Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 34

Mode Malam
"Lo-pangcu" kata Cu Siau-hong kemudian 'boanpwe mempunyai beberapa persoalan yang tidak kupahami, ingin sekali kumohon beberapa petunjukmu."

"Baik, tanyakan saja, bila kau mempunyai persoalan, memang seharusnya ditanyakan sampai jelas"

"Padahal persoalan yang hendak boanpwe tanyakan hanya ada dua, Lo-pangcu suruh aku berbuat apa dan bagaimana cara kulakukannya?'

'Kuserahkan satu kelompok manusia kepadamu untuk melindungi keselamatan jiwamu."

"Apakah kedudukanku?" "Pemimpin kelompok, bukan Bu-khek-bun, juga bukan Kay-pang, kau senang berbuat bagaimana, lakukan menurut seleramu sendiri, tiada peraturan yang membelengggu dirimu."

Cu Siau-hong segera mengangguk.

'Tentang soal ini boanpwe cukup paham, tapi masih ada satu hal lagi, yaitu bagaimanakah tugas boanpwe selanjutnya ?"

'Segala sesuatunya terserah kepadamu sendiri, kau tak usah mencari orang lain untuk membantu dirimu, kau adalah kau, suatu kelompok baru yang berdiri sendiri, kau pimpin kelompok tersebut untuk terjun ke dalam dunia persilatan, mau kau ajak mereka menembusi bukit berpedang juga boleh, mengajak mereka duduk-duduk atau membentuk suatu perguruan baru juga boleh, nak, pokoknya apa yang ingin kau lakukan boleh kau lakukan dengan segera, dalam dunia persilatan dewasa ini tiada peraturan lagi yang mengikat kalian, sebab bila kau telah mengikat dirimu dengan peraturan maka hal ini sama artinya dengan membelenggu tangan serta kakimu sendiri'

Dengan sedih Cu Siau-hong menghela napas panjang, katanya kemudian: "Boapwe menerima petunjuk!"

Ui Lo-pangcu segera berpaling dan memandang sekejap ke arah lelaki setengah umur berbaju hijau itu kemudian tanyanya.

"Apakah kau hendak menyampaikan pesan barang satu dua patah kata?"

Lelaki setengah umur berbaju hijau itu manggut manggut, setelah berpaling dan memandang sekejap ke arah Cu Siau-hong, ujarnya sambil tersenyum: "Aku hanya akan menyumbang sepatah kata saja.

Ditengah jalan kau tidak seorang diri!"

"Boanpwe menerima nasehat!" buru-buru Cu Siau-hong membungkukkan badannya menjura.

Lelaki setengah umur berbaju hijau itu segera tertawa dan manggut-manggut.

Ketika empat mata mereka bertemu, terasa ada kecocokan dalam hati masing-masing pihak.

Namun Cu Siau-hong tidak menanyakan nama lawannya... sedang lawan pun tidak memberitahukan asal usulnya kepada Cu Siau-hong.

Mendadak Ui Lo-pangcu bertepuk tangan tiga kali, kemudian serunya dengan lantang.. "Dimana Jit hou?'

Tampak sebuah pintu ruangan terbuak, tujuh orang lelaki kekar berjalan masuk ke dalam ruangan.

Cu Siau-hong segera berpaling, dijumpainya orang-orang itu rata-rata berusia antara dua puluh empat lima tahunan, mereka semua mengenakan pakaian ringkas berwarna hijau pupus dengan sebuah sulaman kepala harimau berwarna kuning menghiasi dadanya, dibawah kepala harimau tersebut tercantum pula sebuah angka.

Sepasang kening yang menonjol keluar serta sorot mata yang tajam bagaikan sembilu menandakan kalau orang orang itu adalah jago-jago lihay yang sempurna tenaga dalamnya.

Disisi pinggang mereka terselip sebilah pisau pendek sepanjang satu depa lima cun dengan sebilah golok panjang tergembol dipunggung masing-masing.

Cu Siau-hong mengerti kalau mereka adalah anggota Kay-pang,    tapi    pakaian    serta    senjata    yang   mereka pergunakan sekarang jauh berbeda dengan peraturan yang berlaku turun temurun di dalam perkumpulan Kay-pang.

Lelaki setengah umur berbaju hijau itu memperhatikan ketujuh orang itu sekejap, lalu sambil tertawa katanya.

“Ehmmm... betul-betul tujuh ekor harimau buas!" Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan:

"Su-eng, Ji seng, dimana kalian!".

Pintu ruangan lain segera terbuka dan muncullah enam orang di dalam ruangan itu.

Empat orang yang berjalan didepan rata-rata berusia dua puluh tujuh tahunan, mereka mengenakan pakaian ringkas berwarna biru tua dengan sebilah pedang tersoren di tubuh masing-masing, sementara pada pinggangnya tergantung sebuah kantong yang terbuat dari kulit.

Dibelakang empat orang lelaki tadi adalah dua orang bocah lelaki berusia enam tujuh belas tahunan, berwajah bersih, memakai baju panjang berwarna hijau dan masing masing menyoren sepasang pedang.

Kedua orang bocah itu amat menarik, sehingga dalam pandangan pertama saja sudah memberi kesan pintar dan lincah.

Sambil menuding ke arah Cu Siau-hong, lelaki setengah umur berbaju hijau itu berkata:

"Majulah ke depan dan jumpai majikan kalian, mulai sekarang mati atau hidup dialah majikan kalian!"

Ke empat orang lelaki berpakaian ringkas warna biru itu segera menjatuhkan diri berlutut diatas tanah, lalu dari kiri ke kanan melaporkan nama masing-masing: "Toan San, Hee Hay, Lau Hong, Be Hui menjumpai majikan!"

Dalam pada itu Cu Siau-hong juga menampilkan sikap seorang pemimpin yang gagah, dia membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda membalas hormat dan berseru:

"Harap kalian berempat bangkit berdiri!"

Ke empat orang itu mengiakan dan segera berdiri serius disamping ruangan

Menyusul kemudian kedua orang bocah berbaju hijau itupun menjatuhkan diri berlutut sambil berkata:

"Kiam tong Seng Hong, Kiam tong Hoa Wan menjumpai majikan!"

Cu Siau-hong manggut-manggut.

'Silahkan kalian berdua bangkit berdiri" katanya.

Ui lo-pangcu sambil mengelus jenggotnya lantas,  berseru:

'Hong san jit hou (tujuh harimau dari bukit Hong san), mengapa kalian tidak menjumpai majikan baru kalian?"

Tujuh harimau segera Mengiakan dan maju ke depan serta menjatuhkan diri berlutut. 'Menjumpai majikan!"

"Silahkan kalian bertujuh bangkit berdiri"

Ke tujuh orang itu mengiakan dan segera bangkit berdiri, ujarnya kemudian.

"Kami semua menggunakan nama marga Ui, dengan urutan nomor sebagai nama, aku Ui It hou!"

"Aku Ui Ji hou!" 'Aku Ui Sam hou!" "Aku mengerti" tukas Cu Siau-hong, "kalian semua adalah harimau-harimau gagah yang dipelihara oleh Ui lo pangcu"

"Harap majikan maklum" seru It hou cepat.

Ui lo-pangcu segera menghela napas panjang, katanya kemudian:

"Harap kalian berduapun segera menampilkan diri"

Dengan langkah pelan Seng Tiong-gak serta Tiong It-ki segera menampilkan diri ke dalam ruangan. Cu Siau-hong tertegun, serta merta dia maju menyongsong sambil serunya tertahan.

'Su ...'

Dengan cepat Seng Tiong-gak menggeleng, tukasnya: "Jangan sebut aku dengan nama itu, sekarang aku adalah

anggota dari belas Kim kong'”

"Ooooh ..." Cu Siau-hong pun tidak banyak berbicara lagi.

"Siaute mendapat tugas untuk mengikuti majikan dan siap melaksanakan perintah"

Dalam keadaan demikian, terpaksa Cu Siau-hong harus manggut-manggut saja.

"Cu Siau-hong!" kata Ui lo-pangcu kemudian, "sejak detik ini mereka semua adalah orang-orangmu ditambah Tan Heng Ong Peng, Lik Hoo, Ui Bwee serta Ang bo tan."

"Boanpwe mengerti"

"Bagus sekali" seru lelaki setengah umur berbaju hijau itu cepat, "sekarang apakah kalian dapat meninggalkan tempat ini?" “Baik, boanpwe segera memohon diri"

"Konon dalam kota Siang yang terdapat sebuah rumah penginapan yang bagus sekali bernama Hou kiat-kit!

"Ijinkanlah boanpwe untuk memberi hormat kepada cianpwe!" kata Cu Siau-hong sambil menyincing bajunya dan berlutut.

Kali ini baik Ui pangcu maupun lelaki setengah umur berbaju hijau itu tidak menampik, dengan tenang meraka sambut penghormatan dari Cu Siau-hong sambil tersenyum.

Tiada orang yang menghantar keberangkatan mereka, tapi didepan pintu gerbang sudah berdiri banyak orang yang sedang menunggu.

Diantara mereka tampak Tan Heng, Ong Peng, Lik Hoo, Ui Bwee dan Ang Bo tan.

Tan Heng serta Ong peng telah berganti pakaian, sekarang mereka mengenakan pakaian ringkas berwarna hijau.

Agaknya kelima orang itu sudah mendapat keterangan sebelumnya, begitu Siau-hong munculkan dia serentak mereka membungkukkan diri memberi hormat seraya berseru:

"Menjumpai majikan!"

Semua orang segera saling bertemu dan memberi hormat. Ong Peng segera mendehem pelan, kemudian katanya:

"Seng ya, Su eng dan Jit hou tergabung dalam dua belas Kim kong, mereka bertugas untuk melawan musuh, sisanya termasuk siaute bertugas melindungi keselamatan jiwa majikan cuma kita pun perlu membagi tugas masing-masing daripada banyak orang banyak usul, bisa jadi urusan malah terbengkalai"

Seng Hong segera tertawa, katanya kemudian:

"Saudara Ong, pengalamanmu dalam dunia persilatan amat luas, kami semua mengusulkan kau saja yang menjadi pemimpim kami"

"Baik daripada menampik lebih baik kuterima, asal saudara sekalian tidak keberatan, biarlah aku yang menjadi wakil kalian semua"

Dalam kenyataan, dia memang merupakan orang yang paling cocok untuk jabatan ini, sudah barang tentu tak ada orang yang keberatan.

Ong Peng lantas berkata:

"Baiklah kalau kalian tidak keberatan, itu berarti sudah menyetujuinya. Sekarang mari kita membagi tugas masing masing pihak"

Sorot matanya dialihkan ke wajah Lik-Hoo, Ui Bwee dan Ang Bo tan kemudian, pelan-pelan berkata: "Kalian bertiga mengurusi keperluan sehari-hari majikan!"

Lik Hoo segera membungkukkan badannya memberi hormat:

"Siau moay sekalian terima perintah"

"Tak usah sungkan-sungkan!" jawab Ong Peng,

Sorot matanya segera dialihkani ke wajah Seng Hong dan Hoa Wan, kemudian melanjutkan: "Kalian berdua adalah pengawal pribadi majikan siang malam menjaga disampingnya"

"Terima perintah!" Seng Hong dan Hoa Wan segera memberi hormat.. Ong Peng mengalihkan pula sorot matanya ke  wajah Tan Heng dan Tiong It-ki, kemudian menambahkan:

"Sedang kami bertiga bertugas sebagai pengawal mengikuti setiap gerak gerik dari kongcu."

Sementara itu, Toan Sam dari "Su eng" berjalan mendekat dengan langkah lebar, kemudian berseru: 'Toan san ada urusan mohon perintah dari kongcu."

"Ada urusan apa!" tanya Cu Siau-hong sambil tertawa. 'Seng ya berbudi luhur dan berwibawa sekali kami telah

mengangkatnya sebagai pimpinan dua belas Kim Kong, harap kongcu suka menyetujui akan hal ini"

Cu Siau-hong berpaling dan memandang sekejap ke arah Seng Tiong-gak, ketika dilihat susioknya itu berdiri dengan kepala diangkat dan dada dibusungkan sehingga tampak wajahnya yang amat serius, diapun manggut-manggut seraya menjawab:

“Baiklah!”

"Terima kasih kongcu!" setelah memberi hormat, Toan San memundurkan diri pula dari situ.

Ong Peng segera berseru:

'Tolongtanya kongcu, pada saat ini kita hendak pergi kemana!"

Cu Siau-hong tertawa.

"Saudara sekalian, walau jabatan dan kedudukan kita berbeda namun dalam pergaulan tak perlu kelewat  menuruti peraturan" katanya.

Kemudian setelah berhenti sebentar, lanjutnya: "Rumah penginapan Hou kiat kit!" Ong Peng sangat hapal dengan jalanan di situ, dia lantas membawa jalan lebih dulu.

Seorang pemuda yang masih ingusan sejak detik ini telah menjadi seorang pemimpin dari suatu kelompok tanpa nama, dan sejak itu pula terjun kedunia persilatan untuk memperlihatkan kehebatannya.

Rombongan yang amat besar ini dengan cepat menarik perhatian banyak orang.

Setibanya dirumah penginapan Hou kiat kit mereka memborong dua buah halaman tersendiri. Kemudian Cu Siau-hong mengumpulkan semua orang yang ada kedalam sebuah kamar dan berkata:

"Walaupun kita tidak mempunyai peraturan perguruan yang mengikat diri kalian, akan tetapi bukan berarti setiap orang boleh bertindak semau hatinya sendiri, prinstp hidup kita adalah berbuat kebajikan tanpa melanggar suara hati nurani kita sendiri, aku harap kalian semua mau mengingat kata-kataku ini!"

"Kongcu, jumlah kelompok kita cukup besar, paling tidak kau harus mempunyai suatu sebutan" kata Tan Heng.

"Aku berasal dari perkampungan Ing-gwat cengcu!"

Seng Tiong-gak merasa terharu sekali setelah mendengar perkataan itu, namun mereka berdua pun tidak banyak berbicara.

"Lantas apakah kedudukan kami?" tanya Ong Peng pula.

"Kalian semua Busu dari perkampungan Ing-gwat ceng, sedang kau adalah congkoan kami.'. Kemudian setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan: 'Musuh yang kita hadapi berjumlah sangat banyak, dan lagi rata-rata amat keji, sejak detik ini kalian semua musti berhati-hati, Nah sekarang kalian boleh kembali."

Beberapa patah kata itu diucapkan amat singkat dan sederhana, sepintas lalu kedengarannya tidak berarti, namun sesungguhnya telah menerangkan satu hal yakni mereka boleh turun tangan menghadapi setiap lawan dengan mempergunakan cara apapun, tiada pantangan yang melarang mereka untuk menggunakan ini itu.

Tapi hal inipun menunjukkan pula kemampuan serta ketegasannya di dalam mengatur setiap persoalan.

Antara Su eng dan Jit hou merupakan dua kelompok manusia yang berasal dari dua perkumpulan besar dengan peraturan yang berbeda, sebelum hari ini mereka tidak saling mengenal, tapi sekarang mereka tergabung dalam satu kelompok berani mati, dalam keadaan begini, walaupun mereka ingin mengucapkan sesuatu, sesungguhnya tak seorangpun yang berani untuk buka suara.

Cu Siau-hong cukup memahami teori ini, maka diapun menghadapi anak buahnya dengan sifat kekeluargaan sekalipun kewibawaannya tetap ditanamkan terus.

Dua belas Kim kong segera memperlihatkan kesetiaan mereka terhadap Cu Siau-hong, dengan sikap yang menghormat dan teratur semua orang memberi hormat lalu mengundurkan diri.

Walaupun sikap mereka cukup menghormat, namun Cu Siau-hong cukup mengerti, rasa hormat itu bukan muncul dari hati yang tulus, melainkan disebabkan oleh perintah seseorang, atau tegasnya rasa hormat mereka itu hanya terbatas dalam melaksanakan tugas atas perintah atasannya belaka. 'Seharusnya melakukan sedikit pekerjaan" sahut Cu Siau hong sambil tertawa.

"Betul, tapi apa yang musti kita lakukan."

"Inilah pekerjaan yang harus kita lakukan, bila kita sudah tak punya akal untuk menemukan orang lain, paling baik kalau kita biarkan orang lain yang datang mencari kita"

"Yaa, benar, tapi bagaimana cara kita agar orang lain yang datang mencari diri kita?" Cu Siau-hong termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian sahutnya:

"Sudah banyak tahun kalian melakukan perjalanan dalam dunia persilatan dan lagi merupakan orang? orang yang paling pandai bekerja dalam angkatan muda, masakah kau tak berhasil menemukan sesuatu cara.."

"Dulu adalah dulu, dulu kami bisa memperoleh banyak sekali bantuan, tapi sekarang tidak, segala sesuatunya kita harus mengandalkan pada kekuatan serta kemampuan kita sendiri."

'Manusia itu seharusnya dapat berdiri sendiri, apa sebabnya kau tidak mencari akal sendiri?' Itulah sebabnya kami baru memohon petunjuk dari cengcu!"

"Aku rasa menyiarkan beriae bohong merupakan salah satu cara untuk menarik perhatian orang yang tertarik."

"Betul! Kita musti menyuruh orang lain memperhatikan kita lebih dahulu sebelum mereka datang mencari kita!"

Cu Siau-hong segera tertawa.

'Aku sudah menemukan suatu cara yang baik, sekarang tinggal melihat bagaimana cara kalian untuk melaksanakannya!"

"Aku rasa rumah makan Wang kang lo merupakan rumah   makan   yang   terbesar   di   kota   Siang-yang,  dan agaknya setiap umat persilatan yang sampai dikota Siang yang tentu akan berkunjung ke sana"

"Sekarang toh belum terhitung terlalu lambat."

"Kalau begitu bagaimana kalau silahkan cengcu berkunjung ke rumah makan Wang kang lo sekarangjuga"

Tan Heng yang jarang sekali berbicara tiba-tiba menimbrung: "Cengcu, perlukah kita kabarkan hal ini kepada dua belas Kim kong?'

Cu Siau-hong termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian serunya.

"Sediakan alat tulis!"

Seng Hong segera lari keluar, tak lama kemudian dia muncul kembali sambil membawa alat-alat tulis. Cu Siau hong segera menulis dua pucuk surat rahasia, kemudian katanya lebih jauh:

"Serahkan surat ini kepada mereka' "Kepada Seng-ya?' tanya Hoa wan,

Cu Siau-hong mengangguk dan Hoa Wan segera membawa surat itu berlalu dari sana.

Kedua pucuk surat itu sudah disegel, ketika Seng Tiong gak menerima surat itu dan melihat diatas sampul sudah tertera waktu untuk membukanya, dengan cepat surat tadi dimasukkan ke dalam saku.

Cu Siau-hong segera memerintahkan kepada Lik Hoo, Ui Bwee dan Ang Bo tan tetap berada di rumah penginapan Hou-kiat kit untuk membantu kerja sama ke dua belas kim kong tersebut. Setelah itu dengan membawa dua orang Kiam-tong berserta Sin Jut dan Kui Meh, berangkatlah dia menuju ke rumah makan Wang kang loo. Waktu itu masih sore, tapi delapan bagian kursi yang tersedia dalam rumah makan Wang kang loo sudah terisi.

Pelayan segera datang menyambut, kata nya sambil tertawa:

"Saudara sekalian, ruang khusus?"

Yang dimaksud ruang khusus adalah sebuah ruangan tersendiri yang terpisah dari tempat lain.

-oOo>d’w<oOo-

SAMBIL tertawa Ong Peng segera menggeleng.

"Tidak usah, kita di ruangtengah ini saja, itu... meja dekatjendela'

"Maaf toaya, meja ditepi jendela sudah penuh semua" "Bukankah di sana masih terdapat meja kosong?" "Meja itu sudah dipesan orang."

"Dipesan siapa?"

"Li ciang-kwee dari toko penjual kain Tay-heng!"

Ong Peng tidak menggubris pelayan itu lagi, dengan langkah lebar dia segara berjalan menghampiri meja tersebut.

Meja itu cukup besar, diatasnya sudah disiapkan mangkuk dan sumpit, malah dicantumkan pula kartu nama dari pemesannya.

Sambil tertawa Ong Peng segera mengambil kartu nama itu dan membuangnya ke lantai, setelah itu ujarnya sambil tertawa:

"Pelayan, aku lihat kami akan menempati meja ini saja" Sementara itu Tiong It-ki yang bertugas berjalan dipaling belakang sambil mengawasi keadaan disekelilingnya telah naik pula ke dalam ruangan Wang-kang-lo.

Tiong It-ki tidak duduk bcrsama Cu-Siau-hong, melainkan seorang diri duduk dimeja yang berhadapan dengan mulut anak tangga, Hal ini memang disengaja oleh Cu Siau-hong, agar bilamana perlu bisa mernberi bantuan dengan secepatnya.

Menyaksikan gerak gerik Cu Siau-hong serta sikap Ong Peng yang siap-siap hendak berkelahi itu, pelayan tersebut menjadi tertegun dan berdiri melongo.

Wang-kang-lo adalah rumah makan terbesar dan termegah di kota Siang-yang, juga merupakan tempat yang paling suka didatangi oleh orang-orang persilatan, persoalan sekecil pun yang terjadi ditempat ini, dengan segera akan tersiar sampai dimana-mana.

Cu Siau-hong segera mendehem pelan dan mengambil tempat duduk, sementara dua orang Kiam-tong itu segera berdiri disebelah kiri dan kanan tubuhnya.

Tan Heng dan Ong Peng duduk dikedua belah samping sehingga kursi dihadapan Cu Siau-hong dibiarkan dalam keadaan kosong.

Sambil tertawa Cu Siau-hong segera berkata: "Ong congkoan, suruh pelayan hidangkan sayur"

Sewaktu bersantap, dikedua belah sampingnya masing masing berdiri seorang bocah yang menyoren pedang, lagak semacam ini selain amat jumawa pun latah sekali.

Ong Peng segera berpaling memandang ke arah sang pelayan yang masih termangu, kemudian sambil mendengus dingin serunya: "Hei, mengapa masih berdiri termangu disitu? Hayo cepat siapkan sayur dan arak."

Gerak gerik mereka yang jumawa ditambah perselisihan yang terjadi, dengan cepat menarik perhatian banyak orang yang ada dalam ruangan rumah makan itu.

Sekarang, sebagian besar sorot mata mereka telah tertuju ke arah mereka. Dengan suara rendah pelayan itu berseru:

"Congkoan toaya, orang yang memesan tempat ini adalah langganan kami, dengan perbuatanmu itu bukankah sama artinya dengan memecahkan mangkok nasi hamba!"

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang ramai berkumandang datang dari arah tangga, kemudian muncul enam orang disitu.

Orang pertama adalah seorang lelaki berjubah panjang, dia adalah Li ciang-kwee dari toko cita merek Tay-heng.

Tampaknya Li ciangkwee sudah mengetahui letak meja yang dipesannya, dia langsung berjalan menuju ke depau Cu Siau-hong

Melihat kedua belah pihak telah saling bertemu, sambil bermasam muka pelayan itu berdiri kaku disamping.

Senyuman yang semula menghiasi bibir Li ciangkwee segera lenyap begitu dilihatnya meja yang dipesan telah terisi tamu dan segera berpaling ke arah pelayan, kemudian dengan kemarahan yang meluap teriaknya...

"Hei apa, yang terjadi? Tampaknya usaha Wang-kang-lo terlalu baik sehingga meja yang kami pesan pun sudah di jual kepada orang lain ?"

"Li ciangkwee" seru pelayan itu, sambil terbungkuk bungkuk  penuh  ketakutan,  "sebenarnya  meja  ini  sudah kami tinggalkan buatmu, tapi beberapa orang toaya ini bersikeras hendak mendudukinya, hamba... hamba.."

Li ciangkwee segera berpaling ke arah Cu Siau-hong, ketika dilihatnya Cu Siau-hong mendongakkan kepalanya tanpa memandang sekejap matapun terhadapnya, kemarahan nya yang berkobar makin menjadi dan segera tertawa dengan tiada hentinya

"Heeehh... heeehhh... heeehh... masa kejadian seperti ini? Dalam persoalan apa pun tentu ada perbedaan antara siapa yang datang duluan dan siapa belakangan, apakah lantaran Li toaya suka makan gratis maka tiada tempat bagi ku?. Hmm, panggil ciangkwe kalian! Hari ini aku harus menuntut suatu keadilan dari kalian!"

Pelayan itu segera mengiakan dan membalikkan badan berlalu dari situ.

Tapi Ong Peng segera menghalangi jalan perginya seraya berseru:

'Tunggu sebentar '

Setelah bangkit berdiri, Ong Peng mengangkat bahunya seraya berkata lebih jauh: "Aku pikir, kau tentunya Li ciangkwe dari toko cita merek Tay heng bukan?"

"Betul, aku she Li!"

"Seorang yang mulia tak akan menyalahkan orang kecil, Li ciangkwe, aku lihat kemarahanmu itu tak perlu kau lampiaskan diatas tubuh pelayan tersebut"

"Apa maksudmu?" teriak Li ciangkwe dengan gusar. "'Pelayan  itu  sudah  mengatakan  kalau  meja  ini   telah

dipesan  oleh  Li  toa-ciangkwe,  cuma  kami  tidak  melihat

kehadiran Li toa-ciangkwe disini, maka kami pun datang kemari duluan, kau toh sudah bilang, ada yang datang lebih dulu ada yang belakangan, itulah sebabnya kamipun menempati meja ini lebih dahulu '

"Tapi sekarang kami toh sudah datang'

"Kalian sudah datang terlambat, maka aku minta lebih baik kalian berpindah tempat saja."

Bagaimanapun juga dia berasal dari Kay-pang yang mengutamakan kebenaran serta kejujuran, sekalipun ingin memungkiri kenyataan, dia toh tak sanggup untuk menunjukkan wajah yang ketus, kalau bisa, dia masih inginkan suatu penyelesaian secara baik-baik.

Siapa tahu Li ciangkwe malah semakin berang, ”Blaammm !” ia menghantam meja keras-keras, lalu dampratnya:

“Kurang ajar! Apa-apaan kau ini? Hmm jelas perbuatanmu ini merupakan suatu perbuatan yang tak tahu aturan, kau anggap sudah tiada hokum disini?”

Ong Peng segera tertawa lebar.

“Kau tak usah gembar-gembor macam monyet kepanasan”, katanya, “masa Cuma gara-gara berebut tempat duduk di rumah makan saja penyelesaiannya harus di pengadilan. Soal ini tak ada sangkut pautnya dengan hukum kerajaan dan hukum pidana. Jika Lo toa ciangkwe menganggap kami telah menganiaya dirimu maka kulihat lebih baik kau selesaikan urusan ini dengan acara yang lain saja.”

Sementara itu, Cu Siau-hong sudah mepunyai perhitungan didalam hatinya, diam-diam ia berpikir:

“Dalam loteng Wang kang lo pernah tersembunyi jago pedang macan kumbang hitam, itu berarti tempat ini mempunyai hubungan dengan organisasi rahasia tersebut, Bila Li ciangkwe ini betul-betul cuma seorang saudagar, tak nanti dia mempunyai keberanian sebesar ini. Padahal Ong Peng telah menunjukkan sikap seorang jago persilatan, saudagar manakah yang ingin mencari kesulitan dengan orang persilatan? Jelas-jelas Li ciangkwe berani berang lantaran dia merasa punya tulang punggung yang kuat…ahaa tak kusangka segala sesuatunya bisa berjalan dengan lancar, begitu turun tangan telah menemukan sasarannya.”

“Kesabaran,” tampaknya gampang padahal susah untuk dilakukan, apalagi bagi orang yang berobat, untuk berlagak seperti orang yang acak-acakan sesungguhnya bukan sesuatu yang mudah.

Cu Siau-hong lantas manggut-manggut memberi tanda kepada Ong Peng agar bekerja menurut kehendak hatinya.

Begitu memperoleh ijin, Ong Peng merasa semakin bersemangat lagi, sambil tertawa dia lantas berseru:

“Li ciangkwe, aku ingin memberitahukan kepadamu, setelah cengcu kami duduk maka bukan suatu pekerjaan yang gampang jika kau menginginkan dia untuk bangkit berdiri.”

Li ciangkwe tertawa dingin.

“Bagaimana dia duduk, bagaimana pula dia berdiri, aku percaya hal ini tak akan terlalu sukar,” katanya, ”sebenarnya aku hendak mencari pemilik rumah makan untuk menuntut keadilan, tapi kalau toh kau alihkan tanggungjawab persoalan ini kepadamu akupun terpaksa harus mencarimu untuk membicarakan soal ini.”

“Sekarang orang kami sudah berada disini semua, Li ciangkwe merasa punya kemampuan untuk menyuruh mereka bangkit berdiri, silahkan saja kau lakukan sendiri.” “Tindakanmu berarti mencari penyakit buat diri sendiri, Baik ! ingin kulihat samapai dimanakah kemampuan yang kalian miliki, sehingga berani begitu tak tahu aturan.”

Selesai berkata, dia lantas mundur selangkah kebelakang.

Dua orang lelaki berjubah panjang, tiba-tiba melangkah maju kemuka dengan tindakan lebar.

Mereka adalah dua diantara lima orang yang datang bersama-sama Li ciangkwee.

Ong Peng segera melompat maju sejauh tiga depa, kemudian ejeknya dengan suara dingin:

“Bagaimana? Ingin berkelahi?”

Walaupun ruangan dalam rumah makan Wang kang lo sangat lebar, namun ruangan itu penuh dengan meja, begitu Ong Peng berkelit, dia telah mundur kebelakang sebuah meja.

Di sekitar meja itu sebenarnya duduk empat orang yang sedang bersantap, tapi ketika mereka saksikan ada perkelahian disitu buru-buru orang itu bangkit berdiri dan meninggalkan tempat itu.

Gagal dengan terjangannya, dua orang lelaki berbaju panjang itu segera memisahkan diri kekiri dan kekanan kemudian menerjang kembali kearah Ong Peng.

“Saudara berdua,” ujar Ong Peng kemudian sambil tertawa, "dalam Wang kang-lo ini penuh dengan mangkuk dan piring porselen, berkelahi ditempat ini bukankah hanya akan merusak pemandangan saja?"

Dimulut dia berkata demikian, sepasang tangannya sama sekali tidak berhenti, secara beruntun dia telah menyambut ke enam buah serangan yang dilancarkan dua orang lelaki berbaju panjang itu. Kedua orang lelaki berjubah panjang itu masing-masing melancarkan tiga buah-serangan, serangan pertama dan ke dua dapat dipunahkan Ong Peng secara mudah,, sedang serangan yang ketiga ternyata disambut oleh Ong Peng dengan kekerasan.

"Blaaammm!" ditengah suara benturan yang amat nyaring, dua orang lelaki berjubah panjang itu masing masing mundur satu langkah.

Paras muka Li ciangkwe segera berubah hebat serunya: "Kalian berdua masa tak sanggup untuk membereskan

satu orang saja..."

Dua orang lelaki berjubah panjang itu segera menundukkan kepalanya dengan wajah malu. Li ciangkwe menghela napas panjang, kembali gumamnya:

"Memelihara tentera seribu hari, menggunakannya dalam sesaat, dihari-hari biasa kalian makan kelewat mewah, minum kelewat kenyang, setelah menjumpai persoalan satu pun tak becus!"

Cu Siau-hong yang menyaksikan kejadian itu, diam-diam lantas berpikir:

"Saudara hanya memikirkan soal rejeki dan uang, orang ini mah sedikit pun tidak mirip seorang saudagar"

Mendadak dua orang lelaki berjubah panjang itu menyingkap jubah panjangnya sambil meraba ke pinggang, tampaknya mereka sudah bersiap-siap hendak menggunakan senjata tajam.

Dengan kening berkerut Li ciangkwe segera menegur: 'Hei, mengapa tidak segera mengundurkan diri?. Apakah

kalian suka kehilangan muka di situ?" Pada waktu itu, dua orang lelaki berjubah panjang itu sudah meraba gagang golok mereka, tapi setelah mendengar teguran tersebut, mereka segera mengendorkan kembali tangannya dan mengundurkan diri dengan kepala tertunduk.

Dalam pada itu, Cu Siau-hong sedang memutar otaknya menduga-duga siapa gerangan Li ciangkwe tersebut, namun diluar dia bersikap acuh tak acuh, melirik sekejappun kearah Li ciangkwe pun tidak. Tan Heng dan kedua orang kiam-tong itupun hanya berdiri tak berkutik ditempat semula.

Sambil tersenyum Ong Peng, segera berkata lagi.

"Soal bersantap mah setiap hari harus melakukannya beberapa kali, pekerjaan semacam ini bukan terhitung sesuatu yang luar biasa, masa soal isi perut pun mesti beradu jiwa?"

"Perkataanmu memang benar" kata Li-ciangkwe sambil tertawa dingin, "tempat yang kami pesan telah kau serobot, kejadian ini mah kejadian kecil, untuk bersantap juga tak perlu saling beradu jiwa, anggap saja kalian lebih hebat, kami mengaku kalah..."

Sambil mempertinggi suaranya, dia melanjutkan: "Pelayan! kami akan berpindah tempat!" "Silahkan Li-ya!" buru-buru pelayan itu berseru.

Dia segera membalikkan badan dan berlalu lebih dulu dari sana.

Li ciangkwe segera mengikuti dari belakangnya.

Ong Peng berkerut kening, dia segera berpaling dan memandang sekejap kearah Cu Siau-hong, sementara wajahnya memperlihatkan perasaan apa boleh buat. Agaknya dia sama sekali tidak menyangka kalau Li ciangkwe bisa menahant sabar dengan menyudahi persoalan sampai disitu saja.

Setibanya disamping Cu Siau-hong, dia lantas berbisik dengan suara lirih.

'kongcu, bajingan itu sanggup menyesuaiktan diri dengan keadaan, kenyataan ini benar-benar berada diluar dugaan kami"

"Duduk dan bersantaplah, jangan sampai membuat orang lain tahu kalau kita memang sengaja mencari gara gara"

Ong Peng mengiakan dan duduk kembali ke tempat semula. Dengan cepat pelayan datang menghidangkan sayur dan arak.

Dua oxang Kiam-tong tersebut hanya berdiri dibelakang Cu Siau-hong sambil menundukkan kepalanya, mereka tidak berkata apa-apa.

Dalam kenyataan kedua orang itu selalu memperhatikan setiap orang yang berada di ruang Wang kang lo tersebut.

Sayur dan arak telah dihidangkan, dalam waktu singkat seluruh meja telah di penuhi oleh hidangan hidangan yang lezat.

?oooO)d.w(Oooo?

SEMENTARA itu, Li ciangkwe bersama semua orang yang dibawanya telah berlalu dari pengawasan dari Cu Siau-hong sekalian.

Sedang tamu yang berkunjung ke rumah makan Wang kang lo makin lama semakin banyak, sedemikian penuhnya sampai tiada tempat yang kosong lagi. Tapi tamu yang berkunjung kesana masih berrdatangan terus tiada hentinya.

Diatas ruangan Wang kang lo masih tersedia dua tempat kosong yang dapat menampung dua orang lagi, yaitu di meja yang ditempati oleh Cu Siau-hong.

Tapi setiap orang yang melihat tampang Cu Siau-hong segera berusaha untuk menyingkir jauh-jauh, tak seorang manusia yang tak ingin mencari kesulitan buat diri sendiri.

Tapi di dunia ini justru ada juga orang yang tidak takut dengan segala macam kesulitan. Misalkan saja kakek dan orang muda ini.

Yang tua sudah berusia lima puluh tahunan, mengenakan jubah panjang berwarna abu-abu, bertubuh kurus, sedemikian kurusnya hingga tinggal kulit pembuagkus tulang, mungkin dari seluruh badannya belum tentu bisa terkumpul daging seberat tiga kati.

Sepasang matanya mana cekung kedalam, mukanya kuning seperti lilin, tampang seperti itu persis seperti seorang yang sudah banyak tahun mengidap penyakit tbc.

Sebaliknya yang muda barwajah tampan berbibir merah dan bergigi putih, dia mengenakan pakaian ringkas berwarna biru, sebilah golok lengkung bergagang emas tersoren dipinggangnya.

Diatas sarung golok itu bertatahkan tujuh biji mutiara sebesar buah kelengkeng, Mutiara-mutiara itu jelas tak ternilai harganya, berkelip-kelip memancarkan sinar yang menyilaukan mata.

Dua orang manusia semacam itu melakukan perjalanan bersama-sama, dengan cepat memberikan suatu pemandangan yang kontras dan tak sedap dipandang Dua orang itu langsung berjalan kedepan meja, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun segera duduk. Kakek kurus berjubah abu-abu itu segera berteriak keras:

"Hei, pelayan, pelayan. "

Semenjak terjadinya keributan tadi, pelayan itu benar benar tak berani mengusik ketenangan Cu Siau-hong sekalian.

Maka sewaktu dua orang itu duduk, walaupun sang pelayan sudah melihatpun pura-pura tidak melihat, buru buru dia melihat ke arah lain.

Tapi setelah dipanggil, tentu saja dia tak dapat berlagak pilon terus, terpaksa sambil mengeraskan kepala dia berjalan mendekat:

"Tuan, kau ada pesan apa?" tegurnya.

"Tolong tanya apakah tempat ini adalah sebuah rumah makan yang menjual hidangan?"

"Betul"

"Kalau betul, mengapa mesti bertanya lagi?. Cepat siapkan sayur dan arak."

Pelayan itu memandang sekejap ke arah Cu Siau-hong dan Ong Peng, kemudian serunya: "Tuan, disini sudah ada tamu."

"Ada tamu lantas kenapa? Toh disini masih terdapat dua tempat yang kosong. Apalagi sang tamu pun tidak berbicara, buat apa kau mesti cerewet melulu?"

"Aku... aku. "

Cu Siau-hong segera mengangkat cawan araknya dan berkata sambil tertawa: `Pelayan, tambahkan dua cawan dan dua pasang sumpit" Sayur yang dipesan Cu Siau-hong benar-benar banyak sekali, meskipun cuma empat orang yang sedang duduk bersantap, paling tidak ada belasan macam sayur yang dihidangkan.

Malahan diantaranya ada setengah yang sama sekali belum di jamah mereka.

Agaknya palayan itu tidak menyangka kalau tamunya yang satu ini sebentar dingin sebentar panas, melihat kesulitan secara tiba-tiba bisa teratasi, dengan cepat dia mengiakan dan buru-buru membalikkan badan berlalu dari sana.

Mendadak terdengar kakek berbaju abu-abu itu membentak dengan suara dingin: "Berhenti kau jangan bergerak!"

Pelayan itu menjadi tertegun, kemudian serunya: "Ada urusan apa?"

"Lohu bukan seorang peminta-minta, akupun bukan seorang yang tak sanggup membayar, mengapa aku mesti makan sisa sayur orang lain? Siapkan hidangan persis seperti yang dia pesan itu!"

"Oooh tuan, kalau pesan seperti itu lagi, mana muat tempatnya?"

Kontan saja kakek berbaju abu-abu itu tertawa dingin.. "Mengapa tidak muat? Apakah kalian tak bisa

menyingkirkan hidangan yang sudah mereka?" 'Soal ini, soal ini ...'

Dari dalam sakunya kakek berbaju abu-abu itu mengeluarkan sekeping uang perak seberat tujuh delapan tahil, kemudian sambil diletakkan diatas meja, serunya: "Kau takut aku makan gratis? Nah, terimalah dulu uangnya'

Sambil tertawa Cu Siau-hong segera berkata:

"Pelayan sayur yang sudah kami makan seharusnya kau singkirkan semua!'

Pelayan itu agak tertegun sebentar, kemudian sahutnya dengan cepat:

"Baik, baik! Tuan berdua tentunya sahabat lama" "Teman? Teman apa? Lohu tak punya teman'" tukas

kakek berbaju abu-abu itu ketus.

Kalau dilihat dari keadaan sekarang, seratus persen dapat dipastikan kalau kakek itu memang datang untuk mencari gara-gara, sebab gaya yang diperlihatkan sekarang adalah gaya orang yang sedang mencari urusan.

Cu Siau-hong segera tertawa, dia keringkan secawan arak yang berada dihadapannya tanpa balas berbicara, malah hawa amarahpun tidak terlihat diatas wajahnya.

Yang paling aneh lagi, adalah Ong Peng, ternyata dia hanya menundukkan kepalanya sambil makan minum dengan lahap, sepatah katapun tidak diucapkan...

Pelayan itu masih berdiri tertegun disana untuk beberapa saat lamanya dia tak tahu apa yang mesti dilakukan?

Agaknya kakek kerbaju abu-abu itu sudah habis kesabarannya, mendadak dia berkata lagi dengan dingin:

`Pelayan, mengapa kau masih berdiri tak berkutik disitu?

Apakah kau anggap lohu tak bisa membunuh orang?"

Walaupun kakek berbaju abu-abu itu berperawakan ceking,  namun  dia  mempunyai  suatu  hawa  seram  yang menggidikkan hati, hawa seram tadi bisa membuat orang merasa ngeri, seram dan ketakutan.

Pelayan itu segera merasakan hatinya bergetar keras, tanpa banyak berbicara dia lantas membalikkan badan dan berlalu dari situ. Kakek berbaju abu-abu itu segera mendongakkan kepalanya memandang sekejap kearah Cu Siau-hong, lalu ujarnya:

"Kau sungguh berjiwa besar!"

"Empat samudra semuanya adalah saudara, kita bisa bertemu boleh dibilang masih berjodoh"

"Aku lihat inilah yang dinamakan musuh bebuyutan jalan terasa sempit..."

'Musuh bebuyutan? Kita bermusuhan?" 'Betul, kita memang bermusuhan"

"Aku belum pernah berselisih denganmu, sejak kapan dendam ini terikat? Harap sobat bersedia menerangkan"

Kakek berbaju abu-abu itu segera tertawa dingin. "Heeehhh heeehhh... heeehhh.. lohu senang berbicara

apa, aku akan berbicara apa, memangnya di dunia ini masih ada orang yang dapat mengurusi diriku?"

"Benarkah tiada orang yang mengurusi dirimu?" tiba-tiba Cu Siau-hong mengejek..

Mendadak kakek berbaju abu-abu itu menekankan tangannya ke atas meja, sepiring ang-sio-hi yang berada di meja mendadak mencelat ke angkasa dan menyambar ke wajah Cu Siau-hong.

Seakan-akan ada orang yang mengangkat piring tersebut dan menimpuknya ke depan. Piring tersebut berputar amat kencang di angkasa, kemudian meluncur kedepan dan menerjang pula keatas tenggorokan Cu Siau-hong.

Pada waktu itu, Cu Siau-hong sedang memengang sebuah cawan, dengan cawan itulah dia menghantam sisi piring tersebut, "Traang" piring yang sedang berputar itu mendadak meluncur balik ke belakang.

Cawan arak itu tidak pecah, piringpun tidak retak, didalam mementalkan benda pecah belah tersebut, mereka berdua saling mengerahkan tenaga dalam yang dimilikinya.

Hanya tenaga dalam yang paling hebat saja yang dapat merubah suatu kekuatan yang bersifat keras menjadi suatu kekuatan yang lunak, kekuatan itu membuat benturan antara cawan dengan piring tersebut tak sampai menimbulkan keretakan apa-apa sebaliknya justru dengan mempergunakan kesempatan tersebut, menyalurkan tenaga dalamnya untuk menyerang lawan..

Kakek berbaju abu-abu itu mendengus dingin, mendadak dia menyambar sebatang sumpit dan menghantam keatas piring besar.

Tiba-tiba saja piring besar itu berputar kencang dan menyambar lagi kearah Cu Siau-hong.

Menghadapi ancaman tersebut, Cu Siau-hong segera tertawa dingin, diapun menyambar sebatang sumpit dan mengetuknya diatas piring mana.

Bagaikan permainan sulap saja, sepiring besat ikan Ang sio hi tersebut berputar tiada hentinya ditengah uda ra..

Anehnya piring besar makin lama berputar semakin cepat ditengah udara sehingga terciptalah suatu pemandangan yang sangat aneh. Segenap tamu yang berada dalam ruangan Wang kang lo segera dibikin terpesona oleh pemandangan itu, sehingga tanpa terasa mereka meletakkan sumpit serta cawan masing-masing untuk mendongakkan kepalanya.

Kini seluruh perhatian orang terpusatkan pada piring besar yang sedang berputar kencang.

Tampak piring mana berputar kencang sampai puluhan kali dengan kecepatan yang semakin melipat ga nda.

Agaknya kakek berjubah abu abu itu sudah habis kesabarannya, dengan dingin dia lantas berseru:

"Bocah keparat, tak kusangka dengan usiamu yyng  begini muda, ternyata memiliki kepandaian silat yang  begini hebat"

Tangan kanannya segera diayunkan ke muka, mendadak sumpit yang berada ditangan nya itu dihantamkan keatas piring itu keras-keras.

"Praaang!" bunyi piring pecah bergema memecahkan keheningan, saus dan Ang sio hi yang dua kati beratnya ifu tahu-tahu berubah menjadi potongan kecil-kecil yang serentak menyambar ke wajah serta badan Cu Siau-hong.

Tampaknya pecahan piring, hancuran daging serta saus kuah itu sudah dipengaruhi oleh segulung kekuatan yang maha besar, bagaikan segumpal kabut gelap saja segera melayang tiba dengan kecepatan luar biasa.

Mendadak tampak cahaya tajam berkilauan, Seng Hong dan Hoa wan tahu-tahu sudah turun tangan bersama.

Empat bilah pedang dari kedua orang kiam tong itu menciptakan selapis kabut cahaya yang sangat rapat di depan tubuh Cu Siau-hong, terhalang oleh lapisan kekuatan yang sangat kuat itu, pecahan piring, ikan dan saus kuah yang menyambar ketubuh Cu Siau-hong itu segera terhadang dan berjatuhan ketanah.

Sungguh cepat gerakan yang dilakukan dua orang Kiam tong itu, begitu serangan berlalu, serentak mereka menyarungkan kembali pedang masing-masing

Paras muka kakek berbaju abu-abu itu segera berubah hebat.

Tapi dengan terjadinya peristiwa itu keadaan dimeja makan menjadi porak peronda tak keruan wujudnya lagi

Tan Heng serta Ong Peng dengan cepat telah meninggalkan pula tempat duduk masing-masing. Sedang Cu Siau-hong masih tetap tenang, gumamnya sambil menggelengkan kepala.

"Saudara, cara yang kau pakai barusan sangat tidak terpuji!" Seraya bergumam, pelan-pelan dia meletakkan cawan araknya ke atas meja.

Ong Peng dan Tan Heng maju ke depan secara tiba tiba dan menghadang di kedua belah samping kakek berbaju abu abu itu.

Pelan-pelan kakek berbaju abu-abu itu pun turut bangkit berdiri.

Pemuda yang duduk disampingnya kini sudah mulai meraba gagang goloknya untuk bersiap-siap.

Tiong It-ki yang duduk dikejauhan hanya duduk menonton terjadinya setiap perubahan disitu, dia begitu acuh sehingga seakan-akan persoalan tersebut tiada sangkut pautnya dengan dia..

'Cengcu!" Ong Peng segera berkata, "tua bangka ini terlalu kurang ajar, apakah perlu diberi pelajaran?" "Tanya kepadanya asal kedatangannya, kalau cuma manusia tak ternama, suruh mereka menyembah didepanku minta maaf, kemudian lepaskan pergi"

Ucapan tersebut diutarakan dengan suara yang ramah, tapi nadanya justru amat memandang rendah musuhnya.

Kakek berbaju abu-abu itu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. "Haaahhh... haaahhh... haaahh... Apakah kau adalah Cu Siau-hong?' tiba-tiba dia menegur.

Diam-diam Cu Siau-hong merasa terperanjat, namun wajahnya masih tetap tenang seperti sedia kala, sahutnya sambil tertawa..

"Betul, Aku memang Cu Siau-hong, siapa namamu?". "Asal aku tahu kalau kau adalah Cu Siao hong, hal ini

sudah lebih dari cukup, siapa kah lohu, lebih baik tak usah

kau campuri" "Oooh...!'

"Cu Siau-hong, tempat ini kelewat sempit, jika ingin berkelahi, mengapa kita tidak mencari suatu tempat yang lebih luas dan lebar untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah!"

"Rupanya kau memang sengaja datang untuk mencari gara-gara denganku...?` tegur Cu Siau-hong dingin.

'Anggap saja perkataanmu memang benar,  kami memang datang untuk mencari gara-gara.'

Cu Siau-hong segera manggut-manggut, tanyanya kemudian sambil tertawa lebar:

`Hanya kalian berdua?"

"Lohu merasa kami berdua pun sudah lebih dari cukup". Cu Siau-hong segera tertawa hambar.

"Baiklah!' katanya kemudian, "pun cengcu baru pertama kali terjun ke dalam dunia persilatan, aku memang bermaksud untuk menaklukkan semua orang serta mengangkat nama, cuma kami hanya berniat untuk bertarung melawan orang-orang ternama, jika orang yang tidak ternama maaf jika kami tak akan melayaninya"

“Apakah kedudukan lohu kurang berbobot?" seru kakek berjubah abu-abu itu gusar.

"Hingga kini kami masih belum tahu siapakah kau?" 'Kalian tidak kenal lohu, tapi justru melakukan

perjalanan didalam dunia persilatan, apakah hal ini tidak memalukan?"

Mendengar perkataan itu, Cu Siau-hong segera berpikir dalam hatinya.

“Ong Peng dan Tan Heng adalah jago kawakan yang sudah lama melakukan perjalanan didalam dunia persilatan, sekalipun aku telah keluar dengan mereka berdua, namun seharusnya mereka juga tahu akan kedua orang ini, mengapa merekapun tidak memberikan reaksi apa-apa? Mungkinkah mereka pun sedang mencoba diriku?"

Berpikir demikian, dia lantas tertawa hambar, katanya: "Pun   cengcu   memang   baru   terjun   kedalam   dunia

persilatan,  maklumlah  jika  aku  tidak  banyak  mengenal

nama-nama orang persilatan toh tidak kenal dirimu juga bukan suatu kejadian yang maha besar."

"Pada dasarnya kau memang tidak kenal dengan diriku. sekalipun ku ucapkan namaku kau bisa apa pula?"

"Benar juga perkataanmu itu, silahkan kau membawa jalan buat kami", ucap Cu Siau-hong. Kakek berbaju abu-abu itu berpaling dan memandang sekejap ke arah pemuda tampan itu, kemudian mereka berdua bangkit berdiri dan bersama-sama menuju kedepan.

Ong Peng, Tan Heng segera membawa jalan, Cu-Siau hong berjalan ditengah sedang kedua orang kiam tong itu mengikuti dengan kencang dibelakang pemuda she Cu itu.

Tiong It-ki tetap tak ikut, dia tetap tinggal ditempat semula tanpa beranjak.

Rupanya waktu Cu Siau-hong bangkit berdiri meninggalkan tempat duduknya, secara diam-diam dia telah menurunkan perintah, yang menitahkan kepada Tiong It-ki agar tetap tinggal ditempat untuk melakukan pengawasan.

Sedangkan perintah kedua disampaikan lewat Ong Peng yang memerintahkan kepada Cap ji kim kong agar membawa dua orang naik ke atas membantu Tiong It-ki.

Cara penyampaian perintah tersebut mereka lakukan dengan cara mencampurkan gerakan mana dengan gerakan yang lumarah dilakukan orang dihari-hari biasa, seperti cara memegang sumpit, cara berjalan, permainan jari tangan serta kombinasi cara berjalan antara ayunan tangan dengan kaki, pokoknya dari suatu gerakan yang sederhana dan tiada berarti bagi orang lain justru merupakan suatu tanda perintah.

Tampaknya kakek berbaju abu-abu serta pemuda itu sudah mempunyai rencana yang matang, setelah turun dari loteng Wang kang lo, mereka langsung berjalan menuju kepintu kota sebelah selatan.

Cu Siau-hong segera manggut-manggut sambil berbisik kepada Seng Hong dengan suara lirih: "Cepat kabarkan kepada Toan San, suruh empat orang diantara mereka tetap tinggal di loteng Wang kang lo sedang delapan orang diantaranya menyusul kemari"

Jika anak buah Cu Siau-hong dikumpulkan menjadi satu maka jumlahnya tidak terhitung sedikit, akan tetapi kalau dianggap sebagai anggota suatu perguruan, maka jumlahnya tak bisa dianggap terlalu banyak.

Terutarna sekali mereka kekurangan kurir mata-mata serta penyampai berita.

Bila dua belas orang jago kelas satu bergabung menjadi satu, mereka memang merupakan suatu kekuatan yang tak boleh dianggap enteng, tapi bila sudah berpencar, maka kekuatan mereka akan nampak amat minim dan lemah.

Seng Hong segera membalikkan badan dan berlalu.

Cu Siau-hong sengaja mengendurkan langkah kakinya dengan harapan bisa memberi waktu yang cukup untuk kedua belas Kim kongnya.

Sebenarnya kakek berbaju abu-abu itu berjalan amat cepat, tapi setelah Cu Siau-hong dengan rombongannya memperlambat perjalanannya, terpaksa merekapun harus melambatkan pula langkah masing-masing.

Jelaslah sudah kini bahwa undangannya merupakan suatu perangkap yang telah diatur dengan sebaik-baiknya.

Sambil tertawa Cu Siau-hong segera berkata:

'Ong Peng, tampaknya mereka sudah bertekad untuk memancing kita untuk memasuki perangkap yang telah mereka persiapkan itu"

"Benar .... mereka mengira kita betul-betul sudah termakan oleh jebakannya, dia terlalu memandang rendah kemampuan kita" Kembali Cu Siau-hong tersenyum.

"Kalau tidak memasuki sarang harimau, darimana bisa didapatkan anak harimau?" katanya.

"Benar, malah kita harus mengikutinya ke sana"

Sementara itu Seng Hong nampak menyusul datang dengan langkah cepat, bisiknya kemudian: "Lapor kongcu, hamba telah menyampaikan perintah dari kongcu"

Cu Siau-hong manggut-manggut.

"Mulai sekarang kalian harus memperhatikan pemandangan di kedua sisi jalan, periksalah ada sesuatu tempat yang mencurigakan" perintahnya kemudian.

Seng Hong dan Hoa wan bersama-sama mengangguk.

Sementara itu matahari senja telah tenggelam dilangit barat, senja pun menjelang tiba.

Kakek berbiju abu-abu serta pemuda berbaju biru itu sudah tiba diluar kota pintu sebelah selatan.

Mendadak Ong Peng berhenti sambil menegur:

"Hei, apa-apaan kau ini? Masih berapa jauh lagi? Kami belum selesai bersantap?"

"Sudah hampir sampai, dirumah gubuk sebelah depan sana." jawab kakek berbaju abu-abu itu cepat..

Tampak cahaya api berkelebat lewat, mendadak dalam rumab gubuk itu sudah terang benderang bermandikan cahaya lentera.

Rumah gubuk itu letaknya terpencil, pagar bata mengelilingi diseputarnya, menambah indahnya pemandangan. Sejalur jalan menembusi sebidang sawah dan mencapai rumah gubuk itu.

Setelah memasuki pintu pekarangan, terlihatlah halaman didepan rumah gubuk itu besar sekali, dari rumah yang berdiri tegak dikelilingi pagar itu tampak ruangan-ruangan yang besar pula..

Didepan pintu gerbang rumah tadi tergantung sebuah lampu lentera yang tahan hembusan angin, cahaya api menerangi sekeliling tempat itu.

Saat itu, sikakek berbaju abu-abu serta pemuda berbaju biru itu sedang berdiri ditengah halaman.

Tan Heng dan Ong peng berdiri dimuka Cu Siau-hong, sedangkan Seng Hong dan Hoa wan dua orang kiam-tong berdiri dikedua belah sisi majikannya dibagian belakang.

Cu Siau-hong memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian tegurnya.

"Apakah disini?"

"Benar" jawab kakek berbaju abu-abu itu dingin, "'Cu Siau-hong, kau tidak seharusnya datang kemari"

"Mengapa?"

"Sebab tempat ini merupakan suatu perangkap, kau bisa datang kemari tapi jangan harap bisa meninggalkannya dalam keadaan hidup'.

"Oya! Mengapa didalam hal ini aku tak berhasil melihatnya" ucap Cu Siau-hong sambil tertawa..

"Jadi kau ingin mencobanya'" seru si kakek berbaju abu abu itu sambil tertawa dingin.

"Aku selamanya mempunyai suatu kebiasaan, yakni sebelum melihat peti mati tak akan mengucurkan air mata, kalau toh kau sudah mempersiapkan perangkap tersebut, mengapa tidak kau pertunjukkan dengan segera di hadapanku?'

Kakek berbaju abu-abu itu segera mengangguk.

"Baik, agaknya kau memang perlu-untuk melihatnya lebih dulu...." demikian ujarnya. Selesai berkata dia lantas bertepuk tangan tiga kali.

Mendadak tirai yang semula menutupi daun jendela disekeliling bangunan rumah itu disingkap orang, kemudian muncullah busur-busur berpegas tinggi serta tabung jarum yang semuanya ditujukan ke arahnya, dari balik setiap daun jendela, paling tidak muncul belasan macam alat pembidik senjata rahasia yang beraneka ragam dan semuanya tertuju ke arah mereka berlima, Terdengar kakek berbaju abu-abu itu berkata lagi.

"Sekarang terdapat dua puluh empat buah gendewa otomatis, dua belas buah tabung jarum Ngo tok bwe hoa ciam serta delapan belas tabung sembur api Im leng tok hwee tong yang ditujukan ke arah saudara, asal kuturunkan perintah, sekalipun ada malaikat yang datang menolong kalianpun jangan harap selembar jiwa kalian bisa tertolong"

"Aaaah... benarkah sedemikian lihaynya "seru Cu Siau hong sambil tertawa hambar.

"Baik,....lohu akan mendemontrasikan kelihayan dari tabung-tabung senjata rahasia kami itu" kata si kakek.

Mendadak ia memperkeras suaranya sambil berseru: "Lepaskan sebatang peluru api Im leng tok hwee tan agar

dia dapat menyaksikan kehebatannya" Terdengar suara desingan angin tajam menderu-deru memecahkan keheningan, lalu tampak selapis cahaya hijau menyambar lewat.

"Blaamm. !" suatu ledakan keras segara menggelegar di

udara, jilatan api berwarna hijau tiba-tiba saja membakar permukaan ubin.

"Api beracun Im leng tok hwee tan akan menempel disetiap benda yang dijumpainya, api itu tak akan mati bila dipadamkan dan tak akan mengecil sebelum mangsanya habis terbakar, entah manusia macam apakah kau dan kepandaian silat macam apakah yang berhasil kau latih, asal terkena api beracun itu maka hanya ada satu akibat, terbakar hidup-hidup sampai habis"

Diam diam Cu Siau-hong merasa terperanat juga menghadapi kenyalaan tersebut, dia sama sekali tidak menyangka kalau mereka bakal terjebak kedalam perangkap sekeji ini.

Walaupun begitu diluar wajahnya dia masih tetap bersikap tenang, sambil tertawa dingin katanya: "Api beracun itu memang betul-betul sangat lihay'

Mendadak kakek berbaju abu-abu itu berpaling dan memandang sekejap ke arah pemuda berpakaian ringkas warna biru yang berada disampingnya, kemudian ujarnya:

"Aaah hampir saja lohu lupa memperkenalkannya kepada Cu kongcu"

"Kau maksudkan saudara itu?' tanya Cu-Siau-hong.

`Benar! benar."

Cu Siau-hong segera tertawa:

"Apakah saudara inipun seorang-jago yang amat termashur namanya dalam dunia persilatan." 'Benar!" kakek berjau abu-abu itu mengangguk, "kau tentunya kenal dengan Keng Ji kongcu?"

"Keng Ji kongcu"

"Betul, dia telah tewas di tanganmu"

"Waah, cepat betul berita tersebut tersiar sampai dalam telingamu. yaa, betul, Keng Ji Kongcu memang tewas di tanganku'

"Baiklah, sekarang kuperkenalkan orang ini kepadamu, dia adalah Keng Su adik seperguruan dari Keng Ji, juga terhitung adik kandungnya, hubungan antara kakak dan adik berdua selalu baik"

"Nah, apa kubilang, makanya aku merasa seperti pernah mengenal wajah orang ini", seru Cu Siau-hong cepat.

'Sekarang tentunya kau sudah jelas bukan?

“Ya, delapan sampai sembilan puluh persen mah sudah jelas, cuma aku masih belum jelas siapakah kau?"

"Baiklah,jika kau memang ingin tahu, terpaksa lohu akan memberitahukannya kepadamu"

'Aku telah bersiap-siap untuk mendengarkannya"

'Dalam dunia persilatan terdapat tiga ekor burung elang ' ucap Kakek berbaju abu-abu itu dengan suara dalam.

"Dan kau adalah si burung elang abu-abu?“ sambung Ong Peng.

"Betul, lohu adalah si burung elang abu-abu Phu Hong!" 'Ehmm. burung elang abu-abu memang terhitung

seorang jagoan lihay yang amat tersohor dalam dunia persilatan, tapi aku tidak habis mengerti mengapa kau bisa mengadakan hubungan dengan Keng Ji kongcu." "Kau tak usah mengetahui kelewat banyak, pokokrya asal kau sudah tahu kalau aku adalah si burung elang abu abu Phu Hong, hal itu sudah lebih dari cukup"

"Ong congkoan!" tiba-tiba Cu Siau-hong memanggil. "Hamba ada disini!"

"Manusia macam apakah si burung elang abu-abu Phu Hong itu? Coba kau katakan kepadaku"

"Tutup mulut!" Phu Hong segera membentak dingin.

Ong Peng sama sekali tidak memandang sekejap matapun terhadap Phu Hong, katanya dengan cepat.

"Pada sepuluh tahun berselang dalam dunia persilatan telah muncul empat ekor elang yang termashur, burung elang abu-abu adalah salah seorang diantaranya, lagi pula berada pada urutan yang terakhir.'

"Ehmm, kemudian?"

'Sudah hampir sepuluh tahun lamanya ke empat ekor burung elang ini lenyap dari peredaran dunia persilatan, sungguh tak disangka, hari ini kita telah bertemu kembali`.

"Bagaimanakah tabiat dari burung elang abu-abu ini?" "Dari empat ekor burung elang tersebut, mungkin burung
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 34"

Post a Comment

close