Pertemuan di Kotaraja Bab 22 : Disandera malah menyandera

Mode Malam
22. Disandera malah menyandera.

"Jika ingin mengetahui hal ini, kau akan kehilangan seluruh kesempatan untuk hidup," seru Kwan Hay-beng dengan wajah serius.

"Ah, akhirnya toh dia bakal mati juga, apa salahnya diberitahu," sela Bu Seng-tang, "benar sekali dugaanmu, Kwanloyacu, Thio-siucay dan aku memang merupakan anggota dari ketiga belas orang pembunuh."

"Dari pertanyaanmu itu, tampaknya kau masih belum mengetahui rahasia ini," ujar Thiat-san Siucay pula dengan napas tersengal, "nampaknya Bu-loji memang belum mengkhianati kami!"

Pengejar nyawa segera menangkap ada sesuatu yang tak beres di balik perkataan itu, lekas katanya lagi, "Aku memang tidak tahu, sewaktu berada di bawah Ngo-thay-san, aku terpaksa mencampuri urusan ini dan berusaha membekuknya lantaran aku menyaksikan Bu Seng-tang sedang membantai adik kandungnya sendiri."

"Oh Thiat-san Siucay Thio Si-au berseru tertahan, kemudian sambil mengalihkan sorot matanya ke wajah Bu Seng-tang, dia bergumam lagi, "Jadi kaulah yang telah membunuh Bu-loji? Kenapa kau bilang Bu-loji mengkhianati kami dan membocorkan rahasia kita kepada si Pengejar nyawa? Kenapa kau bilang terpaksa membunuh Bu-loji karena dia berkhianat lalu minta kami membantumu membunuh si Pengejar nyawa agar rahasia ini tidak bocor?"

Sementara itu Kwan Hay-beng sudah mendelik ke arah Bu Seng-tang sambil berseru kata demi kata, "Benarkah demikian ceritanya?"

Suara tawa Bu Seng-tang berubah, lekas teriaknya, "Kwanloyacu, masa kau lebih mempercayai orang luar ketimbang mempercayai orang sendiri?"

Begitu melihat suara tertawanya yang tidak wajar, Kwan Hay-beng segera memahami apa yang telah terjadi, maka ujarnya, "Oh ... rupanya begitulah duduk perkara yang sebenarnya, tak heran kau minta kami untuk merahasiakan peristiwa ini agar si kepala tidak mengetahuinya, tak heran kau beralasan takut si kepala marah kepadamu karena tahu kau mempunyai adik yang berkhianat, kau pun minta kami untuk merahasiakan perbuatanmu menukar ilmu pukulan Tokjiu-jui-hun-ciang dengan Bu-loji, ternyata ceritanya begitu

"Kwan-loyacu, kau ... kau jangan percaya omongan orang itu, dia ... dia sengaja mengadu domba ...!" teriak Bu Sengtang tergagap.

"Oya?" seru Kwan Hay-beng. Sementara Thio Si-au lantas bertanya, "Pengejar nyawa, menurut kau, lantaran apa Bu-lotoa membunuh adiknya, Buloji?"

Secara ringkas si Pengejar nyawa segera menceritakan semua yang dilihat dan diketahuinya ketika berada di bawah Ngo-thay-san.

Beberapa kali Bu Seng-tang ingin menukas, namun lantaran Kwan Hay-beng mengawasinya terus dengan mata mendelik, terpaksa dia pun membungkam diri.

Dalam hati kecil Bu Seng-tang cukup mengerti, kalau bicara kepandaian silat, kungfu yang dimiliki mereka bertiga hampir berimbang, seandainya tangan kirinya belum terluka, dalam tiga ratus gebrakan dia yakin masih mampu mengalahkan si Siucay berpayung besi Thio Si-au, tapi tiga ratus gebrakan kemudian dia bakal keok di tangan Kwan Hay-beng.

Maka begitu si Pengejar nyawa selesai berkisah, Bu Sengtang langsung berteriak, "Tidak pernah terjadi peristiwa semacam itu, kalian jangan percaya dengan segala fitnahnya!"

Dengan sorot mata tajam Thio Si-au mengawasi Bu Sengtang dari atas kepala hingga ke ujung kaki, kemudian menjengek, "Rupanya kau ingin memperalat aku dan Kwanloyacu untuk membunuh si Pengejar nyawa, kemudian kau lalap sendiri kitab i .ttatan ilmu pukulan Ngo-tok-jui-hun-ciang itu?"

"Mana mungkin?" jawab Bu Seng-tang sambil tertawa paksa, "kalian jangan percaya dengan fitnahan orang itu."

Sembari berkata dia merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sejilid kitab tipis, kemudian ujarnya lebih lanjut, "Kitab ini berisi catatan ilmu pukulan lima racun pembetot sukma, Siaute segera persembahkan kepada kalian berdua." Pelajar berpayung besi tertawa dingin. "Hm, jangan kau sangka kami berdua kemaruk ilmu silat macam begitu," serunya, "tapi kau telah membunuh adikmu sendiri, merampas kitab catatan ilmu silatnya dan merusak kerja sama kelompok kita, perbuatanmu kelewat batas, bagaimanapun juga harus kulaporkan peristiwa ini kepada kepala." Bergidik hati Bu Seng-tang mendengar ucapan itu, tanpa terasa bulu kuduknya berdiri, tapi membayangkan kembali betapa hebatnya kungfu yang dimiliki sang kepala dan betapa telengasnya hati orang itu, diam-diam ia mengambil keputusan dalam hati.

"Jadi kalian tak akan membunuh si opas sialan itu?" teriaknya kemudian.

"Tentu saja harus dibunuh," sahut Thio Si-au sambil tertawa seram, "kalau tidak bunuh, siapa yang menjamin dia akan pegang rahasia? Apalagi dia sudah membuat tulang lututku cidera hebat, sekalipun tak ingin dibunuh pun tetap harus dibunuh."

Tampaknya Bu Seng-tang merasa sangat terharu bercampur terima kasih, dia sodorkan kitab catatan Ngo-tokjui-hun-ciang dengan tangan kanannya lalu berkata, "Kau membunuh si Pengejar nyawa sama artinya telah membalas dendam atas terputusnya lenganku ini. Terlepas kau akan melaporkan kejadian ini kepada sang kepala atau tidak, aku tetap ikhlas menyerahkan kitab pusaka ini kepadamu, anggaplah sebagai ungkapan rasa terima kasihku."

Sambil tertawa dingin Kwan Hay-beng menerima kitab itu, jengeknya, "Hm, anggap saja kau memang tahu diri!

Bagaimanapun juga, kepandaian silat ini toh bukan milikmu, tak ada salahnya kalau kami pun ikut mempelajarinya."

"Ya, memang tak ada salahnya, memang tak ada salahnya," ujar Bu Seng-tang sambil tertawa dingin.

Baru saja Kwan Hay-beng menyentuh ujung kitab itu, mendadak ia saksikan kitab itu melayang ke atas lalu menghajar wajahnya.

Sadar Bu Seng-tang berbuat ulah, Kwan Hay-beng membentak gusar, dengan kedua belah telapak tangannya dia menjepit kitab pusaka itu lalu disilangkan di atas wajah sendiri, mendadak dua titik cahaya terang kembali berkelebat, kali ini menyerang iga kiri dan kanannya. Ternyata Kwan Hay-beng sama sekali tidak mempedulikan datangnya ancaman senjata rahasia itu, bukannya menghindar, dia malah merangsek maju ke depan.

Ketika kedua senjata rahasia itu hampir mengenai tubuh Kwan Hay-beng, tiba-tiba dari tepi arena menyambar datang sebuah payung besi, munculnya senjata ini persis membendung datangnya serangan senjata rahasia itu.

Bu Seng-tang sangat kaget, tidak sempat lagi untuk mundur, sebuah pukulan dahsyat Kwan Hay-beng telah bersarang telak di dadanya, begitu keras hajaran itu membuat badannya terlempar mundur ke belakang.

"Duk!", punggung Bu Seng-tang yang terlempar segera menumbuk tiang rumah, diiringi benturan keras, pasir dan debu berguguran ke seluruh ruangan.

Belum sempat Bu Seng-tang mengatur napasnya yang tersengal, secepat sambaran kilat kembali Kwan Hay-beng merangsek maju, sambil menempelkan telapak tangannya di atas ubunubun lawan, ia menjengek seraya tertawa tergelak, "Hahaha ... hanya mengandalkan kepandaian secetek itu, kau sudah ingin membokong aku? Huh, jangan mimpi!"

Berhubung kakinya terluka, Thio Si-au juga tak sempat lagi mengambil balik payungnya, sambil tertawa ia berkata, "Bukankah adikmu yang telah mampus itu tewas dengan cara begini? Hahaha ... kalau sudah ada contoh sebelumnya, memangnya kami tak akan berjaga-jaga?"

"Am ... ampuni nyawa ... nyawaku pinta Bu Seng-tang dengan napas tersengal-sengal.

"Hahaha ... membunuhmu sih tak mungkin," sahut Kwan Hay-beng sambil tertawa tergelak pula, "kami. akan membawamu menghadap sang ketua, aku percaya dia pasti akan menjatuhkan hukuman yang setimpal kepadamu, sementara kami akan memperoleh hadiah

Bergidik juga Bu Seng-tang mendengar ucapan itu. Terdengar Thio Si-au kembali menjengek, "Menggelikan,

sungguh menggelikan, coba kalau kau berani bertarung berhadapan denganku, tanggung belum sampai seratus jurus kau sudah keok duluan. Coba lihat saja, sudah bersiasat pun masih sempat merasakan bogem mentah Kwan-loyacu, hahaha ... kau memang patut dikasihani

Diam-diam Bu Seng-tang coba melirik pakaian bagian dadanya yang robek terbakar, benar saja, sebuah bekas telapak tangan berwarna merah muncul di atas dadanya, biarpun dia sudah meminjam tenaga lawan untuk beringsut mundur, tidak urung luka dalam yang dideritanya cukup parah juga.

Maka setelah terbatuk beberapa kali dan memuntahkan segumpal darah kental, ujarnya dengan napas tersengal, "Kalian ... kalian berdua memang .. memang lihai... Siaute mengaku ... mengaku kalah

Sambil berkata, ia berusaha menyingkirkan telapak tangan Kwan Hay-beng yang masih menempel di atas ubun-ubunnya, kemudian katanya lagi, "Kwan-loyacu, berbuatlah sedikit kemurahan untukku, sekarang aku sudah terluka, jelas sudah bukan tandingan kalian berdua lagi, mana mungkin aku bisa kabur?"

Kwan Hay-beng tidak menarik tangannya karena perkataan itu, dia tahu betapa licik dan busuknya hati Bu Seng-tang, orang ini banyak akal busuknya dan pandai menipu, biarpun ilmu pukulannya tidak seberapa hebat, tapi kemampuannya melepaskan senjata rahasia amat jahat dan hebat.

Karena itu sewaktu Bu Seng-tang memegang tangannya untuk disingkirkan dari ubun-ubunnya, dia sama sekali tidak bereaksi, dalam anggapannya, cekalan itu bukan berada pada urat nadi, seandainya secara tiba-tiba dia melancarkan serangan pun Kwan Hay-beng yakin masih sanggup menghadapinya.

Siapa tahu begitu tangan Bu Seng-tang menyentuh lengannya, paras muka Kwan Hay-beng tiba-tiba berubah hebat, ia merasa gatal dan kesemutan mendadak menyerang ke dalam tubuhnya, cepat dia berusaha menarik kembali tangannya. Sayang keadaan sudah terlambat, lengannya sudah berubah jadi kaku dan kesemutan, bahkan sudah tidak menurut perintahnya lagi, pada saat itulah tahu-tahu Bu Sengtang sudah mencengkeram urat nadinya.

Kwan Hay-beng melihat tangan kanan Bu Seng-tang telah berubah jadi hitam pekat, sementara lengan sendiri telah berubah jadi kehijau-hijauan, tak terlukiskan rasa gusar dan kaget setelah melihat kejadian ini.

"Hati-hati Loyacu!" terdengar Siucay berpayung besi memperingatkan, "telapak tangannya sangat beracun, cepat menghindar!"

Ternyata sejak Bu Seng-tang berhasil membunuh adiknya dan merampas kitab pusaka ilmu pukulan beracun, sembari berusaha kabur dari pengejaran si Pengejar nyawa, setiap ada kesempatan dia selalu memanfaatkan untuk melatih diri, beberapa hari belakangan dia mulai menampakkan keberhasilannya, kendatipun belum bisa melukai orang dengan lontaran pukulan beracunnya, dia sudah mampu menyebarkan racun ganasnya pada permukaan tangan dan menyalurkannya ke tubuh lawan.

Tentu saja Thio Si-au tidak tahu akan hal ini, padahal Kwan Hay-beng bukannya tak mampu berkelit, serangan hawa racun yang menyusup ke dalam tubuhnyalah yang membuat dia tak sanggup melepaskan diri.

Tak terlukiskan rasa gusar bercampur ngeri yang dialami Kwan Hay-beng, dia merasa ngeri karena hawa racun sudah menyusup ke dalam tubuhnya, gusar karena gara-gara bersikap terlalu gegabah hingga akhirnya dia malah dipecundangi Bu Seng-tang.

Diam-diam hawa murni dikerahkan untuk melindungi denyut jantungnya, kemudian sambil membalikkan telapak tangannya dia menghantam tubuh lawan.

Tiba-tiba Bu Seng-tang melepaskan cengkeramannya, begitu lolos dari serangan itu, dia mengayunkan tangan kembali melepaskan tiga batang senjata rahasia, yang diancam adalah tubuh bagian atas, tengah dan bawah Kwan Hay-beng.

Melihat gelagat tidak menguntungkan, Thio Si-au menekan kedua telapak tangannya ke tanah, bagaikan seekor burung raksasa dia menyambar payungnya lalu ditusukkan langsung ke punggung Bu Seng-tang.

Baru saja Kwan Hay-beng berhasil mendesak mundur lawannya, tiba-tiba ia melihat ada tiga titik cahaya tajam mengancam tubuh bagian atas dan bawahnya, lekas dia meraup ke depan menangkap kedua batang senjata rahasia itu, baru saja akan berkelit dari serangan yang ketiga, tiba-tiba hawa murninya terasa buyar, hawa "racun langsung menyusup ke dalam jantungnya, dia merasakan mata berkunang dan kepala pusing, belum lagi berbuat sesuatu, senjata rahasia itu telah menghajar hulu hatinya dengan telak.

Kwan Hay-beng menjerit keras, menggunakan segenap sisa tenaga yang dimilikinya dia lepaskan satu pukulan ke depan.

Waktu itu Bu Seng-tang sedang menerjang maju ke depan untuk menghindarkan diri dari tusukan payung yang datang dari belakang, dia tak mengira Kwan Hay-beng melepaskan satu pukulan dahsyat, ketika sadar akan datangnya bahaya, keadaan sudah terlambat.

"Duk!", badannya terhajar keras, saking kuatnya pukulan itu, tubuh Bu Seng-tang mencelat ke udara dan sewaktu terjatuh ke bawah, persis menghantam di atas sebuah meja.

"Brak!", hancuran meja dan kursi berserakan kemanamana, Bu Seng-tang tak berani ayal, cepat dia merangkak bangun dari tanah dan berusaha bangkit, cucuran darah tampak meleleh keluar dari panca indranya.

Sementara itu Kwan Hay-beng sudah merenggang nyawa karena serangan hawa racun yang menyerang jantungnya.

Dengan sempoyongan Bu Seng-tang berusaha menghampiri si Pengejar nyawa, teriaknya penuh kebencian, "Kau ... kau Akhirnya dia tak sanggup melanjutkan kata-katanya, mendadak tubuhnya roboh terjengkang ke tanah dan tak pernah bangun lagi untuk selamanya.

Walaupun dengan cara membokong si Sastrawan bertangan keji Bu Seng-tang berhasil membunuh adiknya Tokjiu-cong-goan Bu Seng-say, kemudian secara licik berhasil membunuh Kwan Hay-beng, namun pada akhirnya dia sendiri pun gagal lolos dari kematian, dia harus mati konyol diterjang pukulan, dahsyat Kwan Hay-beng menjelang ajalnya.

Menyaksikan semua adegan itu, si Pengejar nyawa hanya bisa bergumam, "Siapa suruh kau cari mampus? Jangan salahkan aku kalau sudah begini."

Thio Si-au sendiri masih belum hilang rasa ngerinya, setelah memandang mayat Bu Seng-tang sekejap, ujarnya kepada si Pengejar nyawa, "Biarpun mereka berdua sudah mati, masih ada aku yang akan menuntut balik nyawa kedua orang itu."

Pengejar nyawa tertawa.

"Kalau mesti satu lawan satu, belum tentu kau sanggup melawan diriku!" katanya.

"Mungkin saja," sahut Thio Si-au sambil tertawa pula, "tapi sayang jalan darahmu sudah ditotok Bu Seng-tang, tubuhmu tak mampu bergerak, aku hanya cukup menggerakkan jari tanganku, kau segera akan mampus."

"Wah, kalau begitu terpaksa aku harus pasrah nasib!" kata Pengejar nyawa sambil memejamkan mata dan menghela napas.

Baru selesai dia berbicara, tubuhnya bagaikan sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya tahu-tahu sudah meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa, kaki kirinya menendang ke arah tenggorokan sementara kaki kanannya menendang tumit.

Thio Si-au terkesiap, cepat dia pentang payungnya untuk menangkis datangnya ancaman, siapa tahu tiba-tiba si Pengejar nyawa menekuk sepasang kakinya dan menghajar telak sepasang tangan lawan. Payung besi itupun terlepas tangan lawan, tangan kiri si Pengejar nyawa segera mencengkeram tenggorokan Thio Siau sementara tangan kanan mencengkeram urat nadi pergelangan tangannya.

"Kau jerit Thio Si-au dengan wajah hijau membesi.

Pengejai nyawa segera tertawa.

"Kalau mesti satu lawan tiga, jelas aku bukan tandingan kalian, sekalipun aku sudah terhajar sebuah pukulan Kwanloyacu, tapi aku pun berhasil melukai kakimu, hitung-hitung masih kembali modal. Karena itulah aku berlagak seolah kena totokan Bu Seng-tang, padahal aku memang sedang menunggu kalian gontok-gontokan sendiri, bila keadaan sudah parah barulah aku muncul untuk menyelesaikan sisanya, bukankah cara ini jauh lebih menguntungkan? Selain itu, bila aku tidak menggunakan cara begini, tidak gampang untuk bisa membekukmu hidup-hidup."

Suara guntur lamat-lamat terdengar menggelegar di luar sana.

Pertarungan yang amat seru telah mengacaukan suasana dalam kedai itu, sedari tadi para tamu dan pelayan entah sudah kabur dan bersembunyi dimana.

Angin terasa berhembus makin kencang, sesaat menjelang turunnya hujan deras biasanya angin memang berhembus amat kencang, sedemikian kencangnya membuat tiga lentera yang menerangi ruangan ikut bergoyang.

Pengejar nyawa merasakan hawa dingin merasuk tulang. Dia sadar, dalam keadaan seperti ini dia harus secepatnya mencari tahu rahasia seputar si kepala komplotan itu, sebab dengan luka yang dideritanya saat ini, mustahil baginya untuk bisa menggelandang orang ini pulang ke markas.

Dari daftar tiga belas orang pembunuh, si Pentolan iblis Si Ku-pei sudah mati, Congkoan bertangan racun Bu Seng-say sudah mati, Sastrawan bertangan keji Bu Seng-tang sudah mati, Kwan-loyacu juga sudah mampus, berarti pembunuhnya tinggal sembilan orang. Dari kesembilan orang itu, kecuali si Siucay berpayung besi Thio Si-au, siapakah delapan orang lainnya?

Untuk mengetahui rahasia ini, satu-satunya jalan terpaksa dia harus mencari tahu dari mulut Thio Si-au.

Maka dengan suara dingin dan ketus si Pengejar nyawa segera bertanya, "Siapakah pentolan kalian itu?"

Thio Si-au mendongakkan kepalanya, terasa olehnya sinar mata si Pengejar nyawa dingin bagaikan salju di musim dingin, dalam bagaikan dasar sebuah sumur kuno, tak kuasa lagi dia bersin berulang kali.

"Lebih baik kau mengaku saja," kembali si Pengejar nyawa mendesak.

Untuk kedua kalinya Thio Si-au bersin beberapa kali, baru saja dia hendak menjawab, mendadak terdengar suara gemuruh yang keras menggelegar dari luar sana, suara guntur bagaikan membelah bumi.

Di antara kilatan cahaya lilin yang bergoyang, tampak sekilas cahaya putih yang memucat menerangi seluruh ruangan.

Hingga detik ini, para pelayan kedai itu belum juga menampakkan diri.

Sambil berkerut kening si Pengejar nyawa berseru, "Akan kuhitung sampai tiga, bila kau belum juga mau menjawab, jangan salahkan kalau tak berlaku sungkan lagi."

Thio Si-au tertawa getir, ia belum juga menjawab. "Satu” Pengejar nyawa mulai menghitung.

0oo0

Awan gelap semakin menyelimuti angkasa, hujan mulai turun dengan derasnya membasahi seluruh bumi.

Dari tiga buah lentera yang semula menerangi ruangan, ada sebuah di antaranya telah padam tertiup angin.

"Dua ...”Pengejar nyawa menghitung lagi.

Keringat dingin mulai bercucuran membasahi jidat dan tubuh Thio Si-au.

"Tiga…” Thio Si-au segera pentang mulut lebar seraya berseru, "Akan kujawab ... akan kujawab..”

"Krak!", mendadak terdengar bunyi lirih dari arah daun jendela.

Mendengar suara yang mencurigakan, si Pengejar nyawa segera berpaling.

Tampak daun jendela sudah hancur, sekilas cahaya putih yang sangat kuat memancar masuk dengan kecepatan bagaikan kilat, langsung membabat tenggorokan si Pengejar nyawa.

Begitu kuat dan dahsyatnya cahaya putih itu, tergopohgopoh si Pengejar nyawa menyambar tubuh Thio Si-au dan menyingkir ke samping.

Ketika gagal mengenai sasaran, tiba-tiba "Wes!", cahaya putih itu berputar satu belokan kemudian melayang balik melalui pecahan daun jendela dan lenyap di balik kegelapan di luar jendela sana.

Ketika Pengejar nyawa melayang turun kembali ke tanah, ia merasa alas sepatunya telah terpapas sebagian, ia benarbenar nyaris terhajar serangan gelap itu.

Kilatan petir dan gelegar guntur masih bersahutan di luar sana, di tengah derai hujan yang deras tiba-tiba terdengar seorang berseru dengan nada dingin, "Keluar kau!"

Pengejar nyawa segera menotok jalan darah Ki-hay-hiat di tubuh Thio Si-au, karena masih kuatir, dia totok pula jalan darah lemasnya, setelah itu baru melangkah keluar dari ruangan.

Di luar kedai terlihat ada tujuh delapan orang tergeletak di atas tanah, ternyata mereka tak lain adalah para tamu, Ciangkwe serta pelayan kedai itu.

Orang-orang itu tergeletak di atas tanah berlumpur, luka yang mencabut nyawa mereka berada di tenggorokan, kalau dilihat dari luka yang tertinggal, tampaknya orang-orang itu mati tersayat sabetan golok lengkung yang sangat cepat, sedemikian tajam dan cepatnya sayatan itu hingga yang tersisa hanya lapisan kulitnya saja, mati tanpa sempat mengeluarkan sedikitpun suara.

Di tengah kilat yang menyambar dan hujan yang turun sangat lebat, tampak seseorang berdiri sepuluh kaki di hadapannya, orang itu mengenakan topi lebar dan mengenakan jas hujan hingga tak nampak jelas raut wajahnya, ia berdiri di situ bagaikan sebuah bukit berwarna hitam, sebilah golok lengkung yang memancarkan sinar berkilat tersoren di pinggangnya.

Sebilah golok lengkung yang tak mungkin dijumpai di daratan Tionggoan.

Di ujung golok lengkung itu masih terlihat sisa darah, butiran darah berwarna merah.

Tiba-tiba si Pengejar nyawa teringat kembali dengan petunjuk yang dikemukakan Cukat-sianseng kepadanya, kesepuluh jari tangan si petugas kentongan yang ada di depan istana Jian-liok-ong terpa pas kutung oleh sebilah golok lengkung pengejar nyawa yang dapat melayang balik.

Maka dengan kening berkerut dia pun menegur, "Kau datang dari wilayah Biau?"

Orang itu manggut-manggut tanpa menjawab.

Sekali lagi suara guntur menggelegar membelah bumi, suara geledek yang menyambar persis seperti suara genderang perang yang dibunyikan bertalu-talu.

Kembali Pengejar nyawa menegur, "Kau adalah si Dewa mati dari Jit-ci Ho Thong atau Si golok tanpa darah Ho Lui? Atau It-to-jian-li (golok sakti seribu li)' Mo-sam Ha-ha? Atau ma-lah si golok tanpa tanding Leng Liu-peng?"

Orang itu tidak langsung menjawab, sampai lama kemudian baru ujarnya, "Orang yang akan membunuhmu adalah Mosam Ha-ha!"

Pengejar nyawa tahu jika dia langsung mengajukan pertaj nyaan siapakah dia, belum tentu orang itu akan memberikan jawaban, oleh sebab itulah secara sengaja dia menyebutkan nama empat jagoan golok yang paling dicurigai selama ini, keempat jagoan golok itu semuanya berasal dari wilayah Biau, dan menjadi kebiasaan orang persilatan, mereka enggan kalau salah disangka sebagai jagoan lain, maka biasanya mereka akan segera mengakui siapa dirinya.

Begitu tahu orang ini adalah Mo-sam Ha-ha, diam-diam si Pengejar nyawa merasa bergidik, sebab di antara empat orang jagoan golok yang dia sebut, kecuali si Golok tanpa tanding Leng Liu-peng, kepandaian silat si Golok sakti seribu li Mo-sam Ha-ha terhitung paling lihai.

"Jadi kau yang telah membantai orang-orang itu?" tiba-tiba si Pengejar nyawa menegur sambil tertawa.

Mo-sam Ha-ha tidak menjawab.

"Aku adalah seorang opas!" kembali si Pengejar nyawa j memperkenalkan diri.

Sekali lagi suara guntur menggelegar di angkasa, hujan tu-

] run semakin deras.

Dengan nada suara yang sama sekali tidak berubah, datar,! dingin dan kaku, Mo-sam Ha-ha menjawab, "Kau masih ingin menangkapku?"

Pengejar nyawa mengangguk.

"Tentu saja, siapa membunuh orang dia harus dihukum.

Kau akan kutangkap agar bisa diadili secara hukum." "Kalau begitu kau harus mampus!" seru Mo-sam Ha-ha.

Begitu selesai berkata, tiba-tiba golok lengkung yang tersoren di pinggangnya telah berputar di udara dan "Wes!", langsung membacok ke tubuh lawan.

Pengejar nyawa membentak nyaring, dia tangkis serangan itu dengan lengannya, tapi golok lengkung itu seakan bernyawa, baru tiba di tengah jalan mendadak dia berubah arah, kali ini belakang kepala yang diancam.

Pengejar nyawa segera membungkukkan badan membiarkan golok lengkung itu menyambar lewat persis di atas rambutnya, gagal mengenai sasaran, golok lengkung itu melayang balik ke tangan Mo-sam Ha-ha.

Di tengah kegelapan malam, golok lengkung itu memancarkan cahaya bagaikan segumpal kobaran api. Pengejar nyawa tahu dia tak boleh berdiam diri menunggu lawan melancarkan serangan lagi, bagaikan seekor singa lapar dia menubruk ke depan.

Tapi baru menubruk sampai tengah jalan, lagi-lagi cahaya golok berkelebat dari balik tangan Mo-sam Ha-ha, sebuah serangan yang luar biasa!

Pengejar nyawa membentak marah, sembari membalikkan badan ia lepaskan tendangan berantai, tendangan itu langsung menghajar di atas gagang golok membuat senjata itu mencelat ke udara, namun setelah berputar tiga kali tibatiba "Wes!", sekali lagi menggorok leher Pengejar nyawa.

Golok lengkung itu memang nyata ampuhnya, pada hakikatnya mirip sebilah golok bernyawa!

Dalam keadaan begini, tak ada jalan lain bagi si Pengejar nyawa kecuali cepat mundur ke belakang.

"Sret!", kembali golok lengkung itu melayang balik ke tangan Mo-sam Ha-ha.

Hujan turun semakin deras, sekeliling tempat itu telah berubah bagai kubangan air yang besar.

Mo-sam Ha-ha tetap berdiri sepuluh langkah di hadapan lawannya, si Pengejar nyawa sama sekali tak mampu menghampirinya, terpaksa menjadi sasaran penyerangan lawan.

Pengejar nyawa mulai merasa telapak tangannya jadi dingin, dingin karena terkejut bercampur ngeri.

Tatkala Mo-sam Ha-ha sedang menarik balik golok lengkungnya tadi, sebenarnya dia punya kesempatan untuk menerjang ke depan sekali lagi, sebab pada saat itulah perhatian lawan sedikit agak mengendor, biar serangannya belum tentu mengenai sasaran, paling tidak dia bisa merangsek lebih ke depan.

Selama ini dia memang pandai memanfaatkan peluang semacam ini.

Tapi sayang ketika badannya hendak maju ke depan, tibatiba dadanya terasa amat sakit, rasa sakit yang luar biasa membuat hawa murninya buyar. Rasa sakit yang luar biasa ini berasal dari bekas pukulan Toa-jiu-eng yang dilancarkan Kwan Hay-beng tadi.

Pada saat yang amat kritis tadi dia memang berhasil menghindarkan diri dari sodokan Bu Seng-tang yang mengarah jalan darah Siang-tiong-hiat di tengah dada, namun pukulan Kwan Hay-beng bersarang telak di punggungnya.

Justru karena terluka dia tak bisa bertarung kelewat lama, maka dia gunakan akal dan siasat untuk membekuk Thio Siau.

Tiba-tiba satu pikiran aneh melintas dalam benaknya, kalau si Tanpa perasaan hadir di situ, urusan pasti segera akan beres, karena golok lengkung yang seakan bernyawa itu mungkin hanya bisa dikendalikan oleh senjata rahasia si Tanpa perasaan.

Sekali lagi kilatan halilintar membelah bumi, menerangi seluruh jagad.

Di antara kilatan cahaya yang amat terang itu, dia menyaksikan golok lengkung di tangan Mo-sam Ha-ha ikut berkilat tajam.

Betapapun terangnya cahaya itu, si Pengejar nyawa tak sempat menyaksikan apapun, dia pun tidak mendengar suara desingan golok, karena saat itu hujan turun semakin deras.

Tapi dia yakin, saat itu pihak lawan pasti sudah melepaskan lagi golok lengkungnya.

Sekuat tenaga dia berusaha melambung ke udara, tiba-tiba pinggangnya terasa panas bercampur pedas, di antara kilatan cahaya halilintar, sorot mata si Pengejar nyawa segera berbinar, dia telah menyaksikan sesuatu benda dengan jelas.

Golok lengkung itu telah melayang balik ke tangan Mo-sam Ha-ha.

Pengejar nyawa merasa pinggangnya sakit. Setelah melambung di udara, cepat dia berbalik menerobos masuk ke dalam kedai.

Dia tak boleh bertarung terlalu lama di tempat terbuka melawan Mo-sam Ha-ha, dia tak boleh menunggu datangnya kilatan halilintar lagi, sebab dia tidak yakin mampu menghindar dan lolos dari babatan golok lengkung yang dilancarkan lawan.

Seandainya dia tidak terluka, bisa saja dia bertarung terus dengan mempertaruhkan nyawa sendiri, tapi sekarang dia dalam keadaan terluka, bertarung sama artinya mencari mampus!

Dalam keadaan begini, dia harus menangkan pertarungan ini dengan mengandalkan kecerdasan otak, bukan bertarung dengan otot.

Ketika tiba kembali dalam ruang kedai, dari tiga lentera yang tersisa kini tinggal sebuah yang masih menyala.

Air hujan diikuti hembusan angin kencang membasahi ruang kedai, dengan meminjam sisa cahaya yang memancar dari lentera terakhir, dia dapat menyaksikan warna merah yang membasahi pakaian bagian pinggangnya.

Pada saat itulah ... "Wes!", golok lengkung menerobos masuk ke dalam ruang kedai melalui pintu yang terbuka.

Lekas si Pengejar nyawa mendekam di lantai, bersembunyi di belakang sebuah meja besar, meja itu langsung terpapas hancur jadi tujuh delapan bagian dan golok itupun melayang keluar pintu dan lenyap di balik kegelapan malam.

Ruang kedai itu dipenuhi berbagai macam barang, bukan satu pekerjaan mudah bagi golok lengkung itu untuk mencabut nyawa si Pengejar nyawa dalam suasana seperti ini.

Sementara orang itu telah menghentikan serangannya, dia masih berdiri di luar pintu kedai, sepuluh langkah jauhnya.

Mengawasi meja yang hancur serta pintu kedai yang terpentang lebar, tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Pengejar nyawa.

Pada saat itulah cahaya golok kembali berkelebat, golok lengkung itu kembali mengejar datang melancarkan babatan.

Pengejar nyawa segera menyelinap mundur ke belakang.

Ternyata pusingan golok lengkung kali ini bukan mengarah ke tubuhnya tapi meluncur ke arah Thio Si-au, gagang golok lengkung itu menumbuk secara telak jalan darah Ki-hay-hiat di tubuh Thio Si-au yang tertotok. Pengejar nyawa terkesiap, tapi dengan cepat hatinya menjadi tenang, sebab masih ada jalan darah lemas di tubuh Thio Si-au yang belum dibebaskan.

Lagi-lagi golok lengkung itu meluncur masuk!

Pengejar nyawa bersiap, dia tak akan membiarkan gagang golok itu menumbuk jalan darah lemas di tubuh Thio Si-au dan membebaskannya, siapa tahu serangannya kali ini langsung tertuju ke tubuhnya, terpaksa Pengejar nyawa menyelinap mundur lagi ke belakang.

"Krak!", tiang penyangga ruang terpapas kutung jadi dua.

Pengejar nyawa terkesiap, cepat dia menyelinap lagi ke belakang sebatang kayu penyangga yang lain, golok lengkung itu berputar dan "Wes!", kembali tiang penyangga itu terbabat kutung sebelum senjata itu melayang balik keluar ruangan.

Sungguh dahsyat serangan golok lengkung itu, setelah membabat kutung dua tiang penyangga masih juga punya tenaga untuk melayang balik ke tangan pemiliknya, kedahsyatan serangan itu sungguh menggidikkan hati.

Mo-sam Ha-ha memang tak malu disebut pembunuh nomor wahid dari wilayah Biau, sekalipun golok lengkungnya tidak benar-benar mampu membunuh orang dari jarak ribuan li, namun bukan pekerjaan yang terlalu sulit untuk mencabut nyawa seseorang dari jarak seratus langkah.

Tapi si Pengejar nyawa yakin, bila bicara soal kepandaian ilmu pukulan, belum tentu pihak lawan sanggup menangkan dirinya, apalagi kalau bicara ilmu tendangan, Mo-sam Ha-ha masih jauh ketinggalan dibanding kemampuannya.

Hanya sayang dia tak mampu menerjang keluar, tak sanggup mendekati lawan.

"Wes!", kembali golok lengkung pencabut nyawa itu meluncur masuk ke dalam ruangan.

Pengejar nyawa segera bersembunyi di belakang tiang penyangga yang lain, "Brak!", tiang itu kembali terpapas kutung.

Pengejar nyawa segera sadar akan datangnya bahaya, dari empat buah tiang penyangga yang menahan bangunan kedai itu, sudah tiga di antaranya terpapas kutung, sebentar lagi ruang kedai itu pasti akan roboh.

Jika tiang penyangga keempat ikut terpapas kutung dan ruang kedai itu ambruk, keselamatan jiwanya pasti akan terancam.

Belum habis ingatan itu melintas, golok lengkung itu sudah berpusing masuk ke dalam ruang kedai dan membabat tiang penyangga keempat.

Pengejar nyawa segera menerjang keluar dari pintu kedai dengan sekuat tenaga.

Waktu itu golok andalan Mo-sam Ha-ha sedang meluncur masuk ke dalam kedai, berarti dalam genggamannya tak ada senjata, inilah kesempatan emas baginya untuk melancarkan serangan balasan.

Tapi sayang golok lengkung itu seakan bernyawa, tiba-tiba senjata itu berputar balik di tengah jalan, kali ini mengancam punggung si Pengejar nyawa.

Untungnya sejak awal si Pengejar nyawa sudah memperhitungkan, mendadak ia berjongkok menghindari babatan itu, kakinya segera menyapu ke kiri kanan sejajar tanah, pintu kedai segera tersapu hingga tertutup rapat.

Gagal dengan serangannya, golok lengkung itu semestinya melayang balik keluar pintu, tapi ketika pintu kedai mendadak tertutup rapat, golok itu tentu saja bukan manusia yang berakal, tenaga yang mengendalikan senjata pun terputus di tengah jalan, akibatnya bukan saja senjata itu tak bisa melayang balik ke tangan sang pemilik, sebaliknya malah menerjang ke atas pintu kayu.

Begitu ujung golok menghajar pintu, pintu kayu itu pun hancur berantakan.

Kali ini Mo-sam Ha-ha yang terperanjat, lekas dia melejit ke udara sambil menyalurkan tenaganya menggiring balik senjata andalannya itu, golok lengkung itupun menjebol pintu kayu dan meluncur keluar. Golok lengkung itu benar-benar sebilah golok yang kuat dan luar biasa, sebuah ilmu pengendalian senjata yang luar biasa hebatnya!

Ketika golok lengkung itu terhalang oleh pintu kayu, Pengejar nyawa segera memanfaatkan peluang itu untuk menerjang keluar melalui jendela.

Cahaya kilat kembali menyambar, karena golok andalannya belum meluncur balik ke tangannya, paras muka Mo-sam Haha nampak terkejut bercampur gugup.

Ketika golok itu baru berputar dan meluncur balik, Pengejar nyawa telah merangsek maju dan tiba di hadapannya.

Tanpa membuang waktu lagi si Pengejar nyawa melancarkan serangkaian tendangan berantai, sasaran yang dituju adalah jalan darah Tay-yang-hiat di kening kiri kanan Mo-sam Ha-ha.

Serangan ini dilancarkan tepat pada saatnya, sementara

Mo-sam Ha-ha masih gugup bercampur kaget, tampaknya sulit bagi pembunuh nomor wahid dari wilayah Biau ini untuk menghindar.

Pengejar nyawa memang bertekad menghabisi nyawa Mosam Ha-ha terlebih dulu sebelum menghadapi serangan golok yang muncul dari belakang.

Tampaknya semua rencananya berjalan lancar, sayang si Pengejar nyawa salah memperhitungkan sesuatu.

Mendadak terdengar deruan angin tajam membelah angkasa, tahu-tahu sebuah payung baja telah dibentangkan dan menangkis datangnya dua tendangan maut itu.

"Duk, duk!", sedemikian dahsyat dua tendangan maut itu, payung besi itu seketika jebol dan muncul dua lubang besar, tapi sayang tendangan yang tertuju ke tubuh Mo-sam Ha-ha pun mengenai tempat kosong.

Lekas Mo-sam Ha-ha menggerakkan tangan, ketika si Pengejar nyawa baru saja mencabut kakinya dari balik payung, tiba-tiba cahaya tajam berkelebat dan "Crit!", tangan kanannya terasa sakit, ternyata golok lengkung itu sudah menusuk tulang bahu di sisi tangan kanannya. Rasa sakit terasa menusuk hingga ke tulang sumsum, dengan sempoyongan Pengejar nyawa mundur ke belakang, melihat golok lengkung itu kembali berputar, lekas dia kerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk menjepit golok lengkung itu agar tetap menancap di bahunya.

Walaupun putaran golok seketika terhenti, namun tubuhnya terdiri dari darah dan daging, tak urung gerak perputaran senjata tajam itu melukai juga tubuhnya, tampak darah dan daging berhamburan.

Pengejar nyawa terluka sangat parah, luka yang demikian berat membuat dia tak sanggup menahan diri.

Sekalipun dia terluka parah, namun Mo-sam Ha-ha juga kehilangan golok lengkung andalannya.

Dengan sempoyongan Pengejar nyawa mundur ke belakang, dia berniat melarikan diri dari situ, namun Mo-sam Ha-ha segera menghadang jalan perginya, pelan-pelan dia melepas topi lebar yang dikenakannya.

Ketika cahaya petir kembali menyambar, terlihat orang itu memiliki sepasang mata yang berwarna merah darah, wajahnya bengis, buas dan kejam, topi lebar yang berada dalam genggamannya tampak dipenuhi pisau tajam pada sekeliling tepinya.

Pengejar nyawa mundur terus ke belakang, mendadak terdengar suara tertawa dingin, Thio Si-au dengan kaki terpincang-pincang dan menggenggam payung besinya telah menghadang jalan perginya.

Pengejar nyawa diam-diam bergidik, tapi segera serunya, "Aku sungguh menyesal, tahu begini, kenapa tidak sekalian kuhancurkan kakimu yang lain."

Sebetulnya dua tendangan maut yang dilancarkannya tadi akan membuahkan hasil, dia tak menyangka di tengah jalan akan muncul seorang "Thia Kau-kim", sehingga usahanya gagal, tubuhnya malah terluka parah.

Walaupun tenaga serangan dari golok lengkung itu melemah terlebih dulu lantaran harus membabat kayu penyangga ruangan dan menjebol pintu kayu, meski menusuk bahu si Pengejar nyawa dan membuat Mo-sam Ha-ha kehilangan golok andalannya, namun luka itu sudah cukup membuatnya kehilangan hampir sebagian besar kemampuannya untuk bertarung.

Dia menyesal kenapa kelewat gegabah, seharusnya dia membayangkan setelah jalan darah Ki-hay-hiat di tubuh Thio Si-au ditumbuk bebas oleh gagang golok lengkung itu, dengan mengandalkan tenaga dalam yang dimiliki orang she Thio itu, bukan pekerjaan yang terlalu sulit untuk menjebol totokan jalan darah lemas di tubuhnya.

Dan sekarang di saat yang paling menentukan, Thio Si-au justru berhasil menjebol totokan jalan darahnya dan melakukan serangan mematikan.

Sambil tertawa seram terdengar si Siucay berpayung besi Thio Si-au berseru, "Kau telah membuat kakiku pincang, membuat payung besiku jebol, sudah sepantasnya kalau aku membuat perhitungan denganmu?"

Sementara itu sambil mempermainkan topi lebarnya yang bergigi pisau, selangkah demi selangkah Mo-sam Ha-ha berjalan mendekat, serunya nyaring, "Kembalikan golokku!"

Pengejar nyawa tertawa getir, dengan kemampuannya saat ini jangan kan bertarung melawan Mo-sam Ha-ha, menghadapi Thio Si-au yang sudah terluka pun sulitnya setengah mati.

"Baiklah," ujar Pengejar nyawa kemudian sambil tertawa sedih, "akan kuserahkan kepadamu."

Sambil membungkukkan badan dia mencabut keluar golok itu, lalu dengan membentuk bianglala emas dia lontarkan senjata itu ke arah Mo-sam Ha-ha.

Begitu golok dicabut keluar dari bahunya, semburan darah segera mengucur deras, tergopoh-gopoh si Pengejar nyawa kabur ke dalam bangunan kedai.

Sebetulnya Mo-sam Ha-ha bisa saja berkelit dengan mudah atas lemparan golok lengkung itu dan kemudian melakukan pengejaran dan membunuh si Pengejar nyawa, tapi ia tidak berbuat demikian, golok itu merupakan benda mestika yang paling disayang Mo-sam Ha-ha, bahkan jauh lebih disayang ketimbang nyawa sendiri, tentu saja dia tak mau membiarkan senjata itu terbuang, maka dengan mementangkan tangan ia sambar senjata itu.

Karena harus mengurus goloknya. Pengejar nyawa pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menerjang masuk ke dalam kedai.

Jalan pikiran Mo-sam Ha-ha adalah sambut dulu golok lengkungnya, kemudian baru mengejar Pengejar nyawa dan berusaha membunuhnya.

Thio Si-au sangat membenci pemuda itu karena telah membuatnya cacad, tentu saja tidak membiarkan lawannya kabur, dengan menggunakan payungnya sebagai toya, dia sapu pinggang lawan.

Sejak awal si Pengejar nyawa sudah bersiap, dia ayunkan tangannya ke depan, buli-buli yang tergantung di pinggangnya segera terbang meluncur ke depan.

Ketika Thio Si-au harus menangkis serangan yang datang dengan payung, si Pengejar nyawa segera kabur ke dalam ruangan kedai.

Tidak terima musuhnya kabur, kembali Thio Si-au menusuk ke depan dengan ujung payungnya.

Baru"saja Thio Si-au menyusup ke dalam ruangan, mendadak terlihat si Pengejar nyawa melepaskan satu tendangan keras ke atas tiang penyangga ruangan.

Untuk sesaat jagoan she Thio ini tertegun, dia tak tahu apa yang sedang dilakukan lawannya, belum habis ingatan itu melintas, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang sangat keras menggelegar membelah angkasa, tahu-tahu seluruh bangunan kedai itu ambruk ke bawah.

Sekarang Thio Si-au baru sadar apa yang terjadi, lekas dia mundur ke belakang bersiap kabur dari situ, sayang kakinya yang terluka terbentur kayu, tak ampun tubuhnya segera roboh terjerembab, hancuran genting, kayu dan batu bata pun berhamburan menindih di atas tubuhnya. Sementara itu Mo-sam Ha-ha sudah berhasil menangkap kembali golok lengkungnya, sebetulnya dia siap menyerbu ke dalam kedai untuk melancarkan serangan, namun ingatan lain segera melintas, dia tahu golok lengkungnya tidak cocok digunakan dalam ruangan yang sempit, apalagi si Pengejar nyawa banyak akal dan tipu muslihatnya, sementara dia masih sangsi, pada saat itulah seluruh bangunan kedai itu roboh ke tanah.

Mo-sam Ha-ha segera mengalihkan seluruh perhatiannya ke balik reruntuhan itu, dia mengawasi setiap benda bergerak yang muncul dari balik hancuran genting, kayu dan bebatuan.

Benar saja, tak lama kemudian tampak ada sebuah benda yang bergerak dari balik reruntuhan, perlahan-lahan benda itu bergerak keluar kemudian bangkit berdiri.

Mo-sam Ha-ha mendengus dingin, tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia mengayunkan tangannya ke depan, "Wes!", golok lengkungnya segera melesat ke muka menyambar benda yang sedang bergerak itu.

Golok itu langsung menghajar sasarannya secara telak, jeritan ngeri segera bergema memecah keheningan, tiba-tiba Mo-sam Ha-ha terkesiap, lekas dia menarik balik golok lengkungnya, kemudian maju menghampiri sang korban.

Ternyata orang yang sedang mengaduh sambil bergulingan kesakitan di tanah tak lain adalah Thio Si-au.

"Aduh ... aduh ... kau telah melukai aku! Kau telah melukai aku!" terdengar si Siucay payung besi Thio Si-au berteriak kesakitan.

Ternyata sewaktu bangunan kedai itu roboh, Thio Si-au tidak sempat melarikan diri, untung dia pandai dan panjang akal, lekas payung besinya dipentang lebar dan menyembunyikan tubuh di bawahnya, bebatuan besar dan batu bata memang tak sampai menghantam badannya, tapi hancuran batu dan genting cukup mendatangkan rasa sakit di seluruh badannya, walaupun begitu, dia tetap memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengejar si Pengejar nyawa. Ketika ia jumpai si Pengejar nyawa melompat keluar lewat daun jendela yang lain sebelum bangunan kedai iru roboh, ia jadi panik, sekuat tenaga ia berusaha bangkit berdiri dan melakukan pengejaran.

Siapa tahu pada saat itulah kilatan cahaya putih menyambar, lekas dia pentang payung besinya untuk melindungi diri, golok lengkung itu memang tak berhasil membacok masuk, sayang permukaan payung sudah terdapat dua lubang besar karena tendangan si Pengejar nyawa tadi, ujung golok itu segera menyusup masuk melalui lubang tadi dan mencongkel biji mata kanannya.

Darah segera menyembur keluar melalui luka itu, saking kesakitannya dia pun menjerit-jerit macam orang gila.

Melihat serangannya salah sasaran, timbul juga rasa penyesalan dalam hati Mo-sam Ha-ha, namun sebagai orang yang berhati kejam, dia pun segera berpikir, "Ah, peduli amat salah sasaran, siapa suruh kau bersembunyi di situ macam kura-kura dan tidak berilmu tinggi

Maka dengan suara lantang dia pun menegur, "Kemana kaburnya si Pengejar nyawa?"

Sambil mengaduh Thio Si-au menuding ke arah sana, kemudian teriaknya, "Cepat bantu aku menghentikan pendarahan, cepat hentikan pendarahanku."

"Hm, itu kan urusanmu sendiri!" jengek Mo-sam Ha-ha sambil tertawa dingin, ia berkelebat ke muka dan lekas mengejar ke arah yang ditunjuk, sementara di hati kecilnya kembali berpikir, "Pengejar nyawa sudah menderita luka parah, tak nanti dia mampu kabur dalam cuaca hujan badai seperti ini, kalau aku mesti jalan beriring dengan Thio Si-au yang cacad kakinya, bisa jadi urusanku malah terbengkalai

Di tengah hujan badai yang masih turun dengan hebatnya, terlihat Siucay berpayung besi Thio Si-au tergeletak di atas tanah berlumpur sambil mengerang kesakitan, sementara Pengejar nyawa dengan membawa luka parah melarikan diri, sedang Mo-sam Ha-ha dengan sepenuh tenaga melakukan pengejaran. Air hujan membuat langit seolah terselubung selapis jaring berwarna putih, Pengejar nyawa menghentikan sejenak larinya, dia saksikan bekas telapak kakinya telah ternoda oleh warna merah darah.

Sejak terjun ke dunia persilatan, tiap kali dialah yang selalu mengejar orang, tapi kali ini justru orang yang mengejar dirinya.

Dia sadar dirinya tak mungkin bisa berlari terus di tengah hujan badai yang demikian lebat, padahal dalam radius lima li, tak sebuah bangunan rumah pun yang nampak, dia pun tak mungkin bisa menumpang di rumah penduduk, karena perbuatannya bisa mendatangkan bencana maut bagi seluruh penghuni rumah itu.

Untung dia masih ingat di dekat situ terdapat sebuah gedung milik keluarga persilatan, perkampungan itu bernama Sebun-san-ceng (perkampungan Sebun), semenjak pemilik lama perkampungan itu tewas dibantai orang dengan pukulan tenaga dalam yang dahsyat, Sebun-kongcu mewarisi semuanya, sepak terjang orang ini di antara lurus dan sesat, dengan sepasang kaitan emasnya dia pernah menjagoi dunia persilatan.

Pengejar nyawa segera mengambil keputusan untuk kabur ke perkampungan Sebun-san-ceng dan minta bantuan ke sana.

Ketika tiba di depan pintu gerbang perkampungan, hujan sudah mulai reda, tapi dia dapat merasakan musuh yang sedang mengejarnya semakin dekat.

Bila mengandalkan ilmu meringankan tubuh pada saat normal, tak nanti Mo-sam Ha-ha mampu menyusulnya, tapi setelah menderita dua luka bacokan ditambah sebuah luka pukulan, kungfunya sudah mengalami pukulan yang berat.

Dengan sepenuh tenaga dia mengetuk pintu gerbang, bersyukur air hujan telah membawa pergi noda darah yang bercucuran dari tubuhnya.

Dalam pikirannya, seaneh dan seeksentrik apapun Sebunkongcu tak nanti menampik kehadirannya, apalagi sebagai sesama umat persilatan dan anak didik Cukat-sianseng yang termas-hur, dia percaya pihak tuan rumah pasti akan menerima kedatangannya dengan baik.

Sampai lama sekali baru nampak seorang membukakan pintu, seorang pelayan dengan tangan sebelah memegang payung, tangan lain membara lentera, begitu membukakan pintu gerbang langsung menegur, "Siapa kau? Kenapa di tengah malam buta

Namun begitu melihat darah yang membasahi seluruh tubuh si Pengejar nyawa, untuk sesaat dia tak mampu melanjutkan kata-katanya.

Dari dalam sakunya, si Pengejar nyawa mengeluarkan sebutir pil dan segera ditelan, kemudian baru ujarnya lirih, "Tolong sampaikan kepada Siau-cengcu kalian bahwa murid Cukat-sianseng dari kotaraja datang mengganggu."

Begitu mendengar nama "Cukat-sianseng", pelayan itu segera menyahut dan berlari masuk ke dalam untuk memberi laporan, sementara seorang pelayan lain segera menegur dengan penuh perhatian, "Parahkah lukamu?"

"Tidak apa-apa," sahut Pengejar nyawa setelah menarik napas panjang dan tertawa getir, "apakah kau punya obat luka luar? Tolong ambilkan sedikit untukku."

Tak selang berapa saat pelayan tadi sudah muncul kembali diiringi seorang Kongcu berbaju perlente.

Pemuda perlente itu berjalan dengan tenang di bawah curah hujan tanpa membawa payung, tapi anehnya air hujan segera menepis sendiri, tak setetes pun yang membasahi bajunya, ini menunjukkan betapa tinggi dan sempurnanya tenaga dalam yang dia miliki.

"Sebun-kongcu?" Pengejar nyawa segera menyapa. "Siapa anda?" tanya Kongcu perlente itu sembari bantu membimbing tubuhnya.

"Murid ketiga Cukat-sianseng, si Pengejar nyawa." "Ah, rupanya kau!" agak terkejut Sebun-kongcu berseru, "A Siu, cepat siapkan obat luka luar dan kain perban bersih. A Hok, segera terima tamu di ruang Pit-bwe-siang!" Ruangan Pit-bwe-siang tak lebih hanya sebuah ruangan yang terbuat dari batu, tiga sisi berupa dinding batu dengan pintu di sisi lain, pintu itu dalam keadaan terbuka lebar, Sebun-kongcu dengan senyuman menghias wajahnya berdiri menanti di situ.

Memandang sekejap luka yang telah diperban rapi, Pengejar nyawa berseru, "Sebun-kongcu, terima kasih banyak atas bantuanmu."

"Bantuan apa? Bila saudara Pengejar nyawa tak keberatan, tolong beritahu padaku siapa yang telah melukaimu?

Sepasang kaitan Cayhe pasti tak akan melepaskan orang itu begitu saja."

Pengejar nyawa tertawa getir.

"Ah, sudahlah, luka ini kuperoleh karena sebuah perkelahian, aku tak berani menyusahkan Kongcu."

Tiba-tiba Sebun-kongcu berkata, "Jika ditinjau dari luka yang saudara derita, tampaknya luka itu disebabkan bacokan sebangsa golok, mungkin golok lengkung dari wilayah Biau atau golok tipis dari Inlam. Sementara bekas telapak tangan hitam di belakang punggung mirip pukulan Toa-jiu-eng dari Shantong, bukankah begitu?"

"Sungguh tajam pandangan mata Kongcu," ujar si Pengejar nyawa sambil tertawa hambar, sementara di hati kecilnya dia merasa amat kagum.

Pada saat itulah tiba-tiba A Siu muncul dan membisikkan sesuatu ke sisi telinga Sebun-kongcu, menyusul tampak paras muka Sebun-kongcu berubah hebat, tapi kemudian ujarnya sambil tersenyum, "Hari ini benar-benar merupakan hari langka, ternyata ada begitu banyak tamu yang datang berkunjung."

Tergerak perasaan si Pengejar nyawa sesudah mendengar perkataan itu, serunya, "Kongcu

"Tak usah dibicarakan lagi," tukas Sebun-kongcu sambil menggoyang tangan dan tertawa, "bila si pendatang khusus kemari untuk melacak jejakmu, tentu aku bisa beralasan dengan mengatakan tidak tahu." "Kalau begitu terima kasih banyak atas pertolongan saudara Sebun."

"Ah, mana, mana, aku tak berani menerimanya," kata Sebun-kongcu sambil tertawa, kemudian ia mengundurkan diri dari situ.

Sepeninggal orang itu, si Pengejar nyawa mulai memejamkan mata sambil mengatur pernapasan, rasa sakit di dadanya sudah jauh berkurang, sementara dua luka bacokan juga sudah tidak mengeluarkan darah, luka di pinggang hanya lecet di kulit, justru yang paling parah adalah luka di bahu, sedikit saja bergerak sudah menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.

Tak lama kemudian Sebun-kongcu muncul kembali dengan senyum di kulum, ujarnya, "Wah, galak benar malaikat iblis yang muncul barusan, beruntung aku berhasil menyuruhnya pergi dari sini."

"Terima kasih banyak atas bantuan saudara Sebun," kata si Pengejar nyawa dengan perasaan lega.

"Saudara Pengejar nyawa, setelah terkena dua bacokan golok dan satu pukulan dahsyat, kau masih sanggup kabur ke dalam perkampungan kami, bahkan tidak sampai setengah jam kondisimu sudah jauh membaik, tampaknya kemampuanmu memang luar biasa."

Pengejar nyawa hanya tertawa hambar dan tidak menanggapi.

Sementara itu A Hok sudah muncul dengan membawa satu stel pakaian, berjalan menuju ke belakang si Pengejar nyawa katanya, "Toaya, bagaimana kalau berganti dengan pakaian ini? Daripada kau masuk angin."

"Tidak usah," jawab Pengejar nyawa sambil membalikkan badan dan tertawa, "aku sudah terbiasa mengenakan pakaian begini."

"Tapi bajumu itu sudah basah kuyup..”

Baru saja si Pengejar nyawa akan menerima tawaran itu, mendadak ia saksikan perubahan mimik muka yang sangat aneh di wajah A Hok, tanpa terasa ia perhatikan berulang kali, tiba-tiba biji mata A Hok memantulkan bayangan di belakang tubuhnya, ia saksikan Sebun-kongcu dengan menggenggam sepasang kaitannya kuning keemasan sedang berjalan menghampirinya.

Kemudian sepasang kaitan itu berkelebat dan dibacokkan ke punggungnya.

Dalam gugupnya si Pengejar nyawa menarik tubuh A Hok, kemudian dilontarkan ke belakang, sementara dia sendiri beringsut maju beberapa langkah, tapi rasa sakit dari luka di bahunya membuat ia terhuyung, lekas dia berpegangan pada dinding batu.

Sungguh dahsyat bacokan sepasang kaitan Sebun-kongcu, kelihatannya begitu dilancarkan harus ada korban yang jatuh, tak ampun sepasang senjata itu langsung menghujam di dada A Hok.

Terdengar A Hok menjerit kesakitan lalu roboh terkapar ke tanah.

Sebaliknya si Pengejar nyawa tak sanggup melancarkan serangan balasan karena tubuhnya terasa sangat lemah, serunya dengan napas tersengal, "Kau ... kau...”

Gagal dengan serangan bokongan, Sebun-kongcu menghela napas panjang, keluhnya, "Ternyata kau memang cekatan dan selalu waspada! Tak heran serangan gabungan Kwan-loyacu, Bu-lotoa dan Thio-siucay gagal menghadapi dirimu!"

Dalam waktu singkat si Pengejar nyawa berhasil memulihkan kembali ketenangannya, setelah tertawa dingin ia menegur, "Jadi kau pun termasuk tiga belas pembunuh?"

Mendengar pertanyaan itu, Sebun-kongcu tertawa lebar. "Tentu saja, akulah yang bertugas sebagai penghubung wilayah selatan, si Pentolan iblis Si, Kwan-loyacu, Mo tua dari

wilayah Biau, Thio-siucay serta dua bersaudara Bu harus berhubungan terus dengan aku."

"Bagus... bagus”

"Lebih baik kuperkenalkan seorang sahabat lama' untukmu," kembali Sebun-kongcu berkata, baru selesai ucapan itu, seseorang sudah berjalan masuk bagaikan sukma gentayangan, orang itu mengenakan topi lebar terbuat dari bambu.

Begitu melihat siapa yang datang, perasaan si Pengejar nyawa segera menjadi dingin separoh.

"Barusan ada seorang tamu jauh yang kebingungan mencarimu ke sana kemari," ujar Sebun-kongcu lagi, "maka aku jawab, tak usah mencari kemana-mana lagi, sebab dia sedang berada dalam ruang baruku, maka dia pun ikut datang kemari menengokmu."

Pengejar nyawa menghela napas panjang, sambil menyandarkan diri ke dinding ruangan katanya, "Kelihatannya aku telah salah memilih tempat pemondokan!"

"Hahaha Sebun-kongcu tertawa tergelak, "kau anggap perkampungan Sebun-san-ceng di selatan dan Lembah Auyang di Utara adalah tempat yang bisa seenaknya kau datangi?"

Mendadak terlihat A Siu berlari%masuk dengan tergopohgopoh lalu membisikkan sesuatu ke sisi telinga Sebun-kongcu, kemudian tampak paras mukanya berubah hebat, kepada Mosam Ha-ha serunya, "Thio-siucay juga ikut kemari, bukankah kau bilang dia sudah mampus?"

Mo-sam Ha-ha tertawa dingin.

"Hm, memangnya dia masih mampu berjalan pulang?" jengeknya.

"Tidak," jawab A Siu penuh hormat, "ada dua orang pemuda yang mengantarnya kemari."

"Hm!" kembali Mo-sam Ha-ha mendengus dingin. Dengan wajah dingin membesi Sebun-kongcu berkata,

"Memang paling baik bila Thio-siucay bisa pulang, suruh dia segera kemari, katakan kalau orang yang melukainya berada di sini. Kemudian bunuh dua orang pemuda yang mengantarnya pulang."

"Baik!" sahut A Siu terus beranjak pergi. Sepeninggal anak buahnya, Sebun-kongcu kembali berpaling ke arah Pengejar nyawa sambil berkata, "Tampaknya kau kedatangan lagi seorang sahabat lamamu."

Pengejar nyawa tertawa getir.

"Seorang sahabat lama saja sudah lebih dari cukup, tak kusangka malam ini aku kedatangan tiga orang sahabat lama sekaligus."

"Hahaha ... orang bilang empat opas memiliki kecerdasan dan kecekatan luar biasa, tapi kalau dilihat keadaanmu hari ini, biar Cukat-sianseng datang sendiri pun belum tentu bisa kabur dengan gampang."

"Ya, siapa suruh aku salah masuk kedai hitam, aku memang tak bisa menyalahkan siapa pun."

Sekali lagi Sebun-kongcu tertawa tergelak, "Hahaha ... selewatnya malam ini, empat opas besar dunia persilatan akan tersisa tiga orang."

"Tiga besar?" Mo-sam Ha-ha mendengus dingin, "aku lihat usia mereka pun tak bakal lama."

Sementara itu dari belakang punggung Sebun-kongcu kembali muncul seseorang, orang itu berjalan masuk dengan langkah sempoyongan, begitu bertemu si Pengejar nyawa dia segera tertawa keras saking gusarnya.

"Bagus, bagus sekali! Biarpun kau sudah mengobrak-abrik langit dan bumi, pada akhirnya tidak berhasil juga lolos dari cengkeraman kami!"

Orang itu tak lain adalah si Siucay berpayung besi Thio Siau, sekujur tubuhnya tampak basah kuyup, matanya buta sebelah, kakinya pincang, keadaannya benar-benar mengenaskan.

Begitu berjumpa Mo-sam Ha-ha, dengan penuh amarah dia pun mengumpat, "Kau memang bajingan tua! Sudah tahu aku terluka parah, kau menggubris pun tidak, coba kalau bukan ada dua orang pemuda pemberani yang mau memayangku sampai ke sini, mungkin aku benar-benar sudah mati kesakitan di tempat itu!"

Mo-sam Ha-ha mendengus dingin tanpa menjawab. Kelihatannya Thio Si-au sendiri pun menaruh perasaan segan bercampur ngeri terhadap Mo-sam Ha-ha, dia tak berani berjalan kelewat dekat.

"Sudah, sudahlah" Sebun-kongcu segera melerai, "kalau bukan berkat Mo tua yang telah menggiring musuh besarmu hingga terjebak di sini, mungkin kau tak akan punya kesempatan membalas dendam."

"Tapi goloknya telah melukai mata kananku!" teriak Thio Siau penuh amarah.

Tiba-tiba Sebun-kongcu merendahkan suaranya dan berbisik kepada Thio Si-au, "Kau jangan lupa, sekalipun badanmu tidak menderita luka parah pun belum tentu kau mampu menandingi kelihaiannya! Kenapa tidak kita bereskan dulu sang opas, kemudian baru bersama-sama mengadukan persoalan ini kepada sang kepala!"

Thio Si-au berpikir sejenak, merasa ucapan itu ada benarnya juga, terpaksa dia harus menahan semua gejolak emosinya.

Kembali Sebun-kongcu berkata, "Sudah kusuruh A Siu untuk membereskan kedua orang yang memayangmu kemari."

"Memang paling bagus dibunuh sampai tuntas," kata Thio Si-au tanpa berubah wajah, "daripada membiarkan mereka bertanya ini itu terus, bikin sebal saja!"

Sebun-kongcu tertawa, perlahan-lahan dia berpaling ke arah si Pengejar nyawa lalu katanya, "Sekarang sudah saatnya untuk menjagal dirimu!"

Pengejar nyawa menyapu pandang sekejap sekeliling tempat itu, ketika melihat pintu ruangan sudah dijaga ketat sementara di sekitar sana tak ada jalan lain lagi, tak tahan dia pun menghela napas panjang, dalam keadaan begini, satusatunya jalan baginya hanya bertarung hingga titik darah penghabisan.

"Sekarang kau bisa menuntutkan balas bagi kematian dua bersaudara Bu dan Kwan-loyacu," kembali Sebun-kongcu berkata dingin. "Bukan dia yang membunuh mereka," Thio Si-au segera menyela, "ternyata Bu-loji bukan mati di tangan bajingan ini, Bu-lotoa yang telah melakukan pembunuhan itu. Kemudian tatkala kami tahu duduk persoalan yang sebenarnya, aku dan Kwan-loyacu pun berusaha membekuk Bu-lotoa, tapi dengan akal licik Bu-lotoa berhasil meracuni Kwan-loyacu hingga mati, pukulan terakhir yang dilancarkan Kwan-loyacu berhasil pula membunuh Bu-lotoa. Sementara aku sendiri karena bertindak kurang hati-hati, akhirnya malah dipecundangi bajingan ini, ketika aku terdesak muncul Mo tua ... jadi yang benar dia tak pernah membunuh orang-orang kita."

"Semula kukira dengan kemampuanmu, kemampuan Bulotoa dan Kwan-loyacu sudah lebih dari cukup untuk menghadapi opas ini, namun ketika melihat kalian belum juga kembali, aku jadi kuatir, maka kuminta Mo tua untuk pergi menengok, jadi kalau mau jujur, Mo tua justru merupakan tuan penolongmu. Aku sendiri juga heran, masakah dengan kerja sama kalian bertiga pun tak berhasil menandingi kemampuannya ... eh, ternyata kalian malah saling gontok."

"Biarpun mereka bukan tewas di tangan bajingan itu, tapi kakiku pincang gara gara ditumbuk dia, aku tetap akan menuntut balas sakit hati ini."

Dalam pada itu Mo-sam Ha-ha sudah melolos golok lengkungnya, kepada si Pengejar nyawa ejeknya sambil tertawa dingin, "Akan kulihat apa kau masih mampu menghindari bacokan golokku!"

Begitu selesai berkata, golok lengkungnya segera melayang ke depan.

Tiba-tiba terdengar seorang mendengus dingin, menyusul tampak sesosok bayangan manusia berkelebat, ayunan golok terbang itu langsung menghajar tubuh bayangan itu.

"Blam!" diiringi suara keras, bayangan tubuh orang itu roboh terjungkal ke tanah, sementara golok lengkung itu menancap di atas dadanya, tanpa sempat menimbulkan sedikitpun suara tewaslah dia. Ternyata orang itu tak lain adalah A Siu. Seharusnya golok lengkung itu terbang balik ke tangan Mo-sam Ha-ha setelah menghujam dada A Siu, namun sebelum hal itu terjadi, tibatiba terlihat sesosok bayangan melayang turun dari udara, tangannya langsung menekan di atas gagang golok itu sehingga tenaga memantul yang muncul di tubuh golok tadi menjadi punah, akibatnya golok itu tetap tertinggal dalam tubuh ASiu.

Tampaknya jago yang melakukan perbuatan itu merupakan jago yang sangat ahli dalam ilmu senjata rahasia, kalau bukan begitu, tak mungkin dia bisa memperhitungkan saat yang tepat untuk menjebol rahasia Hui-hun-tui-gwat-to (golok pengejar rembulan pembalik sukma).

Ternyata orang itu hanyalah seorang pemuda berwajah tampan, bermata tajam dan cacad sepasang kakinya.

Tak terlukiskan kaget Mo-sam Ha-ha melihat goloknya punah begitu saja.

Melihat pemuda yang baru hadir, dengan luapan rasa gembira si Pengejar nyawa segera berseru, "Toa-suheng!"

"Sam-sute, maaf kalau kedatangan kami agak terlambat sehingga membuat kau menderita luka," kata pemuda itu penuh perhatian.

Orang ini tak lain adalah pemimpin dari empat opas, si Tanpa perasaan.

"Hm, ternyata hanya seorang manusia cacad!" teriak Mosam Ha-ha penuh gusar.

"Hehehe ... sayang orang yang kau hadapi sekarang adalah seorang ahli senjata rahasia yang sesungguhnya," ejek Pengejar nyawa sambil tertawa dingin.

Sebun-kongcu ikut tertawa seram, teriaknya, "Kau kira hanya mengandalkan kemampuanmu seorang dapat menyelamatkan jiwanya?"

"Tidak, masih ada aku!" terdengar seorang menyambung perkataan itu dari luar, menyusul ucapan yang dingin itu terlihat seorang pemuda berwajah dingin dan bermata tajam telah berdiri di depan pintu. "Su-sute!" teriak Pengejar nyawa kegirangan.

"Sam-suheng, maaf kedatangan kami agak terlambat!" ucap si Darah dingin dengan perasaan kuatir.

Dalam pada itu Thio Si-au sudah berdiri tergagap dengan mata terbelalak dan mulut melongo, sesaat dia hanya bisa mengeluh, "Jadi kalian ... ternyata kalian adalah

Bukan secara kebetulan si Tanpa perasaan dan Darah dingin tiba tepat pada waktunya, sejak berpisah dengan Cukat-sianseng, mereka segera berangkat meninggalkan kotaraja dan berusaha mencari kabar tentang si Pengejar nyawa.

Berdasarkan tanda rahasia yang ditinggalkan si Pengejar nyawa, sepanjang jalan mereka mengejar hingga tiba di rumah kedai itu. Tapi kemudian setelah terluka dan melarikan diri, ia tak sempat lagi meninggalkan tanda rahasia, akibatnya pengejaran pun terhenti karena kehilangan jejak.

Pepatah kuno bilang: Berbuat kebaikan atau berbuat jahat, akhirnya akan tiba juga saat perhitungan.

Thio Si-au yang terluka oleh serangan Mo-sam Ha-ha, garagara ingin membunuh si Pengejar nyawa akhirnya tertinggal di tempat itu, ia ditinggal sendirian karena Mo-sam Ha-ha enggan mempedulikan keselamatan jiwanya, saat itulah secara kebetulan dia bersua dengan si Tanpa perasaan dan si Darah dingin.

Sekilas pandang saja mereka berdua dapat melihat buli-buli yang tertinggal di tanah, mereka tahu benda itu adalah milik si Pengejar nyawa, karena rdia memang gila minum arak, kalau sampai benda kesayangannya saja tertinggal, menandakan keselamatan jiwanya sedang terancam, maka dengan tipu muslihat mereka pun menjebak Thio Si-au.

Diumpak dengan kata-kata manis, akhirnya Thio Si-au pun banyak bicara, bahkan dia minta mereka berdua mau mengantar pulang ke perkampungan Sebun-san-ceng, tentu saja kedua orang itu setuju, mereka gunakan kesempatan ini untuk menyusup masuk dan mencari tahu ada rahasia apa di balik semua ini. Siapa tahu setibanya di perkampungan, Thio Si-au masuk seorang diri, sementara seorang centeng berusaha membunuh mereka, dengan kepandaian seorang centeng, mana mungkin dia berhasil membunuh kedua orang opas kenamaan ini?

Dalam satu gebrakan saja mereka berhasil membekuknya, setelah dikompas akhirnya centeng itu mengakui segalanya, maka mereka pun segera menyusul ke ruang batu dan ternyata tiba tepat pada saatnya, mereka berhasil menyelamatkan jiwa si Pengejar nyawa.

Sambil tertawa dingin si Tanpa perasaan menjengek, "Kami?

Bukankah kami adalah petugas yang akan mengatur jembatan bagi kalian untuk menyeberang ke akhirat?"

Sementara Thio Si-au masih melengak, Sebun-kongcu sudah tertawa seram sambil berkata, "Percuma saja kedatangan kalian berdua, paling juga hanya mengantar kematian!"

Tiba-tiba sepasang kaitannya dikembangkan dan langsung membabat tubuh si Pengejar nyawa.

Saat itulah tampak bayangan manusia berkelebat, sementara pandangan matanya terasa kabur, sesosok bayangan manusia tegak lurus bagaikan sebatang tombak tahu-tahu sudah berdiri di hadapannya/ dia tak lain adalah si Darah dingin.

Sebun-kongcu membalik kaitannya dan langsung membabat tubuh lawan.

Tiba-tiba Darah dingin menggetarkan badannya, sebuah serangan pedang telah dilancarkan secara mendadak.

Pedang itu bagaikan seekor ular berbisa langsung menembus dinding pertahanan yang terbentuk dari sepasang kaitan itu dan langsung menusuk ke tenggorokan lawan.

Berubah hebat paras muka Sebun-kongcu, ia berjumpalitan satu kali, mundur sejauh beberapa kaki dan meloloskan diri dari tusukan maut itu.

Darah dingin tak tinggal diam, kembali dia merangsek ke hadapannya dan "Sret!", kembali sebuah tusukan dilontarkan. Ketika Sebun-kongcu menangkis dengan kaitannya, sekali lagi si Darah dingin melepaskan sebuah tusukan, tapi lagi-lagi Sebun-kongcu menangkis datangnya tusukan itu.

Semakin cepat serangan tusukan dilancarkan, semakin cepat pula Sebun-kongcu menangkis datangnya ancaman, di satu pihak menyerang tiada hentinya sementara di pihak lain berusaha mempertahankan diri, suara dentingan nyaring segera bergema menghiasi seluruh ruangan.

Darah dingin membungkus seluruh tubuhnya di balik cahaya pedang yang tebal, sedangkan Sebun-kongcu mengubah dirinya bagaikan selapis bayangan kaitan, pertarungan berlangsung makin lama semakin seru.

Begitu Sebun-kongcu mulai turun tangan, Mo-sam Ha-ha ikut bergerak juga, rencananya dia hendak menerjang ke muka dan menghampiri jenazah A Siu.

Golok lengkung andalannya masih tertinggal di tubuh A Siu, karenanya dia harus berusaha mendapatkan kembali senjata mestikanya itu secepat mungkin.

Baru saja dia bergerak, si Tanpa perasaan sudah mendongakkan kepala, sinar mata yang amat tajam seketika membuat Mo-sam Ha-ha bergidik dan berdiri bulu kuduknya.

Dia nyaris dapat merasakan, asal tubuhnya berani bergerak maju selangkah saja, niscaya yang bakal mati adalah dirinya.

Oleh sebab itulah dia menunda gerakan tubuhnya, setelah berhasil menenangkan kembali perasaannya, perlahan-lahan dia melepaskan topi bambunya yang lebar.

Tiga puluh tahun lalu, sebelum dia bergabung dalam kelompok tiga belas orang pembunuh, waktu itu dia belum memperoleh ilmu Hwe-hun-tui-gwat-to (ilmu golok pengejar rembulan pembalik sukma) dan belum memakai golok lengkung sebagai senjata, namun nama besarnya telah menggetarkan wilayah Biau, keberhasilannya waktu itu tak lain karena mengandalkan kehebatan topi bambu bergigi itu.

Tanpa perasaan memandang dingin gerak-geriknya, kini seluruh badannya sudah dibiarkan mengendor, sepuluh jari tangannya mulai dilemaskan, ibarat anak panah yang sudah terpasang pada busurnya, setiap saat sebuah serangan mematikan bakal dilontarkan.

Dalam pada itu si Siucay berpayung besi juga mulai bergerak, dengan mengandalkan payung besinya tiba-tiba ia tusuk punggung si Darah dingin.

Mendadak terdengar seorang tertawa dingin, "Sobat, akan kulayani permainanmu itu!"

Baru saja ucapan itu berkumandang, sebuah tendangan telah menyambar lewat.

Tak sempat menghindarkan diri, Thio Si-au menyongsong datangnya ancaman itu dengan payung besinya, "Duk!" benturan keras terjadi, akibatnya kedua belah pihak tergetar mundur sejauh dua langkah.

Si Pengejar nyawa segera merasakan luka di bahunya kembali merekah, sakitnya bukan kepalang, sementara sepasang mata Thio Si-au terbelalak merah membara.

Terdengar Pengejar nyawa berseru dengan lantang, "Toasuheng, Su-sute, Mo-sam Ha-ha itu manusia eksentrik, sementara Sebun-kongcu licik dan berbahaya, kalau mau saksi hidup lebih baik Thio Si-au saja yang dipilih."

Maksud perkataan itu sangat jelas, dia suruh si Tanpa perasaan dan Darah dingin tak usah menguatirkan keselamatannya dan lebih baik berkonsentrasi melenyapkan kedua orang lawannya itu dari muka bumi.

Sudah berhari-hari lamanya dia menguntit di belakang Bu Seng-tang, dia cukup mengerti kehebatan ilmu silat yang dimiliki kawanan manusia itu, kalau ingin menangkapnya hidup-hidup, jelas hal ini sangat sulit.

Thio Si-au nampak sangat gusar, apalagi setelah mendengar seruan itu, dengan hawa amarah yang meluap teriaknya, "Kau jangan sombong dulu, masih kelewat awal untuk mengetahui siapa yang bakal mampus dan siapa yang bakal hidup saat ini

Menyusul teriakan itu, dengan jurus Hoa-yu-boan-hui (bunga hujan terbang menggulung) dia merangsek maju. Dalam waktu singkat keenam jagoan itu terbagi dalam tiga kelompok, terlibat dalam pertempuran yang amat sengit.

Tapi dari ketiga kelompok itu, ada satu kelompok yang sampai sekarang belum terjadi bentrokan, belum terjadi pertarungan secara fisik.

Tapi justru kelompok yang nampak paling tenang inilah situasinya jauh lebih berbahaya dan mematikan ketimbang kelompok lain.

Mo-sam Ha-ha masih berdiri berhadapan dengan si Tanp. perasaan, namun tak berani bergerak secara gegabah, dia bersi kukuh mempertahankan posisinya karena sedang menunggu kesempatan baik, menunggu kesempatan untuk melancarkan serangan mematikan, menunggu lawannya lengah.

Begitu musuh menunjukkan gejala lengah, dia akan menyerang dengan menggunakan seluruh senjata rahasia yang dimilikinya sekarang, dia harus mencabut nyawa musuh dalam sekali gebrakan.

Mo-sam Ha-ha sudah terlalu sering membantai musuhnya, dia mempunyai nama yang amat termashur di Seantero wilayah Biau, setiap kali ingin membunuh, dia selalu menikmati dulu perasaan takut, ngeri, seram dan rengekan minta ampun dari korbannya, walau akhirnya tak seorang pun berhasil lolos dari cengkeraman mautnya.

Tapi pemuda yang berada di hadapannya sekarang sangat berbeda, tampaknya orang itu jauh lebih tenang, dingin dan pandai mengendalikan diri ketimbang dirinya.

Sebenarnya dia ingin menunggu lebih jauh, namun dari dua kelompok pertarungan, salah satu di antaranya sudah ketahuan siapa menang siapa kalah.

Sebuah tendangan maut yang dilancarkan si Pengejar nyawa telah berhasil menendang payung besi milik si Siucay berpayung besi hingga mencelat ke udara.

Kungfu yang dimiliki si Pengejar nyawa memang jauh di atas kemampuan Bu Seng-tang, padahal kungfu yang dimiliki Bu Seng-tang masih berada di atas kemampuan Thio Si-au, sekalipun si Pengejar nyawa sudah menderita satu pukulan ditambah dua bacokan golok, namun Thio Si-au sendiri pun berada dalam kondisi yang tak jauh berbeda, kakinya pincang, matanya terluka kena golok.

Luka di bahu si Pengejar nyawa memang parah, namun luka di mata Thio Si-au jauh lebih parah, meski secara keseluruhan keadaan si Pengejar nyawa cukup runyam, sayang Thio

Si-au sendiri pun tak mampu bergerak lincah lantaran kakinya pincang.

Seandainya lawan yang dihadapinya saat itu adalah Bu Seng-tang, mungkin keadaan masih sedikit berimbang, tapi bila Thio Si-au yang harus berhadapan dengannya, jelas dia masih ketinggalan jauh.

Oleh sebab itu tiga puluh gebrakan kemudian, sebuah tendangan yang dilancarkan si Pengejar nyawa berhasil membuat payung besi lawan terlempar ke udara.

Dalam waktu singkat posisi Thio Si-au terdesak hebat, dia dipaksa berada di bawah angin.

Melihat keadaan itu, Mo-sam Ha-ha segera sadar bila dia tidak juga turun tangan maka seandainya si Pengejar nyawa berhasil membantai Thio Si-au lalu datang membantu si Tanpa perasaan, maka dengan posisi dua melawan satu, akan semakin sulit baginya untuk menghadapinya.

Oleh sebab itulah dia segera turun tangan, topi bambu bergiginya meluncur ke udara, berputar kencang bagaikan gang-singan dan menyambar ke tubuh lawan.

Begitu ia turun tangan, s.i Tanpa perasaan ikut pula turun tangan, dia memang memegang prinsip: Musuh tak bergerak, aku tak bergerak. Musuh bergerak, aku bergerak duluan.

Mereka berdua memang merupakan jago yang ahli dalam ilmu senjata rahasia.

Bersamaan waktunya topi bambu bergigi itu meluncur ke udara, si Tanpa perasaan menggetarkan pula tangannya, tujuh bilah pisau terbang Liu-yap-to segera menghajar topi bambu bergigi itu. Tujuh bilah pisau terbang mencelat lalu jatuh ke tanah, tapi topi bambu itu masih tetap meluncur ke depan mengancam tubuh lawan.

Padahal si Tanpa perasaan tak pandai ilmu silat, bagaimana dia akan menghindarkan diri dari pusingan topi bambu? Tanpa perasaan tidak berkelit, kembali tangannya digetarkan, lima biji teratai besi segera melesat ke udara dan kembali menghajar topi bambu itu.

Terhajar kelima biji senjata rahasia itu, topi bambu itu nampak bergetar, tapi sekali lagi tenaga pusingan yang kuat menghantam kelima biji teratai besi itu hingga mencelat ke empat penjuru, sementara topi itu masih meneruskan gerakannya menyambar ke depan.

Paras muka si Tanpa perasaan sama sekali tidak berubah, kembali dua butir peluru besi menghajar topi bambu.

Saat itu senjata topi bambu itu sudah berada tak jauh dari tubuh si Tanpa perasaan, ketika terhantam dua butir peluru baja, topi bambu itu nampak sedikit tersendat gerakannya.

Sekarang paras muka si Tanpa perasaan baru agak berubah, secara beruntun dia lepaskan lagi sepuluh batang duri besi.

Saat itu topi bambu itu sudah berada sangat dekat dengan tubuh si Tanpa perasaan, ketika kesepuluh batang duri besi itu menghantam topi bambu itu, lagi-lagi semua senjata rahasia itu dihajar hingga mencelat.

Namun tenaga berpusing yang terpancar dari topi bambu itu ikut melemah juga, bahkan setelah menghajar kelima batang duri besi itu, kekuatannya lenyap.

Kini giliran Mo-sam Ha-ha yang berubah hebat paras mukanya, lekas dia menggerakkan tangannya dan berusaha menarik balik senjata topi bambunya itu.

Gagal pada serangan pertama, terpaksa dia mempersiapkan serangan kedua.

Diam-diam si Tanpa perasaan pun merasa terkesiap, dia harus empat kali melancarkan dua puluh empat macam senjata rahasia sebelum berhasil menghentikan gerakan berpusing topi bambu itu.

Maka ketika topi itu baru saja akan bergerak kembali ke udara, si Tanpa perasaan segera melancarkan serangan, dia tak boleh membiarkan topi bambu itu balik kembali ke tangan Mo-sam Ha-ha.

Tiga batang senjata cakar ayam baja meluncur ke udara, menghantam topi bambu itu.

Tampak topi itu sedikit bergetar namun tidak melenyapkan tenaga pusingannya, benda itu masih tetap melayang di udara dan meluncur ke tangan Mo-sam Ha-ha.

Sekali lagi si Tanpa perasaan mengayunkan tangannya, dua batang piau emas mendesing di udara dan segera menghamtam topi bambu itu dengan keras.

Benturan keras yang kemudian terjadi menyebabkan topi bambu dan piau emas itu mencelat ke samping arena.

Berubah hebat paras muka Mo-sam Ha-ha, cepat dia melejit ke udara dan berusaha mengejar topi bambunya.

Baru tubuhnya melambung ke udara, si Tanpa perasaan sudah mengimbangi gerakan itu dengan melemparkan sebilah pisau terbang ke tubuhnya.

Diiringi desingan angin tajam, pisau terbang itu melesat ke udara dan meluncur ke tubuh lawan dengan kecepatan luar biasa, belum lagi ujung tangan Mo-sam Ha-ha menyentuh topi bambunya, pisau terbang itu sudah menghujam ke dalam perutnya dan terbenam hingga tinggal gagangnya.

Mo-sam Ha-ha berjumpalitan satu kali di tengah udara kemudian rontok ke tanah, dia ingin sekali melemparkan topi bambunya untuk melancarkan serangan balasan, tapi sayang dia sudah kehilangan seluruh kekuatannya.

Sebilah pisau terbang sudah terbenam dalam perutnya, menimbulkan luka yang teramat parah.

Mo-sam Ha-ha memang pada akhirnya berhasil menangkap kembali topi bambunya, tapi keberhasilan itu sama sekali tak ada gunanya. Sebelum dia sempat melakukan serangan balasan, nyawanya sudah keburu melayang meninggalkan raganya.

Perlahan-lahan tubuhnya roboh terkapar ke tanah, sepasang biji matanya melotot keluar persis seperti mata ikan mati, melotot ke arah si Tanpa perasaan.

Sudah amat sering si Tanpa perasaan melihat raut muka orang yang sekarat, tapi amat jarang menemukan raut muka yang lebih jelek dan lebih menyeramkan daripada wajah Mosam Ha-ha saat ini.

Mereka berdua sama-sama merupakan jagoan kelas wahid dalam penggunaan senjata rahasia, dan sudah menjadi rahasia umum bahwa orang yang pandai menggunakan senjata rahasia biasanya mempunyai cara membunuh yang sangat telengas dan kejam, sebisa mungkin dalam serangannya yang pertama sudah dapat merenggut nyawa lawan.

Oleh karena itu jika manusia macam begini saling menyerang dan saling bertarung, maka kendatipun kungfu masing-masing pihak hanya selisih sedikit, biasanya menang kalah segera akan ditentukan dalam waktu singkat.

Siapa menang dia tetap hidup, siapa kalah dia harus mati.

Mo-sam Ha-ha dan si Tanpa perasaan masing-masing telah melepaskan satu serangan, maka hanya satu orang yang tetap bisa hidup, sementara yang lain membujur kaku tak bernyawa lagi.

Dalam pada itu si Darah dingin sudah melancarkan seratus delapan tusukan pedang dalam waktu singkat, Sebun-kongcu harus mengayunkan kaitannya kian kemari berusaha membendung seluruh ancaman yang tiba.

Dalam waktu singkat Darah dingin berhasil menduduki posisi di atas angin, sebab jurus pedang yang ia gunakan memang aneh, cepat dan telengas, sebaliknya sejak awal Sebun-kongcu sudah dibuat gelagapan dan kalang kabut, karena itu dia hanya bisa menangkis sambil berusaha mempertahankan diri. Tapi setelah pertarungan berlangsung lama, lambat-laun Sebun-kongcu mulai dapat meraba jalannya jurus pedang si Darah dingin.

Nama besar perkampungan keluarga Sebun memang tidak setenar dan seheboh empat keluarga besar dunia persilatan yaitu Tang-po benteng timur, Lam-ce benteng selatan, Se-tin kota barat dan Pak-shia kota utara, namun sebagai pemilik perkampungan, Sebun-kongcu terhitung seorang jago persilatan berbakat alam, bukan saja kepandaian silatnya tangguh, hatinya pun kejam dan telengas.

Ketika dia mulai dapat meraba jalannya gerak serangan si Darah dingin, saat itu jurus yang kedua ratus empat puluh satu baru saja berlalu.

Maka ketika Darah dingin menusuk untuk kedua ratus empat puluh dua kalinya, tiba-tiba sepasang kaitan milik Sebun-kongcu berhasil menggaet pedang si Darah dingin hingga terkunci.

Selama pertarungan berlangsung dua ratus gebrakan, mereka berdua tak sempat menarik napas, maka begitu serangan terhenti, kedua orang jago itu memanfaatkan peluang itu untuk berganti napas.

Begitu mereka berdua selesai menarik napas, si Darah dingin segera membetot pedangnya kuat-kuat, sementara Sebun-kongcu semakin getol mempertahankan sepasang kaitannya yang berhasil mengunci senjata lawan.

Darah dingin mencoba membetotnya beberapa kali, tapi usaha itu selalu mengalami kegagalan.

Ternyata kemampuan mengunci senjata lawan yang digunakan Sebun-kongcu saat ini merupakan ilmu rahasia yang berhasil dia warisi dari sang pentolan tiga belas pembunuh, bisa dibayangkan betapa hebatnya gerak serangan ini.

Melihat Darah dingin gagal membetot kembali senjatanya, Sebun-kongcu segera mengerahkan tenaga dalamnya melakukan satu hentakan keras, "krak!", pedang tipis si Darah dingin seketika patah. Tapi perbuatannya itu salah besar, Sebun-kongcu telah melakukan sebuah kesalahan yang berakibat fatal!
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pertemuan di Kotaraja Bab 22 : Disandera malah menyandera"

Post a Comment

close