Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 19

Mode Malam
"Tentu saja ibaratnya naga yang kembali ke samudra, atau harimau yang pulang ke gunung!"

"Benar! Aku benar-benar merasakan suatu perasaan yang nyaman sekali”

"Cara kerja kami orang-orang Bu-khek-bun selamanya memang jujur, terbuka dan sangat mempercayai perkataan orang"

"Sayang sekali orang persilatan banyak yang licik, banyak tipu muslihat dan sukar dipercaya, misalnya saja "

"Tentunya kau tak akan melakukan tipu muslihat untuk memperdaya kami bukan" sela Cu Siau-hong.

"Siapa yang bilang demikian? Saudara Cu!" Cu Siau-hong kembali tertawa.

"Aku harap saudara Ti juga tak sampai berbuat demikian, bagaimana juga sunioku adalah seorang jago yang sudah lama berkelana dalam dunia persilatan, mungkin saja ia telah melakukan persiapan sebelumnya.."

Ti Thian hua berpaling dan memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu katanya sambil tertawa. "Betul juga perkataanmu itu, baru saja Bu-khek-bun ketimpa musibah, mana mungkin Pek Hong akan bertindak gegabah seperti itu"

"Apalagi para jago lihay dari Kay-pang sebagian besar telah berkumpul semua disini "

"Betul! Betul, betul!" seru Ti Thian hua, "saudara Cu, barusan kita berbicara sampai dimana?"

"Tampaknya saudara merasa kuatir sekali bila para pendekar pedang macan kumbang hitam itu sampai terpancing keluar"

"Aaaai, kalian hanya memikirkan dendam sakit hati terbasminya Bu-khek-bun, tapi tidak tahu sampai dimanakah keganasan dan kekejian para pendekar pedang macan kumbang hitam tersebut "

Cu Siau-hong termenung lagi beberapa saat lamanya, kemudian melanjutkan lebih jauh: "Saudara Cu, kau pernah melihat macan kumbang hitam?"

"Meliaht sih belum pernah, tapi konon macan kumbang hitam adalah sejenis makhluk yang ganas dan buas sekali"

"Benar! Bila para pendekar pedang macan kumbang hitam sedang menyerang, maka gaya serangan mereka akan mirip seekor macan kumbang hitam... aaai, Sesungguhnya kejadian ini merupakan suatu kenangan yang amat menakutkan, pendekar pedang macan kumbang hitam yang garang bergerak bagaikan binatang liar dan sangat keji, sudah banyak tahun siaute berkelana di dalam dunia persilatan, tapi belum pernah berjumpa dengan kawanan busu semacam itu, pada hakekatnya mereka tidak mirip manusia lagi.."'

"Kalau tidak mirip manusia mirip apa?" tukas Cu Siau hong secara tiba-tiba. "Mirip macan kumbang hitam, seluruh tubuh mereka terbungkus oleh kulit baju berwarna hitam pekat, sorot matanya dingin menggidikkan hati, gerakan pedangnya tak kenal ampun, pada hakekatnya persis seperti macan kumbang hitam yang siap menerkam manusia"

"Kalau memang demikian kejadiannya, berarti saudara Ti bukan berasal sekomplotan dengan mereka?"

"Sebenarnya aku ingin menggunakan kekuatan mereka sebagai kekuatan yang kuandalkan, siapa tahu pada akhirnya malah aku yang kena diperalat oleh mereka"

"Saudara Ti bilang para pendekar macan kumbang hitam itu mengenakan pakaian kulit berwarna hitam pekat?'

"Benar! Seluruh badan mereka terbungkus di balik kulit pakaian berwarna hitam, hanya sepasang mata, mulut dan sepasang tangan yang memegang senjata saja yang kelihatan"

"Dandanan semacam ini sangat aneh dan luar biasa, mungkin dihari-hari biasa mereka tidak mengenakan dandanan aneh semacam itu bukan?"

'Justru disinilah terletak persoalannya, kalau mereka sedang melepaskan kulit bajunya maka sekalipun kalian bersua muka jangan harap bisa mengenalinya"

"Betul" Cu Siau-hong manggut-manggut. "kalau begitu tujuan mereka yang sebenarnya dengan mengenakan pakaian kulit yang aneh itu adalah untuk menyembunyikan indentitas mereka yang sebenarnya"

“Selain daripada itu, pakaian kulit mereka pun sangat kuat dan tebal, tidak takut terhadap sergapan senjata rahasia kecil yang beracun." Sementara pembicaraan masih berlangsung mereka telah berjalan menuju ketengah jalan raya. "Saudara Ti!" Cu Siau-hong segera berkata.

"kau bermaksud menggunakan cara apa untuk memancing datangnya pendekar pedang macan kumbang hitam itu?"

"Mari kita menuju keloteng Wong kang lo lebih dahulu" "Lagi-lagi  loteng  Wong  kang  lo”  pikir   Cu-Siau-hong,

“tampaknya rumah makan yang paling termasyhur dikota

Siang yang ini telah banyak disalah gunakan oleh umat persilatan."

Tiba diatas loteng Wong kang lo, Ti Thian-hua dan Cu Siau-hong segera memilih sebuah meja memesan sayur dan arak tapi meminta tiga perangkat alat makan..

Cu Siau-hong juga tidak banyak bertanya hanya secara diam-diam ia perhatikan semua gerak-gerik Ti Thian hua tersebut.

Tampak Ti Thian hua bangkit berdiri kemudian mengisi penuh cawan arak yang belum ada penghuninya itu dengan sikap yang amat sopan.

Cu Siau bong makin keheranan pikirnya: "Mungkinkah masih ada orang yang bakal datang?"

Setelah Ti Thian hua memenuhi ketiga cawan arak itu, ia lantas mengangkat cawannya dan berbisik kepada Cu Siau hong.

"Mari kita hormati dahulu Ceng toako dengan secawan arak!"

Siapakah Ceng toako itu? sudah jelas tempat itu masih kosong, lalu darimana datangnya Ceng toako tersebut? Walaupun Cu Siau-hong sedang berpikir dalam hati, tapi ia tak sampai mengutarakannya keluar.

Menyaksikan sikap Ti Thian hua yang bersungguh hati itu, seakan-akan Ceng toako benar-benar berada disampingnya.

Dalam ruangan rumah makan itu ada lima bagian sudah dipenuhi tamu, rumah makan yang tersohor dikota Siang yang ini memang selalu baik usahanya.

Walaupun sudah banyak orang disana, tapi tingkah laku Ti Thian hua selalu saja mendatangkan perasaan tercengang bagi siapapun yang melihatnya.

Cu Siau-hong mengangkat cawan araknya dan mengeringkan isi cawannya sampai kering.

Ti Thian hua kembali berkata:

"Sekarang, kita boleh makan minum dengan leluasa" "Apakah boleh berbicara pula dengan leluasa?" 'Lebih

baikjangan!"

Cu Siau-hong segera menutup mulutnya rapat-rapat.

Takaran minum arak dari Ti Thian hua sungguh luar biasa sekali, secawan demi secawan ia meneguk terus arak itu sampai habis.

Sebaliknya Cu Siau-hong tidak berani sembarang minum. Ia tetap mempertahankan ketenangan dan kesadarannya.

Sepoci arak sudah diminum sampai habis, akan tetapi tempat duduk utama tersebut masih tetap berada dalam keadaan kosong. Mulai timbul perasaan curiga dalam hati Cu Siau-hong, tak tahan dia Lantas bertanya. "Apakah Ceng toako tidak datang untuk menemani kami?"

Sekali lagi Ti Thian hua menghabiskan isi cawannya, lalu berkata:

"Ia sudah datang kemari" 'O ya?"

Ti Thian hua bangkit berdiri, kemudian melangkah keluar dari rumah makan itu.

Cu Siau-hong melemparkan sekeping perak ke meja dan mengikuti dibelakang Ti Thian hua.

Agaknya pada waktu itu Ti Thian hua sudah mempunyai tujuan tertentu, dia langsung berjalan keluar dari kota Siang-yang, kemudian langsung menuju ke arah tenggara.

Dalam waktu singkat tujuh delapan li sudah dilewatkan tanpa terasa.

Suasana disekeliling tempat itupun makin lama semakin sepi dan terpencil, empat penjuru tak kelihatan sesosok bayangan manusiapun.

Ternyata sikap Cu Siau-hong cukup tenang selama ini ia tidak banyak bertanya.

Tiba-tiba Ti Thian hua menghentikan langkahnya, sambil membalikkan badan ia berkata: "Sepanjang jalan datang kemari, apakah di belakang kita ada orang yang mengikuti?"

Cu Siau-hong segera menggeleng.

"Tidak ada" sahutnya. "atau paling tidak aku tidak melihat akan hal tersebut"

"Aku juga tidak melihat apa-apa" kata Ti Thian hua. Kemudian sambil tertawa lebar katanya lagi. "Saudara, lebih baik kita berpisah sampai disini saja"

Cu Siau-hong sama sekali tidak merasa heheran, kaget atau tercengang, katanya sambil tertawa ewa: "Apakah kau akan pergi dengan begitu saja?"

"Seorang kuncu hanya berada dipihak yang selalu tertindas, siapa suruh anggota Bu-khek-bun kalian semuanya lelaki sejati? Makanya manusia macam kalian paling gampang tertipu"

"Setiap murid Bu-khek-bun semuanya memang seorang Kuncu, dan hal ini memang tidak salah, cuma sayang ada seorang yang tidak terlalu bersikap Kuncu"

"Siapakah orang itu?' "Aku !"

Ti Thian hua memperhatikan Cu Siau-hong beberapa kejap, kemudian katanya sambil tertawa: 'Kau tampaknya masih muda sekali!"

"Padahal usia mu sendiripun tidak terlampau besar!" kata Cu Siau-hong sambil tersenyum pula.

Sekulum senyuman yang amat misterius segera tersungging diujung bibir Ti Thian hua, katanya:

"Saudara cilik apakah kau merasa bahwa cayhe telah meloloskan diri dari kepungan dan mendapatkan kembali kebebasannya.”

"Oooh. ! Jadi kau ingin berubah pikiran?"

'Aaaai! Sesungguhnya ini kesempatan yang terlalu baik bagiku, walaupun aku ingin sekali memenuhi janjiku sendiri, tapi akupun merasa sayang untuk melepaskan kesempatan yang demikian baiknya ini dengan begitu saja' "Jadi kalau begitu, maksudmu"

"Burung terbang bebas diangkasa, tentu saja aku ingin pergi dengan bebas merdeka" sahut Ti Thian hua.

"Apa kau telah mengadakan janji dengan para pendekar pedang macan kumbang hitam"

"Sudah! Bahkan mereka telah memberi tahu kepadaku tempat pertemuan tersebut"

"Sekarang, apakah kita sudah sampai di tempat yang dimaksudkan sebagai tempat pertemuan tersebut?"

Ti Thian hua mendongakkan kepalanya untuk memandang cuaca, lalu jawabnya:

"Cuma tak lebih masih ada dua tiga li"

"Seandainya memang demikian adanya, aku ingin menganjurkan kepadamu lebih baik jangan pergi saja"

Ti Thian hua segera melototkan sepasang matanya lebar lebar, kemudian serunya:

"Jika seseorang yang berhadapan dengan kesempatan untuk melarikan diri yang demikian baiknya, tapi ia tak tahu untuk melarikan diri maka orang itu sudah pasti adalah seorang manusia tolol, untung saja aku bukan seorang tolol"

"Aku lihat kau bukan cuma tolol saja, bahkan tololnya luar biasa"

"Mengapa aku sendiri sama sekali tidak merasakan apa apa?" tanya Ti Thian hua sambil tertawa. "Bila kau dapat memikirkannya, maka kau tak akan mempunyai pikiran untuk melarikan diri"

Kontan saja Ti Thian hua tertawa dingin tiada hentinya. "Saudara cilik" ia berkata, "tampaknya kau tenang sekali, kalau dibilang kau adalah manusia yang paling hebat dalam Bu-khek-bun. berita ini tampaknya tepat sekali"

"Jikalau aku ini tolol, mana mungkin sunio ku mengutus aku untuk mengikuti dirimu?'

"Jadi kalau begitu, aku patut untuk mohon petunjuk darimu"

"Apakah kau bersikeras ingin mendapatkan petunjuk itu?"

"Sayang sekali aku terlalu tidak mempercayai dirimu, saudara, lebih baik kita berpisah sampai disini saja"

"Baik! Silahkan untuk pergi, Sekalipun aku tidak menghalangimu, orang-orang Kay-pang juga tak akan melepaskan dirimu, Kau telah membohongi para pendekar pedang macan kumbang hitam. merekapun tak akan melepaskan kau dengan begitu saja"

Ti Thian hua menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, serunya tertahan: "Tentang soal ini "

"Ti Thian hua" lanjut Cu Siau-hong, “apakah lantaran kau tidak melihat ada orang dari pihak kami yang melakukan penguntilan maka kau ingin menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri?"

Ti Thian hua mengiakan.

Cu Siau-hong segera berkata lebih lanjut, "Yang akan kami hadapi bukan kau, melainkan para pendekar pedang macan kumbang hitam, tentu saja kami membutuhkan suatu persiapan yang cukup matang"

Tiba-tiba Ti Thian hua menghela napas panjang,  ujarnya: "Cu Siau-hong, bila kuajak kau untuk menjumpai mereka, bisa jadi dalam perguruan Bu-khek-bun akan kehilangan seorang anggota lagi"

"Kenapa?"

"Mereka dapat membunuh kau" Cu Siau-hong segera tertawa.

"Aku pikir kau tak akan terlalu menguatirkan soal mati hidupku bukan? tampaknya didalam persoalan ini kita tak perlu untuk berunding lagi bukan?"

Kembali Ti Thian hua menghela napas panjang.

"Jika kau ingin mampus, terpaksa akan kupenuhi keinginanmu itu, nah mari kita berangkat!"

Diam-diam Cu Siau-hong menghembuskan napas lega, dengan suatu gerakan cepat ia meninggalkan kode rahasia disitu kemudian menyusul dibelakang Ti Thian hua.

Setelah melewati sebuah hutan, sebuah rumah gubuk tampak muncul didepan sana. Itulah sebuah rumah kuno yang sudah lama terbengkalai.

Tempat itu benar-benar terlalu terpencil dan jauh dari keramaian manusia, dua tiga li disekitarnya sama sekali tidak nampak penduduk yang lain.

Sambil menunjuk ke arah rumah gubuk didepan sana, dengan suara dingin Ti Thian hua berkata: "Dengarkan baik-baik, jika kau melangkah masuk ke dalam rumah gubuk itu maka kau pasti akan tewas'

Dengan seksama Cu Siau-hong memperhatikan rumah gubuk itu sekejap, kemudian katanya sambil tertawa.

'Hayo jalan! Kita masuk kedalam untuk melihat-lihat" Agaknya Ti Thian hua merasa kagum sekali dengan keberanian Cu Siau-hong, sambil manggut-manggut katanya:

"Cu Siau-hong kau betul-betul luar biasa, ternyata nama besarmu memang bukan kosong belaka"

"Terlalu memuji, terlalu memuji '

Ti Thian hua tidak banyak berbicara lagi dia lantas melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah gubuk itu.

Cu Siau-hong memang seorang pemuda yang pemberani dan berpikiran cermat, sekalipun sikap nya kelihatan santai, tapi secara diam-diam ia telah menghimpun tenaga dalamnya untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Ti Thian hua berjalan masuk lebih dulu ke dalam rumah gubuk itu.

Dalam rumah gubuk itu tidak nampak debu, lagipula selain ada sebuah meja besar berkaki delapan, terdapat pula empat buah kursi.

Meja yang begitu megah bila dibandingkan dengan rumah gubuk yang bobrok sebenarnya amat tidak sebanding.

Selain daripada itu diatas meja kursi tidak tampak ada debu.. hal ini menerangkan kalau tempat itu seringkali dibersihkan orang.

Akan tetapi rumah gubuk itu kosong melompong, tak kelihatan sesosok bayangan manusiapun. Setelah mengamati sekejap situasi didalam rumah gubuk itu pelan pelan Cu Siau-hong berkata: "Ti Thian hua, disinikah para pendekar pedang macan kumbang hitam itu bercokol?" "Tempat tinggal mereka kebanyakan amat misterius, selain para pendekar pedang macan kumbang hitam sendiri boleh dibilang tak seorangpun yang tahu dengan jelas, tempat ini tidak lebih hanya merupakan salah satu dari sekian banyak tempat pertemuan yang seringkali kami gunakan selama ini"

"Aku sangat memperhatikan semua gerak gerikmu selama berada di atas loteng rumah makan"

"Tapi kau tidak melihat bagaimana cara mereka menyampaikan kabar kepadaku tentang tempat pertemuannya bukan?" sambung Ti Thian hua.

"Dapatkah kau mengatakannya sehingga menambah pengetahuanku tentang hal ini?"

"Setelah aku membawamu kemari, maka kalau tidak mati ditempat ini pasta akan terjadi pertarungan, selanjutnya mereka pasti tak akan mempercayai diriku lagi, sekalipun kuterangkan juga tak ada salahnya"

"Baik, akan ku pasang telinga lebar-lebar untuk mendengarkan keteranganmu itu"

"Ketika seorang pelayan menghidangkan air teh kepada kita tadi, ia letakkan tiga buah cawan air teh..."

'Sebenarnya kita memang memesan tiga perangkat sumpit dan cawan, kalau dia pun menghidangkan tiga cawan air teh, itu mah tidak salah"

"Tapi dalam cawan itu telah berisikan air teh "

Cu Siau-hong manggut-manggut, katanya dengan cepat: "Aku mengerti sekarang, bila ia berjanji kepadamu untuk

bertemu  ditempat  pertemuan  yang  nomor  berapa,   maka

dalam beberapa cawan ia mengisinya dengan air teh, bukan begitu?" "Benar!"

"Cara ini memang pintar sekali, cuma harus bekerja sama dengan pelayannya"

"Apakah kau curiga pelayan itu juga seorang pendekar pedang macan kumbang hi?tam!'

"Kalau bukan, mengapa mereka bersedia untuk bekerja sama?"

'Saudara Cu, di tempat semacam ini asal mau mengeluarkan uang sebesar satu, dua tahil perak, tidak sulit untuk melakukan pekerjaan yang sepele macam itu"

"Bagus, bagus .... cara ini sungguh rapi, kalau begitu si pemimpin yang mengepalai pendekar pendekar pedang macan kumbang itu sudah pasti adalah seorang manusia cerdas dan berotak brillian?"

"Kalau tidak berotak encer, dari mana kita tak bisa mengetahui tempat tinggal mereka, meski dengan jelas mengetahui kalau mereka berdiam di kota Siang yang? "

"Termasuk saudara Ti sendiri?"

"Yaa, kalau dibicarakan sesungguhnya memalukan sekali!"

Cu Siau-hong segera tertawa:

"Saudara Ti, sampai kapan mereka baru akan datang kemari?" tanyanya.

Dengan kening berkerut, Ti Thian hua menghela napas panjang, katanya pelan.

"Saudara Cu, kau tampak amat santai dan riang gembira, kelihatannya sedikitpun tidak merasa kuatir"

"Saudara Ti, bila aku merasa takut apakah saudara Ti mempunyai akal untuk melindungi keselamatan siaute?" Ti Thian hua tertegun lalu serunya sambil tertawa. "Apakah aku bisa melindungimu?"

"Kalau toh kau tak bisa melindungi, kenapa pula meski menguatirkan keselamatanku?"

Ti Thian hua segera tertawa.

"Cu Siau-hong, Usiamu masih muda akan tetapi mendatangkan suatu perasaan tenang, mantap dan teguh, seandainya posisi kita masih tetap berhadapan sebagai musuh, maka kau adalah seorang musuh yang amat menyenangkan hati"

"Terima kasih banyak atas pujian saudara Ti" kata Cu Siau-hong sambil tersenyum.

-oOo>d’w<oOo-

"CU SIAU-HONG apakah kau benar-benar tidak merasa takut?"

"Situasi sangat aneh, macan kumbang hitampun amat misterius, terus terang saja akupun merasa agak takut, cuma sekalipun takut juga harus menghadapi macam bahaya  yang datang dari muka"

"Tapi, wajahmu amat tenang, setenang sebuah bukit karang?"

Mendadak terdengar serentetan suara dalam menyambung:

"ltulah disebabkan ia belum pernah bersua dengan pendekar macan kumbang hitam!"

"Sekarang, bukankan kita telah bersua?" kata Cu Siau hong Paras muka Ti Thian-hua segera berubah nenjadi pucat pias bagaikan mayat, serunya pula: "Apakah kalian baru datang?"

Tiga orang manusia yang mengenakan baju kulit berwarna hitam munculkan diri di depan pintu rumah gubuk.

Ketiga orang itu semuanya menggembol pedang panjang, sarung pedang berwarna bitam dengan gagang pedang berwarna hitam pula.

Selain dua butir batu permata berwarna putib diujung gagang pedang tersebut, boleh dibilang seluruh pedang tersebut berwarna hitam pekat.

Tiga orang berdiri dalam posisi segi tiga, seorang dimuka dan dua orang di belakang.

Topi kulit yang berwarna hitam berbentuk kepala macan kumbang, hanya tampak sepasang mata, sepasang telinga hidung dan bibir.

Dengan pandangan dingin tapi serius Cu Siau-hong mengawasi ke tiga orang pendekar pedang macan kumbang hitam itu lalu tegurnya.

"Pada malam penyerbuan dan pembantaian terhadap perkampungan Ing-gwat-san-ceng, apakah kalian bertiga juga turut serta?"

"Selamanya kami tidak menjawab pertanyaan dari musuh!" jawab pendekar pedang macan kumbang hitam yang berada dipaling depan itu.

"Ada belasan orang pendekar pedang macam kumbang hitam yang tinggal dikota Siang yang, mengapa hanya kalian bertiga yang datang?" kembali Cu Siau-hong menegur. Pendekar pedang macan kumbang hitam yang berada dipaling depan itu tidak menjawab pertanyaan tersebut sebaliknya menegur dengan dingin:

"Ti Thian hua, kau telah membocorkan banyak sekali rahasia kami !"

Sebenarnya Ti Thian hua kelihatan agak  takut bercampur ngeri, akan tetapi dalam waktu singkat ia telah menjadi tenang kembali, pelan-pelan ujarnya:

"Ingat kalian pernah berjanji akan melindungi Keselamatan jiwaku tapi kenyataannya kalian tidak memegangjanji, ketika aku tertawan oleh pihak Kay-pang "

"Kau tidak menjaga rahasia kami, kaupun tidak minta bantuan kepada kami, hanya karena seorang gadis pincang, kau telah bersembunyi dalam rumah kecil dibawah bukit"

'Tutup mulut!" bentak Ti Thian hua marah, “urusan pribadiku tidak termasuk didalam perjanjian diantara kita"

Sementara itu Cu Siau-hong telah menemukan kode nomor diatas topi yang dikenakan para pendekar pedang macan kumbang hitam itu.

Cuma saja pada bagian atasnya melukiskan sebuah kepala macan dengan motif bunga yang kacau, andaikata tidak diperhatikan dengan seksama memang sulit untuk menemukannya.

Dalam kenyataannya sebagian besar orang memang tak akan menaruh perhatian sampai kesitu.

Tapi Cu Siau-hong sangat teliti dan seksama, ia sadar diantara pakaian yang sama pasti terdapat suatu tanda yang berbeda, sebab perbedaan tanda itu sangat penting untuk menandaikan kedudukan mereka. Maka ia memeriksanya dengan seksama, betul juga akhirnya tanda tersebut berhasil ia temukan.

Orang yang berada dipaling depan adalah Hek-pa nomor lima, sedang dua orang yang berada di belakang adalah nomor tujuh dan nomor sembilan

Bagi orang-orang mereka sendiri hanya dalam sekilas pandangan saja segera akau bisa membedakan kedudukan lawan.

Diam-diam Cu Siau-hong berpikir.

"Mungkin makin kecil nomornya makin tinggi kedudukannya"

Sementara itu si Hekpa nomor lima telah berkata lagi dengan suara dingin:

"Oleh sebab itu kami telah bertekad untuk tidak melindungi keselamatanmu lagi, tapi kau ternyata berani membantu musuh, maka kami akan membunuhmu"

"Beginikah cara kalian bersikap terhadap teman?"

"Masih ada kau!" bentak Hek pa kiamsu nomor lima itu, "kaupun harus mampus!"

Paras muka Ti Thian hua telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat, tubuhnya juga tampak gemetar, tapi masih untung ia dapat berdiri terus disana tanpa roboh terjengkang.

Pelan-pelan Cu Siau-hong maju selangkah ke depan, sambil menghadang di muka Ti Thian hua, katanya sambil tertawa:

“Kalian bertiga mengenakan pakaian seperti ini, memang modelnya persis seperti tiga ekor Hek pa (macan kumbang hitam)" Tiba-tiba hek pa kiamsu nomor lima menggelengkan kepalanya, Hek pa kiam su nomor sembilan segera menerjang maju ke depan, tangan kanannya digerakkan, cahaya tajam yang berkilauan segera menebas kebawah dengan kecepatan luar biasa.

Sungguh sebuah tabasan pedang yang cepat bagaikan kilat.

Cu Siau-hong segera menggerakkan badannya, secepat kilat ia berkelit lima depa kesamping, kemudian tangannya menyambar dan menyeret Ti Thian hua mundur sejauh lima depa.

Gerak gerik Hek pa kiam su tersebut betul betul cepat bagaikan seekor macan tutul, kilatan cahaya tajam berkilauan memenuhi seluruh angkasa.

Menggunakan kesempatan dikala menghindar tadi, Cu Siau-hong telah meloloskan pula pedang pendeknya yang tersembunyi dibalik jubah panjangnya itu.

Pedang pendek itu cuma dua jengkal panjangnya, untuk menghindari perhatian orang, Cu Siau-hong  memang belum pernah pergi sambil membawa pedang panjang.

"Trang !" bunyi yang amat nyaring berkumandang memecahkan keheningan, tahu-tahu Cu Siau-hong telah membendung lima buah serangan berantai yang dilancarkan oleh Hekpa kiamsu namor sembilan itu.

Cu Siau-hong tidak melancarkan serangan balasan sedangkan Hek pa kiam su nomor sembilan pun tidak maju pula selangkah lebih kedepan.

Menyaksikan cara Cu Siau-hong membendung serangan pedang lawan yang cepat bagaikan sambaran kilat itu, diam-diam Ti Thian hua merasakan hatinya bergetar keras. Ia turut serta didalam penyerbuan berdarah ke dalam perkampungan Ing-gwat-san-ceng, diapun pernah bertarung melawan anak murid Bu Khek bun, meskipun ilmu pedang Cing peng kiam-hoat lihay dan hebat tapi bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk sekaligus membendung  lima buah serangan kilat yang dilancarkan Hek pa kiam su.

Paling tidak dia harus terdesak mundur sejauh beberapa langkah oleh serangan kilat tersebut.

Akan tetapi Cu Siau-hong telah membendung serangan pedang lawan dengan santai dan tenang malahan dia masih memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan balasan.

Ia memang belum pernah manyaksikan permainan pedang Tiong Leng kang, tapi penampilan Cu Siau-hong yang luar biasa dan lain daripada yang lain ini merupakan seorang jago pedang yang paling hebat dan lain daripada apa yang pernah di jumpai Ti Thian hua selama ini, dia merupakan murid Bu-khek-bun terlihay yang pernah dijumpai pula selama ini.

Dengan suara dingin Hek pa kiam su nomor lima berkata: "Kalian berdua maju bersama, bunuh kedua orang itu"

Cu Siau-hong mendengus sinis:

"Sekarang kalian sudah terkepung "

Hek pa kiam su nomor lima semakin gusar, bentaknya keras-keras. "Maju. bunuh dia!"

Dua orang Hekpa kiam su itu segera mengiakan dan maju menyerang, cahaya tajam berkilauan, sepasang pedang mereka bagaikan gunting menerobos maju ke muka.

Sungguh serangan itu merupakan sebuah serangan yang amat dahsyat, inilah sebuah jurus pembunuh yang paling hebat dari kerja sama para pendekar pedang macan kumbang hitam.

Jarang sekali ada orang yang mampu menghindarkan diri dari serangan ini.

Ti Thian hua sendiripun sadar bahwa ia tidak memiliki kemampuan semacam itu.

Namun Cu Siau-hong sanggup menghindarkan diri secara mudah, dengan semacam ilmu gerakan tubuh yang sangat aneh ia berhasil menghindarkan diri dari sergapan bersama dari sepasang pedang tersebut.

Tapi kedua orang Hek pa kiamsu itu segera mengejar lagi ke depan. suatu pertempuran sengit pun segera berkobar didalam gubuk itu.

Ti Thian hua menarik napas panjang, hawa murni yang dimilikinya segera dihimpun menjadi satu, dengan cepat ia menyambar sebuah kursi, mematahkan sepasang kakinya dan bersiap sedia memberi bantuan setiap saat.

Waktu itu ia sudah memahami sama sekali akan keadaannya, Hek pakiam su tak akan meninggalkan korbannya dalam keadaan hidup, Cu Siau-hong dan dia sudah berada dalam posisi mati hidup bersama.

Walaupun Cu Siau-hong telah mengeluarkan serangkaian ilmu silat yang luar biasa, tapi menurut perhitungan Ti Thian hua, anak muda itu tak akan mampu bertahan sebanyak lima puluh gebrakan lagi. Anak murid Bu-khek-bun yang manapun tak akan sanggup menahan serangan gabungan dari dua orang Hek pa kiam-su.

Tapi lima puluh gebrakan dengan cepat sudah lewat, bukan saja Cu Siau-hong tidak menandakan gejala akan kalah, malahan makin bertarung ia kelihatan semakin gagah. Hampir saja Ti Thian hua tidak percaya akan kenyataan yang terbentang di depan matanya ini, tapi pertarungan antara kedua orang itu masih tetap berlangsung dengan sengit dan garang.

Sekalipun Hek pa kiam-su nomor lima tidak turun tangan, akan tetapi sepasang matanya mengawasi terus jalannya pertarungan itu tanpa berkedip ....

Mendadak terdengar suatu bentakan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian. "Tahan!"

Dengan serangkaian jurus aneh Cu Siau-hong segera memukul senjata dari Hek pa kiam su nomor tujuh itu sampai terjatuh ketanah, kemudian ia mundurtiga langkah.

Hek pa kiam su nomor tujuh menjadi tertegun, sementara Hek pa kiam su nomor sembilan juga segera menghentikan serangannya.

Ketika berpaling keluar, tampaklah Tan Tiang kim, Pek Bwe, Pek Hong, Seng Tiong-gak dan Tang Cuan telah muncul diluar rumah gubuk itu.

Sambil tertawa dingin Tan Tiang kim segera berseru: “Ilmu pedang Cu Siau-hong yang luar biasa lihaynya itu

membuat sistim pertarungan kilat yang diterapkan oleh para

pendekar pedang macan kumbang itu kehilangan kemampuannya.”

Sebenarnya mereka bersiap-siap untuk membunuh Cu Siau-hong dan Ti Thian hua dalam lima jurus, tapi  serangan gabungan dari sepasang pedang itu tetap gagal untuk membunuh Cu Siau-hong.

Sesungguhnya hal ini merupakan suatu perhitungan yang meleset dari serangkaian rencana yang matang. Sekali gagal bertindak mengakibatkan kegagalan total disegala bagian, para Hek pa kiam su itu terlampau yakin dengan kemampuan sendiri, tapi akibatnya mereka harus kehilangan sifat misterius dan rahasia yang terbawanya selama ini.

Cu Siau-hong sendiripun tidak terlalu kemaruk untuk mencari untung, ia segera menghentikan serangannya.

Para Hek pa kiam su pun tidak melancarkan serangan lagi.

Hek pa kiamsu nomor lima segera berpaling, setelah memandang Tan Tiang kim sekejap, kemudian tegu rnya:

"Siapa kau?"

"Aku si pengemis tua adalah orang Kay-pang!  'jawab Tan Tiang kim dingin.

Sekali lagi Hek pa kiam su nomor lima itu memperhatikan Tan Tiang kim, lalu ujarnya: "Anggota Kay-pang tak terhitung jumlahnya, apa kedudukan mu dalam perkumpulan tersebut?"

"Selama hidup aku si pengemis tua tak pernah berganti she, tak pernah berganti nama, akulah Tan Tiang kim, tianglo dari perkumpulan Kay-pang "

"Oooh. " Hek pa kiam su nomor lima berseru tertahan,

“konon pangcu dari perkumpulan Kay-pang juga telah datang?"

Dengan kening berkerut, Tan Tiang kim menyahut: "Dalam hidupku di dunia ini tak sedikit orang jahat yang

pernah kujumpai, tapi mereka berdandan manusia, memakai pakaian dan bermuka orang, paling-paling hanya menutupi wajahnya dengan selembar kain berwarna hitam, hal  mana  karena  merasa  bahwa  perbuatan  yang  mereka lakukan sangat memalukan sekali, tapi tidak seperti kalian yang mengenakan kulit binatang dan berdandan sebagai seekor binatang buas, kalau toh kalian ini manusia, mengapa tidak berdandan saja sebagai tampang seorang manusia?"

Wajah para Hek pa kiam su itu mengenakan kulit hitam berkepala hek pa, hal ini menyebabkan perubahan wajah mereka sukar terlihat, tapi beberapa patah kata dari Tan Tiang kim tersebut betul-betul bernada tajam, dingin dan sinis.

Dengan suara dingin menyeramkan, Hek pa kiam su nomor lima segera berseru: "Ada satu hal aku perlu untuk menerangkan lebih dahulu"

"Tidak mengapa, kami tidak takut kalian sedang mengulur waktu" tukas Tan Tiang kim...

"Dalam dunia persilatan memang terdapat banyak sekali manusia yang takut dengan perkumpulan kalian, tapi Hek pa kiam su tak pernah merasa takut"

Tangan kirinya segera diulapkan, kemudian serunya: "Maju! Bunuh si pergernis tua ini!"

Hek pa kiam su nomor sembilan segera mengiakan, tiba tiba ia menyerbu maju ke depan sebuah tusukan kilat segera dilancarkan menusuk ke dada Tan Tiang kim.

Dalam pada itu, Hek pa kiam-su nomor tujuh telah menggerakkan kaki kanannya untuk menggaet pedangnya yang tergeletak ditanah itu, dalam sekali bentakan, tahu tahu pedang itu sudah berada di tangan nya.

Tan Tiang kim segera menarik napas panjang dan menyurut mundur sejauh tiga depa lebih. Gaya terjangan dari Hek pa kiam-su itu dilakukan dengan gerakan amat cepat, sedemikian cepatnya sehingga pada hakekatnya tak sempat lagi buat Tna Tiang kim untuk menangkis.

Tiba-tiba sebilah pedang menyambar lewat dari samping menghadang jalan pergi Hek pa kiamsu nomor sembilan, kemudian terdengar seseorang menegur:

"Apakah kalian semua adalah pembunuh-pembunuh yang telah membantai anggota Bu-khek-bun?"

Hek pa kiam su itu mendengus dingin:

"'Kau adalah angota Bu-khek-bun?" tegurnya.

Yang melancarkan serangan adalah Seng Tiong-gak sambil tertawa dingin sahutnya: "Benar, aku adalah Seng Tiong-gak!"

"Kau harus mampus!" seru Hek pa kiam su nomor sembilan dengan seramnya.

Sambil memutar senjata, ia segera menerjang ke muka sambil melancarkan serangan.

Pek Bwe, Pek Hong, Tang Cuan dan Tan Tiang kim segera mundur beberapa depa kebelakang sambil memperhatikan permainan pedang dari Hek pa kima-su tersebut.

Setelah memperhatikan sekian lama, tiba-tiba Pek Bwe menghela napas panjang katanya: "Hei pengemis tua, apakah kau berhasil menemukan sesuatu?"

"Manusia yang berkulit binatang buas ini amat dahyat dan hebat, mereka merupakan jago pedang kelas satu dalam dunia persilatan".

Sementara itu serangan dan tubrukan yang dilakukan para  pendekar  pedang  macan  kumbang  hitam  itu  makin lama semakin garang dan buas, ancaman-ancamam yang dilakukanpun semakin mengerikan.

"Aku maksudkan gaya serangan yang mereka miliki" kata Pek Bwe. "Mirip apa?"

"Mirip macan kumbang, coba lihat gaya mereka menubruk sambil menyerang persis seperti macan lapar yang menerkam mangsanya, Hek pa adalah jenis macan yang paling ganas, pernah lohu saksikan Hek pa berkelahi dengan singa yang berbadan satu lipat lebih besar, tapi akhirnya singa itu kalah diujung cakar si macan kumbang hitam itu"

Tan Tiang kim manggut-manggut.

"Yaa, betul! "katanya. "setiap serangan yang mereka lancarkan selalu disertai dengan gerakan melompat, gerak gerik mereka memang persis seperti seekor macan kumbang hitam"

"Aliran ilmu pedang yang mereka gunakan tampaknya juga mengkombinasikan aliran ilmu silat yang mereka miliki" Pek Hong berkata pula mengemukakan pendapatannya.

"Subo!" kata Tang Cuan, "tampaknya susiok sudah  mulai tak sanggup mempertahankan diri, bagaimana kalau tecu menggantikan kedudukannya itu ?"

Pek Hong segera mengalihkan sinar matanya ketengah arena, dia menyaksikan gerakan melompat, menerkam dan menubruk yang dilakukan pendekar pedang macan kumbang hitam itu sudah mengurung seluruh tubuh Seng Tiong-gak, bahkan ilmu pedang Bu khek pay mereka yang begitu tangguhpun seakan-akan sudah terkendalikan sama sekali. Seng Tiong-gak sendiri juga sudah sedemikian terdesaknya sehingga harus merubah posisinya menjadi pihak yang bertahan.

Sesungguhnya ilmu pedang Cing peng kiam hoat merupakan suatu ilmu pedang yang sangat dahsyat dan lihay untuk menyerang musuh, akan tetapi sekarang agaknya kehebatan dari ancaman tersebut sama sekali tak sanggup dipergunakan lagi.

Cara bertarung yang digunakan para pendekar pedang macan kumbang hitam juga aneh sekali, seluruh perubahan gerak pedang mereka semua dikombinasikan pada gerak maju mundur, menerjang, menerkam yang mereka lakukan dengan gerakan secepat sambaran kilat itu.

Hal mana membuat permainan ilmu golok atau ilmu pedang pada hakekatnya seperti kehilangan daya gunanya sama sekali, sekali pun memiliki perubahan jurus serangan yang bagaimanapun sempurnanya, serangan itu seperti sama sekali tak mampu dikembangkan lagi.

Kecuali seseorang memiliki serangkaian ilmu pedang yang bisa menguasahi gerakan menubruk dan menerkam yang dimiliki lawan-lawannya, terpaksa hanya mengandalkan kecerdikan dan pengalaman baru bisa menghadapi gerak maju, mundur, melompar, menerkam yang digunakan musuhnya, walau tentu saja amat payah sekali.

Betul ilmu pedang Cing peng kiam hoat yang dipelajari Seng Tiong-gak amat sempurna dan sudah diselami selama banyak waktu, akan tetapi ilmu pedang tersebut sama sekali bukan suatu kepandaian silat yang bisa dipergunakan untuk mengendalikan gerakan-gerakan dari pendekar pedang macan kumbang hitam. Mendadak Pek Hong maju beberapa langkah ke depan, tiba disisi Pek Bwe dia lantas berbisik.

"Ayah, sudah kau lihat belum, rupanya Seng sute sudah mulai keteter hebat dan tak mampu untuk bertahan lebih jauh"

"Ya, memang aneh sekali kepandaian silat yang mereka miliki itu, sudah banyak tempat yang kujelajahi sepanjang hidupku, dari utara sampai selatan aku telah berkelana, pengetahuan yang kuperoleh juga tak sedikit, tapi belum pernah kujumpai kepandaian silat semacam ini"

Tan Tiang kim sendiripun sedang berdiri terpesona sambil mengikuti pertarungan yang sedang berlangsung.

Mereka semua ingin sekali mencari tahu aliran perguruan orang-orang itu dari permainan ilmu silatnya, tapi mereka segera kecewa.

Pendekar pedang macan kumbang hitam yang sedang menyerang Seng Tiong-gak itu mendadak meraung keras, seluruh badannya dijatuhkan berguling diatas tanah.

Waktu itu, segenap perhatian Seng Tiong-gak telah tertuju pada gerak-gerik musuh, ketika melihat lawannya menjatuhkan diri berguling diatas tanah, mendadak saja ia menjadi tertegun dan untuk sesaat lamanya tak tahu bagaimana caranya untuk mengatasi keadaan tersebut.

Dalam kenyataan, jangankan Seng Tiong-gak yang lebih muda, sekalipun Pek Bwe yang lebih berpengalamanpun tidak mengerti bagaimana dia harus bertindak untuk menghadapi serangan aneh yang dilakukan oleh musuhnya itu.

"Traaaang !" terdengar suara bentrokan senjata yang amat nyaring berkumandang memecahkan keheningan, sesudah mengitari seluruh badan Seng Tiong-gak satu kali, pendekar pedang macan kumbang hitam itu berbalik ke posisi semula.

Sepintas lalu, hal itu seakan-akan seperti dari serangan Seng Tiong-gak berhasil membendung serangan musuh dan memaksa si pendekar pedang macan kumbang hitam harus mengitari Seng Tiong-gak satu lingkaran kemudian balik kembali ke posisi semula.

Tapi dalam kenyataannya bukan demikian kejadiannya, pakaian yang dikenakan Seng Tiong-gak waktu itu sudah tercabik-cabik, beberapa mulut luka yang lebar sudah muncul diatas badannya, darah segar bercucuran membasahi sekujur badannya.

Pek Hong yang melihat kejadian itu segera menggenggam gagang pedangnya, menekan tombol dan "Criing!" pedangnya sudah diloloskan dari dalam sarung.

"Tiong-gak mundur kau!" serunya dingin, 'biar aku yang menjumpai orang itu!" Tang Cuan juga telah meloloskan pedangnya siap-siap melancarkan serangan.

"Aku tidak apa-apa'". seru Seng Tiong-gak, "dengan luka sekecil ini siaute masih sanggup untuk mempertahankan diri, ilmu pedang yang dimiliki orang-orang itu sungguh aneh sekali, aku tidak berhasil menyelusuri gerak pedang moreka..."

"Tidak, kami tidak ingin mencoba gerakan pedang orang orang itu" seru Pek Hong, "kami harus mengenali gerakan lebih dulu, agar dikemudian hari sudah ada cara untuk mengatasinya bila sampai bertemu lagi"

Ucapan tersebut amat luwes dan beralasan kuat, ini memberi kesempatan buat Seng Tiong-gak untuk mengundurkan diri dari medan pertarungan tanpa kuatir kehilangan muka. "Sunio, biar tecu saja!" tiba-tiba Tang Cuan berseru dengan suara berat dan dalam.'

Sebelum Pek Hong sempat mengucapkan sesuatu, tiba tiba terlihat sesosok bayangan manusia berkelebat lewat. di antara himpitan dua orang pendekar pedang macan kumbang hitam, Cu Siau-hong telah melesat mundur kebelakang kemudian katanya sambil tertawa:

"Suheng adalah seorang ciangbunjin dari suatu perguruan besar, buat apa kau musti hadapi sendrii manusia-manusia semacam ini "

Seraya berpaling kearah Pek Hong, dia melanjutkan. "Sunio adalah seorang yang sangat terhormat, kau lebih-

lebih tidak pantas untuk bertarung sendiri melawan makhluk-makhluk yang manudia bukan manusia, binatang bukan binatang ini. Bila harus berkelahi maka biar tecu saja yang melakukannya, serahkan saja ketiga ekor macan kumbang hitam ini kepada tecu"

"Tapi, Siau-hong kau seorang diri. "

"Hong-ji, biarkan Siau-hong menyelesaikan sendiri persoalan ini" tukas Pek Bwe dengan cepat, "kalau toh seandainya dia tak tahan, kita kan belum terlambat untuk membantunya"

Pek Hong mengiakan dan segera mengundurkan diri Pelan-pelan Cu Siau-hong menarik kembali pedang

pendeknya, lalu berkata:

"Nah, sekarang kalian bertiga boleh maju bersama sama!"

Hek pa kiam su nomor lima mengawasi musuhnya sebentar, lalu menegur agak ragu: "Betulkah kau adalah anak murid perguruan Bu-khek bun?"

Cu Siau-hong segera tertawa hambar:

"Kau sangat mencurigai kedudukanku bukan?"

"Tapi jelas terlihat ilmu pedang yang kau pergunakan sama sekali bukan ilmu pedang aliran Bu-khek-bun"

"Ilmu pedang dari Bu-khek-bun tak terhitung banyaknya, memang kau anggap kepandaian kami bisa dipahami oleh manusia-manusia macam kalian itu? Sudahlah, tak usah banyak bicara, hayo cepat turun tangan kalau ingin turun tangan!"

Walaupun ucapannya bernada tajam bagaikan golok, tapi suaranya sama sekali tidak emosi, malahan kelihatannya tenang sekali.

Tan Tiang kim berpaling dan memandang sekejap kearah Pek Bwe kemudian bisiknya: "Saudara Pek, Siau-hong dia "

"Mari kita bersama-sama menguji kehebatan dari generesi mendatang!" tukas Pek Bwe. "buat orang muda, kegagalan yang berulang kali masih tidak terhitung seberapa!"

"Betul! Manusia seperti Siau-hong memang seharusnya banyak melatih diri, biar gagal asal ada kemauan, akhirnya pasti akan berhasil juga "

Melihat itu Cu Siau-hong tertawa dingin katanya.

"Jika kau tidak memerintahkan lagi untuk melancarkan serangan, terpaksa aku akan turun tangan lebih dulu"

"Benarkah, kau hendak mempergunakan tangan kosong untuk menyambut serangan kami?" Jengek Hek pa kiam su nomor lima sambil tertawa dingin tiada hentinya. "Kita sedang berhadapan sebagai musuh, rasanya akupun tak usah membicarakan soal syarat apa-apa denganmu, mau bertangan kosong kah, atau mempergunakan senjata tajam. itu urusan pribadiku sendiri. aku rasa bukan suatu kewajiban bagiku untuk memberitahukannya kepada kalian semua"

Keragu-raguan para pendekar pedang macan kumbang hitam itu untuk turun tangan membuat Pek Hong dan Tan Tiang kim sekalian turut menjadi curiga dan bertanya tanya.

Mereka tidak habis mengerti mengapa para pendekar pedang macan kumbang hitam yang begitu ganas dan begitu bengis, ternyata menunjukkan sikap yang begitu ketakutan terhadap Cu Siau-hong.

Mendadak Hek pa kiam su nomor lima mengulapkan tangannya, dengan suatu gerakan cepat bagaikan sambaran kilat Hep pa kiam su nomor sembilan langsung menerkam ke muka.

Serangan ini benar-benar merupakan suatu sergapan yang luar biasa dahsyatnya.

Pek Hong yang berada di samping arena pun dapat merasakan pula betapa dahsyatnya serangan tersebut, ibaratnya gelombang dahsyat di tengah samudra, jangan toh perahu kecil, kapal besarpun kadangkala bisa tersapu juga. maka dengan perasaan tergetar keras, dia lantas berseru lantang:

"Siau-hong, hati-hati. "

Ditengah teriakan tersebut, tiba-tiba ia saksikan pendekar pedang macan kumbang hitam yang melakukan tubrukan ke arah Cu Siau-hong itu mencelat ke samping, kemudian melayang keluar dari rumah gubuk tersebut. "Blaam !" terdengar suatu getaran keras yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan keheningan, tusukan pedang dari Hek pa kiam su nomor sembilan itu sudah menembusi sebuah pohon yang besar sekali diluar rumah sana tapi tubuhnya sendiripun turut menumbuk diatas pohon tersebut.

Pohon itu segera bergoyang kencang, daun dan ranting berguguran ke tanah, batok kepala Hek pa kiam su nomor sembilan itu hancur berantakan tak ada wujudnya lagi, isi bercampur darah kental berceceran diseluruh permukaan tanah.

Sesungguhnya tenaga terjangan yang dilakukan Hek pa kiam-su itu luar biasa dahsyatnya.

Tapi aneh sekali, ternyata dia tak sanggup mengendalikan keseimbangan tubuhnya sendiri, selain pedangnya menembusi batang pohon diluar sana, malahan badannya juga turut menumbuk diatas pohon itu sehingga hancur kepalanya.

Bagi seorang jagoan lihay dalam dunia persilatan, peristiwa semacam ini sesungguhnya merupakan suatu peristiwa yang sama sekali tidak masuk akal.

Bukan saja Pek Hong dan Tan Tiang kim sekalian merasa tercengang dan tidak habis mengerti, bahkan kedua orang pendekar pedang macan kumbang hitam lainnya pun sama-sama merasakan hatinya bergetar sangat keras, mereka tidak habis mengerti apa gerangan yang sesunggunya telah terjadi?

Bukankah rekan mereka itu sama lihaynya dengan kemampuan mereka berdua? Bukankah rekannya masih segar bugar? Kenapa ia bisa nekad menumbukkan kepala sendiri diatas batang pohon? Menanti semua orang memalingkan kembali kepalanya, maka terlihatlah Cu Siau-hong masih berdiri ditempat dengan wajah serius.

Pek Hong agak tertegun sesaat lamanya, kemudian tegurnya:

"Siau-hong kau tidak apa-apa bukan?" "Tecu baik sekali!" jawab Cu Siau-hong.

"Apakah pendekar pedang macan kumbang hitam tadi tewas ditanganmu?"

"Sunio, bukankah ia mati karena menumbukkan diri diatas pohon itu? "seru Cu Siau-hong cepat.

"Oooh !" Pek Hong Cuma berseru tertahan dan tidak banyak bertanya lagi, Ia sudah merasa bahwa pertanyaan tersebut sesungguhnya merupakan suatu pertanyaan yang tidak cerdik maka dengan cepat dia membungkam dalam seribu bahasa.

Sementara itu, Hek pa kiam su nomor lima telah menegur, dengan suara dingin. "Dengan cara apakah kau telah membinasakan dirinya?"

"Cara apa yang ku pakai untuk membunuhnya? Apakah kau tak dapat melihat sendiri?"

"Kepandaian yang kau pergunakan itu sangat aneh, kami tak dapat melihatnya sendiri"

"Kalau begitu cuma ada satu cara bagimu untuk mengetahuinya!"

?oooO)d.w(Oooo? “BAGAIMANA caranya?” tanya Hek pa kiamsu nomor lima dengan perasaan ingin tahu. "Kau turun tangan dan mencoba sendiri!"

"Mencoba sendiri? Kau anggap kemampuan yang kau miliki sudah cukup untuk menangkan kami"

"Kau tidak percaya?"

Hek pa kiam su nomor lima mendengus dingin, tangannya segera meraba gagang pedangnya seraya berkata.

"Baik. Akan kucoba sendiri"

Begitu kata terakhir diucapkan, pedangnya sudah diloloskan dari sarungnya, tampak cahaya pedang berkelebat lewat, tahu-tahu ia sudah mengancam didepan dada.

Dengan cekatan Cu Siau-hong segera berkelit kesamping untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut.

Hek pa kiam su nomor lima tertawa dingin, pedangnya berkelebat dan secara beruntun melancarkan tiga buah bacokan berantai lagi.

Ketika menghadapi Hek pa kiam su nomor sembilan tadi, sikap Cu Siau-hong kelihatan seperti agak gugup dan gelagapan setengah mati.

Tampak pedang yang berada ditangan kanan Hek pa kiam su nomorr lima itu diayunkan berulang kali dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, ini membuat Cu Siau hong terdesak hebat dan berputar-putar, ia secara gelagapan.

Tan Tiang kim segera mengerutkan dahinya setelah menyaksikan kejadian itu, segera bisiknya lirih: "Saudara Pek, sebenarnya apa yang telah terjadi?" "Lohu sendiri pun agak kebingungan" sahbut Pek Bwe sambil memandang ke arena dengan wajah melongo..'

"Pek Hong tampaknya keadaan agak kurang beres, kita mesti mencari akal untuk menggantikan dirinya"

Sementara itu ayunan pedang ditangan kanan Hek pa kiam su nomor lima sudah semakin gencar lagi, ini memaksa Cu Siau-hong semakin keteter hebat.

Mendadak.... Seerrr Seerrr dua desingan tajam mendenging diudara, tahu-tahu pakaian Cu Siau hong sudah robek di dua tempat, darah segar segera bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.

Pek Hong merasa terperanjat sekali, sambil melejit keudara, dia menerjang ke arena dengan kecepatan tinggi.

Agaknya Pek Bwe telah menduga sampai kesitu, dengan cepat ia sambar tangan putrinya seraya berseru: 'Jangan kesana!"

"Tapi Siau-hong terluka!" pekik Pek Hong dengan perasaan sangat gelisah.

"Aku tahu, luka yang diderita cuma luka luar, ia masih sanggup untuk, mempertahankan diri"

"Ia sudah terjebak dalam keadaan yang berbahaya sekali, bila ia tidak segera digantikan, bisa jadi setiap saat akan mati di ujung pedang pendekar macan kumbang hitam"

"Apakah kau mempunyai keyakinan untuk menyelamatkan jiwanya?"

"Paling tidak aku harus mengerahkan segala kemampuanku"

"Tidak! Kalau kau maju maka tindakanmu ini akan memecahkan   perhatiannya,   pedang   kilat   dari pendekar pedang macan kumbang hitam tidak akan memberi kesempatan kepadamu"

Pek Hong menghela napas panjang, pelan-pelan sikapnya menjadi tenang kembali.

Ketika mencoba untuk berpaling, terlihat olehnya cahaya pedang dari pendekar pedang macan kumbang hitam itu berputar bagaikan sinar bintang, seluruh badan Cu Siau hong telah terkurung ditengah lingkaran cahaya pedang tersebut.

Tang Cuan mempererat genggaman tangan kanannya yang mengenggam gagang pedang Cing peng kiam itu, diam-diam hawa murninya disalurkan ketubuh senjata tersebut sambil bersiap-siap melancarkan serangan setiap saat.

Rupanya ia sedang menunggu kesempatan, begitu kesempatan baik yang dinantikan tiba, dia akan segera melancarkan sergapan.

Pelan-pelan Tan Tiang kim berjalan menghampirinya, lalu sambil menghadang didepan Tang Cuan, ia berbisik:

"Tang ciangbunjin tak boleh turun tangan, bukan saja kau tak akan berhasil menolongnya, malahan tindakanmu itu justru akan mencelakai dirinya!"

"Locianpwe, boanpwe sadar bahwa kepandaian yang kumiliki masih sangat cetek, ilmu pedangku belum sempurna, kalau begitu aku mohon kepada locianpwe  untuk menolongnya, mau bukan?"
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 19"

Post a Comment

close