Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 45

Mode Malam
Dikedua belah sisinya dihimpit oleh dinding bukit, seadng dibelakang sana merupakan sebuah hutan.

Diantara sekian banyak bangunan rumah ada empat lima buah diantaranya yang berada dalam keadaan terbuka, dari kejauhan sana dapat terlihat kalau isi rumah gubuk itu adalah bongkahan batu.

"Kongcu" Seng Hong segera berbisik, "di tempat ini agaknya penuh dengan bongkahan batu"

Cu Siau-hong hanya mengiakan, kemudian berjalan menuju ke arah salah satu rumah gubuk itu. Ternyata isi ruangan mana selain bongkahan batu, agaknya tidak terdapat barang lainnya.

Seng Hong memeriksa dengan seksama, kemudian katanya.

"Kongcu, isinya Cuma batu melulu."

"Seng Hong, seandainya gubuk ini benar-benar berisikan batu semua, mungkinkah mereka rela mengucurkan darah hanya bermaksud untuk mencegah kita masuk kemari?" "Benar, tampaknya dibalik kesemuanya itu masih terdapat persoalan lainnya."

"Mari kita periksa ruangan itu satu demi satu"

Mereka berdua segera memeriksa setiap rumah gubuk itu dengan seksama, enam tujuh rumah sudah diperiksa namun isinya melulu bongkahan batu belaka.

Diam-diam Cu Siau-hong menghitung ternyata rumah gubuk itu semuanya berjumlah dua belas buah, setiap rumah mempunyai pintu dan jendela sendiri-sendiri.

Andaikata penggunaannya cuma untuk menyimpan batu belaka, sesungguhnya tak perlu dibangun dengan cara seperti ini.

Seng Hong segera merasakan pula sesuatu yang tak beres, oleh karenanya dia pun tidak banyak bertanya lagi.

Pintu dari kedelapan buah rumah gubuk itu semuanya berada dalaua keadaan tertutup rapat, ketika Seng Hong mendorongnya ternyata selalu pintu itu berada dalam keadaan terkunci, hal mana seketika itu juga membuat semangatnya berkobar.

Kali ini dia tidak mendorong pintu, melainkan jendela yang berada disampingnya.

Ternyata jendela tersebut bisa dibuka dengan sangat gampang.

Seng Hong segera membungkukkan badan melompat masuk ke dalam ruangan itu.

Dalam ruangan terdapat sebuah pembaringan, diatas pembaringan berbaring sesosok tubuh manusia.

Agaknya orang itu tertidur sangat pulas sehingga sewaktu   Seng   Hong   membuka   jendela   dan  melompat masuk kedalam ruangan ternyata orang itu masih belum merasakan apa-apa.

Seng Hong sama sekali tidak menggubris orang itu, yang diperhatikan hanya datangnya sergapan yang mungkin akan menimpa dirinya, maka mula pertama dia membuka pintu ruangan tersebut lebih dulu.

Pelan-pelan Cu Siau-hong berjalan masuk ke dalam.

Dia memandang sekejap sekeliling tempat itu, dijumpainya selain sebuah pembaringan ditempat itu hanya terdapat sebuah meja serta dua buah bangku bambu.

Setelah menghembuskan napas panjang, Cu Siau-hong baru berkata: “Sobat, sekarang kau sudah boleh bangun"'

Orang itu tetap tidak menjawab.

Sambil tertawa dingin Cu Siau-hong berkata lagi.

"Seng Hong, cari semangkuk air dan guyurkan ke atas kepalanya" Gentong air persis berada disamping ruangan.

Seng Hong segera mengambil gayung dan memenuhinya dengan air, kemudian diguyurkan ke atas kepalanya.

Akan tetapi orang yang masih tertidur itu masih belum juga berkutik dari posisi semula.

Orang itu benar-benar pandai mengusahi diri, atau mungkin ketenangannya sudah mencapai apa yang dibilang "meski bukit thay san ambruk di depan hidung, mata tak akan berkejap".

Biasanya hanya ada dua macam manusia yang memiliki ketenangan seperti ini, yakni orang yang sudah lumpuh, dia tak mampu bergerak lagi, atau dia sudah menjadi mayat.

Ternyata orang yang berada diatas pembaringan itu sudah menjadi sesosok mayat. Seng Hong mengangkat tubuh orang itu dan memeriksanya dengan seksama, tampak wajah orang itu pucat pias, tubuhnya sudah menjadi kaku, rupanya sudah mati selama beberapa hari.

'Kongcu, dia hanya sesosok mayat' bisik Seng Hong kemudian.

"Dia tahu kalau dirinya sudah pasti mati, maka dia lari kemari, menutup pintu, membaringkan diri dan menanti ajalnya tiba!"

"Aaaah, mustahil bisa begitu"

Sambil tertawa dingin Cu Siau-hong berkata pula. 'Mari kita periksa ke rumah berikutnya?"

Rumah gubuk yang ke sembilan pun sudah berada dalam keadaan tertutup rapat.

Seng Hong tidak sangsi lagi, dia segera mengayunkan kakinya melepaskan sebuah tendangan keras ke atas pintu.

"Blaaammm... pintu kayu itu segera tehajar hingga terbuka lebar-lebar.

Dalam ruangan itu terdapat sebuah pembaringan, seseorang berbaring pula disana.

Seluruh badannya ditutup dengan selimut dengan muka menghadap ke dalam, posisi tidurnya persis seperti posisi yang dijumpai dalam rumah gubuk pertama.

"Hmmm, lagi-lagi sesosok mayat" dengus Seng Hong.

Seraya berkata dia siap mencengkeram tubuh mayat tersebut.

"Seng Hong, hati-hati!" Cu Siau-hong segera mencegah dengan suara lirih. Seng Hong segera menarik kembali tangannya, lalu dengan menggunakan pedang yang diloloskan dari sarungnya dia membalik tubuh mayat tersebut ....

Ternyata mayat itu adalah mayat Sik Jit, ia benar-benar sudah menemui ajalnya.

Diatas dadanya tertera pula selembar kertas yang bertulisan beberapa huruf dari darah! "Mampus untuk penghianat!"

Terkesiap hati Cu Siau-hong setelah menyaksikan kejadian ini, diam-diarn pikirnya:

"jangan-jangan orang yang berada dalam ke tiga rumah gubuk lainnya adalah Lik Hoo, Ui Bwee serta serta Ang Bo tan yang telah mereka bunuh?"

Berpikir sampai disini, buru-buru dia berseru:

'Seng Hong, cepat kita periksa rumah gubuk berikutnya"

Dalam rumah gubuk yang ke sepuluh pun terdapat sebuah pembaringan, hanya saja tiada orang yang berbaring, orang yang berada disitu berada dalam keadaan duduk bersila diatas pembaringan.

Lagipula orang itu adalah seorang perempuan..

Orang itu mengenakan pakaian pengantin berwarba merah menyala dengan rambut di hias mutiara, zamrud serta kemala hijau, dandanannya seperti seorang pengantin perempuan.

Tapi justru diatas kepelannya mengenakan selembar kain putih, kain putih itu terjurai menutupi wajahnya.

Pakaian berwarna merah menyala dengan selembar kain putih, suatu perpaduan warna yang nampak amat kontras. Dengan perasaan terkesiap Cu Siau bong segera berseru: 'Seng Hong, lepaskan kain putih yang menutupi wajahnya"

Seng Hong mengiakan sambil menggerakkan pedangnya mencongkel kain putih yang menutupi wajah perempuan tersebut.

Begitu kain putih itu terlepas, terlihatlah wajah perempuan itu berada pada posisi tertunduk rendah-rendah, sedemikian rendahnya sehingga sulit untuk melihat jelas raut wajahnya.

Akan tetapi bisa disimpulkan wajah itu pucat pias seperti mayat, seperti orang yang sudah mati lama. Dengan perasaan terkejut Cu Siau-hong berseru:

"Seng Hong, perhatikan dengan seksama dia sudah mati ataukah masih hidup?"

Dengan sangat berhati-hati sekali Seng Hong menggerakkan pedangnya sejajar dengan dada hingga mencapai bawah dagu perempuan itu, kemudian dengan sekali menyontek dia mengangkat wajah perempuan tersebut dengan menggunakan pedangnya.

Ternyata perempuan itu berwajah pucat pasi dengan sepasang mata terpejam rapat-rapat. Sambil menghembuskan napas panjang, Seng Hong segera berkata.

"Kongcu, mungkin orang ini sudah mati"

"Seng Hong, menurut pendapatmu, miripkah dia dengan Lik Hoo?"

"Nona Lik Hoo?" Seng Hong nampak agak tertegun. "Maksudku salah satu diantara ke tiga orang itu'. 'Barusan hamba tidak melihat terlalu jelas, biar kuperiksa

lagi dengan seksama" Kembali dia menggerakkan tangannya untuk mengangkat dagu perempuan berbaju erah itu.

Tanpa mengeluarkan sedikit suarapun mendadak perempuan berbaju merah itu mengayunkan sepasang tangannya ke depan.

"Criiing... criiing..." dua kali desingan tajam menyambar lewat,

Seng Hong dan Cu Siau-hong bersama-sama menjerit tertahan.

Gadis berbaju merah itu sudah turun tangan secara tiba tiba dengan kecepatan yang luar biasa sekali.

Yang dilepaskan adalah jarum beracun yang amat lembut sekali, sambil memegang perut sendiri Cu Siau-hong segera berjongkok.

Seng Hong yang berada lebih dekat, lebih-lebih tak sanggup menghindarkan diri.

Dengan suatu gerakan cepat gadis berbaju merah itu melepaskan sebuah totokan ke atas jalan darah Seng Hong, sementara kakinya menghajarjalan darah ditubuh Cu Siau hong.

Begitu kedua orang lawannya roboh, perempuan itu melompat bangun dari atas pembaringan sambil tertawa terkekeh-kekeh.

“Haaaahhh .... hasaaahhhh haaahnh.. kalian dua orang manusia licik juga ingin minum air bekas cuci kaki lonio?"

Sambil bertepuk tangan dia segera berseru: 'Kalian keluar semua!"

Dari balik tumpukan jerami dibawah wuwungan rumah segera melompat turun dua orang dayang. Sementara itu si perempuan berbaju merah itu sudah melepaskan baju merahnya sehingga kelihatan pakaian ringkasnya berwarna hijau, terdengar ia berkata sambil tertawa:

'Cun Hoa, Ciu Gwat, bekuk kedua orang itu"

Dengan cepat kedua orang dayang itu mengambil tali yang telah dipersiapkan dan mengikat kedua orang itu kencang-kencang.

Sedangkan perempuan tadi telah menyeka pupur putih yang menempel di atas wajahnya yang cantik jelita.

Sambil memandang ke Cu Siau-hong, perempuan itu berkata kemudian sambil tertawa. "Anak muda, jadi kaulah cengcu dari perkampungan Ing-gwat-san-ceng... ?"

"Benar, akulah orangnya, dan nona adalah..."

"Aku mah... mau sebut aku sebagai Siang hujin juga boleh, sebut aku sebagai nona Pat juga tak mengapa, terserah kemauan kalian mau memanggil dengan sebutan apa saja boleh!"

"Siang hujin? Kalau begitu kau adalah nyonya rumah dari perkampungan Pek hoa ceng" Siang hujin segera tertawa.

"Aku dengar kalian telah membunuh suamiku?" tegurnya.

"Kami tidak membunuhnya, tapi hujin lah yang telah meninggalkan obat beracun baginya"

"Jadi ia telah menelan obra beracun tersebut?"

"Mungkin perintah dari hujin kelewat keras dan mengerikan sehingga mau tak mau terpaksa dia harus menelan obat beracun tersebut" Kembali Siang hujin tertawa.

"Yaa, bagaimanapun juga dia memang tidak terlalu memalukan, tak sia-sia kulayaninya selama beberapa tahun."

"Padahal dia tak lebih Cuma seorang boneka, sedang pemimpin yang sebenarnya dalam menghadapi masalah adalah tetap hujin sendiri."

"Betul, Cuma sayang terlalu lambat kalian memahami akan persoalan ini..."

"Hujin sengaja mengatur jebakan pada dua rumah gubuk yang pertama sehingga membuat kami teledor dalam penjagaan, tindakanmu itu boleh dibilang benar-benar sangat lihay."

"Aaah, terlalu memuji, terlalu memuji, itu mah Cuma sebuah siasat kecil belaka, tidak termasuk kelewat jelek bukan ?"

"Hujin, aku masih mempunyai beberapa persoalan yang tidak begitu kupahami, harap kau sudi memberi petunjuk"

"Mana, mana, memandang diatas wajahmu yang tampan dan sikapmu yang gagah, silahkan saja bertanya!"

"Sudah berapa tahun hujin memimpin perkampungan Pek hoa san-ceng ini... ?"

"Tidak terlalu lama, Cuma kurang lebih lima tahun lamanya!"

"Aku rasa perkampungan Pek hoa sanceng ini tentunya bukan sebuah organisasi yang berdiri sendiri bukan?"

Siang hujin segera tertawa.

"Oooh Cu kongcu yang ganteng dan gagah, sekalipun aku menaruh perasaan iba kepadamu sayang sekali aku pun tak dapat mengambil keputusan sendiri, tak mungkin kubawa kau meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup, aku hendak membunuhmu, membawa mayatmu meninggalkan tempat ini, kau segera akan mati, buat apa sih kau masih ingin mengetahui persoalan-persoalan macam begitu?"

"Justru karena aku bakal mati, maka aku berharap aku bisa mati dengan mata meram."

"Cu kongcu, apakah kau tak dapat mengajukan permintaan yang lain saja... ?" tanya Siang hujin tertawa.

"Yang lain?"

"Betul! Misalnya saja kau ingin makan apa, atau ingin mencicipi apa... ?"

"Aku mah..."

Sepasang matanya segera menatap wajah Siang hujin lekat-lekat.

Dibalik sinar matanya itu tiba-tiba memancar keluar suatu luapan cinta yang sukar dilukiskan dengan katakata.

Tiba-tiba Siang hujin mengulapkan tangannya sambil berkata.

"Cun Hoa, Ciu Gwat, gotong keluar orang itu dari sini.

Yang kumaksudkan adalah Seng Hong”.

Cun hoa segera membungkukkan badan dan menggotong Seng Hong lalu berlalu dari sana.

Ciu Gwat berjalan dibelakangnya, setelah keluar dari ruangan ia sekalian merapatkan pintu kamar tersebut.

Selesai membereskan rambutnya yang kusut, Siang hujin memperlihatkan suatu daya yang menantang dan merangsang, katanya: "Cu kongcu, kini dalam ruangan ini tinggal kita berdua, apa yang kau inginkan sekarang boleh kau utarakan secara blak-blakan.

“Sekalipun kuutarakan, apa pula yang bisa kulakukan?" Sambil menggerakkan tangannya yang putih dan halus,

Siang hujin membopong tubuh Cu Siau-hong dengan lembut dan penuh kasih sayang, kemudian dibaringkan diatas pembaringan, ujarnya sambil tertawa:

"Dimanakah jarum beracun itu melukai mu? Perlukah kucabutkan keluar "

"Seandainya jarum itu beracun, kendatipun jarum beracunnya telah dicabut keluar toh tak urung aku bakal mati juga karena keracunan"

Siang hujin segera tersenyum.

"Setiap obat beracun yang ada didunia ini, pasti ada pula obat penawarnya"

“Hujin memiliki obat penawar? Kalau begitu cepat berikan sebutir untukku"

"Tenaga dalammu cukup sempurna, tak kusangka sudah terhajar jarum beracun, kau masih dapat berbicara sebanyak ini"

"Bila aku membungkam terus, secara diam-diam aku bisa menghimpun tenaga dalamku untuk menahan daya kerja racun itu, tapi sekarang aku sudah berbicara sangat banyak, mungkin sari racunnya telah menyebar luas sampai di seluruh bagian tubuh"

'Untung aku memiliki obat penawar racun itu" seru Siang hujin lagi pelahan.

"Sayangnya. meski racun itu sudah dipunahkan, aku toh tetap akan mampus juga" Tiba-tiba Siang hujin menundukkan kepalanya dan menciumi pipi Cu Siau-hong beberapa kali, kemudian bisiknya:

"Lelaki yang menggemaskan, aku mulai merasa takut" "Apa yang kau takuti?"

"bila kulepaskan tali yang membelenggu tubuhmu, memunahkan racun yang mengeram dalam tubuhmu, akibat macam apakah yang akan menimpa diriku!"

"Sampai akhirnya toh kau tetap hendak membunuhku, membawa jenasahku meninggalkan tempat ini"

"Melepaskan kau berarti selamanya aku akan kehilangan kesempatan untuk membekukmu lagi"

Napsu birahi yang semula sudah membakar hati dan wajahnya, lambat laun menjadi luntur kembali, bagaimanapun juga nyawa memang jauh lebih penting daripada kobaran napsu.

Mendadak Cu Siau-hong merentangkan sepasang lengannya, tali temali yang semula membelenggu seluruh badannya segera putus semua menjadi beberapa bagian menyusul kemudian tangan kanannya menyambar kemuka dan mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan Siang hujin.

Dengan wajah tertegun Siang hujin segera berseru: "Kau, kau tidak terkena jarum beracun itu?'

'Seandainya aku terkena jarum beracun, bagaimana mungkin masih bisa berbicara begitu banyak?"

"Kalau begitu jalan darahmupun tidak tertotok?"  "Sayang kau telah memberi waktu yang terlalu banyak

kepadaku,   sehingga   memberi   kesempatan   yang   cukup bagiku untuk mengerahkan tenaga dalam dan membebaskan diri dari pengaruh totokan"

'Aaaaai, tahu begini sejak tadi kuhadiahkan sebuah bacokan untuk membunuhmu"

"Sayang sekali kau telah melewatkan kesempatan yang sangat baik itu dengan begitu saja"

"Kau .... kau adalah manusia terkutuk yang pandainya cuma menipu perasaan perempuan "

"Jangan kelewat tak tahu diri nyonya, jangan lupa, akupun dapat membunuh orang" tukas Cu Siau-hong dingin.

Seraya berkata, ke lima jari tangannya mencengkeram semakin keras hingga seketika itu juga Siang hujin merasakan tulang pada tangan kanannya sakit sekali bagaikan retak, terpaksa dia harus menutup mulutnya rapat rapat.

"Nyonya, jawablah beberapa pertanyaanku berikut ini, aku akan mengampuni selembar jiwamu" ujar pemuda itu lagi.

"Tidak banyak yang kuketahui, apa yang kau tanyakan belum tentu bisa kujawab semuanya"

"Kalau begitu, berapa banyak yang kau ketahui, jawablah berapa banyak pula"

"Bila kuberitahukan hal-hal tersebut kepadamu, keuntungan apakah yang dapat kuraih?'

"Aku akan mengampuni selembar jiwamu, asal kau bersedia untuk menjawab dengan sejujurnya maka kuampuni jiwamu, aku toh melepaskan pula Sik Jit? Hal ini membuktikan kalau janjiku bisa dipertanggung jawabkan" "Aku percaya dengan janjimu itu, tapi aku masih menginginkan pula jaminan lain"

“Jaminan seperti apa?'

'Coba kau terangkan kepadaku, apa yang kau atur tentang diriku ini ?"

'Melepaskan kau, agar kau bisa pergi kemanapun kau ingin pergi secara bebas dan merdeka"

"Tidak! Aku harus mengajukan pula syarat lain dan kau harus mengabulkannya, bagaimana?"

"Baik, aku setuju"

"Jangan menyetujui kelewat cepat, kau harus tahu syaratku ini sukar untuk dilaksanakan'

"Maksudmu?"

"Aku minta kepadamu untuk menemani aku, kemudian akan kuberitahukan kepadamu semua rahasia yang kuketahui, sedang masalah bagaimanakah kau akan mengatur diriku tak akan kupersoalkan kelewat serius"

Tentu saja Cu Siau-hong memahami apa yang dimaksudkan, ia jadi tertegun dan tak sanggun mengucapkan sepatah katapun.

Setelah termenung berapa saat, akhirnya dia berkata lagi. "Bukankah aku sedang menemani hujin sekarang?"

"Aku tak ingin ditemani seperti ini"

"Lantas, aku harus menemanimu dalam cara yang bagaimana?" meski sudah tahu Cu Siau-hong masih pura pura bertanya.

"Aku lihat wajahmu mencerminkan kecerdasan yang  luar    biasa,    masa    kau    benar-benar    tidak memahami maksudku? Oooh...rupanya sudah pura-pura bertanya, tujuannya hanya ingin membuat aku malu bukan? Padahal kalau toh aku berani berbicara, mengapa tidak berani membicarakannya secara jelas.. ?"

"Tapi aku benar-benar tidak jelas"

"Kulit dan kulit saling bergesek, ucapan ini pasti kau pahami bukan?"

"Yaa, aku mengerti"

"Kalau sudah mengerti, hal ini jauh lebih baik lagi"

Pelan-pelan Cu Siau-hong bangkit berdiri, lalu ujarnya sambil tertawa pelan:

"Nyonya, permintaanmu itu kelewat batas'

'Inginkah kau tahu rahasia dibalik organisasi kami ini?" 'Banyakkah yang kau ketahui?"

Siang hujin tertawa.

"Usiaku tidak terhitung kelewat tua, tapi pengalamanku berkecimpung dalam organisasi ini tidak terhitung sedikit, tak ada salahnya kalau kuungkapkan, juga kedudukanku dimasa lalu, setelah tahu nanti pasti dalam hati kecilmu punya perhitungan sendiri."

-oo>d’w<oo-

"HARAP HUJIN suka memberi petunjuk"

"Otak yang memimpin organisasi rahasia kami ini mempunyai dua orang istri dan aku adalah dayang kepercayaan dari istri kedua, coba kau bayangkan berapa banyak rahasia yang kuketahui"

"Ooooh, rupanya begitu' "Dari seorang dayang kepercayaan, kedudukanku naik terus hingga menjadi seorang pemimpin yang mengatur suatu bidang, menurut pendapatmu apakah aku amat disayang olehnya ?"

"Kalau begitu, rahasia yang kau ketahui pasti banyak sekali?"

"Tidak terhitung banyaknya, tapi lima enam bagian mah tentu ada'

“Hujin, kau bukan lagi membohongi aku bukan?" "Tidak, buat apa kubohongi dirimu? Padahal kalau

berbicara sampai ke soal hubungan akrab antara lelaki dan perempuan, akhirnya toh yang rugi tetap kami kaum wanita..."

"Waaah, kalau soal itu mah mesti dilihat dulu perempuan macam apakah dia ini" sela Cu Siau-hong sambil tertawa.

"Cu Siau-hong, jangan terlampau memandang rendah diriku, meskipun aku bukan gadis perawan atau seorang perempuan alim, akan tetapi akupun bukan seorang perempuan sembarangan."

"Paling tidak, nyonya bukanlah seorang perempuan yang setia kepada lelakimu sejak awal sampai akhir"

Tiba-tiba air mata bercucuran dengan derasnya membasahi wajah Siang hujin, pelan-pelan ujarnya.

'Aku memang bukan perempuan macam begitu, ketika aku berusia enam belas tahun kesucian tubuhku telah dinodai oleh majikanku, kemudian akupun diminta memimpin perkampungan Pek hoa san-ceng, Siang cengcu yang telah kalian jumpai tadi tak lain adalah suamiku, entah  bagaimanapun  juga  dia  tetap  adalah  suamiku, aku harus melayani setiap keinginannya dan dia adalah lelaki kedua yang pernah memasuki lembaran sejarah hidupku"

"Apakah lelaki itu adalah pilihanmu sendiri?"

Siang hujin menggelengkan kepalanya berulang kali. "Bukan" sahutnya, "lelaki yang pertama memperkosa

diriku, lelaki kedua pilihan majikanku, begitulah aku hidup selama banyak tahun dalam suasana yang tidak begitu menyenangkan Cu Siau-hong, belum pernah kudapatkan lelaki yang kusukai sendiri."

"Anggota yang bergabung dalam organisasi mu amat banyak, hujin toh sebagai seorang pemimpin di dalam perkampungan ini, mengapa tidak mencari beberapa orang lelaki yang kau sukai untuk menghibur dirimu?"

Siang hujin segera tertawa getir.

"Mungkin pandangan mataku kelewat tinggi, mungkin juga aku menaruh suatu perasaan benci yang tidak kupahami sebabnya terhadap setiap lelaki yang kujumpai, oleh sebab itu aku tak pernah tertarik kepada mereka, tapi anehnya setelah bertemu dengan kau, aku. "

"Hujin, mungkinkah bagi kita berdua untuk berbincang bincang dengan bertukar syarat lain. ?"

"Tidak bisa" "Mengapa?"

"Entah persoalan apapun yang kuberitahu kan kepadamu, asal ku utarakan sepatah kata saja, niscaya jiwaku tak akan selamat"

"Bila kau enggan mengungkap rahasia tersebut, aku pun akan membunuh pula dirimu" "Itulah dia, aku toh akhirnya harus mati juga, maka sebelum ajal merenggut nyawaku, aku ingin seorang lelaki yang kusukai sendiri untuk menemani diriku, permintaan semacam ini tidak bisa dibilang kelewat batas bukan.?"

Cu Siau-hong jadi tertegun.

"Yaa, permintaan semacam ini memang tidak bisa dianggap sebagai suatu permintaan yang kelewat batas, bila seseorang bersedia mengorbankan selembar jiwanya hanya ditukar untuk bersenang-senang semalam, rasanya pengorbanan semacam ini terhitung masih pengorbanan yang amat tinggi.”

Untuk beberapa saat lamanya Cu Siau-hong tetap termenung dan membungkam dalam seribu bahasa.

"Cu kongcu" kembali Siang hujin berkata, "kau boleh membunuh aku, akupun dapat menghabisi nyawaku sendiri setiap saat karena itu bila kau ingin mempergunakan cara yang keji untuk memaksaku mengungkapkan sesuatu, maka hal mana benar-benar merupakan suatu perbuatan yang sulit untuk terlaksana."

"Hujin, aku ingin mengetahui dahulu untung ruginya, bagi pandanganmu hal mana merupakan semacam permohonan, tapi berbicara bagi pandanganku maka hal tersebut adalah suatu pengorbanan, oleh karena itu aku ingin tahu lebih dahulu apa imbalannya."

Siang hujin termenung lagi beberapa saat kemudian baru berkata.

"Ban Ci-cu, Pena Wasiat, kedua hal tersebut merupakan dua rahasia besar dalam dunia persilatan, imbalan tersebut cukup besar bukan?"

Cu Siau-hong segera merasakan hatinya bergetar keras, serunya tanpa terasa: "Apakah organisasi kalian ini mempunyai hubungan dengan kedua orang tokoh sakti tersebut?"

"Besar sekali sangkut pautnya, bahkan dalam dunia persilatan dewasa ini tidak banyak orang yang mengetahui akan rahasia tersebut"

"Dan kau tahu?"

"Tahu sedikit, meski bukan keseluruhan nya, tapi bagimu hal mana sudah lebih dari cukup'

"Tampaknya aku dibikin tertarik oleh ucapanmu itu" "Bila kuberitahukan rahasia tersebut kepadamu, walau

hanya sedikit saja, maka dalam dunia yang begitu lebar sudah tiada tempat lagi bagiku untuk berpijak, sebelum ajal mengakhiri kehidupanku di dunia ini, aku hanya ingin berada bersama lelaki yang kusukai sendiri dan merasakan suatu kegembiraan yang luar biasa'

Seketika itu juga Cu Siau-hong terjerumus kedalam suasana kalut, bimbang dan gugup.

Dia tak tahu bagaimana harus mengatasi persoalan itu, dia pun tak tahu apakah permintaan perempuan itu harus dipenuhi.

Siang hujin tidak mendesak lebih jauh, dia cuma memperhatikan Cu Siau gong dengan tenang, diantara kerlipan matanya yang penuh pancaran sinar cinta, wajahnya mencerminkan suatu permohonan yang sangat.

Cu Siau-hong menghembuskan napas panjang, kemudian ujarnya:

'Hujin, seandainya kukabulkan permintaan mu itu, bagamana caranya untuk mendengar kan rahasia yang kau utarakan itu?" 'Disaat kulit bergesek dengan kulit, tubuh saling menempel dan kita saling berpelukan, disaat itulah dengan suara yang lembut akan kuungkapkan semua rahasia tersebut"

"Akan dilangsungkan disini?" "Kau takut?"

"Diluar kamar terdapai dua orang dayang serta seorang pembantuku yang terluka, sedang diluar situ masih terdapat pekerja-pekerja anak buahmu, dalam keadaan dan suasana seperti ini, aku benar-benar tak bisa mengalihkan perhatianku untuk bermesraan dengan kau'

Kemudian setelah menepuk bebas jalan darah Siang hujin yang tertotok, dia melanjutkan:

"Hujin, aku lihat barter kita ini lebih baik di tunda dulu pelaksanaannya untuk sementara waktu..."

"Dituda dulu? Bagaimana cara penundaan itu... ?" tanya Siang hujin sambil bangkit dan duduk.

"Tak ada salahnya kalau hujin mengikuti aku lebih dulu pergi meninggalkan tempat ini, bila orang-orang dari organisasi masih berniat untuk membunuhmu maka mereka harus menghadapi aku dan anak buahku lebih dulu."

"Oooh, kau hendak mencari suatu tempat yang sepi dan terpencil, kemudian baru..."

"Benar!" tukas Cu Siau-hong, "untuk melakukan adegan mesra seperti itu, kita tak boleh berbuat secara semberono, paling tidak suasana disekitar tempat itu harus sepi dan nyaman, kita harus bermesraan dulu sebelum melanjutkan ke adegan ranjang..."

"Berapa waktu yang kau butuhkan?" tanya Siang hujin kemudian sambil mengerdipkan matanya. "Sulit untuk dibicarakan, mungkin tiga sampai lima bulan lagi, mungkin juga sepuluh sampai setengah bulan kemudian.."

"Bagaimana kalau kita memberi batas waktu sampai setengah bulan kemudian..." sela Siang hujin.

"Baik, kita tetapkan demikian" Siang hujin segera tersenyum.

"Cu kongcu, sebelumnya akupun harus menerangkan lebih dahulu, sebelum adegan ranjang kita laksanakan, maka rahasia itupun tak akan ku ungkapkan kepadamu."

Cu Siau-hong manggut-manggut.

"Didalam lima belas hari ini, kau harus baik-baik melindungi keselamatan jiwaku" ujar Siang hujin lagi, "mereka tahu kalau aku menguasahi banyak sekali rahasia organisasi rahasia itu, maka dengan segala daya upaya mereka pasti akan membinasakan diriku, seandainya aku sampai mati maka selama hidup jangan harap kau bisa menemukan orang yang mengetahui begitu banyak rahasia seperti aku ini."

"Aku mengerti."

"Kau benar-benar mempercayai aku?" tiba-tiba Siang hujin berbisik.

"Aku percaya apa yang hujin katakan adalah kenyataan semua"

Siang hujin segera menghela napas panjang.

"Aaai.. sewaktu aku masih menjadi dayang dulu, namaku adalah Siau-hong, selanjutnya harap kau jangan menyebut aku sebagai Siang hujin lagi."

"Nona Siau-hong" Siau-hong tersenyum.

"Segera akan kubuktikan kepercayaanku kepadamu!" katanya.

"Baik, akan kubuktikan dengan mata kepalaku sendiri"

Setelah membetulkan rambutnya yang kusut, Siau-hong berseru dengan suara lantang: "Cun hoa, Cun gwat, dimana kalian?"

Dua orang dayang itu mengiakan dan bergegas melangkah masuk kedalam ruangan.

"Bagaimana dengan keadaan luka bocah keparat itu?` Siau-hong segera menegur.

'Racun yang mengeram di dalam tubuhnya mulai kambuh, ia berada dalam keadaan tak sadarkan diri".

"Bopong dia masuk"

Cun gwat mengiakan dan masuk sambil membopong Seng Hong.

"Baringkan dia keatas pembaringan" perintah Siau-hong lagi, "kemari, ada persoalan yang hendak kuberitahukan kepadamu"

Cun hoa dan Cun gwat saling berpandangan sekejap, kemudian dengan wajah keheranan dan tidak habis mengerti mereka menghampiri Siau-hong,

"Cu kongcu ini tidak gampang untuk dihadapi..."

Makin berbicara suaranya semakin rendah, mau tak mau kedua orang dayang itu harus mengulurkan kepalanya untuk mendengarkan.

Mendadak Siau-hong mengayunkan sepasang telapak tangannya bersama-sama menghantam punggung kedua orang dayang itu. Agaknya ia sudah membuat persiapan semenjak tadi, dalam keadaan tak menduga, kedua orang dayang itu terhajar telak hingga nadinya putus seketika, setelah muntah darah mereka lanatas roboh dan binasa.

Diam-diam Cu Siau-hong menghela napas panjang, pikirnya kemudian.

"Budak ini betul-betul berhati kejam, bagaimanapun juga kedua orang perempuan itu adalah dayangnya, tapi nyatanya dia begitu tega untuk melancarkan serangan yang amat keji kepadanya."

Sementara itu sudah berkata sambil tertawa getir. "Walaupun dua orang budak itu merupakan dayangku,

namun dalam kenyataan mereka adalah mata-mata yang ditugaskan mengawasi semua gerak gerikku, daripada rahasiaku terbongkar, terpaksa aku harus melenyapkan mereka dari muka bumi"

Cu Siau-hong tidak berkata apa-apa, dia hanya mengangguk belaka.

Setelah itu, Siau-hong mengeluarkan selembar besi semberani untuk menghisap keluar jarum beracun di tubuh Seng Hong, kemudian ia menjejalkan sebutir pil ke mulut bocah itu dan membebaskan jalan darahnya yang tertotok...

Obar penawar itu benar-benar amat manjur, kasiatnyapun hebat, tak lama kemudian Seng Hong sudah dapat melompat bangun dan duduk.

Sambil tertawa Siau-hong berkata:

"saudara cilik, bagaimana perasaanmu sekarang?"

Seng Hong menatap wajah Siau-hong lekat-lekat, kemudian menjawab dengan dingin. "Mengapa kau menolong aku?" "Karena dia" sahut Siau-hong sambil menuding ke arah Cu Siau-hong.

Seng Hong memandang sekejap mayat Cun Hoa dan Ciu Gwat yang tergelepar di tanah, kemudian memandang pula ke arah Cu Siau-hong.

Melihat sikap anak buahnya itu Cu Siau-hong segera mengangguk.

Pelan-pelan Seng Hong melompat turun dari atas pembaringan, kemudian menarik napas panjang-panjang.

Sambil mengangguk Siau-hong berkata.

"Jarum beracunnya sudah dicabut keluar, sari racunpun telah tawar, asal kau duduk bersemedi beberapa saat, niscaya kesehatan badanmu akan pulih kembali seperti sedia kala."

"Terimakasih hujin"

"Nona Siau-hong, aku rasa anak buah yang kau bawa bukan Cuma dua orang dayang ini saja bukan?" kata Cu Siau-hong kemudian.

"Aku datang dengan membawa banyak orang, kini yang lain masih berada di dalam gua dinding bukit sebelah belakang sana."

"Berapa orang yang berada di situ?" "Sembilan belas orang"

"Lelaki atau perempuan"

"Ada lelaki ada pula yang perempuan"

"Apakah mereka semua adalah orang-orang penting didalam organisasi rahasia tersebut?"

Siau-hong segera menggeleng. "Mereka cuma tahu perkampungan Pek hoa san-ceng, hanya tahu aku seorang dan Siang cengcu yang selalu tampilkan diri di muka umum. Kecuali orang-orang ini, apa yang mereka ketahui sangat terbatas, mungkin mereka dapat merasakan kalau di atas kami masih ada orang yang memberi perintah, tapi mereka tak akan tahu latar belakang dari organisasi tersebut, Kelihayan dari organisasi tersebut terletak pada rahasianya seluk beluk mereka, kendatipun kau berhasil mengobrak-abrik sepuluh cabang mereka, belum tentu dapat mengetahui rahasia yang selengkap nya'

Ia memegang rahasia amat ketat, kedengarannya ia seperti mengungkapkan banyak persoalan, tapi kalau dipikirkan lagi dengan seksama maka apa pun seperti tak didapatkan.

Cu Siau-hong termenung sambil berpikir sebentar, kemudian ujarnya sambil tertawa: "Kalau begitu nona Siau hong adalah terkecuali?.'

"Boleh dibilang begitu" Siau-hong tertawa. "sebab asal usulku jauh berbeda!'

"Padahal, organisasi ini bukannya sama sekali tidak meninggalkan jejak untuk ditelusuri".

"Ooooh, apa yang berhasil kau temukan?"'

"Kutemukan kalau organisasi kalian itu, ada hubungannya dengan soal bebungaan..."

Siau-hong termenung sambil berpikir, lalu sahutnya tertawa.

"Betul, Kau bisa berpikir sampai ke situ, hal mana menunjukkan kalau kau memang hebat."

“Asal titik terang ini sudah kudapatkan, berarti hal-hal yang lain dapat kutelusuri secara pelan-pelan, mula-mula akan kucari dulu tempat-tempat yang ada hubungannya dengan soal bunga, kemudian menyelidiki orang-orang yang masuk keluar disitu, dengan dasar ini aku rasa tidak sulit untuk menemukan apakah mereka punya hubungan dengan dunia persilatan atau tidak.'

"Cu kongcu, caramu itu memang bagus, Cuma mereka pun bisa berubah dengan cepat, dalam semalaman saja kemungkinan besar mereka sudah mengganti seluruh nama yang berhubungan dengan soal bunga itu dengan nama sebutan lain."

"Kendatipun bisa dirubah, tokoh mereka tak bisa merubahnya sehingga sama sekali tidak meninggalkan bekas apapun, asal aku bersedia melakukan penyelidikan, tak mungkin rahasia tersebut tak berhasil kutemukan."

"Waah, soal itu mah sulit sekali, asal mereka sudah merasakan akan hal itu, besar kemungkinan seluruh kekuatannya akan disimpan secara ketat, hal mana berarti akan menyulitkan kalian untuk menemukannya."

"Itulah sebabnya, paling baik kalau hal ini kami peroleh dari mulut nona Siau-hong!"

"Sekalipun kalian melakukan penyelidikan selama dua puluh tahun, belum tentu akan mendapatkan hasil penyelidikan sebanyak apa yang kuketahui, apalagi pada hakekatnya untuk melakukan penyelidikan selama dua puluh tahun"

"Mengapa?"

"Sebab menurut perkembangan yang ada sekarang, tak sampai sepuluh tahun, seluruh dunia persilatan sudah akan berada dibawah kekuasaan mereka, waktu itu masih ada banyak lagi umat persilatan yang tak akan menyadari bawah gerak gerik mereka sudah tidak leluasa lagi." "aah, masa sedemikian hebatnya?"

"Baiklah, kuberikan sebuah perumpamaan saja, organisasi ini ibaratnya sebuah mata rantai, mata rantai yang satu berhubungan dengan mata rantai berikutnya, mata rantai yang bawah hanya mengetahui mata rantai diatasnya, sedangkan yang lain tak akan diketahui olehnya."

Cu Siau-hong segera tertawa.

"Kalau begitu organisasi tersebut seperti ujung dari mata rantai itu, bila ujungnya digerakkan maka seluruh rantai tersebut akan turut bergoncang keras"

"Tidak betul, dia adalah sebuah tangan, bahkan dalam tangannya memegang sebuah kaitan, kaitan itulah yang akan menggerak kan mata rantai tersebut..."

"Waah, kalau begitu jejaknya amat sulit untuk ditemukan."

"Benar! Sekalipun berhasil menemukan mata rantai tersebut dan melakukan penyelidikan satu demi satu terus naik ke atas, namun dia pun dapat menggerakkan kaitan di tangannya untuk mengait mata rantai yang paling belakang untuk disambung dengan mata rantai terdepan, sehingga dikala kau berhasil menyelidiki sampai tingkat terakhir, akan kau temukan bahwa mata rantai tersebut sesungguhnya adalah sebuah lingkaran setan yang tak ada habis-habisnya."

Cu Siau-hong segera manggut-manggut "Kalau begitu kaitan itulah yang harus ditemukan" serunya.

"Tak mungkin, bilamana perlu, diapun bisa membuang kaitan mana dan seandainya sampai begini, apa yang dapat kau temukan?" "Wah sungguh hebat"

"Yang paling penting adalah tangan tersebut, tangan yang memegang kaitan dan aku adalah orang yang berasal dari balik telapak tangan tersebut."

"Yaa, memang tidak banyak, kendatipun aku bukan satu satunya orang yang mengetahui begitu banyak persoalan, namun orang seperti aku tidak akan melebihi dari tiga orang"

'Ooooh..."

"Coba bayangkan sendiri, apakah mereka bertekad akan membunuh manusia semacam aku?"

Terpaksa Cu Siau-hong harus mengangguk membenarkan.

"Oleh sebab itu, sekalipun kau telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk melindungi nyawaku, hal inipun bukan sesuatu yang gampang" Siau hong menambahkan.

“Berbicara dari sudut pandangan lain, setelah kami mempunyai umpan yang demikian baiknya seperti nona, sang ikan baru akan datang untuk menyamber umpan tersebut.”

“Kelewat menyerempet bahaya, menurut apa yang kuketahui, disaat mereka hendak membunuh seseorang, selamanya tak pernah ada yang gagal atau tak mampu untuk dilaksanakan."

"Mereka pun ingin membunuhku, bahkan telah berbagai macam cara, sayang apa yang mereka inginkan tak pernah tercapat."

"Mungkin hal ini berbeda bagimu, pertama karena kau mempunyai  ilmu  silat  yang  sangat  baik,  kedua,  mereka belum mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk membunuhmu, berbeda dengan diriku, aku cukup mengetahui taraf kemampuan yang kumiliki, kekuatan yang kumiliki untuk melindungi diri sendiri sangat lemah, bila harus menggantungkan pada perlindungan kalian, maka hal mana malah akan menambah tak sedikit ancaman bahaya bagiku, seperti misalnya dengan peristiwa barusan, entah mengapa setelah bertemu dengan kau, aku merasa agak terpengaruh emosi cintaku, maka aku tidak menggunakan seluruh jarum beracun untuk melukaimu, padahal kalau aku tega, aku yakin kau tak akan lolos dari ancamanku, kalian tak lebih hanya sepuluh orang, bila kami harus mengorbankan sepuluh jago untuk mendapatkan seorang dari kalian, sudah pasti kalian akan punah tak berbekas, apalagi hal ini memang merupakan rencana mereka yakni berusaha dengan segala kemungkinan agar sesama umat persilatan saling gontok-gontokan dan saling bunuh membunuh sendiri”.

Cu Siau-hong menjadi tertegun, berbicara dengan seorang pandai, lebih unggul daripada membaca buku sepuluh tahun, penjelasan dari nona Siau-hong ini membuatnya mau tak mau harus percaya.

Tindakan semacam itu benar-benar merupakan suatu penggunaan yang tepat dari suatu rencana tingkat tinggi, jauh melebihi rencama hebat dari orang-orang pada jaman sebelumnya.

Sesudah menghembuskan napas panjang, Cu Siau-hong berkata.

"Nona Siau-hong, setelah mendengar perkataanmu itu, mau tak mau aku menaruh tiga bagian persaaan hormat dan kagumku kepada mereka, tapi apa pula sangkut pautnya persoalan ini dengan kitab senjata dan Pena Wasiat... ?" Setelah menghela napas panjang, Siau-hong berkata:

"Terhadap keselamtan jiwaku sendiri, aku telah kehilangan kepercayaan sama sekali, menurut dugaanku, paling banter aku hanya bisa hidup tiga hari lagi, aku hanya berharap sebelum ajal merenggut tiba, aku bisa merasakan sejenak suasana yang riang gembira, sebab itulah suasana gembira yang sesungguhnya dan menjadi milik pribadiku, dan aku hendak mengandalkan suasana gembira yang sesaat itu untuk mengungkapkan rahasia terbesar yang telah mendekam dalam dadaku selama ini, sebab rahasia mana menyangkut suatu kejadian yang akan menggemparkan seluruh kolong langit."

"Nama seorang pendekar akan turun temurun sampai ratusan abad lamanya, sebagai seorang pendekar bukan saja dia harus malang melintang dengan mengandalkan pedang saja, orang-orang yang melindungi keselamatan dunia persilatan pun disebut pula seorang pendekar apalagi kalau dia adalah seorang yang bertobat dan meninggalkan jalan sesat untuk kembali ke jalan yang benar, manusia macam begini lebih-lebih dihormati oleh setiap orang.”

“Nona, kalau toh rahasia besar yang berada dalam benakmu cukup untuk menggetarkan kolong langit dan menyingkap rahasia dunia persilatan, mengapa tidak segera kau ungkapkan keluar"

"Cu kongcu, jangan mencoba menaklukan diriku dengan cara tersebut, mungkin aku memang tidak pantas untuk bermesraan denganmu, akan tetapi hal mana sudah merupakan syarat untuk kita berdua"

"Bila tiap hari mendengar ceramah agama, matipun aku tidak menyesal. Kau sudah dapat berpikir sedalam itu, mengapa pula masih belum bisa melewati soal cinta?"

Siau-hong tertawa getir. "Aku datang dari tempat yang penuh intrik, penuh kemunafikan dan kebejatan moral, terlalu banyak luka batin yang kuderita, selain itu Cu kongcu juga tidak mempunyai hal-hal yang gagah yang bisa menumbuhkan perasaan kagumku, aku kalah di tanganmu karena terpengarun oleh ketampananmu, terpengaruh oleh gejolak napsu birahiku, selama ini aku hanya ingin memenuhi sebuah harapanku yakni aku Siau-hong pun dapat pula bersenang-senang dengan lelaki yang kusukai, dari dulu hingga kini banyak orang gagah yang bertarung gara-gara perempuan, tapi aku memang perempuan tak becus, aku justru menginginkan lelaki tampan untuk menemani aku bermain cinta semalam suntuk..."

'Nona soal ini..." sela Cu Siau-hong.

"Cu kongcu, mengapa tidak berpikir demi diriku? Aku sudah merupakan seseorang yang hampir mati" tukas Siau hong dengan sedih.

Makin berbicara kedua orang itu berbicara semakin blak blakan, Seng Hong merasa kurang leluasa untuk berpikir lebih lanjut, dia segera membalikkan badan dan melangkah keluar.

Cu Siau-hong ingin menghalangi, tapi setelah bibirnya bergetar dia lantas mengurungkan kembali niatnya

Setelah tertawa pedih, kembali Siau-hong berkata:

"Cu kongcu, persoalannya sudah cukup jelas sekarang, bila diributkan lebih jauh sulit rasanya untuk mendapatkan suatu penyelesaian bila kau yakin bisa melindungi ku bawalah aku serta, cuma bila kau tak mampu melindungi secara sempurna hingga aku terbunuh oleh mereka, sulit rasanya bagimu untuk memperoleh kesempatan guna mengetahui rahasia ini lagi. " "Aku pasti berusaha dengan sepenuh tenaga!" Cu Siau hong berjanji sambil tertawa getir.

"Baik, mari kita berangkat, pergi membunuh orang-orang yang kubawa kemari itu”

"Sembilan belas lembar jiwa?"

"Mereka semua telah melakukan banyak kejahatan, sekali pun harus mati juga lumrah, tak perlu menyayangkan buat keselamatan mereka"

'Nona, walaupun orang-orang itu sudah seringkali melakukan kejahatan akan tetapi mereka bukan otak dari pembunuh keji itu, maka daripada membunuh mereka, lebih baik melepaskan mereka saja"

Siau-hong termenung sambil berpikir sejenak, kemudian katanya: 'Baiklah, dalam persoalan ini aku akan menuruti permintaanmu"

"Nona, apakah ditempat ini masih ada tempat lain yang perlu di kenang lagi?" tanya Cu Siau-hong sambil tertawa

Siau-hong menggeleng.

"Sebenarnya ditempat ini masih ada sedikit rahasia, tetapi rahasia tersebut tidak begitu penting untuk dibicarakan denganmu"

"Kalau begitu kita boleh berangkat"

"Sungguh tak kusangka pertarungan kita ini bisa berakhir dalam suasana begini" ujar Siau-hong sambil tertawa getir.

"Aku pernah mengutus tiga orang untuk menguntil kalian."

"Perempuan semua?" jengek Siau-hong sambil mencibir. "Benar!' "Mereka semua memang lihay sekali, sepanjang jalan berhasil menyusul sampai ke sini, cuma sayang mereka tak tahu kalau sepanjang jalan kamipun telah mempersiapkan mata-mata yang mengawasi gerak gerik mereka, maka ke tiga-tiganya berhasil kami pecundangi". 

"Kau telah membunun mereka bertiga?" seru Cu Siau hong dengan perasaan gelisah.

"Tidak"

"Sekarang mereka berada di mana?'"

"Disekap didalam sebuah rumah gubuk di sekitar sini, aku akan segera pergi untuk membebaskan mereka" Seusai berkata dia melangkah keluar dari sana.

Cu Siau-hong tidak turut menyusul dibelakangnya.

Siau-hong melangkah masuk ke dalam sebuah rumah gubuk dan melepaskan Lik Hoo bersaudara.

Bertemu dengan Cu Siau-hong, Lik Hoo sekalian bersama-sama membungkukkan badan memberi hormat, katanya:

"Budak sekalian tak becus, lagi-lagi mesti merepotkan kongcu untuk menyelamatkan kami."

"Bukan kesalahan kalian, silahkan bangun."

Siau-hong memperhatikan Lik Hoo sekalian bertiga sekejap, kemudian tanyanya. "Apakah mereka semua adalah dayang-dayangmu?"

"Mereka ingin disebut demikian dan segan diubah panggilannya."

Setelah berhenti sebentar, dia menyambung lebih lanjut. "Nona, apakah kau kenal dengan mereka bertiga?" Siau-hong menggeleng.

"Mereka berasal dari kebun raya Ban-hoa-wan" Cu Siau hong kembali menerangkan.

"Oooh, mereka adalah Lik Hoo, Ui Bwee dan Ang Bo tan?"

"Betul!"

"Manusia bernilai seratus tahil emas!"

"Manusia bernilai seratus tahil emas? Apa maksudmu?" "Bila berhasil membunuh seorang diantara mereka maka

pembunuh itu akan mengantongi seratus tahil emas murni, dalam organisasi kami ini, selamanya memang tersedia imbalan yang cukup besar bagi setiap pembuat jasa besar"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, kawanan jago lainnya secara beruntun telah datang berkumpul.

Ong Peng sekalian telah melakukan penggeledahan terhadap seluruh bangunan rumah diluar mulut lembah itu, namun tidak berhasil menemukan sesuatu apapun.

Agaknya rumah-rumah yang begitu banyak jumlahnya itu hanya tersembunyi seorang pembunuh untuk menghadapi Hoa Wan.

?oooO)d.w(Oooo?

CU SIAU-HONG telah menurunkan sebuah perintah, dengan sekuat tenaga melindungi keselamatan nona Siau hong.

Ong Peng berhasil merancang sebuah kereta kuda yang sangat istimewa, bagian luarnya dilapisi oleh kain hitam dan diberi lapisan baja, sementara pintu keretanya terbuat dari baja murni. Dibagian luar kulit baja tadi masih diberi pula selapis kulit yang sangat tebal.

Senjata rahasia dalam bentuk apapun, rasanya sulit untuk menerobos pertahanan semacam itu dan menyusup ke dalam ruang kereta.

Untuk merancang serta membuat kereta kuda semacam ini, berikut kerja keras siang dan malam, mereka telah menghabiskan waktu selama tujuh hari lamanya.

Dalam tujuh hari ini, Cu Siau-hong selalu tinggal dikota Lam yang hu ....

Sedang Siau-hong pun mendapatkan perlindungan yang ketat dari segenap kekuatan yang ada disitu.

Siang maupun malam selalu terdapat banyak orang yang mendampinginya, hal mana membuat Siau-hong tidak berkesempatan lagi untuk menagih janjinya dengan Cu Siau-hong.

Sudah barang tentu, hal inipun merupakan suatu tindakan Cu Siau-hong yang sengaja mengatur segalanya itu.

Bukan saja nona Siau-hong menerima perlindungan yang sangat ketat, diapun memperoleh pelayanan yang baik sekali dari Siau-hong.

Agaknya dia ingin mempergunakan pergaulan sebagai persahabatan biasa untuk menghilangkan ingatan napsu dalam hati kecil Siau-hong.

Tidak seperti apa yang diduga Siau-hong semula, selewatnya tujuh hari ia masih dapat hidup dengan segar bugar disana.

Baik Su eng maupun Jit Hou, semuanya telah menaruh rasa  percaya  serta  rasa  hormat  yang  luar  biasa besarnya kepada Cu Siau-hong, apa sebabnya mereka bersikap demikian terhadap Siau-hong.

Pada hari ke delapan, Cu Siau-hong mempersilahkan Siau-hong naik ke atas kereta istimewanya. Kereta itu tidak diatur secara megah dan mewah, akan tetapi  sangat nyaman untuk ditempati. Cu Siau-hong menemani Siau hong di dalam kereta.

Binatang yang menghela kereta istimewa itu adalah empat ekor kuda pilihan yang sangat istimewa, Ong Peng dan Tan Heng bertindak sebagai kusir kereta, diluar kereta masih terdapat dua buah tempat duduk yang ditempati Seng Hong dan Hoa Wan.

Su Eng bertugas membuka jalan, sedang Jit hou bertindak sebagai pemimpin, Seng Tiong-gak dengan membawa Lik Hoo bertiga, sebentar berada di depan sebentar lagi dibelakang melakukan penyelidikan apakah disekitar sana ada hal-hal yang mencurigakan.

Cu Siau-hong mesti berada dalam ruangan kereta bersama-sama Siau-hong, namun mereka tak membicarakan tentang soal dunia persilatan.

Dia ingin menggunakan waktu untuk membuktikan kepada Siau-hong, agar martabat dan harga dirinya sebagai seorang perempuan dapat pulih kembali, diapun berharap agar dia dapat merasakan betapa cantik dan menarik dunia ini.

Begitulah, serombongan mereka meneruskan perjalanannya bersama-sama, sehingga mereka nampak sangat menyolok mata.

Rombongan mereka bagaikan orang-orang dari suatu perusahaan ekspedisi yang melindungi suatu barang mestika yang tak bernilai harganya sehingga mudah menarik perhatian orang banyak.

Rombongan itu sudah berjalan berapa hari, selama inipun tak pernah terjadi suatu peristiwa apapun. Hari ini, kereta mereka mendekati kota Kho Cong.

Situasi yang berada disekitar sana mulai nampak banyak perubahan, sepanjang jalan mereka mulai banyak berjumpa dengan kawanan jago persilatan yang menggembol pedang atau golok, melarikan kudanya cepat-cepat menuju kearah timur.

Bagaimanapun menyoloknya kereta tersebut dan betapa pun besarnya rombongan yang mengawal kereta, ternyata tak seorang manusiapun yang datang mencari gara-gara dengan mereka.

Pada sudut ruang kereta itu dibuat secara khusus sebuah lubang yang khusus digunakan untuk mengintip,  bila lubang khusus itu dibuka maka semua pemandangan yang berada diluar dapat terlihat dengan jelas.

Tatkala Cu Siau-hong menyaksikan orang persilatan yang mereka jumpai makin lama semakin banyak, tak tahan segera tanyanya:

"Nona Siau-hong, sudah kau saksikan orang-orang persilatan itu?'

Setelah melewati suasana tenang yang cukup lama, agaknya Siau-hong telah mengurangi rasa takut dan seramnya terhadap kematian, sikap maupun tindak tanduknya juga pelan-pelan mulai berubah, dia telah merasakan suatu kehangatan dan rasa kasih sayang dari kehidupan manusia normal.

Siau-hong manggut-manggut. "Yaa sudah kulihat!" sahutnya.

"Apakan orang itu semuanya adalah anggota dari organisasimu itu...?"

"Tidak mirip'

Padahal ditengah jalan terdapat banyak sekali jago persilatan yang sedang berbincang-bincang, tapi rombongan mereka itu terlampau besar jumlahnya segingga seringkali kawanan jago persilatan itu berusaha untuk menghindari mereka.

Cu Siau-hong lantas menurunkan perintah untuk membelokkan arah kereta mereka dan menghindari kawanan jago persilatan yang hilir mudik tiada hentinya itu, mereka sengaja melewati jalanan yang sempit dan sepi.

Hari itu, ketika tengah hari telah tiba, sampailah kereta mereka ditepi sebuah sungai. Ditepi sungai berkumpul pula banyak sekali jago persilatam.

Sebenarnya diatas sungai itu terdapat sebuah jembatan batu, tapi entah apa sebabnya tahu-tahu jembatan itu putus jadi dua tempat pada bagian tengah jembatan itu.

'Padahal sungai itu tidak terlampau lebar, hanya arusnya deras sekali...

Ong Peng segera melompat turun dari keretanya. Ditengah sungai terdapat sebuah perahu penyeberang,

perahu itu kecil sekali dan setiap kali hanya bisa memuat dua orang manusia dengan dua ekor kuda.

Tapi jago persilatan yang berdatangan ke tepi sungai itu justru makin lama semakin banyak. Dalam keadaan demikian Cu Siau-hong segera berbisik rendah:

'Aku akan keluar untuk melihat keadaan, harap nona segera mengunci kembali pintu baja ini'. Ternyata pada bagian dalam pintu baja tersebut masih terdapat dua buah santekan yang terbuat dari baja pula.

Ong Peng telah turun dari keretanya, sedangkan Tan Heng masih duduk di depan kereta dan menghadang di muka pintu baja tersebut.

Setelah turun dari kereta, Cu Siau-hong memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, dia saksikan rombongan manusia persilatan yang berkumpul disitu beraneka ragam, ada yang bergerombolan sampai lima orang, ada pula yang berduaan saja.

Mendadak terdengar suara pujian kepada sang Buddha bergema memecahkan keheningan, kemudian muncul serombongan pendeta yang berjalan mendekat

Orang yang berjalan dipaling depan adalah seorang pendeta tua yang berjubah abu-abu, beralis  putih, berjenggot putih dan memakai sepatu kain, meski usianya sudah lanjut, namun langkah kakinya masih cekatan, pada lehernya tergantung seuntai mutiara, dia bertangan kosong dan tidak membawa senjata.

Di belakang tubuhnya mengikuti dua belas orang pendeta, semuanya memakai jubah pendeta berwarna abu abu dan membawa sebuah tongkat sian cang, usianya, rata rata diantara empat lima puluh tahunan.

Walaupun kedua belas orang pendeta itu berwajah lemah lembut dan amat ramah, tapi sekilas pandangan dapat dilihat bahwa semuanya berkekuatan besar, sehingga mendapatkan perasaan yang keren dan ganas.

Cu Siau-hong berpaling dan memandang sekejap ke arah Ong Peng, lalu bisiknya lirih. "Sekawanan pendeta agung ini adalah ...' "Dari kuil Siau lim-si, Lo siansu itu bernama Pak bi taysu, seringkali melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, dia amat termashur namanya dalam dunia dan cukup mencopotkan jantung kawanan pencoleng dari kalangan Liok lim"

"Ke dua belas orang pendeta itu adalah..."

"Mereka mirip sekali dengan ke dua belas orang Lo han dari ruang Tat mo wan kuil Siau lim si'

“Kalau begitu mereka adalah beberapa orang pendeta pilihan dari kuil Siau lim si?"

"Pendeta yang bergabung dalam kuil Siau lim si terbagi dalam banyak tingkatan, setiap ruangan selalu terbagi menjadi ruang bagian atas dan bawah, begitu pula dengan ruang Tat mo wan, bagi orang awam hal mana sulit untuk diketahui sampai jelas, tapi aku pernah mendeagar nama ke dua belas orang Lo han ini, mereka adalah dua belas orang pendeta yang paling hebat di dalam ruangan Tat mo wan"
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 45"

Post a Comment

close