Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 25

Mode Malam
"Menanti dia telah melihat daratan baru diketahui olehnya kalau tempat tersebutlah baru benar-benar merupakan tempat yang aman, walaupun perjalanan cukup jauh, tapi dia telah menemukan setitik harapan. dia pun baru berani melepaskan balok kayu itu dan berenang menuju ke tepi pantai, mungkin selama hidup ia tak pernah berhasil mencapai daratan tersebut, tapi toh bagaimanapun juga ia sudah mempunyai tujuan, harapan yang besar menimbulkan pula keberanian yang besar, sekalipun akhirnya dia mati tenggelam ditengah samudra, dia tak akan mati dengan perasaan penasaran "

"Tanpa lampu lentera, selamanya me?mang susah untuk melepaskan diri dari kegelapan"

"Selama ini kami selalu hidup didalam kegelapan" lanjut Ang Bo tan, "kami tak pernah melihat cahaya, tak pernah melihat sinar lentera, oleh sebab itu kami selalu mencari, menanti dan sekarang, pada akhirnya kita berhasil juga melihatnya."

"Melihat apa ?" "Melihat cahaya lentera tersebut, melihat sinar terang itu, mau lentera juga boleh, sinar juga boleh, tapi kesemuanya itu telah memberi keberanian yang besar bagiku, memberi semangat juang yang besar dalam hatiku, membuat niat membangkang dan memberontak yang sudah lama tertanam di dalam hatiku semakin menggelora dan berani diutarakan keluar"

"Benarkah aku mempunyai kegunaan sedemikian besarnya?"

"Aku berbicara dengan sejujurnya, kalau dibicarakan sesungguhnya aneh sekali, kau seakan-akan memiliki semacam kekuatan yang membuat kami berani untuk meninggalkan Keng-ji kongcu"

Cu Siau-hong terbungkam dalam seribu bahasa, dia mengerti dalam hal seperti itu bukan hanya pengaruh kekuatan ilmu silat saja, diantaranya masih terdapat pula pengaruh semacam kekuatan perasaan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata dan karena semacam kekuatan inilah maka mereka baru tak berani menghianati Keng Ji kongcu.

Ang Bo tan tertawa, kemudian melanjutkan:

"Cu Kongcu, yang kumaksudkan bukan hanya ilmu silatmu saja, selain daripada itu masih terdapat pula semacam kekuatan yang sangat aneh'

"Kekuatan apakah itu? Mengapa aku sama sekali tidak merasakannya?"

"Aku tak bisa mengatakannya, kau dan Keng Ji-kongcu sama-sama tampannya, sama-sama memiliki semacam daya tarik untuk kaum wanita, tapi kau kelebihan. " "Kelebihan apa?” Tampaknya dia tak sanggup untuk mengutarakannya, terpaksa perempuan itu membungkam dan tidak berbicara lagi.

Cu Siau-hong tertawa, katanya:

'Nona, betulkah kau ingin melepaskan jalan yang sesat untuk kembali ke jalan yang benar ?" Ang Bo tan manggut manggut.

"Yaa benar Cu kongcu, apakah kau tidak percaya?" tanyanya.

"Aku memang masih sangsi nona, hal mana bukanlah suatu pekerjaan yang amat gampang, kebiasaan selama banyak tahun, perbuatan selama banyak tahun, sudah cukup untuk membuat seseorang terperosok ke dalam suatu liangjebakan yang dalam sekali, bila kau ingin melompat keluar dari dalam liangjebakan tersebut, maka kau harus mengerahkan suatu kekuatan yang sangat besar"

"Aku tahu, dan kami telah mempersiapkan diri dalam soal mental selama satu tahun lebih, kami selalu menunggu dan menunggu, menunggu tibanya kesempatan seperti ini, menunggu datangnya orang yang sanggup membawa kami melompat keluar dari liang jebakan ini"

Dengan wajah serius Cu Siau-hong lantas berkata: "Nona, jika kau benar-benar mempunyai niat dan tekad

untuk melompat keluar dari liang jebakan tersebut, dengan

sepenuh tenaga aku akan menolong serta membantu dirimu, sekarang yang penting kita harus menyelamatkan Tiong It-ki lebih dahulu"

Ang Bo tan tertawa, sambungnya:

"Kekuatan yang kita milikil sekarang masih terlalu minim,  aku  membujuk  toa  ci  dan  ji  ci  lebih  dahulu, kemudian kami bertiga baru akan bekerja sama untuk bantu menyelamatkan diri Tiong It-ki, sebab dengan begitu kekuatan kita akan bertambah besar"

"Melukis harimau tidak jadi angjing lah yang muncul, masalah ini sangat penting dan serius, pengaruhnya juga sangat besar, aku harap kau suka berpikir panjang lebih dulu sebelum mengambil segala macam tindakan dan keputusan."

"Kami tiga bersaudara mempunyai nasib serta pengalaman yang sama, kami pun berada didalam keadaan lingkungan, serta keadaan suasana yang sama, itulah sebabnya didalam hati kami masing-masing telah muncul suatu perasaan yang sama pula, sudah banyak kali kami bersama-sama membahas keadaaa ini, tapi sampai sekarang belum juga melakukan gerakan apa-apa, maka setelah ada kesempatan baik sekarang, kenapa aku tak boleh mengajak pula diri mereka?"

"Jikalau memang begitu, cepatlah kau pergi jumpai mereka berdua!"

Ang Bo tan manggut-manggut.

"Kau pun ada baiknya ikut serta, sebab kau ada semacam kekuatan dan kekuatan tersebut harus diperlihatkan dahulu kepada mereka agar mereka percaya dan yakin" katanya.

"Baik, akan kutemani dirimu!"

Ang Bo tan lantas manggut-manggut, kembali katanya: “Kongcu, harap kau suka mengikuti dibelakangku, sebab

pintu rahasia tersebut akan menutup kembali dengan cepatnya bila sudah terbuka nanti.. "Jangan kuatir nona, aku masih sanggup untuk mengikuti dibelakangmu !" sahut Cu Siau-hong seraya mengangguk.

Ang Bo tan tidak banyak berbicara lagi, dia lantas beranjak dari tempat itu. Cu Siau-hong segera mengikuti dibelakang nya.

Terlihat olehnya Ang Bo tan berjalan menghampiri dinding batu itu kemudian menekan pelan suatu bagian batuan disitu, mendadak terbukalah sebuah pintu rahasia.

Ang Bo tan segera menundukkan kepalanya dan secepat sambaran kilat menerobos masuk lewat pintu rahasia itu.

Bagaikan bayangan tubuh Cu Siau-hong segera menyusul dibelakang perempuan itu.

Ternyata mereka telah tiba disuatu lorong rahasia yang lain, lorong itu membentangjauh ke dalam sana dan panjangnya tidak lebih hanya dua kaki lebih, dengan cepatnya mereka telah tiba diujung lorong tadi.

Cu Siau-hong secara ketat mengikuti terus dibelakang Ang Bo tan, selain itu secara diam-diam diapun selalu memperhatikan gerak tangan perempuan itu, mengamati bagaimana caranya membuka pintu-pintu rahasia diatas dinding tersebut.

Tampak Ang Bo tan berpaling sambil tertawa, lalu katanya.

"Tombol rahasia yang berada di dalam setiap lorong berbeda satu sama lainnya, cuma asalkan mau memperhatikan dengan lebih seksama tentu akan kau ketahui pula rahasia nya dan secara mudah akan menemukan pula tombol-tombol rahasia lain di tempat tempat yang lain pula" Kembali Cu Siau-hong manggut-manggut.

Ang Bo tan lantas meraba sebentar dinding batu itu, kemudian katanya lagi. "Ini dia tombolnya berada disini"

Diam-diam ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk mendorong, betul juga diatas dinding tersebut segera terbukalah sebuah pintu rahasia.

Begitulah keadaan selanjutnya secara beruntun mereka telah menembusi lima buah lorong rahasia.

Cu Siau-hong yang menaruh perhatian khusus terrhadap keadaan disekeliling tempat itu segera merasakan bahwa luas lorong-lorong rahasia itu sama antara yang satu dengan lainnya, tapi panjangnya justru berbeda, namun yang terpanjangpun paling banter hanya lima kaki, sedangkan yang terpendek cuma satu kaki lebih..

Sewaktu mereka memasuki lorong bawah tanah yang ke enam, tiba-tiba Ang Bo tan merendahkan suaranya sambil berbisik:

"Cu kongcu, sebenarnya kau harus tinggal disini lebih dulu agar aku bisa berunding dahulu dengan kedua orang kakak beradikku sebelum kau turut pula masuk kedalam, tapi aku tahu sudah pasti kau tak akan meluluskan permintaan itu dan kaupun tidak akan mempercayai diriku sepenuhnya..."

Cu Siau-hong tertawa, tukasnya:

"Nona, didalam hal ini bukan soal percaya atau tidak percaya yang menjadi masalah, Cuma aku merasa kurang baik bila harus bertindak demikian!"

"Itulah sebabnya aku baru mengajakmu untuk merundingkan persoalan ini!"

"Katakan saja nona!" "Kita akan masuk bersama untuk berjumpa dengan mereka, Cuma kau harus bisa menahan diri."

"Maksudmu?"

"Seandainya mereka marah-marah, kau jangan gampang turut marah."

"Baik!"

"Bagaimana seandainya turun tangan dan melancarkan serangan kepadamu?" tanya Ang Bo tan.

'Apakah aku tak boleh membalas?" Cu Siau-hong balik bertanya sambil menatap wajah perempuan itu lekat-lekat.

"Itu mah tidak, bila sampai terjadi pertarungan, lebih baik kalau kau gunakan cara yang tercepat untuk menaklukkan mereka berdua"

“Maksudmu, kau suruh aku menggunakan pedang?" "Lebih  baik  kalau  jalan  darah  mereka  yang  ditotok,

kemudian   baru   berusaha   membujuk   mereka   agar mau

takluk, jangan lupa ilmu silat yang dimiliki kedua orantg itu pun tidak lemah, terlepas dari hubungan persaudaraan antara diriku dengan mereka berdua, jika kita bunuh kedua orang itu maka yang kita peroleh hanya berkurangnya dua orang musuh belaka, tapi jika kita bisa menaklukkan hati mereka, itu berarti kita akan memperoleh dua orang pembantu yang tangguh"

'Ehmm.. ucapanmu memang sangat masuk diakal!" Ang Bo tan segera tersenyum kembali ujarnya:

"'Sungguh tak kusangka kalau kau adalah seorang demikian gampang untuk diajak berbicara"

"Aku hanya menarik soal cenglinya saja, asalkan setiap perkataan  nona  beraturan  dan  bisa  diterima  dengan akal sehat, sudah bartang tentu aku menurutinya tanpa membantah "

"Aah, perkataan kongcu terlampau serius."

Dengan cepat dia menepuk kembali keatas dinding lorong.

Betul juga, sebuah pintu rahasia dengan cepat terbentang kembali lebar-lebar.

Setelah masuk kebalik pintu, terbentang sebuah undak undakan batu menuju keatas.

Sekali lagi Ang Bo-tan berpaling dan memandang sekejap kearah Cu Siau-hong, kemudian ujarnya:

'Cu kongcu, naik keatas sana maka kita akan tiba ditempat tujuan, bila mana tidak terlalu mendesak aku harap kau jangan sembarangan turun tangan"

"Aku mengerti!"

"Aku percaya, setelah mereka berjumpa dengan dirimu nanti, dengan cepat mereka akan menuruti pula bujukan ku!"

Cu Siau-hong hanya manggut-mangut dan tidak berbicara apa-apa lagi.

Ang Bo tan segara melangkah naik ke atas.

Kali ini dia berjalan sangat lamban, agaknya ada sesuatu yang sedang dipikirkan.

Tapi tak selang beberapa saat kemudian, sampailah mereka didepan sebuah pintu besi.

Ang Bo tan segera mendekati pintu tersebut dan mengetuk pintu tiga kali ketukan cepat dan dua kali ketukan pelan. Mungkin itulah kode rahasia yang telah mereka janjikan sebelumnya, maka tanpa berlangsung tanya jawab, pintu baja besi itu terbuka lebar.

Menyusul terbukanya pintu dari dalam pintu baru kedengaran suara seorang perempuan yang menegur dengan nada genit:

"Sam moay kah disitu?"

"Selain siau moay yang muncul lewat lorong bawah tanah, memangnya masih ada orang lain?" sahut Ang Botan.

"Kraakk. !" pintu besi itu terpentang semakin lebar.

Ang Bo tan segera melompat kedepan dan mempergunakan suatu gerakan tubuh yang amat cepat ia menerobos masuk ke dalam ruangan.

Sedetik sesudah mereka masuk, secara otomatis pintu baja itu menutup kembali seperti sedia kala.

Tempat itu masih berada dibawah tanah letaknya, tapi jauh lebih lebar dan luas, jelas merupakan sebuah ruang rahasia dibawah tanah.

Dekorasi maupun perabot yang ada di sana sangat mewah dan indah, bau harum semerbak terendus dalam seluruh ruangan.

Tak bisa disangkal lagi, ruang rahasia ini adalah kamar tidurnya kaum wanita.

Dalam kenyataannya dalam ruangan itu pun duduk dua orang perempuan, seorang dayang muda berdiri disisi pintu baja tersebut.

Sedangkan dua orang perempuan yang sedang duduk itu, yang seorang memakai baju berwarna hijau dengan sulaman bunga teratai besar diatas dadanya. Sedangkan yang lain, mengenakan baju berwarna kuning dengan sekuntum bunga Bwe tersulam diatas dadanya.

Lik hoo, Ui Bwee, Ang Bo tan ketiga orang ini merupakan tiga bersaudara yang kecabulan serta kejalangannya sudah amat termashur dalam dunia persilatan.

Ui Bwe memandang sekejap ke arah Ang Bo tan, lalu memandang pula ke arah Cu Siau-hong, setelah itu dengan dingin tegurnnya:

"Sam moay, apa yang telah terjadi? Dari mana datangnya lelaki liar ini "

Sementara itu Liok hoo cuma duduk membungkam ditempat semula, hanya sepasang matanya yang tajam mengawasi terus wajah Cu Siau-hong tanpa terkedip.

Ang Bo tan tertawa, ujarnya:

'"Toa ci, Ji ci, coba kalian perhatikan dengan seksama, bagaimanakah tampang lelaki liar ini?"

'Sam moay apakah kau sudah rada gila?" kembali Ui Bwe menegur dengan kening berkerut.

"Tidak, Siau moay sama sekali tidak gila, cuma akupun mengerti bahwa perbuatanku membawanya kemari adalah suatu perbuatan yang tidak benar "

"Sam moay, kalau sudah tahu kalau membawanya kemari adalah suatu perbuatan tak benar, mengapa kau membawanya kemari?” tukas Ui Bwe lebih lanjut.

"Pertama, karena ilmu silatnya terlalu tinggi, jika aku tidak membawanya kemari maka kemungkinan besar dia akan membunuh?ku. kedua, orang ini masih bisa dilihat meskipun secara sambil lalu, maka sengaja ku bawanya kemari agar diperlihatkan kepada cici berdua.' Lik Hoo mengiakan lalu melompat bangun setelah itu tegurnya: ‘Siapa namamu?"

"Aku she Cu, bernama, Cu Siau-hong!" "Berasal dari mana?"

"Anak murid Bu-khek-bun!'

"Kau sanggup menaklukkan Sam-moay kami, itu berarti ilmu silatmu tinggi sekali "

"Yaa, lumayanlah!"

Lik Hoo segera tertawa, katanya lagi. "Kau pandai sekali membawa diri!"

"Apakah nona besar ingin menguji kepandaianku?"

"Itu mah harus melihat keadaan dulu, siapa tahu aku akan membunuh dirimu?"

"Oya?" Cu Siau-hongtertawa.

"Toa ci!" tiba-tiba Ui Hwe berseru, "coba kau lihat tampangnya itu, dia seakan-akan sama sekali tidak takut"

Cu Siau-hong lantas mengalihkan sorot matanya ke wajah Ang Bo tan, setelah itu katanya sambil tertawa. "Nona Sam, apakah maksudmu membawaku kemari adalah untuk mendengarkan nasehat mereka?".

"Jika persoalan tidak dijelaskan tak akan mengerti, bila kayu tidak dibor tak akan berlubang, sebelum duduknya persoalan dijelaskan, suatu kesalahan paham pasti tak akan terhindar, dari kesalahan paham ini memang wajib dijelaskan agar semua persoalan menjadi terang"

"Baiklah, kalau begitu tolong nona Sam bersedia membantuku untuk memberi keterangan" Ui Bwe segera mendengus dingin, tegurnya tiba-tiba: "Sam moay, kau telah meluluskan permintaan apa darinya?'.

"Aku tidak meluluskan apa-apa!"

"Bagus! Kalau begitu bocah keparat ini sengaja membicarakan yang bukan-bukan!"

"Itupun tidak!" jawab Ang Bo tan, "dia bilang, minta kepadaku untuk menjelaskan situasinya saat ini"

“Sam moay, aku harap kau suka menerangkan persoalan ini secara blak-blakan tanpa tedeng aling-aling..."

"Toaci, jici, selama banyak waktu kita berdiam dalam kebun raya Ban-hoa-wan ini, entah apa saja yang dirasakan oleh cici berdua?"

"Soal ini... apa pula perasaaamu? "kata Lik Hoo kemudian.

"Dulu, didalam dunia persilatan kita tiga bersaudara selalu dianggap orang sebagai tiga bersaudara jalang, waktu itu meski nama kita kurang sedap didengar namun penghidupan yang kita lewatkan sangat menyenangkan dan selalu gembira, tapi bagaimana dengan sekarang? Siau moay merasa diriku sudah bukan manusia lagi meski wujudnya saja masih tetap seorang manusia!"

“Lanjutkan!"

"Sekarang, kita tak lebih hanya barang mainan dari Keng Ji kongcu, disamping itu kitapun masih harus melakukan pekerjaan baginya, jangankan sebagai seorang dayang, bahkan sebagai seekor anjing peliharaannya pun masih tidak memadahi, bayangkan saja daripada hidup melewati penghidupan semacam ini, apakah tidak lebih baik mati saja?" "Sam moay, kenapa kau tidak melarikan diri saja?" tegur Lik Hoo dengan suara dingin.

"Bisakah kita melarikan diri? Kalian toh sudah pernah menyaksikan bagaimana kejinya tindakan mereka terhadap orang-orang yang berhianat kepada mereka, kalau bukan dijadikan umpan harimau, tentu kau dibikin mati tak bisa hidup pun tak dapat"

Lik Hoo menghembuskan napas panjang, katanya kemudian:

"Sam moay, sebenarnya apa maksudmu mengajak orang itu datang kemari ?"

"Aku mengajaknya datang kemari adalah agar toaci dan jici dapat melihatnya"

"Sekarang, aku toh sudah melihatnya!"

"Lantas, bagaimanakah menurut pandangan toaci serta Ji ci? 'tanya Ang Bo tan kemudian.

"Kami masih belum begitu memahami, Sam moay, dapatkah kau menerangkan dengan lebih jelas lagi?."

"Apa lagi yang harus kukatakan? Aku hanya meminta agar kalian suka melihat orang ini saja!"

Lik Hoo segera tertawa, katanya lagi: "Sam moay, bukankah tetap kukatakan aku dan Ji moay telah melihatnya, tapi apa kah tujuan kedatangannya kemari?"

"Toaci, haruskah kukatakan dengan sejelas-jelasnya?" "Aku telah membicarakan persoalan ini dengannya, dan

pembicaraan tersebut sudah cukup jelas, aku berharap agar dia bersedia menampung kita bertiga"

"Maksudmu mengawini kita bertiga sebagai istrinya?" "Soal ini dia belum meluluskan, cuma dia telah bersedia untuk mengijinkan kita mengikutinya, mau dijadikan sebagai gundik atau dayang, dialah yang akan memutuskan"

"Oooh ! Kau suruh kami ikut dia sebagai dayang?" teriak Ui Bwee tiba-tiba.

"Jici, coba kau perhatikan dirinya secara baik-baik!" pinta Ang Bo tan segera.

"Itu mah tak perlu, aku sudah cukup jelas memperhatikan dirinya"

"Bagaimana kalau dia dibandingkan dengan Keng-ji kongcu?

"Dia maupun Keng Ji kongcu adalah dua orang manusia yang berbeda, mana mungkin bisa diperbandingkan?"

"Selama beberapa hari tinggal dalam kuil kecil itu, sudah banyak persoalan yang telah Siau moay pikirkan diantaranya yang paling penting adalah kenapa kita tidak mau meninggalkan kebun raya Ban-hoa-wan ini?

'Bukankah sudah kau katakan secara jelas tadi, kau takut ditangkap mereka dan dijatuhi hukuman mati?" kata Lik Hoo.

"Itu hanya salah satu alasannya saja"

"Lantas masih ada alasan apa lagi?" tanya Ui Bwe. "Sesungguhnya kita telah terbelenggu oleh semacam

kekuatan yang tak berwujud yakni jaring cinta, cuma kita sendiri saja yang tidak mengetahuinya".

"Ooooh!" Ui Bwe berseru tertahan.

Lik hoo juga menghembuskan napas panjang, katanya: "Sam moay, apa yang kau pikirkan itu mungkiN saja ada benarnya cuma. "

"Dengarkan dulu keterarganku" tukas Ang Bo tan, "Mungkin apa yang kupikirkan memang terlampau banyak, tapi cici berdua mungkin saja belum pernah berpikir sampai kesitu? Selama ini, kita bersaudara memiliki kontak batin yang cukup kuat dan mungkin karena pandangan kita dalam persoalan ini berbeda maka kita tak pernah mengungkapkannya satu sama lain, sekarang, aku telah bertekad untuk pergi mengikutinya, mau dijadikan gundik atau dayang, aku rela. Bila cici berdua enggan menghianati Keng Ji kongcu, maka hal ini merupakan urusan cici berdua, siau moay tak ingin terlalu memaksa, siau moay hanya memohon kepada cici berdua untuk mengingat pada hubungan persaudaraan kita selama banyak tahun, untuk melepaskan diriku pergi dari sini!"

"Kau, Sam moay" seru Ui Bwe.

"Jici, jangan turun tangan secara sembarangan:, bujuk Ang Bo tan lagi, "meski ilmu silat yang kita bertiga miliki sangat lihay, tapi jika dibandingkan dengan ilmu pedang Cu kongcu, kita semua masuh bukan tandingannya."

"Ooooh... benarkah dia memiliki ilmu silat yang demikian lihaynya. ?" seru Lik Hoo.

"Siau moay tidak berani membohongi cici berdua!" Lik Hoo segera tertawa dingin ujarnya:

"Siau moay tetap tidak percaya kalau dia memiliki ilmu silat yang begitu lihaynya"

"Toaci, kenapa kau begitu tak percaya kepada siau moay?"

Lik Hoo tertawa hambar, katanya: "Sam moay, persoalan ini tak ada sangkut pautnya dengan dirimu, tak usah Sam moay risaukan" Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya kembali:

'Ji moay, coba turun tanganlah untuk menjajal kepandaian silat yang dia miliki"

"Siau moay turut perintah.'

Belum selesai ucapan tersebut di utarakan Ui Bwe telah turun tangan dengan kecepatan luar biasa, ke lima jari tangannya direntangkan dan segera mencengkeram pergelangan tangan kanan Cu Siau-hong.

Dengan cepat Cu Siau-hong menggerakkan pergelangan tangan kanannya ke bawah untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut, setelah itu secepat kilat kelima jari tangannya membalik keatas dan berbalik mencengkeram pergelangan tangan kanan Ui Bwe, katanya dengan dingin:

"Nona, serangan yang kau lancarkan itu terlampau lambat gerakannya !"

Ui Bwe menjadi tertegun, serunya kemudian: "Toaci, hebat juga bocah muda ini."

Cu Siau-hong tertawa hambar sambil melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Ui Bwe, sorot matanya segera dialihkan ke tubuh Lik Hoo, kemudian katanya:

"Nona besar, apakah kau juga kepingin menjajal?"

"Kau bermaksud menghadapi kami bertiga secara bersama?"

"Bila kalian bertiga bersedia untuk bertarung melawanku, apa salahnya kalau mencoba untuk mengerubutiku?"

"Besar betul kata-katamu itu!" seru Lik Hoo. Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Ang Bo tan, setelah itu tambahnya: "Sam moay, bagaimana menurut pendapat-mu?"

"Sekalipun kita turun tangan bersama! tetap bukan tandingannya, buat apa toaci mesti bersusah payah untuk mencobanya?"

"Maksud Sam moay, kau tidak bersedia untuk bekerja sama dengan kami untuk mengerubutinya?" tanya Lik Hoo dengan kening berkerut.

"Maafkanlah daku toaci!"

Tiba-tiba Lik Hoo menerjang maju ke depan, kemudian secara beruntun melancarkan tiga buah serangan berantai.

Cu Siau-hong dengan cekatan menggerakkan badannya miring kesamping, meski tanpa bergeser barang setengah langkahpun, namun ketiga buah serangan tersebut berhasil dihindari semua.

Lik Hoo segera manggut-manggut, serunya kemudian: "Ehmm. ! Memang hebat sckali kepandaian silatnya"

"Toaci, sekarang kau sudah percaya dengan perkataan Siau moay bukan?" ujar Ang Bo tan kemudian.

"Yaa, aku sudah percaya sekarang, dia memang jauh lebih hebat daripada kita bertiga!"

"Kalau toaci sudah percaya, hal ini lebih baik lagi"

“Sam moay, pernahkah kau pikirkan, sekalipun dia dapat menangkan kita bertiga, namun sanggupkah dia untuk menangkan Keng-ji kongcu?"

"Sekalipun tak bisa menangkan dirinya, lebih baik kita mati dalam pertarungan membelai kongcu ini, dari pada mati sengsaras di dalam kebun raya Ban-hoa-wan" "Sam moay aku lihat kau sudah benar-benar terpikat olehnya"

"Toa ci, dia adalah seorang Kuncu, paling tidak ia dapat menganggap kita sebagai sesama manusia."

"Bagaimanapun juga toh nasib kita akhirnya juga sama, tak akan lolos dari hukuman keji mereka, dijadikan umpan buat harimau-harimaunya?"

"Soal ini, nona sekalian tak perlu kuatir" timbrung Cu Siau-hong kemudian. 'kedelapan belas ekor harimau itu sudah mampus semua"

"Yaa, aku telah mendengar suara pekikan ngeri dari harimau-harimau tersebut" sambung Ang Bo tan.

"Sam moay!" kata Lik Hoo, "sudah kau periksakah kalau kawanan harimau itu telah mati semua?"

"Soal ini, siau moay hanya mendengar dan belum melihat!".

"Setelah melihat sendiri, hal ini baru bisa dipercaya, kalau Cuma mendengar melulu, siapa tahu kalau itu palsu?"

Cu Siau-hong yang menjumpai keadaan tersebut, segera gelengkan kepalanya berulang kali, katanya sambil menghela napas panjang:

"Nona Sam, setiap orang mempunyai pendapat serta jalan pikiran yang berbeda-beda, lebih baik jangan terlalu kau paksakan kehendakmu. Betul mereka adalah saudara saudara angkatmu, namun kau tak akan mampu untuk mengetrapkan pendapatmu dalam hati mereka, apalagi menyeret mereka terjun ke air, mari kita pergi saja!"

Ang Bo tan segera menghela napas panjang, katanya kemudian. "Toa-ci, Ji-ci, sudah lama kita mempunyai niat untuk menghianati kebun raya Ban-hoa-wan, hari ini kesempatan yang kita nanti-nantikan telah tiba, mengapa cici berdua tidak bersedia untuk pergi bersama siau moay?"

"Sam moay, taoci kuatir sulit buat kita untuk meninggalkan tempat ini dengan selamat..."

"Toaci!" kembali Ang Bo tan menyela, "sekalipun kita tidak mati bila tetap berada disini, tapi penghidupan kitajauh akan lebih tersiksa dan sengsara daripada mati!

"Sam moay..."

"Toaci, kaupun tak usah banyak berbicara lagi, tekad siau moay sudah bulat, entah kalian mau ikut atau tidak, pokoknya siau moay sudah bertekad akan pergi meninggalkan tempat ini, nah cici berdua, siau moay ingin mohon diri"

"Sam moay, apakah tidak kau pikirkan dengan lebih matang lagi?" ucap Lik Hoo lagi.

"Siau moay telah bertekad untuk pergi, jika cici berdua tak mau ikut, terpaksa siau moay akan pergi sendiri` Cu Kongcu mari pergi. !"

"Tunggu sebentar!" bentak Lik Hoo dengan suara keras, "Sam moay, kau tidak boleh pergi dengan begitu saja"

“Apakah toaci hendak memaksa siau moay dengan kekerasan?"

"Sam moay kau tak boleh terlampau menuruti suara hati sendiri"

'Toa ci bagaimanapun juga kita pernah bersam-sama, apakah kau betul-betul hendak membawa penyelesaian dari persoalan ini lewat suatu pertarungan."

Lik Hoo menjadi tertegun lalu, katanya. "Sampai begini dalamkah rasa cintamu kepadanya?"

"Toa-ci!" kata Ang Bo tan dengan wajah serius, "keputusan yang siau moay ambil kali ini bukan dikarenakan cinta yang terlalu mendalam, melainkan karena aku beNar-benar menaruh rasa kasihan dan hormat kepadanya'.

"Jadi bagaimana sekarang? Apakah kau bersiap-siap untuk bertarung melawan toaci mu sendiri?"

"Toa ci siau moay tidak punya maksud demikian, aku hanya berharap agar toa-ci ber sedia mengingat hubungan persaudaraan kita dimasa lalu untuk melepaskan siau moay agar bisa pergi dari sini"

"Adikku yang baik, masa perkataan cicimu tidak sudi kau turuti sama sekali?"

"Toaci, setiap orang mempunyai cita-cita serta tujuan yang berbeda, kalau toh diantara kita bersaudara sudah tiada harapan untuk hidup bersama lagi, lebih baik jika kita mengambil langkah seribu untuk melakukan perbuatan  serta mewujud kan cita-citanya sendiri."

"Baiklah, kalau memang kau ingin pergi, terserah kepadamu sendiri".

'Baik! Toa ci, Ji ci, harap terimalah sebuah salam hormat dari Siau moay '

Selesai berkata, dia lantas berlutut dan memberi hormat kepada Lik Hoo...

Ketika ia membalikkan badan untuk memberi hormat kepada Ui Bwe, mendadak Ui Bwe menggoyangkan tangannya berulang kali seraya berkata:

"Sam moay harap tunggu sebentar!" "Kenapa?” sambung Ang Bo tan, “apakah Ji ci tidak bersedia melepaskan siau moay?"

"Bukan, bukannya begitu, aku hendak pergi bersamamu!"

Liok Hoo menjadi tertegun setelah mendengar perkataan adiknya itu, serunya dengan cepat. "Ji moay, kau. "

"Toaci!" kata Ui Bwe dengan cepat, "kau telah bermurah hati untuk melepaskan Sam moay, apakah kau tidak bersedia melepaskan pula diri Siau-moay?"

Lik Hoo segera tertawa, katanya:

"Ji moay, Sam-moay. setelah kalian pergi semua. siapa

pula yang akan mengurusi toaci mu ini?"

"Toaci, masa kau masih membutuhkan perawatan dari kami berdua?" ujar Ui Bwe.

"Tapi aku toh perlu mengawasi serta membimbing kalian"

'Kalau memang begitu, kenapa toaci tidak ikut kami untuk pergi bersama dari sini ?"

"Aku masih memikirkan satu persoalan!.."

"Toaci kau harus berpikir beberapa lama baru bisa mengambil keputusan ?"

"Sekarang juga aku telah mengambil keputusan".. "Mau pergi? Atau tetap tinggal di sini?"

"Pergi! Kita pergi bersama"

"Terima kasih toaci!" seru Ang Bo tan dengan girang.

Lik Hoo segera mengalihkan sinar matanya ke wajah Cu Siau-hong, setelah itu ujarnya: "Cu kongcu, apa yang hendak kau lakukan terhadap kami tiga bersaudara ?" "Aku tidak menerima syarat apa pun!"

"Sam-moay, apakah kalian belum membicarakan secara baik-baik?" kata Lik Hoo kemudian sambil berpaling kearah adiknya.

"Belum!" jawab Ang Bo-tan, "toaci, aku hanya memohon kepada Cu kongcu agar bersedia membawa kami keluar dari sini, sedang apa yang akan kita lakukan selama mengikuti Cu kongcu, belum siau-moay bicarakan"

'Sam moay, apakah sekarang boleh kita bicarakan?" tanya Lik Hoo kemudian.

"Lebih baik jangan dibicarakan" kata Cu Siau-hong, "sebab begitu dibicarakan, besar kemungkinan kalau urusan tak ada penyelesaiannya"

"Sam moay, coba lihat, bukankah dia jauh lebih sulit dihadapi dari pada Keng-ji-kongcu?" keluh Lik Hoo.

"Toa ci, kita tidak memohon apa-apa kepadanya, kita hanya memohon kepadanya agar membawa kita pergi meninggalkan tempat ini"

"Oooh "

"Antara aku dengan Keng-ji kongcu mempunyai suatu perbedaan" kata Cu Siau-hong lagi. "jika Keng-ji kongcu berbicara lain dimulut lain dihati, tapi apa yang telah kusanggupi pasti akan kuwujudkan menjadi suatu kenyataan"

"Oooh."

"Oleh sebab itu sekarang aku tidak bersedia meluluskan permintaan apa pun yang kalian ajukan"

"Apakah sepatah dua patah kata manispun tidak bersedia kau katakan'. "Tidak, sebab selama hidup belum pernah aku berbohong apalagi mengingkari janji"

"Baiklah, kami akan pergi mengikutimu, agaknya kau masih ada syarat lain?"

"Yaa, ada!"

"Agaknya seperti kami yang memohon kepadamu?"

"Itu sih tidak, kita hanya bisa bilang bahwa hal ini merupakan suatu kerja sama"

"Suatu kerja sama?"

'Betul, kalian membantu aku untuk mencari seseorang, pun aku membawa kalian meninggalkan tempat ini, lagipula akupun bersedia untuk melindungi keselamatan jiwa kalian."

"Siapa saja yang akan melindungi kami" "Bu-khek-bun '

"Hanya Bu-khek-bun saja mampu untuk melindungi kami?"

"Sesungguhnya, dalam dunia persilatan dewasa  ini hanya Bu-khek-bun saja yang sanggup untuk menghadapi para pendekar pedang macan kumbang hitam."

"Aaah, masa iya?"

"Sudah kukatakan kepada nona tadi, selama hidup aku tak pernah berbohong!"

"Aaai.... ! Menurut apa yang ku ketahui, Bu-khek-bun sudah mendekati jurang kehancurannya" kata Lik Hoo.

"Betul, Bu-khek-bun memang sudah mendekati jurang kehancuran, tapi kami belum musnah, kalau kami tidak memiliki  kemampuan  untuk  menghadapi  para  pendekar macan kumbang hitam, dapatkah Bu-khek-bun hidup sampai detik ini?"

"Cuma Bu-khek-bun?" "Tidak, masih ada Kay-pang!"

"Apakah pihak Kay-pang juga bersedia untuk melindungi keselamatan kami?'

“Asal kaliau dapat menemukan seseorang, aku jamin pihak Kay-pang pasti akan melindungi keselamatan kalian dengan sepenuh tenaga'

"Siapa yang kau cari?"

“Seorang pemuda berusia dua puluh tahunan yang bernama Tiong It-ki."

Lik Hoo termenung sebentar, kemudian katanya:

"Tiong It-ki Kau maksudkan majikan muda dari Bu khek-bun?"

?oooO)d.w(Oooo?

“BETUL! Cu Siau-hong mengangguk, majikan muda dari Bu khek-bun. "

"Aku tahu ada seorang pemuda memang di sekap dilorong bawah tanah sana, tapi aku kurang tahu apakah dia bernama Tiong-lt ki atau bukan"

"Berapa usia orang itu?"

"Usianya tidak terlalu besar, walaupun sudah berapa hari tidak mau makan dan mukanya pucat pias seperti mayat, tapi menurut perkiraanku, usianya tak akan melampaui dua puluh tahunan"' "Kalau begitu mungkin saja memang dialah yang kucari, bagaimana kalau kita tengok kesana?" Lik Hoo segera tertawa, katanya:

"Walaupun perjalanan dari sini sampai ke tempat itu tidak terlalu jauh, tetapi tidak gampang untuk dilalui"

"Apakah ada kesulitan?"

"Yaa, besar sekali kesulitannya! Kita harus melewati tiga buah pos penjagaan, bahkan pos penjagaan yang satu lebih hebat dari pada pos penjagaan yang lain"

"Nona, dapatkah kau menerangkan dengan lebih jelas lagi?" pinta Cu Siau-hong.

"Aku hanya tahu kalau ketiga buah pos penjagaan itu sukar dilewati, tapi aku tidak jelas siapa saja yang berjaga disana."

"Kalau begitu tentunya nona tahu bukan jalanan yang manakah yang harus dilalui?"

"Tentu saja tahu"

"Baik! Kalau begitu, tolong nona suka membawa aku ke situ!"

"Cu kongcu" ujar Lik Hoo kemudian, “setelah kami tiga bersaudara bertekad untuk mengHianati kebun raya Ban hoa-wan, sudah sepantasnya jika kau memberi pertanggungan jawab kepada kami"

"Maksudmu?"

"Apa yang hendak kau lakukan terhadap kami tiga bersaudara?"

"Aku telah bersedia untuk membawa kalian keluar dari sini serta melindungi keselamatan kalian dengan sepenuh tenaga" "Hanya janji itu saja?"

"Nona masih mengharapkan apa lagi?".

"Aku ingin bertanya, setelah itu kami bertiga harus ke mana dan ikut siapa?"

"Bila badai sudah tenang kembali, dan kalian masih hidup, akan kucarikan orang yang cocok untuk mendampingi kalian bertiga sampai tua"

'Kau"

"Kenapa dengan aku? Setiap janji yang telah kuucapkan kepada kalian pasti akan kulakukan dengan sungguh hati"

"Kongcu, andaikata kami tidak ingin kawin?"

"Maka hal ini terserah pada keputusan nona sendiri!" “Seandainya kami ingin mengikuti kongcu.?" "Aku...'

"Yaa, kami tak ingin kawin dengan orang lain, kami hanya ingin mengikuti kongcu sepanjang masa serta mendengarkan perintahmu"

"'Bila kalian bertiga memang memiliki keinginan begitu, sudah pasti aku pun tak akan menolak, cuma perkataan ini tidak kuanggap sebagai janji, siapa tahu kalau dikemudian hari kalian bertiga akan berubah pikiran "

"Bagaimanapun juga, pemuda ini sudah banyak membaca buku, pengetahuannya luas membuat sudut pandangannya juga lebih luas serta terbuka, dengan begitu cara pandangannya pun jauh berbeda dengan cara pandangan umat persilatan lain nya.

"Jadi kongcu telah meluluskan permintaan kami?" terdengar Lik Hoo bertanya. 'Yaa, aku meluluskan permintaan kalian, jika kamu bertiga mau mengikuti aku, sesungguhnya hal ini merupakan suatu kebanggaan buat diriku"

Lik Hoo kembali tertawa, katanya:

"Kongcu, setelah mengalami suatu pelajaran yang cukup pahit dan getir, mau tak mau kami bertiga harus meningkatkan kewaspadaan kami, entah apakah Sam moay telah memberitahukan soal nama kami bertiga dalam dunia persilatan kepada kongcu?"

"Yaa, sudah ia katakan!" 'Apakah sudah terperinci?"

'Nona, apakah kau hendak mengulangi keterangan tersebut sekali lagi." tanya Cu Siau-hong.

"Yaa, sudah seharusnya kalau kuterangkan sejelas jelasnya, cuma singkatnya saja, pertama, nama kami bertiga dalam dunia persilatan kurang begitu baik, yakni perempuan-perempuan cabul atau perempuan-perempuan jalang menurut istilahnya para jago dari perguruan lurus."

'Soal ini aku sudah tahu!"

'Kedua, dimasa lalu kami bertiga telah banyak melakukan kejahatan sehingga tak bisa disangkal lagi, banyak perselisihan dan ikatan dendam yang telah terjalin antara kami dengan murid-murid perguruan besar itu"

Cu Siau-hong segera mengerutkan dahinya rapat-rapat, katanya:

"Dapatkah kalian terangkan salah satu kejadian yang menurut kalian paling parah dan berat?" Lik Hoo mengangguk, katanya:

“Baiklah! Kami telah merayu seorang murid Siau lim si sehingga   ia   meninggalkan   perguruannya   dan   kembali menjadi preman, kemudian kamipun pernah merayu seorang murid Bu Tong-pay sehingga menghianati perguruannya"

Cu Siau-hong tertawa getir, katanya kemudian: "Bagaimanakah selanjutnya dengan kedua orang itu?"

"Kemudian murid Siau lim itu kena ditangkap kembali oleh gurunya dan dibawa kembali kedalam kuil Siau lim si, konon lantaran ia melanggar peraturan maka dijebloskan kedalam ruang Cay ti wan untuk menjalani hukuman"

"Orang ini benar-benar besar sekali kobaran cintanya, Ji moay tidak kuasa menahan kobaran api cintanya yang membara sehingga kemudian ditinggalkan dengan begitu saja, tapi dia masih berusaha untuk mengejar terus, kemudian aku dengar dia telah tewas ditangan Keng Ji Kongcu'

"Yang seorang adalah murid Buddha, sedangkan yang lain adalah murid agama To, mereka semua adalah manusia-manusia yang sudah terlepas dari keduniawian, andaikata mereka melanggar peraturan karena keadaan terpaksa, hal ini masih dapat dimaklumi, tapi kalau dibilang karena tak kuat menahan godaan perempuan, maka itulah kesalahan mereka sendiri, resikopun harus mereka pikul sendiri pula"

Lik Hoo segera menghela napas panjang setelah mendengar perkataan itu, katanya:

'Pendapat kongcu memang benar-benar jauh berbeda dengan pendapat orang biasa, walaupun kami tiga bersaudara telah melakukan perbuatan mesum, namun belum pernah kami gunakan obat perangsang atau sejenisnya, sebab kami tahu percuma saja mempergunakan bantuan obat-obatan semacam itu, apalagi jika bertemu dengan    seseorang    yang    berilmu    tinggi,    obat-obatan semacam itu sudah pasti tak akan mungkin bisa dipergunakan."

"Setiap kali merayu orang lelaki, kalian bertiga selalu turun tangan sendiri ataukah bekerja sama?"

"Setiap perbuatan pasti ada hukumannya walaupun tingkah laku kalian bertiga memang brutal dan tak boleh diampuni, tapi sedikit banyak tentunya ada batasan batasannya bukan?" Nah, aku harap setelah kalian bertobat nanti, jangan sekali-kali kalian lakukan kembali perbuatan cabul semacam itu, mengerti? Sekarang, harap nona suka membawa jalan buat diriku!"

"Cu kongcu" kata Lik Hoo sambil tertawa sedih, "apakah kau ingin mendengarkan kesan kami bertiga dengan Keng-ji kongcu?"

Cu Siau-hong segera tertawa.

"Tak perlu didengar lagi, paling-paling juga sama saja antara yang satu dengan lainnya."

"Tidak, cinta kami terhadap Keng Ji-kongcu adalah cinta yang murni dan bersungguh sungguh, itulah sebabnya kami bertiga baru bersedia untuk memiliki seorang suami yang sama dan lagi selama dua tahun ini kami selalu menjaga diri baik-baik, kami selalu menjunjung tinggi prinsip dari seorang istri yang setia'

"Oooh. sungguhkah itu?" seru Cu Siau-hong.

"Setelah budak bersedia untuk mengungkap semua yang telah terjadi tentu saja tak sepatah katapun yang akan kami sembunyikan atau berbicara bohong'

"Kalian sudah terbiasa memainkan cinta kasih orang, sudah terbiasa mengobral cinta kepada setiap orang, kenapa akhirnya bisa menaruh cinta yang bersungguh hati kepada orang lain?

"Barang siapa bermain api dia akan terbakar, barang siapa bermain air dia akan tenggelam di air. Kami telah terbiasa mengobral cinta, tapi akhirnya kami harus menelan pil yang pahit dalam soal cinta pula"

"Oooh. "

"Sikap Keng Ji kongcu terhadap kami tidak lebih hanya sikap mempermainkan, pada permulaan perkenalan, kami memang pernah melewatkan masamasa yang romantis dan penuh kesyahduan, tapi itu cuma berlangsung selama setengah tahun lamanya, kemudian diapun membawa kami menuju ke kebun raya Ban-hoa-wan, sejak itulah kehidupan kami seakan-akan terisolir, kami dibuang dengan begitu saja ditempat ini"

"Bagaimana sekarang?"

"Sekarang, didalam pandangan matanya, kami tak lebih dari seekor anjing belaka" Cu Siau-hong segera tertawa, ujarnya:

"Nona, tidakkah kau merasa bahwa ucapanmu itu seolah-olah merendahkan derajat sendiri?"

"Siapakah yang sudi mencemooh dan mempermalukan diri sendiri? Aku berbicara dengan sejujurnya, bayangkan saja, bila dia sedang teringat dengan kami, maka diapun datang mencari kami, bila tidak teringat, mungkin didalam satu bulan tak sekalipun kami dapat bersua muka dengan dirinya. ?'.

"Cukup, mari kita mencari orang yang di sekap itu lebih dulu" tukas Cu Siau-hong. "Kongcu, kau mempunyai suatu kegagahan serta daya tarik yang bakal membuat kaum wanita terbuai, membuat gadis terpikat, kami bisa menghianati Keng ji kongcu tak lain karena secara tiba-tiba kami berpendapat bahwa didunia ini bukan cuma dia seorang yang mampu membuat kaum wanita terpesona!"

"Hei, apa maksudmu? Aku rada tidak mengerti?" kata Cu Siau-hong dengan kening berkerut. Lik Hoo segera menghela napas panjang, katanya:

"Inilah suatu perasaan yang timbul karena pengaruh kejiwaan, belum tentu orang lain akan berperasaan demikian, apabila mereka belum pernah merasakan pahitnya cinta seperti apa yang telah kami alami"

"Oooh... kalau begitu, coba katakan!"

"Sesungguhnya hal ini merupakan suatu sentuhan yang muncul dari dasar hati kecil kami, bila ia benar-benar seorang lelaki yang paling menawan hati, sekalipun kami disuruh menjadi kerbau atau kuda, akan muncul semacam kepuasan yang aneh dalam perasaan kami, tak akan muncul sikap memberontak atau kurang puas dihati kami, akan tetapi sejak kemunculan Cu kongcu disini, kehadiranmu telah memberikan suatu bukti kepada kami bertiga"

"Bukti apakah itu?"

"Terbukti Kalau dia bukan lelaki paling menarik didalam dunia ini!"

"Aku sudah paham" kata Cu Siau-hong sambil tertawa, "bagaimana kalau bisa berangkat sekarang?"

"Kongcu, untuk menuju ke tempat penyekapan tersebut, kita harus melalui tiga buah pos penjagaan"

"Aku tidak takut!" "Sekalipun ilmu silat yang kongcu miliki sangat lihay dan sanggup menghabisi nyawa penjaga disana, namun suara pertarungan yang sedang berkobar itu sudah pasti akan menarik perhatian orang lain. "

Hal ini memang suatu persoalan yang serius dan merisaukan hati! Cu Siau-hong segera berpikir sebentar, setelah itu tanyanya: "Lantas bagaimana menurut pendapat nona ?"

"Setelah kami bertiga menyatakan kesanggupan untuk berbakti kepada kongcu, belum pernah kami membuat jasa untukmu, kenapa tidak kongcu beri sekali kesempatan kepada kami untuk membuatjasa?"

"Cara apa yang hendak kalian pergunakan?"

"Untung saja para penjaga yang berada di ketiga pos penjagaan itu semuanya lelaki, lagi pula lelaki yang gampang terpikat oleh rayuan perempuan, paras muka kami bertiga toh tidak terhitung jelek bukan?"

Cu Siau-hong segera mengerti, supaya hendak menggunakan rayuan mautnya untuk merobohkan penjaga? penjaga disitu.

Setelah berpikir sebentar, Cu Siau-hong bertanya lagi: "Dapat dipergunakankah cara ini?"

"Didunia ini tidak banyak terdapat kaum lelaki macam Cu kongcu, oleh sebab itu kami yakin sembilan puluh persen pasti berhasil"

"Bagaimana dengan aku?"

"'Bila Cu kongcu bersedia untuk mempercayai kami, serahkan saja tugas ini kepada kami, sebab hal ini merupakan yang baik diantara cara-cara lainnya"

"Apakah aku harus menunggu kalian disini?" "Sam moay akan tetap tinggal disini untuk menemani kau"

"Kongcu!" Ang Bo-tan segera menimbrung.

"Selama hidup toaci selalu memegang janji yang telah diucapkannya, jika kongcu percaya, marilah kita menunggu di tempat ini saja."

Cu Siau-hong segera berpikir:

"Dengan ditinggalkannya satu orang diantara mereka untuk menemaniku, sudah pasti mereka tak akan berani bermain curang"

Ketika dilihatnya mereka itu membungkam terus, Liok Hoo segera berkata lebih jauh:

'Barusan kami mendapat laporan yang mengatakan bahwa ada orang telah menyerbu ke kebun raya Ban-hoa wan, kecuali sekawanan manusia yang diutus untuk membunuh kalian, lainnya dilarang keluar dari bawah tanah, apabila kongcu ikut bersama kami bukankah hal ini justru akan meningkatkan kewaspadaan mereka?"

Cu Siau-hong manggut-manggut, katanya kemudian: "Baiklah, harap nona berdua bisa cepat pergi dan cepat

kembali"

"Paling lambat dalam satu jam kemudian kami pasti sudah kembali kemari" Selesai berkata gadis Lik Hoo telah menyelinap pergi dari tempat tersebut.

Ui Bwe segera mengikuti di belakangnya, tinggal Cu Siau-hong dan Ang Bo tan dua orang. Tiba-tiba Cu Siau hong tertawa, katanya:

"Nona Sam, sudah cukup lama kita berada disini, aku kuatir beberapa orang temanku yang berada di atas sana sudah tak sabar lagi menunggu. " "Yaa, mungkin saja demikian, maksud kongcu apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Adakah suatu cara yang bisa kita lakukan untuk memberi kabar kepada mereka ?"

"Moga-moga saja beberapa orang temanmu itu sanggup menahan diri dan tidak berteriak-teriak mencari jejakmu"

-oOo>d’w<oOo-

"ITU SIH tak mungkin, cuma sudah pasti mereka akan pergi kemana-mana untuk mencariku, aku pikir dalam kebun Ban-hoa-wan tentu terdapat orang-orang kalian yang mengawasi gerak gerik kami, aku kuatir apabila diantara mereka sampai terlibat dalam suatu pertarungan"

"Siapa yang akan bertarung dengan kalian?"

"Bukankah, didalam kebun raya Ban-hoa-wan ini sudah hadir beberapa orang jago lihay? Apakah nona tidak tahu?"

"Aku tahu akan hal itu, tapi waktu untuk turun tangan belum tiba, tiada pilihan buat mereka selain menu nggu?'

"Kapan sih waktu yang telah mereka tetapkan?" 'Agaknya  senja  nanti,   sekarang,  selama  mereka   yang

diutus   menuju   kekebun   raya   untuk   menghadang   dan

menyergap mereka, sebagian besar masih berada didalam lorong bawah tanah tak mungkin mereka akan melangsungkan serangan secara besar-besaran"

'Tak heran kalau tiada sesuatu gerakan apapun  meski aku telah membinasakan kedelapan belas ekor harimau buas itu memiliki suatu kesabaran yang luar biasa, jangan toh kalian baru membunuh delapan belas ekor harimau buas sekalipun delapan belas orang jago yang terbunuhpun, mereka tak akan melakukan tindakan apa-apa" "'Ooooh, rupaya begitu!"

"Itulah sebabnya, kalian tak pernah berhasil menemukan jejak musuh." Kata Ang Bo-tan lebih jauh.

"Nona Sam, kenapa mereka harus menunggu sampai senja nanti baru mulai turun tangan?"

"Soal ini aku sendiripun kurang jelas, agaknya seperti menunggu kedatangan seseorang"

"Menunggu orang? Siapa yang sedang mereka nantikan?"

"Kongcu, aku benar-benar tidak tahu, dalam kebun raya Ban-hoa-wan kami tidak lebih hanya manusia kelas dua, kelas tiga, rahasia yang penting dan perundingan besar hanya diketahui oleh mereka dari tingkat atas, kami tak pernah diperkenankan untuk turut serta'

"Apakah Keng-ji kongcu merupakan pemimpin dari kebun raya Ban-hoa-wan ini?"

"Sekalipun dia bukan pemimpinnya, paling tidak dia merupakah salah seorang manusia penting di dalam kebun raya Ban-hoa wan ini"

"Apakah dia seringkali tinggal di dalam kebun raya Ban hoa-wan ini?"

"Bila dia mau datang, maka secara tiba-tiba dia akan muncul di sini, bila dia mau pergi, diapun tak pernah mengatakan kepada kami akan pergi ke mana, apakah dia tinggal, juga di dalam kebun raya Ban-hoa-wan ini? Kami sendiri juga kurangtahu"

Cu Siau-hong segera termenung dan tidak banyak berbicara lagi, Ang Bo tan menghela napas panjang, kembali ujarnya:

"Kong cu, apakah kau tidak percaya dengan perkataanku?" "Percaya, Aku lagi berpikir, sebetulnya manusia yang bernama Keng-ji kongcu itu adalah manusia macam apa dan datang dari mana?"

"Selamanya ia tak pernah membicarakan soal asal usulnya dengan kami, sekalipun sedang terlibat dalam permainan cinta dan dalam suasana romantis, dia tetap membumkam dalam seribu bahasa.

Cu Siau-hong manggut-manggut.

Sekali lagi ia terjerumus dalam pemikiran yang dalam dan tidak menyangka kalau dalam kebun raya Banhoa wan ini bisa terdapat persoatlan yang begitu rumit.

Satu jam sudah hampir lewat, namun Lik Hoo serta Ui Bwe belum nampak juga muncul disana.

Walaupun Cu Siau-hong merasa gelisah sekali didalam hatinya, namun kegelisahakan tersebut tak sampai diperlihatkan di atas wajahnya.

Berbeda dengan Ang Bo tan, ia sudah mulai tak sabar lagi, sambil bergendong tangan ia berjalan bolakbalik kesana kemari dengan wajah yang amat gelisah.

Tiba-tiba pintu kamar dibuka orang, menyusul kemudian Ui Bwe menyelinap masuk. Dengan cemas Ang Bo tan segera berseru.

"Oooh, sungguh mencemaskan sekali, mana toaci?" "Orangnya sudah berhasil kita tolong, toa-ci ada

dibelakang" sahut Ui Bwee.

Tiba-tiba pintu rahasia yang lain terbuka dan Lik Hoo melangkah masuh ke dalam ruangan.. Didalam bopongannya mendukung seseorang yang tidak sadarkan diri.. Rambut orang itu awut-awutan tak karuan sehingga raut wajahnya hampir tertutup sama sekali. 'Tapi dalam sekilas pandangan saja Cu Siau-hong dapat mengenali orang itu sebagai Tiong It-ki.

Sekuat tenaga dia berusaha untuk mengendalikan pergolakan emosi didalam hatinya, sambil menjura dia memberi hormat, katanya:

"Terima kasih banyak nona!'

"Tak usah berterima kasih, coba kau periksa dulu, apakah dia adalah orang yang hendak kau tolong?"

"Betul, dialah yang sedang kucari-cari, dialah Siau suteku Tiong It-ki!" sahut sang pemuda.

Dalam perkiraan semua, entah berapa banyak waktu dan tenaga yang harus dia keluarkan sebelum berhasil menemukan Tiong It-ki, siapa tahu adik seperguruannya ini berhasil ditemukan dengan begini mudahnya tanpa bersusah payah."

Itulah yang dikatakan, dicari dengan susah payah sampai sepatu jebolpun tidak ketemu, tahunya berhasil ditemukan tanpa susah payah.

Pelan-pelan Lik Hoo membaringkan tubuhnya ke atas tanah, kemudian ujarnya:

"Entah dia sudah dicekoki sejenis obat atau jalan darahnya sudah ditotok orang, silahakan Cu Kongcu memeriksa sendiri!"

Cu Siau-hong segera membungkukkan badannya untuk memeriksa, dia menyaksikan sepasang mata Tiong It-ki terpejam rapat-rapat, mukanya pucat, tapi napasnya berjalan normal. Untuk sesaat Cu Siau-hong sendiripun tak bisa menentukan apakah dia terpengaruh oleh obat atau tertotokjalan darahnya, maka diapun menanyakan hal ini kepada Lik Hoo

"Soal ini aku sendiripun kurang tahu" jawab Lik Hoo, "cuma menurut pendapat kami siau-moay, besar kemungkinan kalau jalan darahnya sudah ditotok orang"

Cu Siau-hung manggut-manggut.

"Nona bertiga" ujarnya kemudian "mumpung mereka belum melakukan suatu tindakan, bagaimana kalau kita tinggalkan dulu tempat ini?"

"Kongcu tak perlu sungkan, mulai sekarang kami bertiga badan berikut nyawa sudah menjadi milik Cu kongcu, asal kongcu ada perintah, mau terjun ke api atau mendaki bukit bergolok, kami tidak akan menampik"

Cu Siau-hong menjadi tertegun, tiba-tiba saja dia merasakan adanya suatu beban yang sangat berat menindih diatas bahunya, Bu khek-bun adalah suatu perguruan kaum lurus dalam dunia persilatan, jika dia sampai membawa Lik Hoo, Ui Bwe serta Ang-Bo-tan yang bernama jelek dimata masyarakat untuk melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, sudah pasti peristiwa ini akan sangat menggemparkan seluruh dunia dan sedikit banyak nama baik Bu-khek bun pun tentu akan terpengaruh...

Sekarang, dia baru mengerti pandangan suhunya yang lebih ke depan, dia baru menyadari apa sebabnya ia telah dibebas tugaskan dari ikatan perguruan Bu-khek-bun oleh gurunya menjelang saatnya menghembuskan napas penghabisan.

Bagaimana keadaan tersebut sungguh merupakan suatu bantuan yang amat besar, karena dia dapat bertindak lebih leluasa lagi tanpa takut terikat oleh peraturan-peraturan Bu khek-bun.

Seandainya tidak begini, diapun tak dapat mengambil keputusan menurut keadaan dan tak dapat meluluskan permintaan Lik Hoo bertiga untuk mengikuti dirinya dan berarti diapun akan sulit untuk menemukan jejak siau sutenya.

Memang banyak kejadian didunia ini yang sukar diduga sebelumnya, tapi cara yang terbaik adalah bisa memanfaatkan keadaan serta memegang posisi yang menguntungkan.

"Kongcu, apa yang sedang kau pikirkan?" Tiba-tiba Lik Hoo menegur sambil tertawa.

"Oooh, tidak...'

"Kongcu, apakah kau menjumpai kesulitan?"

"Aaai.... terus terang, aku sedang berpikir bagaimana caranya untuk memberi keterangan kepada suboku nanti"

"Kongcu, kau tak usah bersedih hati, dalam menghadapi persoalan apapun tak usah murung, bila subo mu bertanya nanti, katakan saja bahwa kami adalah dayang yang kau terima untuk melayani dirimu"

"Nona begitu memikirkan tentang diriku, hal ini sungguh membuat aku merasa malu sendiri"

"Tidak, kami pasti akan mendatangkan sedikit kesulitan kepadamu, dan kami tahu hal ini tak dapat dihindari, nama kami dimasa lalu memang terlampau jelek, tapi kami pasti akan berusaha dengan sepenuh tenaga untuk mengurangi kesulitan tersebut sampai batas-batas yang mudah"

'Nona bertiga" kata Siau-hong kemudian "apa yang telah aku   orang   she   Cu   janjikan   kepada   kalian   pasti akan kulaksanakan dengan sebaik-baiknya, nona bertiga tak usah kuatir, sekarang mari kita berangkat..."

"Cu kongcu, apakah tidak kau coba dulu, dapatkah jalan darah ditubuh Tiong kongcu itu kau bebaskan?" usul Ang Bo tan.

"Lebih baik kita bawa dia keluar dari sini lebih dulu" "Kenapa?."

"Sebab aku hendak menyuruh sunio melihat keadaannya lebih dulu, kemudian baru berusaha untuk membebaskan jalan darahnya!"

"Baik, terserah kepada kongcu sendiri", ucap Ang Bo tan.

"Ji moay, Sam-moay, mari kita berganti pakaian dulu sambil membawa senjata", seru Lik Hoo, mulai sekarang kita harus menegakkan kembali nama tiga kuntum bunga tersebut dalam dunia persilatan"

"Nona bertiga, lebib baik kalian jangan terlalu menyolok dulu" kata Siau-hong sambil tertawa. "kenakan saja pakaian luar, tutupi lambang diatas pakaian yang kalian kenakan itu"

Lik Hoo tertawa.

"Baik, kami akan menu ruti semua perintah dari kongcu"

Ketiga orang nona itu segera berganti pakaian, lalu masing-masing mengenakan sebuah jubah panjang untuk menutupi lambang mereka.'

Lik Hoo tetap memakai baju berwarna hijau pupus, Ui Bwee mengenakan baju berwarna kuning, sedangkan Ang Bo tan mengenakan baju berwarna merah. Ketiga orang perempuan itu semuanya menyanggul rambut mereka model keraton, pakaian yang dipakai berwarna-warni sehingga kelihatan menyolok sekali.

Menyolok atau tidak adalah soal kedua, maka Cu Siau hong segera membawa mereka meninggalkan tempat itu.

Senjata yang dibawa tiga bersaudara itu adalah sebilah pedang mestika

Lik Hoo segera membuka pintu kamar yang berhubungan dengan tempat luar, sinar matahari segera menyorot masuk ke dalam.

Ang Bo tan dan Ui Bwe menerjang lebih dulu keluar sana..

Cu Siau-hong sambil membopong Tiong It-ki berjalan ditengah, sedangkan Lik Hoo dipaling belakang.

Setelah keluar dari pintu besi, sinar matahari terasa menyilaukan mata, bau bunga yang harum semerbak menusuk hidung.

Mendadak terdengar Ui Bwee membentak keras. "Berhenti! Siapa disitu?"

Kemudian terdengar suara lain berkumandang pula. “Siau-hong sute!"

Ternyata yang datang adalah Tang Cuan.

Tang Cuan menghembuskan napas panjang dengan langkah lebar dia segera maju mendekat sambil berseru:

"Sute, siapa yang berada dalam dukungan?mu itu?'

"Toa suheng, dia adalah It-ki sute!" jawab Cu Siau-hong.

"lt ki sute? Kau telah menemukannya?" suara Tang Cuan kedengaran agak gemetar. Cu Siau-hong manggut-manggut. "Yaa, untung saja ada ketiga orarg nona ini yang membantu diriku" katanya.

Tang Cuan memperhatikan Lik Hoo sekejap, kemudian katanya:

"Ketiga orang nona ini maksudmu..."

"Betul! Ketiga orang nona itulah orangnya .."

Tang Cuan tidak kenal dengan Lik Hoo tiga bersaudara, buru-buru dia menjura seraya berkata: "Terima kasih banyak atas banusan nona bertiga!"

"Tidak, kau tak usah berterima kasih kepada kami.!" kata Lik Hoo sambil tertawa.

"Kau telah menolong Siau sute kami, dia adalah satu satunya darah daging dari mendiang suhu kami, kau menolongnya berarti menolong Bu-khek-bun kami, setiap anggota Bu-khek bun sudah seharusnya merasa berterima kasih kepadamu"

Kembali Lik Hoo tertawa. "Saudara adalah. "

"Dia adalah toa suheng ku, juga merupakan ciangbunjin dari Bu-khek-bun sekarang", buru-buru Cu Siau-hong memperkenalkan.

Lik Hoo segera menyingkap jubahnya dan tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut, katanya: "Lik Hoo menjumpai ciangbunjin."

Ketika Ui Bwe dan Ang Bo tan menyaksikan Lik Hoo berlutut, buru-buru mereka turut berlutut. Tang Cuan menjadi kelabakan menghadapi kejadian itu, serunya dengan gugup:

"Nona bertiga, harap kalian segera bangun!" "Kami baru pertama kali ini berjumpa dengan ciangbunjin, sudah sepantasnya jika kami menjalankan penghormatan besar kepadamu" kata Lik Hoo.

"Nona bertiga sudah sepantasnya jika pihak Bu-khek-bun yang mengucapkan terima kasih kepada kalian bertiga"

"Tidak berani, tidak berani, kami sudah menjadi orangnya Cu kongcu, sudah seharusnya kami berbakti buat Bu-khek-bun"

Mendengar itu paras muka Tang Cuan agak berubah, serunya:

"Kalian sudah menjadi orangnya Cu-kongcu? Apa maksudnya? Siau-hong, kau. "
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 25"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close