Panji Sakti Bab 12 : Mimpi Di Siang Hari

Mode Malam
12. Mimpi Di Siang Hari

Syukur saat itu, dia lihatnya ditepi jalan ada sebuah parit kecil. Kuda segera dihentikan. Dilepasnya binatang itu untuk minum dan makan rumput, sedang dia sendiri mengasoh dibawah sebuah pohon. Saking lelah dan lapar, tanpa terasa, dia jatuh pulas. 

Entah berapa lama dia dalam keadaan begitu itu, tahu-tahu dia terbangun kaget karena ditiup angin silir. Angin meniup, itu hal yang jamak. Hanya yang membuatnya terperanjat, tiupan angin itu agak luar biasa, ialah dari atas meniup kebawah.

Sebagai seorang persilatan, walaupun sedang layap-layap tidur. Ceng Ih amat perasa sekali. Begitu membuka mata, dia terus loncat berdiri. Tetapi ketika memeriksa kesekeliling situ, tiada barang seorang manusia yang dilihatnya.

„Ah, dalam rimba belantara seperti tempat ini, masakan ada orang datang kemari. Tadi kalau bukan perbuatan kawanan burung yang pulang kesarangannya diatas pohon tentu bangsa bajing hutanlah!"

Habis berkata begitu. dia hendak duduk ditempatnya tadi lagi. Tapi belum lagi dia sandarkan punggungnya pada pohon, kembali dia loncat berjingkrak. Sepasang matanya dipentangnya lebar-lebar. Kiranya disebelah tempat duduknya tadi, terbentang sehelai tikar sutera, diatasnya siap sepelengkap hidangan ransum kering.

Kalau perut lapar, otak tak mau payah-payah memikirkan lagi siapa-siapa yang menyediakan makanan itu, yang perlu ialah gasak dulu makanan itu. Setelah kenyang baru pikirannya bekerja: „Nona itu memang aneh sekali. Tadi karena kepergok berangkatnya, dia tentu kalah dulu datangnya kemari. Namun sebab aku tertidur, jadi dia dapat mengejar dan menyediakan makanan ini.”

Ceng Ih berterima kasih sekali kepada nona itu, tiba-tiba dia berbangkit dan memberi hormat dengan soja (menyembah): „Nona, aku Ceng Ih, merasa berterima kasih sekali atas kebaikanmu selama ini. Kini Swat-san sudah didepan mata, ditempat yang begini sunyinya ini rasanya tiada lain orang lagi. Mengapa nona tak suka tampilkan diri, agar aku dapat menghaturkan terima kasih?"

Dua kali Ceng Ih ulangi seruannya dan kerak keruk menjoja, namun yang tampak hanyalah burung-burung yang kembali kesarangnya dipohon dan binatang-binatang hutan yang pulang kegoanya. Angin mulai mendesis-desis mengantar sang matahari kembali ketempat peraduannya.

Ada kira-kira sepeminum teh lamanya Ceng Ih berdiri, akhirnya dengan menghela napas terpaksa dia duduk kembali. Karena hari sudah gelap, jadi terpaksalah dia bermalam dibawah pohon situ.

Say-cu-hoa itu ternyata seekor kuda yang cerdas. Tanpa dituntun lagi, binatang itu setelah makan rumput dan minum air sungai lalu kembali menuju ketempat Ceng Ih. Ceng Ih amat sayang sekali kepada kuda itu.

Malam itu mereka berdua tidur ditepi hutan situ. Malam didaerah gunung situ amatlah dinginnya, tapi karena memakai mantel kulit rase pemberian Tan He, jadi Ceng Ih tak kurang suatu apa.

Keesokan harinya Ceng Ih bangun dengan renungan melayang. Tan He terbayang-bayang dihadapannya, entah bagaimana nasibnya nona itu yang tentunya pada saat itu sudah tiba di Siao-ngo-tay-san. Baru ketika matahari mulai pancarkan sinarnya, ia tersadar dari lamunannya dan buru- buru berangkat. Dengan semangat segar, say-cu-hoa lari kearah barat.

Daerah pedalaman makin sepi, hutanpun makin membelantara. Oleh karena harus mengingat jalanan yang telah dilaluinya itu, jadi perjalanan ditempuh amat lambatnya. Menjelang tengah hari baru kira-kira dua-tiga ratus li jauhnya.

Sekonyong-konyong diatas puncak disebelah muka sana, tampak ada bayangan putih bergoyang-goyang. Ceng Ih cepat keprak kudanya memburu. Dalam beberapa kejap saja, tibalah sudah say-cu-hoa disana. Kiranya benda putih adalah sehelai kain sutera putih yang dicantelkan pada sebuah dahan pohon. Ditiup angin, kain itu melambai-lambai. Kain sutera itu persis seperti kain taplak yang kemaren dibuat tempat makanan.

Karena tak seberapa tinggi, dapatlah Ceng Ih meraihnya.

Ternyata kain putih itu terisi lagi dengan ransum kering. Nyata kecuali menyediakan makanan, nona baju putih itu tentu bermaksud memberi isyarat arah mana yang harus ditempuh oleh si anak muda. Kain putih itu disimpannya bersama dengan kain putih yang kemaren. Lambat-lambat Ceng Ih lanjutkan perjalanan, karena pikirannya penuh terisi dengan teka teki.

Segala gerak gerik Ceng Ih selama itu, ternyata dilihat tegas oleh sinona baju putih, karena nona itu bersembunyi dibalik daun pohon yang rindang. Bagaimana pemuda itu hati- hati sekali melipat kain putih dan memasukkan kedalam bajunya, telah membuat nona itu tersenyum girang. Dengan gunakan kepandaiannya gin-kang yang tinggi, ia tetap mengikuti dari belakang.

Ketika Ceng Ih tiba pada sebuah sungai kecil, mataharipun sudah condong diufuk barat. Ceng Ih turun dan menepuk- nepuk punggung kuda itu, katanya: „Say-cu-hoa, kita sudah akan lekas tiba di Swat-san. Begitu telah kuperoleh obat, tentu kita akan lekas-lekas menolong kongcumu. Ayuh, sana makan dan minumlah sepuas hatimu, nanti kita lanjutkan pula perjalanan ini.” Nona baju putih yang ternyata bersembunyi pada jarak empat-tiga tombak jauhnya, jadi dapat mendengar jelas apa yang diucapkan anak muda itu. Seketika wajahnya agak menyuram. Kala itu angin bertiup. Daun-daun yang menutupi tubuh nona baju putih itu tersiak, sehingga ujung rok nona itu turut berkibaran.

Kiranya memang dia itu bukan lain adalah puteri tunggal dari Swat-san Lojin. Entah bagaimana nona itu terlongong- longong seperti orang yang kehilangan semangat. Apabila pada saat itu Ceng Ih mendongak keatas, tentu dia akan mempergoki nona itu. Tapi ternyata pemuda itu enak-enak duduk ditepi anak sungai sembari makan ransum kering dan merangkum air untuk diminumnya.

Ceng Ih termangu-mangu memandang kepermukaan air yang jemih, dimana tampak kawanan ikan bersuka ria berenang kian kemari Tiba-tiba astaga! Mengapa didasar

sungai tampak ada bayangan putih? Dia terkesiap kaget dan lenyaplah bayangan puith itu. Mendongak keatas, tampak diatas udara sekawan burung ho (bangau) terbang melayang- layang sembari berkaok-kaok ...........

„Ai, bangau, bangau! Hampir saja kukira kau ini si nona baju putih yang datang?" kata Ceng Ih seorang diri.

Dia mengingau lagi: „Dalam beberapa hari memang pikiranku ada pada si nona baju putih itu. Kata orang, apa yang kita pikirkan disiang hari, malamnya tentu kita bermimpi. Tapi tadi aku telah bermimpi di siang hari (melamun).

Teringat akan perbuatannya, Ceng Ih tertawa sendiri. Si baju putih yang bersembunyi dibalik daun itupun turut menyungging senyuman. Wajahnya berseri kembali dan hilanglah kerut kekesalan hatinya tadi. Makin mendaki, makin jarang tetumbuhan, sampai bangsa tanaman rumputpun mati membeku. Alam pemandangan amat merawankan, angin membawa hawa dingin yang menusuk tulang sumsum. Gunung disitu makin curam, puncaknya yang menjulang tinggi, laksana menyusup kedalam langit. Itulah dikarenakan tertutup oleh salju, jadi seperti menjadi satu dengan awan putih.

Tiba-tiba disebelah muka tampak ada sebuah lembah yang terdapat air dan tumbuhan rumputnya. Lembah adalah sela pemisah ditengah dua buah gunung. Karena agak rendah tempatnya dan kealingan gunung, jadi angin disitupun tak seberapa besarnya.

Setelah masuk lembah itu, turunlah Ceng Ih dari kudanya. Ditepuk-tepuk badan binatang itu, katanya: „Say-cu-hoa, kita masuk ke daerah yang jarang terdapat air dan rumput.

Dihadapan kita itu ialah gunung Swat-san. Terpaksa kutinggalkan kau disini dulu sendiri!"

Kuda itu meringkik pelahan, seolah-olah dia mengerti apa yang dikatakan orang. Segera binatang itu menuju kehutan lembah. Ceng Ih tinggalkan lembah itu. Bagaikan anak panah, dia lari mendaki keatas gunung salju itu. Makin mendaki, makin berbahaya. Betapapun hebat gin-kangnya, namun Ceng Ih tak berani sembrono. Kini bumi yang dipijaknya itu adalah lapisan salju. Ada tempat-tempat yang mudah longsor, jadi dia harus berhati-hati. Sekali terperosok, dia pasti akan tergelincir jatuh kebawah.

Selama mendaki itu, tak henti-hentinya setiap kali Ceng Ih harus berhenti untuk mencari tempat yang aman. Dikala berhenti itu, dia harus gunakan ilmu cian-kin-tui (tindihan seribu kati), agar kakinya terpaku ditanah jangan sampai jatuh tertiup angin. Angin disitu amatlah kuatnya. Kalau sampai tertiup jatuh, habislah tentu riwayatnya. Hawanya jangan ditanya lagi. Syukur dia mengenakan mantel kulit rase yang dapat menahan hawa dingin.

Sejauh-jauh mata memandang, diempat penjuru hanyalah permadani putih (salju) yang membentang bumi. Batu-batu karang es, berjajar-jajar tak terhitung jumlahnya. Sekilas timbul keheranan dalam hatinya: „Didaerah gunung salju yang sedemikian luasnya ini, kemanakah dapat kutemui Swat-san Lojin itu? Dan bagaimana orang tua itu dapat bertahan tinggal ditempat yang sedingin ini?”

Saat itu Ceng Ih sudah tiba dipuncak yang tertinggi.

Dibawah sana tampak berpuluh-puluh puncak bertutup salju dari pegunungan Swat-san itu. Angin menderu-deru menaburkan bunga salju. Dengan kerahkan hawa murni dalam tubuh untuk menahan hawa dingin, dia mengitari puncak gunung itu. Namun jangan seorang insan manusia, sedangkan sebatang rumputpun tiada dijumpahinya. Setelah yakin bahwa disitu tiada didiami orang, barulah dengan putus asa dia lari turun kebawah.

Ternyata menurun gunung salju, lebih sukar dari mendaki.

Salju mudah longsor dan lebih licin. Dengan susah payah sampai sekian lama, barulah dia dapat turun sampai separoh. Mendongak keatas, serasa makin rendah. Salju makin tebal, bukan lagi lapisan bunga salju, tapi kepingan salju yang tebal. Ceng Ih tahu apa artinya itu, yakni hari sudah menjelang malam. Hatinya makin gugup. Kalau sampai kegelapan masih berada ditengah gunung situ, ai, celaka!

Sekonyong-konyong dari arah belakang didengarnya ada suara keras. Belum lagi dia sempat menoleh, seekor burung terbang didekat sisinya. Begitu dekatnya burung itu melayang, hingga hampir saja menyentuh pundak Ceng Ih. Burung itu berwarna hijau bulunya, macam burung kakaktua. Heran Ceng Ih dibuatnya. Ditempat gunung salju yang tiada dihuni orang dan ditumbuhi rumput, mengapa terdapat bangsa burung?

Setelah berputar-putar diudara, burung itu melayang terbang balik melalui sisi Ceng Ih lagi. Kini dapatlah dia melihatnya dengan jelas. Ya, memang benar seekor burung kakaktua. Herannya menjadi-jadi. Burung kakaktua adalah bangsa burung yang terdapat di daerah Kanglam. Mengapa digunung salju situ, terdapat juga burung kakaktua?

Selagi dia termangu-mangu, burung itu terbang diatas kepalanya dan memutar sekali. Tiba-tiba burung itu berbunyi keras, seperti orang berkata: „Tetamu datang, tetamu datang!"

Karena angin menderu keras, jadi suara burung itu tak begitu jelas kedengarannya. Karena herannya, Ceng Ih mendongak mengawasi keatas. Tiba-tiba burung itu terbang melayang menuju ke sebuah karang. Seketika Ceng Ih seperti disadarkan, pikirnya: „Karang yang dituju burung itu, tentulah tempat yang dapat dijadikan tempat sarangnya!"

Secepat mendapat pikiran itu, secepat pula dia lari kearah perginya kakaktua itu. Karena dia berlari keras, jadi salju-salju yang dipijak sama berguguran jatuh kebawah, menerbitkan suara yang berkumandang dahsyat. Dua tiga kali naik turun karang, dapatlah kini Ceng Ih melihat jelas burung itu.

Rupanya burung itu sengaja dikirim oleh Swat-san Lojin untuk menjadi penunjuk jalan Ceng Ih.

„Tetamu datang, tetamu datang!" makin kedengaran jelas.

Kira-kira sejam Ceng Ih mengikut jejak burung itu, haripun menjadi gelap. Tapi pada saat itu dibawah gunung sana tampak ada sebuah penerangan. Kecil sekali penerangan itu berkelip-kelip, sehingga kalau berada diatas udara, tentu dikira sebuah bintang.

Dimana terdapat penerangan lampu, disitu pasti ada orangnya. Ceng Ih tancap gas lari menuju ketempat itu yang diduga tentu tempat kediaman Swat-san Lojin.

Makin menurun, keadaannya tak begitu berbahaya seperti dibagian puncak. Hanya saja dia harus tetap berhati-hati, karena tanah salju tetap licin dan mudah longsor. Untuk kekagetannya, burung kakaktua itu kini tak kelihatan lagi.

Baru ketika mencari keempat penjuru, dia tersadar akan ketololannya.

Karena langit gelap gulita, salju dibumi tampak mencorong putih. Kakaktua itu masih tetap terbang menurun, tapi seperti tak kelihatan.

Kira-kira sepenanak nasi lamanya, tibalah dia ditempat yang dituju. Kiranya lentera itu ditancapkan diatas karang es, dan hai, lentera itu bukan lain ialah lentera „si hantu" yang dipasang dikuburan tempo hari.

Tanpa disadari, Ceng Ih mengambilnya, tapi pada lain kilas dia menjadi tertegun. Kalau benda itu benar milik Swat-san Lojin dan puterinya, maka terang yang menyaru jadi setan kuburan dan menculik Tan He Kongcu itu, pasti dara lihay itu juga.

Namun kalau dianya, mengapa berbuat begitu. Bukankah nona itu amat baik kepadanya, mengapa sudah menculik Tan He Kongcu yang melepas budi besar kepadanya (Ceng Ih)?

Karena tenggelam dalam dugaan, perhatiannya menjadi lengah dan miringlah lentera itu. Angin besar segera masuk kedalamnya, menjadikan lentera yang terbuat dari bahan sutera itu melembung. 

Pada lain saat, apipun menjilatnya. Buru-buru lentera dilemparkan, disambut angin dan dibawa melayang. Baru beberapa meter jauhnya, lentera itu sudah habis dimakan api. Disekeliling tempat situ, kembali menjadi gelap gulita.

Tiba-tiba pada jarak dua li disebelah muka, tampak cahaja berkelip-kelip. Kesanalah cepat-cepat Ceng Ih menuju. Lagi sebuah lentera terpancang diatas karang es. Kini jelaslah dia. Sebagai gantinya kakaktua, lentera itulah alat penunjuk jalan.

Ketika tiba dikaki gunung, disebelah kanan sana kelihatan pula sebuah lentera. Ceng Ih lari bergegas-gegas. Saat itu tubuhnya terasa hangat, bumipun tak selicin tadi lagi. Aneh Ceng Ih dibuatnya.

Tadi siang dia berlari-larian sampai sehari, namun tak dapat mengeluarkan keringat, tapi kini pada waktu malam hanya berlari sepuluh li saja, keringatnya sudah membasahi tubuh.

Dia duga disitu tentu bukan daerah salju lagi. Ketika memandang kesekeliling penjuru, kejutnya bukan terkira!

Dalam kegelapan alam, diempat penjuru kini sudah bukan bumi salju lagi. Anginpun hanya berembus pelahan, ada benda-benda yang bergerak-gerak. Ketika diperhatikan dengan seksama, astaga, kiranya disitu ialah sebuah padang rumput penuh berhiaskan bunga-bungaan warna warni.

Harum bunga diantar angin, menyerbak kemana-mana.

Ceng Ih terlongong-longong memandangnya. Tiba-tiba diudara terdengar suara kain dirobek, macam burung menebarkan sayapnya. Saking kagetnya, Ceng Ih sampai menyurut selangkah. „Tetamu datang, tetamu datang!" tiba-tiba dari atas sebatang pohon disebelah muka, terdengar suara burung kakaktua.

Terlihat oleh Ceng Ih, diatas pohon itu hinggap seekor burung kakaktua yang kehidjau-hijauan bulunya. Burung itu tengah mengibas-ngibaskan sayapnya.

„Hai, burung, apakah tuanmu menyuruh kau menyambut aku?" seru Ceng Ih.

Burung itu pentang sayapnya, terus terbang keatas.

„Tetamu datang, tetamu datang!" mulutnya tetap berkaok- kaok.

Girang Ceng Ih bukan kepalang. Ini tentulah tempat kediaman Swat-san Lojin. Buru-buru dia ayunkan langkah mengikuti terbang kakaktua itu lagi.

Kini didapatinya bukan lagi diatas puncak gunung yang tinggi, melainkan masuk kedalam sebuah lembah yang dikelilingi oleh barisan gunung tinggi. Dikata lembah, ternyata tempat itu merupakan sebuah dataran yang penuh ditumbuhi bunga-bungaan.

Tengah berjalan, tiba-tiba dia mendengar suara kuda meringkik. „Hai, bukankah itu kuda say-cu-hoa?"

Kuda itu hanya terpisah belasan tombak jauhnya, dengan sekali dua loncatan, Ceng Ih dapat melampaui si burung kakaktua cepatnya. Tiba-tiba disebelah muka tampak beberapa buah lentera. Dibawah cahaja lentera-lentera itu, tampaklah sebuah gedung bertingkat. Berbareng itu terdengarlah ringkik kuda, menyusul ada sebuah benda besar lari kearahnya. Itulah kuda say-cu-hoa! Serta merta Ceng Ih memeluk kepala kuda itu, ujarnya:

„Say-cu-hoa, apakah tuan rumah disini yang mengambilmu kemari?"

Sebenarnya Ceng Ih bukan benar-benar akan bertanya kepada seekor kuda, melainkan pada seseorang tertentu. Ada rumah, tentu ada penghuninya. Siapa tahu yang empunya rumah berada dekat disekitarnya situ.

Tapi say-cu-hoa pun seekor kuda yang perasa. Benar tak dapat menyahut, tapi segera binatang itu berputar-putar menari mengelilingi Ceng Ih.

„Kau buyung ini, datang mengapa tak lekas-lekas masuk kerumah, mau cari apa menjublek diluar?" tiba-tiba terdengar seruan seorang tua.

Tak meragukan lagi Ceng Ih, bahwa itulah suara si orang tua Sakti dari gunung salju. Sekilas dia terbeliak, ya, pada suara itu persis dengan suara orang yang mencegat kawanan Chit-Cincu.

Setelah sekian saat terlongong-longong, barulah dia suruh say-cu-hoa berhenti melonjak-lonjak. Kemudian rangkapkan sepasang tangan memberi hormat kearah gedung itu, berkatalah dia dengan khidmat: „Ceng Ih yang rendah, mohon menghadap!"

Swat-san Lojin adalah satu-satunya tokoh yang masih hidup pada jaman itu yang pernah bertemu dengan Hoa-he Hi-hu, jadi dia tergolong cianpwe angkatan tertua. Ceng Ih termasuk murid Hoa-he Hi-hu turunan kelima. Pemuda itu tak tahu bagaimana harus menyebutnya, jadi dia hanya berlaku sehormat mungkin. „Buyung ini benar-benar suka ngulur kambang (lamban). Kalau tak lekas-lekas masuk, aku tak dapat menunggu lama- lama," terdengar suara orang tua itu berseru lagi.

„Wi-hak menurut perintah," tersipu-sipu Ceng Ih menyahut sembari terus loncat kearah lentera itu. Wi-hak berarti belum belajar, yakni suatu sebutan merendah yang maksudnya 'aku yang bodoh'.

Diluar dugaan, sewaktu kakinya masih melayang diudara, lentera itu tampak bergerak-gerak dan tahu-tahu sudah berada dibawah kakinya. „Celaka!" diam-diam dia mengeluh, namun sudah tak dapat mengerem lagi.

Dia melayang kedalam air! Syukur dia dapat menguasai diri, sambil sedot napas dia gunakan ilmu mengentengi tubuh, begitu kakinya menyentuh air, dia enjot tubuhnya loncat kembali kedaratan. Kini barulah terbuka matanya bahwa yang berada dihadapannya itu adalah sebuah rawa yang luasnya tak kurang dari belasan bahu. Gedung yang bermandikan penerangan lentera tadi, kiranya hanyalah bayang-bayang yang memancar dipermukaan air .............

„Bagus jugalah, ternyata penglihatanmu cukup tajam!" tiba-tiba dari atas terdengar si orang tua bergelak-gelak.

Ceng Ih mendongak dan dapatkan gedung itu ada dipuncak sebuah bukit yang terletak ditepi rawa. Karena bukit itu melandai, jadi puncaknya memantul kepermukaan air. Adalah karena pikirannya tercurah akan si orang tua itu, jadi sesaat dia tak begitu memperhatikan bayangan itu.

Tiba-tiba terdengar suara helaan napas dan orang berkata pelahan: „Yah, apa gunanya penglihatan yang tajam ” Dari nadanya terang itulah si gadis baju putih. Cepat Ceng Ih enjot tubuhnya loncat sampai tiga tombak tingginya, dari situ dengan pijakkan kaki kanan keatas kaki kiri, tubuhnya melambung dua tombak lagi, demikian seterusnya sampai beberapa kali. Itulah yang disebut ilmu tee-hun-jong atau memanjat tangga kelangit. Kini dia sudah mencapai tengah bukit.

„Bagus, bagus, tak kecewa menjadi murid angkatan kelima dari Hoa-he Hi-hu," kembali si orang tua itu tertawa gelak- gelak.

Mendongak keatas, Ceng Ih melihat ada seorang tua berpakaian putih berdiri dimuka gedung itu. Itulah si orang tua Sakti yang pernah menghajar Bo-ang Sancu tempo hari.

Girang Ceng Ih bukan kepalang. Bukan karena dengan mudahnya dia dapat menemukan orang tua Sakti itu, melainkan karena adanya pujian-pujian yang diucapkan orang Sakti itu. Itulah alamat baik bakal diberi obat.

Belum sampai dipuncak bukit, buru-buru dia berlutut memberi hormat: „Wanpwe, mengunjuk hormat!"

Tapi baru saja tubuhnya membungkuk, sebuah tenaga kuat telah menariknya berdiri dan tahu-tahu diluar kemauannya, tubuhnya dibawa melayang keatas. Kejut Ceng Ih tak terperikan.

Sedemikian rupa keSaktian Swat-san Lojin itu, kalau tak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tentu takkan mempercayainya. Mungkin dengan gunakan ilmu cian-kim-tui, Ceng Ih dapat "mogok", namun menilik orang tua itu bermaksud baik dia biarkan saja dirinya ditarik oleh tenaga yang keluar dari tangan Swat-san Lojin. Kini jarak mereka hanya terpisah empat-lima tombak, dalam sedetik lagi Ceng Ih tentu akan sudah tiba dihadapan Swat-san Lojin.

Sekonyong-konyong orang tua itu tertawa gelak-gelak dan tenaga sedotannya dihentikan. Karena tak menduga, Ceng Ih melorot turun lagi. Hendak meronta naik lagi, sudah tak keburu. Baru kira-kira dua tombak meluncur turun itu, kakinya serasa menyentuh sesuatu benda. Cepat dia pijak sentuhan itu, untuk melambung keudara lagi.

„Yah, kau memang !" kedengaran si gadis baju putih

mengerutu.

Sebaliknya orang tua aneh itu makin keras tertawanya:

„Hendak kulihat bagaimana reaksi buyung itu menghadapi sesuatu perobahan. Ho, ho, kiranya boleh juga!"
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Panji Sakti Bab 12 : Mimpi Di Siang Hari"

Post a Comment

close