Panji Tengkorak Darah Jilid 13

Mode Malam
Jilid 13 . 

Bok Sam-pi walaupun tak begitu terkenal, tetapi juga seorang tokoh sakti. Ilmu kepandaiannya sukar diukur. Memang jarang orang persilatan yang tahu dia, tetapi orang yang kenal padanya tentu mengindahkan. Malah ada yang menganggap bahwa Bok Sam-pi itu tokoh kedua setelah It Bi siangjin!

Tetapi Bok Sam-pi itu juga lebih senang mengasingkan diri. Itulah sebabnya maka angkatan muda jarang yang tahu namanya. Tetapi rupanya Siau-bun yang masih muda itu tahu banyak sekali tentang seluk-beluk dunia persilatan.

“Nama nona…….” tiba-tiba Thian-leng menyeletuk.

“Bok Ceng-ceng……” sahut si dara perlahan. Kemudian ia mengulangi lagi permintaannya tadi, “Apakah tuan berdua suka menolong kakekku?”

Siau-bun tertawa getir, “Kepandaian kakek nona ini sukar dicari tandingannya. Bukankah dia menjadi guru dari Kongsun Bu-wi? Bagaimana kami dapat menolongnya….?” ia berhenti sejenak, lalu berkata pula, “Apalagi kami sendiripun terjebak kemari, bagaimana dapat memberi pertolongan pada kakek nona?”

“Jadi tuan berdua tak mau membantu kesusahanku?” kata nona itu dengan nada terisak.

“Harap nona bercerita yang jelas. Asal kami dapat melakukan, tentu akan berusaha sekuat tenaga! Apa yang telah terjadi dengan kakek nona…”

Baru Thian-leng bertanya begitu, tiba-tiba Siau-bun menukasnya, “Celaka, kali ini kepala Neraka yang datang, lekas……!” ia suruh Bok Ceng-ceng bersembunyi. Ceng-ceng gugup sekali. Cepat ia menyusup ke bawah kolong ranjang.

Sesaat kemudian terdengar derap kaki riuh. Paling tidak tentu ada lima orang yang datang. Siau-bun menggunakan ilmu menyusup suara supaya Thian-leng bertindak menurut isyarat matanya. Jangan bertindak sekehendak sendiri.

“Masih begini sore mengapa kalian sudah sama tidur?” segera terdengar suara orang berkata-kata bercampur tawa. Nadanya berat, mengiang keras di telinga.

Thian-leng pun tertawa seraya membuka palang pintu. Serombongan lima orang melangkah masuk. Pelopornya seorang lelaki bongkok, kaki pincang, tangan kutung sebelah. Jenggotnya putih mengkilap, wajahnya penuh keriput. Umurnya ditaksir tentu sudah seratusan tahun.

Rombongan pengiringanya, kecuali Tok-ko Sing masih ada empat orang yang mengenakan pakaian seragam. Tok-ko Sing segera melangkah maju, memperkenalkan orang cacat itu kepada Thian-leng, “Inilah pemimpin kami. !”

Thian-leng tersipu-sipu memberi hormat, “Kongsun cianpwe……”

Ketua Hek-gak itu tertawa, “Bu-beng tayhiap benar-benar tak bernama kosong. Seorang berbakat yang hebat dan berwibawa….”

Tetapi wajah ketua Hek-gak itu cepat berobah kurang senang ketika melihat Siau-bun. Sebaliknya Siau-bun acuh tak acuh.

“Sekiranya penyambutan kami kurang memuaskan, jangan Bu beng tayhiap ambil di hati,” kata ketua Hek Gak pula. Thian-leng menyatakan terima kasih atas kebaikan tuan rumah hendak memberitahukan asal-usul dirinya.

“Ah, adalah karena kebetulan bertemu dengan seorang kawan lama yang tahu jelas tentang riwayat tayhiap, maka….” ketua Hek Gak tiba-tiba tak melanjutkan ucapannya.

“Mohon Gak-cu (kepala neraka) sudi memberitahukan. Untuk itu takkan kulupakan budi Gak-cu seumur hidup,” Thian-leng mendesaknya.

Kongsun Bu-wi mengangguk, “Sudah tentu, hanya saja. ” ia berhenti sejenak lalu menyambung pula, “Sebelum

menceritakan riwayat tayhiap, bolehkah aku bertanya dulu tentang suatu hal?”

Thian-leng mempersilakan. Tiba-tiba Siau-bun membisikinya dengan ilmu menyusup suara. “Tuh, dia sudah mulai. ingat! Betapapun ia mendesakmu, janganlah sekali-kali kau mengaku!”

“Kudengar tayhiap memiliki sebuah peta Telaga zamrut, benarkah itu?” sesuai dengan dugaan Siau-bun, ketua Hek gak itu menyatakan maksudnya.

Hampir meledak dada Thian-leng. Namun ia tetap bersabar dan pura-pura tak mengerti. “Peta Telaga zamrut? Aku tak pernah mendengarnya apalagi memiliki!”

Ketua Hek Gak tetap tertawa, “Peta itu merupakan benda pusaka yang tak ternilai harganya. Tetapi pun bisa dianggap tak berharga sepeser juga!”

“Entah bagaimanakah wujud peta itu, harap cianpwe suka menjelaskan. Kelak apabila berkelana, aku tentu berusaha untuk mencarikan !” Thian-leng tetap membodoh.

“Eh, kabarnya kau ini seorang kstria yang suka berterus terang, tak pernah bohong! Tetapi mengapa kau tak mau berlaku jujur?”

Wajah Thian-leng tampak agak berubah, ujarnya, ”Taruh kata aku memiliki peta itu, tetapi cara cianpwe hendak merebut dengan siasat serendah ini, tentu tak kuserahkan! Apalagi sesungguhnya peta itu tak berada padaku!”

Wajah Kongsun Bu-wi pun berobah juga, serunya, “Jadi kau tak mau mengaku?”

Tok-ko Sing tertawa sinis dan segera menyeletuk, “Walaupun tayhiap telah mendapatkan peta itu secara rahasia sekali, tetapi beritanya sudah tersiar luas di dunia persilatan. Kalau kau tak mau menyerahkan peta itu kepada ketua kami, dikuatirkan kau tak dapat mempertahankannya lebih lama dari tiga hari, apalagi. tempat persembunyian

pusaka itu telah diketahui di gunung Thay-heng-san! Seluruh wilayah gunung itu kini berada dalam pengawasan kami. Jangan harap kau bisa menggali tempat itu. Maka daripada melakukan pekerjaan yang sia-sia, lebih baik kau tukarkan saja dengan keterangan tentang asal-usul dirimu!”

Saking marahnya, menggigillah tubuh Thian-leng.

“Kalian tuan dan budak adalah manusia hina semua, tak malu sama sekali… ”

Tetapi secepat itu Siau-bun segera berseru, “Jangan keburu nafsu dulu…… memang apa yang dikatakan mereka itu benar. Jika kau memang memiliki peta, tak beda seperti secarik kertas tak berharga saja!”

Thian-leng melongo. Tak tahu ia mengapa mendadak Siau-bun mengatakan begitu.

Tok-ko Sing tertawa sinis. ”Ha, benar! Kiranya nona Cu lebih mengerti persoalan….!” tiba-tiba ia memutar tubuh dan berbisik-bisik kepada Kongsun Bu-wi. Ketua Hek Gak itu mengangguk, “Baik, kita beri waktu dua jam lagi untuk mereka pikir-pikir. Nanti tengah malam aku akan kembali kesini lagi minta jawaban. ”

Sebelum pergi ketua Hek Gak itu melontarkan pandangan tajam pada Thian-leng, serunya tandas, “Ingin mati atau hidup, terserah padamu!”

Baru ketua itu memutar tubuh hendak berlalu, tiba-tiba ia memutar diri lagi. Thian-leng dan Siau-bun terkejut. Merekapun bersiap-siap. Tetapi ternyata ketua Hek Gak itu tak mengacuhkan kedua anak muda itu. Dengan suatu gerakan yang tak terduga, tiba-tiba ia mencengkeramkan tangannya ke arah kamar.

Cengkeraman itu dilakukan dari jauh dan tampaknya lemah-lemah saja, tetapi hasilnya sungguh tak terduga, Bok Ceng-ceng yang bersembunyi di kolong ranjang telah tertarik keluar!

Kejut Thian-leng tak kepalang. Cepat ia meraih pedangnya, tetapi Siau-bun menepuk bahunya perlahan-lahan, bisiknya dengan ilmu menyusup suara, “Sebelum terpaksa jangan bertindak gegabah!”

Thian-leng menurut. Ceng-ceng yang terseret keluar itu, bagaikan seekor ikan dalam jaring. Serta merta ia memberi hormat kepada Kongsun Bu-wi.

Ketua Hek Gak tertawa meloroh, “O, kukira ada penjahat masuk ke sini, ternyata kepala dari Hong-kiong….” tiba-tiba ia berganti nada bengis.” Mengapa kau tidur di kamar tamu? Bukankah kau tak mempunyai kebiasaan jalan-jalan di waktu tidur?”

“Hamba…. hamba… ” tak dapat Ceng-ceng memberi jawaban yang tepat.

“Mana Si-hwat?” teriak Kongsun Bu-wi. Si-hwat adalah algojo. Segera Tok-ko Sing tampil. “Kepala Hong-kiong telah melanggar peraturan, bagaiman hukumannya?” seru Kongsun Bu-wi. “Mati!” sahut Tok-ko Sing.

Kongsun Bu-wi kerutkan dahi, ujarnya, “Tetapi dia adalah cucu tunggal dari guruku, boleh diperingan hukumannya….” melirik pada Ceng-ceng ketua Hek Gak itu berseru pula. “Potong kedua paha saja, jiwanya tetap diampuni!”

Tok-ko Sing mengiyakan terus hendak turun tangan. Ceng-ceng gemetar tubuhnya, tetapi ia tak dapat berbuat apa- apa, kecuali meramkan matanya yang basah dengan air mata.

Sambil mencabut sebatang badik, Tok-ko Sing membentak, “Kau diberi ampun tak dihukum mati, mengapa tak lekas menghaturkan terima kasih kepada Gak-cu!”

Segera Ceng-ceng memberi hormat kepada Kongsun Bu-wi seraya menghaturkan terima kasih . Setelah itu ia rebah di tanah. Tok-ko Sing menyeringai senyum iblis, terus mengayunkan badiknya. Petunjukan ngeri tak dapat dibiarkan saja oleh Thian-leng. Ia tak tahan melihat kebuasan orang Neraka Hitam. Sekonyong-konyong ia menggembor keras dan melepaskan pukulan Lui-hwe-sin-ciang ke arah Tokko Sing. Seketika terhambur angin keras yang panas sekali.

Tok-ko Sing tak menyangka sama sekali. Buru-buru ia mengerahkan tenaga dalam untuk menyambut. Das.. badik mencelat lepas ke udara, tubuhnya terhuyung-huyung beberapa langkah……. Namun Thian-leng sendiri juga tak kurang terkejutnya. Ternyata tenaga dalam Tok-ko Sing hebat sekali, sehingga ia rasakan separoh tangannya yang digunakan memukul tadi kesemutan. Darah bergolak-golak.

Setelah dapat berdiri tegak, wajah Tok-ko Sing merah padam. Ditatapnya anak muda itu, “Bu-beng tayhiap mempunyai hubungan apa dengan kepala Hong-kiong itu?” serunya bengis.

“Tidak kenal mengenal, tidak ada sangkut pautnya!” Thian-leng menjawab lantang.

Tok-ko Sing tertawa sinis. ”Kalau tiada sangkut pautnya mengapa tayhiap hendak menolongnya? Mengapa tayhiap menghalangi hukuman tadi?”

Sahut Thian-leng, “Aku tak tahan melihat cara-cara yang sekeji itu. Hanya karena sedikit kesalahan saja lantas mau memotong kaki seorang gadis….”

“O, kiranya tayhiap jatuh cinta padanya…..”

“Ngaco!” bentak Thian-leng, “aku bukan pemuda beriman begitu rendah…”

“Apakah Gak-cu percaya omongannya itu?” tanpa mengacuhkan Thian-leng, Tok-ko Sing tiba-tiba menghadap ke arah Kongsun Bu-wi.

Wajah Kongsun Bu-wi mengerut gelap, serunya, “Bok Ceng-ceng telah mengadakan hubungan rahasia dengan orang luar, ini jelas. Bagaimana hukumannya?”

“Mati digigit lima binatang berbisa,” sahut Tok-ko Sing.

“Ini bukan urusan kecil, harus memberi tahu pada guru!” seru Kongsun Bu-wi. Lalu ia menyuruh keempat pengawalnya pergi ke istana Yang-sim-kiong. “ Coba jenguklah apakah Cong-hou-hwat sudah tidur atau belum. Kasih tahu aku hendak bertemu padanya!”

Salah seorang pengawal segera melakukan perintah itu. Setelah itu Kongsun Bu-wi berkata pula kepada Ceng-ceng, “Aku tak berani gegabah menghukummu nanti. Hal itu akan kurundingkan dengan guru dulu, kau tentu tak keberatan….”

Thian-leng mendengus lega, karena ia tahu guru Kongsun Bu-wi itu ialah kakek dari Ceng-ceng. Tidak demikian dengan Ceng-ceng. Wajah dara itu pucat pasi. Tiba-tiba ia merangkak ke hadapan Kongsun Bu-wi dan meratap, “Mohon Gak-cu memberi hukuman potong kaki saja….”

Thian-leng kaget sekali mendengar permintaan nona itu.

“Mengingat kau ini cucu tunggal dari guru, maka hendak kuserahkan hukumanmu itu kepadanya,” Kong sun Bu-wi tetap menolak. Ceng-ceng pun tetap meminta dengan ratap tangis. “Neraka Hitam ternyata sesuai dengan kenyataannya. ” Thian-leng tertawa dingin.

“Hek Gak mempunyai peraturan keras. Sekalipun aku sendiri yang bersalah juga harus dihukum. Adalah karena Ceng- cengmu itu cucu guruku, maka kuadakan pengecualian. Apakah itu ganjil?”

“Mungkin persoalannya bukan begitu sederhana saja!” seru Thian-leng.

Ceng-ceng telah ditutuk kedua bahunya. tetapi ia masih dapat bicara. Segera ia berseru kepada Thian-leng dan Siau- bun, “Mohon kalian berdua menyelamatkan jiwaku dan kakekku….”

Bukan main marahnya Kongsun Bu-wi. Cepat-cepat ia tutuk rubuh dara itu. Belum Thian-leng hilang herannya, tiba- tiba pengawal yang disuruh tadi muncul lagi dan memberitahukan bahwa cong-hou-hwat menunggu di istana Yang- sim-kiong.

“Bawa dia!” Kongsun Bu-wi memberi perintah, dan Ceng-ceng segera diseret oleh dua pengawal.

“Bu-beng tayhiap silakan menimbang lagi. Nanti lewat tengah malam aku akan datang minta jawaban, saat itu. ” kepala Hek Gak menutup kata-katanya dengan tertawa dan melangkah keluar.

Thian-leng mencabut pedang dan hendak mengejarnya, tetapi dicegah Siau-bun, “Kita harus menahan diri. Paling tidak sampai nanti lewat tengah malam kita aman. Baiklah kita gunakan tempo ini untuk beunding!”

“Selain menghadapi dengan kekerasan, rasanya tiada jalan lain lagi,” Thian-leng menggeram.

“Ah, barangkali akan terjadi perobahan, “Siau-bun mengerutkan kening, “tetapi gerak-gerik Bok Ceng-ceng itu sungguh mencurigakan….”

“Ya, mungkin Kongsun Bu-wi tak membawa gadis itu ke tempat kakeknya melainkan ke lain tempat untuk dihukum mati……”

“Bukan itu yang kucurigai, ” sahut Siu-bun, “ mungkin kau tak tahu riwayat kakek nona itu. Ang Tim Gong-khek selain sakti pun cerdik sekali. Masakah tokoh seperti dia sudi berhamba pada Kongsun Bu-wi? Dan mengapa ia biarkan cucunya disiksa orang? Kemudian yang lebih aneh lagi, mengapa Ceng-ceng begitu sungguh-sungguh minta kita menolong kakeknya. Tokoh semacam Ang Tim masakah perlu ditolong orang lain….?”

Thian-leng hanya termenung tak dapat memberi pandangan.

“Hanya ada satu cara untuk menyelidiki kesemuanya itu,” Siau-bun tersenyum. “Bagaimana?”

“Kita harus mengikuti mereka!”

Thian-leng tertegun, serunya, “Ah, mungkin tak mudah!” “Mengapa tak mudah?”

“Di dalam Hek Gak ini tentu penuh dnegan perkakas rahasia. Setiap sudut, setiap lantai merupakan bahaya. Jika kita sampai terperosok dalam jebakan, bukankah akan celaka?”

“Mungkin benar begitu, tetapi sekurang-kurangnya mereka tentu takkan bergerak mencelakai kita sampai nanti lewat tengah malam!” bantah Siau-bun.

“Tetapi mereka sudah jauh. Jalanan di sini berkelok-kelok rumit sekali. Mungkin sukar untuk mengejar mereka. ”

“Jangan kuatir,” Siau-bun menghibur, “aku pernah mempelajari ilmu ‘melihat langit mendengarkan bumi’. Meskipun belum sempurna, tetapi dalam jarak seratus tombak aku masih dapat menangkap derap kaki orang. Dengan menurutkan derap kaki itu, tentulah tak sukar mengikuti mereka!”

Thian-leng tersirap kaget. Ketika dalam penjara air di istana Sin-bu-kiong, Nyo Sam-koan pernah menceritakan tentang ilmu itu. Dan kemudian ia pernah menyaksikan ketua Thia-hiat-bun menggunakan ilmu itu. Mengapa Siau- bun mengerti juga ilmu sakti itu? Sejak kenal memang ia tak banyak mengetahui tentang diri nona itu. Dan memang ia tak pernah menanyakan hal itu kepada Siau-bun. Kini tiba-tiba timbullah kecurigaannya. Apakah nona itu mempunyai hubungan juga dengan partai Thia-hiat-bun?

“Eh, kau melamun apa?” Siau-bun tertawa melihat Thian-leng terlongong-longong. Thian-leng gelagapan. ”Eh, dari manakah adik Bun mempelajari ilmu itu?”

Siau-bun tersentak kaget, tetapi cepat-cepat ia alihkan pembicaraan, “Panjang sekali untuk menceritakannya. Sekarang baik kita putuskan dulu. Hendak mengejar jejak mereka atau tidak?”

Thian-leng tak mau mendesak. Ia menyatakan supaya mengejar saja. Demikianlah kedua anak muda itu segera meninggalkan kamar. Di luar gelap sekali. Siau-bun sebentar-sebentar berhenti untuk pasang telinga. Setelah melintasi beberapa tikungan, tak berapa lama mereka harus melalui beberapa halaman luas. Thian-leng siap sedia. Tetapi selama itu mereka tidak menjumpai barang seorangpun. Gedung itu seolah-olah tanpa penghuni.

Tiba-tiba Siau-bun berhenti, serunya, “Setelah melintasi tembok tinggi ini kita akan tiba di istana Yan-sin-kiong!”

Kedua anak muda itu loncat ke atas tembok. Mereka agak terkesima. Di sebelah luar tembok itu terdapat sebuah halaman luas penuh ditumbuhi pohon bunga. Tiga buah paseban besar terang-benderang dengan penerangan. Di ruang paseban itu penuh sesak orang. Tampak Kongsun Bu-wi diiringai oleh para pengawalnya tengah menyeret Bok Ceng-ceng. Rupanya mereka baru tiba.

“Kita sembunyi di luar jendela dalam kebun belakang agar dapat melihat dengan jelas,” Siau-bun mengajak. Anehnya tempat yang dituju kedua anak muda itu tiada penjaganya sama sekali. Daun jendela besar sekali tertutup dengan kertas lilin yang sudah penuh lubang. Untung karena di sebelah luar gelap, maka jejak kedua anak muda itu tak sampai ketahuan oleh orang di dalam ruangan. Dari lubang kertas jendela, mereka mengintai apa yang sedang terjadi di dalam.

Di tengah ruang terdapat sebuah ranjang kayu yang besar sekali dan dicat merah. Di situ rebah seorang tua yang aneh. Kepalanya gundul kelimis. Wajahnya putih bersih, tetapi yang aneh ialah hidungnya. Hidungnya besar dan merah, penuh dengan tonjolan bintil. Dia hanya mengenakan pakaian dalam yang tipis, shingga perutnya yang buncit tampak menonjol jelas. Di belakang ranjang terdapat empat bujang perempuan yang masih muda.

“Dia tentu Ang Tim Gong-khek?” tanya Thian-leng dengan ilmu menyusup suara. “Benar, apakah kau tak melihat hidungnya?” sahut Siau-bun.

Thian-leng hampir tertawa, Bok Sam-pi ( Bok si hidung tiga ) memang sesuai dengan namanya. Bukan saja besar sekali, tetapi hidungnya itu seperti terbelah jadi tiga.

Begitu tiba di hadapan ranjang, Kongsun Bu-wi segera berlutut memberi hormat. Bok Sam-pi mempersilakan dia bangun. Tetapi tiba-tiba Ang Tim Gong-khek itu loncat bangun dan berlutut di hadapan Kongsun Bu-wi juga, “Hamba menghaturkan hormat kepada Gak-cu!”

Pertama, Kongsun Bu-wi memberi hormat kepada Ang Tim Gong-khek dalam kedudukan sebagai gurunya. Tetapi Ang Tim Gong-khek pun balas memberi hormat kepada Kongsun Bu-wi dalam kedudukan sebagai kepala Hek Gak. Habis memberi hormat Bok Sam-pi pun rebah lagi di atas ranjang.

Thian-leng heran mengapa Bok Sam-pi acuh tak acuh melihat cucunya dalam keadaan ditutuk jalan darahnya. “Tengah malam menemui aku, ada urusan apa?” tegur Bok Sam-pi.

“Jika tidak penting, masakah murid berani mengganggu guru. Adalah karena…”

“Nanti dulu!” Bok Sam-pi cepat menukas, “aku tak mau menjalankan peradatan sebagai cong-hou-hwat lagi. Jangan membicarakan urusan dalam Hek Gak…”

Kembali ketua Hek Gak menjura, “Murid tak berani kurang adat, silakan suhu rebahan saja.” Bok Sam-pi tertawa dan suruh Kongsun Bu-wi mengutarakan keperluannya.

“Ada seorang murid yang mengadakan hubungan rahasia dengan orang luar,” kata ketua Hek Gak. Bok Sam-pi terkejut marah, “Siapa?” 

“Kepala istana Hong-kiong, cucu suhu sendiri Bok Ceng-ceng!”

“Dia?” Bok Sam-pi menuding ke arah Ceng-ceng dan Kongsun Bu-wi mengiyakan.

“Kemari kau!” serunya. tetapi karena tertutuk jalan darahnya, sudah tentu Ceng-ceng tak dapat berjalan. Kongsun Bu-wi memberi isyarat mata kepada kedua pengawal. Kedua pengawal itu segera membuka jalan darah si dara.

“Kek!” Ceng-ceng loncat menghampiri kakeknya seraya menangis.

“Saat ini kakek sebagai cong-hou-hwat, lekas haturkan hormat!” bentak Bok Sam-pi.

Ceng-ceng terpaksa berlutut. Ia tak menangis lagi. Mulutnya terkancing, sikapnya seperti sebuah patung. “Benarkah kau mengadakan hubungan rahasia dengan orang luar?” seru Bok Sam-pi.

Ceng-ceng diam saja.

“Tahukah apa hukuman yang harus dijatuhkan?” dengus Bok Sam-pi pula.

Ketua Hek Gak segera melangkah maju. “Menurut undang-undang Hek Gak, harus menerima hukuman digigit lima binatang beracun, tetapi….”

“Tetapi bagaimana?” Bok Sam-pi berseru gusar. “Tetapi Ceng-ceng adalah …….”

“Tak peduli apaku, sebagai cong-hou-hwat, aku harus bertindak menurut hukum. Kalau hukum tak dipegang, rusaklah peraturan!” teriak Bok Sam-pi, “Lekas jalankan hukuman!”

Kongsun Bu-wi mengiyakan dan segera memanggil Tok-ko Sing yang menjabat sebagai pelaksana hukum atau algojo. Tok-ko Sing pun segera bertindak. Ia hendak mencengkeram bahu kanan dara itu dan Ceng-ceng tak mengadakan perlawanan apa-apa.

“Tunggu!” tiba-tiba Bok Sam-pi mengebutkan tangannya. Tok-ko Sing menarik pulang cengkeramannya, tetapi kebutan tangan Bok Sam-pi itu membuatnya terhuyung-huyung beberapa langkah.

“Mengapa suhu… ?” Kongsun Bu-wi berseru kaget.

“Apakah ada buktinya Bok Ceng-ceng melakukan hubungan itu?” tegur Bok Sam-pi. “Orang itu masih berada di ruang tamu. Apakah suhu perlu suruh mereka menghadap?”

Tiba-tiba Bok Sam-pi tertawa keras-keras. “Tak usah, lebih baik kau lihat saja kutangkap mereka!” Kongsun Bu-wi terkejut, “Maksud suhu….”

Tiba-tiba Bok Sam-pi menampar ke jendela belakang, bingkai jendela yang hampir satu tombak besarnya itu serentak hancur berantakan. Thian-leng dan Siau-bun pun tak sempat lagi menjaga diri. Serentak mereka seperti digulung oleh tenaga tarik yang tak dapat dilawan. Bersama dengan keping jendela, kedua anak muda itupun tersedot ke dalam ruang dan jatuh tepat di muka ranjang Bok Sam-pi. Untung tak sampai terluka.

Thian-leng dan Siau-bun menginsyafi betapa hebat kesaktian orang she Bok itu. Maka merekapun tak mau bertindak sembarangan.

“Apakah kedua orang ini?” tanya Bok Sam-pi.

“Benar ,” buru-buru ketua Hek Gak menjawab, “dengan baik-baik murid melayani mereka di ruang tamu, tetapi ternyata mereka telah bersekongkol dengan Bok Ceng-ceng. Dan ternyata juga diam-diam mengikuti murid kemari hendak mencelakai suhu.”

“Bagaimana hukumannya?” seru Bok Sam-pi. “Mereka bukan murid kita, sudah tentu boleh dihukum apa saja…..” mata ketua Hek Gak itu berkedip-kedip, “sudah lama suhu kesepian. Baiklah kedua orang ini dijadikan hiburan saja, entah bagaimana kehendak suhu….”

Tiba-tiba Bok Sam-pi bangkit duduk serunya, “Ya, ya, aku ingin menyaksikan hukuman Toa-gi-pat-kui, lakukanlah sekarang!”

Thian-leng mengeluh putus asa. Ia melirik kepada Siau-bun yang berada di sampingnya. “Adik Bun, akulah yang bersalah mencelakaimu. aku tak menyesal mati, tapi kalau sampai membuatmu ikut menderita, aku tak dapat mati

dengan meram.”

Di luar dugaan Siau-bun tenang sekali. Bahkan bibirnya menyungging senyuman. Segera ia menjawab dengan ilmu menyusup suara, “Takutkah kau?”

Thian-leng tertegun, “Tidak, aku tak takut mati. Hanya yang kusesalkan ialah tindakanku yang sembrono hingga merembet dirimu… ”

“Mati atau hidup masih belum ketahuan. Perlu apa kau sudah putus asa?”

Sentilan si nona membuat Thian-leng malu hati. Segera ia menjamah pedangnya dan dengan ilmu menyusup suara ia berkata tegas, “Akan kuserang tua bangka itu, adik Bun ”

“Jangan gegabah. Melawan si tua itu berarti seperti ana-anai melanda api, telur membentur tanduk. Kalau kita bertindak begitu, tentu mereka segera menjalankan hukuman Toa-gi-pat-kui itu!” cegah Siau-bun.

Pada saat kedua anak muda itu bercakap-cakap, Kongsun Bu-wi sudah perintahkan pengawalnya mengambil sebuah tiang kayu yang besar, tali dan beberapa batang golok tajam. Alat-alat itu dibawa ke tengah, sedang Bok Sam-pi tetap menunggu di ranjang kayu. Dengan tenang ia menunggu dilaksanakannya hukuman Toa-gi-pat-kui.

Sebenarnya Siau-bun pun berdebar-debar hatinya. Namun dara itu sudah biasa menghadapi ancaman bahaya. Maka sikapnyapun tenang-tenang saja. Tidak demikian halnya dengan Thian-leng yang sudah gelisah tak keruan. Sedang terhadap cucunya sendiri saja Bok Sam-pi begitu kejam, apalagi terhadap orang luar!

“Jalankan dulu hukuman Toa-gi-pat-kui pada kedua mata-mata itu, baru kemudian menghukum budak ini,” seru Bok Sam-pi. Kongsun Bu-wi mengiyakan dan segera menyuruh orang mengikat Thian-leng dan Siau-bun pada tiang.

Empat pengawal maju menghampiri Thian-leng. Thian-leng menyiapkan pedangnya hendak menempur. Tiba-tiba Siau-bun tertawa dingin, “Tunggu!”

“Eh, apakah kau hendak meninggalkan pesan?” tanya Kongsun Bu-wi. “Tidak… aku tak butuh memesan apa-apa,” nona itu tertawa.

“Aneh, mengapa kau masih berani tertawa?” tegur Bong Sam-pi.

Siau-bun makin perkeras tawanya, “Karena aku tak dapat mati. Tiada seorangpun di ruang ini yang mampu membunuhku!”

Wajah Bok Sam-pi berobah seketika dan bangkitlah ia serentak.

“Di antara kalian siapakah yang paling sakti?” tegur Siau-bun dengan senyum tak acuh. “Aku!” Bok Sam-pi menggerung.

Siau-bun mendengus hina, “Apakah kau berani bertanding melawan aku?” Bok Sam-pi tertawa gusar. Tiba-tiba ia melesat maju ke arah si nona……

Bok Sam-pi tegak di hadapan Siau-bun. Perutnya yang gendut terkial-kial karena menahan kemarahan. Biji matanya yang sebesar kelereng menyala tajam.

“Kau hendak menantang berkelahi denganku?” serunya.

“Benar,” Siau-bun tertawa, “aku ingin bermain-main beberapa jurus dengan kau.” 

Bok Sam-pi menggerung seperti harimau mencium mangsa. “Berpuluh-puluh tahun belum pernah ada manusia yang berani berkata begitu di hadapanku. Toa-gi-pat-kui masih terlalu ringan. Akan kutambahi hukumanmu dengan Sam- sing-ka-sim dan Ngo-tok-ya-thi!”

“Bagus, sayang kau tak mampu…..” Siau-bun mengedipkan mata sejenak, “eh, bagaimana? Apakah kau mau adu kepandaian denganku?”

Bok Sam-pi memekik, “Budak perempuan, kalau mau adu kepandaian lekaslah! Kalau ayal-ayalan mungkin kau tak sempat lagi!”

Menunjuk pada perutnya yang buncit, ia berseru pula, “Boleh kau gunakan senjata tajam atau senjata rahasia, pukulan, kaki, jari ataupun apa saja. Kalau mampu merontokkan selembar buluku saja, aku menyerah kalah dan terserah hendak kau apakan…..”

Siau-bun tertawa nyaring, “Cara itu tidak adil. Jika kau menghendaki cara berkelahi mati-matian macam benggolan penjahat….., maaf, aku tak sudi melayani!”

“Bagaimana kalau adu lwekang?” seru Bok Sam-pi. “Kasar!”

Biji mata Bok Sam-pi yang besar berkilat-kilat. “Katakanlah, teresrah kau hendak memakai cara apa, aku menurut saja!”

Siau-bun mondar-mandir sejenak, tersenyum, “Begini saja ! Aku mempunyai sebutir mutiara Ban-lian-liong-cu ( mutiara naga ribuan tahun ). Jika kau mampu memijatnya hancur dengan dua buah jari tanganmu, aku mengaku kalah. ”

Bok Sam-pi hendak menyahut, tetapi Kongsun Bu-wi sudah mendahului, “Suhu, budak perempuan ini banyak akal, jangan kena diakali!”

Bok Sam-pi merengut kurang senang, “Apakah aku anak kemarin sore? Kau pandang aku ini orang apa?” “Harap suhu jangan marah. Murid hendak mengatakan tentang mustika Ban-lian-liong-cu……”

“Persetan dengan Ban-lian-liong-cu! Apakah kau kira aku tak dapat memijatnya hancur?”

Kongsun Bu-wi gelengkan kepala, “Bukan maksud murid mengatakan suhu tak dapat meremasnya. Melainkan hanya mengatakan bahwa Ban-lian-liong-cu itu adalah mustika yang jarang terdapat di dunia. Kemungkina tentu dia tak punya. Dan andaikan punya pun, bagaimana hendak suruh suhu menghancurkannya?”

“Ya, benar!” Bok Sam-pi gelagapan. “Ban-lian-liong-cu adalah sebuah pusaka ajaib, mengapa kau suruh aku menghancurkan!”

“Benda yang paling keras di dunia, apakah dapat menandingi kekerasan Ban-lian-liong-cu?” Siau-bun tertawa dingin. “Mungkin tidak ada!” Kongsun Bu-wi menanggapi.

“JIka gurumu dapat memijat hancur Ban-lian-liong-cu, kalau kuberikan yang palsu, bukankah akan lebih cepat lagi? Dengan begitu bukankah aku kalah dan akan menerima hukuman Toa-gi-pat-kui atau apa itu Sam-sing-ka-sim atau Ngo-tok-ya-thi? Apakah aku dapat mengingkari perjanjian lagi?”

Sahutan nona itu membuat ketua Hek Gak gelagapan dan hanya dapat menjawab sekenanya, “Siapa yang tahu permainan setan itu?”

Siau-bun tertawa dingin, “Dalam hal main setan-setanan, mungkin kau lebih ahli. Dengan menipu orang untuk diberi tahu tentang asal-usulnya, kau menjebaknya kemari. Perlunya tak lain hanya hendak merampas peta pusakanya….!” Sambil menunjuk pada Bok Sam-pi, ia berseru pula, “dan dia seorang cianpwe persilatan yang sakti, telah kau cekoki dengan obat yang membuatnya berobah linglung tak sehat pikirannya! Bukankah perbuatanmu itu sangat keji… !”

“Keparat!” teriak ketua Hek Gak kalap, “kalau kau berani mengoceh tak keruan tentu akan kucincang tubuhmu!” Siau-bun acuh tak acuh menyahut, “Sayang saat ini kau tak dapat bertindak semaumu……” ia berhenti sejenak. “Kepintaran yang digunakan untuk menipu orang, akhirnya keblinger sendiri. Mungkin kau akan menyesal atas perbuatanmu itu!”

“Budak perempuan, dengan mengandal akal muslihatmu itu jangan harap kau mampu lolos dari sini kecuali kau dapat membujuk Bubeng tayhiap supaya menyerahkan peta padaku!”

Siau-bun tetap tertawa dingin.

“Kalau benar punya Ban-lian-liong-cu, ayo, lekas keluarkan! Coba lihat saja aku dapat memijatnya hancur atau tidak?” teriak Bok Sam-pi yang rupanya tidak sabar lagi.

Sahut Siau-bun tenang-tenang, “Jangan terburu nafsu dulu. Akan kujelaskan dulu palsu tidaknya mustika Ban-lian- liong-cu itu. Toh akhirnya nanti kau tentu akan memijatnya!”

Ia berpaling ke arah ketua Hek Gak, “Apakah kau tahu khasiat Ban-lian-liong-cu dan dapat membedakan palsu tidaknya ?”

Kongsun Bu-wi tertawa nyaring, “Ban-lian-liong-cu kira-kira sebesar biji lengkeng, warnanya merah tua. Begitu dimasukkan dalam air dingin maka hilanglah dingin air. Dimasukkan dalam api, maka hilanglah panas api. Khasiatnya untuk menolak air dan api, merupakan mustika yang tiada nilainya di dunia!”

Siau-bun tertawa tawar, “Kalau begitu harap sediakan air dan api, kita buktikan saja!”

Ia mengeluarkan sebuah kotak emas lalu mengambil sebuah bungkusan sutera merah. Dengan hati-hati Siau-bun membuka bungkusan itu dan tampaklah sebutir mutiara sebesar lengkeng. Thian-leng dan orang-orang yang berada dalam ruangan itu berteriak kaget.

Tepat seperti yang dikatakan ketua Hek Gak tadi, memang mustika itu berwarna merah tua berkilau-kilauan memancarkan sinar terang-benderang yang menyilaukan mata. Seketika berhamburan semacam hawa dingin. Begitu dingin sehingga membuat keempat pengawal Hek Gak yang berdiri pada jarak beberapa tombak sampai gemetar badannya.

Juga Bok Sam-pi ternganga, serunya dengan terbata-bata, “Mustika yang hebat, mustika yang hebat, benar-benar mustika yang tiada tandingannya….!”

Siau-bun hanya mengulum senyum. Dengan angkuh ia berkata kepada ketua Hek Gak, “Apakah seumur hidupmu kau pernah melihat mustika semacam ini?”

Mulut ketua Hek Gak tersekat, “Kalau menilik ujudnya saja, memang belum dapat dibuktikan palsu tidaknya………” ia berpaling kepada pengawalnya menyuruh siapkan air dan api. Empat pengawal Hek Gak segera mengiyakan.

Thian-leng segera menggunakan ilmu menyusup suara menegur Siau-bun, “Apakah itu Ban-lian-liong-cu yang tulen?” “Sudah tentu!” sahut Siau-bun.

”Ha !? Kalau sampai dipijat hancur oleh setan tua itu, bukankah……” “Kita ini perlu mempertahankan jiwa atau memberatkan mustika……. ”

Jawaban si nona itu membuat Thian-leng kemalu-maluan. Diam-diam ia menyesal karena menyebabkan Siau-bun sampai mengorbankan mustikanya.

“Tetapi dengan mengorbankan mustika itu apakah kita pasti dapat lolos ?” ia masih penasaran.

“Ya, sekalipun Ban-lian-liong-cu itu mustika yang keras sekali, tetapi bukannya mustahil dihancurkan. Kepandaian setan tua itu memang tinggi sekali. Aku tak tahu pasti apakah ia mampu memijatnya hancur atau tidak!”

(bersambung ke jilid 14)
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Panji Tengkorak Darah Jilid 13"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close