Panji Akbar Matahari Terbenam Bab 17 : Elang dan walet yang ganas

Mode Malam
BAB 17 Elang dan walet yang ganas

Tiba-tiba terdengar suara TANG. Tangan Pangeran Jin sudah memegang 2 bilah pedang.

Pedang berwarna emas, satu di kiri, dan satu di kanan. Seperti burung walet yang sedang terbang juga seperti elang yang terbang cepat dengan marah.

Pedang Long Zhai Tian seperti seekor naga bermain di atas langit. Tapi diekor naga itu menempel seseorang.

Wajah Long Zhai Tian berubah dalam kilauan cahaya.

Waktu itu, dua pedang Pangeran Jin sudah menjepit ujung pedang Long Zhai Tian, kemudian menekan bagian tengah pedang Long Zhai Tian berkali-kali. Kemudian TENG. Pedang Long Zhai Tian patah menjadi 2 bagian.

Long Zhai Tian terkejut dan mundur. Dia berteriak, "Ying Yan Shuang Sha Jian!" (Sepasang pedang pembunuh elang dan walet).

Dengan cepat dia mundur, dada kiri dan kanan Long Zhai Tian bercucuran darah!

Xi Yi Shen Ying Guo Jing Feng! (Elang sakit dari tibet, Guo Jing Feng)

Xi Yi Jin Yan Zhan Fei Shuang! (Walet emas dari tibet, Zhan Fei Shuang)

Mereka berdua yang menciptakan jurus-jurus Ying Yan Shuang Sha Jian Zhao.

0-0-0

Tiba-tiba Long Zhai Tian yang tadinya mundur berubah menjadi maju dengan cepat ke depan.

Long Zhai Tian sudah terluka. Tidak ada alasan bagi Long Zhai Tian untuk menyerah dari jurus Qing Yang Zhang!

Pangeran Jin sedikit terpaku. Long Zhai Tian sudah melesat masuk ke dalam jala pedang Pangeran Jin.

Long Zhai Tian mulai mengeluarkan jurus-jurus "andalannya. Tapi jurus-jurus Long Zhai Tian terhalang oleh Qing Yang Zhang Pangeran Jin! Mereka bertarung dengan jarak dekat, sebentar saja sudah berlangsung 18 jurus. Dua belah pihak tidak bisa maju atau mundur lagi. Waktu itu, dua kilauan pedang tiba-tiba melipat. Long Zhai Tian mendengar ada suara yang datang dari langit. Hanya sempat memiringkan tubuhnya, terdengar suara PUSH PUSH. Kilauan itu masuk ke kiri dan kanan tulang pundak Long Zhai Tian.

Long Zhai Tian merasa sangat sakit. Pangeran Jin mengambil kesempatan itu dengan menendang Long Zhai Tian.

Diiringi suara teriakannya, Long Zhai Tian sudah melayang dan jatuh di bawah panggung.

Pangeran Jin menyusulnya. Di tengah-tengah udara dia melewati Long Zhai Tian. Dan dua pedangnya sudah dicabut dari punggung Long Zhai Tian.

Kemudian Pangeran Jin berdiri di atas panggung. Kedua tangannya memegang 2 buah pedang. Long Zhai Tian jatuh di bawah panggung dengan berlumuran darah. Sebelum mencapai tanah, Biksu Hua Hui, Pendeta Bu Tong, dan Luo Tong Bei sudah siap menjemput Long Zhai Tian. Dan Luo Tong Bei segera naik ke atas panggung sambil menunjuk pangeran, sambil marah dia berkata, "Penjahat Jin, biar aku yang bermarga Luo mengantarkan kematianmu"

Pangeran Jin tertawa dengan santai. Penonton melihat pahlawan yang mereka hormati berlumuran darah. Mereka kaget dan marah. Para penonton berteriak kesal. Luo Tong Bei mengeluarkan senjata batunya.

Penonton-penonton berteriak, "Bunuh dia!" "Bunuh penjahat Jin itu!"

"Bunuh! Jangan kasihan kepadanya!" "Balas dendam demi Pendekar Long!" "Demi negara Song, basmi penjahat ini!"

Terdengar Shi Wen Sheng dengan santai berteriak, "Pihak Song dan pihak Jin bertarung. Hasil babak keenam adalah, Pangeran Jin Zhen Ying menang atas pihak Song yang diwakili oleh Long Zhai Tian."

Luo Tong Bei mengaung sehingga membuat panggung pertarungan bergetar. Shi Wen Sheng berkata lagi, "Pertarungan sebanyak 7 babak, sudah diselesaikan dalam 6 babak. 2 babak dimenangkan pihak Song, 3 seri dan 1 kalah. Sekarang memasuki babak ketujuh. Shi Hu, Luo Tong Bei dari pihak Song  akan bertarung dengan Pangeran Jin Zhen Ying!"

Senjata batu yang bernama Bai Shou Shi Ren tampak diangkat dan siap memukul Pangeran Jin.

Pangeran Jin tertawa dingin menghindar. Tidak disangka angin yang dikeluarkan dari sambitan batu itu membuatnya hampir terjatuh terkena pukulan Luo Tong Bei. Sekarang dia tidak berani meremahkan lawannya, Luo Tong Bei. Biksu Hua Hui dan Pendeta Bu Tong memapah Long Zhai Tian. Xin Wu Er dan Bao Xian Ding menahan sakit datang melihat keadaan kakaknya. Shen Tai Gong memapah Wo Shi Shui. Mereka tidak mempunyai tenaga lagi untuk berdesak-desakkan. Luka Long Zhai Tian terdapat di 4 tempat. Tusukan pedang dari belakang sangat dalam, melukai tulang dan urat nadi. Tusukan di dada tidak begitu dalam tapi mengenai urat nadi penting. Apalagi tendangan di perut dan luka kemarin yang disebabkan Qing Yan Zhang membuat luka Long Zhai Tian benar- benar sangat berat.

Janggut Long Zhai Tian penuh dengan darah. Dia membuka sedikit matanya dan berkata,". "

Tidak ada orang yang bisa mendengar perkataannya dengan jelas. Telinga Biksu Hua Hui didekatkan di mulut Long Zhai Tian. Dia baru. .bisa..mendengar, ".. .kalian.. .jangan.. .ber tarung.. .dengan..

.Pangeran. .Jin.. .bertarung.. .pu n...tidak akan...menangdarinya. "

Kata Biksu Hua Hui, "Tenanglah Pendekar Long.

ShiHubisamenguasainya."

Kata Pendeta Bu Tong, "Kami akan mengantar Anda ke tabib untuk berobat!" Pendeta Bu Tong memapahnya. Long Zhai Tian berusaha membuka mata. Tubuhnya bergerak-gerak dan dengan bersusah payah berkata,"... antar.. aku... ke.. tempat... kur siku... a ku.

.ingin. ..ingin, .melihat.. .tidak, .perlu.. .mengob ati.ku lagi... aku... aku... ingin melihat "

Pendeta Bu Tong dan Biksu Hua Hui saling melihat. Akhirnya Biksu Hua Hui berkata, "Baiklah!"

Mereka berdua memapah Long Zhai Tian kembali ke kursi yang ada di bawah panggung. Long Zhai Tian duduk dengan lemah. Kedua matanya hanya bisa terbuka sedikit dan cahaya di matanya sudah tidak terlihat. Penonton Huai Bei menangis.

"Pendekar Long "

"Dia "

"Heehh!. "

"Kurang ajar "

Kedua mata Long Zhai Tian berusaha fokus melihat ke arah panggung.

Mana Fang Zhen Mei? Mengapa dia belum sampai juga?

0-0-0

Wo Shi Shui dengan bersusah payah baru bisa menegakkan badannya dengan benar. Dia menatap langit. Dalam hati diapun bertanya-tanya, "Fang Zhen Mei, kurang ajar kau, mengapa sampai sekarang belum juga sampai?" Shen Tai Gong memapah W6 Shi Shui. Bila dilihat lagi dengan teliti ternyata Shen Tai Gong menyandar ke tubuh Wo Shi Shui. Wo Shi Shui tertawa kecut.

Fang Zhen Mei. Fang Zhen Mei.. Mengapa kau belum sampai juga?

Ilmu silat Shi Hu, Luo Tong Bei paling paling setara dengan Xin Wu Er. Dia bisa menang dari Pangeran Jin hanya untuk sementara Karena tenaganya memang besar, ditambah pada awalnya Pangeran Jin menganggap dia hanya sebagai musuh yang enteng. Dia disudutkan dan tidak mudah untuk berbalik menyerang. Apalagi senjata Luo Tong Bei adalah senjata yang bisa menaklukan 2 pedang milik Pangeran. Ternyata Pangeran Jin sangat menyayangi 2 pedang emasnya yang berukuran kecil itu. Pedang itu merupakan pemberian dari istri gurunya, yang bernama Xi Yi Jin Yan. Tadi sewaktu bertarung, karena menahan dengan kedua pedang itu, akhirnya pedang itu terkena sambitan batu yang beratnya puluhan kilogram, membuat pedang itu mengeluarkan percikan api. Pangeran merasa sangat menyayangkan hal itu. Sekarang dia lebih memilih kedua pedangnya disimpan. Sehingga Luo Tong Bei bisa bertahan sampai sekarang.

Senjata Luo Tong Bei beratnya sekitar 50-60 kilogram. Ge La Tu termasuk orang yang bertenaga besar. Senjatanya seberat 25 kilogram. Jika dibanding dengan senjata Luo Tong Bei, benar-benar seperti seorang dukun kecil bertemu dengan seorang dukun kuat.

Semakin berat senjata yang dipakai, maka manfaatnya semakin besar.

Tapi jika manfaatnya semakin besar, semakin tidak akan bisa bertahan lama.

Luo Tong Bei mulai merasa kelelahan.

Senjata batunya semakin lama semakin lambat dimainkan.

0-0-0

Sewaktu Luo Tong Bei mengangkat senjata batunya, Pangeran Jin sudah masuk.

Dia segera mengeluarkan kepalan dan memukul 2 kali. 2 kali pukulan Pangeran Jin mengenai pada kaki. Tulang kaki Luo Tong  Bei segera remuk.

Karena hancur dan merasa sakit, Luo Tong Bei berteriak dan jurus-jurusnyapun menjadi kacau. Pangeran Jin segera mengambil kesempatan ini dan memukul lagi Luo Tong Bei. Luo Tong Bei dengan ringan melayang keluar panggung. Begitu mendarat di bawah, dia seperti sehelai daun yang sudah menguning dan layu.

Tidak bernyawa.

Ternyata terkena Qing Yan Zhang. Semakin ringan dipukul, tenaga yang dikeluarkan semakin besar.

0-0-0

Sorot mata penonton mengikuti arah jatuhnya Luo Tong Bei. Begitu mereka melihat ke atas panggung lagi, mata mereka bersinar penuh dengan kebencian dan kemarahan}.

Dengan senang Pangeran Jin meletakkan kedua tangannya di belakang punggung kemudian berdiri di atas panggung.

Terdengar teriakan Shi Wen Sheng lagi, "Pangeran Jin berturut- turut memenangkan 2 babak. Pihak Song 2 kali menang, 2 kali kalah, 3 kali seri. Pihak Jin juga begitu, karena itu pertarungan 7 babak ini dihitung seri. Menurut peraturan pertarungan harus dilakukan 7 babak lagi..."

Semua penonton ribut. Terdengar seseorang berteriak, "Bertarung lagi apa susahnya!"

Dia meloncat ke atas panggung. Ternyata dia adalah seorang laki-laki berbaju hijau. Dia adalah polisi terkenal di Huai Bei, dijuluki Cha Chi Nan Fei. (Pasang sayap sulit terbang), Peng DaZheng!

Senjata Peng Da Zheng adalah borgol untuk menangkap penjahat. Di daerah Huai Bei, dia sangat terkenal. Banyak penjahat yang tunduk di bawah borgolnya.

Tapi dia hanya terkenal sedikit karena dia adalah orang pemerintahan.

Jika berhubungan dengan ilmu silat, dia masih berada di bawah Chen tidak bertelinga dan dia sendiripun tidak bisa menangkap Chen. Tapi Peng Da Zheng adalah seorang laki-laki yang darahnya cepat mendidih. Melihat situasi seperti itu, dia tidak tahan lagi dan meloncat ke atas panggung. Setelah berhadapan dengan Pangeran Jin, rantainya segera dilayangkan kepada Pangeran.

0-0-0

Karena Peng Da Zheng adalah orang pemerintahan, dan terbiasa menghadapi penjahat, Peng Da Zheng pun tidak ada bedanya dengan orang pemerintah lainnya.

Begitu dia melempar borgolnya, dia tampak marah, "Kurang ajar, cepat tundukkan kepala dan jalan ke sini!"

Wajah Pangeran Jin berubah warna. Kedua jarinya menjepit rantai borgol itu.

Kemudian dengan cepat dia lari ke arah Peng Da Zheng. Peng Da Zheng menganga dan matanya melotot, dia belum sempat melihat dengan jelas, Pangeran Jin menyerbunya, pedang yang dipegang di tangan kanannya sudah menancap di perut Peng Da Zheng.

Air mata, ingus, air liur, serta darah terus mengalir dan Peng Da Zheng berjongkok di panggung. Pangeran Jin menendang nya ke arah kerumunan orang.

Penonton sangat terkejut. Mereka segera memapah Peng Da Zheng. Terlihat Pangeran Jin yang masih ada di atas panggung sedang membersihkan darah yang mengotori pedangnya dengan sapu tangan yang terbuat dari kain sutra. Dengan dingin dia berkata, "Mengapa darah orang itu begitu kotor?"

Di antara kerumunan orang itu terdengar ada yang meraung, "Kurang ajar! Jangan sombong kau, aku yang akan melawanmu!"

Terlihat seorang laki-laki tegap berbaju ungu terbang ke atas panggung. Dia adalah pembunuh di Huai Bei. Pembunuh itu tidak membunuh orang miskin dan lemah, dia membela keadilan dan kebenaran. Dia bernama Cao Qi.

0-0-0 Polisi dari pembunuh itu, sebenarnya adalah teman baik. Sifat Peng Da Zheng sangat keras dan Cao Qi ini sangat membela keadilan dan kebenaran.

Jenis pekerjaan mereka, yang satu mewakili hukum, sedangkan yang lainnya adalah pelanggar hukum. Tapi yang mereka lakukan adalah sama-sama membasmi kekerasan dan melindungi rakyat. Karena itu Peng Da Zheng tidak pernah mengganggu Cao Qi. Cao Qi pun tidak pernah membuat Peng Da Zheng susah. Terkadang Peng Da Zheng tahu ada yang melanggar hukum, tapi tidak ada bukti untuk menangkap penjahat itu. Terpaksa diam diam dia menyuruh Cao Qi membunuh orang itu.

Karena itu orang-orang dunia persilatan sangat menghormati polisi dan pembunuh ini. Sepasang pembunuh dan polisi ini tidak seperti penjahat dan polisi biasa yang tidak pernah akur, sebaliknya mereka malah menjadi teman karib.

Begitu Cao Qi naik ke atas panggung, tepat dia mendengar Shi Wen Sheng berkata, "Pihak Song dan pihak Jin bertarung, dua kali bertarung, babak pertama Pangeran Jin menang atas Peng Da Zheng, babak kedua"

Kemudian dia tidak mendengar apa-apa lagi.

Dan selamanya dia tidak akan mendengai apa-apa.

Karena sebelum dia turun dari panggung, Pangeran Jin sudah berubah menjadi sebuah cahaya kuning dan maju dengan cepat. Dua buah pedang berwarna kuning, yang satu berada di kiri dan yang satu berada kanan, pedang sudah menancap di kiri kanan tulang rusuknya. Dua bilah pedang itu sepertinya bertemu di tenga- tengah tubuhnya.

Karena itu Cao Qi segera roboh. Darah bermuncratan ke bawah panggung dan penonton berteriak.

Waktu itu Shi Wen Sheng langsung menyambung, "Dari pihak Jin, Pangeran berhasil mengalahkan Cao Qi. Pihak Jin secara berturut-turut memenangkan 2 babak" Penonton marah. Mereka berdiri bersama-sama dan ingin menantang Pangeran. Tiba-tiba ada suara lantang yang berkata, "Jangan, jangan sembarangan berkorban untuk hal yang tidak penting."

Yang satu lagi berkata, "Biarkan kami berdua yang mencoba ilmu silat Pangeran Jin yang terkenal tinggi!"

Kedua orang itu begitu bersuara, segera menutupi suara para penonton. Begitu penonton melihat dengan teliti, ternyata yang muncul adalah 2 orang dengan sikap memelas. Mereka adalah Biksu Hua Hui dan Pendeta Bu Tong.

0-0-0

Matahari sudah tidak bersinar begitu panas. Matahari sudah bersembunyi di balik awan sebelah barat. Seperti kapas basah bercahaya dengan redup.

Panji kedua negara dipasang di tiang, di bawah sinar matahari tampak terus berkibar!

Biksu Hua Hui dan Pendeta Bu Tong sudah berada di atas panggung.

Hanya dalam waktu singkat, di bawah panggung menjadi sepi dan tidak ada seorangpun yang bersuara.

Tiba-tiba Biksu Hua Hui berkata, "2 tahun yang lalu, di Tong Hai kami bertemu dengan Pendekar Long dan tahu bahwa dia adalah seorang jagoan dalam ilmu pedang. Karena itu kami mengajaknya bertarung. Hasilnya pertarungan pedang itu adalah"

Pendeta Bu Tong tertawa santai, "Akhirnya kami berdua tahu, di luar langit masih ada langit, di luar orang masih ada orang lagi."

"Dalam 500 jurus, Pendekar Long sudah bisa memecahkan gabungan jurus-jurus kami."

Kata Biksu Hua Hui, "Benar, karena itu kami mengagumi ilmu pedang Pendekar Long Karena itu juga selama 2 tahun ini kami bertekad untuk memajukan ilmu pedang kami dan kamipun menghapus 7 jurus Chang Qing Jian dan Chang Le Jian, ditambah lagi beberapa jurus, menjadi 18 jurus."

Kata Pendeta Bu Tong, "Kalau sekarang Pendekar Long ingin bertarung dengan kami, dalam 300jurus kami bisa mengalahkannya."

Long Zhai Tian yang berada di bawah panggung terus mengangguk tapi dia sudah tidak bisa berbicara lagi.

Dulu dia pernah mengalahkan Biksu Hua Hui dan Pendeta Bu Tong. Tadi dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat kedua orang itu dalam satu jurus berhasil mengalahkan Hu Shang bersaudara. Dia tahu, ilmu silat mereka sudah maju pesat dan dia sudah tidak bisa melawan mereka lagi.

Biksu Hua Hui berpikir sejenak lalu berkata, "Kami tidak mengajak Pendekar Long untuk bertarung lagi, karena beliau berwibawa tinggi. Beliaupun membela keadilan dan kebenaran. Ilmu pedang adalah ilmu hati. Jika menggunakan ilmu hati, kami tidak akan bisa mengalahkannya, apalagi harus mengalahkan pedang yang berbentuk."

Pendeta Bu Tong mengangguk, "Karena itu kami tidak pernah mencari Pendeta Long untuk bertarung tapi kami mengikutinya dan tinggal di kiri dan kanannya. Kami belajar pedang tidak berbentuk darinya."

Tiba-tiba wajah Biksu Hua Hui berubah dan berkata, "Tapi hari ini"

Wajah Pendeta Bu Tong juga berubah dan menyambung, "Kau sudah melukai Pendekar Long"

Biksu Hua Hui berkata, "Karni harus"

Kata Pendekar Bu Tong, "Menentukan hidup dan mati denganmu."

Kata-kata mereka baru selesai, mereka berdua dengan cepat seperti kupu-kupu terbang ke kiri dan kanan. Pada saat menyerang, satunya menggunakan sebuah pedang berwarna giok hijau, sedangkan yang satu lagi berwarna giok kuning, datang secepat kilat.

0-0-0

Pangeran dengan tangan kiri menali.m pedang kuning, tangan kanan menahan pedang hijau.

Pedang Biksu Hua Hui berputar. Pedang kuning menepis ke arah pergelangan tangan pangeran.

Pendeta Bu Tong membalikkan jurus pedangnya. Pedang hijau menusuk ibu jari Pangeran.

Pedang emas Pangeran terus berputar di antara jari dan telapak.

Dia juga berusaha menyingkirkan 2 pedang yang menjarangnya.

Biksu Hua Hui mengeluarkan pedang. Menusuk kaki Pangeran Jin.

Pendeta Bu Tong menggetarkan pedangnya, menusuk ketiak Pangeran Jin.

Pangeran Jin membentak. Dua pedang terus bergerak menutupi semua celah-celah.

Tapi Biksu Hua Hui tidak peduli. Ujung pedang menyerang telinga kanan Pangeran. Pendeta Bu Tong juga membalikkan pedang membacok pergelangan kaki Pangeran.

Pangeran Jin terkejut. Dia mundur. Setiap jurus serangan lawannya selalu berbahaya. Hanya dalam waktu singkat sudah berlansung 30 jurus, tapi Pangeran Jin sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk membalas.

0-0-0

Ternyata Biksu Hua Hui dan Pendeta Bu Tong, dulu orangnya malas. Mereka jarang mengurusi apapun. Tidak mempunyai hobi apa pun, hanya, senang bermain, berjalan-jalan melihat keadaan dunia persilatan. 5 tahun yang lalu, di puncak Heng Shan mereka melihat pertarungan antara Tian Ya Shan Jue Shou Yi Shui Han melawan Yang Mei Jian, Chu Guan Yu. Mereka merasa dalam hidup mereka hanya pernah satu kali melihat pertarungan yang begitu hebat. Ilmu pedang kedua orang itu sudah mencapai puncaknya. Semenjak itu, Hua Hui dan Bu Tong lebih rajin berlatih ilmu pedang, sampai lupa pada segalanya.

Mereka berdua sangat pintar dan cepat mengerti. Dalam 3 tahun ilmu pedang mereka sudah dijuluki dengan Chang Le dan Chang Qing.

Kecuali berlatih pedang, mereka juga memperbaiki ilmu pedang mereka yang sudah ada dan juga belajar menciptakan ilmu pedang baru, juga belajar mengenal hawa pedang. Karena itu hasil yang mereka dapatkan lebih tinggi dibandingkan orang lain. Kemajuan mereka juga lebih cepat dibandingkan orang lain.

Dua tahun yang lalu sewaktu mereka datang ke Dong Hai, mereka melihat Pendekar Huai Bei Long Zhai Tian menerangkan tentang pedang, tiba-tiba mereka berkeinginan mengajaknya bertarung demi persahabatan. Begitu kemapuan mereka diadu, karena ilmu silat Biksu Hua Hui dan Pendeka Bu Tong belum mencapai tahap yang tertinggi akhirnya mereka kalah di tangan Long Zfjai Tian yang sudah sangat berpengalaman.

Semenjak pertarungan itu, mereka bertiga malah menjadi sahabat karib. Selama 2 tahun ini mereka belum pernah meninggalkan

Huai Bei. Mereka juga sadar ilmu pedang mereka masih banyak kekurangan, karena itu merekapun belajar lebih giat lagi dan kemampuan ilmu silat merekapun terus berkembang. Mereka menambah ilmu pedang mereka menjadi 18 jurus. 18 jurus itu disebut, "Tidak sengaja, tidak apa-apa, tapi ada sebabnya menjadi 18jurus."

Keistimewaan jurus ini adalah begitu dimainkan harus sekaligus dimainkan, tidak ada kesempatan bagi orang lain untuk mengeluarkan serangan balasan. Apakah jurus ini tepat mengenai sasaran atau tidak, atau apakah menjadi jurus yang lihai atau tidak, bila berhasil melukai musuh itulah baru jurus yang tepat.

Kalau musuh terluka, maka akan lebih mudah menghadapinya.

Jika jurus pedang ini dilancarkan, jurus pedang itu tidak akan berhenti seperti aii mengalir, lawannya tidak mempunyai kesempatan membalas.

Kalau tidak ada kesempatan membalas, hanya satu jalan untuk menghentikan semuanya yaitu kalah atau mati.

Ying Yan Shuang Sha Jian Fa milik Pangeran Jin sangat lihai juga ganas. Tapi begitu naik panggung, Biksu Hua Hui dan Pendeta Bu Tong sudah menyerang, maka Pangeranpun tidak bisa berbuat apa- apa.

Terpaksa Pangeran mengubah gerakannya menjadi bertahan. Shuang Sha Jian dari gerakan keras menjadi lembut. Dari Yang menjadi Yin. Dia tidak bisa diserang, tapi Chang Qing Jian dan Chang Le Jian tidak memilih  tempat  penting  yang  diserang, semua membuat Pangeran kalang kabut. Dia hanya bisa bertahan tapi tidak bisa menyerang.

Tampak 2 jurus Ying Fei Qian Li, Yan Jian Xi Hu tertutup dengan rapi. Tapi Hua Hui tidak menyerang urat nadi di dekat kepala malah menepis telinga. Dia tidak membacok pinggang malah menotok tangan. Membuat Pangeran terus mundur. Beberapa kali dia hampir terkena bacokan pedang mereka!

Pangeran Jin hanya menunggu Hua Hui dan Bu Tong menghabiskan jurus-jurusnya, setelah itu dia baru akan menyerang.

Tapi Hua Hui dan Bu Tong seperti sudah menduga jalan pikiran Pangeran. Begitu jurus-jurus pedang mereka hampir selesai, satu jurus menyambung dengan satu jurus lain. Membuat Pangeran terus bertahan ke kiri dan ke kanan. Jurus 18 mereka dipakai berturut- turut hingga 4 balikan, tapi masih belum bisa melukai Pangeran Jin. Pangeran Jin juga tidak bisa balik menyerang mereka dengan satu juruspun. Pangeran mulai cemas. Kalau begitu terus, ini akan merepotkannya. Bila mereka berdua sedikit tidak kompak, dia mempunyai cara untuk balik menyerang kedua orang itu. Tapi kesempatan itu tidak ada walaupun hanya sedikit.

Tidak ada.

Sebenarnya hati Hua Hui dan Bu Tong juga cemas. Mereka hampir mnyelesaikan untuk kelima kalinya 'jurus 18', tapi masih tidak bisa melukai lawan sedikitpun. Jika terus begitu, harus bagaimana mereka!

Biksu Hua Hui dan Pendeta Bu Tong mempunyai pola pikir yang sama. Jika kali ini mereka masih diberi kesempatan hidup, mereka akan merombak lagi jurus 18 ini!

0-0-0

Waktu itu, memasuki jurus ke-88.

Hua Hui menepis jari kelingking Pangeran. Bu Tong menepis jari kaki Pangeran Jin!

Jika menyerang ke tempat lain, Pangeran Jin pasti bisa menutupinya dengan rapi.

Mengapa kedua pedang ini memilih menepis jari kelingking dan jari kaki?

Terpaksa Pangeran Jin dengan jurus Ying Luo Yan Zhen (Elang dan walet tiba-tiba turun) dua menahan 2 serangan pedang ini!

Segera Hua Hui dan Bu Tong menyerang dengan jurus ke- 89! Kali ini Hua Hui dengan pedang menepis nadi tangan Pangeran.

Bu Tong dengan pedang menusuk pantat Pangeran.

Satu dilakukan dari depan dan satu dari belakang. Mereka terus menempelkan pedang mereka ke tubuh Pangeran.

Waktu itu secara tiba-tiba, terdengar suara WUSH, WUSH. Pedang pendek yang dipegang Pangeran tiba-tiba panjangnya berubah menjadi 1.7 kaki! Hua Hui dan Bu Tong bersama-sama melenting ke belakang, tapi sudah terlambat. Kedua pedang itu telah dilemparkan dan menusuk ke punggung mereka.

Untung mereka berdua masih sempat mundur dengan cepat. Mereka hanya tertusuk dengan kedalaman luka kira-kira 2-3 centimeter, mereka masih bisa mundur dan terbang ke atas.

Begitu pangeran yang berhasil melukai lawannya. Dia segera mengejar Hua Hui dan Bu Tong!

0-0-0
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Panji Akbar Matahari Terbenam Bab 17 : Elang dan walet yang ganas"

Post a Comment

close