Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 10

Mode Malam
"Percayalah Ciu lote, walaupun cara ini kurang begitu baik, tapi kecuali cara tersebut, agaknya kau sudah tidak memiliki pilihan lain" Ciu Kim im segera menghela napas panjang.

"Aaai... Pek-ya, seandainya aku sampai ketimpa musibah dan tidak beruntung, anak biniku juga mengalami nasib yang sama, aku hanya berharap agar Pek-ya bersedia membelikan sebuah peti mati untuknya, jangan biarkan ia seorang perempuan harus mati tanpa tempat kubur"

"Lote, unjukkan kepala juga sekali bacokan, menarik diri juga sekali bacokan, perbesar nyalimu, kesempatan kita untuk berhasil paling tidak masih ada lima puluh persen"

Ciu Kim-im tidak berbicara lagi, ia membawa Pek Bwe menuju ke depan sebuah gedung besar.

Gedung itu terletak dalam sebuah gang yang terpencil dan amat sepi, tidak banyak orang yang berlalu lalang disitu.

Pintu gerbang yang terbuat dari kayu tertutup rapat rapat.

Pek Bwe segera melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Ciu Kim-im, katanya kemudian: "Lote sekarang kau harus berbalik mencengkeram urat nadi pada pergelangan tanganku"'

Dengan cepat Ciu Kim im mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan Pek Bwe dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya segera mengetuk pintu.

Ketukan itu dilakukan tiga kali cepat dua kali pelan, pintu kayupun segera terpentang lebar.

Pek Bwe mencoba untuk memperhatikan sekeliling tempat itu, terasa suasana disitu amat sepi, tak seorang manusiapun yang tampak.

Letika Ciu Kim im melangkah masuk kedalam halaman, tiba tiba pintu itu menutup kembali secara otomatis. Pek Bwe adalah seorang yang berpengalaman, ia cukup dapat menguasahi diri, berpaling sekejap pun tidak Ciu Kim im tidak langsung memasuki ruangan itu sebaliknya hanya berdiri ditengah halaman, serunya dengan lantang.

“Sungguh beruntung aku tak sampai melalaikan tugas, Pek Bwe telah berhasil kubawa kemari”. Tempat itu adalah sebuah halaman yang empat penjuru yang merupakan bangunan rumah.

Tapi anehnya, ternyata setiap bangunan rumah yang berada disana dalam keadaan tertutup rapat, sehingga tidak diketahui bagaimanakah keadaan dalam ruangan tersebut.

Dari ruangan sebelah tengah berkumandang suara teguran yang amat dingin: "Bagaimana dengan kedua biji pil itu?"

"Telah ia telan!"jawab Ciu Kim im.

Suara yang dingin menyeramkan itu segera berkumandang kembali:

"Pek Bwe, dengarkan baik baik, setelah menelan pil tersebut lebih baik jangan mencoba untuk menggunakan tenaga dalam, sekarang kau sama sekali sudah tidak memiliki tenaga untuk melakukan perlawanan lagi, aku ingin membicarakan satu hal denganmu"'

"Dalam surat tersebut kau telah menulis segala sesuatunya dengan jelas, aku harap kalian dapat memenuhi janji tersebut dan membiarkan aktu bertemu muka dengan Tiong It-ki"

Orang yang berada dalam ruangan itu segera tertawa terkekeh kekeh.

"Heehh heehh ....Heehh... Pek Bwe, bagaimanapun juga separuh waktu hidupmu telah kau gunakan untuk melakukan perjalanan didalam dunia persilatan, masakah kau masih belum tahu akan kelicikan dan bahayanya dunia persilatan? Kalau janji dari seorang sahabat, mungkin masih dapat dipercaya, tapi kita bukan teman, kita adalah musuh yang saling bertentangan, menggunakan tentara lebih baik menggunakan siasat, makin licik siasat makin baik"

“Kenapa? Kau hendak membatalkan janji yang telah disetujui bersama itu?” tegur Pek Bwe.

Orang yang berada dalam ruangan itu segera tertawa dingin.

"Ciu Kim im!" teriaknya, "benarkah kau telah memberikan pil beracun itu kepadanya?"

"Dia sendiri yang bersedia menelan pil itu seusai membaca isi surat tersebut"

"Oh kalau begitu coba angkat tanganmu yang mencengkeram pada urat nadi pada pergelangan tangan Pek Bwe itu!"

Ciu Kim-im menurut dan segera mengangkat tangannya.

Betul juga kelima jari tangan kanan Ciu Kim-im telah mencengkeram pada urat nadi penting diatas pergelangan tangan kanan Pek Bwe.

Melihat itu, orang yang berada dalam ruangan gedung segera tertawa, serunya:

"Pek Bwe dengan pengalamanmu sebagai seorang jago kawakan, mengapa kau rela menerima ancaman dari oraog she Ciu itu, serta mandah di atur segala sesuatu olehnya?"

"Siapapun jangan harap bisa mengancam diriku, aku tak lebih hanya ingin menengok cucu luarku!" Setetah menghela napas panjang, katanya kembali: "Sobat apa yang kalian perintahkan telah kulaksanakan satu per satu, aku berharap kaupun bisa memegang janji dengan membawa aku untuk bertemu dengan It-ki"

Orang yang berada dalam ruangan itu tidak menggubris perkataan dari Pek Bwe lagi, sebaliknya dengan suara dalam ia berseru:

"Orang she Ciu, kau benar benar masih ingin bertemu dengan anak binimu?."

Ciu Kim im merasakan hatinya bergetar keras, cepat cepat sahutnya:

"Aku rela menyerempet bahaya demi kalian, tentu saja aku berharap anak biniku bisa hidup dengan selamat."

"Kalau begitu perundingan diantara kita bisa dilangsungkan lebih lancar lagi. serahkan saja tanggungjawab soal anak binimu itu kepada kami, mereka pasti akan kami hantar pulang kedesa kelahirannya. Cuma, terpaksa kami harus merepotkan sahabat Ciu"

"apa lagi yang harus kulakukan?" tanya Ciu Kim-im cepat.

"Mati! Kami, tak ingin membiarkan siapapun untuk melacaki jejak kami"

Sebenarnya Ciu Kim-im telah bersungguh-sungguh mencengkeram urat nadi Pek Bwe, demi menyelamatkan jiwa anak bininya, ia telah bersiap siap untuk menghianati Pek Bwe, bila mana perlu dia akan menceritakan keadaan yang sebenarnya kemudian mencengkeram nadi Pek Bwe sehingga jago tua itu benar benar tak sanggup memberikan perlawanan.

Tapi sekarang, pelan pelan Ciu Kim im telah mengendorkan   kelima   jari   tangannya   dan   melepaskan cengkeramannya pada urat nadi pada pergelangan tangan lawan.

Diam diarn Pek Bwe menghembuskan napas panjang, hawa murninya segera dihimpun menjadi satu untuk bersiap siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak di inginkan.

"Ciu Kim im, apakah kau tidak bersedia untuk mati?" tegur orang yang berada dalam ruangan itu, dengan suara dingin.

"Meskipun aku pernah belajar silat, tapi ilmu silat kupakai untuk menyehatkan badan saja, aku tak ingin mati. aku lebih lebih tak ingin menyaksikan anak biniku menderita, kami bukan orang persilatan, harapan kami hanya bisa pulang ke tempat kelahiran dan hidup bercocok tanam disana."

"Ciu Kim im, bukalah sedikit pikiranmu" ujar orang dalam ruangan itu, ada sementara persoalan yang sesungguhnya sudah tak bisa kau putuskan sendiri"

Pek Bwe yang mengikuti jalannya pembicaraan tersebut segera menghela napas panjang, katanya:

"Sahabar Ciu, agaknya bukan aku saja yang telah tertipu, kaupun ikut ditipu pula oleh mereka. Mereka bukan anggota perkumpulan resmi dari dunia persilatan, melainkan anggota perampok dari suatu organisasi rahasia yang bermain sembunyi, sekalipun kau bersedia untuk mati bagi mereka belum tentu anak binimu bisa selamat, mereka sudah berbicara cukup jelas, tak seorang saksipun akan dibiarkan hidup. Mereka hendak membabat rumput sampai keakar-akarnya.”

Ciu Kim im merasakan hatinya bergetar keras, serunya dengan cepat. "Benarkah apa yang diucapkan oleh Pek-ya ini?"

Ia telah bertekad untuk bekerja sama dengan Pek Bwe, bekerja sama secara baik baik. Tampaknya oraag yang berada dalam ruangan itu belum curiga, ia tertawa terbahak bahak.

"Haaahhhh....haahh...haaahhh jangan kau percaya dengan kata katanya yang bersifat mengadu domba itu Kemungkinan besar mereka telah mencelakai anak binimu” sambung Pek Bwe dengan suara lantang.

"Omong kosong!" tukas orang itu, “mengapa kami harus mencelakai jiwa kaum wanita dan kanak kanak?"

“Sahabat Ciu, kalau kau masih belum percaya dengan perkataan lohu, kenapa tidak minta kepada mereka untuk berjumpa sejenak dengan anak binimu?” seru Pek Bwe lagi.

Setelah berhenti sejenak, dengan ilmu menyampaikan suara dia melanjutkan.

"Lote, sekarang kau harus percaya kepada lohu, lakukanlah tugasmu seperti apa yang telah kita rencanakan!"

Ciu Kim-im menghembuskan napas panjang katanya kemudian:

'Kita tak pernah bermusuhan, kalian pun sudah menyuruh aku melakukan banyak pekerjaan, bila anak biniku kalian bunuh pula, maka kalian betul-betul tak punya liang sim"

Orang yang berada dalam ruangan itu segera tertawa dingin.

'Orang she Ciu, sekarang baru memahami akan hal itu, tidakkah kau merasa terlalu lambat?" Mendadak cahaya tajam bcrkelebat lewat, dengan sempoyongan Ciu Kim im mundur ke belakang dan melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Pek Bwe.

Perbuatan keji yang dilakukan musuh sungguh luar biasa kejam dan jahatnya, sehingga Pek Bwe sendiripun merasa sedikit diluar dugaan, dengan hati terkesiap ia mempertinggi kewaspadaannya terhadap mereka.

Ketika berpaling, tampaklah sebilah pisau terbang telah menancap dipunggung Ciu Kim im.

Agaknya diujung pisau terbang tersebut telah dipolesi dengan sejenis racun yang sangat jahat. Ciu Kim im menekan punggungnya dengan tangan kanan menahan rasa sakit yang luar biasa, dia hanya sempat mengucapkan sepatah kata:

"Kalian....kalian sungguh kejam. "

Belum habis perkataan itu, tubuhnya sudah roboh terkapar ke atas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Pek Bwe sendiri sedang menggerak gerak kan tangannya berlagak seakan akan jalan darahnya baru saja terbebaskan, pelan pelan dia berkata dengan lirih.

"Kematian orang ini betul betul penasaran. "

Dari balik ruangan berkumandang suara gelak tertawa nyaring.

"Haaahhh....haaahh....haaahhh, sungguh tak kusangka Toheng siu yang amat tersohor itu, ternyata adalah seorang manusia yang berhati baik"

"Lohu hanya menyayangkan kematiannya saja" "Manusia semacam ini sesungghnya tak perlu dikasihani,

seperti apa yang telah dia ucapkan, antara dia dengan kau sesungguhnya tidak saling mengenal, tapi ia bersedia mencelakaimu..."

"Itulah dikarenakan paksaan dari kalian" kata Pek Bwe cepat.

"Betul, kami yang telah memaksanya, Cuma, jika dia adalah seorang Kuncu yang sejati, tidak seharusnya ia menerima gertakanku serta melaksanakan apa yang telah kuperintahkan"

Pek Bwe menghela napas panjang.

"Aaai...! Benar juga perkatannmu, orang ini memang terlalu mementingkan diri sendiri"

"Jikalau kau memang merasa bahwa tindakanmu ini tidak terhitung salah sekarang, semestinya kita harus mulai membicarakan persoalan yang penting"

"Katakanlah, lohu akan mendengarkannya dengan penuh perhatian"

"Pek loji, tahukah kau apa maksud kami mengundangmu datang kemari?" tanya orang dalam ruangan itu.

"Aku bersedia menelan racun, bersedia menuruti perintah orang untuk datang kemari, semuanya ini tak lain hanya ingin menjenguk cucu luarku itu."

"Itu kan menurut jalan pemikiran Pek loji, sedang jalan pemikiran kami adalah sama sekali berbeda."

"Apakah kau sengaja mengatur siasat buruk itu hanya untuk membohongi diriku saja

"Oooh...begitu sih tidak Tiong It-ki memang betul betul sudah terjatuh ketangan kami bahkan aku bisa memberi kabar kepada Pek loji, bahwasanya dia masih hidup segar bugar sama sekali tidak mengalami cedera apapun" 'Bagus sekali kalau memang bcgitu, entah apa yang musti lohu lakukan agar bisa bertemu muka dengannya?"

"Kau boleh bertemu dengannya. tapi bukan sekarang, karena ia sama sekali tidak berada dikota Siang yang ini"

'Jadi kalau begitu, permainan busuk kalian ini tak lebih hanya suatu tipuan belaka?"

"Tipuan juga bukan, karena Tiong It-ki betul betul  berada ditangan kami, asal Pek ya bersedia untuk bekerja sama dengan kami pokoknya kau pasti masih mempunyai kesempatan untuk bertemu muka dengan cucu luarmu itu".

"Oooh !"

"Pek ya, kau harus mengerti, sekarang kau sudah tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan perlawanan lagi" kata orang dalam rumah memberi peringatan.

"Oleh karena itu, aku sudah sepantasnya mendengarkan semua perintah yang kalian ucapkan?'

"Rasa rasanya kau memang hanya mempunyai sebuah jalan ini saja untuk ditempuh" jawab orang itu dingin.

"Baiklah! Aku pikir, sekarang aku sudah tak memiliki kemungkinan untuk meloloskan diri lagi"

'Pek ya, sudah lama melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, lebih banyak urusan dunia persilatan yang dapat kau pahami, aku rasa tak perlu banyak penjelasan dari diriku lagi, silahkan masuk kedalam ruangan untuk duduk!"

Pintu kayu didepan ruangan tengah tersebut mendadak terbuka dengan sendirinya,

Pek Bwe mencoba untuk menengok ke dalam, namun suasana dalam ruangan itu sunyi senyap tak nampak sesosok bayangan manusiapun. Biar memasuki ruangan itu ibaratnya masuk ke sarang naga gua harimau, Pek Bwe telah bertekad untuk mencobanya juga, sebab dia bertekad hendak membuat jelas semua duduknya persoalan.

Sambil diam diam menghimpun tenaga dalamnya untuk bersiap sedia mengahdapi segala kemungkinan yang tidak dinginkan, selangkah demi selangkah ia berjalan masuk kedalam ruangan.

"Lohu sudah hidup sekian lama, hidup juga menyesal, mati juga tak menyesal, apakah kalian hendak mempergunakan aku si tua bangka ini sebagai sandera?" tegurnya.

Gumam itu diucapkan dengan suara yang tidak terlampau keras, tapi jelas ditunjukkan kepada lawan.

Sekalipun suaranya kecil, asal dalam ruangan itu betul betul ada orangnya, maka suara gumaman tersebut pasti akan terdengar oleh mereka.

Setelah masuk kedalam ruangan, ia memperhatikan kembali sekeliling tempat itu, kecuali beberapa buah bangku dan sebuah meja besar, dalam ruangan itu tidak nampak perabot lain, seorang manusiapun tidak nampak berada disitu.

Pek Bwe menarik sebuah bangku dan berduduk disitu, katanya kembali:

"Lohu sudah masuk kedalam ruangan, saudara aku pikir kau musti munculkan pula dirimu"

Pelan-pelan dari balik ruang tidur disebelah kanan ruangan muncul seorang manusia sambil menampilkan dirinya ia berkata: "Bertemu sama halnya dengan tidak bertemu, apa gunanya setelah saling bersua muka?"

Orang itu berdandan sangat aneh, dia mengenakan sebuah jubah hitam yang besar dan kedodcoran untuk menutupi perawakan tubuhnya, bahkan sepasang tangannya juga tertutup oleh jubah yang panjang dan lebar itu, wajahnya tertutup pula oleh selembar kain hitam sehingga yang terlihat hanya sepasang matanya yang jeli serta sebaris giginya yang putih.

Pek Bwe duduk tak berkutik ditempat semula, diawasinya manusia berjubah hitam itu sekejap, lalu sambil tertawa dingin berkata:

"Kau sesungguhnya seorang lelaki ataukah seor)ang perempuan?"

Perkataan semacam ini biasanya merupakan suatu cemoohan, suatu penghinaan bagi pendengaran orang persilatan.

'Tapi agaknya manusia berjubah hitam itu sama sekali tidak memperdulikannya, dia malahan balik bertanya:

"Menurut pendapatmu?"

"Kalau kudengar dari nada perkatanmu, tampaknya kau seperti seorang laki-laki, tapi kalau kulihat dari caramu menyembunyikan diri, tampaknya kau seperti seorang perempuan"

Manusia berjubah hitam itu segera tertawa terbahak bahak.

“Haahhh haaahhh....haahhh... kalau orang hendak mati, biasanya dia mengucapkan kata kata yang bajik.”

“sebaliknya ucapan anda jauh lebih tajam dari pada sebilah pisau" "Aaai ! Sobat seorang Kuncu tak bolehlah berbuat sewenang-wenang, kalian telah memaksa diriku untuk menelan pil beracun, membohongi aku pula untuk datang kemari, sekarang kau menjumpai aku dengan dandanan seaneh ini, sungguh membuat aku tidak habis mengerti, sesungguhnya apa maksud tujuanmu?"

-oOo>d’w<oOo-

“KAMI berbuat demikian karena aku tak ingin bertemu dengan kau dengan wajahku yang sebenarnya. Satu ingatan segera melintas dalam benak Pek Bwe, segera tegurnya:

"Siapa kau?"

'Jangan terlalu berlagak sok pintar, kau pun jangan terlalu banyak berpikir, karena kesemuanya itu tak akan bermanfaat!" manusia berjubah hitam itu memperingatkan.

"Oooh ...!'

"Sekarang, agaknya kita sudah harus membicarakan masalah yang utama bukan?"

"Silahkan, lohu akan mendengarkan dengan seksama" "Kau boleh tak usah mati, Pek Hong juga boleh tak usah

mampus, tapi kalian ayah dan anak mulai detik ini harus

mengasingkan diri dari keramaian dunia dan tak boleh muncul kembali didalam dunia persilatan"

"Masih ada yang lain?"

"Tiong It-ki juga bolah tak usah mati, babkan boleh berkumpul dengan kalian berdua, tapi Tang Cuan serta Cu Siau-hong tak bisa dibiarkan hidup terus didunia ini"

"Apakah Bu-khek-bun harus lenyap dengan begitu saja dari dunia persilatan?" "Bu-khek-bun malah akan tetap ada, cuma ketuanya akan diganti dengan orang lain, muridnya juga diganti dengan murid murid yang lain, markas mereka akan tetap berada di perkampungan Ing-gwat-san-ceng?'

"Aaaai ! Kalau demikian kejadiannya, bukankah perguruan Bu-khek-bun selanjutnya hanya sebuah perguruan kecil yang sama sekali tak ada artinya?"

"Pek ya kembali salah menduga, Bu-khek-bun dengan cepat akan berkembang menjadi sebuah perguruan yang besar dan kuat, bahkan beratus-ratus kali lipat jauh lebih tangguh daripada sewaktu dipimpin oleh Tiong Leng-kang., jangan kuatir dalam soal ini sukma Tiong Leng kang dialam baka tentu akan beristirahat dengan tenang"

"Apakah kau bisa menerangkan dengan lebih jelas sedikit"

"Padahal segala sesuatunya telah kuterangkan dengan sejelasjelasnya, dengan pengalaman Pek-ya dalam dunia persilatan, aku rasa beberapa patah kata itu tentu sudah kau pahami dengan sesungguhnya"

"Pahamnya sih sudah paham cuma berhubung masalah ini mempunyai pengaruh yang amat besar aku tak ingin melakukan dugaan dugaan sendiri"

"KaIau Pek ya. memang berkata begini, terpaksa aku musti menerangkan dengan lebih jelas lagi”

"Baik, lohu akan mendengarkannya'.

"Kami hendak menggunakan perguruan Bu-khek-bun untuk kepentingan kami, jika kerja sama ini bisa dilaksanakan, maka Tiong It-ki mungkin, ia akan melanjutkan karier ayahnya untuk menjadi ciangbunjin dari perguruan Bu-khek-bun" "Kalau betul betul sampai terjadi keadaan demikian lohu jadi menguatirkan keselamatan kalian semua"

"Ooh. apa yang kau kuatirkan?"

"Aku kuatir setelah dia menjadi ciangbunjin perguruan Bu-khek-bun, maka dia akan mulai berusaha untuk membalaskan dendam bagi kematian bapaknya"

"Ciangbunjin tidak lebih hanya suatu sebutan belaka, belum tentu mempunyai kekuasaaan yang amat besar."

"setelah kau berkata demikian, lohupun mulai mengerti, jadi meskipun Tiong It-ki bisa menjadi ciangbunjin perguruan Bu Khek-bun, namun dia tak lebih hanya seorang boneka yang akan menuruti semua perintah orang lain?"

“Soal itu, sih belum tentu demikian, hal ini etrgantung pula pada penampilan yang akan diperlihatkan oleh Tiong It-ki pribadi, jika ia amat setia dan mau bekerja sama, kemungkinan besar dia akan menerima keuntungan yang jauh lebih besar lagi"

"Dengan perkataan lain kalian hendak menyuruh dia untuk melupakan dendam sakit hati ayahnya dan melaksanakan semua perintah kalian tanpa membantah?"

Manusia berjubah hitam itu segera tertawa dingin.

"Pek-ya, kita sedang membicarakan masalah yang serius bukan sedang memperdebatkan sesuatu persoalan"

"Tentang soal ini aku mengerti"

"Persoalan yang paling penting saat ini adalah bersediakah Pek-ya untuk bekerja sama dengan kami?"

"Menghadapi persoalan yang demikian penting dan seriusnya ini, lohu merasa agak sulit juga untuk memberi jawaban dengan cepat." "Pek Bwe, kau harus mengambil keputusan dengan secepatnya, karena kau sudah tidak mempunyai waktu yang cukup lama lagi."

"Kau maksudkan lohu bakal mati?"

"Jika didalam lambung sudah mengandung racun jahat, siapa sanggup untuk hidup lebih lama lagi?" Pek Bwe segera tertawa:

"Lohu sudah hidup cukup lama di dunia ini, terus terangnya saja soal mati hidup sudah bukan menjadi ancaman yang menakutkan lagi bagiku, Cuma tentu saja aku masih tak ingin mati. Coba kalian utarakan dulu kerja sama dalam bentuk apakah yang bisa lohu berikan untuk kalian?"

"Bujuklah Pek Hong dan tangkap hidup-hidup Tang Cuan, Seng Tiong-gak serta Cu Siau-hong untuk menunjukkan ketulusan hatimu dalam persoalan ini”.

"Aku tahu tentang soal ini, tapi suaminya sekarang  sudah mati sedangkan Tiong It-ki masih hidup, dia adalah satu satunya putra yang dia miliki, seorang perempuan setengah umur yang telah kehilangan suaminya tentu tak ingin kehilangan putranya pula"

Pek Bwe termenung sejenak, kemudian berkata:

"Yaa, kejadian ini memang benar-benar merupakan suatu persoalan yang sukar untuk diputuskan, dalam menghadapi masalah seperti ini akupun tak tahu bagaimana keputusannya?"

"Kami cukup menyadari akan kesulitan yang sedang dihadapinya, oleh karena itulah kami memohon bantuan untuk membujuknya" "Baiklah!" kata Pek Bwe kemudian, “lohu bersedia untuk mencoba membujuknya"

"Bagus sekali, keputusanmu ini bagimu pribadi, bagi Pek Hong maupun, bagi Tiong It-ki, semuanya akan menberikan keuntungan yang bermanfaat sekali"

"Jika sudah tiada urusan yang lain lagi, lohu hendak mohon diri lebih dahulu"

Sikap manusia berjubah hitam itu segera pulih kembali dalam sikapnya yang menghormat, katanya: "Pek-ya, kau sudah memikirkannya dengan jelas atau belum?"

"Ada persoalan apa lagi"

"Seandainya kau telah berhasil membujuk Pek Hong, apa yang hendak kau lakukan untuk membekuk Cu Siau-hong serta Tang Cuan?."

"Mereka sangat menuruti perkataan Hong ji, bila lohu benar-benar berhasil membujuk Pek Hong, maka asal Pek Hong memberi perintah, mereka pasti akan menyerahkan diri tanpa melawan"

"Aku pikir tindakan seperti ini terlalu menempuh bahaya, andaikata mereka tak mau menyerah, bukankah kesulitan segera akan timbul?"

"Jadi menurut maksud anda?'.

"Meracuni mereka, tentu saja mereka tak akan menyangka kalau Pek Hong bakal meracuni mereka berdua, aku rasa cara ini sangat jitu dan tak mungkin bakal meleset"

"Sungguh suatu cara yang hebat, sungguh suatu cara yang hebat, yaa, mereka pasti tak akan menyangka sampai kesitu"

Manusia berjubah hitam itu segeta tertawa. "Ada kalanya, sekalipun otak sudah dipakai sampai botak, walau siasat sudah disusun dengan cermat, belum tentu masalahnya bisa diselesaikan secara sempurna, tapi kadangkala hanya mempergunakan suatu cara yang amat sederhana, namun semua persoalan ternyata bisa terselesaikan dengan menggembirakan hati"

"'Aaaii...! Persoalannya sekarang adalah berhasilkah aku membujuk putriku agar dia mau mengikuti perkataanku"

"Semestinya persoalan semacam ini bukan suatu masalah yang terlalu sulit, kau adalah ayahnya" sedang Tiong It-ki adalah satu-satunya putra yang dia miliki, didunia ini hanya dua orang ini yang merupakan sanak keluarganya, aku pikir dia pasti dapat mempertimbangkan untuk ruginya dengan baik"

"Lohupun beranggapan demikian, sebab itulah aku merasa masih ada separuh kesempatan untuk berhasil"

"Jadi kau telah setuju?" "Yaa, lohu setuju!"

“Beritahu kepada Pek Hong, organisasi kami ini tak ingin menderita kegagalan, bila dia ingin main curang dengan kami, akibatnya dengan cepat dia akan menerima batok kepala dari Tiong It-ki.”

"Bagaimana dengan lohu?"

“Diapun dapat menyaksikan kau mati keracunan dan menderita siksaan hebat sebelum tibanya ajal.”

'Berapa lama lohu masih bisa hidup?"

Manusia berjubah hitam itu termenung sejenak, kemudian sahutnya.

"Aku rasa tak akan lewati dua tiga jam lagi.." “Waktunya terlampau singkat, aku rasa tidak cukup untuk digunakan membujuk orang."

"Kami tak akan terlalu tergesa gesa, bagaimana kalau kuberi waktu selama dua puluh empat jam?"

"Itu sudah cukup."

“Berikan obat penawarnya kepada Pek-ya!"

Dari dalam ruangan segera muncul kembali seorang manusia berbaju hitam, seperti juga orang yang

pertama, diapun menggunakan sebuah jubah lebar berwarna hitam yang panjang dan kedodoran, bahkan sepasang tangannya juga mengenakan sarung tangan berwarna hitam, ini membuat Pek Bwe sulit untuk menyelidiki identitas mereka.

Ditangan manusia berbaju hitam itu membawa sebuah baki kayu yang besar. Diatas baki terletaklah dua buah  botol porselen serta sebuah cawan kecil.

Isi cawan itu adalah cairan berwarna hijau tua. Manusia berbaju hitam itu segera berkata:

"Dari kedua buah botol porsele ini, yang satu berisikan obat penawar, isinya terdiri dari dua butir pil, sebutirnya dapat mencegah daya kerja racun ditubuhmu selama dua belas jam, bila semua urusan sudah kau selesaikan kami akan menghantarkan kembali obat penawar yang lain. Sedangkan isi botol perselen yang lain, yang isinya berupa bubuk putih itu adalah sejenis racun yang tidak berwarna tidak berbau, jika dicampurkan ke dalam air teh dan membiarkan mereka meneguknya, dalam setengah jam kemudian segenap tenaga dalam yang mereka miliki akan punah tak berbekas "

Pek Bwe manggut manggut. “Obat yang lihay", serunya.

Dua buah botol porslen itu segera diambil dan dimasukkan kedalam sakunya.

"sedangkan isi cawan itu adalah secawan arak wangi yang disebut Pek Tjok cun", kata manusia berjubah hitam itu lagi, "Inilah arak bertanda masuk komplotan, bila kau bersedia untuk meneguknya, berarti kau adalah orang-orang kami".

"Aku lihat arak bertanda komplotan ini tidak kuminum saja, sebab dewasa ini lohu masih belum berhasrat untuk menjadi anggota komplotan kalian"

"Tidak bisa!" tukas manusia berbaju hitam itu dingin, "bagaimanapun juga kau harus meneguknya sampai habis, Pek Bwe! Sebagai bukttkan kesetiaanmu terhadap diriku itu harus meneguk isi cawan itu sampai habis”.

"Lohu tidak minum arak barang setetespun, mana mungkin aku bisa menghabiskan arak secawan penuh?"

"Pek Bwe jika kau tak meneguk isi cawan itu, kami tak dapat mempercayaimu"

"Kalau begini jadi susah rasanya, lohu benar-benar tak ingin minum arak tersebut"

Setelah berhenti sejenak, dia meneruskan kembali kata katanya:

"Sobat, seandainya arak ini adalah secawan arak beracun, aku telah keracunan, sekalipun tidak minum arak tersebut akut tetap sudah keracunan, sebaliknya kalau arak ini tidak beracun, kenapa pula kau musti memaksa diriku untuk meneguknya?"

Manusia berjubah hitam itu termenung dan berpikir sesaat lamanya, kemudian dia baru berkata: "Pek Bwe, kau sudah tua, pengalamanmu di dalam dunia persilatan sudah cukup banyak, kau harus tahu bahwa hal ini merupakan suatu peraturan"

"paling tidak, lohu masih belum sampai pada saat untuk menuruti peraturan tersebut" tukas Pek Bwe.

Manusia berjubah hitam itu segra tertawa dingin. "Tampaknya, pembicaraan kita sukar untuk dilanjutkan

kembali!" katanya.

"Lohu sudah mengalami banyak kejadian besar selama melakukan perjalananan dalam dunia persilatan, aku berharap kalian jangan terlalu memaksakan kehendaknya atas diriku".

Mencorong sinar tajam dari balik mata manusia berjubah hitam itu, agaknya dia hendak mengumbar hawa amarahnya, tapi tiba-tiba dia dapat menahan diri kembali.

"Baiklah!" katanya kemudian, "kukabulkan permintaan itu!"

"Lohu sudah mengalah banyak kepada kalian, akupun berharap dalam beberapa persoalan kalian bisa mengalah pula untukku, benar bukan?"

Manusia berjubah hitam itu segera mengulapkan tangannya, pembawa baki itu pelan-plena mengundurkan diri dari situ.

"Sekarang apakah lohu boleh pergi meninggalkan tempat ini?" tanya Pek Bwe dingin.

Manusia berjubah hitam itu kembali termenung sejenak sebelum akhirnya menyahut:

"Kau harus ingat baik-baik, paling tidak Tiong It-ki masih berada ditangan kami, Nah pergilah sekarang..!" Pek Bwe manggut-manggut.

"Lohu akan ingat selalu perkataanmu itu, aku akan berangkat duluan. " Katanya.

"Baik-baik dijalan Pek-ya, aku tak akan menghantar lebih jauh lagi!"

Pek Bwe tidak berkata apa-apa lagi, dia putar badan dan segera berjalan keluar dari ruangan itu.

Ketika tiba ditengah halaman luas, ditemuinya mayat Ciu Kim im telah lenyap tak berbekas.

Dengan sorot mata yang amat tajam, manusia berjubah hitam itu mengawasi bayangan punggung Pek Bwe yang melangkah keluar dengan langkah lebar hingga lenyap dari pandangan.

Pek Bwe berjalan dengan langkah pelan, ketika tiba disebuah persimpangan jalan dia baru berhenti.

Setelah menengok sekejap sekeliling tempat itu, mendadak ia percepat langkahnya mengitari dua buah gang sempit dan berlarian kearah depan.

Tiba kembali di gedung yang didiami Pek Hong, ia segera dihadang oleh para anggota Kay-pang yang berjaga jaga disekitar sana.

Tapi setelah mengetahui akan diri Pek Bwe empat orang anggota Kay-pang itu segera membuyarkan diri kembali untuk kembali ketempatnya masing masing.

Menyaksikan keketatan penjaga disitu, Pek Bwe merasa hatinya`jauh lebih lega, diam-diam ia menghembuskan napas lega dan men uju kehalaman.

Pek Hong, Seng Tiong-gak dan Tang Cuan duduk berkerumun dalam ruangan sambil bercakap cakap, diluar dugaan Pek Bwe ternyata Cu Siau-hong juga tampak hadir disana.

Cu Siau-hong segera bangkit berdiri, sambil memberi hormat katanya: "Cianpwe, Siau-hong minta maaf!"

"Kau tidak berdosa, malah seharusnya mendapat pahala" "Mendapat pahala, kenapa?"

Sambil mengelus jenggotnya Pek Bwe tertawa katanya. "Aku orang tua telah mencarimu kesana kemari."

"Itulah sebabnya boanpwe memohon maaf" sambung Cu Siau-hong, sewaktu kau orang tua muncukan diri, Siu hong telah melihat kehadiranmu, dapat melihat pula kegelisahan kau orang tua, tapi waktu itu Siau-hong betul tak dapat mengadakan kontak dengan kau orang tua..."

"Untung saja kau tidak berhubungan dengan lohu" ucap Pek Bwe, "sebab itu lohu berhasil menemukan tempat persembunyian mereka"

"Sudah menjumpai It-ki?" tanya Pek Hong cemas. "Belum, rupanya gerak gerik kita selama berada di Siang

yang selalu berada didalam pengawasan mereka..."

Secara ringkas diapun menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya barusan. selesai mendengar perkataan itu, Seng Tiong-gak segera bangkit berdiri seraya berseru:

"Kalau memangtempat persembunyian mereka telah berhasil diketahui, mari sekarang juga kita menyatroni mereka"

Buru-buru Pek Bwe menggoyangkan tangannya berulang kali. "Duduklah dulu" katanya, "jangan terburu napsu, dengarkan kata kataku lebih lanjut”. Sambil tertawa jengah, Seng-Tiong-gak duduk kembali

Maka Pek Bwe pun berkata lebih jauh.

"Walaupun keparat itu mengenakan sebuah jubah hitam yang besar dan kedodoran sehingga tinggal sepasang matanya yang tampak, tapi aku dapat mendengar suara pembicaraannya, lagipula tampaknya ia merasa amat kenal denganku"

"Aaah masa begitu? Apakah kau orang tua berhasil mengenali suara siapakah itu?" seru Seng Tiong-gak.

"Agaknya suara Long Ing!"

"Ji sute?" Tang Cuan terbelalak lebar.

"Ia berusaha untuk merubah nada suaranya agar tidak kukenali, tapi aku orang tua toh berhasil mengenalinya juga, tentu saja tidak terlalu yakin"

"Bedebah manusia laknat, Kalau sampai kutemukan penghianat ini, akan kucincang tubuhnya hingga hancur berkeping keping" sumpah Seng Tiong-gak penuh kebencian.

Pek Bwe menghela napas sedih.

"Aaaai ! Kalau diserang dari luar dan dalam secara bersamaan, tak heran perguruan Bu-khek bun berhasil mereka tumpas dalam semalaman saja"

"Saat yang mereka pilih terlalu baik, andaikata sutu dan susiok berada dalam perkampungan semua, tak nanti mereka akan berhasil" ujar Tang Cuan.

"Mereka tentu akan berganti dengan cara yang lain" kata Pek Bwe. "Ayah!" ucap Pek Hong sedih, "'setelah kau berjumpa dengan Long Ing, apakah ditanyakan pula kabar berita tentang It-ki?"

"Menurut nada pembicaan mereka agaknya It-ki masih hidup didunia bahkan menderita luka pula, besar kemungkinan mereka mencelakai It-ki terlebih dahulu sebelum melancarkan penumpasan"

"Kalau begitu mari kita menyelamatkan It-ki terlebih dahulu'

"It-ki tidak berada disini, rencana mereka terlalu rapi, tentunya mereka juga telah menduga kalau kita bakal melakukan pencarian, siapa tahu kalau tindakan mereka ini tak lain hanya ingin memancing kita masuk ke dalam perangkap!"

"Maksud ayah..."

"Yaa, apa lagi? Terpaksa kita harus beradu kecerdikan dengan mereka, jelas sulit buat kits untuk turun tangan dewasa ini, lebih baik kita mencari akal untuk mengobrak abrik sarang meroka, atau dengan siasat kita makan siasat mereka"

Tiba tiba Cu Siau-hong bertanya:

"Locianpwe, setelah kau jumpai ji suheng apakah loOngo dan loOkiu berhasil dijumpainya?"

"Entah, seorang baju hitam yang memberi obat kepadaku itu salah seorang diantara mereka atau bukan, tapi jika dilihat dari cara mereka membunuh Ciu Kim-im yang begitu kejam dan tak kenal peri kemanusiaan, agaknya organisasi tersebut adalah suatu organisasi yang amat kejam, Long-Ing sekalian sudah pasti bukan otak yang mengatur segala sesuatunya di kota Siang yang mereka pasti mempunyai seorang pemimpin”, ia termenung agak lama sebelum menjawab:

"Kemungkinan sekali ia sedang menerima petunjuk" "Pek cianpwe, apakah kita harus berpeluk tangan

belaka!" kata Seng Tiong-gak tidak puas. "Tentu saja mereka harus kita cari, Cuma bukan sekarang?"

"Kalau bukan sekarang, apakah kita harus menunggu sampai mereka pergi men inggalkan tempat itu?"

"Tiog-gak, kenapa kau begitu terburu napsu? Bahkan Tang Cuan dan Siau-hong pun lebih tenang darimu, mengapa kau tidak menenangkan juga hatimu? Seandainya It-ki berada disini, meski harus pertaruhkan nyawa kita wajib pergi mencarinya, tapi It-ki tidak berada disini, kita tak boleh bertindak tanpa rencana, nak, ketahuilah bahwa kekuatan Bu-khek-bun tinggal tak seberapa, bila tidak menyaksikan lebih baik kita jangan sembarangan bertaruh."

Pek Hong menggoyangkan tangannya mencegah Seng Tiong-gak berbicara lebih jauh, lalu katanya: "Ayah harap bicara lebih jelas, apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"kita mesti memikirkan soal Long-ing, dengan cara apa ia bisa sampai masuk kedalam Bu-khek-bun, asalkan asal usulnya bisa diketahui maka kitapun akan lebih mudah turun tangan. Sebaliknya jika kita kesana sekarang, paling banter hanya akan menjumpai sebuah bangunan kosong, apalah artinya bangunan kosong buat kita?"

"Locianpwe, Siau-hong masih ada satu hal yang pantas dicurigai" ucap Cu Siau-hong tiba-tiba. "Baik, coba katakan!"

"Seingat Siau-hong, hubungan kau orang tua dengan kami  dimasa  lalu  tidak  begitu  akrab,  darimana  kau bisa merasa yakin jika orang itu adalah Long-Ing Cong Ji suheng?"

"Tentang soal ini tak bakal salah lagi, betul aku jarang bertemu dengan kalian tapi aku mempunyai kepandaian untuk mengingat suara orang, terus terang saja, kepandaianku ini tiada keduanya dalam dunia persilatan dewasa ini."

"Bila ada seseorang yang menirukan logat ji-suheng, dapatkah locianpwe membedakannya mana yang asli dan mana yang palsu?"

"Soal ini lohu tidak begitu yakin, akupun tidak mendengarkan suaranya dengan seksama, hanya bisa kukatakan suaranya sangat mirip dengan suara Long-Ing"

Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan:

"Bocah, kau sudah pergi selama banyak hari, apa saja yang berhasil kau dapatkan?"

"Kalau dibicarakan sungguh memalukan, walau sudah melakukan perjalanan selama beberapa hari namun masih belum ketemukan suatu hal yang penting, cuma aku menjumpai begitu banyak jago persilatan yang mulai berdatangan ke kota Siang yang ini”

"'Oooh , selain itu?"

"'Selain itu, masih ada lagi urusan tentang si nona berbaju hijau, bukankah locianpwe telah menyaksikan sendiri?"

"Setelah kau singgung kembali persoalan tersebut, lohu menjadi teringat kembali akan satu persoalan" sambung Pek Bwe, "apakah Pi Sam long telah datang kembali?"

"Tidak" "Siau-hong bagaimana selanjutnya dengan si nona berbaju hijau itu? Dia telah kemana?"

"Ia bertahan terus disitu, karena boanpwe tak betakhakhirnya aku angkat kaki lebih dahulu dari situ"

"Kecuali si nona berbaju hijau, apalagi yang kau temukan?"

"Kulihat orang-orang Pay-kau pada berkumpul diatas sebuah perahu besar yang membuang sauh di tengah sungai?

"Itu berarti mereka sedang mengadakan rapat, agaknya orang-orang Pay-kau juga telah berusaha dengan sepenuh tenaga untuk menanggulangi peristiwa yang menimpa Leng Kang"

"Ayah, sudah setengah harian kau berbicara, tapi belum kudengar cara yang kau maksudkan, apa yang musti kita lakukan sekarang"

"Aku toh sudah bilang, kita gunakan siasat melawan siasat"

"Maksud cianpwe, apakah kita barlagak kena ditawan?" tanya Seng Tiong-gak. Pek Bwe tertawa getir.

"Cara itu terlalu berbahaya, kita tak boleh terlalu memandang rendah kekuatan musuh, cara yang terlalu berbahayapun tak boleh digunakan, seandainya siasat tersebut sampai diketahui lawan, sedang kita masih belum menyadari, besar kemungkinan kita semua malah sungguh sungguh akan tertangkap oleh mereka"

"Kalau begitu, dengan cara apakah locianpwe akan mengatur rencana untuk melaksanakan siasat melawan siasat tersebut?" "Biar lohu pergi seorang diri, seolah-olah rencanaku telah diketahui kalian "

"Locianpwe, cara ini tak boleh dilakukan"

Buru-buru Cu Siau-hong menyela dari samping.

"Nak, aku sudah tua, aku hanya ingin menengok keadaan It-ki, sebab kecuali menggunakan cara ini, rasanya sulit buat kita untuk menemukan jejak It-ki"

'Locianpwe, aku dapat memahami maksudmu, tapi ketahuilah bahwa mencari kemujuran dengan cara menyerempet bahaya sukar diketahui hasilnya, aku rasa bila dibicarakan dengan keadaan pada saat ini, cara tersebut bukan terhitung suatu cara yang baik"

"Bocah cilik, lalu apa pendapatmu?"

'Boanpwe pikir, lebih baik kita lakukan suatu gerakan yang misterius agar mereka pergi menduganya sendiri, asal mereka sudah salah langkah itu berarti kita akan berhasil menemukan ekor rase mereka"

Mendengar perkataan itu, Pek Bwe segera tertawa. "Waah, waah perkataanmu itu membuat aku si orang tua

ikut merasa kebingungan sendiri, cepat katakan, apa yang harus kita lakukan?"

Cu Siau-hong termenung sejenak, kemudian menjawab: "Seandainya orang yang di jumpai loya-cu adalah ji-

suheng, lebih baik kita bisa mencari akal untuk menjumpainya ."

"Keparat itu sudah kejangkitan penyakit edan, aku ingin bertanya kepadanya mengapa ia membalas air susu dengan air tuba" sela Tang Cuan dengan gemas. "Tidak gampang ia tak akan tertipu dengan dengan begitu saja!" ucap Pek Bwe sambil menggeleng.

"Bila didengar dari cerita loya-cu tadi rupanya dalam hati kecil mereka pun sudah timbul rasa curiga tentang keracunan atau tidaknya dirimu tapi hal ini tak sulit untuk dibuktikan, asal mereka berhasil menemukan gejala keracunan diatas tubuh Ciu Kim im, maka dengan cepat bisa diketahui bila kau tidak keracunan!'

Pek Bwe manggut manggut.

"Untuk menjaga segala hal yang tidak diinginkan, lebih baik kita pergunakan dua ekor anjing untuk mencoba obat racun serta obat pembunuh mereka, coba kita buktikan apakah ia masih mempunyai permainan yang lain atau tidak" ucap Cu Siau-hong lagi.

"Dalam soal penggunaan racun, Pi Sam long sibocah muda itu odelab seorang ahli, heran kenapa bocah itu belum juga datang?"'

"Oleh sebab itulah, terpaksa kita harus menggunakan cara yang paling bodoh ini untuk mencari bukti"

"Setelah terbukti, apa pula yang harus kita lakukan?" Cu Siau-hong segera tertawa.

"Waktu itulah, locianpwe baru gunakan siasat melawan siasat tersebut untuk menghadapi mereka" katanya.

"Oooh....itu berarti cara yang kukemukakan tadi sedikit terlampau bahaya?"

"Asal dibetulkan sedikit disana sini cara itu bisa dilaksanakan dengan lega hati"

Ia lantas merendahkan suaranya dan membisikkan sesuatu. Selesai mendengarkan rencana yang dibeberkan oleh anak muda itu, sambil menghela napas Pek Hong berkata:

“Siau-hong, kau belum pernah melakukan perjalanan didalam dunia persilatan kenapa begitu banyak ide yang kau miliki. Rencanamu betul betul rapi dan terkendali seolah-olah jalan pemikiran dari seorang jago kawakan yang sudah amat berpengalaman saja"

"Sunio, semua ide yang cukup kemukakan ada tercantum didalam buku yang pernah tecu baca selama ini, hanya telah kurubah sedikit disana sini serta menyesuaikannya dengan keadaan"

Pek Hong manggut-manggut.

"Ayah menurut pendapatmu perlukah kita berutahukan hal tersebut kepada pihak Kay-pang?" tanyanya.

"Rencana yang begitu rahasia lebih baik diketahui sedikit orang saja, Cuma alangkah baiknya bila pihak Kay-pang bersedia untuk bekerja sama, oleh karena itu kita musti mengabarkan hal ini kepada Yu Lip"

"Biar tecu yang pergi mengundangnya" kata Tang Cuan seraya beranjak dari tempat duduknya. Tak selang beberapa saat kemudian, Yu Lip telah muncul dengan langkah tergesa-gesa.

Rupanya sejak terjadinya peristiwa tempo hari, agaknya Yu Lip telah pindah pula ke dalam gedung tersebut..

Setelah Pek Bwe membeberkan rencana rahasianya. Yu Lip termenung agak lama tanpa berbicara. Melihat itu, sambil mendeham pelan Tang Cuan berkata.

"Yu Toucu apakah kau menjumpal sesuatu kesulitan?" “Rencananya sendiri sih memang suatu rencana bagus,

cuma aku orang she Yu tidak berharap kalian menyerempet bahaya, apalagi pangcu kami telah mengirim perintah kilat yang meminta kapadaku agar baik-bailk melindungi saudara sekalian, dalam tiga hari mendatang dia akan datang sendiri ke mari."

"Ooooh!".

Yu Lip menghembuskan napas ringan, kemudian melanjutkan:

"Tadi, Siang kang Thamcu dari pihak Pay-kau telah datang menemui diriku, ia bilang dalam markas besarnya telah kedatangan dua orang hiangcu yang cukup lihay, ia merasa keadaan diatas sungai jauh lebih aman dari pada didaratan, sebab itu minta kepadaku untuk membawa saudara sekalian pindah saja keatas perahu, tapi aku tidak mengabulkan. Konon kaucu dari pihak Pay-kau pun akan tiba pula disini, dalam tiga lima hari mendatang, oleh sebab itu aku rasa alangkah baiknya bila kalian bersabar selama beberapa hari lagi, bila pangcu kami telah datang persoalan ini baru dibahas kembali"

"Maksud Yu Toucu kami harus menunggu terus disini?' kata Pek Bwe.

"Yaa, apalah artinya tiga lima hari? Apa salahnya kalau saudara sekalian bersabar lagi?" Pek Hong menghela napas panjang.

"Aaai, maksud baik Yu Toucu, biar kami terima dalam hati saja" katanya, "dendam kesumat dari Bu khekbun  harus dibalas oleh orang Bu khek-bun juga kami tak akan berpeluk tangan belaka sambil membiarkan perkumpulan anda yang membalaskan dendam untuk kami. Jika Yu toucu merasa tak sanggup untuk memberi pertanggungan jawab kepada pangcu kalian terpaksa kami harus segera angkat kaki dari sini". Ucapan tersebut segera membuat Yu Lip menjadi tertegun. "Tiong hujin, maksud ku. "

"Aku dapat memahami maksud baikmu" kata Pek Hong lebih jauh, "tapi kau hanya berpikir menurut keadaan yang terbentang dihadapanmu, kau kuatit jika kami yang masih hidup kena dicelakai kembali oleh pihak lawan, tapi kau lupa untuk menyelami perasaan kami sekarang, kaupun lupa untuk mengetahui apa tujuan kami untuk hidup lebih jauh didunia ini".

'Tiong hujin aku sudah banyak melakukan keteledoran, bila sekarang terjadi lagi pelbagai kesulitan, mungkin aku tak kuat lagi untuk memikul tanggung jawab atas kejadian ini"

"Yu toucu tentang segala sesuatunya biar ciangbunjin perguruan kami yang memberikan pertanggung jawaban sendiri kepada pangcu kalian, oleh sebab itu aku berharap agar Yu toucu jangan mencampuri urusan kami lagi."

Yu Lip menghela napas panjang.

"Hujin!" katanya, "aku dapat memahami betapa beratnya perasaanmu sekarang, tapi siapa bilang aku orang she Yu tidak cemas pula?"

"asalkan Yu-toucu bisa memahami perasaan kami yang ingin cepat-cepat melancarkan jejak musuh, kamipun bersedia berjanji untuk tidak menggunakan kekerasan menghadapi mereka, sebaiknya bila kau tidak mengabulkan, terpaksa kamipun harus segera angkat kaki meninggalkan tempat ini"

Yu Lip segera berpaling ke arah Pek Bwe sambil berseru: "Loya cu. " "Yu Toucu, kau tak usah memanggil aku" tukas Pek Bwe, "ketahuilah, rasa gelisah yang berkecamuk dihati lohu, sedikitpun tidak berada dibawah perasaan putriku"

"Yu Toucu, harap kau berbicara terus terang, bila tidak setuju, terpaksa kita harus pergi meninggalkan tempat ini" seru Tang Cuan.

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Yu Lip berkata:

"Baiklah! Bila saudara sekalian bersikeras untuk berbuat demikian, aku orang she Yu juga tak dapat mencegahnya, aku akan menuruti semua kehendak kalian itu"

"Kau sudah berbicara sekian lama, lohu hanya menangkap kata-kata ini mengandung maksud yang mendalam" ucap Pek Bwe.

"Baiklah,jika kalian bersikeras ingin melakukan sesuatu perbuatar, akupun tidak bermaksud menghalang halanginya, beri waktu setengah hari kepadaku, akan kupersiapkan segala sesuatunya"

"Yu toucu, dalam kenyataannya jumlah kami serta tempat persembunyian kami telah diketahui orang dengan jelas, perlindungan macam apa yang diberikan perkumpulan anda, juga diketahui amat jelas oleh mereka, oleh sebab itu kau tak usah mempersiapkan segala sesuatunya lagi, orang-orang Bu-khek-bun harus berhadapan sendiri dengan mereka agar bisa menimbulkan rasa gentar buat mereka"

Yu Lip termenung sebentar, kemudian berkata:

"Pek loya-cu, persoalan ini makin dibicarakan semakin serius, untuk menghindarkan ke salah pahaman buat Tiong hujin dan Tang ciangbunjin, dengan memberanikan diri aku orang  she  Yu  akan  mengambil  keputusan,  cuma  paling tidak aku orang she Yu harus turut serta didalam gerakan ini"

“Baiklah! Kita tetapkan begini saja, tapi kau harus dapat mengendalikan anak buahmu agar jangan terlalu menyolok sehingga malahan merusak keadaan"

Yu-Lip manggut manggut.

"Kalian bermaksud untuk turun tangan dengan cara apa! bagamana pula aku harus membantu”

Setelah...pembicaraan beralih kembali kepokok persoalan, Pek Bwe pun segera membeberkan sebagian dari rencananya itu.

Sebagai seorang jago kawakan yang sudah seringkali melakukan perjalanan dalam dunia persilatan dan berpergalaman luas, Pek Bwe sadar, lebih banyak orang mengetahui rencana tersebut, berarti kemungkinan besar rahasia tersebut bisa bocor, apalagi Yu Lip merasa tanggungjawabnya besar, makin banyak yang diketahui olehnya, pasti akan semakin banyak pula orang yang akan dipersiapkan olehnya.

Langkah pertama yang dilakukan adalah Cu Siau-hong serta Tang Cuan masing masing berganti dengan pakaian Kay-pang, melepaskan pedangnya dan diam-diam menggembol dua bilah pisau belati serta senjata rahasia.

Dari dalam gedung bangunan mendadak muncul delapan orang murid Kay-pang yang menyerbu ke dalam kamar obat dalam dua rombongan.

Empat orang tabib kenamaan dari kota Siang yang semuanya telah diundang datang kedalam gedung tersebut.

Pintu gerbang dalam gedung yang bercat hitam selalu berada  dalam  keadaan  tertutup  rapat,  tapi  begitu  gelang pintu berbunyi pintu segera terbuka, begitu orang telah masuk pintupun ditutup kembali.

Setelah berada dalam ruangan maka segera terlihatlah penjagaan yang sangat ketat, Belasan orang angota Kay pang masing masing berdiri tersebar disudut sudut gedung.

Cu Siau-hong dan seorang anggota Kay-pang telah berhasil pula mengundang seorang tabib tapi setibanya diluar gedung, ia tidak masuk kedalam, melainkan berbisik bisik dengan anggota Kay-pang tersebut kemudian putar badan dan menuju keluar.

Langkahnya amat tergesa gesa, seakan akan terdapat suatu persoalan penting yang harus dikerjakan.

Baru saja ia membelok kedalam sebuah lorong, tiba-tiba terasa bayangan manusia berkelebat lewat, seorang pemuda berbaju biru berdandan sastrawan telah menghadang jalan perginya.

Waktu itu Cu Siau-hong sedang berjalan dengan tergesa gesa, karena munculnya laki laki sastrawan itu amat mendadak, hampir saja kepalanya menubrul keatas dada orang, cepat-cepat ia menghentikan langkahnya.

Sambil tersenyum manusia berbaju biru itu berkata: "saudara pengemis, kenapa kau terburu-buru melakukan

perjalanan? Tidak takut sampai menubruk orang?"

Cu Siau-hong memperhatikan sekejap orang itu, kemudian berkata:
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 10"

Post a Comment

close