Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 47

Mode Malam
Ong Peng manggut-manggut.

Mendadak sorot mata Cu Siau-hong yang tajam berhasil menangkap sesosok bayangan manusia yang sedang menelusuri dinding pekarangan seberang dan pelan-pelan mendekati kereta kuda, kejadian ini kontan saja membuat keningnya berkerut.

Baru saja dia hendak memerintahkan Ong Peng untuk bergerak, sementara itu dari sekeliling kereta sudah timbul reaksi.

Mendadak dua orang diantara mereka melompat bangun.

Cu Siau-hong merasa puas sekali setelah menyaksikan kejadian ini, diapun merasa amat gembira, sebab dari sini dapat dibuktikan bahwa selain ketajaman mata dan pendengaran mereka dapat diunggulkan, lagi pula mereka sangat bertanggungjawab.

Ditengah kegelapan menjelang fajar, Cu Siau-hong tak sempat melihat jelas siapakah yang melompat bangun itu?.

Sementara itu, Ong Peng juga telah menyaksikan kejadian tersebut, dia lantaas bertanya dengan suara lirih:

"Kongcu, perlukah bagi kita untuk turun tangan?" 'Bersiap siagalah dengan sepenuh tenaga, bila mana saat

untuk turun tangan telah tiba, aku akan memberi tanda kepadamu."

Ong Peng tidak banyak berbicara lagi.

Terdengar suara bentakan dingin menggema memecahkan keheningan.

"Siapa disitu? Tengah malam buta begini mau apa  datang kemari secara sembunyi-sembunyi? Ingin mencuri barang barangkali?”

Suara itu berasal dari Seng Tiong-gak, begitu berkumandang, Cu Siau-hong dapat segera mengenalinya.

Suara tegurannya amat keras, bukan saja Cu Siau-hong dapat mendengar dengan jelas, seharusnya Pek bi taysu dan Oh Hong cun pun dapat mendengar dengan jelas pula.

Suara Seng Tiong-gak berkumandang dari tujuh delapan depa di depan kereta, tapi dua orang yang sudah bangkit berdiri itu berada di belakang kereta.

Bayangan manusia nampak berkelebat lewat, dari balik halaman gedung muncul dua orang manusia yang langsung memburu ke depan kereta kuda. Yang seorang bertubuh tinggi besar, berkepala gundul, jenggot panjang, sekilas pandangan segera dapat dikenal sebagai Pek bi taysu.

Sedang yang lain bertubuh kurus kering, tak usah ditanya lagi tentu saja Oh Hong cun.

"Aaah, ternyata benar-benar terdapat penjahat yang bernyali begitu besar, sungguh membuat lohu merasa kagum" seru Oh Hong cun kemudian dengan suara lantang.

Seng Tiong-gak menyongsong keluar dari balik kegelapan, dia segera berkata:

"Aaah rupanya telah menggangu ketenangan tidur taysu dan Oh lo enghiong, kejadian ini sungguh membuat hatiku tak tenang."

"Bukankah ini pula tujuan kalian menginap bersama kami?" sindir Oh Hong cun. "Aaah... mana, mana..."

"Mana penyamunnya?" tegur Pek bi taysu. "Menyembunyikan diri dibalik kegelapan dibawah

serambi sana"

Oh Hong cun melirik sekejap ke arah ekreta kuda itu kemudian bisiknya lagi: "Yang berada dalam kereta itu adalah..."

"Kaum wanita." Sela Seng Tiong-gak cepat, "selewatnya hari ini kami pasti akan memperkenalkan mereka dengan Oh lo enghiong"

Oh Hong cun segera tersenyum. "Aaaah, soal itu mah tak usah"

Sementara itu Pek bi taysu telah membentak dengan suara dingin. "Bajingan cabul bernyali besar, mengapa tidak segera menggelinding keluar?"

Sementara membentak, sepasang matanya yang tajam bagaikan sembilu mengawasi bawah wuwungan rumah di seberang sana dengan pandangan tanpa berkedip.

Ketajaman matanya memang luar biasa, setelah Seng Tiong-gak menunjukkan tempat persembunyian lawan, secara lamat-lamat iapun sudah menyaksikan sesosok bayangan manusia sedang bersembunyi dibalik kegelapan.

Mendadak menyambar lewat serentetan cahaya hijau dari balik wuwungan rumah diseberang sana, cahaya hijau itu langsung menyambar ke arah Pek bi taysu sekalian.

"Cepat menyingkir" seru Oh Hong cun.

"Weees!" segera melompat delapan depa lebih dulu.

Sebetulnya Pek bi taysu hendak menyambut serangan tersebut dengan tangannya, mendengar seruan tadi ia urungkan niatnya dan segera berkelit pula ke samping.

Seng Tiong-gak telah mendapat petunjuk agar berusaha keras merahasiakan kelihayan ilmu silatnya selama berada dihadapan Pek bi taysu sekalian, tentu saja diapun turut menghindari dengan cepat.

"Ketika cahaya hijau itu menghantam diatas dinding pekarangan, segera terjadi ledakan yang keras, disusul munculnya segumpal bunga api yang mengerikan.

Melihat itu Pek bi taysu segera membentak dengan gusar.

"Kurang ajar, rupanya dia menggunakan peluru api Im ling lui hwe tan yang keji, benar-benar bangsat itu berhati kejam." Terlihat cahaya hijau kembali berkelebat lewat, kali ini muncul titik cahaya terang yang disambit ke arah kereta kuda itu.

Mendadak muncul tiga bintik cahaya terang begitu cepat cahaya tersebut menyambar lewat sehingga sebelum cahaya hijau musuh mencapai tengah jalan, tahu-tahu semuanya sudah kena tertumbuk.

Tiga kali ledakan keras menggema diudara, menciptakan tiga gumpalan bunga api. Rupanya tiga titik cahaya tersebut adalah tiga biji tasbeh yang disambit oleh Pek bi taysu.

Dua sosok bayangan manusia segera melompat keluar dari bawah wuwungan rumah diseberang sana, sekali menjejakkan kakinya ke tanah, tubuh mereka sudah melayang naik ke atas atap rumah.

Pek bi taysu mengebaskan ujung bajunya bagaikan seekor burung raksasa dia melayang keudara dan menyambar pula ke atas atap rumah diseberang sana.

Oh Hong cun memburu dengan cepat dibelakangnya, sambil mengejar teriaknya keras-keras. "Taysu, harap tunggu sebentar."

Ketika Pek bi taysu mencapai atap rumah seberang sana, kedua sosok bayangan manusia tersebut sudah berada enam kaki dari posisi semula...

Oh Hong cun menyusul tiba, kemudian bisiknya. "Taysu, mereka mempunyai peluru api hawa dingin Im

lin lui hwee tan yang sangat lihay, apa gunanya dikejar terus? Biarkan saja mereka pergi... !"

Sesungguhnya Pek bi taysu memang agak jeri terhadap kelihayan peluru api dingin Im lin lui hwee tan lawan, sambil menggeleng ujarnya kemudian: "Benar-benar tak kusangka, didepan mata lolap pun betul-betul terjadi gangguan penyamun."

"Mari kita kembali dulu beristirahat, besok kita harus menyelidiki persoalan ini sampai tuntas, yang paling penting lagi adalah manusia macam apakah yang duduk di dalam kereta tersebut."

"Ehmmm, ucapanmu memang benar" Pek bi taysu berkerut kening, begitu banyak manusia melindungi kereta tersebut, tampaknya mereka seperti sudah tahu bekal menjumpai sergapan-sergapan yang tak terduga."

`Penjahat yang datang tadi pun tidak mirip sebagai Jai hoa cat (penjahat pemetik bunga)?”

"Tentu saja bukan pemerkosa, tapi apa maksud mereka datang kemari..."

Oh Hong cun termenung sebentar, kemudian baru sahutnya"

"Mereka seperti datang kemari khusus untuk membunuh orang."

Pek bi taysu manggut-manggut.

'Soal ini harus diselidiki besok, justru hal inilah yang merupakan persoalan terpenting untuk kita ketahui"

'Baiklah, setelah fajar menyingsing nanti kita temui dulu orang yang berada dalam kereta itu, kemudian baru menanyakan latar belakang persitiwa tersebut."

Oh Hong cun manggut-manggut, mereka melompat turun dari atas atap dan kembali ke kamar masing-masing.

Rupanya Cu Siau-hong memang sengaja mengatur siasat agar persoalan ini melibat kan pula para jago persilatan lainnya, andaikata pendeta agung dari Siau lim si dan Oh Hong  cun  berhasil  terseret  masuk  ke  dalam  masalah itu, secara otomatis peristiwa tersebut akan menarik perhatian segenap umat persilatan lainnya.

Dia bukan bermaksud ingin mengandalkan ilmu silat para pendeta dari Siau lim si untuk melindungi keselamatan kereta tersebut, melainkan dengan peristiwa tersebut sebagai umpannya, dia ingin memancing perhatian umat persilatan lainnya.

Dalam rencananya itu, Cu Siau-hong sengaja mengatur dirinya berada diluar garis, hingga ia bisa melakukan pengamatan yang seksama secara diam-diam, bilamana keadaan tidak benar-benar kritis dan berbahaya sekali, Cu Siau-hong sebisa mungkin tetap berpeluk tangan belaka.

Tujuan yang terutama dari rencana besarnya ini adalah ingin meminjam kedudukan dari beberapa orang jago persilatan yang termashur untuk menemukan adanya ancaman bahaya yang datangnya dari suatu organisasi rahasia.

Itulah sebabnya Cu Siau-hong dan Ong Peng selalu memperhatikan perkembangan selanjutnya dari peristiwa tersebut, tapi selalu tak pernah turun tangan untuk mencegahnya, pada hakekatnya ke dua orang itu tak pernah munculkan diri secara terang-terangan.

Keesokan harinya, baru saja matahari bersinar terang, Oh Hong cun dan Pek bi taysu sudah pergi mencari Seng Tiong-gak.

Kebetulan sekali pada saat yang bersamaan Cu Siau hong dan Ong Peng muncul juga disitu.

Oh Hong cun lantas mengundang Seng Tiong-gak dan Cu Siau-hong untuk bersarapan di ruang makan. Sarapan terdiri dari menu yang baik sekali, ada ikan dan pula daging. Pek bi taysu tidak makan barang berjiwa maka dia memesan semangkuk bakmi.

Dalam ruangan kini hanya ada empat orang, Cu Siau hong, Seng Tiong-gak, Oh Hong cun dan Pek bi taysu. Ong Peng tidak ikut masuk, ia sengaja ditinggalkan diluar ruangan makan tersebut.

Oh Hong cun mempersilahkan tamunya untuk bersantap dulu, selesai bersantap, ia baru berkata sambil tertawa.

"Cu lote, semalam penginapan ini kedatangan penyamun, tahukah kau akan peristiwa tersebut?"

"Suara teriakan sih kudengar, sayang aku tak sempat menyusul ke tempat kejadian"

Oh Hong cun manggut-manggut, sorot matanya dialihkan ke wajah Seng Tiong-gak, kemudian tegurnya:

"Saudara Seng, apakah dalam persitiwa semalam, kedatangan mereka memang khusus ditujukan kepada kalian?"

"Benar' "Menga pa?'

"Aaaai, apa lagi kalau bukan disebabkan orang yang berada didalam kereta itu"

"Saudara Seng, sebenarnya siapa sih orang berada dalam kereta berkuda itu?"

"Beberapa orang perempuan"

Oh Hong-cun segera tertawa terbahak-bahak. "Haaahhh... haaahhh... haaahhh... beberapa orang

perempuan? Kalau begitu mereka pasti mempunyai kedudukan yang sangat luar biasa ? "Tak bisa dikatakan memiliki kedudukan yang sangat luar biasa, cuma mereka semua masih amat muda, lagi pula berparas cantik jelita"

"Kalau begitu, kedatangan mereka disebabkan soal perempuan?"

"Mungkin saja begitu?...

Oh Hong cun kembali tertawa, katanya lebih jauh:

"Seng-heng, kalian datang dari manakah? Tampak tampaknya kalian pun seperti berasal dari suatu perguruan."

"Sebenarnya kelompok kami masih terhitung juga suatu perguruan kecil!"

"Benar, suatu perguruan kecil yang sama sekali tak punya nama dalam dunia persilatan'

"Oooh, lantas perguruan kecil itu tentunya, mempunyai nama bukan? Apa nama perguruan kalian itu?"

"Perguruan Ing-gwat bun"

"Ing-gwat-bun? Heran mengapa lohu belum pernah mendengar nama perguruan ini?"

"Yaa, dikarenakan perguruan kami kelewat kecil!"

"Tapi kalau ditinjau dari nama Ing-gwat justru mempunyai nama yang besar sekali, perguruan Bu-khek bun memang bermarkas di perkampungan Ing-gwat sanceng, karena dia tak ingin melupakan asalnya, tapi sama sekali tak terduga olehnya kalau nama "Ing-gwat" sudah begitu termashur dalam dunia persilatan, sesungguhnya bukan suatu tindakan yang cerdik.”

Masih untung Oh Hong cun tidak mendesak lebih lanjut.

Pek bi taysu segera ikut menimbrung pula. "Sewaktu Bu-khek-bun tertimpa musibah, konon hanya dua tiga orang murid yang berhasil meloloskan diri, entah mereka kabur kemana? Siapapun yang melakukan tindakan keji tersebut?"

"Konon mereka yang berhasil meloloskan diri telah ditampung oleh pihak Kay-pang, sedang mengenai siapa yang melakukan perbuatan keji itu, hingga kini masih merupakan teka teki besar, siapapun tak berhasil mengetahuinya"

"Aku dengar perbuatan itu dilakukan oleh suatu organisasi rahasia, moga-moga saja Pena Wasiat dapat mengumumkan peristiwa itu sehingga duduknya persoalan dapat diektahui setiap umat persilatan" kata Pek bi taysu kemudian.

“Pena Wasiat memiliki kemampuan yang luar biasa" kata Oh Hong cun pula, "mungkin kemunculannya kali ini pun dapat menyingkap latar belakang dari organisasi rahasia tersebut"

“Omitohud, moga-moga saja demikian."

Oh Hong cun mengalihkan sinar matanya ke wajah Seng Tiong-gak lalu ujarnya lagi:

“Tampaknya tidak sedikit jumlah anggota dari perguruan lng gwat bun kalian ini?"

"Tidak terlalu banyak!.”

"Tapi dalam rombongan ini paling tidak berjumlah belasan orang bukan "

'Benar, memang terdiri dari belasan orang, ini mencakup seluruh kekuatan inti dari perguruan kami."

"Kalau begitu kalian bergerak dengan segenap kekuatan yang ada?" `Walaupun bukam keseluruhan, tapi sudah mencapai tujuh, delapan bagian."

'Oooh, kali ini kalian bergerak dengan mengerahkan sebagian besar kekuatan yang ada, tentunya ada sesuatu tujuan bukan?"

"Kami sedang mencari sesuatu tempat aman yang lain kemudian memindahkan seluruh kekuatan perguruan yang ada, didalam bukit Thay-san yang terpencil"

"Jadi kalian bukan datang untuk menyaksikan kemunculan Pena Wasiat "

"Kami hanya suatu perguruan kecil, tapi selalu berharap bisa memunculkan diri sebagai suatu kekuatan baru dalam dunia persilatan, oleh sebab itu dari generasi kami ini selalu berlatih diri dengan tekun dan rajin, kami yakin semuanya telah berhasil meraih suatu kemajuan, cuma kali ini secara kebetulan sekali kami dengar akan peristiwa munculnya Pena Wasiat maka kami berunding, akhirnya kami memutuskan turut menghadiri keramaian tersebut sekalian menambah pengetahuan kami"

"Ooooh... rupanya begitu ceritanya" kata Oh Hong cun kemudian sambil manggut-manggut. 'Apakah ciangbunjin perguruan kalian tidak hadir disini" tanya Pek bi taysu tiba tiba.

'Dia tidak turut datang"

"Kalau begitu kau adalah pemimpin rombongan?" "Yaa, pemimpin sementara"

"Mengapa kalian harus mengasingkan diri di tengah bukit Thay-san yang terpencil? Mengapa tidak hidup saja di tempat tinggal semula?" "Sebab Ciangbunjin kami menganggap generasi kami ini masih belum becus, oleh sebab itu kami harus hidup memencilkan diri di tengah gunung untuk berlatih. Bila ilmu silat kami sudah baik dan hebat, sepuluh tahun kemudian akan melakukan suatu tindakan yang mengejutkan dunia persilatan."

"Semangat dan cita-cita yang mengagumkan" puji Oh Hong cun cepat.

"Apakah kalian mengetahui jelas asal-usul dari penyamun-penyamun tersebut?" tanya Pek bi taysu pula.

"Kami baru terjun kedunia persilatan, pengetahuan yang kami milikipun tidak banyak hingga sulit untuk menduga asal usul mereka, cuma kamipun dapat merasakan bahwa kaum wanita yang berada dalam kereta telah mendatangkan banyak kesulitan untuk kami, itulah sebabnya sepanjang jalan kami harus bertindak sangat berhati-hati"

Mendadak Oh Hong cun mengalihkan sorot matanya ke wajah Cu Siau-hong, kemudian ujarnya sambil tersenyum:

"Cu lote sudah kau dengar semua pembicaraan saudara Seng ini?"

"Yaa, sudah kudengar semua" "Bagaimanakah menurut pandanganmu?."

"Menurut pendapatku, duduknya persoalan tak mungkin demikian sederhana nya"

“Coba kau terangkan lebih jauh"

"Menurut pendapatku, kemungkinan besar orang-orang yang tak diundang semalam bukan cuma disebabkan soal perempuan saja"

"Ehmm, masih muda belia, namun caramu menganalisa persoalan memang sangat hebat." Puji Oh Hong cun. "Menurut pendapatku, alasan kedatangan tamu-tamu tak diundang itu tak akan lepas dari dua sebab, pertama ingin membunuh orang melenyapkan saksi..."

"Membunuh orang melenyapkan saksi? Mengapa?" tukas Pek bi taysu dengan wajah tersenyum.

"Soal mengapa aku sendiripun kurang jelas!" "Lantas kemungkinan yang lain..."

"Mereka ingin merampas sesuatu, atau ingin memusnahkan sesuatu benda..."

"Yaa, ya, memang sangat masuk diakal"

Sorot mata orang she Oh itu segera dialihkan ke wajah Seng Tiong-gak, kemudian melanjutkan. "Saudara Seng, berbicaralah terus terang benda apa sih yang kalian bawa?"

Seng Tiong-gak tidak memahami maksud tujuan dari Cu Siau-hong, terpaksa sahutnya dengan kening berkerut.

"Kami benar-benar tidak membawa apa-apa" "Lantas siapa yang berada dalam kereta?" "Kaum wanita!"

"Aku sudah tahu kalau wanita, wanita macam apakah mereka?"

"Wanita yang masih muda sekali"

Paras muka Oh Hong cun berubah, dia seperti mau mengumbar amarahnya, tapi kemudian niat tersebut diurungkan.

Cu Siau-hong segera berbisik lirih.

"Oh cianpwe, mungkin dia mempunyai kesulitan yang tak bisa diterangkan, bagaimana kalau boanpwe saja yang mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya?" "Baik, Cu lote saja yang mengajukan pertanyaan."

Cu Siau-hong mendehem lebih dulu, kemudian baru ujarnya.

"Saudara, aku lihat kau merasa kurang bebas untuk berbicara, tentunya ada kesulitan yang tak bisa diterangkan bukan, baiklah, aku akan mencoba mewakilimu untuk berbicara, bila betul kau boleh mengangguk, kalau salah kaupun boleh menggeleng, bersedia bukan?"

Seng Tiong-gak manggut-manggut.. Cu Siau-hong lantas berkata:

"Perempuan yang berada dalam kereta kalian itu pastilah seorang yang amat penting artinya sehingga kalian harus mengerahkan begitu banyak orang untuk melindungi keselamatan jiwanya betul bukan?"

Seng Tiong-gak manggut-manggut.

"Taysu dan Oh cianpwe ini merupakan pendekar pendekar ternama dalam dunia-persilatan, kalian ikuti mereka terus menerus, apakah maksudnya hendak meminjam nama besar mereka untuk melindungi kereta kuda kalian itu?"

Sekali lagi Seng Tiong-gak manggut-manggut.

Sambil mengirim kode rahasia, Cu Siau-hong bertanya lagi:

"Apakah perempuan didalam kereta itu hendak menuju ketebing Yang Jit gay?"

Kembali Seng Tiong-gak manggut-manggut. Kali ini Oh Hong cun tak kuasa menahan diri, dia segera menyela:

"Mau apa dia kesitu?" Seng Tiong-gak menggerakkan bibirnya seperti mau bicara, tapi kemudian niat tersebut diurungkan.

"Kau tak bisa menerangkan, apakah disebabkan kau sudah mempunyai perjanjian dengan orang itu?" cepat Cu Siau-hong bertanya.

Seng Tiong-gak manggut-manggut..

-oo>d’w<oo-

"PADAHAL kau ingin sekali memberitahukan persoalan itu kepada kami, tapi berhubung telah berjanji dengan orang lain, ucapan seorang lelaki lebih berat dari bukit thaysan, maka meski hatimu gelisah, namun tak dapat menerangkan, bukan begitu?" kembali Cu Siau-hong bertanya.

Seng Tiong-gak segera mengangguk berulang kali, padahal dia sendiripun tak tahu apa yang harus di katakan.

CU Siau-hong segera berpaling dan memandang sekejap kearah Oh Hong cun, kemudian katanya: "Oh cianpwe, aku lihat dalam persoalan ini mungkin masih ada banyak kesulitan lainnya"

"Kesulitan apa?'.

"Menurut dugaan boanpwe, setelah mengajukan beberapa pertanyaan itu, agaknya kita sudah bertanya ke arah yang benar, jika ditanyakan lebih jauh, bisa jadi semua duduknya persoalan akan terungkap, bila kita belum tahu akan duduknya persoalan, boleh saja tak usah mencampurinya, tapi bila urusan sudah jelas, bukan kah mau tak mau kita musti mencampurinya.?"

"Itu mah harus tergantung dalam masalah apakah itu?" kata Pek bi taysu. "'Tentu saja dalam hal turut melindungi keselamatan dari orang yang berada dalam kereta itu."

"Asal dia pantas untuk dilindungi, tentu saja kami akan berusaha untuk melindunginya' kata Pek bi taysu cepat.

'Yaa, paling tidak kami harus memahami lebih dulu, mengapa dia harus dilindungi?" Sambung Oh Hong cun cepat.

Cu Siau-hong termenung sambil berpikir sejenak, kenaudian ujarnya lagi.

"Menurut pendapatku, dewasa ini kurang cocok bagi kita untuk mendesakkan pertanyaan tersebut kepada mereka.'

"Aaah, mana boleh begitu? Cu lote apakah tanpa mengetahui lebih dulu siapakah mereka, kita harus melindungi keselamatan dirinya?"

"Oh cianpwe, saudara itu toh sudah bilang kalau dia tak bisa mengambil keputusan, sekalipun kau bertanya kepadanya juga sama sekali tak ada gunanya."

"Ooooh..."

"Dia tak bersedia menerangkan segala kemungkinan yang ada, tapi yang paling mungkin mereka adalah pada hakekatnya dia sendiripun tidak mengetahui akan latar belakang dari persoalan itu."

Oh Hong cun segera manggut-manggut.

"Yaa, perkataan ini memang masuk diakal juga."

"Oh cianpwe, mereka berani menempuh perjalanan bersama-sama Oh tayhiap dan taysu, sudah jelas membonceng nama besar kalian berdua untuk melindungi keselamatan sendiri merupakan salah satu alasannya, apalagi kalau ditinjau dari keberanian mereka untuk berhadapan  dengan  kalian  berdua,  hal  ini   membuktikan kalau dalam hati kecil mereka sebetulnya tidak menyimpan sesuatu rahasia."

'Cu lote, menurut pendapatmu, lebih baik kita tak usah banyak bertanya saja?`

"Ya betul, aku memang bermaksud demikian"

'Saudara Oh" Pek bi taysu menyela. "apa yang di ucapkan Cu sicu memang benar, sekalipun mereka menyimpan sesuatu rahasia, andaikata tidak bersedia untuk menerangkan, sekalipun kita bertanya juga sama saja tak tahu".

'Persoalannya sekarang adalah apakah kita pertu untuk mencampuri urusan ini atau tidak?"

"Tentu saja harus mencampuri, bagaimanapun juga kita toh tak bisa berpeluk tangan belaka, membiarkan orang lain datang membunuh mereka"

Oh Hong cun segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Seng Tiong-gak, sesudah mendengar perkataan dari Pek bi tay-su itu, katanya.

'Nasibmu sungguh mujur, hanya saja nasib seseorang belum tentu setiap kali mujur dan baik.."

"Paling tidak, nasibku untuk kali ini masih terhitung lumayan juga....' sambung Seng Tiong-gak cepat. "Soal nasib tak bisa dipertahankan, yang paling penting adalah musti pegang janji dan tahu aturan."

"Akan kuingat petunjuk ini."

Oh Hong cun menjadi gembira sekali sesudah mendengar perkataan itu, karena gembira banyak persoalan pun dilewatkan dengan begitu saja tanpa mengajukan pertanyaan lebih mendalam.

Dengan suara rendah Cu Siau-hong berbisik: "Oh cianpwe, harap dia disuruh mengundurkan diri lebih dulu, boanpwe ada persoalan yang hendak dibicarakan"

Mendengar perkataan itu, sambil tertawa Oh Hong cun segera berkata kepada Seng Tiong-gak:

"Sekarang kau boleh pergi mempersiapkan diri lebih dulu, dengan cepat kami akan meneruskan perjalanan!"

Seng Tiong-gak segera bangkit berdiri, memberi hormat dan mengundurkan diri dari situ.

"Cu lote" kata Oh Hong cun kemudian sepeninggal Seng Tiong-gak, "coba kau katakan, persoalan apakah yang hendak kau bicarakan denganku?"

'Aku rasa kemungkinan besar mereka hendak membawa orang yang berada didalam kereta itu ke puncak bukit Yang jit gay"

“Ehmmm, tapi karena apa?"

'Mungkinkah mereka adalah saksi-saksi yang sengaja dicari oleh Pena Wasiat untuk mengungkapkan suatu peristiwa?'

Oh Hong cun segera manggut-manggut.

'Yaaa, kalau dipikir kembali, memang ada kemungkinan besar demikian adanya"

"Betul!" sambung Pek bi taysu pula, “sudah pasti mereka adalah saksi yang dicari oleh Pena Wasiat, kalau begitu kita harus berusaha untuk melindungi dengan sebaik-baiknya"

"Taysu”, segera Oh Hong cun berkata lagi, "menolong orang yang sedang mengalami kesulitan merupakan kewajiban dari kita semua, sekalipun orang yang berada dalam kereta itu bukan saksi yang dicari Pena Wasiat, kita pun sudah sewajarnya untuk membantu mereka". "Betul, jikalau mereka benar-benar berani melakukan pembunuhan dihadapan begitu banyak jago-jago persilatan, bisa diduga kalau manusia-manusia tersebut bukan manusia baik"

Oh Hong-cun segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Cu Siau-hong, setelah itu katanya:

"Cu lote, kau toh sudah mengetahui peristiwa ini, sampai waktunya kau pun harus memberikan bantuannya`

Cu Siau-hong tertawa.

"Sekalipun boanpwe pernah belajar silat selama beberapa hari, tapi dengan mengandalkan sedikit kepandaianku itu, rasanya tak mungkin bisa banyak membantu saudara sekalian"

"Sekalipun tak bisa membantu banyak membantu sedikit kan bisa, paling tidak kau boleh berdiri disisi arena sambil bersorak sorai menambah semangat'

"Betul, burung bodoh terbang lebih dulu, pembawa bendera berjalan di muka, sampai waktunya aku pasti akan tampil ke arena"

Oh Hong cun segera tertawa terbahak-bahak. "Haaahhh... haaahhh... haaahhh... tepat sekali! asal kau

bisa  mempunyai  pikiran  seperti  ini,  siapa  tahu  sepuluh

tahun atau dua puluh tahun lagi kau pun bisa mencapai kedudukan seperti lohu sekarang."

Cu Siau-hong tersenyum.

"Aaah, bagaimana mungkin boanpwe bisa dibandingkan dengan locianpwe?"

"Mungkin aku tidak memiliki keberuntungan seperti itu" 'Senyuman cerah segera menghiasi paras muka Oh Hong cun, itulah senyuman yang riang dan gembira.

Dua tiga patah kata merendah dari Cu Siau-hong barusan, segera membuat Oh Hong cun amat girang, kesannya terhadap Cu Siau-hong pun otomatis menjadi lebih mendalam.

"Baik!" terdengar Pek bi taysu berkata: "kalau begitu kita tetapkan demikian saja, untung lolap datang dengam membawa dua belas lohan, hingga tak kuatir kekurangan tenaga, lolap ingin melihat, siapakah manusia di dunia persilatan ini yang berani turun tangan membunuh orang yang lolap lindungi."

"Mungkin mereka sudah tahu kalau tay-su berada disini dan tak akan datang kembali' umpak Oh Hong cun. Beberapa patah kata itu segera memancing senyuman gembira dari Pek bi taysu pula..

Ditengah suara tertawa yang keras itulah, ketiga orang itu segera berangkat meninggalkan rumah makan tersebut.

Rupanya Oh Hong cun pun merupakan seseorang yang gemar memberi topi kebesaran kepada orang lain..

Agaknya setiap orang suka dipuji dan diumpak, bahkan pendeta saleh dari Sian lim si macam Pek bi taysu pun nampak gembira sekali mendengar kata-kata pujian tersebut.

-oo>d’w<oo-

ROMBONGAN kereta kuda berangkat meninggalkan kota Pek mao ki.

Ditengah jalan raya yang lebar nampak manusia berlalu lalang dengan ramainya. Apa yang diucapkan Oh Hong cun memang benar, orang yang hendak melihat kemunculan Pena Wasiat memang sebagian besar berjalan kaki sebagai tanda hormatnya kepada tokoh berat tersebut, bahkan yang naik kuda pun tak banyak, sedang yang memakai kereta hanya satu yakni kereta yang dikawal Seng Tiong-gak.

Oleh sebab itu, kemunculan kereta kuda itu sangat menyolok dan menarik perhatian orang banyak.

Tengah hari itu, Pek bi taysu dan rombongan telah tiba disebuah kota kecil. Kalau dibilang sebuah kota kecil, maka lebih cocok kalau dibilang sebuah dusun.

Sebab seluruh kota hanya terdiri dari beberapa puluh rumah saja, rumah yang dekat jalan raya terdapat sebuah warung nasi.

Mungkin lantaran selama beberapa hari ini tamu yang berjalan lewat disitu amat banyak, lagi pula orang persilatan lebih mudah mengeluarkan uang, maka dimana rumah makan kecil itu telah didirikan pula sebuah barak sementara.

Barak itu cukup besar, didalamnya tersedia tujuh delapan belas meja besar. Tapi sekarang, semua tempat sudah penuh dengan tamu yang sedang bersantap.

Pembantu yang bekerja dirumah makan itu sangat banyak, tidak sedikit perempuan setengah umur sedang memasak didapur.

Rupanya anggota dusun lainnya yang membantu dirumah makan tersebut.

Bakpao besar, bakmi kuah, kueh-kueh kecil tersedia berlimpah ruah, orang yang makan pun banyak, tapi bisa cepat selesai dan kenyang. Tentu saja bila masih ada sisa waktu orang dapat memesan beberapa macam sayur tapi itupun hanya dadar telur, daging masak dan beberapa macam sayur sederhana.

Peb hi taysu memang mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam dunia persilatan, tak sedikit orang yang kenal dengannya.

Begitu dia masuk kedalam barak, serentak ada beberapa orang jago yang segera berdiri dan memberikan tempat mereka untuk pendeta tersebut.

Dengan demikian, Seng Tiong-gak dan rombongan jadi tak kebagian tempat sama sekali.

Didalam kenyataan, sekalipun ada tempat belum tentu mereka akan duduk, paling banter mereka hanya akan mengutus satu dua orang untuk membeli makanan didalam warung, kemudian mengundurkan diri lagi dari situ

Sekalipun disaat bersantap, mereka tetap menyebarkan diri dan berdiri di sekeliling kereta kuda.

Terhadap suatu kereta kuda, ternyata mereka lakukan perlindungan yang begitu ketat, tidak heran kalau tindakannya tersebut segera memancing perhatian orang banyak.

Ditinjau dari makanan dan minuman yang dihantar ke dalam kereta, hal itu membuktikan kalau isi kereta tersebut adalah-manusia.

Dengan suara rendah Oh Hong cun segera berkata: "Taysu, tampaknya orang-orang itu amat teliti dan

seksama, semangat tempurnya sangat mengagumkan sekali

"Betul, kalau dilihat dari sikap berhati-hati mereka dalam melindungi kereta tersebut, siapapun akan merasakan ketangguhan mereka" "Bila orang mau membantu orang lain, orang lain baru bersedia pula membantu mereka," kata Cu Siau-hong. "justru karena mereka bersikap amat berhati-hati, itulah sebabnya mereka baru bertemu dengan manusia seperti taysu"

Pek bi taysu segera tertawa lebar.. "Betul, betul sekali"

Sementara pembicaraan berlangsung, mendadak berkumandang suara kaki kuda yang ramai sekali. Empat ekor kuda berlarian mendekat dengan kecepatan sangat tinggi

Sewaktu kuda-kuda itu melalui depan kereta, mendadak mereka mengayunkan tangan kanannya, beberapa titik cahaya hitam segera meluncur ke depan dengan kecepatan tinggi.

Selama ini Seng Tiong-gak sekalian berada dalam kesiap siagaan penuh, begitu dilihatnya beberapa orang itu mengayunkan tangannya, serentak mereka melompat bangun.

Dia duduk ditepi kereta dan sedang makan sepotong kueh, tangan kanannya cepat diayunkan ke depan, kueh tersebut ikut meluncur pula ke tengah udara.

Ketika membentur diatas gumpalan cahaya hitam tersebut, segera terjadi ledakan keras yang menimbulkan percikan bunga api.

Ke empat orang penunggang kuda itu melepaskan empat butir peluru api long bwee tan, tapi semuanya kena dihadang ditengah udara oleh ayunan kueh dan bakpao dari Su eng dan Jit hou, kejadian tersebut benar benar merupakan suatu pertunjukan yang menarik sekali, tapi juga menampilkan kemampuan dari kawanan pemuda yang bertugas melindungi kereta tersebut sebagai jago-jago tangguh yang bisa diandalkan.

Lemparan bakpao dan kueh dari mereka semua selain tepat, bahkan tenaga yang disertakan pula sangat besar dan kuat, membuat serangan dari ke empat peluru Leng hwee tan yang dilepaskan secara tiba-tiba itu tak sebuah pun yang mengenai sasaran.

Setelah serangan lewat Seng Tiong-gak segera memeriksa keadaan anak buahnya, ternyata tiada yang cedera atau terluka, diam-diam ia menghembuskan napas lega.

Para jago yang berada dalam warung makan sebagian besar bangkit berdiri, namun tiada seorangpun yang mengejar keluar.

Rupanya lari kuda-kuda tersebut cepat sekali, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap tak berbekas.

Tampaknya mereka semua seperti menyadari, kendatipun mereka mengejar ke luar, toh tak bakalan bisa menyusul mereka.

Ditengah jalanan masih terbakar beberapa gumpalan api yang berwarna hijau.

Diantara sekian banyak jago yang berada dalam barak warung makan, ada beberapa orang diantaranya yang cukup berpengalaman, mereka segera berteriak keras:

"Aaaaah, peluru api Im leng lui hwee tan!`

"Yaa, memang peluru api Im leng lui hwee tan yang lihay sekali."

Setelah kue dan bakpao tadi menumbuk diatas peluru api yang meledak, ternyata benda itu dikurung oleh gumpalan api hijau dan terbakar dengan hebatnya. Bayangkan saja, seandainya peluru Im leng hwee tan itu sampai mengena ditubuh manusia dan terbakar dengan hebatnya, siapakah yang mampu untuk mempertahan kan diri?

Bila dibicarakan yang sebetulnya, senjata rahasia tersebut benar-benar merupakan senjata rahasia yang amat jahat.

Dengan wajah penuh kegusaran Pek bi taysu berjalan keluar dari warung makanan, kemudian serunya:

"Betul-betul bajingan keparat yang menggemaskan, disiang hari bolong begini, apa lagi berada dibawab tatapan beratus orang manusia, mereka berani melancarkan serangan sedemikian kejinya, betul-betul membuat orang menjadi marah"

Oh Hong cun yang berjalan dibelakang Pek bi taysu segera menyambung pula dengan cepat.

"Tampaknya mereka seperti bertekad untuk berusaha sehingga berhasil, sampai-sampai pantangan terbesar bagi dunia persilatan pun sama sekali tidak dipikirkan didalam hati"

"Kalau dilihat dari hal ini, bisa diketahui kalau orang yang berada didalam kereta itu benar-benar seorang manusia yang penting sekali " sambung Cu Siau-hong.

Pek bi taysu segera manggut-manggut.

"Yaa, dalam dua kali sergapannya, mereka selalu mempergunakan peluru Im leng lui hwee tan, seakan-akan mereka sudah bersumpah untuk membunuh manusia hingga berhasil, oleh karena itu kita harus berusaha dengan sekuat tenaga untuk melindungi kereta itu"

Hweesio tua ini termasuk type manusia yang cepat mengambil keputusan dan cepat melakukan tindakan, begitu selesai berbicara, dia segera mengumpulkan ke dua belas orang Lo han nya sambil berkata:

"Mulai dari sekarang, secara bergilir kalian harus melindungi kereta tersebut" Seorang pendeta berbaju abu abu segera bertanya lirih:

"Supek, siapa sih yang duduk didalam kerata itu?" Pertaryaan mana kontan membuat Pek bi taysu tertegun,

dia memang tak tahu siapakah orang yang duduk didalam

kereta tersebut.

Dengan kening berkerut segera ujarnya, “perduli siapakah orang itu, yang jelas orang yang berada dalam kereta itu adalah manusia yang amat penting, kalian harus melindunginya secara berhati-hati.”

Hweesio berbaju abu-abu itu mengiakan.

"Supek, jumlah mereka tak sedikit, tampak nya merupakan penjaga-penjaga keamanan kereta tersebut, perlu tidak untuk membicarakan persoalan ini lebih dulu dengan mereka?"

"Yaa, hal ini memang penting sekali, kau pergilah kesana dan terangkan maksud kalian kepada pemimpin rom bonga n?"

Tampaknya pendeta berbaju abu-abu itu adalah pemimpin diantara dua belas lohan, dia segera manggut manggut.

Setelah berjalan ke depan Sang Tiong-gak dia merangkap tangannya didepan dada sambil memberi hormat, kemudin sapanya:

"Siapakah diantara sicu sekalian yang merupakan pemimpin rombongan?" "Akulah pemimpinnya" sambut Seng Tiong-gak sambil menjura, "taysu ada pesan apa?"

"Pinceng Ki kian mendapat perintah untuk melindungi kereta ini, entah bagaimana pendapat sicu?"

"Kami semua akan merasa amat berterima kasih sekali" "Berterima kasih sih tak perlu, asal sicu tidak keberatan,

itu sudah lebih dari cukup."

"Taysu kelewat serius" Ki kian tersenyum..

"Diantara kita harus diatur suatu pembagian tugas, anak buah yang sicu bawa sangat banyak, bila pinceng mengirim orang lagi, kuatirnya orang yang kelewat banyak menyebabkan tempat menjadi lebih sesak"

"Betul, kita memang harus merencanakan suatu penjagaan dengan sebaik-baiknya"

Ki kian taysu adalah pemimpin dari dua belas lohan, lagi pula terhitung seorang jago persilatan yang berpengalaman sekali, dia segera mengusulkan satu cara.

Seng Tiong-gak segera merasakan cara itu amat sesuai dengan perasaannya, maka segera setuju.

Setelah melewati suatu peristiwa yang sama sekali diluar dugaan ini, kehadiran kereta kuda itu segera memancing perhatian dari sebagian besar umat persilatan.

Ada orang yang sengaja melambatkan perjalanannya dengan mengikuti dimuka atau dibelakang kereta, tapi mereka semua hampir mempunyai tujuan yang sama, yakni berharap bisa menonton suatu keramaian.

Cu Siau-hong pun menunjukkan perasaan puas dan kepercayaan  yang  lebih  besar  terhadap  kereta ciptaannya itu, tapi dia tetap menguatirkan perubahan secara tiba-tiba atas situasi yang mereka hadapi.

Senja kini tiba, matahari sudah tenggelam dilangit barat..

Kini kereta berkuda itu telah tiba disebuah jalanan gunung yang sempit lagi panjang, kedua sisinya merupakan dinding bukit yang terjal dan menjulang tinggi ke langit.

Cu Siau-hong memandang sekejap situasi bukit itu, kemudian pikirnya dihati.

"Seandainya mereka bermaksud untuk turun tangan, tempat ini merupakan suatu tempat yang terbaik untuk turun tangan..”

Akan tetapi Cu Siau-hong tidak menguatirkan penghadangan yang dilakukan pihak lawan.

Sebab rombongan yang turut serta dalam rombongan kereta berkuda itu kini sudah mencapai ratusan orang.

Waktu itu kereta kuda sedang berjalan melewati selat sempit yang dihimpit oleh dua buah tebing yang terjal.

Dimuka kereta paling tidak terdapat lima puluh orang jago yang berjalan melanjutkan perjalanan.

Tapi Pek bi taysu, Oh Hong cun dan Cu Siau-hong sekalian berjalan dibelakang kereta berkuda itu.

Siapa pun tak ada yang menyangka, di hadapam begitu banyak jago persilatan, ternyata penghadangan terhadap kereta kuda itu tetap dilaksanakan juga.

Tiba-tiba saja dari atas dinding bukit disebelah depan sana menggelinding jatuh dua buah batu gunung yang berukuran besar.

Batu raksasa yang beratnya mencapai ribuan kati itu menggelinding  turun  dari  kedua  belah  sisi  dinding  bukit yang terjal, berat benda yang ditambah dengan daya luncurnya dapat merubah suatu kekuatan dorongan yang biasa pun menjadi sesuatu kekuatan maha dahsyat.

Serentak semua orang pada menyingkir ke samping.

Walaupun jumlah manusia yang sedang menempuh perjalanan melewati selat sempit itu amat banyak, tapi berhubung semua orang berilmu tinggi dan mereka bisa melompat dengan enteng dan cekatan, maka tak seorangpun diantara mereka menderita cedara.

Akan tetapi peristiwa ini semakin membangkitkan hawa amarah dari Pek bi Taysu, alis matanya berkenyit dan amarahnya makin berkobar, serunya dingin.

Benar-benar besar sekali nyali mereka, terhadap umat persilatan yang begini banyak pun berani melakukan penyerangan.

"Hmmm, Ki kian kau utus enam orang dan daki bukit ini dari ke dua belah sisi'

Ki kian taysu mengiakan, enam orang pendeta Siau lim serentak mendaki ke atas bukit terjal tersebut, tiap sisi didatangi oleh tiga orang.

Melihat kesemuanya itu dengan suara lirih Cu Siau-hong berbisik:

"Oh cianpwe, ular tanpa kepala tak bisa jalan, burung tanpa sayap tak bisa terbang. Jika begini banyak orang bertindak sendiri-sendiri, sudah pasti keadaan akan bertambah kalut, cianpwe, mengapa kau tidak segera tampilkan diri dan memberi penerangan kepada mereka agar tenang lalu bergabung dengan kita menjadi suatu rombongan besar? kekuatan yang terhimpun jauh lebih menguntungkan dari pada kekuatan yang tercerai berai” Oh Hong cun menjadi ragu-ragu untuk berbuat demikian.

Ia tidak percaya kalau nama besar yang akan berpengaruh besar bagi umat persilatan, apalagi menyuruh sekian banyak jago menuruti perintahnya ....

Untung saja Pek bi taysu segera menyambung.

"Oh sicu tak usah ragu-ragu, kau memang harus segera tampilkan diri, jangan kuatir lolap akan menunjang dari belakang."

Dengan adanya jaminan dari Pek bi taysu, keadaanya sama sekali menjadi berubah. Tiba-tiba Oh hong cun menghimpun tenaga dalamnya, lalu berteriak keras-keras:

"Saudara sekalian harap tenang!"

Rupanya pada saat itu para jago sedang berbisik-bisik membicarakan peristiwa yang barusan berlangsung, hingga suasana menjadi gaduh dan berisik sekali.

Bentakan dari Oh Hong cun segera mendatangkan hasil yang amat besar, suara gaduh segera berhenti. Oh Hong cun segera memberi tanda kepada Seng Tiong-gak sambil katanya pelan.

"Maaf, pinjam sebentar keretamu"

Kemudian setelah melompat naik keatas kereta, sambungnya lebih jauh:

"Harap saudara sekalian dengarkan baik-baik, Pena Wasiat adalah seorang tokoh silat yang bijaksana dan berjiwa ksatria, dan banyak mengungkap ketidak beresan yang terjadi dalam dunia persilatan, boleh dibilang setiap umat persilatan menaruh hormat kepadanya, sungguh tak disangka hari ini seseorang yang berani menghadang kepergian kita untuk menonton munculnya Pena Wasiat." Dengan cepat Cu Siau-hong memberi tanda kepada Ong Peng. Mendapat tanda, Ong Peng segera berteriak keras.

"Apa yang diucapkan Oh tayhiap memang benar, kejadian ini merupakan suatu tindakan yang melanggar peraturan dunia persilatan, cukup dilihat dari jatuhnya dua buah batu raksasa tersebut, bisa diduga kalau maksud tujuannya adalah untuk mencelakai kita semua"

"Yaa, betul!" sambung Tan Heng, untung saja semua orang yang hadir di arena rata-rata berilmu tinggi, coba kalau ada diantara kita tak pandai silat, dengan menggelindingnya dua butir batu cadas tersebut, paling tidak ada tujuh delapan orang yang bakal tewas, belum lagi terhitung mereka yang terluka, dari jumlah satu dua orang saja”, sambung Ong Peng, melainkan terdiri dari suatu organisasi yang besar sekali, hanya organisasi yang besar dengan jumlah manusia yang banyak baru berani melakukan tindakan semacam ini, pada hakekatnya perbuatan mereka sama halnya dengan tidak memandang sebelah mata pun kepada kita, oleh sebab itu paling baik kalau kita mengangkat seseorang untuk memimpin kita semua dan memberikan perlawanan yang sepadan kepada mereka"

Ucapan tersebut segera membakar hati kawanan jago lainnya, serentak ada belasan orang diantara yang berteriak lantang.

"Betul! Kita harus menunjuk seorang pemimpin, dengan begitu ada yang memberi komando kepada kita, maju mundur kita pun menjadi jauh lebih tertib!"

Malah ada pula diantara mereka yang berteriak lantang: "Pek bi taysu mempunyai nama dan kedudukan yang

paling terhormat, mari kita mengangkat dia saja sebagai pemimpin kita semua!" "Saudara sekalian" Ong Peng kembali berseru, "Pek bi taysu memang cocok sekali kita hormati, tapi dia adalah seorang pendeta, hatinya kelewat welas kasih, untuk menghadapi musuh yang membandel macam mereka tak mungkin ia turun tangan kelewat keji, menurut pendapatku, sepantasnya jika kita mengusulkan Oh tayhiap dari Lu ciu saja untuk memimpin kita semua"

Tan Heng kembali berseru dengan lantang.

'"Oh tayhiap dan Pek bi taysu berada di satu rombongan, apalagi hubungan mereka akrab sekali, siapa pun diantara mereka sama saja..

Tempik sorak yang gegap gembira segera berkumandang memecahkan keheningan, kawanan jago itu sama-sama berteriak keras:

"Betul, kita memang harus mendukung Oh tayhiap" Sampai disini, Oh Hong cun segera tertawa terbahak-

bahak.

"Haaahhh... haahhhh... haaaahhh... baik, baiklah, maksud baik saudara sekalian lohu terima dengan senang hati cuma aku hanya bisa menyetujui untuk memimpin sementara, begitu sampai di tebing Yang jit gay, maka anggaplah kedudukan ku juga runtuh"

Cu Siau-hong segera berpikir"

"Tampaknya Oh Hong cun juga merupakan seorang manusia yang gemar mencari nama "

Tampak Oh Hong cun bertepuk tangan tiga kali, suasana diseputar selat sempit itu menjadi hening kembali.

Oh Hong cun menjura ke empat penjuru, kemudian katanya: "Cinta kasih kalian semua kepada lohu membuat Hong cun merasa sangat terharu, dalam dunia persilatan tiada terbagi antara yang muda dan tua, siapa yang berhasil dulu dialah yang terhormat, aku rasa diantara saudara sekalian pun pasti terdapat banyak tokoh sakti yang tak suka mencari nama, kini lohu sudah kalian pilih, terpaksa dengan menebalkan muka akan kupangku jabatan ini,  harap saudara sekalian sudi menunjang diriku ini"

Setelah berhenti sejenak, dengan wajah yang turut berubah menjadi amat serius, dia menyambung lagi dengan suara lantang.

"Kemunculan Pena Wasiat di tebing Yang jit gay merupakan suatu peristiwa besar yang jarang bisa ditemukan dalam dunia persilatan, seluruh umat persilatan yang berbondong-bondong datang kemari pun tak lain untuk menyaksikan Pena Wasiat mengungkapkan penjahat paling besar yang telah banyak melakukan perbuatan keji selama ini, tapi sungguh tak disangka ternyata ada orang yang berani menyerang kita semua ditengah jalan.."

Dia mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap pendeta Siau lim pay yang sedang mendaki tebing disebelah barat, kemudian lanjutnya:

"Pek bi taysu telah membawa dua belas Lohan dari kuil Siau lim si, ditambah pula dengan kekuatan saudara sekalian, aku rasa siapa pun pihak lawan, kita pun tak usah terlampau memikirkannya didalam hati."

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar seseorang berkata dengan suara yang kasar dan parau.

"Oh tayhiap, yang datang tak akan bermaksud jahat, yang tidak bermaksud jahat tak akan datang, dibawah pandangan begitu banyak orang mereka berani menyerang kita, aku rasa kalau tiada persiapan yang cukup matang, sudah pasti mempunyai kekuatan besar yang menunjang mereka dari belakang, mau tak mau kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan kita dan jangan bertindak gegabah "

Ketika Oh Hong cun berpaling, dia menyaksikan orang yang barusan berbicara berperawakan tinggi besar, berpunggung lebar dan memelihara jenggot pendek diwajahnya, ia bersenjatakan sebuah toya tembaga yang beratnya tidak berada dibawah toya sian ceng para pendeta dari Siau lim pay.

Sambil manggut-manggut ujarnya kemudian.

"Apa yang sobat katakan memang betul, tolong tanya siapakah nama mu ?"

"Aku Bu Seng siong dari Cho ciu"

"Saudara Bu, harap kemari, bila terjadi suatu urusan, harap saudara Bu sudi membantu" Dengan langkah lebar Bu-seng siang segera maju ke depan, sambil beranjak katanya lagi:

"Asal aku orang she Bu dibutuhkan tenaganya, pasti tak akan kutampik" Dalam pada itu, terdengar lagi suara seseorang berkata dengan dingin:

"Oh tayhiap, seandainya pandanganku tidak keliru, tampaknya tujuan mereka adalah untuk menghadapi kereta kuda ini"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, serentak semua jago yang hadir disitu mulai berbisik-bisik membicarakan masalah ini

Cu Siau-hong segera mendongakkan kepalanya, ternyata orang yang sedang berbicara barusan adalah seorang lelaki bertubuh kurus kering, sama sekali berlawanan dengan bentuk badan dari Bu Seng siong.

Oh Hong cun menghembuskan napas panjang, kemudian ucapnya.

"Apa yang saudara ini ucapkan memang benar, tampaknya mereka memang bermaksud untuk mencari gara-gara dengan kereta itu"

Cu Siau-hong yang mendengar perkataan itu segera merasakan hatinya bergetar keras, segera pikirnya:

"Ternyata Oh Hong cun adalah seorang yang pandai sekali memutar kemudi menuruti arah mata angin "

Berpikir demikian, sekali lagi dia memberi tanda kepada Ong Peng untuk turut menimbrung. Tiba-tiba Ong Peng berseru dengan suara lantang.

"Oh tayhiap ucapan dari saudara ini tidak benar" "Maksud saudara ?"

"Kami mendukungmu untuk menguasai keadaan, Oh tayhiap harus mempunyai prinsip yang tetap lebih dahulu, jika kau sepatah aku sepatah semuanya sama-sama mengungkapkan pendapat masing-masing, bukanlah Oh tayhiap yang kita pilih sebagai seorang pemimpin akan berubah seperti seorang pemimpin boneka?"

Beberapa patah kata ini diucapkan dengan nada suara yang sangat berat, tapi cukup pula mendamprat Oh Hong cun habis-habisan.

Dengar kening berkerut Oh Hong cun segera berseru: "Yaa, ucapan ini memang ada benarnya juga.

Sementara itu orang yang beetubuh kurus kering itu mempercepat langkahnya sambil maju kedepan, kemudian serunya lagi. "Oh tayhiap, setiap orang yang hendak menuju ke tebing Yang jit gay kebanyakan berjalan kaki, atau paling banter menunggang kuda, aku tidak mengetahui siapakah orang yang berada dalam kereta itu, tapi dengan kedatangan mereka memakai kereta, hal ini sudah menunjukkan sikap yang kurang hormat terhadap Pena Wasiat"

"Sekalipun demikian, kita toh tak bisa membiarkan mereka mati dibunuh orang!' seru Ong Peng. Orang yang bertubuh kurus kering itu segera tertawa dingin.

"Jadi menurut maksud sobat, kita sudah seharusnya melindungi keselamatan mereka? Membantu yang sedang susah merupakan prinsip hidup kita semua, apa salahnya?" Manusia bertubuh karus kering itu segara tertawa.

'Yaa, ucapanmu memang ada benarnya, tapi paling tidak kita harus menyaksikan lebih dulu manusia macam apakah orang yang berada dalam kereta itu? Apa kedudukannya dan berhargakah buat kita untuk melindungi dirinya"

Serangan dari orang ini benar-benar lihay sekali, berapa patah kata itu segera mengenai secara telak titik kelemahan dari peristiwa tersebut.

Tak bisa dicegah lagi, serertak senua orang berteriak keras.

"Benar, kita harus mengetahui lebih dulu siapakah yang berada dalam kereta itu"

Orang yang berada dalam kereta memang cukup misterius, ditambah pula kereta itu dibuat sangat istimewa, tidak heran kalau kehadirannya segera memancing rasa ingin tahu dari semua orang.

Apalagi sesudah dihasut oleh ucapan manusia kurus kering itu, tak ampun lagi berubahlah menjadi suatu gelombang yang besar. Oh Hong cun sadah lama berkelana dalam dunia persilatan, setelah menyaksikan keadaan yang terbentang didepan mata, dia segera mengerti kalau beberapa patah saja tak mungkin bisa mengendalikan situasi tersebut....

Ketika berpaling dan menyaksikan Cu Siau-hong berdiri disampingnya, dia segera bertanya:

"Cu lote, menurut pendapatmu, bagaimana baiknya kita sekarang untuk mengatasi keadaan ini?"

Sekarang semua orang sudah menuntut untuk menyaksikan orang yang berada dalam kereta, paling baik kalau membiarkan mereka menyaksikan orang dalam kereta tersebut'

"Yaa, lohu pun berpendapat demikian"

Maka dengan memperkeras suaranya, diapun berseru: "Harap saudara sekalian jangan ribut dulu, lohu pasti
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 47"

Post a Comment

close