Pendekar Bloon Jilid 09 Iblis kembar

Mode Malam
Jilid 9 Iblis kembar

Sejenak kakek Lo Kira lupa akan dirinya yang berlumuran kotoran. Ia memandang paderi tua itu lekat-lekat.

"Uh . . uh . . “ tiba-tiba terdengar paderi kacung yang mengiring dibelakang paderi itu menguak tertahan terus mendekap mulut dan hidungnya.

Paderi tua itu juga menyeringai. Ia cepat hentikan pernapasannya untuk menolak hawa busuk yang luar biasa dari kotoran Lo Kun.

"Siapa namamu " tanya kakek Lo Kun. "Hui In," sahut paderi tua itu.

"Mana kepala gereja ini ?" kata kakek Lo Kun pula.

Karena harus menjawab, terpaksa paderi itu membuka pernapasannya lagi. Sebagai gantinya ia mendekap  hidungnya.

"Hui Gong suheng, kepala gereja Siau-lim-si sedang pergi," sahutnya.

"O, celaka," seru kakek Lo Kun, "lalu dengan siapa aku harus bertanya ?"'

"Bertanya apa ?"

"Penting, tetapi hanya kepada kepala gereja ini. Lain orang tak boleh tahu." "Adakah yang mengacau diruang sembahyang tadi juga lotiang ?" tanya Hui In taysu.

"Benar, karena kepala gundul yang disitu berani merintangi aku."

"Dan yang membubarkan barisan Pat-Kwa-tin dari ke delapan paderi kecil itu juga rombongan lotiang ?"

"Ya, anak-anak gundul itu tak tahu adat. paksa  kami hajar."

"Yang membuyarkan barisan Lo-han-tin juga rombongan lotiang ?" tanya Hui In taysu pula.

"Siapa lagi !"'

Diam-Diam Hui ln taysu terkejut. Pat-kwa-tin dan Lo-han-tin merupakan barisan penjaga Siau-lim-si yang paling dapat diandalkan. Bahwa kedua barisan itu telah bobol, jelas menandakan kalau rombongan tetamu itu tentu sakti. Tetapi kala ia memperhatikan keadaan kakek pendek yang berdiri di hadapannya, Hui ln agak heran-heran sangsi. Masakan kakek aneh yang tampak ketolol-tololan itu memiliki kepandaian  yang sedemikian saktinya.

Hui In taysu mempunyai rencana hendak menguji kesaktian tetamu pendek itu. Tetapi ia tak tahan menderita bau busuk dari tubuh kakek Lo Kun.

"Mengapa baumu begitu busuk ?" akhirnya Hui Ih berseru. "O, benar," serta mendengar teguran itu teringatlah kakek

Lo Kun akan keadaan dirinya yang berlumuran kotoran itu, "hayo, tunjukkanlah dimana kamar mandi gereja ini !"

"Untuk apa ?” tanya Hui In heran. "Tadi perutku mulas dan aku hendak buang hajat tetapi barisan kepala gundul itu menghalangi malah terus menyerang. Lama-Lama aku tak tahan perutku terus meletus, celanaku berlumuran kotoran begini. Hm, memang kalian kepala gundul ini kejam dan tak tahu adat Masakan orang kebelet buang hajat malah diajak berkelahi !"

Hui In taysu cepat dapat mengetahui bahwa kakek yang berhadapan dengan dia saat itu, seorang kakek limbung. Kakek yang tak waras pikirannya. Melihat gerak gerik dan ucapan si kakek, Hui In diam-diam geli juga.

"Hayo. lekas tunjukkan, aduh. . perutku mulai mulas lagi !" kakek Lo Kun menjerit jerit seraya mendekap perut.

Hui ln taysu geleng-geleng kepala dan segera menyuruh kedua paderi kecil mengantarkan kakek itu kebelakang.

Tepat kakek Lo Kun pergi maka datanglah kakek Kerbau Putih dan Blo'on, diiring oleh burung rajawali, anjing dan monyet hitam. Hui In taysu terkesiap.

"Adakah lotiang dan sicu ini rombongan lotiang yang tadi ?" tegur Hui In taysu.

"Ya, dan engkau ini siapa ?" kakek Kerbau Putih balas bertanya.

Hui In taysu segera memberitahukan diri

"Apa kata kakek pendek tadi kepadamu" tanya kakek Kerbau Putih pula.

"Dia mengatakan hendak menjumpai ketua gereja. Tetapi ketua gereja kami sedang pergi. Yang ada hanyalah wakilnya."

"Kalau begitu antarkan kami kepadanya,”seru kakek Kerbau Putih Walaupun nada dan sikap kakek bungkuk itu kasar, tetapi karena tahu kalau dia itu seorang kakek limbung maka Hui In pun menahan sabar Ia terus hendak melangkah.

"Tunggu !” tiba-tiba Blo'on berteriak, "mana kakek pendek yang tadi ?"

"Perutnya sakit, dia buang hajat kebelakang," terpaksa Hui In taysu memberi keterangan.

Demikian rombongan Bloon segera dibawa keruang Tat-mo wan, sebuah paseban tempat bermusyawarah dari Siau-lim si. Ternyata saat itu di ruang Tat-mo-wan sedang dilangsungkan permusyawaraban besar dari para pimpinan gereja.

Empat paderi tertinggi dari paderi Siau-lim-si yang memakai gelar Hui, Goan, Peh dan Thian, lengkap berkumpul di ruang Tat-mo-wan untuk bermusyawarah.

Siau-lim-si menerima sepucuk surat yang ditanda-tangani oleh seorang yang menyebut dirinya Kim Thian-cong. Meminta Supaya Siau-lim-si meleburkan diri kedalam partai baru Seng- lian-kau atau Teratai Suci. Sebuah partai perkumpulan agama yang memuja agama Hud-kau atau Buddha aliran Mahayana.

Kepala gereja Siau-lim-si hanya diberi dua pilihan. Menolak dan akan dihancurkan atau menurut dan selamat.

Ada dua hal yang mengejutkan para paderi pimpinan Siau- lim-si itu. Pertama, penulis surat itu menyebut dirinya Kim Thian-cong. Pada hal jelas Kim Thian-cong sudah meninggal.

"Hal ini jelas tentu palsu, "Hui Liang taysu, wakil kepala gereja Siau-lim-si yang memimpin rapat itu memberi kesimpulan.

"Memang kalau dilihat sepintas, orang itu tentu menggunakan nama Kim Thian-cong yang sudah mati itu untuk menggertak kita," kata Hui lo taysu, "tetapi hilangnya jenazah Kim tayhiap Itu memang aneh dan mencurigaKan."

"Sute maksudkan kalau Kim tayhiap belum tentu meninggal sungguh-sungguh ?" tanya Hui liang taysu.

"Ada suatu kecenderungan untuk menduga begitu karena maklum mungkin dalam sejarah kehidupan Kim tayhiap yang lalu, penuh dengan peristiwa berdarah. UntuK menyingkirkan diri dari ancaman-ancaman musuh yang setiap saat akan datang menuntut balas, dia lalu menggunakan siasat meninggal dunia. Kemudian dia menghilang dan timbul lagi sebagai Kim Thian-cong baru, mendirikan partai Seng-lian- kau."

"Kemungkinan itu memang dapat terjadi," sambut Hui Liang taysu. "dunia persilatan memang penuh dengan peristiwa- peristiwa yang aneh dan tokoh-tokoh persilatan itu memang amat licin."

"Tetapi suheng." tiba-tiba Hui Sin taysu, sute ke empat dari tingkat Hui, menyanggah, "kurasa hal itu tidak mungkin. Pertama, kalau memang Kim tayhiap mempunyai rencana demikian, dia tentu akan berganti nama dan takkan memakai nama Kim Thian cong lagi. Kedua, menurut keterangan Hui Gong ciang bunjin yang lalu, penyimpanan jenazah Kim tayhiap disebuah ruang rahasia itu, adalah atas perundingan dari beberapa ketua partai persilatan. Tentulah sebelumnya, Kim tayhiap tak pernah menduga bahwa hal itu akan terjadi. Ketiga, andaikata jenazah Kim tayhiap tetap ditempatkan dalam peti jenazah dan ditaruh di ruang sembahyang, apakah dia dapat hidup kembali ?"

Sanggahan dari Hui Sin taysu itu membuat sekalian paderi yang hampir terpengaruh oleh kata-kata Hui Ko taysu, tersadar dan membenarkan sanggahan itu. "Ah, janganlah kita lupa akan sifat-sifat orang persilatan yang licin dan penuh siasat," kata Hui Ko taysu, "bisa saja misalnya, Kim tayhiap mencari seseorang untuk menjadi mayatnya. Kalau mayat itu tetap ditaruh dalam peti dan ditempatkan didepan ruang sembahyang, Kim tayhiap tetap akan dapat muncul lagi. Dan bila terjadi mayat itu disimpan dalam kamar rahasia, bisa saja Kim tayhiap yang mengambilnya untuk menghilangkan jejak."

"Ah, sute terlalu memikir jauh," kata Hui Liang taysu, "tetapi menurut hematku, Kim Thian-cong yang sekarang ini tentu palsu. Tentu seorang tokoh lain yang hendak menggunakan ketenaran dan kewibawaan Kim tayhiap untuk menguasai partai-partai persilatan."

'Tetapi suheng," masih Hui Ko taysu menyanggah, "kalau dia memang mempunyai rencana mendirikan partai persilatan baru, mengapa dia harus menggunakan nama Kim tayhiap? Bukankah tanpa nama itu dia dapat juga mendirikannya? Dan bukankah dengan menggunakan nama Kim tayhiap itu, mudah menimbulkan kecurigaan kaum persilatan karena semua kaum persilatan sudah mengetahui jelas bahwa Kim tayhiap telah meninggal setengah tahun yang lalu ?"

Hui Liang taysu tertawa : "Hal itu memang membingungkan seperti halnya dengan hilangnya jenazah Kim tayhiap !"

"Suheng," kata Hui Sin taysu. "adakah lain-lain partai persilatan juga menerima surat semacam itu?”

Hui Liang taysu menjawab: "Sepanjang yang kita ketahui, baru sebuah partai yang diobrak-abrik. Entah dengan lain-lain partai persilatan. Memang sebaiknya kita mengadakan hubungan dengan mereka agar dapat kita atur suatu langkah yang seragam menghadapi musuh itu." Dalam pada bicara itu masuklah Hui In taysu memberi laporan tentang rombongan Blo'on yang hendak menghadap kepala gereja Siau-lim-si.

"Siapakah mereka?" tanya Hui Liang taysu.

"Entah." sahut Hui In, "mereka terdiri dari seorang anakmuda dan dua orang kakek."

"Apakah sute tak menanyakan nama mereka dan keperluan mereka datang kemari ?"

"Sudah," sahut Hui In taysu, "tetapi tampaknya ketiga orang itu orang-orang yang limbung, Mereka tak mau menjawab pertanyaanku kecuali setelah nanti bertemu dengan suheng. Tadi di ruang sembahyang mereka telah berkelahi dengan Ti-kek ceng karena melarang mereka masuk. Setelah mengalahkan Ti-kek-ceng, merekapun dikepung barisan to- thong Pat-kwa-tin, tetapi mereka menang. Terakhir mereka dihadang barisan Lo-han-tin ternyata Lo-han-tin kewalahan dan bubar."

"Apa?" Hui Liang taysu berseru kaget. Demikian pula dengan para paderi tingkat tinggi yang hadir dalam ruangan itu.

"O. kalau begitu harap sute membawa aku kepada mereka," kata Hui Liang taysu. Setelah menunda permusyawarahan, Hui Liang taysu segera mengikuti Hui In taysu keluar ke paseban.

"Omitohud," seru Hui Liang taysu seraya rangkapkan kedua tangan memberi hormat, "mari silahkan iotiang dan sicu masuk."

Mereka duduk di paseban. Setelah itu maka Hui Liang taysu lalu membuka psmbicaraan. Pertama-tama ia menanyakan nama dari kedua tetamunya itu. "Namaku ?" kata kakek Kerbau Putih, "cukup panggil saja Kerbau Putih."

Wakil kepala gereja Siau-lim-si terkesiap, serunya : "Ah, harap lotiang jangan bergurau. Aku menanyakan siapa nama dan gelaran lotiang yang mulai."

"Ya, benar." kata kakek Kerbau Putih dengan nada bersungguh, "memang orang-orang menyebut aku kakek Kerbau Putih. Dan aku senang juga dengan nama itu."

"Tetapi bukankah lotiang mempunyai nama sendiri ?" Hui Liang mengulang.

"Mungkin ada, tetapi sudah lama tak kupakai, Eh, apakah engkau keberatan kalau aku memakai nama itu ?”

Karena sebelumnya sudah diberitahu oleh Hui In taysu bahwa rombongan tetamu itu memang aneh dan agak kurang waras pikirannya, maka Hui Liang taysupun tak mau meladeni. Ia tertawa: O, maaf, lotiang, silahkan lotiang memakai nama itu."

Setelah itu wakil ketua Siau-lim si beralih tanya kepada Blo’on.

"Akupun juga mengalami kesulitan seperti kakek Kerbau Putih ini. Aku sendiri juga tak ingat siapakah namaku dulu. Menurut Somali, aku ini putera raja. Tetapi aku lupa bertanya kepadanya siapakah namaku sebagai putera raja itu. Tetapi sebelum bertemu dengan Somali, seorang gadis cantik dari Hoa-san-pay telah memberi nama Blo'on kepadaku. Aku suka juga dan terus memakai nama itu." dengan panjang lebar Blo’on menjawab pertanyaan.

Hui Liang taysu melongo. Ia tak mengerti apa yang dikatakan anakmuda itu. Siapakah Somali, siapakah gadis dari Hoa-san-pay. Dan yang paling mengherankan mengapa anakmuda itu juga tidak waras pikirannya. Masakan namanya sendiri, tak tahu !

"Jadi nama sicu siapa ?" ia mengulang. "Blo’on !"

"Ah, itu bukan nama. Itu hanya sebuah gelar yang diberikan orang kepala sicu."

"Lho. biar gelar sekalipun tetapi bagus sekali. Coba engkau pikir dan cari. Apakah di dunia ini terdapat orang yang bernama Blo'on. Mungkin hanya aku satu-satunya orang yang memakai itu. Aku tidak malu tetapi malah merasa bangga.”

Hui Liang taysu menghela napas "Ah, terserah kepada sicu soal nama itu. Lalu apakah maksud tujuan sicu hendak bertemu dengan ketua gereja ini ?"

"Apakah engkau berhak menjawab ?"

"Ya, aku adalah wakil kepala gereja Siau lim si ini. Karena hong-tiang tak ada, maka segala urusan Siau-lim-si, akulah yang bertanggung jawab."

"Hm, baiklah," kata Blo'on kemudian meminta kepada kakek Kerbau Putih supaya kakek itu saja yang mengatakan.

"Sederhana sekali pertanyaan itu," kata kakek Kerbau Putih, "apakah engkau tahu tentang partai agama Pek-lian-kau ?"

"Pek-lian-kau ?" Hui Liang taysu terkesiap, "bukankah partai itu sudah lama bubar ketika diserang oleh partai-partai persilatan dahulu ?"

"Entah, aku tak tahu," kakek Kerbau Putih berkata, "apakah partai Pek-lian-kau itu sekarang masih ada ?"

"Sudah bubar" "Di mana markasnya dahulu ?" "Di lembah gunung Hong-san."

'"Siapakah pcinimpin Pek-lian-kau itu ?"

"Dahulu pemimpinnya bernama The Seng-kim Tetapi dalam pertempuran dengan beberapa partai persilatan, dia sudah terbunuh."

"Hm, kalau begiiu partai Pek-lian-kau itu sudah lenyap." "Benar," sahut Hui Liang taysu.

"Tetapi mengapa Ko lo lojin (tengkorak tua) suruh aku menyelidiki partai Pek-lian-kau ?" tiba-tiba Blo on menyelutuk.

"Siapakah Ko Lo lojin itu ?" tanya Hui Liang heran.

"Sesosok tengkorak yang meninggal dalam sebuah guha didalam perut gunung. Dan aku sudah terlanjur berjanji untuk melakukan pesannya. Lalu bagaimana ini ?" kata Blo'on.

Hui Liang taysu tertawa : 'Sudah tentu sicu bebas dari pesan itu. Karena partai agama itu sudah bubar."

"Tidak !" teriak Blo'on, "kalau begitu aku tentu dianggap ingkar janji. Biar bagaimana aku! harus mencari partai Pek- lian-kau itu !'"

"Wah, sukar," kata Hui Liang taysu.

"Apa ? Sukar? Ha, ha." tiba-tiba kakek Kerbau Putih menyelutuk tertawa, "siapa bilang sukar ? Di dunia tidak ada hal yang sukar kecuali orang mati yang mengatakan begitu."

"Benar," seru Blo'on, "kita bukan orang mati dan memang tak mau mati. Kalau memang pernah ada perkumpulan yang bernama Pek-lian-kau, kita tentu dapat mencarinya !"

Hui Liang taysu melongo lalu menghela napas: "Omitohud ! Semoga maksud sicu terkabul ..."

Baru wakil kepala gereja Siau-lim-si itu berkata sampai disitu. tiba-tiba seorang paderi muda masuk kedalarn paseban dengan tergopoh-gopoh.

"Hatur beritahu kepada taysu, bahwa di ruang tetamu, datang seorang tetamu yang hendak menghadap hong-tiang." serunya agak terengah.

Heran Hong Liang taysu melihat sikap dan bicara paderi muda yang diketahui sebagai penjaga ruang tetamu, tegurnya: "Mengapa engkau tampak begitu gugup ?"

"Tetamu itu amat bengis. Tecu (murid) telah dipukulnya." kata paderi muda.

Hui Liang taysu terkejut tetapi sebagai seorang paderi yang berilmu tinggi, dia memang amat sabar dan dapat mengendalikan perasaan.

'"O, mengapa dia memukulmu ?" tegurnya.

"Tecu memberi keterangan bahwa hongtiang ciangbunjin dari gereja ini, tak berada dalam gereja karena sedang bepergian. Tetapi dia tak percaya dan terus memukul."

"Beng Hwat, apakah engkau tak mampu menghindar dari pukulannya sehingga mukamu sampai semerah itu?" tegur Hui Liang taysu. Dia cepat dapat mengetahui bahwa sebelah pipi paderi muda itu bengap merah.

Makin merah wajah paderi muda itu: "Tecu tak menyangka bahwa dia sebengis itu. Tetapi menang dia dapat bergerak cepat sekali. Setelah menampar dia terus mencekik tecu, memaksa tecu lekas mengundang hongtian keluar." '

"Engkau tak dapat melepaskan diri dari cekikannya ?" "Maaf, taysu, tecu benar-benar tak berdaya dan merasa tenaga tecu telah hilang ketika tangan orang itu mencekik leher tecu ..."

"Lalu ?"

"Tecu tetap berkeras mengatakan bahwa hongtiang memang tak ada. Kalau mau bunuh, silahkan bunuh. Rupanya orang itu percaya setelah melihat kesungguhan tecu. Lalu dia suruh tecu mengundang wakil hongtiang yang bertanggung jawab atas gereja ini"

"Bagaimanakah perawakan tetamu itu ?" tanya Hui Liang taysu pula.

"Seorang lelaki setengah tua, lebih kurang berumur 50-an tahun. Wajah bersih dan semasa mudanya tentu amat cakap. Menilik orangnya, tecu tak menyangka kalau dia begitu ganas."

"Adakah engkau tak menanyakan apa keperluannya mencari hongtiang ?"

"Sudah," sahut Beng Hwat, "tetapi dia malah membentak tecu supaya jangan banyak mulut dan lekas mengundang taysu keluar."

"Omitohud," Hui Liang taysu berseru, "sejak toa-suheng hongtiang pergi, gereja selalu mengalami beberapa peristiwa yang aneh. Baik, aku Segera akan menjumpahinya."

Tiba-tiba wakil kepala gereja itu berpaling kepada kakek Kerbau Putih: "Adakah tetamu itu rombongan lo-tiang ?"

"Bukan" sahut kakek Kerbau Putih, "aku tak mempunyai kawan yang semacam itu." "Taysu, silahkan taysu menyambut tetamu itu," tiba-tiba Blo'on berkata. Kini ia dapat menyebut "taysu", karena menirukan panggilan yang digunakan paderi Beng Hwat tadi.

"Lalu bagaimana sieu dan lotiang ?"

"Aku juga akan ikut keluar untuk melihat siapa tetamu itu," seru kakek Kerbau Putih.

"Benar, aku juga tak puas dengan tetamu yang begitu kasar," kata Blo'on "tetamu harus sopan, mengapa dia berani memukul tuan rumah."

Diam-Diam Hui Liang geli dan mengkal terhadap anakmuda itu. Bukankah tadi rombongan anakmuda itu juga membuat gaduh dengan para murid-murid gereja ? Mengapa sekarang dia pura-pura tak puas terhadap seorang tetamu yang begitu ?

Hui Liang taysu lebih dulu kembali keruang Tat-mo-wan untuk memberi tahu kepada para sutenya yang masih menunggu.

"Kalau begitu, aku ikut suheng." kata Hui ln taysu, sute kelima dan Hui Liang taysu.

"Baiklah," kata Hui Liang taysu, "harap sute yang lain suka tinggal di ruang ini dan bertukar pendapat mengenai soal-soal yang kita hadapi tadi."

"Omitohud, maaf kalau aku membuat sicu menunggu agak lama," kata Hui Liang taysu setelah berhadapan dengan tetamu yang hendak mencari hongtiang Siau-lim-si.

"Tak apa," sahut orang itu dengan dingin, "adakah engkau ini wakil kepala gereja ini ?"

"Demikianlah," sahut Hui Liang dengan penuh kesabaran walaupun melihat sikap tetamu itu begitu angkuh, "siapakah nama sicu yang mulia dan dengan maksud apakah sicu  hendak menjumpahi hongtiang kami ?"

"Benarkah kepala gereja sedang pergi ?" bukan menjawab, tetamu itu malah berbalik tanya.

"Benar," sahut Hui Liang taysu, "sudah setengah tahun yang lalu Hui Gong suheng pergi mengurus suatu persoalan,"

"Baik, kalau begitu aku dapat menyerahkan urusan ini kepadamu " kata tetamu itu sambil mengeluarkan sepucuk sampul, "terimalah surat ini dan berikan kepada kepala gereja."

"Surat apakah ini ?" tanya Hui Liang taysu. "Undangan dari kaucu kami."

"Siapa ?"

"Kim Thian-cong kaucu dari Seng-lian-kau."

"O." Hui Liang taysu terkejut sehingga menyurut mundur selangkah, "tetapi , . . bukankah Kim tayhiap sudah meninggal dunia ?"

"Paderi Siau-lim-si." seru orang itu dengan nada memberingas, 'jangan sembarang berkata siapa bilang kalau Kim kaucu sudah meninggal”

"Tetapi setiap orang persilatan tahu hal itu karena kami seluruh kaum nersilatan, datang menghadiri upacara penguburan Kim tayhiap," kata Hui Liang taysu pula.

"Ah, engkau benar-benar paderi tolol, "ejek orang itu, "dan memang orang-orang persilatan itu goblok semua. Yang mati dan dikubur itu bukan Kim kaucu tetapi lain orang !" "Omitohud!" seru Hui Liang taysu terkejut. diam-diam ia teringat akan sanggahan sutenya, Hui Ko taysu tadi. Namun ia masih meminta penegasan “Benarkah hal itu ?"

Tetamu itu tertawa dingin: "Perlu apa aku membohongi engkau? Jika tak percaya, kelak dalam rapat besar di gunung Hoa-san, kalian tentu dapat menyaksikan sendiri."

"Gunung Hoa-san ?" kembali wakil kepala Siau-lim-si itu terbeliak kaget, "bukankah digunung itu terdapat perguruan Hoa-san-pay ?"

"Hm," orang itu mendengus, "Hoa-san-pay sudah bubar berantakan. Markas mereka sekarang dipakai oleh Seng-lian- kau."

"Oh, ..." Hui Liang taysu menghela napas seraya rangkapkan kedua tangan ke dada Sebagai tanda ikut bersedih atas peristiwa yang menimpa partai Hoa-san-pay itu. "jadi Hoa-san-pay sudah hancur ?"

Orang itu tertawa iblis : "Sudah dihancurkan Yang menentang dibunuh, yang menyerah dijadikan anakbuah dan yang melarikan diri tetap akan dicari."

"Apa ? Hoa-san-pay sudah hancur ?" tiba-tiba Blo'on berteriak, "lalu bagaimana dengan keempat kakek dari perguruan itu ?”

"Engkau siapa !" bentak orang itu seraya memandang bengis kepada Blo'on, "apakah engkau ini murid Hoa-san- pay."

Melihat sikap dan bicara orang itu, Blo'on memang tak senang. Sekarang dia malah dibentak seperti anak kecil. Maka marahlah Blo'on : "Aku murid Hoa-san-pay atau bukan, apa pedulimu ?" "Ho. budak liar, engkau berani kurang ajar kepadaku !" tiba-tiba orang itu terus ayunkan tangannya memukul.

Buk . . . dia bergerak cepat tetapi kakek Kerbau Putih lebih cepat lagi. Kakek itu menangkis pukulan orang itu dengan daging benjol pada punggungnya. Pukulan jatuh ketempat yang lunak macam gumpalan kapas sehingga tenaga pukulan itupun lenyap.

Orang itu terkejut. Cepat ia menarik pulang tenaganya.

Uh . . ia berhasil tetapi tubuhnya gemetar karena hampir saja ia terdorong kebelakang oleh gelombang tenaga-dalam yang memantul dari daging benjul kakek bungkuk itu.

"Ho, jangan main pukul seperti raja. Kalau bicara pakai mulut saja, jangan pakai tangan!' kakek Kerbau Putih deliki mata kepada orang itu.

Rupanya orang itu berilmu tinggi. Ia segera menyadari bahwa kakek bungkuk itu seorang kakek yang sakti. Namun ia sudah terlanjur turun tangan dan disaksikan oleh wakil kepala Siau-lim-si. Apabila dalam gebrak itu, ia kalah, tentulah akan dipandang hina oleh paderi-paderi Siau-lim-si.

"Setan bungkuk, apa engkau sudah bosan hidup !" teriaknya seraya mengangkat tangan hendak memukul.

"Omitohud !" seru Hui Liang taysu, "harap sicu jangan berkelahi dulu. Mari kita selesaikan urusan kita."

"Hm, rupanya engkau telah mendatangkan beberapa jagoan untuk memperkuat diri, bukan ?" seru orang itu mengejek.

"Sicu salah faham," kata Hui Liang taysu dengan tetap sabar, "mereka sama sekali bukan orang undangan gereja Siau-lim-si. Mereka juga tetamu seperti sicu." "Apakah isi surat undangan yang sicu bawa ini ?" tanya Hui Liang taysu pula.

"Kim kaucu mengundang seluruh partai-partai persilatan supaya menghadiri rapat besar dunia persilatan yang akan dise!enggarakan nanti bulan delapan tanggal limabelas di puncak Hoa-san." kata orang itu.

"Dergan tujuan ?"

"Supaya partai-partai persilatan itu meleburkan diri masuk kadalam partai Seng-han-kau. Kini kaucu menganggap, kekacauan dan kehebohan dalam dunia persilatan ini adalah disebabkan karena terlalu banyak partai persilatan. Dan karena itu, masing-masing partai hendak menonjolkan diri untuk merebut kekuasaan dan pengaruh. Kalau bisa hendak menjadi pemimpin dunia persilatan."

Orang itu berhenti sejenak lalu melanjutkan lagi : "Maka Kim kaucu memutuskan untuk mempersatukan semua partai persilatan. Aliran ilmusilat mereka pun akan dilebur menjadi satu aliran ilmusilat saja. Dengan demikian pastilah dunia persilatan akan aman dan tenteram."

"Omitohud," seru Hui Liang taysu pula, "manusia memang tak kunjung puas. Dan kepuasan itu memang tak kenal ujung akhirnya. Hanya kesadaran dari sinar agama yang dapat menyadarkan batin manusia."

"Seng-lian-kau juga akan menjadi wadah untuk menampung pengembangan agama. Teratai Suci akan merupakan aliran agama yang aseli dari Budha. Takkan tercampur dengan aliran-aliran To-kau (faham Tao) dan lain- lain agama hitam," kata orang itu pula. "Tetapi menurut fahamku. Kepercayaan itu harus tumbuh dari kesadaran sendiri. Tidak bisa dipaksa. Agama sendiri melarang untuk menggunakan kekerasan memaksa orang ..."

"Paderi tua," tukas orang itu, "aku kemari bukan hendak mendengarkan khotbahmu tetapi hendak menyerahkan undangan. Jika engkau membangkang datang, gereja Siau- lim-si yang sudah berdiri ratusan tahun ini pasti akan ludas menjadi abu”

"Omitohud " Hui Liang taysu menekan kemarahannya dengan menyebut doa keagamaan, "tetapi hongtiang sedang pergi. entah apakah dia nanti sudah pulang pada waktunya tanggal undangan itu.”

"Sekarang baru bulan enam, jadi masih kurang dua bulan lagi," kata orang itu.

"Andaikata hongtiang tetap belum pulang ?” seru Hui Liang taysu.

"Engkaulah yang harus mengambil keputusan " kata orang itu dengan tegas.

"Tetapi aku tak mempunyai kekuasaan untuk memutuskan soal sebesar itu."

"Itu urusanmu, paderi tua, kata orang itu, "pokoknya Kim kaucu hanya tahu bahwa pihak Siau-lim-si hadir dalam rapat besar itu."

"Apakah nama perkumpulan baru yang engkau dirikan itu ?” tanya Blo'on menyelutuk pertanyaan.

"Tutup mulutmu !" bentak orang itu dengan bengis, "ini bukan urusanmu, tak perlu engkau ikut campur." Blo'on mendongkol tetapi dia tak dapat membantah. Adalah kakek Kerbau Putih yang tak puas melihat sikap orang yang begitu galak, serunya : "Kalau aku ikut campur, bagaimana ?"

Orang itu memandang kakek Kerbau Putih dengan tajam. Ia tahu kakek bungkuk itu memang memiliki kepandaian tinggi, la tak mau cari perkara dengan kakek itu tetapi karena kakek itu bersikap menantang, terpaksa ia menjawab getas juga: "Artinya mgkau sudah bosan hidup "

"Benar !" tiba-tiba kakek Kerbau Putihi, berteriak, "memang aku merasa sudah terlalu lama hidup dalam dunia ini. Aku sudah bosan, tetapi akui sendiri heran mengapa aku tak dapat mati.Eh, apakah engkau dapat membunuhku ?"

"Kalau engkau memang menghendaki begitu, tentu saja aku dapat," kata orang itu, "dan kalau engkau benar-benar minta mati, engkau harus diam saja kalau kupukul."

"Dengan apa engkau hendak memukul ?"

Rupanya orang itu terbawa oleh kelimbungan kakek Kerbau Putih, ia berseru : "Cukup dengan tinjuku ini sajalah, jiwamu tentu sudah amblas."

"Bagus !" seru kakek Kerbau Putih itu terus berputar tubuh membelakangi, "hayo, pukullah aku supaya mati."

Orang itu terkejut. Ia tahu bahwa daging benjul yang menggunduk dipunggung kakek itu dapat memancarkan tenaga-dalam yang hebat.

"Huh, kalau engkau memang benar-benar mau mati, berikanlah dadamu. Sekali pukul saja engkau tentu sudah mampus !" serunya.

"O, begitu," seru kakek Kerbau Putih, "baiklah !" Ia terus berputar tubuh menghadap kepada orang itu. "Ho, engkau memang seorang kakek yang jujur. Jangan kuatir, engkau tentu cepat akan melayang ke akhirat !" seru orang itu seraya kerahkan tenaga-dalam dan terus mengangkat tinjunya, siap hendak dihunjamkan.

"Tunggu dulu !" tiba-tiba kakek Kerbau Putih berseru, "engkau berjanji sekali pukul tentu dapat menghancurkan jiwaku. Tetapi kalau tidak dapat, lalu bagaimana ?"

"Akan kususul yang kedua." kata orang itu.

"Kentut busuk !" tiba-tiba kakek Kerbau Putih memaki, "enak saja engkau omong. Bukankah aku harus menderita kesakitan? Aku menghendaki mati secara cepat tanpa menderita kesakitan. Maka engkau harus dapat sekali pukul, membuat aku mati. Kalau dua kali, percuma. Andaikata dua kali aku tak dapat mati. lalu engkau pukul lagi, entah sampai beberapa kali. Dengan begitu bukankah aku seperti engkau siksa ?"

Orang itu tertegun, ia menimang-nimang adakah sekali pukul mampu membunuh kakek itu.

"Hm, kalau engkau menghendaki cepat mati, aku harus menabasmu dengan golok !" katanya.

"Bangsat, mulutmu tak kena dipercaya. Tadi engkau bilang dapat membunuh aku dengan sekali pukul saja. Sekarang engkau hendak memakai golok. Artinya engkau memang tak mampu memukul aku mati dengan sekali pukul," teriak kakek Kerbau Putih.

Dimaki bangsat, orang itu merah mukanya. Ia adalah utusan dari Seng-lian-kau, maka dimaki maki seenaknya sendiri oleh seorang kakek bungkuk. "Kalau engkau tak dapat, sekarang tukar tempat saja. Aku yang akan memukul engkau. Sekali pukul engkau tentu mampus !" tiba-tiba kakek Kerbau Putih berkata. Dan tanpa menunggu jawaban orang itu ia terus maju menghantam orang itu.

Orang itu terkejut dan cepat menghindar.

"Hai, pengecut, mengapa engkau menghindar Bukankah engkau minta mati ?" teriak kakek Kerbau Putih.

"Kakek bangsat, siapa yang bilang aku minta mati ? Engkau sendiri yang mengatakan sudah bosan hidup dan minta aku supaya mencabut jiwa mu !"

"Ya, tetapi engkau sudah menyerah dan sekarang akulah yang sanggup mengantar jiwamu dengan sekali pukul saja."

"Edan !" orang itu marah sekali terus hendak memukul. "Berhenti !" tiba-tiba Blo'on membentak.

"Mau apa engkau !" bentak orang itu seraya deliki mata.

"Mau mencegah supaya engkau jangan mati dulu" jawab Blo'on.

"Hm. mengapa ?"

"Karena engkau harus menjawab pertanyaan ku tadi tentang perkumpulan Seng-lian-kau itu, " habis berkata Blo'on lalu berpaling kearah kakek Kerbau Putih dan meminta supaya kakek itu berhenti menyerang dulu.

"Seng-lian-kau berarti Teratai Suci. Satu-Satunya perkumpulan agama Hud-kan yang paling sah dan benar.

"Apa bedanya dengan Pek-lian kan ?" tanya Blo'on pula. "Pek-lian-kau ?" ulang orang itu, Pek-lian-kau itu sebuah perkumpulan rahasia ketika jaman terakhir dari kerajaan  Goan. Dipimpin oleh The Seng-kun. Tetapi perkumpulan itu telah menyeleweng dari tujuannya dan telah dibasmi oleh partai persilatan di Tionggoan."

"Kenalkah engkau pada orang yang bernama Bu Bun lojin

?" tanya Blo'on.

"Bu Bun? Siapa Bu Bun lojin, aku, tak kenal!” "Lalu siapakah ketua Seng-lian-kau itu ?"

"Kim Thian-cong bergelar It-ci-kian-gun atau Jari tunggal- penakluk-dunia."

"Omitohud," tiba-tiba Hui Liang taysu yang sejak tadi diam menyaksikan mereka bertempur, saat itu kedengaran membuka mulut, "aku masih menyangsikan apakah Kim Thian-cong yang mengetuai Seng lian-kau itu sama dengan Kim tayhiap yang meninggal dunia di puncak Giok-li-nia. Andaikata memari benar begitu, lalu apa alasan Kim tayhiap harus mendirikan perkumpulan Seng-lian-kau itu? Bukankah oleh dunia persilatan Tiong-goan, Kim tayhiap sudah dianggap sebagai pemimpinnya ?"

"Musim beralih, jaman beredar dan manusia pun berobah," sahut orang itu dengan suara lantang, "setelah menyepikan diri digunung Giok-li nia sampai belasan tahun, Kim kaucu mendapat ilham bahwa dia harus menyebarkan agama  Buddha aliran Mahayana. Disamping itu diapun harus menenteramkan dunia persilatan Tiong-goan. Tidak ada lagi partai persilatan ini. partai persilatan itu. Yang ada hanya satu partai persilatan. Karena kenyataannya dengan banyaknya partai-partai persilatan yang ada, dunia persilatan, tak pernah mengenyam ketenangan dan ketentraman " "Mengapa Kim tayhiap tak pernah menyatakan pikirannya itu kepada partai-partai persilatan? Bukankah sebagai pemimpin dunia persilatan, partai-partai persilat nn tentu akan mempertimbangkan hal itu ? Mengapa dia harus pura-pura mati lalu hidup lagi dan setelah itu mendirikan perkumpulan Seng-lian-kau?" tanya Hui Liang taysu pula.

"Pertanyaanmu sungguh terperinci sekali, paderi tua," seru orang itu, "tetapi jawabannya hanya sederhana sekali Kim Thian-cong yang lama sudah usang, sudah mati. Kim Thian- cong yang sekarang Kim Thian-cong baru. Tidak ada sangkut pautnya dengan Kim Thian-cong yang sudah dikubur itu. Pikiran baru, sepak terjangnyapun baru. Seorang manusia baru yang hendak mendirikan dunia persilatan yang baru !"

"Apakah ketuamu itu mengerti ilmu tenaga-lam Bu-kek-sin- kang?" tiba-tiba Blo'on menyelonong bertanya.

Orang itu terkesiap. Diam-Diam ia merasa memang belum mengetahui jelas bagaimana kesaktian Kim Thian-cong yang sesungguhnya.

"Mungkin tidak, karena Bu-kek-sin-kang itu masih kalah hebat dengan It-ci-sin-kang."

"It-ci-sin-kang ? Apa itu ?" tanya Blo'on.

"Jari-tunggal-sakti !" jawab orang itu, "dengan sebuah jari, Kim kaucu pernah menundukkan dunia persilatan'"

"Ho, jangan-jangan It-ci-sin-kang itu memang Bu-kek sin- kang tetapi diganti namanya," kata Blo'on seorang diri.

"Dimana markas Seng-lian-kau itu ?' tanyanya pula.

"Ho, budak liar, seenakmu sendiri saja engkau bertanya. Sudah kukatakan ini bukan urusanmu mengapa engkau masih usil mulut sajal" bentak orang itu. "Tetapi aku harus bertemu dengan ketuamu. Akan katanya apakah dia mengerti ilmu Bu-kek-sin-kang atau tidak." kata Blo'on.

"Belum mengerti ?'

"Kalau mengerti, jelas dia itu tentu Bu Bun lojin. Dia harus menyambangi makam suhunya setelah itu harus melakukan pesan suhunya supaya menyepikan diri dalam guha, tak boleh ikut campur urusan dunia lagi "

"Kalau tidak mengerti ?" tanya orang itu "Ya, sudah. Dia bebas mau apa saja."

"Wah, wah," orang itu mendesak, "sikapmu seperti seorang malaekat saja. Berani bertanya kepada Kim kaucu dan menyuruhnya bertapa. Kulihat gerak gerik dan bicaramu itu seperti tak waras. Apakah engkau ini orang gila ?”

"Belum !”

Orang itu masih menahan kemengkalan hat| nya, tanyanya pula : "Siapa namamu ?”

"Blo'on, putera raja.”

Ha ha, ha. ha ... " karena tak dapat menahan gelinya,  orang itupun tertawa gelak-gelak . Bermula ia memang marah kepada anakmuda yang lancang mulut itu. Tetapi setelah beberapa lama memperhatikan, tahulah kalau anakmuda dan kakek bungkuk itu orang-orang yang tak waras pikirannya.

"Orang gila!" teriak Blo'on, "mengapa tak hujan tak angin engkau tertawa begitu geli ?"

"Aku tertawa karena melihat kalian. Ternyata dunia ini memang lengkap isinya. Orang-Orang yang gila dan limbung seperti engkau dengan kakek bungkuk itu, ternyata juga ada." "Kurasa lebih baik dunia terisi dengan orang gila dan limbung seperti aku, daripada manusia-manusia jahat seperti engkau " balas Blo'on.

"Benar, pangeran Blo'on, kita harus menghadap raja dan lekas minta pasukan yang kuat untuk membasmi gerombolan Seng-lian-kau itu ."

"Apa katamu ? Pangeran Blo'on ? Dia itu Pangeran ? Lalu anak raja siapa ?" orang itu terbeleliak heran.

"Dengarkan, menurut Somali, anak ini adalah putera raja Ing Lok !" kata kakek Kerbau Putih

"O . . "

"Jangan o saja, lekas berlutut memberi hormat dan minta ampun kepada sang pangeran !” Bentak kakek Kerbau Putih.

"Kakek gila !" orang itu balas membentak "jangan gila- gilaan engkau ! Siapa sudi Percaya anak blo'on itu putera baginda Ing Lok ! Kalau engkau katakan dia anak setan, baru aku mau percaya "

“Ho, engkau berani membantah keterangan Somali ?" seru kakek Kerbau Putih.

Orang itu melongo : "Somali ? Siapakah Somali yang berulang kali engkau katakan itu ? Dia manusia atau setan ?"

“Bangsat, engkau berani mengatakan Somali itu setan. Dia manusia, tetapi bukan manusia jahat seperti engkau, melainkan seorang manusia bertubuh tinggi besar seperti raksasa. Asalnya dari tanah Persia kemudian menjadi pengawal baginda Ing Lok !"

"Ha, ha, ha, ha . . , " tiba-tiba orang itu terbahak-bahak pula, "konyol, konyol benar. Dunia ini hendak engkau buat sekonyol dirimu, kakek bungkuk Baru sekali ini sepanjang hidupku, bertemu dengan manusia-manusia blo'on dan konyol seperti engkau berdua. Ada putera raja, ada pengawal raja ada apalagi nanti ..."

Hui Liang taysu juga geleng-geleng kepala dan mengelus dada. Ia hendak membuka mulut untuk menghentikan pembicaraan mereka. Karena ia merasa orang itu mencurahkan perhatiannya pada kakek Kerbau Putih dan Blo'on. Ia sebagai wakil kepala gereja, seolah olah disuruh menjadi penonton saja.

Tetapi baru ia hendak mengucap, sudah didahului Blo'on : "Bung. siapakah namamu ?"

Orang itu deliki mata dan menjawab bengis : "Perlu apa engkau tanyakan nama segala"

"Bung ini punya nama atau tidak ?' Orang itu makin merah matanya.

"Bung kan manusia dan manusia itu pada umumnya, entah baik entah buruk, tentu punya nama"

"Ha, mengapa engkau diam saja ?" seru kakek Kerbau Putih.

Namun orang itu tak mau meladeni bicara lain-lain ia bersiap-siap hendak menghajar kedua orang itu.

'O, kalau begitu engkau tentu Manusia-tanpa-nama alias Bu Beng . , "

"Kakek, benarkah dia Bu Beng?" tiba-tiba Blo'on terkejut mendengar si kakek Kerbau Putih menyebut Bu Beng, "tetapi Bu Beng saja atau pakai Bu Beng lojin ?"

"Hm, kalau menilik umurnya, dia sudah setengah tua. Patut juga disebut lojin (orangtua)," sahut kakek Kerbau Putih. "Hai, kalau begitu engkau tentulah Bu Beng lojin" teriak Blo'on seraya maju menghampiri kehadapan orang itu, "hai Bu Beng lojin, engkau harus mengaku yang benar. Bukankah sebenarnya engkau ini bernama Bu Bun, murid dari Bu Kek lojin ?"

Orang itu benar-benar seperti dikili-kili hatinya Masakan seenaknya sendiri saja dia dianggap bernama Bu Beng lojin dan disebut sebagai murid dari Bu Kek lojin. Ia hendak memukul Blo'on tetapi pada lain kilas, tiba-tiba ia beroleh pikiran. Mengapa anak itu menyebut-nyebut diri Bu Beng lojin dan Bu Kek lojin ? Siapakah kedua orangtua itu? Ah, lebih baik ia tahan kemarahan dulu dan menanyakan diri kedua orang yang disebut itu.

"Hai, budak liar, siapakah Bu Beng dan Bn Kek lojin yang engkau sebut itu ?" tanyanya.

"Bu Bcng adalah murid Bu Kek dan Bu Kek adalah tengkorak dalam guha yang menyuruh aku mencari Bu Beng.

Jelas?" seru Blo'on dengan garang

"Tidak!" seru orang itu getas, "siapa Bu Kek lojin tengkorak dalam guha itu ?"

"Seorang sakti yang memiliki ki-lin,"

Orang itu makin melongo mendengar keterangan Bloon yang dikira ngelantur itu : "Ki-lin?"

"Ya, apakah engkau sudah pernah melihat ki-lin bersisik emas ?"

Orang itu makin terlongong : "Engkau bocah edan barangkali. Jangankan aku, boleh dikata setiap orang tak mungkin pernah melihat binatang mustika itu Yang diketahuinya, binatang itu hanyalah sebagai lambang saja dan merekapun hanya tahu dan gambarnya."

"Yang edan barangkali engkau. Aku belum edan melainkan kehilangan ingatan saja," bantah Blo'on, "dan memang aku pernah melihat binatang itu bahkan pernah berkelahi dengan dia!"

Dia seorang utusan dari ketua Seng-lian-kau yang akan menguasai dunia persilatan. Sudah tentu harus menjaga gengsi Tetapi dia dimaki-maki oleh seorang kakek limbung dan seorang anak blo'on. betapapun sabarnya, orang itu tak dapat mengendalikan diri lagi.

Plak . . . tiba-tiba orang itu menampar muka Blo'on dan memaki : "Tutup mulutmu anjing !"

Karena tak menyangka- nyangka akan menerima tamparan, pula karena gerakan orang itu secepat kilat menyambar,  muka Blo'on terkena dan dia terpelanting dua tiga tangkah kebelakang, hampir rubuh. Untunglah Hui Liang taysu cepat menyanggahnya.

"Bangsat, engkau berani memukul sahabatku!" kakek Kerbau Putih marah dan terus, menerjang.

Orang itu terkejut melihat gaya serangan kakek bungkuk itu. Cepat ia menghindar dan balas menyerang. Demikian keduanya segera terlibat dalam perkelahian yang seru. Hui Liang taysupun terkejut melihat ilmu serangan yang dimainkan kakek bungkuk. Samar-Samar ia seperti mengetahui bahwa didunia persilatan memang pernah terdapat ilmu pukulan semacam itu tetapi sudah lama menghilang.

Setitikpun orang itu tak menyangka bahwa kakek bungkuk yang semula dipandang hina, ternyata memiliki ilmusilat yang aneh dan sakti. Ia tak mengerti apa nama ilmusilat itu Tetapi yang nyata ilmusilat itu memang hebat dan berbahaya. Ia harus hati-hati menghadapinya.

Cepat sekali pertempuran sudah berlangsung lima jurus dan makin lama tangan sikakek yang menyambar-nyambar itu makin cepat dan makin berbahaya.

"Hm, belum tentu aku kalah, tetapi kalau bertempur cara begini, tentu menghabiskan waktu. Dan yang penting, paderi Siau-lim-si tentu akan mendapat kesan buruk terhadap diriku. Harus kugunakan cara lain yang cepat, " diarn-diarn ia memutus rencana dan segera merogoh kedalam baju,!

Hai Liang taysu terkejut. Ia tahuorang itu tentu akan menggunakan senjata rahasia untuk merubuhkan si kakek bungkuk. Segera ia hendak berseru mengnentikan pertempuran itu tetapi sudah terlambat.

Selelah menghindar kesamping, orang itupun mengirim sebuah tendangan. Pada saat kakek Kerbau Putih sibuk menghindar, tiba-tiba orang itu taburkan tiga batang senjata- rahasia berbentuk seperti burung walet kecil. Warnanya hitam mengkillat.

"Mampuslah engkau !" lontaran itu diiringi dengan bentakan yang dahsyat. Kakek Kerbau Pulih terkejut ketika tiga burung-burungan walet kecil mendesing menyambal muka. dada dan kakinya. Jaraknya begitu dekat tak mungkin dia akan menghindar lagi. Namun ia tetap berusaha untuk menyelamatkan diri. la rnenjajalkan kakinya Ketanah untuk melemparkan tubuh berjumpalitan kebelakang.

"Auh ..." tiba-tiba mulut kakek Kerbau Putih mendesuh kesakitan dan ketika ia melayang turun ke tanah, ia tak dapat berdiri, terus rubuh numprah. Ternyata paha kirinya dihinggapi sebatang Hek-yan-piau atau serjata-rahasia Walet-hitam Dia berhasil lolos duri dua batang tetapi yang sebatang terpaksa harus dideritanya. Seketika ia rasakan kaki kirinya kejang dan kaku sehingga tak dapat berdiri.

Blo'on terkejut dan lari menghampiri ke tempat kakek Kerbau Putih untuk memberi pertolongan

Dalam pada itu Hui Liang taysu yang amat sabar dan berhati welas asih itu, tak puas melihat! keganasan orang itu. Ia segera maju menghampiri.

"Sicu," tegurnya kepada orang itu, "mengapa sicu sekejam itu ?"

"Hm, paderi tua," dengus orang itu, "dia seorang kakek liar yang tak genah. Apabila kakek-kakek semacam itu dibiarkan hidup, Seng-lian-kau tentu menjadi buah tertawaan orang."

"Tetapi hendaknya sicu ingat bahwa disini adalah gereja Siau-lim-si, bukan tempat pembunuhan. Apabila dia bersalah, cukup sicu serahkan padaku untuk mengurusnya."

"Benar paderi tua," seru orang itu mengejek, "memang akupun hendak meminta pertanggungan jawab atas diri seorang kakek yang begitu liar. Dia berani menghina utusan Seng-lian-kau. Paling tidak sebagai tuan rumah engkaupun harus ikut bertanggung jawab "

"Omitohud !" seru Hui Liang taysu untuk menyalurkan amarahnya yang meluap, "Siau-lim-si tak pernah ingkar akan segala tanggung jawab yang seharusnya memang menjadi kewajibannya. Tetapi dengan tindakan sicu itu, kami Siau-lim- sipun mempunyai kesan lain terhadap Seng-lian kau. Sicu katakan bahwa Seng-lian-kau itu sebuah perkumpulan agama suci. Tetapi apakah demikian itu kesucian yang dijunjung oleh Seng-lian-kau !"

Walaupun diucapkan dengan nada yang penuh pengekangan hawa amarah, namun kata-kata yang diucapkan wakil ketua Siau-lim-si itu amat tajam sekali sehingga merahlah muka utusan Seng-lian-kau.

"Ketahuilah paderi tua," kata orang itu, "Kim kaucu telah memberikan hak kepadaku untuk menghajar bahkan melenyapkan setiap orang yang bera ni menghina, menentang kepada Seng-iian-kau. Ku peringatkan kepadamu, apabila Siau-lim-si menolak undangan kami. kamipun terpaksa tak segan untuk bertindak yang jauh lebih ganas dari apa yang kulakukan terhadap kakek bungkuk itu."

"Omitohud." kembali ketua gereja Siau-lim-si berseru agar kemarahannya menghambur, "sicu bicara seolah-olah menganggap gereja Siau-lim-si ini sebuah tempat anak-anak kecil yang mudah diperintah dan dihajar. Jika demikian pemikiran sicu itu salah. Ketahuilah, gereja Siau-lim-si yang telah didirikan oleh Tat Mo cousu sejak duaratus tahun yang lalu, telah menjadi pusat dari penyebaran agama Hud-kau dan pengayoman dari dunia persilatan. Selama itu memang dunia persilatan banyak timbul orang-orang maupun gerombolan- gerombolan dan partai-partai baru yang hendak menjatuhkan pamor Siau-lim-si. Tetapi mereka bagaikan kabut awan yang dihembus angin. Satu datang, satu pergii. Siau-lim-si tetap bersinar sebagaimana rembulan di malam hari ..."

"Maksudmu hendak mengatakan bahwa Seng lian-kau juga akan mengalami seperti kabut awan yang tertiup angin itu ?" orang itu menukas tajam

"Aku hanya hendak menjelaskan bahwa setiap awan itu tak langgeng sifatnya. Pada satu saat memang dapat menutupi rembulan, tetapi sudah menjadi sifat dan kodratnya bahwa awan itu tak berbobot sehingga akhirnya harus buyar sendiri," sahut Hut Liang taysu.

"Paderi tua, rupanya engkau tahu siapa-siapa kah yang menjadi tulang punggung dari partai Seng-lian-kau itu. Jangan menyebut Kim kaucu, tetapi para pembantunya saja, rasanya sudah cukup untuk mengobrik-abrik gereja Siau-lim-si yang engkau banggakan ini "

"Omitohud !" seru Hui Liang taysu, "kami kaum paderi pantang untuk bermulut besar."

"Paderi tua," dengus orang itu, "jika hanya dengan omongan saja, mungkin engkau masih penasaran dan belum tunduk. Baiklah, sekarang akan kuberikan sedikit hadiah sebagai tanda perkenalan kita. Sambutilah "

Hui Liang taysu terkesiap. Ia tahu bahwa orang itu akan mengunjuk kepandaian kepadanya. Maka diam-diam iapun kerahKan tenaga-dalam untuk berjaga-jaga.

Orang itu merogoh kedalam bajunya dan mengeluarkan enam batang Hek-yan-piau.

"Awas, taysu, senjatanya itu beracun !" tiba-tiba Blo'on berteriak. Memang setelah memeriksa keadaan kakek Kerbau Putih, anak itu tahu kalau senjata rahasia burung walet warna hitam itu dilumuri racun. Buktinya saat itu paha kiri kakek Kerbau Putih menjadi kaku tak dapat digerakkan.

Hui Liang taysu berpaling dan mengangguk :"Terima kasih, sicu. Akupun memang sudah menduga begitu."

"Paderi tua, sambutlah hadiah perkenalan Seng-lian-kau kepadamu!" orang itu menutup kata katanya dengan taburkan tiga batang Hek-yan-piau; ke udara. Ketiga buah senjata- rahasia berbentuk burung Walet-hitam itu melayang beterbangan di udara, membentuk sebuah lingkaran yang mengelilingi wakili ketua Siau-lim-si. Secepat itu pula, utusan Seng-lian-kaupun menyusuli lagi dengan taburan tiga buah Hek-yan-piau.

Hui Liang taysu diam-diam sudah siapkan tongkat siau- ciang atau tongkat yang dipakai oleh paderi. Selekas senjata rahasia itu mencurah ke arah dirinya, tentu akan disapunya dengan tongkat.

Tiga buah Hek-yan-piau yang dilontar pertama tadi, tiba-tiba meluncur ke atas kepala Hui Lianji taysu. Ketika lebih kurang semeter di atas kepala Hui liang taysu, mendadak    ketiga  Hek-yae-

piau itu berhenti lalu melekat satu sama lain. Sedangkan tiga batang Hek-yang-piau yang dilepas menyusul belakangan itu, tiba-tiba meluncur dan menyerang Hui Liang taysu dari tiga jurusan.  Laksana  burung  walet  yang  menukik kepermukaan laut, ketiga hek-yan-piau itupun mencurah deras kearah sasarannya.

Tring, tring, tring. dengan tongkat sian-ciang yang diputar sederas hujan, Hui Liang taysu berhasil menyapu jatuh ketiga Hek-yan-piau itu.

Tetapi tepat pada saat ia sedang memutar tongkat untuk menyapu serangan Hek-yan-piau. sekonyong-konyong ketiga Hek-yan-piau yang berhenti diatas kepalanya tadi, berhamburan memecah diri ialu mencurah turun. Yang satu menukik menyambar dada, yang satu mencurah langsung ke ubun-ubun kepala dan yang satu meluncur mengarah punggung. Senjata-rahasia burung walet kecil itu benar-benar seperti berjiwa. Mereka serempak bergerak dan serempak pula menyerang sasarannya.

Hui Liang taysu terkejut sekali. Ia sedang menyapu tiga Hek-yan-piau yang menyerangnya dari tiga penjuru. Tongkat masih berputar dan tak sempat ditarik untuk menangkis serangan dari atas.

Tetapi tak kecewalah Hui Liang taysu dipercayakan oleh Hui Gong untuk mewakili jabatannya sebagai ketua Siau-lim-si. Hui Liang memang memiliki kepandaian yang sakti, ia tak kehilangan ketenangan dan cepat bergeliatan untuk menghindar. Hek-yan-piau yang menukik ke dada, dapat dihindari. Demikian pula dengan yang menyambar punggungnya. Tetapi senjata-rahasia berbentuk Walet-hitam yang menyambar ubun-ubun kepalanya, memang dapat dielakkan namun karena jaraknya amat dekat dan Hui Liang sedang sibuk memperhatikan serangan dari tiga penjuru, walaupun luput mengenai kepala, Hek-yan-piau itu tetap  dapat hinggap di bahu kanannya. Wakil ketua Siau-lim-si marah sekali terhadap keganasan utusan Seng-lian-kau itu. Tetapi pada saat ia hendak bergerak menyerang, tiba-tiba b hunya mulai terasa letuk dan lunglai, makin lam makin kaku. Ia tahu kalau piau itu tentu beracun dan racunnya sudah mulai bekerja. Maka buru-buru ia pejamkan mata, menyalurkan tenaga-dalam untuk menahan racun itu.

Melihat suhengnya terluka, Hui In taysu loncat menerjang musuh. Tetapi utusan Seng-lian-kau pun cepat-cepat menyambutnya. Tangan kanan menaburkan tiga batang Hek- yan-piau, tangan kiri menyerempaki dengan sebuah pukulan Biat-gong-ciang atau pukulan Pembelah angkasa. Sebuah ilmu pukulan yang dilambari tenaga-dalam hebat.

Hui In taysu sibuk menghindari Hek yan-piau dan harus menerima pukulan Biat-gong-ciang yang hebat. Walaupun sebelumnya ia sudah berjaga diri tetapi ternyata tenaga-dalam orang itu amat hebatnya. Dada Hui In serasa dihunjam oleh palu besi. Ia terhuyung-huyung dua langkah dan muntah darah , . .

"Paderi tua, cukup sekian sajalah bingkisan perkenalan Seng-lian-kau kepada Siau-lim-si. Kelak kita sambung lagi," seru orang itu terus loncat ke luar.

Tetapi sekeluarnya dari lingkungan Tat-mo-wan di halaman paseban Ing-kek-wan atau paseban penyambutan tetamu, ternyata dia sudah dihadang oleh barisan Lo-han-tin.

"Hm, paderi Siau-lim-si memang keras kepala." ia mendengus untuk menenangkan rasa kejutnya melihat barisan Lo-han-tin yang termasyhur sudah siap menghadangnya. "Lo-han-tin akan menangkap setiap tetamu yang berani bertindak liar melukai orang, terutama melukai wakil ketua kami !" seru Thian Gi pemimpin barisan itu.

"Jangankan Lo-han-tin, sekalipun kalian kerahkan seluruh paderi Siau-lim-si, Seng-lian-kau tetap mampu menghancurkan," seru orang itu dengan suara garang sekali.

"Silahkan mencoba!" sahut paderi Thian Gi,

Diam-Diam orang itu menimang. Ia memang sudah lama mendengar kehebatan barisan Lo-hah-tin Jika ia sampai gagal menerobos barisan itu, pamor Seng-lian-kau tentu akan ambruk. Ia harus bertindak cepat dan tepat, dengan menggunakan senjata-rahasia yacg ampuh dan dahsyat.

Segera ia masukkan kedua tangannya kedalam baju dan mengeluarkan dua macam benda, masing-masing digenggam dalam tangan kiri dan tangan kanan.

Barisan Lo-han-tin tahu bahwa orang itu telah siap dengan senjata rahasia. Tetapi mereka tak mengetahui senjata rahasia macam apakah yang akan digunakan orang itu. Serentak Thian Gi memberi peringatan kepada anakbuah barisan supaya hati-hati dan waspada.

Setelah bergerak maju, tiba-tiba orang itu taburkan segenggam senjata-rahasia Hek yan-piau ke udara. Seketika di udara bergemuruh dengan desing berpuluh batang Hek-yan- piau yang terbang melayang-layang mengelilingi kepala mereka. Senjata-rahasia Hek-yan-piau itu benar-benar tak ubahnya seperti burung walet yang hidup. Benda itu dapat terbang melayang-layang seperti burung. Bahkan desing yang bergemuruh itupun berasal dari paruh burung-burung walet itu. Makin lama, Hek-yan-piau itu makin terbang turun dan dalam beberapa kejab lagi tentu akan menyambar anakbuah barisan.

Perhatian seluruh anakbuah barisan itu tertumpah ruah pada ancaman Hek-yan-piau. Mereka tahu bahwa senjata- rahasia burung walet hitam itu mengandung racun yang hebat. Mereka harus serempak melepaskan pukulan untuk menghalau.

Pada detik-detik yang menegangkan itu, sekonyong konyong utusan Seng-lian-kau itu taburkan tangan kirinya. Berpuluh-puluh biji putih sebesar kedele-segera berhamburan kearah barisan.

Anakbuah barisan Lo-han-tin terkejut. Tanpa banyak pikir, mereka lalu kebutkan lengan jubah untuk menangkis, pyur, pyur, pyur.....biji-biji putih itu pecah berhamburan dan mengeluarkan suara letupan kecil. Tetapi begitu pecah, biji- biji putih itupun segera berobah menjadi asap Dan karena terdampar angin kebutan lengan jubah, asap itupun segera berhamburan ke dalam barisan.

"Auh . . auh . . " serentak terdengar jerit teriakan kaget dari para paderi anakbuah Lo-han-tin. Semula mereka menduga asap itu tentu mengandung racun maka belum-belum mereka sudah menutup pernapasan hidungnya. Tetapi tak terduga- duga, asap itu bukan mengandung racun untuk menghentikan pernapasan melainkan mengandung racun yang menyebabkan mata sakit bukan kepalang sehingga tak dapat mereka melek. Rasa yang luar biasa sakit dan pedas, menyebabkan anakbuah barisan Lo-han-tin terpaksa harus mengatupkan mata.

"Aduh . . duh . . ah . . " pada lain saat terdengar pula jerit erang dari mulut mereka ketika berpuluh batang Hek-yan-piau mulai meluncur dan menyerang mereka. karena sedang pejamkan mata. sudah tentu mereka tak dapat menjaga serangan Hek-yan-piau.

Barisan Lo-han-tin macet. Hampir separoh dari anggauta barisan itu telah menderita luka dan tak dapat membuka mata. Ternyata asap putih yang berhamburan dari biji-biji sebesar kedele itu, juga mengandung racun. Paderi-Paderi yang terkena asap beracun itu, matanya membengkak merah.

Thian Gi segera bertindak memberi aba-aba agar sisa barisan yang masih belum terluka atau yang hanya terluka ringan, cepat membentuk lingkaran pagar untuk melindungi kawan-kawan yang terluka.

Ketika anakbuah barisan Lo-han-tin bergerak melaksanakan perintah pemimpinnya, ternyat utusan Seng-lian-kau itu sudah melayang keluar dari kepungan barisan. Pada saat hendak loncat keluar pintu, orang itu masih sempat berseru "Cukuplah kiranya dua buah bingkisan yang kuberikan kepada kalian. Masih banyak lagi macamnya. Tunggu saja kelak kalau partai Siau-lim-si membangkang memenuhi undangan kami!"

Paderi Thian Gi marah sekali : "Tunggu, aku hendak mengadu jiwa dengan engkau !"

Habis berkata orang itu terus berputar tubuh dan loncat pergi. Bruk . . . tiba-tiba ia membentur batok kepala seorang manusia. Kepala orang itu bukan kepalang kerasnya sehingga ia sampai terpental mundur dua tiga langkah. Dadanya terasa sesak, darah meluap-luap hendak tumpah keluar

Ia hendak pejamkan mata untuk menerangkan darahnya yang bergejolak keras itu. Tetapi pandangan matanya segera terbeliak ketika terbentur pada seorang kakek pendek yang berambut hitam. Dalam keremangan malam ia hampir tak dapat mengenali kakek yang berdiri dihadapannya itu seorang manusia atau setan.

"Apakah engkau ini manusia, hai!" tegurnya.

"Bagaimana engkau anggap diriku ini ?" kakek itu balas bertanya.

"Aku masih bingung. Kalau manusia mengapa potongan tubuhmu yang pendek itu seperti setan Tetapi kalau setan mengapa bisa bicara seperti manusia", kata utusan Seng-lian- kau.

Kakek pendek itu bukan lain adalah kakek Lo Kun. Setelah menguras perutnya dan mencuci celananya sampai beberapa jam, barulah ia keluar uutuk mencari kawannya. Tepat pada saat itu ia melihat ramai-ramai yang terjadi di halaman gereja. Di lihatnya rombongan paderi tengah menjerit dan berteriak kesakitan. Dan pada lain saat seorang berpakaian hitam loncat hendak keluar dari lingkungan halaman.

Lo Kun dapat membedakan. Penghuni gereja itu, baik tua muda, besar kecil, semua berkepala gundul. Kalau orang itu berambut, jelas tentu bukan anakbuah gereja disitu. Dan menilik paderi-paderi itu sama menjerit kesakitan, tentulah orang berpakaian hitam itu yang mencelakai mereka. Maka tanpa banyak pikir lagi, kakek Lo Kun terus lari dan membenturkan kepalanya. Tepat pada saat itu utusan Seng- lian-kaupun berputar tubuh dan loncat keluar. Benturan tak dapat terhindar lagi, antara kepala kakak Lo Kun dan dada utusan Seng-lian-kau. Akibatnya dada orang itu terasa ampek hampir tak dapat bernapas.

Sambil bicara orang itupun sudah merogoh kedalam baju dan menjemput segenggam Hek-yan piau yang ganas. "Hai, jangan main bunuh disini " tiba-tiba dari belakang paderi Thian Gi pun tiba. Melihat utusan Seng-lian-kau itu hendak menaburkan senjata-rahasia beracun kepada kakek Lo Kun cepat ia berseru dan menerjang dengan tongkat sian- ciangnya.

Mendengar kata-kata itu dan melihat Thian taysu menerjang orang itu, kakek Lo Kun pun segera bertindak. Ia pikir, orang itu tentu seorang penjahat yang hendak melarikan diri. Maka kontan saja ia terus loncat menyeruduk dengan kepalanya. Memang kakek itu memiliki batok kepala yang luar biasa kerasnya. Karang dan pohonpun dapat diseruduknya hancur.

Prak . . . duk . . terdengar dua buah suara yang berbeda. Yang satu suara kepala dibantai tongkat dan yang satu kepala dada diseruduk kepala. Dan dua-duanya, kakek Lo Kun ia dan Thian Gi taysu terjerembab jatuh ke tanah. Apakah yang telah terjadi ?

Ternyata utusan Seng-lian-kau itu menang lihay dan tajam matanya. Ketika ia tahu dari belakang akan diserang oleh paderi Thian Gi dan dari muka akan ditanduk dengan kepala kakek Lo Kun, gesit laksana burung walet, ia melambung keatas dan diudara ia bergeliatan tubuh seraya taburkan senjata-rahasia Hek-yan-piau kearah kedua penyerangnya itu.

Karena sedang berhantam sendiri, kakek Lo Kun dan paderi Thian Gi terkena timpukan lawan Kakek Lo Kun terkena pantatnya dan Thian Gi taysu terpanggang bahunya,

Kakek Lo Kun tengel-tengel hendak bangun tetapi tiba-tiba ia menjerit : "Aduh ! Mengapa pantatku kaku begini ?"

Kakek itu mendekap pantatnya dan berusaha untuk mengusap-usap : "Hai, apakah ini ?" tiba-tiba pula ia berteriak dan menjemput dua buah benda hitam yang menancap di pantatnya, "burung walet kecil, kurang ajar, inilah yang menyebabkan pantatku kaku !"

Habis berkata kakek itu terus hendak membanting benda  itu tetapi tiba-tiba paderi Thian Gi berseru : "Itu senjata- rahasia beracun dari orang tadi, lotiang !"

"Senjata beracun ?*'

"Ya, lotiang terkena taburan senjata beracun dari orang itu. Aku sendiripun terkena juga pada bahuku Rasa bahuku sekarangpun sudah mulai kaku," kata Thian Gi taysu seraya menggerak-gerakkan bahunya supaya lemas.

"Lalu kemana orang itu ?" tanya Lo Kun. "Melarikan diri."

"Celaka, mengapa tak ditangkap," tiba-tiba kakek itu terus hendak berbangkit dan mengejar. Tetapi seketika itu juga ia menjerit: "Aduh . . pantatku tak dapat bergerak"

Thian Gi taysu tahu kalau kakek itu memang limbung, la geli dan kasihan, serunya : "Lotiang harap lotiang  menjalankan pernapasan untuk menutup menjalarnya racun itu ke tubuh lotiang. Aku pun juga akan berbuat demikian."

Habis berkata paderi Thian Gi terus duduk bersila pejamkan mata, menyalurkan tenaga dalam untuk mencegah racun masuk kedalam tubuh.

"Huh, tak perlu, masakan racun begini sajaj aku tak dapat menyembuhkan," gumam kakek Lo Kun yang lalu mengeluarkan sebuah benda yang merah warnanya. Ia mencabik sedikit lalu memakannya. Seperempat jam kemudian, ia sudah dapat berdiri dan terus menghampiri ke tempat paderi Thian Gi. "Lihatlah, aku sudah sembuh," katanya dengan bangga, "engkau juga kuberi obat ini. Tentu sembuh seketika."

Thian Gi membuka mata. Dilihatnya memang kakek pendek itu sudah berdiri dihadapannya dengan paras berseri. Ia heran.

"Obat apakah itu '" tanyanya sambi! memandang benda merah yang diangsurkan kakek itu.

"Bangkai kelabang," sahut kakek Lo Kun.

"Bangkai kelabang ?" Thian Gi taysu terbeliak heran. "Percayalah kepadaku, engkau pasti sembuh dari racun itu.

Kalau mati, kuganti jiwamu !"

Karena melihat kakek itu memang sudah sehat dalam beberapa kejab saja dan mengetahui bahwa walaupun limbung tetapi kakek pendek itu seorang yang polos, akhirnya Thian Gi mau juga menelan benda merah itu. Setelah menelan ia lalu pejamkan mata dan menyalurkan peredaran darah.

Benar juga tak berapa lama, Thian Gi taysu rasakan lengannya sudah lemas dan dapat digerakkan seperti biasa lagi. Ia segera bangkit dan menghaturkan terima kasih kepada kakek Lo Kun Ia tak mau bertanya panjang lebar lagi tentang benda merah yang luar biasa khasiatnya itu. Tetapi ia tetap tak percaya kalau itu terbuat dari bangkai kelabang.

"Mana kawan kawanku?"tanya kakek Lo Kun

"Masih di dalam," kata Thian Gi taysu. Ia menerangkan bahwa kakek bungkuk juga terkena senjata racun dari orang tadi.

"Hai, lekas bawa aku kepadanya," kakek Lo Kun berreriak kaget dan tanpa tunggu hian Gi berjalan, kakek itu terus lari mendahului masuk ke dalam halaman belakang. Ia terkejut menyaksikan keadaan dalam gereja itu. Berpuluh-puluh paderi masih rubuh ditanah dan sedang diangkut kedalam oleh kawan-kawannya. Dan yang lebih mengejutkan lagi ketika ia melihat kakek Kerbau Putih sedang ditolong Blo'on Buru-Buru ia lari menghampiri.

"Kenapa setan kerbau itu?" tanyanya kepada Bloon.

"Dia terkena senjata-rahasia beracun dari seorang yang mengaku menjadi utusan Seng-lian-kau' Blo'on memberi keterangan.

"Lalu apakah dia tak dapat bangun ?" "Ya, kakinya kaku tak dapat digerakkan."

"Potong sajalah!" kakek Lo Kun berkata seenaknya sendiri lalu mengambil pisau dan terus hendak memotong paha kakek Kerbau Putih.

"Setan Lo Kun, jangan gila-gilaan engkau !' teriak kakek Kerbau Putih seraya mendupaknya dengan kaki kanan.

"Ya, petlu apa orang setolol engkau diberi kaki ?" ejek kakek Lo Kun.

"Lalu bagaimana, aku memang terkena senjata-rahasia yang beracun ?" kakek Kerbau Putih menggeram.

"Aku juga terkena pantatku, malah sekaligus terkena dua buah senjata beracun bangsat itu” kata kakek Lo Kun seraya berputar tubuh dia unjukkan pantatnya ke muka kakek Kerbau Putih "nih, lihatlah sendiri !"

"Setan pendek, tutuplah lekas, pantatmu masih bau," teriak kakek Kerbau Putih demi melihat kakek Lo Kun menyingkap kain celananya sehingga pantatnya tertampak. "Kurang ajar," teriak kakek Lo Kun, "sudah hampir'setengah malam aku mencuci dan membersihkan pantat dan celana dengan air, masakan masih bau. Kalau tak percaya, ciumlah pantatku ini! Jika masih bau boleh kau pukul kepalaku"

Kakek Lo Kun terus ajukan pantatnya ke dekat muka kakek Kerbau Putih.

"Enyah !" kakek Kerbau Putih marah dan mendorongnya. "Tidak   bisa,"   bantah   kakek   Lo   Kun,   "engkau   harus

mengatakan dulu kalau pantatku sudah tak bau baru aku  mau

menutupnya lagi."

Memang gila ! Kalau para paderi Siau-lim-si sedang sibuk menolong kawan-kawannya yang terluka, kakek Lo Kun dan kakek Kerbau Putih ribut-ribut soal pantat. .

Akhirnya Blo'on tak sabar juga : "Sudahlah, jangan ributkan soal pantatmu lagi, kakek Lo Kun Kakek Kerbau Putih ini sedang menderita luka, ia tak dapat berjalan, kita harus lekas menolongnya" Kakek Lo Kun menurut. Sambil menutup celananya ia tertawa: "Sebenarnya hal itu mudah saja buktinya lihatlah aku. Aku juga terkena senjata beracun itu tetapi dengan cepat saja sudah sembuh."

"Apa obatnya?" kakek Kerbau Putih nyelutuk.

"Kerbau goblok “' bentak kakek Lo Kun, "masakan engkau lupa ? Bukankah engkau masih menyimpan bangkai kelabang. Itu dia. Obat yang paling mustajab untuk segala racun !"

"Gila !" teriak kakek Kerbau Putih, "mengapa aku tak ingat?" ia terus mengeluarkan bangkai kelabang yang disimpan dalam bajunya. Bangkai kelabang yang umurnya ratusan tabun dan dapat mengeluarkan mustika itu, dibagi dua. Kakek Lo Kun separoh dan kakek Kerbau Putih separoh. Kemudian kakek Kerbau Putihpun lalu menelan segempil bangkai kelabang. Tak berapa lama diapun sembuh dari lukanya dan dapat berjalan seperti biasa pula, '

Hui Liang taysu heran melihat kakek Kerbau Putih sudah sembuh dalam waktu yang begitu cepat

"O, lotiang Sudah sembuh ?" serunya namun paderi itu malu untuk menanyakan obat yang menyembuhkan si kakek.

"Jangan kuatir," sahut kakek Kerbau Putih sambil busungkan dada, "jangankan hanya racun dari senjata-rahasia begitu, sekalipun yang lebih hebat dari itu aku tetap dapat sembuh."

"O, syukurlah . . . "

"Dan engkau bagaimana paderi ?" tanya kakek Kerbau Putih serta melihat wakil ketua Siau-lim si itu masih duduk bersila di tanah, menjalankan tenaga-dalam untuk menghalau racun.

"Mudah-mudahan akan sembuh," sahut Hui Liang taysu.

"O, mengapa engkau tak minta obat kepada ku ?" seru kakek Kerbau Putih, "duduk bersila menjalankan pernapasan untuk menghalau racun, makan waktu lama."

Hui Liang taysu mengkal. Mengapa harus minta ? Bukankah kakek rambut putih itu tahu kalau ia terkena senjata-rahasia beracun ? Kalau memang mau menolong, tanpa diminta tentu sudah memberi obat sendiri.

Hui Liang taysu tetap mempertahankan gengsi. Ia tak mau membuka mulut minta obat kepada kakek Kerbau Putih. Tetapi tiba-tiba ia teringat bahwa banyak sekali anakbuahnya yang menjadi anggauta barisan Lo-han-tin telah menderita luka beracun. Bagaimana hendak menolong mereka ? "Apakah lotiang pandai mengobati?” akhirnya wakil ketua Siau-lim-si itu menggunakan akal.

"Siapa bilang aku tak bisa ? Huh, jangankan luka begitu, orang yang sudah mau mati, pun aku dapat menyembuhkannya."

"Benarkah ?" Hui Liang taysu menegas, "ah, mungkin tidak

..."

"Engkau tak percaya?" teriak kakek Kerbau Putih, "cobalah engkau mengangakan mulut dan telan saja apa yang akan kumasukkan kedalam mulutmu”

Dan tanpa menunggu orang setuju atau tidak, kakek Kerbau Putih terus mengambil sebuahbungkusan dari dalam bajunya. Memutus sedikit bangkai kelabang, terus hendak diminumkan.

"Tetapi mengapa tak mengangakan mulut ? melihat mulut Hui Liang taysu masih mengatup kakek Kerbau Putih terus ulurkan tangan kiri, menekan kedua pipi paderi itu hingga mulutnya terbuka. Secepat kilat, cuwilan bangkai kelabangpun terus disusupkan kedalam mulut : "Telan . . . !"

Hui Liang taysu terkejut, la tak menyangka kalau dirinya akan diperlakukan seperti anak kecil saja. Tetapi karena kakek Kerbau Putih bergerak cepat sekali wakil ketua Siau-lim-si itu tak sempat berbuat apa-apa lagi.

Hui Liang rasakan tubuhnya disaluri oleh arus hawa hangat. Bermula timbul dari perut lalu menjalar keseluruh tubuh. Dan tak berapa lama ia rasakan punggung dan bahunya yang terluka dapat bergerak seperti biasa. "Terima kasih, lotiang," wakil ketua Siau lim si itu berbangkit dan serta merta menghaturkan terima kasih kepada kakek Kerbau Putih.

"Engkau percaya sekarang?" tanya kakek itu.

"Ya, lotiang memang sakti," Hui Liang taysu tertawa. Tiba- Tiba ia teringat akan nasib anakbuah barisan Lo-han-tin. Segera ia ayunkan langkah hendak meninjau keadaan mereka.

“Kemana ?" tanya kakek Kerbau Putih.

"Menolong anakbuah barisan Lo-han-tin. Mereka juga terluka," jawab Hui Liang taysu.

Blo'on dan kedua kakek mengikuti langkah Hui Liang menuju kesebuah paseban. Disitu penuh dengan paderi-paderi Siau-lim-si yang menggeletak dan merintih-rintih. Tampak kesibukan yang menonjol pada para paderi yang hendak melakukan pertolongan. Demi melihat wakil ketuanya melangkah masuk, para paderi yang sibuk memberi pengobatan itupun berhenti dan memberi hormat.

"Bagaimana keadaan mereka ?" tegur Hui Liang kepada paderi Thian Gi

"Parah," sahut Thian Gi, "walaupun sudah, diberi Toh-beng- ki-tok-tan, racun tetap bekerja Mereka tak dapat menggerakkan tubuhnya."

Hui Liang taysu kerutkan dahi lalu berpaling kepada kakek Kerbau Putih. Tetapi sebelum wakil ketua Siau-lim-si itu membuka mulut, kakek Kerbau Putih sudah mendahului : "Ai, sial benar. Kalau engkau minta obat untuk sekian banyak ke pala gundul, obatku tentu habis!" Tiba-Tiba kakek Kerbau Putih berpaling pula ke-arah kakek Lo Kun : "Hai, setan pendek, hayo berikan obatmu kepada mereka."

"Uh, engkau kan juga punya, mengapa harus obatku yang diminta ?" kakek Lo Kun bersungut

"Obatku hanya tinggal sedikit. Sekarang obat sirnpananmu itu," seru kakek Kerbau Putih.

Tiba-Tiba kakek Lo Kun menghitung : "Satu, du tiga, empat, lima, enam, tujuh . . ." ia terus menghitung jumlah paderi yang terluka.

"Enampuluh ekor !" tiba-tiba ia berhenti, "amboi ! Mengapa begitu banyak yang terluka ?" kemudian ia berpaling kepada kakek Kerbau Putih dan berteriak : "Tidak, Kerbau Putih ! Obatku tentu habis kalau dipakai untuk mengobati sekian banyak orang ..."

"Ho, benar, benar, setan pendek," seru kakek Kerbau Putih, "pun kalau obat kita berdua dipakai semua, juga tetap masih kurang. Lebih baik tak diberikan saja !"

Mendengar itu Blo'on tak senang hati.Di anggap kedua kakek itu terlalu mementingkan kepentingan diri sendiri saja.

"Kakek berdua, jangan begitu pelit. Menolong jiwa orang itu penting. Obat habis biarlah besok kita cari lagi ..." ]

"Huh, enak saja engkau omong ' teriak kakek Lo Kun "dalam gua diperut gunung itu sudah tak ada lagi binatang yang begitu. Kemana kita harus cari penggantinya? Engkau juga punya obat. hai, benar, benar, engkau sendiri juga punya obat yang lebih manjur untuk menyembuhkan racun Hayo, keluarkanlah !"

"Aku ?" Bloon terkejut. "Ya, bukankah engkau menyimpan mustik kelabang itu ?' seru kakek Lo Kun.

"Maksudmu benda sebesar kacang yang memancar sinar merah itu T'

"Itulah !" seru kakek Lo Kun.

Blo'on cepat mengeluarkan sebuah bungkusan kecil. Setelah dibuka, isinya benda merah sebesar kacang : "Lalu bagaimana cara menggunakannya ?"

Kakek Lo Kun juga bingung. Akhirnya kakek Kerbau Putih yang buka suara : "Mustika itu harus direndam dalam air lalu minumkan air itu kepada mereka yang kena racun."

"Hai, kepala gundul, ambilkan segelas air !" segera Lo Kun berseru kepada seorang paderi.

Walaupun mendongkol karena disebut 'kepala gundul' tetapi karena Hui Liang taysu memberi isyarat, paderi itupun segera mengambilkan.

Setelah menerima gelas berisi air, Blo'on lalu memasukkan mustika kelabang ke dalamnya. Aneh air yang berwarna putih seketika berobah merah darah warnanya. Tetapi apabila mustika diambil, airpun kembali berwarna putih lagi

"Hayo, kita obati mereka," kata Blo’on lalu menghampiri kawanan paderi yang terluka itu. Dengan dibantu oleh kedua kakek, kakek Lo Kun yang mengangakan mulut dan kakek Kerbau Putih yang memijat hidung, Blo'on lalu meminumkan air rendaman mustika itu ke mulut setiap paderi.

Demikian setelah minta air sampai berpuluh gelas, akhirnya Blo'on dapat meminumkan air obat kepada paderi-paderi yang terluka. Memang hebat benar khasiat mustika kelabang itu. Beberapa waktu kemudian tampak paderi anakbuah barisan Lo-han-tin itu dapat bergerak dan bangun.

Melihat itu Hui Liang taysu girang sekali. Segera menjurah menghaturkan terima kasih kepada Blo'on dan kedua kakek. Tindakan wakil ketua Siau-lim-si itu diikuti oleh seluruh anggauta barisan Lo-han-tin yang terdiri dari 108 orang paderi.

Blo'on senang karena dapat menolong orang. Ia menyimpan lagi mustika itu ke dalam bajunya.

Sebagai pernyataan terima kasih, Blo'on dan kedua kakek diperlakukan sebagai tetamu agung oleh fihak Siau-lim-si. Mereka ditahan dan diminta bermalam di gereja situ. Malamnya diadakan perjamuan untuk menghormat mereka. Walaupun paderi Siau-lim-si pantang makan daging dan minum arak tetapi untuk ketiga tetamu itu telah di sediakan hidangan yang lezat.

Keesokan harinya, Blo'on bertiga pamit. Mereka hendak menuju kegunung Butong-san, meminta keterangan kepada perguruan Bu-tong-pay.

"Ah, rasanya Bu-tong-pay juga serupa dengan Siau-lim-si. Mereka hanya dapat memberi keterangan seperti yang kukatakan tadi," kata Hui Liang.

"Tak apa," kata Blo'on, "siapa tahu mereka dapat memberi keterangan kepadaku."

Di tengah perjalanan, tiba-tiba kakek Lo Kun menyelutuk : "Kemanakah sekarang kita ini ?"

"Bu-tong-san" sahut Blo'on. "Mengapa ?" "Minta keterangan kepada ketua Bu-tohg-pay tentang Bu Bun lojin dan perkumpulan Teratai-putih." kata Blo'on.

"Engkau sudah tahu dimana letak gunung Bu tong-san itu?" tanya kakek Lo Kun pula.

"Siapa bilang aku sudah tahu ?"

"Gila ! Bagaimana kita dapat mencapai tempat itu ?" Lo Kun mendelik.

"Tolol engkau !" teriak Bloon, "diatas bumikan banyak gunung. Salah satu tentu gunung Bu-tong-san. Mengapa hal yang begitu mudah engkau tak tahu ?"

"Tetapi tujuan aku dan Lo Kun keluar dari guha, adalah hendak mengantar engkau menghadap raja. Bukan mencari Bu Bun lojin," tiba-tiba kakek Kerbau Putih ikut buka suara.

"Ya, benar, benar, kami berdua hendak mengantar engkau ke kota raja menghadap raja. Perlu apa ke gunung Bu-tong- san ?" teriak Lo Kun.

Blo'on garuk-garuk kepala.

"Tetapi aku sudah berjanji dengan kakek tengkorak dalam guha. untuk mencarikan muridnya yang bernama Bu Bun. Kalau aku tak mencarikan, kan namanya aku ini ingkar janji " bantah Blo'on.

"Bukan ingkar janji" kata kakek Kerbau Putih, "kita tetap mencari Bu Bun lojin itu tetapi tidak harus sekarang. Karena kita masih mempunyai lain urusan yang penting. Apakah engkau tak ingin bertemu dengan ayahmu yang jadi raja itu? "

"Entahlah . .," Blo'on garuk-garuk kepala. ]

"Entah ? Apa engkau ini gila ?" kakek Kerbau Putih terbeliak heran, "masakan orang tak mau melihat bapaknya ? Sayang aku sudah tak punya bapak, kalau bapakku masih hidup tentu aku akan senang sekali menemuinya."

"Bukan aku tak senang," bantah Blo'on, "tetapi aku benar- benar tak ingat bagaimana bapakku itu. Dan akupun sudah lupa apakah aku ini mempunyai bapak atau tidak ..."

"Ho, engkau ini anak manusia atau anak setan ?" tiba-tiba kakek Lo Kun menyelutuk,

"Itulah yang hendak kuselidiki. Kalau anak setan, mengapa aku ini seorang manusia seperti kalian. Tetapi kalau anak manusia, aku merasa tak tahu siapa bapakku."

"Somali mengatakan bahwa engkau ini anak raja maka engkau boleh menghadap raja dan tanya kepadanya apakah engkau ini anaknya atau bukan kata kakek Kerbau Putih.

"Mudah-mudahan begitu," kata Blo'on, "karena aku sendiri sudah tak ingat."

"O, engkau tak dapat mengingat dirimu siapa dan siapa pula bapakmu itu ?” tanya kakek Kerbau Putih

"Benar," sahut Blo'on, "aku memang menderita semacam penyakit aneh ialah tak ingat lagi semua peristiwa yang lampau."

"Apakah otakmu masih ?" tiba-tiba pula kakek Lo Kun berseru.

"Entah masih ada entah sudah kosong, mana aku tahu ?" jawab Blo'on,

"O, berbahaya," seru kakek Lo Kun, "harus diperiksa apakah otakmu masih atau sudah hilang"

"Kalau masih ?" "Kalau masih, tehtu ada penyakitnya. Dan penyakit itu harus diobati," kata kakek Lo Kun dengan nada seperti seorang tabib.

"Kalau sudah hilang ?" tanya Blo'on. "Harus diisi lagi dengan otak baru !"

Blo'on terkesiap, serunya: "Dengan otak apa?"

Dengan sikap seperti seorang tabib yang pandai, berkatalah kakek Lo Kun : "Dengan otak apapun boleh. Otak anjing, otak kerbau, otak babi, otak monyet ..."

"Tidak sudi !" teriak Blo'on agak marah, "masakan otak orang hendak diganti dengan otak binatang. Aku minta diganti dengan otak manusia juga !"

Kakek Lo Kun mendelik : "Otak manusia ? Lalu manusia siapa yang mau memberikan otaknya kepadamu ?"

"Kifa cari orang itu. Masakan di dunia yang begini luas tak ada manusia yang mau menyerahkan otaknya untuk menolong orang yang sakit seperti diriku ini," gumam Blo'on.

"Ada ! Ya, engkau benar. Memang ada manusia yang dapat kita ambil otaknya !" tiba-tiba kakek Lo Kun menjerit. .

"Siapa ?" Blo'onpun ikut tegang, "Orang mati "

"Tidaaakkk!" Blo'on serentak memekik, "pakai otak orang mati. kan jadi orang mati nanti !"

Kakek Lo Kun merenung. Sesaat kemudian ia berkata : "Soal cari otak, nanti kita bicarakan lagi. Sekarang yang penting, akan kuperiksa dulu isi kepalamu itu. Masih ada otaknya atau tidak." "Bagaimana caranya memeriksa ?'

Sambil menunjuk ke sebatang pohon besar yang tumbuh ditepi jalan, kakek Lo Kun berkata: "Mari kita istirahat di sana, nanti akan kubelah kepalamu dengan pisau."

Mendengar itu kakek Kerbau Putih melongo dan Blo'onpun mendelik seperti orang dicekik setan .....

---ooo0dw0ooo---
*** ***
Note 26 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hari Minggu itu weekend tapi kalau cinta kita will never end"

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Bloon Jilid 09 Iblis kembar"

Post a Comment

close