Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 57

Mode Malam
Cu Siau-hong tertawa, tiba-tiba dia malah menepuk bebas jalan darah Bun Cu ciau yang tertotok, kemudian berkata:

“Sekarang kau boleh pergi dari sini!”

Bun Cu ciau mencoba untuk menggerakkan sepasang lengannya, benar juga, jalan darahnya yang semula tertotok, kini sudah bebas kembali.

Dengan kening berkerut dia lantas berseru:

“Cu Siau-hong, kau telah menotok jalan darahku dan membawaku kemari, sekarang tiba-tiba kau lepaskan lagi diriku, sebenarnya apa maksud tujuanmu?”

“Kalau kudengar dari nada pembicaraanmu, tampaknya kau adalah seseorang yang berperasaan, oleh sebab itu aku tak ingin mencelakai dirimu, aku menotok jalan darahmu dan membawanya kemari karena aku harap bisa melindungi       keselamatan       jiwamu,       aku      percaya dibelakangmu pasti ada orang yang secara diam-diam mengawasimu..”

Bun Cu ciau menjadi tertegun. “Kau….”

“Sebenarnya aku ingin mengorek sedikit rahasia dari mulutmu” tukas Cu Siau-hong lagi, “Sayang kau enggan berbicara, sedangkan aku pun tak ingin membunuhmu, itulah sebabnya terpaksa aku harus melepaskanmu pergi dari sini”

“Dengan melepaskan diriku, apakah kau tidak takut kalau kubocorkan rahasiamu itu?”

“Takut..”

“Lantas mengapa kau tidak melakukan pembunuhan untuk menghilangkan saksi?”

“Sebab disinilah perbedaannya antara golongan sesat dengan golongan lurus!”

Sesudah menguruti jalan darah Bun Cu ciau, dia berkata lagi:

“Sekarang kau boleh pergi dari sini”

Bun Cu ciau menggerakkan sepasang tangannya secara pelan-pelan, kemudian berkata:

“Budi kebaikanmu tidak membunuhku hari ini, pasti akan kubayar disuatu saat!”

Memandang tumpukan kayu bakar yang berada diatas batu gunung, katanya lagi:

“Apakah kau hendak tetap tinggal disini?” “Benar!” “Sebelum Pena Wasiat munculkan diri di tempat ini penuh diliputi oleh ancaman bahaya maut”

“Setelah Pena Wasiat munculkan diri?”

“Paling tidak di tempat ini akan berkumpul banyak orang, itu berarti ancaman bahaya disini akan semakin berkurang”

“Terus terang kuberitahukan kepada saudara Bun, tujuanku yang sebenarnya dengan tetap tinggal disini adalah ingin mengetahui bagaimana cara Pena Wasiat tersebut munculkan diri!”

Bun Cu ciau termenung sejenak, kemudian katanya: “Kalau begitu, kau harus berusaha untuk menyingkirkan

kayu bakar tersebut..”

“Terima kasih atas petunjukmu”

“Aku tak akan membocorkan rahasiamu, Cuma kau tetap akan ditemukan oleh mereka”

“Maksud saudara Bun, sebelum Pena Wasiat munculkan diri, diatas bukit ini bakal dilakukan penggeledahan secara besar-besaran lagi?”

-oo>d’w<oo-

“YAA, penggeledahan tersebut bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali, kesempatanmu untuk melarikan diri sesungguhnya tidak terlalu besar”

“Saudara Bun, dapatkah kau menjawab sebuah pertanyaanku ini sejujurnya?”

“Tanyalah! Asal pertanyaanmu itu dapat kujawab, pasti akan kuusahakan agar kau tak sampai kecewa” “Apakah kalian ada hubungannya dengan Pena Wasiat”

Bun Cu ciau termenung sejenak, lalu menggelengkan kepalanya berulang kali:

“Menurut apa yang kuketahui, sama sekali tak ada sangkut pautnya..”

“Baiklah, sekarang kau boleh pergi”

“Apabila kau ingin menyaksikan sesuatu, pada bukit disebelah utara sana terdapat pepohonan dengan daun yang rindang, tempat tersebut bagus untuk menyembunyikan diri, mengapa kau harus bersembunyi dalam lembah bukit ini?”

“Saudara Bun mengapa pula kau kemari? Walaupun diatas puncak itu terdapat tempat untuk menyembunyikan diri, sayang jaraknya dari sini terlampau jauh”

“Meski lebih jauh tapi lebih aman”

“Saudara Bun, asal kau tidak membocorkan jejak Siau hong sudah merasa berterima kasih sekali, soal kami dapat kami atasi dengan sendirinya..”

Bun Cu ciau menghela napas panjang tanpa berbicara lagi dia segera berlalu dari situ.

Dengan cepat Cu Siau-hong telah tiba disisi batu besar itu, setelah membereskan tumpukan kayu bakar itu berangkatlah dia meninggalkan tempat itu.

Ia merasa perjalanannya kali ini tidak sia-sia sebab dari hasil pembicaraannya dengan Bun Cu ciau ia berhasil mendapatkan banyak rahasia besar.

Sebab pemunculan Pena Wasiat, disitu akan muncul banyak orang yang akan melakukan penggeledahan, siapa pun tak akan diperkenankan tinggal disitu, siapa pun tak diijinkan untuk menyaksikan pemunculan Pena Wasiat. ….OOdOwOO….

Walaupun hanya soal itu saja yang berhasil diperolehnya, namun Cu Siau-hong merasa hasil yang diperolehnya ini sudah amat besar.

Tak lama setelah Cu Siau-hong pergi, kembali terlihat ada dua sosok bayangan manusia yang melayang datang ke puncak Yang jit gay. Kedua orang itu mengenakan pakaian berdandan tukang kayu. Dengan cepatnya pula mereka menyelinap ke belakang sebuah batu cadas yang amat  besar.

Mereka adalah Cu Siau-hong dan Kian Hui seng.

Cu Siau-hong telah memperhatikan situasi di sekitar sana dengan cermat, maka dengan cepat mereka telah menyembunyikan diri di belakang sebuah batu cadas, di antara sebuah tebing.

Dengan suara lirih Kian Hui seng berbisik:

“Saudara, benarkah persoalan ini menyangkut tentang Pena Wasiat?”

“Toako, terhadap persoalan ini, siaute menaruh semacam kecurigaan, cuma belum berhasil menemukan sesuatu bukti, siapapun di antara kita tak berani berbicara sembarangan”

“Saudara Cu, Bun Cu ciau yang kau ceritakan tadi sebenarnya berasal dari aliran mana?”

“Ia tidak menerangkan secara jelas, tapi kalau didengar dari nada pembicaraannya sudah jelas dia pun merupakan anggota dari organisasi rahasia tersebut”.

“Seandainya Pena Wasiat pun benar-benar terlibat di dalam peristiwa ini maka urusannya akan bertambah kalut.” “Toako, duduk persoalan yang sebenarnya segera akan terungkap, walau pun masalahnya sangat pelik, namun saat ini kita pun sudah berada di jalan buntu, masalah sekarang kita…”

“Bagaimana dengan kita?” tukas Kian Hui seng sebelum Cu Siau-hong menyelesaikan perkataannya.

“Haruskah kita bertahan lebih jauh?”

“Maksudmu kita dapat bertarung dengan mereka?” “Yaa, kemungkinan besar kita bisa bertarung melawan

mereka”

“Seandainya sampai bertarung hal ini maka sangat kebetulan sekali, bukankah kita hendak mencari mereka untuk mengajak bertarung?”

“Betul! Yang lewat, kita masih belum mengetahui siapakah dia? Tapi sekarang kita sudah tahu, semakin banyak yang kita ketahui semakin besar pula hasrat mereka untuk membunuh kita semua.”

“Saudaraku, apakah kau kuatir?”

“Bukannya kuatir, aku hanya merasa kalau hal ini berbahaya sekali!”

“Saudaraku, Pena Wasiat sudah akan segera muncul disini, maka mereka akan membunuh orang disini?”

“Disinilah letak kecurigaan tersebut, jika Pena Wasiat sudah hampir muncul mengapa masih ada orang yang melakukan perondaan disini? Toako, kau berpengalaman luas sekali, coba pikirkan mungkinkah orang itu ada persoalan?”

“Aaai, saudaraku, pertanyaanmu ini membuat aku rada rada menjadi bingung” seru Kian Hui seng kemudian. “Toako, benarkah kau tidak mengerti?”

“Bukannya begitu, aku hanya tak ingin berpikir kearah sana”

“Ooooooooh…”

“Selama ini Pena Wasiat adalah orang yang paling kuhormati, apabila lambang tersebut sampai hancur berantakan, siapa lagi di dunia ini yang bisa membuatku merasa kagum?”

“Toako mungkin saja persoalan ini ada hubungannya dengan Pena Wasiat, orang itu pun telah mengakui sekomplotan dengan Yu Sam khi, aku pikir Pena Wasiat hanya diperalat orang lain saja”

“Kalau memang begitu, sudah seharusnya kalau dia segera menampilkan diri dan memberi penjelasan tentang persoalan tersebut”

“Justru karena mereka tidak menjumpai orangnya, bila orangnya sudah ditemukan maka mereka masih melaksanakan tugas dari Pena Wasiat..”

“Betul, setelah kau berkata demikian, aku pun merasa kalau ucapanmu tersebut masuk diakal juga”

Cu Siau-hong menghembuskan napas panjang.

“Toako, aku pikir andaikata Pena Wasiat bukan sekomplotan dengan mereka, kemungkinan besar persiapan mereka ini sengaja dilakukan untuk menghadapi Pena Wasiat..”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, kembali tampak ada empat sosok bayangan manusia yang berjalan mendekat. Mereka adalah Thian Pak liat, Si Eng, Ho Hou poo serta Tham Ki wan rupanya. Keempat orang ini tidak tahan melawan kesepian maka mereka telah menyusul kesitu.

Dengan kening berkerut Cu Siau-hong segera berkata: “Toako, aku akan muncul kesitu untuk mengundang

mereka kemari, suasana dalam lembah ini berbahaya sekali”

“Hmmm, kita toh sudah bilang siapa pun dilarang kemari, mengapa Oh tua sama sekali tidak menggubris urusan ini?”

“Oh tua adalah orang baik, dia enggan menyalahi orang lain, apalagi keempat orang ini pun merupakan jago kelas satu yang berkepandaian luar biasa, kalau toh sudah berdatangan semua, lebih baik kita berkumpul menjadi satu saja, siapa tahu kalau kita bisa saling membantu satu sama lainnya?”

“Kalau begini banyak orang harus bersembunyi jadi satu, bukankah amat mudah ditemukan jejaknya oleh orang lain?”

“Toako, sudahkah kau perhatikan keadaan di tempat ini? Tempat yang bisa digunakan untuk menyembunyikan diri rasanya hanya di tempat ini saja, bila mereka hendak melakukan pemeriksaan, sudah pasti tempat inilah yang akan diperiksanya.”

“Ooooh..”

“Itulah sebabnya, sekalipun mereka berempat tidak kemari pun toh sama saja, kita tak akan bisa bersembunyi lebih jauh”

Sembari berkata dia segera melompat keluar dari tempat persembunyian dan menyongsong kedatangan orang-orang itu. Dengan cepatnya Thian Pak liat sekalian berdatangan semua kesitu. Tempat yang berada di belakang batu besar tersebut ternyata memang cukup luas, maka enam orang tersebut dapat menyembunyikan diri semua disana.

“Sesudah kedatangan kalian berempat, mungkinkah masih ada yang bakal datang lagi?” Kian Hui seng segera menegur.

Thian Pak liat segera tertawa.

“Aku rasa sudah tidak ada lagi, kami dan Oh tua sudah berunding selama setengah harian lamanya sebelum dia menyatakan persetujuannya.”

“Oh tua telah mengatur anak buah menjadi formasi yang kuat untuk menghadapi serangan musuh, segala sesuatunya telah dilakukan dengan persiapan matang” sambung Si Eng pula.

Cu Siau-hong segera tertawa.

“Saudara Thian, sepanjang jalan kemari, apakah kalian telah menemukan seseorang yang mencurigakan?”

“Tidak, sepanjang jalan kemari, kami tidak menjumpai seorang manusia pun.”

“Aku pikir mereka akan segera mengirim orang kemari” kata Cu Siau-hong lagi sambil tertawa.

“Saudara, darimana kau bisa mengucapkan hal tersebut dengan begitu yakin?” tanya Kian Hui seng cepat.

“Bun Cu ciau tersebut entah menggunakan nama yang asli atau nama palsu, entah dia akan membicarakan persoalan tersebut atau tidak, aku pikir mereka pasti mempunyai suatu rencana yang amat sempurna.”

“Saudara, dapatkah kau memberi keterangan dengan lebih jelas lagi?” “Terlepas apakah mereka adalah orang-orang Pena Wasiat atau tidak, namun yang pasti kemunculan dari orang-orang tersebut sudah pasti ada sangkut pautnya dengan Pena Wasiat..”

“Mereka bermaksud untuk memeriksa sekitar tempat ini agar bebas dari manusia, aku rasa hal ini pasti mempunyai suatu batas waktu yang tertentu, apabila jaraknya dengan kemunculan Pena Wasiat kian lama kian bertambah dekat, saat perondaan mereka pasti akan semakin ketat dan rapat lagi” sambung Thian Pak liat.

“Kalau didengar dari nada pembicaraan kalian itu, nampaknya peristiwa ini ada sangkut pautnya dengan Pena Wasiat?” seru Kian Hui seng tiba-tiba sambil berkerut kening.

“Yaa, begitulah”

“Persoalannya, apakah dia tahu akan soal ini atau tidak” kata Cu Siau-hong.

“Setelah menemukan gejala-gejala yang sangat mencurigakan tersebut, apalagi sesudah mendengar pembicaraan kalian itu, bahkan termasuk aku sendiri pun merasa curiga” kata Kian Hui seng lagi.

“Toako, duduknya persoalan dengan cepat akan terungkap.”

“Aah, mereka sudah datang!” tukas Kian Hui seng tiba tiba dengan wajah berubah.

Cu Siau-hong segera berpaling, betul juga, dia menyaksikan ada dua sosok bayangan manusia sedang bergerak menuju ke tengah lembah dengan kecepatan tinggi. Oleh sebab pandangan mereka terhalang oleh batu cadas yang besar, maka mereka tak sempat melihat dengan jelas ke arah manakah kedua orang itu sedang bergerak.

Dengan suara rendah Thian Pak liat segera berbisik: “Saudara Cu, sudah kau saksikan belum? Dua orang

berbaju hitam yang menggembol golok” “Lebih banyak seorang bukan?”

“Bahkan pakaian yang dikenakan pun sama.”

“Orang persilatan yang ada di dunia ini kalau mereka berasal dari suatu perguruan yang sama sebagian besar tak akan mengenakan pakaian seragam yang sama bentuknya maupun warnanya” kata Kian Hui seng menerangkan.

“Hal ini menunjukkan kalau mereka berasal dari suatu organisasi rahasia yang sama dengan kedudukan yang hampir berimbang pula.”

“Apakah mereka sedang berjalan menuju kearah kita berada?” Tanya Kian Hui seng lagi.

“Yaa, mereka sedang berjalan kearah kita. Dalam lembah ini memang tidak banyak tempat yang bisa digunakan untuk menyembunyikan diri, lagi pula tempat ini memang merupakan suatu tempat yang harus mereka periksa.”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, dua orang manusia berbaju hitam itu sudah berada dibawah tebing dimana beberapa orang itu sedang menyembunyikan diri.

Terdengar salah seorang diantara manusia berbaju hitam itu berkata:

“Lote, apakah tempat itu yang kau maksudkan?” “Benar” sahut manusia berbaju hitam yang berada di belakangnya, “Diatas tebing Yang jit gay ini cuma terdapat tiga buah tempat yang bisa dipakai untuk menyembunyikan diri, tempat ini merupakan tempat pertama”

“Lote, silahkan kau naik untuk melakukan pemeriksaan, aku akan menunggumu dibawah saja”

“Kau adalah lotoa, sudah sepantasnya kalau engkau yang naik untuk melakukan pemeriksaan”

Manusia berbaju hitam yang berada di depan itu segera tertawa terbahak-bahak:

“Haaaaah..haaaah…haaah..”

“Lote, seandainya dibelakang batu cadas itu benar-benar terdapat musuh yang sedang menyembunyikan diri, orang yang naik keatas pasti terancam bahaya maut, tapi orang yang berada dibawah pun tak akan bisa melarikan diri secara gampang.”

Selesai berkata, mendadak dia melejit ke atas dan melayang turun di bawah batu cadas tersebut.

Cu Siau-hong segera mengulapkan tangannya, para jago segera menahan napas dan sama-sama menempelkan tubuh mereka diatas batu cadas tersebut.

Mendadak manusia berbaju hitam itu melongokkan kepalanya dan menengok kebelakang batu cadas tersebut.

Dengan cepat dia menyaksikan Cu Siau-hong beberapa orang yang berada disana.

Tapi dalam keadaan begini, mustahil baginya untuk mengundurkan diri lagi dengan selamat.

Cu Siau-hong yang telah mempersiapkan diri secara baik-baik itu, mendadak saja melancarkan sebuah cengkeraman      kearah      depan.      Cengkeraman     yang dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat ini segera berhasil mencengkeram bahu kanan manusia berbaju hitam itu dan menyeretnya masuk kebalik batu cadas besar tersebut.

Kian Hui seng mengayunkan tangan kanannya, cahaya tajam berkilauan dan sebilah golok tajam telah ditempelkan diatas tenggorokan manusia berbaju hitam tersebut.

“Bila kau berani berteriak, akan kucabut selembar jiwa anjingmu” ancamnya.

Kelima jari tangan Cu Siau-hong yang mencengkeram diatas bahunya itu seperti jepitan baja yang kuat sekali, membuat lengan manusia berbaju hitam itu menjadi kaku dan sama sekali tak mampu digerakkan kembali.

Tiba-tiba terdengar manusia berbaju hitam yang berada dibawah sana berteriak dengan suara lantang:

“Ong lotoa, mengapa kau?”

Thian Pak liat dan Tham Ki wan berdua saling berpandangan sekejap, mendadak mereka bersama-sama melayang turun kedasar lembah tersebut.

Setelah tertawa, Thian Pak liat berkata:

“Dia masih berada disana, sobat, apa yang hendak kau lakukan sekarang?”

Manusia berbaju hitam itu memandang sekejap kearah Thian Pak liat dan Tham Ki wan, kemudian ujarnya dingin:

“Kalian telah mencelakai dia?”

“Justru sebaliknya” sahut Tham Ki wan cepat, “Dia tak bisa membantumu sekarang sebab lagi repot, jadi kau pun tak usah berharap memperoleh bantuannya” Manusia berbaju hitam itu sama sekali tidak mempunyai rencana untuk melarikan diri, terhadap kedua orang itu pun dia tidak menaruh perasaan takut atau seram, pelan-pelan dicabutnya golok panjang yang tersoren di punggungnya, kemudian berkata:

“Ong lotoa kurang berhati-hati sehingga terkena jebakan kalian, anggap saja hal ini sebagai ketidak beruntungannya. Tapi jika kalian ingin menghadapiku terpaksa kalian mesti mengeluarkan ilmu silat yang sesungguhnya.”

“Baik, berhati-hatilah kau untuk menyambut seranganku ini” seru Thian Pak liat kemudian.

Begitu pedangnya dicabut keluar dari sarung, dia segera menggetarkan pergelangan tangannya melancarkan sebuah tusukan kilat kearah depan. Manusia berbaju hitam itu  tidak menghindar mau pun berkelit, dia menunggu sampai tusukan pedang dari Thian Pak liat telah berada di depan mata sebelum goloknya diayunkan kemuka untuk menyambut datangnya ancaman tersebut. Golok dan pedang segera saling berbenturan keras sehingga menimbulkan suara yang amat nyaring.

Manusia berbaju hitam itu memutar golok panjangnya, tidak menanti sampai Thian Pak liat melancarkan serangan untuk kedua kalinya, dia sudah memutar golok sambil melancarkan serangan gencar. Dua orang itu sama-sama menggerakkan golok dan pedangnya hampir pada saat yang bersamaan, suatu pertarungan sengit yang mendebarkan hati pun segera berkobar dengan hebatnya.

Nama besarnya Thian Pak liat dalam dunia persilatan cukup termashur, dia termasuk salah seorang jago persilatan yang berilmu tinggi, permainan pedangnya sekarang sungguh  luar  biasa  sekali  dengan  perubahan  yang  tak terhitung banyaknya, gerak serangannya benar-benar amat gencar.

Namun permainan golok panjang dari manusia berbaju hitam itupun luar biasa, perubahannya lebih aneh, lebih sakti dan sangat luar biasa hebatnya. Belasan gebrakan kemudian, pedang Thian Pak liat sudah kena dikurung oleh permainan golok lawan, sehingga boleh dibilang agaknya tak sanggup untuk dikembangkan kembali.

Tham Ki wan pun sudah menghunus pedangnya, melihat Thian Pak liat terdesak dalam posisi dibawah angin dia merasa gelisah sekali, namun sebelum memperoleh persetujuan dari Thian Pak liat, dia pun merasa kurang leluasa untuk mencampurinya, terpaksa ia berkata:

“Saudara Thian, ilmu golok dari bocah keparat ini aneh sekali, perlukah bantuan dariku?”

“Baik!” sahut Thian Pak liat cepat, “Pertarungan ini merupakan pertarungan antara mati dan hidup, bukan pertarungan untuk memperebutkan nama, bila saudara Tham merasa tindakan mana leluasa, silahkan saja kau hadapi dia dengan caramu.”

Begitu dia salah bertindak, boleh dibilang seluruh gerakannya telah terbendung hingga sia-sia saja dia memiliki ilmu senjata rahasia yang sangat lihay, sebab semua kepandaian tersebut tak mampu dipergunakan olehnya.

Sejak tadi, sebenarnya Tham Ki wan sudah ingin menggunakan senjata rahasia, tapi oleh sebab kedua orang itu sedang terlibat dalam suatu pertarungan yang sengit, ia merasa senjata rahasia tak bisa digunakan secara leluasa, kuatir kalau sampai melukai Thian Pak liat. Mendengar seruan dari rekannya, pedangnya segera diputar kencang sambil melancarkan serangkaian serangan dahsyat. Tampak manusia berbaju hitam itu mengembangkan permainan golok panjangnya di tangan kanannya, dengan cepat seluruh tubuh Tham Ki wan sudah terkurung dibawah serangan cahaya goloknya yang maha dahsyat tersebut. Ditambah dengan Tham Ki wan seorang pun belum merupakan suatu ancaman yang membahayakan bagi keselamatan jiwa manusia berbaju hitam tersebut. Malahan sebaliknya kedua orang itu sama-sama terkurung dibawah cahaya golok lawan yang maha dahsyat.

Thian Pak liat dan Tham Ki wan baru sadar sekarang rupanya mereka telah berjumpa dengan seorang jago lihay kelas satu dari dunia persilatan. Sementara itu Kian Hui seng telah melayang turun dari tengah udara dengan kecepatan luar biasa.

“Mundurlah kalian berdua, serahkan saja bocah keparat tersebut kepadaku”

Thian Pak liat serta Tham Ki wan dapat mendengar suara bentakan dari Kian Hui seng tersebut dengan jelas. Kedua orang itu pun ingin mengundurkan diri dari arena pertarungan namun perubahan golok manusia berbaju hitam itu terlampau rapat dan dahsyat sehingga memaksa kedua orang itu harus menangkis dengan sepenuh tenaga, mau maju tak bisa, mau mundur pun susahnya bukan kepalang. Baik Thian Pak liat maupun Tham Ki wan, sesungguhnya mereka berdua merupakan orang-orang yang tinggi hati, namun sekarang mereka baru menyadari betapa lemah dan tak berdayanya diri sendiri. Pihak lawan hanya seorang manusia yang sama sekali tak ternama tapi dengan mengandalkan sebilah golok panjang saja sudah cukup membuat mereka berdua menjadi kerepotan dan tak sanggup untuk menghadapi lebih jauh. Agaknya Kian Hui seng telah mengetahui keadaan dari kedua orang itu, sambil membentak keras mendadak dia mengayunkan goloknya sambil melepaskan sebuah serangan ke depan. Sebuah serangan golok yang benar benar amat dahsyat.

-oo>d’w<oo-

MANUSIA berbaju hitam itu dapat saja mengurung Thian Pak liat dan Tham Ki wan sampai sama sekali tak berkutik, namun ia tak berani memandang enteng datangnya bacokan golok tersebut. Tampak ia menggigit bibirnya kencang-kencang, pedangnya diangkat keudara dan:

“Traaang!” suatu benturan nyaring bergema memecahkan keheningan, ia sambut datangnya bacokan mana dengan keras lawan keras. Sekali pun manusia berbaju hitam itu sudah menyambut datangnya bacokan dari Kian Hui seng, namun tubuhnya kena terdesak juga sehingga mundur sejauh satu langkah ke belakang.

“Ilmu golok bagus!” seru manusia berbaju hitam itu sambil termangu-mangu.

“Coba kau sambut lagi seranganku ini!” bentak Kian Hui seng lagi dengan suara dingin. Goloknya segera diayunkan ke depan melancarkan sebuah bacokan secepat kilat. Manusia berbaju hitam itu mengangkat goloknya sambil menangkis, kedua orang itu pun segera mengembangkan suatu pertarungan yang amat sengit.

Golok yang digunakan kedua orang itu sama beratnya, apa lagi pertarungan pun berlangsung keras lawan keras, kesemuanya ini segera mendatangkan suatu daya pengaruh yang boleh dibilang cukup menggetarkan sukma. Terdengar suara bentrokan nyaring yang memekikkan telinga bergema susul menyusul dalam lembah itu dan mengalun sampai ke tempat kejauhan sana.

Secara beruntun manusia berbaju hitam itu menyambut delapan belas buah bacokan lawan dengan kekerasan, kini sepasang lengannya sudah tergetar linu dan kaku, telapak tangannya sudah robek dan merekah, dia sudah tak sanggup lagi untuk bertahan lebih jauh.

Sebaliknya permainan golok dari Kian Hui seng justru makin lama semakin bertambah cepat, bagaikan bukit Thay san menindih kepala saja, serangannya dilancarkan secara beruntun dan tiada hentinya.

Sambil memaksakan diri manusia berbaju hitam menyambut serangan lawan sampai tiga puluh gebrakan lebih, kini seluruh tulang belulangnya serasa rontok dan buyar. Namun serangan golok Kian Hui seng yang ketiga puluh satu gerbarakan masih juga meluncur ke bawah dengan kecepatan luar biasa.

Manusia berbaju hitam itu tak mampu untuk mempertahankan diri lebih jauh lagi, bacokan mana segera membuat tubuh manusia berbaju hitam itu terbelah menjadi dua bagian.

Setelah musuhnya mampus, Kian Hui seng baru menarik kembali goloknya sambil menghembuskan napas panjang:

“Tak nyana kalau bocah keparat ini sanggup menerima tiga puluh satu bacokanku, benar-benar luar biasa”

Mendadak terdengar sesorang tertawa dingin:

“Ilmu golok Pengejar sukma mu itu berjumlah enam puluh empat gebrakan, dia belum lagi mampu menyambut separuh  diantaranya,  tentu  saja  kepandaian  semacam itu tak bisa dikatakan sebagai suatu kepandaian yang luar biasa”

Ucapan tersebut munculnya sangat mendadak, membuat Kian Hui seng menjadi tertegun.

Di dalam kenyataan, Thian Pak liat mau pun Tham Ki wan juga amat terkesiap sekali, bahkan rasa terkesiapnya sampai tak terlukiskan dengan kata-kata. Ketika mereka mendongakkan kepalanya, tampaklah seorang sastrawan setengah umur berjubah biru yang memelihara jenggot panjang, dengan membawa sebuah kipas telah berdiri delapan depa lebih di depan beberapa orang itu.

Sikap mau pun tindak tanduknya amat santai, seolah olah manusia berbaju hitam yang terbunuh itu sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dia.

“Apakah kita bernah bertemu muka?” Kian Hui seng segera menegur dengan suara dingin.

“Belum pernah, cuma diantara kita berdua pasti pernah saling mendengar nama lawannya, juga sudah seharusnya mengetahui paras muka orang..”

Sudah jelas Kian Hui seng belum sempat mengetahui siapa gerangan pihak lawannya itu, dia mengiakan dan tidak banyak berbicara lagi.

Terdengar sastrawan setengah umur itu berkata lagi: “Kau bernama Kian Hui seng dan berjulukan Tok ko bu

seng (golok lewat tanpa suara), tapi aku rasa julukan tersebut kurang begitu sesuai dengan kenyataan.”

“Kalian sudah lama menguasai segala sesuatu tentang identitasku, hal mana bukan sesuatu yang terlalu aneh”

Sastrawan setengah umur itu tertawa dingin lagi: “Kami tak usah mencari tahu tentang dirimu, lagi pula aku pun tak usah mesti berpusing-pusing memikirkan tentang kau.”

“Dalam organisasi rahasia kalian itu, sudah banyak terbentuk manusia-manusia berbakat, aku pikir asal manusia yang punya nama dalam dunia persilatan, mungkin kalian sudah mempunyai catatannya semua tentang mereka.,”

Sastrawan setengah umur itu tetawa hambar.

“Itu mah hanya persoalan yang merupakan tugas sampingan, menurut apa yang kuketahui, dewasa ini hanya ada dua orang manusia saja yang pantas untuk kami selidiki dengan seksama, kau masih belum pantas untuk masuk kedalam hitungan kami”

“Siapakah kedua orang yang kau maksudkan itu?”

“Si Dewa pincang Ui thong dan Siau-hong” sahut sastrawan setengah umur itu cepat.

Kian Hui seng segera tertawa terbahak-bahak. “Haaaaahh…haaah..haaah…bagus sekali! Asalkan Cu

lote memiliki kebanggaan tersebut, lohu pun turut membonceng atas ketenarannya”

Sastrawan setengah umur itu kembali tertawa.

“Dia telah memancing perhatian kami, aku pikir dia pun sudah hampir mendekati ajalnya”

“Dengan mengandalkan kemampuanmu ini, jangan harap bisa membunuh Cu Siau-hong!”

“Dia amat berharga sekali batok kepalanya saja laku tiga ribu tahil emas murni” Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu Cu Siau-hong sudah melayang turun dari balik batu cadas sembari menyambung:

“Aaaah, aku sama sekali tidak tahu kalau diriku mempunyai nilai yang begitu besar, tapi aku ingin tahu berapakah nilai untuk Cu Siau-hong dalam keadaan hidup?”

“Lima ribu tahil emas murni”

Cu Siau-hong segera bersiul sambil menghembuskan napas panjang:

“Wooow…setiap jengkal tulangku benar-benar bernilai emas, aku Cu Siau-hong sama sekali tidak menyangka kalau diriku memiliki kehormatan yang begitu besar..”

Sesudah berhenti sejenak, dia menyambung lebih jauh: “Aku   Cu   Siau-hong   sudah   banyak mengobrak-abrik

rencana    bagus    kalian,    perbuatanku    ini    pantas    bila

menggairahkan kalian untuk membunuhku, tapi mengapa pula kalian hendak menghadapi si Dewa pincang Ui thong…?”

Sastrawan setengah umur itu tertawa:

“Kenapa?” dia balik bertanya, “Apakah kau pun kenal dengan si Dewa pincang Ui Thong?”

“Boanpwe memang beruntung sekali dapat berjumpa muka dengan dia orang tua”

“Tampaknya apa yang dikatakan Kim Yu memang benar, dia bilang kau pasti pernah bersua dengan Ui  Thong”

Cu Siau-hong sangat menaruh perhatian atas pembicaraan mereka, tiba-tiba tanyanya: “Siapakah Kim Yu itu?”

“Kim Yu adalah Kim Yu, bila kau ingin tahu siapakah dia, hanya ada satu cara saja”

“Bagaimana caranya?”

“Turut aku untuk pergi menjumpainya!” Cu Siau-hong segera tersenyum.

“Apakah hal ini tidak berarti melenyapkan rejeki di depan mata?” dia berseru.

“Ooohhhh…”

“Jangan lupa, nilai tubuhku adalah lima ribu tahil emas murni!”

Kembali sastrawan setengah umur itu tertawa.

“Ada satu hal aku lupa untuk memperingatkan kepada Cu lo heng, aku pun bisa dibilang sebagai salah seorang yang mengeluarkan uang hadiah tersebut”

“Aaaah, kalau begitu maaf, dari lima ribu tahil emas murni tersebut berapa yang sanggup kau bayar?”

“Terlalu banyak yang kau pikirkan, mungkin di hati kecilmu juga tahu aku tak bakal memberitahukan kesemuanya itu secara terperinci kepadamu”

“Padahal, sudah banyak sekali yang kau ucapkan..” kata Cu Siau-hong.

Sesudah tertawa, lanjutnya:

“Padahal, sekalipun kau tidak berbicara kami pun tak akan banyak bertanya…”

Selesai berkata, dia pun segera menutup mulutnya rapat rapat. Sambil tertawa sastrawan setengah umur itu berkata lagi:

“Cu Siau-hong mau tak mau lohu harus mengagumi atas kehebatanmu…”

Cu Siau-hong tidak berbicara apa-apa dan hanya tertawa. “Bagaimana cara kalian masuk kemari?” tanya

sastrawan setengah umur lagi.

“Setiap orang bisa bermain sulap, teknik untuk bermain sulap pun berbeda, bagaimana mungkin aku bisa memberitahukan teknik tersebut kepadamu?”

“Aku pikir, kau memang tak akan menerangkan secara jelas..”

“Sayang sekali kau salah menduga” tukas Cu Siau-hong, “Aku justru akan memberi keterangan kepadamu. Kami mempunyai dua orang sahabat yang dibesarkan diwilayah bukit Thay san, dia mengetahui kalau disini terdapat sebuah jalan tembus, maka kami bisa sampai disini dengan cepat, bahkan bisa pula meloloskan diri dari penghadangan serta pembunuhan yang kalian lakukan”

Sastrawan setengah umur itu segera tertawa.

“Bagus! Bagus! Benar-benar suatu tindakan yang sama sekali diluar dugaan, sayang sekali Cu Siau-hong, sekarang kalian sudah terperosok lagi kedalam perangkap”

“Maksudmu?”

“Apakah Cu siauhiap belum melihat jelas keadaan situasi dari tebing Yang jit gay ini?”

“Sudah kulihat jelas”

“Tampaknya tempat ini merupakan suatu tempat yang tembus kemana-mana, padahal yang pasti adalah sebuah tempat yang mematikan” “Apakah keadaan tersebut ada sangkut pautnya dengan kalian?”

“Benar” sastrawan setengah umur itu mengangguk. “Apakah Pena Wasiat ada hubungannya pula dengan

kalian?” kembali Cu Siau-hong bertanya. “Benar!” sastrawan setengah umur itu tertawa.

“Pena Wasiat merupakan seorang tokoh dunia persilatan yang dihormati oleh setiap umat persilatan di dunia ini, aku pikir dia tak akan berkompromi dengan kalian untuk melakukan pelbagai kejahatan di dunia ini..”

Kembali sastrawan setengah umur itu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya:

“Cu Siau-hong, kendatipun kau adalah seorang anggota dunia persilatan, namun kau berasal dari keluarga pembesar yang berpendidikan tinggi, kalau berbicara lebih baik tahulah sedikit sopan santun”

Cu Siau-hong merasa terperanjat sekali, segera pikirnya: “Moga-moga saja mereka tidak berhasil menyandera

keluargaku untuk dijadikan sebagai senjata guna menekan diriku”

Berpikir demikian, dengan mempertahankan ketenangan wajahnya ia berkata:

“Saudara, siapa namamu?”

Sastrawan setengah umur itu termenung sejenak, kemudian sahutnya pelan:

“Aku bernama Tan sianseng!”

“Seharusnya kau mempunyai nama lengkap bukan?” tegur Kian Hui seng dingin. “Ada, cuma aku tidak perlu memberitahukan kepada kalian, manusia-manusia seperti kalian masih belum pantas untuk menyambut nama lengkapku”

Kian Hui seng menjadi gusar bukan kepalang, ia segera berteriak keras:

“Saudara Cu, menyingkir kau! Aku akan memberi pelajaran lebih dulu kepada manusia tekebur ini”

“Toako, tenangkanlah hatimu, yang kita hadapi sekarang adalah seorang musuh yang amat licik, jahat dan buas, bagaimanapun juga kita harus menggunakan segenap kekuatan yang kita miliki, kecerdasan yang kita punya untuk bertarung melawan mereka”

Kian Hui seng menarik napas panjang-panjang untuk menekan hawa amarah yang membara di dalam dadanya, dia berusaha untuk menenangkan kembali gejolak perasaan dalam hatinya, kemudian pelan-pelan berkata:

“Betul! Saudaraku, watakku memang kelewat berangasan, gara-gara watak seperti ini entah berapa banyak kerugian sudah yang pernah kualami, tapi herannya penyakit tersebut belum juga berubah”

“Silahkan toako menyingkir dan beristirahat dahulu disamping, siaute hendak mengajaknya untuk membicarakan persoalan ini dengan seksama..”

Kian Hui seng tersenyum.

“Saudaraku, kalau begitu aku akan melindungimu dari sisi arena..”ucapnya.

Cu Siau-hong segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Tan sianseng, lalu katanya sambil tertawa:

“Tan Toa sianseng…” “Kau tak usah menambahkan kata ‘toa’ diatas sebutanku” tukas Tan sianseng cepat.

Mendengar itu, diam-diam Cu Siau-hong berpikir: “Tampaknya sebutan Toa sianseng hanya tertuju untuk

beberapa orang tertentu saja, orang ini masih belum berhak untuk disebut sebagai Toa sianseng..”

Berpikir sampai disitu, diapun membungkam diri dalam seribu bahasa.

“Cu Siau-hong, tampaknya kau selalu memperhatikan kami” seru Tan sianseng lagi.

“Benar!”

“Kami telah merundingkan persoalan ini secara teliti!” kata Tan sianseng kemudian setelah termenung sejenak, “Terhadap kau, kami sudah mempunyai suatu cara yang sangat lunak”

“Cara yang sangat lunak? Dapatkah kau memberitahukan kepadaku?” ucap Cu Siau-hong tertawa.

“Cara tersebut memang kami susun untuk menghadapi dirimu, tentu saja kuucapkan kepadamu”

“kalau begitu, silahkan diutarakan”

“Pertama, kita boleh mengesampingkan masalah lampau dan menghapus semua utang piutang kita di masa lalu, kedua, kami hendak menawarkan suatu kedudukan yang sangat tinggi didalam organisasi kami”

“Menghapus semua hutang piutang dimasa lampau?

Hutang piutang apa sih yang terjalin diantara kita?”

“Kau telah banyak membunuh orang-orang kami, sekarang kami tak akan mempersoalkan kembali” “Tan sianseng, dengan tingkat kedudukanmu aku rasa kau bukan lagi berbohong bukan?”

“Yang diutamakan oleh umat manusia adalah janji, boleh saja kami pergunakan berbagai cara yang paling keji untuk menghadapi musuh, tapi kami tak akan berbohong”

“Baik! Ada dua masalah yang mencurigakan hatiku, harap sianseng sudi memberi penjelasan”

“Katakanlah!”

“Aku ditawari kedudukan yang sangat tinggi sampai dimanakah tingkatan tersebut? Apa pula manfaatnya bagiku? Kedua, peristiwa berdarah didalam perkampungan Ing-gwat-san-ceng, dimana perguruan Bu-khek-bun telah dimusnahkan, apakah hal tersebut merupakan hasil karya dari kalian semua?”

“Kedudukan yang tinggi tentu saja merupakan kedudukan amat tinggi sekali, berbicara didalam susunan organisasi kami, boleh dibilang kau menempati kursi kelima”

“Kau sendiri pada urutan keberapa?”

Diam-diam Tan sianseng termenung sebentar, kemudian katanya:

“Cu Siau-hong, aku hanya dapat memberitahukan kepadamu, kedudukanmu itu masih berada diatasku”

Cu Siau-hong segera tertawa hambar.

“Peristiwa ini terlalu tiba-tiba datangnya, mengapa sih kalian memandang begitu tinggi atas diriku?”

“Ada orang telah mengangkat pamormu” “Siapa?” “Aku tak bisa memberitahukan siapakah orang tersebut kepadamu”

“Inilah alasannya mengapa kau bersikap kelewat sungkan terhadap diriku?”

“Betul, setelah kau bergabung dengan organisasi kami, semuanya mempunyai hubungan ini dan kita pun bisa saling bantu membantu”

“Baik! Sekarang kita bicarakan dulu persoalan kedua, kau masih belum memberi jawaban kepadaku”

Tan sianseng termenung sampai lama sekali, kemudian baru berkata:

“Memang organisasi kami yang mencampuri urusan tersebut, cuma dalam peristiwanya sendiri, bahkan kami sendiri pun tidak tahu”

“Mengapa?”

“Persoalan tersebut hanya suatu peristiwa kecil, persoalan yang kecil sekali, orang yang berdiam disitu dan bertanggungjawab atas terlaksananya peristiwa mana sudah dapat mengambil keputusan sendiri terhadap soal-soal disana”

“Kau maksudkan Ji kongcu dari Kebun raya Ban-hoa wan?”

“Dia telah tiada, aku harap kau pun tak usah mendesak lebih lanjut tentang persoalan tersebut”

“Tan sianseng, dari perguruan Bu-khek-bun masih terdapat beberapa orang pengkhianat yang melarikan diri, apakah mereka semua berada didalam oraganisasi itu?”

Tan sianseng tersenyum. “Bila kau ingin menghukum mati mereka semua, paling baik kalau bergabung dulu dengan organisasi kami, dengan kedudukan yang ditawarkan kepadamu setiap saat kau bisa mencari kesalahan mereka dan menghabisi nyawa orang orang itu”

“Tan sianseng, persoalan ini terlampau besar dan berat, tentunya kau tidak mengharapkan jawaban spontan dariku bukan?”

“Sekarang keadaannya terlalu gawat dan mendesak, makin cepat kau bisa mengambil keputusan semakin baik”

“Bagaimana kau memberi waktu selama tiga hari untukku?”

Dengan cepat Tan sianseng menggelengkan kepalanya berulangkali, sahutnya:

“Tidak bisa, kelewat lama, sebelum matahari terbenam sore nanti, kau harus sudah memberikan keputusannya”

“Mengapa harus begitu terburu-buru?”

“Lusa adalah saat munculnya Pena Wasiat disini, kita harus menyelesaikan semua persiapan sebelum kemunculannya disini”

Cu Siau-hong merasakan hatinya bergetar keras, segera pikirnya:

“Mungkinkah dugaanku keliru? Benarkah Pena Wasiat tiada sangkut pautnya dengan mereka?”

Dengan pelbagai kecurigaan dan perasaan tidak habis mengerti mencekam benaknya, ia tertawa lagi:

“Kalian hendak menghadapi Pena Wasiat?”

“Untuk membicarakan persoalan ini, harus ditunggu dulu sampai Cu kongcu telah bergabung dengan kami” “Ehhmm, betul juga perkataanmu itu, cuma kalau begitu mendesak waktunya, aku merasa kesulitan untuk mengambil keputusan secara pasti”

“Tapi kau harus memutuskannya juga” “Jadi kalian hendak memaksaku?”

“Cu Siau-hong, kau harus mengerti, organisasi kami terlalu besar dan luas pengaruhnya, ketajaman mata dan pendengaran kami pun luar biasa, kami selamanya bertindak dengan menggunakan cara apa saja, kepunahan Bu-khek-bun merupakan bukti yang paling jelas. Aku harap Cu kongcu jangan sampai menyeret pula orang lain terjerumus dalam keadaan yang merugikan mereka”

Seakan-akan dadanya kena dihantam orang keras-keras, Cu Siau-hong merasakan hatinya bergolak keras.

Tapi Cu Siau-hong masih berusaha untuk menahan diri, katanya sambil tertawa:

“Mereka bukan anggota persilatan, kecuali aku, keluarga Cu lainnya sama sekali tidak mengerti akan ilmu silat”

“Itulah sebabnya kami tak pernah mencari mereka untuk membuat pembalasan, namun kami dapat merasakan mereka mempunyai suatu kekuatan besar yang mengikutimu, oleh sebab itu mau tak mau kami harus merepotkan mereka semua”

“Kalian telah turun tangan?”

“Belum, bila kau telah bergabung dengan perkumpulan kami, berarti kedudukan luar biasa sekali, sebelum kau mengambil keputusan yang terakhir, siapapun tak berani mencelakai Lo tayya dan Lo hujin”

“Oleh sebab itu kau hendak memaksaku untuk tunduk dibawah perintah kalian?” “Cu kongcu, aku telah kemari dan kau boleh menegurku, berganti dengan orang lain pun aku masih tetap sama saja”

“Besok siang aku akan memberi jawaban kepadamu” “Terlalu lambat, paling lambat adalah besok pagi”

“Baik! Besok sebelum matahari terbit, kita berjumpa lagi di tempat ini”

“Baik, bagaimanapun juga aku menginginkan suatu jawaban yang pasti…”

“Aku dapat memberikan suatu jawaban yang memuaskan untukmu” kata Cu Siau-hong.

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia menyambung lebih jauh:

“Tan sianseng, dewasa ini segala sesuatunya sudah tertera dengan jelas, aku rasa kau pun tak usah merahasiakan hal ini lagi?”

“Oooh.. apa yang ingin kau ketahui?” tanya Tan sianseng dengan wajah tertegun.

“Aku ingin tahu sebenarnya apa maksud tujuanmu? Mengapa membunuhi orang-orang Bu-khek-bun, dan mengapa pula turun tangan disaat Bu-khek-bun sedang menghadapi serangan dari luar?”

“Terlalu banyak yang kau tanyakan, padahal kesemuanya itu sudah pernah kujawab” kata Tan sianseng sambil tertawa.

“Sekalipun pernah kau singgung, toh jawaban tersebut kurang jelas, aku berharap bisa mengetahui latar belakangnya secara lebih jelas lagi..”

Tan sianseng tertawa. “Rasa ingin tahumu terlalu besar, keinginan untuk mengetahui duduknya persoalan pun kuat sekali”

“Dengan susah payah dan mempertaruhkan keselamatan jiwa, aku hanya bermaksud untuk mencari tahu dimanakah alasannya sehingga kejadian seperti ini berlangsung?”

Kembali Tan sianseng tertawa.

“Ehmm, Cu Siau-hong, aku pun ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu, apakah kau bersedia untuk menjawab?”

“Maksudmu hendak bertukar pertanyaan?”

“Benar! Satu pertanyaan dibayar dengan satu pertanyaan, satu jawaban dibayar pula dengan satu jawaban, bagaimana? Bukankah hal ini adil sekali?”

“Adil sekali, sekarang kau hendak menjawab lebih dulu ataukah ingin bertanya lebih dulu?”

“Aku akan menjawab sebuah pertanyaan dari Cu Siau hong lebih dulu, musibah yang menimpa Bu-khek-bun merupakan wewenang dari Kebun raya Ban-hoa-wan, lagi pula mereka menghadapi perkumpulan kalian pun bukan merupakan suatu persoalan yang maha penting, namun setelah peristiwa memang ada laporang singkat yang masuk dan diserahkan kepada Toa sianseng, akupun sempat membaca laporan itu”

“Aku rasa jawabanmu itu tidak mirip dengan sebuah jawaban yang baik..” kata Cu Siau-hong sambil tertawa.

“Menurut laporan nama dari perkumpulan kalian sudah terdapat beberapa orang saudara yang bergabung dengan organisasi kalian tapi rahasia mereka sudah diketahui oleh gurumu Tiong Leng kang bahkan gurumu sebagai seorang ciangbunjin   dari   suatu   perkumpulan   Bu-khek-bun yang kecil sangat tak tahu diri dan berani bersekongkol dengan pihak Pay-kau dan Kay-pang untuk bersama-sama menyelidiki suatu rahasia besar dalam dunia persilatan”

Sesudah berhenti sejenak, Tan sianseng berkata lebih jauh.

“Terpaksa kami pun membunuhnya untuk menghilangkan jejak sedangkan mengenai pilihan kami untuk bertindak disaat orang Pak hay khi bun sedang melakukan penyerbuan, hal ini merupakan suatu teknik penyerangan, kami mempunyai kekuatan yang maha besar, kami pun mempunyai ketajaman mata dan pendengaran yang luar biasa, tapi untuk mengatasi gerak-gerik dari musuh yang terpenting adalah memilih cara yang paling sederhana serta memanfaatkan kesempatan yang paling baik untuk turun tangan”

“Sesungguhnya kejadian ini memang amat sederhana, tapi berhubung peristiwa itu berlangsungnya agak misterius, sehingga akibatnya mendatangkan suasana yang serba aneh dan rahasia bagi orang lain”

Cu Siau-hong termenung beberapa saat lamanya, kemudian berkata lagi:

“Sebelum melakukan penyelidikan yang lebih mendalam, terpaksa aku harus mempercayainya untuk sementara waktu”

“Tolong tanya, semua kepandaian silat yang dimiliki Cu siauheng ini diperoleh dari mana? Bu-khek-bun tak akan berhasil mendidik seorang murid seperti kau”

“Jurus pedang maupun jurus pukulan tangan kosong, kuperoleh dari dalam sejilid kitab tanpa nama, apakah Tan sianseng mempercayai akan hal ini?”

“Oooh, dari sejilid kitab tanpa nama?” “Aku pikir, kiam boh tersebut seharusnya mempunyai nama, tapi setelah berada ditanganku menjadi tak karuan lagi bentuknya hingga tak bernama lagi”

“Mengapa demikian?”

“Sederhana sekali alasannya, karena sampul depan maupun sampul belakang kiam boh tersebut telah dirobek orang, ditengah lembaran kitab itu pun banyak tulisan yang telah dihapus orang”

“Perbuatan siapakah itu? Apakah ada seseorang yang sengaja menghapus nama dari kiam boh itu sebelum diserahkan kepadamu?”

“Benar!”

“Mengapa demikian? Sejilid kitab kiam boh yang punya nama, kenapa harus dihapus nama aslinya? Bukankah dengan demikian akan menghilangkan makna dan nilai yang sebenarnya dari kitab tersebut?”

“Ehmm, kemungkinan besar dia memang tidak berniat untuk mewariskan lagi kitab tersebut kepada orang lain, maka setelah aku berhasil mempelajari ilmu silat yang tercantum didalam kitab pusaka tersebut, kitab mana telah kumusnahkan”

“Telah kau musnahkan?” seru Tan sianseng sambil tertawa terbahak-bahak.

“Benar!”

“bagus, bagus sekali, tindakan ini benar-benar merupakan suatu tindakan yang sama sekali tidak meninggalkan jejak”

“Sekarang, tentunya kau dapat memberitahukan kepadaku apa yang menjadi tujuan dari organisasi mu bukan?” “Tentang soal ini? Hanya bisa kukatakan besok pagi” kata Tan sianseng cepat.

Kemudian setelah menjura, katanya lagi:

“Sekarang, pikirkanlah persoalan ini secara baik-baik, aku hendak mohon diri lebih dulu”

Seusai berkata, dia membalikkan badan dan segera berlalu. Cu Siau-hong tidak menghalangi kepergiannya, dia hanya mengawasi bayangan punggungnya dengan wajah termangu. Kepergian Tan sianseng cepat sekali, oleh sebab itu dia tak sempat untuk menyapa kedua orang anak buahnya lagi.

Namun Cu Siau-hong juga segera melepaskan mereka. Dua orang jago berbaju hitam itu memandang sekejap ke arah Cu Siau-hong, kemudian membalikkan badan dan berlalu dari situ.

“Benar-benar sekelompok manusia yang dingin, aneh dan sama sekali tak tahu peraturan” ucap Kian Hui seng kemudian, “Kau telah melepaskan mereka, juga mengampuni selembar nyawa mereka, namun mereka sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun kata terima kasih”

“Entah dendam kesumat atau budi kebaikan yang mereka catat atas diriku? Kata Cu Siau-hong pula.

--------oodwoo----------

Tiba-tiba Thian Pak liat menimbrung dari samping: “Sekarang mereka telah pergi semua, budi atau dendam

biarkan saja mereka yang tetapkan, besok kita masih dihadapkan dengan suatu masalah yang amat penting, aku perlu untuk mengajak saudara Cu memperbincangkan masalah ini” “Pertama, ilmu silat yang dimiliki orang ini sangat lihay, dua orang jago golok berbaju hitam itu tidak mirip dengan orang yang memiliki kepandaian tinggi namun ilmu golok mereka telah mencapai tingkatan jago golok nomor wahid di kolong langit, seandainya sampai terjadi pertarungan antara kedua belah pihak sudah pasti banyak korban yang berjatuhan di pihak kami, mereka yang bisa mengajak orang-orang itu bertarung pun hanya beberapa orang saja”

Cu Siau-hong manggut-manggut:

“Benar, itulah sebabnya paling baik kita jangan menggunakan taktik pertarungan masal untuk menghadapi mereka”

“Kedua, saudara Cu tampaknya sedang menghadapi suatu kesulitan yang sangat besar”

“Benar, mereka bilang sudah berhasil menemukan keluargaku, padahal keluarga kami adalah keluarga pelajar, kecuali aku seorang, belum pernah ada yang belajar ilmu silat”

“Saudaraku, keluargamu terdiri dari siapa saja?” tanya Kian Hui seng tiba-tiba.

“Diatasku terdapat kakek dan nenek kemudian orang tuaku, seorang kakak perempuan dan seorang adik kecil, disamping itu terdapat pula belasan orang sobat kakek yang sudah mengikuti keluarga kami sejak belasan tahun berselang, jumlah keluarga kami mencapai tiga puluhan orang”

“Aaaai, kawanan manusia tersebut benar-benar merupakan kelompok manusia rendah, mengapa mereka beraninya cuma mencari orang yang tidak mengerti akan ilmu silat” kata Kian Hui seng. “Selama ini mereka selalu bertindak tanpa memperdulikan cara apa yang hendak dipergunakan”

“Saudara Cu, apakah disebabkan karena masalah ini maka kau merasa serba salah?” tanya Thian Pak liat.

Cu Siau-hong tertawa getir:

“Aku tak ingin keluargaku mendapat celaka karena aku, tapi aku lebih-lebih tak ingin menerima gertak sambal mereka”

Kian Hui seng mendadak depakkan kakinya berulangkali sembari berseru:

“Seharusnya kita sudah memikirkan persoalan ini sedari dulu, terus terang saja kukatakan seandainya aku yang berada dalam posisi seperti apa yang kau hadapi sekarang, aku pun tak bisa mengambil keputusan apa-apa”

“Itulah sebabnya aku membutuhkan waktu selama semalam, aku harus memikirkan persoalan ini dengan sebaik-baiknya”

Sementara itu, Si Eng telah berjalan mendekat.

“Hanya ada satu cara yang bisa kita coba!” katanya sambil menghampiri mereka.

“Harap kau suka memberi petunjuk!”

“Mencari bantuan orang-orang Kay-pang, seandainya kau mempunyai suatu hubungan yang luar biasa dengan orang Kay-pang, mereka dapat memindahkan seluruh keluargamu itu ke suatu tempat yang rahasia dan terpencil dalam waktu singkat”

“Baik, mari kita kembali dulu”

Setibanya di dusun keluarga pemburu itu, Cu Siau-hong menyaksikan Oh Hong cun dan Pek bi taysu sekalian telah melakukan persiapan yang amat seksama dan teliti di sekeliling tempat itu. Ada yang bertugas melakukan pengintaian, ada yang bertugas melepaskan senjata rahasia, ada pula yang bertugas sebagai penyambut, dusun yang kecil itu sudah mereka rubah menjadi sekokoh benteng baja.

Waktu itu Cu Siau-hong masih sanggup untuk mengendalikan perasaan gelisah dalam hatinya, setelah memeriksa persiapan yang berada di sekeliling tempat itu, dia baru mengundang datang Ong Peng, Tan Heng dan Seng Tiong-gak sekalian.

Selisih waktunya hanya semalaman, mungkin dengan cara apa pun, keadaan sudah tak sempat lagi. Oleh sebab itu mereka harus dikumpulkan untuk bersama-sama merundingkan keadaan tersebut.

Setelah Cu Siau-hong menerangkan duduk persoalan yang sebenarnya, Ong Peng dan Tan Heng mengerutkan dahinya rapat-rapat.

Sekalipun pihak Kay-pang dapat melaksanakan tugas ini dengan sebaik-baiknya, namun mereka berdua tak mampu untuk menyampaikan kabar tersebut kepada pihak Kay pang.

Sejak mereka mendapat perintah untuk mengikuti Cu Siau-hong, boleh dibilang hubungan mereka dengan pihak Kay-pang sudah putus.

Setelah termenung sejenak, Tan Heng baru pelan-pelan berkata:

“Selisihnya sama saja, kita membutuhkan waktu, mereka pun membutuhkan waktu, tapi kita mempunyai waktu semalam lebih banyak, aku rasa baiklah aku keluar gunung untuk mencoba mengadakan hubungan kontak dengan anak murid Kay-pang.” “Persoalan ini penting sekali artinya, tanpa keyakinan seratus persen jangan dicoba dengan sembarangan” seru Oh Hong cun cepat.

“Asalkan kita masih mempunyai sedikit kesempatan, apa salahnya untuk dipertaruhkan”

”Cuma didalam hal ini, Ui lopangcu seharusnya sudah memikirkan sampai kesitu, masa dia tidak melakukan suatu persiapan yang matang?”

Cu Siau-hong menghembuskan napas panjang:

”Bagi aku Cu Siau-hong, hal ini benar-benar merupakan suatu cobaan yang maha besar”

Suasana di arena menjadi amat hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suara pun, berpuluh-puluh pasang mata bersama-sama dialihkan ke tubuh Cu Siau-hong. Dalam menghadapi masalah yang begini besar dan berat, tiada orang yang berani mengemukakan pendapat secara sembarangan, terpaksa mereka harus menunggu keputusan Cu Siau-hong sendiri.

Lama kemudian, Cu Siau-hong baru pelan-pelan berseru: ”Ong Peng, Tan Heng!”

Ong Peng dan Tan Heng bersama-sama membungkukkan badan sambil mengiakan:

”Hamba ada disini”

”Kalian berdua harap turun gunung!” perintah Cu Siau hong kembali dengan suara pelan.

”Kongcu, belum tentu kami bisa keluar dari sini...” seru Ong Peng cepat.

”Bagaimana? Apakah kau takut mati? Paling banter toh mengorbankan selembar jiwa” sela Tan Heng cepat. Ong Peng tertawa hambar.

”Tan Heng, mati hidup kita soal kecil, tapi bila berita tersebut tak bisa disampaikan ke tempat tujuan sehingga menyia-nyiakan harapan kongcu, kita bisa mati dengan mata tak meram”

”Yaa, betul juga perkataanmu itu!” kata Tan Heng dengan wajah tertegun,

Pelan-pelan Cu Siau-hong berjalan maju beberapa langkah kedepan, kemudian sambil bergendong tangan memandang awan putih di tengah angkasa, pelan-pelan dia berkata:

”Betul, sekali pun kau bisa keluar dari sini pun belum tentu bisa memenuhi apa yang kuharapkan, kalau toh tidak bermanfaat dengan keadaan yang sesungguhnya, lebih baik tak usah pergi saja”

”Kongcu, hamba...”

”Tak usah dibicarakan lagi” tukas Cu Siau-hong sebelum Ong Peng menyelesaikan perkataannya, ”Biar aku seorang berpikir dengan tenang, besok aku dapat memberikan suatu keputusan yang paling tepat, nah sekarang kalian boleh pergi dulu”

Di hari-hari biasa dia selalu bersikap ramah dan merendah kepada siapa pun, terhadap orang lain menyebut saudara, dia pemberani dan banyak akal dan cerdas, memberikan semacam kekuatan yang amat teguh dan pasti, asla dia hadir disitu setiap orang akan merasakan semacam kekuatan besar yang menunjang dirinya.

Itulah langkah dari seorang pemberani atau dengan perkataan lain bekerja bersamanya pasti akan berhasil mencapai   suatu   kesuksesan.   Semacam   perasaan kagum yang tumbuh di hati seseorang dimana berubah menjadi suatu kemantapan.

Tapi sekarang, Cu Siau-hong telah menjumpai persoalan yang amat berat. Setiap orang ingin sekali membantunya bahkan bersedia mengorbankan selembar jiwanya sekalipun. Tapi sayang sekali setiap orang tak dapat memberikan bantuannya itu. Hari sudah larut, namun Cu Siau-hong masih tetap berdiri dengan tenang. Lik Hoo sudah menyulut lampu, Ui Bwee membawa semangkuk kuah ayam pelan-pelan berjalan ke sisi Cu Siau-hong, kemudian bisiknya dengan suara lirih:

”Kongcu, kini sudah mendekati kentongan kedua, seharian ini kau belum makan sesuap makanan pun, minumlah kuah ayam ini”

Pelan-pelan Cu Siau-hong berpaling dan memandang sekejap kearah Ui Bwee, kemudian ujarnya sambil tertawa hambar:

”Oooh, sudah kentongan kedua lebih...”

Dia sambut mangkuk tersebut dari tangan Ui Bwee, kemudian sekali teguk menghabiskan kuah ayam tersebut.

Ui Bwee memandang kearah si anak muda itu dengan pandangan lembut dan penuh perasaan kasih, kemudian bisiknya lirih:

”Kongcu, konon kau masih akan bersua muka dengan musuh tangguh..”

”Betul!”

”Kalau memang begitu, sudah seharusnya kongcu pergi beristirahat...”

”Terima kasih, aku memang sudah sepantasnya beristirahat” ”Kongcu, Kian tayhiap telah datang menjengukmu, dia berhenti sejenak disitu tapi kemudian berlalu tanpa mengusik ketenanganmu”

Cu Siau-hong manggut-manggut, didalam kenyataan orang lain memang tak dapat membantu apa-apa kepadanya, dia sendirilah yang harus mengambil keputusan tentang soal ini.

”Kongcu, kau membutuhkan kondisi badan yang baik untuk menghadapi masalah besar ini” ucap Ui Bwee, ”Sam moay telah mempersiapkan sebaskom air panas, budak sekalian sudah siap melayanimu untuk membersihkan badan sebelum pergi beristirahat”

”Baik, kalau begitu akan merepotkan kalian” ucap Cu Siau-hong sambil tertawa.

Dia memang seorang pemuda yang mengutamakan soal berterus terang dalam melakukan perbuatan apa saja, bukan seseorang yang terlalu mempersoalkan segala adat istiadat. Dalam kenyataannya, semenjak Lik Hoo, Ui Bwee dan Ang Bo tan mengikuti Cu Siau-hong, mereka selalu mengurusi soal kehidupan serta kebutuhan sehari-harinya, tapi baru pertama kali ini Cu Siau-hong memperoleh pelayanan seperti apa yang diterimanya saat ini.

Tentu saja ketiga orang itu merasa gembira sekali atas kesediaan pemuda tersebut.

Tampaknya Cu Siau-hong sudah tidak mempersoalkan tentang keadaan tersebut lagi, dia membiarkan ketiga orang perempuan tersebut bertindak sekehendak hati mereka. Selama ini dia hanya memejamkan matanya rapat-rapat dan memikirkan bagaimana caranya untuk menghadapi persoalan yang dihadapinya besok pagi. Ketiga orang perempuan itu bertindak dengan sepenuh hati, terhadap Cu Siau-hong mereka memang menaruh perasaan hormat dan sayang yang sangat mendalam, namun tak pernah tumbuh pikiran sesat didalam hati mereka.

Dengan segala upaya yang dimilikinya mereka berusaha membuat Cu Siau-hong merasa nyaman membuat ia dapat tidur dengan nyenyak.

-oo>d’w<oo-
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 57"

Post a Comment

close