Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 11

Mode Malam
JILID 11

Berkata begitu, Kho Kong lalu membuka kotak itu.

Siauw pek mengawasi. Ada tiga gulung sutera putih, yang teratur rapi. Ia mengambil satu gulung, terus ia beber. Selekasnya dia melihat, air matanya lalu turun meleleh. Lama juga ia berdiam, baru ia bertanya. "Apa nona yang mendapatkan barang ini ?"

"Aku hanya tanya kau, kau kenal gambar sulam itu atau tidak ?" si nona balik bertanya.

"Aku kenal," sahut Siauw Pek mengangguk. Selama itu oey Eng terus mengancam si nona berbaju hijau, asal nona itu main gila, dia hendak menghajar jalan darahnya.

Kho Kong heran, ia mengawasi sutera itu. Ia melihat gambar seorang lelaki yang berjanggut panjang dengan tergantung dipinggangnya. Ia menjadi terlebih heran, pikirnya: "Entah siapa gambar itu dan apa hubungannya denagn bengcu, hingga bengcu menjadi sedih?"

"Kau kenal orang itu," berkata si nona, yang terus mengawasi si anak muda. "Beritahukanlah, siapa dia ?"

Siauw Pek menjawab dengan perlahan sekali, bagaikan ia menyebut kata demi kata: "Inilah gambar coh Kam Pek, majikan dari dusun Pek Ho Po... ialah ketua dari Pek Ho Bun-"

"Kau memanggil apakah terhadapnya?" si nona tanya untuk kesekian kalinya.

"Dialah ayahku almarhum..."

"oh begitu coba kau lihat lagi satu yang lainnya."

Siauw Pek menurut, ia menjemput segulung lagi, terus ia membebernya. Kali ini ia mendapat gambar sulam yang melukiskan seorang perempuan seorang nyonya.

"Gambar siapakah itu?" lagi lagi si nona bertanya.

"Inilah marhum ibuku, yang telah meninggal dunia pada beberapa tahun yang lalu..."

"Dengan demikian, kau jadinya bersangkut erat dengan Pek Ho Bun?" sekonyong konyong mata si anak muda terbuka lebar.

"Benar," sahutnya. Nona dimanakah kau dapatkan gambar ayah dan ibuku ini? Aku minta sudilah kiranya kau memberikan keterangan"

Si nona tidak menjawab, hanya ia berkata "Didalam kotak itu masih ada sisanya satu gulung lagi, coba kau buka dan lihat juga." Melihat gambar ayah bundanya, hati Siauw Pek goncang, hingga tubuhnya gemetar. Karena itu, ia ragu membuka gulungan sutera yang terakhir itu.

"Kenapa kau diam saja?" menegur si nona menyaksikan orang beragu gelisah itu.

"Ooh..." seru si pemuda perlahan ia bagaikan baru tersadar. Ia terus menggunakan tangan kanannya, mengambil sutera itu dan membebernya. Kali ia melihat gambar seorang toojin atau toosu seorang imam setengah umur, yang janggutnya panjang sampai didadanya, sedangkan dbahunya tergemblok sebatang pedang dan tangannya mencekal sebatang hudtim, kebutan yang biasa dipakai seorang pertapa.

Siauw Pek melongo mengawasi gambar itu. Mulanya ia menerka sesuatu yang ada hubungannya dengan ayah bundanya, tak tahunya itulah gambar dari seorang imam yang ia tidak kenal.

"Kau kenalkah dia?" si nona bertanya.

Sia sia belaka si anak muda mengingat ingat. Maka ia menggelengkan kepala. "Belum pernah aku melihat dia," sahutnya kemudian-

"Mungkin kau pernah melihatnya hanya kau telah lupa. Atau mungkin, sewaktu kau melihat dia kau masih kecil, masih belum tahu apa apa."

"Siapakah kau nona?" Siauw Pek tanya. Ia tak menghiraukan kata kata perempuan itu. "Aku minta dengan sangat sukalah kau memperkenalkan dirimu."

Si nona menunjuk kepada pakaiannya yang berwarna kuning mulus. "Aku she oey," sahutnya. Artinya oey ialah kuning.

"oh, Nona oey, maaf" kata si anak muda cepat. "Nona tinggal didalam kuil Kwan ong Bio ini, rupanya nona mempunyai hubungan erat dengan partai Kwan ong Bio." "Ayahku adalah pembangun Kwan ong Bun," menjawab si nona. "Dan aku yang rendah telah menerima warisan dari ayahku hingga sekarang aku menjadi ketua angkatan kedua..."

"Kiranya nona ketua dari sebuah partai " kata si anak muda. "Maaf. nona, aku kurang hormat." Berkata begitu, ia memberi hormat. Nona mengangguk membalas.

"Ayahku dengan ayahmu bersahabat erat tuan coh," kemudian nona itu memberi penjelasan "Dahulu pernah ayahmu mengajak kau datang ke Kwan ong Bio ini. Ayahku telah melatih diri dalam suatu ilmu kepandaian, tapi dia tersesat, sepak terjangnya menjadi tidak keruan-Jarang sekali ayahku pergi kerumahmu."

"Memang, seingatku, pernah ayah mengajak aku berkunjung kemari."

"Selagi ayahku tersesat itu, ayahmu telah membantu banyak. Ia telah membantu dengan tenaga dalamnya hingga ayahku mendapat kembali kesadarannya. Maka itu, ayahmu menjadi juga tuan penolong ayahku. Ayahmu itu sering berbicara denganku menuturkan peristiwa peristiwa yang tak dikehendaki yang menghinggapi Pek Ho Bun hingga ia menyesal bukan main-.."

"Dimana ayahmu, nona?" tanya Siauw Pek, "Dapatkah aku menemuinya untuk aku memberi hormat kepadanya?" Wajah si nona tiba tiba menjadi suram.

"Jikalau ayahku masih ada," sahutnya, berduka, "tidak nanti aku yang rendah, yang masih gadis, menempatkan diriku didalam dunia Kang ouw yang keruh ini dengan menjadi ketua dari Kwan ong Bun." Siauw Pek melengak.

"oh, jadi kiranya oey Loocianpwee telah meninggal dunia?" katanya.

Nona oey tidak menjawab, hanya dla berkata "Dahulu ketika orang Rimba Persilatan menyerbu Pek Ho Po, ayahpun telah menerima undangan untuk bekerja sama kaum penyerbu itu. Untuk maksudnya itu, terlebih dahulu mereka telah membuat satu pertemuan besar. Di dalam rapat itu ayahku pernah membela ayahmu, akan tetapi ayah seorang diri, ayah kalah suara, ayah tidak berdaya. Bahkan dengan terpaksa ayah turut didalam rombongan penyerbu itu..."

Paras Siauw Pek menjadi pucat pasi, ia hendak membuka mulut, tetapi tidak jadi.

"Jangan keliru mengerti, saudara Tjoh," si nona berkata. "Ayahku menjadi sahabat kekal ayahmu, beliau tahu sifat ayahmu, maka tak nanti beliau mengepung ayahmu. Tak akan ayah melakukan perbuatan sehina itu. Benar ayah turut didalam rombongan, tetapi beliau sebenarnya menggunakan waktu itu untuk menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya. Ayah mau menolong secara diam-diam pada ayah bundamu. Maksud ayah tidak tercapai. Sementara itu ayahmu telah menunjukkan kegagahannya, dia berhasil memecahkan kurungan dan meloloskan diri "

Siauw Pek menghela napas, ia sangat berduka. "Aku menyesal bahwa aku datang terlambat hingga tidak dapat aku menghaturkan syukur hatiku pada oey Loocianpwee yang telah melepas budi begitu besar."

Nona oey tidak mengatakan sesuatu, ia meneruskan penuturannya: "Sekembalinya ayah dari pengepungan, ia tetap tak puas hati, ia sangat penasaran, tapi ayah tidak dapat berbuat apa apa. Pengaruh Kwan ong Bio terlalu kecil untuk dapat menentang delapan belas partai besar itu."

Kata kata sinona berhenti dengan tiba tiba, karena mendengar ketukan pintu yang keras.

Dua budak dikiri kanan sinona sudah menghunus pedang mereka, dengan serentak mereka menegur: "Siapa?"

Mereka terus lari kepintu. Si nona berlaku tenang.

"Tunggu sebentar^ katanya sambil mengulapkan tangannya, ia bangun berdiri dengan sabar ia bertindak kearah pintu. Kedua budak menghentikan larinya. Mereka taat kepada nona  itu.

si nona baju hijau mendadak berlompat maju, dia lari kedepan nona oey.

"Jangan sembarang maju, nona" katanya. "Biarkan aku yang keluar dan melihat"

oey Eng melengak. Ia tertarik hati mendengar pembicaraan diantara ketuanya dan si nona, hingga ia lari.

Si nona yang merandek, berkata pada wanita berbaju hijau itu: "Lekas ambil dan kembalikan senjata mereka itu Karena timbul perubahan mendadak, lekas kau antar mereka dan keluar dari pintu rahasia "

Si baju hijau berkata: "Tuan coh gagah sekali, dia justeru membiarkan orang luar campur tangan ?"

Siauw Pek heran melihat perubahan demikian serta mendengar kata kata kedua nona itu.

Si nona baju hijau tidak meu menentang nonanya, dia lari kebelakang kursi nonanya. disitu dia mengambil senjata Siauw Pek bertiga, lekas lekas dia membawa dan menyerahkan kepada ketiga pemuda itu.

Baru Siauw Pek merapikan pedang dan goloknya, mendadak kedua daun pintu yang hitam, yang tertutup rapat,  terpentang lebar, disitu muncul serombongan orang dengan orang yang terdepan seorang berjubah abu-abu, yang romannya sudah tua dan loyo adalah si imam yang pertama kali Siauw Pek bertiga menemukan dihalaman luar kuil itu. Dibelakang imam tua itu mengikut belasan orang bertubuh besar dengan dandanan singsat, yang semuanya membekal senjata .

Si nona memandang keluar, lalu ia berkata dingin : "Kamu semua masuklah " Si imam tua, yang jubahnya panjang, melihat Siauw Pek, ia mau berkata tetapi tidak jadi.

Belasan orang itu sebenarnya dua belas berbaris masuk. lalu dibelakangnya sebagai orang terakhir, adalah seorang nona dengan pakaian serba kuning juga, setelah dia masuk lalu melirik kepada Siauw Pek.

"Adakah ini orang masuk kemari untuk membantumu?" tanyanya.

Siauw Pek mengawasi nona itu ia heran Kedua nona berimbang usianya, sama dandanannya, bahkan potongan tubuh dan romannya mirip satu dengan lain Diantara sinar api, sangat sukar untuk membedakan mereka satu dari yang lain-

"coba mereka tidak berdiri berpisahan, tak dapat aku membedakannya," pikirnya.

Si nona, yang menjadi nona rumah menjawab: "Merekalah tetamu, mereka bukan pembantuku"

orang tua berbaju abu-abu itu berkata: "Benar, urusan didalam rumah kita tidak dapat diselesaikan dengan minta bantuan orang luar "

Nona yang belakangan itu berkata: "Yap Loo kaulah orang tua yang terhormat didalam partai kita ini, kata-katamu dapat dipercaya, maka coba kau berikan pertimbanganmu. Diantara kami berdua, siapakah yang berhak untuk menjadi ketua ?"

Mendengar begitu, Siauw Pek berkata dalam hatinya: "oh, kiranya mereka sedang memperebutkan kedudukan ketua partai. Memang benar, sebagai orang luar, aku tak boleh campur tangan-.." maka ia berdiam terus.

Si orang tua berdiam beberapa lama, matanya mendelong kesuatu arah.

"Dalam hal ini aku sorang tua juga tidak berdaya memutuskannya," katanya selang sejenak. "Aku pikir baiklah kamu berdua yang bicara dan menetapkannya ?" Si nona yang pertama menanya: " Kakak, kau datang dengan membawa banyak orang, apakah kau telah bersiap menghadapi aku untuk bertarung ?"

"Siapakah kakakmu?" bentak si nona baju kuning yang belakangan. "Jikalau kau masih anggap aku sebagai kakakmu, tidak selayaknya kau merebut kedudukan ketua kita "

Si nona baju hijau, yang diperintah nonanya mengantarkan  Siauw Pek bertiga pergi, mendadak campur bicara. Katanya: "Disaat majikan tua mau berangkat pergi, beliau telah memanggil jie-siocia datang kepembaringannya, dan memesan supaya nona yang menggantikannya menjadi ketua partai. Ketika itu kebetulan sekali budakmu ini hadir, ia mendengar sendiri pesan itu. Toa-siocia, harap kau tidak memaksa dengan menggunakan kekerasan-.."

Budak ini memanggil jie-siocia dan toa-siocia. Itulah nona yang kedua dan kesatu. Nona yang baru datang itu, ialah toa siocia menjadi gusar.

"Budak hina, tutup mulutmu" dia membentak. "Pada saat seperti ini, mana bagianmu untuk campur mulut?" Lalu dia menoleh pada si orang tua untuk melanjutkan: "Yap Hong San kaulah menteri nomor satu yang berjasa dari Kwan ong Bun, kau juga anggota yang paling dihormati oleh murid-murid kita, ketika hari itu ayah menunjuk aku sebagai pengganti ketua, kau hadirdan turut mendengar pesan itu, kenapa sekarang kau tidak mau mengucapkan sepatah kata untuk membenarkan dan menguatkan pesan ayahku itu?" Si orang tua she Yap menghela napas.

" Nona nona," katanya perlahan, "kamu saudara sekandung satu dengan lain, dan telah menjadi besar dibawah pengawasanku, maka itu terhadap kamu aku ingin berlaku jujur. Memang disaat chungcu rebah sakit diatas pembaringannya, dia telah mengatakan kepadaku siorang tua untuk membantu toa siocia sebagai ketua partai. Tatkala itu toa-siocia hadir bersama. Jadi itulah hal yang sebenar benarnya kemudian ketika tiba disaat genting dari penyakitnya cungcu ialah saat ia hendak meninggalkan dunia yang fana ini, chungcu memanggil jie siocia dan telah menyuruh jie siocia menjadi ketua. Ini juga hal yang sesungguhnya. Ketika itu nafas chungcu tinggal sedikit sekali, tetapi ia masih sadar, ingatannya masih terang sekali. kata katanya jelas dan rapi. Jadi pesannya itu dapat dipercaya. Hanya, ah ... Walaupun chungcu telah menunjuk jie siocia untuk mengepalai partai namun dilain pihak ia belum membatalkan pengangkatannya terhadap toa siocia, maka itu sekarang sulit bagiku si orang tua mengutarakan pikiranku..."

Nona yang baru datang itu, toa siocia, nona kesatu, berkata: "Yap Hong San, aku mau tanya, Didalam sebuah partai harus ada berapa orang ketuanya ?"

"Didalam sebuah kerajaan tidak ada dua rabanya," menyahut orang she Yap itu. "Maka itu tentu saja mesti ada hanya seorang ketua."

"Benar begitu " berkata toasiccia. "Aku menjadi anak yang tertua, aku pula dari sejak mula telah ditunjuk sebagai pengganti ketua, bahkan aku ditunjuk oleh ayah sendiri, bukankah itu tidak mungkin salah ?"

"Yap Hong Aan " berkata jiesiocia, "Ketika ayah memanggil kau datang, bukankah kau untuk saksi supaya kau mendengar dan melihatnya sendiri ?"

Siauw Pek kesal mendengar perselisihan mulut diantara kedua kakak beradik itu. Sebab menurut Yap Hong San, mereka sama sama benar. Ia berpikir : "Yang terang ialah kedua saudara ini tengan kedudukan ketua partainya mereka pula tengah memperebutkan Yap Hong San sebab Yap Hong San sebagai pemegang batang."

Segera terdengnar suara keras dari toa siocia "Jikalau kau tidak mau melepaskan kedudukanmu sebagai ketua maka aku tak usah ingat lagi tentang persaudaraan kita "

"Maksudmu, kakak ?" tanya jie siocia. "Apakah kita harus menggunakan kekerasan guna memutuskan siapa menang siapa kalah ?" "Jikalau kau tetap berkokoh sampai mati tidak mau mengalah, memang tinggal itu satu jalan," berkata sang kakak. "Diantara kita berdua, salah satu mesti binasa, barulah akan ada ketenangan yang kekal abadi "

siauw Pek mengerutkan alis. Katanya didalam hati, "Bilang wanita tidak dapat mengambil keputusan? Lihat mereka ini, satu kali mereka bentrok. mereka lantas dapat mengambil sikap setajam ini. Sungguh perbuatan mereka ini bukan satu hal yang dapat diambilnya oleh sembarang laki laki"

Kemudian terdengar suara si jie siocia: "Jikalau kakak memang mau berbuat begitu, terpaksa adikmu bersiap sedia menerima pengajaranmu "

Yap Hong San menarik napas lemah, ia memandang toasiocia dan berkata: "Nona Tin, aku siorang tua mempunyai beberapa kata kata yang tidak dikeluarkan, tak lega hatiku..."

Toa siocia yang dipanggil nona Tin itu, yang sebenarnya bernama oey Tin, mengawasi siorang tua tajam tajam.

"Yap Hong San, ada apakah ?" tanyanya. "Katakanlah dengan terus terang saja sekarang ini hanya kaulah yang satu satunya menjadi anggota tertua dari partai kita, semua anggota paling menghargai kau, karena itu, kau harus dapat bicara sejujur jujurnya, hanya diwaktu kau bicara, harap kau berhati-hati " Hong San lalu berpaling kepada jiesiocia.

"Nona Yan," berkata dia, "aku siorang tua mendengar sendiri, melihat sendiri, pesan ayahmu disaat beliau hendak menutup mata, bahwa beliau menghendaki kau menjadi penggantinya. Itulah kata kata berat dan bukan kata kata palsu..."

Nona yang dipanggil nona Yan itu, menyela "Jikalau demikian adanya maka haruslah kau berlaku adil "

"Hanyalah, nona," berkata pula anggota tertua itu, "ketika itu ketua kami sudah lama sekali menderita sakit. Waktu ciangbunjin meninggalkan pesannya itu, supaya nona yang menjadi penggantinya, walaupun pikirannya masih terang dan kata katanya jelas dan rapi hal itu diketahui oleh banyak anggota kita. Di lain pihak setiap anggota ketahui baik bahwa Nona Tin yang akan menjadi pengganti ketua mereka. ini pula menjadi satu soal.

oleh karena itu, nona, jikalau kau memaksa mengambil alih pimpinan partai, mungkin orang akan mencurigai aku situa, Maka, menurut pendapatku, benda pusaka, untuk diberikan pada toasiocia, agar toasiocia yang memegang tampuk pimpinan Tapi kedudukan Nona Tin ini adalah kedudukan buat sementara waktu. Nanti, selang sepuluh tahun, baru jie siocia yang menyambut, menggantikannya mengepalai partai kita. Bagaimana pendapat jiesiocia mengenai saranku ini ?"

Mendengar pikirannya situa itu, Siauw Pek heran. Pikiran: "Ketua itu sudah linglung, juga tolol. Mengapa, setelah mewariskan pimpinan kepada puteri yang sulung kemudian pada saat terakhir hidupnya, dia mewariskan juga kepada puteri bungsunya ? Bukankah itu sebagai sengaja meninggalkan kerewelan bagi puteri puterinya ini? Atau, mungkinkah disebabkan perasaan suka dan tidak suka pada disaat itu ?"

"bagus" berseru Nona Tin. "Jikalau kau suka dengar pikiran Yep Hong San, adikku, aku juga mau mengaku kau sebagai saudaraku. Semua anggota tahu aku telah ditunjuk sebagai engganti ketua, tetapi sekarang timbul soal memecat yang tua mengangkat yang muda, itulah tidak selayaknya. Dengan begitu juga muka terangku menjadi sirna. Disamping itu, ikalau urusan ini sampai tersiar luas didalam dunia Kang ouw, bagi kita partai Kwan ong Bun ada ruginya tiada untungnya. Nah, adik, coba kaUpikir, aku benar atau tidak..."

Alis oey Yan berkerut. Ia lalu jalan mundar mandir didalam ruang itu. ia nampak sangat berduka. Rupanya ada sesuatu yang sedang dipikirkan-

Melihat nonanya ragu, sibudak berbaju hijau tiba tiba menghampiri, lalu membisiknya, katanya : "Jie-siocia, diwaktu majikan tua mau menghembuskan napas terakhir, ia telah dengan tangannya sendiri menyerahkan pusaka partai kepada nona, dari situ nona dapat mengetahui bagaimana pastinya keputusan itu, tetapi sekarang, jikalau nona mengalah dan menyerahkan kekuasaan kepada toa siocia, bukan saja nona telah menyia nyiakan pesan majikan tua, juga kita kita majikan dan budak-budak kita bakal mati tanpa tempat kubur..." oey Tin gusar mendengar kata kata budak itu.

"Kurang ajar" dia membentak. "Kami berdua saudara, kami hidup akur dan damai, adalah kau yang biasa mengadu biru hingga kerukunan kami terganggu. Budak celaka, jikalau kau tidak dibinasakan, aku kuatir Kwan ong Bun tidak akan mengalami hari hari tenang buat selama lamanya "

Budak itu berkeberanian besar. Dia menjawab : "Tentang hidup dan matiku, itu tak menjadi soal, tak usah dipikirkan, tetapi kemakmuran Kwan ong Bun, inilah yang penting sekali "

"Budak hina, kau cari mampus " teriak oey Tin, yang segera memberi tanda dengan tangannya.

Dua orang segera maju, dengan masing masing sebatang golok. mereka itu menyerang si budak berbaju hijau.

Budak itu melihat ancaman, dia berlompat mundur. Oey Yan menentang matanya bengis. "Berhenti " dia membentak.

Kedua orang itu tidak berani melanjutkan serangannya, mereka berdiri diam mata mereka mengawasi Nona Tin. oey Tin tertawa dingin.

"Adikku, kau masih menghargai kakakmu atau tidak ?" tanyanya. "Atau kau lebih menyayangi budakmu itu ?" Adik itu menghela napas.

"Kakak, bukan begitu soalnya," sahutnya, perlahan "Memang ciu Koan budak akan tetapi dia dibesarkan disini semenjak kecilnya, hingga semasa hidupnya ayah, dia dipandang sebagai anggota keluarga kita sendiri. Dan kakakpun ketahui hal itu baik sekali bukan 

? sedangkan kini tujuan kakak ialah menghendaki kedudukan ketua partai dan untuk itu tak ada sangkut pautnya dengan mati hidupnya si Koan.Jadi, kukira tidaklah beralasan bila kakak membunuhnya."

"Tapi dia jahat sekali, dia pembakar permusuhan diantara kita Kalau dia tidak dibunuh, bahayanya ada, faedahnya tiada maka itu lebih baik dia dibunuh saja "

"Kakak. janganlah kakak umbar hawa amarahmu terhadap ciu Koan sekarang kau beri waktu tiga hari kepadaku untuk aku memikir soal kita ini. Maukah kau ?"

"Toh mudah untuk mengatakan kau suka mengalah atau tidak ?

Buat apa musti menanti sampai tiga hari lagi ?"

"Apakah kakak tak dapat menunggu hanya tiga hari saja ?" "Jikalau dihari hari biasa, jangan kata baru tiga hari, tiga puluh

hari pun dapat, tetapi sekarang lain, sekalipun satu hari, tak bisa aku bersabar lagi"

"Mengapa begitu, kakak ?"

"Benarkah kau tidak tahu, adikku? Ataukah kau berpura-pura?" "Benar. aku tidak tahu, Mana aku berpura pura ?"

"Apakah tidak ada orang kita yang memberi laporan kepadamu ?" tegaskan sang kakak, "sekarang ini didalam kota Gak yang telah berkumpul banyak orang Rimba Persilatan, bahkan diantaranya terdapat jago jago dari Siauw Lim Pay dan Bu Tong Pay. Kita menjadi partai setempat, dan juga sebuah partai besar, ada kemungkinan mereka itu datang berkunjung. Nah, kalau sampai mereka datang untuk menghunjuk hormat, siapakah yang harus menyambut mereka, kau, atau aku? Jikalau aku yang menyambut, aku belum jadi ketua, kedudukanku tak surup. Jikalau kau yang menyambut mereka, lalu dengan sendirinya dunia memandang kaulah ketua Kwan ong Bun. Bagaimana nanti jikalau kau mengalah dan menyerahkan kedudukan kepadaku, bukankah dunia akan menjadi heran ?"

oey Yeng berpikir sejenak. "Ya, itulah satu soal..." katanya. oey Tin tertawa. ia berkata: "Persoalan ini sebenarnya sederhana sekali. Asal adikku suka mengalah dan menyerahkan pusaka kepadaku, beres sudah semuanya. Sebaliknya, jikalau adikku masih memberatkan ketua itu, soal yang sederhana ini lalu menjadi ruwet sendirinya."

Disaat itu, dengan menggunakan saluran Toan im cie sut, oey Eng berkata kepada ketuanya: "Toako, aku lihat urusan mereka ini sangat ruwet. Aku duga disini tentu terselip soal lainnya, bukan hanya soal kedudukan ketua partai..."

"Kenapa kau menganggap demikian, saudara oey?" balik tanya Siauw Pek, juga dengan tenaga saluran-

"Sebab oey Tin sangat mendesak dan oey Yan membangkang, sampai oey Yan minta waktu tiga hari. Aneh bukan ?"

Mendadak terdengar suara dingin dari Yap Hong San: " inilah urusan partai Kwan ong Bun kami, orang luar tak usah ribut memikirkannya "

Itulah celaan untuk oey Eng dan Siauw Pek. Mereka memang menggunakan ilmu saluran Toan im cie-sut tetapi mulut mereka berkemak kemik sedikit. Yap Hong San seorang jago tua yang berpengalaman, dia dapat melihat dan menerka. Dia menjadi tidak puas, maka itu dia menyela.

Siauw Pek heran tapi ia tidak menghiraukan Sebaliknya ia melirik kepada oey Tin. Sesudah itu, ia mengawasi oey Yan dan menanya: " Dapatkah aku yang rendak nyimpan tiga gulung gambar sulam ini ?"

"Aku menerima pesan, memang hendak aku menyerahkan barang ini kepada orang yang menerimanya," menjawab nona itu, "hanya saja sebelum aku menyerahkan, atau pada saat hendak menyerahkannya, aku mesti bertanya dulu tentang dirimu. Karena kau telah memberi keterangan yang jelas sekali, sudah seharusnya barang-barang ini menjadi milikmu."

Mendengar kata kata si nona tiba tiba Siauw Pek ingat satu hal. Maka ia berkata dalam hatinya: "Mungkin inilah sebagian dari barang titipan ayahku kepada Lauw Haycu, maka kalau aku bisa cari orang yang menitipkan barang tersebut kepada nona ini. Tentu aku bakal mendapatkan keterangan yang lengkap mengenai urusanku," Tapi ia tidak bisa berpikir lama. Ia terus merangkap kedua tangannya, memberi hormat pada orang itu seraya berkata: "Nona, kaulah ketua sebuah partai, kata katamu pasti berat laksana gunung. Nona, aku mohon bertanya satu halpadamu: Sudikah nona memperkenalkan aku dengan orang yang menitipkan barang ini ?"

oey Yan menjawab cepat: "Jikalau dia suka bertemu denganmu, tak usah dia pakai perantaraanku."

Siauw Pek heran, maka dia berkata: "Nona, dia menitipkan barang ini pada nona, maksudnya tak lain untuk mencari tahu tentang diriku, sekarang tentang diriku sudah jelas, mengapa dia  tak sudi menemui aku ?"

"Dia bukan tak suka menemui kau, hanyalah sang waktu yang belum tiba, kalau waktunya sudah masak. Tak usah kau bersusah payah, dia pasti mengirim surat kepadamu, atau datang berkunjung sendiri." Kembali Siauw Pek menjadi heran-

Sementara itu, pembicaraan ini telah seperti menyisikan oey Tin dan Yap Hong San, hingga mereka berdiri diam dan terpaksa mendengarnya saja.

Tengah Siauw Pek berpikir, tiba-tiba ia melihat sesosok tubuh lompat kearahnya. orang itu bergerak bagaikan bayangan, tangannya diluncurkan untuk merampas kotak kemala.

Sianak muda terperanjat, tetapi ia masih sempat mengibaskan tangannya. Karena itu, bentrokan kedua tangan hingga menimbulkan suara, lalu bayangan itu terlonjak mundur.

Dengan sebat Siauw Pek menjemput kotak dengan tangan kirinya, dan menyerahkannya pada oey Eng sambil berkata: "Saudara tolong kau simpan ini " Kemudian ia memandang tajam kepada bayangan tadi. Itulah oey Tin Sinona berdiri diam dengan wajah merah padam, terang dia malu, kecewa dan gusar. Rupanya dia sedang mengatus pernapasannya, sebab bentrokan yang baru itu menggempur tenaga dalamnya.

Yap Hong San menyaksikan peristiwa itu, perlahan ia berkata pada Oey Yan-Jie "siocia, inilah kekeliruanmu. Urusan Kwan ong Bun kita, mesti kita sendiri yang menjelaskannya, sekalipun darah mesti dikucurkan, tak dapat kita meminjam tenaga orang luar, siapa tahu, malam ini kau telah mengundang bala bantuan"

Siauw Pek mengulapkan tangannya.

"Locianpwee" katanya, "beberapa hari yang lalu kita pernah bertemu muka, apakah locianpwee masih ingat ?"

Yap Hong San menjawab dingin "Pada hari itu akulah yang mengambil keputusan sendiri, aku telah memancing kami bertiga masuk ke dalam kolam maut, jadi Jiesiocia tak dapat bersekongkol denganmu."

"Tutup mulut" oey Yan membentak. "Yap Hong San, kaulah anggota tertua partai, kau sangat dihormati, kenapa kau sekarang lancang menuduh ?"

Kali ini Nona oey membahasakan dirinya punco. " Itulah istilah "aku" untuk seorang ketua partai. Dengan begitu ia menganggap dirinya sebagai ketua dari Kwan ong Bun, partainya.

Mendengar pengakuan orang itu, dengan dingin Siauw Pek berkata: "Beberapa hari yang sudah kami kena tipu dayamu dan tertawan, karena itu senjata kami ketinggalan disini, sekarang kami datang kemari untuk meminta kembali, maka adalah diluar dugaan Kebetulan kami menghadapi perselisihan diantara kalian-"

Oey Tin tertawa dingin "Kalau begitu sungguh kebetulan kau datang bukan kemarin, tetapi kamu justeru tiba malam ini dan disaat ini."

Siauw Pek tidak puas dengan ejekan itu, di dalam perselisihan antara dua saudara itu, ia telah melihat duduk persoalannya. Ia tidak diminta bantuannya oleh oey Yan tapi ia dicurigai dan disangka, maka dengan sendirinya ia jadi terseret kepihak Nona oey Yan itu. Ia pula melihat kedua belah pihak itu. Agaknya kedudukan oey Yan terlebih lemah,

sebab dia cuma dibantu si budak berbaju hijau, sedangkan oey Tin datang dengan sebarisan dari dua belas orang laki-laki yang bertubuh besar dan kekar. Dan Yap Hong San juga memihak nona nomor satu itu. Apabila kedua pihak sampai bentrok. pasti oey Ya n yang bakal kalah.

"Jikalau kamu memaksa menuduh aku sebagai orang undangan Nona oey Yan, terserah kepada kami " katanya dingin.

Yap Hong San menjadi gusar. "Nah, dengar Nona Yan " katanya keras. "dengar orang sudah mengaku Apakah kau masih menyangkal" oey Yan mendongkol sekali.

"Yap Hong San " katanya keras, "Kau memang menjadi anggota tertua tetapi janganlah kau tidak menghormati atasanmu. Aku bertanya kepadamu, sekarang ini didalam Kwan ong Bun, siapakah yang menjadi kepalanya ?" Ditanya begitu orang she Yap itu melengak.

"Yap Tiang loo, jangan dengarkan ocehan licik dia itu" sela oey Tin nyaring. Nona ini bingung, dia takut orang she Yap itu, yang sekarang dia bahasakan "tiangloo" artinya anggota tua yang dihormati, nanti kena terbujuk adiknya. "Dia mencuri merampas kedudukan ketuanya Perbuatannya hina dina. Mana dapat dia dijunjung Kenapa tiang loo justru tidak mau memaksa dia menyerahkan benda pusaka dan memecat kedudukannya itu ?" Ditanya begitu, Hong San mengawasi nona nomor satu itu.

"Apakah nona bersiap menggunakan kekerasan ?" tanyanya tenang.

"Keadaan telah menjadi begini rupa. tak dapat tidak. dia mesti dipaksa menyerahkan pusaka partai " menjawab nona sulung itu. "Jikalau kita menanti tiga hari lagi, itu berarti anggota anggota telah berkumpul semua. Berkumpulnya orang banyak itu akan menyulitkan kita. Bagaimana jikalau dia tetap mengangkangi pusaka itu? Kebanyakan anggota tidak tahu duduk perkaranya, terang mereka bakal melindunginya sebagai ketua. Sampai waktu itu bila ingin memecat dia, pasti sudah terlambat " Yap Hong San bersangsi, dia berdiam saja. Hanya pikirannya yang bergulat.

Melihat demikian, oey Tin berkata pula: "Kalau budak ini memegang kekuasaan, tak nanti dia melepaskan kau, Yap Tlonglo Sampai waktu itu, walaupun kau memikir untuk menentang keadaan sudah tak mengijinkan lagi"

Selama itu, oey Yan bercokol tegak dikursinya, mulutnya. Nampaknya ia sudah mempunyai keputusan, hingga ia tak kuatirkan apa juga.

Kelihatannya Yap Hong San tergerak juga oleh kata kata oey Tin Selang sejenak ia mengangkat kepalanya, mengawasi oey Yan-

"Jie siocia, apakah kau telah dengar kata-kata toa siocia ?" tanyanya.

"Aku telah dengar Bagaimanakah pikiran Yap Tiongloo?"

Oey Yang juga memanggil Tiongloo kepada anggota tertua partainya itu.

"Sepak terjangmu nona, adalah terlalu keras," katanya kemudian Walaupun demikian, didalam keadaan seperti ini , masih ada satu jalan keluar..." Ia batuk batuk. Setelah itu, dia menambahkan,

"Sekarang ini, nona, keadaanmu berbahaya sekali. Asal aku situa mengangguk menyetujui kata kata Nona Tin, segera pendopo ini bakal menjadi pertumpahan darah. Asal Nona suka mengalah dan menyerahkan benda pusaka, aku situa akan mempertaruhkan nyawa gua menjamin keselamatan jiwa kamu majikan dan budak. Nona aku bicara dengan setulusnya hatiku, aku minta kau pikir masak masak sebelum kau bertindak..." Tiba tiba sinona menghela napas panjang.

"Yap Tiang loo, mengapakah kau membantu kakakku?" tanyanya. "Semasa hidupnya ayah, kau memperlakukan kami berdua sama baiknya. Bicara tentang kasih sayang, mungkin kau lebih berat kepadaku, tapi sekarang, kau memihak kakakku yang berniat merampas kedudukan ketua Kwan ong Bun. Tiang loo, aku heran atas sikapmu ini. Mengapakah?"

oey Tin kuatir sianggota tertua kena terbujuk. lekas lekas dia berkata: "Yap Tiangloo bukankah kau biasa berlaku adil? Kenapa sekarang kau bungkam saja menghadapi orang percobaan orang merampas kedudukan ketua partai kita ?"

"Kau benar sekali, nona" Hong San berkata kemudian "Memecat yang tua dan berbareng mengangkat yang muda, itulah tabu untuk kaum Rimba Persilatan"

oey Yan tidak menghiraukan pembicaraan dua orang itu, hanya setelah menarik napas panjang ia berkata sabar:

"Nyatalah kamu sudah bersiap sedia. Setelah lewat tiga hari, disaat rapat partai kita hari itu, aku sudah tak mempunyai apa apa lagi..." ia berpaling kepada oey Tin, dan menatapnya dengan dingin, dan kemudian berkata: "Pantaslah kau tidak dapat menanti sampai tiga hari lagi" oey Tin mengulapkan tangan-

"Aku beri kau waktu lagi sehirup teh" katanya keras. "Jikalau sebentar kau masih belum juga mengambil keputusan, janganlah engkau katakan kakakmu ini ganas telengas"

Ulapan tangan nona ini adalah untuk orang orangnya. Kedua belas orang itu bergerak, dan dengan serempak mereka menghunuskan golok dan berjalan maju, mengambil sikap mengurung. Mereka bergerak perlahan tetapi rapi. Asal diberi aba aba, pasti mereka akan menyerbu nona Yan itu.

Siauw Pek mengawasi kedua belas orang itu dan merasa, kalau sampai bentrok. sulit buat oey Yan lolos dari kepungan Agaknya kedua belas orang itu sudah terlatih baik. Karenanya dengan sendirinya ia kuatir untuk pihaknya sinona bungsu.

oey Yan sebaliknya tetap tenang tenang saja. ia seperti tak tahu bahwa bencana lagi mengancamnya. Iapun bagai tidak siap sedia. Hanya kemudian ia menatap kakaknya itu dan berkata tawar. "Kakak, sebenarnya hatiku panas melihat sepak terjangmu sekarang ini, tapi walaupun demikian tak ada niat untuk tempur denganmu" Siauw Pek heran-

"Kenapa nona ini begini tenang?" pikirnya "Itulah rada sembrono. Apakah dia tidak melihat suasana? Kenapa dia masih mengharap perdamaian dengan saudaranya ini?" Pemuda ini bingung sendirinya.

Sampai detik itu, oey Yan belum memohon bantuan ia sudah memikir buat memberikan bantuannya, tetapi si nona tetap bungkam, ia tak ada alasannya. Lewat sejenak, baru oey Yan berkata pula:

"Kakak, jikalau dari dulu kau memberitahukan aku bahwa tiga hari lagi partai kita akan mengadakan pertemuan di sini, untuk mengangkat ketua yang baru, tentu siang siang aku pun akan menerima baik maumu itu." oey Tin tertawa dingin.

"Sekarang ini masih belum terlambat " sahutnya.

" Untuk menyerahkan benda pusaka, kemudian mengalah sebagai ketua partai, itulah tak sukar," berkata sang adiknya. "cuma untuk itu kau harus menerima baik dulu dua syaratku"

"Asal yang aku sanggup, pasti aku akan menerimanya" jawab sang kakak.

"Syarat yang pertama," oey Yan menyebutkan, "aku hendak memilih sebuah tanah yang baik untuk mengubur jenazah ayah. Dengan begitu aku hendak menunakan tugasku sebagai seorang anak yang berbakti."

"Baik aku terima itu" oey Tin memberikan janjinya. "Yang kedua?"

"Dipendopo belakang itu ada sebuah patung besi dari Kwan ong, patung itu hendak aku bawa pergi pula," oey Yan menyebutkan syaratnya yang kedua. Matanya oey Tin berputaran. "Apakah faedahnya patung besi itu? Buat apa adikku membawanya sekalian?"

"Patung itu amat indah pembuatannya, hendak aku gunakan sebagai teman dari kuburan ayah."

"Begitu? Baiklah... patung itu boleh kau bawa" Siauw Pek heran mengetahui syaratnya itu.

"Aku menerka pada syarat yang sulit, tidak tahunya demikian mudah," pikirnya. "Tentu saja oey Tin menerima baik syarat itu."

Lalu terdengar pertanyaan oey Yan, "Kak, kapan kau hendak menerima kedudukan partai kita ini?"

"Lebih cepat lebih baik" jawab oey Tin.

"Aku memikir habis fajar berangkat." kata adik itu, "bagaimana kalau aku menyerahkan barang pusaka itu sebelumnya matahari terbit"

Hawa angkara murka dari oey Tin sudah lenyap semuanya, mendengar kata kata si adik ia tersenyum.

"Sebenarnya, jikalau aku yang jadi kau aku akan berangkat sekarang juga" katanya.

"Sekarang ini tengah malam buta, dimana bisa mencari kendaraan?" kata si adik.

"Perihal itu tidak usah adik sulitkan, sejak siang siang telah aku sediakan" Oey Yan nampak heran-

"Eh, kenapa kau dapat menerka terlebih dulu bahwa aku bakal mengalah?" tanyanya. oey Tin melirik pada Siauw Pek bertiga.

"Yang tidak dapat diterka ialah hal adikku telah mengundang bala bantuan Yang lainnya semua telah termasuk perhitunganku"

"Kecerdasan kakak memang biasanya menang setingkat dari padaku." "Kekeliruan kali ini," kata si nona sulung, "ialah halnya aku tidak menduga kau meminta bantuan orang lain-" Oey Yan tertawa hambar.

"Memang biasa terjadi seseorang dapat menerka keliru" katanya, "lagipula mereka itu pun datang secara kebetulan saja. Bila kakak tetap menyangka aku menyesal dan penasaran-" Oey Tin tertawa.

"Perkara yang sudah lewat, baiknya jangan timbulkan pula," katanya. "Nanti, setelah kau selesai berkabung, bila tiba saatnya kau akan muncul pula didunia Kang ouw, aku minta kau memberi cepat cepat kabar kepadaku, agar aku bisa menyambutmu."

"Semoga adikmu kerasan tinggal di dalam gubuk kecil selama berbulan bulan dan bertahun tahun," sang adikpun memberi jawaban "Sekarang, kakak, harap tunggu sebentar, aku hendak mengambil pusaka partai kita." Oey Tin tertawa.

"Merepotkan saja, adikku," katanya seraya mengangkat tangan kanannya, untuk diulapkan berputar diatasan kepalanya.

Itulah isyarat untuk kedua belas pengikut yang berbaju hitam itu. Dengan serentak mereka menyimpan golok mereka itu dan terus mundur, untuk berdiri berbaris di belakangnya nona pemimpinnya itu.

oey Yan bangkit, ia bertindak kesatu pojok dari pendopo itu. Di situ ia angkat sebelah tangannya, meraba tembok. yang merupakan batu yang licin-Dengan tiba tiba saja terbukalah sebuah pintu rahasia.

Hampir serentak dengan itu, tubuh gesit dari Oey Tin bergerak menghampiri ciu koan sinona berbaju hijau.

Siu Koan melihat nona itu mendekati dia, walaupun dengan gerakan perlahan, dia segera mundur dua tindak, untuk menempatkan diri di belakang Siauw Pek. si anak muda, sebaliknya, membusungkan dadanya.

"Toasiocia, maksud hatimu telah tercapai, aku girang sekali, aku memberi selamat kepadamu" katanya, tapi suaranya tawar. "Akulah siorang luar, yang berdiri dipinggiran, hari ini pengalamanku bertambah bukan sedikit" oey Tin tersenyum.

"Adikku muda dan tidak tahu urusan, dibelakang hari harap kau tolong memperhatikannya, " dijawabnya . Siauw Pek heran-

"Nona, apakah artinya kata katamu itu ?" Si nona tertawa. "Jikalau adik Yang ku itu tidak ada yang diandalkan, aku kuatir

tak semudah ini dia menyerahkan pusaka partai kami," sahutnya,

"Bukankah kau telah tidak menghiraukan kesukaran datang kemari untuk membantunya? Bukankah adikku itu mau melindungi keselamatan dan keutuhan tubuhnya untuk diserahkan kepadamu ? Sebagai kakak, aku memberi selamat kepada kamu berdua "

Baru sekarang Siauw Pek tahu arti dari kata katanya nona itu. Ia hendak menyangkal. Justru itu, oey Yan sudah muncul pula dari pintu rahasianya itu. Dengan kedua tangannya, nona itu menyangga sebuah golok tua yang sarungnya berwarna kuning. ia berjalan dengan tindakan perlahan.

Begitu oey Tin dan Yah Hong San melihat golok itu, keduanya segera menekuk lutut memberi hormat, akan tetapi si nona, setelah dia mengangguk. dia segera bangun berdiri, tangannya diulur guna menyambut golok pusaka itu. oey Yan berkisar kesamping.

" Kakak, jangan terburu nafsu" katanya.

oey Tin tertawa dan katanya: "Adikku, kita besar bersama sama, mungkinkah kau belum tahu tabiat terburu nafsu dari kakakmu ini

?"

oey Yan tidak menjawab, hanya berkata: "Kakak. satu kali golok Kwan ong Koo ini terpegang oleh tanganmu dengan seketika juga kau telah menjadi ketua, maka mulai waktu itu semua anggota Kwan ong Bun, rata rata akan mendengar kata katamu..." Oey Tin heran.

"Adikku, apakah kau tidak percaya aku?" "Jikalau aku tidak percaya kau, kakak, tidak akan aku serahkan golok pusaka ini kepadamu" menjawab sang adik. "Aku hanya minta kakak jangan terlalu terburu napsu. Aku minta kakak sudi menanti sebentar, sampai aku sudah selesai membungkus barang barangku, sesudah jenasah ayah diberangkatkan, waktu itu barulah aku akan menyerahkan golok ini"

"Baik, baik Apakah adikku membutuhkan bantuan Katakan saja " "Tolong kakak menyuruh beberapa bawahanmu menaikkan

jenasah ayah keatas kereta."

"Itulah mudah" kata kakak itu, yang terus menggapai kearah orang orangnya seraya berkata: "Kemari kalian Lekas kalian bantu jie siocia menaikkan jenazah ketua kita keatas kereta "

Empat orang pengikut segera keluar dari dalam rombongannya.

Oey Yan menatap Siauw Pek. dia tersenyum.

"Tuan-tuan bertiga," katanya, "walaupun kamu datang bukan untuk membantuku, dengan sendirinya kamu menambah pengaruh kepadaku hingga hatiku menjadi tenang. Tuan-tuan, aku minta sukalah kami berangkat bersama-sama kami "

"Kami memang mau berangkat pergi," berkata Siauw Pek. "Kami datang kemari untuk mengambil kembali senjata kami, sekarang senjata itu telah kami terima kembali, disini sudah tidak ada urusan kami lagi."

Nona Yan mengangguk. terus ia bertindak dimuka, diiringi oleh ciu Koan serta dua budak berbaju hijau itu. Siauw Pek bertiga berjalan paling belakang, hingga sendirinya mereka mirip rombongan pelindung.

oey Tin menanti rombongan itu berangkat dulu, ia mengajak Yap Hong San sekalian mengikuti.

Malam itu gelap sekali tapi oey Yan kenal baik jalannya, ia dapat berjalan tanpa bersangsi sedikit juga. Ia berjalan dengan cepat, sebentar saja ia telah melewati dua buah halaman dan tiba didepan sebuah pendopo besar. Siauw Pek mengawasi dengan tajam. Ia melihat sebuah pintu hitam yang tertutup rapat, yang ditempeli sehelai kertas hitam juga hingga saru dengan cat itu. Tidak sembarang mata bisa membedakan pintu dan kertas tempelan itu.

Dengan hanya satu gerakan tangan, oey Yan menyobek kertas tempelan tersebut, yang mirip dengan sebuah gambar rencana, terus ia menghunus golok pusakanya, dipakai menyobek membuat kedua daun pintu terpentang terbuka.

Didalam hati Siauw Pek berkata: " Kiranya golok ini alat pembuka pintu pendopo ini" Bagian dalam dari pendopo itu suasananya menyeramkan karena gelapnya.

Dalam sedetik, oey Yan sudah menyalakan sebatang obor, yang diangkatnya tinggi tinggi, maka dengan bantuan penerangan api itu, disitu tampak sebuah petimati. Nona ini menggoyangkan obornya, terus ia berkata: " Kakak. inilah jenazah ayah. Aku minta kau menyuruh orang orangmu menggotongnya."

"Apakah patung Kwan Kong yang kau maksudkan juga berada didalam pendopo ini?" oey Tin bertanya.

"Ya, dia tengah menemani ayah," sahut sang adik. Kembali dia menggoyang obornya membuatnya lebih terang. Maka sekarang tampak patung Kwan kong yang dimaksudkan itu, yang diletakkan dalam sebuah kotak kayu istimewa.

"ciu Koan, lekas kau angkat patung itu " oey Yan menitah. ciu Koan menyahuti, segera dia mengangkat patung itu. oey Yan memutar tubuhnya, apinya dipadamkan-

"Kakak." la berkata, "sekarang silahkan kakak mengantarkan aku naik kereta. Di sana aku akan serahkan golok pusaka ini." Dengan padamnya api, pendopo kembali gelap seperti semula.

Ketika itu terdengar Yap Hong San berkata seorang diri. "Entah kemana perginya saudara saudara yang menjaga disini. Rupanya Kwan ong Bun perlu ditertibkan lagi " Terdengar suara dingin oey Yan menjawab. "Semoga Yap Loocianpwee nanti menunjukkan kepandaiannya untuk membantu kakak supaya Kwan ong Bun dapat dimajukan hingga didalam dunia Kang ouw partai kita akan mendapat suatu tempat yang wajar "

oey Tin kuatir Hong San hilang sabar, maka ia lekas menyela: "Adikku, walaupun kau telah menyerahkan kedudukan ketua kepadaku tetapi mengenai Kwan ong Bun kuharap kau tak melupakannya begitu saja. Kau tahu kelak dibelakang hari aku masih menanti bantuan besar dari kau "

Selagi berkata kata itu, orang sudah keluar dari pintu samping. Diluar itu membentang sebuah tegalan dimana terdapat dua buah kereta kuda yang telah siap. setiap keretanya diduduki seorang kusir yang memakai baju hijau dengan kopiah kecil dan tangannya memegang sebatang cambuk panjang, nampaknya mereka keren.

"oey Tin telah menyiapkan segalanya, rupanya malam ini tak dapat tidak. Oey Yan mesti mengangkat kaki," pikir si anak muda. "Melihat suasana ini, mungkinkah Nona Yan berdiam saja?"

Siauw Pek menerka sedikitnya sang adik itu akan mengeluarkan kata kata kurang sedap. tapi ternyata Oey Yan bungkam saja. Ia hanya menyuruh jenazah diangkat keatas kereta pertama, kedua kusirnya diperintahkan untuk mengendalikan kereta itu, ia bersama ciu Koan naik atas kereta yang kedua.

oey Tin nampak bingung menyaksikan saudaranya sudah naik diatas kereta, tetapi golok pusaka masih belum diserahkan kepadanya, segera dia berlompat kedepan, untuk menghadang dimuka kereta. Menyusul sikapnya itu dua belas orangnyapun bergerak sendiri mengambil sikap mengurung kereta itu.

oey Yan tidak menghiraukan sikap yang mengancam itu.

"Tuan tuan, silahkan naik kereta" ia mengundang Siauw Pek bertiga. Ia menggapaikan tangan kepada mereka.

Siauw Pek memikir buat menolak, tapi nona Yan itu sudah menambahkan "Sekalian satu arah, mari aku antar tuan tuan barang serintasan Sekalian juga dapat kita berbicara tentang pelbagai kaum Kang ouw " Tiba tiba hati si anak muda tergerak.

"Mungkinkah dia mau bicara mengenai hal Pek Ho Po ?" pikirnya. inilah kesempatan yang tak boleh dilewatkan begitu saja. Maka ia lekas menjawab: "Baiklah, nona. Terima kasih " Iapun segera melompat naik ke atas kereta. Menyaksikan sikap ketua itu oey Eng dan Kho Kong menelannya. oey Tin batuk batuk. untuk membataikan kata kata yang hendak dikeluarkannya. Baru sekarang oey Yan, dengan perlahan sekali, mengeluarkan golok pusaka.

"Kakak. harap kau baik baik merawat golok ini," katanya, tangannya diangsurkan-

oey Tin menyambut golok itu. Katanya: "Pasti kakakmu akan merawat dengan baik, supaya partai Kwan ong Bun kita dapat mengangkat kepala didalam dunia Kang ouw ini "

oey Yan mengangguk. ia berkata dingin. "Pada saat ini, dunia Rimba Persilatan ruwet sekali, berbagai partai telah bangun berdiri, tetapi sekarangpun saat paling makmur bagi mereka. Aku lihat bakal tiba waktunya yang mereka itu akan saling bunuh, setelah itu barulah ketenangan dan kesejahteraan akan muncul. Kakak. asal kau dapat melindungi kedudukan abadi dari Kwan ong Bun, guna melewati saat saat yang berbahaya, itulah sudah cukup,"

Begitu habis berkata, nona ini mengulapkan tangannya. "Berangkat " perintahnya.

Sang kusir menyahuti, terus dia mengayun cambuknya hingga terdengar suara menjeter nyaring, dan kuda kuda kereta segera saja mengangkat kakinya berlari lari. Hingga malam yang sunyi itu terganggu bising roda roda-nya.

oey Yan duduk diam diatas keretanya, tubuhnya menyandar, matanya dipejamkan Agaknya ia tidur pulas.

ciu Koan juga menutup mulut, hanya ia sering menoleh kebelakang... Siauw Pek memikir banyak. akan tetapi melihat sikap nona oey itu, ia terpaksa berdiam saja. Tak mau ia mengganggu ketenangan sinona. Kereta berjalan terus kira kira satu jam, tibalah mereka dikaki sebuah bukit. "Berhenti " tiba tiba terdengar suaranya oey Yan, duduk dengan tegak. Kedua kereta segera dihentikan.

Dengan satu gerakan lincah, oey Yan meloncat turun dari keretanya. ia berdiri di atas tanah berumput.

"Kamu kemari " ia memanggil, tangannya menggapai.

ciu Koan serta kedua budak berbaju hijau menyahuti, mereka lari menghampiri.

Siauw Pek bertiga turut berlompat turun, dan menghampiri nona itu.

"Kamu juga kemari " oey Yan memanggil kedua kusir.

Mereka itu datang memenuhi panggilan, agaknya mereka ogah ogahan-

oey Yan mengawasi tajam kepada dua orang itu.

"Kamu mau membunuh diri atau ingin aku yang turun tangan ?" katanya bengis. Kedua orang itu, yang bertubuh besar dan berpakaian hitam, saling mengawasi.

"Apakah salah kami ?" mereka bertanya. Kata kata "kami" mereka berarti "orang sebawahan-"

"Jadinya kami anggota anggota Kwan ong Bun ?" sinona menegaskan.

"Benar. Kami semua ada orang orang yang bertugas didalam kuil." Kembali oey Yan mengawasi tajam kedua orang itu.

"Jikalau kamu bertugas didalam kuil, kenapa aku tidak mengenalmu ?"

Kembali kedua orang itu saling memandang lalu yang satunya menjawab^ " Walaupun kami bertugas didalam kuil, jabatan kami sangat rendah yaitu mengawal dipendopo depan, jarang sekali kami masuk keruang dalam." oey Yan tertawa tawar.

"Kau pandai bicara Rupanya kamu telah terlatih, ya ?"

"Jikalau aku buka rahasia kamu, kamu mau mengaku salah atau tidak ?"

"Entah kami melanggar peraturan pasal yang mana ?"

"Aku belum pernah melihat kamu, maka tentu kamupun belum pernah melihat aku. Kenapa kamu ketahui tentang kedudukanku dan kamu mengaku sebagai orang orang sebawahan ?"

"Kami lakukan pekerjaan ini karena diperintah," sahut pula kusir yang kedua itu, yang berdiri di sebelah kiri. "Kami telah menerima pesan dari paman Yap."

"Tahukah kamu kemana aku hendak pergi?" Suara si nona dingin sekali^

"Kami tidak tahu..."

"Kalau begitu, kenapa kamu tidak mau menanya dulu? Hm Terang kamu sudah disiapkan. Kamu bekerja menuruti rencana ..."

Kedua kusir itu mundur dua tindak. Mereka saling melirik. terus mereka merogoh sakunya masing masing, buat mengeluarkan pisau belati mereka. TEranglah bahwa mereka terdesak.

Nona oey segera berkata, tetap dengan dingin: "Rahasia kamu telah terbuka, Kami tanpa penasaran "

Kata-kata ini dibarengi dengan mencelatnya tubuh sinona, dengan kedua tangannya dipentang, untuk menyambar masing masing dada kedua kusir. ia seperti tidak menghiraukan bahwa ia bertangan kosong dan dua orang itu bersenjata.

Berbareng dengan itu ciu Koan dan kedua budak berbaju hijau juga sedang bergerak. Dengan masing masing mencekal sebatang pedang panjang, mereka mengambil posisi ditiga penjuru, guna menutupjalan lari kedua kusir itu. Didalam keadaan terpaksa itu, kedua orang berbaju hitam itu mengadakan perlawanan-Mereka menyambut sinona dengan sabetan pisaunya masing masing ketika sinona berkelit, mereka merangsak untuk balas menyerang. Dan, bertempurlah mereka bertiga.

Nona Yan lincah dan gagah walaupun bertangan kosong, ia dapat mendesak. Kedua kusir lekas juga menjadi bingung dibuatnya.

"Heran" berkatalah Kho Kong kepada Oey Eng, suaranya perlahan "Bagaimana ini ?"

"Memang urusan agak aneh," sahut kawan itu. "Tapi tunggu saja, soalnya akan cepat menjadi terang..."

Kata kata orang she Oey ini disusul dengan satujeritan "Aduh" tertahan Itulah sebab tinju sinona sudah mampir didada salah seorang kusir, hingga dia roboh terbanting,

dari mulutnya menyembur darah hidup, Mungkin dia tak akan hidup lebih lama pula

Kusir yang satunya kaget sekali, tapi dia takut mati, maka dia mendesak dengan dua serangan saling susul, setelah itu dia membalikkan tubuhnya, buat mengangkat kaki dan kabur...

Tapi Nona Yan sebat luar biasa. Dia berlompat menyusul, menyambar punggung orang itu. Hanya sekejap. ia telah bisa mencekam tangan kusir itu, kemudian merampas pisau belatinya maka dilain detik, senjata tajam itu sudah makan tuan, menancap didada kusir itu. Ia mengeluarkan napas lega, kemudian sambil menyingkap rambut didahinya, dengan perlahan ia menghampiri Siauw Pek bertiga.

"Tuan tuan, terima kasih banyak atas bantuan kalian terhadap kami" katanya sambil tersenyum. "Hingga kami bertiga majikan dan budak, telah bisa lolos dari ancaman bencana. Aku sangat bersyukur." Sejak tadi, Siauw Pek telah menjadi heran dibuatnya.

"Nona ini lemah lembut, kata katanya manis tapi siapa sangka, sekali turun tangan, dia telengas sekali," pikirnya. Tapi ia lekas menjawab: "oh, tidak. tidak. nona. Kami belum pernah membantumu, tak usah nona mengucap terima kasih..." Nona itu tersenyum.

"Didalam pendopo tadi," katanya ramah, "selagi kami berselisih, meskipun kamu belum membantu, pasti kamu telah berpikir untuk..."

Inilah Siauw Pek mesti akui. Ketika itu kesan baiknya ada dipihak nona ini. Apabila mereka itu kejadian bertempur, ia memang tidak bisa berpeluk tangan saja...

Sinona menoleh kepada budak budaknya. "Pergi kubur mayat mayat itu" titahnya.

ciu Koan menyahuti, segera ia mengajak kawannya menghampiri kedua mayat, untuk digotong pergi, buat dikuburkan sebagaimana perintah majikannya itu.

Kembali Siauw Pek berpikir: Nona ini cerdas sekali. Dia tentu lebih cerdik daripada sinona Tin. Ia heran karena dari luar sinona nampak cantik, halus dan tenang, tapi didalam dia sangat kejam.

Sementara itu ciu Koan bekerja cepat sekali sebentar saja kedua mayat itu sudah dipendam.

Melihat budak budaknya sudah selesai oey Yan melihat kelangit. "Tuan  tuan,  bantuan  malam  ini  akan  kuingat  didalam  hati

sanubariku," katanya sungguh sungguh. "Di waktu lain, pasti kami

akan balas budi kamu ini. Sekarang kami mohon diri." Begitu habis berkata, nona itu membalik tubuhnya, bertindak kekeretanya.

"Nona, tunggu dulu" kata Siauw Pek tiba tiba. Ia teringat sesuatu.

"Ada apakah, saudara coh?" tanya sinona yang memutar tubuhnya.

"Aku ingin bicara sedikit tetapi aku tidak tahu dapat aku mengatakannya atau tidak..." sahut si anak muda ragu-ragu. "Apa maksudmu, saudara Coh? silahkan bicara " kata si nona ramah.

"Aku mau bicara tentang maksud kami malam ini datang meminta kembali senjata senjata kami. Aku heran, bagaikan nona telah mengetahuinya terlebih dahulu..." Nona itu tersenyum.

"Andaikata malam ini tuan tuan tidak datang, besok pasti. Tak heran kau dapat menerkanya bukan ?"

"Nona telah menyediakan kotak kemala itu, yang memuat tiga gambar sulam. Apakah itu pun sudah direncanakan ?" Si nona menarik napas lega.

"Benarkah gambar-gambar itu gambar-gambar ayahbundamu?" ia tidak segera menjawab hanya ganti bertanya.

"Benar, itulah gambar almarhum ayahbunda ku."

"Jika begitu, simpanlah gambar itu. Saudara Coh telah mendapatkan warisan gambar gambar itu, apakah kau hendak menyesalkan atau menegur kepadaku ?"

Mendengar keterangan itu, si anak muda bingung. "Aku... aku..." sahutnya, ragu-ragu. oey Yan tertawa.

"Aku telah mengembalikan senjata kamu, juga aku menghadiahkan gambar ayah bundamu, dengan jalan ini dapat aku membalas sedikit dari budimu," katanya manis. " Gunung hijau kekal-abadi, air biru mengalir tak hentinya, maka itu, saudara Coh, semoga lain hari kita berjodoh akan bertemu pula "

segera si nona memutar pula tubuhnya, di lain saat ia sudah melompat naik keretanya.

"Nona, tunggu" mendadak oey Eng berseru sambil melompat kedepan kereta. Paras si nona berubah. Nampak dia kurang puas.

"Kau menghadang, apakah maksudmu?" tegurnya. "Nona telah mempermainkan kami setengah malaman," kata oey Eng. "sekarang bahkan sudah lewat, lalu nona mau meninggalkan kami secara begini saja, tidakkah itu terlalu sederhana?"

"Habis, mau apakah kamu?"

"Aku ingin melihat peti mati itu, apakah isinya"

"Jenazah yang mati sekian lama, apakah yang bagus untuk dilihat?"

---ooo0dw0ooo---
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pedang dan Golok yang Menggetarkan Jilid 11"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close