Panji Sakti Bab 04 : Panji Keramat, Ilmu Sakti

Mode Malam
4. Panji Keramat, Ilmu Sakti.

Dalam pada Ceng Ih berkata-kata itu, jauh diatas gunung sana tampak ada sebuah benda putih dan sebuah benda hitam berlomba-lomba lari. Yang dimuka ternyata adalah si pelajar cakap dan yang mengejarnya ialah si Wan-ji. Ternyata nona yang bertubuh kurus itu, selincah burung melayang gerakannya. Tapi pemuda sekolahan yang bertubuh langsing itupun tak kalah gesitnya. Kalau Wan-ji seperti burung melayang, pemuda itu laksana bintang meluncur. Wan-ji tetap tak dapat mencandaknya.

„Keatas langit atau masuk kedalam bumipun aku tetap akan mengejarmu!" Wan-ji menjerit dengan marahnya.

Pemuda itu perdengarkan suara ketawa yang mirip dengan seorang nona. Serunya: „Habis naik kelangit, bagus, sekarang kita masuk kebumi! Adik kecil, beranikah kau?"

Berkata begitu, tiba-tiba kakinya berhenti dan sekali menyambar, amboi lagi-lagi dia „menowel" pipi Wan-ji. Diwaktu mengejar tadi muka Wan-ji sudah merah karena geramnya. Kini ditowel pipinya, dia makin seperti kepiting direbus merahnya. „Sret,” tangannya kanan menggaplok bahu anak muda itu, tapi karena pemuda itu sudah memberosot lagi, jadi hanya menyentuh saja sedikit. Pemuda itu sudah setombak jauhnya disebelah muka.

„Hai, jadi kau bisa main ilmu silat jwan-kut-sin-kun?!" seru pemuda sekolahan dengan terkesiap. Jwan-kut-sin-kun artinya ilmu silat sakti dengan pukulan lemas. Pemuda itu terhitung orang yang nomor dua yang terkejut melihat Wan-ji keluarkan ilmu jwan-kut-sin-kun itu. Yang pertama ialah Ceng Ih ketika melihat Wan-ji bertempur dengan rombongan Siang-hui dipenginapan tempo hari.

„Biar kau tahu rasa!" sahut Wan-ji sambil cibirkan bibir. Ia tampak bangga dan tak mau lanjutkan mengejar rapat-rapat.

Pemuda sekolahan itu tertegun. Entah karena memikirkan bahwa sinona kurus itu ternyata dapat menggunakan ilmu silat jwan-kut-sin-kun ataukah karena kala itu mendengar sesuatu suara yang aneh! Ya, memang dari jauh samar-samar terdengar terompet mengalun-alun hawa pembunuhan. Buru- buru pemuda itu mengitari gunung menuju kearah suara itu.

> ∞ <

Sekarang kita balik menengok keadaan dipondok. Saat itu kedengaran Thian-lam-ping-siu menggerung seperti harimau:

„Dendam belum terhimpas, apakah tempat ini bakal menjadi tempat kuburku?”

Dengan menekuk tangan dan menghantam, jago buta itu kembali lancarkan pukulan kai-cu-na-si-mi kearah Bo-ang Sancu yang sudah tiga kali mengalami kegagalan itu. Namun keadaan jago buta itu sudah seperti busur yang dipentang sampai melengkung sembilan puluh derajat. Hal itu tak lepas dari tinjauan Bo-ang Sancu.

„Mengapa tak lekas serahkan Panji keramat itu, mau tunggu apa lagi!" seru Sancu itu dengan tertawa lepas. Setelah itu dia lancarkan sebuah Biat-gong-ciang untuk menyongsong serangan lawan. Rupanya dia hendak menjajaki apakah pukulan musuh itu masih keras. 

Harimau yang mendekati ajal, tetap hebat perbawanya.

Demikianpun Thian-lam-ping-siu. Sebenarnya dia sudah laksana sebuah pelita yang kehabisan minyak, namun kegagahannya masih menampil. Pukulan kai-cu-na-si-mi tadi disertai dengan luapan amarah dan kebencian, jadi kedahsyatannya sedikitpun tak berkurang. Bo-ang Sancu seorang durjana yang berpengalaman. Mengetahui ada sesuatu yang luar biasa, dia terkejut karena merasa tertipu oleh si buta. Buru-buru Biat-gong-ciangnya dibuyarkan dan disusul dengan tangannya kiri untuk menangkis. Kemudian dia enjot kakinya menyurut mundur, namun tak urung kuda- kudanya tergempur juga dan tubuhnya terdorong sampai keatas dua buah tumpukan batu dibelakangnya. Justeru saat itu Siang-hui sudah tengel-tengel bangun dari „kuburnya" (tumpukan batu). Buru-buru ia menyanggapi Sancu itu.

Melihat itu, Ceng Ih bergirang. Memang anak itu tak mengetahut keadaan Thian-lam-ping-siu yang sebenarnya. Dia mengira supehnya itu masih cukup gagah, pada hal dengan pukulan itu, berakhirlah seluruh tenaganya. Semangat Ceng Ih menggelora. Justeru pada saat itu Ji Sian-ong tiba dengan serangan pedang. Ceng Ih menangkis dan pedang kedua tojin tua itu terpental kesamping. Tapi dari arah belakang, rombongan Chit Cin-cu dan ketiga Hui tadi menyerangnya dari tiga jurusan. Ceng Ih bersuit keras. Dengan memutar pedangnya dalam gerak ya-can-pat-hong, dia sapu mundur keenam penyerbunya itu.

Baru mereka dapat dipukul mundur atau dari pintu tho sana, menyerbulah keempat Cun-cia dengan rangsangan pedang. Menurut penilaian, Ceng Ih hanya unggul terhadap keempat Hui itu. Tapi kalau berhadapan dengan kedua Ji Sian- ong, dia bermain seri. Diantara anak buah Bo-ang Sancu, Chit Cin-culah yang paling tinggi sendiri ilmu silatnya. Apalagi kini mereka bertujuh sama maju berbareng. Malah bukan itu saja, pun Ji Sian-ong. Sam-hui dan keempat Cun-cia, semua berjumlah enam belas orang, sama maju mengeroyok. Bo-ang Sancu tak turut maju, melainkan menonton disamping.

Tapi kini Ceng Ih bukan Ceng Ih pada beberapa jam dimuka. Menghadapi keroyokan hebat itu, sedikitpun dia tak gentar. Sepasang matanya seperti memancar api. Tiba-tiba dengan menggerung keras dia menyapu dengan hebatnya. Pedangnya bergerak laksana naga muncul dari laut dan orangnyapun bagaikan gerak harimau tinggalkan sarangnya.

„Trang, trang,” dia halau mundur 4 orang anggauta Chit Cin- cu. Pemuda itu berkelahi seperti banteng ketaton (terluka)! 

Apakah benar-benar Ceng Ih sudah sedemikian perkasanya hingga dapat mengundurkan lawannya yang tangguh? Tidak, dia belum mencapai tingkat sedemikian. Mengapa keempat cin-jin itu sampai mundur adalah karena masih merasa jeri pada Thian-lam-ping-siu saja. Maka begitu serangannya tertangkis, mereka buru-buru mundur. Tapi pada saat itu dari salah seorang Cun-cia yang menyerbu pintu siu, terdengar suara teriakan: „Jangan takut-takut lagi, setan tua itu sudah kepayahan!"

Keempat Cun-cia mulai bergerak. Yang dua menyerang Ceng Ih, yang dua langsung menerjang Thian-lam-ping-siu. Mereka tarikan hong-pian-jannya dengan gencar sehingga anginnya menderu-deru. Ceng Ih terperanjat mendengar seruan tadi. Dia putar pedang untuk melindungi diri, lalu menoleh kearah supehnya. Astaga! Thian-lam-ping-siu duduk tersimpuh sambil meramkan kedua matanya. Jadi apa yang dikatakan tojin tadi memang benar! Kini baru Ceng Ih menginsyafi bahwa apa yang dikatakan supehnya tadi tak salah. Memang penyakit supehnya itu sudah merasuk hebat dan bukan pura-pura saja. Terang kalau pukulan kai-cu-na-si- mi merupakan tenaganya yang terakhir. Kini supeh itu duduk memulangkan napas.

Melihat apa yang bakal terjadi didepan mata, terbanglah semangat Ceng Ih. Asal senjata hong-pian-jan kedua Cun-cia itu tiba maka habislah riwayat supehnya. Dia segera ambil putusan cepat. Dengan bersuit nyaring, dia menghantam dengan tangan kiri. Benar dia berhasil mendorong kesamping kedua senjata hong-pian-jan musuhnya, tapi lengannya kiri itupun terasa linu juga. Tapi dalam pada itu, kedua Cun-cia yang berada dibelakangnya tadipun maju dengan menyapukan hong-pian-jan. Ceng Ih menggerung harimau, matanya seperti memancurkan sinar darah. Secepat berputar diri dia memutuskan untuk adu kekerasan. Tapi pada lain kilas, terlintaslah suatu pikiran: „Supeh perlu perlindunganku, pun aku mengemban tugas berat untuk menyelamatkan Panji Sakti ah, tak bolehlah aku berlaku nekad begini!"

Dengan pikiran itu, dia putar pedangnya dalam dua jurus ancaman kosong, lalu selincah burung kenari, dia melejit lolos di antara sambaran kedua hong-pian-jan musuh. Memang keempat Cun-cia itu bertenaga kuat, tapi dalam kelincahan, Ceng Ih lebih unggul. Melalui percobaan yang berhasil itu, semangat Ceng Ih besar lagi.

Tapi kegirangannya itu cepat tersapu dengan kedatangan suatu serbuan besar-besaran. Ji Sian-ong, ketiga Hui dan Chit Cin-cu sama maju berbareng dengan dua belas senjatanya.

Ceng Ih gelisah tak keruan. Benar kalau dia menempur mereka seperti tadi, akan dapat bertahan untuk beberapa waktu. Tapi kalau berbuat begitu, berarti dia tinggalkan supehnya untuk ditawan musuh. Keadaan anak muda itu benar-benar berbahaya seperti telur diujung tanduk. Kalau tak binasa tentu kena ditawan .......

> ∞ <

Adalah sementara itu tidak jauh dari situ sepasang muda- mudi sedang udak-udakan.

„Mau lari kemana kau?" teriak Wan-ji sembari menghadang dimuka si pemuda sekolahan. „Timbanglah masak-masak, kalau tak mampu melawan jwan-kut-sin-kun ku, menyerah saja dah!”

Pemuda itu tak menghiraukan, sepasang matanya berkicup- kicup. Katanya seorang diri: „Dia kembali terancam bahaya, ai!” Habis berkata begitu, kaki menekan tanah seperti hendak bergerak. Menduga orang akan lari, buru-buru Wan-ji terus hendak enjot tubuhnya. Tapi ternyata pemuda itu masih tetap berada ditempat. Benar kakinya tampak menginjak tanah, tapi tubuhnya masih diam. Setan alas! Rupanya dia hendak mempermainkan aku. Demikian Wan-ji geram-geram marah, terus menerjang maju. Tangan kiri memukul, tangan kanan dibalikkan keluar untuk menampar dengan jwan-kut-sin-kun!

Namun pemuda itu tak mau menghindar. Rupanya dia tengah pusatkan seluruh pikirannya pada sesuatu. Hanya siku kirinya diajukan, acuh tak acuh menangkis. Serunya: „Adik kecil, jangan ribut-ribut, dengarlah!”

Wan-ji terkejut. Dan diluar kemauannya, dia tarik pulang serangannya tadi. Ia sendiri tak tahu mengapa tadi begitu ngotot, tapi ternyata hatinya tak sampai untuk melukai pemuda itu. Tapi sekalipun begitu, tak urung ia tak kuasa mengerèm gerakan tangannya yang begitu cepat tadi. „Blek,” tahu-tahu tangannya itu menampar dada sipemuda.

Astagafirullah, mengapa dada pemuda itu terasa lunak seperti kapas ?

Jwan-kut-sin-kun adalah salah satu dari kepandaian istimewa Thian-lam-ping-siu. Dikalangan persilatan, hanya beberapa orang saja yang dapat menguasai permainan itu. Benar peyakinan Wan-ji belum sempurna, namun sudah cukup lihay. Tapi demi tampak pemuda itu tak mau menghindar, ia malah kelabakan sendiri. Benar tadi menampar dadanya, tapi karena sudah direm kekuatannya, jadi tak sampai kena apa- apa.

Pemuda itu seperti dipagut ular loncat kebelakang.

Parasnya merah padam kemalu-maluan. Serunya dengan gugup: „Celaka, adik kecil, ayahmu terkurung! Kalau mau menolonginya, lekas ikut aku!" Kecil Wan-ji itu orangnya, tapi hatinya aleman sekali. Karena tak mau kalah dia tinggalkan ayahnya dan ngotot mengejar pemuda jail itu. Kini serta teringat akan ayahnya, berserulah ia dengan kagetnya: „Celaka, aku ..... aku .....

Benarkah itu?"

Tanpa menunggu balasan, dara itu terus hendak lari. Tapi dengan sebat pemuda itu loncat menyambar lengannya. „Adik kecil, jangan lari kesebelah sana, lekas ikut aku menuju kesini!”

Wan-ji tak mau hiraukan batas-batas kesopanan pria- wanita lagi. Ia biarkan tangannya digandeng pemuda itu lari menyusup kesebelah pedalaman gunung.

> ∞ <

Sementara itu Bo-ang Sancu disadarkan oleh seruan keempat Cun-cia itu. Ketika dia maju meninjau, memang keadaan Thian-lam-ping-siu agak mencurigakan. Benar jago buta itu duduk mengambil napas, tapi wajahnya tampak pucat lesi seperti kertas.

Ji Sian-ong, Sam-hui dan Chit Cin-cu bergelombang menyerbu Ceng Ih lagi. Pemuda itu dengan mata memerah darah, sudah siap hendak mengadu jiwa. Tapi sekonyong- konyong terdengarlah Bo-ang Sancu berseru: „Tahan! Bocah itu sudah seperti ikan dalam jaring, masa dapat lari kemana! Panji Sakti itu berada pada si setan sakit, jangan sampai merusakkannya!”

Atas seruan itu, keduabelas orangnya tadi serentak tarik pulang senjatanya. Ceng Ih menghela napas longgar, pikirnya:

„Kalau. Panji Sakti itu jatuh ketangan durjana itu, seluruh aliran dan partai dalam persilatan, tentu akan tunduk padanya. Hal itu berarti suatu malapetaka besar. Hem, sekalipun tubuhku tercincang, Panji keramat itu tak boleh jatuh ketangan mereka. Biarlah Panji itu bersama diriku lebur bersama-sama!"

Bo-ang Sancu maju selangkah. Sama sekali dia tak mengacuhkan Ceng Ih. Sepasang matanya hanya tertuju kearah Thian-lam-ping-siu saja! Jaraknya sudah begitu amat dekat. Asal maju lagi selangkah, dia tentu dapat mencengkeram Thian-lam-ping-siu.

Tiba-tiba Ceng Ih mendapat pikiran: „Daripada bersama supeh mati sia-sia, lebih baik kugunakan siasat memancing mereka supaja tinggalkan supeh. Bukankah tujuan mereka hanya pada Panji keramat itu?"

Secepat mendapat pikiran itu, secepat dia berseru: „Tahan, Panji Sakti berada padaku!”

Selagi orang tak menduga, dia menerjang kearah kedua Hui. Di antara pengikut Bo-ang Sancu, kedua Hui itulah yang paling lemah sendiri kepandaiannya. Dalam kejutnya mereka berdua sama menghindar dan tahu-tahu dari lubang inilah Ceng Ih sudah mencelat lari keluar. Untuk menarik perhatian orang, dia cepat keluarkan Panji dan mengacungkannya keatas. Sebuah Panji yang tengahnya terdapat lukisan sulam "hati", tampak berkilau-kilau ditimpa cahaya rembulan.

Seketika itu terjadilah kegemparan. Melihat kenyataan itu, kawanan durjana itu sama berebutan mengejar. Karena siasatnya berhasil Ceng Ih girang sekali. Sekali loncat, dia sudah melesat tiga tombak lagi. Chit Cin-cu yang menerjang paling dulu, sudah menubruk angin. Keempat Cun-ciapun mengejar seperti angin. Tapi yang lebih hebat lagi adalah Bo- ang Sancu. Dengan menguak-nguak seperti kerbau, dia ternyata datang paling cepat sendiri. Ceng Ih tancap gas, larinya seperti kijang diburu. „Brettt,” tahu-tahu baju bagian punggungnya terjambret robek oleh Bo-ang Sancu. Menyusul ada dua sosok bayangan melesat dimukanya.

„Mau lari kemana kau?" terdengar seruan dan dua batang pedang menabasnya.

Mau tak mau Ceng Ih terkesiap juga. Diam-diam dia kagum dan mengakui kelihayan Ji Sian-ong. Tak kecewa kiranya kedua iblis itu menjadi patroli gunung Siao-ngo-tay-san.

Cepat-cepat dia masukkan Panji kedalam baju, kemudian menangkiskan pedangnya. Pedang lawan dapat terdorong kesamping, namun kedua Sian-ong itu tetap pantang mundur. Baru Ceng Ih hendak enjot tubuhnya melesat lagi, tiba-tiba dari belakang terasa ada angin menyambar. Itulah Bo-ang Sancu yang datang dengan ketawa dan mencengkeram. Ceng Ih bersuit keras, dengan gaja maju menyurut dia putar tubuh dan membabat sekuat-kuatnya. Pedangnya dimainkan laksana naga menari, sehingga Bo-ang Sancu dipaksa untuk mundur. Tapi adalah karena kelambatan ini. Chit Cin-cu, keempat Cun- cia, keempat Hui pun sudah tiba. Ceng Ih dikeroyok habis- habisan.

Suara gemerincing senjata beradu, hiruk pikuk orang mengantar serangan dengan jeritan, longlong terompet mengalun dan gedebak gedebuk kaki berputaran, menimbulkan suatu suasana yang kacau balau .........

Ceng Ih berkelahi laksana harimau mencium darah!

> ∞ <

Dalam pada itu dilereng gunung sana dua muda-mudi sedang berlari cepat. „Bagaimana kau tahu ayahku terkepung!" tanya Wan-ji sembari berlari.

Sembari masih menggandeng tangan orang diajak berlari, menyahutlah anak muda itu: „Hem, kalian memang bernyali besar berani masuk kedalam perangkap. Apakah benar-benar kalian tak mengetahui?"

„Astaga, jadi Bo-ang Sancu si durjana ...........

Dengan gerak secepat kilat, kembali pemuda itu menowel pipi Wan-ji, ujarnya: „Adik kecil, jangan memaki orang. Lekas lari cepat-cepat, kalau berayal tentu terlambat!”

Ia toh seorang dara, digandeng diajak lari seperti itu saja memangnya sudah tak pantas, apalagi kini pipinya ditowel lagi untuk yang ketiga kalinya! Dalam marahnya, Wan-ji tarik keluar tangannya yang digandeng itu dan sekali ditekuk, ia hendak menyikut dada anak muda itu. Untung pemuda itu menghindar dengan cepat, namun dadanya keserempet sedikit juga.

Anehnya pemuda itu mengunjukkan wajah kejut-kejut girang, serunya: „Bagus, kiranya kau seorang pembantu yang baik!”

Habis berkata dia hentikan langkahnya. Dengan mendongkol dan gugup Wan-ji berseru: „Kau kau

..........”

Pemuda itu merogoh kedalam baju dan mengeluarkan dua buah benda bundar macam bola. Benda itu disusupkan kedalam tangan Wan-ji, katanya: „Hati-hati, peganglah baik- baik! Jangan sampai membikin rusak. Untuk menolong ayahmu dan dia, hanya mengandal tan-wan ini!” Kiranya benda itu adalah tan-wan atau peluru bundar yang dapat meledak.

„Dia, siapakah dia?" tanya Wan-ji sembari memegang tan- wan itu dengan hati-hati.

Tiba-tiba wajah pemuda itu berobah gelap. Rupanya dia mendengar suara berisik dari jauh itu. Tanpa menjawab apa- apa, dia segera seret tangan Wan-ji untuk diajak lari lagi. Tapi baru beberapa langkah dia berhenti lagi, serunya: „Ingat baik- baik, perhatikan isyarat tanganku dan lemparkanlah tan-wan itu. Ai, celaka, ya, untuk menolong ayahmu haruslah kau keluarkan seluruh kepandaian ginkangmu!”

> ∞ <

„Lama nian kudengar bahwa Bo-ang Sancu itu seorang jantan yang termasyhur dikolong jagad, tapi tak kira kalau hanya bangsa tukang kepruk yang main keroyokan. Aku Ceng Ih. dengan sebilah pedang ini ingin sekali membuktikan sampai dimana tingginya ilmu silat orang Siao-ngo-tay-san itu!" terdengar Ceng Ih berseru tertawa keras. Pedang dilintangkan kedada, siap menantang lawan.

Bo-ang Sancu tertawa gelak-gelak serunya: „Api kunang- kunang berani melawan cahaya rembulan. Hem, kalian mundur semua, biar kutandangi bocah itu sendiri!”

Anak buah Siao-ngo-tay-san sama mundur. Bo-ang Sancu melangkah dua tindak kemuka. Ceng Ih tegak menggagah laksana gunung Thaysan. Bo-ang Sancu memandang anak muda itu dari ujung kaki sampai keatas kepala. Dia mengangguk-angguk, menandakan rasa kagumnya terhadap pemuda yang gagah berani itu. „Anak muda, Panji keramat itu adalah milik kakekku. Kalau kau mau menyerahkan baik-baik, bukan saja aku takkan membikin susah padamu, pun kau bakal menerima kebaikan. Tapi kalau tidak he, he, ha, ha, haaaa ”

Tiba-tiba Ceng Ih mendongak dan bersuit panjang, lalu berseru keras: „Ceng Ih dengan sebilah pedang sedia bertempur sampai titik darah yang penghabisan. Orang macam apakah kau ini, bera¬ni memiliki Pandji Sakti? Lihatlah pedangku!”

Membarengi tangan kiri bergerak, pedang ditangan kanan menyapu lawan. Kilau pedang itu sampai membuat keempat wanita Hui menyurut selangkah.

„Anak itu keliwat liar, kiranya tak usah Sancu kotorkan tangan, pinto berdua sanggup mengambil Panji keramat itu!" kata kedua Sian-ong kepada Bo-ang Sancu.

Bo-ang Sancu mundur, ujarnya: „Baiklah, membikin cape Sian-ong saja. Anak itu sudah menerima Panji keramat dan paham ilmu sakti tiga jurus, harap berhati-hati!"

Kedua Sian-ong itu pecah diri dan menyerang dari kanan kiri. Bahwa keamanan markas Siao-ngo-tay-san diserahkan pada kedua Sian-ong itu, terang kalau Bo-ang Sancu sudah menaruh kepercayaan penuh. Memang ilmu pedang dan gin- kang dari kedua tojin itu sudah mencapai kesempurnaan.

Dalam hal itu, Ceng Ihpun menginsyafi juga. Dia tak berani berayal, gerak pedangnya digayakan macam ombak mendampar naga. Setelah kedua pedang lawan terdorong, dia teruskan dengan babatan kekaki. Kedua Sian-ong berseru memuji, mereka loncat keatas, yang satu menusuk punggung dan yang satu menusuk tenggorokan. Ceng Ih tak mau unjuk kelemahan. Dia berkelit kesamping, dadanya bergoyang maju mundur, pedangnya memagut-magut dan tangan kiri menusuk kearah jalan darah ki-gwat-hiat dari kedua Sian-ong yang baru saja melayang turun ketanah itu. Suatu gerak menghindar dan mengembalikan serangan dengan serangan.

Kembali kedua Sian-ong itu berseru memuji. Berbareng memecah pedang, mereka putar tubuh. Yang satu memutar pedangnya diatas, yang lain mainkan pedang dibawah. Atas bawah merupakan jaring pedang yang sukar diterobos.

„Ah, kalau tak dapat mengalahkan kedua Sian-ong itu, rasanya sukar aku lolos malam ini,” demikian Ceng Ih menimang dalam hati. Kembali dia putar pedangnya dalam jurus ya-can-pat-hong, melindungi diri berbareng menyerang. Kini kedua Sian-ong itu terpaksa mundur teratur. Ceng Ih makin bernapsu. Dengan diantar teriakan keras, tangannya kiri menjotos Sian-ong yang di sebelah kiri tapi berbareng itu pedangnyapun menusuk Sian-ong yang disebelah kanan.

„Sret. sret,” dalam sekejap mata saja dia lancarkan tiga buah serangan. Kedua Sian-ong itu menjadi kalang kabut.

„Kena!" tiba Ceng Ih berseru. Tiga sinar pedang berkelebat.

Tenggorokan, dada dan perut seorang Sian-ong diserbunya. Tojin itu kalah gesit. „Sret,” baju bagian dadanya kena tergurat robek dan berbareng itu perutnyapun kena tercakar pedang. Seketika pecahlah nyali tojin itu. Untung kawannya yang disebelah kiri cepat menyerang, hingga karena menangkis, terpaksa Ceng Ih lepaskan bakal korbannya tadi.

Tiba-tiba pada saat itu terdengar gelombang suara teriakan. Empat senjata hong-pian-jan menyerang Ceng Ih dengan gencarnya.

„Ji Sian-ong, silahkan mundur, tunggu kami ringkus anak ini!" seru salah seorang dari keempat Cun-cia yang maju menyerang itu. Dengan wajah merah, kedua Sian-ong itu mundur. Kini keempat Cun-cia itu sama ayunkan hong-pian-jannya kearah kepala Ceng Ih. Ceng Ih tertawa memanjang, dengan sorot mata berkilat api, dia tunggu kedatangan serangan dahsyat itu. Sekonyong-konyong kakinya tergelincir, tubuhnya terhuyung-huyung dan wut, tahu-tahu pemuda itu menghilang.

Keempat Cun-cia itu terkejut bukan main. Mereka membabi buta menyerang kesegala jurusan. Tiba-tiba kedengaran Bo- ang Sancu tertawa sinis, serunya: „Bocah, dihadapan Sancu ini, kau berani main-main!"

Sesosok hayangan merah berkilat dan Sancu Siao-ngo-tay- san itu secepat kilat sudah mencegat larinya Ceng Ih. Bagi Ceng Ih kini sudah tak ada lain pilihan lagi kecuali bertempur mati-matian. Dengan mengertak gigi, dia serang Sancu itu sekuat-kuatnya. Bo-ang Sancu tertawa aneh, tiba-tiba lengan bajunya dikebutkan dan seketika itu Ceng Ih rasakan pedangnya seperti tertindih sebuah gunung.

„Inilah yang disebut ilmu siu-li-kian-gun (dunia didalam lengan baju). Apakah kau masih tak mau lepaskan pedang?!" tiba-tiba dari kejauhan ada orang berteriak.

Ceng Ih terperanjat, tapi tak mau dia lepaskan pedangnya. Tindihan itu makin terasa berat dan mau tak mau terlepaslah pedangnya. Dalam gugupnya Ceng Ih segera gunakan ilmu pukulan sakti yang baru saja dipelajari dari Thian-lam-ping-siu itu Kai-cu-na-si-mi dilancarkannya!

Bo-ang Sancu perdengarkan gerungan macan harimau.

Tangannya kanan membalik kemuka. „Belalang hendak menghadang gerobak! Anak muda, hari ini Sancu memberi ampun padamu!" „Tamatlah riwayatku!" keluh Ceng Ih demi Sancu itu menyambut dengan pukulan lwekang yang dahsyat. Kalau kedua pukulan itu beradu, dia yakin tangannya kanan tentu akan semplak.

Tapi suatu keanehan terjadi. Tubuh Bo-ang Sancu tergetar.

Mendadak sontak tangannya ditarik pulang, lalu loncat mundur. Ceng Ih terbeliak kaget.

> ∞ <

Berbareng pada saat itu, dipuncak karang sana, sipemuda sekolahanpun terkejut. Katanya seorang diri: „Hai, aneh! Dia dapat menempur delapan belas ko-chiu Siao-ngo-tay-san, sungguh tak dapat dipercaya!"

Ketika itu Wan-ji pun sudah lari menghampiri, tanyanya:

„Siapa yang kau maksudkan itu'" — Ia berpaling mengawasi ke arah pondok dan berserulah ia dengan kaget: „Hai, mengapa ayah duduk ditanah?!"

> ∞ <

Biarlah kita tinggalkan dulu Wan-ji dalam keheranannya itu.

Kita ikuti keadaan digelanggang pertempuran. Kala itu terdengar Bo-ang Sancu tertawa nyaring, serunya: „Kiranya sisetan sakit telah menurunkan ilmu sakti dan Panji keramat kepada anak itu. Mumpung bocah itu baru-baru saja mempelajari, harus lekas-lekas dibinasakan. Ayuh, kalian maju semua!”

Sebagai pelopor, dia lancarkan sebuah biat-gong-ciang yang dahsyat. Tadi sedikitpun tak mengira Ceng Ih, bahwa pukulan kai-cu-na-si-minya ternyata dahsyat sekali perbawanya. Maka dengan semangat bernyala-nyala, kini dia lancarkan pula pukulan itu untuk menyambut serangan musuh. Ketika kedua pukulan itu berbentur, kesudahannya sungguh diluar dugaan. Kuda-kuda Ceng Ih tergempur, terhuyung dua langkah baru dapat berdiri jejak. Tapi Bo-ang Sancupun demikian. Tubuhnya tergetar dan kakinya menyurut sampai satu setengah langkah. Jadi dia hanya unggul setengah langkah saja. Suatu prestasi yang luar biasa, mengingat baru beberapa menit saja, Ceng Ih mempelajari ilmu sakti itu.

Reaksi dari komando Bo-ang Sancu itu, berupa serangan dari kanan kiri oleh kedua Sian-ong dan gempuran dari empat jurusan oleh senjata hong-pian-jan keempat Cun-cia. Ceng Ih mainkan pedangnya dengan istimewa. Habis menangkis dua pedang Ji Sian-ong, dia tutuk dua buah hong-pian-jan.

Berbareng dengan itu, dia tekuk tangannya kiri dan sekali ditamparkan kemuka dia gempur kedua Cun-cia yang menyerang disebelah kiri dengan jurus beng-kun-han-san-ho. Tak ampun lagi menjeritlah kedua Cun-cia itu terpental mundur!

Baru kedua Cun-cia itu mundur, atau tujuh batang pedang dari Chit Cin-cu malang melintang merangsangnya, Ceng Ih tak berani berayal. Laksana dahan pohon liu tertiup angin, tubuhnya tahu-tahu berputar dan menabas salah seorang cinjin yang berada di sebelah utara. Dia tahu, cinjin yang itulah yang paling lemah sendiri. Pikirnya dari situlah dia hendak menerjang lolos. Ternyata permainan tujuh pedang dari Chit Cin-cu itu belum dikembangkan semua. Tanpa menggunakan tiga jurus ilmu sakti itu, Ceng Ih tentu bakal tak dapat mengundurkan mereka. Sinar ketujuh pedang itu bagaikan segulung awan yang bergumpal menjadi satu. Satu bagian terbelah, maka lain bagian segera akan menutupinya. Benar pedang cinjin yang dihantam Ceng Ih tadi dapat digeser mundur, tapi berbareng itu enam batang pedang segera mengancamnya dari belakang dan samping. 

> ∞ <

„Celaka, kalau tujuh pedang bersatu, rasanya tiada tokoh didunia yang dapat memecahkan. Diapun tentu bukan tandingan mereka!" seru sipemuda sekolahan itu dengan kagetnya.

Wan-ji yang merasa sangat kuatir akan ayahnya, cepat- cepat mendesaknya: „Ayuhlah lekas turun, kautolongi dia dan aku menjaga ayah! Hai, tunggu ”

Kiranya belum Wan-ji selesai mengucap, pemuda itu sudah enjot tubuhnya melayang turun. Wan-jipun menauladnya, ia loncat kebawah. Selagi melayang pemuda itu memperingatkan Wan-ji agar jangan sampai lupa akan peluru tan-wan itu.

> ∞ <

Pada saat itu karena gugup, Ceng Ih gerakkan lagi tangan kiri dalam pukulan kai-cu-na-si-mi. Kumpulan sinar ke tujuh pedang itu buyar seketika. Tapi baru Ceng Ih girang dalam hati, tiba-tiba ke tujuh pedang itu bersatu lagi untuk menyerangnya dari empat penjuru.

„Mau tunggu apa lagi kalau tak lekas-lekas serahkan Panji itu sekarang!” Bo-ang Sancu tertawa gelak-gelak.

Tujuh pedang itu merupakan sebuah roda sinar yang mengurung. Kemana Ceng Ih gerakkan pedangnya, tentu disitu dia sudah disambut dengan salah sebuah pedang lawan. Pelahan tapi tentu, lingkaran ke tujuh pedang itu makin kecil dan sempit. Ceng Ih berada dalam tebing kehancuran!

> ∞ < Pemuda sekolah itu ketika masih melayang diudara sudah lancarkan pukulan lwekang biat-gong-ciang. Empat orang yang meniup terompet diatas karang segera terlempar jatuh kebawah karang. Begitu Wan-ji tiba, ia memuji: „Sungguh pukulan biat-gong-ciang yang sempurna. Usiamu masih begitu muda, mengapa sudah dapat meyakinkannya begitu sempurna?"

Wajar benar sifat Wan-ji itu. Pikirannya yang ditujukan untuk menolong ayahnya tadi, karena kaget keheranan, sudah buyar.

> ∞ <

Sementara karena suara terompet berhenti, orang-orang mengira terjadi perobahan. Maka tahu-tahu ke tujuh pedang tadipun terpencar. Kesempatan itu tak diabaikan Ceng Ih.

Sambil masih putar pedang, tangannya kiri menghantam lagi dengan kai-cu-na-si-mi. Serentak terhuyunglah dua orang anggauta Chit Cin-cu terkena pukulan sakti itu. Ceng Ih tak mau sia-siakan ketika bagus itu. Dengan memutar pedangnya rapat-rapat membungkus tubuhnya, dia menerjang keluar dan berhasillah!

Tapi baru saja dia lolos dari kepungan pedang, atau keempat Cun-cia itu sudah maju mengurungnya dengan hong- pian-jan.

„Ji Sian-ong berada dimana?" seru Bo-ang Sancu. Sebenarnya belum lagi Bo-ang Sancu memberi perintah,

kedua Sian-ong sudah lari kebawah karang sana.

> ∞ < Setelah habis menghantam jatuh keempat peniup terompet itu, pemuda sekolahan tadi menyurut kebelakang dan mencekal lengan Wan-ji, serunya: „Adik kecil, turunlah lebih dulu kebawah karang. Timpukkan tan-wan itu kearah gerombolan orang banyak, lalu lekaslah bawa lari ayahmu.

Jika ada orang mengejar, kau timpukkan lagi tan-wan yang sebuah, tentu akan berhasil!"

Habis memesan itu, dia sudah dorong Wan-ji kebawah karang. Benar kedua Sian-ong itu datang dengan cepatnya, tapi sipemuda sekolahanpun dapat bergerak lebih cepat lagi. Ketika kedua Sian-ong itu tiba diatas karang, kedua anak muda itu sudah tak kelihatan lagi bayangannya.

> ∞ <

Kala itu Ceng Ih tekuk lengannya kiri. Tiba-tiba pada lain kejap dia lepaskan pukulan beng-kun-han-san-ho lagi.

Terkena sambaran tinju itu, salah seorang Cun-cia disebelah kiri, terhuyung tubuhnya. Ceng Ih membarengi bergerak maju berlincahan, hingga hantaman ketiga hong-pian-jan itu memukul angin.

Ceng Ih masukkan pedangnya kedalam sarung. Dia sadar bahwa pedang itu bahkan merupakan suatu halangan baginya. Bukankah tiga jurus ilmu sakti yang walaupun baru saja dipelajari, toh ternyata sedemikian saktinya? Kini dengan tangan kanan dia lancarkan pukulan kai-cu-na-si-mi kearah ketiga musuhnya. Benar ketiga Cun-cia itu tak sampai terbelengkuk tubuhnya, namun mereka tersurut mundur beberapa langkah juga. Kai-cu-na-si-mi bukan olah-olah kehebatannya!
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Panji Sakti Bab 04 : Panji Keramat, Ilmu Sakti"

Post a Comment

close