Beng Ciang Hong In Lok Jilid 04

Mode Malam
 
Tiba-tiba ia melompati tembok pekarangan, tak lama ia sudah ada di halaman rumah itu. Dia lihat dari sebuah kamar masih kelihatan ada sinar terang, tandanya ada orang yang belum tidur. Buru-buru nona Han bersembunyi di balik gunung-gunungan batu. Ia mengintai ke dalam kamar itu lewat sebuah kisi-kisi jendela.

Di dalam kamar itu kelihatan sesosok wanita sedang berjalan hilir-mudik dan kelihatan tidak tenang. Begitu melihat bentuk dari bayangan wanita itu Han Pwee Eng berpikir.

"Pasti wanita itu ibu Kok Siauw Hong! Tengah malam begini dia belum tidur, jangan-jangan dia seperti aku sedang bingung menghadapi berbagai masalah? Kening ibunya tampak berkerut. Jika aku menemuinya, apa yang harus kukatakan padanya?" pikir nona Han Pwee Eng.

Sebenarnya saat yang baik dan tepat baginya untuk menemui calon mertuanya, karena di sana hanya ada wanita tua itu saja. Dia bisa mencurahkan isi hatinya dan semua kesulitannya pada wanita ini.

Tapi nona Han merasa malu. Seandainya dia bertemu bolehkah dia memanggil "Ibu Mertua" pada wanita itu? Padahal dia baru calon menantu, belum tentu ia jadi isteri anaknya. Bagaimana jika benar pernikahan mereka batal? Bukankah malah akan malu sendiri. apalagi jika ia berani menanyakan di mana Kok Siauw Hong berada. Dia pasti akan disebut wanita yang tebal muka. Ia jadi bingung sendiri.

Saat itu nona Han benar-benar serba salah. Saat dia sedang kebingungan dari dalam kamar nyonya itu berseru. "Siapa di luar?" bentak nyonya itu. Nona Han Pwee Eng terkejut bukan main. ia mengira wanita di dalam kamar itu sudah mengetahui keberadaannya di situ. Saat ia akan menjawab teguran itu. tiba-tiba muncul sesosok bayangan hitam tak jauh dari gunung-gunungan tempat nona Han bersembunyi. Nona Han sekarang sadar kiranya di tempat itu ada orang lain. sehingga ia tambah terkejut

Orang itu ternyata seorang lelaki yang sudah tua, usianya sekitar  tahun. Barangkali ia tak mengetahui nona Han ada di situ. Lelaki tua itu langsung berjalan menuju ke kamar sambil tertawa terbahak-bahak.

"Sam-moay (Adik perempuan ketiga) apa kau sudah tak mengenali Lo-kokomu tagi?" kata si orang tua.

Tawa orang tua itu agak kurang wajar.

Tak lama pintu kamar itu terbuka dan Kok Hu-jin (Nyonya Kok) berdiri tegak di depan kamarnya, sedang wajahnya tak sedap dipandang.

"Jen Thian Ngo!" tegur wanita itu. "Mau apa kau ke mari?"

"Aku ke mari untuk menjengukmu. Sam-moay." sahut orang yang dipanggil Jen Thian Ngo itu. "Bukankah kita kakak beradik, malah sudah  tahun tidak saling bertemu. Apa tak boleh aku menjengukmu?"

Kok Hu-jin tertawa dingin.

"Terima kasih! Tetapi aku belum mati. kenapa kau sudah datang? Ketika aku menikah dengan Kok Ju Sih. kau bilang kecuali aku sudah mati. baru kau akan datang untuk menguburkan mayatku. Pasti kau masih ingat pada katakatamu itu. bukan?" kata Kok Hu-jin.

Jen Thian Ngo kelihatan tak enak hati mendengar teguran yang pedas itu. "Ketika itu memang benar aku tidak setuju kau menikah dengan Kok Ju Sih. Sekarang dia telah meninggal, jadi kau tetap adikku! Waktu itu kita cekcok mutut. kau masih terus mengingat-ingat masalah itu dalam hatimu!” kata Jen Thian Ngo.

Kok Hu-jin menatap lelaki tua itu dengan dingin.

"Kau boleh lupa tetapi aku tetap mengingatnya! Waktu itu kau bilang aku telah membuat keluarga Jen kehilangan muka. Kau juga bilang sesudah aku menjadi menantu keluarga Kok. maka aku tidak bisa lagi menjadi keluarga Jen. Kaulah yang mengusirku dari rumah, sekarang kenapa kau ke mari dan memanggilku adik?" kata Kok Hu-jin

Jen Thian Ngo menghela napas panjang.

"Ah! Kau menerima siksaan batin selama tiga puluh tahun, tidak heran kalau kau begitu gusar sekali! Baik sekarang kemarahanmu sudah reda belum? Kakak dan adik tetap kakak-beradik. dulu kata-kataku memang keterlaluan. sekarang aku ke mari untuk minta maaf. boleh kan?" kata Jen Thian Ngo.

Mendengar pembicaraan itu nona Han kaget.

Dia baru tahu kalau dua saudara kandung ini dulu pernah bertengkar, ia dengar sang kakak tak setuju Kok Hu- jin menikah dengan Kok Ju Sih. Sedangkan keluarga Kok merupakan keluarga Rimba Persilatan yang sangat terkenal. Demikian juga Kok Ju Sih. ia pendekar besar sehingga ayah nona Han pun menghormatinya dan kagum. Tetapi mengapa Jen Thian Ngo tidak setuju adiknya menikah dengan Kok Ju Sih?

Kali ini wajah Kok Hu-jin agak lembut.

"Tak perlu minta maaf. kalau Toa-ko masih mengakui aku   sebagai   adikmu.   Aku   juga   harus   berterima kasih kepadamu atas kelapangan hatimu. Baiklah. Toa-ko silakan masuk! Ada petunjuk apa yang akan Toa-ko katakan, pasti aku akan mendengarkannya dengan penuh perhatian." kata Kok Hu-jin.

Jen Thian Ngo tertawa getir ia masuk ke dalam rumah. "Sam-moay. sifatmu masih seperti dulu ketika kau masih

gadis." kata sang kakak

Kemudian Thian Ngo dipersilakan duduk. Setelah duduk Thian Ngo berkata lagi.

"Oh ya! Mana Siauw Hong. keponakanku?" kata dia. "Siauw Hong tidak pernah tahu dia masih punya Paman,

sebab pernah kubilang padanya bahwa semua saudaraku telah meninggal dunia!" kata Kok Hu-jin dingin.

Air muka Jen Thian Ngo tampak berubah.

"Sam-moay. kau begitu membenciku!" kata Jen Thtan Ngo sambil tertawa dingin.

"Bukankah kau pun ingin agar aku segera mati, agar kau bisa menguburkan mayatku!" kata Kok Hu-jin.

Saat itu Jen Thian Ngo hendak melampiaskan kemarahannya, tapi tidak jadi.

"Rupanya kau tidak bisa mengampuni kesalahan orang. Sam-moay! Kedatanganku kali ini ingin mengajakmu berdamai bukan untuk bertengkar denganmu. Ketika kita masih samasama muda, kau dan aku memang gampang emosi. Apa yang pernah kita ucapkan dulu, tidak perlu kita simpan di hati kita masing-masing."

Mungkin Kok Hu-jin merasa bahwa dia sangat keterlaluan. Padahal Jen Thian Ngo sudah terlalu mengalah. sehingga terpaksa ia juga jadi sabar. "Apa perlunya kau mencari Siauw Hong?" tanya Kok Hu-jin sambil mengawasi ke arah kakaknya.

Jen Thian Ngo tertawa terbahak bahak.

"Sebelum aku mati dan dimasukkan ke dalam peti mati, aku ingin melihat keponakanku dulu karena belum pernah aku lihat." kata Jen Thian Ngo.

Kok Hu-jin tertawa dingin.

"Sangat sulit mencari Toa-ko yang penuh perhatian sepertimu!" kata Kok Hu-jin. "Kau sangat memperhatikan kami anak dan ibu. aku sangat berterima kasih sekali. Setelah sekian tahun adik iparmu meninggal, baru sekarang Toa-ko datang menemui kami. Mungkin saja kedatangan Toa-ko ini bukan untuk menengoki kami. tetapi ada masalah lain yang lebih penting dari itu?"

"Aku dengar khabar Siauw Hong akan menikah, benarkah itu? Dulu karena Sam-moay menyalahkan aku. maka aku tidak berani datang menebalkan mukaku menemui kalian. Sekarang Siauw Hong akan menikah, aku ke mari untuk mengucapkan selamat kepadanya. Tentu kau tak keberatan, bukan?" kata Jen Thian Ngo.

Kok Hu-jin menarik napas.

"Memang ia telah bertunangan dari dulu." kata Kok Hu- jin menerangkan. "Namun hari pernikahannya belum ditentukan lagi. Kedatanganmu terlalu dini..."

Jen Thian Ngo mengerutkan dahinya.

"Oh! Kalau begitu aku salah dengar. Bukankah besok hari pernikahannya, mengapa jadi berubah?"

"Kau benar, harinya memang diganti." kata Kok Hu-jin. Mendengar  percakapan  itu  di  balik gunung-gunungan,

nona Han jadi tegang bukan main. Semula ia berpikir Jen Thian Ngo akan menanyakan sebabnya, tapi ternyata mengalihkan pembicaraannya.

"Bukankah calon isteri keponakanku itu puteri Han Tay Hiong?" kata Jen.

Kok Hujin mengangguk. "Benar! Kau kenal dengan dia"

"Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali. tetapi aku tak kenal baik dengannya. Aku dengar Han Tay Hiong terkena pukulan Siu-lo-im-sat-kang dari Chu Kiu Sek. kau sudah tahu hal itu atau belum?" kata Jen Thian Ngo.

Kok Hu-jin balik bertanya.

"Kalau tahu memang kenapa?" tanya Kok Hu-jin. "Siauw-yang-sin-kang  bisa  menahan Siu-lo-im-sat-kang.

Han Tay Hiong dan kalian berbesanan. ia beruntung. Oh

ya, Apakah gambar  Siauw-yang-sin-kang itu sudah kau serahkan pada Siauw Hong?" kata Jen Thian Ngo.

Sambil tertawa dingin ia tatap kakaknya.

"Hm! Aku tahu dan mengerti sekarang. Kiranya kedatanganmu ini demi ke  gambar itu. kan?!" katanya.

"Itu adalah kitab pusaka keluarga Jen. tentu saja aku menaruh perhatian!" kata Jen.

"Kau benar itu memang pusaka keluarga Jen. Ketika Ayah kita masih hidup, gambar itu sudah diserahkan kepadaku sebagai hadiah pernikahanku kata Ayah."

Jen Thian Ngo manggut-manggut.

"Benar tapi bukan untuk diserahkan pada keluarga Kok Ju Sih." Wajah Kok Hu-jin langsung berubah merah-padam. Karena ucapan kakaknya itu seolah membangkitkan amarah lamanya. Lama sekali baru ia berkata lagi dengan dingin.

"Jika pernikahanku dengan keluarga Kok. kau anggap telah merusak sehingga kau kehilangan muka. maka kau tak usah ke mari!" kata Kok Hu-jin. "Sekarang suamiku sudah meninggal, sedangkan puteraku juga mau menikah. Apa kedatanganmu ini untuk menyusahkan kami?"

Berkata sampai di sini suara Kok Hu-jin semakin keras. "Jen Thian Ngo. kukatakan sejujurnya saja padamu. Kau

ke mari untuk mengadakan perhitungan lama, atau kau ingin mencari kesempatan untuk minta kembali Siauw- yang-sinkang?" kata Kok Hu-jin sengit.

"Urusan itu sudah lama berlalu, tak perlu kita ungkit- ungkit lagi." kata Jen Thian Ngo. "Anggap saja itu sebagai hadiah penikahanmu, Sekalipun bukan ayah yang menjodohkan kau dengan Kok Ju Sih. tetapi kalian telah menjadi suami-isteri yang sah. Aku juga tidak peduli! Kau jangan marah-marah. Sam-moay. sebab belum tentu aku menginginkan kitab itu!"

Kok Hu-jin mengerutkan jidatnya.

"Kalau begitu apa maksudmu kau bicara soal kitab itu?" "Aku tak akan meminta kitab pusaka itu. tetapi aku tak

suka kitab itu jatuh ke tangan orang lain!" kata Jen Thian Ngo

Kok Hu-jin manggut-manggut.

"Ooh! Jadi kau khawatir Siauw Hong akan menurunkan ilmu itu pada keluarga Han dengan diam-diam. Begitu?" "Han Tay Hiong terluka oleh Siu-to-im-sat-kang. Pasti ia berharap pada ilmu Siauw-yang-sin-kang kita. Dia mengadakan ikatan jodoh dengan keluargamu. mungkin saja karena ia ingin ilmu pusaka keluarga kita!" kata Jen Thian Ngo.

Mendengar ucapan itu nona Han malu dan gusar. "Untung  penyakitku  sudah  sembuh,  jadi  tak  perlu aku

memohon  kepada  keluarga  Jen  untuk  minta  diajari ilmu

Siauw-yang-sin-kang. Hm! Jen Thian Ngo kau sungguh keterlaluan kau pandang Ayahku itu seperti apa? Pertunanganku sudah diatur sejak kami masih kecil. Dia bilang begitu seolah Ayahku ingin menukarkan diriku dengan ilmu itu!" pikir nona Han.

Han Pwee Eng hatinya keras, ia tidak tahan oleh hinaan Ci Giok Hian. tetapi ia juga tidak mau menerima sangkaan buruk dari paman Kok Siauw Hong ini. Untung beberapa saat kemudian Kok Hu-jin bicara lagi.

"Perjodohan mereka sudah diatur oleh suamiku sejak mereka masih kecil-kecil." kata Kok hu-jin menjelaskan. "Ketika itu pun Han Tay Hiong belum bermusuhan dengan Chu Kiu Sek. Saat itu Chu Kiu Sek pun belum mahir ilmu Siu-to-imsat-kang."

"Kau bilang begitu seolah kau anggap aku picik dan berpikiran sempit." kata Jen Thian Ngo. "Tetapi yang jelas Han Tay Hiong sangat membutuhkan ilmu itu!"

Kok Hu-jin manggut-manggut.

"kalau begitu aku akan menyuruh Siauw Hong pergi mengobati luka ayah-mertuanya. itu memang satu keharusan!" katanya.

Jen Thian Ngo tertawa. "Kau benar! Itu sudah satu keharusan, siapa bilang bukan? Tetapi siapa tahu Han Tay Hiong punya sebuah rencana."

"Maksudmu rencana apa?"

"Misalnya dia bersekongkol dengan Chu Kiu Sek. sengaja ia pura-pura terluka agar Han Tay Hiong bisa mengangkangi kitab pusaka Siauw-yang-sin-kang kita. Padahal dia tak perlu berbuat begitu, jika kalian mengobatinya, dia akan tahu rahasia ilmu kita!" kata Jen Thian Ngo.

Mendengar kata-kata itu Han Pwee Eng jadi berpikir. "Pantas mereka berdua tidak cocok satu sama lain.

Kiranya kakak Kok Hu-jin ini bukan orang baik-baik dan pikirannya sempit. Terbukti ia menerka orang dengan sembarangan." pikir Han Pwee Eng.

Di Dunia Persilatan Jen Thian Ngo terkenal, ia juga bisa bertindak bijaksana, Sekalipun hatinya tidak mulia namun namanya lebih terkenal dibanding dengan Han Tay Hiong. Tetapi Han Pwee Eng telah mendengar pembicaraan itu. sehingga ia terkesan jelek pada orang she Jen itu.

"Aku belum tahu bagaimana sikap dia terhadap orang- orang tetapi aku yakin suamiku tidak akan salah bergaul dengannya." kata Kok Hu-jin.

Jelas ia sangat percaya pada sikap suaminya, bahwa Han Tay Hiong itu orang baik. Karena ucapan Kok Hu-jin itu hati Han Pwee Eng terhibur juga.

"Ibu Siauw Hong pandangannya sangat luas. Jika dia tak terpengaruh oleh kakaknya, hatiku lega juga." pikir nona Han. Tak lama Kok Hu-jin bicara lagi.” Kau tidak perlu memikirkan yang bukan-bukan. Mengenai perjodohan anakku bisa jadi atau tidak, aku juga belum tahu." kata Kok Hu-jin.

"Lho! Memang kenapa?" tanya Jen Thian Ngo dengan suara keras seolah kaget.

Kok Hu-jin terlihat tak bisa menjawab pertanyaan itu. ia teguk tehnya tapi ia tetap tak bicara.

Malah Jen Thian Ngo yang bicara.

"Aku dengar esok adalah hari pernikahan mereka, itu sebabnya aku buru-buru ke mari. Setelah aku lihat keadaan di sini. sepertinya kau tidak menyiapkan apa-apa. Apakah telah terjadi sesuatu?" kata Jen Thian Ngo sambil memainkan matanya.

Sebenarnya Kok Hu-jin tidak ingin bicara masalah itu. Setelah berpikir sejenak, pikirannya berubah. Ia tahu pergaulan kakaknya sangat luas. pasti kakaknya punya banyak informasi penting tentang mereka. Malah mungkin dalam masalah ini ia harus minta bantuannya. Maka tak heran tak lama terdengar ia bicara pada kakaknya itu.

"Toa-ko, kau bilang kedatanganmu ke mari dengan tulus hati ingin berdamai denganku, aku dengar kau pun ingin minum arak kebahagiaan Siauw Hong. Maka aku tak boleh membohongimu, sebenarnya Siauw Hong telah pergi dari sini!" kata Kok Hu-jin.

Jen Thian Ngo kelihatan tidak begitu terkejut. "Pergi! Pergi ke mana?"

Kok Hu-jin menggelengkan kepala.

"Aku tak tahu yang kutahu ia tak puas atas perjodohan itu. Dengan berbagai alasan dia menolak dinikahkan, diam- diam diapun pergi dan sini. Aku jarang berkelana di Dunia Persilatan, hingga tak tahu banyak tentang dunia tersebut. Aku tak tahu siapa saja kawan ayah si Hong. Aku sedang bingung entah ke mana aku harus mencarinya?"

Nona Han ketika mendengar pembicaraan itu di balik gunung-gunungan bagaikan disambar petir. Sepasang matanya langsung berkunang-kunang. Kepalanya terasa pening bukan main. ia nyaris pingsan.

"Kok Siauw Hong memandang rendah diriku." pikir nona Han. "Dia tak mau menikah denganku. Hm! Memang aku butuh kau? Tapi bagaimana aku menahan amarahku ini?"

Han Pwee Eng memang keras hati. Saat itu ia malu, gusar dan dongkol bukan main. Tetapi keterangan itu justru membuat ia jadi angkuh.

"Hm! Untuk Ci Giok Hian ia kabur dari rumahnya dan membatalkan pernikahan kami secara sepihak. Apa aku masih punya muka untuk menemui ibunya? Hm! Dunia begini luas. masa tak ada tempat berteduh bagiku? Seumur hidupku tak menikahpun tidak apa-apa. kelak jika Siauw Hong menyesal. Sekalipun ia menjemputku dengan tandu emas aku tidak akan mau menikah dengannya! Sekarang semuanya sudah jelas. untuk apa aku masih di sini?" pikir Han Pwee Eng.

Ia ingin langsung pergi, tapi seolah kakinya berat tak mau diajak pergi. Tak lama ia mendengar Jen Thian Ngo bicara.

"Kau ingin tahu Siauw Hong ada di mana? Justru aku tahu dia ada di mana!" katanya.

Kok Hu-jin kaget tapi ia kelihatan girang. "Rupanya kau sudah tahu semuanya." kata Kok Hu- jin."jadi kedatanganmu ingin menyelidiki keadaan kami?"

Kok Hu-jin sebenarnya tidak puas. tapi ia tak ingin ribut. "Dia ada di mana?" kata Kok Hu-jin.

"Dia ada di Pek-hoa-kok. di rumah Ci Giok Phang." kata kakaknya.

Saat mendengar khabar itu seolah ia disambar petir saja.

Air mukanya berubah. Lama sekali baru ia bicara.

"Di Pek-hoa-kok di rumah keluarga Ci?" ia menggumam. "Benar Ci Giok Phang adalah putera Ci Poh. Siapa Ci

Poh itu pasti kau masih ingat, kan? Dia. "

Kok Hu-jin langsung memotong

"Tidak perlu kau jelaskan tagi!" bentak Kok Hu-jin.

Sekalipun Kok Hu-jin membentak tapi Jen Thian Ngo tetap melanjutkan kata-katanya.

"Ci Poh lelaki yang ditunangkan denganmu itu. Sam- moay. tetapi kau tak bersedia menikah dengannya. Ia punya dua orang anak. seorang lelaki dan yang seorang anak perempuan. Yang lelaki bernama Ci Giok Phang dan yang perempuan bernama Ci Giok Hian. Aku dengar Ci Giok Hian sangat baik pada Siauw Hong. Ia kabur justru demi cintanya kepada Ci Giok Hian itu!" kata sang kakak.

Mendengar keterangan ini nona Han sakit hati seperti ketika itu hatinya seperti disayat-sayat sembilu. Begitu pun Kok Hu-jin yang kelihatan sangat terpukul. Dia terduduk di kursinya dan menggumam.

"Ini. Ini sungguh kebetulan sekali!" katanya.

"Ini betul-betul sebuah pembalasan." kata Jen Thian Ngo. "Sam-moay. kau tak menyalahkan aku berkata begitu, kan? dulu kau yang mendepak orang, itu memang agak keterlaluan. Karena keluarga Ci keluarga terhormat, atas kejadian itu. Ci Poh pun tak mampu mengangkat kepalanya di depan umum."

Kata "Pembalasan" diucapkan oleh kakaknya, sedang Kok Hu-jin tak berani mengatakannya sendiri. Saat itu ia sedang mengkhawatirkan keadaan Siauw Hong. Kata-kata kakaknya itu memang menusuk hatinya. Tapi karena sedang memikirkan Siauw Hong jadi tak terlalu terpengaruh oleh ucapan kakaknya.

Nona Han yang sedang bersembunyi pun merasa tidak enak hati.

"Benar-benar keterlaluan justru "pembalasan" itu menimpa diriku!" pikir nona Han Pwee Eng.

Sekarang nona Han langsung sadar apa yang dikatakan oleh ayahnya, bahwa di antara keluarga Kok dan Ci terdapat masalah. Kiranya masalah ini. Karena sangat rahasia hingga ayahnya tak berani bicara terus-terang.

Lama baru Kok Hu-jin bicara lagi.

"Toa-ko, mungkinkah ini suatu pembalasan dari keluarga Ci bagi keluargaku?" kata Kok Hu-jin.

Kakaknya mengerutkan dahi.

"Kedua anak Ci Poh mengetahui atau tidak masalah orang tuanya, aku juga tidak tahu. Tetapi aku tahu sesuatu maka itu aku sekarang datang menemuimu." kata kakaknya.

"Tentang apa?" tanya Kok Hu-jin.

"Aku dengar Siauw Hong telah mengajari Ci Giok Phang ilmu Siauw-yang-sin-kang, ide itu dari Ci Giok Hian. Kiranya Ci Giok Hian ingin agar kakaknya itu mengobati Han Tay Hiong, agar keluarga Han tidak menyimpan dendam masalah perjodohan itu. Tampaknya Nona Ci ini banyak akalnya. dia lebih licin dari kau. Sam-moay. kelak dia akan jadi menantumu, maka kau harus berhati-hati  lho!"

Itu adalah sebuah sindiran, tetapi Kok Hu-jin tak menghiraukannya.

"Bagaimana kau bisa tahu demikian jelas. malah kau juga tahu itu ide siapa?" kata Kok Hu-jin.

Kakaknya tersenyum. "Kau masih ingat Ciu Ji?" Kok Hu-jin mengerutkan dahinya.

"Ciu Ji yang mana? Oh. aku ingat. Ciu Ji yang itu! Isterinya adalah ibu angkatku. Aku pernah melihatnya beberapa kali ketika aku masih kecil. Tetapi kesanku sudah agak kabur terhadapnya. Oh ya! Apakah Ciu-ji-soh (Kakak- ipar Ciu Ji) baik-baik saja? Sudah  tahun aku tidak bertemu dengannya."

"Ciu Ji baik-baik saja. Tetapi Ciu Ji-soh. ibu angkatmu itu sudah meninggal dunia. Sekarang Ciu Ji ada di rumah keluarga Ci." kata kakaknya.

Kok Hu-jin mengelah napas panjang.

"Setelah aku menikah aku tidak pernah bertemu dengan ibu-angkatku itu. Kapan dia meninggal, aku pun tidak tahu sama sekali. Padahal aku ingin mengurus mereka, tetapi tak kesampaian." kata Kok Hu-jin.

Sejak kecil ibu Kok Hu-jin telah meninggal dunia. Saat itu ia diurus oleh Ciu-ji-soh sehingga dewasa. Sekarang kakaknya menyinggung soal ibu angkatnya itu. tentu saja hal itu membuat dia sangat berduka sekali. "keluarga Ci sangat baik kepada Ciu-ji-soh. karena suaminya Ciu Ji dengan keluarga Ci masih ada hubungan famili." kata kakaknya lagi. "Saat Ayah menjodohkan kau dengan keluarga Ci. Ayah justru bertanya kepada Ciu Ji tentang keluarga Ci. Oleh sebab itu Ciu Ji bisa dikatakan perantaranya."

Wajah Kok Hu-jin jadi merah.

"masalah itu sudah lewat. untuk apa diungkit-ungkit tagi?" katanya.

Rupanya ibu angkat Kok Hu-jin paling setuju Kok Hu-jin dijodohkan dengan Ci Poh. tetapi Kok Hu-jin malah menikah dengan Kok Ju Sih. Sejak saat itulah hubungan dengan ibu angkatnya semakin jauh dan renggang.

Ingat tentang ibu angkatnya ia jadi berduka sekali. Sang kakak menatapnya.

"Kau menanyakan masalah Siauw Hong. itu harus dimulai dari Ciu Ji." kata kakaknya.

Kok Hu-jin mengerutkan dahinya.

"Sejak kau menikah dengan Kok Ju Sih. Ci Poh membawa Ciu Ji suami isteri ke Pek-hoa-kok. Saat ini Ciu Ji sangat terkenal di Dunia Persilatan, malah banyak orang memanggil dia sebagai Lo-cian-pwee." kata Jen Thian Ngo sambil tersenyum, lalu ia melanjutkan. "Ciu Ji punya seorang cucu bernama Ciu Hong. Sejak kecil sang cucu ini mendampingi Ci Giok Hian. Ciu Hong saling memanggil Kakak-misan dan Adikmisan. "

Jen Thian Ngo menatap ke arah Kok Hu-jin.

"Semua tentang Siauw Hong aku ketahui dari Ciu Ji yang mendapat keterangan dari cucunya. Ciu Hong. Jelas itu bisa dipercaya." melanjutkan Jen Thian Ngo. "Jika si Hong lari ke sana. sulit aku memintanya dia pulang." pikir Kok Hu-jin

"Terus terang aku tidak percaya kalau Han Tay Hiong tidak ingin ilmu pusaka keluarga kita." kata Jen Thian Ngo.

Bukan main kesal dan dongkotnya nona Han.

"Ayahku tak sepicik yang kau duga bedebah! Sebaliknya kalian terlalu meremehkan nona Ci. apa yang ia lakukan di luar dugaan kalian berdua. Dia telah menyembuhkan lukaku saat aku tidur. Dia juga ingin menghadiahkan seguci arak obat kepada Ayahku. Tak mungkin Ayahku membutuhkan ilmu keluargamu itu!" pikir nona Han.

Saat Kok Hu-jin mau bicara mendadak seorang pelayan masuk dengan sikap tergesa-gesa dan gugup.

"Cu-bo (Nyonya Majikan)! Ce..Ce..celaka!" kata pelayan itu gugup bukan main.

Melihat di situ ada Jen Thian Ngo mata pelayan itu terbelalak kaget.

"Ada apa? Mengapa kau begitu gugup? Ini Jen Lo-ya. Ada urusan apa katakan saja!" kata Kok Hu-jin sambil berkata pada kakaknya. "Dia pelayan Siauw Hong. namanya Lan Hoa "

"Sudah ada khabar tentang Siauw-ya. Cu-bo!" kata pelayan itu.

"Bagus!" kata Kok Hu-jin.

"Katanya Siauw-ya ada di Pek-hoa-kok. di rumah keluarga Ci. Toa-siauw-ya Ci dari sana menyuruh orang memberitahu hal ini." kata Lan Hoa.

Kok Hu-jin tak segera menyahut. "Hm! Ci Giok Phang berharap agar aku setuju Siauw Hong menikah dengan adiknya!" pikir Kok Hu-jin.

"Mana orang itu?" kata Kok Hu-jin.

"Hamba tak bertemu dengan orang itu. Theng Toa-siok yang melayaninya. Tadi Theng Toa-siok menyuruhku memberitahu Cu-bo!" kata pelayan Lan Hoa.

Theng Toa-siok pelayan tua di rumah keluarga Kok. ia tahu sekali tentang masalah keluarga Kok dan keluarga Ci.

"Lo Theng kaget sendiri, Padahal aku sudah tahu tentang itu. Melapor besok pun tidak masalah." kata Kok Hu-jin.

Saat itu menjelang subuh si pelayan tua tak berani menemui Kok Hu-jin. karena ia juga tak tahu Kok Hu-jin belum tidur. Jika bukan karena urusan itu sangat penting, ia pun tak berani menyuruh pelayan Lan Hoa memberi tahu majikannya.

"Karena katanya sangat penting maka hamba berani datang menemui Cu-bo. kalau tidak hamba pun tak berani mengganggu Cu-bo." kata Lan Hoa.

Kok Hu-jin kaget.

"masalah apa? katakan saja!" kata Kok Hu-jin.

"Orang itu mengatakan sekarang tempat tinggal keluarga Ci sedang dikepung oleh musuh." kata Lan Hoa.

Kok Hu-jin mengerutkan dahinya.

"Kepandaian kakak beradik keluarga Ci cukup tinggi, aku belum pernah mendengar mereka punya musuh di kalangan Kang-ouw. Mengapa tempat tinggal mereka sampai dikepung musuh? Dari aliran mana mereka itu?" kata Kok Hu-jin. "Apa yang aku dengar tadi. orang-orang itu undangan keluarga Han dari Lok-yang." sahut Lan Hoa. "Katanya terdapat Yu-pek-to (Golok Kanan) Koan Kun Oh, Lu Tay Ceng, (guru silat terkena). malah katanya ada juga dari kaum Lioktim (Rimba Hijau/Gotongan Hitam), misalnya Bong Sian, Ong Han Cu dari Pek-ma-ouw (Telaga Kuda Putih) dan yang lainnya. Theng Toa-siok menyebutkan nama-nama mereka, tapi aku tidak ingat semua!" .

Kok Hu-jin kaget bukan main.

"Han Tay Hiong jauh di kota Lok-yang. apakah ia sudah tahu Siauw Hong kabur dan menolak menikahi puterinya? Seandainya sudah tahu sebaiknya dia berunding dulu denganku, jangan memperbesar masalah." kata Kok Hu-jin.

Nona Han Pwee Eng yang sedang bersembunyi mendengar semua itu. Ia kaget dan girang. Sebaliknya Kok Hu-jin tercengang, sedangkan nona Han tahu semuanya.

"Pasti Chan It Hoan dan Liok Hong yang memakai nama Ayah lalu mengundang teman-teman Ayahku mengepung Pekhoa-kok untuk membebaskan aku. Aku yakin Kakak Ci bersaudara mengatakan mereka tak tahu aku ada di mana saat orangku menanyakan aku. Pasti Chan dan Liok tidak percaya. Demi kehormatan Ayahku, mereka pasti memaksa hendak melakukan penggeledahan. Hm! Ci Giok Hian akan merasakan kejutan, bagus sekali!" pikir nona Han Pwee Eng sambil tersenyum.

Chan It Hoan dan Liok Hong. adalah dua lelaki tua pengawal nona Han Pwee Eng.

"Apa yang menyebabkan keributan itu? apa Theng Toa- siok menanyakannya pada orang itu?" tanya Kok Hu-jin.

"Sudah, orang itu bilang pihak keluarga Han minta dikembalikan orangnya!" kata Lan Hoa. Kok Hu-jin tampak kurang senang.

"Minta dikembalikan orangnya? Han Tay Hiong ingin meminta Siauw Hong dikembalikan?" pikir Kok Hu-jin kurang senang.

"Sekalipun tindakan puteraku itu sangat keterlaluan, tapi keluarga Han tak perlu ikut campur masalah ini. Mana boleh ia datang ke sana untuk merampas Siauw Hong? Sebelum ke sana seharusnya ia berunding dulu denganku. Keluarga Han telah mencoreng mukanya sendiri, tetapi juga membuat aku kehilangan muka!" kata Kok Hu-jin kesal.

Mendengar ucapan Kok Hu-jin. Lan Hoa membantah. "Bukan! Mereka tidak minta Siauw-ya. tetapi minta

pengantin perempuan!" kata Lan Hoa.

Kok Hu-jin terperanjat bukan kepalang. "Pengantin apa?" kata Kok Hu-jin.

"Pengantin itu puteri keluarga Han. calon isteri Tuan muda!” jawab Lan Hoa

Mata Kok Hu-jin terbelalak.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi?" katanya

"kalau begitu urusan ini memang benar!" kata Thian Ngo.

"Jadi kau sudah tahu semuanya?!" kata Kok Hu-jin. "Cepat katakan padaku! Ada apa ini?"

"Aku dengar Han Tay Hiong telah menyewa Houw Wie Piauw Kiok untuk mengantarkan puterinya ke mari." kata Jen Thian Ngo. "yaitu untuk dinikahkan dengan puteramu. Ketika lewat di sarang Serigala Tua. pengantin itu justru diculik!"

Kok Hu-jin tertegun. "Diculik? Diculik oleh Lima Serigala marga Tan? Jadi keluarga Ci juga berada di balik kekacauan ini?" kata Kok Hujin.

”Tidak! keluarga Ci tidak bergabung dengan Serigala Marga Tan." kata Jen Thian Ngo. "Tetapi mereka masing- masing bergerak sendiri-sendiri. Serigala Tan ingin meminta uang jalan. sedangkan Ci Giok Hian pengantinnya. Pemenangnya pihak Ci!"

Kok Hu-jin kelihatan kaget sekali

"Benarkah itu? Wah. ini sungguh tidak beres!" katanya. Kening dia berkerut-kerut.

"Jika Ci Giok Hian kejam dan mencelakakan puteri Han Tay Hiong. oh ini bagaimana baiknya ya? Pasti keluarga Han akan melakukan perhitungan dengan keluarga Ci. Juga dia akan memusuhiku!" pikir Kok Hu-jin.

Saat itu Lan Hoa bicara lagi.

"Orang itu bilang. Nona Ci dan Nona Han sudah jadi kakak beradik angkat, kali ini ia undang Nona Han. tapi malah jadi mala-petaka!" kata Lan Hoa.

"Kedatangan Nona Han ke mari untuk menikah, barangkali Ci Giok Hian berbuat begitu hanya untuk bergurau? Kita jangan ikut campur urusan mereka, yang penting tak terjadi apa-apa pada Nona Han." kata Kok Hu- jin.

"Tapi orang itu bilang Nona Han sudah tak ada di sana." kata Lan Hoa lagi.

"Ke mana dia?" kata Kok Hu-jin sambil mengerutkan dahinya kelihatan jadi semakin bingung.

"Tidak tahu. Cu-bo. Mereka juga bingung sekali!" kata Lan Hoa. "Tetapi dari pihak keluarga Han tidak percaya kalau Nona Han tidak ada di tempatnya. Mereka terus mendesak agar keluarga Ci mengembalikannya."

Jelas utusan keluarga Ci itu tak tahu bahwa keluarga Ci telah menyembuhkan Nona Han.

"Nona Han puteri satu-satunya Han Tay Hiong. ilmu silatnya pasti lihay. Ketika ia tahu Nona Ci berniat jahat, ia buru-buru kabur." kata Jen Thian Ngo.

Kok Hu-jin menyeka keringat dingin yang membasahi dahinya. Ia tatap Lan Hoa.

"Cepat kau pergi, katakan pada Theng Toa-siok layani orang itu. Besok baru kita bicarakan lagi masalah ini." kata Kok Hu-jin.

"Baik. Cu-bo. Tapi orang itu bilang. Tuan-muda ada di rumahnya, mohon Cu-bo memandang muka Tuan-muda agar Cu-bo mau membantu mereka dalam kekacauan ini." kata Lan Hoa sedikit mendesak majikannya.

Kok Hu-jin tertawa getir.

"Aku tak mencemaskan puteraku. buat apa dia banyak bicara?" kata Kok Hu-jin.

Lan Hoa buru-buru pergi.

"Sam-moay. apa rencanamu sekarang?" tanya Thian Ngo. "Apa kau punya ide. Toa-ko?"

Kok Hu-jin seorang wanita yang tegas dan bisa cepat mengambil keputusan. kalau tidak, mana mungkin dulu ia bersedia kabur bersama Kok Ju Sih? Tapi masalah yang dihadapinya sekarang menyangkut keluarga Han, Kok dan keluarga Ci. oleh sebab itu ia tak berani memutuskan sendiri, ia minta pendapat kakaknya.

"Jika keluarga Ci bisa mengatasi masalah itu. ia tak akan minta  bantuan  ke  mari."  kata  Jen  Thian  Ngo. "Menurut pendapatku kau harus tampil membantu membereskan masalah ini!"

Ayah Ci Giok Hian pernah bertunangan dengan Kok Hu-jin. Sekalipun masalah itu sudah lama namun kedua keluarga belum bisa akur. malah mereka tidak pernah berhubungan. Tak heran ketika mendengar ucapan kakaknya itu wajah Kok Hu-jin jadi merah.

"masalah sudah jadi begini, aku harus membereskannya. Tetapi aku tak kenal pada orang-orang yang mengepung rumah keluarga Ci itu. Ditambah lagi belum tentu mereka mau mengalah kepadaku? Jika harus bertempur untuk membubarkan kepungan mereka itu. dan jika kau bersedia membantuku pun. aku tidak yakin kita akan mampu mengalahkan mereka, ini akan menghancurkan keluarga Ci dan menanam permusuhan dengan keluarga Han." kata Kok Hu-jin.

"Oleh sebab itu jangan gunakan kekerasan." kata kakaknya.

Kok Hu-jin mengerutkan dahinya.

"Lalu bagaimana membereskannya?" kata Kok Hu-jin bingung.

Kakaknya berpikir sejenak.

"Meluruskan benang yang kusut harus orang yang membuat benang itu kusut. Kau cerdas, aku yakin kau tahu maksudku?" kata sang kakak.

Kok Hu-jin mengangguk.

"Maksudmu aku harus mengundang Han Tay Hiong untuk membereskannya? Aku pun sudah berpikir ke sana." kata Kok Hu-jin.

Jen Thian Ngo tersenyum. "Sekarang Han Tay Hiong ada di Lok-yang yang jaraknya demikian jauhnya. Aku kira kejadian ini belum diketahuinya. Tetapi aku yakin ada orang yang menggunakan namanya untuk melakukan pengepungan di rumah keluarga Ci itu. Jika kita harus ke sana pun, aku kira sudah terlambat sekali untuk membereskan masalah ini." kata Jen Thian Ngo.

"kalau begitu cuma puterinya yang bisa membereskan masalah ini." kata Kok Hu-jin.

"Benar! Sekalipun Siauw Hong bersaah kepadanya, namun kau tetap masih calon ibu mertuanya. Maka cara satu-satunya kita harus cari dia sampai ketemu. Kau harus memohon agar dia membantumu mengurus masalah ini." kata kakaknya.

Kok Hu-jin tersenyum getir.

"Mana kita tahu sekarang dia ada di mana? Jika berhasil mencarinya pun. lalu aku harus bilang apa? Sedang aku belum tahu Siauw Hong dan Ci Giok Hian sudah menikah atau belum? Jika Siauw Hong tak mau nona itu kubawa ke mari. bukankah aku jadi mencelakakan nona itu?" kata Kok Hu-jin bingung bukan main.

"Ibu Siauw Hong seorang wanita yang tahu aturan." pikir Han Pwee Eng dipersembunyiannya. "Dia masih memikirkan diriku. Dia tak tahu sekarang aku ada di rumahnya?"

Tak lama nona Han berpikir lagi.

"dalam keadaan begini mana mungkin aku jadi menantunya?" pikir nona Han Pwee Eng.

Tak lama Han Pwee Eng mendengar kakak nyonya itu bicara lagi. "Jangan pedulikan keadaan Siauw Hong. yang utama bereskan dulu masalah itu! Jika kau tulus hati. aku akan membantumu berusaha mencari Nona Han. Aku juga akan minta bantuan para sahabat kaum Rimba Persilatan mencari jejaknya." kata Jen Thian Ngo.

"Apa maksudmu aku harus tulus hati?"

"Minta maaf kepadanya dan jamin puteramu mau menikah dengannya." kata sang kakak.

Kok Hu-jin mengelah napas panjang. "Aku khawatir Siauw Hong tidak mau!" katanya. Jen Thian Ngo tertawa.

"Kau ibunya, tegas sedikit dan tekan dia. pasti ia akan menurut!" kata Jen Thian Ngo.

"Sifat anak itu mirip ayahnya, keras kepala dan tak bisa dipaksa. Jika dia mencintai Nona Ci. dia tak akan menikahi gadis lain! Mana berani aku menjamin pada Nona Han."

Mendadak wajah Jen Thian Ngo berubah jadi tidak sedap dipandang.

"Mau tak mau dia harus menurut kehendakmu! Ini bukan masalah sederhana. Kau pernah melakukan kesalahan sekali, sekarang jangan biarkan anakmu melakukan kesalahan lagi!" kata Jen Thian Ngo tegas.

"Apa gunanya kau menekan dia. dulu kau pun menekan aku harus menikah dengan keluarga Ci. Akhirnya aku malah kabur dan menikah dengan Kok Ju Sih." kata Kok Hu-jin dingin. Kemudian ia tatap kakaknya ini lalu berkata dengan nyaring. "Aku menikah dengan Kok Ju Sih. dan tak pernah menyesal! Jika aku dikatakan salah juga boleh, tidak salah ya boleh! Aku tak ingin memaksa puteraku. Titik!"

Kakaknya menggelengkan kepala

"Kalau begitu tak ada jalan lagi." katanya. Nona Han bimbang dan ia anggap ucapan ibu Siauw Hong sangat menyinggung hatinya, tetapi ia tetap berterima kasih pada ucapannya yang jujur itu.

"Dia benar." pikir nona Han. "Jodoh memang tidak bisa dipaksakan. Mengapa aku harus kukuh tentang hal ini? Perjodohan yang hanya disetujui kedua orang tua. jika sampai Siauw Hong jadi suamiku, aku juga tak tahu apa aku menyukainya atau tidak?"

Setelah itu hati nona Han puas sekali.

"Aku pasti tidak akan menjadi menantu keluarga Kok. mana boleh aku masih menganggap dia calon mertuaku?" pikir si nona.

Di dalam kamar jadi hening seketika. Beberapa saat kemudian Jen Thian Ngo bicara lagi.

"Masih ada satu cara yang boleh kita coba!" katanya.

Jen Thian Ngo berbisik ke telinga adiknya Nona Han mencoba untuk ikut dengar omongan mereka, tapi ia tak mendengar suara apa-apa.

"Si Tua-bangka itu kasak-kusuk, entah apa yang dia bicarakan dengan adiknya? Siapa tahu ia akan menggunakan cara kurang baik. Di kamar hanya mereka berdua, kenapa harus kasak-kusuk? Apa dia sudah tahu aku ada di sini?" pikir nona Han Pwee Eng curiga sekali.

Mendadak Kok Hu-jin bicara dengan lantang.

"Apa? Kau suruh aku membohongi Nona Han?" katanya.

Jen Thian Ngo wajahnya tampak berubah.

"Jangan bicara begitu, itu tak sedap didengar. Ini hanya sebuah siasat saja!" kata Jen Thian Ngo. "Aku tidak bisa berbuat begitu." kata Kok Hu-jin tegas. "Jika kau bisa menemukan Nona Han dan membawanya ke mari. aku akan berterima kasih kepadamu. Namun aku akan bicara sejujurnya kepadanya. Dia mau membantu atau tidak, biar dia yang menentukannya sendiri. Aku tak mau membohonginya!"

Begitu Kok Hu-jin memutuskan.

Jen Thian Ngo tersenyum ia menunjuk ke arah jendela. "Kau sangat ceroboh!" kata Jen Thian Ngo.

Kok Hu-jin tertegun. "Apa? Di luar.. ."

Kok Hu-jin ingin bilang di luar ada orang, tetapi pada saat yang sama terdengar suara benda jatuh. "Gedubrak!"

Kok Hu-jin menoleh ke arah jendela. Terlihat sesosok bayangan hitam pergi melompati tembok. Rupanya nona Han pergi dengan agak terburu-buru. sehingga ia kurang hati-hati dan menjatuhkan sebuah pot bunga. Kok Hu-jin akan mengejar bayangan itu. tetapi Jen Thian Ngo mencegahnya.

"Sam-moay. jangan dikejar!" kata dia.

Kok Hu-jin tak melihat jelas bayangan itu tapi dari bagian belakang bayangan itu ia tahu itu sosok seorang perempuan. Dia tersentak.

"Dia pasti Nona Han!" katanya. Jen Thian Ngo manggut.

"Benar dia nona Han. calon menantumu, saat aku ke mari aku sudah tahu dia bersembunyi di balik gunung- gunungan batu." kata Jen Thian Ngo.

Alis Kok Hu-jin berkerut. "Mengapa kau tidak bilang dari tadi?" ia menyesali kakaknya.

Jen Thian Ngo menghela napas.

"Kau memang sudah pikun. Dia adalah menantumu yang belum masuk pintu. Jika kau kuberitahu, mukanya akan dia taruh di mana?" kata Jen Thian Ngo.

Kok Hu-jin tersenyum.

"Jika demikian dia belum tahu masalah Siauw Hong dengan Nona Ci. Kedatangannya itu untuk mencari tahu. Oh celaka! Dia pasti sudah mendengar pembicaraan kita tadi."

"Aku memang sengaja bicara keras-keras supaya dia mendengar." kata Jen Thian Ngo. "Bahkan aku sudah memberi isyarat, tetapi kau tak mengerti. Jika kau tadi mendukung dia. pasti dia amat berterima kasih kepadamu. Sudah pasti dia akan membantu membereskan masalah itu. Tetapi kau berkata begitu tegas, dia pergi dengan gusar. Kemungkinan dia tak akan lagi mau menjadi menantumu!" kata Jen Thian Ngo.

"Justru karena aku tahu ia di luar. maka aku sengaja berkata begitu." kata Kok Hu-jin tidak senang. "Aku tidak seperti kau ingin menggunakan siasat busuk. Aku juga tidak mau membohonginya."

"Sam-moay sifatmu seperti dulu ketika kau masih remaja." kata Jen Thian Ngo. "Sekarang aku tak bisa bicara apa-apa lagi."

"Hm! Kau sudah tahu ia ada di tuar. mengapa kau malah memburuk-burukkan nama ayahnya?" kata Kok Hu-jin. "Apa kau tak takut dia mendengar kata-katamu?" "Itu soal lain. aku yang menjelekkan ayahnya bukan kau! Jika dia sakit hati pasti kepadaku, bukan pada kau. Aku sengaja bicara begitu pasti ada sebabnya. Sekarang dia sudah pergi gara-gara kau, maka aku tak perlu menjelaskan lagi sebabnya padamu." kata Jen Thian Ngo.

Di antara Jen Thian Ngo dan Han Tay Hiong memang punya masalah. sebenarnya dia tak setuju Siauw Hong menikah dengan puteri dari Han Tay Hiong. Dia tidak rela ilmu Siauw-yang-sin-kang diajarkan pada keluarga Han. Itu sebabnya dengan sengaja ia berkata begitu agar puterinya menyampaikan pada ayahnya. oleh karena Han Tay Hiong lebih mengutamakan kehormatan, maka ia yakin pasti Han Tay Hiong akan membatalkan perjodohan anaknya itu. Ditambah lagi pasti ia tidak akan bersedia diobati dengan ilmu dari pihak keluarga Kok. Kok Hu-jin hanya mengelah napas ketika tahu sebenarnya apa yang dikehendaki kakaknya itu.

"Sebenarnya aku ingin tahu apakah Nona Han bersedia menjernihkan suasana di Pek-hoa-kok atau tidak? Jika tidak yah terserah dia saja." begitu Kok Hu-jin berpikir.

Nona Han bingung dia tak tahu apa yang harus ia lakukan.

-o(DewiKZ~Aditya~Aaa)~o-

Han Pwee Eng berlari terus sampai sejauh belasan lie, meninggalkan rumah keluarga Kok. Setelah jauh baru hatinya merasa tenang.

Ketika itu fajar pun telah menyingsing di ufuk Timur, cahayanya   yang   merah   keemasan   sangat   indah sekali. Angin berhembus sejuk sekali, sedang pemandangan di sekitarnya sangat indah. Di sana-sini terdengar suara kicau burung yang riang sekali berlompatan di atas dahan-dahan.

Saat itu nona Han Pwee Eng yang cantik ini sedang mandi sinar sang surya pagi yang hangat dan lembut. Perlahan-lahan kabut di dalam hatinya mulai buyar, seolah sudah lenyap terkena cahaya sang matahari yang mulai naik perlahan-lahan.

"Hati Kok Hu-jin sangat lapang dan jujur." pikir si nona. "mengapa hatiku tak bisa seperti hatinya? Ci Giok Hian telah mengobaliku sehingga aku sekarang sembuh, Padahal ini suatu kesempatan yang baik untukku membalas budinya itu. Aku tidak ingin berebut lelaki dengannya, lalu mengapa aku tidak ke sana saja membantu membereskan masalahnya?"

Kemudian wajahnya tampak ceria.

Dia telah mengambil keputusan untuk membantu keluarga Ci yang sedang dalam kesulitan itu. Maka ia tak kembali ke penginapan, tapi langsung ke Pek-hoa-kok.

Setelah lewat tiga hari menempuh perjalanan. ia menggunakan gin-kang saat tak ada orang untuk mengejar waktu.

Keesokan hanya Han Pwee Eng sudah tiba di tebing Bansong-teng. Tebing itu berhadap-hadapan dengan lembah Pekhoa-kok. tapi masih berjarak seratus lie lagi untuk bisa sampai ke lembah itu.

"Jika aku bisa lebih cepat lagi. mungkin malam ini aku sudah sampai di lembah itu. Jika Ci Giok Hian melihat kedatanganku, pasti ia kaget karena tak menyangka sama sekali. Apa perlu aku menemui Kok Siauw Hong?" pikir nona Han Pwee Eng bimbang Ia berlari kencang, tak lama ia sudah tiba di sebuah tegalan yang datar. Dari jauh ia sudah melihat orang berkumpul di padang rumput. Saat Han Pwee Eng memasuki mulut lembah ia mendengar suara beradunya senjata tajam.

"Oh celaka! Mereka sudah mulai bertarung!" pikir nona Han kaget bukan main.

"Hm! Sungguh hebat jurus Lian-hoan-beng-kiam-hoat (Ilmu Pedang Berantai Pencabut Nyawa)!" kata sebuah suara yang terdengar oleh nona Han

Nona Han terus berlari menuju ke padang rumput itu. "Sungguh sayang sabetan goloknya tidak tepat sasaran!" kata suara yang lain.

Sekalipun Nona Han belum melihat orang yang bicara itu. tetapi ia sudah mengenali siapa yang sedang bertarung itu.

Ia mulai tak tenang, segera ia berlari ke sana. Sesudah dekat ia lihat bayangan pedang dan golok saling menyambar. Orang yang bertarung itu ialah Lui Piauw dan Kok Siauw Hong.

Penonton tampak tegang dan penuh perhatian.

Terkadang mereka bersorak riuh.

Nona Han menyaksikan pertarungan itu dengan penuh perhatian. Pedang Kok Siauw Hong menyambar-nyambar gesit sekali. Golok Lui Piauw sekalipun gerakannya lambat, tapi kelihatan mantap sekali, suaranya menderu-deru. Kiranya dia bisa mengimbangi serangan pedang Kok Siauw Hong.

Ketika menyaksikan pertarungan seru itu Han Pwee Eng agak cemas juga. "Keduanya bertarung dengan sengit sekali, pasti salah satu akan terluka parah. Yang manapun yang terluka pasti ini tidak baik. Bagaimana caranya aku memisahkan mereka?" pikir nona Han Pwee Eng bingung bukan main.

Sebagai seorang gadis ia merasa tak enak jika harus berteriak-teriak, apalagi memanggil nama Siauw Hong.

Ditambah lagi pertarungan itu sedang seru-serunya, pasti suaranya tak akan terdengar oleh orang yang sedang bertarung dengan hebat itu.

Ia juga sulit mendekati gelanggang karena terhalang oleh para penonton yang berjubelan. Apa boleh buat ia tepuk bahu seseorang sambil berkata.

"Maaf. numpang lewat!" kata si nona.

Orang itu segera memberi jalan. saat itu lelaki tua bernama Liok Hong melihat nona Han sudah ada di situ.

"Oh. Nona! Kau sudah kembali!" kata Liok Hong.

Tak lama muncullah Ci Giok Phang. Dia mengawasi nona Han Pwee Eng dalam-dalam. Han Pwee Eng segera menoleh ke tempat lain.

"Ah aku kira Kuan Kun Oh bicara sembarangan. tak tahunya memang Nonaku ada bersama bocah ini! Sekarang bagaimana baiknya?" kata Liok Hong bingung.

Han Pwee Eng tidak tahu apa maksud ucapan pengawalnya itu.

"Biar aku ke dalam dulu!" kata nona Han.

Tak lama Chan It Hoan pun sudah melihat nona Han berada di situ.

"Nona kami sudah kembali. harap beri jalan!" kata mereka. Seruan itu mengejutkan semua orang, mereka langsung mengawasi ke arah Han Pwee Eng. Orang ingin melihat sang calon pengantin, sehingga suasana tiba-tiba jadi hening.

Mereka memberi jalan dan membiarkan nona Han Pwee Eng memasuki gelanggang pertarungan. Pertarungan antara Lui Piauw dan Kok Siauw Hong masih berlangsung. Mereka sama sekali tak mengetahui kedatangan si nona Han ke gelanggang.

Saat nona Han sampai Kok Siauw Hong sedang menggunakan jurus "Tay-mok-hu-in" (Bayangan Rase di Gurun Pasir) ia menyerang Lui Piauw. Ujung pedang Siauw Hong mengarah ke jalan darah Hian-kie-hiat dan Pauw-khiehiat di tubuh Lui Piauw.

"Sebuah serangan yang bagus!" seru Lui Piauw.

Tubuh Lui Piauw menggetar, ia menggunakan jurus "Bengsiauw-toh-wa" (Binatang Liar Berebut Sarang) ia tangkis serangan dari Siauw Hong. dan....

"Traang!"

Suara benturan senjata tajam itu terdengar nyaring  sekali. Lui Piauw berhasil menangkis serangan Siauw Hong dengan tepat. Kemudian Lui Piauw pun meluncurkan seranganserangan beruntun untuk membalas. Han Pwee Eng kaget hingga ia berteriak.

"Lui Siok-siok (Paman Lui) aku ada di sini!" teriak nona Han. "Sudah jangan bertarung terus!"

Ketika itu nona Han Pwee Eng memanggil Lui Piauw dan tidak mau memanggil nama Kok Siauw Hong.

Kelihatan keduanya melompat mundur. "Tit-Jie (Keponakan perempuan, red). jangan cemas! Aku akan membereskan urusanmu." kata Lui Piauw yang memang sahabat baik ayah nona Han.

"Kok Siauw Hong lihat keadaan dirimu! Sekarang kau mau bilang apa?" kata Lui Hong sengit.

"Apa yang harus kukatakan sudah kukatakan padamu!" kata Kok Siauw Hong. "Kau mau apa?"

Memang sebelum bertarung ia sudah berjanji, jika ia kalah ia akan membuang pedangnya dan ikut dengan Lui Piauw ke Lok-yang menemui ayah nona Han. Tetapi jika ia yang menang, maka Lui Piauw dan kawan-kawannya tidak boleh ikut campur urusan dia.

Saat itu Kok Siauw Hong tak menghiraukan kedatangan nona Han. malah ia tak acuh saja. Mendengar jawaban Kok Siauw Hong bukan main marahnya Lui Piauw.

"Nona Han telah datang, mungkin ia tidak ingin pertunangannya dibatalkan? Aku harus mengurus urusan puteri sahabatku itu!" pikir Lui Piauw.

Akhirnya dia bicara.

"Kok Siauw Hong hanya ada dua pilihan bagimu, kau pikir masak-masak!" kata Lui Piauw.

"Dua pilihan bagaimana?" bentak Kok Siauw Hong. "Yang pertama, kau dan Nona Han harus menikah di

sini. biarlah aku yang menjadi walinya." kata Lui Piauw.

Wajah nona Han langsung merah.

"Lui Siok-siok. kedatanganku kali ini bukan untuk memohon. " Tetapi suara nona Han terhenti. Saking malunya nona Han tak bisa melanjutkan kata-katanya itu. Saat itu Kok Siauw Hong telah membentak.

"Aku tidak mau!" kata Siauw Hong.

Sekalipun kata-kata nona Han belum selesai, tapi sudah bisa diduga bahwa dia pun tak bersedia menikah dengan Kok Siauw Hong sang calon suami itu.

Sebaliknya Lui Piauw salah mengerti, Ia mengira nona Han malu. Malah ia marah pada pemuda she Kok itu.

"Baik jika kau menolak jalan yang pertama, yang kedua. Aku dan Nona Han akan membawamu ke Lok-yang untuk menemui ayahnya. Di sana aku tidak akan ikut campur!" kata Lui Piauw.

"Mengapa kau bawa-bawa Nona Han segala?" kata Kok Siauw Hong. "Tadi sudah aku katakan kepadamu, jika aku kalah aku akan menuruti perintahmu. Seorang laki-laki sejati tak akan menarik lagi janjinya! Kau jangan banyak bicara lagi!"

Bukan main marahnya Lui Piauw. Ia membentak.

"Hai bocah angkuh!" bentak Lui Piauw. "Jika kau tak kuberi pelajaran maka kau anggap aku takut padamu! Lihat golokku!"

Lui Piauw mengayunkan goloknya ia menyerang ke arah Kok Siauw Hong. sedang yang diserang segera menangkis serangan itu dengan pedangnya, dan Kok Siauw Hong pun membalas menyerang. Pertarungan kali ini lebih hebat dari yang tadi. karena keduanya mengeluarkan jurus yang mematikan.

Dilihat dari serangan-serangan yang dilakukan Lui Piauw.   jelas   sudah   kung-fu   Lui   Piauw   lebih   tinggi dibanding dengan kepandaian Siauw Hong. sedangkan ilmu pedang Kok Siauw Hong pun tak kalah hebatnya. Tak heran pertarungan itu jadi seimbang sekali.

Han Pwee Eng cemas, ia ingin mencoba melerai pertarungan mati-matian itu. Tetapi usahanya ternyata tak mudah, sehingga ia jadi bingung bukan main. Ditambah lagi kedatangan dia ke tempat itu sebenarnya untuk mendamaikan kekacauan. Karena ia sadar pertarungan itu justru gara-gara dia sehingga dia sangat malu sekali. Bagaimana ia masih punya muka untuk melerai kedua orang yang sedang bertarung itu? Sedang yang bertarung itu justru calon suaminya yang tak mau menikah dengannya.

Ketika nona Han sedang gelisah tiba-tiba ia merasakan tangannya ada yang menggenggam. Orang itu ternyata Ci Giok Phang. Pemuda itu terlalu tegang, sehingga tanpa disadarinya tangannya justru menggenggam tangan nona Han. Saat ia sadar ia sedang memegang tangan nona itu.

wajahnya langsung berubah jadi merah. Buru-buru ia lepaskan cekalan tangannya itu. Agar pemuda itu tidak jadi kikuk, nona Han Pwee Eng berkata sendiri.

"Dua ekor harimau sedang bertarung, pasti salah satu ada yang akan terluka. Kita harus bagaimana?" kata si nona.

Ci Giok Phang menyahut perlahan.

"Kita lihat saja sebentar lagi. Pada saat mereka mengubah jurus, kita maju serentak untuk memisahkannya!" kata Giok Phang mantap.

Han Pwee Eng mengerutkan dahinya.

"Lwee-kang Lui Siok-siok sangat tinggi, kita belum tentu bisa memisahkan mereka! Ditambah lagi ini bukan cara yang   terbaik,   sedang   mereka   berdua   sama-sama  keras kepala. Sekalipun sudah kita pisahkan, mereka pasti akan bertarung kembali!"

Ci Giok Phang terus memperhatikan pertarungan yang hebat itu. tanpa terasa tangannya mengeluarkan keringat dingin.

Lui Piauw seorang jago tua yang berpengalaman. saat ini dia sedang mencurahkan perhatian ke pertempuran itu. pasti dia tidak akan memperhatikan yang lainnya, begitu dugaan Giok Phang. Padahal semua kejadian yang terjadi di sekitar arena pertarungan itu justru mendapat perhatian Lui Piauw.

Ketika itu Han Pwee Eng dan Giok Phang berdiri paling depan di arena pertarungan itu. Tak heran Lui Piauw bisa menyaksikan dan mendengar dengan jelas apa yang ditakukan kedua muda-mudi itu

"Ah. rupanya puteri Han Tay Hiong lebih menyukai pemuda ini." pikir Lui Piauw Ditambah lagi Koan Kuil Oh pernah memberi tahu Lui Piauw bahwa Han Pwee Eng, Sekalipun calon pengantin di tengah malam ketika di rumah keluarga Ci malah bersedia menemani Ci Giok Phang bicara.

Semula Lui Piauw tidak yakin pada keterangan Koan Kun Oh itu. karena ia tahu puteri Han Tay Hiong dididik keras oleh ayahnya. Tetapi sekarang setelah dia melihat sendiri kejadian di siang hari itu sebagai bukti, maka tak heran jika Lui Piauw pun mulai percaya pada keterangan orang she Koan itu.

"Jika itu benar bukankah aku malah mengacaukan keadaan ini. Jika mereka sudah suka sama suka. mengapa aku harus ikut campur tagi?" begitu pikir Lui Piauw yang bijaksana  ini.  "Sekalipun  aku  tahu  sifat  Han  Tay Hiong yang tak akan mau kehilangan muka. tapi apa yang bisa  aku lakukan?"

Saat pesilat tangguh sedang bertarung pikirannya tidak boleh terbagi dan tak konsentrasi ke pertarungan. oleh karena Lui Piauw sedang tidak berkonsentrasi hampir saja dia terserang hebat oleh Kok Siauw Hong. Untung dia masih bisa terhindar dari bahaya itu.

Kok Siauw Hong memang angkuh sekali, ditambah lagi ia harus bisa mengalahkan orang she Lui ini kalau ingin bebas dari tekanan untuk memilih jodoh sesukanya.

Pada saat Kok Siauw Hong hampir berhasil melukai Lui Piauw. ia girang sekali, ia terus melancarkan serangan bertubitubi karena ia ingin segera keluar sebagai pemenang. Sayang Lui Piauw bisa menghindar bahaya serangannya. malah berbalik menyerang dia dengan hebat pula.

"Hm! Kau masih tidak mau menyerah? Baik akan kupotong sebelah tanganmu!" bentak Lui Piauw dengan sengit.

Golok Lui Piauw berkelebat. tahu-tahu sudah ada di atas bahu Kok Siauw Hong. Ci Giok Phang dan nona Han kaget bukan kepalang. Pada saat keduanya hendak melompat ke dalam gelanggang. tiba-tiba terdengar suara benturan senjata tajam. Terdengar ada orang yang berkata.

"Lui Toa-ko. hentikan!"

"Kok Siauw-hiap. jangan teruskan pertarungan ini!" Siauw Hong maupun Lui Piauw tanpa terasa berseru. "Sungguh berbahaya!" kata mereka. Keduanya telah mengeluarkan jurus maut mereka, jika tak ada kedua telaki yang segera muncul, mungkin golok dan pedang akan mengenai sasaran dengan tepat. Mungkin juga golok Lui Piauw berhasil memotong tangan Siauw Hong. tetapi Lui Piauw pun tak luput akan terluka parah oleh pedang Kok Siauw Hong.

Kejadian itu mengejutkan semua penonton yang menyaksikan kejadian itu. Mereka mulai kasak-kusuk tentang kedua lelaki yang berhasil memisahkan petarungan hebat itu.

Sedang yang mengenali mereka langsung berseru.

"Hai! Mengapa pemimpin Kim Kee Leng (Bukit Ayam Emas) ada di sini? Apa masalah kecil ini telah mengejutkan dia?" kata mereka.

Nona Han terkejut bercampur girang. Rupanya nona Han Pwee Eng telah bertemu dengan kedua orang itu.

"Untung mereka berdua segera datang, dengan demikian keruwetan ini bisa segera diselesaikan. Tetapi mengapa mereka baru muncul sekarang?" pikir nona Han.

Lui Piauw melompat mundur sejauh tiga tangkah sambil menarik kembali golok emasnya, lalu memberi hormat kepada kedua lelaki itu.

"Yo Si-koh (Kakak Yo yang ke-empat). Tu Pat-ko (Saudara Tu ke-delapan). angin apa yang telah membawa kalian berdua ke mari? kalian punya pesan apa untukku?" kata Lui Piauw sambil memberi hormat.

Orang she Yo itu tertawa.

"Mengapa hari ini Lui Toa-ko begitu gembira dan bertarung dengan Kok Siauw-hiap di tempat ini? Bukankah ia calon menantu Han Tay Hiong dari Lok-yang?" kata Yo.

Lui Piauw menjawab sengit.

"Justru pertarungan ini karena urusan mereka!" kata Lui Piauw. "Padahal Nona Han cantik dan bisa silat serta mengerti sastra, kenapa dia anggap tak serasi dengannya? Tapi bocah ini malah membatalkan pertunangannya. Sekarang yang mewakili Han Tay Hiong melampiaskan kedongkolannya! Pertarungan kami ini ditentukan oleh yang menang dan yang kaiah! Aku ingin membawa dia ke Lok-yang agar menemui calon mertuanya. Aku ucapkan banyak terima kasih kepada kaiian berdua. Tetapi aku minta kalian jangan memisahkan pertarungan ini!"

Lui Piauw seorang yang jujur dan bicaranya blak-blakan.

Mendengar Lui Piauw membuka rahasianya. Kok Siauw Hong menunduk karena malu. Demikian juga nona Han. Untung nona Han seorang yang keras hatinya, jika tidak demikian, mungkin ia sudah menangis. Sepasang matanya berkaca-kaca. Ci Giok Phang berdiri di samping si nona. hatinya jadi tak enak. Segera ia menghalangi si nona.  berdiri di depan nona Han agar tak terlihat sedang berduka. Orang she Yo itu tertawa.

"Mengurus masalah seperti ini tidak mudah. Lui Toa- ko." kata orang she Yo itu. "Biarkan saja Han Tay Hiong yang memutar otaknya menyelesaikan masalahnya.  Kau tak perlu repot dan ikut campur, ditambah lagi kau tak punya waktu untuk ke Lok-yang!"
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Beng Ciang Hong In Lok Jilid 04"

Post a Comment

close