Panji Akbar Matahari Terbenam Bab 13 : Biksu Hua Hui yang lain

Mode Malam
BAB 13 Biksu Hua Hui yang lain

Dengan wajah serius Shi Wen Sheng berkata, "Dari pihak Song dan pihak Jin akan bertarung. Babak pertama---- Dua orang

Mongolia itu akan bertarung dengan Biksu Hua Hui dari Shao Shi Shan dan Pendeta Bu Tong dari Shao Hua Shan!"

Terlihat mereka dengan santai berjalan ke depan panggung, biksu itu bertanya, "Hei, Pendeta Tua, dengan cara bagaimana kita naik panggung ini?"

Pendeta Bu Tong menjawab, "Keledai Botak, kita jangan seperti 2 ekor anjing Mongolia itu, seperti kura-kura yang merangkak naik ke atas!"

"Itu sudah pasti!" jawab Biksu Hua Hui.

Percakapan antara Pendeta Bu Tong dan Biksu Hua Hui membuat semua orang yang mendengar tertawa. Orang-orang yang menonton memang sudah benci sekali kepada kedua laki-laki Mongolia itu. Mendengar sindiran Biksu Hua Hui, membuat penonton di sana menjadi bersorak bersemangat.

Kedua orang Mongolia yang berada di atas panggung sangat marah, mereka berteriak, "Kalau kalian berani, naiklah! Aku akan gencet kalian sampai gepeng "

Biksu Hua Hui tertawa dan berkata, "Kita memang akan naik untuk bermain-main dengari anjing kecil, tapi bagaimana cara naiknya ya?"

Pendeta Bu Tong pun tertawa, "Benar, panggung pertarungan ini begitu tinggi, kami tidak bisa naik, apakah lebih baik kalian turun dulu dan menggendong kami naik?"

Kedua bersaudara itu segera hendak turun, tapi Shi Wen Sheng dengan cepat berkata, "Siapapun yang turun, berarti dia kalah!"

Pendeta Bu Tong tertawa, "Tampaknya mereka mau turun dengan suka rela, bukan karena paksaan, tentu saja mereka bukan kalah dengan memalukan!"

Shi Wen Sheng tampak marah, wajahnya dilipat, dia tidak mau bicara lagi.

Kedua laki-laki Mongolia itu dengan cepat turun ke bawah panggung, kedua tangan mereka siap untuk menangkap Pendeta Bu Tong dan Biksu Hua Hui. Para penonton menjadi histeris, tampak bayangan berkelebat. Biksu Hua Hui dan Pendeta Bu Teng sudah berada di atas panggung. Mereka duduk bersila dan saling berhadapan. Yang satu terdengar bersin sedangkan yang lainnya menguap.

"Mana dua ekor anjing kecil itu?" "Karena kita naik, mereka ketakutan dan turun dari panggung."jawab biksu Hua Hui

Semua penonton tertawa senang, tapi Wan Yan Zhu dan yang lainnya tampak sangat marah.

Kedua bersaudara Mongolia marah-marah di bawah panggung, segera mereka memanjat naik kembali keatas panggung.

Begitu mereka berada di atas panggung, kepalanya bersimbah keringat, tapi mereka tidak melihat ada seorangpun di sana, Hu Shang Ke marah-marah, sambil berkata-kata dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh penonton.

Hu Shang Ge menunjuk Biksu Hua Hui yang terlihat sedang terkantuk-kantuk dibawah panggung lagi, diapun marah dan berkata dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh penonton.

Biksu Hua Hui meraba-raba kepala botaknya dan bertanya, "Mereka sedang bicara apa sih?"

Pendeta Bu Tong mengelus' janggutnya dan menjawab, "Yang kepalanya agak gepeng mengatakan kalau dia ingin buang kotoran di pispot sedangkan yang kepalanya agak lancip mengatakan kalau dia ingin menangkap burung gagak."

Semua penonton tertawa terbahak-bahak, dua bersaudara Mongolia itu turun lagi dari panggung.

Pada saat mereka sudah turun dari panggung, Biksu Hua Hui dan Pendeta Bu Tong ternyata sudah berada di atas panggung lagi.

Dua bersaudara Mongolia itu karena marah, sifat ganas mereka mulai muncul, mereka segera merangkak naik lagi ke atas panggung. t

Biksu Hua Hui dan Pendeta Bu Tong sudah berada di bawah panggung.

Penonton tertawa terpingkal-pingkal, pandangan galak orang- orang Jin mulai terkikis hilang.

Dua bersaudara Mongolia itu sambil marah-marah mereka mengejar Biksu Hua Hui dan Pendeta Bu Tong ke bawah lagi, keringat sudah membasahi seluruh tubuh mereka.

Biksu Hua Hui dan Pendeta Bu Tong naik lagi ke atas panggung. Karena terus melakukan hal seperti itu, memanjat lalu turun dan memanjat, lalu turun lagi, nafas kedua Mongolia itu terdengar mulai terengah-engah, mereka terlihat kelelahan.

Biksu ? Hua Hui dan Pendeta Bu Tong duduk di depan panggung, mereka sedang mengobrol sambil tertawa-tawa.

Kedua-tangan Hu Shang Ke memegang sisi panggung dan berteriak, "Jangan pergi "

Pendeta Bu Tong tertawa dan berteriak, "Jangan takut, ayah tidak akan pergi."

Hu Shang Ge dengan kekuatan tangannya menopang tubuhnya supaya bisa berdiri dan berteriak dengan sekuat tenaga, "Aku akan membunuhmu!"

Biksu Hua Hui tertawa, "Silahkan!" Dengan bersusah payah kedua Mongolia itu memanjat lagi ke atas panggung, nafas mereka sudah terengah-engah, kali ini Biksu Hua Hui dan Pendeta Bu Tong tidak turun lagi dari panggung. Dengan pandangan masa bodoh mereka melihat kedua orang Mongolia itu.

Setelah berhasil naik ke atas panggung, Hu Shang Ke dan Hu Shang Ge dengan cepat berlari mendekati Biksu Hua Hui dan Pendeta Bu Tong.

Tiba-tiba tangan kiri Biksu Hua Hui dan Pendeta Bu Tong dibuka, pedang sudah berada di tangan, pedang itu ditusukan secepat kilat, kemudian tampak sudah dimasukkan kembali ke dalam sarungnya. Pada saat mereka mengeluarkan pedang seperti awan yang sedang bergerak dan air yang sedang mengalir. Wajah dan gerakan mereka sudah tidak terlihat memelas, melainkan sangat serius dan anggun. Semangat mereka tampak jelas saat itu. Jiwa juang mereka timbul dan membuat mereka tampak berarti.

Begitu pedang ditarik kembali, pundak kanan kedua laki-laki Mongolia itu tampak sudah keluar darah.

Penonton berteriak, kedua bersaudara itu meraung karena kaget dan kesakitan. Biksu Hua Hui dan Pendeta Bu Tong kembali lagi pada sikap mereka seperti biasa— masa bodoh.

Biksu Hua Hui berkata, "Kita tidak membunuh mereka, karena mereka hanya diperalat orang."

Kata Pendeta Bu Tong, "Tapi mereka pernah membunuh, maka tangan kananlah yang harus dilumpuhkan."

Penonton bersorak riuh rendah, dua bersaudara Mongolia itu berteriak, begitu turun dari panggung mereka segera berlari ke tempat Pangeran Jin.

Shi Wen Sheng berteriak dengan lantang, "Setelah pihak Song dan pihak Jin bertarung di atas panggung. Pada babak pertama, Biksu Hua Hui dan Pendeta Bu Tong berhasil mengalahkan Hu Shang Ke dan Hu Shang Ge."

Penonton berteriak, wajah Long Zhai Tian mulai tampak bisa tersenyum.

Dengari terburu-buru kedua bersaudara Mongolia itu berlari ke tempat Pangeran Jin, dengan bahasa mereka yang sukar dimengerti mereka terus marah-marah. Pangeran Jin hanya diam, dia melihat ke arah Xia Hou Lie.

Xia Hou Lie segera berdiri kemudian dia menjulurkan kedua telapak tangannya dan mendorong.

Karena kedua bersaudara monggol ini tidak siap mereka terkena pukulan itu dan melayang jauh. Punggung mereka menancap di tiang panggung, kemudian kelima indra mereka terlihat mengeluarkan darah.

Tangan Ge La Tu tampak melambai, ada dua titik merah terbang keluar dan mengenai dahi di antara kedua alis, dua bersaudara Hu Shang berteriak, darah mengalir dengan deras, mereka pun langsung mati.

Melihat perlakuan yang begitu kejam, semua penonton menj adi terdiam. "Di negara Jin tidak ada pesilat yang berbuat begitu memalukan," kata Pangeran Jin dengan santai.

Biksu Hua Hui dan Pendeta Bu Tong sangat marah, yang satu menunjuk Xia Hou Lie yang satu menunjuk Pangeran Jin dan berkata, "Baiklah, nanti aku akan bertarung denganmu, pesilat yang dikatakan hebat dari negara Jin."

Terdengar Shi Wen Sheng berkata, "Kalian berdua sudah menang, harap turun dulu dari panggung. Kali ini pihak Song akan menampilkan wakilnya naik ke atas panggung."

Biksu Hua Hui dan Pendeta Bu Tong tidak berani melanggar peraturan pertarungan, mereka segera turun.

Terdengar Shi Wen Sheng berkata lagi, "Pertarungan antara kedua bangsa, yaitu bangsa Song dan bangsa Jin pada babak kedua akan dimulai—"

0-0-0

Qing Ye Zi sudah membacok, Jenderal Yu sudah tidak mempunyai tenaga untuk melawan, pada situasi yang menegangkan ini, dari samping ada golok yang menahan serangan itu, ternyata pengawal yang memapah Jenderal Yu berhasil menahan serangan Qnig Ye Zi.

Qing Ye Zi tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Kau mengantarkan kematianmu, aku akan memenuhi keinginanmu!"

Setelah berkata begitu dia membacok, pengawal itu berturut- turut menahan 7 kali bacokan Qing Ye Zi, hingga tangannya terasa sakit, kemudian Qing Ye Zi menendang golok yang dipegang oleh pengawal itu, golok itu langsung terlempar. Qing Ye Zi membalikkan tubuhnya dan menebas pengawal itu.

Kelihatannya tubuh dan kepala pengawal itu segera akan terpotong, saat itu tiba-tiba Qing Ye Zi merasa di belakang tubuhnya ada angin senjata tajam yang menerjangnya dengan cepat, Qing Ye Zi tidak sempat menhindar dan tampaknya akan terluka karena angin tajam itu. Tapi aingin tajam yang tadinya bergerak dengan cepat sampai di tengah jalan tenaganya terasa berkurang dan malah melambat.

Qing Ye Zi segera merendahkan kepalanya, hingga hanya rambutnya saja terkena angin tajam dari golok itu dan rambutnya terpotong lumayan banyak.

Qing Ye Zi dengan marah membalikkan badan, tampak Jenderal Yu berdiri miring, setelah menyerang dengan golok, tenaganya terkuras habis, tangan kirinya memegang golok untuk menahan beban tubuhnya supaya bisa berdiri tegak.

Ternyata pada saat Jenderal Yu melihat pengawalnya akan terbunuh, dia memungut golok pengawalnya yang sudah mati lalu dia membacok ke arah Qing Ye Zi, sayang, karena tenaganya kurang dia tidak berhasil melukai CjingYeZi.

Karena hampir terbacok dan mati, Qing Ye Zi benar-benar sangat marah dan berkata, "Baiklah! Rupanya kau sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan dewakematian."

Qing Ye Zi segera membacok ke arah Jenderal Yu.

Jenderal Yu berusaha menahan serangan Qing Ye Zi dengan mengangkat goloknya, tapi kali ini golok Jenderal Yu malah terpelanting jauh.

Qing Ye Zi membalikkan goloknya dan mulai membacok lagi, di belakangnya ada yang memeluknya dengan erat, terdengar pengawal itu berteriak, "Jenderal, cepat lari dari sini! Jangan pedulikan diriku!"

Jenderal Yu dengan marah menjawab, "Mau mati, mari kita mati bersama, paling-paling jumlahnya lebih satu kepala."

Dia mengumpulkan tenaga dan memukul dengan kepalan tangannya.

Segera Qing Ye Zi dipeluk dengan erat dari belakang oleh pengawal itu, dia merasa kaget, dia membalikkan golok, dan menusuk perut pengawal itu hingga darah mengucur deras. Baru saja Qing Ye Zi akan mencabut goloknya, kepalan tangan Jenderal Yu berhasil memukulnya, tenaga yang dikeluarkan sangat besar, Qing Ye Zi terpaku, terdengar suara BUG, dia terkena kepalan itu dan mundur 7-8 langkah, Darahpun terlihat mengalir dari mulutnya.

Tapi sayang, setelah Jenderal Yu melancarkan pukulan itu, dia benar-benar tidak bertenaga lagi. Diapun tidak bisa mengejar, kalau tidak Qing Ye Zi tidak akan bisa bertahan lagi terhadap serangan Jenderal Yu. Ilmu silat Jenderal Yu sudah terlatih sejak kecil, ditambah dengan pengalamannya di medan tempur, semua pengalamannya bukan didapat dari guru terkenal, cara-cara yang dipakaipun berbeda dengan orang dunia persilatan biasa. Maka pada saat Jenderal Yu mengeluarkan kepalannya untuk memukul, dia bisa secara tiba-tiba melukai Qing Ye Zi. Tapi dia tidak berlatih ilmu tenaga dalam, jadi pada saat dia mengeluarkan tenaganya, tidak ada tenaga tersisa untuk kembali memukul!

Qing Ye Zi sangat 'i marah, dia membersihkan darah yang mengotori bajunya, tampak tangannya berlumuran darah.

Dia membentak, goloknya mulai digerakkan lagi, dia melancarkan 9 jurus serangan dengan 14 bacokan.

Kali ini Jenderal Yu satu juruspun tidak dapat menyambutnya.

Waktu itu ada seseorang yang berlari mendatangi, dia membawa golok. Terdengar suara TANG, goloknya dan golok Qing Ye Zi beradu.

Begitu dua senjata beradu, tubuh Qing Ye Zi bergoyang, dan orang itu juga mundur beberapa langkah, dia meraung. Ternyata orang itu adalah Zhang Zhen Que.

Ternyata Zhang Zhen Que telah menyerang Cha Lu dengan sekuat tenaga, mereka berdua adalah prajurit yang sering berperang di medan perang, mereka selalu diajari teknik bertempur oleh Jenderal Yu, maka tenaga mereka sangat besar. Kemampuan ilmu silat merekapun hampir sama, yang satu menggunakan golok, sedangkan yang satu lagi bersenjatakan palu besi, selama bertanding mereka sama kuat. Hanya karena Zhang Zhen Que melihat Jenderal Yu berada dalam keadaaan bahaya, matanya menjadi merah dan dengan sekuat tenaga dia menahan serangan Cha Lu, setelah itu dia berlari dengan kencang menahan bacokan CjingYeZi.

Dua senjata beradu, Zhang Zhen Que menggunakan tenaga luar, sedangkan Qing Ye Zi menggunakan tenaga dalam. Maka Zhang Zhen Que digetarkan hingga mundur beberapa langkah.

Karena mundur terus punggungnya terkena serangan senjata berbentuk palu yang datang dari arah belakang.

PUSH.

Senjata itu menancap di punggungnya, Zhang Zhen Que berteriak dengan suara yang menggetarkan hati setiap orang yang mendengarnya. Zhang Zhen Que langsung mati, hal ini membuat Jenderal Yu marah, dia meraung dan berteriak, "Cha Lu. "

Begitu Zhang Zhen Que terkena senjata tajam, tubuhnya tiba- tiba berputar ke belakang.

Rupanya hingga mau matipun dia tidak rela, bagaimanapun dia harus membunuh Cha Lu dengan tangannya sendiri.

Tubuh Zhang Zhen Que berputar ke belakang, karena senjata lawan masih menancap di punggungnya, dia tidak bisa mencabutnya, Zhang Zhen Que berputar ke depan Cha Lu dan mengangkat goloknya.

Rantai besi yang mengikat senjata itu karena dibawa berputar oleh Zhang Zhen Que, rantai itu membelit tubuhnya. Sebenarnya Cha Lu bisa saja melepaskan tangannya dan mundur tapi karena mendengar teriakan Jenderal Yu, "Cha Lu!" membuat tubuhnya bergetar dan terpaku, sudah lama dia mengikuti Jenderal Yu dalam kemiliteran, wibawa dan budi Jenderal Yu, membuatnya merasa segan dengan Jenderal Yu. Demi mencari kekayaan dan kemakmuran, dia rela mengkhianati atasan dan teman-temannya, bentakan Jenderal Yu membuatnya menjadi bengong i

Pada saat dia terpana itulah Zhang Zhen Que sudah mengangkat goloknya dan membacok. Kepala Cha Lu langsung terpisah bersama dengan darah yang muncrat di udara.

Begitu kepala Cha Lu turun, tubuh Zhang Zhen Que langsung roboh.

Akhirnya Zhang Zhen Que bisa membunuh Cha Lu dan bisa menutup mata dengan tenang.

Qing Ye Zi melotot pada Jenderal Yu, terdengar Jenderal Yu menarik nafas panjang, dia memungut golok yang tergeletak di bawah, dengan tertawa dingin Qing Ye Zi berkata, "Bunuhlah dirimu sendiri!"

Jenderal Yu menggelengkan kepala, "Lebih baik mati di medan perang daripada harus membunuh diriku sendiri!"

Walaupun dalam keadaan tidak bertenaga, dia berusaha untuk membacok.

Ini adalah tenaga terakhir dari Jenderal Yu, tenaga terakhirnya sangat kuat dan dalam beberapa jurus Qing Ye Zi tidak bisa segera mengalahkannya. Tiba-tiba muncul sebuah pedang menggetarkan golok Jenderal Yu, membuat golok itu terpental ke atas, dengan senang Qing Ye Zi berteriak, "Kakak Kedua!"

Qing Feng Zi tertawa, sinar goloknya seperti kilat terus membacok ke arah Jenderal Yu.

Jenderal Yu menarik natas, dia tahu kalau empat pengawalnya yang tersisapun sudah mati, dan sudah saatnya dia harus mati. Dia memejamkan matanya dan menunggu ajal menjemput.

Ning Zhi Qiu dan Qing Yan Zi masih bertarung seru, pertarungan sudah berlangsung ratusan jurus, masih tidak terlihat siapa yang menang siapa yang kalah.

Akhirnya karena Ning Zhi Qiu tidak merasa tenang dalam bertarung, karena tidak berhati-hati pedang Qing Yan Zi berhasil menggores tangan kirinya sepanjang 15 sentimeter.

Ning Zhi Qiu terluka, Jenderal Yu berada dalam bahaya, Ning Zhi Qiu semakin tidak berkonsentrasi dan posisinya semakin terjepit. Pedang Qing Yan Zi seperti pelangi, setiap saat bisa mencabut nyawanya.

Qing Feng Zi sudah membacok, Jenderal Yu memejamkan matanya menunggu kematian, semua ini disaksikan oleh Ning Zhi Qiun dari jauh, dia tidak berdaya untuk membantu, segera dia berteriak, "Jenderal, Anda tidak boleh mati!"

Long Jin Jian nya dilemparkan, tampak seperti pelangi yang malayang, kemudian terdengar suara TING, Long Jin Jian itu berhasil menahan golok Qing Feng Zi.

0-0-0

Begitu Shi Wen Sheng meneriakkan babak kedua dimulai, seseorang yang mengenakan baju berwarna kuning sudah terbang dan mendarat di atas panggung. Tubuhnya mendarat tanpa bersuara, hanya terdengar kelepak suara baju yang tertiup angin kencang. Penonton terpaku menyaksikan semua itu, setelah itu mereka bersorak. '

Ternyata yang naik ke atas panggung adalah si Sempoa Emas, Xin Wu Er!

"Aku Xin Wu Er, sengaja datang untuk belajar."

Tiba-tiba terdengar suara dingin yang berbicara, "Baiklah, biar . aku yang akan mengajarmu!"

Tampak baju hitam berkelebat, seperti ada gulungan asap berwarna hitam dan seperti bayangan setan yang turun ke atas panggung. Dia adalah si Sempoa Besi, Xi Wu Hou.

Shi Wen Sheng dengan lantang berkata, "Babak kedua, Sempoa Emas, Xin Wu Er akan berhadapan dengan Sempoa Besi, Xi Wu Er."

Penonton yang berada di bawah panggung terdengar berbisik- bisik, mereka melihat dua orang pesilat tangguh sama-sama menggunakan senjata sempoa, pertemuan sempoa dalam pertarungan kali ini, pasti akan menjadi suatu pertarungan yang unik dan ramai.

Long Zhai Tian tampak bingung, sebenarnya dia tadi menyuruh Xin Wu Er untuk mencari tahu, tidak disangka lawan malah menyuruh Xi Wu Hou keluar, karena mereka pernah bertarung, dalam kemampuan ilmu silat Xin Wu Er lebih unggul, pasti Xin Wu Er yang akan menang, mengapa Pangeran Jin menyuruh Xi Wu Hou untuk turun pada babak kedua, apakah tujuan orang Jin sengaja membuat mereka mengalah?

Long Zhai Tian dan Bao Xian Ding benar-benar tidak mengerti.

0-0-0

Begitu Ning Zhi Qiu melemparkan Long Jin Jian, dia bisa menyelamatkan Jenderal Yu, tapi dia sendiri karena sekarang jadi tidak memegang pedang, kedaannya menjadi sangat berbahaya.

Qing Yan Zi tertawa sinis, dia menyerang 3 kali, ditambah 3 kali lagi, Ning Zhi Qiu dengan susah payah menghindar, tubuhnya berkeringat deras sekaligus nyawanya terancam. Waktu itu dari arah gunung terdengar sebuah siulan panjang.

Suara siulan itu terdengar oleh Jenderal Yu dan Ning Zhi Qiu, membuat semangat mereka bertambah bergelora, sedangkan Qing Yan Zi, Qing Ye Zi, dan Qing Feng Zi merasa hati mereka menjadi dingin!

Suara siulan ini berasal dari suara Fang Zhen Mei.

Ning Zhi Qiu dengan cepat membalas siulan itu dan berteriak, "Jenderal Yu ada di sini-—"dia bicara tapi kerena lengah bahunya tertusuk oleh Qing Yan Zi.

Suara siulan itu berubah menjadi suara angin kencang, seperti suara hujan yang membasahi gunung dan hutan, dalam sekejap orangnya sudah berada didekat mereka.

Qing Ye Zi dan Qing Feng Zi dengan gerakan cepat menyerang Jenderal Yu dari kanan dan kiri.

Begitu mendengar siulan Fang Zhen Mei, semangat Ning Zhi Qiu bertambah, dia menyambar Long Jin Jian lagbuntuk bertahan sambil menunduk, dia masih sanggup menerima beberapa serangan.

Jenderal Yu sudah mundur hingga ke sisi jurang, kalau dia mundur lagi, mungkin nasibnya akan sama seperti Qing Song Zi. Dia hanya melihat golok Qing Ye Zi dan Qing Feng

Zi bergerak seperti dua ekor ular panjang, mendatanginya.

Ning Zhi Qiu dengan sekuat tenaga melawan serangan Qing Yan Zi. Serangan Qing Yan Zi bertambah dahsyat dan dilakukan dengan posisi miring, hingga kaki Ning Zhi Qiu tertusuk pedang Qing Yan Zi.

Karena merasa sakit gerakan tubuh Ning Zhi Qiu melambat, Qing Yan Zi menendangnya hingga terjatuh. Qing Yan Zi mengangkat pedangnya dan siap menusuk.

Saat itu beberapa meter jauhnya dari sana, terlihat bayangan seseorang yang berkelebat, hanya dalam sekejap gerakan orang seperti kilat itu mendatangi, tubuhnya tegak, karena dengan begitu dia lebih mudah untuk bernafas, dan bisa kuat berlari lama, tapi begitu baju putih orang itu sudah berada di dekat sana dan hampir mencapai garis akhir. Tubuhnya condong ke depan. Yang membuat kaget adalah kedua kakinya tampak tidak menginjak tanah, dia seperti bergerak melayang, tapi juga seperti menempel di atas permukaan tanah.

Qing Feng Zi dan Qing Ye Zi pada saat mendengar suara siulan itu mereka sudah bersiap-siap, mereka mengira orang itu turun dari langit, tidak disangka dia datang dengan cara menempel di bawah dan datang seperti terbang. Qing Ye Zi dan Qing Feng Zi belum pernah menghadapi musuh dengan cara datang seperti itu!

Mereka hanya terpaku!

Segera wajah Qing Ye Zi terkena pukulan Jenderal Yu, dia merasa kepalanya menjadi pusing, ilmu silat Qing Feng Zi lebih tinggi dari Qing Ye Zi begitu melihat bayangan putih, dia segera berteriak kaget, "Fang Zhen Mei!"

Dia malah membalikkan badan dan lari. Sedangkan Qing Ye Zi menusuk bayangan berbaju putih dan dengan cepat mencoba mencengkram kedua kakinya. berhasil dicengkram segera dia membanting.

Dia membanting ke arah Qing Feng Zi yang sedang berlari.

Qing Feng Zi yang sedang berlari dengan kencang, dia mendengar ada suara angin besar yang menghampiri, dia membalikkan tubuhnya bermaksud menahan, ternyata yang menyerangnya adalah sosok seseorang, dia segera mencabut pedangnya, baru saja dia menarik setengah pedangnya dari sarung, dia baru melihat dengan jelas, ternyata yang datang adalah Qing Ye Zi, dengan cepat dia membatalkan gerakannya, dia menangkap Qing Ye Zi, merekapun bertabrakan, lalu mereka terdorong mundur beberapa langkah, dia mendorong Qing Ye Zi, tapi jalan darah di seluruh tubuhnya karena tertabrak sekarang seperti tertotok.

Dia hanya melihat ada angin keras berwarna putih lewat di depannya.

Qing Yan Zi melihat kejadian itu dari jarak puluhan meter, dari kejauhan tampak bayangan berwarna putih, dia langsung berhenti. Begitu mendengar ada siulan dia sudah bersiap akan melarikan diri. Sekali dia meloncat mencapai beberapa meter, dia meloncat lagi, kemudian terbang lalu mendarat.

Dia mengumpulkan tenaga siap berlari lagi, tapi bayangan putih itu sudah berhenti di depannya, dia berhadapan dengan punggung seseorang yang mengenakan baju putih.

Qing Yan Zi membentak, dengan segenap tenaganya dikerahkan untuk bertarung dan pedangnya juga sudah dikeluarkan. Orang berbaju putih itu sudah membalikkan kepalanya, mencengkram dan menekan, kedua telapak tangannya beradu dengan tangan Qing YanZi.

Waktu itu juga dia mencengkram pedangnya. Ternyata orang berbaju putih itu adalah Fang Zhen Mei.

Rambut Fang Zhen Mei tampak berantakan, sorot matanya tidak seperti biasanya, biasanya sorot matanya ramah, sekarang sorot matanya seakan siap membunuh Qing Yan Zi, dia menjadi ketakutan.

Apalagi tadi dia sempat merasakan kekuatan telapak tangan Fang Zhen Mei, pukulan dia hanya seperti memukul kertas, dia tidak bisa mengeluarkan tenaganya. Apakah tenaga telapak Fang Zhen Mei lebih lembut dibandingkan dengan jurus Qing Yan Zhang?

Fang Zhen Mei melonggarkan jarinya yang menarik pedang, Qing Yan Zi mundur dan membentak, dia kembali menusuk 17 kali ke atas, 36 kali ke tengah, dan 8 kali ke bawah. Kemudian dicampur dengan jurus telapak tangan yang bisa membuat orang kehilangan nyawa.

Fang Zhen Mei tidak roboh juga tidak bergerak, tiba-tiba dia mennyerang dan menjepit, lalu mengeluarkan telapak tangannya.

Begitu pedang Qing Yan Zi datang, Fang Zhen Mei langsung menjepitnya, lalu menggetarkan Qing Yan Zi dengan jurusnya. Kemudian Fang Zhen Mei melepaskan tangannya lagi, dan pedang sudah berada di tangan Qing Yan Zi lagi.

Qing Yan Zi berteriak-teriak, marah-marah, meraung, kemudian dia bergerak seperti seekor naga hijau. Pedang beserta orangnya menyerang Fang Zhen Mei lagi.

Begitu dia mendekati Fang Zhen Mei, telapak tangan yang tadinya disembunyikan di perutnya dikeluarkan.

Fang Zhen Mei yang sejak tadi tidak bergerak begitu dia bergerak, dia mengeluarkan tangannya dan menjepit kembali.

Sekali menjepit dia sudah menjepit pedang Qing Yan Zi, dan telapak tangan yang satu lagi mendorong Qing Yan Zi kembali ke tempat semula!

Qing Yan Zi terguling, pedangnya ditancapkan ke tanah,  nafasnya terengah-engah.

Fang Zhen Mei membentak, "Apakah kau belum merasa menyesal?"

Tubuh Qing Yan Zi bergetar, wajahnya berubah menjadi seram.

Tiba-tiba dia membalikan tubuhnya dan menggerakan pedangnya menyerang, tapi arah serangannya kali ini tertuju padk Jenderal Yu.

Kali ini Fang Zhen Mei tidak menyangka kalau Qing Yan Zi akan melakukan tindakan seperti itu, dia ingin menghadang tapi sudah tidak sempat.

Qing Yan Zi dengan segala cara ingin membunuh Jenderal Yu karena keinginan hati untuk membunuh sangat besar, maka serangannya tidak memperhatikan pertahanan dan banyak kelemahan.

Arah larinya menuju Jenderal Yu dan kepala Ning Zhi Qiu. Walaupun Ning Zhi Qiu tidak bisa menghalangi gerakan Qing Yan

Zi, tapi dia segera mengambil, golok yang tergeletak di bawah sekaligus menusuk perut Qing Yan Zi!

Ujung golok itu menembus tubuh sampai keluar dari punggungnya. Tubuh Qing Yan Zi bergetar, tapi pedang itu masih tetap diarahkan kepada Jenderal Yu.

Jenderal Yu adalah jenderal yang sangat berpengalaman, ditambah lagi dia sering terlibat dalam peperangan, melihat ada pedang yang menghampirinya, dia secepat kilat meloncat ke samping, lolos dari posisi yang sangat berbahaya. Akhirnya Jenderal Yu bisa menghindari serangan itu. Begitu Qing Yan Zi berlari melewati Jenderal Yu, segera terdengar teriakan yang memilukan.

Ternyata di belakang Jenderal Yu adalah jurang yang dalam.

Qing Yan Zi terjun ke dalam jurang yang dalamnya ratusan meter. Qing Yan Zi yang masuk ke dalam jurang tubuhnya pasti akan terluka berat atau bahkan mati.

Fang Zhen Mei menarik nafas panjang, dia segera berlari menuju seekor kuda, di tengah-tengah udara dua mengucapkan beberapa kalimat: "Aku datang terlambat, Jenderal! Mohon maaf!"

"Aku harus segera kembali lagi ke kota Xia Guan untuk membantu Pendekar Long mengalahkan Pangeran Jin!"

"Qing Feng Zi dan Qing Ye Zi sudah ditotok olehku harap Pejabat Ning bisa membawa mereka dan memberikan hukuman kepada mereka!"

"Pejabat Ning, harap Anda mengantarkan Jenderal Yu kembali ke markas para prajurit Song!"

Selesai berpesan, kudanya sudah berlari jauh, Fang Zhen Mei sudah pergi lagi dari sana.

Angin masih berhembus, gunung masih tetap berwarna hijau. Jenderal Yu dan Ning Zhi Qiu masih terpaku.

Kemudian Jenderal Yu berkata dengan pelan, "Fang Zhen Mei memang seorang yang hebat. "

Ning Zhi Qiu menarik nafas dan menanggapi, "Dia datang kemari, lalu berlari pergi lagi, apakah dia masih bisa bertarung dengan Jin Zhen Ying?"

0-0-0

Xi Wu Hou berteriak panjang, dengan cepat dia mengeluarkan dua jurus kepalan tangannya dan sebuah serangan jari!

Xin Wu Er sejurus demi sejurus mencairkan jurus Xi Wu Hou. Xi Wu Hou mengangkat tangan kirinya, mengeluarkan kepalan tangan kanannya, mengangkat tangan kanannya, tangan kirinya mengeluarkan kepalan, satu adalah' jurus sebenarnya sedangkan yang lain adalah jurus tipuan, tapi setiap jurus yang dikeluarkan sangat sadis!

Setelah beberapa jurus berlalu, tiba-tiba Xin Wu Hou malah berhenti, kemudian dia bertingkah laku seperti burung gagak, berputar dan mengelilingi panggung.

Begitu naik ke atas panggung, mereka langsung bertarung dengan menggunakan kaki dan tangan, membuat orang-orang yang menonton tampak tegang, mereka bertarung dengan cepat seperti kilat.

Setelah lewat 20-30 jurus, tiba-tiba Xi Wu Hou terbang ke atas dan tertawa aneh. Tubuhnya berputar, kesepuluh jarinya menusuk ke arah XinWuEr!

Xin Wu Er sama sekali tidak bergerak, tiba-tiba dia melancarkan serangan dan kesepuluh jarinya dikeluarkan untuk menangkis kesepuluh jari Xi Wu Hou.

Kedua tangan mereka menempel, dan langsung mencengkram dengan erat.

Terdengar suara CHA, CHA dua tangan saling membelit kemudian berpisah, dan keringat terus berjatuhan.

Muka mereka tampak sangat pucat.  Mereka  berdiri  dengan kaku seperti sedang mengeluarkan tenaga.

Tiba-tiba Xi Wu Hou mengangkat kaki dan menendang, Xin Wu Er meloncat menghindar. Pada saat dia meloncat, orang yang bermata jeli melihat bahwa Xin Wu Er menjepit jari manis dan kelingking Xi Wu Hou, sekarang jari itu sudah tidak berbentuk lagi, pasti tulang jarinya sudah remuk.

Xin Wu Er tertawa dingin, "Jari tanganmu sudah berkurang dua, kalau ingin bermain sempoa tidak akan enak seperti biasanya!"

Wajah Xi Wu Hou menghitam, dia berputar, tangan kanannya membentuk seperti golok dan menusuk ke arah Xin Wu Er.

Tapi Xin Wu Er dengan cepat mengangkat kakinya, kemudian tangan kanannya bergerak seperti mengangkat lampu, serangan itu berhasil dipatahkan oleh Xi Wu Hou, dari sebelah kanan dan sebelah kiri dia melancarkan pukulannya!

Tapi saat itu Xi Wu Hou dari balik bajunya mengeluarkan sesuatu benda yang berwarna hitam!

Penonton berteriak, ternyata Xi Wu Hou sudah mengeluarkan senjata andalannya yang terkenal yaitu sempoa besi.

Dengan cepat Xin Wu Er mundur!

Xi Wu Hou melangkah maju, dia menebas ke kiri dan ke kanan dengan sempoa besinya, dia menggunakan jurus Da Bu Liu Ren, dan jurus lainnya. Semua berjumlah 12 jurus. Semua jurus dilancar dengan senjata sempoa besinya, dia terus menyerang Xin Wu Er.

Xin Wu Er seperti seekor elang terbang. Sempoa besi milik Xi Wu Hou dijadikan sebagai golok, tapi golok itu tidak bisa mengenai tubuh Xin Wu Er.

Wajah Xi Wu Hou berubah, dia mengubah jurus sempoanya, bahkan jurus-jurus Hai Tou Wang Yue seperti Qing Long Ying

Zhu sudah dikeluarkan, dan semua jurus ini adalah jurus pedang, dia menutup jalan mundur Xin Wu Er. Tiba-tiba Xin Wu Er melayang ke atas dan berhasil melewati jurus pedang Xi Wu Hou!

Xi Wu Hou mengubah jurusnya lagi dengan cara menutup, berpindah, mendorong, dan menjepit, dia terus menyerang Xin Wu Er. Tapi Xin Wu Er seperti seekor burung nuri terbang ke -atas lalu ke bawah, tapi Xi Wu Hou seperti sudah memasang jala, secara bertahap memperkecil ruang gerak Xin Wu Er. Mata para penonton melihat tanpa berkedip, tiba-tiba terdengar suara besar membentak dan muncul kilauan emas. Di tangan Xin Wu Er terlihat ada sebuah sempoa yang terbuat dari emas.

Dalam waktu singkat sempoa itu beradu dengan sempoa besi milik Xi Wu Hou.

"TAK! TAK!" kedua sempoa itu beradu, lalu dengan cepat Xi Wu Hou mundur, tapi tangannya sempat tergetar sehingga terasa sakit. Waktu itu penonton merasa senang, tiba-tiba Xi Wu Hou mengoyangkan kedua tangannya.

Berpuluh-puluh biji sempoa menyerang ke arah Xin Wu Er! Rasa senang penonton berubah menjadi terkejut!

Tiba-tiba kedua tangan Xin Wu Er mengayun, semua biji sempoa emasnya juga meluncur kedepan.

Biji sempoa besi dan sempoa emas di tengah-tengah udara saling bertabrakan dan terjatuh.

Xi Wu Hou marah, dia melipat rangka sempoanya, dan sempoa itu berubah menjadi sebuah pecut dan diayunkan ke arah Xin Wu Er!

Rangka semopa emas milik Xin Wu Er tiba-tiba dilipat menjadi bentuk batang emas dan jumlahnya ada 5, batang emas itu sangat tajam, lalu dilemparkan ke arah Xi Wu Hou!

XiWu Hou terkejut!

Pecut besi yang sudah diayunkan ditarik kembali menjadi tabir yang melindungi tubuhnya.

Begitu Xi Wu Hou memukul kelima benda tajam itu, kepalan Xin Wu Er sudah tiba di depannya!

Xi Wu Hou hanya mendengar suara BUG, dan dia merasa langit dan bumi seperti berputar. Dia terjatuh 7 kaki jauhnya. Setelah agak lama dia baru bisa bangun!

Begitu Xin Wu Er menang, para penonton bersorak. Selangkah demi selangkah Xin Wu Er mendekati Xi Wu Hou, Xi Wu Hou lalu dengan cepat berkata, "Jangan menyerang, jangan menyerang, aku terima kalah."

Sorakan penonton bertambah riuh rendah!

Xin Wu Er sambil tertawa mendekati Xi Wu Hou untuk memapahnya berdiri, lalu berkata, "Mari, kita sama-sama turun panggung." ^

Xi Wu Hou menjawab dengan wajah cemberut, "Baiklah!"

Tapi tidak terduga dia tiba-tiba mencengkram bahu Xin Wu Er dan mematahkan tulangnya,  setelah  itu  dia memukul perut Xin Wu Er. Xin Wu Er kesakitan dan membungkuk seperti udang. Xi Wu Hou tertawa dan mundur dari sana. Dia masih mengangkat tangannya dan siap memukul lagi.

Xin Wu Er mencoba bertahan dengan tangan kirinya untuk menahan serangan tangan kanan Xi Wu Hou!

Tangan kanan Xi Wu Hou memegang tulang bahu kanan Xin Wu Er. 

Saat itu juga, kaki Xin Wu Er bergerak menendang. Dia menendang ke arah alat vital Xi Wu Hou!

Wajah Xi Wu Hou berubah menjadi kehijuan dan berkerut seperti cakue! Dia membuka mulut tapi tidak mengeluarkan kata-kata.

Setelah itu diapun roboh dan tidak bisa bangun lagi.

Xin Wu Er memuntahkan darah, pelan-pelan dia berjongkok, dan dengan terengah-engah berkata, "Kau orang licik, tidak tahu kebenaran, kau tidak pantas memakai sempoa. "

Suara Shi Wen Sheng terdengar seperti guntur yang  bergemuruh, "Pertarungan antara pihak Song dan pihak Jin pada babak kedua, hasilnya adalah dimenangkan oleh Sempoa Emas,XinWuEr!"

Kata-kata kemenangan ditukar dengan nyawa dan darah serta penghinaan.

0-0-0
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Panji Akbar Matahari Terbenam Bab 13 : Biksu Hua Hui yang lain"

Post a Comment

close