Pasangan Naga dan Burung Hong Jilid 07

Mode Malam
Jilid VII

"TETAPI sayang ia tak tahu bilamana aku pulang. Apalagi ia sedang marah, mungkin ia akan pergi mengembara menurutkan ayun kakinya. Ah, yang kukuatirkan kalau ia sampai membikin onar diluaran. Ia belum punya pengalaman sama sekali dalam dunia persilatan. Kebanyakan ia tentu berjalan disepanjang jalan raya lama." kembali In-nio berkata.

Sewaktu berpisah dengan In-nio, Khik Sia membawa hati yang gundah kalana. Ia mencemaskan nasib calon isterinya itu. Terpaksa ia menuruti petunjuk In-nio untuk mengambil jalan raya saja.

Dan memang apa yang diduga In-nio itu tepat. Setelah congklangkan kudanya keluar dari selat lembah, Yak Bwe menimang dalam hati: "Karena mereka menuduh aku sebagai cumi cumi (kaki tangan musuh), maka akupun tak sudi ketemu lagi pada mereka."

Pada hal ia hanya tak sudi berjumpa lagi dengan Khik Sia. Namun karena dirangsang oleh kemarahannya, segala yang menyangkut dengan anak muda itu, ia lempar kesamping semua. Namun Khik Sia, sahabat2nya sampai pun orang-orang yang berhubungan dengan anak muda itu, ia tak mau bertemu lagi. Ia tahu kawanan penyamun itu tak mau kesamplokan dengan tentara negeri. Mereka tentu mengambil jalan yang sunyi. Itulah sebabnya maka ia lantas mengambil jalan besar saja.

Saat itu Yak Bwe masih menyaru sebagai seorang pria. Dandanannya menyerupai anak orang hartawan. Apalagi kuda yang dinaiki itu seekor kuda tegar yang jarang terdapat. Maka orang tentu bakal tak menduga bahwa ia itu seorang pelarian dari sarang penyamun gunung Kim-ke-nia. Tapi rakyat sekitar Kim-ke-nia itu masih kolot. Dandanan semacam itu telah menimbulkan perhatian dikalangan mereka.

Tetapi karena sedang dilanda kemarahan ia tak mengacuhkan mereka. Ia keprak kudanya kencang-kencang. Pun ia berusaha untuk menghapuskan kenangannya terhadap Khik Sia. Tapi ah, makin keras ia coba menekan sang hati. makin jelas bayang-bayang anak muda itu dalam pikirannya.

"Sejak ini aku laksana seekor burung yang bebas diudara. Tetapi walaupun jagad ini amat luas, kemanakah. aku akan menempatkan diri!?" pikirnya. Teringat akan sang nasib, ia merasa pedih sekali. Beberapa butir air mata bercucuran membasahi sepasang pipinya.

Tiba2 dari arah belakang terdengar seseorpng berseru: "Hai, alangkah eloknya kuda itu! Eh aneh sekali budak itu. Coba dengarkan, apakah ia sedang menangis?"

Nada orang itu tak begitu keras. Tapi karena sejak kecil Yak Bwe sudah biasa berlatih ilmu senjata rahasia, maka pendengarannya jadi tajam sekali. Ia dapat menangkap kata2 orang dengan jelas.

Cepat2 Yak Bwe usap air matanya dan ketika berpaling kebelakang, dilihatnya kira-kira pada jarak setengah li disebelah sana ada dua orang lelaki bermuka bengis tengah mencongklang kudanya,

"Cis sungguh memuakkan. Aku menangis sendiri, mengapa kalian ngerasani (membicarakan) aku!" ia mendamprat orang itu dalam hati. Ia cepat keprak kudanya supaya lari lebih cepat. Sekejap saja, ia tinggalkan kedua orang itu jauh dibelakangnya.

Memang ia masih kurang pengalaman. Ia sama sekali tak memikikan bahwa kalau pada jarak setengih li jauhnya orang dapat dengar suara tangisnya, orang itu tentu bangsa kaum persilatan yang berilmu tinggi. Paling tidak mereka itu seperti dirinya, sendiri, tentu pernah berlatih ilmu senjata rahasia.

Bagaimanapun juga Yak Bwe itu diasuh dalam kalangan keluarga seorang pembesar tinggi. Ia biasa hidup sebagai seorang puteri Ciat To Su yang manja. Ia benar memiliki ilmu silat yang tinggi dan mahir juga dalam ilmu naik kuda. Tapi sebegitu jauh ia masih belum mempunyai pengalaman praktek. Berselang tak berapa lama dilarikan oleh sang kuda, lebih2 ketika menyusuri jalan didaerah selat pegunungan yang naik turun, ia mau tak mau jadi meringis juga karena tak tahan di goncang-goncangkan diatas pelana. Tulang-tulangnya terasa kaku kesakitan.

Ia berpaling lagi kebelakang. Karena kedua lelaki tadi  sudah tak kelihatan, barulah ia tahan tali les kudanya dan mulai berkuda perlahan-lahan. Kini pikirannya mulai bekerja lagi: "Pulang kerumah keluarga Sik, terang aku tak mau. Baiklah, mulai saat ini aku akan jadi seorang gadis kelanalah. Nanti apabila tiba dikota, lebih dulu akan kubeli pakaian dari kain kasar. Ya, sepatu dan kain kepalaku ini juga perlu diganti."

Hari sudah menjelang petang. Kebetulan sekali tak jauh disebelah muka sana, ada sebuah kota kecil. Ia berkeliling dalam kota itu untuk mencari rumah penginapan yang mencocoki seleranya, Tapi ternyata rumah penginapan itu kotor-kotor, temboknya banyak yang hitam kena asap. Apa boleh buat ia terpaksa memilih salah sebuah yang agak bersih,

"Menurut peraturan rumah penginapan kami ini, uang kamar, makan dan perawatan kuda, harus dibayar lebih dulu," kata Tiam-siau-ji atau jongos.

"Ya, berilah aku sebuah kamar yang paling baik, berapa sewanya semua?" tanya Yak Bwe.

Pengurus rumah penginapan segera mengambil suipoa dan menghitungnya. "Sewa kamar tiga chi. Hidangan disini ada tiga golongan. Tuan tentu menghendaki menu (hidangan) golongan kesatu, nah pembayarannya lima perak. Makanan kuda, kami hitung satu setengah perak, jadi semua sembilan perak setengah, Hi, hi keliwat murah, tidak sampai satu tail perak!"

Pada hal setiap macam, ia mahalkan sedikit. Ia memukul dua perak lebih banyak dari harga semestinya.

"Sudah jangan ribut, akan kubayar satu tahil pas!" kata Yak Bwe.

Pengurus rumah penginapan itu terbeliak matanya. Mulutnya segera tertawa lancar: "Baik terima kasih tuan!"

Tetapi ketika Yak Bwe merogoh saku baju sampai sekian lama belum juga tangan itu dikeluarkan lagi. Wajah sipengurus rumah penginapan segera berobah. Pikirnya: "Ditilik dari pakaiannya yang mewah, masakan ia seorang pemuda bangkrut. Tidak punya uang, mengapa berani masuk hotel?"

Kiranya uang yang dibawa Yak Bwe sudah habis digunakan. Tetapi sewaktu tinggalkan rumah keluarga Sik, ia mengambil segenggam 'kedele mas'. Menurut adat kebiasaan dikota Tiang-an pada masa itu, kaum hartawan kebanyakan suka menjadikan mas mereka berupa seperti bundaran kecil2  sedikit lebih besar dari kedele. Emas yang sudah dijadikan dalam bentuk seperti itu disebut kim-tau atau kedele emas. Hari raya Sin-cia, waktu halal-bihalal kerumah sahabat, mereka menghadiahi anak-anak putera sahabatnya itu dengan biji mas seperti itu.

Sebagai seorang Ciat-to-su dari daerah Lo-kiu, Sik Ko juga mengembangkan adat kebiasaan dikota raja Tiang-an itu. Sewaktu pada hari tahun baru orang-orang sebawahannya berkunjung untuk menghaturkan halal-bihalai kepadanya, mereka tentu memberi ang-pao kedele kepada Yak Bwe.

Ketika meninggalkan rumah ayah angkatnya karena terburu-buru maka Yak Bwe tak sempat lagi membekal goan- po atau hancuran perak, melainkan mengambil sekenanya saja segenggam kedele emas itu. Kemudian selama dalam perjalanan dengan In-nio, semua ongkos-ongkos diperjalanan itu dibayar oleh In-nio, maka bekal emas itu sebutirpun masih belum digunakan.

Karena tak mendapatkan perak hancur, seketika wajah Yak Bwe bersemu merah. Terpaksa ia menjemput keluar sebutir kim-tau. Katanya: "Ciang-kui, aku tak membawa perak hancur. Ini sebutir kim-tau kubayarkan kepadamu selaku pembayaran rekeningku."

Selama rumah penginapan itu dibuka, belum pernah kedatangan tetamu yang begitu royalnya. Karena herannya, tetamu-tetamu yang berada disitu sama maju mengerumuni. Dengan tangkasnya, pengurus rumah penginapan itu menimbang-nimbang kim-tau itu dengan tangannya. Menurut pengalamannya, ia taksir kedele mas itu beratnya ada 6 - 7 gram. Nilai emas pada masa itu, satu tahil emas sama dengan tiga puluh tahil perak lebih. Kim-tau itu paling sedikit harganya dua puluh tahil perak.

Ciang-kui atau pengurus rumah penginapan itu, jarang sekali mendapat emas. Diam-diam ia timbul kecurigaannya: "Masakan didalam dunia ada seorang tolol yang menganggap emas sama dengan perak? Ah, tidak, tidak! Pemuda ini tentu seorang penipu. Ha, kim-tau apa? Tentulah hanya tembaga belaka!"

Karena hidupnya dalam keluarga Sik itu tak pernah kekurangan, jadi Yak Bwe itu tak mengerti harganya emas. Demi melihat sipengurus rumah penginapan berdiam diri dengan wajah gelap, ia pun bertanya dengan heran:

"Bagaimana, apakah emas itu masih belum cukup untuk membayar rekeningku? Jika masih kurang, biar kutambahi lagi sebiji!"

Hal itu bukan membikin girang sipengurus rumah penginapan, sebaliknya malah membuatnya makin curiga. Katanya: "Aku selamanya memegang teguh kejujuran, tak mau membikin rugi, orangpun tak suka dibikin rugi. Aku hanya menghendaki perak saja, tak mau emas!"

"Bukankah telah kukatakan bahwa aku tak membekal uang perak?" seru Yak Bwe dengan gugup.

Mata ciang-kui itu mendelik, ujatnya: "Tidak punya uang perak? Baik, beri saja pakaianmu itu kepadaku. Pakaianmu itu kuhargai dua tahil perak, jadi aku masih memberimu lagi dua perak!"

Yak Bwe makin gelisah. Kepalanya mulai berkeringat. Serunya: "Mana bisa? Mana bisa? Kau keliwat menghina orang!"

Mata ciang-kui itu berkeliaran, sahutnya: "Sewa hotel harus dengan uang. Tak punya uang silahkan pergi saja. Aku sudah keliwat bermurah hati. Mengapa kau menuduh aku menghinamu? Tuan-tuan tetamu, harap suka memberi pertimbangan!"

Selagi bertengkar ramai, tiba-tiba ada dua orang menerobos maju. Hampir bersamaan waktunya mereka itu berseru: "Ciang-kui jangan ribut! Rekening tuan ini, akulah yang membayarnya?" Yak Bwe mendongak mengawasi. Dilihatnya ada dua orang tengah menghampiri kearah tempatnya. Yang seorang adalah seorang pemuda pelajar dan yang seorang lelaki pertengahan umur yang mukanya penuh dengan daging menonjol, sebuah muka yang menimbulkan rasa jemu pada setiap orang yang memandangnya. Yak Bwe seperti pernah bertemu dengan dia, tapi entah dimana. Sejenak merenung, barulah ia teringat. Dia adalah seorang penunggang kuda yang siang tadi berada disebelah belakang dan ngerasani dirinya.

Simuka daging nonjol merebut berkata lebih dulu: "Aku yang gemar mengikat persahabatan. Urusan yang tak berarti ini, harap kau jangan pikirkan. Ai, ciang-kui, ambillah uangku dua tahil perak ini!"

Berkata sipemuda pelajar: "Air bertemu dengan rawa, harap maafkan kelancanganku. Ah saudara tak perlu kau mendongkol terhadap orang-orang itu!" katanya kepada Yak Bwe. Kemudian iapun merogoh keluar dua tahil perak dan diletakkan dimeja kasir: "Ciang-kui itu benar-benar tak punya biji mata. Masakan emas tidak mau menerima sebaliknya minta perak. Baiklah, karena kau minta perak, nih terimalah!".

Simuka menonjol berkaok-kaok keras: "Tidak! Ciang-kui, kau harus menerima uang perakku tadi. Karena akulah yang lebih dulu!"

Pemuda pelajar itu tertawa: "Kita sama-sama hendak mencari kawan, mengapa ada perbedaan yang dulu dan yang belakang? Harap jangan saudara rebutan."

"Ah, anak ini besar rejekinya!" diam-diam ciangkui itu berkata dalam hati. Tapi dalam pada itu ia merasakan kesukaran sekarang. Kala tadi ia kuatir Yak Bwe tak punya uang kini setelah ada dua orang rebutan membayari sukar baginya hendak menerima kepunyaan siapa. Simuka daging menonjol itu tampak deleki mata kepadanya. Yak Bwe mendongkol, serunya: "Terima kasih atas kebaikan saudara berdua. Silahkan simpan kembali uang  perak itu, aku tak mau tinggal dihotel ini!"

Diam2 ia tak percaya, masakan perak lebih berharga dari emas! Kalau kasir rumah penginapan itu tak mau menerimanya, ia hendak coba pergi kelain rumah penginapan.

Kini sebaliknya sipengurus rumah penginapanlah yang gelagapan. Sudah tentu ia tak sudi kehilangan keuntungan yang sebesar itu. Buru-buru ia hendak maju menghadang Yak Bwe. Tapi belum lagi ia bergerak, tahu-tahu simuka nonjol sudah mendahului cepat dimuka Yak Bwe yang hendak berlalu itu.

"Tuan muda, rumah penginapan ini adalah yang terbaik dikota sini. Atas kekasaran ciang-kui, biarlah aku yang menghaturkan maaf. Harap tuan suka bermalam disini saja. Mari kita menjadi sahabat," serunya sembari menjura.

Wajah Yak Bwe menjadi merah, bentaknya, "Perlu apa kau mau merintangi aku?" Sekali mengilah, ia sudah lolos dari hadangan orang itu.

Orang yang bermuka nonjol itu tak dapat berbuat apa-apa kecuali mendengus. Tapi diam2 ia mengerti. Sipemuda pelajar juga tertegun melihat perbuatan Yak Bwe. Buru-buru ia maju menghampiri.

"Apa yang dikatakan saudara ini tadi, memang sesungguhnya. Didalam kota ini, hanya rumah penginapan inilah yang paling baik. Jin-heng, mengapa kau taruh dihati perbuatan orang goblok itu?" serunya.

Kemangkelan hati Yak Bwe agak reda. Dipikir-pikir lagi memang simuka menonjol itu pun sebenarnya bermaksud baik kepadanya. Buru-buru ia menghaturkan maaf, tapi tiba-tiba ada seseorang melangkah masuk kedalam ruangan situ. Dia seorang yang rambutnya sudah bercampur uban. Usianya diantara lima puluh tahunan. Mirip dengan seorang guru desa, tapi pada hakekatnya seorang tiau-hong (juru taksir) sebuah pegadaian besar di kota yang datang kekota kecil untuk menagih rekening.

Melihat kedatangan tauhong tersebut, girang ciang-kui bukan kepalang. Serunya: "Ah, kebetulan sekali kau datang. Tolong lihatkan emas. ini palsu atau tulen?"

Acuh tak acuh tauhong itu lantas menyahut: "Apa yang kamu ributkan tadi, telah kudengar semua. Sungguh baru sekali ini kudengar ada orang yang menyamakan harga emas dengari perak. Aku memang kepingin menyaksikan."

Semula tiauhong itu memang tak percaya bahwa emas dari Yak Bwe itu emas tulen. Tapi demi menyambuti kim-tau tersebut, sekali pandang, kejutnya bukan kepalang.

"Ciang-kui, kau sungguh seorang yang tak punya biji  mata!! Malaekat rejeki masuk kepintu rumahmu, kenapa kau tolak mentah2?"

"Apa?" teriak siciangkui tak kurang kagetnya.

"Ini adalah cia-kim (emas murni) yang beratnya tak kurang dari tujuh gram! Tuan muda, biarlah kutukar dengan perak!" katanya kepada Yak Bwe. Ia mengambil seuntai goanpo yang beratnya sepuluh tahil dan sepuluh tahil perak hancur untuk diberikan kepada Yak Bwe.

"Tuan, menurut kurs emas sekarang ini, emasmu ini seharusnya mempunyai nilai dua puluh dua tahil dan tujuh setengah gram perak. Tapi aku hanya membawa dua puluh tahil saja. Jika kau mau tukar, kau harus pergi kekota dulu. Kekurangan ini. "

"Terima kasih, terima kasih! Kau telah menolongi kerepotanku. Tentang kekurangan yang tak seberapa jumlahnya itu, ambillah sebagai uang pembeli arak," saking girangnya Yak Bwe cepat-cepat menyahut. Ia tak mau pusing- pusing lagi dengan soal tetek bengek. Wajah sipengurus rumah penginapan menjadi gelap. Ia menyesal karena begitu tolol mengira seekor ikan kakap sebagai ikan teri. Kini ikan kakap itu sudah disambar oleh sitiau-hong yang bermata jeli. Buru-buru ia meminta maaf kepada Yak Bwe dengan menjura. Katanya dengan terbata- bata: "Karena ketololan-ku, tadi telah menyalahi tuan. Harap tuan suka maafkan, biar kusiapkan kamar yang bagus untuk tuan."

Yak Bwe hanya tersenyum saja. Diberikannya dua puluh tahil perak itu semua kepada ciang-kui, katanya: "Sudahlah, jangan sibuk-sibuk. Belikan dulu aku dua stel pakaian!"

Dengan tersipu-sipu ciang-kui itu menyahut. "Baik, baik, tapi mungkin dikota ini tak ada orang yang jual pakaian sutera halus,"

"Aku tak mau dengan pakaian sutera, belikan saja dua stel pakaian dari kain kasar. Sisanya kau boleh ambil. Tadinya memang hendak, kuberikan kepadamu kim-tau itu selaku pembayaranku menginap disini. Karena kim-tau itu berharga dua puluh tahil perak, maka semuanya menjadi bagianmulah!" kata Yak Bwe.

Seketika pengurus rumah penginapan ternganga kesima. "Hai, mengapa kau tak lekas2 menghaturkan terima kasih

pada tuan ini?" seru si tiau hong dengan tertawa.

Saking girangnya, ciang-kui itu seperti orang gila. Duk, duk, duk, tiga kali ia menjura ke bawah sampai kepalanya membentur pada lantai. Kemudian ia lekas2 menyuruh seorang jongos siapkan sebuah kamar kelas satu dan seorang jongos lagi untuk membeli pakaian.

"Bereslah, sekarang aku sudah mendapat kamar. Terima kasih atas kebaikan saudara tadi," kata Yak Bwe sembari memberi hormat kepada sipemuda pelajar dan simuka daging menonjol tadi. Terhadap yang tersebut belakangan ini, sebenarnya ia merasa muak, tapi apa boleh buat terpaksa ia menghaturkan terima kasih juga.

Karena tadi mendapat kopi pahit dari Yak Bwe, simuka daging menonjol itu masih kikuk dan menyesal. Kini setelah Yak Bwe menghaturkan terima kasih, ia merasa mendapat angin. Buru-buru ia hendak menghampiri untuk mengajak bicara, tapi kecele lagi oleh Yak Bwe yang segera pamit hendak mengaso: "Maafkan saja, kalau mau bicara besok pagi saja! Karena habis menempuh perjalanan, aku merasa lelah, dan hendak mengaso."

"Iya, ya, benar. tuan harus beristirahat. Biar kupersiapkan bantal dan selimut yang bersih untuk tuan!" kata siciang-kui. Ia segera mengantar Yak Bwe kedalam kamarnya.

Simuka daging menonjol melirik kearah bayangan Yak Bwe dan mendengus perlahan. Mulutnya berkemak-kemik menyumpahi: "Sombong benar!"

Sipemuda pelajar beikipas-kipas dan berkata seorang diri: "Mengikat persahabatan, yang penting terletak pada persesuaian faham. Harus suka sama suka, tak boleh dipaksakan."

Simuka daging menonjol itu deleki mata: "Apa katamu?" Pemuda pelajar itu hanya tersenyum saja: "Ah, tak apa-

apa. Jika saudara tak menampik marilah kita menjadi sahabat."

Rupanya simuka daging menonjol itu sedang uring2an. Serentak ia berseru keras: "Baik, ayuh kita berjabatan tangan!"

Ia menjabat tangan sipelajar itu. Diam-diam ia hendak memberi pil pahit pada sipelajar maka genggamannya diperkeras, Tapi diluar dugaan, pelajar itu tenang-tenang saja seperti tak merasa kesakitan. Sudah tentu simuka daging menonjol terperanjat. Lebih kaget lagi ia ketika merasakan tangan sipelajar yang di genggamnya itu panas seperti besi dibakar. Buru-buru ia lepaskan tangan, tapi ternyata telapak tangannya telah melepuh sebagian.

"Mengapa wajah saudara tampak tak wajar apakah tak sudi mengikat persahabatan denganku?" ujar sipemuda pelajar.

Simuka daging menonjol itu meringis. Buru buru ia menjawab: "Akupun merasa lelah, maaf, tak dapat lama2 menemani saudara."

Pemuda pelajar itu menirukan sikap orang tadi. Ia mendengus dan mulutnya berkeroak-kemik: "Sombong benar!"

Simuka daging menonjol itu tak berani cari perkara lagi. Ia pura-pura tak mendengar terus masuk kedalam kamar.

Sementara itu sipengurus rumah penginapan yang mengantarkan Yak Bwe tadi, begitu masuk kedalam kamar, Yak Bwe segera kerutkan alisnya. Dua buah daun pintu, dari jendela kamar itu sudah rusak. Temboknya penuh dengan noda-noda hitam, kelambunya yang sudah kumal kehitam- hitaman itu sudah banyak lubangnya. Terang kelambu itu sudah lama tak pernah dicuci. Kamar itu baunya apek dan lembab.

"Inilah kamar yang terbaik dihotel kami. tuan harap kau tak berkeberatan untuk tidur disini semalam saja." kata sipengurus rumah penginapan itu disertai permintaan maaf.

Dalam hati Yak Bwe sudah bertekad bulat; "Aku sudah mengambil ketetapan untuk menjadi gadis persilatan. Aku harus dapat menyesuaikan diri dengan segala macam keadaan."

"Baiklah, besok pagi-pagi bangunkanlah aku. Aku hendak lekas-lekas meneruskan perjalanan, Eh, ya, pakaian yang kusuruh kau belikan itu, lekaslah bawa kemari." Sipengurus rumah penginapan katakan bahwa ia sudah menyuruh orangnya untuk membelikan. Tak lama tentu akan datang. Kemudian ia menanyakan hidangan apa yang Yak Bwe hendak minta untuk malam itu.

"Bawakan kemari beberapa macam sayur. Apa saja boleh tapi harus yang bersih." kata Yak Bwe.

Tak berselang berapa lama, pengurus itu datang pula dengan seorang jongos yang membawa sepenampan hidangan. Selain itu juga membawa dua bungkusan kertas yang berisi dua stel pakaian dari kain kasar.

"Harap Tuan coba dulu. Jika kurang pas? biar segera kutukarkan.." kata sijongos.

"Tak usah dicoba, taruh disitu saja." sahut Yak Bwe.

Diam-diam jongos itu merasa heran, pikirnya; "Jangan- jangan orang ini kurang waras pikirannya. Pakaian dari kain sutera halus tidak mau, sebaliknya minta dari yang kain kasar. Kemudian disuruh mencoba pas atau tidaknya, juga tidak mau,"

Tapi karena Yak Bwe merupakan seorang tetamu yang paling royal dalam sepanjang sejarah hotel itu, baik sipengurus maupun jongos tak berani banyak mulut lagi.

Ternyata walaupun tadi Yak Bwe hanya minta beberapa macam sayur yang sederhana saja, tapi ternyata hidangan yang diberikan kepadanya itu mewah juga. Ada seekor ayam goreng beberapa macam masakan ikan dan daging. Karena Yak Bwe tak begitu bernafsu makan, maka setelah menyirupi beberapa sendok kuah ayam dan makan sepotong kaki ayam goreng, ia segera suruh si jongos membawa pergi.

Sewaktu berada seorang diri, Yak Bwe coba berusaha  untuk menekan perasaan muaknya kepada kamarnya itu. Tapi apa mau dikata. Dari kecil sampai sekian besarnya, belum pernah ia tidur dikamar yang sedemikian jeleknya. Ia sudah tak enak hatinya waktu melihat daun jendela rusak, maka iapun tak berani lepas pakaian, meja itu lebih mendingan bersihnya.

Demikian pikirnya dan ambil putusan untuk tidur menggelendot dimeja saja. Tapi karena hatinya tak tenteram jadi iapun tak dapat tidur pulas.

Jauh diluar jalan sana terdengar suara kentungan dipalu. Rembulan mulai condong kebarat. Saat itu sudah lewat tengah malam. Akhirnya kantuknya tiba juga. Tapi baru ia hendak meramkan sang mata, tiba-tiba terdengar ada dua lembar daun bertebaran jatuh dimuka jende!a. Diluar seperti ada sebuah suara halus.

Disebelah luar kamar itu adalah sebuah halaman kecil. Disitu terdapat sebatang pohon co (semacam jambu) yang tinggi besar daunnya amat rindang, sehingga sinar rembulan sukar menembus kebawah. Pikiran Yak Bwe tersentak dan kantuknya pun serentak hilang. Pikirnya: "Mengapa tiada angin, daun itu bisa jatuh sendiri?"

Seketika timbullah kecurigaannya. Ia mengintip dari daun jendela yang rusak itu. Beberapa saat kemudian, dilihatnya ada beberapa lembar daun bertebaran jatuh lagi. Memperhatikan kearah datangnya daun yang jatuh itu, ia tersentak kaget. Samar-samar diantara gerombolan daun yang rindang itu, seperti  tampak  ada  bayangan  hitam  mendekam (tak terbaca)

benda tak boleh diperlihatkan orang. Ya, tentulah karena tadi aku mengeluarkan kim-tau maka telah menarik perhatian bangsa penjahat. Untung aku tak jadi ganti pakaian, jika tidak wah, betapa maluku."

Teringat akan hal itu, timbullah kemarahannya. Cepat ia mengambil sejemput jarum bwe hoa-ciam. Dengan berendap- indap ia menghampiri kemuka jendela. "Hem, karena kau berani kurang ajar hendak mengintai, rasakanlah kelihayankul" diam-diam ia mendamprat.

Tapi pohon cio itu tingginya tak kurang dari tiga tombak. Biasanya ia hanya dapat menimpukkan bwe-hoa-ciam sampai dua tombak saja. Dipikir-pikir timpukkannya itu tentu akan gagal, kecuali ia gunakan ginkang untuk loncat keatas pohon itu. Tapi jika berbuat begitu, tentu akan membikin kaget orang-orang dan ini berarti akan timbul ramai-ramai nanti.

Selagi ia masih ragu-ragu belum dapat mengambil keputusan, tiba-tiba terdengar suara bluk. Entah dari mana datangnya, ada sebuah batu melayang kearah pohon itu. Rupanya orang yang bersembunyi diatas dahan pohon itu menjadi terkejut. Gerombokan daun tersiak, dan bagaikan sebuah bintang jatuh dari langit.

Orang itu segera melayang turun keluar pagar tembok dan menghilang. Karena tempat dibawah pohon itu rindang teduh, maka Yak Bwe tak dapat melihat dengan jelas siapa orang itu. Yang diketahuinya hanyalah bahwa ilmu ginkang orang, itu lihay sekali, tidak dibawah dirinya. Terang orang itu bukan pencuri biasa. Kini Yak Bwe teringat akan orang yang menimpukan batu mengusir penjahat itu. Tapi darimana orang itu mengumpet, Yak Bwe tak tahu sama sekali. Diam-diam kagum atas kepandaian orang.

"Entah orang gagah mana yang diam-diam telah membantu aku tadi," pikirnya. Tapi ia yakin tentu bukan Khik Sia.

Mengingat nama itu, wajah Yak Bwe bersemu merah. Ia mendamprat dirinya sendirinya: "Huh, jangan melamun yang tidak-tidak. Dia sudah memutuskan tali pertunangan denganku dan sekarang dia sudah mempunyai pacar lagi masakah dia mau membantuku?"

Dengan pikiran yang gundah itu sampai Yak Bwe tegak menggagahi jendela saja. Setelah di halaman tiada terdengar suara apa-apa lagi, barulah ia tidur dimeja. Tapi menjelang pukul tiga pagi, barulah ia bisa tidur sejenak. Dan beberapa saat kemudian datanglah sudah ciang kui membangunkannya. Karena tak sempat, terpaksa Yak Bwe tak dapat berganti pakaian kasar yang baru dibelinya itu.

Rupanya setelah menerima persen dari Yak Bwe, ciang-kui itu merasa sungkan juga. Tengah malam ia bangun untuk membuat kuweh bakpau dan ia paksa Yak Bwe suka membawanya sebagai bekal diperjalanan. Pun kuda Yak Bwe sudah dimandikan bersih, dikemasi dan di suruhnya seorang jongos untuk menyediakan diluar pintu. Diam-diam Yak Bwe geli didalam hati. Benar ciangkui itu mata duitan, tapi pelayanannya cukup memuaskan.

"Terima kasih atas pelayananmu yang baik itu. Ini kuberikan sebiji kim-tau lagi. Disamping itu aku hendak memberi nasehat padamu. Lain kali bila ada tetamu yang tak membawa uang, janganlah suka membelejeti pakaiannya," katanya.

Ciangkui itu malu tapi girangnya bukan kepalang. Ia mengiakan dan menghaturkan terima kasih. Serta naik keatas pelana, Yak Bwe segera larikan kudanya. Kuda itu sebenarnya kuda upeti dari daerah Ceng-hay yang sedianya akan dipakai untuk pasukan Gim-lim-kun. Tapi entah bagaimana, baru berjalan belum jauh, binatang itu tak henti-hentinya meringkik, jalannyapun makin lambat, seolah-olah seperti hendak mogok.

"Semalam aku tidak bisa tidur sebaliknya kau sudah beristirahat dan makan rumput cukup. Mengapa kau masih bertingkah?" ia menggerutu dan segera pecut kuda itu.

Kuda itu lari lagi tapi beberapa detik kemudian kembali meringkik-ringkik. Waktu diperhatikan, Yak Bwe dapatkan kaki kuda yang depan itu seperti pincang.

"Celaka! Apakah ia terluka? Tapi kemarin ia masih baik," pikir Yak Bwe. Waktu ia hendak turun memeriksa, tiba-tiba dari arah belakang terdengar derap kaki kuda mendatangi. Ah, kiranya simuka daging menonjollah yang mengejar kesitu.

"Hai, bukankah kemarin kau mengatakan hendak bercakap- cakap padaku hari ini?? Mengapa begini pagi kau sudah ngacir sendirian apa tak mau bersahabat?" orang itu tertawa.

Yak Bwe muak melihatnya. Sahutnya dengan getas: "Aku ada urusan, tak ada waktu berkenalan padamu!"

Simuka daging menonjol tertawa gelak-gelak, serunya: "Bolehkah aku bertanya padamu sepatah kata saja?"

Karena kudanya sakit, Yak Bwe tak dapat berbuat apa-apa. Terpaksa ia tahankan kemarahannya! "Ya, kau hendak bertanya apa?"

Orang itu miringkan matanya dan berkata dengan suara rendah: "Kita sebenarnya sudah berkenalan, maka kalau tak bisa menjadi sahabat, paling tidak kita harus saling mengetahui nama masing-masing. Aku orang she Hau, bernama tunggal Pheng. Dan kau nona tolong tanya siapa namamu yang harum?"

Saking kagetnya Yak Bwe hampir terperosot jatuh dari kudanya.

"Apa katamu?" teriaknya dengan tak lampias.

Orang itu tertawa pula: "Dihadapan seorang imam, janganlah bicara bohong. Nona, siang-siang aku sudah mengetahui kau ini seorang wanita. Tapi jangan kuatir, aku tak akan mengatakan kepada siapapun juga,"

"Apa maksudmu?" tanya Yak Bwe.

Orang itu tertawa mengikik, ujarnya: "Tak apa-apa. Tapi aku hendak mengulangi pertanyaanku tadi, mengapa begini pagi kau sudah melanjutkan perjalanan? Apakah hendak menjumpai kekasihmu?" "Mulut anjing tentu tak bergigi gading!" damprat Yak Bwe seraya ayunkan cambuknya kepada orang itu. Mulut anjing tak bergigi gading, artinya seorang buaya tentu tak dapat bicara sopan.

"Hai, menjumpai seorang kekasih juga perbuatan jelek  lho!" orang itu tertawa sembari menghindar dengan gerak teng-tha-ciang-sim atau mendaki menara menyembunyikan diri.

Tiba-tiba kuda Yak Bwe mendeprok ketanah dan Yak Bwe pun terlempar. Simuka daging menonjol pun melayang turun, terus hendak menyambar Yak Bwe. Yak Bwe gunakan gerak le-hi-ta-thing atau ikan kutuk berjumpalitan. Begitu loncat bangun, ia cepat mencabut pedang dan memaki: "Enyahlah! Jika berani maju selangkah lagi, aku tak akan memberi ampun lagi!"

Simuka menonjol itu sipitkan matanya dan tertawa-tawa: "Aku kan bermaksud baik, Nona kudamu sudah tak dapat dipakai, biar kuantarkan kau."

"Tidak sudi!" teriak Yak Bwe dengan gusar.

Orang itu masih peringas-peringis: "Nona, sungguh berbahaya jika berjalan seorang diri, lebih baik ikut aku sajalah. Tanya saja pada orang-orang, siapakah kaum persilatan yang tak tahu namaku Hau Pheng itu. Tak usah kau menemui kekasihmu lagi!"

Saking gusarnya dada Yak Bwe hampir meledak. Wut, Ia lantas menusuk. Tak mengira si muka menonjol kalau ilmu pedang Yak Bwe hebat sekali. Buru-buru ia surutkan tangannya namun tak urung lengan bajunya kena terpapas.

Muka menonjol itu juga amat tangkas. Waktu Yak Bwe menyerang lagi, ia sudah cabut senjata liang-to (sepasang golok) dan menangkis. Mereka bertempur sampai sepuluh jurus lebih. Orang itu kelabakan, tapi Yak Bwe kalah tenaga. Beberapa kali dengan gerak serangan yang indah, ia hampir saja dapat menusuknya tapi setiap kali tentu dapat ditangkisnya oleh simuka menonjol.

Tiba-tiba orang itu tertawa keras. "Ho, kiranya kau mengerti ilmu silat juga, itulah bagus! Kita bakal merupakan sepasang suami isteri yang setimpal betul!"

Yak Bwe makin geram: "Anjing bermulut najis, akan kujagal kau!"

"Ai, mau menjagal aku? Apakah kau tak kuatir menjadi janda? Aduh, betapa kesepian seorang janda itu! Apakah kau dapat bertahan?"

Maka Yak Bwe marah, simuka menonjol itu makin mesum kata-katanya. Kiranya ia memang sengaja hendak membikin marah Yak Bwe. Ia tahu ilmu kepandaiannya kalah tinggi dengan sinona, maka ia hendak membikin marah orang agar pikirannya menjadi kalang kabut.

Dan karena kurang pengalaman, Yak Bwe termakan perangkap, Nafsu amarahnya meluap luap hendak segera menyelesaikan penjahat itu, agar ia tak mendengar kata-kata yang kotor lagi. Karena amat ngotot, permainannya menjadi rancu. Lawan mengetahui kelemahannya itu. Tiba-tiba dengan berseru keras "lepas" sepasang goloknya menyusup kedalam lingkaran pertahanan sinar pedang terus menabas lengan Yak Bwe.

Keyakinan simuka menonjol bahwa Yak Bwe tentu akan terpaksa lepaskan pedangnya memang beralasan, Jika lain orang tentu akan berbuat begitu. Tapi Yak Bwe sudah dirangsang kemarahan. Ia sudah nekad untuk mati berbareng dengan lawan. Bukannya mundur sebaliknya ia malah melangkah maju. Tanpa hiraukan tangannya bakal tertabas kutung lagi. iapun menusuk kedada orang.

Simuka berdaging nonjol itu kiranya seorang penjahat tukang 'petik bunga' (istilah dunia kangouw untuk orang yang suka merusak kehormatan wanita). Sebenarnya hanya mengiler melihat kecantikan Yak Bwe dan tak mempunyai permusuhan apa-apa. Maka iapun tak mau diajak mati bersama. Buru-buru ia gunakan gerak "lengkungkan pinggang-miring menancapkan-pohon liu". Ia lengkungkan tubuh kesamping untuk menghindarkan tusukan pedang dan karena berbuat begitu, sepasang goloknyapun tak dapat mengenai sasaran.

"Hem, tak nyana budak ini begitu nekat. Untuk membikin lepas senjatanya terpaksa aku harus mengutungi lengannya. Tapi jika lengannya kutung, ia bukan lagi seorang wanita cantik. Apa artinya hal itu bagiku?" pikirnya.

Sebenarnya ia tak mau membikin cacad Yak Bwe dan kaiau dapat ingin menawannya hidup hidup saja. Tapi karena Yak Bwe begitu nekat rencananya itupun macetlah.

Selagi ia kebingungan, tiba-tiba dari arah belakang terdengar derap kaki kuda mendatangi. Dan penunggangnya segera berteriak: "Hau toako, rupanya kau hendak tinggalkan kawan. Mengapa kau mengelabui aku dan 'berdagang' seorang diri?"

Segera Yak Bwe mengenali orang itu sebagai kawan seperjalanan dari simuka daging menonjol kemarin itu.

Girang Hau Pheng bukan kepalang, serunya: "Hong toako, lekaslah kemari! Kau tutuk ia, nanti harta bendanya kuambil semua. Tepi kau jangan menutuk jalan darah kematiannya!"

Kiranya orang itu bernama Hong Cin-gi, seorang ahli penutuk jalan darah dengan senjata poan-koan-pit. Itulah justeru yang dimaukan Hau Pheng. Ia membutuhkan seorang yang dapat merubuhkan Yak Bwe tanpa melukainya.

Hong Cin-gi loncat turun dari kudanya. Dengan sipitkan mata ia tertawa: "Mengapa Hau toako bermurah hati. hanya mau orangnya tidak, mau uangnya? Oh.    ha, ha, hal Tahulah

aku sekarang. Orang itu ternyata memang jauh lebih berharga dari semua emasnya. Jual beli ini tetap kau yang mendapat kemurahan!"

Hau Pheng tahu bahwa kawannya itu pun sudah mengetahui siapa Yak Bwe. Buru-buru ia membujuknya lagi: "Ah, bukankah kita ini seperti saudara sendiri! Sudah tentu tak suka kau rugi. Asal toako membantu aku. nanti aku akan tambahi lagi sepuluh tahil emas."

Mendengar itu tertawalah Hong Cin-gi kegirangan: "Bagus, bagus, bagus! Kau gemar paras cantik aku rakus harta. Baik, akan kubantu dengan sungguh-sungguh!" Ia segera cabut sepasang poan-koan-pitnya dan terus ikut menyerang Yak Bwe.

Ilmu menutuk jalan darah dari Hong Cin-gi itu ternyata lihay benar. Ia merangsang maju dan tutukan poan-koan-pit kirinya kemuka Yak Bwe: Yak Bwe coba miringkan tubuh sembari papaskan pedangnya, tapi ternyata serangan Cin-gi hanya gertakan kosong. Begitu menarik pulang tangan kirinya, ia lantas maju menutukan poan-koan-pit kanannya kejalan darah hun tay-hiat didada Yak Bwe. Syukur Yak Bwe amat lincah. Waktu ujung poan-koat-pit sudah menempel dibajunya, ia segera meluncur kesamping. Ia dapat lolos dari ujung poan- koan-pit hanya terpisah seujung rambut saja. Dan kini ia mengirim serangan balasan, la ayunkan pedangnya untuk memapas bahu dan lengan orang kemudian diteruskan membabat pergelangan tangan.

Hong Cin-gi mengeluh perlahan. Ia putar tubuh sembari mainkan poan-koan-pit untuk menghalau serangan Yak Bwe. Kemudian mulutnya berseru: "Hau toako, bakpau yang sudah dimulut ini ternyata tak mudah ditelan, lho! Malah bisa membikin melonyoh mulut nanti."

"Bagaimana?" seru Hau Pheng.

"Apa kau tak memperhatikan? Ilmu pedangnya itu adalah ajaran Biau Hui sin-ni!" sahut Cin-gi. Hau Pheng tergetar hatinya namun ia berpikir lagi: "Ah, Biau Hut sin-ni kan sudah lama lenyap dari dunia kangouw. Apakah ia masih hidup, tiada orang tahu. Masakan aku harus membuang kuwe bakpau yang sudah dimulut ini?"

Ternyata pengaruh paras cantik lebih menguasai pikirannya. Sekalipun takut dan kepada Biau Hui, tapi ia tetap mata gelap.

"Hong toako, jangan kuatir! Akulah yang menawannya. Meskipun Biau Hui Sin-ni masih hidup, jika ada apa biar cari padaku, aku yang menanggungnya. Hong toako bantulah aku sungguh-sungguh, jika sepuluh tahil emas masih kurang, biar kutambah sepuluh tahil lagi. Nah, bagaimana?"

Tapi Hong Cin-gi gelengkan kepala: "Anak muridnya Biau Sin-ni, ah terlalu besar resiko-ku. Aku tak ingin jual jiwaku dengan dua puluh tahil emas saja."

Hau Pheng kertak gigi, serunya: "Jangan ngoceh yang tak perlu. Bilanglah, kau minta berapa?"

"Sedikitnya untuk tiga puluh tahil emas, barulah kita rundingkan lagi!" akhirnya Hong Cin-gi menyatakan.

"Baik, kuturut permintaanmu!" sahut Han Pheng dengan serentak.

Hong Cin-gi adalah seorang yang paling kemaruk dengan harta. Kata sebuah pepatah: "Dibawah kerincingnya uang emas, tentu ada orang yang berani."

Jangan lagi apa yang dikatakan Hau Pneng tadi memang benar, sskalipun kelak Biau Hui Sin-ni itu masih hidup dan mencarinya, paling-paling ia hanya sebagai pembantu Hau Pheng saja. Biau Hui Sin-ni belum tentu akan membunuhnya.

Berpikir sampai disini, pikiran Cin-gi yang sudah dibayangi dengan kilaunya emas itu, segera menyanggupi. Serunya dengan girang: "Baik, jual beli ini kita jadikan!" Begitu sepasang poan-koan-pit dikembangkan ia segera menyerang Yak Bwe lagi. Tangan kanan menyerang dengan jurus sian-jin-ci-lo (dewa menunjuk jalan) dan tangan kiri bermain dalam gerak hi-hu-un-cin atau nelayan bertanya kota. Sepasang poan-koan-pit menyerang jalan darah ki-bun-hiat dibawah lambung Yak Bwe.

Yak Bwe mendahului menyerang dengan jurus thiat-soh- heng-kiang atau rantai besi melintang disungai. Dengan sekuat-kuatnya ia tusukkan pedangnya. "Tring" cepat Cin-gi tutukan poan-koan-pit kebatang pedang. Begitu pedang terdorong kesamping, ia cepat susupkan sepasang poan-koan- pit kedada. Yang satu mengarah jalan darah ki-bun hiat, yang satu mengancam jalan darah ceng-pek-hiat. Namun permainan pedang Yak Bwe sudah mencapai tingkat kesempurnaan. Dengan andalkan ginkang ia gunakan jurus kek-cu-hoan sin atau burung dara berbalik tubuh. Dengan miring ia loncat kebelakang sampai satu tombak jauhnya. Sekalipun orangnya lolos, namun tak urung bajunya kena tertusuk berlubang oleh poan koan pit. Hampir saja ia terluka.

Hong Cin gi juga gesit sekali. Bagaikan bayangan, ia sudah mengejar dan memburunya lagi dengan ribuan pagutan sinar pit. Tubuh Yak Bwe, seolah olah terbungkus oleh sinar poan koan pit,

"Hong toako, jangan melukainya!" teriak Hau Pheng dengan cemas.

"Tahulah, jangan kuatir!" seru Hong Cin gi.

Sebenarnya Hong Cin gi lebih lihay beberapa kali dari Yak Bwe, tapi dikarenakan tak boleh melukai, maka agak sukar juga. Sekalipun pagutan poan koan pitnya tampaknya mengancam jalan darah yang berbahaya dari lawan tetapi sebagian besar hanyalah serangan kosong belaka. Ia harus menghindari jalan darah maut menyingkiri jalan darah yang membikin luka. Yang dicarinya hanyalah jalan darah pelemas saja. Ia mempunyai pantangan, sebaliknya Yak Bwe bebas bergerak. Maka walaupun jauh lebih lihay, tapi untuk memenangkan pertandingan itu dalam waktu singkat, sungguh tak mudah.

Tapi bagaimanapun juga, kepandaian itu tetap memegang peranan penting Cin-gi yang jauh lebih lihay akhirnya setelah lewat tiga puluh jurus dapat membuat Yak Bwe menjadi lemas juga. Dan karena kehabisan tenaga, permainan pedang Yak Bwe pun tidak sehebat tadi. Cin-gi tetap merangsangnya maju mundur. Ia hanya menunggu saat2 munculnya lubang kelemahan lawan, terus akan menutuk jalan darah pelemasnya.

Melihat itu Hau Pheng giiang sekali. Kini sepasang goloknya dipindahkan ketangan kiri semua. Iapun menanti kesempatan. Begitu ada kesempatan, ia akan gunakan ilmu tangan kosong kim-na ciu hwat untuk meringkus Yak Bwe.

Yak Bwe sudah senen kemis napasnya. Pikirnya: "Aku tak sudi ternoda jatuh ditangan buaya itu!"

Ia ambil putusan nekad. Tapi ketika ia hendak melaksanakan tekadnya untuk bunuh diri itu, tiba tiba terdengar derap kaki kuda mencongklang pesat. Belum kejutnya hilang, seorang penunggang kuda sudah muncul dihadapannya. Dan penunggangnya yang sudah segera loncat turun itu, bukan lain adalah sipemuda pelajar yang menginap dihotel tadi malam.

Sambil kebutkan kipasnya pemuda pelajar itu berkata dengan dingin: "Oh, jadi beginilah caranya memperlakukan sahabat itu?"

Hau Pheng yang sudah pernah merasai kelihayannya, tersentak kaget. Buru-buru ia berseru: "Harap saudara sudi memandang mukaku, jangan mengurusi perkara ini. Nanti tentu aku memberi balasan yang setimpal."

Pelajar itu tertawa tawai: "Bagus, kau hendak mengajak bersahabat? Kalau begitu ayuh kita berjabatan tangan," Sambil tebarkan kipas ia menghampiri Hau Pheng. Sudah tentu Hau Pheng cepat-cepat menyurut mundur, serunya: "Kau hendak apa?"

"Kita menjadi sahabatlah! Bukankah kau selalu mengatakan hendak bersahabat dengan tuan muda! Kau hendak bersahabat dengan gunakan golok. Aku tak akan pakai golok melainkan pakai kipasku ini untuk bersahabat denganmu." katanya dan orangnya pun sudah tiba. Secepat kilat kipas dikebutkan kemuka Hau Pheng.

Hau Pheng gusar dan karena melihat orang tak memakai senjata, ia memperhitungkan: "Betapapun tinggi lwekangmu, tapi kipasmu itu belum tentu dapat menundukkan sepasang golokku."

Cepat ia mengangkat goloknya dan terus dihantamkan kepada kipas orang. Sedang golok yang satunya dibuat menabas lengan sipelajar. Pemuda pelajar itu tertawa gelak- gelak. Kakinya diputar dan tiba terdengar suara mendering.

Golok Hau Pheng yang hendak menabas ke-lengannya tadi, telah dibikin terpental oleh kipas sipelajar. Sedangkan golok satunya telah disedot melekat oleh kipas untuk ditarik kesamping.

Memang dalam dunia Kang-ouw sebenarnya terdapat apa yang disebut senjata that-thiat-san atau kipas pelengkat besi. Tapi kipas si pemuda pelajar itu tidak besi melainkan dari bambu biasa. Hanya saja kipas itu dibuat oleh tukang pandai dan diberi ukir-ukiran gambar yang indah sekali. Memang pada masa itu, sebagian besar kaum bun-su (sasterawan) yang berada, suka menggunakan kipas semacam itu. Itu  untuk mewujudkan daya perbawanya. Maka kipas bambu itu sebenarnya hanya dipakai sebagai perhiasan bukan senjata! 

Sepasang golok dari Hau Pheng itu terbuat dari pada bahan baja murni, tajamnya bukan kepalang. Dia yakin bahwa dengan sekali tabas tentu dapat menghancurkan kipas lawan. Siapa tahu gerakan sipelajar itu bukan buatan lihaynya. Tahu- tahu kipas sudah melengket dipunggung golok. Waku sipemuda memutar kipasnya, golok Hau Pheng pun ikut berputar. Hampir saja golok itu terlepas dari tangan karena seperti dipelintir.

Walaupun tengah bertempur, tapi Cin-gi dapat melihat dengan jelas gerakan sipelajar itu. Ia insaf pemuda pelajar itu seorang tokoh silat yang berilmu tinggi. Ia ambil putusan harus lekas-lekas merubuhkan Yak Bwe dulu. Maka tanpa menghiraukan pantangan memilih jalan darah apa, ia segera merangsang maju dengan jurus siang sing kia hwe atau sepasang binatang kebetulan berjumpa. Keatas menutuk jalan darah hoakay diubun kepala, kebawah menutuk jalan darah tiangjiang dipantat. Hoa kay hiat adalah sebuah jalan darah utama dari tubuh manusia. Jika kena tertutuk kalau tidak binasa tentu akan menjadi invalid.

Yak Bwe buru-buru gunakan jurus kihwe liau thian atau angkat api membakar langit. Di angkat pedang keatas, seluruh perhatiannya ditumpahkan untuk menolak poan koan pit yang menyerang kepalanya. Siapa tahu, justru itulah yang dikehendaki Cin gi. Secepat kilat poan koan pit ditangan kirinya mengincar ting jiang hiat dibawah.

Meski Tiang-jiang-hiat bukan merupakan jalan darah maut atau pemingsan, tapi jika sampai tertutuk, kaki orang pasti akan lumpuh atau pincang karena urat2nya menyurut.

"Kalau kubikin pincang sebelah kaki mu itu, rasanya takkan membikin marah Lo Hau. Ya, aku terpaksa harus berbuat begitu karena pemuda itu lihay sekali. Lo Hau pasti takkan cari alasan untuk membatalkan perjanjiannyai tadi," demikian pikir Hong Cin-gi.

Pada saat ia berpikir begitu, ujung poan koan pitnya sudah menyentuh baju Yak Bwe. Tapi berbareng itu iapun merasa disambar oleh serangkum angin keras. "Celaka!" demikian ia mengeluh, seraya gelincirkan sang kaki untuk menghindar, namun sudah terlambat. "Plak" bahunya kena ditampar oleh sipemuda pelajar.

Ternyata pemuda pelajar itu telah berhasil menolong Yak Bwe dalam saat yang berbahaya. Tapi dengan berbuat begitu, berarti muda pelajar memberi kelonggaran bagi Hau Pheng. Tapi ternyata yang tersebut belakangan ini rupanya tak tahu diri. Begitu longgar ia segera mengajak kawannya: "Hong toako, ayuh kita beresi bocah kurang ajar ini!"

"Ha, bagus, bagus! Memang aku kepingin tahu bagaimana kalian hendak membereskan diriku ini!" sipemuda pelajar tertawa mengejek; Ia tebarkan kipasnya sehingga sepasang golok Hau Pheng tersiak. Setelah itu secepat kilat ia katupkan pula kipasnya untuk dipakai menutuk seperti poan-koan-pit.

"Kau adalah seorang akhli tutuk, nah aku hendak unjukkan sedikit permainan itu, tolong kau beri petunjuk!" dalam pada berkata-kata itu sipemuda sudah melancarkan tiga kali serangan yang ditujukan kearah jalan darah lo-kiong-hiat, thiat-cu-hiat, tang jiang hiat, ih gi hiat dan suan ki hiat ditubuh Hong Cin gi.

Sudah tentu Cin gi menjadi kelabakan setengah mati. Mati matian ia berusaha untuk menghalau serangan serangan itu sehingga sampai mandi keringat. Ia terperanjat sekali. Nyata ilmu kepandaian menutuk dari pemuda pelajar itu jauh lebih lihay dari dirinya. Sebatang kipasnya jauh lebih berbahasa dari sepasang poan koan pit orang she Hong.

Yak Bwe benci setengah mati pada Hau Pheng. Setelah Hong Cin gi dapat dicegat oleh sipemuda pelajar, kini ia mendapat kesempatan untuk melampiaskan kemarahannya. Cepat ia cabut pedangnya dan lari menerjang Hau Pheng.

"Jika tak melukaimu, jiwaku sendiri yang terancam. Ya, apa boleh buat, seorang jelita pincang ada lebih baik dari pada tidak ada sama sekali," demikian pikir Hau Pheng sambil kertak giginya erat-erat seraya mainkan sepasang goloknya untuk menahan serangan Yak Bwe. Yang atas untuk menangkis dan yang bawah untuk memapas lutut Yak Bwe. Jurus yang dimainkan itu adalah jurus yang paling diandalkan kelihayannya.

Telah dikatakan dibagian muka, bahwa Yak Bwe adalah murid dari Biau Hui Sin ni. Ia telah mewarisi ilmu pedang dari rahib sakti itu. Jika dinilai dari mutunya, sebenarnya kepandaian Yak Bwe itu lebih tinggi dari Hau Pheng. Benar dua buah serangan golok dari orang she Hau itu cukup berbahaya, tetapi jika Yak Bwe dapat berlaku tenang, ia pasti dapat menghadapinya. Tapi disebabkan karena ia kurang pengalaman dan kehabisan tenaga setelah bertempur hampir setengah harian itu, maka hampir saja ia tercelaka. Seharusnya sewaktu lawannya tengah pentang kedua goloknya keatas dan kebawah itu, ia segera menusuk kedada lawan saja karena bagian itu terbuka. Dengan berbuat begitu, berarti menghalau serangan yang kemungkinan besar malah dapat menang.

Tapi ternyata ia tidak bertindak begitu. Melihat lawan menghantam dengan ganas, Yak Bwe menjadi marah sekali. Iapun mengimbangi untuk memapas sekuat-kuatnya. Ini suatu kesalahan besar, karena dalam hal kekuatan ia kalah dengan lawan. "Trang" pedangnya dapat ditahan oleh salah sebuah golok Hau Pheng sementara golok yang satu dapat langsung menabas lutut dengan lancarnya.

Untung Yak Bwe masih dapat menyelamatkan diri. Dengan gunakan ginkang ih sing hoan wi, ia berloncatan sampai tiga kali untuk menghindari serangan berantai dari Hau Pheng. Hau Pheng cerdik sekali. Ia biarkan saja sinona berloncatan kian kemari, namun goloknya yang sebelah atas tetap menekan erat-erat pedang nona itu supaya jangan sempat ditarik pulang. Ia terus bolang-balingkan goloknya membabat kaki. Untuk menghindar terpaksa Yak Bwe berloncatan terus dan karena terus menerus berloncatan itu, napasnya tersengal sengal, tubuhnya mandi keringat.

Melihat itu sipemuda pelajar mengkerutkan keningnya pikirnya: "Anak muda itu memiliki ilmu pedang yang bermutu tinggi, sayang ia masih belum sempurna latihannya, jadi tak mampu menggunakan dengan selayaknya."

Ia ambil putusan menolongnya lagi. Cepat ia lancarkan tiga kali serangan. Setelah Cin-gi dapat didesak dengan menggelap. Lebih dulu ia berseru supaya Hau Pheng siap menerima serangannya. Tapi hal itu cukup membuat Hau Pheng terkejut setengah mati. Buru-buru ia kebaskan goloknya yang dibawah itu untuk membacok sipemuda. Tapi lagi2 pemuda pelajar itu unjukan kepandaian yang mengagumkan. Ia songsong golok Hau Pheng itu dengan kipasnya, "Ctak", begitu berbenlur, golok itu seperti melengket pada kipas. Dan begitu sipemuda pelajar memutar-mutar kipasnya mau tak mau Hau Pheng dipaksa harus melepaskan goloknya.

"Lo Hau, aku tak mau emasmu lagi, kau pakai sendiri sajalah!" tiba-tiba terdengar suara Hong Cin-gi berseru. Kiranya ia dapat mengetahui gelagat, bahwa pemuda pelajar itu keliwat tangguh. Begitu ada kesempatan ia lantas angkat kaki panjang dan kabur.

Hau Pheng serasa terbang semangatnya. Karena semangatnya hilang, nyalinyapun pecah. Sudah tentu ia tak dapat menahan pedang Yak Bwe lagi. "Trang" goloknyapun segera jatuh kaiena didorong Yak Bwe.

"No, no..." demikian sebenarnya ia hendak meratap "nona, ampunilah jiwaku." Tapi baru saja mulutnya berseru "no" ujung pedang Yak Bwe sudah bersarang keulu hatinya hingga tembus kepunggung. Teriakan "no" itu sudah tentu tidak terdengar jelas artinya sehingga sipemuda pelajarpun hanya menganggapnya sebagai teriakan orang yang sudah hampir mati. Setitik pun tidak terkilas dalam pikiran pemuda itu bahwa kata "no" itu sebenarnya potongan dari kata "nona"

Yak Bwe haturkan terima kasih kepada pemuda pelajar itu. "Aku mempunyai she dobel "Tok-ko" dengan nama tunggal

U. Dan siapakah nama saudara yang mulia ini? Mengapa bermusuhan dengan kedua bangsat itu.?" kata sipelajar itu.

Sembarangan saja Yak Bwe memakai sebuah nama samaran, ujarnya: "Aku sendiripun tak mengetahui mengapa mereka memusuhi padaku. Mungkin mereka hendak merampas harta bendaku."

"Apakah Suheng tak pernah berkelana di dunia Kangouw? Apakah Suheng membawa sesuatu benda pusaka ?" tanya Tok-ko U pula.

Orang bertanya dengan tiada maksud tertentu sebaliknya Yak Bwe malah tertegun. Pikirnya: "Hem, pemuda ini juga hendak menyelidiki pan, sedikitpun tak ada tanda2 seorang penjahat. Karena kurang pengalaman, maka menyahutlah Yak Bwe dengan sejujurnya. "Aku hanya membawa segenggam kim-tau saja. Ini, semua berada disini."

Dengan ucapan itu terang Yak Bwe mengira kalau pemuda pelajar itu hendak minta upah. Tapi karena melihat pemuda itu tampaknya bukan orang sembarangan, ia kuatir jangan jangan dugaannya itu meleset, salah salah bisa ditertawai orang. Lebih berbahaya lagi jika orang sampai menganggap perbuatannya itu (memberi persen), tak ubah seperti tingkah laku kaum wanita. Maka akhirnya ia menemukan akal. Diambilya keluar emasnya, tapi tak mau ia menyatakan apa- apa. Ia hendak menunggu sampai orang membuka mulut dulu.

Sudah tentu rencana Yak Bwe itu gagal, karena sipemuda pslajar itu sama sekali bukan macam orang seperti yang diduga Yak Bwe. Tampak pemuda itu tertawa kecil, ujarnya: "Ha, kalau begitu, kedua penjahat tadi sudah salah mata." "Apa?" seru Yak Bwe dengan terkesiap.

"Mungkin Suheng tak tahu akan asal usul kedua penjahat itu. Kemudian waktu baru tiba dirumah penginapan, memang aku sendiri belum mengetahui. Sekarang baru kuketahui. Apakah tadi kau tak memperhatikan bagaimana mereka saling menyebut "Hau toako" dan "Hong-toako"? Coba kau pikir, penjahat-penjahat she Hau dan she Hong yang terkenal ganas didunia Lok-lim, siapa lagi kalau bukan mereka?" kata pemuda itu.

Wajah Yak Bwe bersemu merah. Sahutnya "Ya, terus terang saja, aku baru pertama kali ini mengembara keluar. Bagaimana selu-beluk urusan Lok-lim sedikitpun aku tidak tahu. Harap saudara suka memberi petunjuk."

Kata Tok-ko U: "Kedua penjahat tadi, kupastikan sembilan puluh sembilan persen adalah Hau Pheng dan Hong Cin gi!"

"Siapakah sebenarnya mereka itu?" tanya Yak Bwe.

"Hau Pheng adalah penjahat yang termashur tukang "petik bunga". Sedang Hong Cin gi adalah seorang benggolan perampok yang bekerja seorang diri. Dikalangan Lok-lim, kepandaian mereka berdua itu juga termasuk golongan kelas satu. Selain gemar merampas wanita-wanita muda yang cantik, Hau Pheng itu pun juga suka merampas harta benda. Tapi ia selalu memilih, jika bukan 'dagangan besar' ia tak mau turun tangan. Hong Cin-gi lebih2 lagi. Ia selalu mengincar pada kaum hartawan besar. Terhadap yang hanya punya belasan tahil emas saja, ia tak memandang sebelah mata."

Berkata sampai disini pemuda pelajar itu berhenti sejenak. Kemudian dengan tersenyum ia melanjutkan pula berkata: "Harap Suheng simpan lagi kim-tau itu. Memang kim-tau Suheng itu tidak sedikit jumlahnya, tapi paling banyak hanya berjumlah sepuluh sampai dua puluh tahil emas, bukan? Maka tadi telah ku katakan bahwa kedua penjahat itu sudah salah mata. Sekalipun begitu, ada baiknya juga selanjutnya Suheng berhati-hati sedikit. Emas dan uang jangan sampai diperlihatkan orang, agar jangan menimbulkan akibat2 yang tidak menyenangkan, Misalnya, tindakan Suheng yang begitu 'royal' semalam itu, tak mengherankan kalau dapat menarik perhatian kedua penjahat itu. Kukira mereka tentu menduga bahwa Suheng masih mempunyai barang-barang berharga lainnya. Ha, ha, akhirnya yang satu mati dan yang lainnya terluka. Sudah sepantasnya mereka msndapat ganjaran itu."

Mengetahui bahwa Hau Pheng itu seorang penjahat tukang 'petik bunga', wajah Yak Bwe makin merah. Ditendangnya pula mayat Hau Pheng itu, serunya dengan geram: "Kiranya seorang penjahat jahanam. Aku kepingin menusukmu lagi!"

"Dengan membunuh penjahat itu, berarti suheng telah melenyapkan sebuah bisul dalam dunia kang-ouw, sungguh pantas diberi selamat," puji Tok-ko U. Ia masih mengira bahwa Yak Bwe itu seorang 'pemuda' yang benci akan kejahatan. Sedikitpuu ia tak mimpi bahwa 'pemuda' dihadapannya itu ternyata seorang nona.

"Ah, kesemuanya tadi berkat bantuan saudara, masakan aku berhak mengangkangi pahala," sahut Yak Bwe merendah.

Tiba ia teringat sesuatu dan bertanyalah: "Semalam ada orang bersembunyi diatas pohon halaman hotel, kemudian ada lain orang yang menghalaunya pergi dengan timpukan batu. Apakah itu perbuatan saudara sendiri?"

Tok-ko U tertawa: "Benar, memang aku. Yang bersembunyi diatas pohon itu ialah Hau Pheng ini."

Tiba-tiba kuda Yak Bwe meringkik kesakitan. Tok-ko U melirik dan mengerut heran. "Suheng... Suheng, kudamu itu telah dikerjai orang."

"Oh, makanya ia tak mau jalan, kukira binatang itu sakit.

Tapi entah bagian apanya yang terluka?" tanya Yak Bwe. Tok-ko U menyatakan hendak memeriksanya. Kaki depan binatang itu terangkat keatas, tak berani ditapakan ditapakan ditanah. Setelah melihat sebentar, berkatalah Tok-ko U. "Benarlah, dia terkena jarum bwe-hoa-ciam."

Dikeluarkannya sebuah batu semberani, lalu ditepuknya kuda itu perlahan-lahan. "Jangan takut, nanti kuobati lukamu. Suheng, tolong kau pegangi dia dan pinjamkan pedangmu."

Dengan ujung pedang Tok-ko U mencukil sedikit daging kaki binatang itu yang sudah busuk, kemudian ditempeli dengan batu semberani tadi. Benar juga dari dua buah kuku kaki kuda itu, keluar sebatang jarum perak yang berkilat-kilat. Habis itu lalu dilumuri dengan obat.

"Selesailah. Kuda ini amat tegar, setelah beristirahat sebentar tentu bisa jalan lagi. Hanya belum saja dapat berlari cepat mungkin besok pagi baru dapat sembuh seperti biasa." katanya.

Girang Yak Bwe tak kepalang. Kembali ia haturkan terima kasih. Diam-diam ia membathin: "Ah, orang ini amat baik sekali. Tapi entah dari golongan mana? Usianya lebih tua sedikit dari aku tapi dia tahu dan membekal macam-macam obat."

"Sudah jamak bagi kaum Kelana itu untuk saling tolong menolong. Sedikit bantuanku yang tak berarti itu mana berharga untuk menerima ucapan terima kasih Suheng? Sebaliknya aku malah merasa menyesal," kata Tok-ko U.

"Menyesal apa?" tanya Yak Bwe.

"Ah, tak perlu bertanya tentu juga sudah mengerti sendiri. Ya, apalagi kalau bukan tentang perbuatan si Hau Pheng itu. Semalam sudah kuketahui bahwa dia mengandung maksud jelek terhadap Suheng dan untuk itu aku hanya mengawasi gerak-geriknya saja, sama sekali tak menduga bahwa mereka bakal mencelakai kudamu juga. Bukankah hal ini pantas disesalkan?" "Ah, memang tipu muslihat orang didunia persilatan itu sukar diduga." Yak Bwe coba menghiburnya.

Kalau Yak Bwe mempunyai rasa curiga terhadap diri Tok-ko U, pun pemuda pelajar itu jaga mempunyai rasa demikian terhadap Yak Bwe. Selesai mengobati kuda, bertanyalah pemuda itu: "Rupanya kuda ini sejenis kuda dari luar daerah, benarkah?"

"Mungkin," sahut Yak Bwe. "karena aku sendiri bukan seorang akhli kuda."

"Dimanakah suheng membelinya? Kuda sejenis ini jarang terdapat didaerah tionggon sini," kata Tok-ko U.

"Pemberian seorang sahabat." sahut Yak Bwe dengan agak gelagapan. Karena tak biasa berbohong, jadi kata2 Yak Bwe itu tidak wajar.

Pikir Tok-ko U: "Ah, seorang yang rela menyerahkan seekor kuda macam begini, tentu seorang sahabat yang karib sekali. Seharusnya orang itu menceritakan juga tentang asal-usul dan keistimewaan binatang ini. Aneh, mengapa jenis kuda yang berasal dari luar daerah saja, ia tak tahu."

Tapi karena baru berkenalan, jadi Tok-ko U tak leluasa untuk bertanya dengan melilit. Hanya dalam hati saja ia tetap mempunyai rasa curiga. Dia sudah banyak pengalaman dalam dunia kangouw, sepintas pandang tahulah bahwa Yak Bwe itu masih hijau, sekali-kali bukan pemuda jahat.

"Menilik bagaimana tadi ia serta merta mengeluarkan bekal kim-taunya, hal ini membuktikan bahwa dia seorang pemuda jujur. Jika ia tak mau menceritakan urusannya, mengapa aku harus mendesaknya?" akhirnya Tok-ko U tiba pada kesimpulan begitu.

"Terima kasih atas budi kebaikan saudara, kelak aku tentu membalasnya," kata Yak Bwe sembari memberi hormat perpisahan. "Suheng hendak menuju kemana?" tanya Tok-ko U. "Aku, aku tak mempunyai tujuan tetap," sahut Yak Bwe.

"Apakah Suheng mempunyai urusan yang penting?" tanya pemuda itu pula..

"Juga tidak," jawab Yak Bwe.

"Jika begitu, pondokku tak berapa jauh dari sini. dengan berkuda kira-kira hanya makan waktu setengah hari saja. Entah apakah Suheng sudi memberi muka padaku untuk menjamu Suheng selama beberapa hari saja?"

Yak Bwe terkesiap. Sahutnya dengan terputus-putus: "Ini, ini...... maaf aku tak dapat menerima budi kehormatan saudara, namun aku sangat berterima kasih sekali!"

"Apakah Suheng menganggap aku keliwat lancang?" tanya Tok-ko U dengan kurang senang.

"Bukan, bukan! Tadi aku lupa bahwa aku masih mempunyai sedikit urusan lain. Ya, meskipun bukan urusan penting, tapi harus kulakukan juga. Budi kebaikan Tok-ko-heng tadi di lain hari tentu kubalas. Harap sudi memaafkan, aku terpaksa tak lama-lama menemani Tok-ko-heng." kata Yak Bwe.

Melihat tingkah orang yang kikuk itu, tahulah Tok-ko U bahwa Yak Bwe menolak undangannya. Sudah tentu ia merasa kurang puas, pikirnya: "Ah, orang ini aneh sekali perangainya. Setempo terus terang tanpa tedeng aling-aling, setempo kemalu-maluan seperti anak perawan."

Memang renungan Tok-ko U itu tepat sekali. Sayang ia tak mengetahui bahwa 'pemuda' yang dihadapannya itu ternyata memang seorang gadis.

"Ah, karena Suheng ada urusan lain, aku pun tak berani memaksa. Kejurusan mana Suheng hendak mengambil jalan?" tanyanya. "Dimanakah letak kediaman Tok ko heng?" itu?" Yak Bwe balas bertanya.

"Aku tinggal di Pek-ciok-kong sebelah timur dari kota Hun- tay-tin." sahut Tok ko U.

"Kalau begitu tentu mengambil jalanan yang menjurus ketimur ini?"

Tok-ko U mengiakan. Baru ia hendak menanyakan apakah orang juga hendak mengambil jalan yang sama, Yak Bwe sudah mendahului: "Sungguh sayang, aku hendak menuju kejurusan barat. Lain hari bila ada jodoh untuk bertemu lagi, tentu akan kuperlukan berkunjung ketempat Tok-ko-heng."

Dengan tergesa-gesa seolah-olah kuatir kalau Tok-ko U menahannya lagi, ia segera beri hormat perpisahan. Tok-ko U masih kurang senang, bathinnya: "Ah, orang ini benar-benar tak punya rasa persahabatan. Benar ia tak kenal padaku, tapi aku telah menolongnya dari kesukaran. Hm, rupanya ia tidak seperti orang Kangouw, tapi anehnya kata-katanya begitu cemerlang, ilmu pedangnya bukan olah-olah dan memiliki kuda bagus dari benua barat. Ah, orang apakah ia itu, sungguh membuat orang tak mengerti!"

Makin merenung, makin besar kecurigaannya. Setelah berjalan beberapa saat, diam diam ia memotong jalan singkat berganti arah kesebelah barat.

Sekarang mari kita ikut Yak Bwe yang berjalan seorang diri menuju kearah barat itu ia tak mempunyai arah tujuan yang tertentu. Ke manapun ia bebas lepas. Hanya karena tadi Tok- ko U mengatakan hendak mengambil jalan sebelah timur, ia lantas hendak mengambil arah barat. Jalanan yang menuju kebarat itu ternyata adalah sebuah jalan kecil yang menjurus kejalan raya kota Ping-lu. Dari kota Ping-lu terus menuju kebarat, dapat tiba di kota Tiang-an.

Baru mencongklang kudanya tak berapa lama dari belakang terdengar suara derap kaki kuda yang riuh. Malah berbareng itu terdengar ada seseorang berteriak: "Hai, bangsat kecil hendak kemana kau?"

Yak Bwe marah. Ia kira tentu konco-konco Hau Pheng yang mengejarnya. Tapi alangkah kejutnya ketika ia berpaling kebelakang, ternyata yang mengejar itu serombongan tentara Gi-lim-kun yang berjumlah tak kurang dari lima belas orang. Mereka adalah rombongan depan atau semacam perintis dari suatu pasukan Gi lim kun yang besar. Setiap tiba didaerah atau kabupaten, mereka minta diadakan penyambutan. Maka lebih dulu dikirimlah sebuah regu anak buah Gi lim kun untuk memberi warta pada pembesar setempat agar mereka mempersiapkan penyambutan.

Adanya Yak Bwe mengambil jalan besar, adalah karena hendak menyingkir dari gangguan bangsa penyamun. Siapa tahu kini ia berpaspasan dengan rombongan tentara negeri. Ini berarti lebih besar bahayanya.

Sebenarnya pakaian yang dikenakan Yak Bwe itu cukup mewah, memadai bangsa puteri pembesar negeri. Hal itu tak akan menimbulkan kecurigaan tentara Gi lim kun itu. Tetapi kuda yang dinaikinya itu adalah kuda tegar yang dipersembahkan oleh raja daerah Ceng-hay kepada kerajaan Tong. Jika bersua dengan tentara negeri biasa, tentu tak akan ketahuan. Tapi celakanya Yak Bwe telah kesamplokan dengan pasukan Gi-lim-kun. Pasukan istimewa yang bertugas khusus untuk menjaga keselamatan istana, mempunyai perlengkapan yang paling sempurna dan kuda2 ternama dari daerah luar. Walaupun dari jauh, tapi sepintas pandang saja regu Gi lim kun itu sudah dapat mengenali kuda Yak Bwe.

Pemimpin regu Gi lim kun itu seorang opsir yang bernama An Ting wan. Pangkatnya sebagai Hou ya to wi. Didalam hierarchie (urutan pangkat) tentara Gi lim kun yang tertinggi adalah opsir yang berpangkat Liongkitowi, nomor dua barulah Hou ya to wi. An Ting Wan adalah ko chiu (jago kosen) nomor lima dalam Gi lim kun. Yang nomor satu adalah Cin Siang, lalu Ut-ti-pak (berpangkat Liong kitowi), Ut ti Lam (berpangkat Hou pa wi) dan seorang Hou ya to wi lain yang bernama Gong Pan. An Ting-wan adalah seorang opsir yang gagah dan mahir berperang.

Kaget sekali An Ting-wan melihat kuda yang dinaiki Yak Bwe itu, serunya: "Itu dia penjahat Kim ke nia yang lolos!" Dengan acungkan tombaknya, ia segera pimpin anak buahnya mengejar.

Kuda An Ting-wan pesat sekali, ialah yang lebih dulu tiba. Bentaknya dengan keras: "Bangsat bernyali besar, berani menaiki kuda rampasan dijalan besar? Ha, sungguh hebat! Ayoh lekas turun serahkan diri atau tidak?"

Seruan itu ditutup dengan sebuah tusukan keulu punggung dalam jurus 'tok liong jut tong' (naga keluar dari gua). Yak Bwe balikan pedangnya untuk menangkis. Tetapi ia tak biasa bertempur diatas kuda, tenaganyapun kalah dengan lawan. Begitu berbenturan, tubuh Yak Bwe tergetar, hampir saja ia terjungkal dari kudanya. Dan berbareng itu terdengarlah suara menderu. Seorang anak buah Gi-lim-kun yang mahir dalam ilmu laso. Setelah memutar-mutar tali terus dilontarkan ke arah Yak Bwe. Yak Bwe terjepit, ia harus pilih menyelamatkan diri atau menolong kudanya. Cret, kepala kuda itu tepat kena terlaso, keempat kakinya segera menjulai kebawah. Berbareng itupun An Ting-wan menusuk pula.

"Jika menghendaki kuda ini, ambillah! Mengapa berlaku begini kurang ajar!" teriak Yak Bwe dengan gusar. Ujung kakinya sekali menginjak pelana, tubuhnya Yak Bwe segera melayang tinggi.

An Ting-wan memburu maju dengan sebuah tusukan. Yak Bwe berteriak dengan marahnya: "Ayuh, kau pun harus turun juga!"

Tapi belum lagi sebelah kaki Yak Bwe menginjak tanah, An Ting-wan sudah menusuk ke-arah dadanya. Yak Bwe tak mau menangkis, melainkan lengkungkan pinggangnya. Begitu terhindar dari tusukan, ia membabat sebuah kaki kuda An Ting-wan. Opsir itu mengerang keras dan terpaksa loncat turun.

"Hai, mengapa kau berkeras menuduh aku seorang penjahat?" bentak Yak Bwe.

An Ting-wan tertawa dingin: "Kalau bukan penjahat, dari mana kau peroleh kuda bagus itu?"

"Sahabatku yang memberi, aku tak tahu kalau kuda ini milik pemerintah," sahut Yak Bwe.

"Siapa yang memberimu itu?" tanya An Ting Wan pula.

Yak Bwe gelagapan, ia hanya dapat menyahut: "Pendek kata aku ini bukan penjahat atau penyamun, percaya atau tidak terserahlah!"

"Kalau bukan bangsa penyamun, habis siapa kau ini?" An Ting-wan menegas.

Sudah tentu Yak Bwe tak mau menerangkan dirinya itu putri ciat to su, maka ia tak dapat menyahut, melainkan deleki mata saja.

Kembali An Ting-wan tertawa dingin: "Kukira kawanan penyamun Kim-ken ia itu semuanya jantan2 yang kepala batu, kiranya juga ada orang punya 'tulang emas' seperti kau.  Sudah berani menjadi penyamun tapi tidak berani mengaku. Thiat Mo Lek dan Shin Thian Hiong sungguh harus malu mempunyai anak buah semacam kau!" .

Sebenarnya An Ting Wan itu tak punya hubungan baik dengan Thiat Mo Lek dan Shin Thian Hiong. Tetapi terhadap kedua orang gagah itu, ia menaruh perindahan juga. Itulah sebabnya ia mengeluarkan kata-kata tadi.

Memang Yak Bwe itu tak ingin bertempur dengan tentara negeri. Tetapi karena selama dalam gedung Ciat To Su, ia selalu disanjung hormat orang, jadi sifat-sifatnya sebagai Su cia (puteri pembesar) masih tebal. Sudah tentu ia tak kuat menerima hinaan siopsir semacam itu.

Pada saat An Ting-wan mengacungkan tombaknya kearah Yak Bwe sebagai isyarat agar anak buahnya segera meringkus nona itu, tiba-tiba terdengar suara mendering. Yak Bwee sudah mencabut pedangnya dan berkata dengan dingin: "Jika pembesar negeri menindas, tentu rakyat memberontak. Baik. karena kau berkeras mengatakan aku seorang penyamun, aku sekarang benar-benar menjadi penyamun. Nah lihatlah pedangku!"

Giok-li-tho-soh atau bidadari lemparkan tali adalah jurus yang segera digunakan Yak Bwe untuk menusuk siopsir.

An Ting-wan mendengus pelahan, pikirnya; "Kukira seorang penjahat keroco yang takut mati, ternyata ilmu pedangnya boleh juga."

Tapi ia bukannya jeri, melainkan hanya terkejut saja. Sembari berseru 'bagus' ia segera getarkan ujung tombaknya, Begitu ujung tombak itu berkembang menjadi lingkaran sinar terus ditusukkan kedada Yak Bwe dalam gaya "tiong-ping- jiang"

Yak Bwe tahu kalau lawan bertenaga besar. Ia ambil putusan tak mau adu senjata. Pedangnya segera memutar, tubuhnyapun ikut maju dengan sang pedang. Dengan begitu ia menghindari muka berhadapan muka. Tiba-tiba ujung pedangnya disusupkan, menyusul tubuhnyapun ikut menyelinap masuk kedalam lingkaran sinar tombak. Setelah itu ia gunakan gerak "hong-hong can ki" (burung hong pentang sayap) begitu ujung pedang melekat pada batang tombak, ia segera membentak: "Lepas!" Pedang itu digelincirkan untuk memapas jari An Ting-wan.

An Ting-wan adalah seorang perwira yang sudah kenyang pengalaman perang. Dalam keadaan yang bagaimanapun ia tak menjadi gugup. Begitu ujung pedang hampir tiba ditangan segera tombak diputarnya sehingga pedang Yak Bwe terpental kesamping.

Berbareng iapun membentak. "Lepas!" Tombak digunakan sebagai toya, terus disapukan kepinggang Yak Bwe. Dengan gerak wan yau ja liu atau lengkungkan pinggang menancap pohon liu. Hanya terpisah seujung rambut saja, dapatlah ia menghindar dari serangan maut itu. Kemudian dengan gerakan "Hong hong tim thau atau burung hong mengangguk kepala, ia menghindar dari ujung tombak lawan yang masih mengubernya. Dengan begitu kedua fihak sama2 tak terluka dan sama sama tak lepas senjatanya.

"Siapa kau? Lekas kasih tahu namamu!" bentak An Ting- wan.

"Aku hanya seorang keroco yang tak bernama, lihat pedang!"

An Ting wan diam-diam merasa heran. pikirnya: "Kepandaiannya lihay, terang dia bukan keroco, Cin To wi tidak pernah mengatakan dikalangan Kim Kee nia terdapat tokoh semacam dia!"

Memang Cin Siang itu kenal baik dengan pemimpin- pemimpin gunung Kim-ke-nia, seperti Thiat Mo Lek, Shin Thian Hiong. To Peh Ing dll. Sebelum menyerbu, oranng she Cin itu sudah menerangkan dengan jelas kepada An Ting Wan, suruh yang tersebut belakangan itu berhati-hati terhadap mereka. Jika dapat bertahan boleh bertahan. Jika sekiranya kewalahan, harus lekas lekas mundur. Dengan berbuat begitu, Cin Siang berbuat dua macam kebaikan. Melindungi anak buahnya (An Ting wan) dan sekaligus juga membantu pada Thiat Mo Lek.

-od0o-ow0o- 
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pasangan Naga dan Burung Hong Jilid 07"

Post a Comment

close