Puteri Es Bab 03 : Gadis di pingir sungai

Mode Malam
BAB 3 Gadis di pingir sungai

Gadis ini berumur sekitar 13-14 tahun. Dia sangat cantik. Jika tertawa dua gigi depan terlihat sangat putih, pada saat dia melihat Shen Tai Gong dia membalikkan tubuh, dia melihat Shen Tai Gong t sangat lucu karena itu dia tertawa. Gadis itu masih kecil, kulitnya putih dan terlihat agak pemalu. Rambutnya sangat panjang, pertama kali Shen Tai Gong melihat gadis itu, dia merasa seperti sudah lama mengenal gadis ini.

Gadis ini juga merasa kalau dia telah berbuat tidak pantas dengan terus melihatnya, tapi dia sangat menyukai kakek itu. Kumisnya yang putih seperti uang peraktapi dia belum pernah memegang uang perak, sekali-kalinya dia dan neneknya menjenguk kakek. Di sebuah lemari tinggi besar milik kakek ada uang perak yang disusun sejajar demi sejajar. Tapi uang itu bukan milik kakeknya. Kakeknya hanya juru tulis di bank, semenjak kakeknya meninggal, dia tidak pernah melihat uang itu lagi...sampai-sampai yang bentuknya logam juga jarang dilihat.

Karena merasa dia telah berbuat kurang sopan, dengan malu- malu dia menundukkan kepalanya. Dia berharap kakek ini tidak marah kepadanya, karena dia merasa kakek itu begitu baik, maka dia baru berani tertawa.

Tapi sorot mata kakek itu masih terus melihatnya. Dia jadi merasa sedikit takut.

Nenek itu tahu gadisnya yang bersalah. Dia pura-pura marah dengan suara keras berkata kepada cucunya, "Kau sudah tidak sopan dengan selalu tertawa, kau sedang mentertawakan apa! Malu jika nanti dilihat orang-orang."

Wajah gadis itu menjadi merah, dia tahu nenek itu tidak benar- benar marah kepadanya. Shen Tai Gong ingin kesana untuk memberitahu kepada nenek itu supaya jangan memarahi gadis kecil itu. Shen Tai Gong senang melihat gadis kecil itu tertawa. Walaupun matahari tidak bersinar, angin tidak berhembus, Shen Tai Gong berharap tetap bisa melihat tawa gadis itu.

Karena hatinya sudah berkeinginan seperti itu, maka Shen Tai Gong benar-benar berjalan ke arah sana. Tiba-tiba ada sebuah tangan mendarat di atas pundaknya, hati Shen Tai Gong bergetar. Mengapa dia begitu ceroboh, jika musuh mengambil kesempatan ini untuk menyerangnya bagaimana jadinya? Dengan cepat dia memegang nadi tangan itu dan dengan cepat membalikkan tubuh. Tampak Wo Shi Shui seperti melihat kepalanya bertanduk dan terus melihatnya. Wo Shi Shui bertanya, "Apakah kau sedang demam tinggi?"

Shen Tai Gong marahdan berkata dengan ketus, "Kau yang demam."

Wo Shi Shui tetap tidak percaya bahwa tidak terjadi sesuatu pada Shen Tai Gong, dia berkata lagi, "Mengapa kau tidak jalan melalui darat malah berjalan ke dalam air?"

Begitu melihat Shen Tai Gong baru sadar dia sudah masuk ke dalam air sampai kelututnya. Ternyata Shen Tai Gong ingin mendatangi tempat gadis itu. Dia berjalan lurus ke depan dan dia tidak tahu kalau semakin berjalan, air sungai itu semakin dalam. Karena itu "dia merasa malu dan berkata, "Aku... aku -melihat ada seekor ikan besar."

Wo Shi Shui melotot padanya dan berkata, "Benarkah, apa seekor ikan duyung?"

Shen Tai Gong mendengar lagi suara tawa gadis kecil itu. Perahu sudah mendekat dan sudah banyak yang naik untuk menyeberang. Para biksuni itu muncul lagi di antara kerumunan orang. Shen Tai Gong ingin ikut masuk ke dalam perahu itu tapi Wo Shi Shui menariknya dan bertanya, "Kau naik perahu itu mau ke mana?"

Shen Tai Gong menggaruk-garuk kepala dan menjawab, "Aku ingin menyeberang ke sana!"

Kali ini Wo Shi Shui benar-benar merasa kepala Shen Tai Gong sudah muncul dua tanduk. Dan hidungnya telah tumbuh sebuah pohon jambu batu. Wo Shi Shui bertanya, "Sejak kapan kau menjadi begitu taat kepada agama Budha?" "Kau mengatakan apa tadi?" Wo Shi Shui menggelengkan kepala dan menghela nafas berkata, "Orang-orang yang menyeberang kesana adalah mereka yang berniat untuk sembahyang Ji Sheng Niang Niang yang ada di Ling Yin Si. Untuk apa kau ke sana?"

Waktu itu pendayung perahu dengan tongkat bambunya mulai mendayung menjauhi sisi sungai. Perahu berputar di atas di gelombang air kuning, berjalan di sungai yang dipenuhi dengan kabut dan menjauh dari sana. Terakhir hanya terlihat titik hitam. Shen Tai Gong sudah tidak bisa melihat siapa saja yang ada di sana.

--ooo0dw0ooo--

Gadis itu bernama Xiao Xue, dari perahu dia ikut neneknya naik ke darat, semak-semak di darat sangat tinggi, hanya ada sebuah jalan menuju Ling Yin Si (kuil Ling Yin), berjalan ke sanapun harus melewati beratus-ratus tangga yang terbuat dari batu. Dia dan nenek juga dengan orang-orang yang taat pada agama sedang berjalan menuju kuil itu. Tangga yang begitu panjang seperti tidak ada habisnya, setiap tangga dipenuhi dengan lumut membentuk beraneka macam gambar. Xiao Xue memegang lumut-lumut itu dan lumut-lumut itu terasa lembek dan basah.

Tapi neneknya sudah tidak kuat berjalan karena tangga masih begitu jauh dan tinggi. Bagi seorang nenek tua seperti dia, menaiki tangga seperti itu benar-benar melelahkan. Tapi nenek datang ke sini demi cucunya. Menurut semua orang jika sudah bersembahyang disini, orang itu bisa terhindar dari bencana. Apalagi kuil ini khusus untuk melindungi anak perempuan. Cucunya ini adalah satu-satunya yang dia khawatirkan selama ini. Umur seperti nenek jika terjadi sesuatu, cucunya tidak bisa mengandalkan siapa-siapa lagi. Cucunya melihat nenek yang berjalan begitu lambat kadang terburu-buru, diapun berhenti untuk memapah dan menunggu neneknya. Sepasang mata di bawah poni tampak berputar, mata liarnya seperti rumput liar yang tumbuh di sisi tangga.

Melihat itu si nenek menarik nafas dan berkata, "Xiao Xue, jangan menunggu nenek, naiklah dulu ke kuil. Sembahyanglah dulu di sana, perjalanan menaiki kuil masih panjang, nenek harus beberapa kali beristirahat "

Xiao Xue merasa senang dia berkata, "Baiklah Nek. Aku akan sembahyang dulu meminta keselamatan untukku dan nenek. Meminta kepada dewa dewi, dan meminta agar nenek diberi umur panjang, tubuh yang kuat sehingga bisa bolak balik beberapa puluh kali ke kuil di atas sana "

Nenek tertawa dan berkata, "Bocah, untuk apa nenek bolak balik ke kuil ini. "

Xiao Xue sudah berlari mengejar seekor kupu-kupu. Nenek berkata lagi, "Bocah ini benar-benar seperti sudah gila!"

Setelah berjalan beberapa puluh langkah lagi, nenek itu merasa lelah. Dia segera duduk di sisi tangga dan ingin membuang dahak, tapi di sisi tangga yang dipenuhi air terlihat beberapa bayangan orang. Dia terkejut dan berbalik untuk melihat, ternyata mereka adalah 4 orang biksuni tadi.

Nenek segera menyapa, "Oh, ternyata 4 orang Budha hidup "

Sikap keempat biksuni itu tampak datar. Yang satu berkata, "Aku lihat dia sangat cocok."

Yang satu lagi berkata, "Kalau cocok, cepatlah bertindak!" Nenek tua itu kebingungan mendengar pembicaraan mereka. Salah satu biksuni itu bertanya, "Kecuali Anda, apakah gadis kecil itu masih mempunyai keluarga?"

Nenek itu menggelengkan kepalanya. Salah satu biksuni itu tampak menggelengkan kepala. Apa maksudnya, nenek itupun tidak mengerti.

Wajah biksuni yang pucat dan berbentuk seperti pernah diiris pisau itu merebut keranjang nenek dan dilemparkannya ke bawah tangga. Barang-barang yang ada di dalam keranjang seperti dupa, lilin, dan lainnya jatuh berhamburan.

Rasa kaget membuat nenek ini hanya bisa bengong. Tapi biksuni itu sudah menendangnya hingga jatuh terguling ke bawah tangga, nenek itu terguling kira-kira ratusan tangga dari atas sampai ke bawah. Dahinya penuh dengan darah, mengalir ke wajahnya yang penuh dengan keriput, membentuk parit-parit kecil yang dipenuhi darah.

Keempat biksuni itu saling memandang. Mereka sudah siap turun gangga tapi suara rintihan nenek membuat mereka berhenti bergerak. Terlihat wajah mereka penuh dengan kekejaman. Salah satu biksuni itu dengan cepat berlari ke bawah. Di tengah-tengah udara 3 kali turun dan naik, dia sudah berada di bawah tangga. Nenek tua itu membuka sedikit matanya. Karena matanya penuh dengan darah ditambah lagi sinar matahari terbenam yang menyinari wajahnya, membuatnya-tidak bisa melihat apa-apa, dia hanya bisa memanggil-manggil nama cucu kesayangannya.

Biksuni itu tertawa dingin. Dia menginjak dada si nenek, dan nenek itu segera memuntahkan darah, nafasnyapun segera berhenti.

--ooo0dw0ooo--

Xiao Xue masih asyik mengejar kupu-kupu. Tadinya dia merasa senang tapi tiba-tiba dia mengkhawatirkan keadaan neneknya. Dia merasa ada yang memanggil-manggil namanya. Karena itulah dia memutuskan tidak mengejar kupu-kupu lagi, dari balik semak- semak dia kembali menuju tangga yang tinggi menuju kuil. Dia menunggu sebentar, tapi neneknya belum juga sampai, dia tidak sabar lagi lalu turun untuk mencari neneknya.

Tiba-tiba dia berhenti berjalan karena dia melihat benda-benda yang tumpah di tangga dan di sekeliling banyak orang yang berkerumun, dia masih melihat banyak darah dan juga keranjang yang dibawa neneknya tadi.

Pikirannya terus berkata, "Bukan, bukan...itu pasti bukan nenek." Karena itu dia menerobos masuk ke kerumunan orang untuk melihat, ternyata benar neneknya yang terluka. Tapi hatinya masih tetap berkata, "Bukan, bukan...." Tapi kali ini dia mulai menangis dan memeluk neneknya.

Orang yang datang bersembahyang segera mengeluarkan kata- kata mengasihani. "Kasihan, seorang nenek tua "

"Hhhh! Gadis kecil ini sekarang tinggal sendirian. "

"Entah mengapa,  sekarang ini  selalu terjadi peristiwa seperti  ini. "

"Ini semua karena kesalahan Tuan Besar Long dulu. "

"Sudahlah jangan banyak bicara lagi. Kita harus cepat-cepat ke kuil itu, meminta keselamatan untuk kita sendiri."

"Apakah gadis kecil ini masih mempunyai keluarga? Kita harus membawanya pulang dan menyuruh keluarganya mengambil mayat nenek itu."

Xiao Xue mendengar suara-suara disekelilingnya tapi hatinya terus berkata, "Bukan, tidak mungkin, nenek belum mati...." Tiba- tiba ada suara perempuan yang sangat tenang berkata kepadanya, "Tidak ada seorangpun yang kenal dengan gadis ini, diajuga tidak mempunyai keluarga lagi, semua urusan pemakaman akan diurus oleh kuil kami, gadis kecil ini akan kami urus. " Xiao Xue merasa aneh, "Mengapa dia tahu kalau aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi...." Dia merasa ada yang mengelus rambutnya, matanya sudah buram oleh air mata, dia berbalik untuk melihat, ternyata yang mengelus rambutnya adalah salah satu dari keempat biksuni yang berbaju abu, dengan penuh perhatian dia melihat gadis kecil itu.

Semua orang yang datang bersembah yang  berkata,  "Ada Budha hidup di kuil yang akan mengurus gadis kecil ini. Itu paling bagus dan paling cocok "

"Tenang saja. dia benar-benar patut dikasihani."

"Gadis kecil, jangan bersedih lagi." "Ling Yin Si berbuat amal lagi."

Biksuni yang berwajah seperti pisau itu berkata, "A Mi Ta Ba. Ini harus, harus kita lakukan." Dia terus mengelus-elus rambut gadis kecil itu.

Xiao Xue merasa dia tidak tahu masalahnya, tahu-tahu sekarang akan diberikan kepada beberapa orang yang masih asing baginya, hatinya merasa sedih. Dia menangis sejadi-jadinya, dia berharap neneknya bisa mendengar suara tangisannyaa dan bangun kembali.

"Nenekku mati karena apa?"

"Lumut di tangga ini terlalu banyak," kata biksuni itu sambil menarik nafas dan berkata lagi, "Nenekmu mati karenajatuh terpeleset."

Hati Xiao Xue berpikir, "Lumut yang begitu lucu, mengapa bisa mencelakai nenek...." Tapi dia tidak berani bicara. Seorang biksuni menarik tangannya, dia berusaha membawa gadis kecil itu menjauhi mayat neneknya.

"Mari adik kecil, aku akan membawamu ke kuil dan memandikanmu dan kau akan makan sayur Zhai (makanan kuil yang tidak mengandung daging). Kami akan menyuruh orang untuk memakamkan jenasah nenekmu dan kami juga akan membacakan doa untuknya."

Tapi Xiao Xue masih menangis dan bertanya, "Mengapa nenekku bisa mati?"

"Karena dia terjatuh, sehingga dia mati." "Mengapa nenek bisa terj atuh?"

"Orang tua jika sudah terjatuh biasanya akan mati," wajah biksuni itu mulai terlihat tidak sabar.

"Aku juga sudah tua, mengapa aku tidak jatuh dan mati?"

Tiba-tiba biksuni itu membalikkan kepala. Dia melihat ada 2 orang yang berdiri di belakangnya. Yang satu sudah tua sedangkan yang lainnj'a masih muda. Yang tua masih terus tertawa, sedangkan yang muda wajahnya tampak cemberut.

--ooo0dw0ooo--

Shen Tai Gong dan Wo Shi Shui bisa menyebrangi sungai untuk datang ke Ling Yin Si karena Shen Tai Gong selalu teringat pada kuil itu. Maka dia bertanya kepada Wo Shi Shui, "Long Hui Ji dijuluki sebagai seekor naga, julukan ini diberikan oleh dunia persilatan. Aku kira kau pasti sudah mengetahuinya."

"Yun Nan dan Gui Zhou selama sepuluh tahun ini dalam keadaan tenang semua ini karena jasanya." t'

"Benar, sebelum dia berkuasa adalah You Ming Wang yang berkuasa duluan. Walaupun dia terkenal di dunia persilatan tapi dia sering memakai guna-guna, dia membunuh untuk menghentikan pembunuh, membuat dunia persilatan tidak tenang. Begitu dia meninggal, anak buahnya San Si  saling  berebut  kekuasaan.  Begitu Long Hui Ji muncul, karena dia selalu membela kebenaran dan keadilan, ilmu silatnya tinggi' maka dia bisa membuat pesilat- pesilat itu tunduk kepadanya. Dia juga berwibawa."

"Memang Long Hui Ji telah berbuat banyak kebaikan, paling sedikit dia membuat orang-orang jahat di Yun Nan dan Gui Zhou selama sepuluh tahun ini tidak membunuh orang yang tidak bersalah, juga tidak berani secara terang-terangan membuat masalah, di bawah panji kebenaran Long Hui Ji juga telah membuat banyak orang dari jahat berubah menjadi baik. Pertanian dan ilmu ketabibanpun mengalami banyak kemajuan."

"Bagaimanapun juga Long Hui Ji sangat berjasa." "Seharusnya memang seperti itu."

"Kalau begitu burung merpati yang membawa kabar mengenai racun untuk membunuh orang, sebenarnya ingin kutanyakan  kepada Yi Tiao Long. Tapi hal-hal yang terjadi di sepanjang jalan ini kelihatannya ada hubungannya dengan Long Hui Ji. Orang-orang memakinya juga membuat boneka kainnya dipaku, sepertinya mereka sudah melupakan semua kebaikannya yang dulu "

"Semua orang selalu menjadikan orang yang menang menjadi raja, yang kalah, menjadi penjahat dan selalu mengingat kejelekan dan melupakan kebaikan."

"Sehari lagi adalah hari ulang tahun Pendekar Long. Kita harus ke sana untuk menanyakan secara jelas mengenai hal ini. Kurasa itu lebih baik...tapi sebelum bertemu Yi sudah diserang oleh senjata rahasia itu di empat titik jalan darah kakinya!

Begitu Shen Tai Gong mendarat dengan kedua kakinya, dia sudah menendang 2 senjata rahasia itu. Punggungnya seperti mempunyai mata. Senjata rahasia itu ditendang entah melayang ke mana.

Sewaktu kedua pundak biksuni ini mau bergerak, tiba-tiba dia merasa dua tangannya seperti dijepit dengan tang besi. Ketiga biksuni lainnya dengan cepat berpencar. Kedua biksuni itu sudah mencabut pedang mereka yang berkilauan. Biksuni yang wajahnya seperti digores pisau itu melihat Wo Shi Shui yang kedua tangannya memcengkram pundak biksuni yang melepaskan senjata rahasia tadi. Dia membentak kepada Wo Shi Shui, "Di sini adalah kuil bersih dan penuh rahmat, apa yang ingin kau lakukan?" Wo Shi Shui balik bertanya dengan dingin, "Apakah betul di sini adalah tempat bersih?" "Benar-benar tidak tahu aturan!" "Berani bertindak kurang ajar kepada biksuni. Cepat laporkan kepada polisi!"

Wo Shi Shui memiliki mulut tapi tidak bisa membantah, dengan marah dan melotot dia hanya bisa berdiri tegak.

Shen Tai Gong tertawa dingin. Dia sudah terbang dan mendarat. Orang-orang melihat ilmu meringankan tubuhnya begifu tinggi. Mereka menjadi kaget ditambah lagi alis Wo Shi Shui yang tebal dan matanya sedang melotot, semua orang ketakutan.

Melihat Wo Shi Shui seperti itu, kata-kata marah yang siap dilontarkan ditelan kembali.

Shen Tai Gong tersenyum, dia membuka tangannya. 4 buah senjata rahasia berbentuk bunga tampak berada di telapaknya. Dia berkata, "Kalau kalian adalah biksuni yang jujur dan bersih, mengapa diam-diam menyerangku yang sudah tua dengan senjata ini?"

Biksuni itu walaupun dicengkram keras oleh Wo Shi Shui tapi dia tidak tampak takut. Dengan tertawa dingin dia berkata, "Kapan aku menyerangmu dengan senjata rahasia jenis bunga...aku hanya seorang biksuni yang menangkap ayampun tidak mampu. Jangan sembarangan menuduh."

Shen Tai Gong tertawa dingin, "Kau tidak mempunyai tenaga untuk menangkap ayam? Kalau kau bukan orang persilatan, mengapa kau bisa tahu bahwa senjata ini adalah senjata rahasia berbentuk bunga?"

Biksuni yang wajahnya seperti digores pisau itu berkata, "Apa anehnya senjata rahasia ini? Bisa tahu bentuknya tapi belum tentu dia yang menembakkan senjata itu!"

Wo Shi Shui dengan marah bertanya, "Kau benar-benar tidak mau mengaku kalau kau yang menyerang temanku tadi?"

Biksuni itu tertawa dingin, "Aku adalah murid Budha, apakah kau berani memeriksa tubuhku?" "Aku tidak berani," kata Wo Shi Shui.

Kata-katanya baru selesai, kedua cakarnya berubah menjadi telapak. Wajah biksuni itu berubah. Tubuhnya seperti terkena sambaran kilat dan terus bergetar. Terdengar ada suara benda yang terjatuh. Ternyata yang jatuh adalah senjata rahasia bentuk bunga, keluar dari lengan bajunya. Ternyata Wo Shi Shui dengan tenaga dalam memaksa biksuni itu mengeluarkan senjata rahasia yang masih tersembunyi di dalam lengan bajunya.

Shen Tai Gong mengambil dua senjata rahasia jenis bunga yang terjatuh itu dan mencocokkan dengan senjata tadi. Dengan tertawa Shen Tai Gong berkata, "Apakah kalian masih tidak mau mengaku?"

Orang-orang yang berada di sana melihat ada bukti jelas, mereka diam dan tidak berani membela para biksuni lagi.

Biksuni yang wajah seperti digores pisau itu berkata, "Dia masih kecil, dia hanya bercanda denganmu, hanya itu yang dia lakukan!"

Shen Tai Gong tertawa dan berkata, "Kalau aku terlempar hingga mati itu sudah bukan seperti bercanda lagi." Dia menunjuk nenek yang sudah mati itu dan bertanya, "Mengapa kalian harus membunuh dia?"

Biksuni yang wajahnya seperti digores pisau itu menjawab, "Kami adalah murid Budha, mana mungkin kami membunuh?"

Shen Tai Gong berkata, "Dia mati bukan karena terjatuh. Keranjang yang berisi perlengkapan sembahyang isinya berhamburan di tangga tapi dia terjatuh ke bawah tangga.

Kalau bukan ada seseorang yang dengan paksa memisahkan keranjangnya kemudian mendorongnya ke bawah, keadaannya tidak akan seperti ini." Dengan cepat Shen Tai Gong mengangkat kaki biksuni yang wajahnya seperti digores pisau. Di bawah sepatu kainnya ada bekas darah. "Kau takut dia tidak mati, lalu kau injak dia sekali lagi!"

Biksuni itu marah, dia mengangkat kakinya dan siap menendang. Dengan ringan Shen Tai Gong bersalto ke belakang untuk menghindar dan berteriak, "Aduh! Takut, aku takut biksuni marah. Biksu harus segera kabur!"

Semenjak Wo Shi Shui dan Shen Tai Gong muncul, Xiao Xue terus menangis. Sekarang dia mendekati biksuni yang berwajah seperti digores pisau. Xiao Xue mencakar dan berteriak, "Mengapa kau bunuh nenekku? Mengapa kau bunuh nenekku. "

Biksuni yang berwajah seperti digores pisau itu sudah membalikkan tangan dan melepaskankan 3 senjata rahasia. Yang satu ditembakkan ke arah Shen Tai Gong, yang satu ditembakkan ke arah Wo Shi Shui, sedangkan yang satu lagi ke arah Xiao Xue.

Shen Tai Gong berteriak, "Hati-hati!" Dengan angin dari telapaknya dia sudah menepak biao itu dan berguling ke arah Xiao Xue. Tangan kanannya menggendong Xiao Xue. Tangan kirinya menerima biao yang datang ke .irah mereka.

Sebenarnya dia bisa menyentil dengan jarinya atau dengan tenaga dalamnya menggetarkan biao itu, tapi dia takut Xiao Xue akan terluka, maka diapun memutuskan untuk menyambut biao itu. Biao sudah disambut tapi Shen Tai Gong sudah gemetar karena kedinginan. Xiao Xue pun gemetar. Bibir yang tadi merah sekarang menjadi pucat.

Ternyata di atas biao ada cahaya dingin. Walaupun Shen Tai Gong diserang oleh udara dingin dari biao itu tapi karena tenaga dalamnya tinggi dengan cepat dia bisa melindungi nadi-nadi penting dan memaksa udara dingin keluar dari tubuhnya. Tapi udara dingin yang Shen Tai Gong sambut sudah menyebar ke dalam tubuh Xiao Xue yang sama sekali tidak bisa ilmu silat.

Kali ini Shen Tai Gong benar-benar terkejut, dengan cepat dia menutup nadi Xiao Xue. Dengan tenaga dalam yang sudah berpuluh-puluh tahun dilatihnya, dia mengalirkan tenaga dalamnya ke dalam tubuh Xiao Xue. Membantunya mengeluarkan udara dingin dari dalam tubuhnya, perlu diketahui, dengan tenaga dalam mengeluarkan udara dingin tidak begitu sulit, tapi membantu orang yang sama sekali tidak bisa ilmu silat dan sudah terkena guna-guna, mengeluarkan udara dingin adalah hal yang sangat menguras tenaga dalam.

Wo Shi Shui sudah bisa mengantisipasi datangnya biao. Tapi biao itu terbang ke arah kerumunan orang. Wo Shi Shui membentak. Dia mengejar biao itu dan segera menghadang di depan biao. Dengan sekali tendang, biao itu sudah terbang entah ke mana.

Begitu Wo Shi Shui mengejar biao, dia melihat keempat biksuni itu melarikan diri. Wo

Shi Shui berteriak, "Jika aku bertemu dengan siluman-siluman  itu lagi "

Shen Tai Gong dengan serius mengobati Xiao Xue. Wajah Xiao Xue sangat pucat, keringat sudah membasahi bajunya. Bagi Xiao Xue yang terkena guna-guna, masih termasuk sedikit, hanya karena kematian neneknya, yang merupakan pukulan yang sangat berat.

Wo Shi Shui masih marah. Dengan langkah besar dia berjalan menuju Ling Yin Si....

"Biksu bisa melarikan diri tapi kuil tidak akan bisa lari. Aku akan pergi ke sana mencari mereka untuk membuat perhitungan!" Tubuhnya yang tinggi dan besar itu sudah berlari ke arah tangga batu.

— Dia percaya Shen Tai Gong pasti bisa mengurus Xiao Xue. Urusan menghibur anak kecil, memakamkan orang, Wo Shi Shui sama sekali tidak mengerti.

— Lebih baik mengambil kesempatan ini untuk membabat bersih Ling Yin Si yang selalu mencelakai orang!

Wo Shi Shui segera melakukan niatnya, banyak orang bersifat seperti itu tapi orang seperti ini selalu membuat keributan atau bahkan terkadang bisa menjadi celaka.

Ketua Ling Yin Si adalah salah satu dari San SiSi Kou Xiao Dou. Perkumpulan You Ling San Shi yang dipimpinnya, memiliki ilmu silat sangat aneh. Mereka terkenal dengan ilmu guna-gunanya, apalagi malam ini adalah acara sembahyang musim semi di Ling Yin Si.

--ooo0dw0ooo--
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Puteri Es Bab 03 : Gadis di pingir sungai"

Post a Comment

close