Panji Sakti Bab 29 : Adu Kekuatan

Mode Malam
29. Adu Kekuatan

Saat itu dilapangan tersebut tengah berlangsung pertempuran sengit antara orang-orang Lam-hay-pay dan Siao-ngo-tay-san. Swat-san Lojin bertiga bersembunyi dalam hutan yang terpisah sepuluhan tombak.

Jelas kelihatan bagaimana orang-orangnya Bo-ang Sancu bertempur dengan garang melawan keempat Toa-thian-ong dari Lam-hay-bun. Disamping riuh gemuruh teriakan orang, genting gemerincing senjata beradu, pun barisan musik dari kedelapan pat-yok-li (nona pemain musik) menambah ketegangan dengan musik yang bernada seram.

Pemimpin keempat thian-ong yakni si orang tua berwajah kurus, tengah bertanding melawan Bo-ang Sancu. Benar thian-ong yang berwajah hijau itu cukup lihay, tapi nyatanya Bo-ang Sancu lebih unggul.

Ketujuh Cincu mengeroyok thian-ong yang berwajah merah berjenggot panjang. Kalau satu lawan satu, terang Cincu itu kalah. Tapi dengan permainan gabungan tujuh pedang, mereka dapat mendesak thian-ong wajah merah kerupukan.

Keempat Cuncia mengepung thian-ong wajah putih yang bertubuh gemuk. Keempat Cuncia dengan permainannya senjata hong-pian-jan cukup mengerikan, namun thian-ong gemuk itu ternyata amat lincah gerakannya. Satu lawan empat, kekuatannya berimbang. Sementara kedua Sian-ong mendapat lawan dengan thian- ong wajah kuning. Kedua Sian-ong dengan senjata kebut yang digerakkan lweekang keras, tak dapat cepat-cepat mengalahkan lawan. Juga partai ini akan memakan waktu lama.

Rombongan yang bertempur itu mengatur barisannya sebagai berikut. Dibelakang Bo-ang Sancu terdapat barisan kedelapan pat-yok-li. Disampingnya, ada lagi sebuah regu terdiri dari empat puluh orang pahlawan-pahlawan Siao-ngo- tay-san.

Sedang dipihak tuan rumah, terdiri dari sejumlah seratusan orang. Mereka berjajar-jajar dalam formasi setengah lingkaran, mengelilingi dua orang tua yang duduk diatas dua buah kursi thay-su-i. Kedua orang tua itu kira-kira berusia tujuh puluhan tahun, bermulut lancip, alis rambut dan jenggotnya sudah putih semua. Itulah Lam-hay Ji-lo, pemimpin dari Lam-hay.

Tiba-tiba Swat-san Lojin membisiki Ceng Ih: „Menilik jalannya pertempuran, rombongan Bo-ang Sancu itu dapat melibat keempat Thian-ong. Aku dengan supehmu akan mendapatkan Lam-hay Ji-lo, kau tetap berada disini dulu untuk melihat perkembangannya. Begitu ada kesempatan, kau boleh segera menyusup kedalam markas untuk mencari Peng- ji!"

Baru Ceng Ih mengiakan, atau dari lapangan sana segera terdengar suara tertawa nyaring yang menggetarkan. Nyata tertawa itu diantar dengan lweekang yang hebat. Itulah Lam- hay Ji-lo, rupanya mereka sudah mengetahui tempat persembunyian Swat-san Lojin bertiga.

Salah seorang Ji-lo berbangkit dan berseru lantang: „Ko-jin dari manakah yang datang ke Ngo-ci-san ini? Kalau main bersembunyi dihutan, kami tak dapat melayani dengan pantas!"

Sebagai penyahutan, dua sosok bayangan putih dan hitam melayang dihadapan kedua Ji-lo itu.

Serta melihat siapa kedua tetamu itu, Ji-lo yang masih duduk dikursi kebesarannya, segera turut berdiri dan tertawa, serunya: „Ai, kebenaran sekali! Hari ini pulau Lam-hay bakal ada keramaian besar. Kunjungan Swat-san Lojin dan Thian- lam-ping-siu, sungguh suatu kehormatan besar bagi Ngo-ci- san!"

Swat-san Lojin mengurut-urut jenggotnya lalu tertawa seenaknya: „Kedatanganku kemari bukan hendak adu lidah, tapi akan minta peradilan!"

Ji-lo yang pertama kali berdiri tadi segera menyahut:

„Bukankah kau hendak cari isteri dan anak perempuanmu? Mudah saja syaratnya. Kalau kau dapat mengalahkan pukulan kami kian-gun-ciang, permintaanmu seratus persen terkabul. Tapi kalau kalah, kaupun harus meluluskan sebuah permintaan kami yang kecil!"

Darah Swat-san Lojin naik keatas kepala, namun pada lain kilas dia tindas perasaannya. Pikirnya: „Dari omongan tua bangka itu, terang kalau Coa Leng masih di Ngo-ci-san sini. Pun mereka tak menyangkal kalau sudah menawan Peng-ji. Hem, apa itu kian-gun-ciang? Dulu belum pernah kudengar hal itu, mungkin ilmu yang baru. Dan apakah permintaan kecil mereka itu? Hem, lebih baik kucari tahu.''

Habis herpikir segera Swat-san Lojin menanyakan tentang permintaan Ji-lo itu. „Amat sederhana! Asal menyerahkan helai Panji Sakti itu, kau segera akan berkumpul pula dengan anak isterimu!"

„Ngaco! Panji Sakti bukan milik Swat-san-pay, bagaimana aku dapat mengorbankan milik orang lain untuk kepentinganku?" teriak Swat-san dengan gusar.

Ji-lo yang berdiri belakangan tadi, cepat membuka mulut sambil tertawa: „Bagaimana dikatakan mengorbankan milik orang lain? Ahliwaris kelima dari Panji Sakti, adalah calon suami puterimu, jadi bukan orang luar!"

Swat-san Lojin yang berwatak aneh, sudah tentu tak dapat menelan hinaan semacam itu. Seketika berserulah dia dengan marahnya: „Empat belas tahun bersaing, kalian berdua telah berjanji padaku, selama belum menyatukan kembali aku suami isteri, anak murid Lam-hay-bun takkan menginyak daerah Tiong-goan. Kini bukan saja kalian telah melanggar janji, pun bahkan mempergunakan Coa Leng sebagai alat pemerasan.

Perbuatan kalian ini, lebih rendah dari kawanan anjing! Sekarang kalau kalian mau mengembalikan Coa Leng dan puterinya kepadaku, urusan akan kuhabiskan sampai disini. Tapi kalau berani main gila, jangan lagi hanya kian-gun-ciang, sekalipun gunung golok berhutan tombak, akupun tetap akan menerjangnya!"

Thian-lam-ping-siu yang sedari tadi diam mendengari, kini tak tahan lagi.

„Lam-hay-bun berani merampas kemerdekaan orang, itu sudah melanggar prikemanusiaan. Atas nama Panji Sakti yang memberantas segala kejahatan, kuharap kalian suka menyerahkan nona Peng bersama ibunya dengan baik-baik.

Kalau tidak, rasanya Ngo-ci-san sini takkan terhindar dari kemusnahan. Harap kalian pikir semasak-masaknya!” ujarnya. Ji-lo yang pertama kali tertawa tadi, kini kembali terbahak- bahak, serunya: „Dengan mengandalkan tiga buah sam-coat- ciau dari Panji Sakti, Ping-siu berani buka suara besar.

Ketahuilah, disini adalah daerah Ngo-ci-san yang melarang kau jual kecongkakan. Tinggalkan Panji Sakti dan semuanya beres. Berani sedikit keras kepala, kau bisa masuk kemari tapi tak dapat keluar!"

„Mereka memang ingin cari mati, usah Ping-siu membuang air ludah menasehati. Sebaliknya kita berdua segera minta pelajaran ilmu mereka kian-gun-ciang itu saja!” Swat-san Lojin dengan tak sabar lagi segera menyerukan Thian-lam-ping-siu.

Ji-lo itu menengadah keatas dan tertawa panjang, lalu berkata kepada saudaranya: „Lo-ji, karena orang bersungguh hati ingin merasakan kian-gun-ciang, janganlah kita pelit.

Lekas bereskan mereka, kemudian selesaikan Bo-ang Sancu!"

Ji-lo yang dipanggil Lo-ji itu segera memberi isyarat dan ratusan anak muridnya segera menggotong kursi thay-su-i itu mundur ke belakang, hingga disitu terbuka lagi sebuah gelanggang untuk bertempur. Dua pasang tokoh tua yang kenamaan, segera saling berhadapan .........

> ∞ <

Sering Bo-ang Sancu itu menganggap dirinya sebagai tokoh persilatan yang tiada tandingannya. Kini dia baru melek.

Berhadapan dengan keempat Toa-thian-ong saja belum dapat mengalahkan apa lagi masih ada kedua Lam-hay Ji-lo. Diam- diam dia mengeluh dan mengkhawatirkan tentang kesudahan pertempuran itu.

Memang kalau dibandingkan dengan Swat-san Lojin atau Thian-lam-ping-siu, pemimpin dari Siao-ngo-tay-san itu masih kalah setingkat. Namun sejak dia berhasil meyakinkan ilmu pukulan sakti ciak-tok-liong-ciang, dia menjadi setingkat lebih atas dari jago-jago kelas satu. Berhadapan dengan thian-ong wajah hijau saja tak dapat lekas-lekas mengalahkan, telah membuat Bo-ang Sancu menggerung-gerung seperti harimau betina kehilangan anak.

Maka betapa kejutnya ketika dia menampak Swat-san Lojin dan Thian-lam-ping-siu muncul. Dan rasa kejut itu segera berobah menjadi kegirangan besar tatkala diketahui kedua tokoh itu sudah siap bertempur dengan Lam-hay Ji-lo.

Serentak dia memberi isyarat kepada barisan pat-yok-li untuk memperhebat musiknya.

Sesaat tampak perobahan besar dalam rombongan Siao- ngo-tay-san. Mereka berkelahi dengan semangat bernyala- nyala, hingga membuat keempat Toa-thian-ong keripuhan!

Bagaimana dengan Ceng Ih? Ternyata pemuda itu menanti perintah Swat-san Lojin untuk tetap bersembunyi dalam hutan. Diapun terkesiap heran waktu mendengar pukulan kian-gun-ciang yang dibanggakan Lam-hay Ji-lo itu. Seluruh perhatiannya segera dipusatkan ke arah gelanggang untuk menyaksikan daya kehebatan ilmu baru itu.

Tiba-tiba alat pendengarannya yang tajam itu, segera dapat menangkap suatu suara yang mencurigakan dari arah belakang. Cepat dia berpaling kebelakang dan amboi Tan

He dan Wan-ji sudah berdiri tegak dengan wajah terkejut.

Rupanya karena Ceng Ih bergerak dengan cepat, kedua nona itu menjadi kepergok. Ceng Ih kewalahan terhadap nona yang tak mendengar perintah itu, tapi dia tak dapat berbuat apa-apa. „Lekas tahan napas! Kedua Ji-lo itu amat lihay, kalau sampai kepergok mereka, supeh tentu marah besar!" serunya separoh berbisik.

Karena masih mengkal dengan peristiwa kemarin, Wan-ji tak mau mengacuhkan.

Sebaliknya dengan bersenyum Tan He lantas memberi penjelasan: „Adik Wan jemu disekap dalam kamar, dia mau lihat keramaian disini. Sedang aku, yang penting ialah hendak menolong cici Peng. Hal ini jangan kauberitahukan supehmu. Begitu cici Peng sudah tertolong, kami berdua segera akan lekas-lekas kembali kehotel lagilah!”

„Aku toh tak menyesali, mengapa kau perlu memberi penjelasan? Begini sajalah, kita lihat dulu bagaimana kesaktian kian-gun-ciang dari kedua Ji-lo itu. Asal Swat-san Lojin dan supeh dapat melayani, kita bertiga boleh lantas menyusup kedalam markas mereka untuk menolong adik Peng. Akur tidak?!"

Tan He Kongcu berlinang-linang, keluhnya dengan berbisik:

„Mengapa yang kau pikiri hanya supehmu dan Swat-san Lojin saja? Bukankah ayahku juga sedang mengadu jiwanya

..........”

Karena selama ini selalu bermusuhan, jadi Ceng Ih sudah tak membawa-bawa diri Bo-ang Sancu. Pertanyaan Tan He itu telah membuat dia bungkam seribu bahasa. Memang terhadap ayah dari nona yang dicintainya, dia tak pantas bersikap begitu dingin.

Syukur Tan He dapat memahami keadaan pemuda itu. Dengan tertawa lincah, segera dia menyusuli kata-kata:

„Mungkin kau anggap ayahku itu kasar, congkak dan berhati beku. Tapi biar bagaimana, dia tetap seorang ayah yang baik. Bahwa dia mempunyai keinginan besar untuk merebut Panji Sakti, itu adalah sudah jamak. Coba orang persilatan mana yang bebas dari rasa ingin memiliki Panji itu? Mungkin kau menganggap, aku berbicara untuk membela ayah ”

Ia berhenti sejenak, lalu menunjuk kearah gelanggang dimana thian-ong wajah hijau masih bertempur seru dengan ayahnya. Tan He kembali berkata: „Ayah telah mengerahkan seluruh kekuatan Siao-ngo-tay-san, ini menjadi bukti yang kuat pula bagaimana dia amat menyintai diriku. Aku seorang anak yang tak berbakti, ayah mengadu jiwa untuk diriku, sebaliknya aku malah enak-enak bersembunyi melihati saja. Hatiku seperti disayat sembilu, tak tahu aku bagaimana harus berbuat "

Wan-ji yang masih murung itu, kini tak tahan lagi untuk tak membuka mulut, ujarnya: „Yang betul kau harus tetap sembunyikan diri. Coba kalau leng-cun (ayahmu) tak bertempur dengan keempat Toa-thian-ong, masakan kita semudah ini dapat kemari. Setelah menolong cici Peng, kita nanti pikirkan lain daya pula. Asal Swat-san Lojin yang bicara, urusan tentu beres dah!”

Tan He tak dapat membantah.

Sementara Ceng Ih segera memuji: „Adik Wan, kau sungguh hebat, aku sungguh girang sekali!"

„Girang? Hanya setan yang merasa girang, nanti kalau pulang tetap akan kukasih tahu pada ayah!" sahut Wan-ji.

„Hush, perlu apa ribut-ribut. Tu lihat ayahmu sedang hendak melancarkan pukulan!" bisik Tan He.

Ceng Ih dan Wan-ji segera alihkan pandangannya kearah gelanggang. 

Ternyata suasana pertarungan disitu sudah makin tegang.

> ∞ <

Waktu Swat-san Lojin dan Thian-lam-ping-siu mengeluarkan ultimatum, kedua Ji-lo segera bersiap berdiri berjajar-jajar, masing-masing mengangkat tangannya kanan. Sesaat kemudian, tangan kedua tokoh itu berobah merah dan pada lain saat mulut mereka membentak keras maka dua siur aliran tenaga dahsyat menimpah kearah kepala Swat-san Lojin dan Thian-lam-ping-siu.

Thian-lam-ping-siu julurkan tangan kiri siap hendak lancarkan kay-cu-na-si-mi, tapi Swat-san Lojin lebih cepat. Ulurkan tangan, dia membentak "naik"! Dua sosok tubuh segera membubung sampai empat tombak tingginya. Setelah serangan Ji-lo lewat di bawah kakinya, barulah kedua tokoh itu melayang turun lagi. „Bum,” seluas lima meter pesegi dari tanah lapang yang terbuat dari batu marmar kembang itu, menjadi pecah. Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya tenaga dari kian-gun-ciang itu!

„Ha, ha, kukira ilmu yang dahsyat, kiranya kian-gun-ciang hanya terdiri dari tenaga im dan yang saja. Memang hebat sih hebat, tapi terhadap tua bangka semacam kita berdua ini, mungkin ndak mempan! Ayuh, lepaskan lagi sepuasmu!” seru Swat-san Lojin dengan tertawa mengejek.

Ji-lo tua balas tertawa, ujarnya: „Swat-san Lojin, jangan menepuk dada dulu, nantikan yang ini " Kedua Ji-lo

mengangkat tangan kanannya lagi dan kian-gun-ciang dilancarkan pula sekuat-kuatnya.

Kali ini Swat-san Lojin tak mau menghindar. Dengan dorongkan tangan kemuka, dia keluarkan ilmu pukulan thian- hud-ciang, sembari menjawil Thian-lam ping-siu supaya gunakan kay-cu-na-si-mi. Sebenarnya Thian-lam-ping-siu juga bermaksud demikian. Maka dengan sekuat tenaga segera dia meninju dalam kay-cu-na-si-mi. Bersama thian-hud-ciang, kay- cu-na-si-mi merupakan kombinasi tenaga im dan yang yang serasi. „Bum, bum,” demikianlah terdengar suara ledakan keras bagai memecah bumi ........

Thian-lam-ping-siu terhuyung-huyung sampai tiga tindak, sementara Swat-san Lojin pun tampak tergetar. Apa yang terjadi? Ternyata tenaga im yang lunak dari kay-cu-na-si-mi itu telah terbentur dengan tenaga yang yang keras dari salah seorang Ji-lo, Thian-lam-ping-siu terkesiap kaget, sebaliknya Swat-san Lojin tertawa gelak-gelak.

„Kukira kian-gun-ciang hebat tiada taranya, ternyata setali tiga uang dengan kepunyaan kami berdua. Nah, bagaimana, apa masih mau melanjutkan adu baku hantam lagi?" kata Lojin dari gunung Swat-san itu.

Kemudian dengan gunakan lweekang Coan-seng-jip-bi, dia susupkan kata-kata kepada Ping-siu: „Kalau mereka masih ngotot, nanti kau boleh gunakan beng-kun-han-san-ho.

Gebrak pertama, kita sama kuat!" Thian-lam-ping-siu mengangguk.

Lam-hay Ji-lo memang sakti, tapi dengan Swat-san Lojin masih kalah setingkat. Empatbelas tahun iang lalu, bertanding dua lawan satu dengan Swat-san Lojin, juga seri. Berpuluh tahun kedua Ji-lo itu berjerih payah meyakinkan ilmu kian- gun-ciang, ilmu pukulan yang terdiri dari lweekang keras dan lunak. Mereka yakin tentu akan dapat menghancurkan Swat- san Lojin. Maka betapa kecewa mereka, demi mengetahui kesudahan pertempuran itu. Pukulan pertama, menghantam angin. Pukulan kedua, ditangkis dan kesudahannya hanya seri saja.

Namun rupanya Ji-lo masih belum puas, maka berserulah Ji-lo tua kepada Ji-lo muda: „Kian-gun-ciang mendapat lawan, kita coba sekali lagi!"

Kini kedua Ji-lo itu mendorong sekuat-kuatnya dengan sepasang tangan. Tadi hanya menggunakan sebelah tangan, kini dengan dua tangan. Dapat dibayangkan bagaimana kedahsyatannya.

Gerak gerik kedua pemimpin Lam-hay-bun itu tak lepas, dari perhatian Swat-san Lojin. Untuk mempersatukan gerakan dengan Thian-lam-ping-siu, dia sengaja berteriak: „Bagus!" Thian-hud-ciang pun dilancarkan dengan kedua tangannya.

Alat pendengaran Thian-lam-ping-siu luar biasa tajamnya.

Dari siur angin dia dapat membedakan arah datangnya serangan lawan. Begitu mendengar siur angin meniup, tangan kanan meninju dalam gerak kay-cu-na-si-mi sedang tangan kiri ditekuk separoh lingkaran, beng-kun-han-san-ho dilancarkan sekeras-kerasnya. „Bum,” siapa kuat, siapa lemah segera kelihatan!

Adanya Swat-san Lojin memesan supaya Thian-lam-ping- siu gunakan beng-hun-han-san-ho saja, ialah karena hendak menyelami sampai dimana tenaga yang sebenarnya dari kian- gun-ciang itu.

Sebaliknya Thian-lam mempunyai pendirian sendiri. Untuk menjaga kewibawaan Panji Sakti, dia gunakan beng-kun dan ma-ciang. Dan memang hasilnyapun berlainan. Kalau Thian- lam hanya terhujung satu tindak, adalah salah seorang Ji-lo yang menjadi lawannya itu, terhuyung-huyung sampai lima langkah baru dapat berdiri jejak. 

Bagaimana dengan Swat-san Lojin? Dia tersurut mundur sampai tiga langkah. Ji-lo yang menjadi lawannya itupun terpental kebelakang sampai tiga tindak. Jadi seri namanya. Diam-diam Lojin dari Swat-san itu mengakui bahwa thian-hud- ciang benar-benar tak dapat menandingi kesaktian Sam-coat- ciau ciptaan Hoa-he Hi-hu itu. Dulu dia pernah bertempur dengan Thian-lam-ping-siu dan kekuatannya berimbang saja. Kini setelah Thian-lam sembuh dan makan ulat mustika peng- jan, mau tak mau dia mengaku kalah.

Beralih pada kekuatan lawan, kini Swat-san Lojin sedikit banyak sudah dapat menilai kekuatan kian-gun-ciang dari kedua Ji-lo itu. Kembali dia tertawa, serunya: „Bagaimana sekarang? Kalau kalian masih belum tunduk, kita boleh ganti acara pertandingan!"

Setelah dua kali menjajal kekuatan, barulah kini kedua Ji-lo itu mengakui bahwa kian-gun-ciangnya mendapat tandingan. Kalau cara bertanding masih dilanjutkan begitu, Ji-lo muda masih dapat melayani tenaga lunak (im) dari Swat-san Lojin, tapi Ji-lo tua tentu akan tele-tele berhadapan dengan Thian- lam-ping-siu. Demikian perhitungan kedua Ji-lo itu. Maka usul Swat-san Lojin untuk berganti acara, tanpa banyak bicara terus disambut dengan tindakan tegas. Ji-lo tua menghadapi Thian-lam-ping-siu dan Ji-lo muda lantas menyerbu Swat-san Lojin.

Empat tokoh kenamaan, segera terlibat dalam Pertempuran yang seru!

Ceng Ih bertiga yang mengikuti jalannya pertandingan itu, diam-diam bersorak dalam hati. Kedua Ji-lo tak nanti dapat berbuat banyak berhadapan dengan Swat-san Lojin dan supehnya. Sementara pada partai Bo-ang Sancu sana, pun keempat thian-ong tak dapat angin. Kecuali partai keempat Cuncia dan kedua Sian-ong yang masih sama kuatnya, Bo-ang Sancu dan ketujuh Cincu telah dapat membuat kedua thian-ong kalang kabut. Kedua thian-ong yang berwajah hijau dan merah itu, tak lama tentu akan kalah.

Ceng Ih merasa saatnya sudah tiba. Cepat dia ajak Tan He dan Wan-ji bertindak menolong Peng-ji. Tan He yang lega akan jalannya pertempuran, segera tarik lengan Wan-ji diajak mengikuti Ceng Ih. Tiga sosok tubuh segera berloncatan lari dengan pesatnya menyusup ke markas.

Namun betapa lincah mereka bergerak, tetap tak dapat mengabuhi telinga kedua Ji-lo yang tajam. Serentak mereka berseru supaya Swat-san Lojin dan Thian-lam-ping-siu berhenti dulu.

„Hem, Swat-san Lojin! Biasanya kau selalu menepuk dada tak suka berbuat selundupan, tapi, apa nyatanya?

Pertempuran belum selesai, kau sudah suruh orang secara diam-diam menyelundup kedalam markasku. Katakanlah, apa kau hendak melakukan penggarongan secara gelap?" seru Ji- lo yang tua sambil menyengir.

Enak saja Swat-san Lojin mengembalikan pertanyaan orang: „Kamu pihak Lam-hay-bun sendiri yang mengundang kemusnaan, mengapa salahkan lain orang?”

„Lam-hay-bun mengundang kemusnaan? Bagus, bagus!

Sebelum ada yang kalah menang, pertempuran ini tetap berlangsung terus!” teriak Ji-lo tua dengan geramnya. Habis itu dia lantas perintahkan anak buahnya supaya lekas-lekas kembali kedalam markas untuk melakukan penjagaan. Hiruk pikuk ratusan anak buah Lam-hay-bun itu sama berlarian menuju kedalam markasnya.

„Nah, jika urusan kalian sudah beres, sebaiknya kita jangan membuang banyak waktu lagi. Keluarkanlah ilmu kebanggaanmu semua!" Thian-lam-ping-siu mengejek.

Tanpa menyahut lagi, kedua Ji-lo itu segera menyerang lagi. Bayangan berkelebat, angin menderu dan lapangan batu marmer kembang itu sana sini tampak bengkah pecah!

Melihat itu, Bo-ang Sancu pun perhebat serangannya, Thian-ong muka hijau yang menjadi lawan Bo-ang itu, adalah pemimpin dari keempat Toa-thian-ong jadi sudah tentu ilmunya pun tinggi. Namun menghadapi serangan gencar dari pemimpin Siao-ngo-tay-san itu, lama kelamaan dia kehabisan tenaga juga. Bermula dia masih mengharap akan bantuan dari kedua Ji-lo, tapi demi kedua pemimpinnya itu ditandangi oleh Swat-san Lojin dan Thian-lam-ping-siu, dia pun menjadi putus asa.

Dalam pertempuran, orang dilarang goyah pikirannya. Bo- ang Sancu segera mengetahui bahwa lawannya itu ibarat sebuah pelita yang hampir habis minyaknya. Cepat dia mencecernya dengan gencar, kemudian dalam sebuah kesempatan, dia segera gunakan lengan bajunya untuk menyampok dalam gerak siu-li-kian-gun yang lihay.

Perlu dikemukakan disini, bahwa Bo-ang Sancu jarang sekali mau menggunakan ilmu itu, kecuali berhadapan dengan musuh yang tangguh. Bersama ciak-tok-liong-ciang, ilmu kebutan siu-li-kian-gun itu merupakan sepasang ilmu kebanggaan Siao-ngo-tay-san.

Melihat kedahsyatan siu-li-kian-gun, thian-ong muka hijau itu buru-buru menangkis dengan kedua tangannya. „Bum,” berbareng dengan terdengarnya suara ledakan keras dan rintihan seram, tubuh thian-ong ltu terlempar sampai lebih dari satu tombak jauhnya!
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Panji Sakti Bab 29 : Adu Kekuatan"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close