Badai Di Siauw Lim Sie Jilid 01

Mode Malam
Jilid I

SANG aku adalah untuk sang bunga, Sang bunga adalah untuk sang aku,
Sang aku dan sang bunga adalah sederajat,
Syair yang ditulis berdasarkan atas perasaan sungkan, Paderi biasa mempercakapkan hal semadhi,
Anjing yang berkelahi dimuka jendela.  Budak2 dari lorong2 Lien Ce yang bernyanyi2, Lukisan-lukisan palsu Kiangsu,
Bekas lendir siput, kotoran tikus dan pelayan pelayan yang malas,
Kesalahan dalam memilih kata-kata asmara,
Tripot antik yang berkaki tiga (pedupaan Tiongkok yang dibuat dari perunggu)
Batu dawat (untuk menghancurkan tinta Tiong kok) dari dinasti Sung,
Suara berombaknya pohon Sung (Pinus), Suara gemerciknya air sungai.
Kedatangan seorang paderi yang mengerti rahasia menyeduh teh,
Seorang Cicouw yang datang membawa arak harum, Ber-cakap2 antara isteri dan selir,
Pedang tergantung diantara Mou Tan dan Mei Hoa, Harum semerbak seisi ruangan....
-oodwoo-

DIANTARA hujan salju yang turun deras, tampak sebuah kereta yang dihela oleh dua ekor kuda berbulu coklat tengah menerjang tirai salju dan angin yang menderu2. Udara demikian buruk dan dingin sampai menusuk tulang, namun kereta itu telah berlari cepat sekali, walaupun sekali sekali roda kereta itu harus terpendam dalam gundukan salju dan kusir kereta itu yang telah berusia lanjut mungkin hampir enam puluh tahun, harus bersusah payah mendorong keretanya.

Jendela kereta kuda itu tertutup oleh tirai sutera warna jambon dan berkibar kibar dihembus oleh desiran angin dimusim dingin ini.

Setiap kali kereta itu terhenti oleh gundukan salju, maka dari dalam jendela kereta itu tampak tersembul kepala seorang laki laki berusia antara empat puluh tahun berpakaian mewah, dan memelihara kumis dan jenggot yang tumbuh tipis, namun agak panjang terjuntai, dimana ia telah menyingkap selalu tirai berwarna jambon disertai oleh kata katanya: “Apakah kau tidak bisa melakukan perjalanan yang lebih cepat lagi, Sie Toan?”.

“Sabar, sabar kita melakukan perjalanan dalam cuaca demikian buruk! Saharusnya kita tidak melakukan perjalanan, jika memang satu harinya, kita bisa melalui dua puluh lie itupun boleh dibilang sudah baik....!” selalu kusir kereta yang telah lanjut usia itu menyahuti. Rupanya kerewelan yang diperlihatkan oleh penumpang kereta itu tidak disukainya.

“Jika memang kita bisa mencapai Kangciu dalam lima hari lagi, upahmu akan kutambah dua puluh tail perak!” menjanjikan penumpang pria tersebut. Walaupun dia berkata kepada kusir kereta itu dengan suara yang nyaring, namun terlihat dimukanya kegelisahan dan perasaan kuatir, entah apa yang dikuatirkannya, karena yang pasti ia hanya menghendaki kereta yang ditumpanginya itu dapat melakukan perjalanan yang jauh lebih cepat.

“Dua puluh tail perak memang besar tapi jika sampai kuda-kudaku itu mati kedinginan karena kelelahan juga, lalu keretaku ini rusak, lalu siapa yang mengganti?!” menyahuti kusir kereta itu. “Dan tuan Tong, kau jangan bergelisah seperti itu, jika memang dalam lima hari kita belum bisa mencapai Kangciu, setidaknya kita hanya terlambat satu dua hari. !”

Penumpang berkumis tipis itu telah menghela napas dalam dalam, kemudian melepaskan pegangannya pada tirai warna jambon tersebut, diapun telah menghempaskan dirinya di kursi didalam kereta tersebut sambil menggumam perlahan, tidak begitu jelas apa yang di katakannya.

Dihadapan pria berkumis tersebut, terdapat seorang wanita yang cantik sekali, namun keadaannya waktu itu sangat kusut sekali, dengan rambut yang tidak tersisir rapi dan maka yang pucat memancarkan kedukaan Tangannya memeluki seorang anak lelaki berusia empat tahun, yang waktu itu tengah tertidur lelap, rebah dipangkuannya.

“Apakah kusir itu tak bisa, melakukan perjalanan yang lebih cepat, Toako?” tanya wanita itu kepada lelaki berkumis dihadapannya

Toako itu telah menggeleng sambil menghela napas lagi katanya: “Sayang sekali alam seperti juga tidak melindungi kita, sehingga hujan salju turun deras demikian selama berhari-hari.... kusir itu tidak berdaya untuk melarikan keretanya lebih cepat, karena ia berkuatir keretanya nanti rusak dan juga kuda-kudanya mati karena kelelahan dan kedinginan. Aku tidak berdaya untuk mendesaknya. Memang jalanpun sulit sekali ditimbuni oleh gundukan saiju yang terkadang tinggi membukit. !”

Wanita dihadapan laki2 itu telah menghela napas lagi, mukanya memancarkan kedukaan yang semakin mendalam, tanganya mengusap-usap kepala bocah dipangkuannya. Kemudian dia mengguman perlahan: “Jika sampai kita gagal mencapai Kangciu selama lima hari ini, tentu sulit buat kita lolos dari kematian. !”

Toako itu tidak menyahuti, ia tampaknya tengah berpikir keras. Sampai akhirnya katanya dengan suara yang ragu-ragu: “Auwyang Toaso kukira orang orang itupun tidak bisa mengejar kita dengan cepat, mengingat perjalanan yang harus ditempuh oleh mereka sama seperti kita sekarang ini, dimana tidak mudah melarikan kuda terlalu cepat bila hujan salju tengah  turun  deras  seperti  ini. !”

Wanita itu, Auwyang Toaso telah menghela napas lagi: “Kasihan Sungjie dalam usia sekecil ini harus menderita. Kita telah belasan hari melakukan perjalanan terus menerus tanpa beristirahat. Anak ini terlalu lelah. Dan belum lagi jika mereka yang menghendaki jiwa kami itu berhasil mengejar berarti Sungjie menghadapi ancaman yang tidak kecil. Bagiku kematian bukanlah menjadi persoalan yang penting, namun bagaimana Sungjiel?” Dan Auwyang Toaso telah menghela napas lagi berulang kali. dengan wajah yang memucat dan memancarkan kedukaan, malah dari kedua sudut matanya tampak menitik butir2 air mata yang bening, mengalir turun dari pipinya, dan kemudian jatuh keatas pundak anak yang rebah tertidur dipangkuannya.

Auwyang Toaso menyusut butir air mata yang jatuh dipunggung anak itu, merapikan selimut anak itu, dan kemudian dia telah menghela napas lagi sambil meneruskan perkataannya “Suamiku, yaitu Suhengmu juga, telah terbunuh dengan cara mengenaskan sekali.... sakit hati dan penasaran seperti itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Namun, kini keselamatan Sungjie itupun terancam. Jika kami ibu dan anak mengalami bencana, sampai menyebabkan Sungjie terbinasa ditangan orang! itu, lalu siapa yang akan membalaskan sakit hati dan penasaran kami?!” Dan setelah berkata begitu, yang perkataannya seperti ditujukan kepada dirinya sendiri, Auwyang Toaso telah menangis tersiak-isak.

Anak lelaki yang tertidur rebah dipangkuannya menggeliat, tapi anak itu tidak terbangun, karena kemudian telah terlelap dalam tidurnya lagi.

Lelaki berkumis tipis panjang itu menghela napas ikut berduka, namun dia tidak tahu dengan kata-kata apa harus menghibur Auwyang Toaso ini.

Kereta telah mulai bergerak maju lagi, rupanya Sie Toan, kusir kereta itu, telah dapat mengatasi kesulitannya dan berhasil menyingkirkan gundukan salju, sehingga roda kereta bisa menggelinding lagi. Kereta bergerak maju namun tidak cepat, dan dikala itu hujan salju masih turun cukup deras....

Sambil tergoncang tubuhnya yang sering miring kekiri dan kekanan, Auwyang Toaso masih memeluki anak lelaki yang rebah tertidur dipangkuannya. Dikala itu Auwyang Toaso telah berhenti menangis, ia duduk bengong sejenak, dengan tangan kanan mengusap-usap kepala anak itu. Lalu setelah menghela napas, tangan kirinya mengambil sesuatu dari buntalannya. Dia mengeluarkan sebilah pedang, yang sarungnya terukir indah. Dia mengawasi sekian lama pebang itu, sampai akhirnya segera dia m:acabut pedangnya mempergunakan tangan kanan, pedang itu memancarkan sinar yang berkilauan, dan diwaktu itu Auwyang Toaso berkata dengan suara yang perlahan “Pedang beriwayat ini yang akan menceritakan segala sesuatunya kelak kepada Sungjie, semoga saja kali ini kami ibu dan anak dapat meloloskan diri dari tangan manusia-manusia busuk itu. ”

Dan Auwyang Toaso telah memasukkan pedang itu kedalam sarungnya.

Toako itu lelaki berkumis panjang hanya mengawasi saja kelakuan waniia dihadapannya. Dia mengawasi dengan muka yang memantulkan kedukaan yang mendalam. Memang telah belasan hari mereka melakukan perjalanan yang tergesa-gesa sepsrti ini, bahkan, disaat cuaca demikian buruk, tokh tetap saja mereka melakukan perjalanan, itupun setelah dengan bersusah payah membujuk Sie Toan, kusir kereta, agar meluluskan keinginan mereka, menempuh perjalanan dalam cuaca demikian buruk, disaat hujan salju tengah mengganas dan turun deras sekali. Dengan upah yang sangat besar, maka kusir kereta itu telah menyanggupi untuk melakukan perjalanan dihujan salju sehebat itu.

Menjelang magrib, kereta kuda ini telah sampai dipermukaan kampung Sun-mo-cung, dimana mereka singgah, untuk mencari sebuah runah penginapan guna beristirahat. Satu hari ini mereka melakukan perjalanan, hanya bisa menempuh dua puluh lie lebih, dan jarak yang telah berhasil mereka tempuh itu sesungguhnya merupakan jarak yang cukup jauh, mengingat cuaca yang demikian buruk dan jalanan yang tidak baik, tertimbun oleh bukit- bukit salju yang bertumpuk.

Namun bagi Auwyang Toanio, hasil yang telah dicapai oleh kusir itu, yang berhasil menempuh perjalanan sejauh dua puluh lie lebih pada hari ini, malah menggelisahkan sekali hati nyonya itu. Ia menganggap kusir itu terlalu lambat menjalankan kereta, sehingga mereka tidak berhasil menempuh perjalanan yang jauh seperti yang dikehendakinya.

Auwyang Toanio telah menginap dirumah penginapan kecil yang memasang merk Kwang lauw, yang berarti rumah penginapan sinar. yang ingin diartikan sinarnya rejeki. Tapi kenyataannya didalam rumah penginapan itu, sinar api penerangan sangat suram sekali dan juga keadaannya sangat kotor.

Diwaktu itulah tampak pelayan telah melayani mereka deagan sikap acuh tak acuh, segan dan lambat sekali. Namun setelah Auwyang Toanio menghadiahkan padanya dua tail perak, pelayan itu bagaikan memperoleh tambahan tenaga baru, tanpa memperdulikan cuaca yang dingin menusuk ketulang sumsum dia telah bekerja gesit sekali, malah sambil ter-tawa2 girang, dan menghormat sekali pada tamunya ini.

Diwaktu itu, tampak lelaki berkumis tipis itu, si Toako telah memesan beberapa macam makanan, yang kemudian telah disiapkan oleh palayan dengan cepat.

Mereka mengambil dua buah kamar, yang merupakan kamar itu kamar yang berukuran tidak begitu besar. Namun keadaan dikamar itu cukup bersih, karena setelah diberi hadiah, pelayan itu membersihkan kamar dengan baik, sehingga walaupun kamar-kamar itu bukan merupakan kamar yang bagus, tokh masih lebih lumayan untuk di tempati dalam cuaca buruk dan hawa udara demikian dingin.

Barang milik dari Auwyang Toanio dan si Toako itu tidak banyak, mereka hanya memiliki tiga buah buntalan. Di samping itu, mereka pun menenteng sebuah buntalan kecil, yang tampaknya berat sekali dan isinya rupanya uang. Waktu telah berada didalam kamar, Auwyang Toanio merebahkan anak kecil itu, kemudian menyelimutinya. Pembaringan tersebut merupakan pembaringan batu, tetapi di bawahnya terdapat lobang perapian, sehingga dapat mendatangkan perasaan hangat untuk anak tersebut. Barulah kemudian Auwyang Toanio merapihkan buntalannya, guna untuk mengeluarkan seperangkap pakaiannya. Ia telah ganti bajunya dan kemudian duduk tepekur menghadapi api pelita yang apinya kelap-kelip suram sekali, menggeletak ditengah tengah meja.

Tidak lama kemudian, si Toako telah mengunjungi kekamarnya. Toako ini mengajaknya bercakap-cakap. Namun tampaknya Auwyang Toanio sangat letih sekali, sampai akhirnya si Toako ini telah menganjurkan agar Auwyang Toanio tidur saja, guna memulihkan semangatnya.

“Jika sampai kesehatanmu terganggu, tentu akan merepotkan kita dalam perjalanan selanjutnya, Auwyang Toaso,” kata si Toako itu kemudian, ketika akan  melangkah keluar dari kamar tersebut. “Kau harus beristirahat yang cukup, karena engkau sangat letih sekali sepanjang perjalanan yang lalu. !”

Auwyang Toanio hanya mengangguk me ngiyakan.

Si Toako itu telah menuju keruang bawah dimana dia memesan arak. Kemudian sambil melamun, dia meminum perlahan-lahan araknya itu. Hawa udara memang sangat dingin sekali, sehingga dengan minum arak bisa untuk menghangatkan tubuh. Sedangkan waktu itu pikiran si Toako tengah me-layang2, mengenangkan peristiwa mengerikan dan mengesankan hati yang belum lama terjadi, dimana suami Auwyang Toanio akhirnya harus membuang jiwa dibawah keroyokan beberapa orang musuh mereka. Dan si Toako ini yang kebetulan tengah mengunjungi keluarga Auwyang Toanio, jadi dapat melarikan Auwyang Toanio dan putera tunggalnya itu dari kejaran musuh musuh Auwyang Toanio, yang sesungguhnya hendak membinasakan Auwyang Toanio dan puteranya itu, Sungjie.

Sedang si Toako ini memikirkan dengan cara bagaimana ia dapat meloloskan Auwyang Toanio dan Sungjie dari kejaran musuh musuhnya itu, yang pasti melakukan pengejaran terhadap mereka, tiba2 ia mendengar suara ketukan kayu Bokkhie yang perlahan, namun irama ketukan kayu Bokkhie yang biasa diketuk oleh seorang pendeta Budha, berirama tenang sekali. Juga diwaktu itu terdengar orang berkata dengan suara yang sabar dan perlahan: “Hawa udara demikian dingin dan cuaca juga sangat buruk sekali, apakah ada yang menaruh belas kasihan kepada Pinceng. ?”

Tampak dipintu masuk rumah penginapan itu berdiri seorang pendeta yang badannya kurus kering, jangkung dan kepalanya yang gundul. Usia pendeta tersebut, mungkin baru empat puluh tahun lebih. Jubahnya berwarna kuning tapi telah lusuh. Hweshio inilah yang telah mengetuk kayu bokkhie itu.

Si Toako telah mengawasi sejenak, kemudian  menunduk meneruskan minumnya.

Seorang pelayan telah menghampiri si hweshio dengan muka yang masam dan kedua tangan bersedakap didada, rupanya pelayan ini pun tengah kedinginan.

“Disaat udara demikian buruk, diwaktu para tamu tengah kedinginan dan tidak gembira, bagaimana mungkin engkau mengharapkan dermaan? Pergilah Taisu, jangan kau mengganggu aku..... aku tengah kedinginan, jika harus melayani kau seorang paderi yang miskin melarat, wah, wah. aku bisa mati kedinginan tanpa memperoleh hasil!'

Namun Hweshio itu tidak marah mendengar kata-kata kasar dari pelayan tersebut. Malah pendeta ini telah tersenyum dengan sikap yang sabar sekali, dan kemudian katanya dengan suara yang perlahan ramah: “Toako, tentu saja aku tidak ingin mempersulit dirimu. Engkau bekerja disini, engkau memakan gaji jelas Pinceng tidak berani mengganggu mangkok nasimu. Tetapi Pinceng hanya mengharapkan derma dan belas kasihan dari para tamu dirumah penginapan ini!”

Pelayan itu menggelengkan kepalanya, katanya dengan suara mendongkol: “Dalam cuaca demikian buruk, mana mungkin di rumah penginapan kami bisa kedatangan tamu yang banyak jumlahnya, hanya satu dua orang tamu saja yang baru kami terima, jika memang kau mengganggu mereka dengan meminta minta derma, mereka tentu tidak merasa senang dan meninggalkan tempat kami ini. Berarti juga secara tidak langsung, Taisu telah mempersulit kami..... rumah penginapan kami ini tentu akan kosong karenanya. !”

Hweshio itu tersenyum, dia mengetuk kayu bokkienya beberapa kali, sampai akhir jaya dia “berkata dengan suara yang sabar: “Jika memang Toako berkata begitu, tentu saja Pinceng tidak berani mengganggu lebih lama lagi. Tetapi disitu, tampaknya ada seorang dermawan yang tengah duduk merenungi diri, bolehkah aku pergi meminta derma kepadanya?!'

Pelayan itu menoleh kepada Toako, yang saat itu tengah menunduk sambil menikmati araknya. Dan setelah mengawasi sejenak lamanya, pelayan itu kembali menoleh kepada si Hweshio, dia tertawa sinis, katanya: “Engkau selalu memiliki mata yang tajam sekali dan bisa mengenali barang dengan baik! Heemmmm memang tadipun aku telah menerima hadiah yang cukup besar dari nyonya yang jadi teman seperjalanannya.... jika memang engkau ingin meminta derma sekedar buat makan, pergilah....! tetapi ingat, jika tidak diberi engkau jangan terlalu rewel, karena jika tuan itu tidak senang dan mengajak kawannya, nyonya yang terbuka tangannya itu, aku yang rugi. karena besok2 aku tidak menerima hadiah darinya lagi”.

Pendeta itu mengangguk beberapa kali sambil tersenyum, malah dia telah berkata: “Terima kasih, terima kasih atas kebaikan Toako.... Akupun tentu tidak akan menimbulkan kerusuhan ditempatmu ini. !”

Pelayan itu tidak menyahuti, ia telah menyingkir kedekat tempat perapian, guna menghangati tubuh. Dan dia cuma mengawasi Hwe shio menghampiri si Toako.

Hweshio itu telah tiba didepan si Toako, sambil tersenyum, pendeta ini merangkapkan sepasang tangannya dan membungkukkan tubuhnya sedikit, memberi hormat. Dan sambil mengangsurkan pan-uh nya (mangkok untuk meminta derma), si Hweshio telah berkata dengan ramah: “Loyacu, dengan memandangmu ke terangnya Sang Budha, tentu Loyacu tidak akan keberatan jika memberikan derma satu atau dua tail kepada Pinceng, si pendeta  miskin. !”

Sesungguhnya, sejak tadi si Toako sama sekali tidak memperhatikan si Hweshio, karena dia sendiri tengah dipusingi oleh urusannya. Tadi dia hanya melihat sekilas si pendeta dan tidak mengawasinya lagi. Namun kini pendeta itu telah menghampirinya dan meminta derma darinya. Orangpun meminta derma dengan cara yang baik. Karenanya, si Toako telah merogoh sakunya,  mengeluarkan uang hancuran, mungkin seberat setengah tail perak, diberikan kepada pendeta itu. “Terima kasih! Omitohud! Siangcai!” kata pendeta itu sambil memberi hormat dan tersenyum ramah. “Kebaikan Loyacu tentu tidak sia-sia.... Sang Budha tentu akan memayungi kau, Loyacu, sehingga dalam perjalanan Loyacu tentu akan selamat dan tiba di tempat tujuan tanpa suatu apapun juga. Seorang yang berhati mulia dan pemurah seperti Loyacu, tentu selamanya akan dipayungi! Omitohud! Omitohud!”

Pendeta itu telah memasukkan uang itu ke dalam sakunya, kemudian berkata lagi pada Toako:”Jika Loyacu tidak keberatan bolehkah pinceng mengetahui nama  Loyacu yang terhormat? Ini untuk mengenang pada Loyacu, atas kebaikanmu. !”

Si Toako menoleh mengawasi sipendeta. sambil mengerutkan alisnya, namun akhirnya dia menghela napas dalam-dalam. “Apakah arti sebuah nama? Bukankah lebih berarti sebuah perbuatan? Suhengku memiliki nama yang sangat terkenal didalam rimba persilatan, namanya itu boleh dibilang telah dikenal dan disegani oleh orang orang seluruh Kangouw. Namun diapun memperoleh kecelakaan dan kematian karena namanya juga! Lalu, apa arti sebuah nama?”

Mendengar perkataan si Toako, muka sipendeta jadi berobah sejenak, namun ia tersenyum, sambil merangkapkan kedua tangannya dan memuji kebesaran Sang Budha. “Loyacu keliru dengan pandangan seperti itu tak selamanya nama yang terkenal seperti Suheng Loyacu yang tadi dikatakan oleh Loyacu menerima bencana dari nama. Itu tergantung dari orang yang membawa “nama” tersebut.   ! Jahat atau baik, kejam atau welas asih, dari sifat

seseorang, itu akan terukir dinamanya! Jika seseorang yang memiliki kelakuan yang kejam, jahat dan berandalan, dinamanya  itu  terukir  semuanya  itu.  Namun  sebaliknya, jika memang seseorang melakukan hal-hal yang mulia, yang gagah dan selalu mengerjakan pekerjaan yang welas asih, perbuatan itu akan melahirkan ukiran yang baik pula pada namanya, untuk selamanya. Orangnya akan meninggal dunia karena usia tua, namun namanya itu akan tetap, hidup sepanjang masa, hidup terus dengan sifat sifat yang terukir didalamnya! Karena itu, betapa pentingnya nama yang mulia dari Loyacu untuk dikenang oleh Pinceng. ”

Si Toako itu menghela napas lagi. “Aku she Tong,” sahut si Toako.” Namaku Miauw Liang. Dan kukira apa yang telah ku dermakan itu ada baiknya tidak perlu terlalu diingat oleh Taisu, karena itulah pemberian yang tidak ada artinya sama sekali. !”

Pendeta itu tersenyum. “Tong Loyacu berkata begitu, bahwa yang telah diberikan oleh Loyacu kepada Pinceng tidak ada artinya, tetapi sebaliknya, untuk Pinceng yang menerima dermaan itu, besar sekali manfaatnya! Menurut penglihatan Pinceng, Loyacu tampaknya tengah diliputi kedukaan. Apakah Pinceng boleh mengetahui, urusan apakah yang menyusahkan Loyacu, mungkin Pinceng bisa membantunya untuk membalas budi kebaikan Loyacu!”

Tong Miauw Liang menggeleng perlahan, katanya perlahan pula setelah mengawasi pendeta itu sejenak. ”Urusan itu terlalu sulit untuk dibicarakan, maafkanlah Taisu, maafkanlah. !”

Pendeta itu tersenyum, dia tidak tersinggung karena Tong Miauw Liang tidak mau menceritakan kesulitannya itu. Malah Hweshio ini rupanya memaklumi akan kesulitan Tong Miauw Liang, dimana ia telah berkata, “Baiklah Tong Loyacu, walaupun tidak sekarang, siapa tahu mungkin juga diwaktu-waktu mendatang kelak, Pinceng bisa memiliki jodoh bertemu dengan Loyacu lagi dan memiliki kesempatan   untuk   membalas   budi   kebaikan  Loyacu.... Siancai! Siancai!” Dan setelah berkata begitu, si Hweshio telah memutar tubuhnya, dia telah melangkah perlahan lahan menghampiri si pelayan, katanya sambil tersenyum:”Toako, terima kasih atas ijinmu yang telah membiarkan aku meminta derma dirumah penginapan ini! Namun, sayangnya tamu hanya seorang saja seperti Tong Loyacu, jika tidak, tentu hari ini aku bisa memperoleh derma yang lebih banyak lagi. !”

“Akh, tampaknya Taisu adalah seorang pendeta yang tamak dan kemaruk harta. !” kata sipelayan bergurau.

Pendeta itu cepat-cepat menggelengkan kepalanya. “Bukan, bukan kemaruk dan tamak, bukan....!” katanya bersungguh sungguh. “Justru Pinceng tengah menjalankan sebuah tugas, tugas yang cukup mulia namun belum bisa di beritahukan kepadamu sekarang ini, Toako. dikarenakan

Pinceng memiliki tugas harus melindungi beberapa jiwa manusia.....!” Dan setelah berkata begitu si pendeta telah merangkapkan kedua tangannya, memberi hormat, dan berlalu.

Sipelayan hanya mentertawai saja.

Hweshio itu, setelah keluar dari rumah pe nginapan, tidak segera berlalu. Cukup lama ia berdiri diemperan rumah penginapan tersebut, dan telah mengawasi salju yang tengah turun cukup deras. Hanya sekali-sekali tangannya mengetuk kayu bokkienya,

Waktu itu, dari kejauhan tampak beberapa penunggang kuda, yang melarikan kudanya tidak terlalu cepat, karena jalanan yang licin. Setelah datang dekat, pendeta tersebut melihat, itulah lima orang penunggang kuda. Malah yang luar biasa, kelima orang itu memiliki potongan tubuh yang tinggi tegap dan juga wajah yang bengis. Dikala itu, mereka telah   tiba   didekat   si   pendeta,   malah   kelimanya  telah melompat turun dari kuda masing-masing dan telah membentak si pendeta ”Mana pelayan?!”

Pendeta itu tertawa, katanya “Aku tengah berteduh dari serangan hujan salju, dan tentu saja Pinceng pun tidak memiliki uang untuk berteduh didalam rumah penginapan. Mana ada pelayan yang hendak melayani Pinceng?”

Dijawab seperti itu, orang yang menegur si pendeta jadi mendelik. Namun keempat orang kawannya telah  mengajak dia untuk masuk kedalam rumah penginapan. Malah salah seorang telah berteriak nyaring dan kasar: “Pelayan! Mana pelayan!”

Pelayan yang tengah menghangatkan tubuh didepan perapian, waktu mendengar teriakan itu cepat cepat berlari keluar. Melihat kelima orang tamu yang baru datang ini merupakan orang-orang bermuka bengis, pelayan itu cepat- cepat menyambuti kuda-kuda mereka dengan sikap takut dan menghormat.

“Beri kuda kami makan secukupnya” berkata salah seorang dari kelima tamu tadi.

Pelayan itu mengiyakan, dan telah membawa kelima ekor kuda itu keistal.

Tapi baru melangkah beberapa tindak, sa lah seorang tamunya telah membentak lagi “Hei pelayan, apakah di tempat ini lewat sebuah kereta di tarik oleh dua ekor kuda? Penumpangnya seorang lelaki berusia setengah baya dengan kumis yang tipis dan tumbuh panjang, bersamanya terdapat seorang nyonya yang paras mukanya cukup cantik, menggendong seorang anak lelaki berusia empat atau lima tahun?” Pelayan itu tertegun sejenak, namun akhir nya mengangguk: “Benar.... mereka malah singgah disini! Apakah mereka sahabat dari para Toaya?!”

Muka kelima tamuku jadi berseri-seri, tampaknya mereka girang. Satu dengan yang lainnya telah saling pandang, malah beberapa orang diantara mereka telah berseru: “Bagus! dan tanpa menyahuti pertanyaan si pelayan, mereka telah melangkah memasuki rumah penginapan. Sedangkan pelayan itu hanya memandang bingung saja, sampai akhirnya menggerutu: “Seperti orang tuli! Ia yang tanya, dia yang ingin tahu, setelah kuberitahukan, seperti gagu dan tuli, ditanya tidak menyahuti!” Dan dituntunnya kelima ekor kuda itu. Sedangkan sipendeta telah mengawasi si pelayan sambil tersenyum saja.

Si Toako, Tong Miauw Liang, yang telah mendengar suara langkah kaki kuda, yang berhenti didepan rumah penginapan telah berobah mukanya

Ketika melihat masuknya kelima orang tamu itu. dia jadi berdiri dari duduknya “Thian San Ngo Hauw!”serunya.

Kelima tamu itu, Thian San Ngo Hauw (Lima Harimau Dari Thian San) telah melihat Tong Miauw Liang, mereka tertawa mengejek. Malah salah seorang diantara mereka, Toan Hauw (Harimau yang tertua) berkata dingin “Tepat! Memang kami Thian San Ngo Hauw. Sudah kami katakan, tidak mungkin kalian bisa menyingkir dari tangan kami.'“

“Toako, mengapa harus banyak bicara dengan dia?!” tegur adik Toa Hauw, yaitu Sam Hauw, dengan suara dingin dan nyaring. Dialah seorang yang bermuka dengan potongan empat persegi, dan dia itu telah memperlihatkan senyuman yang sinis. “Benar Toako, mengapa kita harus banyak bicara lagi dengan manusia seperti dia. Hei orang she Tong, mana wanita rendah hina dina bersama anaknya, itu?!” kata Jie Hauw, si harimau kedua.

Tong Miauw Liang waktu itu memang tergoncang perasaannya, tetapi cepat sekali dia bisa mengendalikan diri, karena dilihatnya, yang datang hanya kelima orang ini. Jika hanya menghadapi Thian San Ngo Hoaw tersebut, Tong Miauw Liang tidak merasa jeri.

“Kalian terlalu mendesak kami, setelah kalian dengan pengecut dan rendah membinasakan Suhengku, kini kalian masih mendesak untuk membinasakan isteri dan putera dari Suhengku itu! Baiklah, biarlah hari ini aku Tong Miauw Liang akan mempertaruhkan selembar jiwaku ini pada kalian.... aku ingin melihat, apa yang bisa dilakukan oleh kalian semua!” Sambil berkata begitu, Tong Miauw Liang berdiri tegak, bersiap-siap untuk menerima segala kemungkinan serangan kelima musuhnya itu.

Sedangkan Toa Hauw telah berkata nyaring, dengan sikap yang bengis mengejek ”Engkau hendak memberikan perlawanan pada kami berlima? Apakah kau tidak mau menyerah secara baik2, heh? Perlu kami mempergunakan kekerasan untuk membekuk kau?”

Tong Miauw Liang menghela napas, dia mendongkol dan murka, bercampur duka juga. Karena memang telah menjadi tugasnya, untuk melindungi isteri Suhengnya dan putera Suhengnya itu, walaupun harus mempertaruhkan jiwanya. Memang kepandaian Thian San Ngo Houw ini sangat tinggi. Mereka berlima telah lama menancapkan kaki dikalangan Kang ouw, nama mereka pun disegani oleh orang2 Kangouw. Kepandaian yang mereka pergunakan dan andalkan, adalah semacam barisan yang mengepung lawannya,  sekali  dikepung  oleh  Thian  San  Ngo  Hauw, memang sulit untuk menerobos meloloskan diri dari tangan mereka. Namun Tong Miauw Liang telah nekad, dia sudah tidak memikirkan lagi keselamatan dirinya dan juga tidak memperdulikan pula akan dapat atau tidak dia menghadapi Thian San Ngo Hauw, karena yang terpenting dia harus dapat melindungi Auwyang Toanio dan puteranya itu. Jika memang dalam keadaan biasa, walaupun kepandaian Thian San Ngo Hauw dua kali lipat dari yang sekarang, tentu Tong Miauw Liang tidak akan jeri berurusan dengan mereka. Namun sekarang, ia tengah memiliki tugas yang berat, yaitu harus menyelamatkan Auwyang Toanio dan putera tunggalnya itu. Jika memang ia gagal dan terbunuh ditangan Thian San Ngo Hauw, sehingga Auwyang Toanio dan Sungjie kena dicelakai oleh mereka, bukankah hal itu akan mengecewakan sekali harapan suhengnya, yang telah terbinasa ditangan musuh musuhnya ini?

Kemungkinan besar, Suhengnya itu, yaitu ayah Sungjie tidak bisa meram ditempat peristirahatannya yang terakhir itu.

“Tong Miauw Liang! “kata San Hauw de ngan suara yang sangat nyaring. “Lebih bijaksana jika memang engkau menyerah secara baik baik, karena kami tentu tidak akan mempersulit dirimu! Dan jika nanti pemimpin kami memperbolehkan kau pergi, kami akan membebaskan! Yang terpenting, kau harus menyerahkan Auwyang Toanio dan puteranya itu!”

Tong Miauw Liang menggeleng perlahan: “Aku tidak kemaruk akan hidup! Walaupun harus menemui kematian sepuluh kali ditangan kalian manusia-manusia keparat dan pengecut, aku tidak akan menyesal! Tapi perlu kuingatkan, jika urusan hari ini diketahui oleh sahabat-sahabat Rimba Persilatan, kalian dari Im-mo-kauw tentu tidak akan dapat menancapkan kaki didaratan Tionggoan lagi. !” Mendengar perkataan Tong Miauw Liang seperti itu, kelima Thian San Ngo Hauw telah tertawa bergelak-gelak dengan suara yang keras sekali, sampai tubuh mereka tergoncang karenanya.

Malah Jie Hauw, Harimau Nomor Dua itu telah berkata dengan suara yang mengejek: “Betapa gagahnya perkataanmu orang she Tong!” kata Jie Hauw dengan suara yang nyaring. “Hemmm, juga engkau jangan harap bisa meloloskan diri dari kami, karena tidak lama lagi, kawan- kawan kami yang lainpun akan segera tiba disini!”

Muka Tong Miauw Liang jadi berobah mendengar itu, dia juga mengeluh didalam hatinya. Tampaknya memang sulit sekali dia bersama Auwyang Toanio dan Sungjie meloloskan diri dari orang2 Im-mo-kauw tersebut. Karenanya dia jadi tambah nekad, akhirnya  katanya dengan sikap yang tawar ”Baiklah, jika kalian memang hendak membunuhku, majulah.... aku tentu tidak akan mengecewakan kalian”.

Dan setelah berkata begitu, Tong Miauw Liang bersiap- siap untuk menerjang. Dia telah mengambil keputusan, harus bertindak secepat mungkin sebelum kawan-kawannya dari Thian San Ngo Hauw ini tiba dirumah penginapan ini. Syukur jika dia bisa merobohkan kelima harimau dari Thian San ini, sehingga ia bersama Auwyang Toanio dan Sungjie masih memiliki kesempatan untuk melarikan diri menyingkir dari tempat ini.

Thian San Ngo Hauw rupanya sudah tidak dapat menahan sabar mereka, dan kelimanya pun mendongkol melihat Tong Miauw Liang tidak mau menyerah pada mereka. Dengan mengeluarkan suara “sring, sring” yang nyaring kelima Thian San Ngo Hauw telah mencabut pedang mereka masing masing. “Cabut senjatamu!!” kata Toa Hauw dengan suara yang dingin.

Tong Miauw Liang menggeleng, dia menyahuti:”Aku akan melayani kalian dengan tangan kosong !”

Tong Miauw Liang berkata begitu, karena tidak mungkin lagi dia mengambil pedangnya yang berada didalam kamar. Jika memang ia pergi mengambil pedangnya, bukankah Thian San Ngo Hauw akan memiliki kesempatan untuk memecah diri, sebagian dari mereka akan mencelakai Auwyang Toanio dan Sungjie? Karena berpikir seperti itulah Tong Miauw Liang nekad akan melayani lawan-lawannya itu dengan bertangan kosong.

Go Hauw, harimau kelima, yang terkecil diantara Thian San Ngo Hauw, rupanya sudah tidak sabar lagi, ia mengeluarkan seruan ”Lihat pedang....!” dimana pedangnya menikam cepat sekali ke tenggorokan Tong Miauw Liang.

Sedangkan Sam Hauw juga telah menabas pinggang Tong Miauw Liang dengan gerakan yang cepat sekali, pedangnya berkelebat menyambar secepat kilat.

Tong Miauw Liang tentu saja tidak mau berdiam diri menerima serangan seperti itu. Dia memunahkan tikaman Go Hauw dengan melangkah mundur dua tindak, kemudian memiringkan tubuhnya mengelakkan diri dari tabasan pedang Sam Hauw. Gerakan Tong Miauw Liang memang gesit sekali.

Tapi Toa Hauw, Sam Hauw dan Jie Hauw juga telah melompat mengepungnya, merekapun menyerang dengan tikaman-tikaman yang beruntun.

Baru-baru Tong Miauw Liang memang dapat melayaninya  untuk  berkelit  atau  menge  takkan  diri  dari setiap tikaman lawannya, namun akhirnya, setelah lewat belasan jurus, tokh dia terdesak hebat sekali. Setiap tikaman dari lawannya membuat Tong Miauw Liang harus mati- matian menghindar atau berkelit, dan telah beberapa kali dipunggung dan pahanya terluka oleh tusukan pedang lawannya.

Tong Miauw Liang tanpa memperdulikan lukanya itu, dimana darah juga telah mengucur cukup deras, tetap mengamuk menghadapi lawan-lawannya seperti juga naga terluka. ia telah mempergunakan pukulan Kong Beng Kun, pukulan kosong, di mana dia telah berusaha untuk mendesak lawannya dengan kedua telapak tangan atau kepalan.

Untuk dua puluh jurus Tong Miauw Liang masih bisa mempertahankan diri. Namun selewatnya dia terdesak sekali. Bahkan tubuhnya telah dihadiahkan beberapa luka pula oleh lawannya, walaupun bukan yang mematikan, tokh tetap saja disebabkan luka itu kelincahan Tong Miauw Liang jadi berkurang.

Diami Tong Miauw Lang jadi mengeluh, karena dilihatnya mungkin dalam belasan jurus lagi dia akan rubuh ditangan lawan2nya-Dan ini benar2 membuatnya bingung dan kecewa Bingung karena jika ia dirubuhkan dan terbinasa ditangan lawan-lawannya, lalu bagaimana dengan nasib Auwyang Toanio dengan Sungjie? Dari juga kecewa, sebab dirinya tidak sanggup untuk menghadapi keroyokan Thian San Ngo Hauw itu.

Disaat itu Auwyang Toanio yang mendengar suara ribut-ribut diruang depan rumah penginapan, telah keluar dari kamarnya.

Namun melihat pertempuran yang tengah berlangsung disitu,    dimana    Tong    Hauw    Liang    tengah   mati2an memberikan perlawanan atas keroyokan Thian San Ngo Hauw, cepat-cepat Auwyang Toanio kembali kekamarnya dan mengunci pintu kamar itu dengan wajah yang pucat pias. Auwyang Toanio menyadari apa arti semuanya itu. Jika sampai Tong Miauw Liang gagal menghadapi lawan- lawannya itu, tentu dirinya bersama Sungjie pun sulit terhindar dari kematian. Yang menguatirkan Auwyang Toanio, sempat dilihatnya bahwa Tong Miauw Liang sudah terluka disekujur tubuhnya, yang luka-lukanya itu mengucurkan darah merah mengerikan.... 

Sambil memeramkan matanya menyender didaun pintu, Auwyang Toanio berdoa kepada Thian, memohon agar Tong Miauw Liang dapat menghadapi kelima orang lawannya, sedangkan air mata telah mengucur deras dari kedua mata Auwyang Toanio, dan kemudian nyonya ini, dengan berduka dan putus asa, menghampiri pembaringan, dipeluknya Sungjie yang waktu itu tengah tertidur lelap.

Keadaan Tong Miauw Liang benar-benar terancam sekali, dalam beberapa jurus lagi tentu dia akan dapat dirubuhkan oleh lawan-lawannya itu.

Dari kejauhan terdengar suara larinya kuda, dan tidak lama kemudian dua orang penunggang kuda telah berhenti didepan rumah penginapan.

Si pelayan yang tengah ketakutan, tidak berani keluar untuk menyambut kedatangan tamu-tamu baru itu. Tubuhnya menggigil dan walaupun dingin sekali, tokh pelayan tersebut juga tidak berani berdiam didekat  perapian.

“Pelayan!” terdengar suara teriakan dari luar, suara itu cempreng seperti suara kecer pecah.

Pelayan tersebut telah merengket ketakutan tidak berani keluar,  sampai  terdengar  lagi  teriakan  keras  dan   bengis, sehingga walaupun ketakutan, tokh pelayan itu keluar juga untuk menyambut tamu-tamu yang baru datang itu.

Ternyata kedua orang tamu itu adalah dua orang lelaki bertubuh pendek gemuk. Tinggi tubuhnya tidak ada sebatas dada dari sipelayan. Namun muka kedua orang ini bengis dan salah seorang dari mereka waktu melihat pelayan itu telah keluar, membentaknya: ”Apakah kawan-kawan kami yang berjumlah lima orang berada didalam. ?!”

Waktu dia berkata sampai disitu, kawannya seperti mendengar sesuatu, katanya ”Toako, dengarlah.    didalam

rumah penginapan ini seperti tengah terjadi  pertempuran....

apakah mungkin mereka telah berhasil menemui jejak dari orang she Tong itu. ?!”

Orang yang pertama tadi, si Toako, telah mendengarkan sejenak, dia mendengar suara bentakan dan suara menderu- derunya pedang. Segera mengangguk. “Benar, memang Ngo Hauw berada didalam!” Lalu dia menyerahkan kudanya pada sipelayan, pesannya: “Rawat kuda kami ini baik baik!”

“Ya, ya....!” menyahuti sipelayan ketakutan dengan tubuh menggigil.

Sedangkan kedua orang bertubuh pendek itu telah melesat masuk kedalam dengan gerakan yang ringan, si Toako juga telah berseru: “Ngo Hauw Hengte, kamipun telah datang. apakah kalian berhasil menemui jejak orang

she Tong itu. ?!”

Thian San Ngo Hauw berseri-seri, mereka memang tengah mendesak Tong Miauw Liang dan sedang berada diatas angin, karena dalam beberapa jurus lagi mereka bisa merubuhkan lawannya. Sekarang mendengar datang kedua kawannya, mereka jadi girang. Tong Miauw Liang sendiri jadi mengeluh, habislah harapannya untuk meloloskan diri dari mereka, karena menghadapi Thian San Ngo Hauw saja dia tidak berhasil menerobos kepungan itu, dirinya luka hebat seperti itu, dan sebentar lagi tentu akan dapat dirubuhkan. Terlebih lagi jika ditambah dengan lawan-lawan yang baru.

Mati2-an Tong Miauw Liang telah menggerakkan sepasang tangan dan kakinya, dia juga telah nekad hendak mengadu jiwa biar binasa bersama-sama dengan lawan2nya itu.

Namun usaha dari Tong Miauw Liang tidak berhasil, karena bukannya dia yang bisa mendesak lawan-lawannya tersebut, malah dirinya telah menerima beberapa tikaman lagi sehingga bertambah luka ditubuhnya.

Kedua orang bertubuh pendek itu tidak segera ikut terjun dalam pertempuran itu.

Sambil tertawa-tawa, mereka hanya menyaksikan, sebentar-sebentar berseru-seru: “Bagus. Bagus. Bagus!”

“Sim Toako, Sim Jieko!” teriak Toa Hauw dengan suara nyaring. “Kalian lihat, orang she Tong yang tidak tahu dari ini memilih lebih baik mampus dari pada hidup. Kami telah memberikan jalan kesorga, dia malah memilih jalan keneraka. Hahahahahaha!”

Awas pedang!” Kata-kata yang terakhir itu ditujukan Toa Hauw kepada Tong Miauw Liang dimana pedangnya telah meluncur dengan pesat sekali, menderu-deru menimbulkan angin yang kuat.

Tong Miauw Liang berusaha mengelakkan diri, namun gagal, pahanya tertikam, tubuhnya terhuyung, sehingga akhirnya  dia  jadi  berlutut,  berdiri  dengan  kaki  yang satu tertekuk. Dengan keadaan seperti ini, tentu tidak lama lagi dia akan dapat dicelakai oleh kelima lawannya.

“Benar!” teriak Sam Hauw nenimpali perkataan Toa Hauw. “Orang she Tong ini rupanya ingin memiliki dan menyerakahi bekas isteri Suhengnya. Hahahahahaha!”

Bukan main murkanya Tong Miauw Liang dengan mengeluarkan suara teriakan mengguntur, dia telah melompat sambil mendorong dengan kedua tangannya, dia tidak memperdulikan lagi sambaran pedang Jie Hauw dan Sam Hauw, tapi dia menyerang untuk mati bersama Sie Hauw.

Memang mengejutkan juga cara menyerang nekad yg dilakukan Tong Miauw Liang menyebabkan Sie Hauw harus melompat kebelakang sambil menggerakkan pedangnya dengan maksud mengancam untuk menabas kedua tangan Tong Miauw Liang. Gerakan yang dilakukan itu cepat sekali. Namun Tong Miauw Liang rupanya sudah tidak memperdulikan lagi keselamatan dirinya, karena ia telah meneruskan serangan dengan kedua tangannya itu, karena memang ia berpikir untuk mati bersama dengan Sie Hauw.

Waktu itu Sam Hauw, Jie Hauw dan Ngo Hauw bersama Toa Hauw telah mengeluarkan bentakan, pedang mereka menyambar dengan gerakan yang cepat sekali, menikam ke berbagai bagian anggota tubuh Tong Miauw Liang,

Dengan demikian, andaikata memang Tong: Miauw Liang waktu itu tumbuh sayap dan bi sa terbang tokh dia tidak mungkin terhindar dari kematian yang mengancamnya itu, karena dari berbagai penjuru mata pedang meluncur menyambar kearahnya. Si eHauw sendiri juga yakin, biarpun ia terkena gempuran kedua tangan Tong Miauw Liang, tokh akhirnya dia akan dapat menabas buntung kedua tangan Tong Miauw Liang, karena itu, dia tidak berusaha untuk mengelakkan diri lagi.

Dalam keadaan yang sangat mengancam jiwa dan keselamatan Tong Miauw Liang, di saat itulah terdengar seruan yang sabar sekali., “Omitohud! Omitohud! Sayangilah jiwa dari makluk bernyawa....!” lalu tampak berkelebat sesosok bayangan gesit sekali, juga ber kelebat sinar hitam, disusul dengan suara “triiing, triiing, triing!” beberapa kali, karena pedang dari Toa Hauw, Jie Hauw, Sara Hauw Ngo Hauw telah tertangkis oleh suatu benda keras yang seperti besi.

Begitu juga dengan pedang Sie Hauw, yang telah terlepas dari cekalannya, terbang menancap di penglari, karena pedang itu yang mengancam akan memotong kedua tangan Tong Miauw Liang telah disentil oleh sosok tubuh itu sehingga terpental dan terlepas dari cekalan Sie Hauw.

Bukan main mengejutkan Sie Hauw dan saudara- saudaranya yang lain, karena tenaga sentilan jari tangan dari sosok tubuh yang menyelak itu ternyata hebat sekali, dengan sekali sentil seperti itu dia telah bisa menerbangkan pedang Sie Hauw dari cekalannya. Tentu saja sentilan seperti itu mengandung kekuatan tenaga Lwekang yang bukan main dahsyatnya.

Dan juga, benturan dari benda keras yang menghalau dari Toa Hauw, Jie Hauw, Sam Hauw dan Ngo Hiuw, merupakan benturan yang kuat sekali, karena selain pedang mereka tergetar, keempat Harimau dari Thian San itu telah merasakan betapa telapak tangan mereka masing-masing sakit dan pedih sekali. Kelima Harimau dari Thian San telah melompat mundur dengan muka yang merah padam dan mata mereka terpentang lebar-lebar mendelik. Sedangkan kedua orang bertubuh pendek yang baru datang itu, yang merupakan sahabat-sahabat dari Thian San Ngo Hauw itu, yaitu Sim Toako dan Sim Jieko tersebut telah memandang terkejut bercampur gusar.

Ternyata, orang yang menyelak diantara mereka tidak lain dari pendeta yang tadi berdiri diemperan, yang tadi telah dibentak oleh Thian San Ngo Hauw. Pendeta yang tampaknya sabar agak ketolol-tololan itu, ternyata memiliki tenaga Lwekang yang mengejutkan sekali.

Sedangkan pendeta tersebut telah merangkapkan kedua tangannya, dia memuji kebesaran Sang Budha beberapa kali, katanya ”Omitohud! Omitohud! Mengapa harus menyerang secara mengeroyok seperti itu? Tidaklah kalian melihat, bahwa tuan Tong ini perlu dikasihani? Lihatlah keadaannya, tubuhnya telah terluka-luka seperti itu, darah telah mengucur dari lukanya.... ai, ai, dimanakah perasaan perikemanusiaan dari kalian?!”

Walaupun kata katanya menegur, namun suara hweshio itu sabar sekali, diapun telah bersenyum senyum.

Namun Toa Hauw yang diliputi kemurkaan dan penasaran telah membentak murka: “Pendeta keparat, engkau tidak mengenal mampus berani mencampuri urusan kami heh?!”

“Setiap manusia tentu takut menghadapi kematian, jika dapat tentu ingin hidup didunia. Ini merupakan suatu kenyataan yang sulit untuk dipungkiri. Tetapi buat Pinceng, jika memang telah ditakdirkan untuk mati dalam usia sekarang ini, tentu tidak akan menjadi menyesal buat Pinceng, karena Pinceng merasa, cukup lama juga Pinceng hidup didunia ini! Hanya saja mengapa tuan-tuan mengeroyok tuan Tong ini? Tidakkah kalian berlima akan merasa malu jika hal ini diketahui oleh sahabat2 rimba persilatan? Bukankah kalian, yang kudengar berjuluk Thian San Ngo Hauw akan menjadi bahan tertawaan dari para orang2 gagah dalam dunia persilatan?!”

Ditanggapi seperti itu, Thian San Ngo Hauw tambah gusar. Sedangkan Tong Miauw Liang telah melihat si pendeta yang menjadi tuan penolongnya itu, adalah Hweshio yang sebelumnya telah diberi derma hampir setengah tail perak.

Sebelum dia sempat mengucapkan terima kasih, Hweshio itu telah berkata dengan suara yang halus dan sabar sambil menoleh memandang ramah keapda Tong Miauw Liang: “Tong Loyacu, engkau telah diperlakukan tidak pantas oleh manusia-manusia rendah tidak tahu malu itu itu. Sudah Pinceng janjikan kepada Tong loyacu, bahwa Pinceng selalu bersedia untuk membalas budi kebikan Tong Loyacu, maka kebetulan sekali, sekarang ini ada kesempatan baik seperti ini dimana tentunya Pinceng dapat membalas budi kebaikan Tong Loyacu! Sekarang Tong Loyacu tak perlu kuatlr atau takut, nanti biarlah Pinceng yang memberikan pelajaran untuk manusia-manusia macam itu!”

Tong Miauw Liang mengawasi pendeta itu beberapa saat, kemudian katanya ”Taisu. !”

Namun baru saja Tong Miauw Liang berkata begitu, tampak sipendeta telah menoleh kepada Toa Hauw, katanya: “Kalian Thian San Ngo Hauw sesungguhnya didalam Kang ouw merupakan manusia manusia yang memiliki nama cukup terkenal. Namun mengapa, hari ini Pinceng demikian tidak beruntung Sehingga mata Pinceng harus  menyaksikan  perbuatan  rendah  seperti  itu?  Ai  ai, benar benar membuat hati jadi tak puas! Kini Pinceng ingin sekali bertanya, apakah kalian semua hendak angkat kaki meninggalkan tempat ini, atau memang perlu Pinceng main-main beberapa jurus dengan kalian?!”

Bukan main murkanya Toa Hauw, dia sampai berdiri dengan tubuh menggigil nahan marah, rasanya hendak meledak membendung kemarahannya itu. Maka setelah itu si pendeta berkata, dia menyahuti dengan suara yang kasar dan nyaring sekali ”Aku menghendaki batok kepalamu, pendeta keparat! Sekarang sebutkan dulu gelaranmu, agar kau mampus tidak tanpa nama!”

Pendeta itu bersenyum sabar, katanya: “Jika memang tidak salah dengar, Pinceng tadi mendengar bahwa kalian merupakan orang-orangnya Im-mo-kauw! Benarkah itu?!”

“Benar!” menyahuti Toa Hauw. “Jika engkau telah mengetahuinya, mengapa engkau masih berani berlaku kurang ajar seperti itu, pendeta keparat? Atau memang engkau sudah tidak sayang lagi pada batok kepalamu yang gundul pelontos itu?!”

Pendeta itu bersenyum. “Pinceng adalah Ming Kang Hweshio, dan selamanya memang paling sayang pada kepala Pinceng yang botak ini, karena justru dengan memiliki kepala yang botak seperti ini, Pinceng jadi bisa beribadah dan bisa membaca Liamkeng. Dengan demikian, tentunya Pinceng sangat sayang sekali kepada kepala botak Pinceng ini. Karena itu pula, tidak dapat kalian sekehendak hati ingin menabas kutung kepala Pinceng....” dan setelah berkata begitu, Ming Kang Hweshio bersenyum sabar sekali, sama sekali dia tidak memperlihatkan sikap gusar ataupun sikap takut, malah dia telah memandang Thian San Ngo Hauw dan Sim Toako serta Sim Jieko itu bergantian dengan sorot mata yang tajam cemerlang ramah sekali. Mendengar bahwa hweshio ini adalah Ming Kang Hweshio, yang cukup terkenal di dalam dunia Kangouw, walaupun mereka belum pernah bertemu muka, tokh telah membuat Thian San Ngo Hauw bersikap jauh lebih waspada.

Sedangkan Sim Toako, telah tertawa ber-gelak dengan suara yang sangat nyaring. “Bagus! Rupanya kami beruntung bisa bertemu dengan Ming Kang Hweshio yang namainya disegani oleh hampir seluruh sahabat-sahabat Kangouw! Dan ini merupakan rejeki kami yang bagus, dimana kami tentu akan bisa menyaksikan kepandaian tertinggi dari pendeta yang sangat disanjung didalam rimba persilatan seperti Ming Kang Hweshio....!” dan setelah berkata begitu, kembali Sim Toako telah tertawa bergelak gelak lagi dengan suara yang, nyaring sekali, untuk melampiaskan kemendongkolan dan kemurkaannya.

Namun Ming Kang Hweshio membawa sikap yang tenang, katanya: “Pinceng hanya pandai meminta derma, untuk memperoleh sekedar dermaan. Karena itu jika melihat orang yang memiliki hati mulia dan tangan terbuka seperti Tong Loyacu yang mau memberikan derma kepada Pinceng atau sebangsanya, tentu haruslah dibuat sayang kalau sampai Tong Loyacu terbinasa ditangan kalian. Karena itu pula, Pinceng jadi tak berdiam diri melihati saja. Memang antara Pinceng dengan Tong Loyacu tidak tersangkut urusan apapun juga, tidak saling kenal, dan juga tidak memiliki hubungan apa-apa. Namun, dengan alasan yang Pinceng katakan tadi, yang tidak bisa melihati begitu saja orang yang memiliki hati mulia dan tangan terbuka seperti Tong Loyacu dibinasakan orang, dengan demikian, membuat Pinceng harus bertindak. !”

Toa Hauw yang sudah tidak bisa menahan diri, tahu- tahu    menjejakkan    kakinya.    Tubuhnya    ringan   sekali melompat menerjang pada Ming Kang Hweshio. Pedangnya itu berkelebat akan menikam kearah dada si Hweshio.

Namun Ming Kang Hweshio ternyata memiliki kepandaian yang menakjubkan. Begitu mata pedang menyambar kearah dadanya, dia telah berkelebat dan lenyap dari pandangan mata Toa Hauw.

Sam Hauw yang berada dibelakang Toa Hauw melihat bahwa pendeta itu telah berkelebat mencelat kesamping kanan dari Toa Hauw dengan gerakan yang gesit sekali, kemudian pendeta itu menggerakkan tangan kanannya untuk menotok jalan darah Kiu nam-hiat dipunggung Toa Hauw, maka tidak membuang waktu lagi Sam Hauw menggerakkan pedangnya menikam kearah pinggang Ming Kang Hwe shio.

Tapi kali ini Ming Kang Hwesnio sama sekali tidak mengelakkan tikaman Sam Hauw. Tangan kanannya tetap meluncur menyambar kepinggang Toa Hauw, sedangkan tangan kiri nya telah menyambar menjepit pedang Sam Hauw.

“Tuukkkkk!” punggung Toa Hauw telah dapat ditotoknya, tidak ampun lagi tubuh Toa Hauw jadi terhuyung beberapa langkah kedepan dengan muka yang pucat pias.

Sedangkan Sam Hauw sendiri kaget bukan main, karena begitu dia bermaksud akan menarik pulang pedangnya, dia tidak berhasil karena pedang itu telah terjepit kuat sekali, sama sekali tidak bergeming.

“Nah, sekarang coba kau rasakan, bagaimana jika seseorang itu terluka....!” kata Ming Kang Hweshio sambil menghentak tangan kirinya yang menjepit pedang Sam Hauw. Hentakan itu telah menyebabkan pedang Sam Hauw kena dirampasnya, karena Sam Hauw tidak berdaya melindungi pedangnya, yang telah tertarik kuat sekali.

Diwaktu itu, tampak Sam Hauw tengah tertegun dan tangan kanan Ming Kang Hweshio justeru telah menyambar kearah pedangnya.

Angin dari sambaran tangan Ming Kan Hweshio menderu keras, dan Sam Hauw ketika tersadar dari tertegunnya dia ingin menghindarkan diri, gerakannya agak ayal dan terlambat, karena dadanya itu kena digempur “bukkk!”, bersuara keras sekali, tubuh Sam Hauw telah terpental ke tengah udara, hampir saja dia terbanting, jika memang tidak cepat-cepat berjumpalitan ditengah udara.

Dengan demikian, segera terlihat betapa muka Sam Hauw pucat pias, dia pun penasaran dan murka, disamping menahan rasa sakit didadanya.

Jika tadi tidak keburu memusatkan hawa murni didadanya, tentu tulang-tulang dadanya remuk kena hantaman Ming Kang Hweshio. Karena itu, untuk sementara, walaupun dia tidak sampai terluka didalam, Sam Hauw tidak segera menerjang maju lagi.

Ming Kang Hweshio telah bersenyum dengan sikapnya yang sabar, katanya: “Jika memang kalian masih mendasak Pinceng untuk turunkan tangan keras, kemungkinan besar, nanti Pincang menghajar lebih keras lagi pada kalian! Terlebih bijaksana jika sekarang kalian angkat kaki dari tempat ini! Bukankah ada kata-kata, orang yang bijaksana tentu bisa melihat selatan?!”

Bukan main murkanya Toa Hauw dan yang lainnya. Sedangkan Sie Hauw, Jie Hauw dan Ngo Hauw telah mengeluarkan  bentakan,  menggerakkan  pedang   masing2 dan telah menikam dengan hebat kepada Ming Kang Hweshio.

Mereka juga meluncurkan pedang mereka dengan serentak, dengan mempergunakan jurus serangan yang mematikan, mengincar bagian yang berbahaya ditubuh Ming Kang Hweshio. Dengan demikian, telah membuat Ming Kang Hweshio tidak boleh memandang ringan pada serangan yang tengah diluncurkan oleh ketiga orang lawannya yang tengah murka dan penasaran ini. Karenanya, Ming Kang Hweshio dengan gerakan yang cepat sekali telah menyingkir kesamping kiri, lalu melompat kekanan, dan tahu-tahu melesat kebelakang Ngo Hauw. Gerakan yang dilakukan oleh Ming Kang Hweshio sangat mengejutkan lawan lawannya. Luar biasa sekali, dimana tahu-tahu pendeta ini telah berhasil untuk menotok jalan darah Tan-cu-hiatnya Ngo Hauw.

Hal itu membuat Jie Hauw dan Sie Hauw tertegun sejenak, namun mereka tersadar sambil membentak keras sekali, dan menyerang lebih hebat lagi, setengah nekad, menikam dengan pedangnya.

Hebat bukan main cara menyerang yang dilakukan oleh Tie Hauw dan Sie Hauw, karena pedang mereka itu digetarkan sampai seperti ujung pedang itu berobah menjadi sepuluh, mengincar bagian-bagian yang mematikan ditubuh sipendeta.

Waktu itu, Sim Toako Sim Jieko telah melihat semua apa yang terjadi disitu, mereka diam-diam merasa kagum juga atas kepandaian yang dimiliki Ming Kang Hweshio. Dengan demikian, tampak Ming Kang Hweshio memang memiliki nama yang tidak kosong.

Setelah melihat Sie Hauw dan Jie Hauw menerjang maju lagi, Sim Toako dan Sim Jieko berkuatir kalau-kalau kedua Harimau dari Thian San itu akan terluka ditangan Ming Kang Hweshio, maka keduanya telah melompat maju.

“Jie-sie Hauw Hengte, mundurlah kalian, berikanlah kesempatan pada kami untuk berkenalan kelihaian Ming Kang Hweshio!”

Dan Sim Toako bukan hanya berteriak begitu saja, karena begitu tubuhnya melesat maju tangan kanannya juga telah bergerak cepat sekali, menyambar kearah pundak Ming Kang Hweshio. Sim Jieko juga tidak berdiam diri, begitu menerjang maju, sepasang tangannya beruntun, menyambar-nyambar kesana kemari.

Tenaga dalam Sim Toako dan Sim Jieko ternyata memang cukup hebat, karena kekuatan Lwekang yang mereka pergunakan menimbulkan angin pukulan yang menderu-deru sangat kuat sekali menerjang kearah Ming Kang Hweshio.

Ming Kang Hweshio diam-diam juga terkejut melihat hebatnya tenaga serangan yang dilakukan oleh kedua lawan baru ini. Jie Hauw dan Sie Hauw memang telah lompat mundur ke tepi ruangan, dan waktu itu hanya Sim Toako dan Jie Toako yang menyerang beruntun kepada si pendeta.

Namun Ming Kang Hweshio tidak jeri berurusan dengan Sim Toako dan Jie Toako ini, karena dia terkejut sebentar saja, setelah merasakan angin pukulan kedua orang itu hampir tiba, cepat luar biasa Ming Kang Hweshio telah memutar kedua tangannya dengan beruntun, dan tangan- tangannya itu menimbulkan angin yang hebat sekali, dimana melindungi dirinya.

Keadaan seperti itu berlangsung dengan cepat sekali, dalam sekejap mata telah lima jurus dilewatkan oleh mereka,    karena    waktu    Sim    Toako    dan    Sim  Jieko memperoleh kenyataan serangan mereka yang pertama gagal, mereka telah menyusuli dengan pukulan-pukulan lainnya.

-oodwoo-
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Badai Di Siauw Lim Sie Jilid 01"

Post a Comment

close