Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 18

Mode Malam
JILID 18

"oh, begitu ?" "Benar. Boanpwee telah memperoleh berita yang jelas sekali." "Tahukah kau dimana tempat rapat mereka itu ?"

"cuma di Gunung Lam Gak ini, tempatnya yang tepat, entahlah."

"Banyak tempat yang baik di Gunung ini, semuanya loohu ketahui. Mungkin disalah satu antaranya."

Tiba tiba Siauw pek ingat hal dua orang tadi.

"Loocianpwee, apakah loocianpwee mempunyai murid ?" tandanya berbisik. Ban Liang menggeleng kepala. "Tidak, aku tinggal sendirian disini."

"Jikalau begitu, tempat kediaman loocianpwee, sisinya telah orang duduki," kata siauw Pek yang terus menuturkan segala apa yang ia dengar dan lihat. orang tua itu tersenyum.

"Tidak kusangka Lam Gak yang biasanya sunyi senyap sekarang menjadi ramai sekali " ujarnya, "syukur tempatku sangat tersembunyi, biar disini ada orang lain, tak mudah mereka menemukannya, sekarang mari kita pergi ke tempatku itu, untuk beristirahat, nanti aku menyiapkan segala apa, untuk ku turut kau pergi mencari tempat rapatnya ketua-ketua keempat partai besar itu sekalian kau menikmati keindahan pemandangan alam disini."

"Boanpwee masih mempunyai dua orang kawan, nanti boanpwee panggil mereka datang kemari untuk memberi hormat kepada loocianpwee," kata Siauw Pek.

"Baik, akan loohu tungguh disini "

siauw Pek lalu lari pergi mencari Oey Eng dan Kho Kong. Ia dapat menemukan mereka itu ditempat yang dijanjikan-

"Saudara saudara, mari ikut aku menemui seorang jago bu-lim angkatan tua."

"Siapakah dia ?" tanya Oey Eng. " Kenalan baru." "Apakah toako telah perkenalkan diri asalmu kepadanya ?"

"Ya, loocianpwee itu pernah membela Pek Ho Po karena itu dia sampai dilukai jago-jago BuTong dan Kun Lun Karena lukanya itu, dia hidup menyendiri. Dia dapat dianggap sebagai sahabat dan penolong keluargaku. Dia tahu banyak tentang urusan dahulu, kalau tidak, tidak nanti dia mau ikut campur lagi." Oey Eng teliti, dia berdiam, tidak demikian dengan Kho Kong.

"Kalau dia mencurigakan, kita bunuh saja" kata si sembrono ini. siauw Pek dan Oey Eng tidak melayani bicara. Saudara muda itu

memang biasa menuruti adat saja, cuma kadang kadang dia sadar dan sabar. Lalu ketiganya berangkat. Siauw Pek jalan didepan. Ban Liang berada ditempatnya.

"Inilah Ban Loocianpwee," siauw Pek memperkenaikan. "Lekas kamu beri hormat "

Oey Eng memberi hormat sambil menjura dalam. Ia turut kata kata ketuanya. Dimata dia siorang tua tak mirip orang yang baik hati.

Ban Liang sebaliknya mengawasi tajam kedua pemuda itu. "Dapatkah mereka berdua dipercaya ?" tanyanya kepada Siauw

Pek.

Lekas-lekas Siauw Pek memberitahukan: "Inilah dua saudara angkatku. Kami telah berjanji akan sehidup semati. Mereka kenal baik asal usulku."

"Bagus, ya. kau mencurigai kami " kata Kho Kong nyaring. "Sebenarnya kami justru masih menyangsikan kau, loocianpwee " Si sembrono ini bicara blak-blakan-

Ban Liang tidak menjadi gusar, bahkan sebaliknya, dia tertawa lebar.

"Bagus Kau lihat saja nanti " katanya. "Selama hidupku aku selalu berbuat baik, aku biasa membantu si lemah menindas si kuat, selama itu hampir tak ada orang Rimba Persilatan yang memuji aku tapi aku tidak menghiraukannya Sekarang, setelah hampir tiba saatnya aku masuk kedalam liang kubur, aku akan muncul pula, mesti aku melakukan sesuatu yang menggemparkan " Dia tertawa pula, terus dia menengadah, dan akhirnya menambahkan : "Selama beberapa puluh tahun yang terakhir ini, diantara pelbagai peristiwa, peristiwa Coh Kee Po adalah yang paling hebat, jikalau aku dapat mencuci bersih penasaran itu, puas hidupku, matipun aku rela "

Kembali si tua itu tertawa, suatu tanda dia gembira sekali. Siauw Pek memberi hormat pada jago tua itu.

" Loocianpwee baik sekali " katanya. " Loocianpwee, terimalah hormatku "

"Tak usah kau berterima kasih padaku," berkata orang tua itu. "Meski aku bekerja untuk keluargamu tetapi sebenarnya untuk peri keadilan, untuk peri kemanusiaan " Kho Kong melihat langit.

"Sang malam bakal lekas tiba," katanya. "sekarang kita masih belum tahu tempat berapat pihak empat partai itu, aku kuatir nanti lenyap kesempatan kita..."

"Benar," kata si jago tua. "Aku kenal hampir semua bagian gunung ini, marilah kita mencari, mungkin tak sukar menemukan tempat musyawarah mereka itu"

"Loocianpwee telah lama tinggal disini, tahukah loocianpwee kalau kalau disini berdiam seseorang atau suatu rombongan ?"

"Sampai sebegitu jauh, tidak-" sahut Ban Liang. "Entahlah kalau yang baru datang." Kho Kong mengawasi orang tua itu, sekarang dia berkesan baik,

"Kita harus waspada dan berhati hati," Ban Liang memberitahu. "Andaikata ada rombongan yang berdiam disini, sebaiknya jangan kita bentrok dengannya kecuali terpaksa."

"Loocianpwee benar," Oey Eng setuju.

"Sekarang," kata Ban Liang pula, "kiranya perlu segera mencari tahu tempat musyawarah keempat partai. Menurut dugaanku, mereka berapat mengenai urusan Pek Ho Po..." Oey Eng mengangguk.

"Kapankah loocianpwee hendak bertindak ?" tanyanya. "sekarang juga Setujukah kamu ?"

"Kami selalu bersedia," kata Oey Eng. Ban Liang tersenyum, lalu ia berangkat.

Inilah tidak disangka Oey Eng, yang segera menyusul, demikianpun kedua kawannya.

Mereka berlari lari mendaki, sijago tua selalu berada didepan. Sesampainya mereka diatas puncak. magrib pun tiba.

Ban Liang memandang kesekitarnya, lalu ia menunjuk kesatu arah.

"Jikalau terkaanku tidak meleset, mereka tentu berkumpul disana, dipuncak Ciong Gan Hong itu" katanya sejenak kemudian-

"Apakah dasar alasan locianpwee ?"

"Puncak itu tinggi, curam dan sulit didaki .Jalan naik cuma sebuah jalan kecil, maka jalan itu mudah untuk dijaga. Buat merundingkan soal rahasia, Ciong Gan Hong paling tepat."

"Andaikata mereka tidak berada disana?" tanya Kho Kong. "Mungkin di lembah Wan Ciu Kan."

"Jika begitu, sekarang mari kita pergi ke Ciong Gan Hong dahulu," mengajak Siauw Pek.

"Baik, marilah " berkata Ban Liang. "jalanan berbahaya, berhati hatilah " Kembali jago tua ini jalan di muka.

Jalan mendaki, benar benar meminta tenaga dan kewaspadaan, karena sulitnya, karena cuacapun sudah guram. Dan pula Ciong Gan Hong terpisah jauh, walau tampaknya dekat. Selang satu jam lebih, barulah mereka sampai dikaki puncak. Oey Eng dan Kho Kong bernapas sengal sengal dan bermandikan peluh, Ban Liang dan Siauw Pek lumayan saja.

"Kuat sampai dijalan kecil untuk mendaki itu, kita perlu jalan lagi kira kira tiga lie." berkata Ban Liang, "maka itu baik kita beristirahat dahulu sebentar."

"Kalau benar empat ketua partai itu berada diatas puncak. mungkin kita bakal melakukan pertempuran," berkata Kho Kong, " karena itu perlu juga kita mengaso sebentar disini."

Ban Liang merasa letih jua, ia lantas mendahului duduk bersemadhi.

Kira kita satu jam lamanya rombongan ini beristirahat, kemudian mereka mulai pula dengan perjalanan mereka. Sekarang mereka mendapat tenaga baru. Tak berapa lama, tiba sudah mereka dijalan kecil yang ditunjuk itu.

"Loohu akan jalan di muka, kamu bertiga berhati hatilah," pesan sijago tua, yang mulai mendaki jalan kecil itu. "Usahakah supaya kita jangan menerbitkan suara suara." Siauw Pek bertiga memberikan janjinya.

Puncak Ciong Gan Hong tinggi beberapa ratus tombak, empat penjurunya berupa seperti tembok dan berlumut juga, sukar orang mendakinya kalau tidak ada jalan kecil itu.

Jalan kira kira baru setengah, mendadak Ban Liang berhenti maju lebih jauh, terus dia melompat kesisi, untuk bersembunyi dibalik sebuah batu besar.

Melihat itu, Siauw Pek turut berhenti seraya memberikan isyarat kepada kedua saudaranya, untuk mereka juga berdiam, setelah mana ia mengawasi tajam kearah depan-Cahaya bintang membantunya. Sejauh delapan tombak. dibawah pohon cemara, di atas sebuah batu yang besar, tampak seorang pendeta lagi duduk bersila. Dia mengenakan jubah abu abu, didepannya terletak senjatanya, sebatang tongkat yang berkilauan "Benarlah disini," pikir si pemuda ini, yang terus menghampiri Ban Liang. Ia berbisik :

"Rupanya pendeta dari siauw Lim Sie..."

"Benar, dia menjaga disini, itu artinya tak ada jalan lain Untuk sembunyipun sukar."

"Habis bagaimana?"

"Kita harus sergap dia agar sekali pukul dia terbinasa. Ditangan begitu kita baru bisa mencegah dia memberi isyarat kepada kawan kawannya..."

Siauw Pek berpikir. Melihat jaraknya itu, pendeta itu tak dapat diserang sekalipun dengan senjata rahasia.

"Apakah kau pandai menggunakan senjata rahasia ?" tanya Ban Liang, yang melihat ke sekitarnya.

Siauw Pek menggeleng kepala. Tiba-tiba ia ingat Thio Giok Yauw, yang liehay senjata rahasianya.

"Jikalau begitu, terpaksa aku mesti turun tangan," kata Ban Liang. "Dengan jalan Pek Houw Kang, akan aku dekati dia. Aku pergi dari sebelah kiri sana. Kalau aku memberi tanda, kau segera berupaya menarik perhatiannya supaya dapat aku membokongnya." Siauw Pek melihat kesebelah kiri. Tebing licin sekali.

"Mana bisa loocianpwee yang pergi ke sana," kata ia, "baiklah aku saja."

Ban Liang tidak dapat menjawab, kesatu, ia tidak bisa membuka suara keras, kedua tak dapat ia menyusul dan menarik tubuhnya. Ia segera bersiap sedia. Dikeluarkannya dua biji Cu-ngoteng, senjata rahasianya.

Walau percobaan itu berbahaya, Siauw Pek tidak menghiraukan Ia lagi bekerja guna menuntut balas ayah bunda dan semua keluarganya. Kalau ia terpergok sebelum ia datang cukup dekat, sungguh berbahaya... Pemuda ini juga mengerti Pek Houw Kang, Ilmu Cecak. yaitu semacam ilmu untuk jalan merayap di tembok. Semacam ilmu yang membutuhkan tenaga dalam yang mahir.

Pendeta itu duduk bersila dengan mata meram dan tubuh tak bergerak. ketika Siauw Pek berhasil melewatinya, dia masih berdiam terus. Si anak muda heran Pada saat ia hendak menyerang, tiba tiba ia merobah pikirannya. Inilah disebabkan kecurigaannya. Kenapa pendeta itu berdiam terus sedang mestinya dia liehay ?

Biar bagaimana, Siauw Pek tidak dapat membuang waktu. Batal menyerang dengan serangan maut, ia berlompat untuk menotok kin keng hiat, jalan darah pendeta itu. Tepat serangan itu, segera tubuh si pendeta roboh.

Justru itu, sadarlah Siauw Pek kenapa si pendeta mirip patung.

Ternyata dia sudah tidak mempunyai tenaga perlawanan-

Maka dia menyambar jubahnya, untuk menahan roboh tubuhnya itu. Ban Lian bertiga melihat berhasilnya kawan itu, lalu ia lari menghampiri.

Siauw Pek menaruh tangannya dihidung orang itu, ia merasai jalannya napas perlahan. Ia tahu, orang telah ada yang mendahului menotoknya. Ban Liang menunjukkan jempolnya.

"Saudara yang baik, aku si tua sangat kagum terhadapmu," pujinya.

"Inilah bukan jasaku, locianpwee," kata Siauw Pek terus terang. "Dia telah ditotok orang lain-"

Orang tua itu melengak.

"Apa? Ada orang yang telah menotoknya?" tanyanya, matanya membelalak.

"Benar" si anak muda mengangguk.

"Siapa yang demikian liehay?" Ban Liang menggumam. "Kalau begini, telah ada orang lihay yang mendahului kita mendaki puncak ini." "Boanpweepun memikir demikian-" Ban Liang berpikir.

"Baik kita cocokkan lagi dia ditempatnya, baru kita mendaki terus," kata dia.

Siauw Pek setuju. Mereka lalu bekerja. Kemudian si anak muda berkata: "Mari boanpwee yang jalan didepan"

Sesudah melalui tiga atau empat puluh tombak. jalanan kecil yang sempit itu telah sampai diujungnya, memperlihatkan sebuah lembah yang lebar, yang tanahnya batu karang datar. Siauw Pek menghunus pedangnya, baru ia melompat ketanah datar itu.

Menyender pada batu gunung yang berupa tembok. tampak dua orang toosu, atau imam, kaum Too Kauw. Yang dikiri tengah memegang gagang pedang, yang dikanan sudah mencabut  sebagian dari pedangnya. Angim malam membuat jubah mereka bergerak gerak. akan tetapi tubuh mereka diam seperti patung. Ban Lian lompat mendekati, untuk mengawasi.

"Mereka ini juga korban totokan," katanya. " Entah siapa orang gagah itu.jangan jangan kalau nanti kita dipuncak. disana sudah terjadi pertarungan yang seru sekali."

Siauw Pek juga berpikir. Ia berkhayal : Jangan jangan akan terulang peristiwa seperti tigabelas tahun yang lampau, yang menyebabkan musnahnya Pek Ho Po. Pikirnya lebih jauh. Kali ini mungkin akulah yang memegang peranan-.."

Ban Liang, yang luas pengalamannya, melihat anak muda berpikir. Ia segera kata perlahan, "Jangan banyak pikir saudara kecil Keempat partai sudah berpengalaman, mestinya mereka telah mengatur persiapan yang ketat, biar orang liehay sekali tak mungkin dalam waktu singkat dia dapat membinasakan keempat partai  belum tahu ada orang yang sudah menyelundup masuk..." Siauw Pek mengangguk.

Ban Liang mengawasi kedua imam, ia berkata. "Baik kita pakai jubahnya itu, untuk dapat bercampur baur dengan mereka..." Siauw Pek setuju, bahkan ia terus turun tangan, akan membuka jubah kedua imam itu, untuk berdua Ban Liang memakainya. Maka, melihat dua orang kawan itu Oey Eng dan Kho Kong tersenyum.

"Sayang cuma ada dua perangkat," kata Oey Eng.

"Tapi kita hanya hendak membuat penyelidikan," berkata Ban Liang. "Bagaimana kalau tuan tuan berdua menjaga jalan mundur kali ini?"

Kho Kong tidak setuju dia hendak membantah, tapi Oey Eng mendahuluinya. Katanya: "Loocianpwee benar. Baiklah, kami akan menanti disini." Kho Kong membungkam terus. Ia menahan kemendongkolannya

Kali ini sijago tua yang maju di muka, Siauw Pek mengikutinya. Mereka berjalan dengan menggunakan ilmu ringan tubuh, sama sekali mereka tidak memperdengarkan suara sesuatu. Setelah mendekati puncak. mereka tambah waspada. Sambil bersembunyi dibelakang batu besar, mereka memasang mata.

Puncak Ciong Gan Hong rata, tanahnya berumput, luasnya sekira satu hektar. sekitarnya pohon cemara melulu. Disana sini terdapat batu batu yang bentuknya aneh. Ditengah tengah puncak dibangun sebuah tenda atau kemah dimana tampak cahaya api.

Setelah melihat sekitarnya itu, Siauw Pek melompat kepada sebuah pohon cemara, untuk menjambret cabangnya, dan menyembunyikan diri diantara dahan dahannya yang lebat. Dari yang jauh ini, ia bisa melihat kebawah, ke arah tenda.

Sejauh tiga tombak dari pohon cemara itu, dari belakang sebuah batu besar telihat munculnya seorang imam dengan pedang dipinggangnya. Dia melompat naik keatas batu, untuk memasang mata. Mungkin dia mendengar suara angin dari gerakan sipemuda itu tadi.

"Berbahaya," pikir Siauw Pek. "Ada kemungkinan dia dapat melihat Ban loocianpwee," Maka ia lalu bersiap sedia, asal kawannya terpergok. hendak ia mendahului turun tangan-Terpaksa ia mesti membokong dan membunuh guna menutup mulut lawan, agar kedatangan mereka tidak diketahui.

Sementara itu Ban Liang pun telah mendengar suara sepatu, ia memutar tubuh, untuk berlompat, guna menyembunyikan diri disebuah pohon. Siauw Pek melihat gerak gerik kawan itu, ia kagum. " Dasar orang Kang ouw berpengalaman" ia memuji.

Dari atas batu, si imam melompat turun, untuk jalan dijalan kecil. ia tidak jalan terus hanya ia belok kearah barat.

siauw Pek mengawasi, ia beragu untuk turun tangan ia belum tahu pihak partai partai besar itu terdiri dari berapa banyak jago. Selagi ia ragu ragu itu, si imam sudah lenyap...

Sambil mengawasi tenda, Siauw Pek ingat akan kebinasaan hebat dan menyedihkan dari ayah bunda dan saudaranya, tiba tiba darahnya bergolak.

"Aku telah tiba disini, mana dapat aku berlalu dengan tangan kosong ? peduli apa aku dengan ancaman bahaya ?"

Maka ia melompat turun dari atas pohon untuk bertindak kearah tenda. ia telah mendapat pikiran buat menyelundup masuk kedalam kemah itu. ia sudah mendekat lagi dua tombak. Tidak ada orang yang muncul dan merintanginya.

Kemah itu lebar satu tombak persegi. Kain tendanya tebal, hingga orang tak dapat melihat kedalam kecuali sinar apinya yang menyelinap keluar.

Dengan tindakan berhati hati siauw Pek mengelilingi kemah itu. Masih juga ia tidak menemukan orang. Sedangkan si imam, yang tadi melakukan pengawasan, entah telah pergi kemana. Melihat demikian, dengan berani si anak muda menuju ke muka kemah. Lagi dua tindak akan dapat ia menyingkap pintu kemah. ia berdiri beberapa lama, lalu ia maju satu tindak lagi, tangan kirinyapun diluncurkan, guna menyingkap pintu kemah, akan tetapi mendadak telinganya itu mendengar suaranya Seng Supoan. "Ada orang Lekas menyingkir" Tanpa berpikir lagi, ia melompat mundur, untuk terus bersembunyi dibelakang sebuah batu besar.

Lekas sekali, dua bayangan orang berkelebat terus lenyap. lenyap naik keatas puncak.

siauw Pek heran Ia berpikir keras. Tapi tidak ada kesempatan buatnya berpikir lama. Dua sosok bayangan itu, yang agaknya berpakaian serba hitam, dengan segera menghampiri kemah. Baru sekarang terlihat bahwa pakaian mereka berdua berlainan, hanya dipunggung mereka tergendol pedang. Tiga tindak dari kemah, mendadak mereka itu berhenti, untuk berdiri tegak. Mungkin mereka itu bercuriga, sebab suasana yang agak kurang tepat...

Hanya sejenak kemudian, orang yang dikiri nampak kehabisan sabar. Dia menghunus pedangnya, dengan tangan kirinya dia menyingkap pintu kemah untuk segera bertindak masuk ked alamnya.

siauw Pek bukan penghuni kemah akan tetapi menyaksikan gerak gerik orang itu, ia mearsa tegang sendirinya. ia terus memasang mata. ingin ia ketahui ada gerakan apa dari dalam kemah itu.

Dari dalam kemah terdengar dua kali suara seperti saling membentur, perlahan sekali, lalu sunyi pula. orang yang masuk kedalam itu bagaikan batu yang dilemparkan kedalam laut.

orang yang diluar, yang tadi berdiri disebelah kanan, mencabut pedang, untuk melindungi dadanya. Meski demikian, dia berdiri tak bergeming.

Angin gunung, yang datang meniup, menggoyahkan pintu tenda. Angin itu menembus ke dalam, maka terlihatlah, sinar api didalam kemah itu yang bergoyang goyang. Itulah api dari sebuah  lilin besar. Api itu bagaikan sebentar padam sebentar nyala...

Dengan sangat berhati hati, Siauw Pek tindak ke kemah. ia memilih tempat dari mana ia bisa mengintai kedalam kemah itu. Ada terdapat sebuah meja kayu. Diatas itulah lilin besar itu menyala. Disitu tak nampak si baju hitam yang baru saja masuk kedalamnya. orang yang diluar masih menantikannya sejenak lagi, mendadak dia memutar tubuhnya, untuk meninggalkan kemah buat pergi turun dari puncak

"Dia takut, dia pengecut, sampai kawannya dia tinggal pergi," pikir Siauw Pek. Lalu ia mengangkat kepalanya, menengadah langit, mengawasi bintang bintang. Kemudian ia menghela napas perlahan Tiba tiba ia terkejut sendirinya karena mendadak ia ingat, tak mungkinkah kemah ini suatu jebakan belaka ? Apakah pendeta dan imam tadi itu bukan sengaja ditotok. untuk dijadikan semacam umpan, guna mengelabuhi orang yang datang menyatroni kemah  itu ? Tapi, siapakah yang berada didalamnya ? Kenapa dia tidak nampak ? Dimanakah dia sembunyi. Atau, apakah mereka ketua ketua dari keempat partai partai besar itu ? Ataukah dialah orang gagah istimewa yang ditugaskan berdiam didalam kemah ? Dan imam tadi, kemanakah perginya dia ?

Selagi bercuriga dan menerka nerka itu hati Siauw Pek berkobar. Itulah api sakit hati hebat. Kata hati itu : "Tidak dapat dengan begini saja aku mundur dari puncak ini Sekalipun mereka mengatur perangkap. mesti aku masuk dan melihatnya "

Karena berpikir demikian, semangatnya menyala nyala, segera Siauw Pek menghunus pedangnya, lalu dengan tindakan lebar, ia menuju kekemah. Setelah berada dlmulut tenda, la meluncurkan pedangnya, guna menyontek pintu kemah itu

Mendadak lilin didalam kemah itu padam, hingga sekejap itu, gelap petanglah kemah itu Akan tetapi berbareng dengan padamnya api, samar-samar Siauw Pek melihat bahwa dikedua sisi kemah ada duduk bergerombol beberapa orang. Sang gelap gulita membuat segala sesuatu tak terlihat lagi.

Api lilin itu bagaikan padam ditiup angin karena terpentang tersonteknya pintu kemah. Dari dalam tidak terdengar suatu suara juga. Keadaan tetap sunyi senyap. "Mesti ada bersembunyi orang yang liehay." Siauw Pek terus menerka. Selagi kesunyian tetap menguasai kemah, Siauw Pek segera memperdengarkan suaranya yang tinggi : "Aku yang rendah mendengar kabar bahwa ketua-ketua dari empat pay besar telah datang berkumpul di Gunung Lam Gak ini, karena itu dengan sengaja aku datang berkunjung Tuan-tuan, mengapa kamu bersikap secara rahasia begini ? Apakah ini suatu cara untuk tuan rumah menyambut tamunya ?"

Siasat Siauw Pek berhasil. Dari dalam kemah segera terdengar suara yang dalam: "Siapakah kau, tuan? Apakah tuan ada hubungannya dengan Kiu Heng cie Kiam ?"

"Aku yang rendah adalah seorang tak ternama dalam dunia Kang ouw," menjawab sianak muda, "andaikata aku memberitahukan namaku tuan-tuan pasti tak akan mengenalnya. Bukankah lebih baik untukku tidak memberitahukannya ?"

Kembali datang suara dalam dari dalam kemah itu, hanya sekarang suaranya seorang lain : "Diatas puncak Ciong Gan Hong ini telah tersebar orang-orang liehay, maka setelah kau lancang datang kemari kegedung Naga kegua Harimau bagianmu adalah manda untuk diringkus Kenapa kau tidak lekas lekas meletakkan senjatamu

? Apakah kau hendak menanti sampai kami yang turun tangan ?" Suara itu dingin akan tetapi Siauw Pek tidak jeri.

"Aku telah datang kemari, sewajarnya aku tidak takut" sahutnya. "Buat meletakkan senjataku, itulah harapan sia-sia belaka darimu "

Kembali suara dari dalam kemah, suara yang parau : "Kau menoleh kebelakang, setelah itu kau boleh memikir untuk menentukan sikapmu "

Siauw Pek berpaling dengan cepat. Maka ia melihat kebelakangnya, sejauh tujuh kaki, berdiri tujuh orang, yang entah kapan munculnya, yang dua adalah pendeta-pendeta yang  mencekal tongkat, yang tiga imam-imam dengan pedang ditangannya masing-masing. Yang dua lagi bukan orang-orang beribadat, mereka ini juga memegang senjata. Tujuh orang itu mengambil sikap mengurung ditiga penjuru. "Ya, aku telah melihat" kata Siauw Pek kemudian, suaranyapun tawar.

"Kau telah melihat tetapi masih tidak mau melemparkan pedangmu " kata si suara parau, "Mungkinkah kau memikir untuk mampus ?"

Mendadak Siauw Pek mendongak sambil memperdengarkan suara bagaikan mendesir, terus ia berkata: "Jikalau ada salah seorang tuan yang percaya dirinya sanggup merampas pedang di tanganku ini, silahkan dia keluar. Jikalau kami memikir buat aku sendiri yang melemparkan pedangku ini, itulah sia sia belaka, tak guna membuka mulut dan menggoyang lidah "

"Sungguh keras kepala" seru suara dari dalam kemah.

Sementara itu Siauw Pek sudah memikir untuk mencoba pedang atau goloknya, guna menunjukkan kewibawaan gurunya. Maka ia berkata : "Aku telah datang kemari, maka buatku hidup atau mati sudah tak kupikirkan lagi "

"Amida Buddha " terdengar puji dari dalam kemah terahasia itu. " Walaupun kami menjunjung peri kemanusiaan akan tetapi kami tidak dapat memberi ampun kepada orang yang memegang golok jagal, oleh karena siecu enggan meletakkan senjatamu, baiklah, loolap bersedia akan mengiringi kehendakmu"

Siauw Pek tidak menghiraukan suara itu. "Sebenarnya, siapakah kau?" tanyanya dingin.

"Loolap adalah It Tie dari Siauw Lim Pay" sahut suara dari dalam kemah itu.

"Jadi kaulah si pendeta kepala dari siauw Lim Sle ?" Siauw Pek menegasi.

Siauw Lim Sie adalah pusat Siauw Lim Pay (Sie adalah kuil, dan Pay partai)

Nama siauw Lim Pay sangat terkenal dan dijunjung dalam dunia Kang ouw, kalau ada seorang pendeta Siauw Limi sie yang mengembara, umum menghormatinya dan memanggilnya "tay-su", guru besar. Tetapi Siauw Pek menyebutnya pendeta (hweesio atau hoosiang), itulah tanda tidak hormat. Maka pendeta yang disebelah kiri menjadi gusar, segera dia membentak : "Manusia sombong Bagaimana kau berani menghina ketua kami " Lalu dengan tongkatnya dia menyerang.

Siauw Pek telah mencekal pedangnya, ia menangkis serangan  itu, membuat tongkat itu terpental.

"Aku belum bicara habis" bentaknya. "Jikalau kau hendak berkelahi, tunggu sampai aku selesai bicara, masih belum terlambat."

Ketika itu terdengar suara It Tie: "Benar, pinceng adalah ketua dari Siauw Lim Pay "

"Pinceng" adalah sebutan umum dari bangsa pendeta untuk membahasakan dirinya sendiri. " Loolap" biasa dipakai oleh pendeta yang telah lanjut usianya.

Lalu terdengar suara dingin semula : " orang ini sangat sombong, dia tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, baiklah tooheng jangan melayani dia mengadu lidah "

Siauw Pek tidak puas dengan kata-kata orang itu, akan tetapi ia masih dapat berlaku sabar, maka ia berkata : "Aku tidak peduli kamu telah menyembunyikan beberapa banyak orang liehay diatas puncak Ciong Gan Hong ini, aku bersedia untuk melayaninya, cuma sebelum aku turun tangan, aku hendak bertanya jelas dulu perihal diri kamu semua Nah, siapakah kau ?"

"Pinto adalah Gouw In Cu ketua Bu Tong Pay " sahut suara dingin tadi.

"Pintoo" adalah sebutan umum untuk kaum imam membahasakan dirinya, seperti "pinceng" atau " loolap" untuk para pendeta penganut Sang Buddha.

"Apakah ketua Ngo Bie Pay berada disini?" Siauw Pek tanya pula. "Apakah gelarnya ?" Segera terdengar suara yang parau: "Pinceng ialah Hoat Ceng"

Menyusul itu terdengar satu suara lain: "Loohu Siang Hin ketua dari Khong Tong Pay"

Lalu terdengar pula suara It Tie, "Kami telah berada disini.

Sekaranglah giliran siecu memperkenalkan dirimu "

Siauw Pek berdiam sejenak. lalu dia menyahut dalam "buat sementara ini, maaf, belum dapat aku yang rendah menyebut she dan namaku "

"Siecu kecil, kau pandai main rahasia " It Tie menegur. "Tidakkah caramu ini jenaka dan mendatangkan buat tertawaan ?"

Siauw Pek memperdengarkan tawa dingin. Ia berkata pula: "Suatu rahasia Rimba Persilatan dahulu hari telah membuat tuan tuan senantiasa khawatir, bagaimanakah rasanya itu selama bertahun tahun ?"

Sekian lama kemah sunyi, baru kemudian terdengar suara Gouw In Cu: "Sebenarnya, siapakah kau? Jikalau kau tetap tidak sudi memberitahukan she dan namamu, jikalau kau masih main rahasia rahasiaan, jangan kau sesalkan bahwa kami berlaku telangas"

Rupa rupanya, untuk mengeluarkan kata kata itu, keempat ketua partai itu sudah bermupakat terlebih dahulu.

Dada Siauw Pek terasa panas, rasa sakit hati bagaikan terus membakarnya. Kembali ia memperdengarkan desis yang agak lama, lalu ia berkata: "Kamu mempunyai cara kejam apa jua, silahkan keluarkan, supaya dapat aku memberi hajaran kepada kami semua kawanan bisul yang mengandung nanah "

Rupanya hebat kata kata ini, yang membangkitkan hawa amarah, maka dari dalam kemah segera keluar perintah nyaring: "Baik Nah, kamu bergeraklah "

Pendeta yang dikiri tadi sudah beberapa lama menahan sabar, begitu dia mendengar perintah itu, segera dia melompat maju sambil menyerang dengan tongkatnya. Begitu kuat dia menggunakan tenaganya, tongkat itu sampai memperdengarkan suara anginnya. Dialah yang tadi tersampok tongkatnya oleh  pedang si anak muda.

Dengan sebatnya Siauw Pek menangkis, membuat tongkat orang mental balik kembali

Itulah sebuah tangkisan ilmu pedang Tay pie Kiam hoat dari Kie Tong, yang digunakan si anak muda secara sempurna. Setelah itu, beda dari semula tadi, kali ini Siauw Pek membalas menyerang.

Pendeta itu terkejut, dia melompat mundur. Tiga imam turut mundur juga disebabkan herannya atas serangan itu. Hanyalah pendeta yang satu lagi justru maju dengan serangannya.

Siauw Pek tertawa dingin, ia berkata: " Kiranya orang orang sembilan partai besar cuma pandai main keroyok " berkata begitu, ia menangkis, lalu terus dia menyerang, menusuk lengan kanan si pendeta

Sampai disitu, bertiga mereka bertempur. Kedua pendeta dapat bekerja sama, dan Siauw Pek berhasil melayaninya, bahkan sering  ia membuat lawannya mundur.

Cepat juga kedua pendeta itu terkurung sinar pedang, kecuali menangkis dan berkelit, tak berdayalah mereka. Hal itu membuatkan heran ketiga imam serta dua kawan lainnya, orang orang bukan pendeta maupun imam itu.

Yang amat mengherankan yaitu walaupun Siauw Pek nampak dapat mencelakakan kedua lawannya, toh sering ia tidak menggunakan kesempatannya itu untuk merobohkan musuh, ia justru membebaskannya Pula, makin lama semakin lincah.

Lewat sepuluh jurus lebih mendadak kedua pendeta itu melompat keluar kalangan, wajah mereka guram, terus dengan perlahan mereka berkata: "Kami bukanlah lawan siecu, terima kasih atas budi kebaikanmu"

Siauw Pek pun segera berhenti, ia tidak berkata apa apa. "Sekarang giliran kami mohon pengajaran" berkata seorang diantara ketiga imam usia setengah umur itu.

"Silahkan, ketiga tuan tuan" Siauw Pek menyambut.

Ketiga imam segera mengambil tempat di tiga penjuru, terus yang disebelah timur mulai dengan tikaman pedangnya. Maka segera mulailah pula pertempuran main kepung itu.

Siauw Pek tidak beristirahat lagi. Ia terus bersilat sama lincahnya seperti tadi.

Ketiga imam yang telah menonton tadi mereka berlaku gesit dan waspada. Segera juga mereka heran dibuatnya. Setiap kali mereka menikam, setiap kali pedang mereka kena disampok terpental. Mereka melihat lowongan tetapi tidak berhasil menyerang lowongan itu. Pemuda itu awas dan licin sekali, dan pedangnya sangat sebat.

Ketiga imam dapat bekerja sama seperti kedua pendeta tadi, rapat kepungan mereka. Mulanya Siauw Pek repot, tetapi selang lima jurus ia dapat menguasai pula gerakan gerakannya. Ketika sampai jurus kesepuluh, ketiga imam segera terkurung sinar pedang, tak berdayalah mereka. Akan tetapi aneh si lawan yang muda ini, selalu tidak mau menggunakan kesempatannya untuk melukai lawan lawannya. cara berkelahinya tenang tetapi sebat seperti ia melayani kedua pendeta tadi.

Begitu memasuki jurus belasan, imam yang ditimur itu melompat keluar dari kalangan-Sembari menyimpan pedangnya, dia menyerukan dua kawannya: " Kedua suheng, jangan berkelahi terus. Walaupun kita belajar lagi sepuluh tahun, kita bukanlah lawan pemuda ini"

Maka berhenti jugalah kedua imam lainnya. Setelah menyimpan pedang, mereka memberi hormat pada Siauw Pek seraya berkata: "Siecu liehay, kami bukan tandinganmu"

"Ketiga totiang cuma mengalah saja." sahut si anak muda. Didalam hati, ia merasa heran bahwa juga lawan lawan ini mundur teratur. Ia cuma merasa bahwa ia bersilat menuruti ajaran gurunya, melakukan setiap jurus dari ilmu pedang Maha Kasih.

Imam yang ditimur itu berkata pula: "Kami bertiga telah melatih diri dalam ilmu menyerang serentak. kami telah menghadapi lawan tak sedikit, akan tetapi belum pernah kami menemui yang seperti siecu, maka itu, kami rela menyerah kalah, menyerah dengan setulusnya."

Siauw Pek berkesan baik terhadap ketiga imam itu. Ia membalas hormat seraya bertanya: "Tootiang, adakah tootiang bertiga murid murid Bu Tong Pay?"

Ketiga imam saling melirik, yang ditimur menjawab: "Benar, siecu. Rupanya siecu mengenali kami dari gerak gerik ilmu pedang kami."

Siauw Pek tidak menjawab, hanya di dalam hatinya ia berkata: "Bukan. Andaikata kamu dari Kun Lun Pay, aku toh percaya juga."

Inilah benar. Selama lima tahun, pemuda itu cuma mendalami ilmu pedang dan golok, tentang ilmu silatnya lain lain partai, ia tidak tahu menahu.

Sampai disitu terdengar salah satu dari dua orang yang imam bukan dan pendeta bukan itu berkata "Kedua taysu dari Siauw Lim Sie dan ketiga tootiang dari Bu Tong Pay telah kalah dari pedang siecu, maka kami berdua saudara tak selayaknya kami mengajukan tantangan, akan tetapi kalau kami mengaku kalah sebelumnya bertempur, kami tidak puas..."

"bagus" sambut Siauw Pek. "Jika tuan tuan berdua tidak puas, silahkan coba coba"

"Kami bukanlah lawan tuan, hanya kami kecewa bila tidak main dengan tuan yang berkepandaian tinggi itu," berkata pula orang itu yang terus maju sambil mengangkat goloknya.

"Tuan tuan, tunggu sebentar" Siauw Pek mencegah. "Aku ingin bicara dahulu." "Apakah pengajaranmu itu, tuan? Kami bersedia mendengarnya." orang itu batal menyerang.

"Apakah tuan tuan terhitung anggota kesembilan partai besar?" orang itu mengangguk. Dia menunjuk kepada kawannya

"Bersama kakak Leng ini kamilah orang orang Khong Tong Pay."

Siauw Pek memandang kearah kemah, ia berkata: " Karena aku menyangsikan sesuatu, sengaja aku datang kepuncak ini, maksudku ingin menanyakan kalau kalau ketua dari keempat partai Siauw Lim, Bu Tong, Ngo Bie dan Khong Tong Pay telah hadir semua disini. Adakah mereka semua didalam kemah itu?"

"Tidak salah, ketua kami ada dikemah."

"Kalau ketua Khong Tong ada, tentu ada juga ketua ketua dari ketiga partai lainnya," pikir Siauw Pek, yang terus: "Rupanya tuan tuan bertugas menjaga kemah ini, karenanya apabila aku tidak mengalahkanmu, pasti kamu tidak akan mengijinkan aku masuk kedalam kemah. Nah, silahkan" Orang itu mengangguk.

"Kami akan maju berdua bersama, diharap siecu bersedia." kata orang Khong Tong Pay. Dia maju saking terpaksa, sebab dia sedang menjalankan tugas. Tanpa bertempur dahulu, tak layak mereka mengalah. Terus dia menyerang.

siauw Pek menyambut. Setelah menang dua kali hatinya menjadi semakin mantap. ia merasakan bagaimana hebatnya ong Too Kiu Kiam ilmu pedangnya Kie Tong itu.

Keuda lawan itu bersenjatakan golok Gan leng too, mereka maju dari depan dan belakang berbareng.

siauw Pek menangkis dengan gerakan satu jurus, dari depan diteruskan kebelakang, setelah itu ia mendesak.

Dua jago Khong Tong itu membuat perlawanan keras, mereka menangkis dan menyerang, merekapun mencoba merangsak. akan tetapi Siauw Pek merintangi setiap serangan mereka. setelah lima jurus, ia mulai mendesak orang akhirnya tak berdaya sama sekali, maka akhrinya, serentak keduanya lompat mundur.

"Tuan, ilmu pedangmu liehay, kami mengaku kalah," kata orang yang pertama bicara tadi.

Siauw Pek berhenti bersilat.

"Tuan tuan mengaku kalah, itu artinya kita tidak bertempur terus," katanya.

Ketiga rombongan itu tidak dapat menangkap arti kata kata si anak muda, hampir serentak mereka berkata: "Kami patuh terhadap aturan kaum Kang ouw, karena kami sudah tidak sanggup melawan lebih jauh, sendirinya kami tidak akan berkelahi pula."

"Baiklah kalau begitu " berkata siauw Pek. "Sekarang silahkan tuan2 mundur beberapa tindak, aku ingin bertemu dengan ketua ketua kamu untuk berbicara"

Kedua pendeta, ketiga imam, dan kedua orang Khong Tong itu berdiri menjublak, tak tahu mereka harus berbuat bagaimana.

siauw Pek tidak menanti jawaban, dengan pedang melintang didepan dadanya, ia memutar tubuh kearah kemah, lalu berkata: "para ketua, aku yang rendah mempunyai urusan, aku mohon bertemu, tetapi jikalau permohonanku ini ditolak. maaf, jangan sesaikan aku, hendak aku masuk dengan cara paksa "

Dari dalam kemah terdengar suara yang berat tadi: "Kau dapat mengalahkan murid murid kami, itulah menandakan ilmu silatmu yang liehay, yang didalam dunia Kang ouw langka sekali. Gurumu tentulah seorang yang sangat ternama, maka kau sebutkan dahulu she dan nama gurumu itu, baru kami suka menerimamu."

Terhadap ketua ketua keempat partai itu, Siauw Pek berkesan buruk sekali, dia membenci, maka itu dia menjawab dengan dingin. "Kami mau menemui aku, kamu melihat, kalau kamu tidka suka toh kita pasti berhadapan juga Buat sementara ini tak dapat aku perkenaikan guruku" Dari dalam kemah keluar kata-kata dingin ini "Kau sangat tidak tahu aturan Kelak pintoo akan pergi mencari gurumu itu untuk memberi pengajaran kepadanya " Siauw Pek gusar.

"Apakah kau Gouw In Cu?" tanyanya keras.

"Tenaga ingatanmu kuat sekali, memang itulah pintoo" sahut suara dari dalam kemah.

" orang semacam kau mau bicara besar dapatkah ?" kata si anak muda mengejek.

Terdengarlah suara yang parau tadi. "Siecu bicara tekebur sekali Untuk dunia Kang Ouw, inilah sangat langka"

Siauw Pek segera bertindak kearah kemah, tindakannya perlahan Ia waspada.

"Aku yang rendah hendak memasuki kemah, maka kalau tuan tuan hendak menurunkan tangan beracun, silahkan" katanya secara menantang.

Suara parau tadi terdengar pula: "Siecu begini kepala batu, maka janganlah siecu menyesaikan kami apabila turun tangan tanpa kasihan lagi "

siauw Pek memasang telinga. Ia percaya yang bicara itu Hoat Ceng dari Ngo Bie Pay.

Ia berhati hati. Tiba tiba didepan pintu kemah, ia bersiap dengan pedangnya. Ia meluncurkannya dengan perlahan Ia insaf bahwa ketua ketua partai mesti liehay sekali, sedangkan didalam kemah mungkin juga ada bersembunyi orang orang lainnya, pada saat ujung pedangnya menyentuh tenda, mendadak api didalam padam. ia lalu menggertak gigi, segera menyontek mementang tenda, kakinya bertindak maju, masuk kedalamnya.

Tiba tiba ada serangan angin keras yang datangnya dari satu pojok. Siauw Pek hendak menyerang tapi ragu ragu. Maka lekas lekas dikerahkannya tenaga dalamnya untuk menutup jalan darahnya. Dan tolakan angin itu segera mengenai dada dan perutnya.

Menyusul itu dari dalam kemah terdengar tawa dingin dan kata kata, "ini cuma sebuah peringatan saja. Jikalau kau tetap masih tidak tahu maju atau mundur, itu artinya kau mencari mati sendiri"

siauw Pek merasai perutnya nyeri dan matanyapun berkunang kunang. Ia mundur lima tindak. untuk berdiri tegak. untuk mengeluarkan napas. Segera ia berkata: "cuma sebegini saja Masih belum apa-apa"

Jago muda ini telah melindungi dirinya dengan ilmu tenaga dalam ajaran Kie Tong. Guru itu tahu muridnya bakal keluar dari Bu Yu Kok maka ia telah mengajari ilmu itu untuk menjaga diri, supaya murid itu tidak terserang bagian bagian tubuhnya yang lemah. Demikian kali ini, si murid tidak bercelaka karena serangan itu.

Penyerang didalam kemah itu heran bahwa si anak muda dapat bicara demikian sebaliknya dia menyerang itu. Karenanya, dia berdiam saja. Kesempatan ini digunakan Siauw Pek untuk meluruskan pernapasannya, memperkokoh tenaga dalamnya yang baru saja tergempur itu.

Lewat beberapa lama maka terdengarlah suara It Tie Taysu. "Kau dapat menerima pukulan angin Siauw thian Cheepek khong Ciang dariku, itulah pertanyaan bahwa kau liehay sekali. Rupanya kaulah manusia luar biasa. Apakah kau ada hubungannya dengan Kiu Heng Cie Kiam ?"

"SiauwThian Cheepek kong ciang" ialah pukulan angin "Bintang Kecil".

Siauw Pek mengerahkan tenaga dalamnya. Dadanya terasa masih nyeri sedikit, tetapi seluruh tubuhnya sehat seperti sediakala, hatinya lega. Atas pertanyaan sipendeta, ia menjawab, "Aku tidak mempunyai hubungan dengannya." "Jikalau kau tidak punya hubungan dengan kiu heng cie kiam, apa maksudmu malam malam datang ke Ciong Gan Hong ini?"  tanya Gouw In Cu.

"Aku hendak menemui ketua keempat partai " sahut Siauw Pek dingin. "Hendak aku tanyakan suatu peristiwa Rimba Persilatan-"

Didepan kemah terdengar suara tak tegas, mungkin mereka itu sedang berunding.

" Kenapa tuan ketahui kami berkumpul disini?" kemudian terdengar suaranya Goue In Cu.

"Didalam dunia ini ada banyak rahasia yang dianggapnya disimpan secara hati hati tetapi tanpa merasa bocor sendirinya" sahut sianak muda.

"Demikian juga kamu"

"Kau hendak mencari tahu peristiwa Rimba Persilatan apa?" tanya Hoat Ceng Taysu.

"Sebelumnya aku ketemu muka dengan keempat ketua, tak mau aku menyebutkannya." Kembali hening.

" Kenapakah?" kemudian datang pertanyaan pertanda heran "Sebelum aku membuktikan tentang diri keempat ketua, lalu aku

mengatakan sesuatu, bukankah itu berarti membuka rahasia? Itulah tak ada faedahnya."

"Jadi dengan sungguh2 siecu hendak bertemu muka dengan kami?"

"Tidak salah Andaikata keempat ketua tak sudi menemui aku aku akan paksa masuk ke dalam kemah ini "

"Baiklah, kami akan menyingkir dari kebiasaan kami, untuk menemui kau. Tapi ingat, apabila kau bicara hal hal dusta, puncak ini adalah tempat kuburanmu "

Siauw Pek menahan panas hatinya, juga kedukaannya, ia tertawa lama, setelah itu barulah ia berkata keras : "Jikalau kamu adalah ketua-ketua dari keempat partai besar maka malam ini pasti bakal terjadi suatu pertempuran mati hidup. Andaikata aku tak berhasil membunuhmu, kamupun tentu tak akan melepaskan aku "

Segera setelah jawaban ini, didalam kemah terlihat api menyala pula, disusul dengan suara It Tie Taysu: "Silahkan masuk. siecu "

Siauw Pek memasukkan pedangnya kedalam sarung, ia menyingkap tenda, terus ia bertindak masuk. segera dilihatnya dua orang pendeta, seorang imam serta seorang dengan dandanan biasa, lagi duduk bersama, sedangkan disisi mereka rebah beberapa tubuh dengan seragam hitam. Didalam sekejap. sianak muda mengenali orang-orang Klu Heng cie Kiam.

Dihadapan keempat ketua partai itu ada sepotong batu rata, diatas itu terletak sepasang lilin besar, yang apinya menerangi seluruh kemah itu.

Pendeta yang duduk bersila disebelah kiri, bermuka persegi lebar, beralis tebal, dengan jubah warna kuning, merangkap kedua belah tangannya dan berkata: " Loolap It Tie dari Siauw Lim-sie."

Disisi ketua siauw lim-pay ini, seorang imam setengah umur, segera menyambung: "Pinto Gouw In Cu."

"Pinceng IHoat Ceng ketua Ngo Bie-pay," berkata orang yang ketiga, seorang pendeta denganjubah abu-abu.

"Aku yang rendah ialah Shie Siang Hin dari Khong Tong-pay," berkata orang yang keempat, yang janggutnya panjang, berpakaian jubah hijau. Siauw Pek menatap keempat orang itu.

"Maaf, aku yang muda tak memberi hormat" katanya. Gouw In Cu mengerutkan keningnya.

"sekarang tuan kuharap kau menyebut she dan namamu " katanya.

"Tak usah menanyakan she dan namaku " sahut Siauw Pek tenang, "sebentar juga tuan-tuan akan ketahui sendiri." "Kalau begitu, siecu silahkan bicara" berkata It Tie, "peristiwa apa itu yang siecu hendak tanyakan ?"

Siauw Pek menguatkan hati, menahan dadanya yang bergolak. Ia tidak menjawab, hanya bertanya: "Bukankah tuan berempat belum lama menjadi ketua-ketua partai ?"

"Mustahilkah pertanyaanmu ini ada hubungannya dengan peristiwa yang hendak kau tanyakan itu?" tanya pula Shie Siang Hin heran-

"Pasti ada!" jawab Siauw Pek. "Aku mencari tahu peristiwa di pek hopo dimana didalam satu malam saja seratus lebih jiwa penghuninya mati terbinasakan"

Keempat ketua itu semua duduk terpekur. Itulah pertanyaan yang tidak pernah sangka.

"Kau punya hubungan apa dengan keluarga coh ?" kemudian tanya Gouw In Cu, yang tersadar paling dulu, "apakah maksudmu menanyakan peristiwa itu?"

Hoat ceng Taysu turut bicara. Katanya: "Kau telah berani mendekati puncak Ciong Gan Hong ini, seorang diri kau berani memasuki kemah kami, mestinya dari siang siang kau sudah bersiap sedia. Karena itu sebenarnya tak usah kau memegang rahasia tentang she dan nama serta asal usulmu lagi "

Tidak ada halangannya untuk memberitahukan kami, kata Siauw Pek akhirnya. "Aku yang rendah she Coh bernama Siauw Pek "

"Coh Siauw Pek?" It Tie mengulangi, "kau pastilah turunan keluarga Coh."

"Tidak salah," sahut sianak muda, keren, kemudian, "dari sembilan pay besar bersama emapt bun, tiga hwee dan dua pang, semua turut di dalam penyerbuan atas Coh Kee Po itu, membasmi keluarga Coh, maka itu aku hendak mencari siapa yang bersangkut paut itu untuk mereka mengganti jiwa

"Hubungan apa kau dengan coh Kam Pek ?" Gouw in cu tanya. "Ayahku almarhum "

Imam dari bu-tong-pay itu mengangguk.

"Kami telah menanya cukup," katanya. "Nah, tuan, kau ingin bicara apa lagi ?"

"Peristiwa hebat Coh Keepo itu terjadi disebabkan urusan ketua kamu masing-masing," berkata Siauw Pek, "ialah ketua kalian ada yang binasakan secara tiba-tiba Benarkah itu?"

"Benar" sahut It Tie. "Dikolong langit ini, semua orang mengetahuinya"

" Dahulu itu ketua kalian terbunuh, kenapa kamu justru mencurigai pihak Coh Kee po?" tanya Siauw Pek.

"Hal itu disebabkan ketika itu, yaitu sebelum ketua kami terbunuh, ayahmu kedapatan muncul dipuncak gunung itu. Hal ini sudah tersiar luas, kau tentunya telah ketahui juga, bukan ?"

"Aku tahu. Tapi aku tidak percaya soalnya demikian sederhana" Air muka It Tie Taysu berubah.

"Andaikata kami tuturkan segala galanya dengan jelas, kau toh tidak akan mampu menghidupkan pula almarhum ayahmu itu," katanya, yang terus memandang Gouw in Cu, setelah mana, dia kata: "Sekarang katakan: Kau akan meletakkan sendiri senjatamu dan manda untuk diringkus atau kau hendak bertempur dahulu?"

Tiba tiba saja hati siauw Pek menjadi tenang. Maka ia tertawa hambar dan berkata sabar: "Sang hari masih banyak. taysu, buat taysu terburu nafsu. Aku telah datang kemari, walaupun taysu ingin mengusirku, aku sendiri tak berminat untuk lekas lekas pergi" Sambil berkata begitu, sama tenangnya, si anak muda kemudian berbudak.

Melihat sikap orang muda itu, keempat ketua partai menjadi kagum. Sendirinya mereka menjadi terlambat untuk turun tangan Bahkan Hoat Ceng Taysu menghela napas. Katanya : "Kau masih hendak bicara apa lagi. Silahkan Melihat keberanianmu ini, pantas kau diberi kematian secara terang jelas, supaya kau tak menyesal dan penasaran" Siauw Pek juga menghela napas. ia melegakan hatinya.

"Mungkin juga malam ini, turunan satu satunya dari Pek HoBun bakal mengubur tulang tulangnya dipuncak Ciong Gan Hong ini " katanya. "Jikalau itu sampai terjadi, aku hanya akan menyesalkan kepandaianku sendiri yang belum sempurna dan aku akan mati tanpa penjelasan Hanyalah karena kesangsian didalam hatiku belum terpecahkan, kalau aku mati, tak dapat aku mati meram"

"Baik bicaralah" kata Gouw in ciu.

"Tuan tuan berempat menjadi ketua ketua dari partai besar yang berkenamaan dan dihormati kaum Kang ouw, aku percaya kamu tak mendusta untuk membohongi aku. Kesangsianku itu adalah ini: Katanya pada tiga belas tahun yang lampau itu ketua ketua kamu telah terbunuh oleh ayahku almarhum. Dapatkah tuan tuan memberikan bukti dari tuduhan tuan tuan itu? Jikalau tuan tuan sanggup, maka tak usah tuan tuan turun tangan, aku sendiri akan menghabiskan jiwaku di depan tuan tuan sekarang juga "

"Jangan bicara sembarang, siecu," berkata Gouw in Cu. "Kata katamu ini sangat berat"

"Tetapi Coh Siauw Pek bakal wujudkan apa yang dia ucapkan" si anak muda memastikan-"Tootiang jangan kuatir aku menyangkal. Hanya jikalau tuan tuan tidak dapat memberi bukti, bagaimana tuan tuan akan bertindak terhadap diri tuan tuan sendiri?"

"Anak inilah urusan besar " berkata shie Siang Hin. "orang dengan kedudukan sebagai aku tidak dapat sembarang menerima baik kata katamu ini. Tapi aku berjanji bahwa aku akan bersungguh sungguh memecahkan kesangsianmu itu. Hanya, sebelum aku memberi keterangan, hendak aku menanyakan dahulu sesuatu kepadamu."

"syaratmu ini tidak adil Tapi, mengingat keadaan sekarang, baiklah aku terima " Shie Siang Hin batuk batuk.

"Pada lima tahun dahulu," katanya, " kaukah orang yang telah menyeberangi jembatan Seng Su Kio?"

"Tidak salah, itulah aku"

"Didalam dunia Kang ouw ada cerita bahwa pada beberapa puluh tahun yang lampau dua orang jago Rimba Persilatan, ong Kiam dan Pa Too, semuanya sudah hidup menyendiri diseberang Seng Su Kio itu. Benarkah itu? Apakah sampai sekarang mereka masih hidup?"

"Ya, kedua orang tua itu masih sehat walafiat"

Gouw in Cu dan ketiga rekannya kaget sekali, sampai mereka merasa seperti dada mereka telah digedor orang. Mereka berdiam beberapa lama, kemudian Hoat Ceng Taysu dapat membuka mulutnya lagi.

"Apakah kau telah berhasil menemui mereka itu?" tanya ketua Ngo Biepay itu.

siauw Pek berpikir cepat. "Kedua guruku itu sudah lama mengundurkan diri dari dunia Kang Ouw akan tetapi nama besarnya masih berpengaruh sekali, masih menggetarkan Rimba Persilatan Kalau sekarang aku bicara terus terang tentang mereka, aku percaya tidak akan ada bahaya, bahkan ada faedahnya."

Maka ia menjawab. "Benar Aku telah menemukannya"

"ong Kiam dan Pa Too demikian tersohor, tidak disangka sangka sesudah lewat beberapa puluh tahun sekarang ada orang yang mewarisi ilmu kepandaiannya dan bahkan akhirnya itu telah muncul didalam dunia Kang ouw."

"Jikalau tidak keliru hitung," It Tie turut bicara, "sudah lima tahun siecu tinggal di seberang Seng Su Kio itu."

"Benar Aku yang rendah telah tinggal dilembah Bu Yu Kok selama lima kali musim dingin dan musim panas." Shie Siang Hin batuk batuk perlahan " Waktu lima tahun itu," katanya, "buat seorang yang mempelajari ilmu silat bukanlah di waktu yang lama tetapi juga bukan waktu yang amat pendek. Entahlah tuan, apakah kau telah berhasil mewarisi seluruh kepandaian kedua locianpwee itu ?"

Dengan cepat si anak muda berpikir^ "Hal ini tidak dapat diberitahukan sejelas jelasnya". ia menjawab. "Kepandaian kedua loocianpwee adalah luas dan dalam bagaikan lautan dengan kebaikan hatinya itu, aku telah diberikan keleluasaan belajar sebaik tenagaku sanggup, karenanya, sulit untuk mengatakan berapa banyak aku telah mendapatkannya . "

It Tie Taysu berempat saling mengawasi, semuanya berdiam.

Kembali kemah menjadi sunyi.

Siauw Pek batuk batuk memecahkan kesunyian itu.

"Pertanyaan tuan tuan telah aku jawab," demikian katanya, "maka sekarang telah tiba waktunya buat tuan tuan memberi keterangan kepadaku, supaya kesangsianku dapat dilenyapkan "

Gouw in Cu adalah yang memberikan jawaban Kata dia, "Almarhum ketua kami itu telah mengundang sembilan partai besar serta pemimpin2 dari empat bun, tiga hwee dua pang untuk bermusyawarah dipuncak Yan In Hong, maksudnya ialah untuk melenyapkan segala permusuhan dan perselisihan didalam Rimba Persilatan Itulah cita-cita yang besar dan luhur. Akan tetapi ketika itu ayahmu, tuan, karena urusan pribadi, sudah menurunkan tangan-.."

"Bagaimanakah dapat dikatakan ayahku yang telah menurunkan tangan?" tanya siauw Pek.

"Soal itu kami semua sedang menyelidikinya. Tatkala itu, kecuali ayah dan ibumu, tidak ada lain orang dipuncak Yan in Hong itu."

"Andaikata ayahku kebetulan berada disana, itu belum pasti menjadi bukti bahwa dialah yang melakukan-.." "Jikalau bukan ayah bundamu, tuan, dapatkah kau menunjukkan penjahat yang asli" Shie siang Hin bertanya. Ditanya begitu, Siauw Pek melengak.

"Kalian adalah ketua ketua partai partai besar, kenapa kau bersikap mau menang sendiri?" tanyanya kemudian "Jikalau aku sudah tahu, tidak perlu aku datang mencari kamu puncak Ciong Gan Hong ini,"

"Siecu, apakah kau telah selesai bicara?" tanya Gouw in Cu. "Belum." sahut si anak muda.

"Baik, kami berempat akan bersabar menantikan beberapa detik lagi. Siecu apa pun yang kau hendak bicarakan, silahkan"
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 18"

Post a Comment

close