Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 15

Mode Malam
JILID 15

Pelita itu tidak jatuh ketanah, dengan lincah si pendeta telah menyambutnya.

"Benarkah tidak ada harapan buat saudaraku ini?" tanya Oey Eng amat khawatir.

"Tak dapat loo ceng memastikan," kata si pendeta. "Lihat saja dahulu."

"Tolonglah, loosiansu, kami sangat bersyukur." kata Oey Eng, yang air matanya sudah meleleh keluar.

"Kami bertiga bersaudara angkat tetapi kami seperti saudara kandung," kata Kho Kong, "maka itu, kalau loosiansu menolong kakakku, loosiansu seperti menolong kami bertiga. Itu berarti loosiansu menolong tiga jiwa..."

"Akan loo-ceng coba," berkata pendeta itu, "cuma karena  lukanya parah sekali, mungkin loo ceng tidak berdaya..." " Dalam hal ini loosiansu memerlukan obat apakah?" tanya Oey Eng khawatir. Pendeta itu menghela napas.

"Dia terluka parah karena serangan angin yang beracun, walaupun demikian, dia masih dapat ditolong," katanya. "Yang sulit jalan bahan obatnya. Obatku masih kurang dua macam."

"Obat apakah itu, loosiansu?" tanya Oey Eng. " Itulah obat-obatan yang sulit dicarinya." "Tolong loosiansu sebutkan namanya..."

"Sebenarnya tak ada gunanya menyebut itu. Tapi, baiklah aku memberitahukan juga." Ia menghela napas ia memandang kepada Siauw Pek. Ketika ia melanjutkan, ia berkata perlahan sekali: "Siecu ini adalah seorang yang langka yang pernah kulihat. Untuk belajar silat dia berbakat sangat baik, sayang dia dibatasi oleh umurnya. Andaikata dia dapat hidup lagi dua puluh tahun, pasti dia akan jadi jago nomor satu ."

"Dia memerlukan obat apa, loosiansu?" tanya Kho Kong. "Tolong sebutkan nanti kami berdua pergi mencarinya."

"Mungkin sudah terlambat. Looceng mempunyai semacam pil, tapi ini cuma bisa memperpanjang umurnya lagi tujuh hari Selama tujuh hari itu, kemana kita harus mencari obatnya ?"

" Loosiansu, tolong sebutkan dulu nama obatnya." Oey Eng minta.

"Yang satu bunga cie-yam-hoa," pendeta itu menerangkan akhirnya. "obat itu termasuk zat api, khasiatnya untuk mengusir hawa dingin yang beracun."

"cie yam hoa?" kata Kho Kong terkejut, hatinya tergerak. "Bagaimanakah macamya bunga itu?"

"Bunga itu mirip kembang melati, warnanya ungu tua. Tempat dan waktu tumbuhnya tidak ketentuan. Itulah yang menyulitkan" "Bukankah itu bunga yang aku lihat didalam rimba?" kata Kho Kong didalam hati. Karena ia segera ingat bunga yang dipetik burung tak dikenal itu. Lekas ia bertanya:

"Bunga itu berbau atau tidak?" Pendeta itu menggelengkan kepala.

"Tidak ada baunya. inilah yang menyebabkan orang tidak memperhatikannya."

"Apakah burung menyukai bunga cie yam hoa itu?"

"Ya. Sebenarnya, dalam halnya membaui bunga, manusia dan burung tak dapat disamakan." Kho Kong segera merogoh sakunya, mengeluarkan dua tangkai bunga petikannya. "Loosiansu, bukankah ini bunga yang loosiansu maksudkan?" ia bertanya. Pendeta itu mengawasi bunga tersebut, lalu mendadak dia melompat berjingkrak.

"Tidak salah Tidak Inilah cie yam hoa " serunya. " Inilah obat utama untuk mengusir racun Dari mana kau mendapatkannya ?" Berkata begitu, pendeta itu menatap si anak muda.

"Nanti, loosiansu," menjawab Kho Kong, "setelah loosiansu menyembuhkan kakakku, akan boanpwee antar loosiansu pergi memetik bunga ini." Dengan perlahan, pendeta itu duduk. Nampak dia sangat berlega hati.

"Amida Buddha pujinya. "Sudah empat puluh tahun looceng melatih diri, kenapa looceng masih belum sanggup menyingkirkan ketamakanku?..." Oey Eng heran melihat sikap orang suci ini.

" celaka kalau pendeta ini tak sudi menolong toako..." pikirnya. Maka ia segera menanya: " Loosiansu telah mendapatkan cie yam hoa, bukankah kakakku itu sudah dapat segera ditolong?"

"Sekarang tinggal kekurangan obat yang satu lagi..." sahut pendeta itu.

"Apakah itu, loosiansu?" tanya Kho Kong. Si pendeta menatapnya^ "obat itu bukannya tak ada tempat dan waktu mekarnya seperti cie yam hoa," sahut dia, " walaupun demikian, tak mudah mencarinya..."

Oey Eng berpikir: "Dia bicara tak keruan, mungkin masih ada harapan-" Lalu ia berkata "Loosiansu, tolonglah menunjukkan kami sebuah jalan-.."

"Itulah," sahut pendeta, "ikan tambera emas yang usianya sudah tiga ratus tahun keatas..."

Oey Eng melengak. begitu juga Kho Kong.

"Ikan yang besar mudah dicari tetapi yang setua itu..." katanya. "Bagaimana kita dapat mengenalinya?"

"Bangsa ikan itu ada tiga belas macam, yang dibutuhkan ialah ekor keemas emasan," pendeta menegaskan-

"Seingatku, semua ikan emas merah ekornya..." pikir Oey Eng. Ia berdiam.

Pendeta itu dapat menerka pikiran orang Ia segera memberi keterangan "Yang aku butuhkan ialah yang ekornya keemas emasan itu, ikan mana makin tua umurnya makin tegas warna emasnya. Namanya yang benar ialah kim sian lie atau kim Bwee lie."

"Boanpwee sukar mengenalinya," Oey Eng akui. "Memang juga paling sukar mengenalinya..."

"Tapi, loosiansu," kata Kho Kong bingung, "apakah dengan cie yam hoa saja masih tidak cukup untuk menyembuhkan kakakku?"

Pendeta itu berdiam, matanya dipejamkan Ia seperti tidak mendengar.

Kho Kong mendongkol. Katanya dalam hati: "Eh, pendeta bangkotan, kau main gila, ya kalau kau tidak tolong kakakku, awas jiwamu " Ia mengangkat tangannya, untuk diluncurkan Oey Eng menyambar lengan saudara itu sembari berkata dengan saluran Toan Im Sie sut: "Hati hati, pendeta ini liehay sekali Jangan kau cari penyakit "

Daging di pipi pendeta itu berdenyutan, ia membuka matanya, terus ia berkata: "Kamu mendapatkan cie yam hoa, itu berarti jiwa kamu tidak bakal hilang. Mengenai ikan tambera, dapat aku tunjukkan satu jalan, kamu akan berhasil mendapatkannya atau tidak-itu terserah kepada untung kamu sendiri."

"Tunjukkanlah jalan itu, loo-siansu," Oey Eng minta.

"camkanlah tuan tuan, looceng cuma mengatakan satu kali. Selanjutnya terserah kepada kamu, kamu mengerti atau tidak.Jangan kamu banyak bertanya, tak akan aku bicara lagi "

"Inilah gila" seru Kho Kong didalam hati. "Mana ada aturan macam begini?"

Sisembrono ini mau menanya, tetapi sipendeta mendahului. Katanya: "Empat puluh lie dari sini, disebelah utara sana, ada dua buah pohon murbei yang tua. Kamu lewati kedua pohon itu. Selewatnya jalanan yang penuh rumput dan teduh itu, akan terlihat sebuah jalan kecil..."

Kho Kong batuk-batuk, hingga dia memutus perkataan sipendeta tua.

"Telah aku katakan, jangan banyak tanya kepadaku" memperingatkan pendeta itu. "Kalau tidak. lebih baik kau pergi dari sini " Suara itu bengis dan berwibawa, Kho Kong bungkam.

"Setelah kamu jalan kira kira satu jam, disana kamu akan menemui sebidang tanah berkarang," sipendeta melanjutkan "Disitu terdapan sebuah rumah gubuk. Ingat, biar bagaimana penghuni rumah itu mencaci dan menghina kamu, jangan kamu pedulikan, jangan kamu bentrok dengannya. Lewat dari situ sekarang enam atau tujuh lie, kamu akan sampai disebuah bukit. Dipuncaknya ditengah-tengah itu ada sebuah pengempang luas lima tombak persegi. Didalam peng empang itu dipelihara dua ekor ikan tambera emas itu, kamu ambillah satu ekor, jangan lebih "

Oey Eng heran. Pikirnya: "Aneh pendeta ini Tidakkah dengan begitu kita sudah akan bentrok dengan orang? Kenapa dia tidak mau menjelaskan segalanya?"

Mata sipendeta bergerak. dia berkata pula: "Sang waktu sudah mendesak. lekas kamu pergi"

Oey Eng segera memberi hormat dan berkata: "Baiklah, loo siansu, boanpwee berangkat sekarang. Harap loo siansu tolong jaga kakakku ini."

"Sebisaku akan aku jaga dia," kata si pendeta.

"Dengan janji loo siansu ini, matipun aku ikhlas" kata Oey Eng, yang terus memutar tubuhnya dan berangkat.

Kho Kong masih mau menanya, tetapi karena saudaranya sudah pergi, dia segera menyusul. Dia mau pergi bersama, Oey Eng pun tidak mencegah.

Mereka ambil arah seperti ditunjukkan sipendeta. Selang empat puluh lie, benar mereka melihat dua buah pohon murbai. Lewat dari situ, tampak sebuah gunung. Diantara kedua pohon lihat tapak kaki, bekas orang berlalu lintas.Jadi itulah jalanan orang.

"Ah, masa bodoh, bencana atau keselamatan-" pikir Oey Eng, yang terus bertindak untuk lewat dijalanan diantara pepohonan itu.

Kho Kong tidak sabaran, dia mendahului kakaknya. Ketika itu sudah jam delapan atau sembilan.

Dengan tidak mengenal lelah, kedua saudara itu mendaki gunung.

Benar seperti petunjuk si pendeta tua, mereka menemukan sebuah gubuk yang seperti menghadang jalan maju mereka. Rumah itu rumah gubuk tetapi berpintu kayu, pintunya besar. Tak tampak orang diluar atau depan rumah itu. Selagi mereka mau melewatinya, tiba tiba mereka mendengar teguran, yang datang dari dalam rumah. Itulah suara seorang perempuan tua. "Tuan tuan, kamu  mau apa?"

"Kami lagi berpesiar," sahut Oey Eng, mendusta. Ia terpaksa membohong.

"Benarkah, tuan tuan?" terdengar pula suara itu, yang mana diiring dengan tawa hambar. "Sungguhkah kamu lagi pesiar?"

Tiba tiba Oey Eng ingat pesan si pendeta, agar jangan melayani penghuni rumah. Maka ia tarik tangan Kho Kong, buat diajak berjalan terus. Mereka lari mengelilingi gunung itu. Setelah selintasan, jalan sudah tidak ada. Itulah sebuah tempat belukar, banyak rumpurnya, batunya berserakan. Mereka berlari terus naik keatas... Angin bertiup sejuk. rasanya sangat nyaman-Kembali  benar petunjuk si pendeta.

Segera tampak sebuah peng empang luas lima enam tombak persegi. Ditepian barat peng empang itu terdapat sebuah rumah batu. Ditepi empang ada sebuah perahu kecil, yang ditambat pada sebuah pohon cemara.

Kho Kong lari kearah rumah. Ia melihat pintu tertutup dan terkunci dengan rantai besi. Rupanya penghuni rumah sedang bepergian. Lalu ia mengawasi empang. Air dalam tidak ada tiga kaki, hingga nampak dasarnya. Ada terdapat banyak ikan aneh aneh, yang ia belum pernah lihat tadinya.

Oey Eng mengajak saudaranya menaiki perahu, untuk mendayung ketengah, buat mencari si ikan tambera emas. Tak sempat mereka menikmati keindahan peng empang itu.

Di sebelah timur, disana air dalam, terlihat seekor ikan yang tubuhnya merah yang ekornya bersinar kuning emas, panjangnya sekaki lebih. Ikan itu terlihat sebab dia kebetulan nimbul dan nenggak.

Hati Oey Eng tegang. Ia girang berbareng khawatir. Garang sebab melihat ikan itu. Khawatir karena ia percaya ikan mestinya gesit dan sukar untuk ditangkap. Diam diam dia berdoa: "Semoga Thian melindungi toako " Habis itu ia mengulur tangannya masuk kedalam air, untuk menangkap ikan itu. Diluar dugaan ikan itu diam saja waktu ditangkap.

Diburitan perahu ada beberapa buah tahang kecil, Kho Kong ambil sebuah, buat tempat ikan itu.

"Kita pakai saja tahang ini," katanya.

Oey Eng setuju. Perahu mereka kepinggirkan. Ia melihat kesekitarnya, katanya. "Mudah mudahan tidak ada musuh gelap didalam rumah itu."

Lekas sekali perahu mereka sudah sampai ditepian Oey Eng segera menambatnya. Lantas ia berbisik pada saudaranya: "Kau bawa ikan, aku membuka jalan Kalau ada musuh, aku yang akan menghadang, lekaslah lari pulang ke Siauw Thian ong sie, supaya kau dapat menyerahkan ikan ini "

Kho Kong mengangguk. "Aku mengerti," katanya.

Mereka mendarat. Oey Eng menghunus pedang. Ia bagaikan mendapat firasat bakal bertempur hebat.

Segera mereka sudah mendekati rumah gubuk tadi.

Tiba tiba terdengar suara menyapa dari dalam rumah: "Bagus, ya Kamu mencari ikannya si tak mau mampus itu Kenapa kamu tak mau memberitahukan maksud kamu padaku supaya akupun dapat menangkap beberapa ekor?"

Oey Eng berbisik pada saudaranya. "Asal dia muncul, akan aku tempur dia, buat mengulur waktu, kau sendiri, segera kau kabur jangan pedulikan aku lagi "

Habis berbisik itu, anak muda ini menjawab teguran dari dalam itu: "Sayang kami tidak tahu bahwa loocianpwee juga gemar ikan, kalau tidak tentu sekalian kami menangkapkan beberapa ekor."

"Kamu mencuri berapa ekor ikannya si tak mau mampus itu?" tanya lagi suara dari dalam gubuk itu. " Itulah seorang perempuan, pikir Oey Eng. "Mungkinkah hubungan dia erat dengan penghuni rumah batu itu, si pemilik ikan Aku mesti berhati hati."

Maka ia menjawab. "Boanpwee cuma mengambil satu ekor?" " Kenapa cuma seekor?"

"Seekorpun sudah cukup Jika aku mengambil lebih, itulah buat keuntungan diri pribadi, karenanya merugikan orang lain-"

Tidak segera ada jawaban, sebaliknya terdengar suara roda kereta. Kiranya dari dalam gubuk muncul sebuah kereta  diatas mana duduk seorang wanita tua yang rambutnya beruban yang memain di antara tiupan angin, sedang sebelah  tangannya mencekal sepotong tongkat. Muka nenek itu pucat, pertanda bahwa sudah lama dia tak tersinarkan matahari^

"Mari" nenek itu mengulapkan tongkatnya. "coba aku lihat ikan itu"

Diam diam Oey Eng berbicara dengan Toan Im cie sut pada adiknya: "Perhatikan aku dik. Asal aku menempur dia, kau molos dan kabur" Kho Kong memberikan janjinya.

Keduanya bertindak maju mendekati si nyonya tua^

Nyonya itu mengulur kepalanya. Kho Kong pun mengangsurkan tahang ikannya. Kata nenek itu: "Ikan itu berharga mahal... tak bagus buat ditonton-.."

Kho Kong kata di dalam hatinya: "Ikan itu untuk menolong kakakku Siapa yang hendak membuatnya main main ?"

Oey Eng berdiri disisi adiknya, bersiap sedia kalau kalau sinenek turun tangan-

Nenek itu menghela napas. Ia berkata perlahan: "Apakah perbuatan kamu ini adalah petunjuk si pendeta tua?" "Apakah looelanpwee maksudkan loosiansu itu?" Oey Eng bertanya, sebenarnya ia terperanjat. Kembali si nyonya tua menghela napas.

"Jangan kamu mencurigai aku," katanya seraya memutar keretanya, buat masuk kembali kedalam gubuknya.

Heran dua saudara itu. Sinenek tidak merintangi mereka.

Segera Oey Eng memberi hormat kearah gubuk seraya berkata: "Kami telah menerima budi loocianpwee, apabila ada kesempatan kami akan membalasnya." Habis berkata, tanpa menanti jawaban, ia mengajak Kho Kong lari, ia melindunginya.

Dua saudara itu lari terus-terusan, sampai di Siauw Thian ong sie. Didalam kuil mereka mendapatkan s ipendeta tua tengah duduk berdiri seperti semula tadi.

Oey Eng menghampiri, sambil membungkuk ia berkata: "Loo siansu, syukur kami tidak menyia nyiakan petunjuk loosiansu. Telah kami dapatkan ikan emas itu."

Sipendeta membuka matanya perlahan lahan-"Mari kasih aku lihat" Agaknya ia ragu ragu Kho Kong mengangsurkan tahang ikannya.

"Silahkan periksa, loosiansu." Pendeta itu mengawasi beberapa lama.

"Tidak salah," katanya. Terus ia mengawasi dua orang itu. Katanya: "Sekarang kami pergi keluar, ketempat yang tinggi. Kamu memasang mata kesegala penjuru. Asal kamu melihat ada orang asing datang, lekas beritahu padaku." Oey Eng dan Kho Kong menerima perintah itu.

"Agaknya hati sipendeta tegang," Kho Kong membisiki saudaranya. "Mungkin itu ada hubungannya dengan ikan emas itu."

"Mungkin sinenek dapat menduga loo siansu apalagi sipemilik ikan..." "Kalau ikan sudah dimasak dan dikasih makan pada toako, dia datang pun tak ada gunanya."

Sementara itu mereka sudah berjaga-jaga. Mendadak dari kejauhan tampak debu mengepul naik.

"Hai" teriak Oey Eng, kaget. "Orang itu lari cepat luar biasa. Mari kita pegat dia, merintanginya masuk kedalam kuil"

Berkata begitu, pemuda ini lari kebelakang sebuah pohon, untuk bersembunyi. Kho Kong sembunyi disebuah pohon lain-

Yang datang itu adalah seorang penunggang kuda dan kudanya berbulu putih mulus. Pantas dia datangnya cepat dan meninggalkan debu mengepul di belakangnya. Kedua mata kuda itu bercahaya merah.

Penunggang kudanya membuat Oey Eng dan Kho Kong heran Dia adalah seorang nona berbaju hijau, yang dandanannya ringkas. Sekarang ini dia itu menjalankan kudanya perlahan-lahan, menuju kebelakang kuil. Oey Eng batuk-batuk. terus ia muncul, untuk menghadang. Sinona menarik tali kudanya, membuat kudanya itu berhenti bertindak.

"Siapakah kau?" tegur nona itu tawar. "Tidak keruan keruan kau memegat aku?"

"Kau benar, akan tetapi tak dapat aku membiarkan kau masuk kedalam kota," pikir Oey Eng.

"Kau bisa menggagalkan pengobatan kakakku" ia tahu ia berada dipihak salah, maka ia batuk batuk lagi, baru ia bertanya: "Kau dari mana nona? Nona datang ketempat belukar ini, siapa yang nona cari?"

Sepasang alis si nona terbangun. Agaknya dia mendongkol tetapi dia menyabarkan diri. Maka dia mengawasi si anak muda seraya bertanya: "Apakah kuil itu yang dipanggil Siauw Thian ong Sie?" "Benar," jawab Oey Eng. Hanya sejenak. dia menyesal. Dia salah omong. Mulanya wajah si nona dingin sekali, tapi setelah itu, mendadak dia tertawa. "Apakah kau dari Siauw Thian ong Sie?"

Oey Eng bingung juga. Tidak dapat ia menerka hati si nona.

Tawa si nona agaknya menunjukkan dia tidak bermaksud jahat.

"Jikalau aku seorang Siauw Thian ong sie, bagaimana?" ia balik bertanya. Si nona tertawa pula.

"Saudara, kau memanggil apakah kepada Kouw Heng Taysu?" Oey Eng berpikir pula, cepat: "Kiranya loosiansu bergelar Kouw

Heng Taysu... Agaknya dia ini menghormati pendeta bermata satu itu. Tapi baiklah aku dustakan dia. ingin aku lihat sikapnya..."

Maka ia bertanya: "Nona she apa?"

"Aku Thio Giok Yauw," si nona menjawab, menyebutkan she dan namanya sekali. "Aku menerima perintah ayah bundaku untuk mengunjungi Kouw Heng Taysu. Aku minta saudara suka tolong mengabarkan kepada taysu tentang kedatanganku ini. Lebih dahulu aku mengucapkan terima kasih."

"oh, kiranya nona Thio. Maaf, maaf " kata Oey Eng.

"Maukah saudara memberitahukan nama saudara pada adikmu ini?" si nona balik bertanya. Buat membahasakan diri "aku" itu, ia menyebutnya "adik".

"Aku Oey Eng," sahut si anak muda.

"Terima kasih, saudara Oey. Sekarang tolong saudara sampaikan kepada taysu, katakan bahwa adikmu datang dari tempat seribu lie, mohon taysu sudi menerima aku."

Oey Eng berpikir cepat: "Loosiansu lagi mengobati kakak, baiklah aku memperlambat waktu..." Maka ia segera mengernyitkan alisnya dan katanya masgul: "Sayang nona datang tak tepat waktunya..."

" Kenapa?" si nona tanya. Dia heran "ini waktunya taysu bersemadhi. Tak berani aku mengganggunya." Nampak si nona cerdas, rupanya ia memikirkan sesuatu. "Mohon tanya, saudara Oey, kau pernah apa dengan Kouw Heng Taysu?"

Oey Eng sadar bahwa ia telah salah omong. Lekas lekas ia membenarkannya.

"Aku pernah ditolong taysu dari lukaku yang parah hingga jiwaku tertolong, maka itu, bersedia aku bekerja menjadi penunggu pintunya." Nona itu tertawa.

"oh, kiranya begitu " katanya. "Sayang di dalam usiaku masih muda tak berkesempatan adikmu menemui taysu. pernah adikmu mendengar ceritera ayah bundaku halnya taysu sangat pandai mengobati, bagaikan dia dapat menghidupkan orang yang telah mati."

"Memang" kata Oey Eng, mengikuti lagu bicara orang. " ilmu pengobatan taysu adalah yang nomor satu didalam dunia Rimba Persilatan "

"Dahulu itu ayah bundaku pernah ditolong Kouw Heng Taysu," si nona berkata pula, "maka juga kedatanganku sekarang ini adalah untuk menghaturkan terima kasih kepada taysu. Adikmu membawa sesuatau bingkisan yang tidak berharga..."

Oey Eng berpikir keras. Si nona sangat cerdik, mudah dia bercuriga. Maka ia harus bicara dari hal yang masuk diakaL

"Menurut apa yang aku tahu," katanya kemudian, "Taysu biasa tak suka menerima bingkisan-"

"Taysu bukannya sembarang orang, maka itu, tak berani kami menghaturkan bingkisan yang berupa barang biasa saja," kata pula si nona. ia tetap bicara sabar dan ramah, terus ia menyebut dirinya adik yang kecil. Dengan sendirinya hati Oey eng tertarik.

"Bingkisan apa itu yang kau bawa, nona?" tanyanya. "ayah bundaku mendapatkan tiga macam obat istimewa, hari itu sengaja adikmu diperintah datang kemrai untuk menyampaikannya." jawab si nona. ia hening sejenak. terus ia menambahkan: "Sebenarnya ayah bundaku sendiri yang hendak membawa obat obatan ini akan tetapi sayang ayah mendapat halangan Selagi ayah mencari obat itu, ayah bertemu ular berbisa yang menjagai pohon obat itu dan kena dipagut, karenanya terpaksa ayah mesti berobat dan berdiam dirumah untuk sekalian beristirahat. Begitulah adikmu sendiri yang ditugaskan membawa obat itu."

Oey Eng mendongak melihat langit. ia malu di dalam hati.

Selagi orang berdiam, Nona Thio bertanya pula: "Numpang tanya, saudara Oey, masih berapa lama lagi taysu bersemadhi ?"

Oey Eng mengawasi nona itu. Dialah seorang nona yang cantik manis, bahkan sangat menarik hati. Tak berani ia mengawasi lama lama, lekas-lekas ia berpaling kelain arah. Tetapi didalam hatinya, ia memuji kecantikannya itu...

Selama berbicara tadi, belum pernah sipemuda memperhatikan wajahnya si pemudi. Sejak tadi ia menganggap nona berbaju hijau itu elok tapi tak disangka setelah memandang sejenak itu, ia tahu, bahwa dia sangat menggiurkan hati. Sampai ia lupa menjawab pertanyaannya

Selagi menanti jawaban, tiba tiba si nona menghela napas. "Saudara Oey, maaf," katanya pula. "Hampir aku lupa pesan

ayah bundaku..."

Diam diam Oey Eng terperanjat. "Apakah itu, nona ?"

"Ketika aku berangkat dari rumah, ayah dan ibu memesan adikmu," sahut sinona. "Adikmu diberi ingat supaya kapan tengah bicara dengan orang lain mesti adikmu membawa diri baik baik dan jangan sembarangan saja, karena adikmu mudah tertawa."

" Itulah pesan yang benar sekali," kata Oey Eng. " Hanya sayang," kata pula sinona, "tertawa bagiku adalah semacam penyakit, sukar adikmu merobahnya. Tanpa merasa adikmu suka tertawa sendiri..."

"ayah bunda memesan dengan maksud baik baiklah kalau nona dengar dan turuti pesan itu."

"Kalau begitu, berpalinglah kelain arah, adikmu akan tidak tertawa pula" kata sinona.

Oey Eng menurut, ia menoleh kelain arah, tubuhnya sendiri tak bergerak. "Eh, eh, kau belum menjawab adikmu " menegur si nona.

"Nona menanya apakah?" balik tanya Oey Eng, dan menanya begitu, dia kembali menoleh, memandang nona itu, ia bagaikan lupa dirinya.

Sinona tertawa geli, hanya sebentar, ia berdiam pula. Nampak ia seperti lagi mengekang dirinya. Dengan roman sungguh sungguh ia tanya: "Adikmu tanya, kapan Kouw Heng Taysu akan menyudahi semedhinya ?"

"Masih lama," sahut Oey Eng. Baik nona menantikan saja. "Baiklah," kata nona itu. Adikmu tidak mempunyai urusan lain,

tak apa adikmu menunggu sampai setengah harian atau semalaman Dan ia kemudian duduk bersila bagaikan orang tengah bersemadhi. Hati Oey Eng lega juga.

"Buat sementara, dapat aku mencegah dia masuk," pikirnya. "Hanya entah sampai kapan taysu selesai dengan pengobatannya terhadap toako..." Memang pendeta itu tidak memberikan batas waktu kepadanya.

Kho Kong ditempat sembunyinya terus berdiam saja, akan tetapi ia melihat dan mendengar semua. Ia girang sebab kakaknya yang nomor dua itu dapat mempermainkan sinona. Pikirnya: "Kalau aku yang menggantikan jieko pasti aku gagal melayani sinona itu berbicara, atau kita mesti telah berkelahi..." Dia berpikir begitu, sebab hatinya lega, tanpa merasa pemuda ini menggeser tubuh kakinya bertindak mundur.

Nona Thio liehay sekali, dia mendengar orang berkeresek, kemudian dengan perlahan sekali ia berkata kepada Oey Eng : "Saudara Oey, dibelakang kita, disebelah kiri, sejauh setombak lebih, mungkin ada orang." Oey Eng terperanjat didalam hati.

"Sungguh liehay nona ini," pikirnya. "Selain mendengar gerak gerik orang, iapun dapat menerka jaraknya.Jikalau begitu, aku bukanlah lawannya..."

Kembali sinona berkata dengan perlahan: " orang itu sudah bergerak maju kearah kuil apakah perlu adikmu turun tangan untuk membekuknya ?"

Perlahan suara sinona tetapi nadanya sangat jelas. Bingung juga si pemuda.

"Tak usah, nona," ia mencegah. "Orang itu seperti aku, tinggal sama-sama didalam kuil Siauw Thian ong Sie ini."

"Jikalau adikmu tidak memandang, tak nanti adikmu menantikan sampai dia mengundurkan diri," berkata si nona, "kalau tidak. tidak nanti adikmu bicaa dahulu dengan kau, saudara Oey." Mendadak diam-diam sejenak. kemudian meneruskan : "Eh, ini agak aneh " Kembali Oey Eng terkejut didalam hati.

"cerdik, pikirnya. Nona ini luar biasa cerdiknya Aku mesti waspada. Maka ia berpura-pura menanya: "Apakah katamu, nona ?"

"Sebenarnya adikmu telah diberitahukan ayah bundaku." berkata nona itu, menjawab pertanyaannya, bahwa didalam kuil ini, Kouw Heng Taysu tinggal seorang diri saja, dia tidak mempunyai murid atau pegawai tukang masak akan tetapi kenyataannya sekarang lain, selain saudara kiranya masih ada orang lain lagi, aku percaya kata-kata ayah bundaku itu, maka itu dengan adanya orang lain lagi, tidak anehkah itu ?"

Berkata begitu, nona itu menatap tajam si pemuda. Matanya bersinar berwibawa Oey Eng dapat mengendalikan dirinya. Ia berlaku tenang.

"Ayah bundamu itu benar, nona, mereka tidak berdusta," kata ia. "Akupun bicara dengan sebenarnya."

Kedua mata si nona memain-

" Dapatkah kau menjelaskan kata-katamu ini?" tanya dia.

"Bila ayah bunda nona datang ke Thian ong Sie, aku tidak tahu," menjawab Oey Eng, "aku hanya menerka bahwa itu mestinya telah terjadi pada tahun yang telah berlalu. Nona Thio hendak mengucapkan sesuatu, lalu batal.

"Benar-benar nona ini sangat cerdik," pikir Oey Eng. ia melihat orang urung bicara.

"Dahulu tak ada orang yang kuketahui Kouw Heng Taysu berdiam didalam kuilnya ini," ia melanjutkan, "cuma beberapa jago Rimba Persilatan saja yang mendapat tahu. Umum cuma tahu kuil ini sepi dan tua, didalam satu tahun cuma beberapa gelintir orang saja yang datang bersujut kemari."

Si nona menyela: "Bukankah sekarang telah datang banyak  orang ?"

"oh, nona yang liehay," pikirpula Oey Eng. Rupanya dari banyak kata-kataku ini dia melihat suatu cela, ia menyambung: " Lewat beberapa tahun, entah bagaimana jalannya, kemudian orang ketahui bahwa taysu bersemayam disini, karena itu ada kalanya datang orang-orang yang terluka untuk minta tolong diobati. Tidak dapat tidak taysu menolong apabila ia melihat orang terancam bahaya maut, begitulah nama dan perbuatan taysu jadi tersiar luas hingga kejadianlah Siauw Thian Ong Sie yang biasanya sunyi senyap sering dikunjungi orang. Apakah orang itu pegawai kuil ini.

" Didalam kuil ini, kecuali taysu serta aku, masih ada dua orang lainnya lagi." Oey Eng terpaksa memberi keterangan untuk melenyapkan kecurigaan orang. "sekarang silahkan nona menanti sebentar, aku hendak masuk kedalam kuil untuk melihat dahulu, nanti aku datang pula memberi tahukan kepada nona." "Baik, saudara Oey. Adikmu akan menantikan disini," sahut nona itu. Nampak ia sangat polos sekali.

"Aku akan masuk dan lekas keluar lagi," kata Oey Eng, yang terus memutar tubuh buat berjalan pergi. Sembari berjalan hatinya berpikir: "Pada saat ini, entah bagaimana luka toako. Rasanya sang waktu sudah lewat cukup lama."

Setibanya di Houwtian, ruang dalam, Oey Eng melihat Siauw Pek seorang diri. ketua itu tengah duduk bersemadhi, kedua matanya ditutup rapat. Kho Kong menjagai ketuanya dengan berdiri berjaga jaga dipintu. "Adikku, mana loosiansu?" ia bertanya. Kho Kong mengawasi kakak nomor dua itu.

"Bukankah jieko gembira berbicara dengan sinona?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaan orang itu.

"Hus, jangan bergurau " kata Oey Eng. "Lekas beritahu aku, mana loosiansu ?"

"Loosiansu pergi kedapur. Ia minta aku berdiam disini menjaga toako."

Oey Eng berpikir, karena si nona datang dari tempat yang jauh, perlu ia mewartakan kepada Kouw Heng Taysu, karena itu, lekas ia pergi kedalam. Tiba didapur, ia tidak melihat sipendeta. Sebaliknya diatas daput, ia mendapatkan sehelai kertas kuning yang ada tulisannya. Ia heran tetapi lekas ia membaca.

" Didalam kwali ini ada masakan ikan, setelah dimakan, pengaruh obat cie-yam-hoa segera akan bekerja, guna menyingkirkan racun didalam tubuh sahabatmu. Mengandaikan tenaga dalamnya, didalam tempo tiga hari dia akan sembuh kembali seperti sedia kala, akan tetapi selama tiga hari itu, tak dapat ia melakukan pertempuran, juga tak boleh dia bergusar. Loo ceng menyukai kesepian dan ketenangan, karena tempat ini telah diketahui oleh kami, hendak kucari lain tempat lagi."

Surat itu tanpa tanda tangan, tidak menyebut tempat tujuan sipendeta. (hal 38-39 tidak ada, langsung ke hal.40)^ dan hanya meninggalkan surat ini..."

"Begini saja," kata Siauw Pek, "sebab sinona bukannya musuh, tidak dapat kita membohong terhadapnya. Kitalah laki laki sejati, tidak dapat kita mendustai dan menghina seorang wanita, perlu kita bicarakan terus terang kepadanya."

"Nona itu sangat cerdas, memang sulit buat mendustainya." "Toako, buat apa pusing pusing ?" kata Kho Kong. "Loosiansu

telah pergi, kenapa kita tidak mau pergi juga ?" Siauw Pek menggelengkan kepala.

"Tak dapat," katanya. Jikalau kita tinggal dia pergi, kita bakal dicaci maki orang dan juga kita menggagalkan urusan dia..."

"Kalau kita ketemukan dia dan dia tidak mau percaya keterangan kita, apakah itu juga tidak memusingkan kita ?" tanya Kho Kong.

"Sudahlah," kata Oey Eng akhirnya. "Sha tee, kau pergi bersama toako, kau melindunginya. Urusan disini serahkan kepadaku "

"Tidak bisa " berkata siauw Pek. Jikalau kau gagal, aku bisa berkelahi dengan nona itu. Mana dapat kau ditinggalkan seorang diri

?"

"Andaikata toako ada bersama disini, toako pun tidak akan bisa berbuat apa-apa," Oey Eng kata pula, "surat loosiansu menjelaskan didalam tempo tiga hari, toako tidak boleh melakukan pertempuran dan bergusar. Bukankah dengan berdiamnya toako disini, toako jadi menambah bebanku ?"

"Jieko benar" kata Kho Kong, "toako harus pergi dari sini."

"Nah, shatee lekas kau antar toako " kata Oey Eng pada saudaranya yang muda itu. Biar aku berdiam seorang diri disini, akan aku layani dia dengan melihat selatan Tersendirian saja, aku jadi merdeka."

Siauw Pek dapat mengerti. "Baiklah " katanya akhirnya^ "Jieko. kepergian kita tanpa tujuan," berkata Kho Kong, "maka itu, dimana ada tikungan, di situ aku akan memberikan pertanda, supaya kau mudah menyusul kami."

Siauw Pek mengawasi Oey Eng, ia mengjela napas/

"Semuanya karena itu," katanya masgul. "Toako tidak dapat disesalkan," kata Oey Eng.

"Nah, baiklah, harap kau berhati hati " kata siauw Pek akhirnya, lalu ia bangkit, untuk berangkat pergi.

Kho Kong mengintil dibelakang ketuanya itu.

Oey Eng menanti sampai kedua saudara itu tak nampak. baru ia bertindak kebelakang kuil. Ia mendapatkan Nona Thio masih duduk bersila, menantikannya.

"Nona Thio" ia memanggil. Ia batuk batuk. untuk memberi isyarat. ^

"Apakah Kouh IHeng Taysu sudah selesai bersemedhi?" demikian suara si nona yang pertama tama. Dia tidak menjawab hanya bertanya.

"Taysu sudah pergi mengunjungi sahabatnya, dia tidak ada didalam kuil", sahut Oey Eng.

Nona itu melengak.

"Kemanakah dia pergi ?" dia tanya.

"Tak tahu, nona, Aku tidak menanyakan kepadanya." "Kapankah dia akan kembali?" si nona tanya lagi.

"Entahlah. Ada kalanya dia pulang dalam satu hari, ada kalanya juga dia tak pulang berhari hari."

sekonyong konyong nona itu berlompat melewati si anak muda, untuk lari kedalam kuil.

Oey Eng tidak kaget, ia tidak khawatir. Pikirnya: "sekarang ini kuil tentu sudah kosong." Ia tidak mau pergi menyingkir, hanya ia mengikuti nona itu. Tiba di depan pintu, mendadak si nona berpaling.

"Saudara Oey," katanya, tanyanya, "adikmu hendak masuk kedalam kuil untuk melihat lihat dapatkah kau memberi ijin."

"Silahkan masuk nona" menjawab si pemuda. Tak ada perlunya lagi buat ia menghalangi atau menghambat pemuda itu.

Thio Giok Yauw bertindak kedalam pendopo ia melihat kelilingnya. "Biasanya Kouw Heng Taysu bersemedhi di kamar yang mana?" ia tanya.

Oey Eng melengak. itulah pertanyaan sulit untuknya. Sejak bertemu si pendeta, selalu mereka berada didalam ruang itu. Ia tidak tahu kamar si orang sucu Tapi ia tidak dapat tidak manjawab.

" Kamar Taysu ialah kamar diruang dalam," demikian sahutnya cepat.

Glok Yauw berdiam, ia berjalan berputar didalam kuil itu.

Akhirnya ia kembali ke ruangan tadi, pendopo besar. "Mana dia kamarmu, saudara Oey," dia tanya "Biasanya aku tidur dimana aku suka."

"Sekarang ini apa saudara mau tetap berdiam disini menantikan pulangnya taysu?" si nona tanya pula. Oey Eng mengangguk.

"Ya," sahutnya/

Mendadak saja nona itu tertawa dingin dan berbareng tangan kanannya meluncur menangkap lengan si anak muda.

Syukur buat Oey Eng, ia selalu siap sedia. Ketika sambaran tiba, ia berkelit, tangannya ditarik.

Melihat serangannya gagal, nona itu menyusul menyerang dengan tangan kirinya. Oey Eng berkelit pula.

"Nona" ia berseru. "^ona, kenapa kau menyerang aku?" "Aku tak takut kau kabur" berkata nona itu. Tapi dia mundur dua tindak. Ia berkata lagi: "Apakah kau sangka aku bocah usia tiga tahun? Hitung hitunglah mataku buta, telah keliru aku menganggapmu sebagai orang baik-baik" Oey Eng heran-

" Entah dari mana ia ketahui rahasiaku..." pikirnya. Tapi ia lekas berkata, perlahan: "Kau kenapa nona? Apakah artinya kata-katamu ini? Tolong nona jelaskan-"

" Inilah sebuah kuil tidak besar," kata sinona "Kau berkata bahwa kau berdiam disini, mana kamarmu?" berkata begitu, tiba tiba suara si nona menjadi keras, wajahnyapun berubah keren. Tegurnya: "Siapa kau sebenarnya? Apakah hubunganmu dengan Kouw Heng Taysu? bicaralah terus terang, jikalau kau main gila, jangan kau sesalkan aku"

Oey Eng tidak menjawab, hanya dia berkata "Nona, ketika ayah bundamu menyuruh kau datang kemari, tentunya mereka telah memberi tahukan bagaimana macamnya pendeta tua itu?"

"Tentu Tentu aku mengetahuinya"

"Bagus nona Kau tentu mencurigai aku bahwa aku tidak kenal pendeta suci itu. Baik, akan aku lukiskan-"

"Nah, coba kau katakanlah" kata nona itu.

"Kouw Heng Taysu sudah berusia tinggi dan matanya buta sebelah benar tidak?"

Alisnya si nona terbangun.

"Tidak salah. Dia tentu kenal Kouw Heng Taysu..." pikirnya. "Kouw Heng Taysu sangat menyukai ketenangan maka juga dia

memilih kuil mencil dan sunyi. Akan tetapi selama ini ia mendapat tahu bahwa ada orang Rimba Persilatan yang mengetahui dia tinggal disini, maka itu pernah ia mengatakan padaku bahwa tempat ini sudah tidak cocok lagi untuknya, bahwa sewaktu waktu ia akan pindah kelain tempat..." "Kau sudah tahu bahwa taysu telah pergi kenapa kau tidak memberitahukan aku dari tadi?" menegur nona itu.

"Tapi nona, selagi kita bicara itu, dengan sebenarnya aku tidak tahu bahwa taysu sudah pergi."

"Kalau begitu, satu jam dimuka, dia masih berada di dalam kuil?" "Benar.  Taysu  lebih  tak  kerasan  sebab  sudah  pernah  terjadi

tengah ia bersemedhi ada tamu tamu berkunjung hingga  ibadahnya

itu terganggu. Adalah biasa bagiku setiap kali taysu bersemedi, aku pergi meninggalkannya, buat berdiam diluar, untuk memberi keterangan andaikata ada datang tamu tamu, guna mencegah ada orang yang sembrono masuk dan mengganggunya. Tadik belum lama aku keluar dari kamar, aku bertemu dengan kau, nona. Ketika itu taysu masih berada didalam. Begitulah aku berbicara dengan nona, jadi bukan sengaja hendak merintang imu." Glok Yauw menghela napas.

"Aku tidak menyalahkan kau," katanya. Ia diam sejenak, kemudian menanya: "Tengah kita bicara tadi, ada orang yang mengundurkan diri kedalam kuil, ketika aku hendak menawannya, kau mencegah saudara Oey, Kemanakah perginya dia itu?"

Oey Eng berpura berpikir.

"Mungkin dia ikut Kouw Heng Taysu." "Bagaimanakah ilmu silat Kouw Heng Taysu."

"Di hadapanku loo siansu belum pernah mempertunjukkan ilmu silatnya. Menurut apa yang aku tahu, mestinya taysu lihay sekali, ilmu silatnya telah mencapai puncak kesempurnaan. "

"Memang ayahku pernah mengatakan bahwa Kouw Heng Taysu adalah seorang pendeta ya berilmu tinggi. Dilihat dari sikapnya, teranglah dia tak sudi menerima aku..."

"Entahlah, aku tak tahu."

"Selama kau tinggal disini, pernahkah kau melihat tamu wanita?" "Belum pernah."

"Ada pendeta berilmu yang tak sudi menerima tamu wanita, benarkah itu?"

"Tentang ini loosiansu belum pernah bicara denganku."

"Darijauh aku datang, aku tidak bertemu taysu, menyesal sekali," berkata sinona.

" Ini dia yang dibilang datangnya gembira, pulang lesu. Sekarang aku minta pertolongan kau.Jikalau nanti kau bertemu dengan taysu, katakan bahwa aku, Thio Giok Yauw, jikalau aku bukannya memandang ayah bundaku, pasti sekali kuil ini kubakar ludes" Oey Eng terperanjat. Ia melihat muka si nona itu. Wajah sinona merah padam.

"Dia datang dari tempat jauh, tidak aneh dia kecewa," pikirnya. "Tentu dia mempunyai ilmu silat yang tinggi, lebih baik aku yang mengalah saja..."

Maka dari itu ia berdiam diri.

Kembali si nona berkata^ "Eh, orang she Oey, Kouw Heng Taysu sudi ketempat kau disini, kau tentunya dapat perlakuan yang tidak dapat dicela, bukan?" Sekarang sinona tak lagi memanggil "Saudara Oey" dan suaranyapun keras.

" Demikianlah, nona." menyahut Oey Eng

Ia mendongkol juga sebab nona itu bersikap kasar, baik terhadap Kouw Heng Taysu, maupun terhadapnya sendiri. "Aku belum diterima sebagai murid, akan tetapi aku telah banyak petunjuk dari dia, dari itu diantara kami sudah ada kaitan guru dan murid"

"Itulah bagus" berseru si nona yang mendadak mengajukan diri dan menyerang Oey Eng terkejut, ia melompat mundur. Sukur ia terus bersiaga^

"Nona" katanya. "kalau nona mau bicara, bicaralah baik baik..." Glok Yauw tidak memperdulikan, kembali ia menyerah. Kali ini ia menggunakan kedua tangannya dan ujung jarinya mencari sasaran secara hebat.

Diserang berulang ulang, terdesak maka terpaksa, ia menangkis

.Justru karena ini, mereka jadi bertarung. Segera ia merasa bahwa ia menghadapi lawan yang liehay. si nona benar hebat.

Lekas juga, duapuluh jurus telah berlalu. Itulah karena gencarnya si nona melakukan serangan-

"Ilmu silatmu tidak dapat dicela," berkata si nona dingin. Lalu ia memperlancar serangannya, membuat lawannya repot.

Oey Eng terdesak. sibuh ia membela diri hingga sulit buatnya melakukan serangan balasan Maka juga, lagi beberapa jurus, tangan kanannya telah kena tertotok. Sasaran itu ialah jalan darah thian coan, maka seketika juga, tangan kanannya itu tak dapat digunakan lagi.

Masih Thio Giok Yauw merangsek terus.

Dengan hanya tangan kiri, Oey Eng tidak berdaya lagi. Baru tiga jurus, kembali ia kena ditotok. sampai dua kali saling susul, pertama jalan darah hiap pek dilengan kiri, dan kedua jalan darah pou lung didadanya.

Baharu setelah itu, si nona menghentikan perkelahian Katanya dingin: "Karena menjadi orang yang disayangi Kouw Heng Taysu, aku lampiaskan kemendongkolanku terhadapmu ayah bundaku pernah ditolong pendeta itu, itulah satu soaL sekarang dia menghina aku, inilah soal lain Karena dia tak sudi menemui aku, obat yang aku bawa ini tak sudi aku serahkan kepadanya. Dan kau, jikalau kau mendendam sakit hati, kau boleh cari aku untuk membuat perhitungan"

Habis berkata begitu, si nona berlompat mundur, untuk terus membalikkan tubuh dan pergi melenyapkan diri.

Si anak muda melongo melihat orang mengangkat kaki. Ia masgul dan mendongkol. " celaka kau, Oey Eng" katanya didalam hati. "Kaulah laki laki tapi kau roboh ditangkap seorang wanita Belum tiga puluh jurus Dengan begini, dapatkah kau memasuki dunia Sungai Telaga? Dapatkah kau disebut seorang gagah?"

Letih dan berduka, pemuda ini menjatuhkan diri untuk duduk dilantai. Ia mencoba mengatur pernapasannya. Ia menyesal tidak mengerti ilmu tenaga dalam yang dapat menyembuhkan totokan, kedua lengannya tidak dapat digunakan lagi, meski ia masih bisa berjalan, tetapi ia mirip seorang lumpuh.

Belum lama ia duduk berdiam itu, tiba tiba Oey Eng dikejutkan suara yang keras: "Bagus ya, hweesio bangkotan. Selagi aku tidak ada dirumah, kau curi ikanku. Jikalau kau tidak memberikan keadilan kepadaku, aku akan bakar hangus kuil Siauw Thian ong Siemu

"Hweeshio" ialah pendeta.

Oey Eng terkejut sekali. Ini dia yang dibilang, satu ombak belum tenang, lain gelombang telah datang" karena kedua tangannya tidak berdaya, terpaksa ia berdiam saja, bahkan ia pejamkan kedua matanya dan menyenderkan tubuhnya, untuk berpura pura tidur. Hanya diam diam, ia mengintai.

Suara bengis itu dikeluarkan oleh seorang yang berusia kira kira enam puluh tahun dengan jenggotnya putih turun kedadanya. Dia mengenakan kopiah putih serta jubah hitam, sebelah tangannya mencekal joran, yaitu bambu pancing, punggungnya menggendol jala. Dengan kedua mata terbuka lebar dan bijinya seperti terputar, tampak dia gusar sekali. Tak berani Oey Eng mengintai terus, buru buru ia merapatkan matanya.

Orang tua itu melihat si anak muda, ia menggerakkan jorannya, maka meluncurlah tali pancingnya, terus pancingnya menyantel di baju orang didada.

"Hai bocah, lekas bangun" teriak dia. "Jangan kau buat darahku bergolak naik. Nanti dengan pancingku ini aku lempar kau keluar pendopo ini" Oey Eng khawatir sekali. Tak dapat ia melawan "Loo tiang, ada apakah ?" ia bertanya, sabar. "Lotiang" ialah panggilan untuk orang tua.

Nelayan tua itu menghentak pancingnya, meloloskan cantelannya. "Kemana pergi si hweesio tua bangka?" tanya dia keras.

"Pendeta yang mana, lootiang?" Oey Eng balik bertanya. Ia belagak pilon. Gusar orang berbaju hitam itu.

"Aku maksudkan hweesio tua dari Siauw Thian ong Sie ini" bentaknya. "Jikalau kau tidak kenal dia, bocah, kenapa kau berada disini?"

"Lootiang, aku adalah seorang yang tengah membuat perjalanan," Oey Eng mendusta. "Karena letihku, aku singgah disini. Apes untukku, kebetulan aku bertemu seorang nona kasar, dengan tidak ada sebab musababnya dia telah menyerang aku hingga kami jadi berkelahi..."

"Bagaimanakah kesudahannya?" tanya si kakek. tertarik. "Kau kalah atau menang?"

"Kalah..." sahut Oey Eng, mukanya merah. Dia malu.

"Seorang laki laki kalah dengan seorang perempuan, alangkah memalukan " seru orang tua itu.

"Aku kalah pandai, habis, apa daya..." Oey Eng mengakui. sepasang alis putih pengail itu terbangun-

"Eh, bocah, kalau kau kalah, apakah kau tidak mampu lari?" tanya dia. "Hm Sudah keok, lantas tidor molor disini Sungguh tak ada guna"

Muka si pemuda menjadi bertambah merah, dia malu sekali.

Tapi, terpaksa dia menutup mulut...

Si orang tua tiba tiba nampak seperti dia ingat sesuatu. Dengan cepat dia menanya: "Aku si orang tua bukannya orang yang dapat dipermainkan Lekas kau bilang anak perempuan itu mengenakan pakaian macam apa?"

"Baju hijau," sahut Oey Eng. "Dia cantik sekali..."

"Tidak salah tidak salah" kata si orang tua berbaju hitam itu. "Tadi selagi mendatangi kemari, aku bertemu seorang bocah wanita berbaju hijau. maka kau, bocah, kau nyata tidak ngaco belo" Oey Eng terus berdiam. Ia tetap jengah.

Si orang bagaikan sudah lupa dengan maksud kedatangannya, dia mengawasi si anak muda, sembari menggeleng geleng kepaia, dia berkata sabar. "Nah, bocah, kau harus dengar nasihatku. Ingat, kalau kelak dibelakang hari kau menikah, jangan kau menikah dengan wanita yang terlalu cantik "

Mendengar itu, diam diam Oey Eng merasa geli. Pikirnya, "Mungkin tua bangka ini pernah merasai hebatnya seorang wanita cantik,.."

"Eh, tahukah kau she dan namanya anak perempuan tadi itu?" kemudian si oarng tua menanya, romannya bersungguh-sungguh. Oey Eng mengangguk.

"Bagus " seru orang tua ini. "Aku akan ajarkan kau beberapa jurus ilmu silat, habis itu kau pergi cari dia. buat menghajarnya, buat kau membalas sakit hati " Oey Eng heran, dia mendelong mengawasi orang tua itu.

Si orang tua betul aneh. Dia berkata dan berbuat. Dia  meletakkan jorannya dan berkata "Bangunlah Mari pelajari beberapa jurusku!"

Dengan merasa sangat malu, Oey Eng kata perlahan "Aku telah ditotok anak perempuan itu..."

Si orang tua menghampiri, ia menatap tajam, setelah itu, ia menepuk nepuk tubuh orang, kemudian dia berkata: "Aku telah menciptakan semacam ilmu silat yang terdiri dari sembilan jurus, namanya Kiu ciauw ciang hoat. Asal kau bisa mewariskan separuh saja ilmuku ini, sudah cukup dan jika nanti kau bertemu pula bocah berbaju hijau itu, pasti akan dapat mengalahkannya"

Pemuda ini telah tahu benar ilmu silat si nona, ia menyaksikan kata kata orang tua ini. Pikirnya: " Walaupun aku dapat mewariskan semua sembilan jurusmu, belum tentu aku akan berhasil memenangkan nona itu..."

orang tua itu segera membuktikan kata katanya. Tak peduli orang mau menerima pelajarannya atau tidak. Segera ia memasang kuda kudanya. Berkata dia: "Sekarang loohu akan memberi kau lihat jurus jurusku, kau ingat baik-baik, setelah itu, kau menelan "

orang tua aneh ini sekarang membahasakan dirinya "loohu", aku si orang tua. Habis itu, dengan sangat perlahan, dia mulai dengan pelbagai gerakannya.

Oey Eng mengawasi. Begitu orang mulai, perhatiannya segera menjadi tertarik. Ia terus memasang mata.

Nampak sungguh sungguh orang tua itu memberikan pelajarannya. Semua gerakannya terlihat nyata dan benar benar luar biasa. Seminuman teh lamanya, selesai sudah pelajaran ilmu silat itu.

"Sungguh luar biasa" Oey Eng memuji tanpa merasa. Si orang tua berbaju hitam tertawa.

"Agaknya kau berpengetahuan juga, anak" katanya. "Lootiang terlalu memuji," berkata Oey Eng merendah.

Berkata lagi orang tua itu: "Kalau aku melakukan sesuatu, tak sudi aku banyak tingkah sekarang, bocah, jika kau ingin mempelajarinya, lekas kau mengingat ilmu silatku tadi"

Oey Eng senang sekali, ia segera bersilat, dengan kedua tangannya sudah sembuh, ia bisa bergerak dengan leluasa. Ia mengingat ingat sembilan jurus orang tua itu, yang juga saban saban memberikan petunjuknya. Kiu ciauw ciang hoat banyak perubahannya setelah lewat kira kira satu jam, adik Siauw Pek baru bisa menjalankan empat jurus.

Si orang tua tidak sabaran. Dia menyambar jorannya dan berkata: "Bocah, kamu bebal, aku tidak mau mengajari kau lebih lama pula" Dan segera dia memutar tubuhnya, untuk mengangkat kaki berlari pergi

"Loocianpwee, tunggu" berseru ^ianak muda bingung. "Loocianpwee, aku masih ingin bicara"

orang tua itu menghentikan tindakannya. Dia berpaling. "Apakah itu? Lekas bicara"

"Boanpwee bersyukur telah diajarkan ilmu silat, tetapi boanpwee masih belum mengetahui she dan nama loocianpwee..." kata Oey Eng.

"Buat apakah kau menanyakan she dan namaku? Aku toh tak mau mengajari sebagai muridku"

"Boanpwee tahu diriku bebal, sukar buatku diterima sebagai murid, akan tetapi budinya loocianpwee ini besar sekali, tidak dapat boanpwee tidak dapat ketahui?" kata Oey Eng pula.

"Tak mau aku memberitahukan she dan namaku kepadamu" si orang tua memutuskan "Lain kali, jikalau kau bertemu pula dengan bocah berbaju hijau, kau tampar dia dua kali. Dengan begitu kau telah tak menyia nyiakan pengajaran ilmu silatku ini"

Habis berkata begitu, orang tua itu membalikkan tubuh, untuk berlari pergi, dan sebentar saja ia sudah menghilang dari pandangan-

Oey Eng menyesal. Dengan merangkapkan kedua tangannya, ia memberi hormat dari jauh kepada orang tua itu, sedang mulutnya berkata perlahan " Dengan jalan ini boanpwee mengantarkan loocianpwee pergi" Ia tahu, sia sia belaka ia menyusul orang tua yang gerak geriknya sangat pesat itu. Pada saat Oey Eng membalik tubuhnya, tiba tiba ia mendengar suara siorang tua: "Tidak usah banyak peradatan, nak. Cukup asal kau ingat aku siorang tua"

Itulah suara yang dikeluarkan dengan ilmu saluran jauh. Oey Eng sangat berterima kasih. Kembali ia mengagumi guru yang tidak dimintanya ini. ia girang karena didalam kesusahan ia memperoleh tambahan pelajaran ilmu silat. Kalau bukan ia sendiri yang mengalami, sulit ia percaya peristiwanya itu.

Akhirnya, setelah menghela napas perlahan untuk melegakan hatinya, pemuda ini bertindak meninggalkan kuil Siauw Thian Ong Sie itu. Belum ia jalan jauh, segera ia melihat Kho Kong berlari lari kearahnya, dan dari jauh jauh, saudara muda itu sudah berteriak: "Jie ko, toako tak tenang hati maka dia menyuruh aku menyusul kau "
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 15"

Post a Comment

close