Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 18

Mode Malam
"Demi keselamatan dari Ngo tok giok Ii apakah kalian juga tidak menyiksa Ti Thian hua"

“Sekalipun Kay-pang tidak takut dengan Ngo tok bun tapi kamipun tak ingin mengikat tali permusuhan ini..”

"Pangcu kalian toh berpengalaman sangat luas dan matang, mengapa saudara Tan tidak bertanya kepadanya?" sela Pek Bwe.

“Itulah satu-satunya harapan kami, cuma aku dan Ki Hay telah membicarakannya, kami rasa persoalan ini lebih baik jangan ditanyakan secara langsung kepada pangcu, sebab cara menotok jalan darah yang dimiliki Ti Thian hua aneh sekali!"

"Benar juga perkataan itu" sambung Pek Bwe, “seandainya pangcu sampai tak mampu untuk membebaskannya '

Tan Tiang kim menghela napas panjang, tukasnya: "Pangcu sudah tua dan banyak urusan, ada sementara

persoalan  kami  tak  ingin  merepotkan  dirinya  lagi,  maka

belakangan ini kami beberapa orang tianglo sering berkumpul di markas besar dan membantunya untuk melaksanakan beberapa tugas"

'Berbicara dari keadaan dalam dunia persilatan saat ini, semestinya Pangcu kalian adalah jago yang paling terkenal dan berkedudukan paling tinggi dalam dunia persilatan..." Belum habis Pek Bwe berkata, terdengar suata seseorang yang rendah dan berat telah bergema datang. "Sudah tua, sudah tua, Pat lote tak usah terlalu memuji diriku lagi "

Ketika Cu Siau-hong berpaling, dia menyaksikan seorang kakek berambut putih yang memakai baju abuabu penuh tambalan pelan-pelan berjalan masuk ke dalam ruangan.

Tak perlu diperkenalkan lagi oleh Pek Bwe maupun Tan Tiang-kim, Cu Siau-hong juga tahu kalau kakek ini adalah Pangcu dari Kay-pang, cepat-cepat memberi hormat sambil berseru:

"Cu Siau-hong dari Bu-khek-bun menghunjuk hormat buat Pangcu!" Ia lantas menyincing baju dan menjatuhkan diri berlutut.

Kakek berbaju abu-abu itu segera membangumkan Cu Siau-hong dengan tangan kirinya, kemudian berkata:

"Nak, bangunlah! Terhadap kematian suhumu, lohu merasa amat menyesal dan sedih, dalam peristiwa ini partai kami akan berusaha dengan segala kemampuan untuk membongkar duduk perkara yang sebenarnya"

'Siau-hong mengucapkan banyak banyakterima kasih buat pangcu!"

Sementera itu Tan Tiang kim maupun Pek Bwe telah bangkit berdiri dan memberi hormat. Kakek berbaju abu abu itu balas memberi hormat.

“Pek lote duduklah "

Selesai berkata dia lantas duduk di bangku yang berada dihadapannya, kemudian baru berkata lagi: 'Tiang kim, barusan aku dengar tentang ilmu totokan jalan darah, sebenarnya apa yang telah terjadi?'

Tan Tiang kim memberi hormat lebih dahulu, kemudian jawabnya: "Itulah semacam ilmu totokan jalan darah yang aneh sekali, baik aku maupun lo Hay tidak berhasil untuk membebaskannya'

"Baiklah bawa aku ke sana, ilmu silat memang lebih luas dari samudra, sekalipun gagal untuk membebaskannya juga bukan sesuatu yang memalukan"

Dia adalah pangcu yang paling lama menjabat kedudukannya dalam sejarah Kay-pang, tahun ini telah berusia sembilan puluh tahun, menjabat sebagai ketua sudah lima puluh enam tahun.

Dia merupakan satu-satunya tokoh yang paling disayang dan dikagumi oleh semua anggota Kay-pang, itulah sebabnya semua anggota Kay-pang tidak membiarkan ia pensiun, tapi kuatir pangcunya kelewat lelah, maka para tianglo selalu berkumpul dimarkas besar untuk mewakilinya melaksanakan tugas-tugas sehari-hari.

Terhadap pangcu tuanya ini, Tan Tiang-kim juga menaruh sikap yang sangat menghormat, maka melihat lo pangcu sudah beranjak, cepat-cepat dia melompat bangun seraya berseru.

"Tecu akan membawakan jalan buat lo-pangcu!" Sementara itu Cu Siau-hong sedang berbisik kepada Pek

Bwe:

"Locianpwe, bolehkah aku turut serta?" Pek Bwe manggut-manggut.

"Hayo berangkat, kita melihat bersama!"

Ngo tok giok li dan Ti Thian hua disekap di dalam sebuah ruangan rahasia dalam gedung itu. Empat orang anggota Kay-pang siang malam berjaga-jaga diluar ruangan tersebut. Ketika keempat orang pengemis berusia setengah umur itu melihat lo-pangcunya datang, buru-buru mereka membungkukkan badan untuk memberi hormat.

Buru-buru Tan Tiang kim maju kedepan sambil berseru: "Buka pintu kamar!"

Empat orang anggota Kay-pang itu mengiakan dan segera membuka pintu ruangan tersebut. Cu Siau-hong mengikuti di belakang lo-pangcu, turut masuk ke dalam ruangan tersebut.

Ketika dia mengalihkan sinar matanya, tampaklah Ngo tok giok li sedang berbaring di atas sebuah pembaringan kayu.

Ti Thian hua sendiri sedang duduk diatas sebuah kursi disamping lain dari ruangan tadi. Lo-pangcu berjalan langsung ke hadapan Ti Thian hua, kemudian sambil tertawa katanya: "Anak muda, kenal dengan aku si pengemis tua ?"

Ti Thian hua memandang sekejap ke arah kakek itu, lalu menyahut:

"Aku belum pernah bersua denganmu, tapi tahu siapakah dirimu"

"Oya ?"

"Bukankah kau adalah Ui lo-pangcu dari Kay-pang?" "Benar, aku si pengemis tua adalam pangcu dari Kay-

pang" Ui lo-pangcu manggut-manggut. "ada urusan apa kau mencari aku?" Ui lo-pangcu tertawa, katanya:

"Konon kau bisa mempergunakan semacam ilmu menotok jalan darah yang amat aneh?" Benar!?" Ti Thian hua mengangguk, "kepandaian tersebut merupakan suatu kepandaian manunggal dalam dunia persilatan!"

"Dapatkah aku si pengemist tua ikut menyaksikan kelihayan itu?"

"Lihat saja sendiri! Jalan darah Ngo tok giok li telah kutotok dengan ilmu mangunggalku itu"

Pelan-pelan Ui lo-pangcu berjalan ke depan dan menghampiri kesamping Ngo tok giok li.

Tan Tiang kim berpaling dan memandang sekejap ke arah Ti Thian hua dengan pandangan dingin, ia seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat itu kemudian diurungkan.

Ngo tok giok li sendiri juga sedang mengamati Ui lo pangcu sekejap, kemudian tegurnya:

"Apakah kau adalah Ui lo-pangcu?" Ui lo-pangcu manggut-manggut.

"Nak, kau juga tahu tentang aku?"

"Ibu bilang, kau adalah ornga yang pantas dihormati dan di kagumi di dunia ini!"

Mendengar itu, Ui lo-pangcu segera tertawa:

"Aaah.... Itu kan ibumu terlalu memuji aku si pengemis tua" sesudah berhenti sejenak, lanjutnya:

"Nak, jalan darah yang manakah yang telah tertotok?" "Agaknya jalan darah sin-hong dan Hong hu-hiat!"

Ui lo-pangcu manggut-manggut.

"Nak, sekarang apa yang kau rasakan dengan tubuhmu itu?" kembali tanyanya. "Separuh badanku kaku dan kesemutan sukar bergerak, agaknya seluruh badan ini sudah bukan milikku lagi!"

"Benar!" kata Ui lo-pangcu sambil Mengangguk, “kedua buah jalan darah itu telah menguasahi separuh dari urat syaraf ditubuhmu, ini menyebabkan separuh badan menjadi hilang perasaan, bukan demikian?"

"Benarl"

"Nak, dikala luka pada jalan darah itu akan mulai kambuh, apa pula yang kau rasakan?"

"Seluruh nadiku lamat-lamat terasa sakit sekali, seperti ada beribu-ribu ekor semut yang sedang berjalan didalam badan"

"Ooh, nak dari sekarang sampai kambuhnya luka itu masih ada berapa lama?"

"Kurang lebih dua jam"

"Aku mengerti sekarang, bersediakah kubebaskan jalan darahmu yang tertotok itu?"

-oOo>d’w<oOo-

"LO-PANGCU, apakah kau orang tua bernama Ui Thian to?”

Ui lo-pangcu segera manggut-manggut.

"Benar, apakah ibumu sering menyebut namaku?"' "Benar, ibu seringkali menyebut nama dari lima orang,

kau orang tua adalah salah seorang di antaranya, juga merupakan orang yang paling di kagumi oleh ibuku"

"Dimasa lalu aku si pengemis tua pernah bertemu beberapa kali dengan ibumu, suatu ketika kebetulan hujan sedang turun dengan derasnya. kami berteduh dalam sebuah kuil kecil, semalam suntuk kami bercakapcakap terus tiada hentinya" Setelah tertawa, lanjutnya.

"Sekarang aku sudah tua, masa hiduppun sudah semakin pendek. Boleh aku tahu ke empat nama lain yang sering disinggung ibumu?"

"Ibu bilang kau adalah tulang punggungnya dunia persilatan, apa yang kau katakan boleh dipercaya sepenuhnya, bila aku ada kesempatan berjumpa denganmu, aku dianjurkan jangan sekali-kali membohongi dirimu"

Ui Thian-to mengelus jenggotnya dan mengangguk tiada hentinya, kemudian berkata: 'Ibumu benar-benar memandang tinggi diri aku si pengemis tua!"

"Empat orang yang seringkali disinggung ibuku. antaranya terdapat seorang she Ui yang bernama Dewa pincang Ui Thong. kali ini jauh-jauh aku datang ke kota Siang-yang tidak lain adalah untuk memenuhi janjiku dengannya"

"Sudah banyak tahun ia tak pernah muncul dalam dunia persilatan, bahkan perkumpulan kamipun tak tahu dimana ia telah menyembunyikan dirinya, mengapa kau bisa datang ke kota Siang-yang untuk mencarinya?"

"Banyak tahun berselang ia telah mengadakan perjanjian dengan ibuku untuk berjumpa disini, aku datang untuk mewakili ibuku"

Karena ia tidak menerangkan mengapa datang untuk memenuhi janji, Ui Thian to juga tidak banyak bertanya, dia lantas mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain katanya:

"Nak, siapa pula tiga orang lainnya?' "Yang seorang adalah ciangbunjin partai Bu-khek-bun yang bernama Tiong Leng kang sebenarnya aku ingin pergi menjumpainya, sayang ditengah jalan aku terlalu banyak berpesiar sehingga ketika tiba dikota Siang-yang, saat perjanjian telah tiba, aku jadi tak punya waktu untuk menyambanginya lagi”.

Baik Pek Bwe maupun Cu Siau-hong sama-sama merasakan hatinya bergetar keras, tapi mereka tidak berkata apa-apa.

Sementara itu Ui Thian-to telah manggut-manggut seraya berkata: "Siapa pula dua orang yang lain?"

"Yang seorang bernama Ouyang Yu hong sedangkan yang kelima mempunyai nama yang aneh sekali, nama itu seperti bukan nama aslinya melainkan hanya sebuah julukan, dia bernama To bu im (manusia tunggal tanpa bayangan)!"

"Aku pernah dengar tentang nama Ouyang Yu hong, cuma sayang aku tak bisa mengingatnya kembali untuk sesaat"

"Bagaimana dengan To-bu-im? Apakah  lo-pangcu pernah mendengar orang menyebut nama itu?"

"Belum pernah "

Ia lantas berpaling dan memandang sekejap kearah Tan Tiang kim, kemudian melanjutkan: "Tiang kim, kau pernah dengar tentang nama orang ini?"

"Lapor pangcu, hamba belum pernah mendengar nama julukan semacam itu didalam dunia persilatan"

"Kalian pernah dengar tentang manusia yang bernama Ti Thian hua ini?" tanya Ngo tok giok li kembali. Tan Tiang kim berpaling dan memandang sekejap kearah Ti Thian hua, kemudian sahutnya:

"Belum pernah, baru pertama kali ini kami bertemu dengannya.."

"Nak, aku teringat sekarang apakah kau dilukai karena penutupan jalan darah? Itu berarti kau sudah terluka oleh semacam ilmu totokan yang jauh lebih sempurna dari totokan biasa, coba akan kulakukan pembebasan, bila berhasil membebaskan jalan darahmu itu, kita baru berbicara lebih jauh .."

Ngo tok giok li segera memejamkan matanya rapat-rapat, lalu berkata dengan pasrah: "Locianpwe, silahkan turun tangan!"

Ui Thian to tertawa, baru saja dia akan turun tangan, mendadak Ti Thianhua berteriak keras: "Jangan kau sentuh dirinya!"

Tan Tiang kin segera mendengus dingin.

"Hmm! Orang she Ti" serunya, "kami sudah bersikap cukup sabar kepada mu, cuma sebentar lagi kau bakal merasakan penderitaanmu, Tiong hujin segera akan datang kemari, kami akan serahkan kau kepada Bu-khek bun, sampai dimanakah kerasnya tulangmu, dengan cepat semuanya akan terbukti.."

"Kalian..." Ti Thian hua menjadi termangu-mamgu dan tak mampu melanjutkan kembali kata-katanya.

'Siapa yang berhutang, dia harus membayar, Bu-khek bun segera akan menagih hutang darahnya dari atas badanmu' sambung Tan Tiang kim lebih lanjut...

Sementara itu Ui Thian to telah berpaling seraya bertanya: "Ti sauheng, mengapa aku si pengemis tua tak boleh turun tangan?"

"Demi kebaikannya juga demi kebaikanku, dia bukan terluka oleh ilmu penutup jalan darah"

"Lantas dapatkah kau terangkan, ia sudah terluka oleh kepandaian apa ?"

"Semacam ilmu menotok jalan darah yang agak istimewa"

"Hmm !". Tan Tiang kim segera mendengus dingin, lalu katanya, "pangcu bocah ini licik dan banyak tipu muslihatnya, kita tak boleh percaya dengan perkataannya."

"Jika kalian salah menggunakan kepandaian, bisa jadi selembar jiwanya akan melayang, bila ia sampai mati maka aku juga bakal turut menanggung dosanya"

"Bocah keparat ini sudah berbicara sedari tadi, sampai sekarang bicara pulang pergi yang dipentingkan adalah kepentingan diri sendiri.."

“Sekarang keadaanku ibaratnya ikan didalam jaring, bisa menemukan setitik harapan untuk menyelamatkan diri, tentu saja aku tak dapat melepaskannya dengan begitu saja"

"Ti sau-heng” kata Ui Thian to sambil tertawa, "sekalipun kau berniat untuk menyeret nona ini juga tak akan berhasil melindungi dirimu sendiri, utang darah dari Bu-khek-bun..."

"Aku cukup memahami keadaanku sendiri" tukas Ti Thian hua, "karena itu aku baru mengikat nyawa nona Ciat dengan keselamatanku, andaikata kau menghukum mati diriku, sama artinya dengan menghukum mati diri nya" "Itu berarti jika kami dapat membebaskan jalan darah si nona yang tertotok, berarti kau tidak mempunyai sandera lagi bukan?"

"Tapi orang lain tak akan berhasil memunahkan totokan jalan darahku yang istimewa itu..."

"Sekalipun cara monotok jalan darah dari pelbagai aliran berbeda-beda, namun selisihnya tak akan terlalu jauh, mungkin saja aku si pengemis tua dapat membebaskan pengaruh totokanmu itu, cuma aku toh bisa saja untuk mencobanya "

"Kau harus tahu" sela Ti Thian hua, 'jika sampai salah menggunakan cara, hal itu bisa mendatangkan penderitaan yang luar biasa bagi nona Ciat"

"Aku tidak takut" mendadak Ngo tok giok li menukas, "silahkan Ui lo nanscu untuk mencobanya"

"Tidak bisa!" teriak Ti Thian hua gelisah, “nona Ciat darah yang ngalir secara terbalik bisa mendatangkan suatu penderitaan yang luar biasa hebatnya"

"Hmm! Ti Thian-hua, sekarang aku baru mengerti, rupanya kau sedang memperalat diriku" seru Ngo tok giok li dengan mendongkol.

"Selama ini aku selalu mempunyai kesempatan untuk membinasakan dirimu, tapi aku selalu bersabarkan diri dan tidak turun tangan"

"Asal kau berniat untuk merampas obat pemunah dari sakuku, kau akan segera merasakan pula bagaimana dahsyatnya cara racun dari Ngo tok bun yang bisa segera merenggut nyawamu'

"Benarkah nona membawa obat racun semacam itu?' 'Kau belum percaya? Ketahuilah, aku tidak mempergunakan racun itu terhadap dirimu, lantaran ibuku telah berpesan agar aku tidak sembarangan menggunakan racun untuk menghadapi orang lain.'

Ui Thian to segera menghela napas panjang.

'Nona Ciat!" katanya, "bila aku si pengemis tua gagal membebasksn jalan darahmu kau pasti akan merasakan penderitaan yang hebat, maka kau boleh saja menampik permintaanku ini, aku si pengemis tua tidak akan memaksa"

"Aku tidak takut, kehidupan yang mati tidak hiduppun tidak ini sudah bosan kulewati, aku sudah tidak takut lagi menghadapi ancaman kematian, sekarang aku sudah membuang jauh-jauh pikiran tentang mati atau hidup. Ui pangcu, silahkan turun tangan"

Ui Thian to segara menghela napas panjang:

"Bagus, keberanian nona sungguh membuat aku merasa amat kagum!"

Tiba-tiba tangannya diayunkan ke depan kemudian secara beruntun melepaskan dua buah pukulan berantai.

Menyusul kemudian, tangan kirinya juga mulai bergerak, dalam sekejap mata, ia telah menggunakan lima macam ilmu melepaskan jalan darah.

Tampak Ngo tok giok li mengerutkan dahinya rapat rapat, rupanya sedang menahan suatu penderitaan yang luar biasa.

Sekalipun wajahnya menunjukkan suatu siksaan dan penderitaan yang luar biasa, namunn gadis itu tetap menggertak gigi dan sama sekali tidak mengeluarkan suara apapun. Peluh sebesar kacang sudah mulai jatuh bercucuran membasahi seluruh wajah Ui Thian to.. Ucapan Ti Thian hua memang tak salah ilmu menotok jalan darah yang dimilikinya memang semacam ilmu menotok jalan darah yang luar biasa hebatnya, dengan pengetahuan yang dimiliki Ui Thian to ternyata ia belum sanggup untuk membebaskannya.

Melihat kenyataan itu Ui Thian to menghembuskan napas panjang, gumamnya lirih: “Nak, kau. '.

"Locianpwe, aku sangat menderita, mohon kau orang tua sukalah menyempurnakan diriku!" seru Ngo tok giok li dengan wajah sedih.

Tan Tiang kim maupun Pek Bwe yang menyaksikan kejadian itu sama-sama berubah wajahnya, mereka adalah jago kawakan yang berpengalaman, mereka mengerti bahwa ilmu yang dipakai Ti Thian hua memang benar benar sejenis ilmu menotok jalan darah yang istimewa, bila salah cara pembebasannya maka hal itu akan mendatangkan suatu pendcritaan yang hebat bagi penderitaannya.

Sekarang Ngo tok giot li sudah amat menderita, rupanya ia sudah tak tahan untuk menanggung perderitaan tersebut lebih jauh.

Sekalipun Ngo tok giok li sudah berusaha dengan segenap tenaga untuk melawan penderitaan itu, tapi ia tetap tidak berhasil untuk melawan siksaan akibat mengumpul nya darah dalam tubuh yang mengalir terbalik, dengan suara setengah merengek ia meminta:

"Lo-pangcu, sempurnakanlah diriku!"

Menyaksikan penderitaan yang diperlihatkan Ngo-tok giok li, tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Cu Siau hong, mendadak ia teringat kembali dengan kitab yang diberikan Lo-liok si penjaga istal kuda kepadanya itu. Meski di atas kitab tersebut tercantum beberapa jurus ilmu pedang, tapi disinggung pula soal semacam ilmu membebaskan totokan jalan darah yang sangat aneh.

Tulisan yang tercantum dalam kitab itu masih tertera jelas dalam benak Cu Siau-hong, maka begitu terbayang, tulisan dalam kitab itupun seakan-akan muncul kembali di depan mata.

Ia hanya tahu kalau ilmu itu adalah semacam ilmu membebaskan jalan darah orang, tapi tidak diterangkan darimana asalnya dan entah dapat atau tidak untuk membebaskan jalan darah Ngo tok giok li yang tertotok.

Tapi menyaksikan penderitaan yang luar biasa dari gadis tersebut, timbul ingatan dalam benak Cu Siau-hong untuk mempraktekkan ilmu pembebasan jalan darah tersebut.

Sebagai seorang pemuda yang cepat mengambil keputusan, begitu berpikir sampai kesitu, dia lantas mengulurkan tangannya dan meraba jalan darah Ngo tok giok li yang terluka itu..

Ujung baju yang lebar menutupi jari tangannya, padahal secara diam-diam ia telah menggunakan ketiga buah jari tangannya untuk mengurut jalan darah yang terluka itu, kemudian katanya:

"Lo-pangcu, mengapa tidak dicoba dengan cara yang lain?"'

Dengan pandangan dingin Pek Bwee mengawasi gerak gerik dari Cu Siau-hong itu, kemudian dengan perasaan tak senang pikirnya:

"Bocah ini selamanya tenang dan pandai membawa diri, mengapa sikapnya pada hari ini begitu kasar dan gegabah!" Untung saja Ui Thian to adalah seorang kakek yang berbudi luhur dan penuh welas kasih, dia tidak menunjukkan sikap apa-apa, cuma setelah menghela napas, sekali lagi dia melepaskan pukulan.

Baru saja pukulan itu diayunkan, mendadak Ngo tok giok li bangun berdiri dan mengangkat ujung bajunya untuk menyeka keringat diatas wajahnya, setelah melirik sekejap ke arah Cu Siau-hong, dia berpaling kembali kewajah Ui Thian-to seraya berkata.

"Terima kasih banyak locianpwe, luka pada jalan darah boanpwe telah bebas!" Ui Thian to manggut-manggut.

"Silahkan nona untuk beristirahat!"

Tan Tiang kim yang berada disampingnya segera berkerut kening, lalu bisiknya. "Nona, benarkah totokan jalan darahmu telah bebas?"

"Tentu saja benar" jawab Ngo tok giok li "aku hanya tertotok jalan darahnya, kini jalan darahku telah bebas, kesehatan badankupun sudah terasa sehat kembali seperti sedia kala"

Tan Tiang kim segera menghela napas panjang, bisiknya lagi:

"Nona, bila jalan darahmu telah bebas, kau tak usah menyiksa diri disini lagi, silahkan beritirahat di kamar yang lain"

"Terima kasih locianpwe!"

"Dayang nona juga telah ditolong oleh partai kami, silahkan nona mengikuti aku si pengemis tua!"

Ngo tok giok li sekali lagi melirik ke wajah Cu Siau hong, ia merasa wajah orang itu masih asing baginya, bibirnya bergerak seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya niat itu dibatalkan, kemudian mengikuti di belakang Tan Tiang kim berlalu dari ruangan itu.

Ketika tiba di pintu depan tiba-tiba Tan Tiang kim berpaling seraya berkata: "Saudara Pek Bwe kau boleh menanyai orang she Ti itu!"

"Terima kasih saudara Tan" sahut Pek Bwe sambil mengangguk.

Pelan-pelan dia berjalan kesamping Ti Thian hua, kemudian dengan dingin tegurnya: "Bocah muda kau kenal dengan lohu?"

"Tidak kenal!"

“Tidak kenal? Lohu bisa memberitahukan kepadamu, aku bernama Pek Bwee, Tiong It-ki yang berhasil kalian culik setelah melakukan penyerbuan ke perkampungan Ing gwat-san-ceng itu adalah cucu luarku. Sekarang kau sudah tahu bukan?"

"Aku pernah mendengar tentang itu"

"Baik! Sekarang kau telah mengetahui asal-usul lohu, tiba pada giliran lohu untuk mengajukan pertanyaan kepadamu!"

Setelah Ti Thian hua kehilangan Ngo tok giok li sebagai sanderanya yang amat tangguh, sikapnya berubah menjadi jauh lebih ramah, pelan-pelan dia berkata:

"Apa yang ingin kau katakan?"

"Tiong It-ki, sekarang dia ada dimana?" "Aku tidak tahu"

"Baik! Kau boleh tidak menjawab pertanyaan dari lohu, tapi kau harus merasakan penderitaan yang luar biasa akibat dari totokan yang lohu lakukan kepadamu" Pelan-pelan dia menghampiri Ti Thian hua, lal-u katanya dengan suara dingin. "Bagaimana kalau kau merasakan dulu kelihayan lobu?"

Desingan angin tajam berkelebat lewat dengan cepat ia telah monotok dua buah jalan darah ditubuh Ti Thian hua.

Waktu itu Ti Thian hua sudah terkena racun jahat dari Ngo tok giok li, jalan darah pada kedua belah kakinya juga telan tertotok, terhadap serangan totokan dari Pek bwe sudah barang tentu tak mampu untuk mengatasinya.

"Ti Thian hua aku tidak percaya kalau kau terdiri dari baja dan otot kawat " kata Pek Bwe dingin,

"bisakah kau melawan penderitaan akibat menimbunnya aliran darah yang membalik?"

"Aku bukan terbuat dari baja atau otot kawat, aku juga tak tahan merasakan penderitaan semacam itu, tapi aku benar-benar tidak tahu saat ini Tiong It-ki berada dimana"

"Tapi kau tentunya mengatahui banyak masalah yang lain bukan?"

"Benar! Aku memang mengetahui banyak urusan, tapi persoalan tersebut semuanya sudah lewat"

"Biar lewat toh merupakan berita hangat, tak ada salahnya bagimu untuk membicarakan masalah yang sudah lewat itu"

Selama ini Cu Siau-hong berdiri disamping Ti Thian  hua, dengan mulut membungkam, sepatah katapun ia tidak berbicara.

"Baik!" kata Ti Thian hua kemudian "tapi kau harus membebaskan dulu totokan jalan darahmu itu" Pek Bwe manggut-manggut. "Dengarkan baik-baik wahai orang she Ti, jika kau berani bermain setan dihadapanku, akan kusuruh kau merasakan siksaan dan penderitaan yang beratus-ratus kali lebih hebat"

Ti Thian hua menghembuskan napas panjang, setelah termenung sebentar ujarnya:

"Aku juga turut serta didalam penyerbuan terhadap perkampungan Ing-gwat san-ceng, tapi aku bukan otak dari kejadian tersebut"

"Lanjutkan, tak perlu diuraikan!"

'Selain aku, masih ada banyak orang lain, antara lain Ouyang Siong, Kiau Hui nio dan delapan belas jago pedang macan kumbang hitam (hek pa kiamsu) "

"Darimana datangnya jago-jago pedang macan kumbang hitam itu?" tukas Pek Bwe.

"Aku cuma tahu mereka datang dari lembah Hek pa kok!"

"Lembah Hek pa kok? Sudah setengah abad lohu berkelana dalam dunia persilatan, mengapa belum pernah mendengar nama tempat itu?"

"Tentu saja tempat itu sangat rahasia letaknya, sekalipun aku adalah sobat mereka dibibir, toh sama saja tidak kuketahui dimanakah letak lembah Hek pa kok tersebut?'

"Siapa saja yang terlibat dalam pembunuhan terhadap anak murid Bu-khek-bun yang berada di perkampungan Ing-gwat san-ceng?"

"Sebagian besar mati ditangan pendekar-pendekar pedang macan kumbang hitam, tentu saja Ouyang Siong maupun aku juga turut ambil bagian"

"Kemana perginya Tiong It-ki?" "Dibawa pergi oleh pendekar pedang macan kumbang hitam"

“Dibawa kembali ke lembah Hek pa kok?" "Benar!"

"Baik! Katakan lebih lanjut"

"Aku hanya bisa mengatakan itu saja..."

Pek Bwe segera tertawa dingin serunya: "Apa hubunganmu dengan para pendekar pedang macan kumbang hitam itu !"

"Aku adalah mata-mata yang mereka kirim datang ke kota Siang-yang dengan tugas menyelidiki gerak gerik dari Bu kek bun"

"Mengapa mereka melakutan penyerbuan berdarah terhadap Bu kek bun?" Pek Bwe bertanya lagi.

"Aku tidak tahu!"

Pek Bwe termenung beberapa saat lamanya, lalu berkata: "Baik, Hari ini kita berbincang-bincang sampai disini

dulu"

Setelah berpaling dan memandang sekejap ke arah Cu Siau-hong, terusnya:

"Mari kita pergi!"

Cu Siau-hong dengan mengikuti dibelakang Pek Bwe segera berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan kecil. Setelah berada dalam ruangan itu, Pek Bwe baru menghembuskan napas panjang, katanya:

"Siau-hong, selama ini aku terlalu memandang tinggi dirimu, sungguh tak disangka hari ini kau telah melakukan suatu perbuatan yang membuat kecewanya hatiku" Sampai waktu itu, Cu Siau-hong masih berwujud wajah penyamaran, bukan saja obat penyaru menutupi kelembutan wajahnya. selain itu juga menutupi kelincahan dan daya tariknya.

Sekalipun paras mukanya mengalami perubahan, namun tidak merubah ketenangan dan kelembutan sikapnya.

Dia tertawa, lalu katanya:

"Locianpwe maksudkan "

"Ngo tok giok-li adalah seorang nona, mengapa kau sembarangan meraba badannya?"

"Locianpwe, menurut pendapatmu, apakah boanpwe adalah manusia semacam itu?"

"Oooh...! Bukankah tanganmu kau tekankan diatas badan nona tersebut dengan menyembunyikan jari tanganmu dibalik ujung baju? Memangnya lohu tidak melihatnya?"

"Locianpwe. agaknya bila aku tidak berterus terang, mungkin sulit untuk memberi penjelasan kepada Locianpwe"

"Aaaai ! Nak, kau harus tahu, kesempurnaan tenaga dalam Ui lo-pangcu sudah mencapai pada taraf yang luar biasa, sekalipun dalam hati kecilnya tak senang, perasaan tersebut tak akan diperlihatkan diatas wajahnya, sekalipun Tan Tiang kim sendiri juga tetap menahan diri tanpa berbicara, akan tetapi akupun dapat menangkap sinar gusar diatas wajahnya itu.!"

'Boanpwe tidak tega melihat penderitan yang dialami nona itu, maka aku berniat membantu Ui lo-pangcu dengan membebaskan jalan darahnya yang tertotok"

Mendengar perkataan itu, Pek Bwe menjadi tertegun. "Apa kau bilang? Kau membantu Ui pangcu untuk membebaskan jalan darahnya yang tertotok? ' serunya.

Ia terlalu memahami kemampuan Cu Siau-hong, dia yakin Cu Siau-hong tak akan mampu untuk membebaskan totokan jalan darah yang amat istimewa itu.

Cu Siau-hong segera mengangguk.

"Dengar ilmu pengetahuan yang dimiliki Ui pangcu saja, ia musti menggunakan tenaga yang amat besar sebelum berhasil membebaskan jalan darah si nona yang tertotok, darimana mungkin kau mampu untuk melakukannya. ?"

Tentu saja Cu Siau-hong tak dapat menerangkan kalau dia mempelajari ilmu itu dari kitab pemberian penjaga kuda she Liok.

Terpaksa katanya:

"Belakangan ini boanpwe telah mengalami penemuan baru, locianpwe toh bukannya tidak tahu"

"Apakah si Dewa pincang yang mewariskannya kepadamu "

Belum sempat Cu Siau-hong menjawab, tampak Ui Thian-to dengan jenggot putihnya berkibar terhembus angin pelan-pelan melangkah masuk ke dalam ruangan, kemudian ujarnya:

"Pek lote, jangan kau tegur dirinya, memang dialah yang telah membebaskan pengaruh totokan ditubuh Ngo tok giok li”

Pek Bwe segera menjura. “Uipangcu. "

Ui Thian to tertawa lebar, kembali ujarnya . "Enghiong muncul dari kaum muda, nak apakah kau yang bernama Cu Siau-hong?" Cu Siau-hong segera menjura dalam-dalam, “betul boanpwe orangnya, jika boanpwe telah bersikap lancang tadi, harap cianpwe sudi memaafkan!”

"Bukankah Wajahmu kau tutupi dengan obat penyaru?" "Benar!"

Pek Bwe yang berdiri disisinya segera menegur:

"Siau-hong, apakah kau masih berniat untuk menjumpai Ouyang Siong lagi?"

"Tidak!"

"Kalau begitu cepatlah cuci muka dan kembalikan wajah aslimu, macam tampangmu sekarang benar-benar tak sedap dipandang"

Cu Siau-hong mengiakan dan segera mengundurkan diri dari ruangan itu.

Setelah obat penyaru diwajahnya dicuci sampai bersih, kemudian pemuda itu seakan-akan telah berubah menjadi seorang yang lain.

Dengan sangat teliti Ui Thian to memperhatikan seluruh wajah Cu Siau-hong, kemudian manggut-manggut.

"Nak lohu sangat berharap bisa menemukan kembali musuh besar pembunuh anggota Bu-khek-bun serta menyelesaikan persoalan ini sampai tuntas, setelah keinginanku terkabul, aku si pengemis tuapun akan mengundurkan diri dari keramaian dunia"

"Terima kasih lo-pangcu segenap anggota Ku Khek bun akan bersyukur untuk bantuanmu itu"

Ui Thian to tertawa, katanya kemudian: "Pek lote, apakah Ti Thian hua berhasil mengungkapkan masalah-masalah yang lain?" Pek Bwe segera menghela napas panjang.

"Sekalipun dia berbicara, tapi sama halnya dengan tidak berbicara, dia menyinggung soal pendekar macan kumbang hitam serta lembah macan kumbang hitam, belum pernah siaute mendengar tentang nama tempat itu"

Ui Thian to mengerutkan dahinya rapat-rapat.

"Kalau begitu ia memang cukup menggemaskan, sebentar setelah diserahkan kepada Bu-khek-bun, tak ada halangannya kalian paksa ia untuk mengucapkan beberapa patah kata lagi!"

"Baik!"

Ui Thian to lantas manggut-manggut, diantara berkibarnya jenggot yang berwarna putih itu, pelan-pelan dia barjalan keluar dari ruangan tersebut.

Memandang hingga bayangan punggung Ui lo-pangcu lenyap dari pandangan mata, Pek Bwe segera berbisik lirih.

"Siau-hong, lohu mau tak mau harus takluk juga kepadamu, sebenarnya masih berapa banyak kepandaian yang tercatat dalam perutmu, seakan-akan kau menyimpan suatu tenaga yang tak ada habisnya saja?"'

Cu Siau-hong segera tersenyum.

"Locianpwe, aku tidak lebih hanya beradu nasib saja " Setelah berhenti sebentar, lanjutnya:

"Aku ingin pulang untuk menengok sunio!"

"Benar, kau memang harus pergi menengok suniomu, dia selalu merindukan dirimu" "Cinta kasih dari Subo selalu membuat Siau-hong merasa terharu saja ! "Sekarang Kay Pants telah mengerahkan tak sedikit jago-jago lihaynya, Ouyang Siong serta Kiau Hui nio tak bakal lolos dari tangan mereka, pulanglah dengan perasaan lega !"

“Tolong cianpwe suka sampaikan salamku pada Ui pangcu dan Tan Tianglo karena boanpwe akan pulang tanpa pamit lagi"

Sekembalinya ke gedung yang didiami Pek Hong, ia baru merasakan bahwa gedung itu pun dijaga dengan ketat oleh jago-jago Kay-pang, tapi penjagaan mereka hanya dipusatkan pada halaman depan dan halaman belakang, setelah masuk halaman yang kedua, disana semuanya adalah orang orang Bu-khek-bun.

Waktu itu Pek Hong, Seng Tiong-gak dan Tang Cuan sedang duduk berkerumun diruang tengah, entah apa yang sedang dirundingkan?

Ketika melihat kedatangan Cu Siau-hong, ketiga orang itu segera menunjukkan rasa kaget bercampur girang yaug sedikit diluar dugaan, dengan langkah cepat Cu Siau-hong segera memburu masuk kedalam, setelah menjatuhkan diri tersebut, serunya:

"Siau-hong menjumpai sunio!"

Pek Hong segera membangunkan Cu Siau-hong sepasang matanya basah oleh air mata, sementara sekulum senyuman tersungging diujung bibirnya.

"Nak, apakah kau tidak merasa menderita," serunya. "Siau-hong tidak merasa menderita, malah selama dua

hari belakangan ini telah memperoleh banyak pengalaman

serta pengetahuan" Kemudian sambil berpaling ke arah Seng Tiong-gak dan Tang Cuan, buru-buru ia memberi hormat pula. Walau berada dalam keadaan apapun, Cu Siau-hong selalu menjaga tata kesopanan yang seharusnya.

Tidak sampai Pek Hong bertanya, Cu Siau-hong telah mengisahkan sendiri semua pengalaman yang dialaminya selama beberapa hari ini.

Selesai mendengar kata-kata tersebut, Tang Cuan segera berkata:

"Apabila pihak Kay-pang benar-benar bersedia menyerahkan Ti Thian hua kepada kita, pasti akan kutanyakan hal ini sampai sejelas-jelasnya "

Sementara beberapa orang itu masih bercakap-cakap, Kay-pang telah mengutus orang untuk menghantar Ti Thian hua ke sana.

Empat buah jalan darah ditubuh Ti Thian hua masih tertotok, sambil menahan pergolakan emosi dalam hatinya, Pek Hong memerintahkan kepada Tang Cuan untuk mendudukkan Ti Thian hua diatas kursi.

Setelah menghantarkan pergi orang-orang Kay-pang, dia baru memandang sekejap kearah orang itu dengan pandangan dingin, katanya kemudian dengan suara nyaring.

"Aku adalah Tiong hujin, diatas bahuku memikul tanggungjawab beban untuk membayarkan sakit hati atas kematian dari orang-orang Bu khek-bun"

Agaknya Ti Thian hua sudah mengerti bahwa hal tersebut merupakah suatu keadaan yang sulit dihadapi, dia menghela napas sedih, lalu berkata pelan: "Aku mengerti dan apa yang kuketahui telah kusampaikan kepada Pek Bwe di dalam kenyataan aku sendiripun tak lebih hanya seorang menusia yang diperalat, apa yang kuketahui serba terbatas, itu berarti aku dipaksa untuk menjawab secara mengawur dan asal kena"

"Ti Thian hua, dengarkan baik-baik" kata Seng Tiong gak dingin. "kami tak akan menyiksamu dengan cara yang keji, tapi kamipun tak akan memperdulikan soal mati hidupmu, mungkin saja kami bisa turun tangan untuk membinasakanmu"

"Aku tahu, dalam hati kalian berkobar rasa benci dan dendam yang membara"

"Betul, rasa benci kami telah terukir sampai dalam hati, kami tak akan melupakan dendam kesumat tersebut"

Dengan langkah lebar Tang Cuan berjalan maju kedepan, telapak tangannya segera ditempelkan keatas bahu Ti Thian hua, setelah itu katanya dengan lantang:

"Sekarang katakan dulu semua persoalan yang kau ketahui!"

Ditatap oleh beberapa pasang mata yang memancarkan api dendam serta kebencian, Ti-Thian hua merasakan hatinya bergetar keras, benar juga dia lantas membeberkan semua yang diketahui olehnya.

Dengan tenang Cu Siau-hong mendengarkan ke semuanya itu, apa yang dia katakan ternyata memang tak jauh berbeda bila dibandingkan dengan apa yang didengar sewaktu berada di Kay-pang tadi.

Selesai mendengarkan keterangan tersebut dengan dingin Pek Hong lantas bertanya: "Seandainya kau bersedia untuk bekerja sama lagi dengan pihak kami." "Kenapa?" sambungTiThian hua cepat..

"Maka kau akan memperoleh kesempatan untuk hidup lebih jauh"

"Bagaimana kau memberi jaminan tersebut?" "Jaminan apa yang kau minta?"

"Agar aku percaya kalian benar-benar akan melepaskan diriku"

'Baik Kau boleh mengajukan beberapa syarat, cuma kau harus mengerti aku adalah istrinya Tiong Leng kang, dalam hidupnya Tiong Leng-kang tak pernah berbicara bohong, asal apa yang telah ia kabulkan, perkataan itu lebih berat dari bukit karang, sekalipun aku bukan Tiong Leng kang, aku telah menjadi suami istri selama puluhan tahun dengan nya, aku tak dapat menodai nama baik suamiku yang telah tiada"

Dari perkataanya itu jelas tercermin perasaan cinta kasihnya yang murni.

Ti Thian hua menghembuskan napas panjang, katanya kemudian:

"Maksud hujin, kau suruh aku mempercayaimu...?" Pek Hong meendengus dingin.

"Kau adalah salah seorang pembunuh yang telah menghancurkan perguruan Bu-khek-bun, bukan saja kau telah menculik putraku bahkan membunuh puluhan lembar nyawa anggota perguruan kami, rasa benciku kepadamu boleh dibilang telah merasuk sampai ketulang  sum-sum, jika kau sampai menimbulkan kemarahanku, aku dapat mencincang tubuhmu menjadi berkeping-keping oleh karena itu lebih baik lenyapkan semua persiapanmu untuk bermain busuk" "Hujin aku sedang bertanya kepadamu, kau belum menjawab cara apakah kau hendak menjamin keselamatan jiwaku?"

"Jika kau bersedia untuk bekerja sama dengan bersungguh hati, akupun bersedia juga untuk melepaskan dirimu!"

"Tidak akan memunahkan ilmu silatku? Atau melakukan sesuatu diatas tubuhku?"

"Benar, akan kulepaskan dirimu secara utuh!"

"Baik! Aku bersedia untuk mencobanya, sekarang aku minta racun yang mengeram dalam tubuhku bisa dipunahkan lebih dulu, daya kerja racun ini bisa mengakibatkan kematian dalam dua jam mendatang"

Pek Hong manggut-manggut. "Masih ada yang lain?" tanyanya:

"Setelah racun dalam tubuhku punah, akan kuberitahukan cara untuk mengadakan kontak dengan mereka dan kalian boleh mengikuti diriku"

Pek Hong segera berpaling dan memandang sekejap kearah Tang Cuan, kemudian katanya:

"Sekarang juga pergi cari orang Kay-pang, suruh mereka mintakan obat pemunahnya dari Ngo tok giok li"

Tang Cuan segera mengiakan dan berlalu dari sana. Seng Tiong-gak segera mendehem pelan, lalu katanya:

"Ti Thian hua, apakah kau mempunyai ikatan dendam atau sakit hati dengan perguruan Bu-khek bun?"

"Tidak ada!" "Kalau memang tak ada dendam maupun sakit hati, apa sebabnya kau membantu mereka untuk menghadapi Bu khek-bun?"

Ti Thian hua tertawa hambar.

"Pertanyaan yang kalian ajukan terlalu banyak, bolehkah aku untuk tidak menjawabnya?"

"Boleh, cuma kau harus ingat, bila gagal untuk mengadakan kontak dengan mereka, saat itulah kau akan merasakan siksaan bagaimana kalau orang ingin mati tak bisa mati ingin hidup tak bisa hidup"

Tiba-tiba saja suasana ruangan itu berubah menjadi hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun, tak seorangpun yang bertanya lagi kepada Ti Thian hua.

Selama ini Cu Siau-hong sendiri juga membungkam dalam seribu bahasa, ia cuma berdiri saja disamping dengan tenang.

Sekalipun demikian, sepasang matanya menatap terus wajah Ti Thian hua lekat-lekat seakan akan dia hendak menembusi isi hati orang itu.

Dalam keheningin inilah Tang Cuan telah muncul kembali sambil membawa obat pemunah.

Itulah sebutir pil berwarna putih, pelan-pelan Tang Cuan berjalan ke hadapan Ti Thian hua, kemudian serunya:

"Telan..!"

Ti Thian-hua, memandang pil itu sekejap, kemudian menelannya.

Lebih kurang seperminum teh kemudian, Pek Hong baru bertanya dengan dingin:

"Betulkah obat pemunahnya?" "Betul!'

"Kau bermaksud kapan baru mulai?'

"Sepasang kakiku, sepasang lenganku masih tertotok dan tak bisa berkutik, apakah hujin bisa menolong untuk membebaskannya lebih dahulu?"

?oooO)d.w(Oooo?

“BAIK, Tang Cuan bebaskan jalan darahnya!"

Tang Cuan mengiakan, sepasang tangannya segera diayunkan berulang kali untuk menepuk keempat buah jalan darahnya.

Pelan-pelan Ti Thian hua bangkit berdiri setelah melancarkan peredaran darah pada sepasang lengan dan sepasang kakinya, ia menghembuskan napas panjang.

"Aku masih ada suatu permintaan lagi!” "Katakanlah!"

"Aku ingin mengisi perut lebih dahulu!"

'Segera perintahkan kedapur untuk menyiapkan hidangan!" Pek Hong segera berseru.

Tak lama kemudiam Ti Thian hua sudah duduk bersantap dengan lahapnya, setelah kenyang dia baru bangkit berdiri, ujarnya:

"Hujin, bagai mana caramu untuk mempersiapkan orang?"

"Aku ingin mengetahui terlebih dahulu dengan cara apakah kau hendak mengadakan kontak dengan mereka?"

"Sederhana sekali, kami mempunyai tanda rahasia yang telah dijanjikan lebih dahulu, asal kulepaskan tanda rahasia ini, dan mereka menyaksikan tanda rahasia yang kulepaskan, dengan cepat mereka akan datang untuk menemui diriku"

"Dimana tempatnya?"

"Soal tempat, hujin boleh memilih sesukanya, aku harap kalian bisa membuat persiapan lebih dahulu, cuma sebisanya jangan sampai meninggalkan bekas"

"Seandainya mereka tidak datang?"

'Aku hanya bisa berusaha dengan segala kemampuan yang bisa kulakukan, tapi sampai pada taraf manakah hasil yang bisa tercapai, aku belum dapat menduganya?"

"Asal kau benar-benar telah berusaha dengan segala kemampuan yang bisa kau lakukan, sekalipun tidak berhasil, aku juga tak akan menyalahkan dirimu!"

"Baik! Setelah hujin berkata demikian, aku merasa amat berterima kasih sekali"

"Cuma, bila kau bermain setan secara diam-diam, apalagi kalau sampai ketahuan, kau akan merasakan siksaan yang luar biasa hebatnya, mungkin siksaan itu akan membuat kau ingin mati tak bisa, hiduppun tak dapat"

Ti Thian hua segera tertawa getir

"Hujin kau juga harus tahu" katanya, "apabila perbuatanku ini sampai diketahui oleh para pendekar pedang macan kumbang hitam, mereka pasti tak akan melepaskan pula diriku”

Pek Hong manggut-manggut, sambil berpaling ke arah Tang Cuan dan Cu Siau-hong, katanya: 'Kalian lakukanlah perundingan untuk menyusun rencana, bagaimana baiknya kita akan bertindak" "Subo tak usah bingung" jawab Cu Siau-hong, "Siau hong telah merundingkannya dengan suheng..."

"Oooh ?"

"Hujin, maaf kalau aku turut banyak berbicara!" tiba-tiba Ti Thian hua menyela:

"Katakanlah!"

"Dengan kekuatan yang dimiliki perguruan kalian, aku rasa masih sulit untuk menghadapi kelihayan para pendekar pedang macan kumbang hitam, lebih baik minta saja bantuan dari orang-orang Kay-pang"

"Dalam soal ini kami sudah punya persiapan sendiri dan tak usah saudara Ti risaukan, cuma aku mah ingin bertanya lagi beberapa persoalan padamu'.

'Katakan!"

'Aku masih ingat saudara Ti pernah berkata bahwa kaupun turut ambil bagian didalam penyerbuan ke dalam perkampungan Ing-gwat-san-ceng pada malam itu?"

"Benar??'

"Sejak awal sampai akhir apakah kau hadir terus dalam arena?"

"Benar!" sahut Ti Thian hua sambil mengangguk. “Kedatangan mereka, apa pula yang akan hujin lakukan

terhadap diriku?" tanya Ti Thian hua lebih lanjut. "Katakan dulu, kau berharap bagaimana aku menjatuhkan hukuman kepadamu?" Pek Hong berkata.

"Tentu saja aku berharap tidak dijatuhi hukuman apa apa, tapi mungkinkah hal ini bagiku?"

"Tidak mungkin, jika kau berhasil memancing kemunculan mereka, maka kau boleh mengundurkan diri dengan selamat, sebaliknya, kalau gagal untuk memancing kemunculan mereka"

"Kalian akan membunuhku!" sambung Ti Thian hua. "itu mah tak sampai begitu, jangan lupa kalau aku adalah

istrinya Tiong Leng kang, selama hidup ia tak pernah berbohong, tak pernah pula mengingkari janji, aku pernah menyanggupi untuk melepaskan dirimu, maka akupun tak akan membunuhmu, cuma aku bisa jadi akan memunahkan ilmu silat yang kau miliki!"

Mendengar perkataan itu Ti Thian hua segera tertawa getir.

"Daripada memunahkan ilmu silat yang kumiliki, lebih baik bunuh saja sekalian diriku" serunya.

"Ketika kalian menyerbu perkampungan Ing-gwat san ceng sambil melakukan pembantaian, apakah waktu itu juga timbul perasaan welas kasih dihati kalian?"

Ti Thian hua termenung dan berpikir sebentar, lalu katanya:

"Cuma aku percaya, sembilan puluh persen aku pasti akan berhasil untuk memancing kemunculan mereka"

Sementara itu Tang Cuan telah menghampiri Pek Hong, kemudian membisikkan sesuatu kepadanya. Mendengar bisikan itu Pek Hong segera mengangguk.

"Baik..!" katanya, "Ti Thian hua, sekarang juga kita boleh berangkat meninggalkan tempat ini!"

"Kalian telah membuat persiapan?" "Sudah"

"Baik! Kalau begitu ikutlah diriku!" Pelan-pelan Cu Siau-hong berjalan menghampirinya sambil berkata:

'Aku akan mengikuti dirimu!"

Ketika Ti Thian hua berpaling tampaklah olehnya Cu Siau-hong telah bertukar pakaian dengan sebuah jubah panjang berwarna hijau, sekarang ia berdandan sebagai seorang sastrawan.

Seng Tiong-gak dan Tang cuan buru-buru berjalan keluar.

Ti Thian hua tidak banyak bertanya lagi, dia beranjak meninggalkan tempat itu seraya berkata:

"Apakah kau yang bernama Cu Siau-hong, dan dalam urutan ke dua belas orang murid Bu-khek-bun menempati urutan ke tujuh?"

Cu Siau-hong segera mengangguk.

"Benar!" sahutnya, “tampaknya kau mengetahui amat jelas sekali tentang persoalan-persoalan Bu-khek-bun, agaknya tidak sedikit perhatian yang kau curahkan kesana!"

"Aaaai Cu Siau-hong, benarkah kalian ingin memancing keluarnya para pendekar pedang macan kumbang hitam?"

"Apakah dalam hatimu masih terselip perasaan curiga?" "Aku hanya bermaksud untuk menasehati saudara Cu

saja, bila mereka benar-benar sampai terpancing keluar, maka bagi perguruanmu maupun bagi Cu heng sama sekali tak ada manfaat serta kebaikannya"

"Aku bersedia mendengarkan penjelasan lebihjauh!"

Sementara itu mereka berdua sudah berjalan keluar dari pintu gerbang, diam-diam Ti Thian hua mencoba untuk memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu, ternyata tak seorang penjaga pun yang ditemukan, ini membuatnya menjadi keheranan.

"Apakah mereka benar-benar begitu percaya kepadaku?" pikirnya dalam hati.

Setelah keluar dari pintu gerbang, tiba-tiba Ti Thian hua mempercepat langkahnya menuju ke depan, sambil menghembuskan napas panjang katanya seraya tertawa:

"Saudara Cu, tahukah kau bagaimanakah perasaanku pada saat ini?"

Cu Siau-hong segera tertawa:
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 18"

Post a Comment

close