Panji Sakti Bab 26 : Kiranya Dia

Mode Malam
26. Kiranya Dia

Saat itu kembali sang angin membawakan suara helaan napas itu. Dengan pusatkan perhatiannya dapatlah kini dia mengetahui arah datangnya. Dia ambil putusan hendak menjenguk orang itu.

Tapi belum lagi dia mengayun langkah, atau kembali suara bernada tua itu terdengar. Bahkan kali ini bukan melainkan menghela napas saja, tapi bernyanyi:

Duhai, jangan anda sayangkan kim-loh-i, Duhai, jangan anda sayangkan masa muda. Bunga laju harus diputuskan sekali.

Jangan sampai bunga habis, baru memutus dahannya.

„Huh, itulah sebait syair „Kim-loh-i". Apakah orang itu tengah dukai masa yang lampau? Biar kutengok bagaimana keadaan orang itu. Terang dia itu seorang yang mahir ilmu sastra, entah apa yang diresahkannya itu, pikir Ceng Ih lalu menyusup masuk ke dalam hutan menuju tempat asal suara itu.

Kiranya ditepi sebuah batu hijau, duduklah seorang orang tua. Diatas batu itu terdapat sisa arak dan beberapa hidangan. Rupanya sudah agak lama dia berada disitu seorang diri menikmati arak dan hidangannya itu. Ditilik keadaannya, tentulah sudah tadi tengah malam dia menggadangi rembulan dan karena tak kuat akan pengaruh arak, maka dia sampai mendengarkan luapan hatinya nan duka. Karena orang tua itu tengah duduk menghadap ke arah sana jadi tak dapat Ceng Ih melihat jelas romannya. Hanya seonggok jenggotnya yang sudah putih tampak berkibaran disamping dada.

Pakaiannya berwarna abu-abu disisinya terletak sebuah kopor rotan. Hai, pakaian dan kopor itu, rasanya dia sudah pernah melihatnya disuatu tempat. Siapakah gerangan dia? Tokoh Tian-to-kian-gun?

Tengah Ceng Ih menimang-nimang, kembali orang tua itu berdendang dengan nada keras.

Lenggang melenggang tiada dikejar waktu, Selagi tidur jendela timur sudah memerah, Seluruh alam menyambut dengan riang semu, Menyongsongkan kebahagiaan kepada manusia.

Menembus langit menyusup bumi hendak mencita, Hasrat ingin mengetahui urusan duniawi,

Sikapnya takkan puas kalau tiada berjina,

Hanya putera puteri pahlawan yang berkunjung kemari.

Menyanyi sampai disini, orang tua itu berhenti. Dengan tingkah seperti orang mabuk, kedengaran dia mengingau seorang diri: „Menembus langit menyusup bumi! Hasrat mengetahui urusan duniawi! Bagus sih bagus, tapi siapakah yang dapat melakukan? Hanya putera puteri pahlawan yang datang kemari, bukanlah yang dimaksud ialah gunung Ke- kong-san ini Ho, ho, dalam hari sepagi begini, jika bukan seorang pemuda jantan bagaimana dapat berkunjung kesini?

Berhenti sejenak, kembali dia berkata: „Ai, jika dianggap bahwa pada waktu sepagi begini datang kegunung Ke-kong- san itu adalah golongan pemuda jantan, aku si tua bangka ini masuk hitungan juga. Tapi si tua yang berada diatas kepala orang, bukankah dapat sebagai pahlawan diatas kepala pahlawan, benar bukan? Ha, ha, ha, ha!"

Tanpa bergerak, tanpa berpaling dan orang tua itu sudah dapat mengetahui akan kedatangannya, telah membuat Ceng Ih terkejut sekali. Oleh karena toh sudah ketahuan, maka lebih baik dia unjuk diri sekali.

Sekali ayun tubuh, dia sudah tiba didepan batu yang penuh dengan hidangan dan arak itu. Serta merta dia segera membungkukkan tubuh memberi hormat.

„Maaf, Ceng Ih datang mengganggu kesenangan lotiang!”

Habis memberi hormat, dia angkat tubuh mendongak kemuka dan ai serunya dengan terkejut. Sebaliknya pak

tua itu malah kedengaran tertawa terloroh-loroh, serunya:

„Diempat penjuru lautan, kita semua ada bersaudara. Masakan Ceng-lote sudah lupa pada saudara tua ini? Ha, ha, ha, ha!"

Serambut dibelah tujuhpun Ceng Ih tak mengira bahwa orang tua dihadapannya itu ternyata bukan lain ialah pedagang tua kawan perjalanannya tempo hari. Ya, si pak tua yang pernah dibantunya membawakan kopornya itu. Diakah gerangan si Tian-to-kian-gun itu?

Yang berbeda, kini pak tua itu mengenakan pakaian warna kelabu. Ai, kopor rotan itu bukankah yang pemah dibawanya (Ceng Ih) itu? Sungguh tak terduga, bahwa didalam kopor rotan itu ternyata berisi arak dan makanan saja.

Pak tua itu melirik ke arah Ceng Ih. Demi melihat anak muda itu tertegun, dia tertawa: „Karena siang malam menempuh perjalanan, tentulah Ceng-lote sudah lapar.

Bukankah setelah memperlihatkan ilmu gaib di Sip-li-poh, kau belum mengisi perut? Mari, marilah, lebih dahulu hendak kokomu tua ini memberi hormat dengan tiga cawan arak selaku terima kasihku atas bantuanmu ketika di Ciang-gwan tempo hari!"

Sembari berkata, pak tua itu mengambil sepasang supit yang bersih dari kopornya. Setelah diatur diatas permukaan batu, kembali dia mengeluarkan dua buah bungkusan kertas minyak dan sebotol arak wangi. Sewaktu dibuka, ternyata bungkusan itu berisi sepotong dendeng sapi dan sepotong ayam panggang.

Ketika hidungnya mencium bau arak dan ayam panggang yang lezat, perut Ceng Ih serentak berontak, air liurnya menetes keluar. Tanpa sungkan lagi, dia segera duduk berhadapan dengan pak tua itu, menyambuti ketiga cawan pemberian arak, terus diteguknya.

Dalam pada menikmati hidangan yang lezat itu, diam-diam Ceng Ih berpikir: „Kejadian di Sip-li-poh itu, kembali tak luput dari pandangannya. Jadi nyata selama ini dia selalu membuntuti aku saja!"

Memikir sampai disini, Ceng Ih berjengit. Kalau benar orang tua itu menguntitnya, dan pada saat itu sudah datang beberapa jam lebih dulu disitu, sungguh bukan alang kepalang ilmunya gin-kang.

Kemudiaan demi teringat sewaktu dalam perjalanan di Ciang-gwan mendengar bisikan si Tian-to-kian-gun, dia dapatkan orang tua itu sama sekali tak memperlihatkan tanda- tanda yang mencurigakan.

Menjadi kawan perjalanan, menyusupkan ilmu bisikan lwekang coan-sip-jip-bi, dan dia (Ceng Ih) toh sama sekali tak dapat mengetahui, benar-benar memalukan sekali. Dia yang menerima tugas menjadi pewaris Panji Sakti, ternyata masih dapat dikelabuhi mentah-mentah didepan hidungnya.

Ah, betapapun asal usul tokoh Tian-to-kian-gun itu, namun kenyataan selama ini selalu memberi bantuan kepadanya. Kini lebih baik dia gasak hidangan itu habis-habisan saja, tak perlu kuatir orang bermaksud buruk. Apalagi pada saat itu haripun sudah terang tanah, jadi dia tak dapat melanjutkan perjalanan lagi.

Memang pada saat itu, selimut halimun mulai menipis.

Diufuk timur sang roda dunia mulai pancarkan cahajanya yang gilang gemilang. Hutan dan sumber-sumber air yang menghias alam gunung Ke-kong-san situ, makin indah dipandang. Pak tua yang bukan lain ialah tokoh Tian-to-kian- gun, memandang dengan tersenyum akan kelakuan si anak muda yang makan dengan lahapnya itu. sambil mengelus-elus jenggotnya yang sudah memutih.

„Jika arak ketemu sahabatnya, rasanya berapapun tentu masih kurang. Sekalipun Ceng-lote sendiri pernah mengatakan bahwa diempat penjuru lautan itu semua orang adalah bersaudara, tapi tentunya masih merasa bahwa tak layak mempunyai seorang koko begini tuanya, bukan?" kata Tian-to- kian-gun dengan tertawa.

Memang sewaktu tempo hari Ceng Ih mengucapkan kata- kata itu, dia agak menyesal karena menampak pedagang itu sudah tua. Kini dengan diungkatnya hal itu, tentu saja dia menjadi kemalu-maluan. Untuk menutup rasa likat, dia pura- pura tak mendengarnya dan terus tak henti-hentinya memasukkan dendeng dan arak ke dalam mulutnya.

Menampak sikap anak muda itu, kembali orang tua itu tertawa nyaring, serunya: „Ai, jangan lote mengira bahwa karena hari sudah siang tak dapat melanjutkan perjalanan lagi. Ketahuilah bahwa gunung Ke-kong-san ini amat sunyi senyap. Tempat yang kupilih ini, termasuk tempat yang paling nyelempit sekali, tak nanti ada orang yang dapat menyusup kemari. Harap kau makan dan minum seenaknya saja, jangan terburu-buru!"

Karena Ceng Ih masih tetap tak buka suara, kembali orang tua itu berkata: „Setelah melintasi Ke-kong-san, aku hendak belok ke Su-chwan. Maka perjamuan sederhana diatas batu ini, kuperuntukkan selaku perpisahan, karena maaf, lo-koko tak dapat mengantar perjalanan lote ke selatan itu!"

Dengan tokoh Tian-to-kian-gun itu, baru saja Ceng Ih berkenalan, namun dia merasakan suatu ikatan yang akrab. Sewaktu mendengar kata-kata orang itu, tak urung hati Ceng Ih merasa seperti kehilangan sesuatu.

Namun tak tahu dia bagaimana untuk menumpahkan perasaan hatinya itu. Dengan pancaran yang penuh arti, dia menatap orang tua itu lekat-lekat.

Melihat sikap ketolol-tololan dari anak muda itu, kembali si orang tua tertawa keras, ujarnya: „Kutahu kau orang she Ceng bernama Ih, pewaris dari Panji Sakti. Tahukah kau akan asal usulku? Mengapa tak kautanyakan? Atau mungkinkah kau hendak menyebut diriku sebagai si Tian-to-kian-gun saja?"

Tokoh itu menutup pertanyaannya dengan tertawa gelak- gelak.

Ceng Ih seperti semut diatas kuali panas. Dia kelabakan sendiri. Memang seharusnya dia bertanya hal itu, tapi karena orang sudah mengatakan lebih dahulu, dia merasa sungkan. Akhirnya dengan pikiran kalang kabut, mulutnya terpaksa bicara: „Lo-cianpwe ” „Ai, kata-kata lo-cianpwe itu sungguh tak sedap didengar daripada Tian-to-kian-gun. Ah, lebih baik kau tetap panggil aku koko sajalah. Sekalipun aku jauh lebih tua, tapi apa halangannya?" tukas si orang tua.

„Kau hendak mengeluarkan isi hatimu bukan?" katanya pula, „Tak apalah, biar kubantumu. Lebih dahulu mengenai hidangan dan minuman itu, kita harus menikmatinya pelahan- lahan. Paling-paling kita kurang tidur sedikit, tapi hal itu tak menjadi soal bagi orang yang meyakinkan ilmu silat."

Menuang pula arak ke dalam cawan Ceng Ih, orang tua itu mendongak mengawasi matahari pagi, kemudian melirik kepada sinak muda, katanya dengan tertawa riang: ,,Selama ini aku saja yang memborong pembicaraan, sedang kau tetap seperti patung bisu. Baiklah, kini akan kubantu supaya kau bersemangat. Nah, begini saja, akan kuwakilkan kau mengatakan isi hatimu itu!"

Selama itu Ceng Ih menganggap dirinya tangkas dan cerdas. Tapi demi berhadapan dengan orang tua aneh itu, dia merasa dirinya seperti seekor kunang-kunang hendak mengadu pancaran sinar dengan sang rembulan. Benar-benar otaknya tumpul, mulut serasa berat. Kini orang tua itu hendak membuka isi hatinya, sudah tentu dia tersipu-sipu mengiakan.

„Pertama, akan kuterka lebih dahulu pandanganmu terhadap diriku. Tentu kau mengira aku ini seorang yang memiliki kepandaian sakti dan dapat mengetahui apa yang bakal terjadi. Benar tidak?" orang tua itu memulaikan pembicaraannya.

„Benar, benar! Tepat sekali!" seru Ceng Ih.

„Menurut pendapatan, mungkinkah hal itu?" .,Mengapa tak mungkin?” sahut Ceng Ih.

Bahwa dalam ungkapan pertama, orang tua itu telah dapat menebak jitu kandungan hati Ceng Ih, telah membuatnya (orang tua) itu tertawa girang. Tapi sesaat kemudian, wajahnya berobah bersungguh, katanya: „Ceng-lote, jika kau mempunyai anggapan demikian, bukan melainkan salah saja tapi suatu blunder (kesalahan besar). Setiap insan manusia itu tentu senang kalau dirinya dipuja orang. Sampaipun aku, kokomu yang tua bangka ini, tetap belum dapat terbebas dari sifat-sifat itu. Buktinya, aku telah mengikat persahabatan dengan orang yang jauh lebih muda dari aku. Dengan sejujurnya kukatakan, bahwa anggapanmu itu salah!"

Karena kata-kata orang tua itu tak mengandung suatu apa, Ceng Ih merasa tak puas. Melihat mimik wajah anak muda itu, kembali si orang tua tertawa dengan lepasnya.

„Terhadap ucapan lo-koko itu, kau tak puas bukan? Baik!

Kini akan kujelaskan. Adanya kau mempunyai anggapan begitu, adalah karena jalannya sang 'kebetulan' saja. Jika mengatakan aku ini lebih lihay dari kau, memang tak kusangkal, itu, memang ada. Tapi segi-segi kelihayan itu paling banyak hanyalah berkisar pada hal „urusan-dunia" saja!"

„Apakah hanya dalam 'urusan-dunia' saja?" tanya Ceng Ih.

„Memang hanya begitulah. Tapi jangan sekali-kali kau meremehkan arti dari kedua kata itu. Yang dimaksud urusan dunia yakni pengalaman, riwayat ditambah dengan kumpulan darah keringat perjoangan. Kesemuanya itu tak mampu dibeli dengan uang!"

Tanpa menunggu si Tian-to-kian-gun melanjutkan kata- katanya lagi, Ceng Ih sudah lantas buru-buru berseru: „Nanti dulu, nanti dulu! Aku hendak mohon tanya padamu. Ketika dalam perjalanan di Ciang-gwan dan dalam hati aku telah mengambil putusan hendak melakukan perjalanan pada malam hari, lalu tiba-tiba kau membocorkan isi hatiku itu, apakah hal itu juga termasuk urusan dunia?"

„Sudah tentu, ya!”

„Ketika dihotel ditepi penyeberangan Hong-ho, kau menyusupkan surat suruh aku berhati-hati terhadap Hoa-hoa Kongcu, apakah urusan dunia juga?"

„Juga begitu!”

„Digelanggang kuburan kau memberi petunjuk akan it-cau- sam-si (satu jurus tiga gerakan), kemudian meninggalkan tiga butir pil. Masakan terhadap urusan dunia kau begitu amat yakinnya!"

„Itupun yang dibilang urusan dunia!" sahut si orang tua dengan tetap.

„Baik, jika demikian, aku bersedia mendengari dengan hikmat!" kata Ceng Ih. Setelah mengajukan tiga pertanyaan itu, perasaan hatinya serasa longgar.

Diteguknya cawan arak, memotes sepotong ayam panggang lalu dimasukkan ke dalam mulut. Pikirnya: „Hem, kau bersitegang leher hendak membela dalilmu urusan dunia!"

Juga orang tua itu lebih dahulu mengeringkan cawannya, baru tertawa berkata: „Ceng-lote, jangan terburu bergirang dulu. Aku hendak mengajukan sebuah pertanyaan padamu lebih dulu!" Menelan daging ayam panggang ke dalam mulut, dengan heran Ceng Ih bertanya: „Pertanyaan apa?"

Si orang tua berkata dengan tertawa: „Seseorang yang tengah kalut pikirannya atau sedang bermimpi, tentu tanpa disadari dapat mengatakan apa yang terkandung dalam hatinya. Inilah yang dibilang ‘hati tergetar, perasaan memberi reaksi', benar tidak?"

„Uuu ..... hal begitu mungkin bisa " baru berkata

sampai disini, tiba-tiba Ceng Ih berganti nada terkejut: „Kau artikan, percakapan dalam perjalanan ke Ciang-gwan itu, telah membocorkan rahasia hatikukah?"

Jenggot tokoh Tian-to-kian-gun bergontai, sahutnya sambil tersenyum: „Benar, kau sendirilah yang meluncurkan kata- kata isi hatimu itu. Nah, pertanyaanmu yang kesatu, sudah terjawab!"

Dengan wajah terkesiap, Ceng Ih menganggukkan kepala.

Si orang tua batuk-batuk sebentar, lalu melanjutkan penjelasannya: „Lote, tahukah kau sejak dari mana aku dan Hoa-hoa Kongcu menguntitmu?”

„Sekeluarnja dari Tong-kwan, benar tidak?"

„Salah!"

„Habis, dari mana saja?" tanya Ceng Ih dengan penuh keheranan.

„Sejak di Tay-tong-hu!"

„Di Tay-tong-hu?" saking kejutnya Ceng Ih sampai berteriak keras. Tian-to-kian-gun mengangguk-angguk, ujarnya: „Benar, memang sejak dari Tay-tong-hu. Adalah karena kalian boncengan berdua dengan bakal isteri, jadi sampai lupa daratan tak mengacuhkan orang-orang seperjalanan lainnya!"

Merah padamlah selebar muka Ceng Ih. Bergegas-gegas dia menutupinya dengan sebuah pertanyaan: „Karena mempunyai seekor kuda sakti, dapatlah Hoa-hoa Kongcu mengejar kuda say-cu-hoa kami. Tapi kau, lo-koko, dengan apa kau berjalan itu? Mengapa Hoa-hoa Kongcu tak mengetahui dirimu?"

Tokoh Tian-to-kian-gun itu menghadap sang matahari pagi. lalu tertawa gelak-gelak, ujarnya: „Aku si Swat-nia-koay-siu, kalau terhadap seorang anak muda seperti Hoa-hoa Kongcu saja tak dapat mengatasi, sia-sialah aku hidup sampai 60-an tahun ini. Kemudian dengan memberi surat peringatan padamu itu, Ceng-lote. apakah berarti aku tak mencampuri urusan dunia?"

Seperti orang tersadar dari mimpinya, kini pecahlah mulut Ceng Ih dengan tertawa nyaring: „Oh, kiranya lo-koko ini ialah Swat-nia-koay-siu. Bukan saja aku merasa beruntung telah dapat bertemu muka pun memang sudah lama aku sangat mengagumi nama lo-koko itu!"

„Uh ..... banyak bicara tentu kelepasan mulut " gerutu

orang tua yang bukan lain ialah Swat-nia-koay-siu atau si orang kurus aneh dari puncak gunung salju.

„Tadi lo-koko mengatakan Hoa-hoa Kongcu itu bangsa tak ternama. Tapi menurut anggapanku, hal itu agak kurang tepat,” kata Ceng Ih pula. Swat-nia-koay-siu tertawa lebar: „Jadi menurut pendapatmu dia itu termasuk golongan ko-chiu kelas satu, dan memiliki kesaktian yang hebat, bukan?"

„Sekurang-kurangnya tentu lebih lihay dari aku si Ceng Ih ini!” sahut Ceng Ih.

„Lote, kembali kau keliru lagi. Inilah pertanyaan ketiga yang kau kemukakan, nah biar kuterangkan sekarang. Ketika bertempur dikuburan Peh-sat itu hampir saja kau menderita kekalahan. Tahukah kau, dimana letak kelemahanmu itu?"

„Kiranya hal itu sudah terang gamblang, kepandaiaku tak memadai lawan!”

„Keliru! Salah besar! Memang telah kuduga kau mempunyai perasaan begitu, maka sengaja kutunggumu digunung Ke- kong-san sini untuk memberi koreksi."

„Astaga aku salah lagi? Apakah kesaktiannya untuk

menghapus tenaga pukulannya itu palsu belaka? Apakah hal itu juga hanya semacam ilmu gaib saja? Aneh!"

Menuding pada Ceng Ih, berkatalah Swat-nia-koay-siu:

„Lote, lebih baik jangan meragukan dulu, setelah kujelaskan, tentu kau akan mengerti. Kekalahanmu dalam pertandingan itu, ialah terletak pada mental (pikiran), bukan karena kalah kepandaian, percaya tidak?”

„Sukar dipercaya!"

„Baik, coba jawablah. Pada permulaan bertempur bukankah dia mengajukan tiga buah cara bertanding gin-kang atau senjata rahasia atau pukulan, dan mempersilahkan kau memilihnya, bukan?" „Benar!”

„Kalau kau pilih yang kesatu atau kedua, tahukah kau bagaimana kesudahannya?"

„Bukankah Hoa-hoa Kongcu telah memperhitungkan bahwa aku tentu tak berani memilih yang dua itu?” Ceng Ih balas bertanya.

„Ha, ha, tepat sekali. Jika kau sungguh memilih yang dua itu, dia tentu cep kelakep (bungkam) dan terus ngacir!"

„Tapi nyatanya dia kan dapat menghapuskan tenaga dua buah pukulanku itu. Bagaimana jelasnya?"

Kembali dia meneguk cawannya, kemudian dengan tenang berkata: „Untuk itulah makanya aku menunggumu disini.

Renungkanlah dahulu, apa sebabnya dia begitu baik hati mandah menerima tiga buah pukulanmu, masakan di dunia itu terdapat hal yang begitu murah?"

„Benarlah! Aku sendiripun bingung memikirkan ”

„Ketahuilah, dia memang mempunyai alasan untuk tak menyerang, karena begitu mengeluarkan pukulan tentu akan mendapat malu!"

„Sungguhkah itu?" Ceng Ih menegas dengan kejutnya.

„Ayah dari Hoa-hoa Kongcu itu bernama Bu-san Hi-cu. Beberapa tahun yang lalu dia berhasil menemukan sebuah kitab pusaka “Bu-siang sin-kong". Keistimewaan dari lwekang istimewa bu-siang-sin-kong itu ialah dapat memunahkan tenaga pukulan lweekang keras. Tapi bu-siang-sin-kong itu tak dapat digunakan untuk melukai musuh. Sungguh licin sekali Hoa-hoa Kongcu itu. Dengan cerdiknya dia dapat menyelomoti kau, sehingga hampir saja kau masuk ke dalam perangkapnya. Apabila aku tak lekas-lekas memberi kisikan bagaimana kau harus melancarkan pukulan terakhir itu, mudahlah dibayangkan bahwa kau tentu akan tergelincir."

„Ai, sungguh berbahaya!" seru Ceng Ih, lalu bertanya pula:

„Adakah Bu-san Hi-cu itu tiada mempunyai kepandaian apa- apa lagi?"

„Ada sih ada, tapi biasa saja. Coba pikirkan, ayahnya saja begitu, masakan Hoa-hoa Kongcu dapat menandingi kau dalam adu gin-kang atau senjata rahasia. Dalam hal memperhitungkan keadaan orang, memang Hoa-hoa Kongcu menang dari kau, sehingga kau seperti kerbau dituntun saja".

„Ooooooo ”

„Luka yang diderita Hoa-hoa Kongcu tidak ringan. Benar setelah makan pilku itu, untuk sementara waktu jiwanya tertolong, tapi sedikit kepandaian yang dimilikinya itu tentu punah sama sekali!" Swat-nia-koay-siu menutup keterangannya.

Seperti terlepas dari tindihan batu besar, perasaan Ceng Ih serasa longgar sekali. Serta merta dia menuangkan arak ke dalam cawan Swat-nia-koay-siu, setelah saling memberi toast (beradu cawan), dia bertanya pula: „Lo-koko, menurut pendapatmu apakah Bu-san Hi-cu itu akan menuntut balas untuk puteranya?”

„Hal itu sukar dipastikan. Hanya saja, kalau kau berkelana di dunia persilatan, waspadalah selalu. Dunia persilatan itu penuh aneka pergolakan, penuh pelbagai tipu muslihat!"

Dengan penyahutan itu, tahulah Ceng Ih bahwa Swat-nia- koay-siu sudah bermaksud hendak melanjutkan perjalanan lagi. Ceng Ih tak mau mensia-siakan kesempatan dan buru- buru bertanya: „Lo-koko, aku masih ingin bertanya lagi.

„Ooo, bukankah perihal Kong-tong-pay?"

„Benar, mengapa mereka mengganti pay (partai persilatan) menjadi kau (partai agama)?"

„Kemungkinan etiket 'kau’ itu lebih dapat menarik perhatian orang daripada 'pay'!" sahut yang ditanya.

Bertanya pula Ceng Ih: „Kong-tong-kau dapat menggunakan ilmu gaib memanggil angin mendatangkan hujan, menyebar kedele berobah menjadi serdadu dan membuat mayat hidup dapat menari, apakah lo-koko percaya?"

„Kau sendiri percaya tidak?" balas bertanya Swat-nia-koay- siu „Aku tak percaya sama sekali, dan kau?"

„Aku percaya!" sahut Swat-nia-koay-siu

Jawaban Swat-nia-koay-siu itu sungguh diluar dugaan Ceng Ih. Dengan kelabakan, dia cepat menegas: „Jadi kau benar percaya mereka mempunya ilmu gaib semacam itu?"

„Telah kukatakan tadi, bahwa dalam dunia persilatan itu penuh beraneka keanehan dan tipu muslihat. Telah kuketahui bahwa omongan semacam itu terang tak mungkin, tapi memang aku hendak percaya bahwa hal itu mungkin. Dengan begitu kau nanti takkan menjadi heran terhadap sesuatu yang terjadi diluar persangkaan. Didalam hal yang mustahil, kita dapat menggali ketidak-mustahilannya!"

Walaupun penjelasan Swat-nia-koay-siu itu dapat diterima dalam Ceng-li (nalar), namun tetap tak memuaskan hati Ceng Ih. Sambil menggeleng kepala, dia tertawa berkata: „Tidak percaya. Biar bagaimana aku tak dapat disuruh menelannya mentah-mentah saja!"

Swat-nia-koay-siu cukup memahami perangai anak muda itu, ujarnya dengan tersenyum: „Adalah karena kau sudah apriori (menolak) sebelumnya, maka kau sudah hamburkan waktu berjam-jam dalam usaha yang tak berhasil untuk meyakinkan seorang perempuan desa. Inilah yang menjadi sebabnya!"

„Kalau begitu, lo-koko percaya segala ilmu gaib nonsense dari Kong-tong-kau itu?"

„Kata-kataku tadi bukan seharusnya ditafsirkan begitu. Aku bukannya memegang prinsip "percaya secara membabi buta', tapi aku pendirian 'didalam hal yang tak masuk akal, kita gali isinya'. Harap kau jangan salah paham!"

„Lo-koko, apakah kau setuju kalau aku menyaksikan upacara sembahyangan bendera dari Kong-tong-kau itu?" tanya Ceng Ih.

Swat-nia-koay-siu menghapus senyum dengan nada bersungguh: „Untuk mencari isi kenalaran itu, sudah tentu aku setuju kau sesekali menempuh bahaya. Hanya saja, kali ini kalau kau sudah lewat dipintu mereka dan tak masuk ke dalamnya, baru kuanggap kau benar-benar cerdik!"
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Panji Sakti Bab 26 : Kiranya Dia"

Post a Comment

close