Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 36

Mode Malam
Menanti Toan San sekalian sampai didalam rumah gubuk itu, benarjuga Cu Siau-hong berada disana, sedang Ui si jit hou (tujuh ekor harimau dari keluarga Ui) juga berada disekeliling rumah gubuk itu sambil bersiap siaga.

Seng Hong dan Hoa wan masing-masing membawa sebuah lampu lentera berdiri di kedua belah sisi Cu Siau hong.

Kedua orang itu tiada hentinya memutar lampu lentera ditangan mereka mengikuti geseran mata Cu Siau-hong.

Ternyata si anak muda itu sedang melakukan pemeriksaan yang seksama terhadap rumah gubuk itu.

Su eng segera tinggal diluar rumah melakukan penjagaan, sedangkan Ong Peng melangkah masuk dengan langkah lamban dan berdiri tenang disisi arena. Menanti Cu Siau-hong telah menyelesaikan pemeriksaannya, Ong peng baru berkata dengan suara pelan: "Phu Hong merasa amat berterima kasih kepada kongcu"'

"Dia masih sanggup untuk mempertahankan diri?" tanya Cu Siau-hong.

"Tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna, tampaknya dia masih sanggup untuk mempertahankan diri"

"Bagus sekali kalau begitu"

Setengah jam lebih setelah itu, Cu Siau-hong baru tersenyum puas dan melangkah keluar dari ruangan, lalu sambil duduk dikursi katanya:

"Ong Peng, undang Toan San sekalian berempat masuk!"

Dengan hormat sekali Su eng menjura, kemudian baru berkata:

"Menjumpai kongcu!" Cu Siau-hong tertawa.

"Mulai sekarang kita akan seringkali berkumpul, senang sama dirasakan, susah sama diderita, kalian tak usah banyak adat "

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan:

‘Bagaimana dengan kepandaian ilmu pedang yang kalian berempat miliki?"

"Didalam permainan ilmu pedang, hamba  sekalian sudah mempunyai pengalaman selama delapan belas  tahun"

"Kalian masih muda dan gagah, aku tahu ilmu pedang yang kalian miliki sangat lihay, cuma ilmu pedang mempunyai pelajaran yang sangat dalam, sekalipun seorang manusia yang luar biasa juga tak akan sanggup untuk menguasahi semua kepandaian itu, apalagi setiap partai memiliki ciri khas serta keistimewaan masing-masing, dalam kepandaian pedang akupun mengerti banyak sekali"

"Kongcu adalah seorang pendekar yang hebat, hamba sekalian sudah pasti bukan tandingan"

Cu Siau-hong tersenyum..

'Oleh karena ilmu pedang tiap partai memiliki keistimewaan masing-masing, maka aku bersedia mewariskan apa yang telah kuketahui itu kepada kalian semua, mungkin pemberianku itu tidak terhitung seberapa, tapi anggaplah sebagai pemberian ku untuk kalian semua"

"Majikan berbicara kelewat serius."

"Ilmu pedangku cuma terdiri dari empat jurus dengan delapan gerakan, setiap gerakan mempunyai dua macam perubahan, sepintas lalu kelihatan seperti tidak rumit, cuma ilmu pedang itu merupakan suatu ilmu pedang yang sangat luwes dalam penggunaannya"

"Baik, silahkan kongcu memberi petunjuk, kami semua akan mendengarkannya dengan seksana"

Pelan-pelan Cu Siau-hong bangkit berdiri, kemudian dari tangan Seng Hong menerima sepucuk pedang dan lambat lambat memainkan keempat gerakan delapan jurus itu."

Pada mulanya, Toan San, He hay, Lou Hong dan Be  Hui mengindahkan sopan santun dengan mengucapkan beberapa patah kata sungkan, akan tetapi setelah menyaksikan permainan jurus pedang dari Cu Siau-hong perasaan mereka baru bergetar keras.

Terhadap ilmu pedang, keempat orang itu memiliki kemampuan  yang  luar  biasa,  maka  begitu  menyaksikan perubahan jurus yang terdiri dari empat gerakan ini, dengan cepat dapat disadarinya kalau ilmu pedang tersebut merupakan serangkaian ilmu pedang pencabut nyawa.

?oooO)d.w(Oooo?

SEKETIKA itu juga timbullah perasaan kagum yang benar-benar muncul dari perasaan hati yang tulus.

Didalam kenyataan, Jit Hou Su eng serta Seng Hong dan Hoa Wan menaruh hormat kepada Cu Siau-hong karena mereka mendapat perintah untuk melaksanakan tugas, jadi perasaan hormat itu bukan muncul dari hati sanubari mereka yang tulus.

Mereka semua merupakan murid-murid paling top dari Kay-pang serta Pay-kau, lagipula mereka merupakan murid-murid rahasia yang dididik dan dibina secara khusus oleh pentolan dari kedua buah organisasi besar itu.

Terhadap kemampuan yang mereka miliki, boleh dibilang orang-orang itu menaruh perasaan kagum yang tersendiri, itulah sebabnya meski diluar mereka tunduk dan hormat, namun bukan perasaan tunduk dan hormat yang tulus hati.

Cu Siau-hong memahami akan hal ini, dia pun sadar jika ia tidak dapat memperlihatkan suatu kepandaian yang benar-benar bisa membuat orang menjadi kagum dan takluk, sulit baginya untuk membuat orang-orang itu tunduk secara tulus kepadanya. Keempat gerakan dengan delapan jurus inilah merupakan penampilan ketangguhannya dalam permainan pedang.

Betul juga di atas wajah Su eng segera muncul suatu perasaan kagum yang luar biasa, dengan sinar yang amat serius mereka berseru. "Ilmu pedang yang kongcu miliki benar-benar hebat sekali, hari ini sepasang mata hamba sekalian benar-benar merasa terbuka lebar"

Cu Siau-hong tertawa.

"Ke empat gerakan dengan delapan jurus ini terdiri dari satu rangkaian ilmu pedang, dapatkah kalian mengingatnya baik-baik?"

Toan San sekalian berempat sedang berbisik-bisik merundingkan sesuatu, kemudian baru jawabnya:

'Ilmu pedang itu merupunyai pelajaran yang amat luas dan dalam sekali, untuk sesaat sukar buat kami untuk menyerap intisari yang sebenarnya dari kepandaian itu, dapatkah kongcu memainkan sekali lagi?"

Cu Siau-hong manggut-manggut.

"Boleh saja, nah perhatikanlah dengan seksama"

Sekali lagi dia mainkan jurus-jurus pedang itu dengan gerakan yang lebih lamban lagi.

Kali ini kelambatannya boleh di bilang mencapai titik yang terendah sehingga setiap jurus dapat terlihat dengan jelas dan lebih seksama.

Setelah itu Cu Siau-hong baru menarik kembali pedangnya dan berkata sambil tertawa.

"Sudah kalian ingat ?" "Sudah !"

"Bagus sekali ..."

Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Seng Hong dan Hoa Wan, Kemudian lanjutnya: "Apakah kalian pun dapat melihat dengan jelas?' "Sudah jelas" jawab Seng Hong dan Hoa wan berdua hampir bersamaan waktunya. "Kalau begitu, pergilah untuk melatih kepandaian tersebut agar lebih matang."

Su eng dan kedua orang kiam tong tersebut segera mengiakan bersama dan buru-buru membalikkan badan berlalu dari sana.

Kini, didalam ruangan itu tinggal Ong Peng seorang. Sambil berpaling dan memandang sekejap ke arah Ong

Peng,  pelan-pelan  Cu  Siau-hong  berkata  lagi:  'Pergi  dan

undanglah kemari Ui si jit hou!"

"Kongcu, mereka sedang melakukan perondaan disekitar tempat ini, mana boleh diundang balik?"

"Aku rasa pada malam ini mereka tak akan balik kemari lagi"

"Ooooh...'

'Pergilah dan undang mereka masuk!"

Ong Peng segera mengiakan, dia segera membalikkan badan dan berlalu dari situ. Tak lama kemudian ketujuh harimau dari keluarga Ui itu sudah berjalan masuk ke dalam rumah.

"Menjumpai kongcu!' Ui It hou segera menjura. "Tak usah banyak adat"

Tujuh harimau dari keluarga Ui segera berdiri berjajar dihadapan anak muda itu dengan sikap yang amat menaruh hormat:

"Ada perintah apa kongcu mengundang kedatangan kami?' tanya Ui It hou kemudian dengan hormat.

“Apakah kalian semua mempergunakan ilmu golok" Ui It hou mengangguk.

"Betul! Kepandaian silat yang hamba sekalian latih adalah ilmu golok.”

"Ilmu silat aliran Pak hay bun merupakan ilmu silat yang mengutamakan serangan golok ditengah golok, Bu-khek buncu kami justru terluka oleh serangan golok ditengah golok tersebut."

"Menjawab pertanyaan kongcu, hamba sekalian baru terjun ke dunia persilatan, tidak banyak persoalan dunia persilatan yang kami ketahui.."

"Aku tahu, akupun tidak menanyakan persoalan tersebut kepada kalian, aku hanya ingin mewariskan beberapa jurus ilmu golok kepada kalian semua."

Ui It hou tidak seperti Toan San sekalian yang begitu tahu diri, dia lebih jujur dan berterus terang daripada orang lain, mendengar tawaran tersebut dengan cepat katanya sambil membungkukkan badan:

"Ilmu golok yang hamba sekalian latih merupakan suatu kepandaian yang agak aneh dan termasuk ilmu golok pembunuh secara langsung, aku kuatir ilmu golok lainnya tak akan sesuai bagi kami."

Dari nada pembicaraan tersebut bisa ditarik kesimpulan kalau dia enggan menerima petunjuk dari Cu Siau-hong.

Mendengar perkataan itu, Cu Siau-hong segera tertawa: "Lebih banyak ilmu silat yang dimiliki lebih baik untuk

manusia semacam kita ini, toh ilmu silat tidak akan menindih badan? Ilmu golok yang akan kuwariskan kepada kalian ini meski tidak termasuk suatu kepandaian yang hebat atau luar biasa. Cuma paling tidak pun bukan ilmu golok yang terlalu jelek, untung saja hanya terdiri dari tiga jurus, sehingga untuk dipelajari pun amat cepat"

"Baik! Bila kongcu bersikeras akan mewariskan ilmu golok kepada kami, sudah barang tentu hamba akan menerima tawaran itu"

Cu Siau-hong segera tertawa.

"Bagaimana kalau golokmu dipinjamkan sebentar kepadaku?.'

Dengan sangat menghormat Ui It hou menggangsurkan goloknya kepada anak muda itu.

Cu Siau-hong segera menyambut golok itu, kemudian berkata:

"Hanya suatu ilmu golok sederhana yang terdiri dari tiga jurus saja, harap saudara sekalian perhatikan dengan seksama"

Dengan cepat dia memutar golok serta memainkan ketiga jurus ilmu golok tersebut.

Sesudah menyaksikan permainan jurus itu, Ui It hou sekalian baru berdiri tertegun karena tercengang. Ternyata ketiga jurus serangan tersebut benar-benar merupakan suatu ilmu golok yang sangat lihay.

Peluh dingin mendadak saja membasahi jidat Ui It hou, dengan sangat hormat dia segera menjura seraya berseru:

"Kongcu lihay amat jurus serangan itu, betul-betul merupakan jurus serangan yang luar biasa"

“Tidak terhitung suatu kepandaian sakti, bila kalian merasa ketiga jurus ilmu golok itu masih bisa bermanfaat bagi kalian, silahkan untuk melatihnya dengan lebih seksama" "Hamba benar-benar tak tahu diri sehingga berbicara tak benar, untuk kelancangan hamba mohon kongcu sudi memaafkannya"

"Tak usah sungkan-sungkan'

"Perubahan ilmu golok itu kelewat aneh, agaknya dilancarkan semua dari sudut yang mustahil bisa dilakukan orang, lagipula perubahannya cukup rumit, sedemikian dahsyatnya perubahan itu sehingga hamba sekalian tak sempat menyaksikan permainan jurus itu dengan jelas"

'Maksud Ui heng?"

Sambil menjatuhkan diri berlutut, Ui It-hou cepat-cepat berseru: "Hamba tidak berani, hamba bernama Ui It-hou"

'Baik!" kata Cu Siau-hong sambil tertawa. 'Ui It-hou, maksudmu ..'.

"Maksud hamba, harap Kongcu suka mengajarkan sekali lagi kepada kami..."

'Baik perhatikan dengan seksama"

Pelan-pelan dia mengangkat golok dan sekali lagi membawakan jurus-jurus serangan tersebut.

Kali ini ketujuh harimau itu memperhatikan dengan lebih seksama lagi, hampir dengan mata yang terbelalak lebar mereka ikuti semua gerakan itu satu persatu.

Kali inipun Cu Siau-hong menggunakan gerakan yang paling lamban untuk membawakan ke tiga jurus serangan tersebut..

Walaupun ilmu golok itu terdiri dari tiga jurus, dalam kenyataan ketiga jurus serangan itu beruntun menjadi satu sehingga mirip dengan gabungan satu jurus serangan belaka,  perubahan  demi  perubahan  semuanya  amat kecil, tapi justru diantara perubahan yang amat kecil itulah, tersimpan suatu jurus mematikan yang sangat dahsyat.

Ui si jit hou merupakan jago-jago yang ahli didalam permainan ilmu golok, namun mereka belum pernah menjumpai ilmu golok semacam ini, karena semua kegunaan maupun gerakannya jauh berlawanan dengan teori ilmu golok pada umumnya.

Mereka pun cukup menyadari, apabila ilmu golok tersebut dipergunakan maka akan menghabiskan suatu perubahan yang sama sekali diluar dugaan, membuat pihak lawan sama sekali tidak menyangka akan datangnya ancaman tersebut.

"Kongcu, apakah ketiga jurus ilmu golok ini ada namanya?" tanya Ui It hou kemudian.

"Sebut saja sebagai Poo mia sam to (tiga jurus golok pelindung nyawa) "

"Pesan dari kongcu mengandung arti yang mendalam, hamba sekalian dapat memahami maksud kongcu itu, maka bila tak sampai keadaan terdesak, kami tak akan mempergunakan ketiga jurus ilmu golok tersebut"

“Kekuatan yang kita miliki kelewat sedikit, aku tidak mengharapkan ada yang terluka atau tewas diantara kita"

"Hamba mengerti"

Saat itulah Ui jit hou menaruh hormat kepada Cu Siau hong lantaran sedang melaksanakan perintah dalam sekejap saja telah mengalami suatu perubahan yang besar sekali, kini rasa hormat mereka benar-benar muncul dari hati sanubari yang murni. "Baik sekarang kalian boleh mulai melatih diri disini" kata Cu Siau-hong kemudian. Selesai berkata dia lantas beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut....

Dalam halaman rumah, Su eng sedang melatih beberapa jurus ilmu pedang yang telah diwariskan kepada mereka itu.

Memandang bayangan punggung Cu Siau-hong yang menjauh, rasa hormat yang tulus segera muncul diatas wajah Ui It hou, terdengar dia bergumam seorang diri:

"Dalam bidang apa saja dia selalu mengungguli kami, dalam kenyataan kelihayan nya memang jauh melebihi kami semua yaa, dia memang seorang majikan yang luar biasa, beruntung sekali kami dapat mengikuti dirinya, sudah pasti kepandaian serta keberhasilannya akan meninggalkan suatu cerita yang hebat didalam dunia persilatan"

Ketika berjalan keluar dari pagar bambu Cu Siau-hong merasa agak bangga juga merasa agak sedih.

Sebetulnya ketiga jurus ilmu golok yang diwariskan itu bukan ilmu golok yang sesungguhnya, melainkan tiga jurus ilmu pedang yang dipelajarinya dari dalam kitab Bu beng kiam boh (kitab ilmu pedang tanpa nama).

Sebetulnya kepandaian itu dinamakan To mia sam kiam (tiga jurus pedang perenggut nyawa), suatu jurus pedang yang sangat aneh tapi amat sakti, tiga jurus terlebur menjadi satu dan merupakan serangkaian ilmu pedang yang maha dahsyat.

Akan tetapi setelah dipengaruhi oleh Cu Siau-hong akhirnya terciptalah suatu kepandaian ilmu golok yang sangat hebat.

Sudah barang tentu semua gerak serangannya sama sekali   berlawanan   dengan   gerakan   ilmu   golok   pada umumnya, justru karena itu pula, maka ada satu perasaan ilmu golok itu menjadi begitu ganas dan luar biasa.

Dia telah merubah tiga jurus pedang menjadi tiga jurus golok, diantara perubahan ilmu golok yang sangat aneh, bagaimanapun juga hal ini mendatangkan perasaan bangga baginya.

Akan tetapi bila teringat berapa banyak orarg lagi yang bakal tewas diujung senjata golok Ui si jit hou dalam mempraktekkan ketiga jurus serangan tersebut, tanpa terasa hatinya kembali jadi sedih.

Perubahan jurus dari ketiga jurus ilmu pedang itu membuat Cu Siau-hong mendapatkan suatu ilham yang aneh sekali.

Ia berpendapat, seandainya jurus golok dan jurus pedang bisa dipersatukan, bukankah hal ini akan menyebabkan jurus golok maupun ilmu pedang tersebut semakin dahsyat lagi?

Dia mulai berpikir, dapatkah seseorang menggunakan dua macam senjata, dengan dua macam jurus serangan sekaligus, yakni menggunakan golok dan pedang?

Andaikata ditangan kiri membawa golok tangan kanan membawa pedang, apakah kedua macam senjata yang berada itu bisa di pergunakan bersama dalam suatu gabungan rangkaian jurus serangan yang mematikan?

Dalam waktu singkat persoalan itu segera mencekam  dan menguasahi seluruh pikiran maupun perasaannya.

Sambil memejamkan mata dia mulai memeras otaknya keras-keras, entah berapa lama sudah lewat. Tiba-tiba ia mendengar suara teguran dari sisi telinganya:

"Kongcu, waktu sudah siang kau harus pergi beristirahat" "Sekarang sudah jam berapa?" "Kurang lebih kentongan ke empat"

"Baik mari kita kembali ke rumah penginapan"

"Kongcu" bisik Ong Peng lagi, "Tan Heng telah berjanji denganku, sebelum kentongan ke lima, dia akan mengirim kabar kemari"

"Tak mungkin bisa sedemikian cepat" "Kongcu, Tan Heng "

"Aku tahu, mari kita pergi"

Sejak saat itu, baik Su-eng maupun Jit hou sudah mulai menaruh perasaan kagum yang amat mendalam terhadap kebijaksanaan serta ketangguhan Cu Siau-hong.

Bukan saja si anak muda itu sudah menampilkan kecerdasan yang luar biasa dalam menghadapi lawan, diapun menampilkan satu kepandaian silat yaug sangat dahsyat.

Ong Peng tidak banyak bicara lagi, buru-buru kawanan jago itu berangkat kembali ke rumah penginapan. Sampai tengah hari keesokannya, belum ada juga kabar berita dari Tan Heng.

Seng Tiong-gak, Tiong It-ki, Lik-Hoo, Ui Bwee dan Ang Bo-tan pun tak ada yang kembali.

Ong Peng berusaha menahan diri, tapi setelah bersantap siang, akhirnya dia tak sabar untuk menanti terus, dengan cepat dia berkata:

"Kongcu, mereka belum juga ada kabar beritanya" "Aku tahu" "Sudah begini lama mereka belum juga kembali, perlukah kita mengutus orang untuk menemukan kembali diri mereka?”

“Bila mereka dapat kembali, tentu saja kita dapat pergi mencarinya, tapi kalau mereka sudah dapat kembali lagi, maka pencarian yang dilakukan saat ini sudah kelewat terlambat.”

“Kongcu, apakah kita akan lepas tangan dengan begini saja?”

“Ong Peng, sekalipun kita hendak mengurusinya, sekarang juga tak akan mampu untuk berbuat banyak.”

“Kongcu, daripada kita berdiam diri saja, lebih baik mengirim orang untuk melakukan pemeriksaan.”

-oOo>d’w<oOo-

TIBA-TIBA para muka Cu Sian hong berubah menjadi serius sekali, katanya dengan cepat.

"Semua tindakan maupun gerakan yang kita lakukan yang bisa saja disertai oleh suatu rencana yang matang namun kita tidak akan memiliki waktu yang luar biasa untuk menyelamatkan suatu kegagalan"

Ong Peng segera mengangguk.

'"Apa yang kau katakan memang benar'

Mendadak terdengar suatu langkah kaki manusia berkumandang memecahkan keheningan, seseorang telah berjalan masuk dengan langkah lebar, ternyata dia adalah Seng Tiong-gak.

Cu Siau-hong benar-benar merasa amat gembira, sambil tertawa serunya cepat. "Su.." Buru-buru Seng Tiong-gak menukas: “Tiong-gak menjumpai majikan!”

"Apakah sudah melakukan kontak dengan lainnya?' "Sudah ketiga orang nona selamat semua, sekarang

mereka sudah menyusul ke dalam suatu lingkungan tertentu dan hingga kini masih bergumul dengan sekawanan manusia."

"Sekawanan manusia ? manusia dari mana saja?'

"Asal usul mereka kurang begitu jelas, tapi semenjak It-ki sudah disekap cukup lama dalam kebun raya Ban-hoa-wan, sekarang ia sudah mendapatkan banyak perubahan, berubah menjadi lebih matang'

"Ooooh "

"Seng tayhiap, apakah kau telah berjumpa dengan Tan Heng?" tiba-tiba Ong Peng menimbrung..

"Mungkin lantaran Tan heng sudah lama melakukan perjalanan didalam dunia persilatan, pengetahuannya juga kelewat luas, ilmu menyaru mukanya jauh lebih hebat dari pada kami, sehingga sekarang aku belum berhasil menemukan jejaknya"

'Oooh rupanya begitu"

Seng Tiong-gak tertawa, katanya kembali.

"Cuma saudara Ong tak usah kuatir, kami saja tidak mengalani cidera atau kerugian apa-apa, apalagi yang lihay seperti saudara Tan?..

"Aaai... bila dia tidak kelewat kemaruk akan pahala, hal ini sulit untuk dibicarakam lagi"

Seng Tiong-gak kembali tertawa: "Kongcu" katanya kemudian, "bila tiada pesan yang lain, Tiong-gak ingin mohon diri lebih dulu"

"Beristirahatlah lebih dulu, sebentar kita akan berbicara lagi dengan seksama"

Dia sangat menguatirkan dari keselamatan dari Tong It ki, tapi sampai sekarang kekuatiran tersebut belum juga diutarakan ke luar.

Memandang hingga Seng Tiong-gak telah berlalu dari situ, dengan suara rendah Ong Peng segera berkata: "Kongcu apakah kita akan melakukan suatu gerakan?"

"Tunggu sampai mereka telah kembali semua, baru dirundingkan lebih jauh, aku telah berkata, siapapun harus sudah kembali kemari sebelum matahari tenggelam hari ini, aku tidak ingin menyaksikan ada orang yang melanggar perintahku ini."

Walaupun senyuman masih menghiasi  wajahnya, namun ucapan tersebut diutarakan dengan suara yang  tegas.

Ong Peng tidak berani banyak bicara lagi, dia segera memberi hormat dan mengundurkan diri dari situ. Seng Hong dan Hoa wan berdua masih tetap berdiri dibelakang tubuh Cu Siau-hong.

"Kalian pun boleh pergi beristirahat" kita Cu Siau-hong kemudian "kemungkinan besar akan terlibat dalam suatu pertarungan yang sengit pada malam nanti"

Seng Hong segera membungkukkan badan sambil memberi hormat, katanya:

'Keselamatan kongcu merupakan persoalan yang paling kami kuatirkan, lagi pula hambapun tidak merasa kelelahan" “Untuk bisa mendapatkan semangat serta tenaga yang baru, maka seseorang mesti beristirahat dengan secukupnya, dengan begitu kau baru akan memiliki kekuatan yang paling baik untuk membunuh musuh, nah mundurlah kalian beristirahat, jauh lebih penting dari pada segala-galanya”.

"Kongcu, biarlah hamba dan Hoa wan secara bergilir berjaga-jaga disini, sehingga bilamana perlu kongcupun bisa memberikan perintahnya kepada kami"

Menyaksikan kesungguhan hati mereka, Cu Siau-hong merasa tak enak untuk menampik, terpaksa dia manggut manggut...

'Kalau begitu berjaga-jagalah diluar kamar, didalam dua jam mendatang siapapun dilarang mengusik diriku"

“Seandainya dia telah kembali?"

"Suruh mereka menunggu, menunggu setelah dua jam lagi baru datang menjumpai aku.'

"Hamba turut perintah"

Bersama Hoa wan, ia segera mengundurkan diri dari situ.

Cu Siau-hong segera menutup kamar dan beristirahat sebentar, kemudian dengan jari tangan menggantikan pedang, ia mulai melatih jurus-jurus pedang yang tertera didalam kitab tanpa nama itu.

Semua teori tersebut sudah dia hapal di luar kepala, kini tinggal melatihnya hingga matang..

Selama ini, belum pernah dia mempuyai perasaan bahwa ilmu silat merupakan suatu kebutuhan yang amat mendesak seperti kali ini.. Entah bagaimanakah jalan pemikiranmu, tapi bila seorang manusia sudah terjun ke dunia persilatan, maka dia tak dapat kelewat mengikat diri dalam peraturan, atau dengan perkataan lain jika seseorang ingin memimpin suatu kelompok atau organisasi, maka baik didalam ilmu silat maupun dalam akal cerdik, dia mesti memiliki kelebihan dari pada orang lain.

Dia teringat betapa banyaknya waktu yang dia hamburkan dimasa lalu, padahal sudah banyak jurus serangan yang tercantum dalam kitab tanpa nama itu yang dihapalkan olehnya, namun hingga kini belum pernah melatihnya secara bersungguh-sungguh.

Bila dia mau melatih diri dengan setulus hati, maka sekarang paling tidak sebagian besar jurus serangan tersebut sudah dapat dikuasahi olehnya.

Kini dia harus mempergunakan setiap detik yang ada untuk mempelajari semua jurus pedang yang ada dalam kitab tersebut.

Setelah melewatkan banyak waktu untuk beristirahat dan berpikir, akhirnya dia menjumpai banyak jurus pedang yang tercantum didalam kitab tersebut tiada suatupun yang bukan merupakan jurus serangan yang biasa. Asal dia mengambil berapa jurus saja diantaranya untuk diwariskan kepada orang lain, maka hal tersebut tentu akan merasa terkejut bercampur keheranan.

Maka seorang pendekar pedang yang amat lihay pun secara diam-diam telah muncul dalam dunia persilatan.

Dia tumbuh dalam suasana yang serba terburu dan serta repot oleh keadaan. Baru saja Cu Siau-hong selesai melatih serangkaian ilmu pedang, dari luar pintu sudah terdengar suara orang mengetuk pintu sambil berseru dengan suara keras:

"Kongcu. kongcu..."

Itulah suara dari Seng Hong.

Cu Siau-hong bangkit berdiri, mengatur pernapasan dan pelan-pelan membuka pintu.

Tampak Tan Heng bermandikan keringat serta tubuh yang kotor karena debu sedang berdiri dibelakang Seng Hong.

"Tak usah ditanya lagi, sudah pasti ada persoalan penting yang hendak segera disampaikan”.

Benar juga, belum sampai Cu Siau-hong bertanya, Tan Heng telah berkata lebih dulu:

"Kongcu, Lik hoo, Ui bwee dan Ang Bo tan berada dalam keadaan berbahaya, dia minta bantuan kongcu untuk mengirim orang kesana menolong mereka bertiga!"

"Sekarang dimana orangnya?.'

"Disekap dalam perahu besar yang berlabuh ditepi pantai Siang kang'

"Diatas perahu?'. "Benar!"

"Baik, masuklah lebih dulu, seka keringat diatas wajahmu, kemudian terangkan yang lebih jelas.

"Tidak kongcu! menolong orang bagaikan menolong api, untuk menolong mereka kita musti bergerak sekarang juga”.

Cu Siau-hong segera tarik napas panjang-panjang, sahutnya kemudian: "Baiklah, mari kita segera berangkat" "Kongcu, siapa saja yang turut didalam operasi kali ini?" tanya Seng Hong cepat.

"Panggil Ong Peng, kita akan berangkat dulu, sedang kau dengan membawa Seng ya, Su eng dan Jit hou menyusul belakangan'

Seng Hong mengiakan dan segera membalikkan badan berlalu dari situ.

?oooO)d.w(Oooo?

DITEPI sungai siang kang, tampak sebuah perahu besar berlabuh disitu, perahu itu termasuk ukuran besar, berlayar dua, berwarna merah dengan tulisan emas yang tertulis disitu adalah kata-kata:

"Siu say tok hu."

"Oooh,.. perahu ini adalah perahu seorang pembesar" kata Cu Siau-hong setelah melihat keadaan perahu tersebut.

"Yaa, dalam perahu inilah mereka disekap, dengan kepala mata sendiri kusaksikan mereka bertiga dinaikkan ke atas perahu tersebut"

"Apakah kau tidak salah melihat? Kalau perahu yang digunakan adalah perahu pembesar, titik kelemahan yang ada disini menjadi besar sekali...".

"Benarkah perahu pembesar, aku tidak tahu, tapi aku berani menjamin kalau mereka bertiga naik ke atas perahu ini".

Dengan cepat dia melanjutkan:

"Kecuali dengan cepat mereka memindahkan pula mereka bertiga ke tempat lain, tetapi aku rasa hal ini tidak mungkin bisa terjadi" "Baik, mari kiia naik keatas perahu" Tan Heng menghembuskan napas panjang, kemudian berkata.

"Kongcu, seandainya perahu ini benar-benar adalah perahu pembesar, maka bila kia naik ke atas, apakah tidak akan menimbulkan kesulitan yang amat besar untuk kita?"

"Perduli perahu mereka adalah perahu milik siapa, pokoknya asal mereka berani menawan Lik hoo, Ui Bwee dan Ang Bo tan, maka kita tak usah takuti dirinya lagi"

"Ooooh...?'

Cu Siau-hong memperhatikan sekejap suasana sekeliling tempat itu, segera di jumpainya ada sebuah papan penyeberang menghubungkan daratan dengan perahu itu, tanpa berbicara dia segera menuju ke dalam perahu tersebut.

Seng Hong dan Hoa Wan dengan cepat mengikuti dibelakangnya. Sedangkan Tan Heng, dan Ong Peng menyusul di belakang Hoa Wan.

Perahu tersebut adalah sebuah perahu besar yang amat hebat, bahkan diatas papan penyeberangan dilapisi dengan permadani berwarna merah.

Kalau di lihat dari bentuknya maka perahu besar ini adalah sebuah perahu penumpang. Ruangan perahu yang tersedia hampir menempati sebagian besar dari perahu itu.

Pintu depan ruang perahu berukirkan suatu ukiran yang indah, tirai putih menutupi jendela, malah didepan pintu masih tergantung `dua' buah lentera model keraton.

Diatas geladak suasana amat sepi dan tak nampak sesosok bayangan manusiapun. Sambil menghembuskan napas panjang, Cu Siau-hong berkata:

"Seng Hong, kesanalah dan ketuk pintu, mohon bertemu' Seng Hong mengiakan, dia meraba gagang pedang diatas bahunya, lalu selangkah demi selangkah maju ke depan.

Sebagai seorang pendekar pedang, meraba gagang pedang yang biasa dipergunakannya merupakan suatu kebiasaan bila menghadapi suatu peristiwa, karena dengan meraba gagang pedang tersebut maka akan mendatangkan suatu perasaan siap dan keyakinan pada kemampuan sendiri yang amat tebal.

Seng Hong yang tebal mendapat didikan dengan disiplin tinggi segera maju mengetuk pintu ruang perahu, kemudian dengan cepat dia mundur kembali selangkah.

Pintu ruang perahu segera terbuka seorang lelaki setengah umur yang berbaju warna hitam  dengan membawa sebuah huncwee berjalan keluar, dia memperhatikan Seng Hong sekejap, kemudian tegurnya:

"Ada urusan apa kau datang kemari?" "Apa kedudukan lo heng di tempat ini?"

Bukan menjawab pertanyaan itu, lelaki setengah umur tersebut menjadi naik pitam. "Kau tahu tempat apakah ini? teriak nya.

"Aku tahu, inilah sebuah perahu pembesar" Lelaki setengah umur itu kembali tertawa dingin.

“Kalau sudah tahu kalau perahu seorang pembesar, mau apa kau naik kemari"

Seng Hong tertawa.

"Aku tahu kalau perahu ini adalah sebuah perahu pembesar, tapi orang yang mempunyai pangkat, biasanya sangat tahu aturan, oleh karena itu kongcu kami sengaja datang berkunjung kemari".. "Ooooh ! ada urusan apa kongcu kalian datang kemari".

"Tentunya kau bukan tuan rumah bukan?" tukas Seng Hong sambil tertawa lebar.

"Walaupun lohu bukan tuan rumah, namun kedudukanku adalah seorang congkoan, persoalan yang ada dalam perahu ini entah kecil atau besar harus mendapatkan persetujuanku lebih dulu!"

"Walaupun ucapanmu ada benarnya, namun kau hanya bisa berbicara denganku, sebab kedudukan kongcu kami amat terhormart, kedudukanmu sebagai congkoan masih belum berbobot"

Lelaki setengah umur itu menjadi gusar sekali tiba-tiba bentaknya dengau suara keras:

'Hei, kau lagi ngaco belo apa saja."

“Aku tidak mengaco belo, apa yang kujawab adalah kata-kata yang sebenarnya, congkoan tayjin, setelah kami berani datang kemari, itu berarti kami tidak akan takut menghadapi persoalan macam apapun, paling baik lagi kalau kita bisa berbincang-bincang dalam suasana yang baik dan damai.”

Lelaki setengah umur itu mendengus dingin, sorot matanya segera dialihkan kesamping dan memperhatikan sekejap Cu Siau-hong yang waktu itu sedang bergendong tangan sambil memandang angkasa.

"Diakah kongcu kalian?", tegurnya kemudian. "Betul ... "

"Baik kalau kalian tak berani memanggil nya, biar aku yang memanggil." Seraya berkata lelaki setengah umur itu segera maju ke depan. Mendadak Seng Hong merentangkan tangan kanannya untuk menghalangi jalan pergi lelaki setengah umur itu tegurnya lagi ketus:

"Tunggu sebentar, lebih baik panggil keluar majikanmu lebih dulu baru berbicara lagi."

Lelaki setengah umur itu menghisap huncweenya dalam dalam, kemudian baru tertawa seraya berkata:

"Anak muda nyalimu benar-benar besar sekali"

"Kalau nyaliku tidak besar masa berani naik ke atas perahu kalian ini?"

"Ehm .... kebesaran nyalimu memang sangat mengagumkan, sudah banyak manusia yang pernah lohu jumpai, tapi belum pernah kujumpai seorang manusia yang bernyali besar tekebur seperti kau"

"Mana, mana, hari ini kau toh sudah menjumpainya' Lelaki setengah umur itu segera manggut-manggut. "Baiklah, sekarang aku hendak memberitahukan kepada

kalian, siapa saja yang tinggal didalam perahu ini" katanya.

'"Siapa?"

"Keluarga dari Cu Hu ciang, panglima air yang menguasahi sepanjang sungai Tiang kang!".

'Keluarganya yang tinggal disini!"

"Benar, bila panglima sendiri berada diperahu ini, hmm... cukup menyaksikan caramu naik ke perahu sambil membawa pedangpun sudah akan dicap sebagai pemeberontak yang bermaksud jahat, sedari tadi kau sudah dibekuk batang lehernya" "Congkoan tayjin sekarang panglima tidak berada disini, siapakah diantara penghuni perahu ini yang dapat mengambil keputusan?"

"Sudah barang tentu Cu hujin"

Seng Hong berpaling dan memandang sekejap ke arah Cu Siau-hong, melihat pemuda itu tidak bermaksud untuk menghalangi perbuatannya, bahkan berlagak seakan-akan tidak melihat ataupun mendengar dengan cepat dia tertawa kembali:

"Kalau begitu undanglah keluar Cuhujin."

"Hmmm, kau benar-benar kurang ajar!" seru lelaki setengah umur itu marah.

Mendadak dia mengayunkan tangan kanannya sambil melancarkan cengkeraman kedepan.

Dengan cekatan Seng Hong berkelit ke samping kemudian sambil membalikkan badan dia lancarkan sebuah babatan balasan.

Dengan tangan sebelah memegang huncwe, tangan yang lain bertarung melawan Seng Hong, dalam waktu singkat lelaki setengah umur itu sudah melepaskan serangan sebanyak sepuluh jurus.

Seng Hong tidak berhasil menyarangkan pukulan maupun totokannya ketubuh lelaki setengah umur itu, sebaliknya lelaki setengah umur itupun tidak berhasil mencengkaram urat nadi pada pergelangan tangan Seng Hong.

Dengan cepat lelaki setengah umur itu mundur satu langkah, kemudian sambil menghentikan serangannya dia berkata: "Bagus sekali anak muda, kepandaian silat yang kau miliki memang hebat sekali'

“Sama sama, sama sama..."

Hoa Wan yang selama ini berdiri disamping Cu Siau hong, mendadak buka suara sambil berkata: "Seng Hong, kongcu sudah tidak sabar lagi untuk menunggu lebih lama "

Seng Hong mengiakan, tangan kanannya segera menggenggam gagang pedangnya dan berkata dingin:

"Bila kau tidak bersedia juga untuk memberikan laporan ke dalam atas kedatangan kami.. jangan salahkan kalau aku akan menggunakan pedang untuk menyerangmu."

Sebenarnya lelaki setengah umur itu tidak memandang sebelah matapun terhadap Seng Hong, tapi setelah terjadi pertarungan barusan, dia baru sadar kalau telah berjumpa dengan musuh tangguh.

Kalau dilihat gerak gerik si bocah muda yang begitu cepat cekatan, bisa ditarik kesimpulan kalau dia adalah seorang manusia yang tidak gampang untuk dihadapi.

Memandang sekejap kearah Hoa wan, lalu memandang pula kearah Cu Siau-hong, akhirnya lelaki setengah umur itu merasa jeri dengan sendirinya, pelan-pelan dia menyahut:

"Baiklah, jika kalian bersikeras hendak menjumpainya, terpaksa aku harus memberikan laporan ke dalam"

"Kami bersikeras akan menjumpainya, kalau bisa makin cepat semakin baik", sambung Seng Hong dingin.

"Baik, harap kalian tunggu sebentar" "Tunggu sebentar" Sebetulnya lelaki setengah umur itu sudah bersiap-siap untuk membalikkan badan dan masuk kedalam, mendengar seruan tersebut, dia segera berhenti kembali.

'Ada urusan apa?' dia bertanya.

"Kongcu kami sudah tidak sabar menunggu, sebagai Congkoan seharusnya kau persilahkan kongcu kami untuk masuk ke ruanganmu dan duduk menunggu disitu"

"Baiklah!"

Dengan langkah cepat Seng Hong segera menuju ke hadapan Cu Siau-hong dan berkata sambil memberi hormat:

"Silahkan masuk ke ruangan untuk duduk lebih dulu kongcu!"

Cu Siau-hong mengangguk dan segera melangkah masuk ke dalam ruangan perahu.

Seng Hong dan Hoa wan berjalan lebih dulu dipaling depan, Cu Siau-hong di tengah dan Ong Peng serta Tan Heng mengikuti dari belakang.

Waktu itu Tan Heng telah membersihkan obat penyaru mukannya dan pulih kembali dalam wajah aslinya. Ruangan tamu dalam perahu itu amat besar, disitu tersedia enam buah kursi.

Sambil menghembuskan napas panjang, Seng Hong berkata:

"Congkoan, cepat melaporkan kedatangan kami kepada majikanmu"

Lelaki setengah umur itu tertawa hambar, katanya: "Sekarang juga aku akan pergi, tapi ada satu hal perlu

kuterangkan lebih dulu" "Baik katakanlah"

"Kalian berani memasuki ruangan yang dihuni keluarga pembesar, dosa ini sudah cukup untuk menjatuhkan hukuman mati kepada kalian. Apakah saudara semua merasa perlu untuk memikirkannya kembali?"

"Apalagi yang musti dipikirkan? Tak usah dipikirkan lagi, kalau tidak ada keyakinan yang bisa diandalkan, masa akan datang kemari"

“Laporkan saja kehadiran kami ini"

Tanpa berbicara lagi lelaki setengah umur itu segera membalikkan badannya dan berlalu dari situ.

Tak selang beberepa saat kemudian meraka dengar suara mainan yang berdentingan lalu tampak dua orang dayang berbaju putih sambil membimbing seorang perempuan cantik berbaju hijau pelan-pelan berjalan keluar.

Dia adalah seorang perempuan yang amat cantik dengan mengenakan gaun berwarna hijau, kulit badannya putih dan halus sekali, gaun panjangnya nampak menutupi sepasang kakinya hingga sewaktu berjalan amat tertita-tita, agaknya dia berkaki kecil.

`Sebenarnya perempuan itu tidak terlampau cantik, tapi justru mempunyai kematangan seorang perempuan yang merangsang, Diantara bibirnya yang mungil tampak dua baris giginya yang kecil dan putih bersih begitu munculkan diri segera tegurnya "Siapakah yang ingin berjumpa denganku?'. Sambil berkata sepasang matanya dengan cepat dialihkan ke wajah Cu Siau-hong.

"Aku ingin menjumpai hujin", jawab Cu Siau-hong sambil tertawa.

"Tolong tanya siapa namamu?" 'Cu Siau-hong, cengcu dari perkampungan Ing-gwat-san ceng"

"Aku adalah Lok ong si!" "Lok hujin!'

"Tidak berani, seingatku belum pernah berjumpa muka dengan Cu cengcu"

'Aku orang she Cu pun tidak kenal dengan hujin, aku baru pertama kali ini datang berkunjung"

"Kalau begitu Cu Cengcu adalah sahabat karib suamiku?"

"Dengan Lok sianseng pun aku belum pernah bersua muka"

"Kalau memang tak pernah saling mengenal, tindakan Cu Cengcu yang berkunjung ke perahu kami ini apakah tidak terasa agak berlebihan?"

"Ya, kedatanganku memang terasa agak berlebihan, cuma kalau tak ada urusan tentu tak akan berkunjung kemari, aku ingin minta beberapa keterangan tentang suatu persoalan"

'Baik, katakanlah Cu cengcu"

"Aku ingin tahu apakah kedudukan yang sebenarnya dari Liok tayjin?"

"Suamiku adalah wakil panglima yang menguasahi daerah sepanjang sungai Siang kang"

"Oooh kalau begitu suatu pangkat yang sangat tinggi"

"Tidak berani, yaa begitulah"

"Hujin, apakah Lok Tayjin tidak berada diatas perahu?" "Tidak ada, dia sedang ada urusan di kota Siang yang, tapi sebelum hari menjadi malam nanti pasti sudah kembali kemari"

"Seandainya aku ingin mengajukan pertanyaan kepada hujin, apakah hujin dapat mengambil keputusan?"

"Ini tergantung pada urusan apakah itu.. "selanya, "aku tak pernah mencampuri urusan dinas suamiku"

“Persoalan ini boleh dibilang termasuk setengah dinas setengah pribadi "

"Kalau begitu silahkan cengcu utarakan"

Dia lemah lembut dan penuh sopan santun, memang gerak geriknya menunjukkan gaya seorang nyonya besar.

Cu Siau-hong memperhatikan Lok hujin sekejap, lalu ujarnya sambil tertawa: 'Hujin, apakah pihak panglima mengurusi soal tangkap menangkap orang. ?"

?oooO)d.w(Oooo?

TENTANG masalah seperti itu, kami kaum perempuan selamanya tak pernah tahu menahu, sahut Lok h uji n.

"Oooh... kalau begitu, kami harus menunggu sampai kedatangan Lok tayjin?"

"Benar! bila persoalan yang hendak dibicarakan cengcu adalah masalah urusan dinas lebih baik tunggu saja sampai kepulangan suamiku"

"Hujin! kapankah Lok Tayjin pergi meninggalkan tempat ini?"

"Cu cengcu, pertanyaanmu aku rasa kurang tepat'. 'Pertanyaan yang kelewat berlebihan !" "Betul, jelek-jelek suamiku adalah seorang wakil panglima pembesar kerajaan, tapi kau mengajukan pertanyaan dengan seenaknya sendiri, apakah cara semacam ini tidak kelewat tekebur?"

"Hujin, harap kau maklum, setelah aku berani datang kemari berarti aku tak takut menghadapi kesulitan"

"Jadi Cu cengcu hendak main gertak"

"Bukan begitu, aku sedang mengajukan satu persoalan secara bersungguh-sungguh kepada hujin, dan aku harap hujin bersedia memberi jawaban yang sebaik-baiknya atas pertanyaanku ini"

"Telah kukatakan, selamanya aku tak akan mencampuri urusan dinas suamiku, bila Cu cengcu ingin mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, lebih baik nantikan saja sampai suamiku pulang"

Cu Siau-hong segera tertawa.

"Hujin, sayang sekali aku tak bisa menunggu terlalu lama disini"

"Lantas apa yang hendak kau lakukan?" "Terpaksa aku akan menggeledah perahu"

"Kau bilang apa?" Lok hujin segera tertegun dibuatnya.

Menyaksikan gerak gerik perempuan itu, Cu Siau-hong segera berpikir dalam hatinya: "Pandai benar perempuan ini berlagak, dan lagi dia sangat pandai menguasahi diri" Berpikir demikian, dia lantas tertawa dingin, katanya lagi:

"Hujin, aku rasa inilah satu-satunya cara yang bisa kulakukan" "Kau benar-benar menggemaskan sekali, apa kau lupa tempat apakah ini? Begitu berani kau berbuat lancang disini"

"Hujin, sudah kukatakan, setelah kami berani datang kemari berarti kami tak akan kuatir menghadapi akibat apapun"

"Kau benar-benar manusia tak tahu diri, sebenarnya apa maksud tujuanmu?" Lok hujin tampak sangat gusar.

Cu Siau-hong sama sekali tidak mengggubris seruan orang, dia berpaling dan bentaknya keras: "Geledah!"

Ong Peng, Tan Heng ditambah Hoa Wan segera menyerbu masuk ke dalam ruangan perahu.

"Berhenti mau apa kalian?" bentak Lok-hujin.

'Kalian boleh pergi" Cu Siau long mengulapkan tangannya, "Seng Hong, halangi hujin ini"

Seng Hong mengiakan, dia segera maju dua langkah dan menghadang di hadapan Lok hujin, ujarnya:

"Hujin, bila kau ingin kesana, maka. hanya ada satu cara yang bisa kau lakukan yakni mengandalkan ilmu silatmu untuk menerjang lewat"

"Kau adalah penyamun?"

"Anggap saja begitu nyonya! Hamba hanya tahu melaksanakan perintah majikanku, apapun yang mau nyonya bicarakan, silahkan langsung dibicarakan dengan majikan kami"

"Aku sedikit tidak habis mengerti, sebenarnya kalian datang dari mana dan apa yang kalian cari ditempat ini?" "Nyonya, bagimu hanya ada satu cara yang bisa kau lakukan untuk mencegah mereka, menyerbu ke dalam ruangan" kata Cu Siau-hong tiba-tiba.

"Bagaimana caranya?" "Gunakan ilmu silatmu!"

"Ooooh apakah selain cara ini sudah tiada cara yang lain lagi?"

"Tidak ada, bila nyonya enggan turun tangan, maka terpaksa biarkan saja mereka melakukan penggeledahan'

"Cu kongcu, sungguh tak disangka seorang yang nampaknya lemah lembut dan terpelajar, ternyata tak lebih hanya seorang pentolan penyamun yang tak tahu aturan"

Diam-diam Cu Siau-hong berpikir dalam hatinya: "Mungkinkah mereka sudah melakukan persiapan yang

matang? Kalau tidak mengapa ia nampak begitu tenang?"

Rupanya Ong Peng, Tan Heng serta Hoa Wan telah menyerbu masuk ke ruang perahu. Tapi Lok hujin tidak mencoba untuk menghalanginya, demikian pula lelaki yang mengaku sebagai congkoan tersebut, diapun tetap berdiri tak bergerak.

Dengan pedang terhunus Seng Hong berdiri tegak didepan pintu ruangan sambil berjaga-jaga.

"Nyonya Lok aku merasa keheranan?" tanya Cu Siau hong kemudian dengan suara nyengir.

"Heran apa?"

'Sudah jelas nona memiliki kepandaian silat yang hebat, mengapa kau tidak mencoba untuk menghalangi kami?"' "Kalian pencoleng yang tak tahu diri, sudah berani berbuat kekerasan, sekarang masih berani berbicara seenaknya"

"Mungkinkah perempuan ini benar-benar tidak pandai bersilat."

Ketika menengok ke arahnya, tampak sepasang mata perempuan itu berkaca-kaca, seperti seorang yang hampir menangis.

Air mata telah menutupi sinar matanya.

Dengan perasaan apa boleh buat pelan-pelan ia duduk diatas kursi. Dua orang dayangnya tatap berdiri disamping Lok hujin.

Kenyataan yang terpapar didepan mata sekarang membuat Cu Siau-hong mulai ragu dengan dugaan sendiri.

Mungkinkah perempuan ini benar-benar nyonya wakil panglima? Kalau memang demikian, gara-gara yang dibuatnya ini cukup besar.

Sementara dalam hatinya berpikir, diluar dia berkata dengan suara pelan:

'Nyonya, persoalan yang terpenting adalah aku tidak percaya kalau kau adalah Nyonya Lok yang sesungguhnya"

Lok hujin menjadi naik pitam, teriaknya:

"Kau benar-benar pandai sekali ngaco belo, mungkin didunia ini penuh dengan orang yang menyaru orang lain, tapi mana mungkin ada orang yang kesudian menyaru sebagai bini orang lain?"

"Nyonya Lok Hu ciang sampai kapan baru akan kembali?"

"Sebelum hari menjadi gelap nanti" Cu Siau-hong segera manggut-manggut:

"Baik" katanya, "sebelum malam tiba nanti, mungkin kami juga sudah meninggalkan tempat ini, itu berarti tak akan bersua muka dengan Lok Hu-ciang "

"Hmmm! kalian sudah tahu kalau dia tak berada diatas perahu, oleh karena itu baru berani membuat onar disini!"

"Perkataan hujin kelewat berat, sekalipun Lok Hu-ciang berada disini, bila kami ingin datang, kami tetap akan datang."

"Kalau begitu kalian adalah manusia yang tidak takut langit, tidak takut bumi dan tidak mengenal artinya hukum?"

"Ucapan Hujin kembali kelewat serius"

Tiba-tiba Lok hujin bangkit berdiri, tampaknya dia seperti hendak mengumbar hawa amarahnya, tapi setelah memandang sekejap ke arah Cu Siau-hong tiba-tiba nyonya itu duduk kembali dan menghela napas pa nja ng.

'Aaaai Cu cengcu, sesungguhnya apa yang kalian kehendaki?"

“Mencari orang!"

"Siapa yang kalian cari! Suamiku atau aku sendiri?' "Semua bukan!"

'Tolong katakanlah kepadaku, sebenarnya apakah yang sedang kalian cari? Mengapa yang dicari adalah ka mi?'

"Kami datang mencari tiga orang nona, ada orang menyaksikan mereka digusur ke dalam perahu ini"

Lok Hujin segera berpaling ke arah congkoannya dan memandang sekejap lalu bertanya. "The congkoan, apakah diatas perahu kita ini terdapat tawanan yang tak dikenal?"

"Tidak ada!"

"Cu cengcu, perempuan macam apakah yang sedang kalian cari? Semestinya dia tak akan membawa tawanan ketempat tinggalku ini, kali ini dia sedang melaksanakan tugas diluar, mungkin saja dapat melakukan suatu pelanggaran terhadap kebiasaan tersebut, cuma aku tidak mengetahui persoalan itu, semestinya The congkoan akan tahu dengan jelas"

Cu Siau-hong memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, tapi ia tidak berhasil menemukan sesuatu yang mencurigakan. Seandainya perempuan ini sedang berpura pura maka peran yang dibawakan olehnya ini betul-betul dibawakan secara sempurna.

Lok hujin segera menghembuskan napas panjang, kembali ujar nya lebih jauh:

"Bila Cu cengca tidak percaya, silahkan saja melakukan penggeledahan yang seksama, bila dapat menjumpai ketiga oraug tawanan itu, kalian boleh membawanya pergi, terus terang saja akupun akan turut berterima kasih bila hal ini bisa kalian lakukan, sebab aku tidak senang melihat suamiku membawa tawanan perempuan ke atas perahu ini, Cuma Cu cengcu, bila kau tidak berhasil menemukan tawanan yang aku maksudkan itu, bagaimanapun juga kau mesti memberikan suatu pertanggungan jawab kepadaku"

"Soal ini aku...".

Tiba-tiba dia saksikan Ong Peng datang dengan langkah cepat sambil berseru:

"Menjumpai cengcu!" Walaupun dia berusaha keras untuk menpertahankan ketenangan hatinya, tapi toh tak bisa menutupi rasa kaget dan tercengang yang menghiasi wajahnya.

Sambil berkerut kening Cu Siau-hong segera bertanya: "Sudah ditemukan?"

Ong Peng maju selangkah, ke depan lalu bisiknya  dengan suara lirih:

Tan Heng dan Hoa Wan telah jatuh tak sadarkan diri didalam ruang perahu.

'Oooh, telah terjadi peristiwa itu' 'Bagaimana terjadinya?" tanya pemuda itu.

'Agaknya mereka sudah terkena sejenis obat pemabuk yang amat lihay.'

"Ooooh.... apakah kalian mengendus bau harum yang menusuk hidung"

"Tidak, hamba tidak mengendus bau apa-apa!'

"'Kalau obat pemabuk yang mereka endus maka seharusnya kalau menyiarkan bau harum"

"Benar, hambapun berpendapat demikian, seandainya obat yang dipakai maka sudah sewajarnya kalau membawa bau obat, tapi kami benar-benar tidak berhasil mengendus bau apa-apa"

Cu Siau-hong manggut-manggut, sorot matanya segera dialihkan ke wajah Lok hujin, kemudian katanya: "Hujin, apa maksudnya ini?"

"Aku tidak mengerti apa yang sedang kau maksudkan?" "Hujin,    jangan    bergurau,    sekalipun    ingin  bermain

sandiwara   juga   ada   batas-batasnya,   bila   kau bersikeras berbuat demikian terus, itu berarti kau memaksa aku untuk turun tangan”.

"Hmm, seorang lelaki sejati, seorang manusia gagah, bisanya cuma menganiaya kaum wanita yang lemah, terhitung enghi-ong hohan macam apakah dirimu?"..

Cu Siau-hong segera tertawa.

"Hujin", katanya: "bila kalian tidak mempergunakan  obat pemabuk, hampir saja aku kena kalian kelabuhi"

“Apa maksud perkataanmu itu?”.

"Sayang sekali kau masih belum cukup untuk bersabar terus, sehingga apa yang telah kalian lakukan selama ini akhirnya musnah berantakan kembali."

Mendadak dia maju ke depan dan mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kiri Lok hujin dengan kecepatan luar biasa.

Lok hujin tertegun, teriaknya.

"Hei, apa-apaam kau ini? Apakah kau tidak mengerti bahwa antara lelaki dan wanita ada batas-batasnya?"

"Aku tidak mengerti, cuma aku tahu nyawa hujin paling tidak jauh lebih berharga daripada nyawa beberapa orang saudaraku'

"Kau penyamun terkutuk, berani benar menyakiti nyonya seorang pembesar?"

'Lepaskan mereka! Kalau tidak jangan salahkan kalau aku tak akan mengenal ampun” hardik Cu Siau-hong sembari berkata tenaga dalamnya segera dikerahkan keluar, kelima jari tangannya pun mencengkeram semakin keras. Ketika Lok Hujin merasakan tenaga cengkeramannya semakin menghebat terpaksa, diapun harus mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan.

Tapi dengan begitu rahasianyapun segera terbongkar semua.

Sambil tertawa dingin Cu Siau-hong segera menambahi tenaga cengkeramannya dengan tiga bagian, lalu jengeknya:

"Hujin, akhirnya kau menunjukkan juga wujud aslimu'.

Begitu salah bertindak, Lok hujin segera sadar kalau dia tak bisa berlagak lagi, maka sambil menghela napas panjang katanya:

"Lepaskan aku, mari kita berbicara secara baik-baik" "Ong Peng perhatikan congkoan itu dan hujin harap kau

turunkan  perintah  untuk  melepaskan  kalian  berdua,  aku

jamin hujin pasti tak akan mengalami cedera apa-apa'

Sambil berkata tiada hentinya dia menambahi tenaga cengkeramannya pada tangan kanannya.

Lok hujin segera merasakan tulangnya amat sakit bagaikan mau retak saja, terpaksa dia mengerahkan tenaga dalamnya lagi untuk melawan rasa sakit tersebut.

Walaupun dia menggertak gigi untuk menahan diri, agar dia tidak berteriak kesakitan, tapi toh saking sakitnya dia sampai mengucurkan air mata.

Cu Siau-hong menghembuskan napas panjang, pelan pelan katanya:

"Hujin, bila kau tidak segera turunkan perintah, jangan salahkan kalau aku akan meremukkan tulang pergelangan tanganmu itu." "Lepaskan aku, lepaskan aku, aku tak bisa mengambilkan keputusan untuk kalian"

“Oooh... itu berarti di atas perahu ini masih ada orang lain yang mempunyai kedudukan jauh lebih tinggi daripada kedudukan nona?"

Walaupun pertanyaan tersebut diucapkan dengan nada yang sangat ramah, tapi tenaga cengkeraman yang dipancarkan keluar lewat tangan kanannya bukannya berhenti, justru makin lama semakin bertambah berat.

Dia mengerti, dalam keadaan dan situasi seperti ini, ia tak boleh menunjukkan perasaan iba atau belas kasihan barang sedikitpun juga.

Inilah suatu rencana licik yang disusun secara sempurna dan teliti, bila salah sedikit atau teledor maka besar kemungkinan nya mereka akan terjebak didalam perangkap musuh yang sangat lihay itu.

Lok hujin telah membungkukkan tubuhnya sambil menahan rasa sakit yang luar biasa. Penderitaan macam ini memang luar biasa sekali dan tidak mudah untuk ditahan oleh siapapun... Tapi nyatanya dia masih sanggup untuk menahannya dan tidak menjawab lagi pertanyaannya itu.

Dengan suara dingin Cu Siau-hong segera berseru: "Hujin, kau benar-benar tidak bersedia untuk menjawab

...."
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 36"

Post a Comment

close