Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 61

Mode Malam
 “Baik ! Ong Peng, Seng Hong, cepat kalian memberi kabar kepada Kian tayhiap!”

“Apa yang harus kusampaikan?” tanya Ong Peng. “Keadaan di tempat ini telah terjadi perubahan yang

sangat besar”

“Kongcu harus baik-baik menjaga diri” seru Ong Peng dan Seng Hong kemudian.

Selesai berkata mereka segera membalikkan badan dan berlalu dari situ. Cu Siau-hong segera menggetarkan pedangnya untuk bersiap-siap kemudian berseru:

“Nona Bun Hong, hari ini kita tak bisa menghindari suatu pertempuran sengit mengapa kita tidak segera turun tangan untuk mempercepat selesainya pertarungan ini”

Bun Hong tidak menjawab, dia masih tetap berdiri tegak di tempat semula tanpa bergerak.

“Lo siaucu” tiba-tiba pemuda itu berkata sambil tertawa, “Bocah cilik ini sungguh tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, kita harus memberikan pelajaran lebih dulu”

Cu Siau-hong telah menggenggam pedangnya erat-erat, dia bersiap sedia untuk melancarkan serangan, tapi tiba-tiba saja dia merasakan keseriusan yang mencekam wajah Bun Hong.

Tampak wajah yang cantik ayu itu berdiri di tempat dengan wajah serius, agaknya segenap tenaga dalam yang dimilikinya sedang dihimpun menjadi satu dan bersiap sedia melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga, tergerak hatinya setelah menyaksikan kejadian ini, pikirnya:

“Kalau dilihat dari sikap tenang yang mencekam dirinya, sehingga kesempatan untuk berbicara pun tidak dimiliki, sudah jelas kejadian sekarang telah mencapai pada tingkatan yang luar biasa gawatnya”

Berpikir demikian, dia segera memusatkan perhatiannya dan mempersiapkan diri semakin baik, gagang pedangnya digenggam pula erat-erat.

Terdengar kakek berjenggot putih itu menyahut:

“Bocah muda, perkataanmu memang benar, mari kita bersama-sama memberi pelajaran kepada mereka”

“Bagus sekali” Belum habis dia berkata, tubuhnya sudah melejit kembali keudara, dua sosok bayangan manusia seperti anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur ke depan.

Kali ini mereka telah saling bertukar pasangan, si bocah muda itu menubruk Bun Hong, sedangkan si kakek berjenggot putih menerkam Cu Siau-hong.

“Blaaammmm…!” ditengah benturan nyaring keempat orang itu sudah saling beradu pukulan satu kali.

Lau sau siang mo balik kembali ke posisi semula namun dengan cepat melejit kembali sambil melancarkan serangan.

Tapi kedua orang itu pun makin menyerang mundur semakin jauh dari tempat semula.

Tatkala sergapan dilancarkan untuk ketiga kalinya kedua orang itu sudah di luar rumah gubuk itu.

Kali ini mereka berdua melejit ke udara, namun bukannya menyerang Bun Hong dan Cu Siau-hong, melainkan menembusi jendela dan melarikan diri.

Sementara itu, Bun Hong dan Cu Siau-hong benar-benar dipaksa untuk memusatkan segenap perhatiannya untuk menghadapi sergapan demi sergapan yang dilancarkan Lau sau siang mo seperti bidikan ketapel itu, mereka tak sempat untuk mencabangkan pikirannya lagi guna mengurus hal ini.

Menanti kedua orang itu sudah pergi jauh, Cu Siau-hong baru menemukan kalau ruangan tersebut tidak tampak orang lain kecuali mereka.

Entah sedari kapan Toa sianseng telah kabur meninggalkan tempat tersebut.

Dengan kening berkerut Cu Siau-hong segera bergumam: “Aneh, benar-benar sangat aneh?” “Apakah kau merasa heran apa sebabnya Toa sianseng tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk membunuh kita berdua?” tanya Bun Hong.

“Untuk menghadapi kedua orang gembong iblis itu, kita telah mengerahkan segenap kekuatan yang kita miliki, bila dia melancarkan sergapan pada saat itu, bukankah dia akan berhasil membunuh kita dengan mudah sekali?”

Dengan cepat Bun Hong menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Tak mungkin dia berbuat demikian kecuali kalau dia memerintahkan Lau sau siang mo untuk menghentikan serangannya, kalau tidak, bila dia turun melancarkan serangan maka dia akan menghadapi dua serangan sekaligus.”

“Mengapa? Apakah dia tidak percaya dengan anak buah sendiri?”

“Dia tak pernah mempercayai orang lain, apalagi sekarang, dia lebih tak berani mempercayai siapa pun”

“Benar, seandainya lo sau siang mo menyergap dari belakang disaat Toa sianseng menyerang kita, mungkin dia tak sanggup mempertahankan diri.”

“Sergapan mereka yang disertai lompatan betul-betul cepat dan mengerikan”

“Tapi mereka pun cukup gagah dan perkasa, sewaktu kau menggunakan senjata mereka pun menggunakan senjata, selagi kau bertangan kosong, mereka pun bertangan kosong pula”

“Cu kongcu, aku mengira kita bakal mampus, sungguh tak disangka kita masih dapat hidup segar bugar” “Benarkah kerjasama kita berdua masih belum mampu untuk menandingi dirinya?” tanya Cu Siau-hong kemudian.

“Kecil sekali peluang untuk kita, kau harus tahu kepandaian silatnya benar-benar telah mencapai puncak kesempurnaan”

Cu Siau-hong menghembuskan napas panjang, kemudian katanya:

“Aaaii..hal ini dikarenakan dia tidak mempunyai kepercayaan pada kemampuan sendiri, dia pun kekurangan keberaniannya”

Setelah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh:

“Tentu saja yang paling penting adalah perkataanku tadi”

“Perkataan apa?”

“Dia selalu menganggap aku berhasil memiliki semacam kepandaian yang maha sakti padahal didalam kenyataan aku baru mencapai tiga bagian kesempurnaan”

Cu Siau-hong tersenyum.

“Nona Bun Hong, coba kau lihat apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Kini aku sudah tak punya tempat tinggal dan tujuan lagi selain berkumpul bersama kalian rasanya tiada jalan lain lagi bagiku”

“Kami memang sangat membutuhkan manusia seperti kau disini, kau adalah Ji sianseng tapi setelah sampai di tempat kami nanti kau boleh menjadi Toa sianseng”

“Sebetulnya aku bukan seorang yang kemaruk kedudukan, aku hanya seorang perempuan yang berambisi besar   saja,   sedari   kecil   berlatih   silat   hingga   mampu merubuhkan beberapa pesilat nomor satu tentu saja membentuk watak ingin menang, ingin berkuasa, tapi mulai sekarang aku akan melepaskan ambisiku itu.”

“Oya?”

“Mulai sekarang, yang paling kuharapkan adalah menjadi seorang perempuan sejati”

“Sekarang pun belum terlambat”

“Aku tahu Toa sianseng belum mati, kekacauan didalam dunia persilatan pun belum berhenti”

“Nona Bun Hong, ada satu hal tidak kupahami” ujar Cu Siau-hong pelan.

“Dalam hal yang mana?”

“Sebenarnya hubungan apakah yang terjalin antara kelompok kalian dengan Pena Wasiat?”

Bun Hong termenung sebentar, kemudian ujarnya:

“Cu kongcu, kalau dibicarakan sebenarnya hal ini merupakan suatu kejadian yang aneh sekali, dulu, segala tindak tanduk kami selalu dilakukan dalam kegelapan dan serba rahasia, tujuannya adalah untuk menghindari intaian Pena Wasiat tapi sekarang rasanya justru seakan akan nada hubungan yang erat sekali dengannya”

“Berapa kali kalian pernah menghadiri pertemuan besar pemunculan Pena Wasiat?”

“Kali ini adalah pertama kalinya”

“Toa sianseng tersebut benar-benar memiliki kemampuan yang melebihi siapa pun sampai waktu begini pun kita masih belum dapat menduga dengan jelas asal usulnya yang sebenarnya” Kemudian Bun Hong termenung beberapa saat kemudian, katanya:

“Cu kongcu, selama ini aku belum pernah mempunyai ingatan untuk membongkar rahasia identitasnya, andaikata aku mempunyai ingatan semenjak dahulu, mungkin kesempatan kesana sudah kujumpai dari dulu”

“Kalau begitu, terlampau sedikit hal-hal yang kita ketahui tentang Toa sianseng tersebut”

“Sungguh menyesal sekali Cu kongcu, apa yang kuketahui tak akan lebih banyak daripada apa yang kau ketahui”

“Nona Bun Hong, sekarang apa yang harus kita lakukan?”

“Toa sianseng sengaja menjaga kerahasiaan identitasnya dan belum pernah berhadapan dengan kami menggunakan wajah aslinya, bila topeng yang dia kenakan selama ini dilepas, niscaya, kita semua tak akan kenal lagi dengannya, oleh sebab itu mulai sekarang kita harus perhatikan secara khusus setiap orang asing yang berada disekeliling kita”

“Nona, tidak sedikit bukan manusia dari organisasimu yang berada disekitar tempat ini?”

“Benar”

“Nona Bun, bagaimana tindakanmu untuk menghadapi mereka?”

“Cu kongcu, kami mempunyai tujuh orang sianseng, dari sekian banyak Lak sianseng telah mati terbunuh olehmu”

“Nona, apakah para manusia yang bergelar sianseng ini menempati urutan nomornya sesuai dengan ilmu silat yang mereka miliki?” “Tidak. Menurut apa yang kuketahui, diantara deretan sianseng tersebut, selain Toa sianseng yang sukar diduga kelihayan ilmu silatnya, maka orang yang memiliki kungfu terbaik hanya dua orang saja yakni Lo sam dan Lo jit!”

“Bagaimana kalau nona dibandingkan dengan mereka?” kembali Cu Siau-hong bertanya.

“Kami belum pernah mencoba untuk saling mengukur kepandaian, namun berbicara menurut pengamatanku, ilmu silat yang mereka miliki tampaknya masih berada setingkat denganku”

“Saban hari kau naik tandu, gerak-gerikmu amat rahasia, apakah mereka pun seringkali dapat berjumpa denganmu?”

“Kalau dibicarakan yang sebenarnya, tandu dengan payung keemasan inipun disiapkan Toa sianseng khusus bagiku, kecuali kemisteriusan dari Toa sianseng, organisasi ini pun sangat terpengaruh olehnya sehingga sebagian besar anak buahnya sama-sama menunjukkan pula kemisteriusan masing-masing, tapi bagi kami dari angkatan yang  sederajat, diantara masing-masing pihak masih tetap terjalin semacam kebiasaan untuk mengadakan pertemuan, tapi kecuali kami dari angkatan yang sederajat, orang-orang dibawah kami sulit untuk bersua muka dengan kami”

“Tahukah kau kalau dia telah mempergunakan suatu sistim ilmu perubahan wajah yang amat istimewa?”

“Ilmu perubahan wajah seseorang?”

“Tampaknya dia telah melapisi wajah dengan selapis bulu binatang yang tipis”

“Aku tahu, ini namanya ilmu berubah kepala berganti wajah, kesemuanya itu merupakan hasil karya dari Toa sianseng dan Ngo sianseng, konon kepandaian tersebut merupakan semacam ilmu pertabiban yang amat tinggi” “Ilmu pertabiban yang amat tinggi sih tidak” kata Cu Siau-hong cepat, “Cuma mereka memang terlampau kejam dan buas, buktinya begitu tega mereka turun tangan terhadap sesama anggotanya”

“Cu kongcu, sebagian besar dari anggota organisasi kami ini muncul dalam dunia persilatan dengan mempergunakan berbagai macam identitas yang berbeda-beda, ada kalanya pekerjaan kami sehari-hari sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dunia persilatan, sekarang kau bertemu denganku disini dan mengetahui aku sebagai seorang sianseng, tapi bila berganti di tempat lain maka kau akan bertemu denganku sebagai seorang pemilik rumah penjual perhiasan yang kaya raya”

“Tentang masalah tersebut, aku sudah pernah merasakannya, ambil contoh dengan kawanan pendekar macan kumbang hitam yang kalian sebar dalam kalangan masyarakat rendah, mereka tak ubahnya seperti manusia manusia biasa, bila ingin mengumpulkan mereka cukup turunkan satu perintah, maka mereka akan berkumpul dari segala penjuru lalu menghilang kemana-mana, sistim seperti ini kuakui memang hebat sekali”

“Cu kongcu, masih ada satu hal yang perlu kujelaskan lebih dahulu..”

“Katakanlah!”

“Sebagian besar dari orang-orang yang berjaga disekitar tempat ini merupakan anak buah dibawah perintahku, tapi aku tak tahu apakah mereka benar-benar akan setia kepadaku atau tidak”

“Di hari-hari biasa, sampai pada taraf bagaimanakah kesetiaan mereka terhadap dirimu?” “Perintah yang kami turunkan selalu disampaikan secara rahasia, jadi antara aku dengan mereka jarang sekali terjadi hubungan pribadi yang akrab, aku tak tahu apakah Toa sianseng mempunyai cara lain untuk mengendalikan mereka”

“Mungkinkah beberapa orang pentolan dari organisasi kalian akan muncul disini? Sampai seberapa besar pengaruhmu terhadap mereka.?”

“Gerak-gerik mereka semuanya berada dalam pengendalian Toa sianseng, sedangkan seberapa besar pengaruhku terhadap mereka, aku sendiri pun kurang jelas, namun ada satu hal tak usah kau kuatirkan, asal aku dapat bersua dengan mereka, aku dapat berupaya untuk menjelaskan duduknya persoalan ini kepada mereka”

Mendengar sampai disitu, Cu Siau-hong lantas berpikir di dalam hati:

“Kalau didengar dari pembicaraan yang berlangsung selama ini, agaknya ia menempati bangku kedua dalam organisasi rahasia ini, kedudukan tinggi kekuasaannya besar tapi pengaruhnya dalam organisasi terbatas sekali”

“Tapi, bagaimana pun jua organisasi rahasia ini sudah berhasil terbuka sedikit, paling tidak dalam kerapatan organisasi mereka, kini sudah muncul sebuah retak yang cukup besar”

Berpikir sampai disitu, dia lantas berkata:

“Nona, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apakah perlu untuk mengundang semua anak buahku agar bisa bergabung menjadi satu?”

“Dengan menggabungkan diri bersama anak buahmu, kekuatan kita memang akan bertambah besar dan kuat, namun  tindakan  mana  justru  akan  menyingkap  satu hal, yakni secara resmi aku menyatakan pengkhianatanku terhadap organisasi tersebut, dalam keadaan demikian, apakah anak buahku masih mau menuruti perintahku atau tidak, hal ini sukar untuk diramalkan”

“Jadi menurut pendapat nona?”

Bun Hong mengawasi wajah Cu Siau-hong lekat-lekat, kemudian ujarnya lagi:

“Diantara kelompok jagomu itu, adakah yang berilmu silat sangat tinggi?”

“Selain To ko bu seng (golok lewat tanpa suara) Kian Hui seng, masih ada Pek bi taysu, Thian ho heng kong (kuda langit terbang melayang) Thian Pak liat, Hun hoa jiu (tangan sakti pemisah bunga) Si Eng, Sui tiong sin liong (Naga sakti dalam air) Ho Hou pod dan Pek poh hui hong (belalang terbang seratus langkah) Tham Ki wan dan lain lainnya, ditambah pula dengan belasan jago yang kubawa, kalau dibicarakan menurut ukuran dunia persilatan seharusnya mereka termasuk jago kelas satu, kemampuan mereka masih mampu untuk menandingi kemampuan para pembunuh macan kumbang hitam, tapi kalau harus berhadapan dengan jagoan lihay macam kalian, tentu saja mereka masih ketinggalan jauh”

“Cu kongcu, beranikah kau menyerempet bahaya sekali saja?”

“Asal demi kebenaran dan kepentingan umum, kendatipun mesti mendaki bukit golok atau terjun ke kuali berisi minyak mendidih, aku tak akan menampik”

“Aku tidak mengharapkan permintaan yang kelewat batas, aku cuma berharap kau sudi berada disampingku untuk sementara waktu, bagaimana?”

“Baik!” “Pilihlah delapan sampai sepuluh jago berani mati dari antara anak buahmu dan bawalah serta disisimu Cu kongcu! Bila tidak turun tangan dari dalam, sulit bagi kita untuk menghadapi Toa sianseng”

“Baik! Apakah semua tindakan tersebut akan dilakukan secara rahasia?”

“Yaa, segera kerjakan, lagi pula kau tak boleh meninggalkan tempat ini”

“Jika aku tidak kesitu, siapa yang akan menyampaikan perintahku ini?”

Bun Hong menghela napas panjang.

“Aku tidak percaya kalau Toa sianseng dan Lo sau siang koay (sepasang manusia aneh tua dan muda) benar-benar telah meninggalkan tempat ini, bila kau pergi, mereka pasti akan datang kemari untuk membunuhku”

“Bagaimana kalau kita pergi bersama-sama?” tanya Cu Siau-hong kemudian sambil tertawa.

“Pergi bersama? Kita hendak kemana?”

“Aku rasa kita harus bergabung dulu dengan mereka” “Bergabung? Cu kongcu, tahukah kau tempat apakah

ini?”

“Sebuah gubuk di tengah bukit yang terpencil, apakah masih ada keistimewaan lain?”

“Tempat ini merupakan markas besar sementara dari organisasi kami, pusat tempat disiarkan komando ke seluruh penjuru, tempat bila ada suatu kabar maka dengan cepat berita tersebut akan sampai disini”

“Nona, kau sudah bentrok dengan Toa sianseng, masa mereka masih akan pergunakan tempat ini?” “Aku pikir Toa sianseng tak akan menyiarkan kejadian ini untuk sementara waktu, sekalipun disiarkan, belum tentu orang lain akan percaya dengan begitu saja”

“Oooh, bila Toa sianseng begitu tak berguna, buat apa dia menjadi lo toa?”

“Selama ini dia selalu menggunakan perintahnya untuk mengendalikan semua organisasi, dan akulah yang mewakili dia menyiarkan perintah tersebut, tapi ia tak pernah menyangka apabila penghubung tersebut putus atau tidak berjalan lancar, maka semua perintahnya tak akan bisa tersampaikan”

“Siapa yang menjadi penghubung perintah ini?” “Aku!”

“Nona, masa dia tak bisa memperbaiki keadaan tersebut?”

“Kecuali beberapa gelintir manusia dari golongan kami, tiada orang yang kenal dengannya, bahkan kami  sendiri pun hanya bisa mengenali dia dari bentuk perawakan tubuh serta nada suaranya, sekali pun dia muncul di hadapan kami, kami pun tak akan bisa kenal dirinya, apalagi orang lain”

“Orang persilatan tidak mengetahui julukan dan namanya, kalian pun tidak kenal dengannya, cara semacam ini memang cukup misterius tapi untuk menjadi seorang pemimpin dalam organisasi seperti ini, pada hakekatnya sama sekali tiada dasar yang kuat”

Bun Hong menghela napas panjang, selanya:

“Sekarang dia sudah menyadari akan hal tersebut bahkan sudah  bersiap  sedia  melakukan  perombakan  secara besar besaran, hanya saja ia tak pernah menyangka kalau perubahan akan berlangsung sedemikian cepatnya”

“Mungkin masih ada rencana busuk lainnya?”

“Yang lewat kami tak pernah memikirkan persoalan ini tapi sekarang kulihat banyak orang sudah berpikir sampai kesitu, hanya tiada orang yang berani mengemukakan saja”

“Aaai, kalau begitu antara kalian dengan Toa sianseng sebenarnya sudah terdapat jurang pemisah yang besar sekali”

Bun Hong tertawa.

“Sudah lama kami memahami akan hal ini, cuma saja semua orang merasa sangsi untuk mengungkapkan keluar, kami hanya bisa merasakan saja di dalam hati”

“Bagaimana dengan sekarang, nona?”

“Sekarang sudah jauh berbeda dengan keadaan yang lewat, aku sudah bentrok dengannya hingga saling berpisah, tentu saja aku tidak usah menguatirkan sesuatu bila aku bersua lagi dengan mereka, semua kecurigaan dan kesangsianku ini pasti akan kuungkapkan keluar”

“Betul! Cara ini memang suatu yang amat manjur dan tepat..”

“Apabila dugaanku benar, dengan cepat dia akan balik lagi kemari dan berusaha untuk merebut kembali tempat ini’

“Perkataanmu memang masuk diakal, namun empat penjuru sekeliling tempat ini merupakan anak buahmu, sekalipun dia ingin merebut kembali tempat ini, sebelum sampai disini dia pasti akan menghadapi lebih dulu rintangan yang cukup kuat”

“Semua anak buahku yang berada disini bisa berkumpul semua di tempat ini atas perintahku, apakah mereka akan setia seratus persen kepadaku hal ini tak berani kupastikan, sebab dalam organisasi kami ini hanya berlaku perintah dan kekuasaan, sama sekali tiada hubungan persahabatan secara pribadi”

“Nona, apakah kau tidak mempunyai dua orang yang bisa kau percayai seratus persen?”

“Siapa tahu? Kuanggap mereka sebagai orang kepercayaanku, tapi siapa tahu kalau mereka justru merupakan mata-mata yang dikirim Toa sianseng untuk mengamati diriku”

“Jadi maksud nona, kau hendak mempertahankan rumah gubuk ini?”

Bun Hong manggut-manggut.

“Orang yang kita butuhkan adalah jago-jago yang berilmu silat amat tinggi sebab jumlahnya tidak boleh terlalu banyak”

“Benar, banyak pos penjagaan dengan jumlah delapan belas orang”

“Selain kedelapan belas orang tersebut, apakah masih ada orang lain?”

“Aaaah kau memang sangat teliti, kecuali orang-orang yang menjaga pos-pos penjagaan tersebut masih ada dua belas orang lagi mereka adalah penandu dan pengawal pribadiku”

“Orang-orang yang kuundang kemari apakah harus menembusi dulu beberapa pos penjagaan tersebut?”

“Tentu saja tidak perlu!” Bun Hong segera tersenyum setelah mendengar ucapannya.

“Bila mereka tidak menghalangi serbuan orang lain, apalah gunanya pos-pos penjagaan tersebut?” “Disinilah letak keistimewaan kami, asal ada perintah dariku, mereka tak akan turun tangan secara sembarangan”

“Nona, paling baik berapa orang yang kita undang kemari?”

“Jangan lewat dari dua puluh orang, belasan orang pun sudah lebih dari cukup”

Cu Siau-hong termenung sejenak, kemudian ujarnya: “Baiklah, kalau yang datang kelewat banyak, biar

kusuruh mereka pulang”

“Kau sudah mengundang mereka datang?” Cu Siau-hong manggut-manggut.

Tak selang berapa saat kemudian, Seng Hong telah membawa Kian Hui seng dan Su Eng serta Hoa Wan sekalian berenam masuk kedalam ruangan.

Setibanya di ruangan, Kian Hui seng memperhatikan Bun Hong sekejap, kemudian katanya:

“Saudaraku, ternyata di sekitar tempat ini tidak terdapat pos penjagaan, kami bisa masuk kemari dengan lancar dan tanpa rintangan apa pun”

“Jebakan yang berada disini belum digerakkan” kata Cu Siau-hong cepat.

“Oooh, nona ini adalah…”

“Manusia dibawah payung kebesaran berwarna keemasan, dalam organisasi rahasia ini menempati kursi kedua, orang memanggilnya nona Bun Hong”

“Oooh, menjumpai nona Bun, aku Kian Hui seng” “Selamat bersua, selamat bersua, rupanya kau adalah

golok lewat tanpa suara Kian Hui seng” “Oooh, rupanya nona pun mengetahui namaku”

“Oleh karena kau adalah sasaran kesembilan dari deretan nama manusia-manusia yang harus kami bunuh, maka aku mempunyai bahan yang cukup lengkap tentang dirimu”

“Oooh..kalau begitu diatas aku orang she Kian masih ada delapan orang lagi?”

“Betul!”

“Jadi nilaiku masih rendah sekali?”

“kami mempunyai delapan belas sasaran yang harus dilenyapkan, kau menempati urutan kesembilan, jadi persis berada di tengah-tengah”

“Nona, dapatkah kau memberitahukan padaku, siapa siapa saja yang berada diatas urutan namaku?”

Bun Hong termenung sambil berpikir sebentar, kemudian sahutnya:

“Aku hanya bisa menyebutkan dua orang diantaranya..” “Tak bisa disebutkan secara lengkap?”

“Tidak, sebab dari antara orang-orang tersebut akan menimbulkan akibat yang besar apabila kusebutkan sekarang”

“Baik! Kalau begitu katakanlah siapakah kedua orang tersebut?”

“Bagaimanakah jika Kian tayhiap dibandingkan dengan dua orang majikan dari keluarga persilatan Lamkiong dan Tonghong?”

“Yaa, mereka berdua memang sudah sepantasnya kalau menempati urutan diatasku”

“Sudah cukup?” Kian Hui seng termenung sebentar, kemudian katanya cepat:

“Selain kedua orang itu, aku masih ingin mengetahui lagi satu dua orang yang lain”

“Mengapa kau tidak berpikir sendiri dengan lebih seksama?”

“Apabila aku dapat menemukan jawabannya, buat apa kutanyakan lagi kepada nona?”

Bun Hong segera tertawa.

“Aku hanya dapat memberitahukan satu orang lagi..” ujarnya.

“Siapa?”

Bun Hong menuding kearah Cu Siau-hong sambil berseru:

“Dia! Sebetulnya kau menempati urutan kedelapan, tapi kemudian karena bertambah dengan Cu Siau-hong seorang maka urutanmu jadi mundur setingkat jadi nomor Sembilan”

“Saudara Cu?” Kian Hui seng tertawa, “Kalau begitu aku tak bisa berkata lagi, dia memang lebih tangguh daripada diriku”

“Toako, kau..” Cu Siau-hong berseru tertahan.

“Kami menempatkan Cu kongcu didepan urutanmu waktu itu, sesungguhnya bukan disebabkan ilmu silatnya jauh lebih tangguh daripada dirimu” tukas Bun Hong.

“Lantas dikarenakan apa?”

“Sebab cara kerjanya sangat lurus dan terbuka, berbeda sekali dengan kalian manusia-manusia yang menganggap dirinya sebagai pendekar sejati, cara kerjanya amat terbuka dan secara langsung, punya nyali, pintar, amat teratur dan disertai perencanaan yang matang, cuma kami tidak menyangka kalau ilmu silat yang dimilikinya ternyata begitu tangguh dan luar biasa”

Mendengar sampai disitu, Kian Hui seng segera tertawa terbahak-bahak.

“Haahh…haa..haah..betul, dia memang berbeda sekali dengan kami manusia-manusia antik yang kolot, kelewat memikir pantangan dunia persilatan, bila tidak sopan tidak bergerak, hal mana justru banyak memberi kesempatan kepada kalian untuk menancapkan kaki di tempat-tempat yang strategis, ia justru menggunakan akal muslihat dilawankan dengan akal muslihat, bila kalian menggunakan suatu cara yang keji maka dia pun membalas dengan cara yang keji pula, didalam hal ini aku paling kagum kepadanya”

Cu Siau-hong segera tersenyum.

“Toako, menurut nona Bun Hong, mereka bakal balik lagi kemari” tukasnya.

“Mengapa?”

“Sebab disinilah letak markas besar mereka untuk menyampaikan perintah” sambung Bun Hong.

Sambil tertawa Cu Siau-hong berkata pula:

“Toa sianseng terlalu misterius, sedemikian misteriusnya sehingga orang sendiri pun sukar untuk mengenali dirinya”

“Oleh sebab itu, bila dia meninggalkan tempat yang dijadikan pusat komando ini sama artinya dengan seekor burung yang kehilangan sayapnya. Maka dari itu dia memang pasti akan datang lagi kemari” “Betul! Maka kita harus menunggunya disini hingga dia kembali..”

Sesudah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh:

“Toako, bagaimana untuk mengatur orang-orang ini?” “Saudaraku, mereka semua pemberani, pun menyadari

akan situasi yang sedang dihadapi, tapi setiap orang enggan untuk mundur kebelakang, mereka sepenuh tenaga mengadakan patrol disekeliling dusun kecil tersebut, semua orang menyumbangkan kemampuan dan kelebihan yang dimilikinya untuk mengatur banyak sekali jebakan, bahkan Pek bi taysu dan kedua belas anak buahnya telah mewariskan pula banyak ilmu silat praktis dari Siauw lim si kepada mereka”

“Nah, begitulah baru merupakan suatu kerjasama yang benar-benar murni” seru Cu Siau-hong sambil tersenyum.

Kemudian anak muda ini mengalihkan sorot matanya kearah Bun Hong sesudah itu bisiknya:

“Apabila orang-orang yang kau atur di sekitar tempat ini tak dapat dikendalikan lagi, bolehkah kami membunuhnya?”

“Bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk membinasakan mereka, namun aku akan berusaha keras untuk memperalat mereka. Apakah masih ada orang di pihakmu yang bakal kemari?”

Kian Hui seng segera menyambut:

“Kecuali orang-orang yang kami undang..rasanya tak mungkin mereka akan datang lagi kemari”

“Cu kongcu” kata Bun Hong kemudian, “Undang masuk semua orang-orangmu, aku akan mengajak kalian menuju ke suatu tempat” Kini yang berjaga diluar pintu tinggal Seng Hong seorang.

Bun Hong perintahkan orang untuk menutup pintu kayu, kemudian mengajak semua orang menuruni lorong rahasia dan mendaki keatas bukit terjal di belakang rumah.

Tempat tersebut merupakan sebuah gua kecil yang terbuat dari alam, tingginya sepuluh kaki, dari atas orang dapat menyaksikan pemandangan di sekitar tempat tersebut dengan jelas.

“Untuk membangun tempat ini, tentunya kalian sudah banyak mengeluarkan tenaga dan pikiran?” ujar Cu Siau hong kemudian setelah menyaksikan kesemuanya itu.

Bun Hong manggut-manggut.

“Yaa.. tenaga manusia yang dibutuhkan tidak terlalu besar, segala sesuatunya mengikuti keadaan alam yang kemudian sedikit dirubah menggunakan tenaga manusia”

“Hanya ditujukan khusus untuk menghadapi bakal munculnya Pena Wasiat disini?”

“Benar!”

“Waaah, kalau begitu Toa sianseng  benar-benar memiliki kemampuan yang luar biasa darimana dia bisa tahu kalau Pena Wasiat akan muncul disini?”

“Apa yang dipahami tentang keadaan diluar jauh lebih banyak ketimbang pengetahuannya tentang urusan di dalam” kata Bun Hong tertawa.

Tiba-tiba dia mengeluarkan sempritan bambu dari sakunya dan membunyikan keras-keras.

-oo>d’w<oo Tak lama setelah sumpritan itu dibunyikan, segera diperoleh reaksinya;

Dari kejauhan sana tiba-tiba saja muncul gumpalan bunga api yang meledak ditengah udara.

"Apakah bunga-bunga api merah muncul dari tempat tempat jebakan yang kalian persiapkan?" tanya Cu Siau hong,

'Benar, bunga api yang dilepaskan dari tempat jebakan tersebut mengartikan kalau mereka sudah menerima perintah apa yang kusampaikan."

"Menerima perintah apa?'

"Mulai sekarang, setiap orang ingin memasuki rumah gubuk tersebut akan menemui hadangan dan sergapan sergapan terlebih dahulu...'

"Andaikata Toa sianseng yang hendak memasuki rumah gubuk itu..?”

"Kecuali Toa sianseng dapat menerangkan identitas sendiri dan peroleh kepercayaan dari pihak lain, kalau tidak kecil sekali kesempatan baginya uutuk bisa masuk kemari dengan mudah”

"Mengapa?’ tanya Kian Hui seng keheranan.

''Sebab dia kelewat misterius sehingga pada hakekatnya tiada orang yang mengenali dirinya” sambung Cu Siau hong cepat.

“Ya, bahkan aku yang menempati kursi kedua dalam organisasi rahasia inipun belum pernah menyaksikan raut wajah aslinya, apalagi orang lain” sambung Bun Hong.

”Itu namanya mencari penyakit buat diri sendiri" seru Kian Hui seng sambil tertawa. ''Nona Bun" ujar Cu Siau-hong lagi, “menurut pendapatmu, mungkinkah dua manusia aneh tua dan muda yang tiba tiba menyergapku tadi akan membantu Toa sianseng untuk membuktikan identitasnya...”

“Sepasang manusia aneh tua dan muda baru satu kali muncul dalam organisasi kami, aku pun baru dua kali berjumpa muka dengan mereka"

“Apakah mereka terhitung sebagai anggota organisasi kalian?”

“Entahlah, banyak orang yang dipakai Toa sianseng tanpa mengajak kami berunding lebih dulu"

“Saudara Cu, coba kau terangkan lebih jelas, manusia macam apakah kedua orang itu" seru Kian Hui seng tiba tiba.

Setelah Cu Siau-hong menjelaskan bentuk wajah dan perawakan dari ke dua orang itu, Kian Hui seng segera berkata sambil manggut-manggut:

"Yaa, dalam dunia persilatan memang terdapat dua orang manusia seperti ini, ada orang yang menyebut mereka sebagai Lo sau siang koay (sepasang manusia aneh tua dan muda), tapi ada juga yang menyebut mereka sebagai Mo lo kui tong (blis tua setan bocah), cuma yang tua belum tentu tua, yang muda belum tentu muda!”

"Apa maksud dari perkataan ini?"

"Si setan bocah hanya bentuk rupa dan perawakan tubuhnya saja menyerupai seorang bocah, pdahal usianya mungkin lebih tua ketimbang si ibis tua, mereka adalab sepasang sobat karib, namun berhubung harus melatih semacam kepandaian silat akhirnya yang satu berubah menjadi berambut uban, sedangkan yang lain mirip seorang kanak kanak„, "Mengapa bisa muncul dua akibat yang sama sekali berbeda satu sama lainnya?

''Menurut kabar berita yang tersiar dalam dunia persilatan, suatu ketika tanpa disengaja mereka berdua memperoleh semacam kitab pusaka ilmu silat yang didalamnya tercantum dua macam kepandaian silat yang berbeda, mereka berdua pun mulai berlatih diri, tapi sayang tiada petunjuk dari guru yang pandai sehingga akibatnya yang satu rambutnya jadi beruban sedangkan yang lain berubah menjadi mirip bocah pada dasarnya mereka berdua memang bukan manusia baik-baik, dengan terjadinya peristiwa ini maka mereka berdua pun semakin berubah menjadi manusia aneh yang girang gusar tak menentu..”

“Tidak banyak yang kuketahui tentang orang-orang yang tergabung dalam organisasi rahasia ini” ucap Bun Hong.

“Nona Bun Hong, ada satu hal masih tidak begitu kupahami” kata Kian Hui seng.tiba-tiba.

“Dalam soal apa?”

"Kalian merubah selembar wajah orang yang baik-baik menjadi ada yang berbulu ada yang berbentuk aneh-aneh, sebenarnya mengapa demikian?”

“Cara yang dipakai memang terlampau kejam dan tidak berperi kemanusiaan, namun orang-orang tersebut tidak berharga untuk dikasihani, sebab kebanyakan adalah manusia-manusia rakus yang kemaruk akan harta kekayaan”

“Ooohh..”

-oo>d’w<oo TIBA-tiba Cu Siau-hong berbisik: "Sssttt....ada orang datang”

Bun Hong dan Kian Hui seng bersama-sama mendongakkan kepalanya..

Dari jalanan bukit didepan situ muncul dua sosok bayangan manusia dengan cepatnya bayangan tersebut meluncur kearah rumah gubuk ketika berada dua puluh kaki dari rumah gubuk itu mendadak mereka melejit ke udara kemudian terbanting keras ke atas tanah.

Cu Siau-hong sangat keheranan ketika melihat dua orang yang roboh terkapar diatas tanah itu sama sekali tak berkutik lagi tanyanya tercengang:

"Hei..sebenarnya apa yang telah terjadi?” “Mereka telah mampus"

“Telah mampus? Mana mungkin?”

“Aku pikir mereka pasti sudah mampus oleh Han-sah Si im (pasir sakti menyerang Bayangan)..”

Paras muka Kian Hui seng berubah hebat sesudah mendengar perkataan tersebut.

“Pasir sakti menyembur bayangan? Manusia atau senjata rahasia?” tanya Cu Siau-hong.

“Nama dari seorang, juga nama dari senjata rahasia” “Masa kedua orang makhluk tua itu masih hidup di

dunia ini..?”

“Benar, mereka masih hidup”

"Terlepas bagaimanakah cara kerja dan berpikir orang dari organisasimu ini, namun aku harus mengakui bahwa kalian    memang    betul-betul    memiliki    kelebihan  yang melampaui siapa pun nyatanya begitu banyak manusia aneh yang berhasil kalian tampung”

"Dalam anggapan orang lain memang demikian, orang orang yang telah bergabung dengan organisasi kami pun mungkin akan berperasaan demikian, sebab kami amat misterius, amat rahasia, semua rencana dan tindakan kami dilakukan secara rahasia dan diluar dugaan orang bahkan kecuali otak yang mengatur rencana tersebut, pelaksanaan dari rencana itupun tidak begitu jelas, malah seringkali setelah melaksanakan rencana itu mereka baru memahami duduk persoalan yang sebenarnya, tapi bila kau benar-benar sudah memahami seluk beluk yang sesungguhnya dari keadaan itu, sudah pasti akan berbeda sekali pendapat kalian”

“Dimanakah letak perbedaan itu?” Bun Hong tertawa getir.

“Kau akan merasa seakan-akan hidup disuatu dunia yang kosong dan melayang tak menentu, antara manusia dengan manusia hampir sama sekali tiada hawa kemanusiaannya..”

“Misteri dan kesadisan seringkali bergabung menjadi satu, dengan begitu orang merasa seakan-akan hidup dalam alam yang menyeramkan”

“Apakah hal inipun termasuk semacam kekuatan untuk mengendalikan orang?” tanya Kian Hui seng.

“Benar, kami mempunyai peraturan yang ketat, pelaksana hukuman yang berdarah dingin dan tidak berperasaan, apabila seseorang yang diperintahkan untuk melakukan sesuatu tugas dan tak mampu menyelesaikan tugas  tersebut  dengan  sempurna,  mereka  akan  lebih rela mati dalam pertempuran atau mati bunuh diri, daripada pulang untuk menerima hukuman”

Cu Siau-hong tersenyum.

“Tapi buktinya nona Bun Hong berani menampilkan diri untuk melawan peraturan yang ketat dan mengerikan itu”

Bun Hong segera menghela napas sedih, “Aaai..selama banyak tahun ini, aku seolah-olah hidup dialam impian yang mengerikan, setelah sadar dari impian tersebut tiba tiba saja ku merasa seakan-akan memiliki suatu keberanian yang tak terkirakan besarnya”

Kemudian setelah tertawa dia melanjutkan: “Tapi kalau dibilang darimanakah datangnya keberanian tersebut, maka bisa kujawab Cu kongcu lah sumber dari keberanianku itu..”

“Waah..aku jadi malu rasanya.”

“Aku tidak bohong. aku berbicara dengan sesungguhnya, Toa sianseng seringkali menyinggung tentang dirimu, dia berusaha untuk meraihmu dan merangkulmu agar mau bergabung dengan organisasi kami ini, namun setelah kujumpai dirimu baru kuketahui kalau kau tak lebih hanya seorang manusia yang masih begitu muda, mengapa pemuda seperti kau berani melawan organisasi ini? Betul, keberhasilanmu banyak dibantu oleh kepandaian silatmu yang amat lihay serta bantuan dari sahabat-sahabat karibmu yang menolong tanpa pamrih, tapi yang paling penting kau memiliki keberanian untuk melakukan perlawanan dan inilah merupakan modal utama dari munculnya keberanian dalam hatiku..”

“Sekalipun demikian bila nona bukan seorang manusia yang pintar dan berotak encer, rasanya sulit bagimu untuk sadar dengan begini cepat” sambung Kian Hui seng. “Moga-moga saja sadarnya nona Bun bisa menyadarkan pula orang-orang yang lain untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah” kata Cu Siau-hong pula.

“Nona, siapakah dua orang yang mampus oleh pasir sakti menyembur bayangan itu?

“Sesungguhnya mereka masih terhitung orang sendiri” “Kalau memang orang sendiri, mengapa mereka turun

tangan terhadapnya?”

“Sebab aku sudah menurunkan perintah untuk menghalangi siapa saja yang berusaha untuk memasuki rumah gubuk itu, sebagai anggota organisasi kami, perintah tetap perintah, siapa yang melanggar perintah itu maka dia harus menerima sendiri akibatnya”

“Bagaimana dengan kau? Dapatkah kau masuk keluar sekehendak hatimu sendiri?”

“Kalau berganti dengan tempat lain mungkin saja bisa, tapi untuk menembusi Han-sah Si-im ini aku hanya bisa lewat kecuali sekali lagi menurunkan perintah dan mencabut larangan lewat tersebut..”

“Oohh, jadi ia tidak kenal dengan dirimu?”

“Mungkin tahu, cuma sekali pun sudah mengetahui identitasku, mereka tak akan membiarkan aku lewat dengan begitu saja”

Cu Siau-hong tertawa hambar dan tidak banyak bertanya lagi.

Tiba-tiba Bun Hong berkata lagi:

“Mungkin penjelasanku ini terlampau kabur dan tidak begitu kau pahami?”

“Benar” “Mereka berdua adalah orang buta, namun pendengaran mereka tajamnya luar biasa, mereka pernah mendengar suaraku tapi apakah mereka masih ingat dengan suaraku atau tidak hal ini tidak begitu kuketahui”

“Ooohh..”

“Kedua orang itu sangat keras kepala, tapi jikalau dapat menaklukkan mereka, kedua orang itu merupakan pembantu yang hebat bagi kita”

“Mengapa nona Bun tidak mencobanya? Yang paling penting bukanlah sumbangan tenaga dan kekuatan dari mereka berdua melainkan kesanggupan mereka untuk melepaskan diri dari lingkungan pengaruh organisasi ini”

“Betul, kami memang terlalu misterius, tidak banyak yang diketahui tentang kami” kata Bun Hong, “Namun Han-sah Si-im itu mempunyai pamor yang cukup besar dalam organisasi kami ini”

“Mengapa?”

“Sebab pada dasarnya Han-sah dan Si-im memang mempunyai pamor yang cukup besar dalam dunia persilatan, mereka berdua pun tak pandai merubah muka jadi apabila kedua orang ini mempunyai suatu gerakan sudah pasti tindakan mereka akan menimbulkan pengaruh yang amat besar terhadap organisasi ini”

“Kalau memang demikian, kita harus mencurahkan tenaga dan pikiran kesitu?”

Bun Hong termenung sambil berpikir sejenak, lalu berkata:

“Aku rasa saat ini masih bukan saat yang tepat untuk pergi menjumpai mereka”

“Ooo ya?” “Aku masih akan mempergunakan kekuatan dari mereka berdua untuk melindungi rumah gubuk tersebut”

“Mereka hanya melaksanakan tugas atas perintah, membunuh orang tanpa membedakan mana yang putih dan mana yang merah, aku pikir lebih baik cepat-cepat dibujuk saja” usul Kian Hui seng dengan cepat.

“Aaai..terus terang saja kukatakan, aku tidak mempunyai keyakinan yang terlalu besar untuk berhasil membujuk Han-sah dan Si-im, seandainya bujukan tak berhasil, bisa jadi akan timbul pertarungan yang seru, daripada menyerempet bahaya ini lebih baik kita urungkan dulu rencana ini, apabila waktu yang dibutuhkan sudah sampai, barulah kita mencari akal lagi untuk membujuknya”

“Nona, yakinkah kau kalau Toa sianseng bakal balik lagi kemari?”

“Aku pikir dia akan berbuat demikian, sebab berita yang sampai disini amat luas, bila mereka tinggalkan tempat ini sama artinya dengan memisahkan diri dari keramaian dunia untuk sementara waktu”

“Seandainya dia berhasil melampaui Han-sah dan Si-im siapa lagi yang bisa menghalangi dirinya?”

“Bila orang-orang mengenali dia sebagai Toa sianseng maka siapa pun akan melepaskan dia masuk tapi bila tidak kenal pos penjagaan yang mana tak akan melepaskan dirinya, dia sendiri telah menetapkan peraturannya, barang siapa berani membangkang perintah maka hukumannya adalah mati dicincang menjadi berkeping-keping..”

-oo>d’w<oo “Kian toako, mungkinkah orang-orang kita akan menyusul kemari?” Cu Siau-hong segera bertanya.

“Aku rasa tak mungkin”

“Tapi aku terus menerus merasa kuatir bila mereka datang kemari”

“Cu kongcu, Kian tayhiap, aku ingin menjelaskan dulu situasi pos penjagaan yang diatur di sekeliling tempat ini, enath bagaimana menurut pendapat kalian?” tiba-tiba Bun Hong menyela.

Mendadak terdengar suara sayap burung merpati mengebas udara, lalu muncul tiga ekor burung merpati yang meluncur datang setelah berputar satu lingkaran diatas rumah gubuk, tiba-tiba burung-burung tersebut menukik dan turun keatas rumah gubuk tadi.

Cu Siau-hong yang menyaksikan hal ini segera berkata: “Nona, dibawah tiada orang bila burung-burung merpati

itu membawa kabar berita”

“Biar aku yang pergi mengambil” seru Bun Hong dengan cepat.

“Tunggu sebentar” tiba-tiba Cu Siau-hong mencegah. “Mengapa?”

“Tunggu sebentar lagi, aku merasa sangat keheranan, bila disitu tak ada orang, mengapa burung-burung merpati itu bisa terbang masuk kedalam ruangan?”

Bun Hong jadi tertegun dan tak mampu menjawab sepatah kata pun jua.

Setelah menghela napas kembali Cu Siau-hong berkata: “Nona Bun Hong, coba kau pikir lagi apakah didalam

rumah gubuk itu ada ruang rahasia?” “Kurasa ada”

“Ruang rahasia apa yang terdapat dibawah sana?” “Soal ini, aku kurang begitu jelas”

“Nona Bun, jangan kelewat rendah kau menilai Toa sianseng”

“Tentang soal ini..betul juga perkataan Cu kongcu, kita memang tak boleh terlampau gegabah”

Mendadak berkumandang lagi suara sayap burung merpati yang mengebas diudara, empat ekor burung merpati terbang lagi menerobos keluar lewat jendela.

Bun Hong semakin tertegun lagi, serunya tertahan: “Ada orang!”

“Nona menemukan apa?”

“Dalam rumah gubuk itu ada orangnya, maka burung merpati itu baru terbang kesana”

“Tahukah nona siapa yang mungkin berada disana?” “Aku pikir dugaanmu benar, kemungkinannya betul,

mungkin orang itu adalah Toa sianseng”

“Nona Bun, seandainya dia masih tetap tinggal didalam rumah gubuk itu, apakah masih dapat mengendalikan semua kekuatan yang berada disini?”

“Semua perangkap dan penjagaan yang ada di seputar rumah gubuk itu dikendalikan gerak-geriknya dengan suara sumpritan tapi burung merpati itu bisa dipakai untuk memberi perintah kepada orang yang berada diluar”

“Jarak merpati dengan kita masih ada puluhan kaki, aku pikir tak mungkin bisa merontokkan burung-burung tersebut” kata Kian Hui seng. “Nona Bun, mari kita pergi mencarinya!” tiba-tiba Cu Siau-hong mengajak.

“Baik! Jikalau dapat merobohkan Toa sianseng, yang lainnya akan lebih mudah untuk dihadapi”

“Bila apa yang terjadi sesuai dengan perkataan nona, maka Toa sianseng selalu mengawasi gerak-gerik dari semua organisasinya ini”

“Aku lihat memang demikian keadaannya”

“Jikalau situasi disekitar tempat ini masih berada dibawah pengendalian nona, aku percaya Toa sianseng masih belum dapat mengundang bala bantuan kemari, sekarang kita hasru segera mencarinya, mungkin masih ada sedikit kesempatan buat kita untuk beradu jiwa dengannya”

“Toako, ada satu hal perlu siaute katakan lebih dulu” tiba-tiba Cu Siau-hong memotong.

“Katakanlah!”

“Toa sianseng hendak kita hadapi berikut ini merupakan jago lihay di kolong langit, oleh sebab itu toako tak perlu terlalu terikat dengan segala macam peraturan yang berlaku dalam dunia persilatan”

“Maksud saudara..”

“Aku tahu toako adalah seorang lelaki sejati, seorang kuncu, seorang pendekar kenamaan, bila kita terpaksa harus turun tangan melawan orang, mungkin toako enggan untuk turun tangan bersama-sama dan mengerubutinya”

“Kau tak usah kuatir saudaraku! Untuk menghadapi manusia bengis seperti ini toakomu tak akan mempersoalkan peraturan dalam dunia persilatan lagi” “Baik, kalau begitu mari kita berangkat. Aku akan membawa jalan untuk kalian” kata Bun Hong dengan cepat.

Seng Hong dan Hoa Wan cepat bertindak dengan berjalan di depan Bun Hong.

Melihat itu sambil tertawa Bun Hong berkata:

“Kalian berdua tak usah berebut denganku, lebih baik aku saja yang membawa jalan untuk kalian”

Cu Siau-hong mengerti apa yang dimaksudkan Bun Hong, nona itu kuatir Seng Hong dan Hoa Wan tak mampu menahan serangan dari Toa sianseng, maka segera tukasnya:

“Kalian mengikuti dibelakangnya saja”

Kemudian dengan cepat dia maju kedepan dan menyusul dibelakang Bun Hong.

Kian Hui seng berjalan dibelakang Cu Siau-hong.

Ketika memasuki rumah gubuk itu, Toa sianseng sudah duduk menanti di kursi kebesaran dalam ruangan tengah.

Sepasang manusia aneh tua dan muda berdiri di kedua belah sisinya dengan angker.

Toa sianseng memang seorang yang selalu bertindak sangat hati-hati, dia melarang siapa pun untuk berdiri dibelakang punggungnya.

Dengan suara dingin Kian Hui seng segera berkata: “Nona Bun, manusia yang memakai topeng inikah yang

dinamakan Toa sianseng?”

“Betul, akulah orangnya” jawab Toa sianseng. “Hmmm, memakai kedok untuk menutupi wajah asli sendiri, termasuk manusia macam apakah dirimu itu?” ejek Kian Hui seng sambil tertawa dingin.

Toa sianseng tersenyum.

“Cita-citaku untuk menguasai seluruh kolong langit, terhadap manusia macam kalian ini tak pernah kupikirkan di hati, aku pun tak sudi bertemu kalian dengan wajah asliku”

“Sekeliling tempat ini sudah ditutup oleh Nona Bun” kata Cu Siau-hong, “Sekalipun aka nada yang kemari, tak nanti bisa melampaui pos penjagaan yang dipegang Han sah dan Si-im, apalagi orang yang kau undang lewat burung merpati pun belum tentu bisa datang sampai disini”

“Heeehh…heeehh..heeeh..apabila aku tidak mempunyai keyakinan untuk berhasil menghadapi kalian, tak mungkin aku bakal muncul disini” jengek Toa sianseng sambil tertawa dingin tiada hentinya.

“Kau sangat licik” maki Bun Hong. Kembali Toa sianseng tertawa dingin.

“Bun Hong, aku belum menjatuhkan hukuman atas pengkhianatanmu, ternyata kau berani bersikap kurang ajar lebih dulu kepadaku?”

“Yang mengkhianatimu bukan hanya aku seorang, kecuali aku masih ada banyak orang..”

Agaknya Toa sianseng dibikin tergetar hatinya oleh ucapan tersebut, beberapa saat dia membungkam, kemudian pelan-pelan baru berkata lagi:

“Coba katakanlah, selain kau masih ada siapa lagi yang berani mengkhianatiku?” “Sekalipun aku tahu, tak nanti akan kuberitahukan rahasia ini kepadamu”

Toa sianseng segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaah.. haa.. haaah.. Buh Hong, sekali pun masih ada orang yang mengkhianatiku, pengkhianatan mereka tak akan mempengaruhi keadaan situasi, sayang sekali kau justru akan menjadi satu domba yang berkorban bagi orang lain”

Bun Hong tersenyum ewa.

“Toa sianseng soal mati atau hidup bukan masalah yang memusingkan diriku lagi”

“Dengarkan baik-baik” seru Cu Siau-hong pula, “Saat ini kita bakal melangsungkan suatu pertarungan antara mati dan hidup, bila kami tidak mati ditanganmu maka akulah yang akan mengorek wajah aslimu”

“Sebenarnya orang yang kelewat pintar tak boleh dibiarkan terus di dunia ini, apa mau dibilang aku justru menaruh perasaan kasihan atas dirimu”

Kian Hui seng tidak sabar untuk menahan diri lebih jauh, tiba-tiba ia membentak keras:

“Lepaskan topengmu aku orang she Kian akan menantangmu untuk berduel”

“Huuuh, kau masih belum pantas untuk bertarung melawanku” jengek Toa sianseng dingin.

Dengan gerakan cepat Kian Hui seng meloloskan goloknya sambil melangkah kedepan, hardiknya lagi dengan suara dingin.

“Loloskan senjatamu” Belum sampai Toa sianseng berbicara, sepasang manusia aneh tua dan muda telah turun tangan, dua bilah golok lolos bersama dari sarungnya dan menghadapi jalan Kian Hui seng.

Dengan cepat Kian Hui seng mencabut goloknya sambil melancarkan sebuah sapuan. Ia disebut orang golok lewat tanpa suara, kecepatan gerak serangannya kali ini benar benar luar biasa.

Sepasang manusia aneh tua dan muda maju menyongsong datangnya ancaman tersebut, ketiga orang itu segera terlibat dalam suatu pertarungan yang benar-benar sengit.

Sejak mulai, Kian Hui seng sudah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya dimana cahaya golok berkelebat lewat, serangan meluncur kemuka dan meneter lawan tiada hentinya.

Kali ini sepasang manusia aneh tua dan muda tidak mempergunakan lagi serangan melompatnya, mereka gunakan ilmu golok yang asli untuk melangsungkan pertempuran.

Sungguh amat seru dan ramai pertarungan yang sedang berlangsung di tengah arena itu.

Sepasang manusia aneh tua dan muda melakukan suatu kerja sama yang amat ketat untuk mengerubuti Kian Hui seng, masing-masing pihak memakai jurus golok kilat untuk saling mendesak, keadaannya sungguh tegang.

Sementara pertarungan berlangsung, Cu Siau-hong mengalihkan sorot matanya ke wajah Toa sianseng, kemudian pelan-pelan dia berkata:

“Saudara, kau boleh melepaskan topengmu sekarang” “Cu Siau-hong, dengarkan baik-baik, suatu ketika aku akan melepaskan topengku ini, cuma hal ini sudah pasti tak akan kulakukan sekarang”

“Kalau begitu sampai kapan kau baru akan melepaskan topengmu itu?”

“Disaat yang seharusnya kulepaskan topeng ini pasti akan kulepaskan topeng tersebut”

Pelan-pelan Cu Siau-hong meloloskan pedangnya, kemudian berkata keras:

“Sayang sekali hanya sepasang manusia aneh tua dan muda yang setia kepadamu..”

“Ada apa?”

“Oleh sebab itu sekarang terpaksa kau mesti turun tangan”

Toa sianseng segera manggut-manggut.

“Cu Siau-hong, kalau cuma kau seorang mungkin masih bukan tandinganku, bagaimana kalau maju bersama-sama Bun Hong saja?”

Cu Siau-hong tertawa hambar.

“Aku rasa tidak perlu, di saat Cu Siau-hong menderita kalah, nona Bun Hong masih belum terlambat untuk membantuku.”

Mendengar perkataan ini Toa sianseng segera tertawa terbahak-bahak:

“Haah..hah..haaahh..baiklah Cu Siau-hong, hari ini aku akan menyuruh matamu menjadi melek, ayolah turun tangan”

“Toa sianseng, apakah untuk menghadapi aku orang she Cu pun Toa sianseng enggan berdiri?” “Cu Siau-hong, pernah menyaksikan jago lihay yang benar-benar hebat?”

“Toa sianseng kah yang kau maksudkan sebagai jago yang benar-benar hebat?” jengek Cu Siau-hong.

Toa sianseng termenung sebentar, lalu katanya: “Cu Siau-hong, mengapa kau tidak coba sendiri?” “Aku memang ingin meminta petunjukmu”

Pedangnya diangkat kemudian pelan-pelan melancarkan tusukan kedepan.

Toa sianseng masih tetap duduk tenang di tempat semula, bergerak sedikit pun tidak.

Kini serangan pedang dari Cu Siau-hong sudah tinggal setengah depa saja didepan dada Toa sianseng. Pada saat itulah pelan-pelan Toa sianseng mengangkat tangannya keatas.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 61"

Post a Comment

close