Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 32

Mode Malam
JILID 32

"Dan jadi taysu cuma mengingat saja, tak dapat taysu melukiskannya" berkata Seng Su Poan si Hakim Penuntut Hidup Mati.

"Benar. Sudah beberapa puluh kali dia memeriksa loolap. saban saban dia mengompes hebat. Pernah karena saking tak  tertahankan, loolap membocorkannya juga . Tapi, justru karena itu, terbukalah hati loolap mengerti sempurna rahasianya ilmu silat itu. Tadinya, sebelum loolap dikurung, selama tiga tahun loolap meyakinkannya, tak pernah loolap berhasil menangkap maksudnya yang asli, yang dalam. Sekarang tidak, dadaku telah terbuka." Ia menghela napas lega. "Itulah warisan ilmu silat istimewa dari Ngo Bie Pay, yang tersimpan selama seratus tahun lebih, maka selanjutnya tak ingin loolap membuatnya lenyap atau terlupakan pula”

“Maksud loocianpwee? " Ban Liang tanya.

Han in mengawasi ciu ceng, lalu Giok Yauw dan lalu sijago tua. "Loolap hendak mewariskan ilmu silat itu kepada salah seorang

diantara kamu bertiga," katanya kemudian-

"Inilah soal besar, taysu," berkata Ban Liang. "Baiklah taysu yang memilih sendiri." Ketua Ngo Bie Pay itu menatap pula Nona Thio. Katanya, "Nona ini berusia paling mudaia juga berbakat balk sekali, ia tepat menerima pelajaran dari aku..."

"Ilmu silat apakah itu, taysu? " Giok Yauw tanya. Ia teliti, tak mau ia menerima sembarang kepandaian.

"Dua rupa ilmu istimewa partai kami," menyahut sipendeta tua. "Itulah Hui kiong Sam Kiam dan Thian Hong Su ciang."

Mendengar nama-nama Nona Thio tersenyum. "liong Kiam Hong ciang, itulah nama-nama bagus" katanya, gembira. "Aku juga ingin mempelajari itu. Hanya, apakah aku mesti mengangkat kau menjadi guru? " ia bertanya setelah ia berdiam sejenak.

"liong Kiam" ialah "Pedang Naga" dan "Hong ciang" berarti "Telapak burung Hong" (phoenix) maka itu "Hui liong Sam Kiam" ialah "Tiga Jurus Pedang Naga" dan "Thian Hong Su ciang" yaitu "Empat Jurus (burung) Hong Langit".

"Tak usah kau mengangkat guru lagi," berkata Han In. "cuma ada satu permintaan yang loolap harap kau suka menerimanya dengan baik."

"Apakah itu taysu? Taysu hendak menurunkan ilmu pedang dan tangan kosong, mungkin..." berkata si nona.

"Permintaanku mudah saja: Setelah nona menerima pelajaranku ini, itu cuma dapat dipakai menentang musuh, tidak dapat diajarkan diturunkan lagi kepada lain orang...”

“Baiklah, suka aku berjanji. Masih ada apa lagi? "

"Itulah ilmu silat pusaka Ngo Bie Pay yang diperuntukkan membela kehormatan gunung kami, maka itu kelak dibelakang hari, nona mesti mengembalikannya pula kepada partai kami"

"Apakah aku mesti mencukur gundul rambutku guna menjadi pendeta wanita, supaya aku menghamba kepada partaimu itu? "

"Itulah tak usah, nona. cukup kalau dibelakang hari, sesudah dunia Kang ouw atau Rimba Persilatan aman dan damai, ilmu silat itu nona turunkan kepada ketua kami. Itu artinya bahwa ilmu silat kami telah dikembalikan kepada partai kami."

Giok Yauw berpikir. Ia berkata: "Nampak taysu sangat prihatin, seperti juga Liong Kiam dan Hong ciang liehay luar biasa. Benarkah itu? "

"Bukannya loolap takabur, nona," menjawab si bhiksu, "Dijaman ini, mungkin sukar buat mencari beberapa saja ahli silat yang dapat menyambut ilmu ilmu pedang dan tangan kosong partai kami itu...”

“Benarkah itu? " kembali si nona tanya, melit. Han In tidak kurang senang hati, sebaliknya dia tertawa.

"Detik ini detik apakah, nona? Masihkah loolap mempunyai kegembiraan untuk bersenda gurau denganmu? "

Si nakal tersenyum. Segera ia menghampiri pendeta itu untuk memberi hormat.

Han in segera berkata kepada Ban Liang dan ciu ceng: "Tuan tuan, silakan kamu pergi mencoba mencari perkakas perkakas rahasia yang dapat membuka pintu besi itu, loolap sendiri hendak sekarang juga memberikan pelajaranku kepada nona ini"

"Silakan, taysu" berkata ciu ceng memberi hormat. Mata Han In segera dialihkan kepada Giok Yauw.

"Mari kita pergi kepojok sana," katanya. "Liong Kiam dan Hong ciang luar biasa sulitnya, jikalau nona tidak dapat memusatkan tenaga pikiranmu, aku khawatir kau gagal."

Berkata begitu, pendeta ini menggunakan kedua tangannya membuat keretanya Cepat pergi.

"Akan aku tolak kereta suhu" kata Nona Thio.

Sudah belasan tahun Han in belum pernah mendapat pelajaran seperti ini, tanpa merasa ia menoleh kepada ini murid baru dan tersenyum. Ia puas sekali. Hati si nona bercekat. Senyuman pendeta itu bagaikan menutupi cacadnya. Tapi ia berhati tetap, ia berlaku tenang, maka tak perubahan apa juga pada wajahnya. Ia mendorong kereta guru itu.

Sementara itu ciu ceng dan Ban Liang saling mengawasi, lalu keduanya pergi kepintu besi, untuk mulai dengan teliti sekali. Tapi tak lama, mereka sudah terbenam didalam kegelapan-Lilin mereka padam apinya. Sijago tua menghela napas.

"Saudara ciu," katanya, "aku masih menyimpan tiga batang sumbu tetapi kekuatannya itu pun cuma waktu sesantapan nasi..."

"Simpan saja, saudara Ban," berkata ciu ceng. "Kita pakai bila sudah sangat perlu"

Ia menghela napas, baru ia menambahkan-"Menurut dugaanku, tak besar pengharapan kita untuk mendapatkan rahasia pesawat pembuka pintu besi ini. Aku pikir kita toh harus menanti datangnya Nona Hoan guna menolong kita..."

Ban Liang tidak segera menjawab, hanya ia berpikir. "Sukar buat diterka kalau kalau Nona Hoan sanggup membuka pintu ini, walaupun demikian, mesti aku perkuat keperCayaan orang she ciu ini terhadap nona ini" Maka ia lalu tertawa terbahak bahak dan berkata, 

"Nona Hoan sangat Cerdas dan pintar, aku perCaya dia bakal dapatjalan membuka pintu ini"

"Memang. Akupun, jikalau aku tidak perCaya kepandaian nona itu tak berani aku meninggalkan Seng kiong Mo Kun untuk berbalik mengikutinya" Ia batuk batuk perlahan-Rupanya ia menganggap kata katanya itu kurang tepat atau terlalu lemah, maka ia menambahkan. "Bukannya aku takut mati tetapi aku mengerti telur tak dapat melawan batu, atau kesudahannya pastilah kegagalan atau kekalahan. Aku memikir buat menggunakan tenaga yang aku masih punya buat melakukan sesuatu buat kebaikan Rimba Persilatan Itulah hal yang telah lama aku nantikan-.." "Walaupun demikian, saudara kita tidak boleh mengharapkan Nona Hoan saja Mari, sebelum si nona sampai, kita gunakan waktu kita sebaik baiknya."

"Kau benar, saudara Ban. Nanti aku panggil kedua perwiraku, supaya merekapUn membantu mencari pesawat rahasia itu"

Berkata begitu, siJenjang Kuning menghampiri pintu. Kendati juga ruang sangat gelap. sesudah berdiam sekian lama, matanya bisa menerka-nerka dan melihat bagaikan orang lamur.

Kedua perwira itu sedang berdiri tertegun dimulut jalan keluar. Dengan suara perlahan, ciu ceng berkata kepada dua kawan itu:

"Pintu besi ini sudah diturunkan, buat sementara tentulah tak bakal

ada musuh yang datang kemari, dari itu, saudara saudara, tolong kamu membantu kami mencari pesawat rahasianya, supaya kita dapat membuka atau mengangkat naik pintu ini..." Dua kawan itu menyahuti, segera mereka bekerja.

Ban Liang bekerja dengan sabar dan teliti, akan tetapi didalam hatinya ia perCaya bahwa usaha mereka ini adalah bagaikan orang mencari jarum didasar laut. Ia bekerja melulu guna bantu memperkuat semangat si orang she ciu dan kedua perwira itu, agar mereka tidak menyesal dan keCewa mengikuti Kim Too Bun.

Lama juga mereka sudah mencari Cari, Ban Liang masih belum berhasil. hingga diam-diam ia khawatir ciu ceng bertiga nanti kalah semangat. Ia mencari terus.

Didalam ruang dalam tanah itu orang tidak dapat melihat matahari atau rembulan, tidaklah heran kalau orang juga tidak tahu hari dan tanggal-bulan, siang atau malam. ciu ceng mencari terus dengan rajin, ia menelan contohnya Ban Liang.

Lewat lagi beberapa lama, akhirnya sijago tua yang berbicara juga . Ia minta Oey Ho ciu Loo menunda dahulu.

“Han In Taysu benar waktu ia mengatakan mungkin pintu besi ini tidak ada jalannya untuk menyingkirkannya," kata ciu ceng. "Saudara ciu, coba kau kira-kira, sudah berapa jam kita berada didalam sini? " Ban Liang tanya.

"Mungkin sudah satu hari satu malam.” “Apakah kau telah merasa lapar? ”  “Ya, mulai sedikit."

"Baik kita cari Han In Taysu, untuk minta barang makanan, habis itu kita baru melanjutkan usaha kita ini. Kitapun perlu berunding pula..."

"Kita sudah hilang satu hari satu malam, mestinya Nona Hoan telah mengetahui pula." berkata ciu ceng, seolah merasa keCewa.

"Memang Mungkin sekarang ia berada diluar pintu ini dan sedang bekerja mencari pesawat rahasia seperti kita ini..."

ciu ceng menoleh kepojok dimana Han in berada bersama Nona Thio. Ia berpikir, lalu ia berkata: : "Sinona sedang silat, mungkin sekarang saatnya yang sangat penting, baik kita jangan mengganggunya..."

Belum berhenti suara siJenjang Kuning, tiba tiba mereka mendengar tawa yang dingin hingga mereka terkejut, lalu mereka menoleh kearah darimana suara itu datang.

"Siapa disana" tegur Ban Liang.

Tidak ada jawaban, ada juga suara yang halus: "ciu congcu, orang siapakah yang memberontak dan berhianat terhadap Sin Kun pernah memperoleh kesempatan lolos dari kematian? "

"Seng kiong Hoa Siang" seru ciu ceng.

"Benar" jawab suara tadi. "Bukan cuma punco yang berada disini tapi juga Sin Kun sendiri. Tentang penghianatanmu telah punco kirim warta burung untuk melaporkannya. Sin Kun gusar sekali, akan ia segera datang dengan mengajak Hu kee Pat Tong, sebentar sebelum matahari selam, ia akan tiba disini" “Hu kee Pat Tong" ialah delapan bocah pengiring pelindung Seng kiong Sin Kun.

Didalam gelap itu sayup sayup Ban Liang mendengar gerakan tubuh bergemetar dari Oey Ho ciu Loo, yang rupanya gentar hatinya mendengar bakal tibanya bekas pemimpinnya, sedangkan kedua kiamsu berdiri mematung. Baru sesaat kemudian ketiga tiganya sama sama bertindak mundur kedinding.

"Nona" Ban Liang segera memperdengarkan suaranya. "Nona, suaramu terang dan jelas, kau tentunya berada didalam ruang didalam tanah ini? "

"Tidak salah" sahut Hoa Siang dengan suara yang tinggi nadanya.

Berbareng dengan itu, tiba tiba dari satu pojok ruang tampak satu sinar kecil lima dim persegi, yang serupa seperti sebuah lubang angin. Ban Liang terkejut pula.

"Kiranya ruang ini berhubUngan dengan ruang lain-.." pikirnya. Terdengar pula suara Hoa Siang: "Perihal kamu terkurung disini,

si budak perempuan she Hoan telah mengetahuinya dan sekarang

ini dia dan rombongannya berada diluar ruang dalam tanah  ini untuk menyerbu masuk guna menolong kamu. Tapi dia tidak insyaf bahwa selagi sang cengcorang hendak menangkap sang tonggeret, dibelakangnya berada sang burung gereja. Sebentar kalau Sin Kun tiba, paling dahulu kami akan bekuk budak perempuan itu, baru kami datang pula kemari untuk membereskan kamu"

Ban Liang hendak menjawab wanita itu tapi si wanita telah mendahuluinya menutup lubang angin itu yang berupa seperti sebuah jendela kecil.

"Saudara ciu" berkata sijagotua keras, "Nona Hoan sudah datang, ia sedang berada diluar ruang dalam tanah ini lagi mencoba menolong kita, karena ia tidak dapat segera sampai disini aku pikir hendak... "Jago tua ini berhenti sebentar, sebab dia melihat ciu ceng berdiri tertegun dengan mata mendelong. Ia mengerutkan alis, karena ia tahu bahwa mengapa sahabat itu menjadi demikian mematung. Maka ia memanggil pula, keras: "Saudara ciu..." ^

Masih ciu ceng berdiam saja, walaupun kemudian, ia dipanggil, dan dipanggil lagi.

"Hebat Seng kiong Sin Kun..."pikirBan Liang. "Dia begitu liehay hingga ciu ceng seorang Rimba Persilatan yang berkenamaan menjadi begini jeri terhadapnya" Segera ia memanggil pula dengan suara terlebih keras "Saudara ciu Saudara ciu" Baru sekarang siJenjang Kuning tersadar, bagaikan dipagut ular.

"Ada apa? " sahutnya, balik bertanya.

"Saudara ciu," Ban Liang bertanya, "apakah kau lihat liang dipojok dinding itu yang menerbitkan sedikit sinar terang dari api? ”

“Ya, aku seperti melihatnya..." Oey Ho ciu Loo bagaikan orang baru bangun tidur. Ban Liang heran.

"seperti melihat? " pikiran. "Itulah sama dengan tak melihat..."

Selagi berpikir itu, jago tua ini mendengar ciu ceng berkata sendiri bagaikan orang mengoceh: "Kalau benar Sin kun datang kemari dari pada kita kena ditangkap hidup, hidup untuk kemudian dihukum, lebih baik kita mendahului membunuh diri..."

Mendengar itu Ban Liang menarik napas.

"Saudara ciu," berkata ia, sabar tetapi cukup keras, "ada sesuatu yang aku kurang mengerti, ingin aku minta keteranganmu..."

"Berbicaralah, saudara Ban, segala apa yang aku tahu, akan akujelaskan" sahut orang yang ditanya itu, makin sadar.

"Saudara ciu, apakah kau telah sadar betul? "

"Sebegitu jauh, aku sadar betul. Saudara Ban hendak menunjukkan apa kepadaku? Silahkan bicara."

"Saudara, seseorang dapat mati berapa kali? " tanya Seng Su Poan. "Semenjak jaman purba, tak ada orang yang mati dua kali..." "Itulah benar Memang, berapa tinggi usia manusia, satu kali dia mesti mati Tapi kau saudara ciu, kenapa kau hendak mati dengan membunuh diri? Kita toh dapat menggunakan tubuh kita yang sempurna untuk melakukan satu pertempuran yang memutuskan? ”

“Itupun benar. cuma disana ada Seng kiong Sin Kun-.."

Menyebut Seng kiong Sin Kun, suara ciu ceng menjadi sangat perlahan hingga terdengarnya tak jelas, giginyapun bergetaran-

"Ah," mengeluh Ban Liang. "ciu ceng menjadi orang ternama dari Rimba Persilatan, mengapa sekarang dia menjadi begini penakut? "

Segera ia berkata pula, nyaring: "Saudara ciu, Sin Kun itu manusia atau bukan? ”

“Sudah tentu dia manusia"

"Kalau dia benar manusia, kenapa saudara begini takut terhadapnya? " ciu ceng menghela napas.

"Bukannya aku takut" sahutnya. "Hanya tak ada kesempatan untuk kita menempur dia"

"Dibacok satu golok atau sepuluh golok. matinya sama" berkata pula Ban Liang, untuk menanam semangat orang. "Jikalau kita tidak takut mati, dikolong langit ini apakah yang harus ditakutkan? "

"Saudara tidak perCaya kata kataku, tak ada jalan buat aku menjelaskannya," berkata ciu ceng menarik napas. "Mungkin nanti, sesudah saudara saudara bertemu dengan Sin Kun sendiri, baru saudara percaya perkataan ini..."

Sijago tua berpikir. Hendak ia mengatkan sesuatu, tapi segera dibatalkannya. ia khawatir kata kata itu nanti menyinggung kawan itu atau membuatnya bertambah berduka. Justru itu pembicaraan mereka terputus dengan terdengarnya suara Nona Thio.

"Apakah kamu telah menemui alat rahasia pembuka pintu besi ini? " demikian Giok Yauw bertanya. Ban Liang dan ciu ceng segera menoleh. Mereka mendapatkan si^nona sudah tiba dibelakang mereka.

"Apakah nona telah selesai belajar dari Han In Taysu? " Ban Liang tanya. Giok Yauw menarik napas perlahan.

"Telah aku pelajari semua jurus liong Kiam dan Hong ciang itu," sahutnya. "Akan tetapi kedua ilmu silat itu sangat sulit, karena itu, untuk mempelajarinya sampai mahir, aku perlu latihan lebih jauh dan tekun."

"Inilah kesempatan yang paling bagus, nona," berkata Ban Liang, "maka itu perlu nona belajar dengan rajin, supaya kau nanti berhasil menyempurnakan hingga mahir betul betul”

“Telah aku mencoba," jawab sinona.

Mendadak terdengar suara sangat keras dan berisik memutuskan kata kata Nona Thio Ban Liang segera tertawa, girang: "Nona Hoan sudah sampai didepan pintu."

"Mari kita hajar pintu ini, guna memberi pertanda pada sinona" mengajak ciu ceng.

"Benar Mari" berseru Ban Liang. Bahkan dengan telapak tangannya segera ia menepuk pintu besi itu. Keras hajarannya itu.

Hanya sedetik, dari luar terdengar suara sambutan. "Benar, itulah nona Hoan" kata sijago tua. ciu ceng menghela napas.

"sekalipun Nona Hoan sudah sampai, mungkin dia bukan lawannya Seng kiong Sin Kun."

Ban Liang tahu bahwa orang sudah sangat jeri terhadap Seng kiong Sin Kun, maka ia tidak mengatakan apa-apa, hanya kembali ia menghajar pintu besi itu, hingga tiga kali. Itulah pertanda jawabannya.

Habis itu, tak usah sijago tua menanti lama, segera ia melihat sinar terang, sinar mana yang disebabkan terkerek naiknya pintu besi yang besar, tebal dan berat itu Itulah Cahaya api disebabkan terbukanya satu jalan lebar. Menyusul terbukanya pintu, Oey Eng dan Kho Kong bertindak masuk dengan langkah yang lebar, ditangan mereka masing-masing ada sebuah lentera. Dibelakang kedua anak muda itu tampak Siauw Pek yang menggembol pedang dan goloknya. Tapi, bukan cuma mereka bertiga yang muncul. Dibelakang mereka terlihat lagi Soat Kun bertindak masuk bersama sama Soat Gie yang bahunya dipegang Hanya nona nona itu bertindak dengan perlahan.

Ban Liang segera maju memapak cahaya seraya dia mengangkat kedua tangannya. "Nona, terima kasih atas pertolonganmu ini"

Nona itu menghela napas. Kata dia. "Kami terpaksa harus menggunakan waktu setengah malam dan satu hari untuk mencari rahasia dan membuka pintu ini..."

"Jlkalau nona tidak keburu datang, pasti kami akan mati didalam ruang bawah tanah ini," berkata ciu ceng, yang hatinya juga lega.

"Perencana pintu besi ini entah telah bagaimana berCapik hatinya ketika dia memikir dan merencanakannya," berkata sinona, "syukur pembuatnya rada tolol, jlkalau tidak, walaupun kita menggunakan lebih banyak waktu lagi masih sukar buat kita mencarinya sampai ketemu"

“Hanya nona datang sedikit terlambat," kata ciu ceng. " Kenapakah? " si nona tanya.

"Itulah sebab Seng kiong Sin Kun sudah keburu mengetahui hal kita ini dan sedang mendatangi kemari."

"Siapa yang memberitahukan kamu kabar ini? " Nona Hoan tanya.

"Seng kiong Hoa Siang"

"Dimanakah adanya Seng kiong Hoa Siang sekarang?" "Dia berada didalam kamar rahasia disebelah ruang ini." Soat Kun berpikir sejenak, "begini juga baik" katanya kemudian "Memang, siang atau malam kita bakal bentrok dengan mereka, terlebih siang kita bertemunya sama saja"

Tiba-tiba Ban Liang ingat Han In Taysu. Segera ia mendekati Siauw Pek. "Ada suatu kabar yang mengejutkan yang hendak kusampalkan kepada bengcu" katanya.

Sianak muda heran. Dia mengawasi sijago tua itu. "Apakah itu, loocianpwee? " tanyanya.

"Inilah soal yang ada sangkutpautnya penting sekali dengan penasaran keluarga beng cu" menjawab Seng Su Poan. "inilah berita penting yang dapat membuka tabir rahasia peristiwa hebat itu "

Warta itu, yang sangat menggembirakan, juga mengejutkan sekali, maka itu mendengar kata-kata sijago tua, si anak muda menjadi berdiri tercengang sampai beberapa lama.

"Memang perkara itu perkara penasaran, yang sulit ialah saksi atau buktinya," kata Siauw Pek kemudian. "Aku khawatir perkara sulit buat dibikin terang..."

Ban Liang tersenyum. "sekarang telah ada saksinya, bengcu " Kembali si anak muda melengak. "Apakah itu, loocianpwee? "

tanyanya. "Siapa dia? "

"Dia adalah salah seorang ketua dari empat partai besar yang katanya ketua-ketuanya telah terbinasakan ayah bunda bengcu. Ketua itu masih hidup hingga sekarang ini" Masih Siauw Pek bingung.

"Bukankah dunia luas bukan main? " katanya. "Andaikata benar dia masih hidup, dimanakah dia hendak dicari? "

Tiba-tiba Hoan Soat Kun menyela: "Saksi itu berada didalam ruangan dalam tanah ini, bukan? "

"Benar" seru Ban Liang. "Sungguh nona cerdas luar biasa" Bukan main guncangnya hati sianak muda. "Dimanakah adanya dia sekarang?" tanyanya. "Dapatkah aku menemuinya? "

Tepat suara si anak muda berakhir, tepat muncullah Han in Taysu yang menarik-narik membuat roda-roda keretanya menggelinding mendatangi. Tampak nyata cacad kedua kakinya berikut wajahnya yang rusak bekas siksaan hingga ia nampak sangat luar biasa dan buruk tak keruan.

"Loolap disini" berkata pendeta itu.

Siauw Pek segera memberi hormat kepada orang alim itu. "Aku yang rendah coh Siauw Pek," ia memperkenalkan diri. "Akulah anaknya coh Kampek dari coh Kee Po atau Pek Ho Po. Dapatkah aku yang rendah menanyakan gelar lootaysu? ”

“Loolap ialah Han in," sahut sang pendeta. "oh. Han in taysu "

Kembali anak muda menghunjuk hormatnya.

Ban Liang lalu menyela: “Han in Taysu adalah ketua Ngo Bie Pay dan juga salah seorang dari keempat ketua yang telah dianiaya orang"

Siauw Pek terdiam. hatinya bergolak mengingat peristiwa ayah bunda atau keluarganya itu. Beberapa lama ia mesti mengendalikan hatinya.

"oleh karena urusan keempat ketua itu teraniaya, maka seluruh Pek Ho Bun kami telah diserbu musnah," katanya kemudian. "Kami diserang dan dikepung oleh jago jago dari keempat partai yang katanya hendak menuntut balas terhadap kami. Keempat partai itu bergacung bersama lima partai besar lainnya serta juga keempat bun, ketiga hwee dan kedua pang Taysu, dapatkah taysu menuturkan kepada kami jalannya peristiwa itu? "

"Perihal peristiwa Pek Ho Bun itu, loolap sama sekali tidak tahu apa apa." berkata Han in. "Yang aku maksudkan, taysu, ialah peristiwa penganiayaan atas diri kamu keempat ketua partai," Siauw Pek menjelaskan.

Han in menghela napas. ia melegakan hatinya.

"Dimata tuan tuan, nampaknya peristiwa hebat luar biasa itu bagaikan langit ambruk dan bumi longsor," berkata sipendeta. "Sebenarnya peristiwa loolap berempat dianiaya, itulah sederhana sekali..."

"Taysu, apakah taysu pernah melihat coh Kam Pek ayahku itu? "

Han in Taysu menggeleng kepala. "Loolap belum pernah melihatnya."

Rupa-rupanya, Nona Hoan menyela, "diluar tahunya taysu berempat orang telah menaruhkan raCun didalam arak atau barang barang hidangan yang disuguhkan. Benarkah."

"Tepat nona" sahut Han in "Itulah sederhananya peristiwa. Kami bersantap bersama sama ketua-ketua dari Siauw Lim Pay, Bu Tong Pay dan Khong Tong Pay, habis bersantap. terus kami tak sadarkan diri. Segala kejadian yang menyusulnya semua kami tak tahu apa apa lagi "

"coba taysu semua benar benar telah dianiaya orang hingga mati, pasti peristiwa tidak menjadi kaCau hebat begini rupa" berkata si nona.

"Apakah kata dunia Rimba Persilatan mengenai loolap berempat?" tanya ketua dari Ngo Bie Pay itu.

"Mayat taysu berempat telah diketemukan berserakan dipuncak Yan in Hong digunung Pek Ma San," Siauw Pek menjawab. "Kemudian entah siapa yang menyiarkan berita, katanya waktu itu ayahku teriihat dipuncak gunung itu. Maka itu ayahku lalu dituduh sebagai pembunuh, kemudian sakit hati mereka ditimpakan kepada keluarga coh, terus Pek Ho Bun diserbu delapan belas partai hingga matilah seratus lebih orang Pek Ho Bun..." "Malapetaka atas diri taysu bersama bukanlah soal aneh," Nona Hoan campur bicara pula. "Soalnya sekarang ialah mengapa kesalahan ditimpakan kepada keluarga coh Hal itu pasti ada rahasianya, tentu ada sebab musababnya. coba taysu tolong ingat ingat, ketika itu barang kali taysu ada melihat sesuatu yang bisa mendatangkan keCurigaan? " Bhiksu itu diam berpikir.

"Yang sampai terlebih dahulu dipuncak Yan in Hong ialah loolap bersama Goan cin Too henda dari BuTong Pay," katanya kemudian "Ketika itu loolap melihat seorang wanita baju abU abu gelap berlari lari dijalan keCil jauhnya belasan tombak dari loolap berdua."

"Apakah taysu masih mengenali roman muka wanita? " tanya Siauw Pek, yang hatinya tertarik bukan main-

"Loolap sudah tidak ingat," sahut pendeta itu.

"Apakah wanita itu membekal senjata tajam? " Soat Kun bertanya. "Mungkin sebatang pedang panjang."

Menyahut demikian, pendeta ini berpikir. "Benar, tidak salah" ia menambahkan selang sejenak. "Dia membawa pedang yang panjang Ketika itu loolap dan Gan cin Toheng tengah membicarakan ilmu pedang."

Siauw Pek menghela napas, lalu ia bertanya. "Taysu, taysu masih hidup, karena itu, bukankah ketiga ketua yang lainnya dari Siauw Lim Bu Tong dan Khong Tong Pay itu juga masih hidup? "

"Tentang itu, loolap tidak berani sembarang menjawab. Loolap dapat hidup dengan bercacat begini karena loolap mempunyai kesabaran yang luar biasa. Ketua ketua dari Siauw Lim dan Bu Tong, dalam ilmu tenaga dalam melebihi loolap. juga dalam hal kecerdasan maka itu, asal mereka sabar seperti loolap. kemungkinan mereka sanggup bertahan dari siksaan siksaan hebat, pasti mereka tak akan mendahului loolap mati."

"Taysu, habis taysu disakiti, setelah taysu sadar, apakah taysu pernah melihat mereka itu" Soat Kun bertanya.

"Tidak. Kami dikurung didalam kamar yang terpisah" "Apakah taysu tahu kenapa taysu berempat ditawan? " Soat Kun bertanya pula.

"Dahulu itu tidak. Sekarang loolap sudah ketahui.” “Apakah maksud mereka itu? "

"Ketika itu loolap berkumpul bersama ketiga ketua partai Siauw Lim, Bu Tong dan Khong Tong Pay. Maksud kami untuk mencari jalan menghentikan Pertikaian kaum Rimba Persilatan berjalan ratusan tahun tiada hentinya. Kami menganggap pertikaian itu merusak semangat Rimba Persilatan dan juga melanggar aturan persilatan-Belajar silat bukan untuk saling bunuh. Kami mau bekerja sama. Diluar dugaan kami memperoleh sambutan besar, bukan cuma lima partai besar lainnya juga empat Bun, tiga hwee dan dua pang, menyatakan setuju. Kami girang sekali, kami menyangka bahwa akan aman sejahteralah dunia Rimba Persilatan, kaum Bu Lim. Tapi, diluar dugaan pula, kiranya bencana datang mendahului kami. Pada hari yang kami keempat mengundang semua pemimpin partai menghadiri rapat besar, kami telah diracuni orang..."

"Setelah ditawan, bagaimana perlakukan mereka atas diri taysu?

Baikkah? "

"Sebaliknya, kami dikompes dan disiksa. Loolap dipaksa untuk mewariskan ilmu silat partai kami "

"Apakah taysu telah memberitahukannya? "

"Mulanya tidak Karena itu, kedua kakiku dipotong, mukaku dirusak, juga hidung dan teling aku Mereka telah menggunakan segala macam cara menyiksa yang ada didalam pikiran mereka. Karena tak tahan lagi, loolap akhrinya bicara juga ..."

"Kalau menuruti pengalaman taysu, tentu juga ketua ketua dari Siauw Lim Pay Bu Tong Pay, dan Khong Tong Pay, tak dapat bertahan seperti taysu..."

"Tapi loolap bukannya si orang yang takut mati, sebenarnya loolap sangat penasaran maka loolap mau hidup terus Loolap mengharap nanti bisa membeber peristiwa itu dimuka kaum Rimba Persilatan. Jikalau ketiga ketua partai lainnya itu sama pikirannya seperti loolap mungkin mereka juga masih hidup..."

"Masih ada satu hal, yang sulit untuk dimeng erti..." kata Nona Hoan-

"Apakah itu, nona? " tanya Siauw Pek.

"Ketua-ketua Siauw Lim Pay, Bu Tong Pay, dan Khong Tong Pay ditawan dan dianiaya. Lalu masih ada ketua2 dari lima partai besar lainnya itu Dan mereka itu semua masih hidup. Jangankan partai besar, walaupun partai kecil, kalau ada penggantian ketua, meski ketua yang baru itu dipilih dari calon calin yang cerdas dan pandai. Mungkinkah dalam pemilihan ketua empat partai itu, partai partai yang lainnya tidak campur tahu, tidak tahu menahu? Kenyataanya lain sekali. Kelima ketua partai itu, bersama-sama empat bun, tiga hwee dan tiga pang justru bekerja sama menciptakan peristiwa hebat yang tak berperikemanusiaan itu. Kenapa kesalahan ditumpahkan hanya satu Pek Ho Bun? Apa alasannya? "

"Partai kami mempunyai anggota yang terkecil, tak heran partai kami berdiam saja," kata Han in, "tidak demikian dengan Siauw Lim Pay, yang banyak sekali anggotanya. Apakah diantara mereka itu tak ada yang mencaritahu? "

Mendengar pertanyaan itu Siauw pek ingat Su Kay Taysu dari Siauw Lim Pay.

"Tapi dia bekerja sendiri dan secara diam-diam, baik aku tidak sebut-sebut hal dia..." pikir anak muda ini, maka ia terus membungkam. Melihat orang berdiam, Han in berkata berulang ulang: "Aneh Aneh"

"Mungkin ada sebabnya dari berdiamnya mereka itu." kata Soat Kun yang mengutarakan terkaannya: "Pastilah kelima partai besar itu telah dikekang orang, atau mungkin juga mereka sendiri turut memainkan peranan..." Han In menghela napas.

"Sayang loolap telah kehilangan kedua kakiku dan wajahkupun sudah rusak," ia berkata, menyesaL "Andaikata loolap bisa kembali ke Ngo Bie San, mungkin tak ada yang mengenali atau mau mengakui, loolap..."

Mendadak pendeta ini berhenti bicara, walaupun belum berkata habis.

"Apakah taysu mempunyai kesulitan lainnya" Nona Hoan bertanya. "Apakah itu tidak dapat diutarakan? "

"Ada satu yang mencurigakan, hanya loolap khawatir sukarlah buat mencari tahu itu, untuk menyelidikinya..." sahutnya.

"Apakah itu, taysu? Paling baik Taysu mengutarakannya " "Sebenarnya loolap datang lebih dahulu bertiga dengan pihak

Siauw Lim Pay, ada satu urusan yang hendak didamaikan-.."

"Nah, itulah satu soal, suatu kelemahan" menghela si nona. "Sebenarnya delapan belas partai, kalau benar mereka mau mengurus soal dunia Rimba Persilatan, mereka mesti datang dan berkumpul dan berbareng, bersama, tetapi taysu berempat datang lebih dahulu Untuk apakah itu? Ada sebabnya, bukan? "

"Nona menerka tepat," Han in mengakui. Kami bertiga memang datang lebih dahulu disebabkan kami mempunyai maksud..."

"Bicaralah terus, taysu, harap jangan ada yang salah atau kelompatan mesti satu patah kata juga . Ingatlah pepatah salah satu lie, gagal seribu lie “

“Lie" disini adalah mil.

Sementara itu ciu ceng bersitegang hati sendirinya. inilah sebab orang, terutama sinona, bicara asyik sekali, hingga mereka seperti melupakan urusan mereka sendiri, bahwa mereka berada ditempat apa. ia kuatir benarlah perkataannya Hoa siang bahwa Seng kiong Sin Kun tengah mendatangi. Saking kuatir, punggungnya sampai basah dengan peluh. Sudah begitu, ia tidak berani Campur bicara, karena pembicaraan itupun penting sekali. Untuk menghibur diri, ia jalan mundar mandir didalam ruang itu hatinya gelisah bukan buatan. "Pada masa itu," Han in Taysu mulai dengan penjelasannya, "diantara partai-partai Rimba Persilatan, yang paling tangguh adalah cit Seng Hwee, partai Tujuh Bintang. Ketua partai itu, yang  dipanggil cit Seng Tootiang, sangat lihay ilmu silatnya serta sangat Cerdas otaknya. Nama cit Seng Hwee sama tersohornya seperti empat bun, dua hwee lainnya serta dua pang tetapi cit Seng Tootiang tidak memandang mata kepada rekan rekannya itu. sebaliknya, orang yang paling diseganinya adalah loolap bersama Su Hong Taysu dari Siauw Lim Pay..."

Pendeta itu berhenti sebentar, matanya menengadah langit langit ruang dalam tanah itu. ia pula berpikir. Baru sejenak kemudian, ia melanjutkan. "Loolap dan su IHong Taysu tak tenang hati. Kemudian Su Hong Taysu mengambil tindakan, ialah dia mengundang ketua ketua Bu Tong Pay untuk berapat terlebih dahulu dipuncak Yan in Hong, guna membicarakan jalan jalan untuk menghadapi pengaruh cit Seng Hwee itu.”

“Apakah hal itu diketahui lain orang? "

"KeCuali kami empat ketua, lainnya yang mengetahul ialah murid mUrid kami yang diperCaya."

"Apakah tidak ada rahasia lainnya didalam situ? "

"Masih ada. Itulah persetujuan diantara loolap dan Su Hong Taysu berdua cit Seng Hwee menjadi pengaCau. andaikata di dalam rapat dia hendak menimbulkan kesulitan, kami hendak mendahului menyingkirkannya"

"Nah, itulah dia" berkata soat Kun, yang terus menerus mengajukan pelbagai pertanyaan itu, karena sangat tertarik hati dengan peristiwa di Yan in Hong itu. "Kamu mengundang pihak pihak Bu Tong Pay dan Khong Tong Pay untuk mendahului berapat, alasannya untuk merundingkan sesuatu, akan tetapi sebenarnya untuk mendesak agar ketua kedua partai itu menerima ajakan kamu dalam urusan menghadapi cit Seng Hwee itu." "Tak berani kami mendesak atau memaksa mereka," Han in menerangkan-"Kami berdaya untuk menginsyafkan mereka akan pentingnya usaha kami itu."

“Habis, apakah kedua ketua partai itu menerima ajakan kamu itu? ”

“Dengan Cepat dan mudah saja mereka itu dapat dikasih mengerti"

"Lalu, setelah itu, kau kena diracuni orang? ” “Benar"

"Taysu dan Su Hong Taysu memiliki tenaga dalam yang mahir sekali. apakah taysu berdua tak dapat tahu kalau minuman itu ada raCunnya? " Ban Liang tanya Baru sekarang jago tua itu menela Karena ia heran orang orang liehay mudah saja diracuni.

"Selama itu kami telah bersiap sedia," Han in menjawab. "Maka juga loolap dan Su Hong Taysu masing masing bawa seorang murid kepercayaan. Mereka diberi tugas bertanggung jawab untuk segala barang minuman dan makanan kami...”

“Dan taysu roboh ditangan murid kepercayaan taysu itu" kata sinona.

"Sebenarnya, sampai didetik ini, loolap masih belum tahu duduknya hal yang sesungguhnya"

"Mesti ada sesuatu yang taysu curigai. Maukah taysu memberitahukan keCurigaan taysu itu kepadaku? " sinona minta.

"Sampai saat ini, ada apakah yang loolap masih tak mau membeberkan sejelas jelasnya? " ia menarik napas melegakan hatinya yang pepat, baru ia menyambungi. "Setelah loolap dan Su Hong Taysu berhasil menginsafi kedua ketua partai itu, lantas muridku menyuguhkan teh harum kepada masing masing keempat ketua partai. Seumurku tak ada kegemaranku kecuali air teh, maka itu, loolap sangat memperhatikan tentang pelbagai macam teh. Demikian antara kami pelbagai partai, tidak ada yang tidak diketahui harumnya teh kami. Ah, inilah dia kesalahannya..."

"Tentang teh taysu, pernah mendengarnya," Ban Liang turut bicara. "Tapi taysu, apakah sangkut pautnya urusan teh itu serta halnya kamu kena diracuni? "

"Sewaktu loolap mau menghadiri rapat, loolap telah membekal sebungkus teh yang istimewa. Sudah loolap pikir untuk menyuguhkan air teh itu kepada sekalian rekan kami. Untuk mengambil air sumber gunung serta memasaknya loolap telah pilih seorang murid yang dipercaya..."

"Jadinya orang telah menaruhkan racun di dalam air teh itu? " Soat Kun menyela.

"Benar Siang siang orang telah memasukkan obat pulas kedalam teh itu. Kami semua tidak bercuriga, sebab kesatu teh itu harum sekali hingga bau obat kena terkalahkan, dan kedua yang masak dan menyuguhkan teh adalah murid terpercayaku itu. Begitu kami minum teh dengan hati lega. Tidak kusangka bahwa teh buatan loolap sendiri itu telah mencelakai rekanku dan juga diriku sendiri" Ban Liang menghela napas dengan perlahan.

"Peristiwa sangat sulit dan sukar diduganya, tak tahunya hanya begini sederhana" katanya.

"Taysu, murid taysu itu, apakah dia murid yang dipercaya yang dicalonkan untuk menjadi ahli waris taysu nanti? ?" Nona Hoan tanya.

"Bukan. Ketika itu loolap merasa diriku masih tangguh, belum pernah loolap memikir soal calon murid untuk menjadi ahli warisku..."

"Taysu," Siauw Pek turut bicara pula, "murid taysu yang dipercaya itu, apakah nama gelaran sucinya? ”

“Murid loolap itu ialah..." Secara mendadak kata-kata Han In Taysu terputus sampai disitu diputuskan oleh suatu suara nyaring dan berisik, yang datangnya suatu pojok ruangan dalam tanah itu, hingga debu mengepul naik.

Dengan tiba-tiba disitu muncul sebuah peti

"Seng kiong Sin Kun telah tiba" mengeluh ciu ceng.

Ban Liang segera menoleh sambil mengangkat kepalanya, memandang kelowongan batu itu. Disitu ia tidak melihat satu orangjua Sementara itu Soat Gie menyusupkan tubuhnya kepada Soat Kun, tangan kanannya memegang erat-erat lima jari tangan kanan kakaknya.

Itulah semaCam isyarat dari kedua saudara itu kalau mereka menghadapi sesuatu yang penting atau berbahaya. Secara begitu sang adik bisa memberitahukan kakaknya cepat sekali.

Sebagai kesudahan dari itu maka terdengar suara dingin dari Hoan Soat Kun suara yang langka dikeluarkannya: "Seng kiong Sin Kun Kau telah berani menggunakan tipu muslihatmu ini untuk mengelabui mata dunia Rimba Persilatan, hingga kau telah melakukan perbuatan-perbuatan yang menyebabkan langit terkejut dan bumi tergetar goyang. Kenapa sekarang kau tidak berani memperlihatkan wajahmu sendiri, untuk berhadap hadapan dengan orang orang Bu Lim? "

ciu ceng kaget sekali mendengar suara si nona, yang menantang secara menghina itu. Katanya didalam hati: "Dengan Sin Kun tidak munculkan diri, itulah berarti masih ada jalan hidup untuk kita semua. Tapi, kalau dia memperlihatkan dirinya maka hari ini tidak ada jalan hidup bagi kita lagi..."

Jago ini telah terlalu lama hidup dibawah pengaruh Sin Kun, baru mendengar nama orang saja, dia sudah gentar, apalagi kalau dia berhadapan dengan Sin Kun sendiri. Demikian sekarang walaupun dia telah bebas dari kekangan dan telah pulih kesadaran dan tenaga kepandaiannya, walaupun ada Nona Hoan sebagai pengandalnya. Nyatalah dia masih kurang kuat kepercayaannya terhadap nona itu. Debu telah lenyap akan tetapi mulut pintu yang terbentang luas, kosong melompong. Tak ada bayangan orang sekalipun, apalagi orangnya Tapi Siauw Pek sudah bersiap dengan pedang ditangannya. ia hendak menangkis andaikata Sin Kun menyerangnya, supaya musuh tak dapat masuk kedalam ruang dalam tanah dimana mereka berkumpul itu. Ruang sempit, itulah berbahaya andaikata sin Kun menyerbu bersama banyak orangnya.

Nona Hoan terus menanti dengan sabar, sampai beberapa lama, ia tidak mendengar apa apa lagi, ia tidak melihat apapun juga .

ciu ceng dan orang orangnya guncang hatinya, tetapi menyaksikan kesunyian itu, hati mereka agak mulai tenang.

"Mari kita keluar dari sini" akhirnya terdengar suara Soat Kun, terus bersama adiknya ia memutar tubuh, keduanya bertindak dengan cepat, berlalu dari kamar rahasia itu.

Siauw Pek bersama Ban Liang dan ciu ceng mengikuti kedua nona itu.

Giok Yauw menyusul sesudah ia menyuruh kedua kiamsu baju merah mengiringi Han in Taysu.

Oey Eng dan Kho Kong berjalan paling depan dengan lenteranya.

Tiba diluar, nampak langit sudah mulai remang-remang. Ketiga buah kereta menantikan didepan rumah atap. Semua kereta itu, yang dilindungi para ang-ie kiam-su, tidak kurang suatu apa.

Segera Soat Kun naik keatas keretanya, ia lalu menitahkan: "Putar haluan kearah Siauw Lim Sie"

Han in dinaikkan keatas kereta. Giok Yauw membantunya.

Ketua Ngo Bie Pay itu tertawa, katanya: "Tak kusangka, hari ini aku dapat melihat langit pula..."

Oey Ho ciu Loo segera memberikan perintahnya, maka berangkatlah ketiga buah kereta dengan dilindungi pasukan ang ie kiamsu itu. Kereta kereta dilarikan cepat. Selagi berjalan itu, Ban Liang menyusul ciu ceng, mendampinginya. "Kenapakah Seng Kiong Sin Kun tidak muncul? " tanyanya, heran.

"Aku juga tidak mengerti," sahut orang yang ditanya, yang tak kurang herannya.

"juga heran Nona Hoan, mengapa ia tidak memerintahkan memeriksa seluruh ruang didalam tanah itu..." berkata lagi Ban Liang.

Mendengar itu ciu ceng berkata didalam hatinya: "Syukur juga tidak dilakukan pemeriksaan-. Jikalau kita bertemu dengan Seng Kiong Sin Kun, mungkin sekarang kita sudah tidak hidup lagi..." Tapi ia kemudian menjawab: "Mungkinlah karena sesuatu sebab sin Kun terlambat. Kalau dia keburu datang, kita pasti tak sempat menyingkir^.."

Tapi Ban Liang berpikir lain-Katanya pula^ "Sampai detik ini, sin Kun itu hanyalah satu nama kosong. Siapakah yang pernah melihat wajahnya? Tak seorang jua"

"Tak peduli sin Kun pandai menyamar, dia tetap ada manusianya," berkata ciu ceng. "Dia liehay ilmu silatnya, andaikata Thian Kiam muncul kembali atau Pa Too datang sendiri, belum tentu mereka dapat menjadi tandingannya"

Ban Liang membungkam. Pikirnya: "orang ini masih sangat terpengaruh oleh Seng Kiong sin Kun, percuma aku mengadu mulut dengannya..." Maka ia lalu tertawa dan berkata. "Saudara ciu hidup bersama Sin Kun lama sekali, memang kau lebih mengetahui dia daripada aku..."

Tiba tiba siJenjang kuning melengak.

“Hanya ada satu hal yang membuatku sangat tidak mengerti..." katanya.

"Apakah itu, saudara? "

"Itulah perkataan Seng kiong hoa Siang. Dia berkedudukan tiggi, dia sendiri yang mengatakan bahwa Sin Kun bakal segera datang. Aku percaya dia tidak berdusta, tetapi aneh, Sin Kun toh tidak muncul"

"Inilah yang dikatakan shia put seng ceng kesesatan tak dapat memenangkan kebenaran" berkata Ban Liang. "Mungkin disebabkan tantangan Nona Hoan, Sin Kun tidak berani memperlihatkan dirinya"

ciu ceng tertawa, terus ia bungkam.

Perjalanan sementara itu dilanjutkan terus, sampai disebuah tempat kosong yang sunyi. Disitu terdapat tanah pekuburan yang tak teratur yang dikelilingi pohonpohon pek tua.

Sejak pengalamannya didalam ruang dalam tanah, sangat jarang ciu ceng tertawa atau tersenyum, nampaknya hatinya sangat berat, sekarang tiba ditempat sunyi ini, kelihatan dia semakin tidak tenang hati, matanya senantiasa diarahkan keempat penjuru.

Ban Liang yang selalu mendampingi kawan itu dapat melihat orang tidak tenteram, dia menghampiri sambil berkata: "Tempat ini sangat sunyi..."

Alis ciu ceng dikerutkan-Masih dia melihat kesekitarnya. Tiba tiba mukanya menjadi pucat. Segera dia mengangkat tinggi-tinggi tangan kanannya.

"Berhenti" perintahnya.

Perintah itu ditaati. Dengan mendadak ketiga kereta dihentikan dan sekalian pengiringnya juga , hanya mereka ini segera menghunus pedangnya masing-masing, dengan rapih mereka mengurung kereta kereta yang diiringinya itu

"Ada apakah? " bertanya Siauw Pek. yang menyingkap tenda keretanya. Sekarang ini, sesudah beristirahat beberapa hari, ia telah pulih kesehatannya.

"Entahlah ciu Huhoat, mungkin dia melihat sesuatu..." menjawab Ban Liang.

Jago tua ini melihat siJenjang Kuning mengulapkan tangannya diatas kepalanya dan semua ang ie kiamsu mengurung kereta kereta dengan kewaspadaan Disekitar mereka tak ada orang asing, cuma melihat dan terdengar suara rumput-rumput yang dipermainkan oleh hembusan angin.

Saking herannya, jago tua itu berkata didalam hati: "Sejak beberapa hari ini hati ciu ceng terus tidak tenang, agaknya dia berduka dan khawatir saja. Adakah itu disebabkan rasa takutnya yang terus menguasai dirinya.”

“Saudara ciu, ada apakah? " kemudian bertanya sijago tua pada kawannya. ciu ceng bersikap sungguh-sungguh.

"Seng Kiong Sin Kun..." sahutnya, suaranya gemetar, giginyapun bercatrukan-Agak sukar ia menjawab itu.

"Mengapa aku tidak melihatnya? " tanya Ban Liang, sijago tua  itu.

"Kau tunggu saja dan lihat..."

Ban Liang menoleh keempat penjuru, matanya dibuka lebar. Ia tetap tidak melihat Sin Kun atau lainnya yang mencurigakan-

"Mungkin kau keliru melihat, saudara ciu" katanya. "Aku tidak melihat apapun juga Nanti aku pergi kedepan memeriksanya."

Berkata begitu jago tua ini bertindak maju, tapi mendadak ia mendengar suara yang bengis seram. "ciu ceng Kau menjadi tongcu dari Oey liong Tong, mestinya kau tahu baik aturan dari Seng kiong. Apakah hukuman untuk siapa yang memberontak meninggalkan kiong? "

Dengan cepat Ban Liang berpaling kepada rekanya, ia menyaksikan muka orang pucat sekali, dua orangpun berdiam bagaikan patung.

“Hm" pikirnya, mendongkol berbareng lucu "Didalam dunia Kang ouw ada perbedaan dari mereka yang ilmu silatnya lebih tinggi atau lebih rendah, akan tetapi rasa takut, tak dapat orang menghindarinya, cuma, kalau rasa takut semacam ini, sungguh belum pernah aku alami." Walaupun dia berpikir demikian, Seng Su Poan tidak tinggal berpeluk tangan saja. Tak dapat dia membiarkan kawannya terbenam dalam takut yang hebat itu.

"Tuan, kau siapakah? " tegurnya. "Adakah kau seorang laki-laki, seorang jago? Kenapa kau menyembunyikan kepala menongolkan ekor Adakah ini kelakukan seorang gagah perkasa? "

Tidak ada jawaban atas pertanyaan Ban Liang itu. Ada juga suara tadi, yang kembali ditujukan kepada bekas tongcu dari Oey liong Tong dari Seng kiong itu. Demikian katanya "ciu ceng Kau mau menghukum dirimu sendiri atau kau menghendaki Punco yang turun tangan? "

Ban Liang heran, ia memasang telinga sungguh sungguh Suara itu datang seperti dekat sekali, seperti juga dari tempat yang jauh. Dengan matanya, ia tidak melihat siapapun juga .

Akhirnya, "Saudara ciu, dimanakah orang itu bersembunyi? " ia tanya ciu ceng.

Bekas tongcu itu tidak menjawab. Pertanyaan itu diulangi beberapa kali. Dia tetap membungkam. Hanya tampak dia berdiri terpaku, wajahnya menunjukkan bahwa dia sangat ketakutan. Dia bingung...

Mendongkol sijago tua tetapi dia mengendalikan diri.

Semua ang-ie kiamsu, yang mengitar kereta juga berdiri diam.

Dalam penasaran, Ban Liang mencoba mengikuti tujuan mata ciu ceng. Tujuan itu langsung kedepan, keatas, kesebuah pohon Pek. Di situ diantara cabang cabang pohon tampak sebuah gin-pay, atau lencana perak. yang tengahnya ada gambaran berwarna merah, mirip thay kek diagram yang merupakan unsur im (negatip) dan yang atau positip.

Melihat benda itu, tahulah sekarang sijago tua itu apa yang menyebabkan ketakutan sang rekan-Tanpa ayal lagi ia menyumput sebuah batu, terus ia menimpuk ginpay itu. ia menggunakan tenaganya. Sambil menimpuk ia berseru. Ginpay itu tidak kena dihajar tetapi seketika itu juga lenyap diantara dahan-dahan yang lebat, sebagai gantinya terdengar suara tadi yang seram, dingin dan bengis. "Hai ciu ceng, Masih kau tidak mau menerima binasa? Benarkah kau hendak menantikan punco sendiri yang turun tangan? "

Mendengar itu ciu ceng menoleh kepada Ban Liang, terus dia bertindak maju.

Sijago tua hendak mencegah orang berjalan maju, ia sudah meluncurkan tangan kanannya tapi ia segera menariknya pulang^ Suara seram tadi terdengar pula: "Buang senjata ditanganmu" ciu ceng mendengar kata sekali. Tanpa mengatakan sesuatu, ia melemparkan pedangnya. Bahkan semua ang-ie kiamsu turut juga membawah pedangnya masing masing. Sampai pada waktu itu Ban Liang yang sabar luar biasa tak dapat mengekang diri lagi. "Saudara ciu, lekas mundur" teriaknya.

ciu ceng bagaikan terkena ilmu sihir, ia jalan terus. cegahan sijago tua tidak ia gubris.

Ban Liang bingung hingga ia berdiri diam-saja.

Tepat pada waktu itu tenda yang kedua tersingkap. dari situ tampak dua Nona Hoan bertindak turun. Soat Kun memegangi pundak kiri adiknya. Dia menutup mukanya dengan cela hitam. Ditengah jalan dari tegalan itu, ia berdiri diam.

Oey Eng dan Kho Kong dengan senjatanya siap sedia, mendampingi kedua nona itu.

Giok Yauw juga melompat keluar dari keretanya, tangan kirinya memegang jarum rahasianya. Dia menghampiri Ban Liang, untuk bertanya dengan berbisik: "Loocianpwee ada kejadian apakah? " Ban Liang menggeleng kepala.

"Kejadian sangat aneh" sahut orang tua itu. "Tak pernah aku melihat dan mendengarnya. Akupun menjadi bingung karenanya..." Ketika itu terdengarlah suara merdu tapi tenang dari soat Kun: "Melihat keanehan jangan merasa aneh Keanehan itu akan buyar sendirinya. Janganlah membuat bingung diri sendiri"

Itulah kata kata sederhana dan Ban Liang mendengarnya dengan jelas sekali. Kata-kata itu membuatnya sadar. Sadar juga Oey Eng dan Kho Kong, yang telah bertanya-tanya dalam hati menyaksikan gerak-gerik ciu ceng yang aneh itu.

ciu ceng sementara itu sudah sampai dibawah pohon pek itu, dia mengangkat kepalanya mengawasi keatas. ia bagaikan menanti sesuatu.

Dalam sadarnya itu Ban Liang berkata. "Kalau terjadi sesuatu atas diri ciu ceng, kedua belas ang ie kiamsu pun bakal Celaka juga. Bahkan hebatnya, mereka bakal menjadi contoh, hingga diwaktu lain pasti tak akan ada orang-orang Seng kiong yang berani memberontak dan berkhianat."

"Itulah benar" kata Giok Yauw.

"Maka itu kita mesti cegah peristiwa hebat yang bakal terjadi ini" berkata pula si jago tua. "Nona punyakah kau keberanian untuk menemani aku pergi kebawah pohon pek itu untuk melakukan pemeriksaan? "

"Kenapa aku tidak berani? " berkata si nona. Dia merasa jeri juga tetapi dia membesarkan keberanian. "cuma...”

“cuma apakah? "

"ciu ceng gagah kenapa dia membiarkan dirinya dipengaruhi, dia main turut saja? "

"Hal itu musti ada sebab musababnya. Tak ada waktu untuk mengadakan penyelidikan, yang perlu ialah lebih dahulu menolong orang Berkata begitu, Ban Liang segera berlari kearah pohon Giok Yauw benar berani, dia berlaku menyusul. Tepat pada waktu itu, kembali terdengar suara seram tadi: "Siapa mengkhianati Seng kiong dan berontak, dia mesti dihukum mati" suara itu keluar dari atas pohon pek. dari antara cabang-cabang dan daun-daun yang lebat.

Hanya kali ini, begitu suara itu berhenti mendengung, sebagai gantinya lalu terdengar suara senjata tajam beradu.

Muka ciu ceng menjadi sangat pucat, peluhnya membasahi mukanya, bagaikan hujan lebat. Dengan perlahan-lahan, dia mengangkat tangan kanannya. Ketika itu Ban Liang dan Giok Yauw telah sampai disisi kawan itu.

"Nona, kau awasi musuh yang bersembunyi diatas pohon" Ban Liang membisiki Nona Thio,

dilain pihak^ dengan tangan kanannya dia menyambar ciu ceng. Oey Ho ciu Loo tidak melawan ketika orang menyambarnya.

Bagaikan tak sadarkan diri, dia terus menatap keatas pohon-Ban Liang mencekal keras lengan kanan kawan itu.

"Saudara ciu, ingat" katanya, keras. "Sebagai seorang laki2 hidup tidak dapat dibuat girang, mati tak usah ditakuti. Kenapakah kau ketakutan begini rupa? Bukankah kau hidup seperti juga mati? "

Selagi Ban Liang berbicara dengan siJenjang Kuning, Giok Yauw sudah melompat ke bawah pohon-ia berlaku berani sekali. Begitu datang dekat, begitu tangan kirinya diayun. Maka meluncurlah jarum rahasianya keatas pohon pek itu Dengan memperdengarkan ser-ser, beberapa helai daun berjatuhan ketanah.

"Berlaku sembunyi sembunyi sebagai hantu adakah itu perbuatan orang gagah? " sinona mengejek. "Kalau kau berani, kenapa kau tidak mau memperlihatkan diri? "

Ban Liang sementara itu berlaku sebat sekali Sambil mencekal tangan orang, dilain pihak ia menotok dua kali. Lalu selagi ciu ceng tak berdaya bagaikan orang mati, tubuhnya dipeluk dipondong dibawa lari kesisi kereta. Hampir serentak dengan bekerjanya Ban Liang itu, tenda kereta yang ketiga tersingkap terbuka, dari situ Siauw Pek melompat keluar, bagaikan terbang ia lari dan melompat kesisi Nona Thio Giok Yauw berpaling. Ketika ia melihat si anak muda bahkan anak muda itu bersenyum manis, hatinya menjadi semakin besar.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 32"

Post a Comment

close