Pendekar Bloon Jilid 22 Kelelawar

Mode Malam
Jilid 22 Kelelawar

Umumnya kelelawar itu hanya sebesar binatang tikus. Tidak mempunyai ekor tetapi bersayap. Kelelawar disebut juga kampret.

Tetapi kelelawar yang menghuni dilorong guha di bawah tanah itu, bukanlah kelelawar biasa tetapi kelelawar raksasa. Besarnya seperti seekor ayam jago, sayapnya mirip dengan mantel. Apabila dirempat yang gelap dan seram seperti guha dibawah tanah itu terdapat seekor binatang yang aneh dan mengerikan, sudah tentu orang akan menjerit ketakutan atau bahkan mungkin pingsan.

Apalagi seorang anak dara seperti Liok Sianli. Walaupun dia seorang gadis yang memiliki ilmu silat tinggi namun tetap juga semangatnya terbang dan wajahnya pucat ketika melihat kelelawar raksasa itu.

Tetapi anehnya si Bloon hanya berteriak saja dan tidak ketakutan. Dia belum pernah melihat kelelawar ataupun kalau sudah pernah, diapun sudah lupa bagaimana ujut binatang itu. Ketidak tahuan atau kelupaan akan ujud binatang itulah menyebabkan Blo'on tak merasa gentar. Andaikan tahu bahwa kelelawar itu hanya sebesar tikus tentulah ia akan memekik jauh lebih keras atau mungkin dia akan lari ketakutan.

"Bukan siluman" seru Sian-li sesaat - setelah menemukan kesadarannya bahwa yang dihadapinya itu seekor binatang istimewa. Setiap binatang yang lain atau lebih luar biasa dari jenisnya, tentulah memiliki sifat2 yang istimewa. Mungkin Iebih ganas, lebih berbahaya.

Karena, menghadapi kenyataan bahwa binatang aneh itu harus dihadapi dengan akal dan bukan dengan jerit pekikan takut akhirnya dia itupun tenahg batinya.

"Engkau tahu kelelawar ?” tanyanya kepada Blo'on. "Tidak" sahut Blo'on.

Sian-li kerutkan dahi. Digunung tempat kediamannya banyak sekali binatang kelelawar. Tentulah Blo'on pernah melihat bahkan tentu pernah bermain- main dengan binatang itu. Namun karena Blo'on kehilangan daya ingatannya akan peristwa yang lampau maka dia tak kenal. Sian-li menceritakan tentang binatang itu kepada Blo'on. "Kelelawar yang berada disini ini, seekor kelelawar raksasa.

Kita harus hati2 menghadapinya" Sian-li menutup keterangannya.

"Lalu bagaimana daya kita keluar dari terowongan ini ?" tanya Bio’on.

"Hm," Sian-li mendesuh tetapi diam lagi. Sampai beberapa saat belum juga ia membuka suara.

Tiba2 Blo'on melangkah maju menghampiri binatang itu.

"Hai.. suko, hendak kemana ?" Sian-li berteriak kaget. "Menghalau binatang itu!" enak saja Bio’on menjawab

seraya lanjutkan langkahnya. "Jangan !" teriak Sian-li.

"Habis ?" Kalau begini saja kita kan akan terpancang disini terus menerus" sahut Blo'on.

Sian-li hendak mencegah tetapi Blo'on sudah tiba dihadapan kelelawar raksasa itu.

"Hai, kelelawar" serunya dengan lantang, apakah engkau penjaga guha ini?"

Sudah tentu kelelawar tak dapat menyahut, "Hai. mengapa engkau diam saja" masih anak itu berteriak, "kalau engkau penjaga di sini; berilah kami jalan. Aku dan sumoayku hendak ke sesama manusia."

Sian li cemas2 geli mendengar kata2 dan melihat lagak Blo'on yang petantang petenteng itu. Namun dia diam saja melihatnya. "Kurang ajar, kalau engkau diam saja. ku anggap engkau memperbolehkan" kata Blo'on lalu berpaling kearah Sian-li "sumoay, hayo kita jalan ... "

Tetapi baru ia melangkah dua tindak, tiba-tiba serangkum angin bertenaga kuat telah melandanya. Uh ... ia terhuyung- huyung ke belakang sampai berapa langkah dan tiba di tempat Sian-li.

"Hebat benar" seru Bloon "dia dapat namparkan angin dahsyat".

Habis berkata ia terus maju lagi. Begitu mendengar deru angin menyambar, cepat2 iapun ayunkan tangan menampar.

Plak .....

Terdengar letupan kecil dan Blo'onpun dorong mundur dua langkah, Ia maju lagi menampar.

Terdengar letupan2 beberapa kali. Tiba2 binatang itu bergerak melayang ke arah Blo'on.

"Hati2, engkoh ... !" teriak Sian-li. Tetapi nona itu tak dapat melanjutkan kata2nya karena setelah luput menyambar Blo'on yang loncat menghindar ke samping, kelelawar itu lanjutkan gerakannya untuk menyerang Sian-li.

Sian-li menjerit dan loncat ke samping.

Nona itu berhasil menghindari tetapi deru angin sambaran kelelawar raksasa itu masih mampu membuat tubuh Sian-li terhuyung huyung, membentur dinding terowongan, duk ....

Kelelawar cepat berputar tubuh lalu menyerang Sian-li. Dara itu dengan kemati-matian terus menyelinap kian kemari untuk menghindar. Melihat itu Blo'on marah. Pada saat kelelawar hendak tamparkan sayapnya kepada Sian-li, dengan murka Blo'on loncat menghantamnya ...... Plak … pukulan tepat mengenai sayap tetapi binatang itu tak kurang suatu apa. Bahkan ia malah menerjang Blo'on dengan ganas. Ia hendak menerkamnya.

Kuku kelelawar itu runcing dan keras bagai pisau. Apabila kena dicengkeramnya, tentu hancur-luluh tubuh Blo'on.

Blo'on buang tubuh berguling ke tanah. Tetapi sebelum ia sempat bangun, kelelawar itupun menyerang pula. Dengan demikian terpaksa ia harus berguling-guling terus menerus.

“Setan, kalau aku harus bergelundungan begini lama2 mukaku kan bisa mumur," Blo'on menggerutu.

Untung saat itu Sian-li mulai bertindak. Iamencabut pedang dan membabat sayap kelelawar.

Tetapi pedang hanya seperti membentur benda yang lunak tetapi ulet. Selaput sayap kelelawar itu lunak bagai sutera, ulet bagai laut kapas.

Sian-li terkejut. Lebih terkejut pula ketika menyadari bahwa saat itu kelelawar menghadang ke arahnya dan menerjang. Karena gugup Sian- li lontarkan pedangnya ke mata binatang itu.

Crek.....

Melihat sebuah benda hendak menyerang matanya, kelelawar cepat katupkan kelopak matanya. Pedang membentur kelopak, terpental jatuh ke tanah lagi.

Sian-li tercengang. Saat itu kelelawar menerjangnya. Nona itu menjerit tetapi tak keburu lagi hendak menghindar. Sepasang cakar kelelawar mencengkeram kepala Sian-li. Nona itu hendak dibawa terbang.

"Lepaskan sumoayku !" Blo'on dengan meloncat menyerang, menghantam kelelawar sekuatnya. Pukulannya itu tepat mengenai muka kelelawar. Rupanya binatang itu kesakitan lepaskan Sian-li lalu melayang kearah Blo'on.

Blo'onpun nekad. Sambil menghindar balas menghantam bertubi-tubi sehingga walaupun tidak mati tetapi kelelawar itupun kesakitan juga.

Seperti telah diceritakan dalam kisah si Blo'on jilid 21 yang lalu, setelah makan belasan butir buah som yang tumbuh didasar laut dan berumur seribu tahun, tubuh Blo'on telah mengalami perobahan yang aneh luar biasa.

Jalan darah Seng-si-hian kwan yalah bagian jalan darah yang paling sukar ditembus, telah terbuka. Dengan demikian jadilah tubuh Blo'on itu sebuah tubuh yang menjadi sumber tenaga-dalam. Apabila dikehendaki, sumber itu akan memancar tenaga dalam yang hebat. Tetapi apabila diam, sumber itupun tenang. Blo'on telah memiliki apa yang disebut Ji-ih-tun-yang atau tenaga-murni yang dapat digerakkan menurut sekehendak hatinya.

Tetapi Blo'on tak menyadari hal itu. Dan terjadilah suatu keganjilan yang aneh. Seorang anak yang tak mengerti ilmusilat, telah memiliki tenaga-dalam yang sempurna. Tokoh2 dalam dunia persilatan, hanya beberapa gelintir saja yang jalandarah Seng - si - hian - kwannya sudah terbuka.

Adalah karena marah melihat Sian-li dicengkeram kelelawar, Blo'on menyerang. Tanpa disadari gerak pukulannya itu telah memancarkan tenaga-dalam yang hebat. Itulah sebabnya mengapa kelelawar menderita kesakitan. Kini terjadilah sebuah pertempuran antara  seorang manusia aneh dengan seekor kelelawar aneh. Apabila dua mahluk saling bertempur tentu dahsyat sekali jalannya pertempuran itu.

Andaikata Blo'on mengerti ilmusilat tentu lah ia dapat memanfaatkan tenaga-dalamnya yang istimewa itu, lebih baik dan lebih terarah. Tetapi karena dia berkelahi menurut kemauannya sendiri, maka pertempuran itupun berjalan lama dan asyik.

Tiba2 ruang guha itu bertebaran dangan asap.l Makin lama asap itu makin tebal sehingga menutup seluruh ruang guha. '

Blo'on tak tahu dari mana asal asap itu. Namun selama masih dapat melihat, ia terus melancarkan pukulan kepada kelelawar.

Rupanya kelelawar itupun mulai bingung. Buru2 ia menyerang lebih hebat. Dalam sebuah kesempatan yang tak terduga-duga, kelelawar berhasil menerkam tubuh Blo’on.

"Auh....." karena kesakitan Blo'on menjerit dan meronta sekuat-kuatnya. Walaupun tak berhasil melepaskan diri dari cengkeraman tetapi tenaga-dalam yang memancar dari tubuh Blo'on berhasil melindungi tubuhnya tak sampai hancur dicengkeram lawan.

Kelelawar marah. Cepat ia tundukkan kepala kebawah. Hendak menggigit leher Blo'on dan hendak menghisap darahnya.

Blo'on terkejut sekali. Kalau sampai tercengkeram kuku kelelawar yang mengerikan itu, leher tentu remuk. Cepat ia merundukkan kepala lalu menggoyang-goyangkan kian kemari. Karena gerakan itu, sepasang kuncir Blo'on pun ikut bergoyang-goyang seperti menampar. Andaikata manusia, tentulah kelelawar itu akan menjerit kaget. Karena kedua ikat kuncir rambut si Blo'on tiba2 berobah seperti sapu kawat yang keras sehingga memaksa kelelawar itu tak berani menggigit.

Tetapi Blo'on sendiri memang tak menyadari hal itu bahwa rambutnyapun dapat digerakkan sebagai senjata, Tenaga- dalam Ji ih-tun-yang pun dapat disalurkan ke rambut.

Karena tak dapat berteriak maka kelelawar itupun tiba2 menguik keras sekali. Tak kalah tajamnya dengan suitan dari jago silat yang dilambari dengan tenaga dalam.

Blo'on mengkal karena telinganya bising mendengar suara jeritan kelelawar itu. Iapun segera menggembor sekuat kuatnya.

Gemboran itu mengejutkan kelelawar. Bukan saja binatang itu hentikan suaranya yang aneh, pun juga terus menggelepar keatas lalu secepat kilat menyambar kepala Blo'on lagi.

"Aduh ... " Bloon menjerit kesakitan ketika tubuhnya terangkat naik. Yang disambar kelelawar itu ternyata dua buah kuncirnya. Karena kelelawar itu menarik naik ke atas. Sudah tentu Blo'on menjerit kesakitan karena kulit kepalanya seperti dicabut dari tulang kepala.

Sehabis mencengkeram kuncir Blo'on. kelelawar itu menelungkupkan kepala hendak menggigit dada Blo'on. Dan gerakan itupun diserempaki dengan mengatupkan sepasang sayapnya ke tubuh Blo'on.

Dengan demikian muka dan tubuh Blo’on terbungkus dengan sayap kelelawar. Sebelum ajal berpantang maut, memang sudah menjadi naluri kodrat setiap mahluk hidup. Dalam keadaan hendak direnggut maut, sudah tentu Blo'onpun berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan jiwanya.  Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, ia gerakkan kedua tangannya untuk menerkam leher kelelawar itu dan berhasil.

Saat itu terjadi pergulatan yang aneh tetapi maut dari dua mahluk istimewa. Kelelawar raksasa itu berumur ratusan tahun. Memiliki tubuh yang luar biasa keras dan kebalnya. Demikian pula tenaganya pun teramat kuat. Blo'on karena mendapat rejeki yang luar biasa anehnya telah memiliki tenaga dalam yang aneh dan luar biasa.

Adu tenaga antara kedua mahluk itu, berlangsung seru dan ngeri. Blo’on mendelik matanya karena kepalanya hampir copot.

Tetapi kelelawar itupun meram melek matanya karena lehernya seperti dicekik sepit baja sehingga sukar bernafas.

Blo'on benar2 setengah mati sekali. Di samping harus menahan kesakitan pada kepalanya, ia pun sesak rafasnya, Asap yang memenuhi ruang guha dan selimut sayap kelelawar itu menelungkupi mukanya begitu rapat.

Apabila dipeluk oleh seorang gadis cantik yang harum baunya seperti murid2 Lembah Melati dulu, biar sampai seminggu, sebulan bahkan setahun, mau saja Blo'on. Tetapi dipeluk oleh seekor kelelawar besar yang baunya apek, Blo’on benar2 minta ampun. Beberapa kali perutnva berombak- ombak seperli ular berenang di air. Ia berusaha untuk menahannya. Tetapi karena terus menerus diserang oleh bau yang luar biasa apeknya akhirnya bobollah pertahanan Blo'on.

Huak ..... Bagaikan gunung berapi meletus, meluaplah isi perut Blo'on berhamburan keluar Dan hal itu diulangnya berkali kali sampai ia rasakan perutnya kempis karena sudah tak ada yang dimuntahkan lagi.

Beberapa saat kemudian tiba2 Blo'on rasakan tubuhnya enak sekali. Napas longgar dan tidak lagi dia muntah karena bau apek.

Tetapi lain gangguan, muncul kembali. Karena kesakitan dan tak dapat bernapas akibat cekikan Blo'on, kelelawar itupun berontak juga. la mengepak-ngepakkan sayapnya, menampar tubuh Blo’on.

Karena sayap kelelawar raksasa itu lunak tetapi keras, Blo’onpun seperti digebuk dengan keping baja.

"Aduh… aduh ... " ia menjerit-jerit dan makin memperkeras cekikannya.

Hampir setengah jam pertempuran maut berlangsung, Blo’on tele2 setengah mati tetapi kelelawar itupun meregang jiwa alias sekarat.

Beberapa saat kemudian keduanya rubuh tanah.

Ketika Blo'on membuka mata, ternyata ia sedang menggeletak di tanah. Di sampingnya tampak sumoaynya sedang memandangnya dengan penuh kecemasan.

"Suko, engkau bangun?”, teriak dara itu kegirangan ketika melihat Blo'on sadar.

Blo'on menggeliat duduk.

"Bagaimana dengan kelelawar tadi?,” tanyanya. "Mati" seru Sian-h, "engkau benar2 hebat sekali". Mata Blo'on segera tertumbuk pada kelelawar yang menggunduk rebah tak berkutik di tanah.

"Mati?" tanya Blo'on agak tak percaya.

"Ya, lehernya telah putus engkau cekik," Sian-li menerangkan, "tetapi .... hi, hi, hi ...".

Tibi2 dara itu tertawa mengikik.

Blo'on melongo. “Mengapa engkau tertawa?" "Geli." sahut Sian li .

"Apa yang menggelikan ?" "Engkau…."

"Aku ? Memangnya aku ini kenapa ?" Blo’on makin heran.

“Eigkau sekarang berubah menjadi seekor kerbau tanduk satu."

"Apa ? Aku mempunyai tanduk ?"

Sepasang kuncir pada kepalanya yang gundul itu memang sepintas pandang menyerupai sepasang tanduk. Tetapi sekarang kuncir yang satu copot, jadi tinggal satu saja.

Blo'on merabah gundulnya : "Keparat, kuncirku hilang satu.

Tentu kelelawar itu yang mengambilnya." Sian-ii tertawa.

"Eh, sumoay, ketika aku bergulat dengan kelelawar tadi, kemana saja engkau ?" tiba2 Blo'on bertanya.

"Kelelawar itu berhasil mencengkeram kepaIaku. Kukira aku tentu mati tetapi untunglah yang kena hanya rambutku saja," menerangkan dara itu, "aku ditarik keatas lalu dilemparkan.” "Aku pingsan" kata Sian-li pula. "setelah siuman, memang kulihat engkau sedang bertempur seru dengan kelelawar. Aku mencari akal bagaimana dapat membantumu. Tiba2 kuteringat bahwa aku mempunyai korek dari pemberian kakek dari istana Hay-sim-kiong. Kuteringat pula bahwa kelelawar itu takut akan api. Aku hendak membuat api tetapi sayang tiada kayu bakar. Ada beber kerat tulang binatang yang telah menjadi mangsa kelelawar itu berserakan di tanah. Kukumpulkan lalu kubakar

... "

"O. itulah sebabnya mengapa guha itu penuh asap yang menyesakkan napas ?” Sian-li mengiakan.

"Sekarang bagaimana maksudmu ?” tanya Blo'on.

"Sudah tentu lanjutkan perjalanan menembus terowongan ini" kata Sian-li.

Tetapi ketika Bloon mulai melangkah, tiba2 pula dara itu berseru : "Berhenti dulu, suko, aku hendak menguliti sayap kelelawar ini ".

"Untuk apa ?" Blo'on heran.

"Kulit sayap kelelawar ini istimewa sekali. Walaupun tipis dan lemas tetapi tahan dibacok pedang” menerangkan dara itu. "dapat kita jadikan pakaian tahan senjata."

"Huh, untuk apa harus begitu ?"

"Suko, engkau memang ibarat orang yang baru bangun tidur ".

"Tidak, aku belum tidur !" tukas Blo'on.

“Ea, aku hanya mengatakan perumpamaan saja. Sejak kehilangan kesadaran pikiran, bukankah engkau seperti orang tidur yang tak tahu apa2? Nah, sekarang agaknya pikiranmu sudah mulai terang. Ketahuilah, dunia persilatan itu penuh dengan orang2 yang berilmu sakti. Tetapi banyak yang berhati jahat. Misalnya, coba engkau bayangkan, mengapa suhu yang sudah meninggal dunia itu jenazahnya masih dicuri orang ?"

"Hm, buat apakah mereka mengambil jenazah ayah itu ?" tanya Blo'on.

"Banyak kemungkinan yang dapat ditafsirkan dalam peristiwa pencurian itu" kata Sian-li, "diantaranya yalah pembalasan dendam, mencari pengalih, membikin gempar dan memburu kedudukan"

"Memburu kedudukan?" Blo'on heran.

"Ya," sahut si dara, "dengan berhasil menuri jenazah suhu orang tentu beranggapan bahwa pencuri itu seorang sakti. Dan dengan hasil besar itu, dia tentu akan mengangkat diri sebagai permimpin dunia persilatan."

"Apa itu sih pemimpin dunia persilatan" dengus Blo'on. "kita kan manusia bebas, perlu apa harus dipimpin 7"

"Ah." Sian-li menghela napas, "memang demikian sifat manusia itu. Bermula orang belajar silat untuk kesehatan, lalu untuk bela diri. Setelah itu meningkat untuk berkelahi. Dan setelah merasa paling menang sendiri, dia terus timbul keinginannya untuk menjagoi, memimpin dunia persilatan supaya tunduk pada perintahnya."

"Hm. salah mereka sendiri mengapa mau diperintah," gumam Blo'on.

"Ah. suko, enak saja engkau bicara. Memang tak ada orang yang mau diperintah tetapi mereka dipaksa harus mau. Barang siapa membangkang tentu akan digempur atau dibunuh.”

"Kurang ajar!'* teriak Blo'on, "masakan orang hendak memaksa orang harus tunduk pada perintahnya eh”, tiba2 Blo'on berhenti, “bukankah ayah juga menjadi pemimpin dunia persilatan ? Apakah dia juga memaksakan kehendak kepada setiap orang ?"

"Benar," kata Sian li," tetapi suhu menjadi pemimpin dunia persilatan tetapi segenap ketua partai persilatan dan tokoh dunia persilatan telah seia-sekata untuk mengangkat suhu menjadi pemimpin. Hal itu disebabkan karena mereka megghargai jasa2 suhu selama berjuarg untuk menyelamatkan kaum persilatan dari gencetan pemerintah Goan."

"O, jadi terdapat dua macam pemimpin dalam dunia persilatan itu ?"

"Ya," sahut Sian-li. "yang baik dan yang buruk. Yang diangkat oleh orang dan yang mengangkat dirinya sendiri"."

"Kurang ajar, berani benar orang mengangkat dirinya sendiri. "

"Banyak orang2 begitu." kata Sian-li pula, “tergantung apakah dia kuat bertahan apabila dapat mempertannggung jawabkan perbuatannya pada tokoh2 persilatan yang akan menindaknya.”

"Tetapi apakah setiap hal itu terjadi tentu akan ditindak?" tanya Blo’on.

"Demikianlah cara yang lazim berlangsung dalam dunia persilatan."

"Lalu kalau orang itu baik perbuatannya, apakah dia tetap ditindak ?" tanya Blo'on.

Sian-li tertawa : "Orang yang mengangkat diri sebagai penimpin dunia persilatan, pada intinya tentu orang jahat."

"Adakah sekarang ini masih terdapat orang2 yang begitu ?" “Masih"' sahut Sian-li, "selama dunia persilatan masih ada, selama itu tentu masih ada pula peristiwa2 semacam itu, Nanti apabila kita keluar dari sini, engkau tentu akan mengetahui hal2 semacam itu."

"Benar," Blo'on seperti disadarkan," hayo, kita lekas keluar dan sini saja."

Sian-li tetap meminta supaya Blo'on menunggu sebentar. Ia mengambil pedang lalu mulai mengerati sayap kelelawar itu. Tetapi gagal karena pedang tak mempan digunakan.

"Ah, mengapa aku lupa ?" tiba2 ia berseru lalu mengeluarkan pedang pusaka Pek liong kiam  pemberian kakek dari istana Hay sin-kiong.

Dengan mudah dapatlah dara itu menguliti  sayap kelelawar.

"Hebat benar pedang itu? Dari mana engkau memperoleh pedang sehebat itu ?" tanya Blo'on.

Sian li pun menceritakan apa yang diterimanya dari kakek penunggu istana Hay-sim-kiong.

"O, jadi engkau menyanggupi untuk melakukan pesan kakek itu ?" tanya Blo'on.

"Ya, karena hal itu selaras dengan pendirian pendekar utama, Apakah engkau tak mau membantu aku ?"

"Tentu," sahut Blo'on.

Setelah pekerjaan menguliti kedua sayap lelawar itu selesai Blo'on lalu hendak angkat kaki lagi, Tetapi kembali Sian-li mencegah.

"Eh, mengapa lagi ?" Blo'on mendongkol "apakah engkau senang tinggal disini?" "Bukan, suko" sahut Sian-li. "tetapi aku ingat sesuatu".

Dara itu terus menghampiri ke sudut guha. Dan menjemput sebutir benda hitam sebesar buah kelengkeng.

"Lihatlah ini, suko !"

"Apa?" Blo'on menghampiri, "huh, benda apa Itu ?" "Tahi kelelawar."

"Tahi kelelawar?" Blo'on kerutkan alis. "buat apa ?"

"Aku belum tahu bagaimana khasiat dari tahi kelelawar ini. Tetapi kupercaya setiap binatang yang sudah berumur ratusan tahun dan memiliki bentuk tubuh yang istimewa tentu mempunyai apa- apa yang istimewa. Yang jelas, tahi kotoran ini beratnya bukan kepalang. Kalau tak percaya cobalah engkau pukul kalau kuat"

"Huh, masakan tak mampu" dengus Blo'on Ialu meninju sebutir tahi kelelawar itu "aduh ...”

Ia menjerit ketika tangannya terasa sakit. Tahi kelelawar itu kerasnya bukan kepalang.

"Lalu bagaimana maksudmu, sumoay ?" tanyanya.

"Tahi kelelawar ini berjumlah ratusan biji, akan kubawa bersama sayap itu. Kelak tentu ada gunanya"

Demikian setelah selesai berkemas, kedua anak muda itu segera merayapi lorong terowongan.

"Mudah2an kita bertemu dengan mahluk aneh lagi" kata Blo'on,

"Mengapa ?'" Sian-li terkejut. "Agar mendapat pengalaman lagi"

"Huh. enak saja engkau ngomong !" Lonceng menangis

"Hai, bulan purnama!" tiba2 Blo'on berteriak ketika tiba diujung terakhir dari terowongan.

Memang kedua anak itu telah muncul didaratan. Saat itu sudah malam. Untung rembulan sedang purnama sehingga mereka tahu keadaan di sekeliling tempat itu. Sebuah pegunurgan pada tepi pantai. Ombak laut bergulung – gulung memercikkan gelombang warna putih keperak-perakan.

"Dimanakah kita sekarang, sumoay ?"

"Masakan aku tahu ?' sahut Sian-li. Dari itu naik ke sebuah batu yang tinggi dan memandang kesekeliling penjuru.

"Hai.... !" tiba2 ia menjerit. "Kita berada disebuah pulau karang !”

"Apa ?" teriak Blo'on seraya lari menghampiri Setelah memandang kesekeliling penjuru iapun menjerit, “celaka, kita akan mati kelaparan disini."

"Ai, suko. jangan cepat2 putus asa," Sian-li menghibur, "marilah kita selidiki pulau ini. Siapa tahu mungkin terdapat manusia yang tinggal disini.”

Kedua anakmuda itu lalu berjalan. Ternyata pulau itu sebuah pulau gundul. Pulau karang yang hanya ditumbuhi beberapa batang pohon jati. Dibagian tengah pulau itu merupakan pegunungan karang yang tinggi rendah, penuh dengan guha dan sukar dijelajahi.

Mereka tak menemukan barang seorang manusiapun yang tinggal disitu.

"Sumoay, aku lapar!" "Ya, makan saja."

Blo'on kerutkan dahi : "Apa yang dimakan?” Siau-li tertawa mengikik, sahutnya : "Angin."

Muka Blo'on menceberut : "Aku lapar sungguh engkau ngomong seenakmu sendiri.”

"Habis, disini kan sebuah pulau karang yang kosong. Dari mana kita dapat memperoleh ma ...." tiba2 Sian-li berhenti dan terus lari.

"Hai, hendak kemana engkau ?" Blo'on terkejut, lalu mengejar.

"Ke pantai cari tiram atau kura2."

Tiba dipantai mereka mulai giat mencari binatang laut. Akhirnya berhasil juga mendapatkan beberapa ekor tiram, kepiting dan telur kura2.

"Apa kita makan begini saja ?" tanya Blo'on.

"Jangan kuatir" kata Sian-li, "aku mempunyai korek, mari kita ke hutan jati. Kita cari ranting kering untuk membuat api dan membakar binatang laut ini".

Demikian kedua anakmurla itu segera membawa hasil perolehannya ke hutan jati. Disitu mereka membuat api unggun dau membakar binatang laut itu.

Lumayan juga, malam itu Blo'on dan Sian li dapat mengisi perut. Dan malam itu mereka tidur dialam terbuka. Keesokan harinya, semangat merekapun segar kembali.

"Sekarang kita harus cari akal untuk meninggalkan pulau ini" kata Sian-li.

"Ya, terserah bagaimana engkau, sumoay.” "Pohon jati yang tumbuh di hutan ini dapat kita jadikan perahu. Mari kita bekerja menebang kayu itu" kata Sian-li,

Sehari itu mereka bekerja keras untuk menebang pohon jati yang kecil. Dengan pedang pusaka Pek liong-kiam, pekerjaan itu dapat dilakukan dengan mudah.

Setelah dapat membuat tonggak2 kayu yang sama panjangnya, mereka lalu mulai melubangi, kemudian menusukkan kayu yang diraut panjang dan kecil mirip tombak, kelubang beberapa batang kayu tonggak itu.

Karena tak biasa bekerja kasar, sampai hari gelap, belum juga rakit itu selesai.

Malam itu mereka makan tiram dan kepiting bakar serta tidur dialam terbuka lagi.

Saat itu rembulan bersinar terang. Awan berarak-arak di langit yang biru. Bintang kemintang memenuhi angkasa. Sunyi senyap disekeliling penjuru alam. Hanya debur ombak dan desau angin laut yang sebentar terdengar sebentar sayup2 menghilang.

Sambil duduk sandarkan diri pada sebatang pohon jati Sian- li termangu-mangu memandang ke sekeliling penjuru. Tiba2 ia menghela napas.

Blo'on sebenarnya sudah rebahkan diri. Demi mendengar sumoaynya menghela napas, ia terkejut bangun.

"Mengapa engkau, sumoay ?" tegurnya.

"Tak apa2" sahut Sian-li "hanya, melamun biasa".

"Melamun ? Apakah engkau suka melamun" Sian li berpaling deliki mata : "Siapa yang suka melamun ?" "Habis mengapa engkau sekarang melamun?”, Sian-li menghela napas,

"Dalam keadaan yang sunji, jauh dari pergaulan manusai, dari sanak keluarga, berada di tempat pulau yang kosong, mau tak mau hati kita mudah tersentuh. Teringat akan kehidupan kita ini.”

Blo'on mulai tertarik tetapi dia diam saja.

"Siapa pernah mimpi bahwa kita berdua bakal berada ditempat semacam ini ? Siapa pernah menyangka bahwa kita akan masuk kedalam kerajaan di bawah laut ? Dan siapa yang menduga bahwa apa lagi perjalanan hidup yang akan kita alami nanti ?" kata dara itu.

"Ah sudahlah sumoay," desuh Blo'on, “jangan suka melamunkan hal2 yang sudah lampau dan yang akan datang. Yang lalu kan sudah lewat engkau pikiri, engkau tangisi, engkau sedihkan juga takkan kembali. Yang akan datang, kan kita belum mengalami. Perlu apa harus dipikir. Yang penting kan sekarang ini ? Bagimana cara kita tinggalkan pulau kosong dan bagaimana nanti kita akan menuju."

"Suko, aku tak mau pergi dari pulau ini”.

"Apa ?" Blo’on terbelalak demi mendengar kata2 Sian li yang begitu aneh, "mengapa engkau hendak tinggal disini ? Apakah engkau hendak makan tiram dan kepiting bakar saja?"

Sian-li menghela panas,

"Memang kita akan menderita dalam hal makan dan  minum. Tetapi batin kita lebih tentram. Engkau tahu, suko, dunia ramai itu penuh dengan urusan2 yang ruwet dan menjengkelkan hati. Manusia2nya itu penuh beraneka ragam. Kadang mereka itu ada yang baik. Tetapi kadang ada yang lebih buas dari serigala. Disini menikmati alam yang sunyi, udara yang ceria dan kehidupan yang tenang damai".

"Engkau salah sumoay," seru Blo'on, "ketenangan dan kedamaian itu yang membuat adalah manusia itu sendiri. Di pulau kosong, di hutan belantara di puncak gunung, dikota ramai di medan pertempuran, engkau akan menemukan ketenangan itu. Apabila engkau merasa tenang, disitulah engkau mendapat ketenangan. Kalau engkau merasa tidak tenang, dimanapun juga engkau takkan mendapat ketenangan".

Sian-li terlongong mendengar kata2 Blo'on. Tak pernah ia menyangka bahwa sukonya yang semula begitu blo'on, tiba2 sekarang dapat mengucapkan kata2 yang penuh mengandung falsafah tinggi. Bahkan belum pernah ia mendengar kata2 begitu indah dan tinggi dari lain orang sekalipun dari suhunya dahulu.

"Eh, suko dari mana engkau memperoleh pikiran yang begitu terang itu ?" serunya sesaat kemudian.

"Dari mana ? Huh, tentu saja dari pikiranku sendiri" sahut Blo'on "karena setiap kali aku dapat merasakan. Apabila aku merasa tenang, tempat yang kutinggali itu terasa tenang. Tetapi apabila aku gelisah, tempat yang kutempati itu ikut tidak enak. Makanpun begitu. Kalau aku lapar dan merasa enak, tiram dan kepiting bakarpun terasa sedap sekali, Tapi kalau aku kebetulan marah, nasi putih dengan capjay enak, tetap terasa tak enak. Maka kukatakan, bukan siapa dan apa, bukan tempat atau keadaan yang membuat kita tenang tetapi pikiran hati kita sendiri yang menciptakab ketenangan itu."

"Uah. uah" mulut Sian-li mendecak-decak. "Engkau tak ubah seperti orang tua yang sedang memberi nasehat kepada anak kecil. Engkau belum merasakan pengalaman maka engkau dapat berkata begitu. Coba nanti engkau menghadapi hal2 yang menderita tentu lain lagi bicaramu.”

"Jangan menghina aku" seru Blo'on.

"Buktinya, baru lapar saja engkau sudah kaok-kaok apalagi kalau menghadapi hal2 yang lebih sukar. Falsafahmu tentu luntur seketika."

Blo'on menyeringai.

"Apakah engkau sungguh2 hendak tinggal di pulau ini ?" tanyanya sesaat kemudian.

"Dan engkau ?” Sian-li balas bertanya.

"Aku masih mempunyai banyak tugas, terpaksa harus kembali ke dunia ramai".

"Tugas apa ?"

"Eh, mengapa ini sumoay ? Bukankah kau mengatakan kalau jenazah ayah dicuri orang?. Nah, aku terpaksa harus mencari pencuri itu.”

"Bukan hanya engkau, tetapi aku sebagai murid dari beliau, juga harus mencari jenasah suhu.”

"Kalau begitu engkau tak jadi tinggal di pulau ini?" Tidak menyahut tetapi Sian-li berbangkit terus lari.

"Hai, hendak kemana engkau sumoay?" teriak Blo'on terkejut.

"Jalan2, engkau tak perlu ikut ... " seru Sian-li seraya lanjutkan larinya.

Saat itu Blo'on memang ngantuk. Sehari penuh dia bekerja menebang pohon jati, melubangi tonggak2 jati. Saat itu ia ingin beristirahat. Pulau itu kosong tiada penghuninya. Biarlah sumoaynya berjalan-jalan sendiri, kiranya tak berbahaya. Maka iapun lalu rebah lagi di tempat tidurnya, sebuah karang yang datar di bawah pohon Jati. Tempatnya cukup bersih.

Tak berapa lama Blo'onpun tidur pulas.

Tiba2 ia merasa seperti melihat seorang kakek tua renta muncul. Tubuhnya kurus dan bungkuk. Kakek aneh itu berhenti beberapa meter dihadapannya. Tiba2 dia mengacungkan kedua tangannya dan berteriak keras. Sedemikian kerasnya sehingga menyerupai aum harimau.

"Hutang jiwa harus bayar jiwa. Engkau telah merampas jiwaku, sekarang engkau harus dibayar dengan jiwanya ... !" teriak kakek aneh Ini.

Dia meraung lagi sekeras-kerasnya lalu dia mutar-mutar kedua tangannya, membentuk sebuah lingkaran sinar. Dan tahu2 kedua tangannya telah berubah menjadi sepasang sayap.

"Kelelawar , . !"' teriak Blo'on ketika memandang dengan penuh perhatian. Kakek itu memang telah berobah menjadi kelelawar raksasa mirip dengan kelelawar yang dibunuhnya dalam terowongan kemarin.

Tetapi ia tak dapat melanjutkan teriakannya karena saat itu kelelawar telah terbang menyerangnya.

"Setan ... !" Blo'on menghantam. Tetapi lelawar itu menyeringai. Pukulan Blo'on seperti membentur gumpalan kapas.

Dan sebelum Blo on sempat menghindar, kelelawar sudah menerkamnya. Kedua sayap binatang itu memeluk tangan dan tubuh Blo'on sedemikian kuat sehingga Blo'on tak dapat berkutik lagi. Dan tiba2 pula moncong kelelawar menggigit tenggorokan Blo’on lalu menghisap darahnya.

"Mati aku ... !" karena takut. Blo'on menjerit sekuatnya dan membuka mata ...

Ah, kiranya ia bermimpi seram.

“Eh, kemana gerangan anak perempuan itu”, ia celingukan kian kemari tetapi tak melihat Sian-li berada di dekat situ.

Saat itu rembulan sudah menjulang dltengah angkasa, pertanda sudah hampir tengah malam. Ia heran mengapa sumoaynya tak kembali.

Tiba2 ia menggeliat bangun : "Ah, jangan2 dia mendapat kecelakaan ... " .

Cepat ia menuju ke tepi pantai dimana biasanya ia bersama Sian-li mencari tiram dan telur kura2.

Ah, Sian-li tak tampak disitu. Blo'on makin bingung. Segera ia mengelilingi sepanjang pantai. Dari barat, keselatan lalu ke timur.

"Aneh benar." desuhnya makin gugup, "kemana saja anak perempuan itu ?”

Segera ia lanjutkan langkahnya menuju kearah utara. Dan segera ia terkejut ketika jauh di sebelah muka melihat lima sosok tubuh manusia. Yang dua tengah berlincahan seperti orang sedang bertempur. Yang seorang tegak beberapa langkah di samping sambil bercekak pinggang dan yang dua orang menggeletak rebah di tanah.

Cepat Blo’on kencangkan langkah berlari-lari menghampiri.

Ia duga yang bertempur itu tentulah sumoynya. "Siluman ... !" tiba2 orang yang bercekak pinggang itu berteriak kaget ketika Blo'on berlarian tiba.

Memang tak mengherankan kalau orang berteriak demikian. Karena disebuah pulau karang yang kosong, masakan tiba2 muncul seorang manusia yang aneh. Pakaiannya seperti orang perempuan tetapi di sana sini compang-camping. \ Wajahnya sukar diketahui lelaki atau perempuan. Hanya yang jelas kepalanya gundul. Ada rambut tetapi tumbuhnya aneh, hanya seuntai rambut seperti ekor kuda. Letakkan dari bagian kanan mirip dengan tanduk.

Dan celakanya begitu datang manusia itu terus menyerang orang yang sedang bertempur.

"Sumoay, siapa manusia liar ini ?" Blo'on setelah jelas tahu bahwa Sian-li sedang diserang oleh seorang lelaki pendek.

Sian li hendak menjawab tetapi tak sempat karena orang lelaki yang bercekak pinggang meloncat menerjang Blo'on.

"Ho, engkau juga manusia ?" teriak orang yang bercekak pinggang itu, seorang lelaki yang hanya memiliki sebuah mata karena yang satu ditutup dengan kain hitam. Badannya kekar, dan penuh dengan bulu yang lebat.

"Mata Satu, engkau berani menyerang aku”, teriak Blo’on seraya menghindar.

"Bangsat, engkau berani menghina aku? kalau tidak keremuk tulangmu, jangan sebut si Ular seribu bisa Kim Seng

!” si mata satu berteriak dan menyerang.

Blo'on terkejut melihat gaya serangan si mata satu yang begitu dahsyat. Ia tak tahu bahwa lawan telah menggunakan jurus Ngo-hou tham-lilm atau Harimau lapar menerkam hati. Tahu2 dada Blo'on tercengkeram..... Sebenarnya setelah mencengkeram, harus tusukkan jarinya ke ulu hati. Dan lawan tentu mati seketika karena dadanya amblong. Tetapi si mata Satu yang menyebut dirinya bernama Kim Seng tidak demikian. Karena hanya dalam sebuah jurus saja dia sudah berhasil mencengkeram dada orang maka ia mengira Blo'on itu tentu seorang pemuda tolol, tidak mengerti ilmu silat.

"Naik," seru si Mata Satu seraya menyentakkan tubuh ke atas, terus diputar-putar macam bulang-baling.

Setelah puas mempermainkan, tiba2 si Mata Satu hendak melemparkan Blo'on kearah Sian li.

"Nih, terimalah tubuh kawanmu...... !", serunya terus melempar.

“Ua.....," tiba2 si Mata Satu menjerit kaget dan tahu2 tubuhnyalah yang terangkat keatas dan terus dilemparkan ke arah musuh yang bertempur dangan Sian li.

Lawan Sian li, siorang pendek, mengira kalau kawanrya, si Mata Satu itu, tentu dengan mudah dapat menguhancurkan Blo'on. Ia tahu sampai dimana kesaktian kawannya Ular seribu-bisa Kim Seng.

Ketika Kim Seng berseru hendak melontarkan tubuh Blo’on, si pendek itupun gembira, mengira Kim Seng tentu sudah menang. Maka ia makin mendesak Sian-li agar nona itu tak sempat menghindar. Dengan demikianlah biarlah tertimpah tubuh Blo'on yang dilemparkan oleh Seng.

Memang Sian-li tak dapat meloloskan diri dari serangan si pendek. Dan si pendekpun tahu bahwa sesosok tubuh telah melayang di udara itu meluncur ke tempatnya. "Bagus ... " baru hatinya bersorak gembira tiba2 tubuh itu telah menimpah tepat di atas kepalanya. Bruk ...

"Aduh, Kim Seng ... " maksudnya ia hendak mendamprat mengapa Kim Seng melontar tubuh orang kepadanya. Tetapi belum sempai melanjutkan kata2nya, kaki si nona sudah melayang ke perutnya, duk

...

"Aduh ..." orang pendek itu menjerit tubuhnya terlempar sampai dua tombak jauhnya. Jatuh terbanting ke belakang dengan kepala membentur tanah karang. Prak ... kepalanya pecah dan putuslah jiwa orang itu.

Sementara Kim Seng yang menimpah orang pendek itupun berhamburan jatuh ke tanah. Matanya hancur mumur. Setelah

meregang jiwa berapa saat, tubuhnya diam tak dapat berkutik lagi karena nyawanyapun sudah terbang.

Habis menyelasaikan dua orang itu, dilihatnya kedua orang yang rebah di tanah itu bangun. Cepat Blo'on lari menghampiri mencekal tengkuk salah seorang lalu diangkatnya dan hendak dibanting.

"Hai, jangan suko !" Sian li berteriak kaget. "Mengapa ?"

"Dia bukan orang jahat." "Kalau begitu yang ini saja," kata Blo’on meletakkan orang itu lalu beralih memegang yang seorang lagi.

"Jangan, dia juga bukan orang jahat," seru Sian-li.

Sambil meletakkan tubuh orang itu, Blo'on bersungut- sungut : "Huh, ini bukan itupun bukan. Tetapi mengapa mereka menyerang engkau !"

Sian-li menceritakan bahwa ketika ia sedang berjalan-jalan di pantai untuk menenangkan pikirannya, tiba2 tampak  sebuah perahu besar berlayar mendatangi. Perahu besar itu tak berani berlabuh merapat pantai melainkan menurunkan sebuah perahu kecil.

"Aku segera bersembunyi di balik karang”, menerangkan Sian li, “untuk melihat siapa dan perlu apa mereka menuju ke pulau ini."

Perahu kecil itu berisi empat orang yalah si Ular seribu-bisa Kim Seng, Kura hitam Sun Hui dan dia orang awak perahu. Mereka masing2 manggul empat buah peti besar. Peti2 ditanam disebuah guha.

"Eh, aneh benar." kata Sian-li, "selesai menanam peti dan menuju ke pantai, tiba2 si Mata-satu dan si pendek itu menyerang kedua orangnya. Kedua orang itu meratap-ratap minta diampuni jiwanya tetapi tetap tak dihiraukan. Karena menyaksikan perbuatan yang kejam itu, aku pun cepat keluar dan menyerang mereka. Si pendek lah yang menyambut aku. Dia lihay juga. Untung si Mata satu tak ikut mengeroyok, kalau ikut, mungkin aku sudah rubuh."

"Siapa mereka ?" tanya Blo'on,

"Mana aku tahu ? Tanya saja pada kedua orang itu," kata Sian li seraya menghampiri. "Siapa engkau ? Mengapa engkau hendak dibunuh ?

Bukankah mereka kawanmu sendiri ?'* kata Sian-li.

"Kami berdua pemilik perahu besar yang dibawa oleh serombongan orang yang tak kami kenal," kata kedua orang itu.

"Apakah bukan si Mata Satu dan si Pendek itu?" tanya Sian

li,

"Bukan, melainkan seorang kongcu putera seorang

hartawan dari kotaraja."

"Apakah dia juga ikut dalam perahumu?" "Rasanya tidak" sahut tukang perahu itu. "Mengapa mereka hendak membunuhmu?”

"Aku sendiri juga tak mengerti. Mereka menjanjikan upah besar untuk pekerjaan berlabuh di pulau ini, menurunkan peti dan menanam di guha yang mereka tunjukkan, Tetapi setelah pekerjaan itu, bukan upah yang kami terima melainkan jiwa kami hendak dicabut."

"Apa sebabnya ?"* tanya Sian-li pula.

"Tukang perahu itu merenung sejenak, katanya "Kemungkinan besar, peti2 itu tentu berupa harta permata yang tak ternilai harganya. Mereka hendak menyembunyikan di tempat ini. Karena takut rahasianya bocor maka aku dan saudara ini. sebagai orang yang tahu hal itu, harus dilenyapkan."

"Jika begitu, jelas peti itu tentu berisi harta yang tak halal mungkin dari hasil rampokan atau pencurian." kata Sian-li.

“Tahukah engkau tempat penyimpan peti itu,” tiba2 Blo’on bertanya. Kedua tukang perahu itu mengiakan. "Mari bawa aku kesana," kata Blo'on.

Mereka menuju kesebuah guha yang cukup rahasia tempatnya. Kedua pemilik perahu itupun disuruh menggali  lagi peti itu.

Ternyata keempat peti besar itu terbuat dari baja murni yang kokoh. Selelah menggunakan pedang pusaka Pek-liong- kiam, barulah Sian-li dapat membuka salah sebuah.

"Astaga , . !" teriak dara itu ketika melihat apa isi peti. Bermacam-macam emas permata yang berkilau-kilauan menyilaukan pandang mata, memenuhi peti. "Kiranya memang berisi harta permata yang begini hebat."

"Lalu yang ketiga peti itu ?" tanya Blo'on.

"Kurasa untuk sementara lebih baik jangan dibuka.

Tentulah isinya sama saja." kata Sian-li.

"Lalu hendak kita pengapakan peti itu ?" tanya Blo'on pula. "Harta permata itu entah siapa yang empunya" kata si dara.

"kita selidiki dulu. Apabila pemiliknya seorang hartawan yang baik hati. kita kembalikan kepadanya. Tetapi apabila milik kaum hartawan jahat atau pembesar2 yang korup, tak perlu dikembalikan".

"Lalu untuk apa ?" kata Blo'on pula.

"Kita gunakan untuk menolong rakyat miskin dan badan2 amal yang benar2 bekerja untuk kesejahteraan masyarakat".

"Ya, benar sumoay".

"Paman", tiba2 dara itu berkata kepada pemilik perahu, "ambillah mana yang engkau kehendaki. Setelah itu segera tanam lagi saja". "Tidak nona", kata pemilik perahu, "bahwa kau dan tuan ini sudah menolong jiwaku, kami dua saudara sudah merasa berterima kasih sekali. Mengapa harus mengambil barang yang bukan milik kita."

"Bagus, paman" seru Sian li, "aku tak minta balas budi kepadamu. Cukup asal engkau mau menyimpan rahasia tentang tempat penyimpanan harta ini. Agar jangan diketahui orang".

Kedua tukang perahu itu memberikan janjinya. Bahkan bersumpah.

"Begini, paman" kata Sian-li lebih lanjut, "walaupun si Mata Satu dan si Pendek sudah mati, tetapi rencana penyimpanan harta di guha ini tentu sudah diketahui juga oleh pimpinan mereka. Kurasa lebih baik kita pindahkan peti2 ini ke lain tempat.”

"Ya, benar nona" kata kedua pemilik perahu.

Sian li dan Blo'on membantu mengangkati keempat peti itu kelain tempat. Mereka mencari sebuah tempat yang sukar diketahui orang dan lalu menanam peti harta karun itu.

Baru mereka hendak beibangkit dari tempat penyimpanan peti2 itu, sekonyong-konyong Sian li menjerit kaget : "Mereka datang ... !"

Blo’on dan kedua pemilik perahupun cepat berpaling ke belakang. Ah, ternyata mereka sudah dikepung oleh sepuluh orang lelaki yang menghunus senjata.

Kedua pemilik perahu gemetar seperti orang kedinginan ketika tahu siapa pendatang2 itu.

"Ho, bagus, tukang perahu, ternyata engkau sekongkol dengan pembunuh untuk merampas peti itu !" seru salah seorang setengah tua. Seorang lelaki yang bermuka brewok dan kedua tangannya penuh bulu2 lebat.

Tukang perahu makin keras gemetarnya.

"Bilang, siapa yang membunuh Kim Seng dan Seng Hui itu

!" bentak si muka brewok dengan suara menggeledek sehingga kedua tukang perahu melonjak kaget.

"Aku !" tiba2 Blo'on maju selangkah di hadapan pemilik perahu.

"Engkau ?" si muka brewok rentangkan mata memandang Blo'on dari atas kepala sampai ujung kaki.

Karena dipandang begitu rupa, Blo'on ikut celingukan memandang kekanan kiri lalu memandang dirinya sendiri.

"Apa yang engkau cari ?" tegur Blo'on sesaat kemudian. "Gundulmu !" seru si muka brewok.

“Gundulku ?" kata Bloon seraya mengusap-usap kepalanya sendiri, "kenapa gundulku ?"

"Berapa banyak yang engkau miliki ?" "Sudah tentu hanya satu" seru Blo'on. "Benar ?”

"Benar." sahut Blo'on, "satu saja sudah tak dapat kupelihara masakan harus memelihara dua gundul, kan runyam nanti".

"Juga punya biji mata ?." tanya si brewok. "Sudah tentu punya".

"Berapa biji ?"

"Satu, dua ... dua biji". "Masih bisa melihat jelas ?" "Jelas sekali".

"Bisa melihat aku ini siapa ?"

“Engkau ? Ha. ha, sudah tentu dapat lihat jelas sekali. Engkau seorang manusia berbrewok dan rambut kribo seperti seekor singa.”

Sian-li tertawa mengikik. Dan andaikata takut kepada si brewok, tentulah kesembilan orang kawannya itu akan ikut tertawa gelak2 dengar jawaban Blo'on. Hanya muka mereka merah karena harus menahan tertawa.

Si Muka brewok merah padam tetapi pada lain saat ia tenang kembali : "Ya, bolehlah kau mengoceh untuk beberapa saat. Sebab kalau sudah menjadi mayat, tentulah mulutmu sudah bungkam"

"Ho, mengapa engkau marah ? Salahkah jawabanku ?" tanya Blo'on tanpa menyadari.

"Betapa lembar jiwa yang engkau miliki?,” tanya si muka brewok pula.

Blo'on merenung sejenak seperti orang tak mengingat sesuatu.

"Entah, tak tahu, Aku tak dapat melihat cobalah engkau periksa, berapa banyak jiwa yang aku miliki itu".

Si Muka Brewok ternganga. Apa yang dikatakan pemuda gundul itu memang benar. Ia sendiri tak pernah melihat.

"Hai, bagaimana, apakah engkau sendiri juga tak tahu?, Kalau tak tahu mengapa ditanya?”. Blo'on mengoceh.

"Umumnya orang hanya mempunyai selembar jiwa," terpaksa si muka brewok menjawab. "Siapa bilang ?" bantah Blo'on, "apakah engkau pernah melihat sendiri ?"

Si muka Brewok terlongong lagi.

"Kulihat engkau sudah setengah tua tetapi bicaramu seperti anak kecil. Kalau aku bilang mukamu brewok, engkau marah. Tetapi kalau orang bilang, jiwa setiap manusia itu hanya selembar, engkau percaya walaupun engkau tak pernah melihat. Engkau ini memang goblok."

Makin merahlah wajah si brewok karena didamprat Blo'on. "Memang    setiap    orang,    siapapun    tak    pernah lihat

bagaimana ujud jiwa itu. Tetapi bukankah engkau ini hidup?

Nah, mahluk yang hidup tentu berjiwa."

"Belum tentu, bung," ejek Blo'on "itu kan kata orang.

Mengaoa engkau menelan saja apa yang dikatakan orang ?" “Engkau ini orang hidup atau mati ?" teriak muka brewok. “Orang hidup."

"Itu berarti engkau mempunyai jiwa. Kalau tidak, bagaimana engkau dapat hidup?"

"Entah," Blo'on mengangkat bahu, "tahu2 aku sudah dilahirkan di dunia. Dari dulu ya begini, sekarang begini, besokpun begini. Aku dapat merasa dari dalam dadaku menghambur angin. Dan selama angin itu masih berjalan aku tetap hidup. Kedua kawanmu yang mati itu karena anginnya habis, mereka mati. Kalau engkau tanya tentang jiwa, aku tak punya karena tak pernah melihat jiwa itu. Tetapi kalau engkau tanyakan angin, ya, memang aku punya angin. Tiap hari tentu keluar melalui mulut dan hidung, ada kalanya juga dari pantat….”.

."Hi, hi, hi ..., .," Sian-li tertawa mengikik. "Jangan banyak mulut !", bentak si brewok yang merasa kalah bicara.

"Tidak, mulutku hanya satu!" Blo'on balas berteriak,

"Eh, engkau ini manusia waras atau gila,” akhirnya setelah beradu mulut beberapa timbul suatu kesan dalam hati si brewok.

"Engkau sendiri, bagaimana ?" balas Blo’on. "Aku orang waras."

"Hanya orang gila yang mengatakan aku gila. Kalau orang waras, tentu tidak "

"Toako, tak perlu banyak bicara dengan orang edan begitu, lebih baik lekas disatai saja”, tiba2 seorang lelaki gemuk berseru.

"Kurang ajar, engkau hendak menyatai aku? Pantasnya engkau yang bertubuh gemuk seperti babi bunting itulah yang harus disatai. “Satai babi memang enak rasanya, sayang disini tak ada kecap," seru Blo'on.

Si Gemuk marah sekali dan terus hendak loncat menerjang tetapi dicegah oleh si Muka brewok.

"Tunggu dulu, sute," katanya, "setelah jelas diketahui siapa mereka, barulah kita turun tangan. Masakan mereka dapat lari kemana ?"

"Engkaukah yang membunuh kedua kawanku?" tanya si brewok.

"Benar"

"Benar ?'' rupanya si brewok tak percaya bahwa seorang pemuda yang tampaknya blo'on mampu membunuh Ular- seribu-bisa Kim Seng dan Kura2 hitam Sun Hui yang sakti. "Masakan kalau tak membunuh, aku mau mengaku membunuh. Kalau tak percaya tanya saja pada kedua kawanmu yang mati itu.”

Muka Brewok terbeliak seperti orang hendak disambar kumbang.

"Mengapa engkau membunuh mereka ?" tanyanya.

"Karena si pendek hendak mengganggu sumoayku ini," kata Bblo'on seraya menunjuk Sian-li.

"O, kamu berdua ini suheng dan sumoay. Hai kamu, mengapa engkau bertempur dengan kawanku yang bertubuh pendek itu ?' seru si brewokan pada Sian-li.

"Dia jahat, karena hendak membunuh tukang perahu yang telah membantunya!" sahut Sian-li.

"Itu bukan urusanmu !" teriak si brewok "mengapa engkau ikut campur ?"

"Siapa bilang bukan urusanku ?" bantah Sian li. "Setiap kejahatan yang berlangsung didepan mataku tentu kuurus. Bahkan setiap orangp wajib untuk mengurus."

"Siapa engkau ini ? Mengapa engkau dan budak laki blo'on ini berada dipulau sini ?"

"Hai muka brewok, jangan bicara seenakmu sendiri,"  bentak Blo'on, "aku tanya padamu, Apakah blo'on itu hina ? Apakah blo’on itu suatu kejahatan ?"

"Tidak hina tetapi gila. Bukan kejahatan tetapi ke-bego-an

!”

"Hm, orang gila tidak tentu jahat, Tetapi orang yang

membunuh orang tak berdosa, itu baru jahat. Lebih baik jadi orang gila daripada jadi orang jahat!" bantah Blo'on. Mendengar pembicaraan yang tak lekas menuju sasarannya, si Gemuk menyelutuk : 'Budak gundul, siapakah sesungguhnya engkau ini? Hayo lekas bilang !"

"Kalau aku tak bilang ?" seru Blo'on. 'Engkau tentu kehilangan gundulmu"

"Wah, wah, sombong benar engkau babi gemuk,” seru Blo'on, "masa gundul orang hendak kau hilangkan".

“Oleh karena itu engkau harus bilang !" "Harus bilang bagaimana ?" tanya Blo'on. "Siapakah engkau ini ?"

"Engkau orang gila ! Masakan tak tahu aku apa? Aku kan sama dengan engkau seorang manusia. Hanya bedanya engkau seperti babi gemuk.”

“Sekali lagi kuperingatkan kepadamu budak,” seru si Gemuk dengan wajah merah, "jangan bicara ngaco belo seperti orang gila. Lekas jawab siapa namamu ?"

"Blo'on !"

"Itu bukan nama " bentak si Gemuk. "Nama !" balas Bloon.

"Engkau hendak mengolok aku !" "Aku tak sudi !"

Karena tak tahan lagi, si Gemuk terus loncat menerkam Blo'on. Ia mengira anak seblo'on itu, sekali terkam tentu dapat dibekuknya.

Tetapi diluar dugaan, karena terkejut dan marah, Blo'on dorongkan kedua tangannya untuk menolak. "Uh , ... mulut si Gemuk mendesis kejut ketika tubuhnya terlempar kebelakang sampai beberapa meter. Seorang anakbuahnya cepat berusaha untuk menyanggapi agar si Gemuk jangan terjerembab ketanah. Tetapi diluar dugaan tubuh Gemuk yang berat dan tenaga dorongan Blo’on yang luar biasa kuatnya telah menyeret orang2 ikut terdampar ke belakang.

“Bum ”

Si Gemuk hanya menjerit tetapi serentak pun dapat melonjak bangun. Tetapi orang lebih celaka. Dia jatuh lebih dulu ditanah, kepalanya sudah benjut, masih ditimpah oleh tubuh Gemuk yang berat. Seketika orang itu tak berkutik lagi.

Melihat si Brewok marah dan hendak menyerang Blo'on, Sian li cepat lintangkan pedang Pek-liong kiam menghadang.

"Berhenti " bentak si dara.

Ketika si Brewok hentikan gerakannya, Sian-li mendamprat : "Kalian memang manusia tak kenal aturan. Mengapa si Gemuk menyererang sukoku?"

"Karena sukomu mempermainkannya !.”

"Siapa yang mempermainkan ? Memang nama sukoku itu Blo'on. Kalau memang namanya gitu habis apakah disuruh bilang Babi gemuk?”.

Si Brewok tercengang.

"Blo'on itu namanya yang sungguh ?" katanya menegas. "Suko" seru Sian-li kepada Blo'on. "mereka tak percaya

namamu Blo'on."

"Peduli dengan mereka, sumoay, " seru Blo’on "mereka mau percaya boleh, tidakpun boleh". Si Brewok termangu mangu. Tetapi secepatnya ia menyadari bahwa saat itu kewajibannya yalah membereskan kedua anakmuda yang telah membunuh kedua teman mereka,

Kim Seng dan Sun Hui

"Baik" serunya, "engkau bernama Blo'on atau monyet aku tak mau mengurus. Pokok sebelum engkau mati, beritahukan dulu dari perguruan dan murid siapakah kalian ini ?"

"Aku tidak mempunyai guru, bukan hakmu nanya perguruan." sahut Blo'on.

"Hm, memang sudah kuduga" kata si Brewok "bahwa engkau tentu tak mau mengaku kalau tak dipaksa. Mungkin engkau belum tahu siapa diriku ini".

"Buat apa tahu namamu ?" seru Blo'on.

"Memang engkau lebih selamat tidak tahu, karena kalau tahu tentu engkau akan pingsan."

"Wah. wah" seru Blo'on "aku tak percaya mendengar namamu saja aku terus pingsan. Kalau percaya boleh coba"

“Aku adalah Algojo berdarah dingin Hun Ti siang-mo tangan kanan dari Cian-bin-long-kun (Manusia-seribu-muka) Buyung Kiong yang termasyhur di seluruh kota raja."

"Siapa sih Buyung Kiong itu?" seru Blo'on

"Engkau tak kenal dengan Buyung Kiong?”, seru Hun Tiong- mo. "dia adalah seorang yang paling kaya di kota raja. Pengaruhnya besar dalam istana."

"Apakah isi keempat peti itu ?" tiba2 Sian li menyelutuk. "Sebenarnya  hal  itu  suatu  rahasia  besar  yang  tak boleh

didengar orang" kata si brewok Hun Tiong-mo, "tetapi mengingat kalian dalam beberapa saat sudah pindah ke lain dunia, tak apalah, kan kuterangkan. Peti itu berisi harta besar milik Cian-bin long-kun Buyung Kiong kami diperintah untuk menanam disini."

"O…” seru Sian-li.

"Mengapa harus ditanam disini ?" tanya Blo’on.

"Bagus ternyata walaupun blo’on, engkau dapat mengajukan pertanyaan yang baik sekali,” seru Hun Tiong-mo. "Suasana kota raja sudah terancam. Sejak baginda Ing Lok gering (sakit) disana sudah mulai timbul perebutan kekuasaan, inilah sebabnya maka Cian-bin-long-kun bergegas menyelamatkan harta kekayaannya."

"Dari mana saja harta kekayaan yang begitu banyak itu ?" tanya Sian-li.

"Itu urusan Cian-bin long-kun !"

"Baik, kelak akan kucari manusia seribu muka itu dan akan kutanya dari mana dia memperoleh harta benda yang begitu besar," kata Blo’on.

"Sayang”, dengus Hun Tiong mo. "Apa yang sayang ?"

“Engkau segera pindah ke akhirat".

"Tidak bisa, eh, apakah akhirat itu ?" seru Blo’on pula. "Akhirat yalah tempat arwah orang2 yang mati”. "Tetepi aku belum ingin mati".

"Raja Akhirat sudah memanggilmu". "Kapan ?- tanya Blo'on. "Sekarang ini ... " Hun Tiong-mo menutup kata2nya dengan mengacungkan tangan dan berseru : "Hayo, tangkap setan gundul dan budak perempuan ini".

Belasan lelaki yang ikut dalam rombongan Tiong-mo segera berhamburan menyerang Blo’on serta Sian li.

Sian-li tak mau memberi ampun lagi. Segera mainkan pedang Pek-liong kiam dalam jurus hek liong jut-tong atau Naga hitam keluar dari gua.

Pedang Pek-liong-kiam segera berhamburan memancarkan sebuah lingkaran sinar putih yang menyilaukan.

Melihat itu anakbuah Hun Tiong-mo pun mencabut senjata masing2 dan menyerang si nona.

Tring, tring, tring .....

Terdengar teriak kejut diiring dengan ujung pedang, tombak berhamburan terbang ke udara karena terbabat oleh pedang Pek liong kiam.

"Pedang pusaka !" teriak orang2 itu. "Berhenti !" tiba2 B!o’on betteriak.

Sekalian orang terkejut dan berhenti. Mereka tak mengira bahwa pemuda semacam bloon dapat mengeluarkan suara teriakan yang jauh lebih dahsyat dari aum harimau.

"Siapa kepala dari orang2 ini ?" seru Bloon pula. Algojo hati-dingin Hun Tiong-mo menyahut. "Aku ! Mau apa engkau ?"

"Bukankah engkau hendak menangkap aku dan sun- moayku ?"

"Salah!"  "Salah ? Lalu hendak mengapa ?" tanya Blo’on. "Mencabut nyawamu !"

"Kurang ajar, ha, ha, ha," Blo'on tertawa. karena merasa

telah disengkelit dengan kata2 orang brewok itu, "Ya, boleh saja. Asal engkau mampu."

"Untuk mencabut nyawamu, lebih mudah dari membunuh seekor nyamuk," kata si brewok.

"Sekarang mari kita rundingkan hal itu,” kata Blo'on, "kita akan berkelahi serempak atau satu lawan satu."

"Bebas !" seru si brewok Hun tiong mo "Pakai senjata atau dengan tinju ?" "Bebas!' seru Hun Tiong-mo pula.

"Apanya yang bebas? Apakah brewokmu yang tumbuh kera ngantuk itu ?" seru Blo'on, "jelas kalau pakai senjata, orang- orangmu itu sudah menjerit-jerit ketakutan melihat pedang pusaka Sumoayku. Masih mulutmu sombong mau berkelahi bebas. Tidak, bung brewok. Lebih baik kita pakai tinju saja."

"Engkau menghendaki cara apa saja boleh, karena sebentar lagi engkau harus menghadap raja Akhirat !*

“Ya, jangan kuatir," kata Blo'on, "sekarang begini saja, tak perlu main silat, karena aku tidak bisa silat."

"Lalu pakai apa ?"

"Gigit-gitan saja. Engkau boleh menggigit aku dan akupun menggigitmu."

"Edan!" seru Hun Tiong-mo mendongkol, “Tidak sudi!" "Tendang menendang."

"Tidak!" ! "Sikap-menyikap ?" "Tidak !"

"Banting membanting ?"

"Tidaaak!" teriak Hun Tiong-mo jengke. "Habis bagaimana, coba engkau bilang ?" "Pukul memukul!" seru Hun Tiong-mo. "Berkelahi?"

"Ya."

"Engkau licik, kambing brewok!. Sudah bilang aku tak mengerti ilmusilat, masih menantang aku berkelahi. Tidak sudi

!”.

"Kalau begitu serahkan jiwamu saja !"

"Begini" kata Bloon. “Kita pukul-pukulan saja. Engkau boleh memukul aku tiga kali lalu aku memukulmu tiga kali juga".

"Boleh," serentak si brewok menyambut gembira. Ia yakin sekali pukul anak blo'on itu remuk tulangnya.

"Aku !" seru Hun Tiong mo. "Boleh" sahut Blo'on.

Habis berkata Blo'on terus berdiri tegak nunggu pukulan.

"Terimalah ... duk !" serentak Hun Tiong mo memukul. Tetapi kali ini dia hanya mengenakan lima bagian tenaganya. Pikirnya cukup dengan tenaga sebesar itu tentulah Blo’on sudah terjungkal.

Tetapi alangkah kejutnya ketika Blo'on diam saja.

"Duk ... " kali ini Hun Tiong mo memukul perut Blo'on dengan tenaga-dalam delapan bagian. "Aduh ... " Blo'on terhuyung selangkah ke belakang, Ia meringis tetapi tak sampai rubuh.

"Yang terakhir" Blo'on berseru ketika si brewok memukul dadanya.

Hun Tiong-mo bergelar Algojo-hati-dingin, karena terkenal ganas sekali. Ia tergolong seorang jago silat kelas satu.

Karena dua kali memukul tak mampu merubuhkan seorang pemuda blo'on, marahlah Hun Tiong mo. Kali ini ia menggunakan sepuluh bagian tenaganya. Jarang ia menggunakan tenaga sejauh itu kalau tak menghadapi seorang lawan yang tangguh.

Duk ....

“Ua ...ah ... terdengar dua buah jeritan kaget dari Blo'on dan Hun Tiong-mo. Blo'on terjungkal rubuh kebelakang tetapi Hun Tiong-mopun terlempar rubuh ke belakang. Dua2nya jatuh terbanting di tanah.

Makin keras pukulan si brewok Hun Tiong mendarat di dada Blo'on makin keras pula tenaga dalam Blo'on memancar. Selunak daging domba, sekeras keping baja. Demikianlah keanehan dari tubuh Blo'on yang memiliki sumber tenaga dalam isimewa Ji-ih cin-kang.

"Suko. apakah engkau terluka ?" buru2 Sian-li  menghampiri.

"Jangan kuatir, sumoay. Aku tak kena apa2 kucuali tumbuh sebulir telur di belakang kepalaku,” sahut Blo'on seraya mengusap-usap gundulnya.

“Sekarang giliranku kambing brewok !" seru Blo’on menghampiri ke muka Hun Tiong-mo yang saat itu juga sudah berdiri tetapi terlongong-longong. Rupanya ia tak habis mengerti mengapa pukulannya seperti membentur kulit baja yang dapat membal.

"Sekarang aku mau memukul!" Blo'on terus menampar muka si brewok.

Plak ….

Karena kasihan melihat si brewok terlongong- longong maka hanya pelahan saja blo'on menampar. Tetapi tamparan itu cukup membuat si brewok gelagapan.

"Dan ini yang kedua," kembali Blo'on ulurkan tangannya. Tetapi tidak memukul melainkan mencengkeram rambut brewok Hun Tiong-lalu ditariknya.

"Aduh.....!" Hun Tiong-mo menjerit kesakitan karena brewok pada pipi kirinya tercabut habis.

"Hi, hi, hi ... ," Sian li tertawa geli.

Termasuk si Gemuk dan delapan anakbuahnya, juga geli. Tetapi karena takut pada Hun Tiong-mo, maka terpaksa mereka hanya ngangakan mulut tetapi tak bersuara. Kalau toh bersuara, pun hanya terengah-engah seperti anjing habis lari

.,....

"Celaka !" teriak Blo'on seperti orang digigit anjing. “Mengapa, suko ?" seru Sian-li yang kaget.

"Rambut brewoknya ini terlalu pendek. Pikirku akan kupasang di kepalaku untuk pengganti rambut yang hilang ini," kata Blo'on menunduk ke arah kepalanya.

"Cabut lagi brewoknya yang kanan suko!" sidara yang juga senang berolok- olok.

"Hayo, bersiaplah lagi." seru Blo'on seraya maju ke hadapan Hun Tiong mo dan terus ulur tangannya ke muka orarg lagi. Karena mendongkol dan marah dibuat main2 Blo'on, Hun Tiong-mo terus ayunkan tangan untuk menabas tangan Blo'on. Karena tak menyangka orang akan berlaku curang, tangan Blo'on terhantam ke bawah dan menjeritlah ia : "Aduh

...... "

Tangan terhantam kebawah, tubuhpun ikut menjorok ke muka dan duk .......

"Auhhhh .....," Hun Tiong-mo menjerit ketika perutnya diseruduk kepala Blo'on. Ia rasakan seperti didorong oleh tenaga ribuan kati, dahsyat sehingga terjerembablah ia ke belakang. Kepalanya terbanting ke tanah. Darah berhamburan mengalir dari hidung dan mulut.

Rasa kejut telah membangkitlah tenaga dalam-sakti Ji ih cin kang dalam tubuh Blo'on. Gundulnyapun segera penuh dengan tenaga sakti. Benturan pada perut orang, membuat pekakas perut Hun Tiong mo berantakan, ditambah pula dengau terbanting ke tanah, pecahlah kepala Algojo hati dingin yang terkenal ganas itu.

Melihat itu si Gemuk marah sekali. Segera ia menyerang Blo’on seraya memberi perintah pada anakbuahnya.

Sebelum Sian-li sempat membantu Blo’on sudah diserang oleh sembilan orang jago2 silat. Mereka menggunakan tangan kosong karena senjatanya sudah kutung.

"Aduh , . aduh ... " teriak Blo'on sarta berusaha untuk menangkis hujan pukulan.

Walaupun kawanan pengeroyok itu terkejut karena setiap pukulan mereka serasa jatuh pada segumpal tubuh yang  keras namun masih menutupi kejutnya dengan berteriak-teriak

: “Amuk bangsat gundul ini … !" Bermula ngerilah Blo'on karena dikeroyok itu. Itulah sebabnya ia mengaduh-aduh berulang kali. Sesaat kemudian timbullah kemarahannya.

"Kurang ajar aku hendak disatai." Dia menggumam.

Kemudian ia marah dan membalas.

Dengan gerak asal bergerak dan asal memukul maka mengamuklah Blo'on. Bukan gerak tata-kelahinya yang seperti orang berjoged yang menyebabkan kawanan jago2 silat menjadi rubuh tetapi adalah tenaga sakti Ji-ih cin kang dalam tubuh Blo’on yang menyebabkannya, tenaga naga sakti itu bangkit karena dirangsang oleh kemarahan.

Sembilan jago silat yang termasuk orang2 yang menciutkan nyali penduduk kota raja. Saat itu menjerit-jerit dan susul menyusul terpelanting jatuh karena amukan Blo'on yang tak mengerti ilmu silat tetapi memiliki tenaga sakti Ji-ih cin-kang.

Dalam beberapa kejab, enam orang jago silat telah rubuh menggeletak di tanah. Kini hanya tinggal tiga orang termasuk si Gemuk.

Tangan-seribu buddha Kam Hok, demikian nama si gemuk itu juga seorang tokoh silat yang disegani orang. Walaupun bertubuh gemuk tetapi gerakannya amat gesit sekali. Dan sesuai dengan geIarannya, maka sepasang tangannya itupun laksana seribu tangan yang memburu tubuh Blo'on.

Tetapi Kam Hok benar2 terkejut dan bingung melihat lawannya, la tahu pasti bahwa gerak tangan Bloon itu tidak tergolong jurus ilmu pukul cabang persilatan manapun juga. Tetapi ia heran mengapa Blo'on mampu menghamburkan tenaga dalam yang sakti sekali. Bahkan lebih tinggi dari seorang jago silat kelas satu. Sian-li gembira sekali. Karena sudah mendengar keterangan orangtua penunggu istana Hay-im kiong maka ia tahu bahwa Blo'on memang memiliki tenaga sakti yang aneh.

"Si gemuk jangan dibunuh, suko !" seru Sian li "nanti kita sembelih untuk disatai babi".

"Tapi dia terus menyerang aku gencar sekali. Kalau aku diam, kepalaku bisa hancur!" Bloon bersungut- sungut.

"Kalau begitu....." baru Sian-li hendak memberi usul, tiba2 Blo'on menjerit: "Aduh..!

Karena sedang menangkis pukulan kedua orang anakbuah si gemuk, Blo'on tak memperhatikan kalau kaki si gemuk mendupaknya. Ujung kaki si gemuk Karn Hok bersarang pada lambung dan menjeritlah Blo'on karena rubuh ....

Melihat itu kedua orang tadi terus menerkam, aduh,. aduh.....

Saat iiu Blo'on menggeletak telentang di tanah.. Melihat dirinva hendak diterkam oleh lawan,, karena ingin membela diri, kedua kaki serempak ditendangkan. Tendangan itu tidak mengenai perut kedua orang.

Layang2 putus tali, demikian kiasan dari sebuah benda yang terlempar melayang-layang di udara. Demikian juga keadaan kedua orang temannya termakan tendangan Blo'on itu. Tubuh mereka melayang sampai lima enam tombak dan ....

terlemparlah mereka ke laut.

Tangan-seribu-budha Kain Hok terlongong-longong kesima melihat peristiwa itu. Hampir tak percaya apa yang disaksikan saat itu. Hek .... tahu2 ia rasakan lambungnya ditutuk sebuan jari dan seketika itu ia tak dapat berkutik, berdiri tegak seperu patung.

Blo'on tengel2 bangun lalu menghampiri kedapan si gemuk.

"Hai, babi gemuk, mengapa diam saja ?" teriaknya, "apa engkau sudah menyerah ?" "Bargsat gundul, sumoaymu curang!" si gemuk balas berteriak.

"Curang apa ?"

Kam Hok hanya tertutuk jalandarahnya yang membuat dia tak dapat bergerak. Tetapi dia masih dapat bicara, mendengar.

"Apa matamu buta ? Bukankah aku tak dapat bergerak karena ditutuk dari belakang oleh sumoaymu ?"

"O, engkau tak dapat bergerak ?" sambil berkata Blo'on mendorong tubuh si gemuk. Ia ingin membuktikan benarkah kata2Kam Hok itu.

Bluk.....

Kam Hok menjerit karena terjungkal kebelakang, telentang seperti patung rebah.

"Bangun !" teriak Blo'on.

"Bangsat engkau ! Jangan menyiksa aku begini. Kalau mau bunuh, bunuhlah !" Kam Hok marah.

"Ya, memang aku ingin makan satai-babi, tetapi sayang disini tak ada kecap. Tunggu saja setelah aku pergi dari sini dan membeli kecap,aku tentu akan kembali lagi untuk menyataimu."

Kemudian Blo'on berpaling : "Sumoay, engkau apakan orang gemuk ini ?" "Hi, hi," Sian-li tertawa, "dia memang keberatan sekali akan badannya. Tentulah dikota dia hidup mewah, tiap hari makan besar sehingga sampai gemuk seperti babi".

'O benar" seru Blo'on "lalu hendak kita apakan orang gemuk ini ? Apakah tetap hendak engkau sembelih untuk disatai ?"

Sian-li terlawa geli.

"Siapa sudi makan daging manusia sekotor itu?”.

"Eh, dia berkulit bersih, berpakaian bersih, masakan kotor

?" tanya Blo'on.

"Bukan kulit, bukan pula pakaiannya membuat orang itu bersih, suko" sahut Sian li tapi hati dan perbuatannya. Darimana dia makan enak tiap hari kalau tidak karena melakukan kejahatan. Memeras rakyat, menindas yang lemah, makanan yang diperolehnya dari perbuatan tak halal itulah yang menjadikan darahnya kotor menjijikan".

"Benarkah itu. sumoay?"

'Engkau tak percaya ?" tiba2 Sian-li hampiri ke tempat si Gemuk dan secepat kilat mengiris sebelah daun telinga orang itu.

"Aduh ... budak hina bunuhlah aku !” si gemuk menjerit- jerit kesakitan.

Tetapi Sian-li tak menghiraukan, katanya pada Blo'on : "Lihatlah suko, bukankah darahnya berwarna merah hitam ? Inilah tandanya mereka jahat".

"Ho. benar." seru Blo'on, "lalu bagaimana maksudmu ?" "Nona dan kongcu" tiba2 kedua tukang perahu tadi maju

kehadapan Sian-li, "orang itu jahat dan kejam sekali. Selama berlayar  dalam  perahu,  dia  suka  mabuk2an.  Sedikit  saja anakbuahnya salah, tentu ditempeleng. Bahkan kami berdua pun pernah merasakan tangannya. Maka lebih baik dibunuh saja. Kami sanggup untuk membunuhnya.”

"Jangan paman" kata Sian-li. "lebih baik kita berangkat. Tentulah paman tak keberatan apabila kami berdua numpang berlayar dalam perahu paman ?"

"Sudah tentu dengan segala senang hati, nona,” sahut pemilik perahu, "hendak menuju kemanakah nona ini ?"

"Ke kota raja"

"Baik, baik." kata pemilik perahu, "akan kami antarkan nona berdua kesana".

“Tetapi toako" tiba2 tukang perahu yang satunya membuka mulut, "bagaimana kalau kaki tangan Cian-bin long kun mengetahui kedatangan kita tampa membawa rombongan orang2 ini ?”

"Oh. ... " pemilik perahu yang lebih tua mendesus kaget dan terlongong-longong.

"Tak apa paman" kata Sian-li, "paman tak usah  melabuhkan perahu dipantai. Nanti kami berdua akan menggunakan perahu kecil untuk mencapai daratan "

"Kalau begitu, baiklah nona" seru kedua milik perahu itu gembira sekali.

"Lalu bagaimana dengan si gemuk ?" seru Blo'on. "Tinggalkan saja dia disini supaya mengobati orangnya

yang entah tertuka entah mati itu" sahut Sian-li.

"Tetapi sumoay, dia kan tak dapat bergerak. Bagaimana dia akan mengurus kawan-kawannya,” tanya Blo'on pula. “Dua tiga jam lagi, jalandarahnya yang tetutuk itu tentu akan terbuka sendiri. Dan saat dia sudah dapat bergerak biasa lagi".

"Bagaimana kalau dia dan kawan kawannya mengambil peti harta itu lagi ?” masih Blo'on bertanya.

"Suko," kata Sian-li tenang2 "engkau tahu binatang semut

?"

“Tahu"

"Tahu gula ?” "Sudah tentu.”

"Nah, mati semut karena gula."

"Apa maksudmu ?" tanya Blo'on heran.

"Itu suatu peribahasa, suko. Yang menerangkan bahwa

karena melihat gula, semut sampai lupa diri sehingga mati ditengah kecimpungan gula itu. Demikian pula dengan manusia. Mati manusia karena harta".

"O, si gemuk akan mati karena peti harta itu?”, tanya Blo'on.

"Tergantung nasibnya." kata Sian-li.

Demikian mereka segera naik perahu kecil untuk menuju keperahu besar. Dan sesuai dengan rencana, ketika pemilik perahu tak berani berlabuh di daratan maka Blo'on dan Sian-li naik perahu kecil menuju ke kotaraja Pak-khia.

"Bagaimanakah rencana kita, sumoay ?" tanya Blo'on dalam perjalanan.

"Di kotaraja kita mempunyai tujuan. Pertama kita menyelidiki siapakah Manusia seribu-muka Buyung Kiong itu. Kemudian yang kedua, kita laksanakan pesan orang tua dari istana di bawah laut, bahwa kitab pusaka To-liong-kiam-sut milik baginda Tio Kong In pendiri kerajaanSung berada di keraton. Kita dianjurkan untuk mengambil kitab pusaka itu"

"Wah, kalau begitu kita harus masuk istana,” kata Blo'on.

Demikianlah Blo'on. Walaupun ingatannya sudah lebih baik tetapi dia lupa sama sekali tentang peristiwa2 yang telah dialaminya sebelum tenggelam di istana bawah laut.

Dia lupa sama sekali bahwa dia pernah mempunyai dua orang kakek, kakek Lo Kun dan kakek Kerbau Putih.

Lupa juga dia akan cerita kakek Lo Kun bahwa dia adalah putera raja Ing Lok dan lagi ocehan dari kakek Lo Kun yang mengaku bekas kepala pengawal istana itu.

Pun lupalah Blo'on bahwa sebelum masuk ke istana bawah laut itu Sian-li itu mengaku sebagai seorang pemuda yang bernama Liok.

Kesemuanya itu tak teringat lagi oleh Blo’on. Yang diketahuinya adalah apa yang diberikan oleh Sian-li bahwa Blo’on itu adalah putra dari Kim Thian cong, pemimpin dunia persilatan yang telah mengundurkan diri dan beristirahat lewatkan sisa kehidupannya di puncak Giok-li.

"Sumoay. apakah di kotaraja itu terdapat raja?". "Ya."

"Bagaimana muka raja itu ?" “Entahlah, aku tak pernah melihat".

"Bagus sumoay" seru Blo'on gembira, kalau begitu kita cari saja raja itu . , ...

-oo0dw0oo- 
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Bloon Jilid 22 Kelelawar"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close