Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 44

Mode Malam
"Kalian berani membunuh orang..." Ong Pengtertawa hambar.

"Mengapa tidak berani? Mereka hendak membunuh kami dan kamipun enggan menyerah kalah dengan begitu saja, tentu saja satu-satunya jalan adalah melawan"

Dari pinggangnya Ciu Congkoan melepaskan sebilah golok pendek, kemudian sambil mempersiapkan diri serunya.

“Tampaknya, terpaksa aku harus turun tangan sendiri" 'Ciu congkoan' jengek Ong Peng sambil tertawa dingin,

"bagaimana kalau siaute menemanimu bermain beberapa jurus?".

Kembali terdengar beberapa kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan keheningan, lima orang pembunuh berikat pinggang merah lagi-lagi roboh terkapar dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Seluruh lantai ruangan itu telah basah oleh genangan darah segar yang memancar ke mana-mana.

Delapan orang pembunuh berikat pinggang sama telah tewas semua diujung golok tujuh harimau, luka mereka semuanya berada diatas tenggorokan.

Cuma satu diantara yang tewas ditangan Tan Heng, lukanya berada di depan dada.

Dari sini terbuktilah sudah bahwa ilmu golok yang diwariskan Cu Siau-hong kepada mereka benar-benar merupakan suaru jurus pembunuh yang amat ganas.

Memandang jenasah dari delapan orang pembunuhnya yang terkapar diatas tanah, diam-diam Ciu congkoan merasa bergidik hatinya, hingga tanpa terasa bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Kelihayan ilmu golok yang dimiliki pendatang pendatang ini sama sekali diluar dugaannya.

Ciu congkoan yang berdiri sambil menggenggam golok tipis hanya bisa termangu belaka, untuk sesaat lamanya dia tak berani berkutik.

Dia cukup mengerti tentang kepandaian yang dimilikinya, betul ilmu silatnya masih lebih tinggi dari pada kepandaian yang dimiliki pembunuh-pembunuh berikat pinggang merah tapi tak mungkin ia sanggup menghadapi musuhnya yang amat tangguh ini.

Terdengar Sik Jit berkata dengan suara dingin:

"Ciu congkoan dihari-hari biasa kau selalu jual tampang dan sok keren, galaknya bukan kepalang, sekarang mengapa kau tidak banyak berkutik? Apa sudah takut' Kemudian sambil berpaling ke arah Ong Peng dia menambahkan:

"Orang ini ganas dan kejamnya bukan kepalang, jumawa lagi paling baik kalau jangan dilepaskan dengan begitu saja"

Mendenger ucapan mana Ong Peng tertawa.

'Ciu congkoan'" ujarnya kemudian" aku merasa sangat heran, perkampungan Pek hoa san-ceng adalah perkampungan hartawan, masa disini bisa muncul delapan orang pembunuh? Hmmm.. hmm.. setelah muncul delapan pembunuh tentunya bukan cuma mereka saja yang ada disini bukan?"

Mengapa tak nampak bala bantuan yang untuk membantu?"

'Segera akan muncul orang disini, jangan kuatir kalian tak akan hidup terlalu lama disini"

"Ciu congkoan" kembali Ong Peng tertawa, 'sekarang ini jam berapa, masih berani amat kau mengucapkan kata-kata sombong semacam ini"

"Cengcu akan segera muncul disini, bila ia sudah muncul jangan harap kalian dapat meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat.."

"Paling tidak, dia sudah tak mungkin sempat menyelamatkan jiwa dari congkoan tayjin lagi!'

"Siapa bilang sudah tak sempat?" mendadak terdengar suara teguran seseorang yang amat dingin berkumandang memecahkan keheningan.

Ong Peng segera berpaling, tampak seorang kakek berusia lima puluh tahunan yang memiara jenggot putih memakai topi hartawan dan mengenakan jubah panjang berwarna biru telah munculkan diri disana. Orang itu berbadan gemuk dan bermuka segar, sekilas pandangan ia memang mirip wajah seorang hartawan.

Kecuali saling berhadapan dalam suasana semacam ini, seandainya kejadian itu berganti ditempat lain dan suasana yang lain, siapa pun tak akan mengira kalau Pek hoa  cengcu yang berwajah alim dan saleh ini, sesungguhnya adalah seorang pentolan dari organisasi pembunuh keji.

Dia berwajah ramah, tapi sekarang suaranya dingin bagaikan es.

Mungkin dihari biasa Pek hoa cengcu ini mempunyai wibawa yang amat besar, maka setelah Sik Jit berjumpa dengan orang ini, sekujur badannya mulai gemetar keras.

Ong Peng memandang sekejap sekeliling tempat itu melihat pertarungan telah berlangsung dan korban pun  telah berjatuhan, dia merasa tak ada perlunya untuk merahasiakan indentitas sendiri.

Setelah tertawa dingin katanya:

`Cengcu, kami telah mencoba kelihayan dari pembunuh pembunuh berikat pinggang merahmu, ternyata orang orang itu tak mampu menghadapi sebuah pukulan. Bila cengcu masih mempunyai wasiat lain atau orang-orang pintar lain, lebih baik keluarkan semua, mumpung sekarang masih ada kesempatan!"

Pek hoa cengcu sama sekali tidak menggubris perkataant ini, dia berpaling ke arah Sik Jit, kemudian menegur:

"Sik Jit, aku memberi sebuah kesempatan lagi bagimu untuk menyelamatkan diri"

"Oya ?"

'Bicara terus terang, orang-orang ini berasal darimana?

Bagaimana bisa mengikat tali hubungan denganmu?' Dia telah melihat jelas, dalam rombongan tersebut kecuali Sik Jit seorang, lainnya bukan centeng dari perkampungan Pek hoa san-ceng.

Sik Jit agak tertegun, kemudian balik bertanya: "Cengcu sungguhkah perkataanmu itu?" "Sejak kapan aku pernah mengingkari janji?"

Ong Peng yang berada disamping segera tertawa, selanya

"Saudara Sik-Jit, seandainya kau memang takut, dan lagi benar-benar percaya kepada cengcumu itu akan mengampuni selembar jiwamu, silahkan kau utarakan hal yang sebenarnya."

'Aku .. aku tidak. begitu percaya" Sik Jit segera berseru.

Pek hoa cengcu menjadi amat gusar, teriaknya sambil menahan geram. "Sik Jit, kau berani tidak mempercayai perkataanku?"

"Ehmn ... maaf cengcu, aku memang tidak mempercayai perkataan dari cengcu." Sekali lagi Pek hoa cengcu mendengus dingin.

"Hmmm, kau berani menghina aku? Aku bersumpah akan menghancur lumatkan tubuhmu menjadi berkeping keping!" ancamnya.

"Cengcu, didalam kenyataan cengcu sudah mengambil keputusan, tak mungkin dia akan mengampuni diriku` kata Sik Jit.

Ong Peng segera tersenyum.

"Saudara Sik, kalian toh kau sudah tahu bahwa Pek hoa cengcu tak nanti akan mengampuni dirimu, mengapa kau tidak bersikap sedikit lebih gagah...?' "Betul! Cengcu, aku rasa kau pun tak usah berlagak garang, aku Sik Jit hanya mempunyai selembar nyawa bagaimanapun dihitung, kau toh tak akan mengampuni jiwa ku, maka aku rasa pertanyaan cengcu pun tak perlu kujawab lagi'

"Bagus!" Bagus sekali!' seru Pek hoa cengcu kemudian, "Sik Jit, tampaknya nyalimu makin lama semakin bertambah besar, biar kubereskan dahulu manusia-manusia ini, kemudian baru kulayani kau secara pelanpelan"

"Siang cengcu, sudah cukupkah engkau berlagak?" tiba tiba Ong Peng menegur sambil tertawa hambar.

"Apa yang hendak kau ucapkan?"

"Saat ini sudah merupakan saat untuk menentukan hidup dan mati diujung golok, aku rasa kau tak perlu berlagak garang dikulti bibir lagi, berapa banyak kepandaian yang kau miliki, silahkan Siang cengcu gunakan semua, sekalipun kau punya kesabaran untuk berceloteh lebih jauh, sayang kami sudah tak sabar lagi untuk memanti lebih jauh."

Mendadak tampak seorang centeng berlari masuk dengan langkah tergesa-gesa, sambil berlari mendekat, orang itu berseru keras:

"Cengcu, ada seorang kongcu hendak menjumpai dirimu".

"Bangsat, sepasang matamu tumbuh dikaki rupanya, tidakkah kau lihat saat ini aku sedang repot?" Siang cengcu meraung gusar, "perduli kongcu dari mana yang telah datang, damprat dia habis-habisan dan usir dia pergi, katakan kalau aku tak ada dirumah"

'Hamba telah berkata demikian, tapi ia tak percaya, malah sudah menyerbu masuk dengan kekerasan" 'Bajingan tempe! Memangnya kalian sudah hampir mampus semua?" Siang cengcu makin gusar, "mulut tak bisa membendung, tangan kalian sudah lumpuh semua..'

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya. "Kongcu macam apakan itu?"

'Seorang kongcu yang lemat lembut, berusia delapan sembilan belas tahunan dan membawa dua orang kacung'

"Ooooh.. dimanakah orangnya sekarang?"

Dari kejauhan sana terdengar suara dari Cu Siau-hong menyambung: "Menjawab pertanyaan cengcu, aku telah masuk kemari"

Sewaktu Siang cengcu berpaling, tampak Cu Siau-hong dengan mengenakan jubah berwarna hijau dan membawa Seng Hong serta Hoa Wan telah melangkah masuk ke dalam halaman rumah."

Kini Cu Siau-hong, Seng Hong maupun Hoa Wan telah pulih kembali ke dalam wajab aslinya.

"Hmmm! Memasuki rumah orang secara paksa, kalau bukan pencuri sudah pasti perampok" jengek Siang cengcu ketus.

"Siang loji, kau anggap rumah ini mirip sebuah rumah pribadi? Huuuh... pada hakekatnya tak lebih hanya sebuah sarang perampok, siasat terbaik untuk membekuk benggolan perampok adalah datang secara mendadak sebelum orang bersiap sedia, soal ini kami sudah mengaturnya secara sempurna, oleh karena itu kau si pentolan bajingan masih harus tetap tinggal di sini saja"

“Siang cengcu" Seng Hong berkata pula, 'kongcu kami adalah orang sekolahan, meskipun sedang mendamprat dirimu, sepotong kata kotor pun tak digunakan..". "Tutup mulut..." tukas Siang cengcu dengan gusar.

"Siang loji" kembali Cu Siau-hong berkata dengan suara dingin, "dalam suasana begini aku rasa kau tak perlu menunjukkan lagak sebagai seorang cengcu lagi, putuskan saja sendiri, mau bertarung sampai titik darah penghabisan, ataukah hendak menyerah saja untuk dibelenggu."

Menyaksikan ke delapan jenasah dari pembunuh berikat pinggang merah yang mati secara mengenaskan, Siang cengcu juga tahu kalau ia telah bertemu dengan mush tangguh, meski segerombol orang-orang muda ini takjelas asal-usulnya, namun mereka terhitung jago-jago yang berilmu tinggi, sedang pemuda yang berdandan kongcu ini nampaknya merupakan pemimpin dari rombongan tersebut, didengar dari ucapannya yang tajam, tak sulit untuk mengetahui bahwa dia bukan seorang manusia sederhana.

Berpikir sampai disitu, dia malah bersikap jauh lebih tenang, setelah menjura katanya sambil tertawa.

"Tepat sekali perkataanmu, rencana kalian memang disusun dengan amat sempurna, sejak perkampungan Pek hoa san-ceng didirikan pada dua puluhan tahun berselang, belum pernah ada orang yang mencurigai diri kami, tapi saudara bukan Cuma berhasil mengungkap rahasia kami, kemampuan kalian ini sungguh membuat hati orang merasa kagum."

"Siang loji, aku tak doyan dengan perkataan semacam itu, bila kau ada persolana silahkan saja diutarakan keluar, asal cocok dengan selera kami, tentu akan kami lakukan"

"Kalian berasal dari perguruan mana? Apakah belum ingin mengungkapkan nama kalian?'

"Kami tak punya nama, tak punya perguruan, aku adalan aku, dan mereka semua adalah anak buahku, kami tidak mempunyai ikatan peraturan suatu perguruan, juga tiada syarat-syarat yang harus kami jaga, kau tak usah menggunakan taktik pertempuran menghadapi kami"

Tergerak juga perasaan Siang cengcu, diam-diam ia berpikir lagi:

"Aduh celaka, dihalus tak bisa, dikeras pun tak dapat, bocah keparat ini benar-benar merupakan seorang manusia yang sukar untuk dihadapi..."

Sementara ia masih termenung, Cu Siau-hong telah berkata: 'Ong Peng, bekuk dulu Ciu congkoan itu`

Ong Peng mengiakan, sambil melompat kemuka dua bilah pisau pendeknya segera diayunkan bersama melancarkan serangan dahsyat ke arah tubuh Ciu congkoan.

Buru-buru Ciu congkoan mengayunkan pula golok emasnya, melepaskan serangan balasan. Dalam waktu singkat, suatu pertarungan yang amat singkat telah berkobar ditengah arena.

"Siang cengcu" kata Cu Siau-hong kemudian, “konon didalam perkampungan Pek hoa san-ceng ini, kau tak lebih hanya dipakai namanya saja, sementara orang yang memegang kekuasaan yang sebenarnya tampaknya bukau kau sendiri "

"Hmmm, nampaknya segala sesuatu tentang kami telah berhasil kau selidiki dengan jelas"

"Sudah datang ke perkampungan kalian, mau tak mau harus mencari info lebih dulu sejelas-jelasnya"

Mendadak terdengar suara jeritan memecahkan keheningan. Dengan cepat Siang cengcu mengalihkan pandangan matanya ke tengah arena tampak Ong Peng sedang mencabut keluar golok pendeknya yang berhasil dihujamkan ke dada Ciu congkoan itu.

Berubah hebat paras muka Siang cengcu.

"Suatu gerakan tubuh yang amat bagus!" serunya tanpa terasa.

Sambil menyarungkan kembali pisaunya ke dalam sarung Ong Peng tertawa sahutnya.

"Bukan aku yang kelewat hebat, sesungguhnya Ciu congkoan dari perkampungan kalianlah yang berkepandaian kelewat rendah"

Untuk sesaat Siang cengcu jadi tertegun berdrti mematung, niat untuk turun tangan semula sudah mencekam dadanya mendadak menjadi luntur dan lenyap.

Sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki Ciu congkoan cukup diketahui olehnya dengan jelas. sekalipun berjumpa dengan jago kelas satu dari dunia persilatan, paling tidak ia masih sanggup bertahan sebanyak tiga lima gebrakan, tapi menurut perhitungannya secara diam-diam, agaknya Ciu congkoan belum berhasil menghadapi sepuluh jurus serangan lawan, berdasarkan dari kenyataan tersebut, bisa dibayangkan betapa hebatnya pemimpin mereka.

Sudah pasti rombongan jago yang muncul dihadapannya sekarang merupakan serombongan jago yang benar-benar lihay, sepasukan tentara sakti yang belum pernah terdengar dalam dunia persilatan.

Sebaliknya Siang loji bisa memimpin perkampungan Pek hoa san-ceng, tentu saja dia pun bukan seorang manusia sembarangan. Dia datang tanpa persiapan apa-apa, hal ini dikarenakan dia terlampau memandang rendah musuhnya.

Ia pun sudah memikirkan kehadiran orang-orang itu kalau toh Khu Piau tak bisa pulang dengan selamat, mengapa anak buahnya justru bisa pulang dalam keadaan sehat walafiat?

Meski timbul juga rasa heran dalam hati kecilnya, tapi dia menyangka hal tersebut dikarenakan orangorang itu takut mati dan melarikan diri dari medan pertempuran.

Maka dari itu, dia lantas memerintahkan kepada Ciu congkoan untuk mempersiapkan jago-jago berikat pinggang merahnya guna membantai mereka.

Namun rupanya dia merasa kurang lega maka ia berangkat sendiri kesitu untuk menyaksikan jalannya peristiwa, tak nyana justru kejadian yang tak terdugalah yang telah terjadi.

Berada dalam keadaan seperti ini, cengcu tersebut benar benar merasa serba salah dibuatnya. Setitik kesalahan menduga berakibat situasi yang gawat dan tak terselesaikan.

Sambil tertawa terdengar Cu Siau-hong berkata:

"Siang cengcu, besar betul lagak perkampungan Pek hoa san-ceng ini, hanya sayang persiapan kurang begitu keras."

Dia maju dua langkah mendekati kehadapan Siang cengcu, lalu pelan-pelan berkata:

Kalau dilihat dari kedudukanmu sebagai seorang kepala kampung, aku rasa kau tentu memiliki suatu kemampuan yang melebihi orang lain, aku pikir kau pasti mempunyai pandangan tak akan melelehkan air mata sebelum melihat peti mati bukan?'

"Maksud saudara... " Siang cengcu tertawa dingin. 'Aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan, tapi aku yakin sebelum mencapai suatu keadaan, mungkin kau enggan memberi tahu jawaban tersebut"

"Ooooh !"

"Oleh karena itu aku hendak bertarung beberapa jurus lebih dulu dengan Siang cengcu, kemudian baru mempersilahkan kepada cengcu untuk mengambil keputusan bersedia atau tidak menjawab pertanyaanku itu"

"Oooh! Jadi kau hendak bertarung?" "Inilah cara yang paling adil"

"Hanya kau seorang, ataukah kalian akan turun tangan bersama-sama?" Cu Siau-hong segera tertawa.

"Hanya seorang, cukup sepuluh jurus "

Sesudah menyaksikan kemampuan Ong Peng didalam membunuh Ciu congkoan tadi, Siang cengcu tak berani bertindak gegabah, katanya kemudian sambil tertawa:

"Baiklah, aku rasa aku adalah tuan rumah yang baik, sudah sepantasnya melayani kehendakmu itu, bagaimana seandainya lohu berhasil menyambut kesepuluh jurus seranganmu itu?"

'Aku akan segera membawa orang-orangku mengundurkan diri dari perkampungan Pek hoa ceng dan tak akan mengganggu seujung rambutmu"

'Bagus sekali, bagus kalau begitu silahkan saudara turun tangan!"

"Seandainya nasibmu kurang beruntung dan kalah ditanganku sebelum sepuluh jurus?”

“Aku rasa hal ini mustahil bisa terjadi!" "Siang cengcu, kau tak lebih hanya seorang pemimpin dari suatu cabang perkampungan lagi pula ditempat ini pun kau tak bisa mengambil keputusan menurut kehendak sendiri, buat apa musti bersusah payah?"

"Kau..."

"Aku mengetahui amat jelas tentang keadaan dan posisimu dalam perkampungan ini, maka kau pun tak usah mencoba untuk membohongi diriku lagi"

"Baik, kau menghendaki lohu berbuat apa?" tanya Siang cengcu kemudian sesudah termenung sejenak.

"Jawab berapa buah pertanyaanku..'

"Apa yang kau ajukan belum tentu kuketahui seluruhnya.."

'Aku tak akan terlalu menyusahkan dirimu, yang kutanyakan pasti merupakan persoalan yang kau ketahui"

"Baik! asa kau sanggup menaklukkan aku dalam sepuluh gebrakan, tampaknya sekali pun tidak kukabulkan permintaanmu itu, hal ini tak mungkin bisa terjadi"

Tangan kanannya segera diayunkan kedepan melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Cu Siau-hong berkelit ke samping, ia tidak bermaksud melancarkan serangan balasan.

Siang cengcu tertawa dingin, sepasang tangannva digerakkan bersama secara beruntun dia melancarkan lima buah serangan berantai.

Kembali Cu Siau-hong berkelit kesana ke mari menghindarkan diri dari kelima serangan tersebut, namun ia belum juga melancarkan serangan balasan .... Siang cengcu makin penasaran, secara beruntun dia melepaskan serangan lagi, dalam waktu singkat enam jurus sudah lewat berarti dari sepuluh jurus yang dijanjikan tadi setengahnya sudah dilewatkan.

Mendadak Cu Siau-hong memutar tangan kanannya kearah kanan, lima jaru tangannya dirapatkan, tahu-tahu sudah mencengkeram pergelangan tangan kanan Siang cengcu.

Begitu lima jari tersebut mencengkeram dengan tenaga, Siang cengcu segera kehilangan kemampuannya untuk melakukan perlawanan, seluruh tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga.

"Sekarang adalah jurus ke tujuh" kata Cu Siau-hong kemudian sambil tersenyum.

Siang cengcu termangu, untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Sudah pulunan tahun lamanya dia berkelana dalam dunia persilatan, belum pernah ia saksikan ilmu Ki na jiu hoat yang begitu aneh, sakti dan mengerikan.

Sesudan menghela napas panjang, akhirnya Siang cengcu berkata: "Ternyata saudara memang benar-benar tangguh!'

"Cengcu, aku ingin bertanya, sebenarnya siapa diantara orang-orang dalam perkampungan ini yang merupakan pimpinan yang sesungguhnya?"

"Tentu saja aku, aku adalah seorang kepala kampung disini"

"Meskipun kau menyebut dirimu sebagai seorang kepala kampung, namun tampaknya kaupun harus mendengarkan perintah orang lain, bukankah begitu ?" 'Apa yang kau ucapkan tadi memang benar, perkampungan Pek hoa ceng tak lebih hanya merupakan salah satu bagian jaringan organisasi kami yang maha besar itu, didalam organisasi yang amat besar itu, aku memang tak lebih hanya seorang manusia yang sama sekali tak punya nama ataupun kedudukan"

'Saudara terlalu merendahkan diri" "Tapi begitulah kenyataan nya"

"Terlepas dari soal organisasi tersebut, kita berbicara soal perkampungan Pek hoa ceng ini, tampaknya diatasmu masih ada seorang yang lebih berkuasa lagi?"

'Omong kosong, darimana kau mendengar berita tersebut?" Siang Cengcu membentak marah.

"Aku tak akan memberitahukan kepadamu darimana berita tersebut kudapatkan, aku hanya ingin tahu, siapakah orang itu?'

Siang cengcu mendengus dingin.

"Hmmmm ! Tak pernah ada kejadian seperti itu, semua persoalan dalam perkampungan Pek hoa ceng ini diputuskan olehku sendiri"

Cu Siau-hong segera tertawa.

"Tentang persoalan ini, rasanya kita tak perlu meributkan lebih dahulu '

"Apa lagi yang ingin kau tanyakan?.'

"Berapa banyakjumlah anggota perkampungan ini?". 'Dari dayang, pelayan sampai centeng, semuanya

mencapai ratusan jiwa.."

Cu Siau-hong segera manggut-manggut, kembali tanyanya: 'Bagaimana cara kalian mendapat perintah?" 'Mendapat perintah...?"

"Seandainya atasan kalian mendadak menyampaikan suatu perintah atau tugas kepada kalian, bagaimana caranya menyampaikan berita tersebut kepada kalian?'

'Dengan menggunakan burung merpati"

Sambil tersenyum Cu Siau-hong manggut-?manggut. 'Hmm...cara lama"

"Semakin tua cara tersebut, biasanya semakin enak dipakai dan biasanya juga lebih manjur"

"Sekarang kau boleh menjawab dua pertanyaanku lagi, kemudian kau pun boleh pergi dari sini"

"Persoalan apa?"

"Tentunya kau mengenal bukan tujuan daripada organisasi kalian ini..?'

Siang cengcu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak, aku tidak tanu, aku benar-benar tidak tahu, kami hanya mengetahui satu hal yakni melaksanakan kewajiban menurut perintah.."

'Baik, kalau begitu katakan saja selama berapa tahun ini apa saja yang telah kalian kerjakan?"

"Pekerjaan apa saja yang dikerjakan, asal dari atasan mengirim perintah kepada kami, kamipun segera bertindak"

Cu Siau-hong segera tertawa.

'Apakah anak buahmu itu diperoleh dengan mencarinya..?'. "Tidak, kami melakukan pendaftaran secara terbuka"

"Sudah berapa tahun perkampungan Pek hoa ceng ini didirikan?"

'Belasan tahun lamanya"

"Kau masih ada persoalan apa lagi yang hendak disampaikan kepada ku ?"

“Tidak ada"

"Baik!' ucap Cu Siau-hong kemudian sambil tertawa, "sekarang kau boleh pergi"

"Kongcu' tiba-tiba Ong Peng berbisik, "orang ini tidak mengatakan apa-apa kepada kita, mengapa kau melepaskan dia dengan begitu saja? Apakah tidak keenakan baginya?”

Seng Hong, Hoa Wan sementara itu sudah berdiri berjajar ditengah jalan menghadang jalan perginya.

Cu Siau-hong segera mengulapkan tangannya seraya berkata:

"'Seng Hong, Hoa Wan, minggirlah biar dia pergi"

Seng Hong dan Hoa Wan segera mengiakan dan menyingkir ke samping.

Siang cengcu segera melangkah pergi dari halaman tersebut menuju ke ruang belakang.

Dengan suara rendah Cu Siau-hong membisikkan sesuatu kepada Ong Peng sekalian, kemudian tergesa-gesa dia menyusul di belakang Siang cengcu.

Dalam pada itu, dalam seluruh halaman perkampungan telah diliputi oleh dengan ketenangan yang luar biasa, Siang cengcu yang sudah berdiam hampir dua puluh tahunan disitu pun turut merasakan keadaan yang sedikit tak beres.

Akan tetapi ia tak bisa menerangkan dimanakah letak ketidak beresan tersebut.

Dia adalah seorang kepala kampung, tentu saja ia cukup memahami semua persiapan serta penjagaan yang diatur dalam halaman-halaman perkampungannya.

Dia mengerti, dari tempat tersebut sampai di ruang dalam, sepanjang jalanan itu paling tidak terdapat tujuh delapan buah tempat penjagaan untuk menghadang kejaran musuh.

Oleh karena itulah ia sama sekali tidak menegur ataupun mempersoalkan masalah Cu Siau-hong yang mengejarnya dari belakang.

Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali diluar dugaannya, sepanjang perjalanan hingga ke halaman belakang, ternyata tak seorang manusia pun yang munculkan diri melakukan penghadangan.

Begitu juga ketika ia memasuki ruang tengah dihalaman belakang, belum nampak juga seorang manusia pun yang menghalangi jalan perginya.

Tak tahan Siang cengcu berpaling dan memandang sekejap ke belakang, ia saksikan Cu Siau-hong dengan membawa ke dua orang bocah pedangnya masih saja mengikuti di belakangnnya

Diatas meja terletak pula secarik kertas yang berbunyi begini:

"Bila kau menginginkan kematian yang lebih nyaman, minum  saja  arak  dalam  cawan  arak  dalam  cawan,  arak tersebut beracun jahat dan bisa segera memutuskan nyawamu, kau akan mati tanpa merasakan penderitaan apa-apa, sebaliknya bila kau menginginkan kematian yang lebih gagah, lebih jantan, gunakan saja pisau belati itu."

"Pisau tersebut sangat tajam dan bisa menembusi dadamu dan memutuskan denyutan jantungmu, bisa pula memutuskan lehermu agar kematianmu lebih gagah, lebih perkasa."

Dibawahnya tercantum tanda tangan: Istrimu.

Seorang istri ternyata meninggalkan sepucuk surat yang berisikan kata-kata semacam itu buat suaminya, bisa dibayangkan suami istri macam apakah mereka itu.

Siang cengcu benar-benar tertegun dibuatnya. Pelan-pelan Cu Siau-hong berjalan mendekatinya.

Dibelakang anak muda tersebut mengikuti pula Seng Hong dan Hoa Wan, dua orang kiam tong. Pelan-pelan Siang cengcu membalikkan badan, lalu berkata:

"Apakah kalian sudah tahu kalau mereka sudah lama pergi dari sini."

"Tidak tahu" sela Cu Siau-hong, "tapi aku rasa Siang cengcu tak lebih hanya seorang boneka yang diperalat orang lain saja"

"Kalian..."

"Kami tak lebih hanya mempunyai pikiran begitu." Tukas Cu Siau-hong cepat, "dan kau sendirilah yang akan membuktikan benar atau tidaknya pendapat kami itu."

"Dan sekarang, aku telah membuktikannya" kata Siang cengcu kemudian sambil tertawa getir.

Cu Siau-hong tertawa. "Siang cengcu, apakah kau bersedia merubah jalan pikiranmu?"

"Apanya yang dirubah? Mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya bagiku"

"Persiapan apa?" "Itu ! "

Sambil menjawab Siang cengcu mengambil arak dalam cawan dimeja dan meneguknya sampai habis. Sungguh keras sekali bekerjanya racun dalam arak tersebut, begitu diteguk jiwanya lantas melayang.

Menanti paras muka cengcu telah berubah menjadi hijau membesi, Cu Siau-hong baru menyadari kalau keadaannya tidak beres dengan cepat ia mencengkeram tubuh Siang cengcu ?, saat itulah dia baru tahu kalau orang tersebut sudah putus nyawa.

Pelan-pelan Cu Siau-hong melepaskan cengkeramannya, lalu menghembuskan napas panjang. "Aaaai, sayang terlambat selangkah"

"Kongcu, aku rasa mereka belum pergi terlalu jauh, mari kita lakukan pengejaran' seru Seng Hong berbisik.

"Tak mungkin bisa terkejar, lebih baik undang mereka datang, ingat kita harus melindungi Sik Jit sebisa mungkin, jangan membiarkan dia sampai mati terbunuh."

Seng Hong membungkukkan badan dan memberi hormat, kemudian meninggalkan tempat itu. Tak selang beberapa saat kemudian, Ong Peng sekalian telah muncul dalam ruangan tersebut.

Cu Siau-hong segera menurunkan perintah untuk melakukan penggeledahan dan penca?ian secara besar besaran. Akan tetapi semua orang telah mengundurkan diri dari perkampungan tersebut, selain harta kekayaan berupa emas, perak, barang lain yang tak sempat terbawa, hampir semua jejak atau tanda bukti telah lenyap tak berbekas.

Menyaksikan hal tersebut sambil menghela papas panjang Ong Peng berkata.

"Kongcu, kecuali sejumlah harta kekayaan, tiada sesuatu apapun yamg berhasil kami temukan.'

Cu Siau-hong turut menghembuskan napas panjang. "Walaupun mereka cukup cepat mengundurkan diri dari

sini, paling tidak kedatangan kita pun memperoleh suatu hasil yang sangat besar"

"Hasil apa?"

'Hoa (bunga)... kita sudah tahu kalau organisasi tersebut ada hubungannya dengan huruf Hoa tersebut, itu berarti kita bisa melakukan penyelidikan dengan menggunakan data tersebut.”

Ucapannya diutarakan amat santai dan enteng, seakan akan terhadap kepergian orang-orang tersebut dari perkampungan Pek hoa ceng tak dipikirkan ke dalam hati.

Ong Peng yang menyaksikan kejadian itu diam-diam berkerut kening, pikirnya:

"Kalau dilihat dari ketenangan dan kesantaian kongcu, jangan-jangan ia sudah mempunyai persiapan atau rencana lain?"

Sementasa dia masih berpikir, Cu Siau-hong telah berpaling dan memandang sekejap ke arah Sik Jit, kemudian ujarnya sambil tertawa:

"Saudara Sik, kesemuanya itu sudah kau saksikan?" Panggilan "saudara Sik" tersebut kontan membuat Sik Jit terkejut dan tersipu-sipu, buru-buru serunya: "Hamba telah menyaksikannya"

"Nah, semua harta kekayaan yang masih tertinggal disini boleh kau ambil semuanya."

Sik Jit agak tertegun, kemudian serunya, "Kongcu, sungguhkah perkataanmu itu?"

Cu Siau-hong tertawa.

"Tempat ini tempat mana, dan saat ini saat apa?

Mengapa aku mesti membohongi dirimu?' "Kongcu,. aku....aku. "

"Sebenarnya kau boleh saja mengikuti kami" tukas Cu Siau-hong cepat, "tapi kemungkinan besar kami akan berjumpa lagi dengan mereka dikemudian hari, bila mereka sampai melihat dirimu lagi, sudah pasti kau tak akan dilepaskan dengan begitu saja, dan alangkah baiknya kau ambil sebagian dari uang emas dan perak tersebut, lalu mencari suatu tempat yang aman, mengganti nama dan melanjutkan hidupmu dengan aman tenteram!"

"Budi kebaikan kongcu tak akan hamba lupakan untuk selamanya, tapi aku percaya mereka tak akan melepaskan aku dengan begitu saja."

"Tentu saja mereka tak melepaskan dirimu, tapi bagi pandangan mereka, kau pun bukan seorang tokoh yang amat penting, meski mereka tak akan melepaskan tapi mereka pun tak akan mempergunakan banyak tenaga dan waktu untuk mencarimu, Asal kau bisa menjauhi mereka, untuk melanjutkan hidup aku rasa masih besar sekali kesempatannya"

Mendadak Sik Jit menjatuhkan diri berlutut ke atas tanah, kemudian sesudah menyembah satu kali kepada Cu Siau-hong, ujarnya.

"Sekarang hamba baru dapat melihat jelas mana orang baik, mana orang jahat, mana kuncu dan mana siaujin, ternyata satu sama yang lain terdapat perbedaan yang begitu besar.

"Ambilah uang tersebut dan cepatlah kabur sejauh jauhnya dari sini, mumpung saat ini mereka masih belum punya waktu dan kesempatan untuk mencari dirimu, cepatlah pergi"

Setelah mengambil sejumlah uang Sik Jit segera berlalu dari tempat tersebut.

Memandang bayangan punggung Sik Jit yang menjauh, Ong Peng menghembuskan napas panjang, ujarnya:

'Kongcu, benarkah kau akan melepaskan dirinya dengan begitu saja?"

"Bukankah dia telah melakukan banyak perbuatan jahat?"

“Benar, orang ini merupakan orang yang terjahat diantara pembunuh-pembunuh tersebut"

“Ong Peng, dalam alam semesta ini terdapat suatu kekuatan maha besar yang mengontrol perbuatan manusia, siapa yang berbuat kejahatan ia pasti akan memperoleh ganjarannya, tak usah kuatir, dia pasti tak akan lolos dari pembalasan tersebut"

"Kongcu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" bisik Ong Peng kemudian.

"Sekarang kita harus mencari akal untuk mengangkut sisa emas dan perak yang masih tertinggal disini, harta kekayaan tersebut merupakan harta yang tak halal, kita jangan    menyia-nyiakan    dengan    begitu    saja,    setelah kumpulkan harta tak halal tersebut, kita segera mengundurkan diri dari perkampungan Pek hoa ceng ini"

Ong Peng mengiakan, dia segera membalikkan badan dan berlalu dari tempat itu. Memandang Seng Hong dan Hoa Wan yang berada disisinya, kembali Cu Siau-hong berkata:

"Coba kalian cari, apakah ditempat ini terdapat tempat yang digunakan untuk memelihara burung merpati"

Seng Hong dan Hoa Wan mengiakan, mereka pun membalikkan badan dan berlalu dari situ.

Setelah Seng Hong dan Hoa Wan berlalu pelan-pelan Cu Siau-hong berjalan masuk kedalam ruangan tidur.

Ruang tidur itu di atur dengan sangat mewah dan megah, selain pembaringan dengan kelambu sutera, kaitan emas, dindingnya di tutupi dengan kain tirai putih sedang lantainya ditutupi dengan permadani kuning.

Cu Siau-hong memperhatikan sekejap sekeliing tempat itu, kemudian pelan-pelan berjalan kemuka sebuah almari kayu.

Almari tersebut dengan cepat dibuka, Isi almari itu adalah pakaian yang ber tumpuk-tumpuk.

Dengan cepat Cu Siau-hong menyingkirkan pakaian pakaian itu, benar juga ia segera menemukan sebuah pintu rahasia.

Pada dasar almari kayu itu terdapat lapisan papan yang tebal, ketika papan tebal itu disingkap maka muncul sebuah lorong rahasia yang tembus hingga kebawah sana.

Lobang gua itu besarnya lebih kurang setengah kaki dan cukup untuk diterobosi oleh tubuh seorang manusia, Tak selang berapa saat kemudian, Ong Peng sekalian telah muncul kembali disitu. Seng Hong dan Hoa Wan juga muncul dengan membawa seekor burung merpati.

?oooO)d.w(Oooo?

SAMBIL tertawa Cu Siau-hong segera menuding ke arah mulut lorong itu sambil berkata: 'Dari sinilah mereka melarikan diri"

"Tempat ini hanya bisa dilalui beberapa orang saja, padahal jumlah manusia yang berada dalam perkampungan Pek hoa ceng ini tidak sedikit'.

"Sekarang duduknya persoalan sudah jelas, rupanya jauh hari sebelumnya mereka telah menyiapkan jalan untuk mengundurkan diri, asal perintah diturunkan atau tanda rahasia dilepaskan mereka dapat segera mengundurkan diri dari sini"

"Kongcu, apakah jauh sebelumnya mereka telah bersiap siap untuk mengundurkan diri?"

Cu Siau-hong menghela napas panjang, "Aaai, disinilah letak kehebatannya" demikian ia menerangkan, "kita masih menyangka diri kita amat pintar dan cekatan, siapa tahu segala sesuatubya telah berada dalam perhitungan orang lain, perangkap dari ciu congkoan, kemunculan dari Siang cengcu kesemuanya itu jelas diatur orang untuk memberi kesempatan waktu yang cukup bagi mereka untuk mengundurkan diri, hal mana membuktikan kalau mereka sudah lama mendapat berita tentang kehadiran kita."

"Kongcu, kita harus melakukan pengejaran dengan segera, tampaknya mereka belum pergi terlampau jauh"

Cu Siau-hong tersenyum. "Sekalipun hendak dikejar juga tak sempat lagi katanya."

"Kongcu apakah kau sudah mempunyai rencana lain yang jauh lebih matang.?"

Cu Siau-hong tidak menanggapi pertanyaan tersebut, sebaliknya menjawab.

"Sekarang kita boleh berangkat bukan?" "Yaa, boleh" sahut Ong Peng.

Dia membalikkan badan dan segera berlalu dari situ.

Cu Siau-hong tidak mengikuti dibelakangnya langsung meninggalkan perkampungan Pek Hoa ceng.

Begitu keluar dari pintu perkampungan, Cu Siau-hong segera berebut untuk berjalan dipaling muka, dia memimpin beberapa orang itu menuju ke tengah sebuah hutan.

Cu Siau-hong memperhatikan sekejap se keliling tempat itu, mendadak ia berjalan menuju kebalik semak belukar dan mengambil beberapa stel pakaian yang kumal, lalu ujarnya sambil tertawa.

"Nah, sekarang kita harus berganti pakaian kumal.

Tampaknya Cu Siau-hong telah mempersiapkan segala sesuatunya, dengau cepat ia telah mengubah anak buahnya menjadi beraneka ragam manusia.

Cu Siau-hong sendiri masih tetap membawa Seng Hong dan Hoa Wan berjalan di paling depan

Sementara orang Ong Peng sekalian membagi diri dalam tiga kelompok, masing-masing mengenakan pakaian yang berbeda, corak yang berbeda dan tanda rahasia yang berbeda pula berangkat berpencar. Cu Siau-hong menyamar sebagai seorang pelajar setengah umur yang tidak lulus ujian sedangkan Seng Hong dan Hoa Wan menyamar sebagai dua orang anak desa.

Agaknya Cu Siau-hong mempunyai sesuatu maksud tertentu, setiap kali berjalan suatu jarak tertentu, dia selalu berhenti dan memeriksa keadaan disekitarnya.

Tak lama kemudian mereka sudah menempuh perjalanan sejauh belasan li lebih.

Arah yang ditempuh pun aneh sekali, mereka hanya berputar-putar sekitar bukit itu

Hampir sebagian besar mereka lalui padang ilalang yang lebat serta batuan cadas yang berserakan. Akhirnya tibalah mereka di muka sebuah lembah bukit.

Bukit itu sesungguhnya tidak terlampau besar, lagi pula keadaan situasinya juga tidak berbahaya, selain itu bukit mana terkenal sebagai daerah penghasil batu kumala sehingga tak sedikit pekerja pencari batu kemala yang membanting tulang disitu.

Lembah tersebut justru merupakan salah satu tempat penghasil batu kemala yang terpenting.

Oleh karena itu diseputar mulut lembah terdapat banyak sekali rumah gubuk tempat kawanan pekerja itu berpondok.

Tapi jelas terlihat, pada waktu itu seluruh pekerja sedang membanting tulang didalam lembah. Cu Siau-hong menemukan tanda rahasia tersebut menunjukkan ke arah dalam lembah tersebut.

Dari depan mulut lembah, secara lamat-lamat dapat didengar suara orang mencangkul dan memukul batu. Seng Hong serta Hoa Wan dengan cepat telah menyusul tiba, mereka lantas berbisik. "Kongcu, adakah sesuatu yang mencurigakan?"

'Menurut petunjuk rahasia yang tertera disini agaknya mereka telah memasuki lembah tersebut. "Kongcu, mengapa kau tidak langsung masuk kesitu dan memeriksanya sendiri?"

'Lembah ini merupakan tempat penggalian batu kemala, sekarang agaknya sedang waktu orang bekerja, semestinya tidak mungkin orang-orang perkampungan Pek hoa ceng mengundurkan diri kedalam lembah ini'

"Hamba telah memeriksa keadaan situasi diseputar sini" kata Seng Hong, "semestinya jarak dari perkampungan Pek hoa ceng sampai disini tidak terlampau jauh, tadi mereka berputar dulu satu lingkaran besar sebelum sampai ke mari, mungkin hal ini sudah mereka persiapkan sebelumnya"

Cu Siau-hong manggut-manggut.

"Benar, sepintas lalu tempat ini nampaknya tidak rahasia, padahal lembah ini aman sekali tiada orang yang bisa melepaskan diri dari pengawasan para pekerja yang sedang bekerja di kedua belah sisi bukit, jelas tempat ini merupakan sebuah perangkap"

"Betul! Sudah pasti sebuah perangkap"

"Tapi, perduli tempat ini sebuah perangkap atau bukan, kita harus memasukinya dan melihat keadaan'

"Biar aku yang menemani kongcu masuk, sedang Hoa Wan tetap tinggal dimuka lembah sambil menunggu kehadiran mereka"

"Kalau toh rahasia kita tak terjamin ke utuhannya, mengapa kita tidak masuk dengan cara terang-terangan?" Tak lama setelah kedua orang itu berjalan masuk, pintu sebuah rumah bambu lebih kurang dua kaki dari sana terbuka secara tiba-tiba.

Kemudian nampak sesosok bayangan manusia menerjang keluar bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dan langsung menyergap bahu belakang Hoa Wan.

Menghadapi sergapan ini, serta merta Hoa Wan membalikkan badan sambil melepaskan sebuah tusukan.

"Traaaang ...!" diiringi bunyi getaran yang keras, pisau tajam orang itu kena dipentalkan oleh tangkisan pedang Hoa Wan.

Orang yang melancarkan sergapan itu adalah seorang pemuda yang baru berusia tujuh belas tahunan, dia mengenakan baju ketat berwarna abu-abu.

Pakaian yang dikenakan sewarna dengan batuan cadas diseputar sana, sehingga bila dia bersembunyi dibelakang batu, sulitlah bagi orang lain untuk mengetahuinya.

Gagal dengan tusukannya itu, pemuda berbaju abu-abu itu segera meloloskan sebilah pedang pendek dari sakunya.

Dengan cepat suatu pertarungan sengit berlangsung, sambaran pedang bacokan golok dengan cepat memenuhi seluruh angkasa.

Tampaknya dia sangat kuatir kalau Hoa wan sampai membentak atau bersuara keras, maka dia ingin menggunakan serangan kilat untuk membinasakan Hoa Wan.

Siapa tahu Hoa Wan sama sekali tidat berteriak, dia hanya memperketat pertahanan dengan lebih banyak bertahan daripada melancarkan serangan balasan.. Dalam kenyataan Hoa Wan sendiripun mengerti, didalam rumah gubuk yang begitu banyak diseputar sana, kemungkinan besar bersembunyi banyak sekali jago-jago tangguh yang siap melancarkan sergapan.

Andaikata ia sampai membunuh pemuda berbaju abu abu itu dalam sekali tusukan, niscaya peristiwa itu akan berakibat datangnya keributan yang lebih besar dari musuh musuhnya.

Maka dari itu, dia tidak terburu-buru ingin meraih kemenangan. Apalagi Ong Peng sekalian pun tak lama lagi akan tiba di sana....

Dalam waktu singkat pertarungan telah berlangsung tiga puluh gebrakan lebih, namun kedua belah pihak sama-sama mempertahankan posisi seimbang, tiada yang menang tiada pula yang kalah.

Lama kelamaan pemuda berbaju abu-abu itu yang tidak sabar paling dulu, tiba-tiba tegurnya: "Bocah keparat, pandai amat mengendalikan perasaan."

Hoa Wan tertawa.

"Hal ini dikarenakan kepandaian silatmu masih kelewat cetek, sehingga aku tak usah repot-repot mencari bala bantuan"

'Hmmm. sekarang, sekalipun kau undang mereka, tak mungkin mereka akan balik kembali!'

"Tanpa kedatangan mereka pun tidak sulit bagiku untuk membereskan kau, sebab hal itu hanya membutuhkan sebuah ayunan tanganku belaka ....

Seraya berkata permainan pedangnya segera diperketat dan ia mulai melancarkan serangan balasan. Dalam melepaskan serangan balasan ini, Hoa Wan telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya. serangan pedangnya selain dilepaskan dengan kecepatan luar biasa, juga mempergunakan jurus serangan yang tangguh dan dahsyat.

Jurus serangan pemuda berbaju abu-abu yang sebenarnya amat dahsyat itu, secara tiba-tiba saja tertekan dan sama sekali tak berkutik, dengan susab payah dia menahan lima buah serangan berantai dari Hoa Wan, tapi tusukan yang keenam tak berhasil dihinari, sebuah tusukan maut menembusi tenggorokannya secara telak, tak ampun tubuhnya segera terjerembab ke tanah dan tewas seketika.

Selesai menghabisi nyawa pemuda berbaju abu-bau itu, Hoa Wan segera melintangkan pedangnya di depan dada sambil bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Menurut perhitungannya semula, setelah ia membinasakan pemuda berbaju abu-abu itu, sudah pasti kawanan jago lainnya akan munculkan diri dan mengerubutinya, dan orang-orang itu sudah pasti akan munculkan diri dari balik rumah gubuk dan bangunan disekitarnya.

Namun kenyataan yang berada didepan mata sekarang sama sekali diluar dugaannya, dari balik bangunan rumah gubuk disekitar tempat itu sama sekali tidak terjadi sesuatu gerakan apapun..

Setelah menanti sekian waktu, tiba-tiba Hoa Wan berseru dengan suara lantang:

"Hei, dengarkan baik-baik, sekarang kita sama-sama sudah bentrok secara kekerasan, masing-masing pihakpun sudah saling berjumpa muka, kalian tak usah main sembunyi lagi macam cucu kura-kura" Teriakan tersebut diutarakan berulang kali, akan tetapi tiada jawaban yang kedengaran.

Usianya memang tidak besar, akan tetapi memiliki pengalaman dunia persilatan yang luas dengan kecerdasan yang mengagumkan, dia tidak melakukan penggeledahan terhadap rumah-rumah bambu dan rumah gubuk disekitar sana, sebaliknya malah memilih sebuah sudut buntu dekat dinding bukit, dalam posisi seperti ini kendatipun diserang oleh musuh, bagaimanapun tangguhnya ia tak usah menguatirkan datangnya sergapan lagi dari arah belakang.

Jangan dilihat usianya masih sangat muda, tapi nyalinya cukup besar, orangnya teliti, tenang dan tabah dalam menghadapi setiap perubahan yang kemungkinan terjadi.

Dalam pada itu Cu Siau-hong dengan membawa Seng Hong telah masuk ke dalam lembah bukit, sesudah berjalan sejauh sepuluh kaki dan membelok pada sebuah tikungan, tiba-tiba pemandangan alamnya berubah.

Tampak pada kedua belah sisi dinding bukit tersebut terdapat empat lima puluhan orang pekerja yang sedang mengayun palu dan sekop mencangkuli tanah dan membongkar batu gunung.

Palu besi dan batu cadas yang saling membentur, segera menimbulkan suara gemerincing yang sangat nyaring.

Menyaksikan kemunculan Cu Siau-hong dan Seng  Hong, ada sebagian dari pekerja disana yang menghentikan peralatan kerja mereka dan mengalihkan sorot matanya ke arah kedua orang itu.

Cu Siau-hong segera berbisik lirih.

'Hati-hati sedikit, kawanan pekerja itu amat mencurigakan" Seng Hong manggut-manggut, diam-diam dia menghimpun tenaga dalamnya bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Mendadak muncul dua orang pekerja, sambil membawa alat lau mereka, orang-orang itu menegur.

"Kalian berdua adalah..."

"Kami adalah pelancong yang sedang berpesiar, tanpa terduga kami telah sampai disini, bila mengganggu pekerjaan kalian, harap sudi dimaafkan" tukas Cu Siau hong cepat.

Pekerja itu segera tertawa.

"Besar amat perhatian kalian berdua dengan pemandangan alam disekitar sini, cuma setelah sampai disini kalian harus berhenti'

"Oooh, kenapa?" tanya Seng Hong, "tapi tempat ini bukan suatu daerah terlarang?'

"Memang bukan daerah terlarang, tapi didepan situ merupakan tembat kami menyimpan batu-batu kemala hasil galian, rasanya kurang leluasa bagi orang luar untuk mendekati tempat itu, jadi kami harap kalian berdua sudi memakluminya"

Kembali Seng Hong tertawa. "Sobat adalah "

"Aku Li Wan, mandor dari pekerja disini" 'Oooh, rupanya mandor Li, maaf, maaf"

"Tak usah sungkan-sungkan, tempat penyimpanan batu kemala hasil galian itu hanya terdiri dari beberapa buah rumah gubuk, dan lagi kecuali penghasil batu kemala, tempat  ini  hanya  merupakan  sebuah  bukit  gersang, tiada pemandangan alam yang bisa dilihat, bila kalian berdua ingin melihat, terpaksa melihat orangorang ini bekerja saja'"

Seng Hong berpaling, ketika dilihatnya Cu Siau-hong tidak berniat menghalangi perbuatannya, keberaniannya segera meningkat.

"Mandor Li" serunya kemudian, "disiang hari bolong begini, sekalipun maksud kami untuk mencuri, rasanya tak nanti akan kami curi bongkahan batu yang begitu berat, apa lagi kami sudah sampai disini, sudah sepantasnya kalau kami tinjau sampai didalam situ"

"Saudara cilik, hal ini sukar diluluskan, lebih baik urungkan saja niat kalian berdua itu"

"Hukum masih berlaku disini atau tidak?"

"Tentu saja berlaku, kami adalan rakyat kecil yang hidup secara wajar, tentu saja kami memegang teguh masalah hukum'

"Bagus sekali kalau begitu, kalau toh di tempat ini masih berlaku soal hukum, rasanya kami boleh masuk kedalam sana bukan?"

"Saudara cilik, meski usiamu muda, tampaknya watakmu benar-benar keras kepala!' tegur Li Wan tiba-tiba dengan ketus.

"Yaa, begitulah'.

"Pokoknya tak boleh masuk"

"Kau bukan seorang yang menuruti hukum"

"Anggap saja bukan" jengek Li Wan sambil tertawa dingin, "Sekarang kalian berdua boleh urungkan niat kalian itu" Seng Hong mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

'Haaahhh...haahhh... haaahhh... tidak sedikit tempat yang pernah kami kunjungi, banyak pula keadaan yang kami hadapi, kau anggap lembah sekecil ini pun benar benar bisa membuat kami ketakutan setengah mati"

"Hanya ada satu cara bila kalian berdua ingin bersikeras masuk juga kedalam"

"Harap kau tunjukkan cara apakah itu?" kata Seng Hong dingin.

'Bunuh kami semua"

"Bunuh kalian? Hei, apa-apaan kalian itu? kami semua toh bukan pembunuh yang berdarah dingin"

"Bila kalian hendak masuk dan mencuri batu-batu kemala kami, kejadian itu akan berakibat lebih mengerikan daripada membinasakan kami semua.'

Seng Hong segera tertawa terbahak-bahak.

'Haaahhh... haaahhh... haaahhh... mandor Li, itu namanya mencari menangnya sendiri, sudah terlalu banyak yang kulihat, sekalipun kalian hendak menghalangi kami dengan cara begini juga percuma, niscaya kalian akan kecewa akhirnya"

Paras muka Li Wan berubah hebat, mencorong sinar beringas dari balik matanya, dengan suara dingin ia menegur:

"Cara inipun tak bisa jalan terpaksa aku harus menggunakan cara yang terakhir!"

"Oooh, masih ada cara terakhir? Bagaimana cara mu itu?' "Cara yang teraktir itu adalah aku membunuh kalian"

'Ehmmm..itulah cara yang sebetulnya kalian inginkan, cuma diantaranya masih terdapat sebuah syarat yang penting sekali artinya, yakni kalian harus mempunyai cara untuk membinasakan kami'.

'Membunuh orang rasanya bukan suatu pekerjaan yang terlampau sukar, walaupun kami tak pernah membunuh orang, tapi untuk mengayunkan palu besi ini keatas kepala kalian rasanya bukan suatu cara yang terlampau sukar"

"Yang menjadi persoalan justru bila ayunan palu itu meleset hingga nyawa sendiri turut melayang" kata Seng Hong sambil tertawa.

Li Wan tertawa dingin.

"Kami tak lebih hanya pekerja penggali batu, nyawa kami tak ada harganya, tapi bila nyawa tuan berdua yang sampai celaka waktu itu ..'

"Sudah selesaikah permainan sandiwara kalian?" mendadak Cu Siau-hong turut menegur.

'Belum" Li Wan mendengus dingin, "asal kalian tidak bersedia mengundurkan diri dari lembah ini, permainan kami tetap akan dilanjutkan"

Dalam pada itu, semua pekerja tambang batu kumala sudah menghentikan pekerjaan masing-masing dan pelan pelan mengurung kedepan.

Paras muka Cu Siau-hong tetap dingin dan serius, serentak dia berseru lantang.

"Seng Hong, bunuh!"

Seng Hong mengiakan dan segera mencabut keluar pedangnya. Diantara kilatan cahaya tajam tampak percikan darah segera memancar kemana-mana, seketika itu juga dua prang pekerja yang berjalan di paling muka roboh ke atas tanah.

Gerakan pedang dari Seng Hong itu kelewat cepat, sedemikian cepatnya sampai kedua orang pekerja itu tak sempat mengangkat palunya masing-masing untuk menangkis.

Tapi justru dengan kedua serangan tersebut, segera muncul suatu suasana lain, segenap pekerja yang berada disitu dengan cepat bergerak ke empat penjuru dan membuat sebuah barisan yang tangguh untuk menghadapi lawan.

Barisan mana amat beraturan dengan disiplin yang tinggi, jelas dibentuk dengan suatu latihan yang amat ketat dan matang.

Seng Hong tertawa dingin, serunya:

"Heeehhh... heeehhh... heehhh... akhirnya ekor si rase kelihatan juga."

Sambil menggerakkan tangan kanannya, sekali lagi dia melancarkan sebuah tusukan. Dua buah palu baja segera meluncur datang bersamaan waktunya.

"Traaangg...” sebuah tangkisan yang tajam segera membendung datangnya ancaman pedang itu. bersamaan itu pula, barisan tersebut mulai berputar.

Sambil tertawa Seng Hong segara berkata:

"Rupanya kalian semua adalah jago-jago yang terlatih.! '

Pedangnya diputar kemudian maju sambil melancarkan serangan. Tampak cahaya tajam berkilauan memenuhi seluruh angkasa, kemudian terdengarlah suara gemerincing nyaring suara beradunya senjata.

Seng Hong memutar pedang dengan suatu gerakan cepat, dalam waktu singkat ia sudah melancarkan empat lima puluh buah serangan kilat.

Akan tetapi posisinya masih tetap berada ditempat semula.

Meskipun kepandaian silat yang dimiliki para pekerja tersebut tidak terhitung lihay, namun pergeseran barisan mereka kian lama kian bertambah cepat, manusia disusul manusia, sambaran palu diikuti sambaran lain, maka walaupun Seng Hong sudah melancarkan puluhan buah tusukan namun tetap gagal untuk maju selangkahpun, dia pun tak berhasil melukai seorang lawannya.

Dengan kening berkerut Cu Siau-hong segera berkata: "Seng Hong, mundur!"

Seng Hong menarik kembali pedangnya sambil mengundurkan diri ke belakang.

Kemudian pelan-pelan Cu Siau-hong mencabut keluar pedangnya sambil maju menyongsong", ujarnya dingin:

'Dengarkan baik baik, barisan kalian memang bagus, namun tingkatan ilmu silat yang kalian miliki masih termasuk keroco dan sama sekali tak ada artinya, aku tak ingin membunuh kalian, paling baikjika kalian segera menyingkir dari sini"

Sementara itu Li Wan sudah berdiri ditengah barisan, dengan suara lantang dia berteriak:

"Semut yang berjumlah banyak saja bisa menggigit mati seekor gajah, apalagi hanya dua orang manusia seperti kau? Hmmm, sekalipun Kalian punya tiga kepala enam buah lengan pun belum tentu bisa menerjang keluar dari barisan ini"

"Baiklah, membunuh sebelum dijelaskan merupakan suatu tindakan yang rendah dan terkutuk, kini aku sudah membicarakan persoalan tersebut dengan sebaik-baiknya, bila kalian tetap enggan menyingkir, jangan salahkan kalau pedangku tak mengenal ampun"

Tangan kanannya segera bergerak dan.. 'Weess!" ia sudah melancarkan sebuah bacokan kilat.

Sedangkan Cu Siau-hong sendiri juga tidak melanjutkan serangannya setelah berhasil melukai empat orang dan menyumbat gerakan dari ilmu barisan lawan.

Doa buah palu baja segera meluncur datang dari arah samping dan

"Traaangg...!" sudah menggetarkan pedang tersebut. Dengan suara dingin Cu Siau-hong segera berkata. "Hmmm, tampaknya sebelum melihat peti mati kalian

tak akan melelehkan air mata"

Sementara ia berbicara, pedangnya sudah ditarik kembali dan kemudian secara beruntun melancarkan dua belas buah serangan berantai.

Ke dua belas serangan itu dilancarkan sedemikian rupa sehingga hampir mirip dengan sebuah serangan yang dilancarkan bersamaan waktu.

Dipandang dari kejauhan sana yang terlihat hanya bayangan cahaya yang berkilauan.

Empat orang pekerja roboh tergelepar di tanah dengan lengan kanan sebatas pergelangannya putus jadi dua. Rupanya barisan tersebut bergerak menurut peraturan yang telah ditentukan, dengan terlukanya ke empat orang tersebut, serta merta perputaran barisan itupun menjadi terganggu.

Seng Hong segera manfaatkan peluang ini dengan sebaik-baiknya, sambil memutar pedang ia menyerbu ke dalam arena.

Diantara perputaran jurus pedangnya, dalam waktu singkat lima orang sudah terluka oleh tusukan.

Kontan saja semua gerakan operasi barisan mana terbengkalai, tak selang berapa saat kemudian menjadi hancur berantakan tak ada wujudnya lagi ....

Permainan pedang Seng Hong makin bertambah gencar dan dahsyat, sekejap mata kemudian kembali ada belasan orang terluka.

Dari empat puluhan orang yang ikut bertempur, sudah ada separuh bagian diantaranya yang terluka.

Dengan berlangsungnya pertempuran sengit ini, bukan saja mereka berhasil melukai orang-orangnya, juga memunahkan keberanian orang-orang tersebut untuk melanjutkan pertarungan.

Sisa jagoan yang masih hidup dan selamat berbondong bondong mengundurkan diri kesamping.

Hanya cukup mengandalkan pedang dari Seng Hong saja begitu barisan musuh terhadang dia segera membantai para pekerja tersebut dengan gampang dan leluasa, tak heran kalau manusia bergelimpangan di mana-mana.

"Seng Hong, berhenti" tiba-tiba Cu Siau-hong berbisik. Seng Hong, segera menghentikan gerakannya dengan melintangkan pedangnya didepan dada lalu maju kedepan lebih dulu.

Sementara Cu Siau-hong telah menyarungkan kembali pedangnya semenjak tadi.

Sedangkan puluhan orang pekerja tersebut meski masih menggenggam senjata namun tiada seorang pun diantara mereka yang berani maju untuk melakukan penghadangan.

Dengan cepatnya Cu Siau-hong telah memasuki lembah tersebut.

Tampak belasan buah rumah gubuk dibangun secara bersanding dikejauhan sana.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 44"

Post a Comment

close