Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 12

Mode Malam
Tempat itu berupa sebuah toko kelontongan yang terletak di ujung lorong tersebut, sebuat toko yang selalu berada dalam keadaan terbuka. Cu Siau-hongtak berani menghampiri terlalu dekat lagi, tapi ia dapat melihat orang itu dengan amat jelas, seorang kakek sudah amat tua sekali.

Ia duduk dibelakang meja kasir dalam toko tersebut, dari situ ia dapat mengikuti semua perkembangan dalam lorong dengan sangat jelas.

Apalagi terhadap gedung besar dari pihak Kay-pang boleh dibilang segala sesuatunya dapat terlihat dengan jelas sekali.

Diam-diam Cu Siau-hong menghembuskan napas lega, dia masuk kembali ke dalam gedung dan memberitahukan hal itu kepada Yu Lip.

Tapi ia menganjurkan kepada Yu Lip agarjangan melakukan suatu gerakan terlebih dahulu, sebab hal-hal yang dapat dipergunakan musuh, dapat pula dimanfaatkan oleh pihak sendiri.

Tentu saja persoalan ini serta perkembangannya dengan cepat akan berakhir, waktu itu sudah barang tentu harus dibuktikan asal usul dan identitas si kakek yang sebenarnya.

Selesai mengurusi persoalan itu, Cu Siau-hong duduk bersila untuk mengatur pernapasan, ketika malam sudah tiba ia baru diam-diam ngeloyor ke luar lewat pintu belakang.

Tiba di gedung yang telah dijanjikan, dia mendorong pintu dan masuk kedalam.

Suasana dalam ruang tengah gelap gulita, di tengah ruangan yang begini luasnya tak kelihatan sesosok bayangan manusiapun.

Cu Siau-hong menarik napas dalam-dalam, selangkah demi   selangkah   dia   masuk   ke   ruangan   dalam.   Baru melangkah masuk ke dalam pintu ruangan, suara Ouyang Siong segera berkumandang datang: "Lim Giok, besar amat nyalimu!"

"Boanpwe ada urusan penting yang hendak dilaporkan, aku percaya locianpwe tetap akan memegang janji"

"Kau masih berani datang kemari?" "Sebenarnya aku tak berani kemari. "

"Lantas kenapa kau datang juga?"

"Sebab ada suatu persoalan yang hendak kulaporkan!" "Katakanlah!"

"Dua orang tianglo dari perkumpulan kami yang amat tersohor namanya telah sampai di kota Siang-yang"

"Kau tahu siapa nama mereka?"

"Tahu, yang seorang bernama Tan Tiang kim dengan julukan Cian li to heng (seribu li berjalan kaki) sedangkan yang lain bernama Hay Yok wong dengan julukan Thi ciang kay pit (telapak tangan baja pembelah batu nisan)

"Bagus! Bagus! Kau tahu ada maksud apa mereka datang kemari?"

"Begitu tiba, mereka lantas masuk ke halaman kedua dan berkumpul dengan orang orang Bu-khek-bun"

"Bukankah orang orang Bu-khek-bun sudah keracunan semua"

"Benar'

"Bagaimana keadaannya?"

'Tampaknya sudah mulai membaik, sayang aku ditugaskan dihalaman paling muka sehingga tidak banyak yang kuketahui tentang kejadian yang berlangsung dalam halaman ke dua"

"Tak seorangpun yang mati akibat keracunan?"

"Sampai aku datang ke mari, belum kudengar berita tentang kematian mereka"

Ouyang Siong termenung beberapa saat lamanya, lalu berkata lagi:

"Jangan jangan dibalik kesemuanya itu masih ada suatu siasat licik yang dimaksudkan hendak mengelabuhi diriku?"

`Soal ini. aku si pengemis kecil kurang begitu jelas"

"Lim Giok, apakah kau hendak tinggal disini?" tanya Ouyaog Siong kemudian.

"Tidak bisa, berhubung dengan kehadiran kedua orang tianglo itu, kedudukanku sudah mengalami perubahan sekarang juga cayhe harus pergi melaksanakan tugas. "

"Apa tugasmu sekarang?"

"Diperintahkan untuk mendampingi kedua orang tianglo itu dan melaksanakan perintahnya menurut apa yang aku si pengemis kecil ketahui agaknya kedua orang tianglo itu seperti hendak melakukan suatu aksi"

"Menurut pendapatmu, mungkinkah mereka akan mencari kemari?"

"Kemungkinan besar"

"Bagus sekali. Tak kusangka kau bisa menunjukkan kesungguhan hati yang jauh di luar dugaan!"

"Aku si pengemis kecil merasa amat kecewa!"

"Bila dibicarakan, sesungguhnya lohu sendiripun merasa agak  heran,  tampaknya  kau  merupakan  seseorang  yang mendapat perhatian khusus di dalam kantor cabang Siang yang, kenapa kau bersedia untuk menghianati Kay-pang?"

"Aku si pengemis kecilpun sedang tidak tenang lantaran persoalan ini, pahala dan kedudukan memang terlalu menarik hati, aku ingin sekali bisa tersohor dan menonjol di kemudian hari, sayang aku tak lebih Cuma seorang anak buah dari sebuah kantor cabang, sekalipun berjuang mati matian selama delapan sepuluh tahun, paling-paling juga menjadi seorang Toucu belaka,aaai ! Kalau begitu terus keadaannya yaa apa boleh buat lagi?"

"Keadaan yang bagaimana baru terhitung memenuhi harapanmu?" tanya Ouyang Siong lagi.

"Aku si pengemis kecil percaya kalau dalam soal ilmu silat aku masih memiliki sedikit bakat baik, tapi guruku ketua cabang Siang-yang yang berhasil mencapai tingkatan yang hebatpun tak lebih Cuma menjadi seorang toucu belaka, kalau aku bisa terpilih masuk ke kantor pusat dan mengikuti beberapa tianglo atau pangcu untuk belajar silat, aku si pengemis kecil percaya dalam sepuluh tahun mendatang, kedudukanku pasti akan meningkat, diriku juga bisa menjadi jagoan kelas satu, sekalipun tak bisa menjadi seorang pangcu, paling tidak masih mampu untuk mendududki jabatan tianglo atau Huhoat, itulah yang menjadi cita-citaku selama ini"

"Jadi kau merasa dirimu ibarat sebutir mutiara yang berada dalam lumpur, kalau tidak digosok terlalu sayang dengan bakat terpendam itu?"

"Yaa, disinilah letak penderitaan dan ketidak tenangan aku si pengemis kecil"

“Aku tahu kau boleh, pulang dulu! Jika tempat ini mengalami   perubahan,   tiga   hari   kemudian   kau  boleh bertemu dengan aku di toko kain Liong siang pu ceng di utara kota Siang-yang”.

“Kalau sampai saatnya aku si pengemis kecil tidak bisa hadir, itu menandakan kalau persoalan sudah mengalami perubahan, sehingga aku tak bisa memenuhi harapanmu lagi."

Selesai berkata, dia membalikkan badan dan melompat pergi dari situ.

Sebelum pergi, ia sengaja memperlihatkan ilmu meringankan tubuhnya meski tidak terlampau hebat, tapi menunjukkan suatu daya kekuatan yang sangat kuat.

Untuk melaksanakan sandiwara ini, Cu Siau-hong harus mengorbankan tenaga yang tidak sedikit jumlahnya, pedang mestika yang ada dalam kotak memang tak boleh diperlihatkan ketajamannya, untuk berbuat yang tepat, sesungguhnya bukan suatu pekerjaan yang terlampau gampang.

Tapi Cu Siau-hong telah melakukannya, bahkan bisa melakukannya secara tepat sekali.

Dari balik kegelapan, tiba-tiba berkumandang suara seorang perempuan yang bertanya: "Bagaimana menurut pendapatmu tentang si pengemis kecil itu?"

"Bakat yang bagus, sayang belum ditemukan oleh para tianglo dan orang-orang tingkat atas Kay-pang. Asal kita mau memupuknya secara bersungguh-sungguh, dalam dua puluh tahun mendatang, mungkin ia benar-benar bisa kita bimbing untuk menduduki jabatan sebagai ketua Kay-pang, satu-satunya anak yang perlu kita risaukan adalah kecerdasan otaknya, sekarang dia mau berpihak kita lantaran  tak  puas  dengan  jabatannya,  tapi  bila  berhasil menduduki kedudukan yang tinggi dikemudian hari, entah ia akan setia lagi kepada Kay-pang atau tidak?"

"Aku dapat melihat bahwa lompatannya tadi penuh bertenaga, sayang sekali diwaktu melayang turun ketanah tadi. Kakinya agak sempoyongan seakan-akan hampir saja tak mampu berdiri tegak, aku lihat orang yang mewariskan ilmu meringankan tubuh kepadanya telah mengajarkan suatu kepandaian yang keliru"

"Untuk menjadi seorang jago lihay, selain bakat yang harus bagus, bimbingan guru pandai juga tak boleh ketinggalan, dengan kepandaian yang dimiliki Yu Lip, bagaimana mungkin bisa mendidik seorang murid yang baik? Sungguh sayang, suatu bakat bagus harus terpendam dalam lumpur "

"Kalau kudengar dari nada pembicaraanmu tadi, rupanya kau merasa sayang kepada nya, apakah kau telah mengambil keputusan untuk menerimanya menjadi muridmu?"

"Sekarang masih sukar untuk mengambil keputusan! Biar aku pikirkan dulu sebelum dibicarakan lagi"

Setelah hening sejenak, perempuan itu mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya lagi:

"Kalau kudengar dari ucapan Lim Giok tadi, tampaknya malam ini Tan Tang kim dan Hay Yok wong hendak mengunjungi tempat ini, kau bersiap-siap hendak menyambutnya dengan cara apa?"

"Kay-pang tersohor karena matanya dan pendengarannya yang tajam, apalagi Tan Tiang kim merupakan seorang manusia yang amat licik bagaikan rase, diantara empat tianglo Kay-pang, terhitung tua bangka ini yang  paling  susah  dihadapi,  betul  tempat persembunyian kita bisa mengelabuhi Yu Lip tapi sulit untuk mengelabuhi Tan Tiang kim”

"Pek Bwe si tua bangka itu juga bukan manusia baik baik" sela Perempuan itu pula. "terlalu banyak permainan busuk orang ini, sementara waktu mungkin kita bisa mengelabuhi mereka, tapi kalau diberi sedikit lagi, jejak kita tentu akan berhasil dilacaki"

"Itulah sebabnya tak heran kalau tempat persembunyian kita diketahui mereka, sekarang yang menjadi masalah bagiku adalah menghadapi kedatangan mereka? Atau lebih baik kabur saja, sehingga memberikan suatu perasaan yang membingungkan bagi mereka"

"Apa untung dan ruginya bila kita menemui mereka serta tidak menemui mereka?"

"Sampai saat ini terlalu banyak permainan yang kita lakukan, jejak kitapun sudah banyak yang ketahuan mereka, ditambah lagi turut campurnya Kay-pang dalam persoalan ini terlalu cepat dan dalam sehingga jauh diluar dugaan kita semua, kalau dibicarakan sebetulnya kita sudah kehilangan suatu kesempatan yang sangat baik untuk membasmi perguruan Bu-khek-bun, kita hanya tahu beradu akal, lupa beradu kekuatan, sejak Tiong Leng kang mati, kekuatan dari Bu-khek-bun tinggal tiga lima orang saja, sekalipun di tambah Pek Bwe dan jago-jago kantor cabang Siang-yang, masih belum terhitung terlalu kuat, waktu itu asal kita turun tangan sepenuh tenaga, mungkin Pek Hong sudah kita bekuk, itulah salahnya kalau kita memilih beradu kecerdasan, akibatnya urusan menjadi kacau balau tak karuan"

"Pokoknya usul itu bukan datang dariku, aku Cuma menuruti perkataan dari Hee ho Sian, jadi kalau sampai ada kesalahan besok, jangan salahkan aku" seru perempuan itu dengan cepat-cepat.

Ouyang Siong segera mendengus dingin, katanya: "Sekarang keadaan sudah menjadi begini, Hee ho Sian

juga sudah cuci tangan dan angkat kaki, yang tersisa hanya memberikan abu hangat buat kita semua"

"Kita toh tidak musti harus menerima abu hangat tersebut, kita juga bisa angkat kaki meninggalkan tempat ini"

"Setelah Kay-pang mengetahui tempat persembunyian kita, kau anggap kita masih bisa mengundurkan diri dengan lancar?"

"Memangnya mereka masih bisa menghalangi kita?" "Dapatkah    menghalangi    kita    bukan    masalah yang

penting yang menjadi persoalan sekarang adalah dari  posisi

dibalik kegelapan sekarang kita sudah berada di tempat terang, orang persilatan bisa menuduh aku Ouyang Siong kabur lantaran takut dengan Tan Tiang kim. Wah.    Kalau

masalahnya sudah menyangkut soal nama dan gengsi, aku tak bisa pergi dengan begitu saja.!"

"Betul!" tiba-tiba suara lain yang tinggi melengking berkumandang memecahkan keheningan, "jika kita harus angkat kaki dengan begini saja, maka kedua orang  pengemis tua itu pasti akan menguar-uarkan kata-kata yang tak sedap, supaya nama baik aku Lu peng juga akan turut tercemar"

"Maksud saudara Lu, apakah kita harus menghadapi mereka dengan kekerasan?"

"Jangan toh ketujuh jurus Siu hun jiu hoat dari saudara Ouyang,    sekalipun    kedua    belas    jurus    ilmu pukulan penghancur bukitku juga belum tentu bakal kalah ditangan kedua orang pengemis tua itu."

"Tapi saudara Lu jangan lupa, masih ada seorang Pek Bwe, kungfu dari tua bangka itu tidak berada dibawah kepandaian silat kedua orang pengemis tua itu?"

"Ouyang cianpwe, ilmu kipas Siau lo-san hoat milik cayhe apakah sanggup untuk menandingi Pek Bwe?" tiba tiba suara nyaring lain menggema di ruangan..

Ouyang Siong segera tertawa lebar, “ilmu kipas Siau lo san hoat dari Ti sau heng boleh dianggap sebagai suatu ilmu yang hebat dalam dunia persilatan, tentu saja cukup mampu untuk menandingi Pek Bwe"

"Kalau memang begitu, rasanya kita juga tak usah segera mungundurkan diri dari sini" kata Lu peng.

"Baiklah! Kita siap sedia untuk bertarung melawan mereka, agar merekajuga mengetahui, akan kelihayan kita orang"'

"Jika dalam pertarungan ini kita berhasil memaksa orang-orang Kay-pang untuk mengundurkan diri dari pertikaian ini, maka hasil yang kita raih akan menjadi luar biasa sekali" sambung Lu peng.

"Sstt....! Ada orang datang, harap kalian berhati-hati!" mendadak Ouyang Siong berbisik lirih.

Bersama dengan selesainya bisikan itu, tiga sosok bayangan manusia tanpa menimbulkan sedikit suarapun sudah melayang masuk keruang tengah.

Mereka tak lain adalah Cian li to heng Tan Tiang kim, Thi ciang kay pit Hay Yok wong serta Pek Bwee. Begitu melayang turun keatas tanah, Pek Bwe segera berteriak dengan suara lantang: "Ouyang Siong kau akan menampakkan diri, apakah harus menunggu sampai kami masuk kedalam ruangan dan menyeret kalian keluar dari tempat itu?"

?oooO)d.w(Oooo?

GELAK tertawa nyaring menggelegar memenuhi seluruh ruangan, seseorang menjawab:

"Pek Bwe sesungguhnya dalam keadaan dan situasi semacam ini siaute enggan berjumpa denganmu, tapi setelah kau menantang secara terang terangan, terpaksa siaute harus menyongsong juga kedatanganmu itu '

Selesai berkata, dari balik ruangan yang gelap pelan pelan muncul empat sosok bayangan manusia. Orang yang berjalan paling muka adalah Ouyang Siong.

Tan Tiang kim memperhatikan sekejap ke empat orang itu, kemudian bergumam:

"Hmmm, rupanya memang kalian" Ouyang Siong segera mendengus dingin.

"Hmmn! Pengemis tua, kau kenal semua dengan mereka?' jengeknya

"Yang ini pastilah Poh san jiu Lu peng yang tersohor namanya dalam dunia persilatan"

"Yaa, memang aku orang she Lui!' Lui peng manggut manggut sambil mengelus jenggot kambingnya.

Tan tiang kim mengalihkan sorot matanya ke wajah nyonya setengah umur itu, kemudian lanjutnya: "Jika dugaanku tidak salah, yang ini pastilah Boan ko hui hoa Kiau Hui nio" "Betul, betu, sungguh tak nyana para tianglo dari Kay pang juga ada yang kenal dengan aku" seru Kiau Hui nio segera.

Pek Bwe mendehem pelan, kemudian ujarnya:

"Saudara Ouyang, setelah kau berani menampakkan diri secara terang-terangan, rasanya kaupun berani mengakui kenyataan secara berterus terang juga bukan"

"Asal perbuatan yang siaute lakukan, tak akan siaute pungkiri cuma sebelum saudara Pek bertanya ke soal yang lain terlebih dulu akan siaute perkenalkan seorang teman kepadamu"

"Kau maksudkan bocah muda ini?" kata Pek Bwe sambil mengerling sekejap ke arah manusia berbaju biru itu.

"Orang bilang, setiap generasi tentu akan muncul orang berbakat, ombak belakang sungai Tiangkang mendorong ombak didepan nya, saudara Pek, kau jangan pandang enteng saudara Ti ini"

Manusia berbaju biru itu tidak besar usia nya, tapi ia memiliki penampilan yang cukup mantap dan mengerikan, katanya sambil tertawa lebar.

"Cayhe, Ti Thian hua!"

"Ti Thian hua, manusia macam apakah dirimu itu? Belum pernah aku si pengemis tua mendengar nama orang ini?" jengek Tan Tiang kim dengan nada sinis.

“Ti Thian hua adalah seorang manusia, yaitu aku sendiri jawabnya, sekalipun kau tak pernah mendengar namaku, aku orang she Ti juga sama saja tak pernah mendengar nama kalian semua." Setelah kedua belah pihak saling berhadapan, maka disatu pihak terdiri dari Pek Bwe, Tan Tiang kim dan Hay Yok wong tiga orang.

Sebaliknya dipihak lain terdiri dari Ouyang Siong, Kiau Hui nio, Lu peng serta Ti Thian Hua empat orang. Setajam sembilu Tan Tiang kim memperhatikan wajah Ti Thian hua, ia tidak berbicara lagi.

Pengetahuannya cukup luas dan pengalamannya sangat matang, setelah meneliti dengan seksama ia menjumpai bahwa orang muda itu luar biasa sekali, bukan Cuma matanya tajam dan bersinar terang, keningnya juga menonjol keluar, terang dia adalah seorang jago lihay yang sempurna dalam lwekang (tenaga dalam) maupun Gwakang (tenaga luar).

Pek Bwe mendehem pelan, lalu katanya:

"Saudara Ouyang, siaute membawa suatu kabar yang kurang menyenangkan bagimu untuk disampaikan kepada kalian semua"

"Tak usah sungkan-sungkan, belum pernah kami pandang enteng saudara Pek, jika ada persoalan katakan saja secara terus terang"

"Aku lihat obat kalian kurang begitu mujarab..." jengek Pek Bwe sinis.

"Oya, lantas kenapa?"

"Bukan saja racun yang mengeram ditubuh lohu sudah hilang, racun yang mengeram di tubuh orang orang Bu khek-bun juga telah punah sama sekali"

Ouyang Siong termenung dan berpikir sejenak, lalu katanya sambil tertawa: “Saudara Pek, aku rasa kau tak usah berlagak pilon lagi, berbicara dari watakmu tak nanti kau benar-benar akan meracuni orang-orang Bu-khek-bun, sedang soal kau sendiri yang katanya keracunan, benar atau tidaknya juga sulit diketahui. cuma mau tak mau harus kuakui bahwa kepandaianmu untuk berpura-pura memang sangat hebat sehingga tabib-tabib kenamaan yang ada dikota Siang-yang pun sampai kalian undang semua"

Pek Bwe tidak memberi penjelasan lebih jauh, sambil tersenyum dia berkata:

"Kalau begitu, saudara Ouyang juga turut serta didalam peristiwa ini?"

"Seandainya aku menyangkal sekarang, dapatkah saudara Pek untuk mempercayainya”

"Hebat, hebat, tampaknya Ouyang heng memang pandai sekali menutup mulut !"

"Oooh. kita mah sama-sama!"

"Sekarang kita sudah saling bersua, aku rasa kedua belah pihakjuga tak perlu untuk bermain akal akalan lagi"

"Baik! Kalau begitu aku ingin mengetahui dulu maksud hati dari saudara Pek"

Pek Bwe manggut manggut, sahutnya:

"Boleh saja! aku akan memperkenalkan beberapa orang lebih dulu kepada saudara Ouyang”, Kemudian sambil berpaling serunya keras-keras:

"Hongji keluarlah kalian! Ouyang heng berani berbuat berani bertanggungjawab, ia sudah mengakui akan persoalan ini" Mendengar seruan tersebut, Ouyang Siong mengerutkan dahinya, ia seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi niat itu kemudian di urungkan.

Terdengar ujung baju tersampok angin, secara beruntun muncul kembali empat sosok bayangan manusia ditempat itu.

Orang pertama adalah seorang perempuan berbaju berkabung dengan ikat kepala warna putih, dia adalah Pek Hong.

Dibelakangnya mengikuti Seng Tiong-gak, Tang Cuan serta Cu Siau-hong. Ketiga orang inipun mengenakan baju berkabung,

Rencana ini boleh dibilang merupakan suatu perencanaan yang bagus, tapi juga sangat berani, yang dipermainkan adalah soal perselisihan waktu saja.

Dalam waktu yang relatip amat singkat itu Cu Siau-hong bukan cuma telah berganti rupa, pakaianpun telah ditukar.

Usul ini datang dari Pek Bwe, dia beranggapan dalam pengawasan musuh yang ketat, pihak lawan pasti mengetahui dengan jelas beberapa orang yang berhasil kabur dari Bu-khek-bun, jika Cu Siau-hong seorang yang tidak nampak, bukankah hal ini justru akan menanamkan rasa curiga dalam hati mereka?

Setelah Cu Siau-hong pulih kembali dalam wajah aslinya, ia seakan-akan berubah menjadi seseorang yang lain, tentu saja berbeda jauh sekali dari keadaan sewaktu menyaru tadi betul Ouyang Siong berpengalaman luas, toh ia terkecoh juga dibuatnya.

Dalam kenyataan, Ouyang Siong tidak memiliki waktu terlalu banyak untuk mengawasi mereka satu persatu. Begitu sampai ditempat, dengan suaranya yang tinggi melengking Pek Hong segera berteriak: "Ouyang Siong, kembalikan putraku!"

Ouyang Siong tertawa ewa.

"Tiong hujin" katanya "kau tak usah kuatir, putramu masih hidup segar bugar, dalam hal ini lohu berani menjamin."

"Sekarang dia berada dimana? Aku ingin menjumpainya!" seru Pek Hong lagi.

"Sulit kalau ingin menjumpainya, Cuma bukan berarti tiada kesempatan untuk itu, hal ini tergantung pada Tiong hujin sendiri, apakah bersedia untuk bekerja sama atau tidak?"

Pek Bwe kuatir Pek Hong terlalu dipengaruhi emosi, dia ingin mencegah tapi Pek Hong sudah berkata dengan dingin:

"Masalah tentang Bu-khek-bun sudah bukan ditanganku lagi, Leng kang telah mati, sesuai dengan pesannya kami telah mengangkat ciangbunjin baru, apalagi dia masih ada seorang sute, jangan lupa aku hanya seorang Tiong hujin, seorang perempuan biasa, kalau aku pribadi bisa menyelamatkan jiwa putraku, silahkan kau mengajukan syaratnya."

Ouyang Siong menjadi tertegun agaknya ia tak menyangka kalau musuh akan berkata demikian, setelah termenung sekian lama katanya kemudian:

"Dibawah panglima yang kosen tiada prajurit yang lemah, Hujin pandai amat cuci tangan dari persoalan ini, entah siapakah ciangbunjin kalian yang yang baru?" Pelan-pelan Tang Cuan maju kedepan selangkah, lalu menjawab: "Aku Cayhe Tang Cuan"

"Baik! Dapatkah kau berbicara mewakili Bu-khek-bun?" "Aku sebagai seorang ketua dari suatu perguruan, tentu

saja dapat berbicara mewakili perguruan Bu-khek-bun"

Boan ko hui hoa Kiau Hui nio segera tertawa terkekeh kekeh, ujarnya pula:

"Saudara cilik, kalau dilihat tampangmu mah memang mirip seorang ciangbunjin, Cuma kaupun harus teringat, yang dimaksudkan Bu-khek bun sekarang tak lebih cuma kalian beberapa orang, Pek Bwe tak terhitung dalam bilangan ini kalau Tiong hujin juga disingkirkan maka perguruanmu cuma terdiri dari tiga orang, kau sebagai ciangbunjin maka anak buahmu cuma dua gelintir  manusia"

"Selama anak murid Bu-khek-bun masih hidup didunia ini, satu hari pula perguruan kami tetap utuh" ujar Tang Cuan serius.

"Bagus!" kata Ouyang Siong sambil manggut-manggut, “Tiong Leng kang memang tak malu di sebut seorang ketua perguruan yang hebat, ternyata anak murid didiknya juga hebat-bebat semua”.

"Syarat apa yang hendak kau bicarakan dengan Bu-khek bun kami? Sekarang boleh kau ajukan"

“Lohu ingin bertanya lebih dulu, inginkah kau menolong Tiong It-ki. ?"

"Urusan tentang putraku, lebih baik dibicarakan langsung denganku, jangan menarik soal Bu-khek-bun" tukas Pek Hong. "Hujin" ujar Ouyang siong lagi, "kalau Tiong It-ki putra Tiong Leng kang, 'Ketua dari Bu-khek-bun, bayangkan sendiri mungkinkah kami masih mempertahankan jiwanya? Hmm... paling-paling seperti juga yang lain, mampus dalam perkampungan Ing-gwat-san-ceng.

"Kau. "

"Hong-ji!" Pek Bwe segera menukas, "kalau memang persoalan ini telah diserahkan kepada Tang ciangbunjin, lebih baik biarkan saja ia yang membicarakan"

Dalam pembicaraan tersebut sengaja ia tidak menyinggung-nyinggung tentang dirinya, dia kuatir Tang Cuan yang masih muda kena perangkap oleh kata-kata lawan.

Pelan-pelan Ouyang Siong mengalihkan kembali sorot matanya kewajah Tang Cuan, kemudian tegurnya: "Tang ciangbunjin, bagaimana pendapatmu"

"Dia adalah satu-satunya keturunan guru kami, kami setiap anggota Bu-khek-bun bertekad hendak menyelamatkan jiwanya"

"Kalau memang demikian, urusan bisa diselesaikan lebih mudah "

Setelah tertawa terbahak-bahak, katanya lebih jauh: "Bagaimana kalau sekarang kita membicarakan soal

syaratnya?"

"Ucapkan saja, kami akan menyanggupi atau tidak, aku orang she Tang akan memberi jawaban yang memuaskan"

Pek Bwe diam-diam berpikir.

"Kalau Cu Siau-hong hebat dalam hal kecerdasan otak, ketenangan menghadapi persoalan dan kemantapan dalam menghadapi  masalah,  sebaliknya  Tang  Cuan  diplomatis dalam pembicaraan dan pandai mempermainkan kata-kata, kalau begini semua anggota Bu-khek-bun, masa jaya perguruan tersebut tak lama lagi pasti datang"

Dalam pada itu, Ouyang Siong sedang manggut manggut, jelas diapun merasa kagum sekali atas kepandaian anak muda itu menduduki jabatannya sebagai seorang ciangbunjin.

Ia berpaling dan memandang sekejap kearah Ti Thian hua, kemudian katanya: "Ti sau heng, beritahu kepadanya bagaimana keadaan Tiong It-ki saat ini"

Ucapan tersebut ibaratnya melukis naga memberi mata, sebentar dia memperlihatkan kedudukan Ti Thian hua, sekarang diapun melimpahkan semua tanggung jawab dan kebencian orang diatas tubuhnya.

Betul juga, beberapa pasang mata yang penuh diliputi kesdihan dan rasa dendam itu segera dialihkan kewajah Ti Thian hua.

Terutama sekali Seng Tiong-gak, sinar matanya diliputi hawa napsu membunuh, agaknya ia telah bersiap-siap untuk turun tangan.

Ti Thian hua mendehem pelan, lalu katanya:

"Tiong It-ki bukan saja masih hidup segar bugar, ilmu silatnya juga sama sekali tidak mengalami kerugian, badan masih sehat, otakpun masih waras seperti sediakala. "

"Aku tidak percaya" seru Pek Hong.

"Kau harus mempercayainya, begitu syarat disetujui, mungkin kami akan menyerahkannya secara utuh kepadamu!"

"Baik, katakanlah!" kata Tang Cuan kemudian. "Padalah saudara Pek Bwe telah memberitahukan kepada kalian garis besarnya. " Mendadak ia tutup mulut.

"Kenapa tidak kau lanjutkan?" tegur Tang Cuan.

"Aku rasa, tempat dan saat ini kurang leluasa untuk membicarakan persoalan itu!"

“Ingin berganti tempat lain?"

“Itu mah tak perlu, lebih baik disaat kami membicarakan soal pertukaran syarat dengan Bu-khek-bun, orang orang Kay-pang jangan mencampuri masalah ini”.

Kontan raja Cian li to heng Tan Tiang kim tertawa dingin.

"Ouyang Siong!” serunya, “kau ingin mengusir aku si pengemis tua dari sini?"

'Kau toh bukan orang Bu-khek-bun, sudah sepantasnya kalau kau tidak mencampuri urusan ini"

“Kau tidak takut ucapan tersebut akan memancing datangnya geledek yang akan menyambar lidahmu? Semasa hidupnya Tiong ciangbunjin mempunyai hubungan yang akrab dengan Kay-pang. Hmm! terus terang kuberitahukan kepadamu, bukan cuma Kay-pang saja yang akan mencampuri persoalan ini, Pay-kaupun tak akan berpeluk tangan, diatas papan nama Bu-khek-bun tercantum pula nama Siau lim pay, Bu tong pay dan keluarga persilatan Tonghong, mereka semua tak akan berpeluk tangan belaka, kesulitan yang kalian buat hakekatnya terlampau besar”.

"Hey pengemis tua, kau tak usah mencoba menggertak kami dengan nama nama itu, kalau kami takut kesulitan, tak nanti berani mengundang kalian untuk bertemu, setelah kalian berani datang, tentu saja kami tak akan memikirkan persoalan ini didalam hati" "Baik!" kata Tan Tiang kim, “bila pembicaraanmu dengan Tang cinngbunjin telah selesai kita baru berbicara, jika ke tujuh jurus Siu hun jiu hoat mu itu tak sanggup menangkan aku si pengemis tua, harini jangan harap bisa meninggalkan kota Siang-yang dalam keadaan hidup"

"Sebentar, jika memang perlu kami pasti akan mencobanya"

Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Tang Cuan, ujarnya lebih jauh: "Bagaimana pendapatmu?"

"Tan maupun Hay dua orang tianglo adalah sobat karib mendiang guru kami, sudah sewajarnya kalau mereka turut campur di dalam masalah ini"

Ouyang Siong menjadi tertegun, katanya kemudian: "Bocah muda, jadi kau tak memperdulikan soal mati

hidup Tiong It-ki lagi?"

"Tentu saja mengurusi"

"Kalau kau masih memperdulikan lebih baik usir kedua orang pengemis tua itu dan Pek Bwe dari sini, tinggal kalian orang orang Bu-khek-bun saja yang melanjutkan pembicaraan"

"Tidak bisa!"

“Kalau begitu Tiong It-ki akan kami bunuh lebih dulu”, ancam Ouyang Siong.

Jawaban ini sungguh diluar dugaan mereka, untuk sesaat lamanya Tang Cuan menjadi tertegun. "Kau berani!?" teriaknya.

"Kenapa tidak berani?" Tang cuan menghembuskan napas panjang, setelah mengesampingkan beban berat yang menindih  perasaannya, dengan dingin ia berkata:

"Aku rasa kalian tak akan punya hak sebesar ini."

Cu Suai hong merasa gelisah pula, dengan ilmu menyampaikan suara ia memberitahukan cara untuk mengatasi persoalan itu, untung saja tepat pada saatnya Tang Cuan dapat mengesampingkan tindihan beban berat pada hatinya.

Paras Ouyang Siong berubah hebat, serunya dengan cepat:

"Dengar baik-baik, seorang manusia Cuma bisa mati sekali, bila lohu membunuh Tiong It-ki, berarti Tiong Leng kang akan kehilangan satu-satunya keturunan"

Tan Tiang kim tertawa dingin, serunya:

“Kecuali Tiong It-ki berada disini, kalau tidak maka kau harus memikirkan dulu cara yang baik untuk meninggalkan tempat ini”.

Bagaimanapun juga orang yang berpengalaman memangjauh berbeda, cukup dengan sepatah kata ia telah berhasil membongkar gertak sambal dari Ouyang Siong.

"Hey pengemis tua, apa kau bilang?" teriak Ouyang Siong sambil tertawa dingin.

“Aku pengemis tua berkata bahwa kau Ouyang Siong tidak lebih cuma kuku garuda atau kaki tangan seseorang belaka, kau masih belum memiliki kekuasaan untuk menghukum mati Tiong It-ki"

Ouyang Siong menjadi naik pitam, dengan gusar bentaknya:

"Pengemis busuk, kau berani menghina lohu?" Tan Tiang kim tertawa ewa.

"Ouyang Siong" katanya, 'apakah lantaran malu kau menjadi naik darah? Apakah aku si pengemis tua telah membongkar rahasia hatimu?"

Dalam waktu singkat, Ouyang Song telah pulih kembali dalam ketenangannya, sambil tertawa dingin ia berkata:

"Pengemis busuk, Tiong Leng kang telah mati, Tiong It ki merupakan satu satunya darah daging dirinya, cuma mati hidupnya masih ada sangkut pautnya dengan dirimu, tentu saja kau tak usah menguatirkan keselamatannya. "

Sekalipun perkataan itu disampaikan dengan halus dan lembut, tapi nadanya justru mengandung nada menghasut, mengadu domba:

Tiba-tiba Pek Hong menyela dan menukas pembicaraan Ouyang Siong itu, katanya:

"Tiong It-ki adalah anakku, sejak kematian Leng kang, akulah orang yang paling akrab hubungannya dengan dia "

"Itulah sebabnya, kami ingin sekali mendengarkan perkataan dari nona Pek Hong"

"Semasa masih hidupnya, Leng kang adalah seorang lelaki sejati, ketika mati diapun mati secara gagah perkasa, ilmu silat Khi cing bun dari pak-hay tersohor sebagai aliran ilmu silat yang ganas dan hebat, tapi setelah kena disergap, Leng kang masih mampu membunuh musuhnya. Hmm! Padahal kalian sudah lama ingin menyerbu Bu-khek-bun, cuma saja semasa Leng kang masih hidup kalian tak berani mendatanginya kalian selalu menunggu kesemparan baik untuk turun tangan, aku curiga semua persoalan ini adalah merupakan bagian dari rencana kalian, aku tidak percaya kalau didunia ini terdapat kejadian yang serba kebetulan, Leng kang belum lagi putus nyawa, Bu-khek-bun telah di serbu orang, mungkin sedari semula, kalian sudah  mengirim orang untuk mengikuti jalannya pertarungan itu."

Ouyang Siong segera tertawa terbahak-bahak, tukasnya: "Tiong   hujin   pandai   amat   kau   menciptakan variasi

peristiwa yang kau gabungkan menjadi satu cerita!"

'Selama beberapa hari ini aku selalu memikirkan persoalan ini, setelah kuhubungkan satu peristiwa dengan peristiwa yang lain, bukan suatu kesulitan bagiku untuk merangkainya menjadi suatu kisah cerita yang utuh"

"Hujin, yang terpenting saat ini adalah keselamatan jiwa putramu, bukan yang lain!" Ouyang Siong mengingatkan.

"Aku pasti akan memberitahukan kepadamu apa keputusanku, harap kau jangan gelisah lebih dulu" Setelah berhenti sejenak dia melanjutkan:

"Kalianpun telah mempersiapkan penghianat-penghianat di dalam tubuh Bu-khek-bun, kalian menunggu sampai Leng kang betul-betul terluka parah baru berani turun tangan. Terus terang meski Leng kang tidak berada dalam perkampungan, Bu-khek-bun juga masih memiliki daya tempur yang cukup kuat, apabila kalian tidak menyergap orang dengan cara yang rendah dan memalukan, tak nanti kalian berhasil membunuh jago-jago kami dalam waktu singkat. "

"Huuh, hanya mengandalkan beberapa orang murid ajaran Tiong Leng kang, tidak perlu buat kami untuk melancarkan sergapan terlebih dahulu" kata Ouyang Siong dingin.

"Kalau begitu kau sudah mengakui kalau kalian adalah pencoleng-pencoleng yang menyerbu Bu-khek-bun kami?" Ouyang Siong tertegun, kemudian tertawa terbahak bahak:

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... tidak kusangka Tiong hujin masih mempunyai cara berbicara yang begini diplomatis, padahal hujin tak usah menggunakan segala macam tipu muslihat untuk mengorek keterangan dari kami, beradanya Tiong It-ki ditangan kami, bukankah telah menerangkan segala-galanya"

“Baik, sekarang aku akan memberi jawaban kepadamu, ayah harimau tak akan beranak anjing, aku percaya It-ki tak akan tunduk dibawah paksaan kalian, aku menguatirkan keselamatan putraku tapi aku lebih berharap ia bisa hidup sebagai seorang lelaki sejati dan mati sebagai seorang kesatria, kalau seseorang pengecut dan takut mati, daripada dibiarkan hidup lebih baik mati saja, jangan lupa dia adalah putra Tiong Leng kang, aku pikir jawaban ini pasti memuaskan dirimu bukan!"

Paras muka Ouyang Siong berubah hebat serunya kemudian:

"Kalau begitu, pembicaraan kita tak perlu dilangsungkan bukan?"

"Masih perlu! Cuma pembicaraan itu harus adil dan bersungguh-sungguh. " Sahut Pek Hong dingin.

"Tiong hujin, kau harus memikirkan dulu keadaan sekarang, mana mungkin bisa mengajak kami untuk membicarakan persoalan ini secara adil"

"Kita boleh saja tak usah membicarakan persoalan ini, sekalipun Tiong It-ki mati dibunuh, dia juga bisa bertemu dengan ayahnya di alam baka, ia bisa memberitahukan kepada ayahnya, bahkan aku menantu dari keluarga Tiong tak sampai menjual muka keluarganya"  Tiba Tang Cuan maju dua langkah kedepan, sambil mengulapkan tangannya dia berkata:

"Ouyang Siong Suboku telah berbicara sejelas-jelasnya, mati hidup siau sute kami sangat menguatirkan, tapi kami tak sudi dipaksa untuk tunduk dibawah perintah kalian karena persoalan ini, ada satu hal aku kurang paham, kenapa dalam waktu singkat kalian berhasil memusnahkan seluruh perguruan Bu-khek-bun?"

"Dalam perguruan Bu-khek-bun, kecuali Tiong Leng kang seorang yang memiliki sedikit kepandaian, yang lain semuanya tak lebih hanya manusia-manusia yang tak tahan diserang satu juruspun"

"Sewaktu melakukan penyerbuan ke perguruan Bu-khek bun malam itu, apakah kau juga ikut hadir?"

"Apa maksudmu bertanya demikian?" Seru Oyang Siong. "Aku hanya ingin membuktikan sesuatu"

"Membuktikan apa?"

"Aku ingin membuktikan dengan cara apakah kalian telah memusnahkan perguruan Bu-khek-bun"

Ouyang Siong segera mendengus dingin.

"Hmmm! Apakah kau ingin bertarung melawan lohu?" "Betul!" jawab Tang Cuan sambil menghembuskan napas

panjang, aku selalu tidak percaya kalau kalian sanggup membunuh anak murid Bu-khek-bun dengan mengandalkan ilmu silat sesungguhnya?"

Ouyang Siong segera tertawa.

"Dengan sedikit kepandaianmu itu, kau juga berani menantang lohu untuk berduel"

Tiba-tiba Tan Tiang kim menyela: "Tang ciangbunjin, lebih baik pertarungan babak  pertama ini serahkan saja kepada aku si pengemis tua! Kay pang sudah banyak menerima budi dari perguruan anda, sampai sekarang budi tersebut belum sempat kami balas, inilah kesempatan yang baik buat aku si pengemis tua untuk menyumbangkan sedikit tenaga"

-oOo>d’w<oOo-

BELUM lagi Ouyang Siong sempat berbicara, Tang Cuan telah men ukas dengan cepat: "Tan cianpwe, tolong berilah kesempatan ini kepada boanpwe"

Tan Tiang kim berpaling dan memandang sekejap ke arah Pek Bwe, lalu serunya: "Pek heng, Tang ciangbunjin...!"

"Saudara Tan, biarkan anak anak muda itu mencoba kepandaiannya" tukas Pek Bwe cepat, “sekalipun kalah juga bukan terhitung suatu kejadian yang memalukan, apalagi kita berdiri disampingnya, tak mungkin dia akan terluka..”

"Kalau memang Pek heng berkata demikian aku si pengemis tua akan menurut perintah."

Tang-Cuan segera menggerakkan pergelangan tangan kanannya, dia meloloskan pedang Cing peng kiam itu dari sarungnya.

"Ouyang Siong, kau boleh meloloskan senjatamu!" katanya.

Tang Cuan menggelengkan kepalanya berulang kali. “Aku  adalah  murid  pertama  dari  Bu-khek-bun,  mana

boleh melarikan diri setelah dimedan laga?. Susiok, penuhi

harapanku ini! Kalau aku tak sanggup lagi nanti, susiok boleh menggantikan kedudukanku?. "Yaa, bagaimanapun Pek Bwe, Tan Tiang kim sekalian melindunginya dari sisi arena tak mungkin dia sampai terluka parah" pikir Seng-Tiong-gak kemudian.

Karena berpikir demikian, diapun tidak memaksa lebih jauh.

Ouyang Siong merasa serba susah, sekalipun kedudukan Tang Cuan dalam perguruan Bu-khek-bun adalah seorang ketua, tapi dalam dunia persilatan ia masih belum punya nama maupun kedudukan, sedikitpun menangkan pertarungan ini dia tak bakal gagah, kalau sampai kalah jelas nama dan kedudukannya akan terpengaruh, sekalipun berakhir seri misalnya, dia juga akan turun gengsi.

Sementara ia masih serba salah, tiba tiba Ti Thian hua melayang datang dari sisi tubuhnya, sambil menggoyang goyangkan kipasnya yang satu jengkal delapan inci itu, katanya:

"Tang Cuan, kau masih belum pantas untuk bertarung melawan Ouyang cianpwe, biar cayhe saja yang menemanimu ber-main beberapa gebrakan"

"Apa kedudukanmu?" tegur Tang Cuan dingin. "Persoalan  ini  menyangkut  soal  mati  hidup"  tukas  Ti

Thian hua, “kita harus menentukan menang kalah dari ilmu

silat dan mati hidup diujung senjata, jangan kata jabatan ciangbunjinmu itu, terus terang saja, seluruh Bu-khek-bun masih belum berada dalam pandanganku."

"Sombong amat kau!"

"Aaah, sama-sama, sama-sama"

Kipasnya segera digerakkan menotok dada Tang Cuan Tang Cuan mendengus dingin, pedang Cing peng kiam

nya, diangkat dan menangkis datangnya serangan kipas itu. Siau-hong ingin turun tangan, tapi ia segera dihalangi oleh Pek Bwe.

Sebagai seorang pemuda yang pintar, dengan cepat dapat dipahami olehnya akan maksud hati Pek Bwe, ia kuatir jika sampai dirinya turun tangan Ouyang Siong akan menaruh perhatian kepadanya. jika ia sampai menemukan sesuatu darinya, bisa mengakibatkan terpengaruhnya semua rencana yang telah disusun.

Dalam pada itu, pertarungan yang berlangsung telah meningkat dalam keadaan yang amat seru.

Kipas Ti Thian hua sebentar terbentang sebentar mengatup, sebentar menotok sebentar menebas, semua perubahannya aneh dan diluar dugaan, ditambah pula permukaan kipas yang lebar satu permukaan berwarna putih salju, permukaan lain berwarna merah darah.

Yang merah menyolok mata, yang putih menyilaukan mata, akibatnya sinar sinar pantulan itu menciptakan suatu pengaruh yang luar biasa bagi gerakan lawan.

Akibatnya, dalam waktu singkat Tang Cuan terdesak mundur sejauh tiga langkah lebih, hampir saja ia terluka diujung kipas lawan.

Pek Hong yang menyaksikan peristiwa itu merasakan jantungnya berdebar keras, sedangkan Seng Tiong-gak mulai meraba gagang pedangnya.

Tang Cuan adalah seorang ciangbunjin dari perguruan Bu-khek-bun, jika sekali bertarung dia sudah dikalahkan orang, terhadap Bu-khek-bun peristiwa ini merupakan suatu penghinaan yang sangat besar.

Tapi bagaimanapun juga dia adalah murid utama hasil didikan Tiong Leng-kang, sekalipun untuk sesaat ia dibikin bingung  oleh  perubahan-perubahan  jurus  aneh  dari kipas Siu-lo-san, namun kejadian itu tidak membuatnya menjadi gugup, setelah mundur sejauh tiga langkah, pedang Cing Peng-kiam itu segera melakukan perubahan yang sangat cepat

Tampak cahaya tajam berkilauan, dalam sekejap mata sudah tercipta selapis daya pertahanan yang kuat, posisi yang semula terdesakpun lambat laun bisa teratasi.

Cu Siau-hong adalah seorang masusia berbakat bagus, ia bisa dalam ilmu sastra, pandai pula dalam ilmu silat, sebaliknya Tang Cuan adalah seorang jago yang bersifat ulet dan tangguh, setiap jurus setiap gerakan dari Ilmu pedang Cing peng kiam tersebut boleh dibilang telah dikuasahi sepenuhnya.

Berbicara dalam soal ilmu pedang Cing-peng kiam saja, Cu Siau-hong masih kalah tiga bagian bila dibandingkan dengan ciangbun suhengnya...

Jurus pedang yang mantap, gerakan tangan yang sederhana, tapi justru dari setiap gerakan dan jurus  serangan tersebut terpancarkan suatu kekuatan serta daya penghancur yang luar biasa.

Sepuluh gobrakan kemudian, Tang Cuan telah berhasil menguasai kembali posisinya yang semula runyam. Jurus silat dari Ti Thian hua justru jauh berbeda dari pada Tang Cuan.

Terlihatlah jurus-jurus serangan kipasnya aneh sekali, sebentar berwarna merah sebentar putih, sebentar menebas sebentar membacok, ternyata sebuah senjata kipas daPat dipakai sebagai pedang, pit dan lain sebagainya dalam genggamannya, ia boleh dibilang lihay dan hebat sekali.

Pertarungan ini menarik ditonton. tapi justru merupakan suatu pertarungan sengit yang mendebarkan sukma. Disatu pihak serangan-serangan nya gencar dengan aneka kombinasi yang menyesatkan pikiran.

Dipihak lain serangan-serangannya datar, sederhana,  tapi mantap dengan kekuatan yang meyakinkan, pertahanannya ibarat sekokoh batu karang.

Baik pihak musuh maupun pihak kawan yang mengikuti jalannya pertarungan itu, diam-diam merasa hatinya bergetar keras.

Dengan suara berbisik Tan Tiang kim berkata:

"Saudara Pek, murid ahli waris dari Tiong buncu ini betul-betul hebat, permainan ilmu pedang Cing peng kiamnya begitu hidup seakan-akan Tiong buncu sendiri yang melakukan permainan itu, hebat sungguh hebat sekali!"

Pek Bwe sendiripun merasa agak tenang. dia tidak mengira kalau keberhasilan Tang Cuan sudah mencapai tingkatan sejauh itu, sambil tertawa katanya:

"Tan heng terlalu memuji, ilmu pedang bocah ini memang telah memperoleh seluruh inti kekuatan dari Leng kang cuma sayang pengalamannya dalam menghadapi musuh masih cetek, sehingga waktu pertarungan untuk yang pertama kalinya hampir saja ia terluka oleh kipas siu lo-san lawan"

"Permainan kipas siu lo san dari bocah she-Ti itu lumayan juga" ujar Tan Tiang kim lagi, “sekalipun aku turun tangan sendiri, belum tentu ia bisa kukuasahi, hebat benar bocah muda itu, entah ia berasal dari perguruan mana?"

"Dalam dunia persilatan dewasa ini hanya Pat pi sin mo (iblis sakti berlengan delapan) seorang yang mempergunakan kipas siu lo san, tapi sudah hampir tiga puluh tahun ia mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan"

"Aku rasa dia tidak mirip dengan ahli waris Pat pit sin mo, pada tiga puluh tahun berselang aku pernah bertarung dengan Pat pi sin mo, setelah bertarung sengit selama seharian penuh pada jurus yang kedua ribu aku baru berhasil mengalahkan dirinya, itulah sebabnya kesanku atas ilmu kipas iblis tersebut sangat dalam, kalau berbicara dari perubahan ilmu kipas dari bocah muda ini, kelincahannya seperti jauh melebihi iblis tua itu"

"Didalam kipas Siau lo san milik pat pi-sin mo disembunyikan sembilan batang tulang kipas yang amat tajam, bila sedang bertarung, bisa dipakai untuk melukai orang, aku lihat bocah ini terlalu licik dan berbahaya siapa tahu dibalik kipasnya masih ada permainan lain, kita harus memperingatkan Tang cianbunjin agar waspada" bisik Hay Yok-wong pula dengan lirih.

Pek Bwe manggut manggut.

"Betul! Tang Cuan terlalu jujur dan polos, ia tak pernah berpikiran curang, ia pasti tak akan menduga atas kelicikan orang orang dunia persilatan "

Berbicara sampai sini, dengan suara yang keras dia lantas berseru:

"Tang Cuan, hati hati, kemungkinan besar dibalik kipas lawan tersembunyi tulang-tulang kipas yang bisa disambit keluar"

Dalam pada itu daya kekuatan dari ilmu pedang Cing peng-kiam yang dimainkan Tang Cuan kian lama kian bertambah tangguh. Lamat-lamat ia sudah mulai melepaskan posisi bertahan, untuk mengembangkan jurus-jurus serangan. Mendengar seruan itu dia lantas menjawab:

"Terima kasih banyak atas peringatan dari cianpwe, tecu pasti akan berhati-hati"

Sementara dipihak sini berbisik-bisik. Dipihak lain Ouyang Siong juga sedang berbisik-bisik dengan Lu peng, katanya.

“Saudara Lu, ilmu pedang bocah ini lumayan juga, tampaknya kesempatan bagi Ti sau heng untuk meraih kemenangan tipis sekali”.

"Sungguh diluar dugaan, ternyata ilmu pedang yang dimiliki Tiong Leng kang semasa hidupnya cuma begini saja!" kata Lu peng.

Boan ko hui hoa berbisik pula:

"Tampaknya kita memang sudah terlalu memandang rendah perguruan Bu khek-bun"

"Sebelum meninggal, Tiong Leng kang menyerahkan jabatan ciangbunjin itu kepadanya, itu berarti bocah ini adalah jago yang paling lihay dalam perguruan Bu khek bun sekarang”.

"Konon masih ada seorang she Cu yang katanya hebat juga" Kiau Hui nio menambahkan. "Aaah, sekalipun lumayan, paling-paling juga tak akan lebih hebat dari bocah she Tang itu" jengek Lu Pek sin is.

"Kelihayan ilmu silat Ti Thian hua pun jauh diluar dugaa ku" sambung Ouyang Siong.

"Saudara Ouyang", kata Kiau Hui nio, "menurut pendapatmu, siapa yang bakal menangkan pertarungan ini?" "Kecuali Ti Thian hua masih memiliki jurus tangguh, rasanya kesempatan baginya untuk meraih kemenangan sudah tidak terlalu besar lagi."

"Lantas apa yang harus kita lakukan?" bisik Kiau Hui nio sambil merendahkan suaranya.

"Ti Thian hua telah membendung Tang Cuan, aku percaya masih sanggup menghadapi Tan Tiang kim, Lo Lu menghadapi Hay Yok wong dan kau.... Sanggup tidak menghadapi Pek Bwe?"

"Untuk menghadapi Pek Bwe mah aku tidak yakin, tapi untuk menghadapi Pek Hong, aku yakin masih mampu untuk memakannya"

"Kalau kau yakin bisa mencaplok Pek Hong, entar tantang saja diri Pek Hong, bagaimanapun kau toh harus menghadapi seseorang lawan!"

"Urusanku tak perlu kau kuatirkan, tapi kekuatan lawan tampaknya kuat sekali, kita sepertinya sudah kalah  setingkat dari mereka”.

Ouyang Siong tertawa hambar.

"Sekalipun kita tak bisa menangkan mereka, kita toh masih mampu untuk angkat kaki"

Sementara itu pertarungan antara Ti Thian hua melawan Tang Cuan makin lama berkobar semakin menegangkan.

Sekarang Tang Cuan tidak melulu bertahan belaka, pedang Cing peng kiamnya sudah mulai melakukan serangan serangan yang gencar disamping pertahanan yang tangguh.

Serangan-serangan kipas sin lo san dari Ti Thian hua pun tidak   mengendor   lantaran   serangan   balasan   dari Tang Cuan, jadinya kedua belah pihak saling menyerang dan saling menyerobot dengan gencarnya.

Tapi berbicara soal keadaan posisi, Tang Cuan telah berhasil mengokohkan pertahanannya, sekalipun belum bisa dikatakan dari kalah menjadi menang, tapi untuk bertahan dalam posisi sekarangpun sudah lebih dari cukup.

Ketika Tan Tiang kim menyaksikan Tang Cuan bukan saja berhasil memperbaiki posisinya dari keadaan terdesak menjadi keadaan seimbang, bahkan lamalama kekuatan daya serangannya makin menghebat, diam-diam timbul juga rasa kagumnya terhadap kebolehan pemuda itu.

Setelah hatinya menjadi lega, diapun mengalihkan sorot matanya ke wajah Ouyang Siong sambil berkata dengan nada dingin:

"Ouyang Siong, sudah lama aku dengar orang bilang bahwa tujuh jurus ilmu Siau hun jiu hoat mu luar biasa ganasnya dan belum pernah menjumpai tandingan, hari ini aku si pengemis tua ingin menjajalnya, apakah kau bersedia memberi petunjuk?"

'Dalam Kay-pang tiang-lo, Cian li to heng menempati urutan ke dua, sudah lama siaute pun mengagumi nama besarmu'"

"Bagus sekali, kalau begitu hari ini kita masing-masing bisa memenuhi harapan hati"

Dengan suatu kecepatan kilat ia menerjang kesisi Ouyang Siong, kemudian telapak tangannya di ayun ke muka melepaskan sebuah serangan gencar.

Dibalik serangan itu terbawalah segulung tenaga serangan yang sangat kuat dan tajam. "Suatu serangan yang bagus!" puji Ouyang siong, Telapak tangan kanannya segera diayunkan ke muka menyambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.

'Blaam !" ditengah benturan keras yang memekikkan telinga, masing-masing pihak terdorong mundur selangkah.

Tidak menunggu Ouyang Siong melepaskan serangan balasan, Tan Tiang kim segera mendorong kembali sepasang telapak tangannya melepaskan tiga buah serangan berantai.

Dengan ujung baju berkibar terhembus angin secara manis Ouyang Siong melepaskan diri dari ketiga buah serangan itu.

Pada saat itulah Hay Yok wong maju dua langkah ke depan sambil berseru.

"Orang she Lu, kita tak usah menonton terus, bagaimana kalau kau temaniku untuk bermain be berapa gebrakan?"

"Tentu saja akan kutemani kau dengan senang hati!"jawab Lu Peng sambil mengelus jenggot kambingnya.. "Weess !" sebuah pukulan gencar dilontarkan kemuka.

Dua orang jago itu segera terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru.

Boan ko hui hoa Kiau Hui nio tertawa tertekeh-kekeh katanya:

"Tiong hujin konon ilmu silatmu mendapat warisan dari ayahmu, kemudian peroleh pula ajaran dari Tiong Leng kang, sudah pasti kehebatanmu luar biasa, siau moay tak becus, ingin sekali mohon beberapa petunjuk darimu"

"Kiau Hui nio!", kata Pek Hong dingin, “konon kau berjulukan   Boan   ko   hui   hoa,   ilmu   menjilat pantatmu hebatnya tiada tandingan, hari ini mataku baru betul-betul melek"

"Oooh itu mah belum hebat, kalau buka mulut bisa membunuh orang, itu baru luar biasa namanya.."

"Sayang. aku tidak doyan dengan permainan semacam itu, manusia munafik lain dimuka lain dihati, mungkin manusia semacam kau itulah yang dimaksudkan"

Kiau Hui nio segera tertawa terkekeh-kekeh. "Tiong hujin, kenapa tidak kau coba sendiri, lihatlah apakah aku Kiau Hui nio benar-benar cuma lihay dalam kepandaian mulut belaka"

Pelan pelan Pek Hong maju kedepan, sambil menghampiri lawannya dia bcrseru: "Aku memang ingin mencoba kelihayanmu itu!"

Kiau Hui-nio enggan didahului Pek Hong dia segera turun tangan, sebuah totokan di lancarkan secepat kilat.

Pek Hong betul-betul sudah menguasahi delapan sembilan puluh persen kepandaian dari Pek Bwe, setelah menikah dengan Ti-ong Leng kang, iapun melatih secara tekun ilmu pedang Bu-khek-bun, itulah sebabnya kehebatannya ada diujung pedang.

Tapi sekarang Kiau Hui nio tidak meloloskan pedang, terpaksa dia harus layani serangan orang dengan tangan kosong.

Meskipun pertarungan dilangsungkan denrgan tangan kosong, namun jari tangan dan kepalan saling menyambar, pertarungan ini betul-betul dilangsungkan amat seru.

Dengan terjunnya empat orang jago ini, sekarang tinggal Pek Bwe Seng Tiong-gak dan Cu Siau-hong tiga orang yang belum dapat pasangan. Pek Bwe sadar, kecuali Ouyang Siong, disekeliling gedung itu masih tersembunyi banyak jago, tapi oleh karena pihak lawan tak mau menampakkan diri, otomatis merekapun tak bisa berbuat apa-apa.

Dengan demikian dari empat rombongan yang sedang bertarung, tiga rombongan bertarung dengan tangan kosong.

Hanya Ti Thian hua serta Tang Cuan yang bertarung dengan mempergunakan senjata tajam.

Tapi kesemua pertarungan dengan tangan kosong sama sekali tidak dibawah pertarungan dengan senjata, pertarungan pertarungan itu dilangsungkan dalam jarak dekat, semua pukulan dan totokan tertuju pada bagian bagian mematikan ditubuh lawan.

Dalam waktu singkat seratus jurus telah lewat, namun keadaan masih tetap seimbang Kiau Hui nio memang bukan cuma hebat dalam bibir saja, kepandaian silatnya ternyata hebat sekali.

Meski demikian, ia masih merasa telah salah memilih pasangan, kenyataan menunjukkan bahwa ilmu silat Pek Hong amat luas dengan perubahan yang tak terhitung jumlahnya, ia benar-benar telah menguasahi ilmu silat dari dua keluarga.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 12"

Post a Comment

close