Panji Tengkorak Darah Jilid 10

Mode Malam
Jilid 10 .

Jenggot perak Lu Liang-ong mengantar kejatuhan lawan dengan gelak tertawa. Segera ia menarik Thian-leng untuk diajak loncat lagi. Diam-diam Thian-leng putus asa.

Dua kali mengadakan gerak loncatan yang demikian tinggi, telah membuat tenaganya hampir habis. Kalau harus loncat lagi sejauh lima pukuh tombak, rasanya ia tentu tak kuat.

Tetapi aneh bin ajaib. Ketika ditarik Lu Liang-ong ia rasakan tubuhnya sudah melambung sampai sepuluh tombak. “Buyung, ayo gunakan tenagamu!” tiba-tiba Jenggot perak membentaknya.

Thian-leng gelagapan. Buru-buru ia kerahkan sisa tenaganya dan ah…… ternyata berhasillah ia mencapai jarak lima puluh tombak itu. Saat itu ternyata ia sudah hinggap di atas tembok istana Sin-bu-kiong sebelah luar. Hampir Thian- leng tak percaya apa yang telah dialami saat itu.

“Sejak berdiri, belum pernah ada orang yang mampu keluar dari istana Sin-bu-kiong. Tetapi hari ini, kita dapat memecahkan hal itu!” Lu Liang-ong tertawa.

“Rasanya hanya locianpwe seorang yang mampu!” Thian-leng menyatakan kekagumannya.

“Tidak begitu,” sahut ketua Thiat-hiat-bun. “Di dunia terdapat banyak orang-orang sakti. Misalnya malam ini, yang bebas keluar masuk ke istana Sin-bu-kiong bukan hanya aku seorang saja!”

“Siapa?” Thian-leng terkejut. “Hun-tiong Sin-mo!”

“Ha?” Thian-leng tercengang, “Hun-tiong Sin-mo juga masuk ke istana Sin-bu-kiong?”

Sebagai jawaban Lu Liang-ong menarik tangan pemuda itu untuk diajak loncat keluar dari lingkungan Sin-bu-kiong. Dalam laut dapat diukur

Hati dara sukar diduga

Kala itu sudah menjelang fajar. Di dalam istana Sin-bui-kiong masih terdengar suara hiruk pikuk, tetapi tak lama kemudian sunyi kembali. Tiada seorang pun anak buah Sin-bu-kiong yang mengejar keluar. Rupanya Sin-bu Te-kun sudah menerima kekalahannya.

Setelah berjalan dua li, Lu Liang-ong berhenti di sebuah lereng gunung yang landai. Di bawah lereng tampak sebuah biara yang masih memancarkan lampu. Agaknya para imam dalam biara itu sedang melakukan sembahyang subuh.

Teringat akan diri si dara Bu-song, serentak Thian-leng berseru terbata-bata, ‘’Lo-cianpwe….,” ia tak dapat melanjutkan kata-katanya karena tak tahu bagaimana harus menyatakan. Kiranya ia hendak menyatakan isi hatinya kepada jago Thiat-hiat-bun itu. Sedangkan ia yang baru dikenal saja toh ditolong, mengapa Lu Bu-song dibiarkan saja menderita dalam penjara Sin-bu-kiong. Bukankah Bu-song itu cucu ketua Thiat-hiat-bun itu sendiri ?

‘’Buyung, apa katamu ?’’ Lu Liang-ong tertawa.

“Walaupun lo-cianpwe telah menolong diriku, tetapi Sin-bu Te-kun itu seorang momok yang ganas sekali. Kalau dia menurunkan tangan jahat kepada nona Lu, bukankah …….”

“Eh, bukankah telah kukatakan tadi bahwa budak perempuan itu telah rusak karena kumanjakan? Biarlah dia merasakan sedikit rasa pahit agar dapat menjinakkan keliarannya, besok mungkin….”

Tetapi kata-katanya itu terputus oleh sosok bayangan yang melesat datang. Thian-leng cepat-cepat berpaling, ah….. si dara Bu-song.!

Wajah dara itu tampak merengut. Sejenak melirik pada Thian-leng, tangannya menyambar jenggot kakeknya, lengkingnya, ”Kek, kau bilang apa?”

Lu Liang-ong membiarkan jenggotnya ditarik-tarik si dara, “Aku bilang apa?”

“Kali ini aku tak dapat memberi ampun. Kek, kau hendak menyuruh aku mati!” Bu-song merajuk.

Lu Liang-ong tertawa gelak-gelak, “Ho, ho, masakah kau masih mempunyai lain kakek yang lebih buruk dari aku…..eh, kakek menyakiti kau apa?”

Bu song lepaskan cekalannya, tetapi tiba-tiba tangannya merogoh dan mencubit dada kakeknya. Thian-leng hanya terlongong-longong saja mengawasi. Saat itu pikirannya tengah melayang-layang, Mengapa Lu Bu-song bisa keluar dari penjara Sin-bu-kiong. Tetapi dari nada ucapan Lu Liang-ong jelas bahwa ketua Thiat-hiat-bun atau seorang tokoh partai itu yang menolong si dara. Namun ketua Thiat-hiat-bun itu masih berlagak tidak tahu untuk menggoda cucunya.

“Kek, apakah kau tak menghajar iblis tua itu?” seru si dara dengan aleman.

Wajah ketua Thia-hiat-bun berobah serius, “Lumayan saja, tetapi karena hal itu bakal menimbulkan kesukaran besar…”

“Kesukaran besar apa?” Bu-song cibirkan bibirnya.

Lu Liang-ong merenung sejenak, katanya, “Eh, budak, coba katakan dulu apa rencanamu?”

“Rencanaku…….?” dara itu melongo. Sesaat kemudian ia berseru dengan nada sungguh-sungguh, “Bukankah kakek meluluskan aku berkelana di dunia persilatan untuk mencari pengalaman?”

Lu Liang-ong tertegun. Buru-buru ia gelengkan kepalanya, “Bukan, bukan. Kakek maksudkan, kau suka menemani aku atau. ” ketua Thiat-hiat-bun itu tiba-tiba melirik kepada Thian-leng, sambungnya , “ atau bersama dia!”

Merah padam seketika selebar wajah dara itu. Ia tundukkan kepala memandang ujung baju. Sepatahpun tak berkata.

Thian-leng terbeliak! Tak tahu ia mengapa ketua Thiat-hiat-bun itu mengajukan pertanyaan seaneh itu pada cucunya. Bukankah tak layak kalau seorang gadis mengadakan perjalanan bersama seorang pemuda? Tetapi Thian-leng menghibur hatinya sendiri. Ah,, Bu-song tentu menolak bersama dia. Dara itu tentu lebih suka bersama dengan kakeknya.

Tetapi ternyata dugaannya meleset.

“Eh, budak, lekas katakan, turut kakek atau anak muda itu? Kakek tak punya tempo menunggu lama-lama lagi!” tiba- tiba Lu Liang-ong mendesak pula. 

Setelah berdiam diri sejenak, dengan tersipu-sipu malu dara itu menyahut, “Kek, hendak kemana kau?” “Tiam-jong-san!” sahut Lu Liang-ong.

“Uh, siap sudi ke gunung setan itu?” gumam Bu-song.

Lu Laing-ong tertawa gelak-gelak, “Kalau begitu, berarti kau ingin…..” ia menutup kata-katanya dengan tertawa keras.

Wajah Bu-song semakin merah. Ia mencubit dada kakeknya pula, “Aku tak mau bersama siapa-siapa! Masakah aku takut berjalan seorang diri?” Habis berkata dara itupun sudah melesat beberapa tombak jauhnya.

“Hai, budak…..!” bukannya mengejar cucunya, sebaliknya Lu Liang-ong berputar tubuh membentak Thian-leng.

“Lo-cianpwe…… “ tersipu-sipu Thian-leng menyahut terbata-bata, sesaat kemudian berganti nada bersungguh- sungguh, “Jika lo-cianpwe hendak menyuruh, sekalipun masuk lautan api menerjang hutan golok, aku tentu akan mengerjakan!”

Lu Liang-ong tertawa puas, “Sekarang aku hendak menyuruhmu melakukan sebuah hal!” “Silakan lo-cianpwe mengatakan, tentu kulaksanakan!”

“Jagalah cucu perempuanku itu. !”

“Ini....ini. ”

“Bukan hanya untuk sekarang, tetapi selama-lamanya. Ya, ambillah dia sebagi isterimu!” “Ini. ”

“Ini , ini apa? Apakah kau menolak?”

“Aku. ,” karena tak menyangka-nyangka orang akan mengatkan begitu, maka untuk sesaat tak dapatlah Thian-leng

berkata-kata.

“Eh, rupanya kau hendak berbalik haluan?” tiba-tiba Lu Liang-ong menegur dengan nada tajam. “Bukan begitu!” buru-buru Thian-leng menerangkan.

dengan nada sungguh-sungguh, “Bukankah Habis mengapa kau tak lekas menyusul? Jagalah dia baik-baik, kelak apabila urusanku sudah selesai segera akan kulangsungkan pernikahan kalian… “

“Tetapi… “

“Tetapi bagaimana ? “

“Nona Lu telah pergi dengan marah, aku kuatir tak dapat menyusulnya!”

Lu Liang-ong tertawa gelak-gelak, “Kau sungguh tolol! Dia kan tentu menunggumu, kalau tak percaya silakan membuktikan sendiri….” ia berhenti sejenak, lalu katanya pula, “Aku masih mempunyai urusan penting, nah, aku hendak pergi dulu!”

Berbareng dengan kata-kata terakhirnya, jago Thiat-hiat-bun itupun sudah melayang ke udara dan turun tujuh delapan tombak jauhnya. Thian-leng tertawa meringis. Dia tak dapat melanggar sumpahnya. Tak mau ia memikirkan bagaiman akibatnya di belakang hari. Pokoknya sekarang ia harus melakukan perintah ketua Thiat-hiat-bun. terpaksa ia menyusul si dara.

Ditilik dari sikapnya tadi. Bu-song tentu pergi dengan marah-marah. Saat itu tentulah dara itu sudah jauh berpuluh- puluh li. Tetapi di luar dgaan, ketika Thian-leng melintasi tikungan di lereng gunung, ia terkejut.

Tak jauh di sebelah muka tampak si dara berjalan dengan lenggangnya. Dengan berdebar-debar segera Thian-leng menyusulnya. “Nona Lu. ” 

Bu-song berpaling. Dengan nada acuh tak acuh ia menjawab, “Ada apa?”

Jawaban itu membuat Thian-leng tertegun. Sahutnya gugup, “Tidak a…..apa-apa…. hanya kakek nona menyuruh aku…..” ia tak dapat melanjutkan kata-katanya lagi.

Bu-song kerutkan sepasang alis, “Kakekku menyuruhmu apa?”

Thian-leng paksakan tertawa meringis, “Beliau suruh aku menjaga nona!”

Tiba-tiba Bu-song mendengus, “Hm, masakan kau mampu?” ia memutar tubuh terus melesat pergi. “Hai, nona Lu! Nona Lu….!” Thian-leng kaget dan buru-buru mengejar.

Kira-kira satu li jauhnya barulah Bu-song berhenti. Serunya dingin, “Eh, kau ini bagaimana? Mengapa mengikuti aku saja?”

“Aku sungguh menerima perintah dari kakek nona suapaya menjaga nona. ”

“Uh, telah kukatakan tadi, kau tak mampu!” dengus si dara.

Betapapun juga Thian-leng itu seorang pemuda yang masih berdarah panas. Walaupun karena sumpah ia harus mengikat diri tunduk pada perintah, tetapi sebagai seporang pemuda sudah tentu ia tak mandah dihina oleh seorang anak perempuan.

“Kalau begitu baiklah. Akan kucari kakekmu dan minta beliau supaya menarik kembali perintahnya!” kali ini Thian- leng benar-benar unjuk gigi. Pikirnya kalau mempunyai istri macam dara yang tinggi hati itu, kelak tentu ia menerima cemoohan saja. Maka habis berkata segera ia memutar tubuh dan melesat pergi.

Dan sebaliknya sekarang Bu-songlah yang mendapat giliran terkejut. Ia tak menyangka bahwa Thian-leng akan bersikap tegas juga.

“Berhenti!” Cepat ia berseru kepada si anak muda yang sudah enam tujuh tombak jauhnya.

Thian-leng terpaksa hentikan langkah. Tetapi tanpa berpaling ke belakang ia berseru, “Nona hendak memesan apa?”

Beberapa saat Bu-song tak berkata apa-apa. Tiba-tiba terdengar suara terisak-isak. Thian-leng tercengang. Bukankah tadi dara itu bersikap sedemikian garang. Beberapa kali menghinanya tak akan mampu menjaga? Mengapa ketika ditinggal pergi malah menangis?

Terpaksa Thian-leng berganti dengan nada sabar, “Bagaimana nona? Apakah aku. ”

“Mengapa kau memperlakukan aku begitu?” Bu-song deliki mata.

Thian-leng tertawa masam, “Karena nona mengatakan aku tak mampu menjaga nona, maka akupun terpaksa pergi!”

“Kakekku telah memberi perintah padamu, masakah menerima sedikit cemoohan saja kau sudah marah?” Bu-song mengomel.

“Bukankah nona muak kepadaku? Sekalipun aku sanggup menerima cemoohan, tetapi kalau nona memang tak suka, bukankah sia-sia saja aku menemani nona?”

“Tolol, kau membuat aku mati penasaran!” Bu-song membanting-banting kaki.

Thian-leng kerutkan alis. Tak tahu ia bagaimana harus menghadapi dara semacam itu. Ah, hati wanita sungguh aneh! gerutunya….

Meliaht si anak muda meringis, tertawalah Bu-song, “ Kau gagu?”

Thian-leng yang sedang merenung, gelagapan mendengar pertanyaan itu. Tanpa disadari ia segera menurutkan apa yang ditanyakan, “Tidak, tidak gagu!”

Tetapi pada lain saat ia segera menyadari bahwa kata-katanya itu seperti anak kecil saja. Warna merah segera menebar di seluruh mukanya.

Si dara tertawa mengikik sampai lama. Serunya kemudian, “Cobalah katakan apakah perintah kakek kepadamu itu?”

Merah padam wajah Thian-leng seketika. Namun terpaksa ia menjawab juga, “beliau mengatakan aku harus menjaga nona…..”

“Hanya begitu saja..?” tegas si dara. “Masih ada lagi...ada. ”

“Ada lagi apa!” bentak Bu-song.

“Beliau suruh aku menjaga nona selama-lamanya, mengambil nona sebagi isteri!”.. Thian-leng terpaksa mengulang apa yang dikatakan Lu Liang-ong tadi. Tetapi karena likat, habis berkata ia lalu tundukkan kepala.

Wajah Bu-song pun kemerah-merahan seperti buah jambu. Ia tundukkan kepala memainkan ujung baju. Dengan suara tak lampias ia berseru, “Lalu kau mau atau tidak?”

Thian-leng terhenyak, “Demi mentaati sumpah, aku tak dapat menolak lagi!” “Artinya kau tak mau? Mau karena terpaksa? ”

”Kurasa diriku..... tak pantas menjadi pasangan nona. ”

“Memang sebenarnya kau tak pantas!” Bu-song menertawakan.

“Dan lagi asal-usul diriku masih belum terang. Aku masih mempunyai tugas berat. Sebagai seorang pemuda persilatan, jiwaku setiap saat belum ketentuan nasibnya. Mungkin akan mengecewakan hati nona, maka. ”

Bu-song tertawa. Kali ini tertawanya merdu meresap, “Mungkin kata-katamu itu benar, tetapi aku ingin tahu....bagaimana anggapanmu terhadap diriku? Apakah kau mempunyai sedikit rasa suka kepadaku?”

Thian-leng membatin, “Kau seorang dara manja. Jika mengambilmu sebagai isteri tentu runyam. Untung kakekmu melepas budi besar kepadaku. Apalagi aku telah mengucapkan sumpah. Apa boleh buat, untung celaka terpaksa kuterima!”

“Nona mempunyai ilmu sakti dan rupa yang cantik. Pula menjadi cucu kesayangan dari ketua partai Thiat-hiat-bun yang termasyhur. Jika aku beruntung mendapat isteri sebagai nona, sungguh. ”

“Kalau begitu kau suka kepadaku?” si dara tertawa riang. “Su.....dah.....tentu.....tetapi ”

“Tetapi apa?”

“Perangai nona itu agak kelewat manja, sehingga orang tak berani mendekati!”

“Baik, baik, kalau begitu aku akan berlaku ramah kepadamu ya!” si dara tetap tertawa.

Thian-leng mengeluh dalam hati. Ah, rupanya seumur hidup ia akan ditakdirkan untuk menerima kocokan dari si dara manja itu. Ia kerutkan alis tak dapat berkata apa-apa lagi.

“Eh, sekarang kemana kita hendak pergi? “ tiba-tiba Bu-song menegur. Tetapi belum dijawab, ia sudah berkata lagi, “Kukira begini saja. Lebih baik kita pesiar menikmati alam pemandangan indah dari gunung Thay-san!”

“Pesiar….?” Thian-leng melongo. “Ya, apakah kau tak suka?”

Thian-leng gelengkan kepala tertawa rawan, “Tidak! Aku tak mempunyai selera dan tak punya waktu luang untuk pesiar. Maaf, aku tak dapat menemani nona… ” “Kalau tak mau, tak apalah! Perlu apa harus minta maaf ? “ tukas Bu-song. Ia kerutkan kening, sesaat kemudian berseru pula, “ Eh, kau tadi memanggil aku dengan sebutan apa ? “

“No…..na….. “

“Bagaimanakah ikatan hubungan kita sekarang ? “

Thian-leng terpaksa menyahut, namun tak dapat ia melanjutkan kata-kata kecuali dua patah kata, “Adik Song…. “ Namun jawaban itu telah membuat hati Bu-song bahagia.

“Kalau tak mau pesiar terserah. Kemanapun kau pergi, aku tentu ikut padamu! “ katanya dengan nada lemah lembut.

Thian-leng masih terpukau. Sesaat tak tahulah ia kemana tujuannya. Banyak nian hal yang hendak dilakukan, namun tak tahu ia bagaimana harus memulai.

Thian-leng masih terpukau. Sesaat tak tahulah ia kemana tujuannya. Banyak nian hal yang hendak dilakukan, namun tak tahu ia bagaimana harus memulai. Dan kekalahannya di istana Sin-bu-kiong telah memukul batinnya. Ia merasa kepandaiannya masih jauh dari memadai.

Ia menghela napas, “ketika Oh-se Gong-mo lo cianpwe menutup mata, beliau telah meninggalkan pesan kepadaku supaya melakukan pembalasan kepada Sonh-bun Kui-mo. Tetapi karena kepandaianku masih dangkal maka tak dapatlah kulaksanakan pesannya itu. Kini antara partai Tiam-jong-pay dan Sin-bu-kiong telah timbul permusuhan. Sin-bu Te-kun mengatakan, apabila dalam tiga hari Tiam-jong-pay tak menyerahkan anak buahnya yang membunuh penjaga Sin-bu-kiong, maka dia hendak menyerang Tiam-jong-san. Lu Lo-cianpwe juga ke sana. Kurasa lebih baik kita ke gunung itu. Sedikit banyak dapat menyumbangkan tenaganya untuk menghancurkan Sin-bu Te-kun. Dengan begitu dapatlah sekurang-kurangnya kupenuhi pesan Oh-se Gong-mo lo-cianpwe.

“Baik,” acuh tak acuh Bu-song mengiyakan, “kita ke Tiam-jong-san. Tetapi jika dugaanku tak salah, untuk sementara ini Sin-bu Te-kun tentu tak berani ke sana. Dia tak mau mengurus soal kecil yang dapat merugikan cita-citanya menguasai dunia persilatan!”

“Maksud adik Song……”

“Sin-bu Te-kun tentu tak berani bermusuhan dengan partai Thiat-hiat-bun karena akibatnya keduanya tentu sama remuk. Ia berani buka mulut besar di hadapan kakekku karena aku menjadi orang tawanannya. Tetapi siap tahu…..”

“Ya, ya , bagaimana adik bisa keluar dari penjara itu?” tanya Thian-leng.

Bu-song tertawa,”Ingatkah kau, aku pernah mengatakan tentang keempat Su-liat (orang gagah) dari Thiat-hiat-bun?”

“Ya, ya, aku ingat. Tetapi bukankah kemudian kau mengatakan bahwa hal itu hanya obrolan kosong dari Sin-bu Te- kun saja?”

Bu-song tertawa riang, “Memang apa yang kukatakan kala itu sungguh-sungguh, karena kepergianku ke Sin-bu-kiong itu di luar tahu kakekku. Saat itu kakek sedang sibuk mengobati budak perempuan dari Sin-bu-kiong….” sejenak Bu- song melirik tajam kepada Thian-leng, ujarnya pula, “tetapi ilmu ‘Melihat-langit-mendengar-bumi’ dari kakek dapat melingkupi seluas sepuluh li. Maka gerak-gerikku tak luput dari pengetahuannya. Selain mengirim keempat Su-kiat, ia sendiripun segera menyusul ke istana Sin-bu-kiong…!”

“Bagaimana dengan luka nona itu?” tiba-tiba Thian-leng teringat akan kedua taci beradik Ki Seng-wan dan Ki Gwat- wan.

“Mati!” sahut Bu-song dingin-dingin.

Thian-leng tersentak kaget. Ia tak yakin tetapi ketika hendak menanyakan lebih lanjut, Bu-song mendengus, memutar tubuh terus pergi……

Thian-leng tercengang. Ia berseru seraya mengejar. Sepuluh tombak jauhnya, Bu-song berhenti. Sesosok tubuh tiba- tiba melesat menghadangnya seraya menegur dengan tertawa dingin, “Adik Lu, perlu apa memaki-maki orang?”

Bu-song kerutkan alis:” Siapa yang suruh kau mengurus lain orang, siapa yang kau sebut adikmu itu…” Ia mendengus lalu melesat pergi. Thiang leng terkejut girang. Orang yang mengenakan baju merah itu bukan lain Cu Siao-Bun. Buru-buru ia memberi hormat, “Nona Cu, sungguh beruntung bisa berjumpa…”

Mendengar ini, bukan main marahnya Bu-song, lengkingnya, “Apa-apaan kau!? Jalan!”

Thian-leng serba salah. Kecongkakan Bu-song sungguh membuat orang muak. Cu Siao-bun pernah melepas budi kepadanya, bagaimana ia dapat bersikap sedingin itu? Akhirnya tanpa memperdulikan kata-kata keras dari Bu-song, Thian-leng tetap menyapa kepada Cu Siao-bun, “Bilakah nona terlepas dari bahaya? Sekarang hendak kemanakah?”

Melihat dirinya tak dipedulikan, amarah Bu-song meluap. Tiba-tiba ia ayunkan tangannya menampar muka Thian- leng. Plak… karena tak menyangka-nyangka, pipi kiri Thian-leng kena. Pipi melepuh, darah mengucur dari ujung mulut.

Cu Siao-bun mengawasi kedua muda-mudi itu dengan senyum ewa. Sedang Thian-leng sendiri masih terlongong- longong karena kepalanya pusing, mata berkunang-kunang.

Tamparan itu tak menyebabkannya menderita luka , tidak pula membuatnya sakit. Tetapi yang terluka adalah perasaan hatinya. Kepribadiannya sebagai seorang lelaki. Diam-diam ia menyesal dalam hati.

Tetapi si dara yang sudah biasa dimanja, malah membentak-bentak lagi, “Kau hendak kasak-kusuk apa dengannya? Ayo, jalan tidak?”

Sekalipun tidak ada orang lain, kata-kata itu juga tak pantas diucapkan. Apalagi Cu Siao-bun ada di situ. Darah panas Thian-leng menggelora dan lupalah ia seketika.

Plak….. ia balas menampar pipi Bu-song sekeras-kerasnya. Bu-song mengerang. Pipinya membenjul besar, darah dari mulutnya mengucur membasahi dadanya. rupanya ia lebih menderita dari Thian-leng.

“Kau ….. kau berani memukul…..” Bu-song melengking, ia memutar tubuh terus lari terhuyung-huyung. Thian-leng melongo. Sesaat kemudian ia hendak mengejar. Tetapi tiba-tiba Cu Siao-bun menertawainya. “Mau minta ampun ya ?”

Thian-leng tertegun. Ia berhenti, mukanya merah padam. Sahutnya, “Aku belum serendah itu, hanya… ” Ia tak dapat

melanjutkan kata-katanya karena merasa sukar untuk menjelaskan hubungannya dengan Bu-song. Dan ia anggap tak perlu menerangkan hal itu kepada Cu Siao-bun.

“Tentunya kau masih ada lain urusan lagi?” tegur Cu Siao-bun dengan tetap tertawa.

Terpaksa Thian-leng menjelaskan, “Karena aku telah menyanggupi kakeknya untuk menjaga dara itu, maka hendak kuserahkan kembali ia kepada kakeknya saja agar jangan menimbulkan perkara di perjalanan!”

Cu Siao-bun tertawa mengikik, “Jangankan sudah mendapat perintah dari kakeknya, sekalipun tidak, bukankah kau juga senang untuk menjaganya? Eh, tetapi bagaimana caramu menjaganya?”

Thian-leng tak biasa berbohong. Maka merahlah mukanya. Kembali rasa gelisah mencengkam hatinya. Betapapun kesalahan si dara Bu-song, tetapi karena kakeknya telah melepas budi besar, seharusnya ia tak boleh mengimbangi sikap dara itu. Bukankah ia sudah mengangkat sumpah? Bagaimana nanti pertanggung jawabannya kepada Jenggot perak Lu Liang-ong?

“Jika nona tiada pesan lain lagi, maaf, aku hendak berangkat dulu!” akhirnya ia paksakan berkata.

“Ah, mana berani aku memberi perintah? Tetapi aku hanya hendak menyerahkan sepucuk surat dari seorang sahabat. ”

“Siapa?” Thian-leng terbeliak. “Cu Siau-bun. !”

(bersambung ke jilid 11) 
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Panji Tengkorak Darah Jilid 10"

Post a Comment

close