku tidak boleh tidak waspada!" pikir See-bun Souw Ya.

Tenaga See-bun Souw Ya yang dua hari lalu bertarung melawan Han Tay Hiong cs, tentu saja keadaannya belum pulih, dan diajadi agak keder, ditambah lagi dia belum tahu berapa tinggi kepandaian anak-anak muda itu? Demikian pula dengan kepandaian Kiong Mi Yun, ditambah lagi ilmu pedang Ci Giok Phang pun hebat. Itu sebabnya See-bun Souw Ya tidak berani maju, dia hanya menangkis setiap serangan.

Sedangkan tujuan Kiong Mi Yun dan Ci Giok Phang hanya ingin menolongi Kok Siauw Hong, dan tidak bermaksud untuk bertarung dengan See-bun Souw Ya. Kebetulan See-bun Souw Ya pun tidak maju menyerang tapi hanya menangkis saja serangan mereka. Itu justru yang diinginkan Kiong Mi Yun maupun Ci Giok Phang.

Segera Ci Giok Phang memapah Kok Siauw Hong yang terluka bahunya. Ci Giok Phang kaget menyaksikan wajah Kok Siauw Hong yang kelihatan pucat-pasi.

"Saudara Kok, bagaimana keadaanmu?" kata Ci Giok Phang.

Racun Hua-hiat-to sangat lihay. Dada Kok Siauw Hong terasa panas seperti terbakar. Tak lama sekujur tubuhnya terasa ngilu. Untung dia masih sadar. "Seorang pria harus gagah, bagaimana aku akan membiarkan nama baik Pamanku terhina orang!" pikir Kok Siauw Hong.

Di luar dugaan Kok Siauw Hong, pamannya yang terkenal patriot itu ternyata telah bersekongkol dengan musuh, dan itu yang menyebabkan sekarang Kok Siauw Hong terluka parah. Sambil mengeluh kesakitan Kok Siauw Hong berkata perlahan.

"Aku tidak apa-apa, cepat kau selamatkan Pamanku!" kata Kok Siauw Hong.

Sesudah bergulingan beberapa kali Jen Thian Ngo berusaha untuk bangun.

"Jangan pedulikan aku," kata Jen Thian Ngo, "aku sudah siap untuk mati di tempat ini! Aku akan mengadu jiwa dengan si Iblis Tua itu!"

Dia berjalan hendak menghadapi See-bun Souw Ya, tetapi baru dua langkah mulutnya sudah memuntahkan darah sgar.

Seperti juga Kok Siauw Hong yang tak menyadari kecurangan Jen Thian Ngo, Ci Giok Phang pun begitu, dia hanya mengetahui bahwa Jen Thian Ngo lukanya lebih parah dari Kok Siauw Hong.

"Dia pimpinan rombongan pengantar harta ini, bagaimana

aku bisa tinggal diam?" pikir Ci Giok Phang.

Sekalipun Ci Giok Phang merasa khawatir pada keadaan Kok Siauw Hong, namun terpaksa dia melepaskan Kok Siauw Hong untuk menolong Jen Thian Ngo.

Ci Giok Phang mendekati Jen Thian Ngo dan memapahnya. Tapi tiba-tiba Jen Thian Ngo membentak. "Ingat, harta untuk para pejuang itu jangan sampai jatuh ke tangan musuh!" kata Jen Thian Ngo memperingatkan.

"Baik, pasti akan kami pertahankan," kata Ci Giok Phang.

Siauw Hong berseru pada pamannya.

"Paman, kau akan dipapah oleh Giok Phang menerjang keluar!" kata Siauw Hong.

Tiba-tiba Jen Thian Ngo muntah darah, dia berpura-pura gusar.

"Apa? Kau bilang apa? Aku tidak akan membiarkan kalian berbuat begitu!" kata Jen Thian Ngo.

Diam-diam Jen Thian Ngo mengerahkan lwee-kangnya agar bisa memuntahkan darah, dengan demikian kepura- puraannya tidak diketahui orang. Tak lama kelihatan Jen Thian Ngo lesu tidak bersemangat, dan pura-pura pingsan. Dia bersandar ke bahu Ci Giok Phang.

Di tempat lain Chu Kiu Sek yang telah dikalahkan oleh Kong-sun Po tidak berani maju, dia bergabung dengan See- bun Souw Ya. Chu Kiu Sek memang pernah bertarung dengan beberapa anak muda itu, maka itu dia tahu Kiong Mi Yun yang berkepandaian paling rendah dari para muda- mudi itu.

"Saudara See-bun, gadis itu bisa kuhadapi!" kata Chu Kiu Sek yang licik memilih lawan yang rendah ilmu silatnya.. "Silakan kau bereskan yang lain!"

Kong-sun Po mengejar Chu Kiu Sek, tapi dihadang oleh See-bun Souw Ya. Sekarang dia berhadapan dengan See- bun Souw Ya yang sudah tahu siapa Kong-sun Po ini, yaitu putera  Kong-sun  Khie.  See-bun  Souw  Ya  sadar  saat  itu hanya Kong-sun Po yang mampu menandingi dia. Sambil mengertakan gigi dia berpikir.

"Jika aku tidak segera membinasakan bocah ini, maka kelak tidak akan ada hari yang tenang bagiku!" pikir See- bun Souw Ya.

"Bocah keparat!" bentak See-bun Souw Ya. "Jalan ke surga tidak kau tempuh, tetapi jalan ke neraka yang tidak berpintu kau datangi! Apa kau ingin mampus?"

See-bun Souw Ya langsung menyerang dia menggunakan dua macam jurus beracun. Tangan kanannya menggunakan Hua-hiat-to, sedang tangan kirinya menggunakan jurus Hukut-ciang. Tak lama tercium bau amis. Sejak dia belajar ilmu racun baru kali ini See-bun Souw Ya menggunakannya bersama-sama.

Kong-sun Po pun telah berlatih jurus Hua-hiat-to bahkan mencapai tingkat delapan, tetapi dia belum menguasai Hu- kutciang, dengan demikian dia tidak berani menggunakan ilmu itu untuk menangkis serangan See-bun Souw Ya.

Dengan cepat dia menggerakkan payung bajanya, lalu dengan jurus Hian-ciau-hua-sah (Burung Mengaduk Pasir), jurus ini dia pelajari dari Liu Goan Cong, jurus ilmu pedang khusus untuk menyerang jalan darah lawan.

Melihat serangan itu See-bun Souw Ya terperanjat.

"Eh, ilmu silat bocah ini ternyata campur-aduk sekali?!" pikir See-bun Souw Ya.

Tetapi See-bun Souw Ya sudah berpengalaman, begitu menyaksikan jurus tersebut dia langsung waspada, dan dia tidak berani meemehkan kepandaian Kong-sun Po, malah dia bertarung dari jatrak jauh dan tidak berani mendekat, dia hanya menyerang dari jarak jauh saja. Kebetulan tenaga dalam See-bun Souw Ya belum pulih, sedang Kong-sun Po pun baru berhadaan dengan Chu Kiu Sek, tentu saj a pertarungan yang mati-matian itu cukup menguras tenaga Kong-sun Po. Untung Kong-sun Po memegang payung baja sehingga dia bisa bertarung seimbang melawan See-bun Souw Ya.

Di tempat lain Kiong Mi Yun bertarung melawan Chu Kiu Sek. Jelas Kiong Mi Yun merupakan lawan empuk bagi Chu Kiu Sek. Sekalipun Chu Kiu Sek telah terluka, namun jurus Siu-loim-sat-kang yang dilancarkannya masih cukup hebat, dan mengeluarkan hawa dingin yang luar biasa.

Melihat Kiong Mi Yun terdesak Ci Giok Phang yang sedang memapah Jen Thian Ngo ikut membantu, tetapi tentu tidak bisa maksimal karena Ci Giok Phang harus menjaga Jen Thian Ngo agar dia tidak terserang oleh lawan. Tentu saja mereka masih tetap kewalahan.

Sekarang tentara Mongol sudah mengurung anggota Kay-pang yang bertarung mati-matian. Karena anggota Kay-pang lebih sedikit dibanding tentara Mongol, tidak heran kalau mereka akhirnya terdesak juga. Lama-lama anggota Kay-pang makin berkurang karena ada yang terluka maupun binasa, sebaliknya tentara Mongol masih berjumlah besar.

Untuk menahan racun yang ada di tubuhnya Kok Siauw Hong mengerahkan Siauw-yang-sin-kang, dia maju dan bertarung melawan tentara Mongol. Tetapi sesudah Kok Siauw Hong berhasil membunuh beberapa orang tentara Mongol, tubuhnya terkena senjata lawan hingga lukanya bertambah dengan beberapa luka baru. Ini tentu saja ikut menghalangi kelincahannya. Saat itu kereta-kereta yang mengangkut harta telah jatuh ke tangan tentara Mongol. Dengan menahan sakit Kok Siauw Hong berseru.

"Jangan hiraukan harta itu, yang penting selamatkan Pamanku!" teriak Kok Siauw Hong. "Cepat, bawa  Pamanku ke markas cabang Kay-pang dan laporkan kejadian di tempat ini!"

Kong-sun Po menyaksikan anggota Kay-pang sudah tidak berdaya untuk melawan musuh, dia melompat ke arah Kiong Mi Yun, sekaligus melancarkan pukulan ke arah Chu Kiu Sek, dengan demikian Chu Kiu Sek terpaksa harus mundur.

Saat See-bun Souw Ya memburu ke arah Kong-sun Po, pukulan See-bun Souw Ya tertangkis oleh payung baja Kong-sun Po.

Ci Giok Phang yang mencemaskan keadaan Kok Siauw Hong, langsung berseru pada Kong-sun Po.

"Kong-sun Toa-ko, kau jaga saudara Kok!" kata Giok Phang.

Kong-sun Po berhenti bertarung. Saat dia akan mendekati Kok Siauw Hong, mendadak Kok Siauw Hong bersiul panjang. Tak lama terlihat seekor kuda menerjang ke arahnya. Begitu kuda itu sampai di hadapannya, Kok Siauw Hong langsung melompat ke punggung kuda itu dan menerjang keluar kepungan tentara Mongol.

-o-DewiKZ^~^aaa-o-

Hati Kok Siauw Hong telah bulat hendak menerjang musuh,  karena  sadar  telah  terluka  parah.  Sikapnya  itu

.karena dia tidak ingin merepotkan kawan-kawannya. Jika dia tidak menerjang musuh, pasti Ci Giok Phang dan Kong- sun Po akan berusaha melindunginya, dan itu berbahaya sekali karena akan memecah perhatian mereka.

"Musuh sangat kuat, sedangkan aku dalam keadaan lemah. Belum lagi mereka harus melindungi Pamanku yang terluka parah. Aku tidak yakin mereka berhasil menerjang keluar! Bagaimana aku harus merepotkan mereka untuk melindungiku?" pikir Kok Siauw Hong.

Kok Siauw Hiong mengira luka Jen Thian Ngo lebih parah dari lukanya, itu sebabnya dia mengambil keputusan untuk mengorbankan diri, asalkan pamannya bisa diselamatkan.

Siauw-pek-liong kuda yang ditunggangi Kok Siauw Hong seekor kuda istimewa dan sudah terlatih. Begitu mendengar siulan majikannya, kuda itu langsung  menerjang mendekati majikannya. Kok Siauw Hong yang terluka parah tidak mampu melompat ke atas punggung kuda itu. Tubuhnya melorot ke bawah. Tetapi kuda itu sangat cerdik, dia membungkukkan tubuhnya, dengan demikian Kok Siauw Hong berhasil naik ke atas punggung kuda istimewa itu.

Pada saat itu beberapa tentara Mongol berusaha menghalangi gerakan kuda itu, bahkan di antaranya ada yang ingin merebut kuda istimewa itu. Melihat hal itu Kong-sun Po terkejut, segera dia melompat menyerang tentara Mongol tersebut.

Melihat Kong-sun Po hendak menolong Kok Siauw Hong, See-bun Souw Ya tidak tinggal diam, dia bergerak menyusul Kong-sun Po dan menyerangnya. Mendadak kuda yang ditunggangi Kok Siauw Hong meringkik, dia mengelak menghindari beberapa tusukan tombak tentara Mongol, langsung menerjang keluar kepungan. Tak lama beberapa tentara berkuda Mongol mencoba mengejar Kok Siauw Hong. Sekalipun kuda itu terlatih, tapi Kok Siauw Hong terluka parah, dan harus memegang kendali kuda erat-erat, sehingga kuda itu tidak bisa dilarikan dengan cepat.

Selang sesaat beberapa pengejar itu sudah hampir dapat mengejar Kok Siauw Hong. Ternyata benar saja Kok Siauw Hong akhirnya terkejar juga

"Siapa yang mendekat akan binasa!" teriak Kok Siauw Hong dari atas kudanya.

Dua tentara Mongol mencoba menusuk dengan tombak mereka, tetapi dua tombak itu tertangkap oleh Kok Siauw Hong, sesudah itu Kok Siauw Hong menariknya dengan dihentakkan, kedua tentara Mongol itu tertarik, dan seketika itu terdengar suara jeritan.

Seorang tentara Mongol terkena pukulan Kok Siauw Hong, dia terjungkal dari atas kudanya Seorang perwira Mongol bernama Taluwa maju menyerang Kok Siauw Hong dengan pedangnya Dia mahir memanah dan ilmu silatnya cukup tinggi. Dia juga pernah ikut Jenghis Khan menyerang ke beberapa negara tetanggabangsa Mongol. Atas keberanian dan kegagahannya itu dia diangkat sebagai pengawal kelas satu. Kali ini dialah pemimpin pasukan yang menghadang rombongan pembawa harta itu.

"Hm! Kau harus mengenal kehebatan anak panahku!" kata Taluwa sambil tertawa.

Dia membentangkan tali busurnya, tak lama tampak tiga halang anak panah menyambar cepat sekali ke arah Kok Siauw Hong. Sebatang anak panah itu berhasil dihindarkan oleh Kok Siauw Hong, dengan pedangnya anak panah yang kedua pun dia rontokkan. Namun, karena tenaga Kok Siauw Hong sudah banyak terkuras, dia gagal menangkis anak panah yang ke tiga, hingga anak panah itu menghajar kudanya. Kuda itu kesakitan dia meringkik keras lalu melompat. Kemudian kuda itu berlari kencang bagaikan kilat, hal ini membuat tubuh Kok Siauw Hong terpental ke atas kemudian jatuh melayang ke dalam lembah.

Saat itu Kong-sun Po dan Ci Giok Phang sedang bertarung mati-matian melawan tentara Mongol. Tapi mereka selalu memperhatikan Kok Siauw Hong yang mereka lihat dipanah oleh Taluwa, dan terpental jatuh ke dalam jurang.

Mereka bertarung semakin sengit, dan berhasil merampas kuda tentara Mongol. Tapi untuk memburu ke arah Kok Siauw Hong mereka tak mampu keluar dari kepungan tentara Mongol. Sementara itujumlah anggota Kay-pang semakin berkurang saja, karena banyak yang binasa maupun terluka.

"Asalkan ada gunung masih hijau, jangan takut kekurangan kayu bakar!" teriak salah seorang anggota Kay- pang. "Di antara kita harus ada yang meloloskan diri untuk melaporkan kejadian yang terjadi di sini!"

Terdengar Jen Thian Ngo mengeluh memilukan, kini dia berada dalam pengawalan Ci Giok Phang. Tak lama Jen Thian Ngo bersandar ke bahu anak muda itu. Mendengar keluhan Jen Thian Ngo tentu saja Ci Giok Phang terkejut.

"Ada apa Jen Lo-cian-pwee?" kata Giok Phang.

Jen Thian Ngo berpura-pura lukanya semakin parah, dia membuat napasnya memburu dan samar-samar menjawab hingga Ci Giok Phang tidak bisa mendengar jelas katakatanya. Ci Giok Phang khawatir Jen Thian Ngo terpanah oleh musuh. Tetapi sesudah ada anggota Kay- pang yang memberitahu bahwa Jen Thian Ngo tidak terpanah, hati Ci Giok Phang jadi lega. Ketika Kok Siauw Hong terpanah dan jatuh ke dalam lembah, Ci Giok Phang ingin menolongnya, tetapi karena mendengar keluhan Jen Thian Ngo tadi, dia membatalkan niatnya itu. Dia berpikir.

"Aku wakil Jen Lo-cian-pwee, kamilah yang memimpin para anggota Kay-pang mengawal harta. Sekarang Jen Thian Nngo terluka parah, maka akulah yang harus memikul tanggung jawab ini!" pikir Ci Giok Phang.

Ketika dia mendengar teriakan anggota pengemis yang mengatakan "jika masih ada gunung yang hijau, jangan takut kekurangan kayu", Ci Giok Phang berpendapat kata- kata itu benar. Dia berpikir harus ada yang bisa kembali ke markas cabang Kay-pang untuk melaporkan kejadian di tempat itu. Selain itu Ci Giok Phang pun masih harus melindungi para anggota Kay-pang yang belum terluka, serta berusaha agar mereka bisa meloloskan diri dari kepungan musuh. Sedang tugas lainnya, dia menerima pesan Kok Siauw Hong harus melindungi Jen Thian Ngo, apapun yang terjadi.

"Kok Siauw Hong terjatuh ke dalam lembah," pikir Ci Giok Phang, "kemungkinan masih hidup pun kecil.  Jika aku ke sana dan menemukan mayatnya, tetap tidak ada gunanya! Benar dia calon suami adikku, tetapi mana boleh demi dia seorang aku mengabaikan nyawa orang banyak?"

Tadi Kok Siauw Hong melarikan kudanya dengan mengambil jalan yang menuju ke markas para pejuang. Tetapi karena jalan itu sudah dijaga ketat oleh tentara Mongol, akhirnya Kok Siauw Hong menemui ajalnya di lembah yang dalam itu. Sekarang, jika Ci Giok Phang ingin menyelamatkan anggota Kay-pang yang masih hidup, salah seorang harus bisa lolos untuk memberi laporan, dengan mengambil jalan lain yang berlawanan dengan jalan yang ditempuh oleh Kok Siauw Hong.  Sesudah berpikir  sejenak sambil menangkis setiap serangan tentara Mongol, Ci Giok Phang berseru.

"Kita harus menerjang keluar dari kepungan musuh!" teriak Ci Giok Phang.

Mendengar seruan itu Kong-sun Po langsung maju ke depan, dia membuka payung besinya untuk menjaga serangan anak panah dari tentara Mongol. Sesudah itu disusul oleh Ci Giok Phang, Kiong Mi Yun dan sisa anggota Kay-pang ikut maju menyerang.

Di pihak musuh tentara Mongol sudah berhasil merampas kereta harta. Dengan demikian tujuan utama mereka telah berhasil. Maka itu sekarang mereka tidak berniat bertarung mati-matian seperti tadi. Namun, See-bun Souw Ya dan Chu Kiu Sek ingin sekali membunuh Kong- sun Po dan Ci Giok Phang. Tapi sayang karena mereka telah terluka parah, saat Kong-sun Po dan kawan-kawannya menerjang keluar kepungan, mereka tidak berani menghalanginya Demikian pula tentara Mongol, mereka pun tidak merintanginya. Tidak heran kalau Kong-sun Po dan kawan-kawannya mampu menerobos keluar dari kepungan tentara Mongol.

Sesudah itu mereka berlari kencang beberapa lamanya tidak ada yang mengejar mereka menghentikan lari mereka. Jen Thian Ngo yang dipondong oleh Ci Giok Phang diletakan di suatu tempat.

Jen Thian Ngo sangat pandai berpura-pura, saat itu dia kelihatan seperti orang yang terluka parah, sehingga baik Kong-sun Po maupun Ci Giok Phang jadi merasa kasihan. Mereka tidak mengira kalau itu hanya tipuan belaka.

Ci Giok Phang segera memberi sebuah pil pada Jen Thian Ngo, sedang Kong-sun Po membantu menyembuhkannya dengan tenaga dalamnya. Selang sesaat Jen Thian Ngo purapura siuman. Dia memuntahkan darah segar dan kental. Kemudian duduk, tidak lama dia berkata menyalahkan Ci Giok Phang dan Kong-sun Po.

'Sudah kubilang kalian jangan mempedulikan aku, mengapa kalian tidak menurut? Di mana Kok Siauw Hong? Di mana dia? Aakh, demi aku dia... Jika terjadi sesuatu atas dirinya, bagaimana aku masih punya muka menemu ibunya?" keluh Jen Thian Ngo.

Mendengar makian itu Ci Giok Phang jadi pilu.

"Oh, bagaimana jika Jen Lo-cian-pwee tahu Kok Siauw Hong telah binasa?" pikir Ci Giok Phang.

Terpaksa Ci Giok Phang membohongi Jen Thian Ngo. "Legakan hatimu, Lo Cian-pwee, Saudara Kok lolos dari

kepungan musuh..." kata Ci Giok Phang.

Kelihatan Jen Thian Ngo tidak percaya.

"Kalau dia berhasil keluar dari kepungan musuh, kenapa dia tidak bersama-sama dengan kalian?" kata Jen Thian Ngo.

"Dia berpisah dengan kami karena akan pergi ke markas para pejuang," kata Ci Giok Phang membohongi Jen Thian Ngo, "sedangkan kami membawa Lo-cian-pwee ke markas cabang Kay-pang di Lok-yang. Kami akan melapor pada ketua Kay-pang mengenai apa yang telah terjadi atas harta yang kita kawal itu. Mudah-mudahan saja Kok Siauw Hong sampai ke markas para pejuang dan berhasil membawa bala-bantuan ke mari. Dia menunggang kuda istimewa aku yakin tentara Mongol tidak akan mampu mengejar dia!"
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Beng Ciang Hong In Lok Jilid 20"

Post a Comment

close