Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 25

Mode Malam
JILID 25 
Orang itu tertawa.

"Kita terpisah cukup jauh, karena itu bolehkah aku masuk kedalam rumah?" dia bertanya.

"Masuk boleh, tetapi kau harus hati-hati"Ban Liang memperingatkan, "Rumah kami ini telah dipasangi berbagai macam perangkap, asal kau lancang masuk, kau bakal kena terbekuk, paling baik berdirilah sejarak tujuh atau delapan kaki dari ambang pintu"

"Aku akan perhatikan pesanmu ini," kata si orang tinggi besar itu. Ia bertindak maju sejauh yang disebutkan sijago tua. Ban Liang tetap bersembunyi dibalik pintu, ia cuma menongolkan sedikit kepalanya.

"Kau hendak bicara apa, tuan?" tanyanya.

"Kami telah menawan seorang tuan she Kho, katanya dialah sahabat kamu," kata utusan lawan itu.

"Benar. Lalu?"

"Aku ditugaskan membicarakan utusan sahabat kamu itu." "Maksudmu ?"

"Usul kamu ialah kita saling menukar orang tawanan..." "Bagaimanakah caranya itu?" tanya Ban Liang tertawa.

"Kita berlaku adil dan pantas, kami menangkap satu orang dan tuan enam, akan tetapi kami menukar satu dengan satu. Hanya..."

"Hanya, kau maksudkan kau dapat memilih orang yang kamu hendak tukarkan itu?"

"Benar" sahut siutusan, yang tertawa menyeringai. Disenggapi sijago tua, dia merasa malu sendirinya. Ban liang tertawa hambar. "Inilah dapat Cuma, kecuali sibaju kuning, dapat kamu memilih siapa saja satu diantara lima yang lainnya " Utusan itu melengak, "Ah..." katanya ragu-ragu. "Aku justru menerima perintah untuk menukar kawan tuan-tuan dengan orang yang berbaju kuning itu."

"Jikalau begitu, maaf tuan" Ban Liang menyela. "Menyesal aku mesti menyia-nyiakan pengharapan kamu ini. Tolong kau sampaikan kepada pemimpin kamu bahwa siorang baju kuning itu tak ingin kami menukarnya "

"Aku masih ada sedikit bicara... kata utusan itu "Silahkan "

"Tuan-tuang telah terkurung didalam rumah atap ini, itu dan suaru keadaan yang dapat dipertahankan lama lama Jikalau tuan tuan suka menukarkan orang berbaju kuning itu, kami juga akan segera meninggalkan tempat ini hingga selanjutnya kita tak akan bentrok pula."

Ban liang menyambut dengan tertawa dingin. "Tuan, nampaknya kami terlalu memandang ringan kepada soal mati atau hidup kamu sendiri..." katanya.

Kembali orang itu merasa jengah. Diapun mendongkol tetapi dia tak dapat mengumbarnya. "Aku bicara dengan sungguh-sungguh, harap tuan tuan suka memperhatikannya," katanya terpaksa berlaku sabar.

Ban Liang tertawa dingin, kata dia terus terang: "Kamu menghendaki sibaju kuning, lima kawanmu yang lainnya kamu biarkan, kamu tak pedulikan. Nyata kamu kejam sekali. Kau sendiri, kaulah pesuruh, apakah kekuasanmu? Bukannya aku hendak memancing kemarahanmu, tapi aku kuatir bahwa kemerdekaan kau sendirinya jiwamu mungkin tinggal menanti waktu lenyapnya"

Orang itu kalah bicara. Dia rupanya merasai kebenaran kata orang tua ini. Dengan lesu dia tunduk.

Ban Liang batuk-batuk, lalu berkata pula dengan sabar. "Mereka itu dapat mengorbankan kelima kawanmu ini, maka itu, apakah artinya kau seorang diri? Bukankah kau, seperti mereka ini dapat dikurbankan juga?"

Orang itu mengangkat kepalanya. "Benar," katanya. "Tapi, baiklah kita kembali kepada pembicaraan tadi. Asal sibaju kuning itu dibebaskan, siorang she Kho pasti akan dibebaskan pula. Hal ini tuan tak usah khawatir."

"Kau bersitegang, tuan. Bagaimana jikalau aku tidak menukarkan?"

"Sahabatmu itu bakal mengalami siksaan yang paling hebat, dia bakal dihukum picis"

"Jangan lupa,padaku ada enam jiwa Kami pun dapat menyiksa mereka seperti kamu menyiksa kawan kami"

"Hanya kesempatanmu sudah tidak ada, tuan Jikalau pihak kami telah memperoleh kepastian bahwa kami tak berdaya menolongi kawan kami itu maka didalam waktu sekejap kamu bersama dengan rumah ini bakal menjadi abu."

Ban liang mau percaya gertakan itu, tetapi dia tidak mau kalah bicara. Maka dia tertawa dan katanya dengan tenang. "Aku percaya betul, tuan, pemimpin kamu bakal menggunakan seribu satu daya upaya guna menolong si baju kuning."

"Jelasnya tuan menolak?" tanya utusan itu.

"Ya. Kami menolak syaratmu itu" Siutusan berdiam, dia menarik napas berduka. Nampak dia mau bicara tetapi batal.

Dengan perlahan dia memalingkan tubuhnya dan bertindak pergi.

Oey Eng mengawasi sijago tua.

"Kenapa kita tidak tukar..." katanya. Tapi mendadak kata yang nyaring: "Sahabat tunggu Kau..."

Utusan itu mendengar panggilan, dia menghentikan tindakan kakinya dan berpaling. Nampak dia sedikit gembira.

"Tuan menerima baik syarat kami?" dia tanya. Oey Eng berpikir dengan cepat. Segera setelah memanggil orang itu, ia merasa bahwa ia telah kesalahan omong. Karena itu, selagi orang itu berkata-kata, dengan perlahan ia kata pada Ban Liang. "Maaf loocianpwee, aku keliru."

Ban Liangpun berkata perlahan. "Jikalau kita tukar sibaju kuning ini, kita memang bebas dari ancaman malapetaka, tetapi itu buat sesaat saja, karena dilain detik, pasti kita bakal diserbu mereka. Pasti itu tak berhenti sebelum kita mati semua" Maka itu, Oey Eng segera menjawab siutusan

"Tuan, kami benar benar merubah pikiran kami. Aku ingin, agar pemimpinmu yang sekarang suka datang kemari untuk bicara langsung dengan kami."

Kalau tadi nampak gembira, utusan itu kini menjadi lesu pula. Ia menarik napas perlahan, Tapi dia lekas menjawab: "baiklah Akan aku sampaikan pesan tuan tuan ini, cuma ia suka datang kemari atau tidak, itulah aku tak tahu."

"Jikalau dia mau datang, datanglah sebelum gelap gulita," Ban Liang memberitahu. "Jika dia tak mau datang, tak apa. Selekasnya malam tiba kita tak usah bicara lagi"

Utusan itu tak berkata apa apa, dia memutar tubuh dan pergi. Dia menuju kebarat. Cepat dia lenyap dari pandangan mata. Oey Eng bingung. Dia mikirkan Kho Kong.

"Loocianpwee, mereka akan datang, tidak?" tanyanya.

"Mereka tidak datang seandainya pemimpin mereka itu sudah tak memerlukan lagi siserba kuning ini" sahut Ban Liang.

Oey Eng menghela nafas. Katanya pelan: "Ada harganya juga jiwa saudara Kho ditukar dengan jiwa enam orang ini, ia tentu akan dapat memjamkan mata..."

Ban Liangpun menghela napas, mau ia membuka mulut tapi batal. Ia mendengar kata kata Oey Eng itu. ia mengerti, akan tetapi dia tak berani sembarangan bicara. Karena mereka berdiam, sang waktu lewat dengan suasana lengang. Selang beberapa lama, musuh tadi tampak datang pula. Dia datang dekat hingga empat atau lima kaki, barulah dia berhenti. Lalu dia berkata seraya memberi hormat: "Aku telah menyampaikan pesannya tuan tuan, ketua kami bersedia mengadakan pertemuan..."

Ban liang berkata cepat "Sang waktu sudah tidak siang lagi kalau dia mau datang dia harus lekas lekas"

"Pemimpin kami akan segera datang Aku diminta menyampaikan pesan saja"

Ban Liang berkata pula: "Tolong kau sampaikan kepada pimimpinmu bahwa waktu adalah uang, cepat dia datang lebih baik lagi"

Utusan itu melengak. "Akan kuberitahukan," katanya seraya terus membalik tubuh dan pergi dengan tindakannya yang lebar.

.o.o.O.o.o.

Setelah orang itu pergi, Oey Eng tanya kawannya perlahan: "Loocianpwee, kalau orang itu bersedia saling menukar orang tawanan, bagaimana sikap loocianpwee?"

"Sampai sekarang ini, aku belum bisa berkata apa-apa." sahut Ban Liang. "Kita lihat suasana sebentar saja."

Oey Eng berkata pula; "Kalau loocianpwee mengambil keputusan tidak mau menukar tawanan, kita mesti segera menempur mereka Pedang dan golok toako ampuh, tak mungkin orang itu dapat melawannya. Jikalau kita bisa menangkap lagi salah satu pemimpin mereka, dia dapat dipakai menukar saudara Kho..."

"Sebegitu jauh belum pernah aku mengira ngira sebelumnya," kata Ban Liang.

Oey Eng masih mau bicara ketika ia melihat datangnya dua orang kacung berbaju hijau yang tangannya memegang pedang. Mereka berjalan dengan perlahan. Dibelakang mereka tampak tiga orang lainnya, dua diantaranya yang berjalan dikiri dan kanan mengiringi seorang berpakaian putih seluruhnya: Pakaiannya putih, ikat kepalanya putih, putih juga cala mukanya. Mereka menghampiri rumah atap.

walaupun disiang hari, karena dandanannya yang luar biasa itu, orang itu mendatangkan rasa heran bahkan sedikit menyeramkan...

"Tuan, silahkan berhenti, sejarak satu tombak" Ban Liang berkata. "Harap kaujangan datang terlalu dekat dengan rumah kami ini"

Orang yang berpakaian putih itu mendengar kata, Dia berhenti kira-kira satu tombak, segera terdengar suaranya yang dingin: "Tuau-tuan, ada pengajaran apakah dari kamu?" Ban liang pun bersuara dingin.

"Kami tidak mengundang kamu, tuan" sahutnya. "Adalah tuan yang mengirimkan utusan kepada kami untuk mendamaikan sesuatu. Apakah maksud tuan maka tuan menanya begini kepada kami?"

Orang berbaju putih itu berdiri tegak, sepasang matanya bersorot tajam mengawasi kearah rumah. Dia tidak membuka suara, sikapnya dingin sekali.

Kedua kacung yang bersenjatakan pedang juga berdiri diam laksana patung. Karena itu, suasana diselubungi kesunyian, barulah lewat sesaat, si serba putih berkata, nadanya menegur, "Andaikata benar aku yang mengirim utusan buat mengadakan pembicaraan dilakukan dengan cara ini?"

"Sahabat, kau sabar luar biasa" berkata Ban Liang.

Si baju putih berdiam sejenak, baru dia berkata: "Kami telah menawan seorang dari kamu..."

Ban Liang segera menyela: "Kami telah menawan enam orang bawahan kamu, tuan"

"Bukankah ada diantaranya yang berpakaian serba kuning" "Benar. Jikalau aku si tua tak salah melihat, dialah seorang wanita"

Orang itu berdiam sejenak, baru dia berkata, "PunCo mengambil keputusan hendak menukar orang kamu yang tertangkap oleh kami dengan orang berpakaian kuning itu."

Ban Liang tertawa berkakak, suaranya mendengung keluar rumah.

"Kenapa kau tertawa tuan?" tanya si baju putih heran, suaranya dingin. Dia mendongkol orang tidak segera menjawab usulnya.

"Aku tertawakan kau tuan, karena kau..."

"Apakah kamu tidak mau menukarnya?" tanya si baju putih. "Kecuali si baju kuning, si wanita yang menyamar menjadi pria

itu, dari lima yang lainnya, tuan bebas memilihnya" berkata Ban Liang tenang tegas.

"Punco justru hendak menukar dengan si baju kuning itu, tidak dengan yang lain" berkata si baju putih, suaranya keren. Dia pula, seperti tadi, membahasakan dirinya "punco" itu berarti bahwa didalam rombongannya; dia punya kedudukan yang tinggi, kepala dari suatu bahagian.

"Jikalau demikian, tak usah kita bicara lebih jauh" Ban Liang meneruskan,

"Asal aku berikan perintahku, rumah ini bakal menjadi abu" berkata si baju putih keren.

"Silahkan kalau tuan tidak memperdulikan lagi jiwa orang orang kamu itu" Ban Liang menantang.

Si baju putih dengan perlahan mengulur tangannya, mengambil pedang ditangan sikacung sebelah kiri. Katanya dingin. "Apakah kau hendak belajar kenal dengan pedang punco?" "Aku kira tak perlu kita berkenalan pula" sahut Ban Liang, singkat. Si baju putih tidak menyangka bakal mendapat jawaban serupa itu, ia sampai berdiam

untuk berpikir.

"Sungguh kau cerdik, tuan" katanya.

"Tuan, pembicaraan kita harus berakhir sampai disini" berkata Ban Liang tanpa menghiraukan kata kata orang itu. "Oleh karena sukar didapatkan perdamaian, tidak ada lain jalan kita harus mengandalkan kepada kepandaian kita masing masing, untuk memutusakan siapa menang siapa kalah"

"Jadinya kamu hendak merampas jiwa orang." tanya si baju putih.

"Sabar, tuan,jangan kau risau" kata Ban Liang. "Jikalau hendak melakukan pembunuhan, lebih dahulu kami habiskan jiwanya itu orang orang dengan seragam hitam, baru sipemuda perlente, dan paling akhir barulah si baju kuning"

Tutup muka si baju putih tergoyang tanpa ada angin yang meniupnya. Teranglah bagaimana tegang rasa hatinya. Karenanya, dia berdiam sampai beberapa lama. Dan akhirnya dia juga yang kalah sabar. Dia berkata: "Kecuali saling tukar, untuk membebaskan orang berbaju kuning itu, masih ada syarat apa lagikah?"

"Syarat apa tuan." sahut Ban Liang dingin, "cuma aku khawatir engkau tak setuju"

"Apakah itu? Katakanlah"

"Yang pertama tama ialah orang kami itu harus dilepaskan lebih dahulu"

"Baik," sahut si baju putih, yang terus berkaok "Bebaskan si orang she Kho "

Hanya sebentar terlihatlah Kho kong muncul dengan tak kurang suatu apa. Diam diam Oey Eng menghela napas. "Dasar jahe tua" pujinya didalam hati. "Ban Loocianpwee jauh lebih menang daripada kita."

Ketika Kho kong berjalan lagi empat atau lima kaki akan sampai dirumah, mendadak Ban Liang menyerukannya : "berhenti"

Kho kong menurut, Segera dia berhenti bertindak. Oey Eng heran sekali.

"Kenapa saudara Kho disuruh berhenti, loocianpwee?" tanyanya.

Ban Liang tidak segera menjawab pertanyaan itu, hanya dengan tajam dia menatap saudara kecil yang polos tapi aseran itu.

"Saudara Kho, apakah kau sadar?" tanyanya.

"Ya" Kho kong menjawab. "Ketika kau dibebaskan, apakah ada ditaruhkan sesuatu pada tubuhmu"Ban Liang bertanya.

Kho kong terdiam, terus ia memeriksa tubuhnya.

"Tidak," sahutnya sejenak kemudian. "Jikalau tidak, bertindaklah perlahan lahan."

Kho kong menurut, ia berjalan maju.

"Mundur" tiba tiba Ban Liang memerintah setelah orang mendekati pintu. Tapi Kho kong berjalan terus, agaknya dia tidak dengar perintah itu.

"Tahan dia," seru sijago tua sambil mengibaskan tangannya. Justru itu bayangan lalu berkelebat, sebab si baju putih bersama kedua kacungnya sudah berlompat maju untuk menyerbu masuk kedalam rumah Oey Eng berlompat maju, niatnya mencegah Ban Liang, supaya Kho kong dapat dibiarkan masuk, akan tetapi menyaksikan bergeraknya si baju putih, dia terkejut, maka segera ia menikam si baju putih itu. Si baju putih mengibaskan sebelah tangannya, segera ada sesuatu tenaga yang menyampok terpendal pedang si orang she Oey, Dia bertindak sangat cepat, untuk menyerbu masuk. Ban liang menggerakkan tangannya, untuk menolak tubuh orang itu. Kembali si baju putih mengibaskan tangannya. Tanpa dapat dicegah, sijago tua kena

tertolak mundur. Maka ketiga penyerbu itu segera bertindak ke ambang pintu. Justru rumah itu bakal kena diserbu, mendadak satu sinar pedang berkilauan dan angin mendengung dengung, mendesak ketiga orang itu mundur. Setibanya diluar, si baju putih memutar pedangnya, untuk mengadakan perlawanan, buat mencoba memukul mundur sinar pedang itu.

Siauwpek, yang telah berlompat keluar mendesak terus. Ia memaksa ketiga lawannya mundur.

Ban Liang melihat pada boneka diatas meja, lalu dia berseru: "Desak terus supaya mereka mudur "

Siauw Pek menyahut, dia mendesak keras. Kedua kacung segera menyerang dari kiri dan kanan.

Melihat orangnya maju, si baju putih mundur beberapa tindak, untuk berdiri menonton, dia memperhatikan gerakan gerakan pedang lawan. Agaknya dia sangat memperhatikan ilmu pedang lawan.

Kedua kacung itu masih muda, akan tetapi ilmu pedang mereka baik sekali, mereka dapat bekerja sama, maju dan  mundurnya rapih. Hanya sayang mereka menghadapi Ong Too Kiu Kiam, hingga mereka tidak berdaya. Dengan segera mereka kena terkekang.

"Berhenti" sekonyong konyong si baju putih berseru. Kedua bocah mendengar mereka lompat mundur lima kaki.

Siserba putih menatap Siauw Pek, "Pernah apakah kau dengan Thiam kiam tong tanyanya.

"Beliau adalah guruku" sahut sianak muda terus terang walaupun ia merasa heran. Dengan nada dingin, sibaju putih berkata. "Kalau begitu kaulah Coh Siauw Pek turunan Coh kam pek dari Pek ho bun kaukah yang telah bisa menyeberangi Seng su kio?"

Sambil berkata begitu, dia mengawasi terus dari atas kebawah dari bawah keatas.

Siauw pek tidak menyangkal. "Benar" sahutnya gagah. "Akulah Coh Siauw Pek sisa anggota satu satunya yang masih hidup dari Pek ho bun"

Siserba putih masih berkata pula, suara tetap dingin. "Belum tentu Mungkin masih ada satu Coh bun koan, yang masih hidup dikolong langit ini"

Disebut nama kakaknya itu membuat Siauw pek melengak, sekalipun dari mulut Soat kun dan Soat Gie telah ia ketahui tentang masih hidup kakaknya itu. Tapi dia tak berdiam lama.

"Tak usah kau menyusahkan hati memikirkan itu, tuan" katanya.

Sibaju putih mengulapkan tangannya.

"Mari kita pergi" katanya, kepada kawan kawannya. Dan dia mendahului memutar tubuh untuk berlalu.

Kedua kacung itu menyahut, segera mereka pergi mengintil. Ban Liang memandang kepada Kho Kong.

"Tangkap dia" ia berseru.

Kho kong hendak memutar tubuhnya, buat ikut sibaju putih berlalu. Tapi Siauw pek menghadang dihadapannya.

"Adik Kho" kata ketua ini, sabar, "kemana kau mau pergi?"

"Aku pergi untuk melihat lihat, segera aku kembali," sahut sang adik yang terus berlompat, untuk menerobos cegahan. Siauw pek memutar pedangnya, mengurung saudara itu, mencegahnya pergi.

"Kau mau lihat apa?" ia tanya. Kho kong mundur dua tindak, "Untuk melihat mereka itu" sahutnya. Lalu, mendadak dia mengayun tangan kanannya, menimpukkan suatu sinar terang kearah ketua itu.

Siauw pek sampok senjata rahasia itu, sebatang jarum racun. "Dialah orang yang menyamar saudara Kho" teriak Ban Liang.

"Jangan biarkan dia lolos"

Siauw pek berlompat, untuk menikam punggung orang tua itu. Akan tetapi tidak dapat dia berbuat telengas. walaupun ada kata kata sijago tua itu ia masih ragu ragu. Orang mirip sekali dengan adik angkatnya itu. Maka juga pedangnya cuma menggores pecah baju orang itu.

"Kho kong" rupanya merasa tak ungkulan lolos, dia menyerang pula dengan senjata rahasianya, secara hebat sekali.

Siauw pek sudah siap sedia, ia berkelit. Toh ia terkejut. Sekarang ia tahu pasti, bahwa orang bukan Kho kong, karena Kho kong tidak seliehay itu dan juga dia tidak mempunyai senjata rahasia. Karena ini, ia maju pula, untuk mengulangi serangannya. Tapi, mendadak ia menjadi terperanjat bahwa herannya. Karena dengan mendadak saja Kho kong roboh terkulai...

Itu disebabkan Ban Liang, dengan menggunakan Ngo kwie souw hun ciu, telah menyerang dari jarak jauh, membuat orang terkena dan roboh seketika. Hanya ia menggunakan totokan.

Siauw pek berlaku cerdik dan sebat. Tanpa ragu pula, dia sambar tubuhnya "saudara" itu, buat diangkat, untuk segera dibawa kedalam rumah

Oey Eng mengawasi adik itu, yang matanya terpejamkan, nampaknya dia seperti terluka parah. Maka ia menoleh kepada Ban Liang untuk bertanya: "Loccianpwee, apakah loocianpwee menyerang hebat kepadanya?"

"Tidak," menjawab Ban Liang, yang segera menotok bebas adik kecil itu. Kho kong menghela napas, ia membuka matanya, tetapi lekas juga ia meram kembali. Oey Eng menatap tajam muka orang. "Mungkinkah didalam dunia ini ada dua orang yang begini mirip satu dengan lain?" tanyanya. "Mungkinkah orang dapat mencari manusia yang mirip begini didalam waktu yang begini pendek...?" Lalu ia menoleh kepada sijago tua, untuk meneruskan berkata: "Aku lihat dia bukannya orang yang menyamar..."

"Pandanganku lain," berkata sijago tua. Mendadak saja, dengan luar biasa sebat, dia menyambar muka orang itu, yang kulitnya dijambak, maka sekejap itu juga, locotlah kulit muka orang itu. sebenarnya itu bukanlah kulit hanya gips

"Liehay Sungguh liehay" Oey Eng berseru berulang-ulang sambil menggeleng kepala. "Bagaimana orang begini pandai membuat penyamaran"

Selagi saudara ini berkata begitu, "Kho kong" sudah berlompat bangun dan tangannya digerakkan, menimpukkan jarum bisanya. Tapi, Siauw pek sangat sebat, tangannya menghajar kelengan orang itu, maka terlepas dan jatuhlah jarumnya itu. Dilain pihak, Ban Liang juga menghajar bahu orang itu, bahkan dia turun tangan berat sekali, sampai lengan itu terlepas dan jatuh kelantai. Oey Eng tidak kurang sebatnya. Dengan pedangnya, dia mengancam dada lawan.

"Siapakah kau?" tanyanya bengis. Orang itu menyeringai menahan rasa nyerinya, matanya mendelik terhadap anak muda yang mengancamnya, setelah itu dia memjamkan mata dan bungkam, giginya dikertak, guna menahan sakitnya.

Ban liang bertindak lebih jauh. Jeriji jeriji tangannya bekerja pada tenggorokan orang itu, untuk memencet sambil berkata dingin: "Kamu mau mampus? Tak akan tercapailah maksudmu."

Dengan suara susah, orang itu berkata: "Kamu sudah terlambat..." Lalu dengan mendadak dia roboh, napasnya berhenti berjalan

Oey Eng kaget dan heran, hingga dia melengak, "Dia mati..." "Sayang..." mengeluh Ban Liang, "Aku telah menerkanya tetapi

aku terlambat..." "Dasar racunnya yang hebat, loocianpwee," kata Oey Eng. "Sebenarnya loocianpwee telah bertindak cepat sekali."

Ban Liang menggusur tubuh orang, katanya. "Nah, sekarang baru benar benar kita menghadapi ancaman bencana..."

"Kelihatannya siorang serba kuning penting sekali," berkata Oey Eng. "Asal kita tak lepaskan dia, musuh mungkin tak berani bertindak sembarangan."

"Tergantung kepada suasana nanti," kata sijago tua. "Saudara COh telah turun tangan, ini pula menambah kesulitan. Si serba putih itu liehay sekali, dia mengenali ilmu silat Thiam Kie Tong."

Semua orang heran liehaynya musuh itu. "Jika begini, loocianpwee," berkata Oey Eng kemudian, "bukankah sia sia usaha kedua nona itu?"

"Musuh memang liehay sekali," mengaku sijago tua. "Sayang kedua nona tak ada bersama kita, kalau mereka hadir, aku percaya mereka dapat menghadapinya. Atau sedikitnya kita bisa mengatur daya menentangnya..."

Mata Oey Eng bermain. Dia berpikir keras.

Siauw Pek sebaliknya berdiam saja. Matanya mengawasi sibaju kuning. Oey Eng heran menyaksikan gerak gerik ketuanya itu, ia sampai hendaknya akan tetapi Ban Liang keburu mencegah.Jago  tua itu berkata perlahan: "Biarkan saja. Dia tentu memikirkan sesuatu..."

Setelah lewat berapa lama, terdengar Siauw Pek menghela napas panjang. Dari duduk, dia berbangkit. "Aneh" terdengar suaranya, seorang diri.

"Toako, apakah yang aneh?" bertanya Oey Eng, yang tak dapat lagi menguasai dirinya.

"Ini si serba kuning." menjawab ketua itu. "Aku seperti telah mengenalnya. Telah aku pikir keras sekali tetapi aku masih tidak dapat ingat dimana aku pernah bertemu dengannya"

"Mungkin cuma mirip saja" kata sang adik angkat. Sianak muda menggeleng kepala.

"Tidak, tidak mungkin," katanya. "Pasti pernah aku bertemu dengan dia. Kesanku sangat mendalam Kenapakah aku tak dapat mengingatnya sekarang?"

"Saudara kecil tinggal bertahun tahun dilembah Bu Yu Kok," Ban Liang membantu mengingat ingat. "lembah disana sangat sunyi, pastilah saudara menemuinya bukan didalam lembah itu"

"Memang bukan. Di dalam lembah, kecuali kedua guruku, cuma aku satu2nya orang lain."

"Mungkin saudara akan menemuinya setelah saudara keluar dari lembah..."

"Bukan" sahut saudara kecil itu, pasti.

"Barangkali diwaktu kau masih kecil, saudara sewaktu kau masih berada diPek ho-po."

Ban Liang mengingatkan terlebih jauh. Sebagai seorang yang banyak pengalaman jago tua ini pandai berpikir dan menerka nerka pelbagai pertanyaan itu dapat membantu membangkitkan ingatan orang. Siauw pek menghela nafas.

"Aku tidak ingat," sahutnya. "Tapi, ada kemungkinan itu di Pek Ho Po sebab..." Samapi disitu, ia berhenti. Tak ingat ia hendak mengatakan apa. Ban Liang menghela napas.

"Sudah jangan pikirkan lagi." dia memberi nasihat. "Baiklah kau istiratah dulu, lain waktu baru kita mengingat ingat pula."

Sianak muda memejamkan matanya.Justru itu, air mata meleleh keluar dari kedua matanya ia pula mengernyitkan sepasang alisnya. Terang iaamat berduka. Oey Eng terperanjat. "Kenapakah kau toako?" tanyanya khawatir. Siauw Pek membuka kedua matanya.

"Aku ingat sekarang," sahutnya. "Dia mirip dengan..." "Dengan siapakah toako?"

"Ah, sudahlah" toako itu menjawab. "Baik aku tak usah sebutkan..." Tapi ia masih menderita. Ia memandang keluar rumah, terus ia berkata seorang diri: "Aneh Mungkinkah di dalam dunia ini ada orang orang yang demikian mirip mirip satu dengan lainnya?..." Oey Eng heran akan kelakuan ketua itu yang biasanya terus terang.

"Toako. mirip siapakah wanita ini?" dia tanya pula. Dia bersitegang sendirinya, hingga dia tak dapat menguasai rasa ingin tahunya.

Siauw Pek menyeringai, ia nampak sangat bersusah hati. Mau ia bicara tetapi gagal pula:

Ban Liang menarik tangan kawannya. "Sudah,jangan menanya lebih jauh," katanya. Oey Eng berdiam, herannya tak berkurang. Siauw Pek bangkit, terus ia bertindak keruang dalam. Ia jalan mondar mandir.

Oey Eng mengawasi punggung kawannya itu, hatinya berpikir; Siapakah sebenarnya wanita itu? Kenapa toako sangat berkesan terhadapnya? Kenapa toako sukar mengingatnya walaupun kesannya begitu mendalam?"

Siauw Pek berjalan monrfar mandir, tindaknya amat berat. Ia bagaikan lupa akan dirinya. Kemudian ia masuk kedalam kamar yang tirainya ia turunkan.

Oey Eng memandang Ban Liang. "Loocianpwee, bagaimana ini?" ia tanya.

"Ah kasihan, dia tengah berpikir amat berat" menjawab si orang tua. "Memang pikiran berat hebat deritanya."

Berkata begitu Oey Eng memandang si baju kuning Ia menambahkan; "Si baju kuning ini membuat aku tak sanggup berpikir..." "Mestinya saudara kecil dan wanita ini mempunyai hubungan yang amat erat satu dengan yang lain" berkata Ban Liang, yang turut mengawasi siserba kuning itu.

"Nampaknya dia pun sangat dihargai saudara kecil. Kasihan saudara kecil. dia tetap belum bisa mengeluarkan apa yang dia pikir itu..."

"Siapakah kiranya dia?"

"Yang terang dialah orang yang lebih tua tingkatnya."

"Mustahil karena memikirkan seorang yang tingkatnya lebih tinggi toako menghadapi kesulitan dan penderitaan begini?"

"Saudara kecil tengah dalam keragu raguan yang hebat." "Mungkin aku mengerti sekarang tetapi..."

"Sudahlah, kita jangan pikirkan soalnya ini. Baik kita pikirkan soal membantu dia berpikir. Ada baiknya kita ingatkan dia akan peristiwa semasa dia kecil, atau yang mengenai peristiwa Pek Ho Po..."

"Oh ya..."

"Bagaimana kalau kita sadarkan siserba kuning ini, untuk paksa dia memberitahukan asal usulnya? MUngkin dengan begitu kita dapat melenyapkan keragu raguan toako..." Ban Liang ragu ragu.

"Sekarang ini mungkin telah habis tenaga tak sadarkan diri dari si wanita" katanya. "Kalau kita sadarkan dia dan dia melakukan perlawanan, mungkin kita bakal melakukan pertempuran yang menyulitkan..." Ia menghela napas.

"Bukannya aku merendahkan diri, saudara kecil, kalau musti bertempur, mungkin kita berdua bukanlah lawan wanita ini..."

"Bagaimana kalau kita bebaskan dulu otot gagunya?"

Ban Liang bagaikan terperanjat. "Begitupun baik," katanya. "Mungkin dia seorang dengan kedudukan tinggi. Sekarang kita mendapat tahu bahwa dia sebenarnya wanita, karena itu, barang kali dia suka mengatakan sesuatu..." Oey Eng mengangguk, terus ia bekerja. Ia menotok kedua  lengan si baju kuning, sesudah itu ia menepuk jalan darah yang dapat membuat orang bicara.

Segera juga si baju kuning membuka kedua belah matanya. Tajam dia menatap bergantian Ban Liang dengan Oey Eng. Selama itu dia menutup mulut rapat-rapat.

Ban Liang batuk batuk perlahan. Agaknya dia menyesal. "Kami telah mendapat kenyataan kau adalah seorang wanita," katanya sabar, "Itu toh

benar, bukan?"

Si baju kuning tenang, "Kalau kamu telah mengetahuinya, bagaimana?" dia bertanya. "Kamu tahu, kamu semuanya telah ditakdirkan mati. Aku tidak khawatir kamu nanti membuka rahasiaku"

Oey Eng mau bicara akan tetapi sijago tua mencegahnya. "Aku percaya kaupun sudah mengerti baik sekali," kata sijago tua ini sabar "Ialah bahwa sebelumnya kami semua binasa, kau bersama beberapa kawanmu yang telah kami tawan akan mati terlebih dahulu."

Wanita itu bersikap dingin.

"Aku khawatir kamu telah tidak mempunyai kesempatan untuk berbuat demikian," katanya tetap sabar.

Ban Liang mengganda tertawa, "Ada beberapa hal yang tidak aku ketahui," katanya tawar. "Hendak aku beritahukan semua itu kepadamu."

Wanita itu tersenyum tawar, ia menutup mulutnya.

"Pihakmu telah beberapa kali mengutus orang berbicara dengan pihak kami," siorang memberi keterangan. "pihakmu telah mengusulkan untuk kita saling menukar tawanan, untuk menukar kau." Ia berdiam sejenak, "dalam urusan kita ini, aku si tua mengerti suasana. Kami telah terkurung dirumah kamu ini, kalau selama sehari dan semalam kami masih selamat tak kurang suatu apa. Itu disebabkan kamu mengandal pengaruhmu. Karena kau berada bersama kami disini, mereka itu risi hati, mereka tidak berani lancang turun tangan."

Dan bibir wanita bergerak tetapi dia takjadi bicara.

"Sungguh dia sabar sekali." pikir sijago tua yang meneruskan berkata: "beberapa kali kami menolak usul menukar orang tawanan itu. sampai paling belakang, pemimpin kamu muncul sendiri berbicara dengan kami..."

"Siapakah orang itu?"

"Dialah seorang yang mengenakan pakaian serba putih serta putih juga penutup mukanya. Dia berdandan serupa caranya  dengan caramu bedanya ialah yang satu kuning, yang lainnya putih..."

"Kalau begitu, dialah Pek Liong Tong..." kata si wanita, yang mendadak memutuskan perkataannya.

Jago tua itu tertawa, "Pek Liong Tongcu, bukan?" dia meneruskan kata kata wanita itu. Kembali si wanita berdiam, wajahnya tak berubah. Hanya sunyi sejenak, jago tua itu berkata pula : "Tahukah kau sikap pemimpin itu? Dia sudah tidak memperdulikan lagi soal hidup atau matimu. Tahukah kau bahwa dia tengah melakukan persiapan untuk melakukan penyerbuan besar terhadap kami?"

Soal mati atau hidup adalah soal besar, biar bagaimana hati si wanita ini tergerak juga. Dari berdiam saja dan memejamkan mata, sekarang dia membuka matanya itu. "Bagaimana kau ketahui itu ?" dia tanya.

"Bicara sebenarnya, Pek Liong Tongcu tidak mengatakan itu kepada kami," menjawab Ban Liang. "Hanya aku si tua, aku mempunyai pengalaman beberapa puluh tahun. Dari cara bicaranya, dari gerak-geriknya, mustahil aku tidak dapat membade hatinya ?"

Wanita itu tertawa dingin. Kembali ia memejamkan mata dan mulutnya tertutup rapat. Oey Eng mengernyitkan alisnya

"Cara bertanya begini..." pikirnya. Hendak ia bicara, tetapi tidak jadi, karena ia melihat sijago tua melirik kepadanya.

Ban Liang berkata pada dirinya sendiri : "wanita ini gagah sekali.jikalau timbul bentrokan, kita bukanlah lawan dia. Kalau dia sanggup membebaskan diri dari totokan. bukankah itu berbahaya, sebab kitajadi dikepung dari luar dan dalam?..." Oey Eng tidak tahu maksudnya jago tua itu tetapi dia nyeletuk, "benar"

Oleh karena itu, berkata pula sijago tua. "untuk keselamatan kita baik kita lebih dahulu memutuskan dua otot pahanya, supaya tidak bergerak-gerak lagi..."

"Bagus pikiran loocianpwee " menyambut Oey Eng, yang terus menghunus pedangnya.

"Sret" demikian terdengar suara nyaring dari keluarnya pedang dari sarungnya. pedang itupun segera memperlihatkan sinar berkeredepan. dan bahkan tanpa membuang waktu lagi, ujung pedang itu diteruskan dipakai menyontek celana lawan

Si wanita kaget bukan main. dia membuka kedua matanya. "Bukankah lebih selamat akan membunuhku mati saja?" katanya, berani "dengan begitu kamu tak usah mengkhawatirkan apa-apa lagi"

"Nyata tidak keliru terkaanku" sijago tua berkata. Ia tidak menghiraukan yang orang lebih suka dibunuh mati. "Nona, kedudukanmu di dalam golonganmu sama tingginya dengan kedudukan si orang berpakaian putih itu, apabila sampai teejadi kami tidak sanggup melawan pihak kamu, kami juga tidak khawatir bahwa kami bakal celaka, sebab kami mempunyai kau sebagai orang tanggungan"

Itu artinya sijago tua tidak mau membunuh wanita itu. "Kamu menerka keliru" berkata wanita itu tawar. "Jikalau dia tidak mau turun tangan, itulah satu soal, akan tetapi, asal dia mau, semuanya tidak ada artinya Jangankan baru kamu menahan aku seorang, meski kamu menahan beberapa puluh orang lagi, semua percuma "

"Kau bicara sungkan sekali," kata sijago tua, sabar.

"Aku bicara dengan sebenarnya" kata siwanita mengdongkol, "Kamu percaya atau tidak, terserah Itulah urusan kamu"

"Jadi telah pasti kami bakal mati ?"

"Apa? Jadinya kamu masih memikir buat hidup lebih lama ?" tanya si wanita kembali.

"Semut masih menyayangi jiwanya, apalagi kita manusia Kalau bisa, kamu mohon kau tolong tunjukkan kami satu jalan hidup..."

"Jikalau lain orang, masih dapat diurus," berkata siwanita. "Sekarang kamu berurusan dengan Pek Liong tongcu, soal tak dapat dipikirkan lagi..."

"Benarkah aku menerka Pek liong tongcu," pikir Ban Liang, "Nampaknya wanita itu kaget juga," Maka ia lalu berkata; "Jadinya menurut kau, sudah tidak ada jalan hidup lagi?"

"Sebenarnya masih ada satu jalan," menyahut siwanita. "Sukarnya yaitu aku khawatir kamu tidak suka mempercayaiku"

"Bagus ya" pikir Ban Liang. "Hendak aku lihat kau" Kemudian ia bertanya; "Apakah daya itu? Coba kau tuturkan, untuk aku pahamkan. Asal itu dapat menolongjiwa kami, tidak apa seandainya kami mesti sedikit menderita kerugian."

Wanita itu berkata dingin. "Jikalau kamu ingin selamat, kamu harus berani menempuh ancaman petaka supaya kamu lolos dari kematian"

"Bagaimanakah caranya itu?" "Kalau aku sebutkan, pasti kamu tidak percaya Lebih baik aku tidak menyebutkannya."

"Bagus" pikir pula sijago tua "Aku makin maju, makin makin maju..." Lalu ia kata pula: "Kau sebutkanlah. Mungkin aku situa masih menyayangi jiwa bangkotanku aku akan menerima baik jalanmu ini..."

"Pertama-tama yaitu kau bebaskan dahulu totokan atas diriku" berkata siwanita. Mendengar begitu, Oey Eng tertawa dingin. "Membebaskan dahulu kau dari totokan?" tanyanya mengejek.

"Jikalau kamu tidak percaya, nah, sudah jangan bicara lagi" memutus wanita itu. Ia mendongkol, tak sudi ia memperpanjang pembicaraannya.

"Jangan gusar nona." Ban Liang datang sama tengah. "Dia ini tidak mengerti urusan, jangan kau sependapat dengannya." Oey Eng memandang siorang tua, ingin ia bicara tapi ia membatalkannya.

Siwanita lalu berkata. "Pek Liong Tongcu itu, kepandaiannya berimbang dengan kepandaianku, namun bicara tentang orangnya, tentang sepak terjangnya, aku tidak dapat dibandingkan dengannya "

"Bagus ya Mula-mula kau menggertak aku" pikir sijago tua. "Kau lihat saja nanti..."

Si Wanita menyambung perkataannya. "Kami berdua, meskipun kami bekerja sama dan sama juga kedudukan dan tingkat kami tapi hati kami berlainan, maka itu, jikalau kamu tidak sudi membebaskan aku, inilah kebetulan, baginya jadi ada kesempatan yang baik untuk dia turun tangan jahat; untuk dia membiarkan aku binasa ditangan kamu, atau kita binasa sama-sama didalam rumah."

Oey Eng yang muda, yang kurang pengalaman, tak tahan hatinya. "Jikalau kami memerdekakan kau," katanya, "maka Pek Liong Tongcu itu akan tak

berdaya mencelakai kau, dia akan mencelakai kami saja." "Jikalau kamu membebaskan aku, sewajarnya saja aku akan melindungi keselamatan kamu. Akan aku suruh orang-orang bawahanku mengantarkan kamu berlalu dari sini."

"sangat mudah kau menghitungnya. Apakah kau sangka kami bocah-bocah berusia tiga tahun" berkata Oey Eng.

Ban Liang campur bicara. Lebih dahulu dia menghela napas. "Perkataanmu bukannya tidak beralasan," katanya. "Tapi  karena

itu  kata-kata  belaka,  tidak  ada  buktinya,  sulit  buat  kami  untuk

mempercayainya."

"Dengan orang berkedudukan sebagai aku, apakah kau sangka, aku bicara cuma buat mendustaimu?" tanya siwanita.

Ban Liang memandang kawannya, lalu ia berkata pada siwanita: "Aku siorang tua, jiwaku terlindung kebanyakan disebabkan aku pandai membawa diriku. Seumurku aku tidak mempunyai kekurangan, kecuali aku tampak akan hidup sebaliknya sangat takut mati. Menurut pikiranku,jikalau aku percaya kau, bagiku tambah sedikit pengharapan untuk hidup terus..."

Ia menoleh pula kepada kawannya, untuk menambahkan; "Hanya adikku ini, dia masih muda, dia selalu menuruti saja perangainya, semangat dia sedang berkobar karenanya aku khawatir dia tak sudi menerima baik syaratnya ini"

Wanita itu melihat sekeliling.

"Sekarang ini," katanya "kamu masih terdiri dari berapa orang?" "Kami tinggal berdua," menyahut Ban Liang "Sebenarnya kami

masih mempunyai dua orang kawan lagi akan tetapi mereka itu

kena ditawan pihakmu."

wanita itu mengawasi dua orang didepannya itu, ketika Siauw Pek menyingkir kedalam. "Diantara kamu berdua, siapa yang terlebih liehay ilmu silatnya?"

"Aku!" jawab Ban Liang. "Jikalau kau yang lebih gagah, bagus" kata wanita itu,

"Sekarang bunuhlah dia" Ban liang melengak, Inilah ia tidak sangka

"Kejam caranya ini," pikirinya. Tapi ia lekas berkata: "Sulit nona Benar aku terlebih gagah tetapi tak dapat dengan begini saja aku membunuhnya. Untuk itu kami harus bertempur dahulu selama tiga ratus jurus"

Wanita itu bersikap dingin. Dan dingin juga suaranya.

"Asal kamu mau dengar kata kataku," ujarnya "Akan kuajari kau dua ilmu silat hingga selanjutnya kau akan dapat membunuhnya dengan mudah bagaikan kau memutar balik telapak tanganmu"

Kembali Ban Liang berpikir: "Mungkin dari ilmu silatnya aku dapat menerka dia siapa..." Ia lalu menanya. "Ilmu apakah itu yang demikian liehay?" Oey Eng sementara heran sekali. Ia tidak dapat menerka hati siwanita, iapun bingung memikirkan kawannya Jago tua itu lagi menggunakan siasat apakah?

Ia pikir, kalau ia terus berdiam saja, bisa bisa wanita itu mencurigainya. Maka dengan suara dingin, ia berkata, "Saudara Ban, apakah kau hendak membereskan aku?"

"Bocah ini cerdas juga"pikir Ban Liang, yang girang mendengar suara orang. Tapi ia juga berkata dingin; "Kalau kau tak mau bekerja sama denganku, maka jangan kau sesalkan aku tidak mengenal kasihan " Oey Eng menghunus pedangnya, akan tetapi dia menuding sibaju kuning untuk menegur :

"Hai, perempuan celaka bagaimana kau mengadu domba kami dua saudara? Awas, akan aku bunuh kau"

Baru saja orang berkata begitu, tiba-tiba Ban Liang berlompat maju. sebelah tangannya dibarengi diulur, buat menjambret lengan kanan sahabatnya itu. Oey Eng berkelit dengan sebat, hampir tangannya kena dicekal. Tanpa memberi kesempatan berbicara kepada anak mudaitu. Ban Liang berkata: "Sekarang ini kesempatan hidup kami satu-satunya ialah dengan mengandal kepada siwanita, maka itu jikalau kau memikir buat mencelakakan dia itu, berarti kau menentang aku " Siwanita mengawasi kedua orang itu, sikapnya tawar. Ia berdiam saja.

Oey Eng bagaikan tersadar, ia berkata: "Adalah biasa siapa ingin hidup dia membenci mati, oleh karena itu aku bukanlah orang yang memandang jiwa bagaikan permainan anak kecil"

Sekonyong-konyong siwanita tertawa terkekeh. Katanya: "Kiranya kamu berdua adalah orang-orang yang ingin hidup tetapi takut mati, kalau begitu, mudahlah untuk bekerja "

"Kami telah bersatu hati, nona, tolong tunjukkan kepada kami jalan hidup kami," berkata Ban Liang.

"Itulah mudah. Sekarang bebaskan dahulu aku dari totokan "

Ban Liang tertawa didalam hati dan berpikir: "Akulah seorang dengan banyak pengalaman, mustahil aku kena terpedaya olehmu?" selagi berpikir itu, ia bertindak menghampiri wanita itu. Oey Eng bingung sekali.

"Loocianpwee, jangan biarkan diri kita dipedayakan" teriaknya. "Kalau dia dibebaskan lalu dia tidak memperdulikan kita, bukankah kita bakal mati tanpa tempat pekuburan?"

Ban Liang tertawa pula dalam hatinya dan berpikir: "bocah ini masih menyangka bahwa aku bersungguh-sungguh" Ia lalu menjawab: "Kau benar. Memang berbahaya kalau kita bebaskan wanita ini dari totokan, akan tetapi aku situa, tidak dapat memikir jalan lain untuk menyelamatkan diri kita..."

"Siapa tahu selatan, dialah si orang gagah" berkata wanita itu, mengejek, "Kau benar-benar seorang cerdik" Ban Liang sudah datang dekat kepada wanita itu, dengan tangan kanannya, ia lalu menotok hingga dua kali didua tempat. Wanita itu terkejut, dia menjadi sangat gusar. "Eh, kau bikin apakah?" tegurnya. "Apakah maksudmu ?" Ban Liang tertawa, ia menyahut dengan sabar: "Kau berkepandaian sangat tinggi, pasti

kau dapat membebaskan dirimu dari totokan kami, karena itu, kalau aku tidak menotokmu pula. bukankah kami terlalu sembrono

?"

Wanita itu tertawa dingin.

"Mustahilkah kamu tak takut mampus?" dia bertanya.

Ban Liang tersenyum. Dia menjawab: "Jikalau kami membebaskan kau, tak usah menanti tibanya Pek Liong tongcu, tentulah kami sudah tidak bernyawa lagi"

"Ah, sungguh licin tua bangka ini" pikir si wanita. Maka dia berkata dengan dingin: "Jikalau kelak dibelakang hari kamu roboh ditangan punco, tak dapat tidak mesti kami membikin hancur luluh tubuh kamu"

Ia menggertak gigi, pertanda bahwa kemurkaannya melewati batas, sedangkan sepasang alisnya bangun berdiri. Ban Liang pun berkata sama dinginnya: "Urusan dibelakang hari, nanti kita bicarakan pula dibelakang Hanya sekarang ini, didekat ini, aku situa mempunyai kesempatan membuat kau mati"

Wanita itu tersenyum jengah.

"Jikalau kau benar benar wanita sejati seharusnya ktia bertempur jurus demi jurus" tantangnya.

"Peperangan tidak mengenal tipudaya, nona" Ban Liang berkata, tersenyum. "Selagi hadap berhadapan dengan musuh, orang dapat menggunakan segala macam akal muslihat. hal itu tidak jelek, tidak mendatangkan malu"

Justru baru berhenti suara sijago tua, dengan mendadak terdengar suatu seruan: "Bebaskan dia"

Ban Liang dan Oey Eng berpaling dengan cepah Itulah suara Siauw Pek, Dan anak muda itu bertindak mendatangi, wajahnya sangat lesu dan suram, agaknya dia sangat menderita.

Siwanita juga berpaling, dengan sepasang matanya yang jeli, dia memandang anak mudaitu. Hanya sejenak itu, hilang lenyap roman gusarnya. Sebaliknya, dia lantas tampak merasa aneh. Dia mengawasi dengan tertegun. Siauw pek bertindak terus, menghampiri si nona sampai dekat. lalu dengan mengulurkan tangannya, ia menepuk beberapa kali membebaskannya dari totokan. Sambil berbuat begitu dia berkata: "Nah kau pergilah" Siserba kuning bangkit dengan perlahan lahan ia merapikan topengnya. "Kau she apa?" dia bertanya.

"Aku Coh siauw pek, "jawab sianak muda, terus terang. Siwanita memakai topengnya, tak tampak dia bergusar atau bergirang, yang terang ialah tubuhnya bergerak-gerak bagaikan orang tengah bergemetar, suatu pertanda bahwa hatinya tegang sekali. Sesaat itu, sunyilah rumah itu.

"Hubungan apakah kau dengan Coh kam pek dari Pek ho bun?" kemudian siwanita bertanya.

"Ialah ayahku almarhum." Tubuh siwanita bergerak pula. "Apakah dia sudah meninggal dunia?"

"Ayah telah menutup mata sejak lima tahun yang lalu" "Cara bagaimana dia meninggalnya?"

"Ayah mati dikeroyok didepan jembatan Seng su kio oleh tangan orang-orang sembilan partai besar yang menyusul dan mengepung ngepungnya selama delapan tahun terus menerus"

Wanita itu berdiam sejenak, baru dia menanya pula. "Bagaimana dengan ibumu?"

"Ibu dan kakakku telah turut ayah meninggaikan dunia ini.

Mereka juga berkelahi hingga mati didepan Seng su kio."

Wanita itu menanya pula, tawar. "Kenapa kau tidak menyembunyikan diri? Kenapa kau justru muncul dimuka umum?" "Aku memendam sakit hati besar dan dalam bagaikan lautan, mana dapat aku tidak keluar untuk mencari balas?"

wanita itu berdiam. Terus ia tidak berkata pula sampai ia memutar tubuhnya dan berjalan pergi. Mulanya dia berlompat jauh setombak lebih habis itu ia berlari lari keras sekali, hingga dilain detik, lenyaplah bayangannya sekalipun. Ban Liang menarik napas perlahan.

"Saudara Coh, apakah kau kenal wanita itu?" tanyanya sabar. "Rasanya aku kenal," sahut si anak muda. "Dengan perginya

dia,pihak sana tak mengkhawatirkan apa-apa lagi," berkata sijago tua. "Sekarang ini kita benar benar terancam bahaya"

"Tidak bisa lain, kita harus bersiap mengadu jiwa" berkata Oey Eng, nekad. Dia heran tetapi dia tidak berani menyesaikan tindakan ketuanya itu. Ban Liang menatap muka sang ketua.

"Saudara Coh, pernahkah kau memikir tentang diri wanita itu?" ia tanya pula. Siauw pek memandang jago tua itu dan saudara mudanya.

"Kamu berdua tentu sangat bercuriga," katanya. "Sebenarnya malu aku untuk menyebutkannya akan tetapi aku toh mesti menyebutkannya juga."

"Jikalau toako merasa tak enak buat memberitahukan, lebih baik jangan kau memberitahukannya," kata Oey Eng.

"Dia mirip dengan satu orang..." kata Siauw Pek, menyeringai.

Dia jengah, dia merandak.

"Dia mirip dengan siapakah, saudara kecil?" Ban Liang tegasi. "Dengan ibuku..." sahut si anak muda, perlahan. Ban Liang dan

Oey Eng melengak, Inilah diluar dugaannya. "Benarkah?" berdua mereka menegaskan.

"Benar Tapi ibuku jelas sekali telah terbinasa didepan Seng Su kio..." "Didalam dunia ada banyak orang yang mirip satu dengan lain," kata Ban Liang. "Mungkin kebetulan saja dia mirip dengan ibumu, saudara kecil..."

Dilain saat, nampaknya dia tidak menambahkan si anak muda. "Apakah saudara mempunyai sesuatu buat bukti kenyataan?"

"Seingatku, telinga kiri ibuku ada tai-lalatnya, hitam, sebesar kacang hijau."

"Apakah saudara tidak salah ingat?"

"Tidak, Tai-lalat itu sangat berkesan dalam hatiku."

Ban Liang menjadi berpikir keras, hingga dia merapatkan kedua matanya. Ia berdiri menyender didinding. Siauw pek menghela napas, lalu mendadak dia bertindak keluar. Oey Eng kaget. "Toako mau pergi kemana?" tanyanya.

"Aku hendak mencari mereka itu untuk menantang bertempur," sahut sang ketua. "Aku hendak mengandalkan pedang dan golokku guna memutuskan siapa menang dan siapa kalah..." Mendadak Ban Liang membuka lebar kedua matanya.

"Saudara Coh, tunggu dahulu" kata dia. "Urusan kita sekarang ini bukan lagi urusan yang bisa diselesaikan dengan kekerasan..."

Siauw pek mundur pula. Tapi kembali dia menghela napas. Katanya masgul: "Loocianpwee mempunyai pendapat apa untuk memecahkan keragu-raguan ini?" Nada suaranya itu mengandung kemenyesalan.

"Saudara kecil, apakah kau ingat seseorang bertanya sijago tua. "Siapakah dia?"

"Ceng Gie Loojin."

"Ceng Gie Loojin" mengulangi si anak muda, agaknya dia terkejut. Dia bagai ingat sesuatu. "Benar, Ceng Gie loojin, orang yang pandai luar biasa dalam ilmu pertabiban. Dia pandai membuat orang berubah wajahnya berubah jauh sekali"

"Maksud loocianpwee?" Ban Liang tertawa.

"Sekarang ini ada terdapat seorang Kang Ouw yang kejam sekali" dia berkata. "Dia telah memiliki kepandaian luar biasa seperti kepandaian Ceng Gie-Loojin itu. Mungkin dia sekarang telah membangkit salah mengerti didalam dunia Kang Ouw, untuk membuat sembilan partai besar bentrok dan saling bunuh, supaya di akhirnya dia menjadi si nelayan yang memperoleh hasil seorang diri... Ibu saudara sudah mati didepan Seng Su Kio dan kejadian itu saudara lihat sendiri"

"Jikalau dia itu bukan ibuku, cara bagaimana ia ketahui peristiwa Pek Ho Bun?"

"Nah, itu soalnya. Kita..."

Jago tua itu berpikir sebentar. "Siapa tahu kalau dia turut ambil bagian dalam pertempuran di Pek Ho Po itu?" ia menambahkan. "Atau mungkin dialah si biang keladi yang menciptakan peristiwa hebat itu... Harap saja perkiraanku ini tidak benar."

"Ah, kita melupakan satu hal." mendadak Oey Eng memecah kesunyian.

"Apakah itu, saudara kecil?" tanya Ban Liang.

"Orang yang menyamar menjadi saudara Kho Muka dia dipakaikan gips begitu rupa sampai kita kena dia kali. sayang, tadi kita lupa memeriksa muka wanita itu, dia memakai gips atau tidak..."

Ban Liang menggelengkan kepala, "Aku kira tidak," "Apakah tai-lalatpun dapat dipalsukan?" tanya Siauw Pek, "Dapat."

"Meskipun demikian, loocianpwee, tetap aku bersangsi..." "Aku punya jalan untuk mengetahui asal-usul orang itu..." "Bagaimana, loocianpwee?"

"Coba saudara ingat baik-baik segala sesuatu dari masa yang telah lampau, nanti kalau kita bertemu pula dengannya, saudara tanya dia dengan teliti. seandainya dia dapat menjawab dengan baik, itulah soal sulit bagiku, tak dapat aku memikirkannya lagi. Akan tetapi, kalau sebaliknya, yaitu dia tidak dapat menjawab, terang sudah dialah si orang palsu"

Siauw Pek mengangguk. "Ia, kelihatannya cuma ada ini satu jalan," katanya. Sampai disini, nampak si anak muda menjadi lebih tenang. Ban Liang menoleh kepada Oey Eng.

"Tolong saudara sulut obat bius dari patung kemala itu," pintanya. "Jikalau aku tidak keliru, didalam tempo satu jam lagi, musuh pasti bakal datang menyerbu pula, bahkan kali ini secara besar besaran..." Oey Eng sekarang percaya benar si orang tua, maka ia lalu melakukan apa yang diminta itu.

Siauw pek ingat kedua Nona Hoan. katanya, "apa mungkin kedua nona itu dapat memecahkan persoalan ini."

"Kedua nona itu pintar luar biasa, cuma mereka belum berpengalaman," berkata Ban Liang "Mengenai kaum Kang Ouw, mereka gelap sekali. Untuk menanyakannya, lebih dulu harus dituturkan duduknya hal biar jelas kepadanya. Nanti, asal mereka sudah ikut kita, mereka pasti akan memperoleh kemajuan. Kecerdasan mereka akan besar sekali faedahnya bagi kaum Rimba Persilatan."

"Benarkah itu, loocianpwee?" tanya Oey Eng. "Kenapa sekarang mereka seperti membiarkan kita terkurung didalam rumah ini?"

"Jangan kau lupa, saurtara, orang telah menyediakan kita tiga tipu daya tetapi kita memilih saja.Jadinya urusan terserah kepada kita sendiri."

"Loocianpwee benar," kata Siauw Pek, mengangguk. Ban Liang menghela napas. "Cuma satu hal kedua nona itu lupa," katanya. "Mereka tidak meninggalkan daya lainnya andaikata tipu dayanya ini gagal..."

"Tak dapat kita sesalkan mereka," kata Siauw pek, "Mereka itu bercacat, mereka juga belum tahu tentang kelicikan kaum Kang Ouw."

"Lainnya lagi, musuh kita ini sangat tangguh," berkata Oey Eng. "Sekarang begini," berkata Siauw Pek, mengambil keputusan.

"Kalau musuh datang pula, akan aku hadapi mereka. Hendak aku coba pedang dan golokku ini "

"Kau sudah muncul, saudara kecil, memang tak usah kau bersembunyi lebih lama lagi. Baiklah kau pertunjukkan kegagahanmu terliadap mereka supaya tahu rasa "

Selagi mereka bicara itu, mereka mendengar siulan yang nyaring dan lama. Hari sudah malam, suara itu agak menyeramkan.

"Ban Loocianpwee, saudara Oey, waspadalah" berkata  Siauw Pek, yang terus saja bertindak keluar.

Oey Eng mau mencegah saudara itu, ia menyambar tangannya, tetapi ia gagal.

Siauw pek membuka tindakan lebar, hanya sebentar, tibalah ia diluar. Sejauh tujuh kaki dari pintu, ia berhenti untuk segera memperdengarkan suaranya yang nyaring: "Tuan tuan siapa diantara kamu membuat buat menerjang masuk ke rumah kami ini, mari lewatkan aku dahulu" Kata kata itu ditutup dengan dihunusnya pedangnya yang tajam, yang sinarnya berkilauan.

Oleh karena mega menutupi si Puteri Malam, malam itu remang remang, segala sesuatu tampak samar samar.

Siulan terdengar makin lama makin dekat, hingga tampak terberak geraknya beberapa sosok tubuh.

Itulah tiga orang yang semuanya berdandan dengan singsat, muka mereka ditutupi sehelai kain hitam sebatas hidung, hingga nampak mulut mereka saja. Mereka memain bagaikan mata hantu. Atas bentakan si anak muda, mereka berhenti berlari. Yang luar biasa ialah mereka itu membungkam.

"Jikalau kamu tak sudi bicara, hunuslah senjata kamu" Siauw Pek menantang. "Lekas kamu turun tangan"
*** ***
Note 15 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Membaca cersil dapat menimbulkan efek candu!!!."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 25"

Post a Comment

close