Panji Tengkorak Darah Jilid 27

Mode Malam
Jilid 27 .

Li Cu-liong buru-buru maju. “Apakah pesan gihu?”

Ketua Thiat-hiat-bun berkata dengan keren, “Medan pesta telah berobah menjadi medan pertempuran. Kegembiraan para tamu kita terganggu. Entah makan waktu berapa lama untuk mengembalikan meja kursi yang telah morat-

marit ini?”

“Setengah jam cukup!” sahut Li Cu-liong.

“Kalau begitu harap Li Ciangbun suka menyuruh orang untuk mengatur lagi!” Li Cu-liong mengiyakan.

Jenggot perak menatap Thiat-beng dan Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun. Tiba-tiba ia berputar dan lalu berjalan menuju ke markas Tiam-jong-pay. Walaupun kebakaran tadi cukup besar, tetapi di dalam markas masih terdapat banyak ruangan yang masih utuh.

Jenggot perak tak menuju ke ruangan besar, tetapi ke belakang markas. Di situ terdapat sebuah hutan kecil, yang walaupun tak lebat, namun cukup sepi. Ketika berada di tengah hutan, ia berhenti. Tanpa memalingkan tubuh ia sudah tahu bahwa Pok Thiat-beng, Cu Giok-bun, Siau-bun, Bu-song serta si pengemis sakti Thiat-ik Sin-kay mengikutinya.

“Thiat-beng. !” serunya tanpa berpaling kepala.

“Gakhu, apakah selama ini kau baik-baik saja?” Thiat-beng tertegun menghela napas. Gakhu artinya ayah mertua. “Ngaco, apakah aku tak sehat?” lengking si Jenggot perak.

Thiat-beng kemerah-merahan wajahnya.

Jenggot perak tertawa, “Anak tolol, mengapa seorang yang sudah berumur empat puluhan tahun masih seperti kanak-kanak. Apakah tak mau mengakui kesalahan yang dulu?”

Thiat-beng terdesak. Berpaling ke arah rombongan yang berada di situ, merahlah mukanya. Tetapi tanpa ragu-ragu ia segera menghampiri ke muka Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun.

“Giok-bun, dahulu. akulah yang bersalah!” serunya dengan perlahan.

Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun merah mukanya. Namun karena di hadapan anaknya dan beberapa orang lain, ia merasa malu.

“Tujuh belas tahun lamanya!” tiba-tiba dari mulutnya meluncur kata-kata sayu. “Ya, ya, tujuh belas tahun……” Thiat-beng menyambuti.

Keduanya tenggelam dalam kenangan. Salah paham pada tujuh belas tahun berselang, menimbulkan berbagai duka nestapa. Banyak sekali hal-hal yang telah terjadi selama tujuh belas tahun itu. Setelah berpisah selama tujuh belas tahun, kini mereka berjumpa pula. Lama, lama benar kedua suami isteri itu terbenam dalam lautan kenangan…..

Thiat-beng mengusap dua titik air mata yang mengucur di celah matanya. “Giok-bun, aku…. berdosa padamu, aku……” 

“Ah, kau tak bersalah. Semuanya itu, akulah yang paling bersalah…..”

“Tidak!” Thiat-beng berkeras, “Kumaksudkan ….. sejak kutinggalkan engkau ….” “Teringat akan ibu dan anaknya?”

“Oh, kau sudah tahu?”

“Aku tak menyesalinya,” kata Giok-bun. “Aku tahu waktu itu kau kesepian?”

“Bukan maksudku untuk menghianatimu, selama tujuh belasa tahun itu telah banyak mengalami perubahan, namun hatiku tidak sedikitpun berubah. Walaupun kepergianku membawa semua kemarahan, kegalauan dan bermaksud untuk mengasingkan diri karena kekecewan hati, ditambah aku beristeri lagi, tak pernah aku melupakan dirimu.

Sebenarnya aku berniat pulang, namun aku merasa takut kalau kau membenciku, maka ”

Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun menundukkan kepala penuh haru dan katanya, “Aku. pun begitu juga, tetapi tak

sekeras hatimu. Andaikata kutahu tempat tinggalmu tentu. akan segera kususul!”

Thiat-beng menatap isterinya dengan penuh kasih, “Giok-bun, maafkanlah aku, marilah kita susun kembali tali kasih kita dan membangun kembali mahligai rumah tangga kita yang telah berantakan. Marilah kita ” Tiba-tiba pecahlah

suara tangis. Ah, kiranya si dara Pok Lian-ci yang menggelendot pada batang pohon dan menangis tersedu-sedu.

Thiat-beng menghampirinya, “Ang-ko. ”

Tetapi dara itu tetap menangis tak mau menghiraukan ayahnya. Hun-tiong Sin-mo yang ikut menghampiri tersenyum. Ujarnya dengan ramah, “Nak, apakah kau tak suka mempunyai seorang ibu seperti aku?”

Tiba-tiba dara Lian-ci mengangkat kepala dan tangan berserabutan menolak, “Tidak, aku tak bermaksud begitu. ”

Hun-tiong Sin-mo melangkah selangkah lagi dan memeluknya, “Nak, mengapa kau menangis?” “Seharusnya dahulu ayah tak membohongi aku! Kuteringat akan mendiang ibuku!”

Hati Pok Thiat-beng seperti disayat. Dua butir air mata mengalir dari kelopaknya. Sampai lama mereka tak dapat berkata-kata.

Tiba-tiba Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun memecah kesunyian, “Siau-bun, mari kita pergi!” “Pergi? Me. ngapa?” Siau-bun tergagap.

Thiat-beng pun terbelalak. Ia baru tahu bahwa gadis cantik yang berada di hadapannya itu adalah puterinya sendiri. “Kau Siau-bun?” serunya gugup.

Tiba-tiba Siau-bun melengking menangis, “Yah, kau...... menyiksa mamah..”

Thiat-beng gelagapan. Ia berpaling kepada Hun-tiong Sin-mo, “Apakah karena Lian-ci, kau lantas mau pergi?”

Hun-tiong Sin-mo menggelengkan kepala, “Sebagian memang begitu, tetapi masih ada lagi lain hal yang memaksa aku harus pergi!”

“Bolehkah aku mengetahui?”

“Tahukah kau bahwa aku adalah ahli waris dari Hun-tiong Sin-mo?” “Aku tahu!”

“Tahukah kau mengapa aku memakai she Cu?”

“Ini ” Thiat-beng terkesiap sesaat, “aku tak tahu!”

Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun menghela napas, ujarnya “Kalau diceritakan panjang sekali. Saat ini hanya dapat kututurkan secara singkat. Jika dahulu tak berjumpa dengan seorang penolong she Cu, mungkin kami ibu dan anak tentu sudah mati!”

“Eh, mengapa kau tak memberitahukan hal itu kepadaku? Apakah kau mendapat ayah angkat?” tiba-tiba Jenggot perak menyeletuk.

“Hubungannya tak sampai di situ saja!” sahut Cu Giok-bun dengan tegas. “Lalu ” “Yah, kau hatus memaafkan. Orang tua she Cu itu telah melepas budi sebesar lautan kepadaku. Dia tak ubahnya seperti ayah kandungku sendiri. Kalau tak ada dia, tak mungkin aku bertemu dengan suhu. Tak menjadi ahli waris dari Hun-tiong-hu.”

Ia berhenti sejenak lalu melanjutkan pula, “Karena itu maka aku telah mengucapkan sumpah di hadapannya, akan merawatnya sampai mati dan mengganti she dengan she Cu, menganggapnya sebagai ayah kandung sendiri. ”

“Hai, apakah dia bukan Tabib sakti Cu Thian-hoan?“ celetuk Jenggot perak. Cu Giok-bun mengerutkan alis, “Benar, memang dia.”

“Dia .... adalah sahabatku juga! Sekarang apakah dia tak kurang suatu apapun?”

Cu Giok-bun tertawa rawan, “Seorang yang banyak menolong jiwa manusia dan berbuat kebaikan, pada hari tuanya malah menderita penyakit. ”

“Eh, apakah sakitnya?”

“Entahlah, aku tak tahu. Hanya kaki tangannya terasa lemas, tak bertenaga sama sekali. Bangun dan bergerak harus dibantu orang!”

“Di mana dia sekarang?” “Di Hun-tiong-hu!”

Jenggot perak mengelus-elus jenggotnya, tertawa, “Nak, meskipun kau sudah berganti she Cu, aku tak menyalahkan. Membalas budi adalah perbuatan yang mulia. Apalagi Cu Thian-hoan itu juga sahabatku sendiri.”

Sejenak ia mengedarkan pandangan, lalu berkata pula, “Setelah urusan di sini selesai, mungkin aku hendak menjenguk ke Hun-tiong-san menyambangi si tua itu. ”

“Kalau begitu, maaf, aku hendak pulang dulu!” kata Cu Giok-bun. “Pulang ke Hung-tiong-san?”

“Ya, aku harus lekas-lekas menjenguk ayah angkatku itu,”sahut Cu Giok-bun, kemudian ia memandang Thiat-beng, ujarnya, “Tetapi nanti sepuluh hari lagi, aku hendak ke Sin-bu-kiong mencari budak hina Ma Hong-ing, agar apa yang terjadi dahulu menjadi terang semua!”

Thiat-beng hendak membuka mulut tetapi sukar bicara.

“Siau-bun, apakah kau tak ikut mamah?” tegur Cu Giok-bun kepada si dara. Lalu dipandangnya Thian-leng dengan tatapan tajam. Thian-leng tersipu-sipu menundukkan kepala. Banyak nian yang berkecamuk dalam hatinya, sehingga sesaat ia tak dapat berkata apa-apa.

Walaupun mulutnya mengiyakan tetapi berat sekali kaki Siau-bun bergerak. Juga wajah Jenggot perak tegang. Cu Giok-bun telah menceritakan kepadanya tentang hubungan Siau-bun dengan Thian-leng dan perjanjian hidup mereka. Bahkan yang lebih lanjut, tentang hubungan yang sudah melampaui batas antara kedua anak muda itu. Siau-bun sudah tentu tak mau pergi.....

Yang agak mendingan adalah si dara Bu-song. Ia sudah mempunyai keyakinan bahwa Thian-leng telah mengikat pertunangan dengannya. Ia tak kuatir pemuda itu akan meninggalkannya lagi. Biarkan Siau-bun berusaha setengah mati untuk merebut, tentu tak mungkin dapat merobah ikatan itu. Sayang, ia tak tahu apa yang telah terjadi antara Siau-bun dengan pemuda tunangannya itu. Begitu pula hubungan Thian-leng dengan kedua taci beradik Ki, Bu-song sama sekali tak tahu.......

Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun tak sabar lagi. Memang sebenarnya ia tak bermaksud sungguh-sungguh untuk mengajak putrinya pergi. Tetapi hal itu hanya siasat saja agar Thian-leng memberi reaksi. Siapa tahu, di luar dugaan Thian-leng tak memberi reaksi apapun dan Siau-bun pun enggan pergi. Suatu hal yang membuat Hun-tiong Sin-mo risih.

“Siau-bun, karena kau tak suka ikut, terpaksa aku akan pergi sendiri!” serunya sesaat kemudian.

Siau-bun tergopoh-gopoh menyusul, serunya dengan rawan, “Mah, silakan berjalan dulu, aku tentu akan menyusul!” “Sesukamulah,” kata Hun-tiong Sin-mo seraya melesat pergi.

Thiat-beng hendak mengucapkan sesuatu, tetapi mulutnya terasa berat. Suasana hening seketika. Hanya angin pagi yang berhembus menusuk kulit.

Lian-ci sudah berhenti menangis. Kedua kelopak matanya bendul. Sekonyong-konyong kesunyian itu tergetar oleh munculnya sesosok bayangan. Ah, ternyata Li Cu-liong ketua Tiam-jong-pay yang melapor kepada Jenggot perak bahwa medan perjamuan telah disiapkan lagi. 

“Apakah hidangan sudah dikeluarkan,” tanya Jenggot perak. “Sudah!”

“Bagaimana sikap para tamu?” “Ini ...”

“Bagaimana,” tegur Jenggot perak.

“Tampaknya mereka diliputi oleh kecemasan. Apapun yang Gihu rencanakan rupanya mereka hanya menurut saja,” jawab Li Cu-liong.

Jenggot perak melirik Bu-song, Thiat-beng dan lainnya. Ia paksakan tertawa, “Sebagai tuan rumah sudah tentu aku tak mau mengecewakan mereka. silakan kalian bercakap-cakap, aku hendak melayani mereka!”

Thiat-beng mempersilakan ayah mertuanya. Walaupun memikirkan diri puterinya dan anak mantunya, namun terpaksa Jenggot perak harus menjamu para tamunya.

Kepergian Jenggot perak itu kembali meninggalkan kesepian. Siau-bun perlahan-lahan menghampiri Thian-leng, serunya lirih, “Engkoh Leng!”

Baru pertama kali itulah ia memanggil Thian-leng seperti itu. Walaupun sudah dibesarkan nyalinya, namun nadanya tetap bergetar juga.

Wajah Thian-leng agak berubah. Ia menyurut mundur dua langkah. Mulutnya bergerak-gerak tetapi tak dapat mengucapkan kata-kata.

Pok Thiat-beng pun mengerutkan dahi, serunya, “Siau-bun!”

Tahu Pok Thiat-beng itu ayahnya, tetapi karena sejak kecil ia tak pernah berkumpul, maka perasaannyapun seperti orang asing.

“Ayah hendak memesan apa?” serunya hambar.

Thiat-beng sedikit banyak dapat mengetahui hubungan kedua anak muda itu, serunya dengan tegang, “Thian-leng sekarang menjadi putera angkatku. Kalian harus berbahasa engkoh-adik!”

Dendam dan Kasih

“Berbahasa engkoh dan adik?” tiba-tiba Siau-bun tertawa acuh. “Itulah sudah selayaknya!” sahut Thiat-beng.

Siau-bun tertawa manja, “Yah, tahukah kau siapa di antara kami berdua yang lebih tua? Kalau aku lebih tua beberapa hari, bagaimanakah harus memanggilnya?”

Thiat-beng tertegun. Ia tak menyangka bahwa puterinya ternyata seorang gadis yang pandai bicara. “Sudah tentu ayahmu tahu. Panggillah ia engkoh!”

Tetapi Siau-bun seorang gadis yang berhati keras. Untuk menumpahkan kemengkalan, ia berseru dengan nada sinis, “Oh, engkoh Leng, kuhaturkan selamat padamu.”

“Adik ... Adik ” Thian-leng tergagap-gagap.

“Apa yang hendak kau perintahkan?” Siau-bun tertawa dingin.

Merah seketika telinga Thian-leng, serunya, “Mana aku berani memberi perintah padamu, hanya ada sebuah hal

yang perlu kuberitahukan padamu!” “Katakanlah saja!”

Baru Thian-leng hendak berkata, Bu-song sudah mendahului, “Piauci, bolehkah aku bicara beberapa patah padamu?” Siau-bun meliriknya, “Tentu, apa halangan bicara beberapa patah saja?”

Bu-song muramkan wajah, “Apakah kau tahu dia… berhubungan dengan aku?”

Siau-bun tertawa dingin, “Mengapa tidak? Kakek telah menjodohkannya dengan kau, bukan?” Wajah Bu-song merah, “Kalau sudah tahu ya sudah. Tetapi mengapa kau terus-menerus melihatnya saja?”

Seketika merahlah wajah Siau-bun, lengkingnya, “Ngaco! Jika tak memandang muka kakek, tentu sudah kutampar mulutmu!”

Dan bertengkarlah kedua dara itu dengan ngotot. Sekalian orang tak mengerti apa persoalan mereka.

“Berhenti!” tiba-tiba Thiat-beng membentak Bu-song yang hendak bicara. Nadanya menggeledek penuh wibawa. Kedua dara itupun bungkam. Mereka saling berpandangan dengan mata melotot.

Thiat-beng mengerutkan dahi. Ditatapnya Siau-bun dengan tajam, “Apa katamu tadi?”

Siau-bun tertegun. Sahutnya dengan terbata-bata, “Mengapa ayah tak langsung menanyainya?” katanya seraya melirik pada Bu-song.

Si dara Bu-song merah pipinya dan menunduk.

Setelah memandang pada Thian-leng, Pok Thiat-beng pun menghamapiri Bu-song, serunya dengan tertawa, “Bilanglah, putera-puteri persilatan pantang bersikap malu-malu!”

Bu-song menenangkan hatinya lalu mengangkat muka, “Belum lama ini atas kehendak kakek, aku telah….. dijodohkan padanya!”

“Benarkah itu?” Thiat-beng terkejut. “Silakan paman bertanya pada kakek!”

Thiat-beng menyurut mundur, keningnya agak mengerut dan mulutnya berkemak-kemik “Celaka! Celaka! Ini ” ia

berpaling kepada Thian-leng, serunya, “Benarkah itu?”

Thiat-beng membanting-banting kaki, “Mengapa tak kau katakan hal ini dari dulu?”

“Semula memang anak hendak menceritakan hal itu kepada gihu. Tetapi karena gihu melarang aku banyak bicara, jadi sampai sekarang belum ”

Memang Thiat-beng teringat hal itu dan bahkan pernah memaksa pemuda itu menikah dengan Ki Seng-wan. “Ah, aku yang salah, akulah yang mencelakai kalian ” Akhirnya ia menghela napas.

“Paman, apa kesalahanmu? Ini,…. apa artinya?” seru Bu-song dengan heran. “Tahukah kau bahwa Thian-leng sudah menjadi calon suami orang?” seru Thiat-beng. Bu-song mendesak kaget, “Apa?”

“Thian-leng sudah mempunyai isteri!”

“Benarkah ?” Bu-song melengking kaget. Lebih kaget dari mendengar halilintar menyambar di tengah hari.

Tubuhnya gemetar hampir tak kuat berdiri lagi. Ia tekan keras supaya darahnya jangan meluap keluar dari mulut. Juga Siau-bun gemetar. Wajahnya pucat seperti kertas. Kegoncangan hatinya tak kalah dengan Bu-song.

“Sudah tentu sungguh!” jawab Thiat-beng.

Bu-song segera mengalihkan matanya menatap Thian-leng, serunya kalap, “Kau .... terlalu. ” dia tak dapat

melanjutkan kata-katanya lagi karena tersekat oleh tangis.

“Tak dapat menyalahkannya, akulah yang bersalah!” Thiat-beng menghela napas.

Bu-song mengusap air matanya, ujarnya, “Kalau begitu perkawinannya itu atas kehendak paman?” “Be..... nar ”

“Siapa isterinya?” “Ki Seng-wan!”

“Ki Seng-wan? eh, puteri kedua dari Sin-bu-kiong?”

“Ya, tetapi mereka berdua taci beradik itu baik-baik, dan pula ”

“Paman, aku ……benci kau” tiba-tiba Bu-song menjerit. Thiat-beng mengerutkan dahi tak bicara. Dia tak tahu peristiwa Thian-leng dengan Bu-song. Jika tahu tentu takkan dipaksanya Thian-leng menikah dengan Ki Seng-wan. Tetapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Bahwa Bu- song menyatakan kebenciannya, Thiat-beng tak dapat berbuat apa-apa. Ia mandah saja!

Sebenarnya Bu-song hendak menghambur kemarahannya, tetapi ketika melihat Thiat-beng terlongong-longong diam, kemarahannya pun menurun. Tiba-tiba ia memutar dan melesat pergi…..

“Bu-song, kembalilah!” Thiat-beng berseru kaget.

Tetapi dara itu tak mau mempedulikan, bahkan berteriak, “Aku takkan kembali selama-lamanya dan takkan menemui kalian lagi!”

Sembari berlari dara itu sudah menyelinap jauh. Thiat-beng termangu-mangu tak dapat berbuat apa-apa. Mau mengejar tak enak, tidak mengejarpun tak enak. Bagaimana ia harus bertanggung jawab kepada Jenggot perak apabila dara itu sampai kena apa-apa.

“Adik Song, tunggulah!” tiba-tiba Siau-bun berteriak.

Bu-song yang sudah jauh terpaksa berhenti. Sambil berpaling ia tertawa sinis, “Perlu apa kau hendak mencari aku? Apakah kau hendak menuduh aku melarikannya?”

Sekejap saja Siau-bun telah tiba di hadapan dara itu, “Adik Song, sekarang kita harus bersatu padu!” “Apa guna bersatu padu? Toh dia sudah menikah dengan orang lain!”

Siau-bun tertawa getir, “Lalu bagaimana kalau menurut pendapatmu?”

“Kita aduk-aduk sampai kacau balau baru kemudian mencukur rambuk masuk menjadi rahib!” “Apakah cara itu tepat?” Siau-bun tertawa tawar.

“Lalu bagaimana pendapatmu?”

“Kalau tak dapat memperolehnya, jangan sampai orang lain bisa mendapatkannya!” sahut Siau-bun. “Tetapi orang sudah mendapatkannya, nasi sudah menjadi bubur, apa daya kita?”

“Hancurkan mereka!” Siau-bun menjerit sengit.

“Hancurkan ?” Bu-song mengerutkan dahi, lalu berseru, “Bagus, pikiranmu tepat!”

Siau-bun berseru gembira, “Suami isteri yang berantakan jauh lebih menderita dari kekasih yang patah hati!” Tiba-tiba Bu-song mengerutkan kening, “Rencana sih bagus tapi bagaimana pelaksanaannya?”

“Eh, kau biasanya cerdik mengapa sekarang tak dapat memikirkan hal itu?” Siau-bun tertawa.

Bu-song agak kemerah-merahan mukanya. “Kalau kau hanya hendak mengolok-olok saja, lebih baik jangan mengganggu aku!”

Siau-bun tersenyum lalu membisik ke telinga Bu-song, wajah Bu-song segera berseri gembira. “Benar, siasatmu itu memang tepat. Kita memang bukan orang baik-baik. Jika tak suruh mereka merasakan pil pahit, hati kita tentu tak lega.”

Siau-bun segera mengajak berangkat. Dalam beberapa loncatan, kedua gadis itu pun sudah lenyap.

Semula Thiat-beng mengira Siau-bun hendak menasehati Bu-song. Ia tak mengira kalau gadis itu malah mengajak lari.

“Thian-leng, lekas kejar!” serunya gelagapan.

“Gihu ” baru Thian-leng hendak berkata. Thiat-beng sudah membentak, “Lekas kejar!”

Thian-leng segera loncat menyusul. ooo000ooo

Menjerat Kerbau

Bu-song dan Siau-bun tahu bahwa Thian-leng mengejar mereka, namun mereka pura-pura tak menghiraukan dan lari sekencang-kencangnya. “Hai, kalian berhenti dulu,” teriak Thian-leng.

“Piauci, rencana berhasil. Manusia lupa budi itu mengejar!” Bu-song berseru kepada Siau-bun dengan ilmu menyusup suara.

Siau-bun menyahut dengan ilmu menyusup suara juga, “Asal rencana pertama berhasil, kemungkinan besar kita tentu berhasil!”

Kedua gadis itu mempercepat larinya. Sebenarnya Thian-leng dapat menyusul tetapi ia tahu watak kedua gadis yang keras kepala itu. Maka ia sengaja memperlambat larinya. Dalam sekejap saja mereka sudah mencapai tiga-empat li jauhnya. Kedua gadis itu lari sekencangnya tanpa menghiraukan teriakan Thian-leng lagi.

Akhirnya Thian-leng tak tahan lagi. Sekali empos semangat, ia melesat mendahului kedua gadis itu dan menghadang mereka. “Harap kalian suka memandang mukaku..”

“Orang she Pok, hendak apa kau!” tukas Siau-bun. “Kau hendak merintangi kami?” lengking Bu-song.

Thian-leng tertawa hambar. “Aku mempunyai kesukaran yang susah kukatakan, harap nona berdua suka memafkan

... sejak saat ini aku berjanji hendak memperlakukan kalian berdua sebagai adik kandung. Untung ”

“Jangan banyak bicara, lekas menyingkir!” bentak Bu-song.

Siau-bun ikut menyeletuk, “Menempuh beribu kesulitan, sayang hanya bersua dengn orang yang tak bertanggung jawab. Adik song, mari kita ambil jalan lain saja!”

“Ya, ya, mari kita belok ke jalan ini!” sahut Bu-song seraya melesat ke jurusan lain.

Thian-leng cepat mengayunkan diri menghadang mereka lagi. “Harap nona berdua berpikir masak-masak, jangan hanya menuruti hawa marah. ”

Tetapi kedua nona itu tidak menghiraukannya dan tetap berjalan maju. Thian-leng terpaksa melintangkan kedua tangannya. “Andaikata aku bersalah, harap nona suka ”

“Eh, apakah kau hendak berkelahi?” teriak Siau-bun. “Tidak!” buru-buru Thian-leng menyahut.

“Kalau tidak mengapa kau gerakkan kaki dan tanganmu?” teriak Bu-song. Thian-leng tertawa meringis. “Eh, mengapa kalian begini pemarah?”

Kedua gadis itu tertawa dingin dan tetap melesat dari samping Thian-leng. Karena gugup, Thian-leng melintangkan lagi tangannya.

“Fui, laki dan perempuan tak boleh bersentuhan. Mengapa kau begitu tak tahu aturan?” bentak Siau-bun. Tiba-tiba ia mengayunkan tangannya...

Plak karena tak menduga, pipi Thian-leng kena tampar. Lima buah bekas jari-jari halus melekat di pipinya. Dan

dari ujung mulutnya mengalir darah.

Bu-song tertegun. Ia tak menyangka Siau-bun bertindak demikian. Tetapi melihat keadaan Thian-leng yang meringis- ringsi, ia tertawa geli.

Thian-leng malu dan menyesal tetapi ia tak berani berkata apa-apa. Dilepasnya kedua nona itu dengan mata terlongong-longong. Setelah beberapa saat, barulah ia ayunkan langkah mengikuti mereka.

Ia tahu bahwa kedua nona itu tentu mendendam sekali kepadanya. Mereka rela berkorban segalanya. Maka dapat dimengerti bagaimana terpukulnya hati mereka ketika mendengar ia sudah menikah dengan lain nona. Melihat watak mereka, bukan mustahil mereka akan melakukan hal-hal yang sukar diduga. Dan andaikata terjadi sesuatu dengan mereka, bukan saja ia harus mempertanggung jawabkan kepada Jenggot perak dan Hun-tiong Sin-mo Cu Giok-bun, ia sendiri juga akan tersiksa seumur hidup.

( bersambung ke jilid 28)
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Panji Tengkorak Darah Jilid 27"

Post a Comment

close