Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 42

Mode Malam
Thi Long menghembuskan napas panjang, lalu berkata sambil tertawa:

"Cu Siau-hong persoalan semacam itu tidak terlalu penting, bertarung didalam keadaan seperti ini, yang terpenting adalah tempat kedudukannya sekarang kami telah merebut tempat yang paling strategis, betul jumlah anak buahmu lebih banyak, namun mereka toh tak akan bisa turun tangan bersama-sama"

Cu Siau-hong manggut-manggut. "Benar sungguh tak kusangka kau adalah seorang pemimpin yang amat berotak!"

?oooO)d.w(Oooo?

"CU CENGCU terlalu memuji ucap", Thi Long.

Sementara itu, ke empat lelaki berbaju hitam itu telah meloloskan senjata sambil menghadang di muka pintu ruangan perahu.

Sedangkan Thi Long dan ke tiga orang lelaki berbaju hitam itupun sudah melakukan pengepungan terhadap Cu Siau-hong.

Suasana dalam ruangan perahu masih tetap tenang, seakan-akan diatas perahu tersebut tinggal Cu Siau-hong seorang.

Sambil tertawa dingin Thi Long segera berkata: "Tampaknya orang-orang dari perkampunganmu amat

tenang dan pandai menguasahi diri"

"Bila sudah tiba pada saatnya untuk menampakkan diri, mereka akan menampakkan diri dengan sendirinya"

Sekali lagi Thi Long tertawa dingin.

"Begitupun baik juga, sekarang kami akan membersskan dirimu lebih dulu, kemudian baru membereskan mereka"

Kemudian setelah berhenti sejenak, bentaknya: "Serbu!"

Tiga orang lelaki berbaju hitam dengan tiga bilah golok lengkungnya secepat sambaran petir melepaskan bacokan ke muka.

Cu Siau-hong tertawa dingin dengan cepat dia menggerakkan tangan kanannya melakukan tangkisan. "Traanng, traaang, traaang...?" suara benturan nyaring yang memekikkan telinga segera berkumandang memecahkan keheningan.

Cu Siau-hong telah mengerahkan tenaga dalamnya yang sempurna untuk menangkis ke tiga serangan golok lawan dalam sekali ayunan senjata ....

Kali ini dia telah mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya, hal mana dilakukan tak lain karena ingin mengetahui sampai dimanakah taraf kepandaian yang dimilikinya sekarang.

Dari si Dewa pincang Ui Thong, ia sudah mempelajari kepandalan sakti untuk menambah tenaga dalamnya, dan kepandaian tersebut telah dipelajarinya dengan seksama.

Akan tetapi bagaimanakah hasil dari kemampuan yang dipelajarinya itu kurang dipahami olehnya, maka didalam serangan pedangnya yang keras melawan keras ini, ia telah mencoba untuk mencari tahu sampai dimanakah kemampuan yang dimilikinya.

Alhasil dalam sekali getaran pedangnya, tiga bilah golok lengkung lawan telan berhasil dibendung dengan segera hasil semacam ini, baginya boleh dibilang cukup memuaskan.

Akan tetapi ketiga orang manusia berbaju hitam itu segera maju sambil melancarkan serangan lagi, golok lengkungnya diputar menciptakan selapis cahaya tajam yang menyilaukan mata.

Bukan cuma begitu malah datangnya serangan tersebut dari empat arah delapan penjuru.

Dengan suatu gerakan cepat Cu Siau-hong menggunakan serangkaian ilmu pedang yang besifat cepat untuk balas menghadapi serangkaian serangan gencar lawan. Tiga bilah golok dengan melebur menjadi satu kekuatan, dengan cepat menciptakan serentetan cahaya golok yang tebal dan rapat.

Tapi Cu Siau-hong tidak menyerah kalah dengan begitu saja, dengan cepat pedangnya pun melancarkan pula serentetan cahaya bintang yang berkilauan.

Dengan demikian antara golok lengkung dan pedang mestika itu terciptalah selapis cahaya tajam yang menyilaukan mata.

Sebetulnya Thi Long menaruh kepercayaan yang besar terhadap kemampuan ketiga jago goloknya, semula dia berharap bisa melukai Cu Siau-hong dalam dua tiga puluh gebrakan.

Akan tetapi begitu pertarungan berkobar Thi Long segera merasa agak kecewa.

Dia sama sekali tak menyangka kalau ilmu pedang yang dimiliki Cu Siau-hong telah mencapai puncak kesempurnaan yang begini hebatnya, bahkan disertai pula dengan tenaga dalam yang begitu sempurnanya.

Walaupun serangan demi serangan yang dilancarkan ke tiga orang jago golok itu hebat, kemampuan mereka untuk mengepung lawan pun amat tangguh, akan tetapi serangan mereka itu tak pernah berhasil meraih setitik kemenangan pun.

Tanpa terasa Thi Long mulai meraba golok lengkung yang berada dipinggangnya, kemudian dengan cepat menggenggam gagang golok tersebut dan meloloskannya dari sarung.

Setelah menghembuskan napas panjaug, dia memperdengarkan  suara  pembicaraan  yang  sangat  aneh, sekalipun Cu Siau-hong tahu kalau dia sedang berbicara, namun tidak diketahui apa yang sedang di bicarakan

Tapi dengan cepat Cu Siau-hong menjadi paham apa gerangan yang dia bicarakan, sebab ke tiga orang jago golok itu segera mengundurkan diri ke belakang.

Golok lengkung yang dipergunakan Thi Long jauh berbeda dengan senjata yang dipergunakan rekan-rekannya, golok tersebut tampaknya jauh lebih panjang daripada keadaan biasa.

Tiga orang manusia berbaju hitam lainnya sama sekali tidak mengundurkan diri, mereka masih tetap berada di sekeliling tempat itu.

Setelah mengayunkan golok lengkungnya, Thi Long segera berkata:

"Cu cengcu, kau memang lihay sekali, tampaknya terpaksa aku harus turun tangan sendiri untuk menghadapi dirimu"

'Kali ini, kau baru meloloskan golok lengkungmu" kata Cu Siau-hong kemudian.

Thi Long tidak berbicara lagi, pelan-pelan dia mengangkat golok lengkungnya dan berjalan menuju ke arah yang berkebalikan dari Cu Siau-hong.

Entah apa yang menjadi maksud tujuannya, akan tetapi Cu Siau-hong tak berani bertindak gegabah. Thi Long berjalan hingga ke sisi geladak mendadak ia membalikkan tubuhnya.

Diantara ayunan golok lengkungnya, tercipta selapis cahaya tajam yang berkilauan, tubuhnya pun mengikuti gerakan golok tersebut meluncurkan kembali.

Tiga bacokan maut yang benar-benar sangat lihay. Ternyata gerakan golok yang dimiliki Thi Long jauh berbeda dengan gerakan golok yang dimiliki orang-orang berbaju hitam itu.

Cahaya golok tampak berkembang semakin luas ditengah babatan kilat yang malang melintang, kemudian tercipta selapis kabut golok yang tebal dan menggulung kesana.

Gerakan Jian bong it tiong (seribu mata pedang berkumpul satu) ternyata merupakan kebalikan dari gerakan golok dari Thi Long, sebab segenap tenaga dalam dan hawa pedang seolah-olah terhimpun menjadi satu titik.

Cahaya pedang dengan cepat menembusi kabut golok yang tebal.

Ditengah serentetan suara bentrokan senjata yang amat nyaring cahaya golok maupun hawa pedang bersama-sama lenyap tak berbekas.

"Blaaammm, blaaammm!" dua sosok tubuh terjatuh dari tengah udara.

Kalau didengar dari suara benturan sewaktu terjatuh diatas geladak, dapat diketahui kalau kedua orang itu sudah kehilangan kemampuannya untuk mengendalikan diri.

Untung saja ke dua orang itu sama-sama dapat mencapai permukaan tanah dengan sepasang kaki menempel di tanah terlebih dahulu.

Bagian dada dan sepasang lengan Cu Siau-hong telah terkena bacokan golok sehingga terluka, darah segar bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.

Tampak ayunan golok lengkung dari Thi Long telah berhasil melukai banyak tempat di tubuhnya. Tapi Cu Siau-hong sendiri pun berhasil pula menghadiahkan sebuah tusukan ke tubuh lawan, ini dapat dilihat dari darah yang menetes keluar dari ujung pedangnya.

Sementara itu, Thi Long dengan tangan kanan memegang golok lengkung, tangan kiri memegang dadanya berdiri tegak ditemprat semula, sekulum senyuman menghiasi wajahnya, senyum yang amat rawan, Ujarnya kemudian:

'Sungguh sebuah serangan pedang yang sangat lihay."

Ketika tangannya diangkat, darah segar segera menyembur keluar dengan gencarnya. Darah menyembur sejauh berapa depa dan mengenai seluruh badan Cu Siau hong.

Sebuah tusukan pedang yang menembusi ulu hati, ketika Thi Long menyelesaikan kata-kata pujian itu, tubuhnya roboh terkapar diatas tanah...

Memandang Thi Long yang tergeletak, di atas geladak, tiga orang lelaki berbaju hitam itu bersama-sama berpekik aneh, kemudian melompat ke tengah udara.

Tiga bilah golok dengan kecepatan luar biasa langsung menyerang ketubuh Cu Siau-hong.

Sekalipun sekujur badan Cu Siau-hong penuh dengan luka, tampaknya luka yang dideritanya tak lebih hanya luka dikulit luar saja.

Dia masih mempunyai kekuatan untuk menghadapi serangan, pedangnya segera di ayunkan ke muka mencintakan selapis kabut pedang untuk melindungi badan

..... To ko bu seng (golok lewat tanpa suara) Kian Hui seng bagaikan seorang ahli pengasah pedang yang cekatan, dengan ilmu goloknya yang lihay dia telah menggali seluruh rahasia pedang yang terpendam dalam dada Cu Siau-hong dan berhasil mengasah sebilah pedang yang tajam, membuat Cu Siau-hong dalam waktu yang amat singkat berhasil mencapai suatu tingkatan yang luar biasa.

Ditengah suara dentingan senjata yang amat ramai Cu Siau-hong berhasil menembusi serangan gabungan dari tiga orang itu.

Tampaknya tiga orang manusia berbaju hitam itu telah menggunakan segenap kepandaian yang dimilikinya untuk melancarkan serangan, begitu mencapai permukaan geladak, mereka segera mempersiapkan sebuah sergapan lagi.

Tapi Cu Siau-hong segera manfaatkan peluang yang sedikit itu untuk bertindak cepat, dengan membawa kecepatan gerak yang luar biasa, secepat kilat dia melancarkan sebuan serangan balasan.

Jeritan ngeri yang menyanyatkan hati segera berkumandang memecahkan keheningan, seorang lelaki berbaju hitam kena terpapas pinggangnya sehingga kutung menjadi dua bagian.

Kecepatan tersebut merupakan suatu kecepatan gerak tubuh yang luar biasa sekali, bahkan membawa semacam kekuatan serangan balasan yaag penuh dengan perubahan.

Membunuh satu orang tanpa mengurangi kekuatan gerakan pedang itu sendiri, benar-benar merupakan sesuatu yang luar biasa. Nampaklah hawa pedang yang dingin dan dahsyat itu dengan cepat mendesak ke dua orang manusia berbaju hitam lainnya harus menyingkir kesamping.

Diatas terjadinya perubahan tersebut, mendadak dari ruang tengah, ruangan belakang menerjang keluar jit hou, su-eng serta kedua orang kiam tong '

Sergapan bersama dari empat penjuru yang dilancarkan secara tiba-tiba ini dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Sebetulnya orang berbaju hitam itu memang tak sempat untuk melejit sambil mengembangkan permainan golok lengkungnya, tak ampun kalau tubuhnya segera terjerumus ke dalam kepungan.

Kematian dari Thi Long membuat kawanan pembunuh berbaju hitam itu merasakan suatu pukulan dan beban yang amat berat di dalam hal semangat, seakan-akan mereka sama sekali telah kehilangan daya kemampuannya untuk mempertahankan diri.

Jit hou, Su eng masing-masing mengeluarkan jurus serangan yang amat tangguh untuk melakukan penyerangan, tidak sampai sepuluh gebrakan kemudian, tiga orang lelaki berbaju hitam telah roboh binasa diujung golok dan pedang mereka.

Tak usah Cu Siau-hong turun tangan, dua orang lelaki berbaju hitam lainnyapun ikut binasa dibawah kerubutan kedua orang bocah pedang dan tiga orang dayangnya.

Serangan yang dilancarkan serentak dan pada saat yang bersamaan ini benar-benar mendatangkan suatu hasil yang gemilang.

Pada dasarnya, kawanan lelaki berbaju hitam itu belum lagi     mengeluarkan     segenap     kepandaian     silat   yang dimilikinya, tahu-tahu orangnya sudah tewas diujung senjata dan terkapar diatas genangan darah..

Di dalam pertarungan ini, kecuali Cu Siau-hong yang menderita beberapa luka bacokan, lainnya tiada yang terluka lagi, bantuan mereka berhasil membasmi pembunuh-pembunuh bergolok lengkung yang sudah malang melintang selama hampir tiga tahun lamanya di daratan tionggoan.

Seng Hong dan Hoa wan telah menyarungkan kembali pedangnya, kemudian sambil menghampiri Cu Siau-hong, bisiknya lirih.

'Kongcu, parahkah luka yang kau derita?" "Masih untung hanya luka luka diluar badan saja'

Walaupun hanya luka diluar badan namun yang parah mencapai satu hun lebih dalamnya, darah telah membasahi seluruh tubuhnya apalagi luka yang diderita cukup banyak.

Sudah barang tentu penderitaan semacam ini merupakan suatu penderitaan yang amat menyiksa. Dengan suara lirih Lik Hoo lantas berkata:

'Kongcu, silahkan masuk ke dalam ruangan perahu, budak akan memberi obat pada luka-luka kongcu itu"

Cu Siau-hong mengalihkan sorot matanya ke depan, di jumpainya ke empat buah sampan kecil itu sudah mengundurkan diri dari sekitar sana, malah bayangan mereka sudah lenyap tak berbekas.

Di dalam ruangan perahu telah disulut dua batang lilin raksasa, suasana menjadi terang benderang. Dengan berhati-hati sekali Ang Bo tan melepaskan pakaian yang dikenakan oleh Cu Siau-hong. Diatas kulit badannya yang halus, kini sudah malang melintang bertambah dengan lima enam buah bekas bacokan yang dalam.

Darah segar masih saja jatuh bercucuran dari mulut lukanya. Dengan kening berkerut, Lik Hoo segera berkata.

"Kongcu, luka yang diderita parah sekali."

"Aaai... pertarungan yang telah berlangsung tadi benar benar merupakan suatu pertarungan yang amat seru, pembunuh-pembunuh yang berasal dari wilayah See ih itu memang betul-betul memiliki ilmu golok yang luar biasa sekali"

"apakah mulu lukanya masih terasa sakit" tanya Ang Bo tan.

"Jika daging disayat pisau, mengucurkan darah lagi, siapa yang mengatakan kalau hal mana tidak sakit? Cuma, rasa sakit semacam ini masih sanggup kutahan"

"Aaah... bikin hati orang turut sakit saja" bisik Ui Bwee lihir.

Cu Siau-hong segera tertawa.

"Kalau begitu, cepatlah bubuhkan obat itu diatas mulut lukaku itu" katanya.

Meskipun orang ini pemberani, cekatan dan amat cerdas, namun diapun romantis dan pandai menikmati hidup.

Tampak dia memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di dalam pelukan Ui Bwee.

Agar si anak muda itu bisa bersandar dengan nyaman diatas tubuhnya, Ui Bwee segera membuat suatu gerakan dan kemudian tak berani bergerak lagi.... Untuk sesaat ke tiga orang nona itu menjadi repot sekali dan masing-masing, sibuk dengan urusan masing-masing.

Ang Bo tan mengambil air hangat dan dipakai untuk menyeka noda-noda darah di sekitar luka Cu Siau-hong.

Lik Hoo mengambil kotak obat dan membubuhkan obat tersebut diseputar luka..

Sepintas lalu tampaknya pekerjaan Ui Bwee paling enteng, sebab dia hanya berdiam diri dan membiarkan Cu Siau-hong bersandar diatas tubuhnya.

Namun di dalam kenyataan, justru dialah yang paling payah.

Gerak gerik ke tiga orang dayang itu sangat enteng dan lincah, namun pekerjaan yang mereka lakukan dilakukan sangat lamban tapi amat cermat.

Di dalam pertarungan yang berlangsung tadi, bukan saja Cu Siau-hong telah mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya, diapun telah menggunakan segenap kekuatan dan pikiran yang dipunyainya.

Oleh karena itu, Cu Siau-hong merasa lelah sekali.

Sementara ketiga orang dayang itu sibuk membalut lukanya, Cu Siau-hong telah mengendorkan sama sekali semangatnya.

Tanpa terasa diapun tertidur nyenyak.

Ketika bangun dari tidurnya, semua luka dibadan telah dibalut, tiga orang perempuan itu sedang berada disekeliling tubuhnya.

Ang Bo tart sedang mengambil sebuah selimut untuk ditutupkan ke atas tubuh Cu Siau-hong. Semua gerak gerik ketiga orang perempuan dilakukan amat pelan, kuatir membangunkan Cu Siau-hong.

Setelah Cu Siau-hong bangun, dia segera mendengar suara dengusan napas orang yang tersengkal-sengkal, ketika ia berpaling maka dijumpai Ui Bwee sudah bermandikan keringat.

Dia menghembuskan napas panjang, lalu bangun dan duduk, tanyanya"

"Sekarang sudah jam berapa?"

"Kongcu, tidurmu nyenyak sekali, mungkin sudah satu jam lamanya, akibatnya ji-ci tak berani bergerak barang sedikitpun” bisik Ang Bo tan.

Waktu itu Ui Bwe sedang mengambil secarik saputangan untuk menyeka keringat di badan, mendengar perkataan itu segera serunya...

"Sam moay, hanya urusan kecil saja, buat apa musti kau bicarakan lagi”.

Lik Hoo yang sedang melayani Cu Siau-hong berganti pakaian segera berseru sambil tertawa:

"Coba lihat tingkah laku kalian dua orang budak, selama kita mengikuti kongcu, baru kali ini menyumbangkan sedikit tenaga buat kongcu, tapi kalian sudah berkaok-kaok duluan, apakah tidak kuatir ditertawakan oleh kongcu?"

'Toa-ci, apakah kau tidak melihat, posisi dari jici tadi seperti telah menggunaklan seluruh tenaga yang dimilikinya, selama satu jam dia tak berani menggerakkan badannya barang sedikitpun juga..'

"Kalau begitu, aku benar-benar telah merugikan Ui Bwee" sela Cu Siau-hong tiba-tiba, "tanpa bergerak selama satu jam memang lebih lelah daripada melangsungkan suatu pertarungan sengit"

"Kongcu tidak seberapa lelah" kata Ui Bwe sambil tertawa merdu.

Sementara itu, dari pintu ruangan terdengar seseorang mengetuk pintu.

'Masuk!" kata Cu Siau-hong.

Pintu ruangan segera terbuka, pelan-pelan Seng Hong berjalan masuk kedalam, katanya. "Kongcu diluar ruangan telah di siapkan hidangan-hidangan, silahkan kongcu bersantap'

“Baik, aku memang sedikit merasa agak lapar'

Hidangan kali itu dilahap oleh anak muda tersebut dengan penuh kenikmatan

Sementara ia masih bersantap. Cu Siau-hong merasakan perahunya sedang pelan-pelan bergerak kedepan

Merasakan hal itu, Cu Siau-hong memandang sekejap kearah Seng Hong yang menjaga pintu, kemudian tegurnya:

"Perahu ini sedanig bergerak maju?"

"Benar, Seng ya yang memutuskan akan hal ini" "Oooh, kita hendak ke mana?"

"Silahkan kongcu bersantap dahulu, selesai bersantap nanti Seng ya akan memberikan laporan sendiri kepada kongcu"

'Sekarang aku telah selesai bersantap, silahkan dia masuk kedalam ruangan"

Seng Hong segera membungkukkan badan memberi hormat, kemudian mengundurkan diri dari situ. Tak selang berapa saat kemudian Seng Hong telah mengajak Seng Tiong-gak berjalan masuk kedalam ruangan.

Cu Siau-hong segera beranjak dari tempat duduknya sembari berseru:

"Susiok, silahkan duduk!'

Seng Tiong-gak membungkukkan badannya memberi hormat, kemudian baru mengambil tempat duduk.

Hal ini menunjukkan kalau kedua orang ini sama-sama mempunyai kedudukan yang seimbang. bila dipandang dari sudut pandangan yang lain, maka diantara kedua orang itu masing-masing mempunyai suatu kedudukan tersendiri yang lebih tinggi daripada lainnya..

"Menurut laporan Seng Hong, konon kau yang telah menurunkan perintah agar perahu ini berjalan?" kata Siau hong kembali.

"Benar, tempat berlabuh perahu ini sudah bocor dan diketahui pihak lawan, aku kuatir kalau mereka akan mempergunakan siasat licik untuk mencelakai kita, oleh sebab itu akupun menitahkan kepada mereka agar menjalankan perahu ini"

Cu Siau-hong segera tersenyum.. "Susiok memang sangat lihay"

"Tidak berani. !"

"Susiok sekarang kita hendak pwrgi kemana?"

"Dalam hal ini aku belum menganbil keputusan, aku hanya membiarkan perahu ini bergerak saja diatas sungai."

"Oooh, kecuali untuk menghindarkan diri dari penyergapan mereka, apakah kau masih mempunyai maksud tujuan lainnya?" "Ada, aku menemukan seandainya kita mempunyai sesuatu gerakan tindak lebih lanjut, maka naik perahu jauh lebih leluasa daripada bergerak diatas daratan"

“Ehmm, ada benarnya juga perkataanmu itu, sekarang kita harus pergi ke mana"

"Soal ini, lebih baik cengcu saja yang mengambil keputusan"

"Apakah mempunyai suatu petunjuk?"

"Aku pikir, cengcu amat cerdas dan memiliki kemampuan yang melebihi orang lain, sudah pasti kau mempunyai sesuatu usul lain, Tapi berbicara soal usulku, aku memang mempunyai suatu pendapat yakni kita harus berusaha untuk bergerak dari tempat kedudukan yang terang ke dalam posisi yang gelap"

"Betul, betul sekali!"

"Paling tidak cara ini bisa menghincarkan kita dari pengawasan pihak lawan sehingga setiap saat pihak lawan dapat mengirim orang untuk mencelakai kita, menghadapi kita."

"Ucapan susiok memang benar, Siau-hong memahaminya"

Seng Tiong-gak segera bangkit berdiri, ujarnya:

"Kalau memang begitu, aku ingin mohon diri lebih dulu"

"Silahkan" sahut Cu Siau-hong sambil membungkukkan badan memberi hormat. Seng Tiong-gak segera beranjak dan meninggalkan tempat itu.

Memandang bayangan punggung Seng Tiong-gak, Cu Siau-hong termenung beberapa saat, tiba-tiba serunya:

"Seng Hong!" “Hamba siap disini!" sahut Seng Hong sambil membungkukkan badannya memberi hormat.

"Sampaikan perintahku, agar perahu dijalankan secepat cepatnya, bila sudah berada lima puluh li dari sini, beri laporan lagi kepadaku."

Seng Hong mengiakan dan segera berlalu.

Perahu layar yang sebetulnya bergerak lamban, tiba-tiba saja mempercepat geraknyadan meluncur ke depan.

Beberapa saat kemudian, Seng Hong muncul kembali dengan langkah cepat sembari berkata: "Lapor kongcu, perahu telah berada lima puluh li!"

Cu Siau-hong manggut-manggut, dia lantas berjalan keluar dari ruangan perahu.

Mendongakkan kepalanya, tampak ombak menggulung di tengah sungai, banyak sekali perahu yang hilir mudik disana.

Semenjak dahulu kala, sungai tersebut memang sudah merupakan urat nadi yang menghubungkan kota perdagangan satu dengan lainnya, hingga tak heran kalau banyak sekali perahu yang berlalu lalang disekitar tempat tersebut.

Sambil bergendong tangan, Cu Siau-hong berdiri diatas geladak, perasaannya bergolak tak menentu, sambil mengawasi sungai dengan air yang deras, lama sekali dia berdiri termangu.

Tiba-tiba muncul sebuah sampan kecil yang meluncur datang secepat sambaran petir dan langsung menerjang ke atas perahu besar itu.

Para kelasi yang berada diatas perahu rata-rata merupakan pelaut nomor satu dari perkumpulan Pay-kau. Kepandaian mengemudikan perahu yang mereka miliki boleh dibilang sudah amat tinggi, serentak mereka bekerja keras dengan membelokkan kemudinya sedapat mungkin, serta merta perahu tersebut bergerak miring ke samping...

Sementara itu Cu Siau-hong telah menyaksikan pula tindakan yang dilakukan sampan kecil itu terhadap perahunya, dia mengerti bahwa orang itu tidak bermaksud baik terhadap mereka.

Melihatnya memang sudah, tapi untuk Sesaat anak muda itu tak tahu bagaimana cara untuk mengatasinya.

Mendadak perahunya terasa oleng sekali ke samping, setelah itu dilihatnya perahu yang mereka tumpangi bergerak ke samping untuk menghindarkan diri dari tubrukan tersebut.

Sampan kecil itu dengan cepat menyambar lewat dari sisi tubuh perahu besar tersebut.

Sekarang, Cu Siau-hong dapat melihat jelas orang yang memegang kemudi diatas sampan tersebut, ternyata dia adalah seorang lelaki yang berkulit hitam.

Dibawah sorot cahaya matahari, tampak sampan kecil itu dengan membawa gulungan ombak segera meluncur lewat dari samping perahu mereka.

Cepat dan lincah sekali gerakan sampan kecil itu, tampaknya pengemudinya adalah seorang ahli yang sangat lihay.

Dengan cepat sampan kecil tadi telah membalikkan arahnya dan sekali lagi meluncur datang untuk menerjang perahu besar itu. Tiba-tiba sesosok bayagan manusia berkelebat lewat seseorang telah melompat keluar dari ruang perahu besar itu dan terjun ke air.

Ternyata dia adalah Hee Hay, loji dari Su eng.

Sebatang bambu panjang muncul pula dari tengah ruangan perahu besar dan menyodok ke atas sampan kecil itu.

Rupanya tujuan dari sodokan bambu itu adalah agar sampan kecil tadi tak bisa mendekat, dengan demikian perahu besar tersebut pun tak sampai kena tertumbuk

Berbicara sesungguhnya, kendatipun sampan kecil itu berhasil menumbuk perahu besar mereka tak akan berakibat sesuatu kerugian yang besar, karena perahu besar itu adalah sebuah perahu besar yang sangat kuat.

-oOo>d’w<oOo-

TAPI, kalau dilihat dari kenekatan sampan kecll itu untuk menerjang perahu besar mereka, dapat ditarik kesimpulan kalau mereka mempunyai sesuatu kekuatan yang bisa diandalkan.

Orang yang menyodok dengan gala bambu itu adalah Lau Hong, losam dari Su eng.

Tatkala gala bambu tersebut hampir menyodok ditubuh sampan kecil tersebut, mendadak sampan itu miring ke samping.

Begitu sodokan gala tersebut mengenai sasaran kosong, sampan kecil itu membuat gerakan berputar lagi dan sekali lagi menerjang ke atas perahu besar tersebut. Tiba-tiba seseorang melompat keluar dari gulungan ombak, lalu dengan membawa tubuh yang basah kuyup melompat naik keatas sampan kecil itu.

Begitu sampai diatas geladak, tanpa memperdulikan gerakan sampan itu lagi, dia langsung menubruk lelaki yang mengemudikan sampan tersebut..

Mendadak dari balik ruang perahu kecil itu meluncur keluar sebilah pedang mestika..

Cahaya pedang tampak berkelebat lewat dan langsung menyambar tubuh Hee Hay.

Sementara itu tangan kanan Hee Hay sudah hampir berhasil mencengkeram tubuh lelaki yang mengemudikan sampan tersebut asal dia berhasil memaksa lelaki itu untuk melancarkan serangan balasan, niscaya dia pun akan berhasil memaksanya meningga!-kan tempat tugasnya.

Akan tetapi serangan pedang yang meluncur keluar sari balik ruangan perahu itu datangnya kelewat cepat dan langsung membabat lengan kanannya...

Sudah barang tentu Hee Hay tak bisa mengacuhkan datangnya serangan pedang itu, sebab andaikata dia melanjutkan serangannya sekalipun pengemudi sampan itu berhasil dihajar telak namun diapun akan terluka pula oleh sambaran pedang lawan.

Satu gaya refleks membuat Hee Hay segera menarik kembali lengan kanannya dan berjumpalitan ditengah udara, setelah terhindar dari serangan pedang, sekali lagi dia tercebur ke dalam air.

Dalam pada itu, serangan gala bambu dari Lau Hong telah menyodok datang untuk kedua kalinya dan tepat menghajar di atas sampan kecil tersebut. Dengan tenaga dalam yang amat sempurna, sodokan itu segera berhasil melubangi sampan kecil itu.

Begitu sampan kecil tersebut kena ditahan oleh bambu panjang, tentu saja tak mungkin lagi bagi mereka untuk melanjutkan usaha nya untuk menerjang perahu besar itu..

Toan San melompat keluar dari dalam ruangan perahu dan melayang keatas geladak.

Sampan kecil itu betul-betul kelewat kecil separuh adalah ruangan perahu, sedangkan separuhnya lagi merupakan buritan perahu serta geladak.

Tiba-tiba pintu ruangan perahu terbuka, seorang gadis berbaju hijau segera melompat keluar. Baru saja orangnya meluncur keluar dari ruangan, pedangnya telah menusuk ke dada Toan San. Sebuah tusukan yang dilancarkan dengan kecepatan luar biasa.

Sesungguhnya Toan San menggembol pedang, tapi sewaktu kakinya melayang turun diatas geladak tangan kanannya tak sempat lagi meloloskan pedangnya untuk memberikan perlawanan.

Hawa pedang yang amat dahsyat memaksanya untuk berkelit kesamping guna menyelamatkan diri.

Perahu kecil itu benar-benar kelewat sempit, karena mundur kakinya segera menginjak tempat kosong, sehingga tak ampun dia pun turut tercebur kedalam air.

Sesosok bayangan manusia lain melayangturun pula dari perahu besar, cahaya pedang berkilauan dan langsung menyerang gadis berbaju hijau itu.

Dia adalah Hoa wan yang menyusul dibelakang Toan San melompat turun kegeladak lawan. Gadis berbaju hijau itu segera mengayunkan pedangnya melancarkan sebuah tangkisan. "Traaaang... !." sepasang pedang segera saling membentur satu sama lainnya dan menimbulkan suara dentingan yang amat nyaring..

Gadis berbaja hijau itu mundur selangkah ke belakang, menggunakan kesempatan itu Hoa wan melompat naik keatas geladak sampan.

Kembali pedang Hoa wan meluncur kian kemarl melancarkan dua buah serangan lagi.

Setelah berhasil membendung kedua buah serangan lawan, gadis berbaju hijau itu segera mengembangkan kembali suatu serangan balasan ynng sangat dahsyat.

Ilmu silat yang dimiliki gadis berbaju hijau itu hebat sekali, ternyata dia sanggup untuk melangsungkan suatu pertarungan seimbang melawan Hoa wan.

Luas geladak diujung sampan itu terlampau kecil, sehingga kedua orang itu sama-sama merasa tak dapat mengembangkan semua serangannya dengan leluasa tak berani kalau pertarungan yang berlangsung pun dilewatkan dalam keadaan yang sangat berbahaya.

Secara beruntun gadis berbaju hijau itu melancarkan puluhan buah serangan berantai, tapi semuanya kena dibendung atau di patahkan oleh Hoa Wan dengan begitu saja.

Sementara itu, diatas sampan kecil telah terjadi lagi suatu perubahan besar.

Toan San telah berhasil memegang pinggiran perahu kecil itu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya digunakan untuk melangsungkan suatu pertarungan seru melawan lelaki pendayung perahu. Sebenarnya lelaki pendayung perahu itu menpunyai posisi yang lebih menguntungkan, tapi berhubung dia harus mempertahankan keseimbangan dari sampan kecil tersebut, maka jadinya dia nampak kepayahan sekali.

Kaki kanan yang dipakai untuk mengimbangi ketenangan dari sampannya menjadi kurang berfungsi, itulah sebabnya walaupun dia mempunyai sepasang tangan yang bisa dipergunakan menyerang, namun bukan berarti mendatangkan banyak manfaat.

Sebaliknya Toan San didesak oleh serangan-serangan lawan yang mempergunakan sepasang telapak tangan pun menjadi kepayahan, sebab dia hanya bisa melakukan perlawanananya dengan sebuah tangan belaka, akibatnya sulit baginya untuk melompat naik ke atas sampan tersebut.

Sampan yang begitu kecil digunakan beberapa orang itu untuk melakukan pertarungan, kontan saja tubuh sampan tersebut oleng kesana kemari dan setiap saat kemungkinan besar akan terbalik.

Sementara itu Hee Hay telah munculkan diri lagi ke atas permukaan air, sepasang tangannya segera menepuk ke atas permukaan ... "Plaaakk!" seluruh badannya melejit ke udara, dengan membawa curahan air yang membasahi mana-mana, dia menerjang naik ke atas sampan dan menerjang orang yang mengemudikan sampan itu.

Dengan gelisah lelaki itu melepaskan sebuah tendangan untuk menghajar tubuh Hee Hay setelah dilihatnya pihak lawan menerjang tiba dengan garang...

Baru saja kaki kanannya diangkat, tiba-tiba sampan kecil itu kehilangan keseimbangannya "Weesss!" tak ayal lagi

seluruh sampan terbalik dan tercebur ke sungai. Dengan begitu, semua orang yang berada di sampan itupun turut tercebur ke dalam sungai.

Cu Siau-hong yang berdiri diatas geladak dapat menyaksikan semua peristiwa itu dengan jelas, diam-diam dia terperanjat sekali.

Ia tak pandai ilmu dalam air, tak bisa dibayangkan apa jadinya bila seseorang tercebur kedalam sungai dengan ombak yang begitu besar, sebab menurut pendapatnya, terang ada yang bisa hidup setelah tercebur ke air sungai dengan ombak deras.

Sementara ingatan tersebut melintas dalam benaknya, dalam air telah terjadi perubahan lagi. Hee Hay yang muncul paling duluan.

Lau Hong segera menggerakkan bambu panjangnya ke tengah sungai ketika Hee Hay telah memegang ujung bambu tersebut, Lau Hong segera menyentaknya dengan sepenuh tenaga, meminjam kesempatan tersebut Hee Hay melompat naik ke atas perahu.

Tampak dibawah ketiaknya mengempit seseorang, dia tak lain adalah lelaki yang mengemudikan sampan tadi.

Menyusul kemudian Toan San turut munculkan diri dengan meminjam tenaga pantulan dari bambu panjang yang disodorkan Lau Hong, dengan mengempit tubuh nona berbaju hijau itu dia turut melompat pula keatas perahu besar...

"Blaaammm... !" Hee Hay segera membanting tubuh lelaki yang mendayung sampan itu kelantai, kemudian serunya:

"Ilmu dalam air yang dimiliki keparat ini cukup hebat juga.” Toan San sambil membaringkan si nona berbaju hijau kelantai, berkata pula: "Budak inipun pernah belajar ilmu dalam air'

"Hoa Wan sudah sekian lama terjun ke air, mengapa belum nampak juga ia munculkan diri?" tanya Cu Siau hong penuh rasa kuatir.

"Tak usah kuatir kongcu, ilmu berenang dan menyelam yang dimiliki setan cilik itu hebat sekali, dia tak mungkin akan tenggelam"

Tiba-tiba terdengar suara dari Hoa wan berkumandang datang. "Tak usah kuatir Kongcu, aku baik-baik saja”.

Dengan cepat Cu Siau-hong berpaling, tampak olehnya Hoa wan dengan pakaian basah kuyup sedang berjalan mendekat.

Tentunya dia telah merangkak naik ke atas perahu besar lewat bagian lain. Sambil tersenyum Cu Siau-hong segera berseru:

"Ong Peng, kemarilah! Coba tanyakan kepada mereka, sebenarnya apa yang terjadi?'

Ong Peng mengiakan dan segera berjalan mendekat, dia menutuk dulu jalan darah di atas sepasang kaki lelaki kekar tadi.

Kemudian Hee Hay baru turun tangan menepuk bebas jalan darah pingsan dari lelaki tersebut.

Ong Peng segera mengayunkan tangannya memerseni beberapa kali tempelangan keatas wajah lelaki tadi, kemudian ujarnya.

'Dengarkan baik-baik seorang lelaki sejati berani berbuat berani pula bertanggungjawab, setelah berani datang."

Lelaki itu mendengus dingin, tukasnya tiba-tiba: "Hitung-hitung nasib kalian masih mujur, tapi aku tidak percaya kalau..." Dia mendongakkan kepalanya memandang cuaca, kemudian melanjutkan. "Kalian tak dapat lolos dari bencana yang akan tiba hari ini."

"Benarkah begitu?" jengek Ong Peng sambil tertawa dingin, "apakah masih ada orang-orang dungu yang akan datang menghantarkan kematiannya? Berapa banyak orang dungu lagi yang bakal datang?"

"Banyak sekali" sahut lelaki itu dingin, "kalian bisa meloloskan diri satu kali, tapi jangan harap bisa lolos sepuluh kali, akhirnya suatu ketika usaha kami pasti akan berhasil."

"Satu kali apa?" tegur Cu Siau-hong tiba-tiba setelah merasakan hatinya tergerak.

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... sampai waktunya, kalian akan mengerti sendiri"

"Sekalipun perahu-perahu sampan macam belalang kalian menumbuk diatas perahu besar kami, apa pula yang bisa dilakukannya? Memangnya lengan belalang bisa menghalau kereta dengan menenggelamkan perahu besar kami?"

Pertanyaan yang diajukan secara tiba-tiba itu kontan saja membuat lelaki kekar itu tertipu, sambil tertawa dingin ia berkata:

'Walaupun perahu kami amat kecil, namun jika sampai menumbuk perahu besar kalian, jangan harap perahu kalian itu bisa tetap utuh'

Ong Peng tidak bertanya lebih lanjut, hanya ujarnya dengan dingin.. "Sekalipun perahu ini tenggelam kena tertumbuk, apa pula yang bisa kalian lakukan, toh semua orang yang  berada di perahu ini pandai berenang semua. "

"Omong kosong" kembali lelaki berbaju hitam itu menukas, "yang bisa berenang cuma sebagian kecil, kami telah mengetahui dengan jelas, sedang yang tidak mengerti ilmu dalam air banyak sekali, Cu Siau-hong adalah salah seorang diantaranya".

"Tampaknya banyak juga yang kau ketahui?"

"Tahu diri tahu lawan, setiap pertempuran baru bisa dimenangkan, tujuan kami hanya untuk membunuh Cu Siau-hong seorang kendatipun harus mengorbankan sepuluh buah sampan kecil dan mengorbankan dua puluh jiwa manusia juga masih cukup berharga”.. Berbicara sampai disitu, mendadak dia merasa kalau sudah terlanjur membuka rahasia, tapi untuk merubah pembicaraan sudah tak mungkin lagi, terpaksa dia harus mengeraskan hati untuk membungkam diri

Tanpa berkata Cu Siau-hong berkata:

“Sungguh tak kusangka ada orang yang begitu menaruh dendam kepadaku, bahkan tak segan-segan mengorbankan sepuluh buah sampan dan dua puluh lembar jiwa manusia untuk ditukar dengan selembar jiwaku"

Lelaki berbaju hitam itu mengertak gigi menahan diri, katanya kemudian.

"Ilmu pedangmu kelewat ganas, dahsyat dan mengerikan, tak mungkin kami bisa menangkan kau dengan beradu kepandaian silat itulah sebabnya terpaksa kami harus memakai cara seperti ini untuk menghadapi dirimu"

'Oooh, rupanya begitu" Setelah tertawa lanjutnya. "Sekarang kalian tinggal sembilan buah sampan dengan delapan belas orang lagi...

“Itu sudah lebih dari cukup, kami tak lebih Cuma suatu percobaan, setelah kegagalan kami, orang yang akan datang menyerang akan semakin banyak, andaikata terdapat empat buah sampan yang bersama-sama menyerang perahumu, maka salah satu diantaranya pasti akan berhasil menubruk perahu kalian sampai hancur."

Cu Siau-hong manggut-manggut..

"Betul", katanya: "aku percaya sampan-sampan kalian pasti disertai dengan suatu perlengkapan yang luar biasa, mungkin juga telah dipasangi bahan bahan peledak yang mudah terbakar, akan tetapi kesemuanya itu belum tentu bisa melukai aku"

'Asal kau sudah tercebur kedalam sungai, seluruh kekuatan kami akan terhimpun untuk menyerang kau seorang, betapapun lihaynya kepandaian silat yang kau miliki, bila seseorang yang tak pandai ilmu berenang tercebur ke air, maka jangankan melakukan perlawanan, kesempatan untuk menyelamatkan sendiripun kecil seka li"

'Ong Peng, lepaskan mereka" kata Cu Siau-hong tiba tiba.

"Kongcu, mereka masih mempunyai delapan belas orang rekan, seandainya dilepaskan, bukankah jumlah mereka akan berubah menjadi dua puluh orang lagi?"

'Aku tahu, lepaskan mereka! Seandainya mereka benar benar masih mempunyai sembilan buah perahu dengan delapan belas orang, rasanya walaupun bertambah dua orang lagi juga tak ada artinya.” Ong Peng segera membungkukkan badannya dan membebaskan jalan darah dari orang berbaju hitam serta nona berbaju hijau itu.

Setelah jalan darahnya dibebaskan dan melompat bangun kedua orang itu mengangkat kepalanya memandang sekejap ke arah Cu Siau-hong.'

Tiba-tiba gadis berbaju hijau itu menegur: "Kau adalah Cu Siau-hong?"

"Benar, ingatlah baik-baik, sehingga sebentar tidak lagi salah membunuh"

"Tampaknya kau tidak mirip seseorang yang gemar membunuh!'

"Nona terlampau memuji!"

`Cu Siau-hong, benarkah kau akan melepaskan kami dengan begitu saja?"

“Andaikata kalian berdua tak ingin kami mengutus orang untuk menghantar kamu berdua, sekarang juga kalian boleh pergi dari sini"

Lelaki berbaju bitam itu segera melompat lebih dulu dan menceburkan diri ke dalam air.

Nona berbaju hijau itu memandang lagi wajah Cu Siau hong sekejap, kemudian dia turut melompat kedalam sungai.

Memandang dua orang itu berenang sampai jauh, Cu Siau-hong baru berkata.

'Ong Peng, perintahkan seluruh anggota kita agar bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan" Begitu diperintahkan, serentak semua orang yang berada di perahu bersiap siaga. Su eng telah berganti dengan pakaian untuk berenang.

Delapan oran pendayung pun sama pamit menggembol senjata piaw masing-masing.

Hoa wan serta Seng Hong telah melepaskan jubah panjangnya dengan berganti pakaian ringkas, sedangkan Seng Tiong-gak, Jit hou serta tiga orang dayang itu telah menggembol senjata masing-masing.

Cuma Cu Siau-hong seorang yang masih mengenakan jubah panjang.

Tapi Seng Hong telah mengangsurkan pedang yang biasa dipakai olehnya.

Cu Siau-hong memandang sekejap air sungai yang menggulung gulung ditempat kejauhan sana, kemudian setelah menghembuskan napas panjang, katanya:

'Ong Peng, hentikan perahu, kemungkinan besar perahu besar ini akan mereka tumbuk sampai tenggelam, orang orang yang tak pandai ilmu dalam air harap membuat persiapan sendiri-sendiri"

"Kongcu, menurut pendapatku, bagaimana kalau kita menerjang ke arah pantai dengan sepenuh tenaga? mungkin sebelum mereka menyerang tiba, kita sudah mendarat?" bisik Ong Peng.

"Mereka telah menentukan pilihannya untuk melancarkan serangan ditempat ini, sudah barang tentu mereka telah melakukan persiapan pula yang matang  disitu" kata Cu Siau-hong..

"Bila kita hentikan perahu untuk menantikan kedatangan musuh, bukankah hal ini sama artinya dengan memberikan suatu kesempatan yang sangat baik buat mereka untuk melancarkan serangan?' Rupanya Cu Siau-hong telah memerintahkan kepada Seng Hong untuk menurunkan jangkar, perahu itupun segera berlabun ditengah sungai.

Cu Siau-hong tertawa.

“Tentunya kita tak perlu terlampau kuatir atau takut akan kelihayan ilmu silat para pendatang bukan?" katanya.

"Benar, hamba telah mendengar pembicaraan mereka yang mengatakan bahwa kepandaian silat yang dimiliki telah peroleh kemajuan pesat setelah mendapat petunjuk dari kongcu, meski jurus serangannya tidak terlalu banyak namun memiliki suatu kekuatan pendobrak yang sangat hebat sehingga membuat ilmu silat mereka telah mencapai tingkatan yang lebih maju'

Cu Siau-hong tertawa, katanya:

"Ong Peng, aku jarang sekali melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, persoalan tentang dunia persilatan yang kuketahui pun tidak terlalu banyak, Aku hanya merasa, kalau toh mereka sudah memutuskan untuk melancarkan serangan di tempat ini, berarti mereka pun sudah mempunyai perhitungan mereka sendiri, atau dengan perkataan lain mereka telah memperhitungkan keadaan situasi di sekitar tempat ini dengan secermat-cermatnya, Aku tak berani memastikan apakah mereka telah persiapkan perangkap disekitar sini, tapi kemungkinan besar mereka tak menduga kalau kita akan menghentikan perahu secara tiba-tiba.”

"Benar, pendapat kongcu memang sangat lihay."

"Su-eng dan Seng Hong, Hoa Wan ditambah delapan orang pendayung adalah jago-jago didalam air, dengan dihentikannya perahu ini, berarti kita memberi kesempatan pula buat mereka untuk turun tangan menghadapi mereka " Ong Peng semakin kagum lagi setelah mendengar perkataan itu, buru-buru dia menjura seraya berkata: "Kongcu, kecerdasanmu benar-benar hebat, jalan pemikiranmu sungguh melebihi kita semua"

?oooO)d.w(Oooo?

“AAAAH, apa yang kuucapkan hanya merupakan suatu dugaan saja, benarkah demikian, didalam kenyataanya nanti masih harus menunggu pembuktiannya lebih dahulu”.

Sementara pembicaraan berlangsung, dari kejauhan sana telah muncul empat buah sampan kecil yang melaju mendekat dengan menentang ombak.

Dilihat dari model sampan tersebut, dapat diketahui kalau musuh tangguh telah datang menyerang. Dengan langkah cepat Toan San datang mendekat, kemudian ujarnya:

"Kongcu perlukah hamba sekalian terjun ke air untuk menyambut serangan mereka?"

"Mereka mengirim dulu sebuah sampan kecil untuk mencoba menyerang kita, tampaknya mereka ingin mengetahui lebih dulu bagaimana cara kita untuk menghadapi serangan mereka. Hmmm. aku rasa ke empat

buah sampan tersebut datang dengan persiapan yang matang, kalian harus bertindak hati-hati”.

"Hamba terima perintah" sahut Toan San.

Dia segera memberi tanda, Su eng bagaikan empat ekor walet segera terjun kedalam air.

Keempat orang masing-masing menggunakan sampan untuk    menyambut    mereka,    empat    diantara   delapan pendayungpun turut terjun keair, dengan bersenjatakan tombak bergaetan.

Tapi mereka tidak terlalu jauh meninggalkan perahu besar, melainkan hanya berjaga-jaga disekitar perahu mereka.

Sementara empat orang pendayung lainnya melepaskan tali jangkat yang lebih panjang agar perahu yang berada di air mempunyai tempat yang lebih lebar untuk bergerak.

Sementara itu tiada angin yang berhembus disungai, ombakpun tidak terlalu besar.

Tan Heng dan Ong Peng masing-masing mempersiapkan senjata tajam ditangan, sedang Jit hou dan tiga budak berdiri berjajar, ditepi perahu yang menggunakan senjata rahasia telah menggenggam senjata rahasianya sedangkan yang tidak menggunakan senjata rahasia mencari benda lain sebagai pengganti senjata rahasia..

Sayang sekali diatas perahu tidak tersedia, busur dan panah, seandainya tersedia busur dan panah, benda itu merupakan senjata yang paling cocok untuk melawan musuh dari atas perahu.

Ketika ke empat perahu kecil itu mencapai enam kaki dari perahu besar, mereka sudah kena dihadang oleh Su eng.

Keempat jagoan itu memilih perahu masing-masing dan tiba tiba melompat naik keatas perahu disertai percikan air sungai.

Di atas setiap perahu kecil itu terdapat sebuah ruangan perahu, pada saat yang bersamaan pintu perahu terpentang lebar, kemudian menyambar keluar sebilah pedang. Cahaya pedang yang menciptakan selapis cahaya pedang segera mengunci semua tempat kosong diatas perahu.

Kali ini Su eng telah mempersiapkan diri dengan sebaik baiknya, bersamaan waktunya ketika melompat keluar dari air, pedang masing-masing telah diloloskan pula dari sarung.

Sebuah tusukan begitu dilepaskan, segera terdengar suara benturan nyaring yang memekikkan telinga.

Sementara itu, Toan San dengan mengandalkan kekuatan tenaganya yang besar langsung menerobos maju ke depan, begitu menangkis serangan lawan, kaki kirinya telah menginjak diatas geladak.

Dari bilik ruangan segera muncul separuh badan manusia, lagi-lagi orang ini adalah gadis berbaju hijau.

Tampaknya didalam setiap sampan kecit itu telah diatur sepasang lelaki perempuan yang berpasangan.

Tampaknya gadis berbaju hijau itu sedang berusaha untuk mencegah Toan San naik keatas sampan, begitu serangannya gagal, dia segera menerjang keluar dari ruangan perahu.

Didalam kenyataan dia sudah tidak berkemampuan lagi untuk mencegah Toan San naik keatas perahu kecil itu.

Tapi disaat serangan nona berbaju hijau itu gagal membendung terjangan Toan San, lelaki pendayung itu telah mengangkat alat dayungnya dan melepaskan sebuah sapuan.

Tenaga sapuan dari dayung itu membuat Toan San tak berhasil menempatkan kakinya yang kedua diatas geladak. Pada saat itulah si nona berbaju hijau itu sudah melompat keluar dari ruangan, jurus serangan dilancarkan secara berantai dan menyerang sepenuh tenaga.

Sistim penyerangan tersebut merupakan semacam taktik penyerangan yang nekad, suatu serangan menggila yang tidak memikirkan keselamatan sendiri.

Toan San segera kena terbendung sehingga gagal untuk melangkah maju lagi.

Secara beruntun gadis berbaju hijau itu melepaskan delapan belas buah serangan berantai yang dikombinasikan dengan serangan-serangan dayung yang dilancarkan lelaki pendayung itu memaksa Toan San harus melompat turun lagi dari atas sampan.

Su eng merupakan kekuatan pilihan yang sangat diandalkan dalam perkumpulan Pay-kau, baik bakat kecerdasan maupun kepandaiannya telah melalui suatu pemilihan dan penggemblengan yang matang. Selama ini mereka ini dilatih sebagai pengawal ketua Pay-kau, tapi oleh ketuanya mereka telah diserahkan kepada Cu Siau hong.

Manusia-manusia yang berbakat yang dididik dipelihara untuk jangka waktu yang panjang ini tentu saja merupakan sesuatu jago pilihan yang luar biasa.

Tapi laki perempuan yang berada di sampan kecil itupun terhitung seorang-jagoan lihay, namun bisa bertarung dalam kesempatan dan posisi yang sama, mereka masih belum sanggup untuk menandingi kehebatan dari Su-eng.

Bersamaan waktunya ketika Toan San terdesak turun ke air, He Hay, Lau Hong dan Ma Hui turut terdesak pula masuk keair. Hal ini menunjukkan kalau apa yang telah terjadi diatas ke empat buah sampan tersebut sama semua. 'Atau dengan perkataan lain, kejadian tersebut membuktikan pula jika kepandaian silat yang dimiliki laki perempuan yang berada di sampan kecil itu sama semua.

Tampaknya sekelompok laki perempuan muda tersebut memang khusus dididik untuk menjadi pembunuh pembunuh berani mati.

Mereka dididik untuk menjadi buas dan menggila.

Begitu Su eng tercebur kembali kedalam air, gadis berbaju hijau tidak berani berayal sambil berdiri diujung geladak, matanya mengawasi pihak lawan tanpa. berkedip sementara pedangnya diputar terus kian kemari.

Cahaya pedang dan pantulan sinar diatas sungai saling bertautan satu sama lainnya menyilaukan mata setiap orang.

Tampaknya mereka sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Su eng untuk mendekati sampan mereka.

Sementara itu lelaki pendayung itu mendayunngkan perahu mereka dengan sepenuh tenaga untuk menumbuk perahu besar.

Di lihat cara kerja mereka tampaknya mereka semua tidak memikirkan keselamatan jiwa masing-masing yang menjadi pemikiran mereka hanyalah menumbuk perahu besar itu sampai tenggelam.

Dengan Su eng merubah taktik mereka dalam menghadapi lawannya, serentak ke empat orang itu menyelam kedalam air dan lenyap dari pandangan mata.

Kini sampan kecil yang meluncur kemuka dengan gerakan menggila itu sudah berada satu kaki lebih empat lima depa dari perahu besar tersebut.. Para kelasi yang berjaga ditepi perahu serentak menggerakkan tombak berkait mereka untuk melakukan pembendungan.

Empat orang gadis berbaju hijau di atas perahu kecil itu serentak bangkit berdiri dan bersiap-siap melakukan tubrukan.

Jelas mereka sudah tidak memperdulikan Toan San sekalian berempat lagi, kini mereka bermaksud untuk menerjang tombak berkaitan dari para kelasi itu sehingga memberi kesempatan buat sampan kecil mereka untuk menumbuk perahu besar itu.

Pada saat itulah sampan-sampan kecil yang sudah menerjang kedepan itu mendadak berputar arah, kemudian melesat kesamping.

Dengan perputaran arah itu maka keempat sampan kecil itu menjadi berposisi saling menumbuk. Perubahan ini benar-benar merupakan suatu perubahan mendadak yang sukar dibendung.

Tapi keempat orang lelaki pendayung itu pun memiliki kepandaian untuk mengatasi keadaan kritis yang luar biasa.

Tampak mereka masing-masing mengangkat dayung sendiri dan menutul keujung perahu yang datang dari depan.

Dengan suatu gerakan yang manis, keempat buah sampan kecil itu saling bergesekan lewat.

Andaikata terlambat sedetik lagi niscaya keempat buah sampan kecil itu akan saling bertumbukan sendiri. Mereka dapat lolos karena mereka memiliki ilmu yang matang serta ketenangan untuk mengatasi kritis. Setelah saling bersimpangan, keempat buah sampan itu segera menjauhi perahu besar itu. Cu Siau-hong yang menyaksikan semua adegan tersebut dari samping dengan cepat menemukan suatu kejanggalan, yakni semua orang-yang berada diatas sampan kecil itu seakan-akan berusaha keras untuk melindungi ujung depan dari sampan mereka itu.

Selama ini dia memang selalu memutar otak untuk mencari tahu, kekuatan apakah yang sebenarnya diandalkan sampan-sampan kecil itu untuk menumbuk perahu besar.

Sekarang dia telah berhasil menemukan jawabannya, ternyata ujung perahu kecil itu telah dilapisi oleh suatu benda yang istimewa sekali.

Peralatan itu tentu luar biasa sehingga begitu menumbuk diatas ujung sampan niscaya akan menyebabkan perahu yang bagaimanapun besarnya akan tenggelam.

Oleh karena itulah mereka berusaha keras untuk melindungi kepala sampan kecil itu agar tidak saling bertumbukan.

Tampaknya Toan San sekalian telah menyaksikan ancaman bahaya maut yang mendekati sekeliling tempat itu, maka dalam hati masing-masing telah mempunyai rencana matang.

Itulah sebabnya mereka selalu berusaha untuk saling menghindarkan antara yang satu dengan yang lain nya.

Begitu mengetahui rahasia tersebut, Cu Siau-hong segera berteriak dengan suara lantang. "Persoalannya berada diujung perahu kecil itu "

Terlihat dari kejauhan sana nampak air sungai bergelombang, lalu muncul lagi lima buah sampan kecil yang bergerak mendekat. Tak salah lagi, ke sepuluh buah sampan yang dipersiapkan telah digerakan semua. Sementara itu, Toan San sekalian Su eng telah berlompatan ke atas sampan lawan.

Agaknya ke empat orang jago itu sudah mengetahui akan ancaman bahaya maut yang berada didepan mata, begitu berada diatas sampan, masing-masing pihak lantas mengeluarkan ilmu simpanan masing-masing.

Beberapa buah tusukan kilat dilancarkan dengan kecepatan luar biasa

Terdengar berapa kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan keheningan empat orang gadis berbaju hijau yang berada diatas empat sampan itu secara beruntun tertusuk pedang dan jatuh ke dalam air.

Rupanya didalam gelisah dan cemasnya, Toan San sekalan telah mempergunakan ilmu pedang ajaran Cu Siau hong.

Begitu seorang berhasil, tiga orang lainnya segera meniru.

Setelah berhasil membunuh gabs berbaju hijau itu, Toan San segera memutar pedangnya dan berbalik menyerang lelaki pendayung itu.

Waktu itu beberapa detik baru saja pendayung mana membalikkan sampannya setelah terjadi persimpangan maut tadi.

Namun beberapa waktu yang amat singkat tersebut telah dimanfaatkan Toan San sekalian untuk melompat naik kearas sampan, membunuh gadis berbaju hijau itu dan membalikkan pedangnya menyerang si pedayung. dengan gugup     pendayung     itu     meyambar     dayungnya    siap melancarkan serangan balasan, sayang sebuah tusukan telak telah menghujam menembusi dadanya.

Begitu pendayung tersebut tertusuk, mereka segera melancarkan sebuah tendangan untuk menyepak musuhnya ke dalam sungai, kemudian sambil menyambar dayung, mereka membalikkan arah sampan kecil itu dan menyongsong kedatangan lima buah sampan kecil dari depan.

Sebagai orang-orang yang terlatih dalam ilmu mendayung, gerak gerik mereka boleh dibilang amat cekatan, sampan-sampan kecil tersebut segera membelah ombak dan menyongsong ke depan.

Cu Siau-hong berkerut kening, kemudian serunya  dengan lantang.

"Hati-hati sedikit, begitu sepasang sampan saling bertumbukan, kalian harus segera menceburkan diri ke dalam air"

Tampak kelima buah sampan kecil yang datang dari kejauhan itu takut sekali bila sampan mereka saling bertumbukan dengan sampan-sampan yang ditumpangi Toan San sekalian, mereka selalu berusaha keras untuk menghindarkan diri dari suatu tubrukan.

Tapi Toan San sekalian tidak bersedia melepaskan musuhnya dengan begitu saja, mereka segera mendayung sampannya dan melakukan pengejaran terus dengan ketat.

Suatu peristiwa kejar mengejar pun berlangsung diatas sungai tersebut.

Kedua belah pihak sama-sama memiliki ilmu pendayung yang amat lihay, sehingga sampan-sampan kecil itu pun bisa berputar dan menikung tajam dengan gerakan-gerakan yang indah, sengit dan seru. Mendadak Ma Hui berhasil menghadang salah satu sampan tersebut, tiba-tiba saja dia membalikkan sampan kecil itu dan langsung menerjang sampan kecil yang sedang dikejar sampan Toan San.

Kali ini orang tersebut tak sanggup menghindarkan diri lagi, suatu tabrakan yang amat keras pun segera terjadi.

"Blaaammm." suatu ledakan keras yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan keheningan, percikan api memancar ke empat penjuru dan menimbulkan gelombang serta asap yang amat tebal.

Sampan kecil yang dikemudikan oleh Ma Hui itu segera hancur berantakan pada separuh bagian atas.

Sebaliknya sampan kecil yang kena ditumbuk itu justru hancur berantakan hingga menjadi berkeping-keping.

Dua orang yang berada di atas perahu pun ikut hancur menjadi perkedel dan lenyap di dasar sungai.

Untuk sesaat lamanya Ma Hui tertegun, dia sudah menduga kalau perahu itu mempunyai sesuatu yang aneh, namun tak pernah menduga kalau begitu mengerikan keadaan nya, ternyata ujung perahu tersebut telah dipasang bahan peledak.

Selain itu, pembuatan sampan kecil itu pun dirancang dengan suatu perhitungan khusus, sebab itulah Ma Hui tak sampai menderita luka apa-apa..

Tapi berhubung sampan kecil yang ditumpanginya sudah hancur separuh bagian, sehingga tak bisa dijaga keseimbangannya, maka tak bisa dicegah lagi sampan tersebut segera tenggelam ke dasar sungai.

Untung saja Ma Hui pandai berenang, dia segera menyusup ke arah sampan kecil lainnya. Sementara itu pengalaman dari Ma Hui membuat Toan San, Hee Hay dan Lau Hui merasa mempunyai suatu tanggung jawab yang sangak besar, mereka bertekad tak akan membiarkan sampan-sampan itu menumbuk perahu besar mereka ....

Ma Hui yang selamat dari bencana pun memberikan suatu pengalaman yang amat penting buat mereka, yakni orang yang menempati bagian buritan sampan tak akan menderita luka apa-apa akibat tubrukan tersebut..

Maka ketiga orang itupun saling berlomba mendayung sampan masing-masing untuk mengejar empat buah sampan lawan.

Walaupun ilmu mendayung yang dikuasahi kedua belah pihak sama-sama lihaynya, tapi pihak lawan berada dalam posisi yang dirugikan, kalau Toan San sekalian bisa bergerak lincah kian kemari, sebaliknya perahu lawan selain harus menghindarkan diri dari tubrukan, selain itu mereka pun harus mengarahkan sampan masing-masing untuk menerjang perahu besar tersebut.

Setelah terjadi kejar mengejar sekian lama, akhirnya terdengar dua kali ledakan lagi.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 42"

Post a Comment

close