Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 04

Mode Malam
Tapi Pek Hong tidak bertanya pula, ia mengambil secarik sapu tangan putih dan cepat cepat membalut luka dibahu suaminya,

Liong Thian siang dengan sepasang matanya yang tajam mengawasi terus sepasang tangan Pek Hong yang putih dan halus itu tanpa berkedip, rasa dengki, iri dan cemburu jelas tertera di atas wajahnya. Namun diapun tidak memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melancarkan kembali serangannya.

Tiong-Ling-kang berdiri dengan wajah serius, sekalipun ia berbicara dengan Pek Hong, tetapi sepasang matanya tak pernah beralih dari tubuh Liong Thian-siang.

Selesai membalut luka dibahu suaminya. Diam-diam Pek Hong mengundurkan diri dari situ. Dua titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya ketika ia mundur dari situ tadi. Pelan-pelan Tiong Leng Kang menggerakkan lengan kanannya, kemudian berkata:

"Liong Thian siang, lenganku ini masih bisa dipergunakan untuk memegang pedang lagi"

"Hmm! terlampau cepat kau hindarkan diri, coba sedikitterlambat lagi, niscaya lengan itu sudah bukan milikmu lagi" Tiong Leng Kang tertawa ewa:

"Kalau ingin bertarung, bertarunglah secara jujur dan ksatria tindakanmu mengenakan lengan baja pelindung badan sungguh jauh, di luar dugaanku. "

"Ya, siapa lagi yang musti disalahkan kalau bukan menyalahkan sepasang matamu sendiri yang kurang awas"

Liong Thian siang, kau telah melepaskan kesempatan baik untuk membinasakan diriku, aku tak akan tertipu lagi untuk kedua kalinya.

"Jangan tekebur dulu, dengan tangan ko-songpun aku sudah sanggup untuk menghadapi ilmu pedang Cing kiam hoatmu itu, bila kugunakan golokku untuk kedua kalinya maka jangan harap kau bisa meloloskan diri dengan selamat"

“Bila kau yakin bisa membunuhku, inilah kesempatan yang  paling  baik  bagimu  untuk  bertindak..  hanya  saja sebelum pertarungan berlangsung untuk kedua kalinya, aku ingin berjumpa dulu dengan ayah mertuaku”

"Pokoknya Pek Bwee masih hidup segar bugar, aku tak pernah melukainya walau hanya seujung rambutpun. sekarang kau sudah bermandikan darah, dalam pertarungan ini kau pula yang bakal mampus, apa lagi yang bisa kau lakukan untuk Pek Bwee meskipun dapat menjumpainya?"

Ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terkekeh kekeh.

"Heehh heeeehh heeehhh. cuma kalau kau sudah tewas

dalam pertarungan nanti, aku pasti akan mengajak Pek Hong untuk berjumpa dengan ayahnya"

Tiong Leng Kang masih tetap tenang, terhadap cemoohan dan hinaan yang dilontarkan Liong Thian-siang, hampir boleh dibilang tak pernah ia pikirkan dalam hati.

Baru seorang jago pedang yang lihay, maka ketenangan, kemantapan dan keseriusan merupakan pokok-pokok  utama harus dimiliki menjelang pertarungan yang bakal berlangsung..

Karena itu, Tiong Leng Kang tak berani lengah dan harus menguasahi ketiga pokok utama tersebut sebaik baiknya.

Agak tercekat juga Liong Thian siang melihat ketenangan orang, pikirnya kemudian:

"Waaah, tampaknya bukan suatu perbuatan yang gampang untuk membangkitkan hawa amarahnya. ”

Berpikir demikian, tangan kanannya segera diangkat, cahaya putih segera berkelebat lewat menusuk ke dada Tiong Leng Kang. "Menyimpan golok dibalik ujung baju merupakan kepandaian andalan dari Hay pak khi keng khek, apakah kau telah menjadi anggota perguruan dari khi keng bun?" tegas Tiong Leng Kang.

Sementara dimulut berbicara, pedang Cing peng kiamnya melancarkan serangkaian serangan berantai yang dengan cepat dapat membendung ke tujuh buah bacokan kilat dari Liong Thian siang.

Kali ini ia telah merubah taktik pertarungannya dengan ketenangan ia berusaha menghadapi gerak serangan musuh.

Setelah melepaskan ke tujuh buah serangan berantainya, Liong Thian-siang menghentikan pula serangannya, dengan sepasang mata yang tajam dia awasi wajah Tiong Leng Kang lekat-lekat, dengan harapan ia dapat menangkap rasa menderita yang melintas di atas orang itu.

Tapi Tiong Leng Kang masih tetap tenang setenang air telaga, sama sekali tidak ditemukan sesuatu sikap yang aneh.

Padahal luka yang diderita Tiong Ling-kang cukup parah setelah menggerakan pedangnya untuk menangkis ke tujuh buah serangan golok dari Liong Thian siang tadi, mulut lukanya betul-betul terasa sakitnya bukan kepalang.

Tapi dengan paksakan diri ia menahan rasa sakit tersebut, ia tetap berusaha mempertahankan ketenangan di atas wajahnya.

Memang hal itu merupakan suatu persoalan yang sukar dilukiskan, tapi Tiong Leng Kang berhasil melakukannya secara baik.

Pengalamannya dalam menghadapi beratus ratus kali pertarungan membuatjago ini menang pengalaman dan tahu   jika   ingin   membunuh   musuhnya   maka   ia  musti menunggu sampai tibanya saat yang paling menguntungkan, serangan tersebut harus mematikan dalam sekali penyerangan,

Kini kedua belah pihak saling berhadapan muka sambil menantikan tibanya saat yang paling baik..

Mendadak Liong Thian siang melakukan sergapan dengan sepasang telapak tangannya, dua kilatan cahaya putih dengan cepat meluncur ke depan.

Yang satu langsung menyerang bagian dada sementara yang lain menyerang lambung.

Tiong Leng Kang menggetarkan pedang Cing peng kiamnya menciptakan selapis cahaya tajam mengikuti perputaran tubuhnya ia menerjang maju lebih ke depan.

Pertarungan ini merupakan adu jiwa yang mempengaruhi mati hidup masing-masing pihak, oleh karena itu kedua belah pihak sama-sama melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga.

Dua gulung angin serangan dari kedua belah pihak dengan cepat menciptakan selapis hawa serangan yang tajam dan mengerikan.

Dengan cepat Liong Thian siang mengunci serangan Tiong Leng Kang yang dibarengi gerak maju itu.

Tapi justru dengan gerakan serbuannya itu, Tiong Leng Kang tidak berhasil menghindarkan diri dari serangan golok musuh yang mengancam dada serta lambungnya itu. sepasang senjata lawan kontan bersarang telak di tubuhnya.

Liong Thian siang mendengus dingin, sepasang goloknya kembali diputar sedemikian rupa menciptakan selapis kekuatan pertahanan yang betul-betul amat tangguh. Sedemikian tangguhnya pertahanan itu, membuat Liong Thian siang merasa aman pula atas keselamatan jiwanya.

Dari gembira dan bangga ia menjadi teledor dan gegabah, kegegabahannya itu menciptakan pula terbukanya titik kelemahan di atas tubuhnya.

Tiong Leng Kang segera merasakan bahwa saatnya telah tiba, pedang Cing peng kiam tersebut disertai sambaran cahaya kilat yang tajam langsung menusuk ke bagian mematikan di dada lawan.

Dari dada pedang itu tembus hingga ke atas bahu bagian belakangnya, darah kental segera berhamburan membasahi seluruh permukaan tanah.

Liong Thian sing tertegun ketika merasakan dadanya tertusuk, pada hakekatnya segenap jago yang ada disekitar gelanggang dibuat tertegun oleh kenyataan tersebut.

Lama,.... lama sekali, masih belum kedengaran juga sedikit suarapun.

Buru-buru Pek Hong maju ke depan menghampiri suaminya yang terluka parah.

Dua orang pengawal Liong Thian-siang segera meloloskan pula senjata mereka untuk bersiap sedia.

Pada saat itulah bayangan manusia berkelebat lewat, dua sosok bayangan manusia kembali meluncur datang ke tengah arena.

Kedua orang yang baru datang itu tak lain adalah Tang Cuan serta Cu Siau-hong.

Dari tebing sebelah belakang melayang turun pula sesosok bayangan manusia, dia adalah Seng Tiong-gak, Pek Hong meloloskan pedangnya menghadang jalan maju dua orang pengawal dari Liong Thian-siang, kemudian bentaknya dingin:

"Kalian hendak bertempur?"

Dengan suatu gerakan cepat Cu Siau-hong melewati Tang Cuan dan turun di hadapan Pek Hong, lalu sambil menghampiri dua orang laki bersenjata itu katanya:

"Sunio, lihat keadaan suhu, serahkan saja kedua orang ini kepadaku?"

Dalam pada itu Liong Thian-siang telah membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar kemudian bisiknya: "Tiong Ling-kang kau berhasil mematahkan ilmu golok Thian-seng to-hoat ku?"

Tiong Leng Kang sendiripun menderita luka yang cukup parah, tapi ia masih sanggup mempertahankan diri secara perkasa, sikap maupun senyumannya tetap agung dan penuh kewibawaan sebagai layaknya seorang ketua dari suatu perguruan.

Sahutnya sambil tersenyum:

"Aku gagal mematahkan ilmu golokmu itu.."

"Tapi kau berhasil menusuk dadaku dengan telak!" sambungnya.

"Yaa, itulah dikarenakan kau terlalu gegabah, dengan mengandalkan pengalaman maupun kemampuanku. aku tak berhasil menemukan cara yang tepat untuk mematahkan seranganmu, coba kalau kau  mempertahankan diri secara baik-baik, niscaya aku akan gagal untuk menusukmu!"

Air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Liong Thian siang, pelan-pelan ujarnya: "Aku telah bersusah payah selama dua puluh tahun lamanya, tapi tetap gagal untuk mendapatkan Pek Hong."

Selesai berkata, tiba-tiba sepasang matanya terpejam. darah kental bercucuran dari mulut dan lubang hidungnya.

Tiong Leng Kang menggetarkan pergelangan tangan kanannya dan mencabut keluar pedang Cing peng kiam tersebut, darah segar segera menyembur keluar dari dada maupun punggungnya.

Sementara itu Pek Hong telah mencabut pula kedua bilah golok yang bersarang di tubuh Tiong Ling-kang.

Yang dimaksudkan golok dibalik ujung baju adalah dua lembar pisau tajam yang tipis tapi tajamnya luar biasa, senjata itu dapat di gulung menjadi bulatan.

Dibalik ujung bajunya, Liong Thian-siang menyembunyikan dua buah kotak besi, dihari hari biasa, kedua bilah golok tipis tersebut tergulung di dalam kotak besi itu,

Letak kotak tepat di atas lengan baja pelindung tangan yang dikenakannya, sehingga asal ia mengebaskan tangannya kuat-kuat maka kedua bilah golok tipis itu segera akan meluncur keluar dari kotak besi dengan kecepatan luar biasa.

Bila golok tipis itu sudah tidak terpakai lagi, asal tombol dalam kotak ditekan, serta merta golok tadi akan tergulung kembali ke dalam kotak tersebut.

Jika seseorang dapat melatih diri dengan senjata tersebut hingga mencapai kesempurnaan, maka bila dikombinasikan dengan lengan baja pelindung tangannya, maka kedua macam senjata tersebut akan berubah menjadi suatu senjata pembunuh yang benar-benar mengerikan. Menyaksikan tubuh Liong Thian siang mulai roboh ke tanah, Tiong Leng Kang merasakan pula tubuhnya mulai tak tahan, ia mundur dengan sempoyongan, kemudian roboh terjengkang ke tanah.

Buru-buru Pek Hong memayang tubuh suaminya.

“Aku tidak mengapa, cuma terlampau besar tenaga yang telah kugunakan."

“Tiong-gak sute, Tang Cuan dan Siau-hong telah berdatangan semua!"

"Jangan lepaskan orang-orang itu, suruh mereka hadang musuh kita dan memeriksanya untuk menunjukkan tempat ayahmu di sekap."

Padahal tanpa diperintah oleh Tiong Leng Kang pun, Seng Tiong-gak, Cu Siau-hong dan Tang Cuan telah mengambil posisi segi tiga untuk mengurung ke empat orang itu rapat-rapat.

Empat orang musuh adalah dua orang tukang tandu dan dua orang pengawal bersenjata..

Kematian dari Liong Thian siang dengan cepat menimbulkan getaran perasaan yang besar dihati mereka berempat, untuk sesaat lamanya, mereka hanya berdiri tertegun di tempat semula tanpa mengetahui haruskah melakukan perlawanan, ataukah harus melarikan diri. 

"Tang Cuan, Siau-hong, bunuh dulu dua orang diantara ke empat orang itu.!" perintah Seng Tiong-gak dingin.

Tang Cuan dan Cu Siau-hong segera mengiakan, pedang mereka berkelebat lewat, dua orang tukang tandu itu segera roboh terkapar bermandikan darah segar,

Terluka parah guru mereka membuat dua orang jago muda   ini   merasa   sedih   bercampur   gusar,   tapi  karena gurunya belum memberi perintah, merekapun tak berani sembarangan bergerak.

Karena begitu Seng Tiong-gak memberi komando untuk bunuh, kontan saja sepasang pedang mereka berkelebat lewat, dua orang tukang tandu yang jaraknya memang dekat dengan mereka kontan saja menemui ajalnya detik itu juga.

Belum lagi kedua orang pengawal itu meloloskan goloknya, dua bilah pedang yang masih membawa noda darah telah menempel di atas tenggorokan mereka.

Ilmu pedang Cing-peng kiam-hoat memang mengutamakan kecepatan bergerak, apalagi Tang Cuan serta Cu Siau-hong memang telah memperoleh seluruh kepandaian dari gurunya, kecepatan gerak senjata mereka sungguh cepatnya luar biasa,

"Jangan bunuh kedua orang itu!" buru-buru Pek Hong berseru:

Seng Tiong-gak menggetarkan pedang untuk memukul rontok senjata golok dua orang pengawal itu, lalu ujarnya dengan dingin:

"Aku tidak memiliki kesabaran seperti ciangbunjin kami, maka kuanjurkan kepada kalian berdua agar menjawab saja semua pertanyaan secara jujur dan tanpa membantah !"

Dua orang pengawal itu saling berpandangan sekejap, kedua belah pihak sama-sama membungkam diri. Melihat sikap mereka, Seng Tiong-gak tertawa dingin, serunya kembali:

"Apakah harus kubunuh seorang diantara kalian, sehingga sisa yang seorang baru bersedia menjawab?" Sekali lagi kedua orang itu saling berpandangan sekejap, namun belum ada juga yang menjawab. "Sute!" tiba-tiba Tiong Ling-kang berkata, "jangan kau bunuh mereka berdua, mereka hanya mendengarkan perintah dari Liong Thian siang sebab dalam sekali gerakan tangan saja Liong Thian-siang sanggup untuk membunuh mereka"

Seng Tiong-gak manggut-manggut.

"Asal mereka bersedia bekerja sama, tentu saja aku tak akan membunuh mereka, cuma kalau tidak dikasih sedikit tanda mata, belum tentu mereka bersedia menjawab"

Tiong Leng Kang menghela napas panjang, ia pejamkan mata untuk mengatur pernapasan dan tidak berbicara lagi.

Dengan suara lantang Seng Tiong-gak lantas berkata: "Kalian dengar baik-baik, aku akan mengajukan sebuah

pertanyaan kepada kalian masing-masing orang, bila tidak

menjawab maka aku akan menusuk tubuh kalian satu kali, soal enteng atau beratnya tusukan itu tergantung pula pada kemujuran kalian masing masing"

Sambil berpaling ke arah laki-laki di sebelah kiri, dia mulai bertanya: "Dimanakah Pek locianpwe?"

Laki-laki di sebelah kiri itu menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat tersebut kemudian diurung-kan.

"Sreet!” Seng Tiong-gak segera menggerakkan pedangnya melancarkan sebuah tusukan.

Laki-laki itu hanya merasakan wajahnya menjadi dingin, separuh potong hidungnya tahu-tahu sudah rontok ke tanah diiringi cucuran darah kental.

Seng Tiong-gak segera mengalihkan sorot matanya yang tajam itu ke atas wajah laki-laki yang di sebelah kanan katanya: “Sekarang kau yang harus menjawab, Pek locianpwe berada dimana?"

Laki-laki di sebelah kanan itu memandang sekejap darah yang bercucuran dari sebagian hidungnya, kemudian menghela napas panjang.

"Ia berada di sebuah rumah petani, lebih kurang belasan li dari tempat ini" sahutnya lirih.

Seng Tiong-gak alihkan pula sinar rnatanya ke arah laki laki di sebelah kiri lalu bertanya lebih jauh: "Hayo jawab, luka apa saja yang telah di derita oleh Pek locianpwe selama berada dalam sekapan?"

Sejak separuh hidungnya kena ditebas, laki-laki itu merasakan kesakitan yang luar biasa, tentu saja ia tak berani berkeras kepala lagi, buru-buru jawabnya:

"Ia tidak menerima siksaan apa-apa, hanya jalan darah bisunya tertotok, selama ini ia berada dalam keadaan tak sadar"

Seng Tiong-gak kembali berpaling ke arah laki-laki di sebelah kanan sambil tanyanya: "Berapa orang yang berjaga ditempat situ?"

"Lima orang!"

“Bagaimana dengan kepandaian silat yang dimilikinya!" "Tidak terlalu jelek!"

Kemudian setelah melirik sekejap ke arah Tang Cuan dan Cu Siau-hong, ia melanjutkan: "Andaikata dibandingkan dengan mereka berdua, maka kepandaian akan seimbang" Seng Tiong-gak berpaling kembali ke arah laki-laki di sebelah kiri, tanyanya lebih jauh: "Sudah berapa lama kalian mengikuti LiongThian-siang?"

"Tidak lebih dari tiga bulan..." "Hanya tiga bulan" Seng Tiong-gak keheranan. "Benar..!"

"Kalau begitu kalian bukan sekomplotan dengan Liong Thian siang?" sela Tang Cuan dingin.

"Kami mempunyai delapan puluh orang saudara yang selama ini bergerak disekitar wilayah Ho lam sebelah timur dan Shoa tang sebelah barat, tidak beruntung pada tiga bulan berselang kami telah berjumpa dengan Liong Thian siang, memang kami agak teledor sehingga salah mengiranya sebagai seekor domba gemuk, baru saja akan turun tangan kepadanya, siapa tahu kami malah ketanggor batunya, dengan tangan kosong tak sampai seratus gebrakan hampir separuh anggota komplotan ku kena dibunuh"

"Oleh karena itu kalian rela takluk dan menjadi pengawal tandunya?" sambung Seng Tiong-gak.

"Benar! Waktu itu ia masih ada dua orang teman seperjalanan, salah seorang diantaranya mengusulkan agar kami dibunuh semua saja, daripada meninggalkan bibit bencana di kemudian hari, tapi Liong Thian siang mengatakan bahwa kami bisa dipergunakan tenaganya dengan menjadikan kami semua sebagai anak buahnya, lagi pula kamipun dipaksa untuk mengangkat sumpah tak boleh berpikiran nyeleweng, jika berniat memberontak atau melarikan diri, maka bila ketahuan kami akan di bunuh tanpa ampun "

"Kau bilang, ia mempunyai dua orang teman seperjalanan, manusia macam apakah kedua orang itu?" tanya Seng Tiong-gak cemas.

"Yang seorang adalah laki-laki berusia empat puluh tahunan, sedangkan yang lain berusia dua puluh tahunan, mereka berdua sama-sama mengenakan baju berwarna hitam "

Seng Tiong-gak gelengkan kepalanya mencegah laki-laki di sebelah kanan itu berbicara lebih jauh seraya berpaling ke arah laki-laki di sebelah kiri katanya:

"Coba kau yang melanjutkan keterangan ini!"

"Setelah melakukan kami semua, keesokan hari nya Liong Thian siang berpisah dengan kedua orang rekannya, sedangkan ia membawa kami datang kemari, cuma Liong Thian siang telah berjanji dengan mereka untuk berjumpa kembali di atas loteng Ui hok lo pada bulan satu tanggal lima belas bulan depan"

"Bagaimanakah raut wajah kedua orang laki-laki berbaju hitam itu?"

"Laki-laki yang berusia empat puluh tahunan itu berperawakan sedang, memelihara jenggot pendek, wajahnya persegi lebar dengan alis mata yang tebal, ia tidak memiliki ciri-ciri yang khusus dan menyolok, berbeda sekali dengan pemuda itu, ia mempunyai tanda-tanda khusus yang mudah dikenali"

"Apa ciri-cirinya?"

"Ia memiliki kulit badan sangat aneh, seluruh tubuhnya berwarna kuning emas"

"Oooh..!"

"Yang lebih aneh lagi, tubuhnya seperti memiliki sisik sisik kuning yang tebal"

"Mempunyai sisik? Jangan-jangan dia bukan manusia?" "Jelas  dia  adalah  manusia,  bahkan  wajahnya  terlalu

lumayan, di atas wajah maupun tangannya putih bersih dan

halus,  tapi  dari  batas  pergelangan  tangan  ke  atas lamat lamat mempunyai sisik tebal yang memantulkan sinar tajam"

"Omong kosong!" bentak Tang Cuan, "masa dalam dunia terdapat manusia macam begitu..."

"Setiap perkataan siaute adalah sejujurnya" buru-buru laki-laki di sebelah kiri itu berseru, "Tidak sulit sebenarnya untuk membuktikan persoalan ini, pada bulan satu tanggal lima belas, mereka akan berkunjung ke loteng Ui-hok lo, hal ini akan segera diketahui"

Seng Tiong-gak manggut-manggut, setelah termenung sebentar ia berkata kembali:

"Tang Cuan, kau tinggal saja di sini membantu subo untuk merawat suhu, sedang Siau-hong dan aku menyelamatkan Pek locianpwe, kemudian baru menyusun rencana lebih jauh"

"Perkataan sute memang benar" kata Pek Hong pula sambil menahan rasa sedih dalam hatinya, "usahakan dulu untuk menolong ayahku, dia orang tua memiliki pengalaman yang sangat luas, mungkin keterangannya bisa banyak memberi petunjuk kepada kita"

Sekalipun ia sangat kuatir atas keselamatan ayahnya yang tersekap, tapi iapun tak kalah sedihnya oleh luka suaminya yang parah, untuk sesaat ia menjadi serba salah dan tak tahu haruskah menolong ayahnya lebih dulu?

"Atau menolong suaminya lebih dulu."

Tapi luka yang diderita Tiong Ling-kang memang terlampau parah, setiap saat luka tersebut mungkin akan mengalami perubahan di luar dugaan. Karenanya setelah berpikir sejenak, Pek Hong memutuskan untuk tetap tinggal di sana mendampingi suaminya.

Seng Tiong-gak segera menotok jalan darah laki-laki di sebelah kiri itu dan katanya. "Kau tetap tinggal di sini, sesudah menolong Pek locianpwe nanti kami akan datang lagi untuk membebaskan dirimu."

Lalu kepada laki-laki di sebelah kanan katanya:

"Hayo kita berangkat, tunjukkan tempat penyekapan tersebut!"

Cu Siau-hong yang selama ini membungkam, tiba-tiba menghembuskan papas panjang, lalu bisiknya lirih:

"Susiok, apakah perlu kita hantar dulu suhu pulang ke perkampungan Ing-gwat san-ceng? Coba lihatlah, luka suhu parah sekali"

"Aku rasa tak perlu" tukas Pek Hong cepat, "lukanya terlampau parah, dewasa ini lebih baik jangan bergerak gerak dulu"

Cu Siau-hong memberi hormat.

"Subo memang benar, toa Suheng Baik baiklah merawat suhu"

Selesai berkata bersama Seng Tiong-gak dan laki-laki berbaju hitam itu berangkatlah mereka meninggalkan tempat itu.

Memandang peluh sebesar kacang yang bercucuran membasahi sekujur tubuh Tiong Leng Kang, Pek hong merasa sedih sekali hingga air matanya jatuh bercucuran.

Tiba-tiba Tang Guan bertekuk lutut dan menjatuhkan diri di hadapan gurunya, kemudian dengan keras ia menempeleng wajah sendiri. "Tang Cuan apa yang sedang kau lakukan" tegur Pek Hong sambil menahan cucuran air matanya.

"Kami menyesal kenapa tidak munculkan diri sejak tadi, kini suhu terluka separah ini, kami memang pantas mati"

Pek Hong menghela napas panjang.

"Tang Cuan," katanya lagi dengan lembut "kau tak usah terlalu menyesali diri sendiri, jangankan kalian, aku yang berada disamp-ing nya pun sama saja tidak turun tangan"

"Tecu pun merasa sedikit tercengang, mengapa subo hanya berpeluk tangan saja"

"Subo..."

"Aku tak mampu menolongnya, selama banyak tahun ini kepandaian silat suhumu telah memperoleh kemajuan yang amat pesat, aku sudah bukan tandingannya lagi, jika aku turun tangan kemungkinan akan memecahkan perhatiannya malah"

"Subo, benarkah ilmu silat yang dimiliki Liong Thian siang lihay sekali. "

"Yaa, lihay sekali, setiap sambaran goloknya mungkin akan merenggut nyawa kita semua"

"Andaikata aku pertaruhkan jiwaku dengan menerima tusukan goloknya, dapatkah suhu membunuhnya?"

"Tidak dapat, kau sama sekali tak akan mampu untuk menghalanginya, karena itu kau meski turun tangan tidak lebih hanya akan mengorbankan jiwamu dengan percuma"

"Oooh, kalau begitu meskipun kita turun tangan juga tak akan dapat membantu suhu" "Yaa, sedikitpun tak bisa, maka kalian tak usahlah menyesal dihati? pun tak usah sedih bila ada orang yang musti bersedih hati, maka orang itu seharusnya adalah aku"

"Hayo cepat bangun!" tukas Pek Hong. "Tidak. Subo biar berlutut saja di sini"

"Tang Cuan, jangan berlutut terus, perhatikan sekeliling tempat ini, mungkin masih ada musuh yang tertinggal ditempat ini"

Tang Cuan segera menjadi sigap dan melompat bangun. "Betul juga perkataan subo!" katanya.

Dengan pedang terhunus ia melakukan pemeriksaan dulu di sekeliling tempat itu, kemudian baru kembali ke tempat semula dan berdiri serius di situ sambil mengawasi empat penjuru.

Air mata Pek Hong bercucuran terus tiada hentinya tapi ia tak berani menangis hingga bersuara.

Luka yang diderita Tiong Ling-kang telah diteliti dengan seksama, luka tersebut memang cukup parah. Waktu berlalu dengan lambat dalam penantian.

Tang Cuan gelisah, Pek Hong lebih gelisah, tapi mereka tidak berbicara lagi.

Kurang lebih satu saat kemudian, Seng Tiong-gak dan Cu Siau-hong baru kelihatan muncul di sana. Cu Siau-hong berlari sambil membopong seorang kakek, dia adalah Pek Bwe ayah Pek Hong... Cepat Pek Hong membesut air matanya, lalu bertanya:

"Apa jalan darah ayahku telah dibebaskan?"

Seng Tiong-gak gelengkan kepalanya berulang tali. "Siaute telah mencoba dengan dua macam ilmu totokan yang berbeda, tapi jalan darah Pek locianpwe belum terbebasjuga, karenanya siaute tak berani gegabah lagi"

"Kalau begitu, ayah tentu sudah ditotok oleh suatu macam ilmu totokan khusus!" kata Pek Hong sambil tertawa sedih.

"Hembusan napas Pek locianpwe masih ada, ini membuktikan kalau ia masih hidup, mari kita pulang dulu ke perkampungan Ing-gwat-san-ceng, kemudian baru mencari cara lain untuk membebaskan totokan jalan darah di tubuh locianpwe"

"Yaa, terpaksa kita memang harus berbuat demikian!" Pek Hong manggut-manggut.

"Enso, bagaimana dengan keadaan luka suheng?" Seng Tiong-gak bertanya setengah berbisik. Pek Hong gelengkan kepalanya berulang kali.

"Lukanya parah sekali, entah obat mujarab milik kita dapat menyembuhkan lukanya itu atau tidak?"

"Enso, kalau memang begitu kenapa kau tidak mengajaknya pulang ke perkampungan? Luka su-heng begitu parah, hayolah kita pulang ke Ing-gwat-san-ceng sambil usahakan pertolongan"

"Aaai..!" Pek Hong menghela napas panjang

"terus terang saja, lukanya terlampau parah, sudah beratus kali pertarungan sengit yang pernah ku alami selama berkelana dalam dunia persilatan pula, tapi belum pernah kujumpai pertarungan seperti ini"

"Maksud enso..." "Berhubung luka yang dideritanya terlampau parah, aku tak berani menggerakkan tubuhnya secara gegabah, sebab salah-salah mungkin akan merenggut selembar jiwanya"

"Ooh! Jadi kalau begitu "

"Dapatkah ia mempertahankan diri atau tidak, hal ini tergantung pada kesempurnaan tenaga dalamnya serta kemujurannya"

"Enso, apa maksud ucapanmu itu?"

"Aku kuatir tusukan itu telah menembus ulu hatinya meski darah yang mengalir sekarang telah berhenti, tapi aku curiga kalau berhentinya aliran darah itu lantaran ia menutup mulut lukanya dengan mengandalkan hawa murni yang sempurna, oleh sebab itulah aku tak berani sembarang menggeserkan tubuhnya"

"Tapi.. enso, kita toh tak bisa berdiam terus di sini untuk selamanya. "

-oOo>d’w<oOo-

“TUNGGU saja sebentar lagi! Bila keadaan luka dari Ling-kang betul-betul teratasi kita baru memikirkan rencana selanjutnya”.

"Enso, menurut pendapatmu, sampai kapankah luka suheng baru dapat teratasi?"

"Paling tidak harus menunggu setengah jam lagi!"

Tiba-tiba terdengar Tang Cuan menjerit dengan suara yang tinggi melengking: "Kebakaran! Kebakaran! Kebakaran!" Seng Tiong-gak dan Cu Siau-hong segera berpaling tampaklah cahaya api telah membumbung tinggi ke angkasa dan menerangi seluruh permukaan tanah...

Tempat asal kebakaran tersebut tak lain adalah perkampungan Ing-gwat-san-ceng.

Padahal wilayah puluhan li disekeliling tempat itu tiada dusun atau rumah penduduk lain kecuali perkampungan Ing-Swat san-ceng maka bila sampai terjadi kebakaran, satu satunya sumber kebakaran tersebut tak lain adalah perkampungan tersebut.

Dengan terperanjat Seng-Tiong-gak melompat bangun lalu serunya: "Perkampungan Ing-gwat-san-ceng kita yang terbakar!"

"Dalam perkampungan masih ada It-ki, lima orang suheng dan belasan centeng kenapa bisa terjadi kebakaran?" seru Cu-Siau-hong pula.

"Susiok, bagaimana kalau tecu pulang dulu untuk melihat keadaan?" tanya Tang-cuan dengan cepat.

"Siau-hong, kau tinggal di sini!" perintah Seng Tiong-gak cepat, "Tang Cuan, ikut aku pulang ke perkampungan!"

"Sute! Jangan sembarangan bergerak" mendadak Pek Hong melompat bangun sambil berseru.

"Enso, kau "

"Jelas ini adalah rencana busuk musuh, kalian jangan pulang secara gegabah."

"Tapi enso, apakah kita harus berpeluk tangan belaka membiarkan perkampungan kita dibakar orang?" seru Seng Tiong-gak gelisah. Bagaimanapun juga Pek Hong adalah seorang jago kawakan yang amat berpengalaman, sejak terjadinya musibah, ia malah dapat menenangkan hatinya.

"Mungkin orang lain telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menunggu kita masuk perangkap" katanya dingin, "maka jika kalian sampai pulang, kita perguruan Bu-khek-bun pasti akan tertumpas habis"

"Maksud enso..."

“Sementara kita kemari, pihak musuh dengan kekuatan yang lebih besar menyerbu ke perkampungan Ing-gwat-san ceng melakukan penumpasan "

Pada saat itulah, Tiong Leng Kang yang sedang duduk bersemedi membuka matanya lebar-lebar lalu mengeluh:

"Sute sekali  salah  bertindak,  menyesalpun  tak  berguna. "

Tiba-tiba ia muntah darah segar, kemudian tubuhnya roboh terjengkang ke atas tanah.

Pek Hong merasa amat terkejut, buru-buru ia membopong tubuh Tiong Leng Kang sambil berseru: "Leng Kang kau "

"Aku sudah tak tahan lagi" sahut Tiong Leng Kang sambil membuka kembali matanya. "Mari kita pulang ke perkampungan Ing-gwat-san-ceng "

Dengan paksakan diri Tiong Ling sang tarik napas panjang, kemudian katanya:

"Jangan memikirkan untuk mengobati lukaku dengan obat mujarab Pek Hong percuma, nadiku telah retak dan kesempatan hidupku telah punah, kecuali kau bisa mencarikan jantung baru bagiku jangan harap nyawaku bisa tertolong,   sekarang   hawa   murniku   telah   buyar  selesai mengucapkan beberapa patah kata ini jiwaku akan melayang pergi.."

Ketika berbicara sampai di situ hawa darah di dadanya kembali bergolak ia muntah kembali darah kental.

Darah tersebut telah berubah menjadi merah kehitam hitaman, lagi pula amat kental jelas jantungnya sudah pecah.

Pek Hong menghembuskan napas panjang telapak tangannya segera ditempelkan ke atas punggung Tiong Leng Kang, kemudian katanya dengan sedih:

"Ling-kang, apa yang hendak kau katakan? Sekarang katakanlah kepada kami semua" Sekulum senyuman segera menghiasi wajah Tiong Ling-kang, katanya:

"Aku bisa mempunyai seorang istri yang bijaksana seperti kau, hal ini sungguh merupakan suatu kejadian yang patut kubanggakan"

Pek Hong tak dapat mengendalikan rasa sedihnya lagi, air matanya jatuh bercucuran dengan amat derasnya.

"Oh. Ling-kang, dalam kenyataan akulah yang menyebabkan kau jadi begini" rintihnya, "coba kalau tiada aku, mungkin kaupun tak akan mengalami kejadian seperti hari ini"

Tiong Ling-kang tertawa getir.

"Tanpa bantuan dan dorongan darimu, bagaimana bisa memperoleh kesuksesan seperti hari ini? ilmu silat dari Liong Thian-siang memang aneh sekali, tapi aku toh dapat membunuhnya lebih dulu, terhadap akhir dari pertarungan hari ini akupun, merasa amat gembira, Golok dibalik ujung baju merupakan semacam ilmu yang lihay, sebelum kejadian  ini  tak  pernah  kujumpainya.  Pek  Hong, jangan bersedih hati bagi kematianku, aku sudah mendapat banyak sekali dalam kehidupanku ini.."

Agaknya ia masih mempunyai banyak perkataan yang hendak diucapkan, setelah menghembuskan napas panjang, dengan meminjam kekuatan yang disalurkan Pek Hong ke tubuhnya, ia berkata lebih jauh:

"Selama ini aku selalu berusaha menjaga nama baik Bu khek-bun, bahkan aku ingin meningkat lebih jauh dengan membawa Bu khek-bun ke puncak ketenarannya, tapi aku telah melupakan banyak persoalan-persoalan kecil, justru persoalan-persoalan kecil inilah yang membuat aku jadi gagal total dan mengalami keadaan seperti hari ini"

"Leng Kang, coba katakan, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" kata Pek Hong.

Tiong Ling-kang melirik sekejap ke arah Pek Bwe, kemudian sahutnya:

"Banyaklah minta petunjuk kepada dia orang tua. "

Sesudah muntah darah lagi, ia berkata lebih jauh: "Panggillah mereka datang kemari!"

Pek Hong segera menggape, Seng Tiong-gak, Tang Cuan dan Cu Siau-hong segera mengiakan dan maju mendekat.

Mereka bertiga menjatuhkan diri berlutut di depan tubuh gurunya.

Waktu itu sinar mata Tiong Leng Kang telah pudar, walaupun ketiga orang itu berada di hadapannya ia sudah tak mampu untuk melihat dengan jelas lagi.

Setelah berkedip beberapa kali akhirnya Tiong-Leng Kang dapat juga melihat Seng Tiong-gak dengan jelas, pelan-pelan ia berkata: "Toa suheng hal ini mana boleh jadi" buru-buru Seng Tiong-gak menukas, "serahkan saja jabatan ketua itu kepada Tang Cuan sedang siaute akan berusaha dengan sepenuh tenaga untuk membantunya membangun kembali kejayaan Bu-khek-bun kita"

Tiong Leng Kang manggut-manggut, katanya kemudian: "Tang Cuan berada dimana?"

Tang Cuan bergerak maju dua langkah dan mendekati Tiong Lang-kang, lalu sahutnya. "Tecu berada disini!"

"Dengarkan baik-baik, mulai sekarang kau sudah menjadi ciangbunjin dari perguruan Bu khek-bun "

"Tecu belum tamat belajar, mana berani menerima jabatan sebagai ciangbunjin? Sepantasnya kalau susiok yang menerima warisan ini"

"Tang Cuan!” dengan cepat Seng Tiong-gak berseru, "keadaan suhumu sudah amat kritis, mungkin masih banyak pesan penting yang hendak disampaikan, perhatikan baik-baik, jangan mengacau"

Tang Cuan agak tertegun, akhirnya ia tak berani berkata lagi.

Sementara itu suara dari Tiong Leng-kang sudah  semakin lemah, pelan-pelan ia berkata lagi:

"Tang Cuan, kau tak usah menampik lagi hanya saja didalam menghadapi setiap masalah, kau harus berunding dengan susiok-mu lebih dulu"

"Tecu terima perintah!" sahut Tang Cuan pada akhirnya dengan air mata bercucuran.

Tiong Leng Kang menghembuskan napas panjang, sesaat kemudian ia baru berbisik lagi. "Dimana Siau-hong?" "Tecu berada di sini" Cu Siau-hong menjawab.

"Siau-hong, aku tahu. kau adalah seorang bocah yang pandai menyembunyikan diri, kau juga merupakan orang yang paling tangguh dalam perguruan Bu khek-bun kita, aku menaruh harapan yang besar terhadap dirimu, semoga saja kau jangan mengecewakan diriku"

"Pesan suhu tak akan tecu lupakan untuk selamanya!" "Aku tahu kau cerdik dan berbakat alam, aku tak berani

menahanmu terus dalam perguruan Bu khek-bun, kuijinkan

kau untuk berguru dengan orang lain kemudian hari, tapi kau harus bersedia untuk membangun Bu-khek-bun, serta membantu toa-suhengmu memimpin perguruan kita"

Cu Siau-hong menyembah di atas tanah dan sahutnya. "Tecu tak berani tecu tak berani, tecu adalah murid Bu-

khek-bun,  tentu  saja  semua  masalah  dalam  Bu-khek-bun

adalah masalah tecu pula, tentu tecu akan berjuang dengan sepenuh tenaga"

"Siau-hong, suhu dapat melihat bahwa di kemudian hari kau pasti akan sukses besar. Bu khek-bun mungkin akan menjadi penghalang bagi gerak gerikmu di kemudian hari, maka Tang cuan! Ingat baik-baik perkataanku..."

"Tecu siap mendengarkan dengan seksama!"

"Aku dengan kedudukan sebagai ciang-bunjin angkatan ke sebelas dari Bu-khek-bun menurunkan perintah yang terakhir, mulai sekarang Cu Siau-hong sudah bukan murid Bu-khek-bun lagi, ia tidak terkekang oleh semua peraturan dan pantangan yang berlaku dalam perguruan Bu-khek bun"

"Tecu terima perintah!" "Suhu!" dengan cemas Cu Siau-hong segera berseru, "apakah kau hendak mengusir tecu dari perguruan "

"Tidak, aku hanya menginginkan kau memiliki lebih banyak kebebasan untuk berbuat dan bertindak, Siau-hong mulai sekarang kau boleh bertindak sekehendak hatimu sendiri dan tidak terikat lagi oleh peraturan perguruan "

Ketika berbicara sampai di situ, rupanya ia sudah mempergunakan sisa tenaga yang dimilikinya, tiba-tiba tubuhnya berkelojot, sepasang matanya membalik ke atas dan jago lihay ini menghembuskan napasnya yang terakhir.

"Suhu!" dengan cemas Tang Cuan berseru, cepat ia mencengkeram baju Tiong Ling-kang.

Setelah mengalami pelbagai peristiwa, Pek Hong malah berubah menjadi lebih tenang dan tabah, sambil membaringkan tubuh Tiong Ling-kang ke atas tanah ia bangkit berdiri kemudian berkata:

"Tang Cuan, lepaskan cengkeramanmu pada baju gurumu!"

Tang Cuan tertegun, lalu melepaskan cengkeramannya atas ujung pakaian Tiong Ling-kang.

Pelan-pelan Pek Hong mengalihkan sinar matanya memandang wajah Tang Cuan, Cu Siau-hong dan Seng Tiong-gak, kemudian katanya:

"Kalian berdiri semua!"

Seng Tiong-gak sekalian menurut dan segera bangkit berdiri.

Dengan wajah serius Pek Hong berkata lagi:

"Tang Cuan, Siau-hong, suhu kalian mati tanpa membawa sesal, usianya sudah melewati setengah abad, tidak  terhitung  berumur  pendek,  selama  puluhan  tahun berkelana dalam dunia persilatan, ia berhasil membawa Bu khek-bun dari suatu perguruan kecil menjadi suatu perguruan besar ia mati di ujung golok dibalik baju milik Pak hay khi keng khek bun, kematian itu tidak termasuk memalukan, apa lagi ia berhasil membunuh musuhnya lebih dulu, peristiwa ini boleh dibilang merupakan suatu kejadian yang patut dibanggakan”.

Begitulah, suatu peristiwa kematian yang sesungguhnya amat memedihkan hati telah diubahnya menjadi suatu kejadian yang penuh kebanggaan hal mana seketika itu juga membangkitkan semangat semua orang.

Pek Hong menghembuskan napas panjang lalu katanya lagi:

“Suhu kalian suamiku, telah mati dengan hati yang tenang dan mata yang meram hasil karyanya tak akan tersia sia, perjuangan ada penerus yang akan melanjutkan usahanya dan kini tanggung jawab dari perguruan pun telah diserahkan kepada murid pertamanya yang telah dididik sejak kecil.

"Setelah tecu menjabat ketua perguruan tecu bersumpah akan menjunjung nama baik perguruan, tak akan kusia siakan harapan suhu" dengan cepat Tang Cuan berseru.

"Bagus sekali. "

Sinar matanya dialihkan ke wajah Cu Siau-hong kemudian lanjutnya lagi: "Siau-hong, jangan salah sangka terhadap maksud baik gurumu. "

"Tecu tidak berani"

"Ilmu Siu tiong to (golok dibalik baju) dari Khi keng khek telah berpindah dari Pak hay ke dalam daratan Tionggoan, itu menandakan kalau dunia persilatan yang selama ini tenang selama beberapa tahun bakal mengalami pergolakan lagi, peristiwa ini yang terjadi sekarang tak lebih hanya suatu permulaan sebelum berlangsungnya suatu badai besar, Perguruan Bu-khek-bun dari kecil tumbuh menjadi besar, peraturan perguruannya ketat dan disiplinnya tinggi, namun peraturan-peraturan yang ketat tersebut meski dapat merubah anggota kita menjadi pendekar-pendekar yang jujur tapi justru mengurangi kepekaannya terhadap segala perubahan, suhumu tahu, bahwa kau berbakat bagus dan pintar, maka ia tak ingin membuat kaupun terbelenggu oleh peraturan yang bermacam macam, suhumu berharap agar kau bisa lebih bebas untuk bertindak guna membalaskan dendam bagi kematian gurumu dan melindungi keutuhan perguruan, dengan kemampuanmu sekarang, hal ini pasti dapat kau atasi "

Demikianlah, setelah berlangsung pembicaraan yang panjang lebar, dipimpin Tang Cuan, Seng Tiong-gak, Cu Siau-hong dan Pek Hong bersama-lama berlutut di depan jenasah Tiong Leng Kang dan menyembah tiga kali kepada layonnya.

Dalam pada itu, kobaran api yang membakar perkampungan Ing-gwat san-ceng makin lama berkobar semakin besar, agaknya seluruh perkampungan tersebut sudah tertelan dibalik lautan api.

Pek Hong yang tabah tidak menampilkan rasa panik atau gugup, terhadap kobaran api yang membumbung ke angkasa, ia bersikap seakan-akan tak pernah melihatnya.

Waktu itu secara tiba-tiba Tang Cuan berlutut di hadapan Seng Tiong-gak, melihat itu sambil membangun kembali keponakan muridnya, Seng Tiong-gak berseru:

"Tang Cuan, spa yang sedang kau lakukan?" "Pesan suhu tak berani tecu tampik, di kemudian hari tecu masih banyak mengharapkan bantuan dan petunjuk dari susiok sebagai tiang lo perguruan kami"

"Tang Cuan, suhumu mewariskan kedudukan ciangbunjin itu kepadamu, hal mana sesungguhnya merupakan peraturan yang berlaku umum dalam dunia persilatan, dan merupakan juga maksud hatiku, tentu saja aku akan berusaha dengan sepenuh tenaga untuk membantumu, soal menjunjung nama baik perguruan, aku masih berkewajiban untuk memperjuangkan"

Setelah menghela napas, ia melanjutkan:

"Suheng telah mewakili suhu untuk mewariskan ilmu silat kepadaku, tak terukur budi kebaikannya kepada diriku, meski dia hanya suhengku tapi hubungan kami boleh dibilang sangat akrab sekali, sudah pasti aku akan ikut memikul tanggung jawab perguruan dengan meneruskan perjuangannya yang belum selesai."

"Terima kasih banyak atas kesediaan susiok untuk memenuhi harapan kami semua" cepat-cepat Tang Cuan memberi hormat.

Sinar matanya segera dialihkan ke wajah Cu Siau-hong, lalu katanya lagi: "Sute..."

"Ciangbun suheng ada pesan apa?"

"Sudah kau dengar pesan terakhir dari suhu?" "Telah siaute ingat didalam hati!"

"Penjelasan dari sunio juga sudah kau pahami?" "Siaute telah memahaminya!"

"Pesan suhu mengandung anti lain yang amat mendalam, semoga saja sute dapat meresapi kata katanya." "Siaute mengerti!"

"Sejak sekarang, kau sudah tidak terikat lagi oleh peraturan perguruan Bu-khek bun, ibaratnya ikan berenang bebas di samudra, burung terbang bebas diangkasa, asal kan merasa tindakanmu itu benar, lakukan saja tanpa kuatir kutegur!"

"Siaute masih akan mengikuti ciangbun-jin, Seng susiok dan sunio untuk berjuang demi perguruan Bukhek-bun kita”.

"Aaai! Itu terserah pada maksud hatimu sendiri "

Tiba-tiba Pek Hong mengambil pedang Cing-peng-kiam milik Tiang Leng Kang itu, kemudian diangsurkan ke tangan Tang Cuan katanya:

"Cing peng kiam merupakan senjata mustika yang turun temurun dipegang oleh ciangbunjin perguruan Bu-khek bun, mulai sekarang pedang ini kuserahkan kepadamu"

Dengan sangat hormat Tang Cuan menerima pedang itu, lalu sahutnya: "Tang Cuan turut perintah!"

Ketika Seng Tong-gak menyaksikan upacara pewarisan jabatan ketua telah dilangsungkan dalam suasana penuh kepedihan segera ia mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya:

"Ciangbunjin, perlukah kita kembali ke perkampungan Ing-gwat san-ceng untuk melihat keadaan?"

"Seharusnya kita kesana untuk melihat keadaan" jawab Tang Cuan, "siapa tahu kalau beberapa orang rekan kita masih terlibat dalam suatu pertarungan berdarah yang amat sengit?"

Tiba-tiba Cu Siau-hong berjongkok sambil berkata: "Kita harus membebaskan dulu jalan darah Pek cianpwe yang tertotok!" tiba-tiba ia melepaskan tiga buah totokan kilat.

Rupanya secara tiba-tiba ia teringat dengan semacam ilmu membebaskan jalan darah yang tercantum dalam kitab pusaka Kiamboh maka tanpa disadari ia telah mempergunakannya.

Tampak sekujur tubuh Pek Bwe gemetar keras, kemudian bangun berduduk, katanya dengan geram. "Cucu monyet yang tak tahu diri, berani menyergap diriku..."

Tiba-tiba ia menyaksikan mayat Tiong Leng Kang tergeletak di situ, dengan wajah tertegun segera serunya. "Hei, apa yang telah terjadi"

"Ayah, kau telah sadar?" kata Pek Hong.

Tak tahan air matanya bercucuran seperti anak sungai.

Seng Tiong-gak agak terkejut juga melihat ini.

Melihat kemampuan Cu Siau-hong dalam membebaskan jalan darah Pek Bwe yang tertotok, setelah tertegun sejenak pikirnya:

Kiranya Seng Tiong-gak telah mempergunakan belasan macam cara untuk membebaskan jalan darah Pek Bwe tapi ia tak pernah berhasil, sebaliknya Cu Siau-hong hanya melancarkan tiga totokan saja, dan alhasil secara mudah ia berhasil membebaskan jalan darah tersebut.

Sudah jelas, kepandaian yang barusan ia gunakan bukan kepandaian aliran Bu-khek-bun.

Seng Tiong-gak tidak bertanya lebih jauh, ia teringat dengan pesan terakhir suhengnya, jangan-jangan antara guru dan murid itu sudah mengadakan kontak secara rahasia. To heng siu (kakek yang berkelana seorang) Pek Bwee adalah seorang jago kawakan berpengalaman luas, setelah berpikir sejenak ia berhasil menebak sebagian besar duduk persoalan yang telah terjadi, setelah menghela napas katanya:

"Apakah Leng Kang telah beradu jiwa dengan Liong Thian siang?"

"Suhu berhasil membinasakan Liong Thian siang lebih dulu, sedang beliau tewas karena pendarahan yang kelewat banyak" Tang Cuan segera menerangkan.

Pek Bwe manggut-manggut.

"Kalau begitu kebakaran yang terjadi dalam perkampungan Ing-gwat-san-ceng pun merupakan hasil karya dari Liong Thian siang?"

"Ayah aku lihat tidak mirip, agaknya ada dua peristiwa yang kebetulan saja berlangsung dalam saat yang bersamaan" ujar Pek Hong sambil menyeka air mata..

"Nak, tak akan sedemikian kebetulan peristi-wa itu berlangsung pada saat yang sama, sudah pasti hal ini merupakan suatu intrik musuh yang keji, cuma kemungkinan sekali didalam rencana busuk itu Liong Thian siang tidak ikut serta.." Kemudian setelah berpaling sejenak, ia bertanya:

"Dimana It-ki?"

"Ia masih ada dalam perkampungan, dia tidak ikut datang!" sahut Pek Hong cepat.

"Kita tak boleh membiarkan It-ki terbunuh pula ditangan musuh, biar kutengok keadaannya"

"Locianpwe, kesehatanmu belum pulih kembali biar boanpwe  saja  yang  melakukan  pemeriksaan!"  kata  Tang Cuan sambil berpaling dia lantas berseru, "Siau-hong ! Ikut aku..."

Ketika selesai berbicara tubuhnya sudah berada dua kaki lebih dari posisi semula. Cu Siau-hong segera menyusul pula di belakang nya.

"Enso!" Seng Tiong-gak segera berbisik, "baik-baik menjaga Pek locianpwe, suruh ia duduk atur pernapasan, siaute ikut ke perkampungan untuk melihat keadaan!"

Dengan terbebasnya Pek Bwe dari pengaruh totokan, kekuatan mereka bertambah kuat, hal mana membuat Seng Tiong-gak merasa amat lega sekali....

Dengan suatu gerakan cepat Tang Cuan berlari dan menembusi hutan kembali ke perkampungan Ing-gwat-san ceng,

Ditengah kobaran api yang membumbung tinggi ke angkasa, lamat-lamat terendus pula bau anyir darah yang memuakkan.

Ia mencoba untuk memperhatikan suasana di sekeliling situ, namun tidak terdengar suara benturan senjata tajam.

Itu berarti pertarungan telah berakhir.

Tanpa memperdulikan keadaan sendiri, dengan cepatnya Tang Cuan menerjang masuk ke balik kobaran api.

Cu Siau-hong dan Seng Tiong-gak ikut pula menerjang masuk ke dalam perkampungan yang terbakar itu.

Dengan menempuh kobaran api yang panas, mereka mondar mandir disekitar kebakaran itu sambil setiap kali membopong keluar setiap jenasah yang dijumpainya.

Tak lama kemudian, Pek Bwe den Pek Hong dengan membawa jenasah Tiong Leng Kang telah menyusul pula ketempat kejadian. Betul Seng Tiong-gak sekalian memiliki ilmu silat yang lihay, tapi mereka tak mampu untuk mencegah berkobarnya api yang membakar perkampungan mereka.

Untung saja Pek Bwe yang berpengalaman menitahkan mereka untuk merobohkan dinding dan menghadang jalannya kobaran api, sehingga api yang berkobar amat besar diperkecil.

Ketika api telah padam semua, waktupun menunjukkan tengah hari bolong....

Perkampungan Ing-gwat-san-ceng boleh di bilang sembilan puluh persen telah musnah dimakan api, hanya tinggal sebuah ruangan di sudut barat laut yang belum sampai tertimpa bencana

Hasil pemeriksaan mayat menunjukkan ada tiga puluh sembilan mayat yang ditemukan, bahkan pelayan, dayang, centeng, tukang kayu pun tak ada yang dilepaskan.

Dari ketiga puluh sembilan sosok mayat tersebut tiada seorangpun yang mati karena terbakar, kebanyakan mereka dibunuh lebih dulu kemudian mayatnya dibuang ke dalam liang api.

Justru karena itulah, raut wajah beberapa orang itu secara lamat-lamat masih bisa dikenali.

Dua belas orang murid Bu-khek-bun, kecuali Tang Cuan dan Cu Siau-hong, masih ada sepuluh orang lagi, tapi hanya enam sosok mayat yang ditemukan, itupun dengan tubuh yang penuh luka besar, jelas sebelum tewas mereka telah melangsungkan suatu pertempuran yang amat seru...

Ketika diperiksa lagi oleh Tang Cuan dengan lebih seksama, ditemukan bahwa saudara seperguruannya yang ditemukan tewas adalah saudara saudaranya yang ketiga, empat,  enam,  delapan.  sepuluh  dan  sebelas,  sedangkan yang tidak dijumpai adalah mayat dari sute kedua, kelima, sembilan dan siau-sute Tiong It-ki.

Rambut Pek Hong sudah awut-awutan kacau terhembus angin, wajahnya penuh dengan noda arang. Padahal bukan cuma dia saja, setiap orang telah berubah jadi hitam karena hangus.

Hanya dalam satu malam, suaminya tewas dalam medan pertempuran, perkampungannya terbakar hancur, putranya lenyap dan tak diketahui mati hidupnya, pukulan batin ini cukup berat, sekalipun Pek Hong tabah toh tak tahan juga menghadapi kesemuanya itu. sambil berdiri termangu mangu di depan pintu ruangan, ia awasi, deretan mayat itu dengan sinar mata sayu, kesedihan yang mencekam perasaannya benarbenar sudah melampaui batas.

Pelan-pelan Tang Cuan berjalan menghampirinya, lalu berbisik dengan lirih:

"Subo, Jenasah siau sute tidak ditemukan. "

"Aku tahu!" jawab Pek Hong pendek, sekalipun wajahnya agak muram namun pikirannya masih segar.

Dipihak lain Seng Tiong-gak sedang terlibat pula dalam suatu pembicaraan serius dengan Cu-Siau-hong.

Sesudah mendehem pelan iapun berkata:

"Coba lihatlah, menurut pendapatmu siapa yang melakukan perbuatan durjana ini?"

"Dari sekitar tempat kebakaran kita tidak menemukan tanda apapun" sahut Cu Siau-hong, "jelas hal ini menunjukkan kalau pihak musuh telah memiliki suatu rencana yang matang, lagi pula datang menyerang dengan suatu  kekuatan  yang  dahsyat.  Sebab  itulah  kelima orang sute dan kelima orang suheng, tak seorangpun berhasil meloloskan diri "

Tiba-tiba ia membungkam dan tidak berbicara lagi. Seng Tiong-gak manggut-manggut.

"Siau-hong!" katanya, "selama ini It-ki belajar silat bersamamu, kau lebih memahami dirinya dari pada aku, bagaimanakah kepandaian silat yang dimilikinya sekarang?"

"Usia It-ki sute masih terlalu muda, tenaga dalamnya tak bisa menandingi kesempurnaan toa suheng, tapi kesempurnaannya dalam ilmu pedang pasti tak akan berada di bawahku maupun toa suheng"

"Nah disinilah letak kecurigaan tersebut, jika kesempurnaan ilmu pedang yang dimiliki It-ki benar-benar telah mencapai taraf seperti yang kalian miliki, sekalipun ia tak mampu menangkan musuhnya, paling tidak masih mampu baginya untuk melarikan diri Kecuali sebelum bertarung Tiong sute sudah kena disergap lebih dulu, sehingga dibalik kesempurnaan rencana mereka, tersisa juga sebuah titik keterangan buat kita"

"Betul It-ki masih muda" kata Seng Tiong-gak, “tapi bukannya berarti ia tak-berotak sama sekali”

"Itulah sebabnya, jika bukan orang dikenal yang menyergapnya, tak nanti Tiong sute bisa kena dipecundangi"

"Tapi siapa yang telah menyergap It-ki?"

"Masalah ini besar sekali akibatnya, maka dari itu sebelum memperoleh bukti yang nyata”, Siau-hong tak berani sembarangan bicara.

Tiba-tiba terdengar Pek Bwe sedang berkata dengan suara lantang: "Anak Hong, Leng-kang telah mati, iapun telah menyerahkan Bu khek-bun untuk murid tertuanya Tang Cuan, Tiong-gak dan Siau-hong setiap saat akan membantunya juga, dengan demikian tanggung jawab Bu khek-bun telah ada yang memikul, tapi para pelayan dan para dayang dari Ing-gwat-san-ceng tak ada yang pandai silat, lagi pula mereka datang karena diundang kau serta Leng kang. kematian mereka yang penasaran tersebut tak boleh tidak harus kita tuntut balas!"

"Dalam semalam saja suami mati anak hilang, apa yang musti kulakukan sekarang?" keluh Pek Hong sambil bangkit berdiri.

"Hong ji, Leng Kang bisa berakhir hari ini, sedikit banyak kaupun ikut bertanggung jawab sebuah perguruan besar yang termasyhur namanya dalam dunia persilatan, ternyata sama sekali tidak waspada dan bersiap sedia, apa yang dipikirkan, hanya bagaimana caranya mencemerlangkan nama perguruan, meski keteledoran ini terhitung kecil, tapi justru keteledoran yang kecil inilah mengakibatkan peristiwa yang besar. Aaai meski jalannya peristiwa jauh di luar dugaan, tapi bila dipikir kembali sesungguhnya bibit bencana ini sudah sejak lama tertanam di sini."

"Nasehat ayah memang benar!"

Tiba-tiba wajah Pek Bwe berubah menjadi amat keren, katanya lagi:

"Aku pernah mendengar dari Liong Thian-siang katanya paling tidak pada, enam hari berselang kau telah bertemu dengannya, kenapa kau tidak memberi tahukan persoalan ini kepada Leng Kang atau berunding dulu dengan Tiong gak?" "Waktu itu putrimu berpendapat, bila pertikaian ini bisa diselesaikan secara damai, bukan kah hal ini lebih baik lagi"

"Cinta dan dendam yang terwujud hampir dua puluh tahun lamanya, apa kau anggap bisa dibereskan dengan sepatah dua patah kata saja? Jika kau memberitahukan soal ini kepada Leng Kang, sehingga Bu-khek-bun telah mengadakan persiapan semenjak beberapa hari berselang, tak nanti kalian akan mengalami peristiwa tragis seperti hari ini"

"Putrimu tahu salah!"

"Aaai.! Sayangnya, ia telah membekuk diriku lebih dulu" keluh Pak Bwe kemudian sambil menghela napas.

"Dengan cara apa Liong Thian-siang berhasil menaklukkan locianpwe?" tanya Seng Tiang-gak dengan suara dalam.

"Yaa, bila dibicarakan kembali sebetulnya cukup memalukan, waktu itu ia datang seorang diri menjenguk diriku, aku menahan nya untuk makan bersama, kebetulan ia membawa seguci arak wangi, maka kamipun membuka arak itu dan meminumnya sambil bercakap cakap tanpa terasa seguci arak itu sudah habis kita minum. Pada mulanya aku masih menaruh was-was kepadanya, tapi ketika selesai minum arak seguci, kewaspadaanku sama sekali mengendor, sungguh tak disangka ketika ku-hantar ia pulang, tiba tiba saja ia melancarkan sebuah totokan untuk merobohkan aku"

"Locianpwe, mereka telah merampas sebuah rumah petani dan membunuh ketiga orang penghuninya secara keji"

"Yaa, meskipun lohu berhasil lolos dari tempat ini, tapi harus pula mengorbankan selembar nyawa Leng Kang, aai .! Sebetulnya aku ingin berdiam di perkampungan Ing-gwat san,ceng, tapi aku sudah tertarik oleh bukit kecil itu dengan pemandangan alaminya. Coba kalau sejak dulu aku tinggal didalam perkampungan lnggwat san-ceng, tak nanti akan sampai terjadi peristiwa semacam ini!"

Cu Siau-hong ikut menghela napas panjang, tiba-tiba timbrungnya:

"Locianpwe, boanpwe punya pendapat yang bodoh, entah bolehkah ku utarakan pendapatku itu?"

"Siau-hong, katakan saja berterus terang" seru Seng Tiong-gak,
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pena Wasiat (Juen Jui Pi) Jilid 04"

Post a Comment

close