Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 21

Mode Malam
JILID 21

Tapi, belum berhenti suaranya itu, mendadak ia menjatuhkan diri untuk duduk pula.

Ban Liang tahu apa sebabnya kelakuan kawannya ini. Ia sudah mendengar suara tindakan kaki yang berat yang mendatangi. Maka ia segera melongo kearah barat dimana tampak dua sosok tubuh hitam sedang mendatangi, jalannya sangat perlahan, tindakannya sangat berat.

"Agaknya rumah gubuk itu menyimpan sesuatu yang aneh," kata jago tua kemudian-

"Benar," berkata Oey Eng. "Kita telah menemui hal-hal ini, aku rasa perlu kita cari tahu sampai diakarnya "

Dua sosok tubuh itu datang semakin dekat, hingga tampak tegas. Siauw Pekpun melongo, ia melihat, itulah dua orang dengan pakaian serba hitam tengah menggotong sebuah bale-bale. sekarang mereka itu berjalan cepat, saban saban mereka pula menyeka peluh dimuka mereka. Diterangnya bintang-bintang, Siauw Pek melihat bahwa kedua orang itu rupanya habis melakukan suatu perjalanan jauh dan agaknya mereka sudah sangat letih hingga tenaganya hampir habis......

Hati sianak muda tercekat.

"Benar-benar aneh" pikirnya. "Tempat ini sebuah tegalan yang sunyi sekali. Dan pemuda berbaju biru, pelajar itu, aneh sifatnya Kenapa dia tinggal menyepi? Kenapa dia tak menyukai tetamu? Dan orang orang itu? Bukankah mereka orang orang yang telah terluka parah, yang datang buat minta pertolongan tabib? Aneh pemuda itu Dia suka menolong orang, kenapa dia tak sudi membagi nasi kepada kita?"

Saking herannya, siauw Pek menoleh kepada Ban Liang. "Locianpwe," tanyanya perlahan, "sebenarnya pemuda baju biru itu sedang melakukan apa didalam rumahnya?"

orang yang ditanya menggeleng kepala.

"Aneh, dia aneh sekali" sahutnya. "Dia nampaknya sedang menolongi orang, atau dia lagi melakukan suatu percobaan "

"Percobaan?" Siauw Pek tanya.

"Benar Mungkin dia lagi mencoba semacam ilmu silat istimewa Ataupun itulah semacam obat, yang dia mencobanya terhadap mayat atau orang yang terluka. "

Kata-katanya si jago tua sederhana saja akan tetapi didalamnya terselip apa-apa yang mengerikan atau menyeramkan Disitu disebutkan hal mayat..... Kho Kong menepuk kepalanya sendiri. "Locianpwe, percobaan apakah itu?" dia tanya.

Ketika itu dua orang ang menggotong bale bale itu sudah tiba disamping rumah.

"sukar untuk mengatakannya," sahut Ban Liang atas pertanyaan sembrono. "Mungkin dia sedang mencoba suatu cara pengobatan yang luar biasa sekali. coba orang itu berada disini, pasti dia ketahui apa sebenarnya perbuatan pemuda itu. "

"Siapakah orang yang locianpwe maksudkan itu?" tanya Oey Eng. "Dialah orang yang kita hendak cari. Dia cerdas melebihi kebanyakan orang, pada dua puluh tahun yang lampau pernah dia mengatakan kepada aku bahwa didalam dunia rimba persilatan tampak alamat pembunuhan hebat, bahwa itu akan terjadi dua puluh tahun kemudian Walaupun loohu tahu dia pandai tetapi ramalannya buat dua puluh tahun mendatang, loohu ganda tertawa saja. Siapa tahu baru lewat luma atau enam tahun telah terjadi peristiwa pek ho bun yang hebat dan menyedihkan"

Baru saja sijago tua berkata begitu, tiba tiba dari dalam rumah gubuk itu terdengar siulan yang nyaring, yang memecah kesunyian sang malam. Maka jago tua, begitupun ketiga kawannya segera berpaling kearah rumah gubuk itu Pintu gubuk tampak terpentang. Dua orang berbaju hitam tadi menggotong bale-balenya masuk kedalam gubuk itu, segera terlihat nyalanya api. Kemudian, kedua daun pintu sudah segera ditutup pula.

"Aneh" Siauw Pek berseru perlahan "Kita telah menyaksikan kejadian ini, mana dapat kita berdiam saja?"

"Saudara benar," kata Oey Eng. "inilah kejadian aneh, yang perlu kita selidiki."

Ban Liang sama tertariknya seperti si anak muda walaupun dia telah sangat banyak pengalamannya. Kejadian seperti ini belum pernah dia melihat atau mengalaminya .

"Kedua saudaraku tolong kamu berdiam disini" kata Siauw Pek kemudian, "kamu harus bersiap sedia, supaya bila terjadi sesuatu diluar dugaan, kamu dapat segera turun tangan, untuk menyambut kami, bersama Ban Locianpwee hendak aku mendekati gubuk itu untuk melihat lihat itulah peristiwa jahat dan kejam, tak dapat kita berpeluk tangan saja membiarkannya"

Oey Eng dan Kho Kong merasa sangat aneh tapi mereka harus menahan sabar, supaya mereka dapat mentaati kata kata ketua mereka. Demikian mereka menerima tugas bersiap sedia.

"Baik, toako" kata mereka. "Kami akan berjaga-jaga disini" Siauw Pek segera berpaling kepada Ban Liang.

"Loocianpwee, mari" ia mengajak. Lalu sambil mendadak. ia keluar dari dalam gerombolan semak semak itu, untuk berlari menghampiri rumah gubuk. Tentu saja ia menjaga supaya ia tidak menerbitkan suara tindakan kakinya. Ban Liang menyusul, tetapi lebih dahulu ia memesan Oey Eng dan Kho Kong, katanya: "Apa yang kita lihat sekarang sangat aneh, maka itu, sebelum kita memperoleh kepastian tidak boleh kita membuat orang merasa terganggu ketenangan atau usahanya. Kamu berdua saudara saudara, kamu harus dapat berlaku sabar, seandainya kamu menemukan sesuatu, jangan segera kamu turun tangan tapi berikanlah kabar lebih dulu kepada kami" Oey Eng memberikan janjinya. Setombak berpisah dari rumah gubuk. Siauw Pek berhenti. Tak mau ia membuat sipemuda mendengar gerak geriknya, sambil berdiri ia mengawasi tajam kearah rumah gubuk. ia melihat samar samar bergeraknya bayangan orang, rupanya orang tengah sibuk sekali.

Ban Liang menyusul pemuda itu, ia lalu berbisik: "Dari sini tak dapat kita melihat tegas. Mari kita pergi kedepan."

Siauw Pek mengangguk, ia mengikuti jago tua itu. Ia langsung menghampiri pintu, untuk mencoba melihat kedalam. Secara tiba tiba ia merasakan hatinya kaget, hampir saja ia mengeluarkan seruan tertahan-

Didalam rumah, keadaan jauh berbeda daripada keadaan tadi. Kedua peti mati telah terbuka kedua dua tutupnya dan didalamnya masing masing bercokol seseorang.

orang yang dikiri umurnya lebih kurang empat puluh tahun, beroman tampan, cuma parasnya pucat pasi, tak ada darahnya setetes juga. Dia mengenakan karpus bulu dan bajunya dari kain kasar.

orang didalam peti mati kanan itu adalah seorang wanita usia pertengahan, parasnya cantik sekali, alisnya lentik bagaikan rembulan sisir, rambutnya

dibungkus dengan pita putih. Hanya bajunya, pakaian putih untuk berkabung. Sianak muda tuan rumah juga sudah berganti dandanan Secarik kain putih sebatas pinggangnya menutupi sebagian bajunya. Didepan kedua peti mati terdapat sebuah peti kayu, yaitu gerobak, yang tutupnya terpentang hingga terlihat didalamnya beberapa pisau kecil yang tajam mengkilap seperti banyak peles batu kumala, ada juga sebuah gunting. Kedua orang berbaju hitam rupanya sudah sangat letih, mereka tidur disisi peti mati. Muka mereka berdua pucat sekali, hingga nampaknya menakutkan-Bale-bale yang tadi digotong terletak dengan tertutup kain hitam, entah apa yang ditutupi, dilihat dari bentuknya itulah mirip manusia atau orang yang sedang tidur nyenyak. Suasana didalam ruangan itu menyeramkan-

Selagi Siauw Pek mengawasi, ia melihat kedua mayat dari kedua peti mati bergerak sedikit, menyusul itu mereka membuka mata mereka masing-masing Maka mata mereka itu lalu melihat kelilingan dengan sinarnya yang tajam.

"Liehay tenaga dalam mereka" pikir Siauw Pek terperanjat. Si anak muda berbaju biru dengan sebat menjemput sebuah botol  kecil dari dalam geroboknya itu, dengan cepat ia menuang isinya, dua butir obat gulung, obat mana segera dimasukkan ke dalam mulut dua orang pria dan wanita itu, seorangnya sebutir.

Habis menelan obat, dua orang itu memejamkan mata, terus mereka merebahkah diri, setelah mana dengan cepat sianak muda berbaju biru menutup pula masing-masing petinya, kemudian lagi sehelai papan diletakkan diatas kedua peti mati itu. Diatas papan itu dia meletakkan bale bale tadi. Paling akhir dia mengambil api lilin, buat ditaruh diatas peti mati itu.

Terus menerus Siauw Pek mengawasi, sementara hatinya berpikir: "Dilihat dari gerak geriknya, dialah seorang tabib, akan tetapi dilihat dari kelakuannya, bukan itu, sebab dia kekurangan rasa cinta kasih sesamanya. Entah apa yang sedang dia lakukan?"

SElagi anak muda berpikir begitu, ia melihat sianak muda berbaju biru menyingkap kain penutup bale bale. Dia itu menggunakan tangan kirinya. Kembali Siauw Pek tercengang. Yang rebah dibale itu adalah seorang wanita muda yang tidur nyenyak. sebagaimana terdengar suara dengkurnya dan mukanya merah dadu.

Mulanya anak muda baju biru itu nampak girang, tapi sesaat kemudian, wajahnya menjadi dingin. Lalu ia menarik sehelai sapu tangan hitam, yang dia pakai menutupi muka sinona. Lalu dia meloloskan ikun atau kain sarungnya sinona. Pada akhirnya, dia menepuk tiga kali kepada bilik disisinya. Siauw Pek melihat tepukan itu berat, sampai bilik sedikit menggetar. Menyusul itu, tanah disatu pojok mendadak terbalik, lalu dari situ dari dalam tanah lompat seorang kacung umur lima atau enam belas tahun, yang bajunya hijau. Dia membungkuk kepada sianak muda seraya berkata: "Jieya

memanggil hambamu?"

"Jie ya" ialah sebutan untuk tuan yang nomor dua.

Sianak muda menoleh mengawasi orang dengan tawar, katanya: "Beri tahu pada toaya supaya dia berhenti dahulu, karena orang yang kita culik malam ini kembali tak dapat digunakan."

"Toaya" ialah panggilan untuk tuan atau majikan yang nomor satu. Kacung itu menyahuti, dia melompat keliang darima na dia datang, lalu dia menghilang. Tutup lantai itu, yang terbuat dari besi, segera tertutup pula. Pesawat rahasia itu tak nampak. sebab pintu atau tutup besinya, diberi warna sama dengan warna tanah. Yang aneh ialah ditempat belukar itu, didalam sebuah rumah gubuk. mempunyai pintu rahasia semacam itu.

Selagi sianak muda berpikir, telinganya mendengar suaranya Ban Liang: "Tidak dapat kita berdiam lama ditempat semacam ini, mari kita lekas berlalu" Dan jago tua itu lalu memutar tubuh dan berlalu pergi.

Siauw Pek segera menyusul. Ia melihat jago tua itu berlalu secara kesusu sehingga sebentar saja tiba ditempat Oey Eng dan Kho Kong.

Tanpa mengatakan sesuatu, dia menarik tangan kedua kawan itu, buat diajak lari. Pergi

Siauw Pek terus mengikuti, iapun berlari lari. Ban Liang lari terus sejauh sepuluh lie lebih, baru ia berhenti dibawah sebuah pohon kayu.

Oey Eng, Kho Kong turut berlari lari tanpa mereka mengerti apa sebabnya, selama itu, tak sempat mereka menanya sesuatu, sedang herannya bertambah

tambah. SEtelah berhenti lari, habislah sabar Kho Kong. "Loocianpwee, apakah artinya kelakuanmu ini?" dia bertanya. Jago tua itu hela napas berulang ulang. "Sungguh berbahaya" katanya.

Siauw Pek segera mengerti.

"Locianpwee, apakah kau telah melihat sesuatu mengenai sepak terjangnya pemuda berbaju biru itu ?" tanyanya. Ban Liang berpikir sejenak.

"sekarang ini loohu belum bisa mengatakan apa apa" sahutnya, "hanya melihat keadaan, loohu mau menerka jangan jangan itulah dia."

"Siapakah dia itu, loocianpwee?" tanya pula sianak muda itu. "Amat panjang menuturkannya saudaraku" sahut Ban Liang yang

terus menengadah langit mengawasi bintang bintang. ia pun menghela napas panjang. Dan baru melanjutkan-

"Tiga puluh tahun yang silam, didalam dunia Kang ouw itu telah terjadi hal yang dikata satu peristiwa besar, yang sangat menggemparkan, hanya kemudian, kegemparan sirap dengan cepat. Maka juga, orang yang masih  ingat  peristiwa  itu,  tak  banyak  lagi. "

"Peristiwa apakah itu?" Kho Kong tanya.

"Pada masa itu dalam dunia Rimba Persilatan telah muncul seorang yang luar biasa. Dia menyebut dirinya ceng Gie Loojin, yang berarti si orang tua yang mengutamakan keadilan atau peri kebajikan. Dia mempunyai kepandaian misalnya saja dapat menghidupkan orang yang sudah mati. Dan sejak munculnya orang tua aneh itu maka didalam dunia rimba persilatan telah bermunculan beberapa orang yang sudah lama sekali lenyap tanpa berita."

"Apakah ada hubungannya ceng Gie Loojin dengan orang orang yang telah lama hilang itu tetapi muncul pula secara mendadak?"

"Ya, ada. Mereka adalah orang orang yang ternama." "Mungkinkah ceng Gie Loojin pandai sekali menyamar hingga dia dapat memperdayakan orang banyak?" Siauw Pek bertanya.

"Kalau hanya ilmu menyamar yang umum, itu tak akan menggemparkan dunia" Si anak muda heran sekali.

"Habis cara apakah dia pakai buat membikin orang sama wajahnya?"

"Itulah suatu pendapatan aneh dalam dunia ketabiban ceng Gie Loojin itu, asal ia dapat melihat orang satu kali, lantas la bisa membuat seorang yang mirip segalanya."

"oh, begitu" kata Kho Kong kagum.

"ceng Gie Loojin menyebut dirinya loojin orang tua tentulah umurnya sudah tak muda lagi?" berkata Siauw Pek.

"Tidak salah."

"Akan tetapi s i pelajar berbaju biru yang kita ketemukan itu usianya belum lanjut. "

"Walaupun pelajar berbaju biru itu bukannya ceng Gie Loojin sendiri, mungkin dialah murid siorang tua." Siauw Pek berpikir.

"Apakah ini cuma terkaan loocianpwee saja?" Ban Liang menggeleng kepala.

"Bukan Aku melihat suatu rahasianya." "Apakah itu? Apakah yang mencurigakan?"

"Itu karena diatas peti obat obatannya aku melihat sebuah cap yang menjadi tanda dari ceng Gie Loojin."

"Dengan begini-jadinya pada beberapa puluh tahun yang lampau itu loocianpwee pernah melihat sendiri ceng Gie Loojin "

"Ah Iutlah kejadian dari banyak tahun yang berselang. Tatkala itu dunia Rimba Persilatan sedang gempar dengan nama besar dari ceng Gie Loojin, walaupun demikian, orang yang pernah bertemu atau melihatnya sendiri tidak banyak......, itulah pada suatu malam  sudah larut malam, ketika diluar kehendakku, jadi secara kebetulan, aku mendatangi tempat kediaman sementara orang yang kenamaan itu. "

"Kalau demikian, pantas loocianpwe berkesan mendalam mengenai dia."

"Loocianpwee," campur bicara Oey Eng yang diam saja sejak tadi, "apakah loocianpwee pernah menderita dari dia disebabkan locianpwe ditempat dia

itu?"

Dan berkata begitu anak muda ini mengawasi muka orang tua itu. "Tidak Aku tidak sampai diubah macam wajahku oleh dia. Hanya melihat caranya mereka bekerja menjalin wajah seseorang."

Ban Liang berdiam sejenak. baru dia melanjutkan keterangannya: "Ketika itu belum lama aku ceburkan diri dalam dunia kang ouw. Aku telah ditotok jalan darahku, lalu aku digotong kekamar didalam tanah. Entah karena kealpaan orang2 bawahannya, atau mungkin ia sengaja berbuat baik kepadaku, mereka telah kelupaan menotok otot gaguku, bahkan aku masih  dapat  menggerak  geraki  tubuhku. "

"Mungkin itu disebabkan kealpaan." berkata Siauw Pek.

"oleh karena itu dengan mataku aku bisa melihat dan telingaku bisa aku mendengar. Itu waktu didalam kamar itu sudah terdapat beberapa orang yang telah dibalut mukanya dengan kain putih. "

"oh begitu?" kata Kho Kong heran, sedangkan hatinya berdenyut. Ban Liang mengangguk.

"Benar. Loohu tak salah lihat, tak keliru mendengar." "Kemudian?" tanya lagi Siauw Pek.

"Tiga hari tiga malam Loohu dikurung didalam kamar bawah tanah, maka Loohu sempat melihat dibukanya pembalutan padamuka beberapa orang itu. Diantara mereka itu ada dua orang ang loohu kenali. Yang satu ialah Tiat Tan Kiam Kek Thio Hong Hong, dan yang lainnya Siang Put Tong dari Thay Im Bun. "

"Siang Put Tong?" Siauw Pek menegasi.

"Benar Apa..... apakah kau pernah bertemu dengan dia?" tanya Ban Liang.

"Ya, satu kali didalam Hek Siu Po, bahkan aku pernah kena pukulannya, pukulan Im Hong Touw Kut ciang yang lihay, sampai hampir aku menemui ajalku."

"Memang ilmu pukulan angin itu adalah ilmu pukulan istimewa dari Thay Im Bun, hebat siapa terkena pukulan itu. Namanya sangat terkenal. Luar biasa yang telah kau kena terhajar tetapi kau dapat tertolong."

"Syukur aku ditolong oleh kedua saudara Oey dan Kho ini, yang bersusah payah mencarikan tabib. Itu waktu, akupun ditolong Kouw Heng Taysu, pendeta dari Siauw Thian ong Sie.... lalu loocianpwee, bagaimana jalannya maka locianpwee bisa lolos dari kamar bawah tanah itu?"

"Dua orang itu kenal loohu seperti loohupun kenal mereka" Ban Liang melanjutkan cerita.

"Hanya aneh mereka waktu itu. Mereka mengawasi tapi diam saja. Itulah bukti mereka tak kenal aku, teranglah mereka orang orang palsu."

"Tak samanya setiap manusia terletak pada mukanya," berkata Oey Eng, "tetapi dia dapat membuat orang menyamar demikian mirip. benarkah ada kepandaian semacam itu?"

"Telah aku saksikan sendiri. Jikalau tidak mustahil kepandaiannya itu sampai menggemparkan dunia persilatan?"

Habis berkata itu, sijago tua ini menghela napas. Agaknya dia masih amat kagum.

"Menyaksikan kepandaian orang itu, aku kagum hingga aku melengak." dia menerangkan lebih jauh, "Akupun khawatir sekali. Aku memikiri, wajahku sendiri bakal dimiripi dengan siapa. celaka

kalau sampai terjadi demikian Maka syukurlah, sebelum orang turun tangan atas diriku. Thio Hong Hong yang sejati bersama Hie Sian ciang Peng telah datang, mereka itu menyerbu masuk kedalam kamar bawah tanah itu. Mereka memang gagah dan namanyapun telah menggemparkan dunia persilatan Setelah bertempur hebat mereka berhasil membinasakan musuh yang bertanggung jawab atas kamar itu. ceng Gie loojin sebenarnya belum berusia lanjut amat, meskipun ilmu silatnya tak dapat dicela, dia bukanlah lawan Thio Hong Hong berdua. Dia terlukakan Thio Hong Hong dan kabur karenanya.

Thio Hong Hong palsu terbinasa ditangan yang aslinya. Thio Hong Hong sejati/aslinya kagum bukan main melihat Thio Hong Hong palsu itu. Loohu kenal kedua orang itu, maka loohu telah ditolong mereka." Oey Eng menghela napas saking kagumnya.

"Benarlah, didalam dunia Kang ouw yang luas ini, tidak ada yang tidak aneh" katanya.

"Itulah hal yang sebelumnya belum pernah aku dengar atau lihat, jikalau yang bicara bukan loocianpwe, pasti aku tak mempercayainya."

"Kemudian bagaimana?" tanya Kho Kong, "Apakah ceng Gie loojin muncul pula?"

"Tidak. Selama beberapa puluh tahun ini, belum pernah aku dengar namanya itu disebut orang pula. Hanya apa yang kini aku saksikan membuat aku teringat padanya, sehingga loohu mau menyangka dia telah muncul lagi. Atau sedikitnya, itulah buah hasil dari warisannya yang mujizat itu. "

orang tua ini bicara secara wajar, akan tetapi kesannya bagi Oey Eng bertiga mendalam memang aneh orang dapat membuat manusia palsu yang demikian mirip "

"ceng Gie Loojin aneh, hanya aku tidak mengerti, dia tak cukup tua tetapi dirinya menyebut siorang tua......" kata Kho Kong "pula bertentanganlah nama dan perbuatannya itu. Namanya ceng Giee, adil, perbuatan, kejam Kenapa dia pakai nama aneh itu?"

"Tak banyak cerita tentang ceng Gie loojin. Dahulu dia menggemparkan, lalu sirap sampai orang melupakannya. Aku sendiripun lupa. Baru sekarang aku mengingatnya . "

Siauw Pek berpikir keras. Ia percaya, jika benar ada orang  selihay ceng Gie Loojin, pasti bisa terjadi hal hal yang aneh, hebat. Ban Liang melihat sianak muda diam saja.

"Kau pikirkan apa, saudara kecil?" tegurnya.

"Keterangan loocianpwee ini membuat aku ingat suatu hal"sahut sianak muda.

"Apakah itu saudara kecil?"

"Itulah peristiwa Pek Ho Bun disebabkan serbuan sesama kaum rimba persilatan "

"Maukah saudara menjelaskan agar mungkin loohu dapat memikirkannya?"

"Toh benar dalam dunia Kang ouw ada kepandaian menyalin rupa?"

"Benar. Buktinya telah aku saksikan dahulu itu."

"Maka itu aku memikir, loocianpwee: Bagaimana kalau ada orang yang menyamar jadi ayahku dan dia sengaja muncul dipuncak Yan In Hong itu? Bukankah itu tidak sulit? Dengan begitu bukankah mudah saja orang menimpahkan kesalahan kepada ayahku? Bagaimanakah anggapan locianpwe?"

"Itulah mungkin"

"Benar" kata Oey Eng dan Kho Kong.

"Mungkin si jahat itu, pada waktu dia turun tangan, dia tetap menyamar sebagai ayahku." Ban Liang menganggukkan kepalanya. "Sayangnya kita tak ada saksi."

"Jika ada orang yang menyamar menjadi ayahku, kenapa tak ada yang menyamar juga menjadi orang lain?" kata pula sianak muda. Hati Ban Liang bercekat, ia ingat suatu apa.

"Apakah kamu maksudkan orang menyamar jadi ketua Siauw Limpay atau Bu Tong pay?" dia menegaskan-

"Ya, sekarang dapat menyamar jadi satu orang, kenapa tidak tidak lain lain orang lagi?" Oey Engpun berkata. Siauw Pek menghela napas.

"Yang tidak mengerti ialah kenapa orang menyamar ayahku. "

katanya. "sekarang ini percuma saja kita menerka-nerka," berkata Ban Liang. "Hanya satu hal yang meninggalkan kesan mendalam terhadapku. Ya itu peristiwa Pek Ho Bun Sampai sekarang sudah lewat sepuluh tahun lebih akan tetapi orang Rimba Persilatan belum melupakannya. Inipun aneh."

Siauw Pek berpikir. Ia bertanya pula: "Mungkin orang berbaju biru itu ialah murid ceng Gie loojin. Hanya yang mengherankan, kenapa dia memilih rumah gubuk dan juga ditempat tegalan belukar semacam itu? Siapakah pria dan wanita itu? Rupanya mereka itu belum mati, tapi kenapa mereka mau berdiam didalam peti? Apakah maksud sipelajar berbaju biru menggunakan dua peti mati itu? Apakah semua itu hanya untuk menyesatkan orang banyak agar tak ada yang mencurigakannya . "

Ban Liang heran melihat orang berpikir demikian, ia menanyakan sebabnya. "Aku mengherani orang berbaju biru itu serta sepak terjangnya. Kalau kita dapat menyelidiki dia, mungkin kita akan membeber suatu rahasia Rimba Persilatan "

"Kau benar juga, saudara kecil. sulitnya bagi kita tak tahu bagaimana kita harus bekerja"

Siauw Pek berpikir. ^

"AKu memikir sesuatu," katanya kemudian "Apakah itu, saudara kecil?"

"Inilah pikiran sederhana saja. Kita menyelundup masuk kegubuknya itu."

"Kita berpura kena ditawan?"

"Ya, salah satu loocianpwee atau saudara Oey atau saudara Kho, menyaru menjadi orangnya dan aku yang menyamar orang tawannya. Tidaknya dengan begitu kita masuk kedalam gubuknya?" Ban Liang berpikir.

"Daya ini baik cuma sangat berbahaya" ujarnya.

"Jalan lain tidak ada. Aku mau menerka rumah itu sebagai pusat kejahatan-Atau mungin itulah tempat seperti dikatakan Su Kay taysu, yaitu suatu sarangnya usaha rahasia yang berbahaya, bahwa peristiwa Pek Ho bun baru peristiwa permulaan saja. "

Dengan tenang anak muda ini menatap kawan kawannya, terutama Ban Liang. "setelah belasan tahun, peristiwa coh Keepo menjadi peristiwa yang tergantung," kata ia meneruskan "Perkara gantung, sebab tetap tak diketahui sebab musababnya. Pernah aku menerka ketika ayahku pergi ke Yan In Hong, disana ia telah memergoki rahasia orang maka ia dicelakai, difitnah. "

"Apakah sekarang saudara kecil merubah perkiraanmu itu?" Siauw Pek mengangguk.

"Setelah pengalamanku beberapa bulan," katanya, setelah mendengar kata kata Su Kay Taysu, sekarang aku mengerti bahwa soal bukannya sesederhana seperti terkaanku semula. Ia menghela napas, lalu ia menambahkan "Ketika dahulu ketua siauw Limpay itu terbinasakan orang, mestinya dia ditemani beberapa orang muridnya. Kenapakah tidak ada diantaranya yang melihat gurunya dianiaya? Mengenai itu, aku memikir dua kemungkinan "

Ban Liang mengangguk angguk. Ia membenarkan jalan pikiran anak muda ini. Siauw Pek menghela napas. Ia berkata pula: "Kemungkinan yang pertama yaitu penganiayaan itu telah dipikir masak masak oleh orang itu, tetapi toh telah diketahui ayahku. Entahlah bagaimana caranya ayahku memergokinya. Maka itu, Pek Ho Po diserbu. Maksudnya tak lain tak bukan, untuk membungkam mulut ayahku."

"Benar BEnar" Ban Liang memuji. Dia menunjukkan-jempoinya. "Kemungkinan yang lainnya yaitu, keempat ketua partai itu belum mati." Ban Liang mementang kedua matanya, mendelong menatap si anak muda.

Iapun bertanya: "Apa? Bukankah hal kematian keempat ketua partai itu telah diketahui oleh umum? Mungkinkah kematian itu kematian palsu?" Si anak muda tertawa hambar.

"Yang tampak toh mayat mayat, bukan?" katanya. "Siapakah yag dapat membuktikan bahwa semua mayat itu benar mayat mayat ketua keempat partai itu?"

Ban Liang menggumam.

"Ini..... ini...... ada juga kemungkinannya. "

"Jikalau keempat ketua partai itu benar masih hidup," berkata pula Siauw Pek, "masih ada dua tekanan lainnya lagi. Yang pertama ialah rencana jahat itu dipikir dan dilaksanakan oleh mereka berempat, jadi merekalah siorang jahat. "

"Sungguh luar biasa" menyela Ban Liang heran dan kagum berbareng. "Toh ini kemungkinan yang bukan tak mungkin"

Ban Liang mengangguk. "Kemungkinan lainnya yang kedua?"

""Mereka telah ditangkap orang, telah dibawa lari dan disembunyikan. "

" Kenapakah begitu?"

Siauw Pek mengangkat kepala, memandang langit. Ia menghela napas pula. "Kemungkinan ini, sebabnya sangat ruwet, rumit sekali. Mungkin disebabkan orang hendak pinjam tenaga mereka. Atau mereka mau dipaksa untuk menyerahkan sesuatu." "Saudara kecil," berkata si jago tua kagum, "mungkin pemikiranmu ini tidak cocok, akan tetapi, karena kau dapat menerka begini, inilah bukti dari kecerdasanmu yang luar biasa. orang lain pasti tidak dapat menduga sebagai kau. "

"Itulah sebabnya kenapa aku jadi ingin menyelundup masuk kedalam rumah gubuk itu, guna membuat penyelidikan Siapa tahu kalau hasil penyelidikan ini merupakan bukti yang berhubungan dengan kematian keempat ketua partai itu ataupun sebaliknya? Pokoknya kita memperoleh sesuatu hasil penyelidikan."

"Jikalau orang itu benar murid ceng Gie Lojin", berkata Ban Liang kemudian, "dengan menempuh jalan berbahaya ini, ada kemungkinan wajah kitapun nanti disalin rupanya atau jiwa kita terancam maut. "

"Aku tahu itu," kata Siauw Pek, "yang pikirannya sudah tetap. Waktu kita sempit sekali. Mungkin mereka bakal pindah ketempat lain Apabila itu sampai terjadi, kemana kita harus cari mereka didunia yang begini luas ini?"

"Baiklah" kata sijago tua akhirnya, "cuma, untuk memasuki gua harimau, kita mesti mempunyai rencana dahulu "

"Tentang itu telah aku pikirkan" siauw Pek berkata.

Ban Liang mengernyitkan alisnya. Pikirnya: "Keras hati anak muda ini, dia sangat cerdas Benar benarkah dia hendak menyelundup masuk kedalam rumah

gubuk itu?"

Lalu ia bertanya, "Apakah rencanamu, saudara kecil?"

"Paling dahulu kita bersembunyi didekat rumah gubuk itu. Diam diam kita menguntit orang orang itu, orang orang yang berpakaian hitam. Kita lihat mereka pergi kemana dan siapa siapa yang mereka tawan. "

"Apakah saudara kecil berniat menyaru menjadi seorang tawanan?" "Benar. Aku yang menyamar jadi orang tawanan, lalu loocianpwee atau salah satu diantara kedua saudara Oey dan Kho yang menjadi orang serba hitam itu."

"Bagus" Kho Kong memuji sambil dia menunjukkan jempolnya. "Bagus"

"Aku situa memikir sesuatu", berkata Ban Liang. "Aku duga orang orang berpakaian hitam mesti ada mempunyai isyarat supaya mereka mengenal satu dengan lain."

"Justru karena itu, kita mesti kuntit dahulu mereka, lihat apa yang mereka lakukan, sesudah itu baru kita bekuk mereka, untuk mengorek keterangan dari mulutnya, supaya dengan begitu kita bisa menyamar dengan sempurna." Ban Liang menghela napas.

"Kalau didalam rumah gubuk itu benar ada ceng Gie loojin"^ katanya masgul, "lebih baik kita tak usah pergi melihatnya. "

Siauw Pek heran Ia melihat orang tua ini masih ingat lakon dahulu hari dan dia tetap jeri terhadap ceng Gie loojin, ingin ia mesti mengatakan apa.

"Mari kita cari penginapan dahulu", katanya kemudian "Nanti kita berdamai pula."

Ban Liang menurut, akan tetapi didalam hatinya dia berkata "Aku mesti berdaya buat membikin anak muda ini membataikan rencananya....." Setelah melihat keempat penjuru. Siauw Pek berempat menuju kesebelah depan-Mereka melalui sepuluh mil lebih, baru mereka dapat rumah penginapan Karena tempat itu kecil, penginapan juga satu satunya. Itulah losmen miliknya seorang setengah tua, yang mewarisinya dari leluhurnya semenjak lima puluh tahun yang lalu.

Ketika Ban Liang berempat tiba dilosmen, waktu sudah jam lima pagi. Tuan ruma dan kedua pembantunya sudah pada bangun, bahkan mereka telah membuka pintu, buat mengantarkan para tetamunya berangkat pergi sehabisnya tetamu itu sarapan pagi. Dasar losmen kecil, kamarnya cuma dua dan perabotannya sangat miskin, orang mesti tidur dilantai, diatas tikar, kalau tetamunya banyak orang, apakah kita orang semuanya ini mesti tidur berjejalan....

Dikamar yang satu masih ada seorang tetamu yang masih tidur.

Ban Liang memberi tahu tuan rumah bahwa berempat ia memborong sebuah kamar, tak ia ketumpangan tetamu lainnya.

Iapun bertanya, apa itu tetamu satu satunya, bakal berangkat hari ini.

"Ya, kecuali dia mati disini" kata tuan rumah. Kata "mati" itu dia ucapkan perlahan sekali, agaknya dia kawatir ada orang lain yang mendengarnya.... Ban Liang batuk batuk. niatnya membuat si tetamu mendusin, tapi ia gagal, walaupun ia berlaku berisik. orang tidur bagaikan mayat..... Setelah terang tanah, tuan rumah menyediakan barang hidangan-

"Masih tetamu yang satu itu belum bangun juga."

"Apakah dia tamu langgananmu?" tanya ban Liang pada tuan rumah.

"Bukan-"

"Apa pekerjaan dia?"

"Tukang tambal kwali dan tempayan Sekarang silahkan tuan tuan sarapan dahulu, sebentar akan aku bangunkan dia, andaikan dia masih tetap akan bermalam disini, akan aku minta dia pindah kamar. "

Ban Liang mengangguk. "Kau she apa, tuan?" "Tan."

"Bagus. Kami akan berdiam disini tiga atau lima malam. Kami tengah menjanjikan kawan kawan-"

"Baik, tuan-tuan Terima kasih" Ban Liang masih mengawasi tetamu yang tidur nyenyak itu, lalu dia mengajak tiga kawannya pergi keruang depan, tempat bersantap. Disitu cuma ada tiga buah meja tua serta kursi kursinya, barang hidangan sudah disiapkan diatas sebuah meja, maka berempat mereka lalu duduk menangsel perut, lahap makannya.

Tengah mereka bersantap itu, mendadak tuan rumah datang sambil berlari lari dengan muka pucat dan roman bingung, dengan gugup, dia kata tak lancar: "Tuan-tuan, maaf, maaf Aku menyesal sekali..... Tamu tadi itu telah meninggal dunia..... buat tuan-tuan, akan aku sediakan kamar yang lainnya. "

Ban Liang terperanjat, dia berjingkrak bangun. Ketika tuan rumah itu mau mengundurkan diri, dia lalu menghadang dan bertanya: "benarkah dia mati?"

"Benar, tuan Mana aku berani main-main Sejak lima puluh tahun, baru kali ini aku mengalami peristiwa semacam ini "

"sekarang kau hendak pergi kemana?"

"Inilah jiwa manusia. Maka aku mesti menemui kepala  kampung."

"Tunggu sebentar. Aku mengerti ilmu obat obatan, mari kita tengok dahulu orang itu."

"Tak usah, tuan Dia sudah mati, kaki tangannya telah dingin semua. " Ban Liang mencekal tangan orang itu.

"Inilah kejadian buruk buat losmenmu" katanya, "Mari kita lihat dahulu, mungkin aku dapat menolong dia "

Tuan rumah itu kaget. Hebat cekalan itu, hingga dia habis tenaganya.

"Tuan-... tuan-.... benar. ," katanya menyeringai.

Lalu mereka pergi kekamar tadi. Tamu itu masih rebah seperti orang tidur nyenyak. Ban Liang menyingkap selimut. Ia lihat orang itu berumur kira kira tiga puluh tahun dan mukanya pucat. Ketika ia meraba kehidung orang itu, ia mendapat kenyataan benar orang itu sudah berhenti bernapas.

"Benarkah dia sudah mati?" Kho Kong tanya.

Ban Liang meraba nadi orang. Ia masih ingin bukti lebih jauh.

Kalau hidung orang itu tidak bernapas, tidak demikian dengan nadinya. Nadi itu masih berdenyut.

Lalu Ban Liang mengedipkan mata pada Siauw Pek bertiga, mengisyaratkan agar mereka itu bersembunyi dibelakang pintu, setelah itu ia tertawa dingin dan berkata: "Nadimu masih berdenyut sahabat, itulah bukti bahwa kau masih hidup. Aku si orang she Ban pernah mengalami taufan dan gelombang dahsyat, mustahil perahuku karam didalam selokan? Maka, jangan kau bermain gila lagi sahabat"

orang yang dikatakan sudah mati itu tetap berdiam, tubuhnya tak bergeming. Tuan rumah menghela napas.

"orang yang sudah putus jiwa mana bisa bicara......." katanya.

Iapun heran-

"Kau tidak tahu diri, sahabat" kata pula Ban Liang, tetap dingin, "baik, jangan kau katakan aku kejam" Ia mengangkat tangannya mengancam dada orang.

Tamu itu tetap rebah tak bergerak.

Jago tua itu tidak menghajar dada orang, hanya mendadak tangannya diarahkan kejalan darah sin hong, untuk menotok.

Baru sekarang ancaman itu ada hasilnya. Tepat jarinya mengenai baju, tepat tubuh orang itu bergerak menggelinding, lincah sekali dia bergerak bangun dan duduk. Ban Liang tertawa.

"Aku kira kau tidak takut mati, sahabat" ejeknya, "Kiranya kau takut juga" orang itu menatap Ban Liang, matanya mencilak. setelah itu ia mengawasi Siauw Pek dan dua pemuda lainnya. Ia tidak membuka suara. Ia duduk tetapi kedua tangannya masih memegangi selimutnya, hingga kedua belah tangannya itu dan sepasang kakinya tetap ketutupan selimut itu.

sikap tenang itu membuat Siauw pek berempat kagum. Ban liang menjadi gusar.

"Sahabat, diri asalmu sudah terlihat tegas, kau masih tetap berpura pura" katanya sengit. "Apakah maksudmu?"

orang itu rebah dengan perlahan lahan Baru sekarang dia membuka mulutnya. Katanya: "Aku sedang tidur, apa sangkutnya aku dengan kamu? Kenapa kau hendak menotok jalan darahku?" Tanpa menanti jawaban, dia memejamkan matanya, seperti juga dia telah tidur nyenyak pula.

Siauw Pek heran. juga Ban Liang yang berpengalaman, bicaranya orang itu beralasan, sulit untuk menjawabnya.

Sedangkan orang berdiam, tuan rumah berkata pada tamunya itu: "Duduk halnya begini tuan Keempat tuan ini memborong kamarku ini, maka itu aku memikir memohon tuan pindah kekamar yang lain, bagaimana?" orang itu membalik tubuhnya.

"Siapa berusaha dia tahu aturan" tegurnya. "Dan didalam hotel, ada orang yang datang lebih dulu, ada yang datang belakangan. Bukankah aku yang lebih dahulu menyewa kamar ini? Kenapa mereka tak diminta mengambil kamar yang lainnya?"

Tuan rumah bungkam. Tamu itu benar.

Walaupun lagaknya aneh, perbuatan tamu itu cocok dengan peri kebenaran Maka itu Ban Liang berempat kalah alasan-

Tapi Kho kong habis sabar melihat sijago tua dan ketuanya diam saja

"Soal toh sederhana sekali, bukan?" kata dia.

"Kami banyakan, tuan sendirian, jadi kalau kau menukar kamar, bukankah itu pantas?" Tiba tiba orang itu berkata: "Baiklah aku akan mengalah"

Kho kong puas. Katanya: "Bagus kau bersedia pindah, tapi kenapa kau tidak mau pindah segera?"

"Ya, aku akan pindah" berkata orang itu, yang tiba tiba mencelat bangun untuk melesat keluar kamar. Ia tetap membawa selimutnya dengan apa ia lalu lenyap bersama Hanya sekelebatan Ban Liang heran dan kagum, juga ketiga kawannya tak terkecuali tuan rumah, siauw Pek tidak melihat sesuatu yang mencurigakan Dengan perlahan, ia berkata pada tuan rumah: "Nah, kau lihat tuan Tamumu itu adalah seorang Kang Ouw yang luar biasa"

Tuan rumah yang melengak, berkata: "Ya, aku  telah  melihatnya. "

"Karena dia bukan sembarangan tamu, tuan tentu tak usah pakai segala aturan lagi"

sijago tua berkata pula, "Maukah kau serahkan semua barangnya dia itu kepada kami?"

Nampaknya tuan rumah itu bersusah hati.

"Bagaimana aku dapat menyerahkannya?" tanyannya. "Aku tidak mengerti silat, bagaimana kalau dia datang pula untuk memintanya? Mudah saja buat dia merampas Jiwaku? "

"Biar bagaimana dia sudah membenci" kata Ban Liang tertawa. "Bukankah kau seperti memaksanya pindah kamar? Selama kami berada disini, dia tentu tidak berani datang dulu. Tapi nanti seperginya kami? Nah sama saja bukan?"

Tuan rumah kaget, dia takut, hingga kakinya bergemetar keras. "Tuan tuan benar. Aku mohon sukalah tuan tuan mendayakan menolong aku. " Sijago tua berpikir.

"Ada dayanya hanya itu tetap bergantung kepada peruntunganmu "

"Asal jiwaku selamat, akan aku lakukan segala apa. " "Nah, kita kembali pada persoalan Kau serahkan barang barang orang itu, untuk kami periksa. Mungkin dari barangnya itu kita ketahui tentang dia. Kalau dia jahat, jangan khawatir, kami yang akan mencarinya. Kalau dia orang baik baik, buat urusan begini, tidak nanti dia minta jiwamu."

"Tuan benar," berkata tuan rumah, hatinya sedikit lega. "Sebenarnya dia tidak membawa barang apa apa kecuali sebuah kotak kayu yang atasnya tertuliskan empat huruf menandakan dia tukang membetulkan kwali dan jamban-..."

"Baiklah, mari kita lihat dulu"

"Tunggu" berkata tuan rumah. Mendadak ia ingat sesuatu. "Nanti aku periksa dahulu, dia pindah kekamar lain atau tidak kalau dia tidak pergi, tidak dapat aku ganggu barangnya."

"Baik Mari kita lihat bersama"

Berlima mereka pergi kelain kamar, yang terpisah cuma beberapa tindak. Pintu kamar masih tertutup, pertanda belum pernah dibuka.

Tuan rumah menghampiri pintu, tapi mendadak dia mundur pula. "Silahkan tuan tuan yang masuk lebih dahulu" katanya.

Ban Liang tahu orang itu takut, maka dia maju kedepan Dia menolak pintu sambil bertindak masuk kedalam kamar itu. Dia bersiap sedia.

Kamar itu kosong.

"Dia tidak berada dikamar ini Kemanakah dia perginya?" tanya sijago tua didalam hati. Ia menoleh kepada tuan rumah, lalu. "Apa kau masih mempunyai kamar lainnya yang dapat ditempati?"

"Tidak."

"Kalau begitu, pergi kau ambil peti kayunya itu"

Tuan rumah menyahut "ya" terus memutar tubuh dan berlalu. Baru dua tindak, ia sudah memutar pula tubuhnya. Katanya "Siapa diantara tuan tuan yang turut kepadaku?" Ban Liang tahu orang itu tetap takut. Ia memberi isyarat pada Oey Eng dan Kho Kong. Dua saudara itu mengangguk, lalu mereka ikut tuan rumah. "Aneh orang itu" kata siauw Pek seberlalunya Oey Eng bertiga, "Dia pergi dengan membawa bawa selimut Tak ku percaya dia sudah meninggalkan losmen ini"

Ban Liang mengangguk.

"Dia sembunyi entah dimana." katanya, "Aku rasa dia membutuhkan peti kayunya ini. Baik kita mengintainya apabila dia datang, kalau perlu kita keroyok dia agar dia dapat dibekuk, kalau terpaksa tak ada halangannya untuk membunuhnya "

"Mungkinkah dia datang untuk kita?" tanya Siauw Pek.

"Aku menerka demikian-... coba kita tidak mencurigainya, bagaimana kalau selagi kita tidur dia membokong? Dia lihay, apabila diam diam dia menotok jalan darah kita, tidakkah itu berbahaya?"

Siauw Pek mengangguk. Lalu dia naik keatas rumah, untuk memasang mata, Ban Liang berdiam terus didalam kamar, bersembunyi dibelakang pintu. Tidak lama Oey Eng bertiga sudah kembali. Dengan mudah saja mereka mendapati kotak kayu itu, yang benar bertuliskan empat huruf tanda tukang tambal. Ban Liang menyambut kotak itu, ia tidak segera membuka tutupnya, hanya dengan keren ia berkata kepada tuan rumah : "Pergi kau kembali kekamarmu untuk beristirahat. Andaikata orang itu datang meminta barangnya ini kau katakan bahwa akulah yang mengambilnya, kau tak akan dibikin susah"

Dengan bersangsi tuan rumah itu mengundurkan diri.

Segera setelah tuan rumah itu berlalu, Ban Liang lompat naik keatas rumah dimana sambil mengerahkan tenaga dalamnya, ia berkata "Sahabat, kami telah melihat kepandaian ringan tubuh dari kau, nyata kau lihay sekali Kau telah datang, tentu dengan maksud sengaja, kenapa kau tidak sekalian memunculkan dirimu? Silahkan-.. Sahabat, barangmu telah aku ambil, maka itu sebentar, sebelum tengah hari kau tidak datang mengambilnya, kamu akan membuka tutupnya buat melihat isinya." Habis berkata begitu, jago tua itu lompat turun pula, masuk kedalam kamar, terus berkata pada tiga kawannya, "kita berempat bergantian menjagai peti kayu ini. Aku telah bicara dengan orang itu, tak mungkin dia datang membokong kita"

siauw Pek tidak mengerti maksud kawannya ini. "Kenapa kita tidak mau membukanya sekarang saja?" pikirnya. "Buat apa menanti sampai tengah hari?" Tak mau ia banyak bertanya. Mesti ada maksudnya jago tua yang berpengalaman itu.

Maka mereka berempat lalu duduk bersemedhi, yang seorang sambil memasang mata dan telinga. Sampai mendekati tengah hari, belum ada gerakan apa apa: tidak terdengar tidak terlihat sesuatu.

Ketika sang tengah hari tiba, cuaca terang benderang. Awan tidak ada. Waktu itu, Ban Liang berempat telah memperoleh kesegaran tubuh mereka. Maka jago tua itu lalu menghampiri peti kayu itu, buat dibawa kehalaman luar, diantara sinarnya matahari yang terik. Ia tidak mau membuka dengannya, hanya mencari sepotong bambu galah yang panjang. Sebelum mulai membuka, ia berkata tidak mau mengambil peti kayunya, karena itu kalau isi peti bukan barang barang yang tidak berharga, mesti ada sesuatu yang lainnya yang luar biasa....

Mendengar kata kata itu barulah Siauw Pek tersadar. "Locianpwe benar Aku kagum" kata ia memuji.

Ban Liang mencekal galahnya dengan erat sambil berbuat begitu, bersiap sedia, ia berkata pula: "Kita berdiri jauh lima kaki dari peti kayu, dapat kita peluang untuk menyelamatkan diri kita, akan tetapi baiklah saudara saudara mengerahkan tenaga dalam kalian, untuk bersiap sedia terhadap segala kemungkinan" Siauw Pek bertiga mengangguk. Memangnya mereka sudah berjaga jaga.

Segera juga Ban Liang bekerja. Tepat dia menghajar pintu kuningan dari peti kayu itu, hingga kunci itu jatuh ketanah. Setelah itu, ia memasang ujung galah, untuk dipakai menyontek guna membuka tutup peti. Tapi tiba tiba diantara cahaya matahari terlihat berkelebatnya satu bayangan hitam, lalu sebatang galah lainnya menyambar, menghajar galah sijago tua, hingga kedua batang bambu itu menerbitkan suara nyaring.

Ban Liang terperanjat. Hajaran itu keras sekali sampai ia merasai lengannya bergetar. Didalam hati ia memuji hajaran hebat itu. Sedang begitu, dia melihat galah yang dipakai menghajar galahnya itu sudah menyontek peti kayu yang terus terangkat dan melesat tinggi.

Semua itu terjadi didalam sekejap.

"Kejar" berseru sijago tua yang juga mendahului lompat kearah melesatnya peti kayu itu.

coh siauw Pekpun melompat mengejar.

Oey Eng dan Kho Kong kalah sebat, hanya sedetik, mereka kehilangan Ban Liang dan ketuanya itu.

siauw Pek bertari dengan menggunakan lari cepat. "Pat Pou Kan siam"  "Delapan tindak menghadang tong geret" lekas sekali ia sampai dipojok rumah penginapan Disitu ia tidak melihat orang tadi, hanya galahnya itu disandarkan ditembok. Tapi ia segera lompat naik keatas rumah untuk melihat kesekitarnya.

Dusun itu kecil dan terpencil. Kecuali diarah utara, dimana tampak beberapa rumah, ditimur, selatan dan barat hanya tegalan belukar. Dibarat terdapat segunduka n pohon lebat, disitu ia sempat melihat berkelebatnya bayangan orang, yang lenyap dibalik pohon Tanpa bersangsi lagi, ia menyusul bayangan itu.

Kira kira dua miljauhnya sianak muda bertari lari, tibalah dia disebuah tempat dimana ada segumplukanpohon bambu yang kecil, yang mengitari sebuah kuburan besar. Kuburan itu tertutup pohon rotan lebat, hampir tidak nampak apabila orang tidak datang mendekatinya .

Tetap waktu itu terdengar tangisan yang sedih sekali.

Si anak muda memasang telinga. ia terperanjat sendirinya.

Tangisan itu keluar dari dalam kuburan "Kuburan ini mungkin telah puluhan tahun tak terurus, siapa sekarang datang menyambanginya dan menangis begini sedih? Pasti dia mempunyai hubungan sangat erat dengan orang yang terkubur disini. "

Demikian pikir Siauw Pek yang terus dengan tindakan perlahan menghampiri kuburan itu. ia melewati pohon pohon bambu yang merupakan pagar hidup, hingga ia mendapat kenyataan tanah pekuburan itu lebar kira kira setang a h bahu. Mestinya pohon rotan dan bambu itu sengaja ditanamkan-

Mengikuti suara tangisan, anak muda itu berjalan terus. Hampir separuh nyaia memutari kuburan, sampailah dibagian dimana pohon rotan kosong, sebagai gantinya ada sebuah lubang gua. Dari dalam situlah tangisan itu keluar.

siauw Pek mengawasi kemulut gua, hingga ia melihat sebuah pintu kecil. Tanpa perhatian pintu itu tak tampak. sekarang terdengar nyata, tangisan itu bercampur kata berulang ulang: "Suhu, suhu, oh, kau mati secara bersengsara sekali..... ilmu silat muridmu ini telah dimusnahkan orang, andaikata aku berniat mencari balas tapi aku sudah tidak mampu. Seumur hidupku, aku telah tidakpunya harapan lagi. "

"Dialah seorang murid yang baik," pikir Siauw Pek, "dia sudah tidak berdaya akan tetapi dia masih ingat gurunya. Siapakah dia?"

"Suhu" ialah guru.

"Suhu," terdengar pula, "setiap kali muridmu datang menjenguk suhu disini, setiap kali juga bertambahlah tanggung jawabku. Suhu pandai ilmu pengobatan, suhu bercita cita menolong dunia, bagitu mulia angan angan suhu, siapa tahu kau dicelakai manusia hina dina, bahkan kepandaian itu dipakai untuk rencana yang jahat sekali.... Suhu, karena itu walaupun suhu berada didunia baka, hati suhu tak akan tenteram, sedangkan muridmu, dia hidup bagaikan mati. "

Tanpa merasa, Siauw Pek berkesan baik terhadap orang yang menangis itu. "Suhu, sakit rasanya hati muridmu ini," Suara itu terdengar lebih jauh. "Kepandaian suhu telah digunai sihina dina buat mencelakai kaum Rimba persilatan Aku pikir daripada hidup tak berdaya dan tersiksan bathin dan lahir, lebih baik aku susul suhu didunia baka."

Hati Siauw Pek cemas.

"Rupanya dia bunuh diri, mesti aku cegah, aku mesti menolongnya," pikirnya. Maka ia lalu menyingkap oyot oyot rotan yang menghadang, yang menutupi daun pintu, terus ia bertindak masuk kedalam gua itu.

Gua itu tidak lempeng langsung, untuk tiba didalam, Siauw Pek mesti mengambil waktu beberapa detik, tatkala ia sampai ia telah tertambat satu tindak

Dimuka sebuah batu nisan terdapat dua buah lentera kaca, sumbunya lentera itu dinyalakan, maka ruang itu cukup terang. Didepan nisan terkuali tubuh seorang laki laki yang bajunya compang camping, dadanya tertancapkan sebilah golok emas  kim too -sebagaimana golok itu mengeluarkan sinar kuning. Tapi orang itu belum putus jiwa, ketika dia mendengar tindakan orang dia menoleh.

"Murid jahat, kau tertambat" dia mendamprat Siauw Pek. Dia tertawa hambar. Anak muda itu melompat menghampiri untuk memegang tubuh orang itu.

"Saudara jangan salah  mengerti"  katanya  cepat  "aku bukannya "

Hanya sedetik itu, berhentilah napasnya orang yang nekad itu. Dampratnya itu adalah kata katanya yang terakhir. Siauw Pek menyesal sekali.

"Kalau aku tidak datang, mungkin dia belum mati...." pikirnya. "Dia menyangka akulah si murid jahat. oh Siauw Pek. Siauw Pek.

walau maksud hatimu baik, kaulah seperti pembunuhnya "

Tanpa merasa, air mata anak muda ini keluar meleleh. Karena orang sudah mati, Siauw Pek melepaskan cekalannya. Ia membaca huruf huruf batu nisan itu: Kuburan ceng Gie Loojin, Goan Kong cie Tabib yang luar biasa pandai

Terperanjat sianak muda, hingga ia melongo mengawasi batu nisan itu, sedangkan otaknya bekerja. "ceng Gie Loojin tabib pandai"

oooooooooo

"Baru saja aku dengar cerita Ban loocianpwe tentang ceng Gie Loojin-" pikirnya, "sungguh diluar dugaan, sekarang aku menemukan kuburannya...." Ia tunduk. Mengawasi orang berpakaian bagaikan pengemis itu.

"Saudara" gumamanya, "asal kau masih hidup setengah harian lagi saja, pastilah soal rumit kang ouw bakal menjadi terang jelas Adakah ini kehendak Thian?.... oh saudara, karena disini tidak ada peti mati, aku tak mau mengganggumu, baiklah kau tetap rebah disamping gurumu ini "

Habis berkata, Siauw Pek mencabut golok emas dari dada orang itu.

Dan Golok Emas itu  kim too  bersinar diantara cahaya api. Disitu tampak ukiran empat huruf, bunyinya: "ceng Gie Cie Too" "Golok keadilan" Golok itu harus diambil, buat dibawa pergi atau dibiarkan didalam kuburan ini.....

"Ah, baiklah aku bawa." pikirnya kemudian. Ia ingat, dengan membawa pergi golok itu, mungkin ia akan berhasil mencari keterangan ceng Gie loojin. "Nanti setelah aku berhasil dapat aku mengembalikannya kemari."

Maka, dengan membawa golok emas itu, ia keluar dari liang kuburan itu. Kedua daun pintu ia tutup rapat seperti semula. Ketika ia melihat kelangit, ia tahu bahwa tanpa merasa ia sudah menggunakan waktu satu jam didalam kuburan itu. Kapan ia ingat kawan kawannya, yang tentu tengah mengharapnya dilosmen, segera ia lari pulang. Benarlah dugaannya, Ban Liang bertiga tengah menunggukannya. "Saudara kecil, kami lagi menantikanmu untuk bersantap tengah hari," berkata si jago tua.

"Kemana saja kau pergi?" "Apakah yang kau peroleh?"

"Dengan tak sengaja aku menemui. "

Ban Liang mengerdipkan mata.

"Mari lekas makan Kita harus lekas lekas melanjutkan perjalanan kita" berkata jago tua itu, yang mencegah orang bicara terus.

Siauw Pek berhenti bicara, ia mengerti isyarat itu. Ketika ia menoleh kekiri, ia mendapati dua orang tak dikenal lagi duduk minum arak. Dua dua orang itu bercacat bekas bacokan golok pada mukanya masing-masing, sikap mereka sangat tawar.

"Aneh mereka ini" pikir sianak muda.

Dua orang itu serupa dandanannya, serupa pula cacat lukanya itu, masing masing codet alisnya yang kiri ditengah tengah, lalu bersambung kebatas hidung, terus kepinggiran mulut sampai dileher.

"Mungkinkah itu cacat asal?" Siauw Pek menerka nerka. "Kalau itulah luka bacokan, siapakah yang membacoknya hingga demikian tepat?"

oleh karena itu si anak muda mengawasinya, dua orang itu balik mengawasi juga. Maka bentroklah sinar mata mereka bertiga

Siauw Pek tahu ia yang salah, lekas lekas ia melengos, berpaling kearah lain Ia berpura pura melihat orang tanpa disengaja.

"Lekas makan" kata Ban Liang, perlahan sekali. Dia agaknya kesusu.

Siauw Pek heran, pikirnya: "Biasanya orang tua ini bangga akan dirinya sendiri, kenapa sekarang sikapnya berubah, dia seperti jeri terhadap dua orang itu?" Oey Eng dan Kho kong berdiam saja. Mereka sudah habis makan, begitu juga Ban Liang. Bertiga mereka tinggal menantikan ia sendiri. KArena itu, lekas lekas iapun menangsel perutnya
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 21"

Post a Comment

close