Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 62

Mode Malam
Tiba-tiba Cu Siau-hong mempercepat serangannya.

Jarak yang cuma setengah depa itu segera tencapai dalam sekilas kelebatan saja tahu-tahu ujung pedang sudah tiba di depan dada.

Pada detik yang kritis inilah tiba-tiba Toa sianseng mengangkat lengan kanannya, pedang dari Cu Siau-hong itu persis menusuk pada lekukan lengannya.

Ketika Cu Siau-hong merapatkan lekukan tangannya itu, sang pedang segera terjepit diantara ketiaknya.

Tindakan yang dilakukan oleh Toa sianseng ini sama sekali berada diluar dugaan Cu Siau-hong, untuk sesaat dia menjadi termangu. Disaat inilah Toa sianseng menyentilkan tangan kanannya dengan pelan, tiba-tiba saja pedang yang berada di tangan Cu Siau-hong itu patah menjadi dua bagian.

Sambil menggenggam kutungan pedangnya, dengan cepat Cu Siau-hong bergerak mundur sejauh dua langkah.

“Bagaimana Cu Siau-hong?” ejek Toa sianseng kemudian sambil tertawa lebar.

“Hmm sungguh menakuti orang” sahut anak muda tersebut sambil mendengus.

“Menakuti orang? Beranikah kau menerima sebuah tusukanku dengan duduk di kursi?”

“Tidak usah, aku bukan kau Toa sianseng, dalam tindak tandukmu selama ini, perbuatan yang manakah darimu yang menuruti peraturan dunia persilatan? Aku Cu Siau hong tak akan tertipu oleh siasat busukmu itu”

“Baik, baik! Yang lunak tak mau yang keras pun enggan, tampaknya aku harus membunuhmu, nah berhati-hatilah!”

“Silahkan saja untuk turun tangan!”

Seng Hong dan Hoa Wan yang berada di belakang Cu Siau-hong telah dibuat terkesiap oleh tindakan Toa sianseng yang menjepit pedang dengan ketiak dan memutuskan pedang dengan sentilan tangan jari tangan itu.

Akan tetapi setelah menyaksikan ketenangan dari Cu Siau-hong, pelan-pelan ketenangan mereka pun pulih kembali.

Mendadak Bun Hong maju selangkah dan berdiri disamping Cu Siau-hong.

Sikap Cu Siau-hong tenang sekali, katanya sambil tertawa: “Dalam sekali sentilan saja Toa sianseng mampu mematahkan pedangku, ini menandakan kalau ilmu It ci sinking mu cukup hebat tapi apa sebabnya kau tidak memakai kesempatan ini untuk melanjutkan seranganmu?”

Sementara itu Su Eng telah turun tangan bersama-sama mengerubuti siluman kecil sehinga Kian Hui seng hanya bertarung satu lawan satu melawan manusia aneh tua.

Sebenarnya Kian Hui seng tidak mengharapkan bantuan orang lain, tapi setelah pertarungan berlangsung sekian lama, dia merasakan daya tekanan yang dipancarkan oleh sepasang manusia aneh tua dan muda itu makin lama semakin bertambah besar, maka ketika Su eng turun tangan membantu, Kian Hui seng sama sekali tidak bermaksud untuk menghalanginya.

Sepanjang hidupnya sudah beratus kali pertempuran dialami olehnya, dalam sehari saja dia pernah bertarung melawan ratusan jago lihay, dengan tenaga sakti alamiahnya yang ditambah dengan kesempurnaan tenaga dalamnya, meskipun harus bertarung belasan jam, tak pernah ia tunjukkan kelemahan.

Akibat dari pertarungan dia menjadi tenar dan diapun berubah menjadi seorang pendekar besar.

Karena dalam pertarungan itu dengan seorang diri Kian Hui seng mencari gara-gara dalam suatu pertemuan besar kaum rimba hijau dia mengobrak-abrik orang jahat yang hampir sebagian besar berkumpul disana.

Tapi dalam pertarungan yang berlangsung hari ini, Kian Hui seng dapat merasakan kalau dia telah bertemu dengan musuh yang amat tangguh, daya tekanan yang dipancarkan sepasang manusia aneh tua dan muda kian lama kian bertambah kuat. Kian Hui seng sadar ia bisa bertahan sampai puluhan jurus dibawah kerubutan dua orang itu karena dialah yang turun tangan lebih dahulu sehingga merebut posisi yang lebih menguntungkan, itulah sebabnya dia bisa bertahan sampai sekarang.

Tapi bagaimana pun keras kepalanya seseorang, namun Kian Hui seng sadar kalau dia telah berjumpa dengan suatu pertarungan antara mati dan hidup, lagi pula menang kalahnya pertarungan ini bisa jadi akan mempengaruhi seluruh situasi.

Bantuan dari Su eng dengan paksa berhasil mengajak musuh untuk bertarung seimbang, untuk sementara waktu menang kalah belum bisa diketahui.

Namun hasil mana sudah cukup untuk memuaskan Bun Hong, diam-diam pikirnya kemudian:

“Anak buah Cu Siau-hong memang bukan manusia manusia kelas dua..”

Dalam pada itu Toa sianseng masih tetap duduk di kursi kebesarannya sambil menonton sepasang manusia aneh tua dan muda melangsungkan pertempuran dari balik sorot matanya lamat-lamat muncul perasaan kaget dan tercengangnya yang sangat tebal.

Sambil tertawa Cu Siau-hong segera berkata:

“Toa sianseng bila dilihat dari luaran, demonstrasi yang kau perlihatkan barusan seakan-akan mengerikan dan menggidikkan hati orang, tapi tahukah kau apa sebabnya tidak sampai mengejutkan aku?”

Toa sianseng mengalihkan sorot matanya ke wajah Cu Siau-hong kemudian menjawab: “Mungkin hal ini dikarenakan Bun Hong berada di belakangmu dan kau percaya dia pasti akan berhasil menyelamatkan dirimu”

“Keliru besar jika kau berpendapat demikian” kata Cu Siau-hong sambil tertawa, “Toa sianseng, aku bukan merasa kalau dia dapat menolongku, melainkan aku percaya kalau kau tak akan mampu untuk membunuhku”

Pelan-pelan Toa sianseng bangkit berdiri, kemudian tanyanya:

“Apa alasanmu?”

“Kau kelewat gegabah, bila aku tak tahu kalau ilmu It ci sin kang mu sudah berhasil mencapai tingkatan seperti ini dan jikalau kau menyerangku secara tiba-tiba maka bisa jadi aku akan terbunuh di tanganmu atau paling tidak akan berhasil melukaiku, tapi sayang sekali kau terlalu suka mencari nama, terlalu suka memamerkan kemampuan sendiri”

“Aaaai.. Cu Siau-hong, dengan perbuatanku tadi aku sudah membuktikan kepadamu bahwa kemampuan yang kumiliki untuk membunuhmu hanya semudah membalikkan telapak tangan tapi kenyataannya kau tidak takut…”

“Yaa, karena persoalan yang sudah diketahui paling tidak bisa dibuatkan persiapannya untuk menanggulangi hal tersebut”

“Baik, kalau begitu berhati-hatilah..”

Mendadak dia melancarkan sebuah tusukan dengan ujung jari tangannya. Cu Siau-hong sama sekali tak bergerak, hanya tiba-tiba saja tangan kanannya dari bawah dibalik menuju atas dan dibalik mencengkeram urat nadi Toa sianseng.

Bagaikan disengat kalajengking, Toa sianseng menarik kembali tangannya sambil melompat mundur selangkah, serunya tertahan:

“Aaaah, rupanya kitab pusaka Kiam boh itu betul-betul sudah terjatuh ke tanganmu bahkan kau telah selesai membacanya..”

“Darimana kau bisa tahu?”

“Karena ilmu yang khusus untuk menandingi ilmu jari it ci sin kang ini tercantum pada halaman yang terakhir, kenyataannya kau dapat mempergunakan ilmu tersebut”

“Toa sianseng, jikalau ilmu silatmu hanya kau pelajari dari kitab pusaka Kiam boh tersebut, maka terus terang saja kukatakan kepadamu, apa yang kau bisa aku pun bisa, mungkin aku tidak sesempurna permainanmu, tapi paling tidak aku masih mengerti bagaimana untuk menghadapinya”

-oo>d’w<oo-

“Bagus, bagus sekali, kalau begitu kau memang tak boleh dibiarkan hidup terus di dunia ini” kata Toa sianseng kemudian sambil manggut-manggut.

“Besok adalah hari pemunculan dari Pena Wasiat, walau pun aku kurang jelas tentang hubunganmu dengan Pena Wasiat, tapi aku yakin diantara kalian berdua pasti mempunyai hubungan yang erat sekali..” “Cu Siau-hong, kau memang terlalu pintar cuma menurut apa yang kuketahui, orang yang kelewat pintar seringkali tak bisa hidup terlalu lama”

“Bukan aku terlalu pintar, melainkan kau sendirilah yang memandang orang lain kelewat bodoh, seperti misalnya caramu untuk merajai dunia persilatan, apakah perbuatanmu ini dapat mengelabuhi semua orang di dunia ? Seperti juga tindakanmu menutupi wajah sendiri dengan topeng, kau anggap identitasmu sudah dapat dirahasiakan dan orang lain tak akan mengenali siapakah dirimu yang sebenarnya.”

“Paling tidak sampai sekarang toh masih belum ada orang yang bisa mengenali siapakah aku?”

Cu Siau-hong manggut-manggut.

“Di dalam soal ini, kau memang merahasiakan identitasmu dengan baik, cuma hal ini bukan bersifat langgeng, suatu hari pasti ada orang yang akan berhasil mencopot kedokmu itu.”

“Padahal tak usah orang lain yang mencopotkan bagiku, bila saatnya untuk melepaskan topeng ini sudah tiba secara otomatis akan copot sendiri”

“Sayang sekali kami tak bisa menunggu sampai saat tersebut”

“Cu Siau-hong, apakah kau ingin sekali menyaksikan paras muka asliku?”

“Tentu ada syaratnya?”

“Benar, syaratnya amat sederhana yakni beritahu kepadaku siapa yang menyerahkan kitab pusaka Kiam boh tersebut kepadamu?” Diam-diam Cu Siau-hong menghela napas panjang, setelah tertegun pikirnya:

“Kalau dilihat dari keadaan ini, nampaknya duduknya persoalan sudah mulai agak terang..“

Berpikir demikian, dia pun berkata:

“Apa sih hubunganmu dengan orang itu?”

“Kita sedang bertukar syarat, kau cukup menerangkan kisah pengalamanmu ketika memperoleh kitab tersebut dan aku pun akan melepaskan topeng kulit manusia ini untuk memperlihatkan wajah asliku kepadamu.”

“Toa sianseng, diantara kita siapakah yang dapat mempercayai pihak lain?”

Toa sianseng berpaling dan memandang sekejap keadaan pertarungan yang berlangsung antara sepasang manusia aneh tua dan muda melawan Kian Hui seng, kemudian ujarnya:

“Pertarungan mereka masih akan berlangsung cukup lama, nah Cu Siau-hong, waktu yang tersedia bagimu masih lebih dari cukup, kau harus lekas mengambil keputusan!”

“Memutuskan soal apa?”

“Bagaimana kalau kita membicarakan pertukaran syarat itu..”

“Aku sudah mengambil keputusan, aku rasa tingkat kepercayaanku masih jauh lebih besar daripada kau”

“Apa maksudmu?”

“Maksudnya kau harus mencopot topeng kulit manusia yang kau kenakan itu lebih dulu, setelah kusaksikan paras muka   aslimu   barulah   kuceritakan   kisah  pengalamanku sewaktu menerima kitab pusaka Kiam boh tersebut, bagaimana?”

“Ooooh…!”

“Berbicara soal ‘kepercayaan’ rasanya aku masih bisa dipercaya ketimbang kau” kata Cu Siau-hong lagi.

Toa sianseng termenung beberapa saat kemudian katanya:

“Boleh saja, cuma kau harus menyanggupi sebuah permintaanku lebih dulu, dimanakah kitab Kiam boh tersebut kini”

Cu Siau-hong tertawa.

“Tentunya tidak kuhancurkan benda itu..”

“Jadi maksudmu, benda itu masih berada di dunia?” “Betul! Itulah sebabnya tiga atau lima tahun kemudian,

mungkin dalam dunia persilatan akan bermunculan kembali berpuluh-puluh orang Cu Siau-hong, oleh karenanya terhadap berhasil atau tidaknya diriku, aku tidak terlalu memandang serius”

“Cu Siau-hong, ada sementara ilmu silat yang belum tentu bisa dipelajari meskipun memiliki kitab Kiam boh itu, yang paling penting adalah dia mesti memiliki bakat serta kecerdasan yang luar biasa”

“Mereka dapat menemukan manusia-manusia seperti ini, lagipula mereka mempunyai cukup waktu”

“Aku tidak percaya kalau seseorang dapat memiliki jiwa yang begitu besar setelah membaca kitab mana masih mau menyimpannya terus di dunia ini?”

“Kau boleh tidak percaya, tapi aku sudah merupakan contoh  yang  jelas  atau  tegasnya  saja  kitab  mana  sudah bukan merupakan sejilid kitab Kiam boh belaka, melainkan sejilid kitab pusaka yang penuh dengan catatan pelbagai macam ilmu silat diantaranya termasuk ilmu pukulan, ilmu kepalan, jari serta macam-macam kepandaian silat lainnya.”

“Cu Siau-hong, pernahkah kau bayangkan kehadiran Kiam boh tersebut dalam dunia kemungkinan besar akan menciptakan manusia macam diriku?”

“Betul, setelah kau singgung aku jadi menyadari akan bahayanya, yah kitab itu harus dimusnahkan secepatnya”

“Bagus sekali, dalam hal ini aku dapat membantu usahamu itu…”

“Cu kongcu, kau tak usah menerima permintaannya” teriak Bun Hong tiba-tiba, “Jika kau rusak Kiam boh tersebut, kemudian dia membunuhmu maka dia akan menjadi seorang manusia yang tiada tandingannya di dunia ini”

“Bun Hong, orang kuno bilang hati perempuan adalah hati yang paling keji, tampaknya ucapan ini memang tepat sekali,” seru Toa sianseng mendongkol.

Bun Hong tertawa dingin.

“Toa sianseng aku tidak tahu apakah kau masih mempunyai sifat kemanusiaan atau tidak?”

Oleh karena wajah Toa sianseng ditutup oleh kedok, maka orang tak bisa melihat apakah dia sedang gusar atau tidak namun kalau dilihat dari sorot matanya, bisa diketahui bahwa amarahnya sudah memuncak.

Apalagi kalau dibalik sorot mata tersebut sudah terlihat sinar   yang   berapi-api   hal   mana   membuktikan   kalau kemarahannya sudah mencapai ke tingkatan yang tak terkendalikan lagi.

Dengan cepat Bun Hong dapat menatap sorot matanya itu, sorot mata tersebut adalah semacam sorot mata yang buas dan sangar, dengan cepat dia meningkatkan kewaspadaannya.

Cu Siau-hong pun segera membuat persiapan yang paling ketat dan rapat.

Toa sianseng memang memiliki kemampuan yang sukar ditandingi orang lain, ternyata dia sanggup untuk menekan hawa amarahnya sehingga tidak sampai meluap keluar.

Sambil tertawa dingin Cu Siau-hong segera berseru:  “Toa   sianseng,   kesabaranmu   sungguh mengagumkan

sekali, cukup membuat hatiku agak bergetar keras saking

terkejutnya!”

“Kesadisannya sudah merasuk hingga ke dalam tulang sumsumnya..” sambung Bun Hong dari samping.

“Toa sianseng” kata Cu Siau-hong lagi, “Apabila kau enggan turun tangan lagi, terpaksa kami akan segera turun tangan.”

“Kalian hendak maju bersama? Ataukah maju satu persatu?”

“Itu urusan kami sendiri, tak usah kau kuatirkan”

“Bagus sekali! Kalau begitu kalian berdua sekarang boleh turun tangan bersama-sama”

“Toa sianseng” kata Bun Hong, “Aku cukup memahami maksud hatimu itu, bukankah kau berharap bisa menunggu datangnya bala bantuan?”

“Hmmm..” “Betul!”

“Sayang sekali kami tak akan memberi kesempatan seperti ini kepadamu”

Tiba-tiba saja gadis itu mengayunkan telapak tangannya sambil melancarkan sebuah pukulan dari kejauhan.

Toa sianseng sama sekali tidak menghindari maupun berkelit, dia seakan-akan siap menerima serangan tersebut dengan keras lawan keras.

Tatkala telapak tangan dari Bun Hong hampir menempel diatas dada Toa sianseng, tiba-tiba saja dia menarik kembali serangannya itu.

“Mengapa tidak kau lanjutkan seranganmu?” ejek Toa sianseng dingin.

“Kalau manusia yang licik dan berhati busuk macam kau berani menghadapi serangan tanpa menghindar ataupun berkelit, ini berarti kau sudah mempersiapkan sesuatu..”

“Bun Hong, apabila kau begitu bernyali kecil, bagaimana mungkin bisa melukai diriku?”

“Cu kongcu, semakin kupikirkan tentang dirinya, hatiku semakin merasa kalau dia merupakan seorang manusia yang kurang beres, itulah sebabnya serangan ini kutarik kembali.”

“Betul” sambung Cu Siau-hong dari sisinya, “Besar kemungkinan ia mengenakan kutang baja pelindung badan”

“Kalau cuma tameng baja saja masih mendingan, tapi aku pikir kemungkinan besar diatas tameng tersebut dia pasang pula jarum beracun atau sebangsanya..”

“Ehmmm.. kalau dibicarakan dari kelicikan serta kebusukan hati orang ini, kemungkinan besar dia dapat berbuat demikian” Seng Hong segera meloloskan pedangnya dan diangsurkan kepada Cu Siau-hong.

Setelah memegang pedang ditangan, kembali Cu Siau hong berkata dengan dingin:

“Toa sianseng, sambutlah seranganku ini”

Tiba-tiba saja dia melepaskan sebuah tusukan kilat kedepan.

Pada saat yang bersamaan Bun Hong mengeluarkan pula pergelangan tangan kanannya, sekilas cahaya tajam meluncur keluar lewat balik ujung bajunya.

Terhadap datangnya tusukan pedang yang tajam tersebut. Toa sianseng bersikap seakan-akan cuma permainan kanak-kanak, sama sekali tidak memikirkan ke dalam hati.

Dengan cepat pedang itu menusuk diatas perut Toa sianseng, sedangkan cahaya tajam yang menyambar datang tadipun menghajar telak diatas dadanya.

Kedua tempat tersebut merupakan tempat yang mematikan bagi seseorang.

“Triiiing…triiiing..triiing..” beberapa kali dentingan nyaring bergema memecahkan keheningan, pedang itu seakan-akan menusuk diatas lempengan baja yang sangat keras, dengan cepat melejit kembali.

Sebaliknya cahaya tajam yang menusuk ke dada Toa sianseng pun seperti menumbuk diatas dinding yang keras. “Traang..! diiringi dentingan nyaring, senjata itu pun membentur balik.

Rupanya hanya sebilah pisau terbang yang tipis sekali. Toa sianseng bergerak cepat, dengan jari telunjuk dan ibu jarinya dia menjepit pedang Cu Siau-hong, lalu ujarnya sambil tertawa lebar:

“Perubahan yang sesungguhnya dari ilmu silat bukan terletak pada rumitnya perubahan jurus, melainkan kelincahan dalam gerakan serangan, meskipun sudah mempelajari Tay lo cap ji si, namun belum dapat mempergunakannya secara baik”.

Cu Siau-hong tertawa.

“Toa sianseng, aku merasa kagum sekali dengan perasaan yang seksama darimu untuk melindungi diri, memang tidak banyak orang persilatan yang menggunakan tameng baja diatas tubuhnya seperti kau..”

Entah sedari kapan Bun Hong mengenakan pula sebuah sarung tangan dengan jari-jari yang berkuku tajam.

Dengan ketat dia berdiri di belakang Cu Siau-hong, sementara sepasang matanya mengawasi terus sepasang tangan Toa sianseng secara ketat, asal dia turun tangan maka sepasang tangan Bun Hong yang tajam niscaya akan mencengkeram tubuh Toa sianseng.

Sedangkan Su Eng dan Kian Hui seng mengawasi terus sepasang manusia aneh tua dan muda secara ketat.

Cu Siau-hong masih tetap mempertahankan ketenangannya yang luar biasa kendatipun berulang kali dia harus menghadapi mara bahaya.

Ketenangan yang berhasil dipertahankan olehnya ini membuat pemuda ini berhasil mempertahankan sisa kekuatan untuk melancarkan serangan balasan.

Bun Hong menghembuskan napas panjang, lalu katanya: “Cu kongcu, bila waktu harus berlarut-larut terus, niscaya keadaan tak akan menguntungkan kita, lebih baik kita beradu jiwa sekarang saja, mumpung kita masih mempunyai kesempatan untuk berbuat demikian”

“Baik!”

Sambil membalikkan tangannya memutus pedang, ia lepaskan sebuah tendangan kilat menghajar perut Toa sianseng.

Pada saat yang bersamaan Bun Hong melancarkan serangan pula, tangan kanannya mencengkeram pergelangan tangan kanan Toa sianseng yang menjepit pedang itu, sementara ujung jari tangan kirinya mengancam tenggorokan Toa sianseng.

Dengan suatu gerakan yang cepat Toa sianseng memutar tubuhnya, tenaganya dikerahkan kedalam tangan kanannya untuk mematahkan pedang yang berada di tangan kanan Cu Siau-hong, bersamaan waktunya dia menghindari serangan dari kedua orang itu, kemudian menggunakan kesempatan mana tangan kirinya digunakan untuk melancarkan serangan kearah Bun Hong.

Tampaknya ketajaman jari tangan Bun Hong tersebut merupakan musuh yang ditakuti Toa sianseng.

Dia boleh saja tidak memandang sebelah matapun terhadap pedang baja yang kuat itu, namun menaruh perasaan yang amat jeri terhadap sarung tangan yang dipakai si nona.

Tapi justru karena hal ini, Bun Hong berhasil merebut kedudukan yang cukup lumayan dalam pertarungan tersebut. Setelah secara berturut-turut kedua bilah pedangnya dipatahkan orang, Cu Siau-hong benar-benar merasakan hatinya campur aduk tak karuan.

Serangan ganas dari Bun Hong segera memberikan waktu yang cukup bagi Cu Siau-hong untuk mempersiapkan diri.

Hoa Wan mencabut keluar pedangnya dan segera disodorkan kedepan.

Tapi Cu Siau-hong menggelengkan kepalanya berulang kali seraya berkata:

“Pedang ini hanya putus sepotong, masih bisa dipakai dengan baik..”

Diiringi bentakan nyaring pedangnya diputar sambil menerjang kemuka.

Jurus-jurus serangan dari ilmu Tay lo cap ji si pun segera berhamburan di udara.

Sekali pun pedang yang dipakai hanya pedang yang sudah kutung setengah, namun tidak berarti mengurangi daya pengaruhnya.

Bun Hong melancarkan tiga belas serangan berantai, tapi setelah menyerang sebanyak sembilan jurus, ia kena terdesak oleh kedahsyatan serangan Cu Siau-hong sehingga serangannya tertutup dan terdesak keluar.

Dia cukup mengetahui akan kedahsyatan dari ilmu pedang Tay lo cap ji si tersebut, hawa pedang yang memancar keluar tak akan membiarkan dia untuk turut terluka dalam serangan ini.

Toa sianseng sendiri hanya berputar di sekitar tiga depa lebih,   ilmu   memotong   jalan   darahnya   selalu menutup serangan dahsyat dari Bun Hong membuat nona itu seakan akan tak mampu banyak berkutik.

Seandainya dia bukan merasa jeri terhadap ketajaman sarung tangan yang dikenakan nona itu, sudah pasti Bun Hong telah terbunuh semenjak tadi.

Akan tetapi sama sekali berbeda dengan ilmu pedang Tay lo kiam si dari Cu Siau-hong.

Jurus pedangnya yang maha dahsyat itu seakan-akan bukit Thay san yang menindih kepala, memaksa Toa sianseng mau tak mau harus menghadapi dengan sepenuh tenaga.

Tampak sepasang tangannya bergerak kian kemari, dia selalu menggunakan pergelangan tangannya untuk menyambut datangnya serangan pedang dari Cu Siau-hong.

“Triiing..traaaag..triiing…traaang!” benturan nyaring yang memekikkan telinga bergema tiada hentinya secara keras lawan keras dia bendung semua serangan dahsyat Cu Siau-hong yang menggunakan kutungan pedang itu.

Toa sianseng sudah menguasahi penuh setiap perubahan dari Tay lo cap ji si, sesudah membendung empat serangan lawan, dia mulai memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk melancarkan serangan balasan.

“Weees..!” sebuah pukulan langsung dilontarkan kedepan.

Pukulan ini persis menyerempet masuk melalui celah kosong dari gerakan pedang Tay lo cap ji si tersebut.

Angin pukulan yang tajam dahsyat langsung menggulung kemuka dengan kecepatan luar biasa.

Entah berapa puluh jago lihay yang pernah berhadapan dengan Cu Siau-hong dalam pertarungan seru akan tetapi belum pernah pemuda ini menjumpai angin pukulan yang begini dahsyat dan kuatnya.

Angin serangan yang kuat dan dahsyat memaksa Cu Siau-hong harus mundur sejauh tiga empat kaki dari posisi semula.

Bun Hong segera mendesak maju kemuka mengisi kekosongan tersebut, secara beruntun dia melancarkan tiga buah serangan berantai.

Sekali lagi Cu Siau-hong menggerakkan pedangnya sambil menyerbu kemuka.

Dalam waktu singkat ketiga orang itu terlibat dalam suatu pertempuran yang amat sengit.

Serangan tajam dari tangan Bun Hong serta permainan ilmu pedang Tay lo kiam si dari Cu Siau-hong ternyata tak lebih hanya berhasil memaksa Toa sianseng untuk bertarung dalam keadaan seimbang dan sama kuat.

Ilmu pedang Tay lo cap ji si tersebut mempunyai daya pengaruh yang luar biasa sekali, tapi untung saja Bun Hong mempunyai sedikit pengertian atas jurus-jurus pedang yang sangat dahsyat dan luar biasa itu.

Maka dia dapat mengimbangi setiap permainan pedang yang dilancarkan oleh Cu Siau-hong.

Pada permulaan pertarungan itu berlangsung kerja sama dari Cu Siau-hong dan Bun Hong masih belum dapat mencapai suatu kerja sama yang akrab, tapi setelah pertarungan berlangsung sekian lama, kerja sama kedua orang itu makin lama semakin lancar dan matang.  Ujung jari-jari yang runcing, jurus pedang yang tajam tampak semakin bertambah dahsyat dan mengerikan pula akibat dari semakin matangnya kerja sama tersebut.

Sebetulnya Toa sianseng masih menghadapi serangan dari kedua orang musuhnya dengan ringan dan santai, namun lambat laun dia kelihatan semakin payah dan ngotot.

Sementara itu di pihak lain Kian Hui seng dan Su Eng sedang mengawasi terus gerak-gerik dari sepasang manusia aneh tua dan muda.

Akan tetapi sepasang manusia aneh tua dan muda tidak memperhatikan Kian Hui seng mau pun Su Eng, mereka telah mencurahkan sebagian besar dari perhatiannya untuk mengikuti jalannya pertarungan antara ketiga orang tersebut.

Sambil melancarkan serangannya secara bertubi-tubi mendadak Bun Hong berseru:

“Toa sianseng aku masih mengira kau memiliki suatu kesabaran yang luar biasa, sekarang aku dapat merasakan bahwa kau tak lebih hanya begitu saja”

“Jarak kalian dari jalan menuju ke kemenangan masih jauh sekali lebih baik janganlah kelewat cepat merasa bangga”

“Toa sianseng, dulu aku memang menaruh perasaan jeri kepadamu, tapi sekarang semua perasaan tersebut sudah hilang tak berbekas, aku dapat merasakan bahwa kau pun tak lebih cuma seorang manusia biasa”

“Bagaimana dahulu? Kau menganggap diriku sebagai apa?” jengek Toa sianseng. “Dulu, aku selalu menganggap dirimu sebagai malaikat suci, dewa yang sakti”

“Bun Hong, Toa sianseng tetap merupakan Toa sianseng, berhati-hatilah kau”

Mendadak dia menggetarkan tangan kanannya, tahu tahu dalam genggamannya telah bertambah dengan sebilah pedang emas.

Itulah sebilah pedang pendek yang panjangnya mencapai satu depa lebih lima inci.

Tapi begitu pedang pendek tersebut berada dalam genggaman Toa sianseng, kedahsyatan dan daya pengaruhnya sungguh menggetarkan hati.

Cu Siau-hong yang melancarkan serangan-serangan yang gencar dan dahsyat, seketika itu juga kena terbendung oleh pertahanan Toa sianseng yang kuat.

Ujung jari Bun Hong yang runcing pun segera kena tertahan oleh permainan pedang emasnya yang ampuh.

Toa sianseng yang pada mulanya terdesak pada posisi di bawah angin, kini sudah mulai dapat menguasai keadaan kembali, posisinya pun makin lama semakin bertambah membaik.

Kian Hui seng segera menggetarkan golonya sambil berseru:

“Saudaraku, perlukah bantuanku!”

Mendadak terdengar seseorang berseru dengan suara dingin:

“Golok lewat tanpa suara Kian Hui seng, kau sudah bosan hidup rupanya?” Ketika mendongakkan kepalanya, entah sedari kapan dua orang lelaki setengah umur berbaju hitam telah munculkan diri di tengah ruangan.

“Mundur!” Bun Hong segera berseru nyaring.

Tanpa membuang waktu dia segera melompat mundur sejauh lima depa lebih dahulu.

Cu Siau-hong segera mengikuti gerakannya dengan mundur pula ke belakang.

Toa sianseng tidak mendesak lebih jauh, dia menarik pula pedang emasnya.

“Lo sam, Lo su..!” Bun Hong berseru.

Dua orang lelaki berbaju hitam itu memandang sekejap kearah Bun Hong dengan pandangan dingin, kemudian katanya:

“Toa sianseng, apa yang sebenarnya telah terjadi?”

“Apa yang telah terjadi? Ji sianseng telah mengkhianati kita semua..”

Dua orang manusia berbaju hitam itu pelan-pelan bergerak maju kemuka, mereka baru berhenti setibanya di hadapan Toa sianseng.

Sesungguhnya Kian Hui seng hendak mengumbar amarahnya, tapi segera dicegah oleh Cu Siau-hong.

Setelah tertawa dingin Toa sianseng cepat menegur: “Sam sianseng, Su sianseng, bagaimana kalian

memasuki tempat ini?”

Kedua orang manusia berbaju hitam itu membungkukkan badannya memberi hormat dan menjawab: “Kami berhasil melampaui Han-sah dan Si-im serta membunuh empat orang sendiri sebelum berhasil memasuki ruangan ini”

“Bagus, bagus sekali, Lo sam, orang yang menggenggam pedang kutung itu adalah Cu Siau-hong, aku akan serahkan dia kepadamu, kau harus membunuhnya sampai mati!”

Manusia berbaju hitam yang berada disebelah kiri segera mengiakan, pelan-pelan dia berjalan menghampiri Cu Siau hong.

“Yu losam, berhenti kau!” mendadak Bun Hong berseru dengan suara dingin.

Yu losam menghentikan langkahnya kemudian bertanya: “Ji sianseng ada urusan apa?”

“Barusan, kami telah bertarung melawan Toa sianseng..” kata Bun Hong.

“Jadi kau sudah berkhianat?”

“Benar!” sambung Toa sianseng cepat, “dia sudah berkhianat secara terang-terangan”

“Terpaksa aku harus memberitahukan satu hal kepadamu” kata Bun Hong lagi.

“Baik, katakanlah!”

“Kami telah bertarung melawan Toa sianseng, bahkan hingga sekarang masih tetap hidup”

“Ji sianseng” tukas Yu losam cepat, “Seandainya kau mengucapkan kata-kata kotor, maka leluconmu ini sedikitpun tidak menggelikan”

“Aku tidak berguarau, tidak pula membikin lelucon, aku berbicara dengan serius” “Oyaa..?”

“Yang paling penting adalah Toa sianseng tidak berhasil membunuh kami, hal ini membuktikan kalau Toa sianseng pun seorang manusia juga, bukan dewa atau malaikat, aku dan dia sama saja, asalkan ilmu silatku lebiih tangguh sedikit saja niscaya dapat kutandingi dirinya, lagipula ilmu silat yang dimilikinya hanya sedikit saja lebih tangguh daripada kita”

Yu losam tertawa dingin, dia meneruskan langkahnya menghampiri Cu Siau-hong.

“Yu losam” kembali Bun Hong berkata, “Mengapa kau bersikeras hendak membunuh Cu Siau-hong?”

“Melaksanakan tugas!” “Melaksanakan tugas siapa?” “Tentu saja tugas Toa sianseng” “Siapakah Toa sianseng?”

Yu losam tertegun sejenak, lalu sahutnya:

“Toa sianseng adalah Toa sianseng, apa yang mesti kucurigai lagi?”

Bun Hong segera tertawa dingin.

“Entah siapa saja dia orangnya asalkan orang itu mengenakan kedok atau topeng kulit manusia diatas wajahnya, maka dia bisa menjadi Toa sianseng bukan?”

“Soal ini, soal ini…”

“Aku tidak pernah mengerti, siapakah sesungguhnya Toa sianseng itu?”

Yu losam tidak menjawab, tapi dia berpaling juga untuk memandang sekejap kearah Toa sianseng. Dengan suara dingin Toa sianseng segera berseru: “Yu losam, apa yang sedang kau curigai?”

“Aku sedang merenungkan perkataan dari Ji sianseng” jawab Yu losam cepat.

“Apakah perkataan dari Ji sianseng dapat dipercaya?” “Apakah perkataannya dapat dipercaya?” Yu losam

balik bertanya pula.

Toa sianseng segera menegur dengan suara dingin: “Losam, apakah kau pun bermaksud untuk

mengkhianati pula diriku?”

Yu losam mengangkat bahunya seraya menjawab:

“Apa yang diucapkan nona Bun Hong memang benar sekali, kita membunuh orang dan jiwa, sesungguhnya kesemuanya ini dikarenakan apa? Selama ini kau memerintah kami untuk ini itu tapi siapa pula dirimu?”

“Aku adalah Toa sianseng”

“Siapa pula Toa sianseng itu?” kata Yu losam sambil tertawa lebar.

“Tentu saja diriku!”

Dengan cepat Yu losam menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya lagi:

“Selama banyak tahun, di hati kecil kami selalu dihantui oleh suatu pertanyaan yakni siapakah sebenarnya orang yang memberi perintah kepada kami selama ini? Pertanyaan tersebut sudah berubah menjadi beban yang berat sekali didalam hati kecil kami” “Kalau toh kalian mempunyai persoalan semacam itu, mengapa tak pernah kalian utarakan?” tukas Toa sianseng dengan cepat.

“Sesungguhnya persoalan itu sudah mengakar didalam hati kecil kami, hanya saja selama ini belum ada waktu untuk diutarakan keluar”

“Jadi kau anggap sekarang saat yang kalian nantikan itu telah tiba?”

“Betul!”

Toa sianseng segera berpaling dan memandang sekejap kearah Su sianseng, kemudian tegurnya pula:

“Thi losu, bagaimanakah perasaanmu?”

“Aku merasa seperti apa yang dirasakan lo sam, aku pun beranggapan bahwa persoalan ini perlu dibikin jelas lebih dahulu..”

“Apakah kalian pun mencurigai identitasku?”

“Selama banyak tahun kami belum pernah menyaksikan raut wajah aslimu, sekarang kami butuh untuk mengetahui raut wajah aslimu itu!” sahut Thi lo su cepat.

“Setelah mengetahui?”

“Setelah mengetahui, kami akan merundingkan suatu cara penyelesaian” sambung Bun Hong.

“Yu losam, Thi losu, aku menantikan jawaban dari kalian berdua”

“Apa yang dikatakan Bun Hong memang betul” ucap Yu losam, “Setelah mengetahui identitasmu yang sesungguhnya, kami baru dapat merundingkan suatu cara untuk menyelesaikan persoalan ini..” Mendadak Toa sianseng membalikkan badannya dan berjalan menuju keluar.

“Berhenti!” Bentak Bun Hong dengan suara nyaring.

Namun Toa sianseng tidak menggubris bentakan itu, dia malahan mempercepat langkahnya langsung menerjang keluar dari pintu ruangan.

Mendadak dari depan pintu ruangan muncul dua sosok bayangan manusia.

Kedua orang itu adalah dua manusia buta yang mengenakan baju berwarna abu-abu.

Inilah Han-sah dan Si-im.

Meskipun kedua orang ini sudah menjadi buta puluhan tahun lamanya, namun kepandaian silat yang mereka miliki amat lihay, lagipula mereka berhasil melatih pendengaran serta penciumannya sehingga melebihi siapa saja.

Dari jarak sepuluh kaki mereka dapat mendengar suara jatuhnya daun kering dari atas pohon, dari hawa yang terpancar keluar dari tubuh manusia mereka dapat membedakan manusia asing atau manusia dikenal yang berada dihadapannya.

Gerakan tubuh dari Toa sianseng cepat sekali, hampir saja dia saling bertumbukan dengan kedua orang itu.

Setelah menghentikan gerakan tubuhnya, Toa sianseng mundur sejauh lima langkah dengan cepat, serunya tertahan:

“Oooh, kalian?”

Han-sah dan Si-im merupakan dua julukan dari mereka berdua, julukan tersebut diperoleh setelah sepasang mata mereka menjadi buta dan kedua orang itu berhasil melatih semacam senjata rahasia yang amat beracun serta suatu kombinasi kepandaian silat yang luar biasa sekali.

Tiada manusia yang tahu apakah dalam satu jurus serangan yang mereka lancarkan akan disertai serangan senjata rahasia atau tidak, oleh karena itu banyak sekali orang yang menjadi korban dibawah serangan maut mereka, nama busuk Han-sah dan Si-im pun menjadi lebih mengerikan daripada ular beracun ditengah gurun pasir.

Dengan semakin tersohornya julukan dari kedua orang ini, nama asli mereka berdua pun semakin tenggelam dan tidak dikenali orang lagi.

Sebenarnya kedua orang ini adalah saudara kembar, setelah melalui kerja sama selama puluhan tahun, boleh dibilang hubungan batin mereka erat sekali.

Sesungguhnya mereka she Ang, yang lahir setengah jam lebih dulu sang lotoa bernama Ang Hui, sedangkan yang lahir belakangan bernama Ang San.

“Toa sianseng kah disitu?” terdengar Ang Hui menegur sambil tertawa dingin.

“Benar-benar memiliki daya ingatan yang luar biasa” puji Toa sianseng, “Seingatku hanya satu kali kuajak kau berbicara”

“Itu sudah lebih dari cukup untuk kami” kata Ang Hui cepat, “Entah suara siapa saja, asalkan kami dapat mendengar satu kali maka selama hidup suara itu tak pernah akan terlupakan kembali!”

“Han-sah, Si-im..” seru Toa sianseng dengan kening berkerut.

Ang Hui dan Ang San bersama-sama menyambut: “Ada apa Toa sianseng?” “Apabila kalian telah yakin kalau aku adalah Toa sianseng, mengapa perbuatan kalian begitu kurang ajar dan tak tahu sopan santun?”

“Toa sianseng” kata Ang San dingin, “Tugas kami berdua didalam organisasi ini hanya sebagai pengawal, tapi setiap perintahmu selalu kami laksanakan dan selama ini belum pernah menyalahi perintah”

“Betul, kalian memang selalu melaksanakan perintah dengan baik dan serius, tidak mementingkan diri sendiri dengan mengutamakan kepentingan organisasi, kalian berdua memang pelaksana hukuman yang mengagumkan”

“Tidak perlu, setiap orang memiliki kesadaran sendiri, dalam hal ilmu silat mungkin kami masih memiliki sedikit modal tapi sepasang mata tak dapat melihat benda, mustahil untuk kami mengejar orang yang kabur sejauh seribu li, jadi kami tak mungkin untuk menjabat kedudukan sebagai pelaksana hukuman tersebut”

Cu Siau-hong yang mendengarkan pembicaraan tersebut diam-diam segera berpikir:

“Walaupun kedua orang ini sudah menggabungkan diri dengan organisasi ini, namun watak mereka nampaknya masih tetap dipertahankan seperti sedia kala”

Sementara itu mencorong sinar amarah dari balik mata Toa sianseng, namun dia tidak mengumbar hawa amarahnya itu, hanya pelan-pelan ujarnya:

“Kalau toh kalian masih menganggap diri kalian sebagai anggota organisasi ini, pun tahu kalau aku adalah Toa sianseng, mengapa sikap kalian terhadapku masih begitu kurang ajar dan tak tahu sopan santun?”

Bun Hong yang berada disisinya segera menimbrung: “Walaupun mereka tahu kalau kau adalah anggota organisasi kita ini, juga mengetahui dirimu sebagai Toa sianseng, namun Han-sah dan Si-im adalah manusia yang serius, mereka selalu merasa tidak puas atas tindakanmu yang telah mengundang kedatangan anak buahnya tapi kemudian membinasakan mereka semua..”

-oo>d’w<oo-

Toa sianseng tertawa dingin, segera tegurnya:

“Ang Hui, Ang San, tahukah kalian siapakah manusia yang telah membunuh anak buah kalian?”

“Siapa?” tanya Ang Hui.

“Sam sianseng dan Su sianseng!” “Ang San segera tertawa dingin:

“Heeeh… heeeh.. heeh..hal ini semakin membuat kami berdua tidak mengerti, kalau toh Sam sianseng dan Su sianseng mengapa mereka membunuhi orang-orang sendiri?”

Ang Hui menyambung pula ketus:

“Kami telah mendapat perintah untuk berjaga-jaga disini, siapa pun dilarang memasuki tempat ini, sungguh tak disangka Sam sianseng dan Su sianseng tidak segan-segan membunuhi orang sendiri dan menyerbu kemari, apalagi sampai sekarang larangan tersebut belum dicabut, apabila ada orang menerjang masuk kedalam rumah gubuk ini, sudah seharusnya kami berdua yang bertanggungjawab atas kejadian ini, bukankah demikian?”

“Baiklah, aku dengan kedudukanku sebagai  Toa sianseng memberitahukan kepda kalian, Yu losam dan Thi losu   datang   kemari   atas   perintahku,   kalian   tak   usah mencampuri urusan ini lagi, sekarang boleh mengundurkan diri dari sini!”

“Toa sianseng, kau adalah pemimpin dari organisasi ini, apa yang kau ucapkan merupakan perintah, tapi sebelum perintah larangan dicabut, kau turunkan lagi perintah semacam ini, kejadian tersebut sungguh membuat kami yang menjadi anak buahmu merasa sulit dan tidak habis mengerti?”

Toa sianseng tertawa dingin.

“Tahukah kalian, siapa yang telah menurunkan perintah agar kalian berjaga-jaga di tempat ini dan melarang siapa pun untuk memasuki wilayah sekitar sini?”

“Kami berdua hanya tahu melaksanakan tugas atau perintah, kami tak mau tahu siapakah orang tersebut” ujar Ang Hui ketus.

“Benar-benar suatu tragedi untuk organisasi kita ini, tahukah kalian dalam tubuh perkumpulan ini telah muncul seorang pengkhianat? Pengkhianat tersebut tak lain adalah Ji sianseng yang menurunkan perintah kepada kalian ini”

“Ji sianseng telah mengkhianati Toa sianseng?” Ang Hui menegaskan.

Toa sianseng berpaling dan memandang sekejap kearah Bun Hong, kemudian manggut-manggut:

“Benar, sekarang Ji sianseng hadir sendiri disini, aku mengundang kedatangan Sam sianseng dan Su sianseng karena tak lain ingin menjatuhkan hukuman kepada pengkhianat tersebut”

“Toa sianseng” tiba-tiba Ang San menimbrung, “Kami dua    bersaudara    adalah    manusia-manusia    yang  tidak bermata, namun kami bisa merasakan agaknya Toa sianseng sedang bersiap-siap untuk melarikan diri..”

“Si-im, aku sudah cukup memahami seluk beluk kalian” seru Toa sianseng dengan gusar, “Sekarang kalian kurang ajar dan tak mau menghormati atasan, apakah kau tidak takut dengan peraturan organisasi kita yang ketat itu?”

“Takut! Itulah sebabnya kami selalu melaksanakan perintah dengan sebaik-baiknya, kami tak pernah melalaikan setiap beban dan kewajiban yang dilimpahkan diatas pundak kami”

Dua orang bersaudara ini selalu berbicara sambung menyambung yang satu mengisi kekurangan yang lain, tapi apa yang diucapkan hampir semuanya beralasan, seketika itu juga Toa sianseng dibuat membungkam dalam seribu bahasa.

Pada saat itulah tiba-tiba Thi losu buka suara:

“Han-sah, Si-im, kalian berdua mundurlah dahulu, soal terbunuhnya anak buah kalian ditanganku dan losam suatu hari pasti akan kami pertanggungjawabkan”

Ang Hui segera tertawa.

“Sam sianseng, kalau memang begitu kami berdua tak berani membantah lagi, biarlah kami mohon diri lebih dulu”

Tiba-tiba saja sikap kedua orang itu berubah seratus delapan puluh derajat, setelah memberi salam dengan hormat sekali kedua orang itu segera mengundurkan diri dari situ.

Memandang bayangan punggung kedua orang yang menjauh itu, Toa sianseng menunjukkan suatu sikap yang aneh sekali. Yu losam mendehem beberapa kali, kemudian katanya:

“Toa sianseng, sekarang kita harus melanjutkan pembicaraan kita berdua yang terputus tadi”

“Apakah kalian sudah bersekongkol untuk bersama-sama mengkhianati aku?” Tegur Toa sianseng dingin.

Yu losam menggeleng dengan cepat.

“Tidak, Toa sianseng kami hanya ingin melihat raut wajah aslimu dan mengetahui siapakah dirimu yang sebenarnya”

“Bagaimana setelah melihat?”

Yu losam menjadi tertegun, dia menengok kearah Thi losu dan untuk beberapa saat lamanya tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Thi losu termenung sambil berpikir beberapa saat lamanya, kemudian baru berkata:

“Toa sianseng, kau adalah pemimpin kami selama ini dan kami pun selalu menaruh hormat dan kagum kepadamu, sungguh tak disangka diantara kita berdua agaknya tak pernah saling bersua secara jujur dan terbuka”

“Betul!” sambung Yu losam, “Toa sianseng, kami berharap kau sudi melepaskan topeng kulit manusia tersebut, kemudian marilah kita berbicara secara baik-baik, menurut perkataan Toa sianseng, bukankah dalam sebulan mendatang organisasi kita ini sudah dapat menyelesaikan idaman dan cita-cita kita selama banyak tahun ini?”

“Benar, perjalanan seratus li sudah ditempuh sembilan puluh li, tapi saat ini bukan saat yang tepat bagiku untuk melepaskan topengku ini” “Toa sianseng” Bun Hong menimbrung, “Yang kau maksudkan sebagai cita-cita hampir terselesaikan, apakah kami pun ikut terhitung didalamnya?”

“Bun Hong, kau selalu berniat mengadu domba bukan?” “Yang sudah lewat, kami selalu menganggapmu sebagai

seorang pemimpin, setiap perintahmu selalu kami laksanakan dengan sebaik-baiknya, bahkan sekali pun harus menyerempet bahaya pun kami tak pernah mengeluh, tapi coba pikirlah perbuatanmu sendiri selama ini, tindakan yang manakah yang bisa membuat kami menaruh kepercayaan kepadamu?”

“Yang sudah lewat, apakah kau tak pernah memikirkan persoalan-persoalan tersebut?”

“Persoalan-persoalan itu sudah lama kupikirkan, hanya tidak sejelas sekarang saja”

“Toa sianseng” Yu losam menimbrung, “Perkataan dari Ji sianseng memang benar, sesungguhnya sudah lama kami tidak menaruh kepercayaan lagi kepadamu, hanya saja perasaan mana tak pernah kami utarakan secara terang terangan”

“Kalau toh sudah sejak lama tidak percaya lagi kepadaku, mengapa tidak kalian utarakan sejak dulu?”

“Sekalipun hendak diutarakan, paling tidak toh mesti menantikan datangnya kesempatan” sela Thi losu.

“Bila kau ingin tahu, aku akan memberitahukan kepadamu” sela Bun Hong pula.

“Baik! Aku pun berharap kalian bisa mengutarakan secara tenang dan benarkah kalian sudah bersekonhkol semenjak dahulu..?” “Lagi-lagi kau menduga, kami tak pernah bersekongkol, semua orang hanya menaruh curiga kepadamu, meski curiga itu hanya tersimpan di hati, kemisteriusanmu bukan saja membuat kami curiga pun membuat kami merasa jeri, jadi walau pun kami sudah curiga sejak lama namun kami tak berani mengutarakan secara blak-blakan aku pun tahu kecuali markas yang diwakili olehku ini kau telah mendirikan lagi dua markas komando di tempat lain. Sayang sekali tiada dinding yang utuh sepanjang jaman, bukan saja maksud lainmu itu dapat kurasakan, mungkin Lo sam dan Lo su pun mempunyai perhitungan sendiri dalam hatinya. Nah sebenarnya permainan busuk apakah yang sedang kau persiapkan?”

Toa sianseng tertawa dingin, seperti menjawab tapi bukan menjawab, katanya:

“Hmm tampaknya kalian sudah mempunyai keberanian untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam ini kepadaku?”

“Cu Siau-hong merupakan suatu contoh yang amat jelas, dengan pelbagai tipu daya dan siasat busuk kau berusaha untuk membunuhnya, tapi hingga detik ini dia masih tetap hidup segar bugar di dunia ini”

“Yang penting aku menginginkan dia tetap hidup, coba aku ingin membunuh, masa dia masih bernapas hingga sekarang”

“Tentang soal ini, seharusnya kau paling jelas memahami duduknya persoalan”

“Aku memang tahu jelas, sewaktu di kota Siang yang kau gagal membunuh, kemudian kau pun ingin membunuhnya lagi, diantara sekian banyak kejadian, hanya satu kali saja timbul ingatanmu untuk menangkapnya dalam keadaan hidup” Toa sianseng termenung beberapa saat lamanya, kemudian dia berkata:

“Maka, kau berani mengkhianati aku?”

“Hmmm! Bukan cuma aku, mungkin semua orang yang dekat denganmu pun sudah ada niat untuk mengkhianatimu”

“Yu losam, Thi losu, coba kalian katakan, apakah kamu berdua pun bertekad hendak mengkhianatiku?”

ooooOdwOoooo

Sepasang matanya yang tajam bagaikan sembilu tiada hentinya mengawasi wajah kedua orang tersebut.

Yu losam menghembuskan napas panjang, lalu katanya: ”Toa sianseng, siaute sekalian hanya ingin lebih

memahami tentang keadaan Toa sianseng yang

sebenarnya”

Setelah berada dibawah pengaruh yang ketat dan tegas selama banyak tahun, sedikit banyak sudah tertanam rasa jeri dalam hati kecil orang-orang itu terhadap pemimpinnya maka begitu saling beradu pandangan dengan Toa sianseng serta merta orang itu menjadi bergidik.

”Apakah disebabkan aku selalu mengenakan topeng kulit manusia maka kalian menganggap aku misterius, bagaimana seandainya kulepaskan topeng tersebut sekarang juga?”

”Toa sianseng, memang itulah yang kami harapkan siang dan malam”

”Baik! Aku akan segera melepaskan topeng kulit manusia ini, namun aku harap saat ini juga kalian mengemukakan posisi masing-masing” ”Posisi bagaimana?”

”Pertama, aku minta kalian menetapkan apabila kulepaskan topeng ini, apakah kalian masih bersedia melaksanakan tugas seperti apa yang kuperintahkan”

”Apabila setelah kejadian ini masing-masing pihak dapat bergaul secara jujur dan terbuka, tentu saja kami masih bersedia untuk mendengarkan perintah Toa sianseng” jawab Thi losu dengan cepat.

”Bagus sekali, bila kuminta kalian berdua membunuh Bun Hong?”

Yu losam menjadi tertegun, ”Kau maksudkan Ji sianseng?”

”Betul!”

”Soal ini.. dia adalah Ji sianseng, mana boleh kami berbuat kurang ajar dengan melawan atasan sendiri?”

”Mereka telah mengkhianati aku, mulai sekarang aku telah menghapus kedudukannya sebagai Ji sianseng, kemudian jabatan mana akan kuberikan kepadamu”

Ucapan yang terakhir ini sungguh mempunyai daya pikat yang besar sekali. Tanpa terasa Yu losam memandang beberapa kejap kearah Bun Hong.

Dengan suara dingin Bun Hong segera berkata:

”Jangan percaya dengan taktik adu dombanya, dia suruh kalian turun tangan, tapi coba kalian bayangkan sendiri, mampukah kalian membunuhku?”

”Lo sam, ilmu silat yang dimiliki Ji sianseng pasti tidak berada diatasmu” bujuk Toa sianseng. Yu losam berpaling dan memandang sekejap ke arah Thi losu, kemudian katanya, ”Coba kau lihat, menurut pendapatmu apa yang harus kita lakukan sekarang?”

”Aku rasa, persoalan ini harus kita pikirkan dulu secara tenang” jawab Thi losu.

”Apa lagi yang mesti dipikirkan?” desak Toa sianseng. ”Aku ingin berpikir, bagaimana kami mesti mengambil

keputusan, sebab aku pikir itulah kesempatan yang terakhir

buat kami semua”

”Kesempatan yang terakhir? Apa maksudmu?” tanya Yu losam keheranan.

Thi losu tersenyum, ”Coba bayangkan, menurut keadaan situasi yang terbentang didepan mata sekarang, agaknya itulah pilihan kita yang terakhir, jikalau kita salah memilih, maka hanya satu jalan yang bakal kita tempuh”

”Jalan apa?” ”Jalan kematian”

”Masih ada satu jalan lagi, apakah kau belum pernah membayangkan?” tiba-tiba Cu Siau-hong menyela dengan suara sedingin salju.

”Jalan apa?”

”Nama busuknya akan tersiar sampai generasinya, manusia hanya bisa hidup beberapa puluh tahun di dunia ini, siapa pun tak akan terhindar dari kematian, tapi ada sementara orang walau pun sudah mati masih dihormati sebagai malaikat, paling tidak bila namanya disinggung akan muncul perasaan hormat dalam hatinya, tapi ada pula sementara orang meski sudah mati namun setiap kali namanya disinggung maka orang tentu akan mengumpatnya dengan beberapa patah kata” Thi losu termenung dan membungkam seribu bahasa.

Yu losam menghembuskan napas panjang, kemudian katanya:

”Bila seseorang sudah mati, perduli amat dia akan dicaci maki orang yang masih hidup atau tidak, toh orang yang telah mati tak akan pernah mendengar lagi”

”Yu losam!” tiba-tiba Kian Hui seng berseru, ”Meskipun kalian menggunakan nomor urutan sebagai sebutan, akan tetapi aku tahu siapakah kau, hidup sebagai seorang lelaki sejati seharusnya hidup yang gagah dan perkasa, ambil contoh kalian ini, semuanya memiliki ilmu silat yang luar biasa serta kemampuan yang hebat, sekalipun tak bisa menjadi seorang tokoh silat, namun paling tidak pasti bisa termashur dan menjadi seorang pendekar besar”

”Kami menyaru dan menyembunyikan diri dibalik kegelapan, sesungguhnya hanya satu tujuan yang hendak dicapai” sela Toa sianseng dengan cepat, ”Yakni kami ingin mengembangkan pengaruh kami ke seluruh dunia persilatan, meski sekarang menyembunyikan diri namun suatu ketika kami pasti akan melepaskan penyaruan kami dan muncul kembali dalam dunia persilatan secara wajar, Cuma pada waktu itu semua orang persilatan sudah tunduk dan menyembah kepadaku”

”Bagaimana dengan para jago yang telah menyumbangkan tenaganya bagimu? Apa yang hendak kau lakukan terhadap mereka?” tanya Cu Siau-hong.

”Ooh, mereka? Mereka akan menjadi majikan yang sebenarnya dari pelbagai perguruan besar yang ada di dunia ini”

”Sejak dulu hingga sekarang entah sudah berapa banyak tokoh   dunia   persilatan   yang   mempunyai   niat   berbuat demikian, pernahkah kau saksikan keberhasilan mereka?” sela Cu Siau-hong.

”Mereka gagal karena cara yang mereka gunakan tidak benar”

”Aku tak dapat menemukan cara apakah yang kau pergunakan sehingga harapanmu itu bisa tercapai?”

”Oooh, soal itu mah tak perlu kau ketahui”
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 62"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close