Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 35

Mode Malam
elang abu-abu lah yang terhitung paling tak becus"

"Bagalmana dengan tabiatnya di dalam dunia persilatan?"

"Ke empat ekor burung elang itu saja, mereka adalah manusia yang berdiri antara lurus dan sesat"

"Oooh... kiranya begitu"

"Sudah habiskah pembicaraan kalian?" mendadak si burung elang abu-abu Phu Hong menyela. "Sudah selesai, sekarang aku sudah mengetahui garis besar tentang dirimu, aku pun sudah tahu siapakah kau dan pantaskah untuk dibunuh?"

Paras muka Phu Hong segera berubah hebat.

"Kau hendak membunuhku, itu adalah urusan dikemudian hari, sekarang jawab dulu pertanyaan lohu"

Sementara itu Cu Siau-hong sedang berpikir mencari akal guna menghadapi ke delapan belas buah tabung beracun itu, sebab menurut pendapatnya benda itulah merupakan benda yang mematikan.

Tapi diapun mengerti, jangan sekali-kali dia membuat pihak lawan mengetahui bila dirinya tak sanggup menghadapi ancaman senjata rahasia tersebut ....

Kalau dibilang memang gampang, tapi untuk dilakukan benar-benar sukar sekali.

Tapi nyatanya Cu Siau-hong dapat merahasiakan kelemahan sendiri dengan sebaik-baiknya, katanya sambil tertawa:

"Aku musti menjawab pertanyaan apa?"

"Lepaskan, senjatamu dengan menyerah untuk dibelenggu!"

"Bila senjata rahasia tersebut benar-berar sangat lihay seperti apa yang kau katakan dan sanggup merenggut nyawa kami, itu berarti jiwa kami terancam bahaya maut, mesti belum tentu bekal mati, sebaliknya bila kami menyerahkan senjata dan menyerah kalah, bukankah jiwa kami sudah dapat dipastikan akan mampus?"

"Itu mah belum tentu, kami tak akan membunuh kalian karena kau masih berguna bagi kami" "Oooh, benarkah aku masih memiliki bobot sebesar itu? Coba katakan dulu, keadaan apakah yang bakal kualami nanti?".

"Setelah meletakkan senjata, kami akan mengajakmu menjumpai seseorang, bila pembicaraan yang dilangsungkan kemudian berjalan secara baik, mungkin aku bisa menjamin keselamatan jiwamu"

`'Bila pembicaraan itu berakhir kurang menyenangkan?" "Kau   hanya   cukup   meluluskan   permintaannya  saja,

sudah pasti pembicaraan tak akan berakhir kurang

menyenangkan"

Cu Siau-hong segera mengangkat jarinya sambil mengetuk batok kepala sendiri, menggunakan kesempatan mana dia telah melepaskan sebuah kode rahasia.

Kode itu berarti kesiap-siagaan penuh, namun tak boleh bergerak secara sembarangan, segala sesuatunya harus bertindak menanti perintahnya, tapi jika sudah bergerak, maka gerakan mesti dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Demikianlah, setelah menunjukkan sikap seperti apa boleh buat, pelan-pelan Cu Siau-hong berkata: "Phu Hong, dapatkah kau memberitahukan kepadaku, kau hendak mengajak kami pergi kemana?"

"Tidak bisa, steleah berjumpa nanti, kau akan mengetahui dengan sendirinya..."

"Phu Hong, kaupun terhitung seorang jago kawakan yang sudah banyak tahun melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, coba bayangkan sendiri, andaikata permintaan-permintaan kami kembalikan pada dirimu sendiri, dapatkah kau meluluskannya?" "Itu tergantung pada posisi macam apakah yang sedang kami hadapi ketika itu"

"Bagaimana seandainya keadaan tersebut seperti  keadaan yang kami hadapi sekarang?'

"Akan kululuskan, paling tidak nyawa kami bisa dipertahankan, karena sekarang kalian sudah berada diujung tanduk"

Cu Siau-hong segera tertawa.

"Phu-heng" katanya, "maksudmu. kau hendak menasehati kepadaku agar selama gunung nan hijau, tidak kuatir kehabisan kayu bakar'

"Kau keliru besar" dengan cepat Phu Hong menukas, "aku minta kepadamu agar tahu gelagat, kau mesti tahu hingga detik ini kita masih berhadapan sebagai musuh"

"Oooh '

'Orang she Cu, aku tak ingin banyak bicara lagi denganmu, aku minta kau segera mengambil suatu keputusan dengan cepat!"

Cu Siau-hong termenung dan berpikir sebentar, kemudian sahutnya:

'Aku telah mengambil keputusan!" "Bagus bagaimanakah keputusanmu itu?"

"Kami tak akan menerima segala macam bentuk ancaman...." kata Cu Siau-hong sambil tertawa. Begitu selesai berkata, dia lantas menyerang kearah Phu Hong.

Seng Hong dan Hoa Wan segera meloloskan pula sepasang pedang mereka dan menyerang Keng Su, si pemuda berbaju biru itu. Golok bulan sabit ditangan Keng Su, secepat kilat bergerak kemuka, serentetan cahaya pelangi dengan tajamnya meluncur kemuka..

'Traang...!" benturan keras segera bergema memecahkan keheningan, pedang ditangan kedua orang bocah itu segera kena ditangkis miring oleh kilatan cahaya golok tersebut.

Benar-benar sebuah serangan yang kuat dan dahsyat..

Ong Peng dan Tan Heng tak kalah cekatannya, satu dari kiri yang lain dari kanan dengan cepat mereka menubruk tubuh Keng Su.

Dikala, tubuhnya menerjang kearah Keng Su tadi, serentak mereka berdua pun meloloskan senjatanya.

Ong Peng mempergunakan dua batang golok pendek sedangkan Tan Heng mempergunakan sepasang pedang pendek.

Senjata semacam itu semuanya bukan termasuk senjata tajam yang biasanya dipergunakan oleh orang-orang Kay pang.

Jelas Ui Lo-pangcu yang berbudi luhur dan berpandangan jauh ke depan itu sudah melakukan pelbagai persiapaan sejak banyak tahun berselang, ini terbukti dari kemahiran anak buahnya mempergunakan senjata yang bukan merupakan senjata khas dari pihak Kay-pang.

Maka dari itu, bisa dilihat betapa ganasnya ilmu golok dari Ong Peng dan betapa kejinya serangan-serangan dari sepasang pedang pendek Tan Heng...

Sementara itu, Cu Siau-hong dengan tangan kosong sedang bertarung melawan sepasang senjata dari Phu Hong. Ong Peng, Tan Heng dan Hoa Wan dengan enam pedang sepasang golok mengurung Keng Su-kongcu rapat rapat.

Empat bilah senjata pendek, empat bilah senjata panjang, delapan macam senjata harus bertarung mengerubuti sebilah golok sabit, namun dalam kenyataan mereka belum juga berhasil untuk menaklukkan pemuda berbaju biru itu.

Tapi ke empat pemuda itu pun rata-rata buas dan cekatan, meski usia dari ke dua orang Kiam-tong itu tidak besar, namun kesempurnaannya didalam  permainan pedang sangat mengagumkan, masing-masing orang mempermainkan semacam ilmu pedang yang sama sekali berbeda, sepasang pedang tersebut sebentar merapat sebentar memecah, jurus-jurus serangan yang dipakai semuanya disertai dengan perubahan yang tak terhitung jumlahnya.

Sekalipun demikian, andaikata hanya mereka berdua saja yang menghadapi permainan golok bulan sabit tersebut, mustahil mereka sanggup menghadapi perubahan demi perubahan yang amat dasyat itu.

Untung saja disana masih ada Tan Heng dan Ong Peng, dua bilah golok pendek dan dua bilah pedang pendek masing-masing memainkan serangkaian serangan sergapan yang amat lihay.

Orang bilang satu cun senjata makin pendek, satu cun pula semakin berbahaya, jurus serangan yang dipergunakan kedua orang itu mana aneh juga sangat lihay, empat orang bekerja sama dengan ketat memaksakan suatu posisi seimbang yang berlangsung ketat..

`Pertarungan antara Cu Siau-hong dengan Phu Hong pun berlangsung sengit, angin pukulan dari Phu Hong sangat  ganas  dan  menderu-deru  sehingga  membuat  Cu Siau-hong seakan-akan tak sanggup menahan serangan lawan ..

Tapi didalam jurus-jurus serangan yang digunakan Cu Siau-hong pun sering kali menunjukkan perubahan di luar dugaan, kadangkala bila posisinya sudah terjepit dan berbahaya, mendadak telah berubah menjadi membaik kembali.

Dengan keadaan macam itu, maka kedua belah pihak pun saling mempertahankan posisinya masing-masing dalam kedudukan seimbang.

Meskipun dalam ruangan itu terdapat puluhan macam senjata rahasia beracun yang ditujukan ke arah mereka, tapi berhubung ke dua belah pihak sedang terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru, maka hal ini memaksa orang orang tersebut tak berani melepaskan serangannya secara gegabah..

Tentu saja mereka kuatir jika bidikan senjata rahasia tersebut malah melukai orang sendiri.

Inilah yang menjadi tujuan dari Cu Siau-hong, pertama tama dia harus menciptakan dulu suatu suasana dimana senjata rahasia beracun lawan tak sanggup melukai mereka, kemudian baru mencari akal guna berusaha untuk meloloskan diri dari kepungan.

Tenaga pukulan yang dilancarkan Phu Hong sangat  kuat, meski seringkali Cu Siau-hong mengeluarkan jurus jurus serangan yang tangguh, namun tidak berhasil menahan seranggan musuh yang datangnya berantai itu..

Tiba-tiba. Cu Siau-hong terkena sebuah pukulan secara

telak, serangan itu dengan tepat sekali menghantam diatas lengan kiri Cu Siau-hong 'Plaak" tak kuasa lagi Cu Siau-hong mundur selangkah dengan sempoyongan.

Menyaksikan keadaan tersebut, Phu Hong segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh ... haaahhh... haaahhh... tampaknya kami sudah menilai dirimu kelewat tinggi, tahu begini percuma kami persiapkan segala macam jebakan untuk menantikan kedatanganmu, cukup lohu seorang pun dapat pula membekuk dirimu"

Tubuh Cu Siau-hong bergoncang cukup keras, tapi hanya sejenak kemudian ia telah menerjang kembali ke depan.

Phu Hong segerta maju selangkah dengan tindakan  lebar, serangan langsung dilontarkan kembali ... "Plaaak !' Kali ini serangannya bersarang telak diatas bahu kanan Cu Siau-hong.

Untuk kedua kalinya Cu Siau-hong kena terhajar sehingga mundur selangkah ke belakang.

Agaknya akibat dari serangannya kali ini Cu Siau-hong tak sanggup menahan seranagan yang sangat berat itu, tubuhnya segera terjengkang ke belakang dan roboh.

Dengan suatu kecepatan bagaikan kilat, Phu Hong mengayunkan tangan kanannya melancarkan sebuah cengkeraman..

Dengan tepat sekali urat nadi pada pergelangan tangan kanan Cu Siau-hong kena dicengkeram. Ketika ia membetot dengan sepenuh tenaga, tubuh Cu Siau-hong segera kena terseret bangun. Tampaknya luka yang diderita Cu Siau hong cukup parah, noda darah telah membasahi ujung bibirnya. "Orang she Cu" ucap Phu-Hong kemudian, 'Tahu begini, aku pasti tak akan mempersiapkan jebakan dengan kekuatan sebesar ini, perangkap singa yang kupasang, tak tahunya yang tertangkap cuma seekor kelinci belaka"

Sebelah tangan kanannya berhasil mencengkeram urat nadi Cu Siau-hong tentu saja dia tidak kuatir kalau sampai sianak muda itu melakukan perlawanan lagi.

Berpaling ke arah lain, dijumpainya Keng Su kongcu sedang terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru melawan empat orang musuhnya.

Keng su kongcu memang kelihatannya tak akan menderita kekalahan, tapi diapun tak memiliki kesempatan baik untuk merebut kemenangan.

Tampaknya suatu pertempuran sengit masih akan melibatkan kedua belah pihak berapa waktu lagi. Memandang paras muka Cu Siau-hong yang pucat pias seperti mayat, Pho Hong segera berkata dingin. "Orang she Cu, suruh mereka menghentikan pertarungan"

Phu Hong ingin sekali memperlihatkan keadaan yang amat membanggakan hati ini kepada Keng su kongcu maka dengan suara lantang kembali dia berseru:

"Su kongcu, menangkap pencoleng harus membekuk pentolannya memukul ular harus memukul kepalanya, sekarang aku telah berhasil membekuk Cu Siau-hong, telah kuperintahkan kepadanya untuk menitahkan anak buahnya menghentikan pertarungan, jika kita bisa membekuk beberapa musuh dalam keadaan hidup, jelas hal ini merupakan suatu pahala besar"

Setelah berhenti sebentar, dengan suara dingin dia melanjutkan:

"Cu Siau-hong suruh mereka hentikan pertarungan!" Cu Siau-hong terengah-engah seperti ke habisan tenaga, sambil memaksakan diri ia lantas berteriak keras:

"Kalian tak usah bertarung lagi"

Sin Jut, Kui Meh dan dua orang kiam-tong, segera menghentikan pertarungan.

Keng su kongcu pun segera menarik pula permainan golok bulan sabit

Tadinya dia tidak percaya jika Phu Hong sanggup membekuk Cu Siau-hong dengan begitu mudah.

Tapi setelah, menyaksikan dengan mata kepala sendiri, dimana urat nadi pada pergelangan tangan Cu Siau-hong benar-benar sudah kena dicengkeram oleh Phu Hong, mau tak mau dia harus mempercayainya.

Sebab bila urat nadi pada pergelangan tangan kanannya kena dicengkeram, orang tak bisa berkutik lagi, jelas hal ini mustahil bisa dipalsukan belaka..

Sekalipun demikian, toh masih terdapat juga rasa curiga didalam hatinya, dia lantas berkata:

"Phu Hong, dengan begitu mudahkah Cu Siau-hong berhasil kau bekuk, kalau memang begitu tak becus, mengapa ia mampu membunuh Keng-ji kongcu ?".

"Su kongcu konon kisah terbunuhnya Keng-ji kongcu bukan seluruhnya mengandalkan kelihayan ilmu silat"

"Kau dapat mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangannya, hal ini menunjukkan kalau ilmu silat yang dimilikinya tak bisa terhitung terlalu hebat"

Dibalik perkataan tersebut masih ada perkataan lain, Phu Hong merasakan hatinya amat tak sedap, katanya kemudian sambil tertawa: "Su kongcu ucapanmu itu memang benar, ia dapat membunuh Ji kongcu, mungkin hanya di karenakan nasibnya lagi mujur saja, kekalahan yang diderita Ji kongcupun mungkin disebabkan pengalamannya yang kelewat cetek " .

Keng su kongcu segera tertawa:

"Entah bagaimanapun juga, yang pasti kau telah berhasil membekuk Cu Siau-hong sekarang"

"Perkataan Su kongcu memang benar, walaupun yang dibutuhkan dalam suatu pertempuran adalah kepandaian silat yang hebat, namun ada kalanya pengalaman didalam dunia persilatanpun merupakan faktor yang penting untuk menentukan suatu kemenangan."

"Jelas keberhasilanmu ini merupakan suatu jasa besar, saudara Phu pasti akan memperoleh pahala untuk jasa ini" kata Keng su kongcu lagi sambil tertawa..

"Aaah, mana, mana, dalam keberhasi!an ini, Su kongcupun mempunyai andil yang sangat besar"

Kemudian sorot matanya di alihkan kewajah Cu Siau hong dan sambungnya kembali. "Suruh mereka meletakkan senjata!".

"Baik!" jawab Cu Siau-hong, "kalian kemarilah, serahkan senjata-senjata tajam tersebut"

Mendengar ucapan mana, Sin Jut, Kui Meh, Seng Hong dan Hoa Wan segera mengiakan dan pelan-pelan berjalan mendekat.

Sementara itu, puluhan buah tabung senjata yang berada dibalik jendela meski masih ditodongkan ke arah Cu Siau hong sekalian, tapi pertama karena Cu Siau-hong sekalian berada   bersama   Phu   Hong,   Keng-su   kongcu  sekalian, kedua, Phu Hong telah berhasil merebut posisi yang menguntungkan, tentu saja mereka tak perlu meningkatkan kewaspadaannya lagi

Sementara itu, Sin Jut dan Kul Meh sekalian dengan kepala tunduk dan badan lemas telah berjalan mendekat.

Phu Hong sendiri meskipun telah berhasil merebut posisi yang sangat menguntungkan dimana urat nadi pada pergelangan tangan kanan Cu Siau-hong telah kena dicengkeram, namun kewaspadaannya masih tetap ditingkatkan, dengan sorot mata yang tajam bagaikam kilat, dia mengawasi ke empat orang itu tanpa berkedip..

"Kalian hendak kemana" tiba-tiba Keng su kongcu menegur dengan suara dingin.

"Kami hendak menyerahkan senjata tajam ini kepada Cengcu!" jawab Ong Peng cepat.

"Cu Siau-hong maksudmu?" 'Benar!"

"Letakkan saja dilantai sana, mengapa kalian musti repot-repot memyerahkan kepadanya!"

"Aaai...! Kami sama sekali tak menyangka kalau Cengcu adalah seorang manusia yang begitu takut menghadapi kematian"

"Oooh?"

"Oleh karena itu kami hendak serahkan senjara tajam ini kepadanya dan akan meninggalkannya pergi, selama hidup tak akan sudi menjadi pengawalnya lagi'.

Mendengar ucapan tersebut, Phu Hong tertawa dingin. "Heehhh...  heeehhh...  heehhh...  sudah  puluhan  tahun

lamanya  lohu  berada   didalam  dunia   persilatan,  kerjaku setiap saat adalah menangkap burung belibis, kau anggap mataku bisa dipatuk dengan mudah oleh burung belibis itu? Lebih baik tak usah bermain setan lagi dihadapanku, bila kalian tidak segera letakkan senjata, sekarang juga lohu akan mematahkan tangan Cu Siau-hong"

Sementara pembicaraan berlangsung, Ong Peng sekalian masih melanjutkan perjalanannya selangkah demi selangkah mendekati ke arah depan.

Tiba-tiba Cu Siau-hong menghela napas panjang, kemudian katanya dengan sedih: "Jika kalian bersikap keras hendak pergi, terserah keinginan kalian itu, letakanlah senjata dan pergilah!"

'Kami amat kecewa terhadap kemampuan cengcu" Seraya berkata pelan-pelan dia meletakkan sepasang golok pendeknya itu ke atas tanah.

Tan Heng, Seng Hong dan Hoa Wan turut membukukkan pula badannya.

Disaat senjata beberapa orang itu hampir diletakkan di atas tanah inilah mendadak mereka menjatuhkan diri menggelinding ke atas tanah, secepat kilat menggelinding sejauh dua kaki lebih.

Dengan menggelinding ke samping, maka terhindarlah mereka dari ancaman senjata rahasia yang muncul dari balik jendela.

Sementara itu, pada saat yang bersamaan Cu Siau-hong membalikkan pula tangan kanannya dan balas mencengkeram pergelangan tangan Phu Hong, lalu diseretnya kakek itu sejauh tujuh delapan depa lebih dari tempat semula. Bukan hanya menyeretnya tujuh delapan depa saja, bahkan melintangkan tubuh Phu Hong didepannya sebagai tameng.

Saat itu, Cu Siau-hong sudah terhindar sama sekali dari ancaman senjata rahasia yang muncul dari balik jendela, meski sebenarnya masih ada sedikit celah, namun dengan direntangkannya tubuh Phu Hong sebagai tameng, otomatis dia menjadi terhindar sama sekali dari ancaman.

-oOo>d’w<oOo-

PERUBAHAN itu terjadi amat mendadak, Phu Hong segera membelalakkan matanya lebar-lebar, diawasinya wajah Cu-Siau-hong dengan pandangan tercengang kemudian katanya:

"Kenapa kau.. kau bisa.. "

"Aku mampu membunuh Keng-ji kongcu, tentu saja aku adalah seorang manusia yang sukar untuk dihadapi."

"Tapi aku toh sudah berhasil mencengkeram urat nadimu."

"Kau licik sekali"

"Sayang aku telah berhasil mempelajari ilmu merubah letak jalan darah, sewaktu pergelangan tanganku kubiarkan kau mencekalnya tadi, letak jalan darahnya telah kugeser posisinya. Apakah kau tidak merasa bahwa dirimu pun lebih licik? Buktinya kalian telah memancing kami untuk mendatangi tempat seperti ini"

Dalam keadaan seperti ini, tiba-tiba saja dia teringat kembali dengan Koay-siang (si dewa pincang) Ui Thong, ilmu menggeser jalan darah ini merupakan kepandaian warisannya. Mendadak saja dia merasakan kesedihan yang dalam, kakek ini pandai sekali dalam ilmu perbintangan dan ilmu jebakan yang lihay, tapi dia sendiri justru hidup didalam kesengsaraan, dia selalu berusaha menghirdarkan diri dari takdir, namun hal mana justru membuatnya menjadi amat sengsara.

Sebenarnya dia dapat hidup senang selama puluhan tahun, tapi oleh karena yang diketahui olehnya keliwat banyak, maka dia harus hidup sengsara selama puluhan tahun lamanya.

Aliran ilmu silatnya seperti juga dengan watak orang ini, semuanya menyimpang dari kebiasaan, alirannya termasuk misterius dan rahasia, sesungguhnya Cu Siau-hong telah belajar banyak sekali darinya.

Semua kepandaian tersebut bukan bisa di kuasai dalam sekejap dan bukan setiap orang dapat mempelajarinya.

Tapi Ui Thong mampu, selama hidup dia sengaja berjalan menyimpang dari kenyataan, bukan saja ia memahami tentang takdir, lagi pula diapun mempunyai pengertian yang mendalam sekali tentang organ tubuh manusia, oleh karena itu kepandaian silatnyapun dengan cepat memperoleh kemajuan yang amat pesat.

Dalam pada itu, Phu Hong telah berkata lagi dengan suara sedingin es:

"Cu Siau-hong, asal kuturunkan perintah, mereka tak akan memperdulikan mati hidup mu dengan menembakkan senjata-senjata rahasia terkeji untuk menghabisi nyawamu"

"Phu Hong, sekalipun mereka membidikkan senjata rahasianya, namun belum tentu senjata-senjata rahasia itu mampu untuk membidik diriku"

'Aku akan beradu jiwa denganmu" "Suruh saja mereka untuk mencobanya!"

Dalam pada itu kedua orang Kiam-tong, Sin Jut dan Kui Meh telah mengundurkan diri lagi sejauh lima enam depa dari tempat semula.

Sekarang merekapun sudah lolos dari lingkaran bahaya maut dan mengundurkan diri keluar dinding pekarangan, tapi demi Cu-Siau-hong, mereka masih tetap berdiri tegak disana.

Keng-su kongcu yang selama ini jarang sekali berbicara, tiba-tiba buka suara, katanya dengan dingin:

"Phu Hong, kau kelewat gegabah, kau mengaku diriku sebagai seorang bocah ingusan yang baru muncul dalam dunia persilatan"

"SU KONGCU, hal ini tak dapat kau salahkan diriku" sahut Phu Hong cepat-cepat, "sebab kalau dilihat dari usianya itu, dia tidak seharusnya memiliki ilmu untuk merubah kedudukan jalan darah"

"Dia dapat membunuh jiko ku, tentu saja dia bukan seorang manusia yang sederhana, tapi kenyataannya kau tak dapat berhati-hati sehingga kena dipecundangi olehnya"

"Su kongcu, apa maksudmu?"

"Terpaksa kau harus menemani mereka untuk mampus bersama, aku hendak menurunkan perintah kepada mereka untuk melepaskan senjata rahasia"

Selesai berkata dia lantas mengayunkan golok bulan sabitnya sambil memberi tanda. "Kepung dari empat penjuru!" perintahnya dengan suara lantang.

Tampak pintu dan jendela terpentang lebar-lebar, para pembidik senjata rahasia yang berada didalam ruangan tadi kini sudah berlompatan keluar dari tempat persembunyiannya.

"Cepat mundur..." Cu Siau-hong segera berseru: "Kongcu, kau..."

"Jangan gubris diriku!"

Ong Peng segera memberi tanda, Seng Hong, Hoa Wan dan Tan Heng serentak melompat keluar dari tem pat itu.

"Phu Hong, hati-hati kau" seru Cu Siau-hong pula.

Dengan mengerahkan tenaga pada tangan kanannya, dia segera menyeret Phu Hong mengundurkan diri dari tempat itu.

Kali ini Phu Hong sama sekali tidak meronta, dia membiarkan dirinya diseret Cu Siau-hong untuk mengundurkan dari tempat tersebut.

Meski begitu, sepintas lalu hal ini nampaknya seakan akan Cu Siau-hong lah yang memaksa Phu Hong untuk menyingkir dari sana.

Gerakan yang dilakukan kedua belah pihak dilakukan dengan kecepatan luar biasa, dalam waktu singkat Cu Siau hong telah mengundurkan diri ke depan pintu.

Tapi jago-jago pembidik senjata rahasia yang bersembunyi di dalam rumah gubuk itu telah berlompatan ke tengah halaman semua.

Mereka belum juga turun tangan, agaknya sedang menantikan perintah selanjutnya dari Keng-su Kongcu. Melihat itu, dengan gusar Keng-su Kong-cu segera membentak keras:

"Hei, mengapa kalian belum juga turun tangan? Apa lagi yang sedang kalian nantikan?" Desingan angin tajam segera berkumandang memecahkan keheningan, serentetan hujan anak panah dengan cepat berhamburan dari empat penjuru.

Dalam pada itu, pintu pagar telah di buka oleh Ong Peng, sekuat tenaga Cu Siau-hong menarik tubuh si burung elang abu-abu Phu Hong untuk menerobos keluar lewat pintu pekarangan tersebut.

Sekalipun gerakan tubuh mereka dilakukan dengan kecepatan luar biasa, tak urung pinggang Phu Hong terkena bidikan juga oleh dua batang anak panah.

Ternyata sekali bidikan anak panah, jumlah panahnya mencapai belasan batang lebih.

Baru saja Cu Siau-hong menyelinap keluar ke balik pintu pekarangan, Toan San, Hee Hay, Lau Hong dan Be Hui telah berdatangan semua.

Ke empat orang inipun merupakan jago-jago lihay dalam hal senjata rahasia, tak usah menantikan perintah dari Cu Siau-hong lagi, dengan senjata rahasia tergenggam mereka segera menyelinap ke kedua belah sisi pintu pekarangan.

Ketika Cu Siau-hong mencoba melirik ke samping, dijumpainya Lau Hong dan Be Hui telah mengenakan sarung tangan yang terbuat dari kulit menjangan.

Jelas senjata rahasia yang di pergunakan ke dua orang ini adalah senjata rahasia yang sangat beracun.

Buru-buru dia melirik sekejap kemudian segera mengalihkan kembali sorot matanya ke wajah Phu Hong katanya:

"Akan ku totok jalan darahmu agar kau ditolong oleh orang-orang kalian !" Dengan suatu gerakan yang amat cepat dia segera menotok jalan darah dari Phu Hong.

Sementara itu ke empat jagoan Su-kiat telah melepaskan pula senjata rahasia mereka.

Tampak selapis pasir hitam dan selapis cahaya keperak perakan ditambah empat buah titik cahaya bintang dengan kecepatan luar biasa meluncur masuk ke dalam pekarangan.

Diantara menyambarnya senjata rahasia tersebut, beberapa kali jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang memecahkan keheningan.

"Mundur!" dengan suara dalam Cu Siau-hong segera membentak, "mundur kedalam hutan disebelah timur laut"

Sambil membentak, dia telah mengundurkan diri lebih dahulu dari tempat itu. Hoa Wan, Seng Hong, Ong Peng dan Tan Heng segera menyusul di belakangnya.

Sedang Su-kiat kembali melepaskan serentetan senjata rahasia sebelum ikut mengundurkan diri pula dari sana.

Jarak antara hutan dengan rumah itu kurang lebih dua tiga puluh kaki, dalam beberapa kali lompatan saja beberapa orang itu sudah menyelinap masuk kedalam hutan.

Sebenarnya Keng su kongcu dan sekawanan jago pembidik senjata rahasianya dapat melakukan pengejaran ke depan, tapi berhubung senjata rahasia yang dilepaskan Su kiat secara beruntun telah melukai belasan orang anak buahnya, hal ini menimbulkan suatu perasaan was-was dalam hati kecilnya.

Oleh karena itu, merekapun tidak melakukan pengejaran. Menanti Keng su kongcu sekalian telah menyusul keluar pintu pekarangan, Cu Siau-hong sekalian telah menyembunyikan diri dibalik hutan.

Keng su kongcu memandang sekejap sekeliling tempat itu, ketika menjumpai Phu Hong bersandar pada dinding pekarangan, paras mukanya segera berubah hebat, tegurnya kemudian dengan suara dingin:

"Kau belum mampus?"

"Cu Siau-hong tidak membunuh aku'

"Elang abu-abu, kau tahu mengapa ia tidak membunuh dirimu"

"Aku pikir dia ingin mempergunakan diriku untuk menahan serangan senjata rahasia yang kalian bidikkan"

"Sebenarnya Cu Siau-hong bakal mampus, tapi dia tidak mampus gara-gara kau berlagak sok pintar"

"Su kongcu sesungguhnya aku ingin sekali melakukan yang baik, tapi aku tak mampu untuk melakukannya"

"Phu Hong jika kau tidak ketipu oleh Cu Siau-hong, tak nanti kita akan mengalami kegagalan seperti ini!"

Phu Hong menghela napas panjang dan tidak banyak berbicara lagi.

Keng su kongcu tidak segera membebaskan jalan darah Phu Hong yang tertotok, dia hanya mcngawasi sepasang lengannya yang masih mengucurkan darah dengan deras itu.

Disamping tubuhnya tergeletak pula dua batang anak panah. Setelah tertawa dingin, Keng su kongcu segera menegur: "Siapa yang telah melukai dirimu?" 'Sewaktu Su kongcu menurunkan perintah untuk melepaskan senjata rahasia tadi, aku telah terkena bidikan anak panah mereka sehigga menderita luka"

"Siapa yang telah mencabutkan anak panah tersebut?" tanya Keng su kongcu lagi dingin.

"Cu Siau-hong."

"Hmm, tampaknya Cu Siau-hong amat memperhatikan keselamatan hidupmu "

"Su kongcu, apa maksudmu mengucapkan kata-kata seperti itu?"

"'Cu Siau-hong amat membencimu hingga merasuk kedalam tulang, seharusnya dia akan membunuhmu malahan mencabutkan anah panah dari tubuhmu"

"Su kongcu, apakah kau menaruh kecurigaan terhadapku?"

"Kenyataan demikian, mau tak mau aku mesti merasa curiga"

"Su kongcu kau "

'Aku cukup tenang, otakku cukup dingin oleh karena itu kau baru menaruh kecurigaan tersebut, hayo bilang! Apa yang telah kau katakan untuk menukar selembar nyawamu itu?"

"Aku tidak mempergunakan apa-apa, mungkin saja Cu Siau-hong dia amat membenciku karena dia telah teringat akan sesuatu siasat"

"Siasat apa?"..

“Menimbulkan kecurigaan mu"

Paras muka Keng su kongcu segera berubah menjadi amat serius, katanya kemudian dengan suara dingin: "Phu Hong, jika kau enggan berterus terang, kemungkinan besar aku akan membunuhmu pada hari ini"

"Kau..."

"Aku tidak percaya kalau Cu Siau-hong bisa bersikap begitu baik dan mulia kepadamu, sudah pasti kau telah memberitahukan banyak rahasia kepadanya, maka dia baru bersedia melepaskan selembar jiwanya?'

"Su Kongcu, kau begitu besar rasa curiganya kepadaku, jika begini caramu, tak nanti orang mau tunduk dan takluk kepadamu setulus hati..."

Pelan-pelan Kengsu kongcu mengayunkan tangan kanannya ke tengah udara, kemudian ucapnya: 'Phu Hong, kuberikan suatu kesempatan lagi kepadamu untuk berterus terang'”

Phu Hong tidak menjawab, dia malahan memejamkan matanya rapat-rapat....

Keng su kongcu segera tertawa dingin, dicengkeramnya tubuh Phu Hong, lalu serunya:

"Phu Hong, tampaknya kau seorang pahlawan yang hebat, kau benar-benar tidak takut mati? Tapi aku tak akan membiarkan kau mampus dengan begitu saja"

Tangan kanannya segera diangkat dan "Pleetakk!"

tangan kiri Pho Hong tahu-tahu sudah dipatahkan. Sesungguhnya siksaan semacam ini merupakan salah satu siksaan yang paling kejam bagi umat persilatan. Paras muka Phu Hong berubah hebat, peluh segera jatuh bercucuran membasahi sekujur tubuhnya.

Tapi dia tetap menggertak gigi menahan diri, ia tidak mengeluarkan setitik suarapun yang keluar dari mulutnya. Sudah jelas dia sedang merasakan suatu penderitaan yaug luar biasa hebatnya. Paras muka Kengsu sedingin es, pelan-pelan dia berkata lagi:

"Bagus, punya keberanian. Akan kulihat kau dapat bertahan sampai kapan?" Kembali dia mencengkeram lengan kanan Phu Hong dan siap-siap dipatahkan pula.

Mendadak Phu Hong melototkan pula sepasang matanya bulat-bulat, kemudian sambil menyeringai seram tegurnya dingin:

"Hai, apa maksudmu yang sebenarnya ?"

"Aku minta kau berbicara terus terang" setelah berhenti sejenak, lanjutnya:

"Kau banyak pengalaman, pengetahuanmu pun sangat luas, maka aku baru keluar untuk mencari pengalaman bersamamu, sungguh tak kusangka ternyata kau adalah seorang manusia yang sama sekali tak becus"

'Su kongcu, bila kau bersikap dengan cara begini terhadap aku orang She Phu, sampai mati pun aku tak akan meram"

"Aku menginginkan pengakuanmu yang sebenarnya, sebelum kuperoleh pengakuanmu itu, hatiku merasa tidak tenteram"

'Su kongcu, aku tak ada pengakuan apa-apa, tahukah kau?. Sekalipun kau Su-kongcu bersikap demikian kepadaku, aku masih dapat menahannya, apalagi Cu Siau hong memang tak pernah memaksa diriku apa-apa"

"Hal ini merupakan suatu perasaan yang keliru dalam hatimu, dugaan yang keliru itu membuat kau merasa Cu Siau-hong benar-benar akan membunuh dirimu, maka kau baru merasa takut dan apa yang dia tanyakan, kaupun segera menjawabnya"

Phu Hong tertawa dingin.

"Su kongcu, kalau memang bersalah pasti akan kuakui, tapi caramu ini bukan memaksa orang untuk mengaku."

"Kalau bukan memaksa orang untuk mengaku, lantas apa namanya?"

"Memaksa orang untuk mengakui dosa yang tidak pernah dilakukan"

"Bagus sekali ucapanmu itu" Tangan kanannya segera bekerja keras dan "Peletak! 'sikut kanan Phu Hong kembali di patahkan dengan kekerasan.

Padahal pada waktu itu Phu-Hong sudah terluka akioat bidikan panah, darah masih mengalir terus tiada hentinya, ditambah lagi beberapa buah jalan darah tertotok membuat dia tak mampu mengerahkan tenaga dalamnya lagi untuk melawan rasa sakit tersebut.

Bayangkan saja betapa sakit dan tersiksanya bila dua sikut tangannya dipatahkan orang.. Tak heran kalau sekujur badannya basah oleh keringat karena kesakitan.

"Su kongcu" kata Phu Hong kemudian, "kau tak dapat menyiksa aku dengan cara begini"

"Hayo bicara, beritahu kepadaku, apa yang telah kau katakan kepada Cu Siau-hong?"

"Aku tidak mengatakan apa-apa, sungguh! Su kongcu, apakah tidak kau bayangkan berapa banyak waktu yang tersedia bagiku selama ini dan apa pula yang dapat kukatakan?"

"Padahal, kata-kata yang penting pun hanya cukup diutarakan dalam tiga sampai lima patah kata belaka." "Su kongcu, bila kau ingin membunuhku" silahkan saja turun tangan! Tak usah kau pergunakan lagi segala macam kembangan untuk menyelimuti tujuanmu yang sebenar nya"

Keng su kongcu segera tertawa hambar.

"Jika kubunuh dirimu, bukankah kau akan mati tanpa memberikan pengakuan apa-apa?"

"Dengarlah baik-baik Keng su, aku tidak tahu apakah kau mempunyai kecurigaan semacam itu secara sungguhan ataukah memang kau cari kesempatan untuk membinasakan aku!".

"Aku benar-benar menaruh curiga"

"Itu mah gampang, dalam organisasi kita ini terdapat suatu peraturan yang sangat ketat, aku tak berani lari juga tak mungkin bisa lari, asal kau laporkan kepada atasan atas sebuah tuduhan yang kau lontarkan kepadaku, Chin Ciang sin yang memegang peraturan dengan ketat pasti tak akan lepaskan diriku dengan begitu saja!"

“Apakah kau sangat berharap bisa terjatuh ke tangan Chin Ciang sin?"

"Setiap orang yang terjatuh ketangan si Tangan besi Chin, sekalipun tidak mati juga akan terkelupas kulit badannya, tapi aku toh tetap berpendapat lebih baik terjatuh ke tangannya daripada menderita siksaan di tempat ini..."

"Kalau begitu, bila aku jauh lebih keras daripada Chin Ciang sin?"

"Bukan begitu, bila berbicara soal kekejamannya dalam menyiksa dan caranya memaksa orang untuk mengaku, kau masih belum sepersepuluhnya Chian Ciang sin, tapi ada satu hal dia jauh lebih baik daripada dirimu" "Oya? Dalam hal apa ?"

"Dia pakai aturan! Lagipula jauh lebih cekatan dan pandai daripada dirimu, dia memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah"

Keng su kongcu menghembuskan napas panjang, ujarnya kemudian:

"Mungkin aku memang tak mampu melebihi kemampuan dari Chin Ciang sin, tapi dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan..."

"Apa yang kau saksikan?" seru Phu Hong gusar. "Kusaksikan persoalan antara kau dengan Cu Siau-hong"

jawab Keng su kongcu ketus.

"Persoalan apa yang ada diantara kami?"

"Dalam watak manusia, banyak terdapat kekurangan kekurangan, takut mati merupakan kekurangan yang paling besar bagi umat manusia"

"Maka kau lantas menuduh aku telah pergunakan bahan rahasia dari organisasi kita untuk menukar selembar nyawaku?`

"Benar, dan memang demikianlah"

"Karena aku takut Cu Siau-hong membunuh diriku, dan akupun takut kau menaruh curiga, maka dengan mempergunakan waktu dan beberapa patah kata yang singkat kuutarakan keadaan yang sebenarnya kepada dia ..."

"Aaai... jika kau bersedia mengaku sejak tadi, bukankah kau tak usah merasakan siksaan karena tulang sikutmu dipatahkan!" kata Keng su kongcu sambil menghela napas. "Sekarang aku baru mengerti, daripada hidup tak bisa dan mati tak dapat seperti saat ini, jauh lebih baik jika aku berbicara terus terang dan bisa segera mati"

"Kau memang seorang yang pandai "

"Su kongcu, bolehkah kita membicarakan suatu pertukaran syarat?"

"Boleh saja"

"Andaikata kuakui akan persoalan ini, Su kongcu hendak menghukum diriku dengan cara bagaimana?"

"Itu mah tergantung sampai berapa jauh kah seriusnya persoalan yang sedang kuhadapi."

"Baik ku akui!`.

"Bagus sekali Phu Hong! Dapatkah kau memberitahukan kepadaku, berapa banyak rahasia perguruan kita yang telah kau bocorkan?"

"Boleh saja kukatakan hal ini kepadamu, tapi sepasang lenganku sakitnya bukan kepalang, dapatkah kau sembuhkan dulu persendian tulang sikutku yang sudah terlepas itu"

"Dapat saja"

Dengan cepat dia menyambung kembali persendian tulang Phu Hong yang sudah terlepas itu...

Kemudian Keng su kongcu baru berkata sambil tertawa: 'Nah, sekarang tentunya kau sudah dapat berbicara

bukan!."

"luka diatas punggungku sakitnya bukan kepalang, dapatkah kau bubuhi obat luka lebih dulu?"

"Boleh saja" Ia segera memanggil dua orang untuk membubuhkan obat diatas luka yang diderita Phu Hong.

Phu Hong segera menggerakkan sepasang lengannya untuk mengendorkan otot-ototnya yang kaku kemudian dia baru berkata:

"Aaaah .... sekarang aku baru merasakan lebih nyaman..."

“Phu Hong, sikapku kepadamu cukup baik bukan?' "Bagus, bagus, pada hakekatnya bagus sekali"

"Aaai, manusia bukan Nabi, siapa yang bisa hidup sempurna tanpa kesalahan? Asal tahu salah dan bersedia untuk bertobat, itulah baru merupakan tindakan yang benar'

Phu Hong tertawa getir.

'Su kongcu, aku telah melanggar sesuatu kesalahan yang besar sekali, aku tidak seharusnya melepaskan Cu Siau hong, lebih-lebih tidak seharusnya memberikan rahasia tentang organisasi kita kepadanya"

"Apa saja yang telah kau beritahukan kepadanya?'

"Aku benar-benar pantas mati, apa yang kuketahui telah kuutarakan semua kepada nya."

"Tidak sedikit bukan yang kau ketahui?"

"Ya, banyak sekali, sudah belasan tahun aku menggabungkan diri dengan organisasi ini, apa yang kudengar pun sudah banyak sekali"

"Seandainya bukan lantaran kesalahanmu, kita telah berhasil membekuk Cu Siau-hong bukan?"

"Benar, memang keteledoranku kelewat besar, besarnya sampai bukan kepalang, bukan saja telah membuat Cu Siau hong lolos dari kematian, lagipula hampir saja aku yang terluka ditangan mereka"

Dengan perasaan hati yang amat puas, Keng-su kongcu manggut-manggut, kembali dia berkata:

'Phu Hong, kau begitu berani mengakui semua kesalahan yang telah kau lakukan, pada hakekatnya hal ini merupakan suatu tindakan yang sangat berani"

"Su kongcu, semua dosaku telah kuakui, sekarang apa lagi yang musti kukatakan?"

"Kita, harus segera mengejar Cu Siau-hong, tapi sayang kau sudah terluka, agaknya mustahil bagimu untuk mengejar mereka lagi"

"Yaa, benar aku telah melanggar suatu peraturan yang amat serius, maka aku memang seharusnya segera dikirim ke ruang siksa untuk memperoleh pemeriksaan"

"Ucapanmu memang betul. ' Keng-su kongcu tertawa. Mendadak dia mengulapkan tangannya sambil berseru: "Keluarlah kalian!"

Dari balik pintu pagar segera bermunculan puluhan orang lelaki kekar berpakaian ringkas. Ditangan mereka tergenggam pelbagai macam tabung senjata rahasia yang beraneka ragam. Sambil tertawa Keng su kongsu segera berkata:

'Apakah kalian sudah mendengar semua?"

"Sudah!" jawab puluhan orang lelaki itu hampir bersama.

Mendadak si burung elang abu-abu Phu  Hong merasakan hatinya bergerak, segera tanyanya:

"Apa yang telah kalian dengar?' Seorang lelaki yang membawa tabung api Im leng-lui hweetong segera menjawab:

"Mendengar pengakuan atas dosa-dosamu, kau telah melepaskan Cu Siau-hong, membuat kami semua merasakan penderitaan yang amat besar"

"Oya?".

'Phu Hong sekarang kami akan menghukum dirimu" "Aku telah mengakui semua dosa-dosaku, maka lebih

baikjika aku dihantar ke ruang pemeriksaan untuk menerima hukuman disitu"

"Seharusnya memang mesti mengirim kau kesitu, tapi sayang musuh tangguh berada didepan mata, aku kuatir kami tidak memiliki cukup banyak waktu untuk berbuat demikian"

"Jadi maksud Su kongcu?"

"Kita berada bersama sama dan lagi ada begitu banyak orang yang menyaksikan kau melepaskan Cu Siauhong hingga akibatnya banyak diantara anak buah kita yang mati dan terluka, sekarang mendengar pula kau mengakui sendiri semua dosa yang telah dilakukan, sekalipun aku ada maksud untuk mengampuni kesalahanmu, mereka juga belum tentu akan menyetujuinya "

Paras muka Phu Hong berubah hebat dengan cepat dia menukas:

"Su kongcu, apakah kau hendak membunuhku?"

"Tidak, aku tak akan membunuhmu, lebih baik carilah akal-sendiri untuk menghabisisi nyawamu sendiri"

Phu Hong segera bersungut-sungut. "Su kongcu" katanya, "apakah diantara kita ada dendam atau sakit hati?"

"Tidak ada, tiada dendam atau sakit hati"

"Kalau memang tiada dendam atau sakit hati, mengapa kau musti mencelakai diriku?"

"Aku bukan bermaksud mencelakai dirimu, aku hanya melaksanakan perintah sesuai dengan kenyataan" Setelah berhenti sejenak, dengan dingin dia melanjutkan:

"Phu Hong, kau hendak turun tangan sendiri ataukah hendak memaksa kami yang turun tangan?'

Diam-diam Phu Hong menghimpun tenaga dalamnya, kemudian berkata:

"Baiklah, kalau toh Su kongcu bersikeras hendak membunuhku, terpaksa aku akan memenuhi kehendak hatimu itu"

Tiba-tiba dia mencabut keluar sebilah pisau belati, kemudian sambil ditodongkan di atas dadanya, ia berkata dengan sedih:

"Su kongcu, bila aku bunuh diri untuk menebus dosa, maka kau pun tak usah mempertanggungjawabkan diri lagi atas kejadian ini dan ketiga orang saudara angkatku pun tak akan menyelidiki sebab-sebab kematianku itu."

"Kau telah melepaskan musuh, telah mengakui sendiri semua dosamu, didengarkan pula begini banyak orang, sekalipun mereka hendak mengusut perkara ini, aku juga tidak takut"

"Perkataan Su kongcu memang benar, tapi aku selalu merasa tidak habis mengerti, mengapa Su kongcu begitu bernafsu ingin membunuhku?" Keng su kongcu segera menyeringai menyeramkan, katanya sambil tertawa dingin: 'Kau sudah bertekad untuk mati, mengetahui lebih banyak pun apa gunanya?"

"Su kongcu" kata Phu Hong, "golok yang sangat tajam itu dengan cepat akan membuat aku tewas, apakah aku harus tewas dalam keadaan yang serba kabur dan tidak jelas?"

Keng su tertawa.

"Phu Hong, usiaku masib muda, pengetahuanku dalam dunia persilalan belum cukup, tapi aku tak akan masuk perangkapmu itu dan aku tak akan meninggalkan titik kelemahan apapun yang bisa kau pergunakan"

"Kalau begitu, inilah kelemahanmu!" teriak Phu Hong dengan suara keras, tiba-tiba dia menghimpun tenaga dalamnya dan melejit ke tengah udara..."

Tampaknya dia sudah melakukan persiapan dengan seksama, begitu badannya melejit dan berjumpalitan, dia sudah melayang ketengah halaman pekarangan.

"Lepaskan senjata rahasia !" perintah Keng-su kongcu cepat.

Dengan cepat para jago pelepas senjata rahasianya menyerbu keluar pintu pekarangan sambil menghamburkan senjata rahasianya.

Terdengar suara bidikan busur berpegas tinggi serta tabung-tabung senjata rahasia otomatis berkumandang tiada hentinya, dalam waktu singkat senjata rahasia beracun, jarum terbang serta aneka macam senjata lainnya yang memancarkan kilauan cahaya hijau berhamburan memenuhi seluruh angkasa. Phu Hong bukan seorang yang bodoh, sejak permulaan dia sudah memperhitungkan sampai ke situ, dengan cepat dia menjatuhkan diri menggelinding diatas tanah untuk meloloskan diri dari ancaman panah pendek, sepuluh batang jarurn terbang serta dua butir peluru Im leng-lui hwee-tan, kemudian tubuhnya melejit sejauh empat-lima kaki dari tempat semula.

Bagi seorang jago persilatan yang berilmu tinggi, asal kesempatan untuk membunuhnya dengan senjata rahasia bisa dilampaui, maka jangan harap bisa menggunakan senjata rahasia untuk melukainya lagi.

Menyaksikan Phu Hong sudah berhasil meloloskau diri dari jangkauan senjata rahasia, Keng-su kongcu merasa amat gelisah, dengan gusar bentaknya keras-keras:

"Phu Hong, kau berani kabur?"

"Mengapa tidak berani? Keng-su, bila kau hendak membunuhku, sepantasnya gunakanlah cara yang lebih hebat, kalau cuma menggunakan cara rendah  semacam  ini. Hmmm, anak kecil pun tak akan kena dikibulin"

Sembari menjawab, dengan depat dia menyelinap ke belakang sudut ruangan.

Tempat itu merupakan suatu sudut yang tertutup, sehingga senjata rahasia tak mungkin bisa mencapai tempat tersebut.

"Bagus," kata Keng su kongcu dingin: "Phu Hong, jika kau berani melarikan diri, aku akan segera menurunkan perintah untuk membunuh"

Bentakan tersebut sudah diutarakan berulang kali, namun belum ada juga yang menjawab, tahu kalau Phu Hong telah berhasil melarikan diri, timbul rasa sesal dan dendam yang membara dalam hatinya. Dalam pada itu, Phu Hong sambil membawa tubuh yang penuh luka dan menggertak gigi kencang-kencang melarikan diri secepat-cepatnya menuju ke dalam hutan.

Dalam hati dia tahu kalau dalam hutan tersebut bersembunyi Cu Siau-hong dan kawan-kawannya, tapi disekitar rumah gubuk itu hanya disana saja yang terdapat semak belukar dan pepohonan, sedangkan tiga arah lainnya merupakan tanah lapang kosong, bila tidak menyembunyikan diri dalam hutan itu, kemungkinan besar dia tak akan lolos dari pengejaran Keng su kongcu berserta para jago pelepas senjata rahasianya

Phu Hong cukup memahami akan kelihayan dari senjata rahasia tersebut, terutama sekali bidikan jarum beracun dari tabung berpegas tinggi serta peluru api Im leng lui hwe tan, asal dia sampai terjebak dalam selisih jarak sejauh tiga kaki, maka kesempatannya untuk melarikan diri jelas tidak besar.

Oleh karena itu, dia melarikan diri masuk ke dalam hutan.

Betul juga, Cu Siau-hong yang bsrsembunyi didalam hutan dapat menyaksikan semua peristiwa itu dengan jelas, dia dapat menyaksikan bagaimana Phu Hong kabur masuk melewati semak belukar dan menerobos masuk kedalam hutan.

Dengan suara lirih Ong Peng segera berbisik:

"Kongcu, empat ekor elang dari dunia persilatan mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sangat baik, mereka bukan manusia yang mudah untuk dihadapi, kalau dilihat dari keadaannya, jelas si elang abu-abu sudah menderita luka yang cukup parah, siapa tahu kalau kita berhasil menangkap seekor burung elang abu-abu?"

Cu Siau-hong segera tertawa lirih. 'Jangan lukai dia, sampaikan perintahku kepada Su eng, suruh mereka berusaha untuk melindungi keselamatan jiwanya, jangan sampai menyebabkan ia terjatuh ke tangan Keng su kongcu"

Sebenarnya Ong Peng menaruh rasa curiga dan tidak habis mengerti, ketika Cu Siau-hong melepaskan Phu Hong tadi, tapi sekarang mau tak mau dia harus memuji akan kelihayan Cu Siau-hong.

Sebenarnya siasat tersebut Cuma satu siasat mengadu domba yang amat sederhana, tapi justru mendatangkan hasil yang luar biasa sekali.

Dengan cepat Ong Peng lari ke depan, dia menjumpai si elang abu-abu sudah berada dibawah pengawasan Toan San sekalian...

Didalam kenyataan, setelah melarikan diri kedalam hutan tadi, berhubung ia kehilangan banyak darah, serta siksaan rasa sakit yang luar biasa, ia sudah tak mampu menahan diri, maka begitu hatinya lega, tubuhnyapun segera terkapar ke tanah.

Ong Peng dan Su eng saling memberi kode rahasia, kemudian pelan-pelan maju ke depan, mendekati ke samping Phu Hong.

Sambil tertawa Phu Hong berkata:

"Bagus, kedatanganmu memang bagus sekali, cabut golokmu dan penggalkan batok kepalaku!"

Dengan cepat Ong Peng menggelengkan kepalanya berulang kali.

'Bila kami ingin membunuhmu, sedari tadi nyawamu sudah kupungut, mengapa mesti menunggu sampai sekarang?" "Lantas mau apa kau datang kemari!" "Mendapat perintah untuk melindungi jiwamu!"

"Kau" Phu Hong memandang sekejap sekeliling tempat itu.

"Aku dan banyak orang yang lain"

Phu Hong telah menjumpai Toan San sekalian berempat menyembunyikan diri di balik pohon... Setelah termenung sebentar, Phu Hong berkata dingin.

"Beritahu kepada Cu Siau-hong, aku orang she Phu tidak membutuhkan orang untuk melindungiku" Ong Peng segera tertawa.

"Apakah melindungi dirimu atau bukan, itu urusan kongcu kami, tak usah kau banyak bicara "

'Kenapa. ?`

"aai! Jangan keras-keras, Keng su kongcu sedang membawa orangnya mendatangi tempat ini, meski kau tidak takut mati, namun siksaan hidup dapat membuat besi yang keraspun akan melumer, jadi cair!".

Phu Hong sudah pernah merasakan kelihayan tangan Keng su kongcu, ngeri juga bila terbayang siksaan siksaan yang keji itu, maka ujarnya setelah termenung sejenak:

"Sebenarnya apa maksud tujuan dari majikanmu itu?". "Tidak bermaksud apa-apa, yang mesti kau lakukan

sekarang adalah beristirahat dengan hati tenang, cepatlah pulihkan kembali kekuatan badanmu kemudian berusaha untuk meninggalkan tempat ini"

Dengan perasaan agak tertegun karena diluar dugaan, Phu Hong berseru tertahan.. "Phu Hong!" kembali Ong Peng berkata "cengcu kami hanya merasa kau patut dikasihani, dan lagi perbuatan dari anggota organisasimu itu juga kelewatan keji, dan tak mengenal kasihan"

"Cuma begitu?"

"Waktulah yang akan membuktikan kebesaran dan kemuliaan hati kongcu kami..." kata Ong Peng dingin. Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh:

"Kurang lebih satu kaki disebelah kiri terdapat sebuah liang yang cukup dalam, rerumputan menutupi diatas liang tersebut, kau boleh beristirahat didalamnya untuk beristirahat sambil mengatur napas, tapi paling baik bila semua gerakan dilakukan secepatnya, sebab agaknya Keng su kongcu sangat bernapsu untuk membunuhmu, sekarang sudah membawa orang-orangnya memasuki hutan ini."

Tampaknya Phu Hong sudah berhasil ditaklukkan hatinya oleh Ong Peng, dengan memaksakan diri ia bangkit berdiri, kemudian menuju satu kaki disebelah kiri dan menyembunyikan diri dibalik liang di belakang semak belukar.

Semak belukar yang sangat lebat hampir menyelimuti liang yang terbuat secara alam itu, kembali tanpa sengaja kakinya menginjak tempat tersebut kalau tidak, sulit untuk menemukannya.

Ong Peng dan Toan San sekalian berempat bersembunyi pula disekeliling tempat itu, jelas sekali terlihat Cu Siau hong sama sekali tidak punya rencana untuk  mengundurkan diri, ia telah menyiapkan suatu pertarungan seru didalam hutan tersebut. Ternyata Keng-su kongcu tidak masuk, disamping tepi hutan dia segera berhenti, lalu mengajak orang-orangnya mengundurkan diri dari situ.

Menanti Keng-su kongcu sekalian sudah pergi jauh, pelan-pelan Ong Peng baru berjalan menuju ke depan liang sambil berkata: "Elang abu-abu, Keng-su sekalian telah pergi, sebentar kamipun akan pergi pula, kau harus baik baik menjaga diri!"

"Tunggu sebentar" mendadak si elang abu-abu Phu Hong berseru, kemudian sambil merangkak keluar dari dalam liang lanjutnya. "aku ingin berjumpa dengan cengcu kalian."

"Cengcu sudah pergi lama sekali" "Kalian'

"Kami mendapat perintah untuk tetap tinggal disini untuk melindungimu"

"Aaai... hal ini sungguh membuat aku merasa sungkan" "Phu Hong, sekarang kau baru mengerti bukan, meski

usia cengcu kami masih muda namun dia adalah seorang yang cerdas, berbakat, berjiwa besar dan bijaksana, ia memiliki kelebihan daripada orang biasa, lihatlah kami, dengan hati yang rela kami bersedia menerima perintahnya dan berbakti kepadanya, makin lama bukan semakin jemu, justru rasa setia kami kepadanya bertambah menebal"

Si elang abu-abu Phu hong segera manggut-manggut. "Kebaikan dari Cu Siau-hong, cengcu kalian tak akan

kulupakan untuk selamanya, sekarang aku hendak mohon diri lebih dulu"

Dia membalikkan badan lalu berjalan ke luar hutan. Langkahnya makin agak sempoyongan, jelas luka yang dideritanya masih belum pulih kembali. Namun dia cukup keras kepala, ia enggan menunjukkan rasa penderitaannya dihadapan orang lain.

Memandang hingga bayangan punggung Phu Hong pergi jauh, Ong Peng baru memanggil Toan San sekalian berempat untuk menampilkan diri..

"'Sebenarnya bocah keparat itu sudah membawa orang orangnya memasuki hutan, diapun bisa lakukan pertarungan terbuka disini, sungguh tak kusangka tanpa melakukan sesuatu gerakanpun dia telah mengundurkan diri dari sini" kata He Hay kemudian.

"Saudara Ong, kongcu sungguh baik hati, masa kami melindungi musuh" timbrung Toan san pula.

Mendengar perkataan itu, Ong Peng segera tertawa. "Sebenarnya akupun merasa agak heran, tapi setelah

kupikirkan kembali, sekarang baru kuketahui kalau kecerdasan kongcu melebihi siapapun, misalnya saja Phu Hong bila kita membunuhnya maka kematian orang itu sama sekali takkan menimbulkan kerugian besar untuk organisasi tersebut, sebaliknya bila dia dibiarkan hidup, kekuatan yang timbul justru tak terlukiskan dengan kata kata"

“Betul!"Toan san mengangguk.

'Yaa, padahal teori semacam ini amat mudah dipahami" kata Lau Hong pula sambil tertawa.

"Teori apa?" Be Hui segera bertanya.

"Bila kongcu sama dengan kita, maka kita tak akan bernama Su eng melainkan disebut Ngo kiat (lima orang gagah)" Toan san segera tersenyum.

"Lau Hong ucapanmu itu keliru besar"

"Dimana letak kekeliruan itu?" Lau Hong tertegun. "Kongcu itu siapa? Masa dibandingkan-bandingkan

dengan kita?".

"Teguran toako memang benar sekali"

Ong Peng segera bertanya, katanya kemudian:

"Kongcu kita adalah seorang yang sederhana, terhadap persoalan semacam itu tak pernah dia memikirkannya ke dalam hati"

"Betul!" ucap Lau Hong pula sambil tertawa, "kongcu adalah seorang manusia besar, seorang manusia cerdas, masa dia akan meributkan persoalan semacam ini bersama kita"

"Lau heng, kau jangan berkata begitu, aku sudah cukup lama berkumpul dengan kongcu, maka terhadap wataknya jauh lebih memahami banyak daripada kalian, aku justru mengerti bahwa ia lebih suka menganggap kita sebagai sesama saudara daripada perbedaan tingkatan kedudukan" kata Ong Peng tertawa.

"Itu kan gaya dari seorang majikan, tapi kita sebagai pembantu haruslah sedikit tahu diri" sela Toan San.

Lau Hong, Hee Hay dan Be Hui dengan cepat manggut manggut sambil mengiakan. Ong Peng yang menyaksikan kejadian itu, diam-diam merasa sangat kagum, tampaknya orang orang Pay-kau mempunyai disiplin yang sangat tinggi, jauh lebih tinggi daripada orang-orang Kay-pang.

Su-eng dan Cu Siau-hong belum lama berkenalan, sekalipun   amat   menaruh   hormat   akan   wataknya   dan kecerdasannya, namun mustahil kalau kesemuanya itu dilakukan dengan hati yang tulus.

Mereka berbuat demikian karena harus melaksanakan perintah dari kaucunya, beberapa patah kata dari kaucu mereka dalam pandangannya jauh lebih berbobot daripada apapun juga, dan menjembatani pula rasa hormat mereka terhadap Cu Siau-hong.

Toan San segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Ong peng, kemudian setelah mendehem pelan katanya:

'Ong congkoan, kini majikan berada dimana?"

'Menuju ke dalam rumah gubuk itu" Ucap Ong Peng sambil manggut-manggut.

'Bagaimana dengan kita?" "Sekarang juga menyusul ke sana"
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 35"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close