Panji Akbar Matahari Terbenam Bab 06 : Sekuntum bunga yang memabukan

Mode Malam
BAB 6 Sekuntum bunga yang memabukan

Bersamaan runtuhnya tembok, Pangeran Jin tampak membalikkan tubuhnya, saat itu dia melihat seorang pak tua berambut dan beralis putih serta mengenakan baju panjang berwarna kuning. Kedua matanya bersemangat, dia tampak berwibawa. Tapi tidak tampak kalau dia sedang marah. Dia melangkah mendekati mereka. Pak tua itu tidak marah karena temboknya runtuh, setiap langkahnya tampak bersemangat dan gagah. Langkahnya tampak sangat sempurna. Setiap langkahnya menunjukkan kalau dia siap menyerang sekaligus bertahan.

Mata Pangeran Jin tampak bercahaya. Dia segera mendekati pak tua itu.

Pak tua itu melihat tembok yang sudah runtuh, dengan sikap santai dia bertanya, "Siapa yang telah merusak tembokku?"

"Anak buahku."

Pak tua itu mengangkat kepalanya, sorot matanya seperti mengandung listrik, tapi wajahnya tampak ada tawa, dengan pelan dia berkata lagi, "Pesilat terkuat dalam pasukan kerajaan Jin, apakah Tuan adalah Pangeran Jin?"

Pangeran Jin tidak tertawa, wajahnyapun tampak datar, tapi matanya tampak bercahaya dan beracun, "apakah Tuan jago silat nomor satu di Huai Bei, Long Zhai Tian?"

Pandangan mata mereka bertemu, seperti terdengar suara pedang yang beradu di udara.

0-0-0

Waktu itu muntahan darah Wo Shi Shui menyembur ke arah Xia Hou Lie, dan Ge La Tu yang sedang melancarkan 70 jurus singkupnya menghadapi Shen Tai Gong.

Kecepatan Wo Shi Shui seperti kilat, hanya dalam sekejap dia menyerang ke arah Xia Hou Lie dengan 12 kepalannya.

Pada saat darah Wo Shi Shui menyembur ke arah Xia Hou Lie, karena tidak sempat menghindar terpaksa dia menggunakan bajunya untuk menahan semburan itu. Dengan menggunakan waktu yang begitu singkat Wo Shi Shui bisa mengunakan kesempatan ini untuk menyerang Xia Hou Lie.

Sekarang Xia Hou Lie baru mengerti pada saat Wo Shi Shui mengganti kepalannya menjadi telapak tangan, saat itu Wo Shi Shui sedang terluka parah, tapi Wo Shi Shui sudah memperhitungkan semuanya, kalau diperhitungkan dengan seksama, maka Xia Hou Lie akan kalah.

Xia Hou Lie dengan cejiat menendang kepalan tangan Wo Shi Shui, tendangan dilakukan sebanyak 12 kali berturut-turut, tapi kepalan Wo Shi Shui sudah memukul perut Xia Hou Lie, rasa sakit membuat Xia Hou Lie meloncat. Tapi dia tetap memuntahkan darah.

Pada saat yang sama, Xin Wu Er sedang bertarung dengan Xi Wu Hou. Hu Shang Ke dan Hu Shang Ge bertarung dengan Ning Zhi Qiu, Shen Tai Gong sedang berputar-putar melawan singkup Ge La Tu. Tiba-tiba di belakang terdengar ada suara deru angin, dengan cepat Shen Tai Gong berguling ke bawah, tapi pinggiran bajunya sudah sobek, ternyata Wan Yan Zhu menyerangnya dari belakang!

Pada saat Shen Tai Gong menghindar, singkup sudah berada di depan matanya, terpaksa dia menghindar dengan meloncat lagi. Kelima jari Wan Yan Zhu seperti baja mencoba mencengkramnya, dengan kail ikannya Shen Tai Gong pun menusuk Wan Yan Zhu. Wan Yan Zhu berbalik dan mencengkram pegangan kail Shen Tai Gong. Mereka tampak berada di tengah udara kemudian mendarat. Shen Tai Gong baru saja mendarat tapi dia merasa kakinya sudah mati rasa, ternyata kakinya telah terkena butiran biji tasbih oleh Ge La Tu tepat di jalan darahnya. Akhirnya Shen Tai Gong terjatuh, singkup Ge La Tu tampak akan memukulnya!

Xia Hou Lie yang berada di sebelah sana juga tampak berada dalam bahaya. Begitu pula dengan Shen Tai Gong yang berada di sebelah sini.

0-0-0

Begitu  Pangeran  Jin dan pak  tua itu  saling menyapa, mereka tampak sudah bersalto.

Pangeran Jin bersalto ke arah Wo Shi Shui, saat itu Wo Shi Shui tidak melihatnya, dan Pangeran Jin akan memukulnya!

Tapi Wo Shi Shui merasa kalau Pangeran Jin itu sudah menghilang dari tempatnya,, dari kiri, kanan, dan belakang, sepertinya bayangan Pangeran Jin sedang mendekatinya.

Dia segera menarik kembali kepalannya dan bersiul panjang, kemudian meloncat ke udara lalu turun di tempat yang letaknya beberapa meter jauhnya. Pada saat dia melihat Pangeran Jin berada di depan, lengan bajunya tidak tampak bergerak.

Pak tua itu bergerak ringan seperti sehelai daun, cepat seperti hembusan angin. Pada saat mengeluarkan serangan, dia seperti seekor naga yang sedang marah. Tiba-tiba dia mencengkram singkup Ge La Tu, didorongnya sekali kemudian ditarik lagi. Ge La Tu sudah turun dan mundur, pak tua itu membalikkan tubuh, dia sudah mencabut pedangnya. Pedang tampak bersinar sehingga membuat mata menjadi silau. Wan Yan Zhu tidak berani melihat, dia menutup mata dan dengan cepat mundur dari sana. Pak tua itu tampak mengangkat kakinya dan membuka totokan kaki Shen Tai Gong. Shen Tai Gong segera meloncat dan berteriak, "Pendekar Long!"

Pak tua itu mengangguk, dia tidak melihat ke arah Shen Tai Gong, matanya terus menatap Pangeran Jin.

Karena saat itu Pangeran Jin pun sedang menatapnya, tampak mata Pangeran Jin seperti mata seekor srigala.

Xia Hou Lie dan Shen Tai Gong sudah berhenti bertarung. Wo Shi Shui, Ge La Tu, dan Wan Yan Zhu masih tampak terengah-engah.

Mereka melihat Pangeran Jin dan Long ZhaiTian.

Xin Wu Er, Xin Wu Hou, Ning Zhi Qiu, dan dua bersaudara Hu Shang pun sudah berhenti bertarung. Xin Wu Er dan Ning Zhi Qiu memberi hormat kepada Long Zhai Tian, "Kakak datang tepat pada waktunya."

"Adik berdua sudah dibuat kaget oleh mereka," kata Long Zhai Tian.

"Kalau Kakak tidak datang tepat pada waktunya, mungkin nyawaku sudah berada di tangan mereka," jawab Ning Zhi Qiu. "Kalau bukan karena kedua pendekar itu datang membantu, aku dan Lao Si sudah tidak bernyawa lagi," kata Xin Wu Er.

Long Zhai Tian memberi hormat kepada Wo Shi Shui dan Shen Tai Gong, "Mungkin Anda berdua adalah pendekar yang selalu membela kebenaran dan selalu menolong sesama orang, bukankah begitu Pendekar Wo dan Tuan Shen?"

Shen Tai Gong tertawa, "Jangan terlalu memuji, jangan telaki memuji, pedang Anda tadi benar-benar sangat hebat."

"Apakah Anda adalah Pendekar Long?" tanya Wo Shi Shui. "Benar!" jawab Long Zhai Tian.

"Apakah Anda telah bertemu dengan Kakak Fang?" tanya Wo Shi Shui.

"Apakah yang Pendekar maksud adalah Tuan Muda Fang Zhen Mei? Kami sudah berjanji untuk bertemu dan aku sudah lama menunggunya, tapi tampaknya dia belum sampai," Long Zhai Tian sedikit terpaku.

"Dia berangkat bersama-sama dengan kami dari Jiang Nan, seharusnya dia sudah tiba 3 hari lebih awal."

Long Zhai Tian tertawa kecut, "Sayang kami belum bertemu, kalian bertiga jauh-jauh datang ke Huai Bei, ada tujuan apa?"

"Jenderal Yu memimpin para prajurit berperang dengan anjing Jin, mana mungkin kami berpangku tangan begitu saja? Kami sengaja datang untuk bertemu dengan Tetua Long, lalu bersama- sama membantu Jenderal Yu, mengusir anjing Jin dari Huai Bei!" jawab Wo Shi Shui.

Kata-kata Wo Shi Shui baru selesai, Long Zhai Tian, Xin Wu Er, dan Ning Zhi Qiu merasa terkeiut. Wajah Pangeran Jin, Xia Hou Lie, Ga La Tu, Wan Yan Zhu, Xi Wu Hou, Hu Shang Ge, dan Hu Shang Ke tampak berubah.

Ucapannya begitu penting tapi Wo Shi Shui dengan mudah melontarkannya, semua orang di sana merasa terkejut. Ada yang membencinya karena telah melukai orang, ada yang menyalahkannya karena telah membuka rahasia, ada yang merasa dia terlalu gegabah melontarkan kata-kata tanpa berpikir dulu.

Hanya Shen Tai Gong yang tampak santai, seperti Wo Shi Shui pada saat sekarang dan dalam keadaan seperti itu melontarkan kata-kata yang mengejutkan orang.

0-0-0

Pangeran Jin dan Long Zhai Tian ditakdirkan menjadi musuh bebuyutan, walaupun usia mereka terpaut jauh.

Dengan dingin Pangeran Jin berkata, "Apakah kalian ingin berbuat seperti telur membentur batu, atau menjadi seekor kecoa menghadang kereta?"

Long Zhai Tian tertawa dan berkata, "Prinsip bangsaku adalah, kalau tidak diserang maka kami tidak akan menyerang dulu, kalau bangsamu keluar dari wilayah negaraku, maka semua persoalan akan selesai. Karena itu aku berharap pada saat Pangeran pulang nanti bisa menyampaikan kata-kata ini kepada pasukan Tuan."

Pangeran Jin tertawa dingin, "Aku bisa saja pulang tapi aku takut malah kau yang tidak memiliki nyawa untuk pulang."

Long Zhai Tian tertawa, "Aku hidup atau mati tidak perlu kau pikirkan, aku hanya berharap Pangeran Jin mengerti, rakyat dan prajurit dua negara ini jangan sampai berperang. Ini akan menghancurkan kehidupan."

Pangeran Jin mengangguk, "Kalau negara Song menyerah, bukankah tidak akan terjadi apa-apa?"

Long Zhai Tian tidak tertawa lagi diapun berkata, "Lebih baik negara Jin saja yang menyerah."

Wajah Pangeran Jin tampak berubah, dia mengangkat tangannya memanggil seseorang, Xi Wu Hou dengan cepat menghampiri Pangeran Jin, Pangeran Jin mengeluarkan panji negara Song, meletakkan panji itu di bawah dan mengmjak-injaknya, lalu dia berkata, "Panji ini kudapatkan setelah aku membunuh tentara Song pada saat aku berada di Cai Shi. Yang perlu kau ketahui, pada saat berperang di Cai Shi, adikmu yang bernama Long Ying Qian sudah mati. Mungkin karena dia menjaga panji kain perca ini kemudian mati, apakah sekarang kau berani merebutnya?"

Long Zhai Tian tertawa, "Apa yang perlu ditakutkan?"

Langit seperti ada naga yang sedang bermain, dan naga itu terus menyerang Pangeran Jin.

0-0-0

Pada saat Long Zhai Tian terbang ke atas, Wo Shi Shui berkata kepada Shen Tai Gong, "Kalau saja Fang Zhen Mei ada di sini, kita pasti akan menang."

Shen Tai Gong pernah bertarung dengan Pangeran Jin, dia berkata, "Apakah kau bisa mengalahkan anjing Jin itu?"

"Aku hanya pernah bertarung satu jurus dengannya," jawab Wo Shi Shui.

"Bagaimana rasanya?"

"Aku tidak bisa mengalahkannya," Wo Shi Shui berkata dengan perlahan.

"Benar juga, kalau saja sekacang ada Fang Zhen Mei, keadaan akan lebih baik/tapi mengapa dia sampai sekarang belum tiba?" Shen Tai Gong bertanya dengan pelan.

0-0-0

Sebenarnya setengah hari yang lalu Fang Zhen Mei sudah tiba.

Bunga-bunga musim semi baru saja mengeluarkan tunas-tunas hijaunya dan memenuhi batang pohon bunga itu. Segarnya udara di musim semi berhembus sepoi-sepoi dan meniup Fang Zhen Mei, udara benar-benar terasa sangat sejuk.

Bunga yang berada di dahan adalah bunga yang tumbuh, bunga yang berada dijalan adalah manusia yang sedang berjalan. Fang Zhen Mei menunggang kuda dengan santai, dia berjalan menuju rumah Ning Zhi Qiu. Waktu itu ada seorang gadis mengenakan baju berwarna merah dan sedang tertawa kepadanya. Dia membawa sebuah keranjang yang dipenuhi dengan bunga, dia berjalan mendekati Fang Zhen Mei.

Fang Zhen Mei menghela nafas, ternyata gadis itu begitu cantik, mengapa dia tidak berada di rumah saja menikmati keindahan bunga? Malah keluar untuk berjualan bunga?

Fang Zhen Mei teringat pada seorang penjaja yang berteriak dijalan, "Asah pisau! Asah pisau!"

"Benang warna! Benang warna!" "Kue! Kue!"

Teriakannya terdengar sedih, dan wajah mereka dipenuhi dengan keriput, orang tua yang tidak memiliki rumah untuk pulang....

Hati Fang Zhen Mei ikut merasa sedih, seperti musim semi yang baru berganti, setelah melalui musim dingin yang tidak ada habisnya.

Tapi sekarang sudah musim semi.

Walaupun gadis itu tidak tertawa tapi wajahnya tampak manis, pada saat dia tertawa, wajahnya bertambah manis lagi, seperti air yang mengalir di musim semi.

Terdengar gadis itu dengan suara manja bertanya, "Tuan Muda, apakah Anda mau membeli sekuntum bunga ini untuk diberikan kepada seorang nona? Nona itu tentu akan merasa sangat senang. Tuan Muda, belilah sekuntum saja bungaku ini!"

Fang Zhen Mei tertawa, gadis itu tampak sangat cantik, dan memiliki mulut yang indah, semua orang pasti akan membeli bunganya.

Fang Zhen Mei memasukkkan beberapa keping uang logam ke dalam keranjang, gadis itu terlihat lebih senang lagi, tampak giginya yang putih, diapun berkata, "Terima kasih, Tuan Muda, bunganya bisa Anda pilih!"

Fang Zhen Mei tertawa, "Aku sedang terburu-buru, tidak ada waktu menikmati bunga, jual lah bunga ini kepada orang lain, aku sudah melihatnya itu sama juga dengan aku sudah membelinya."

Gadis itu dengan tersenyum bertanya, "Cuaca begitu bagus, mengapa Tuan Muda terburu-buru harus pergi? Bukankah cuaca seperti ini cocok untuk berjalan-jalan? Di daerah Huai Bei banyak pemandangan indah. Dari nada bicara Tuan, apakah Tuan MUda datang dari Jiang Nan?"

Fang Zhen Mei menatap langit dan menarik nafas, "Walaupun pemandangannya bagus tapi kalau tidak dipertahankan, pemandangan seperti ini akan diambil orang lain."

Dia tertawa kepada gadis itu dan berkata, "Aku memang datang dari Jiang Nan, aku masih ada perlu. Nona, aku pamit dulu."

Gadis itu menghalangi langkah Fang Zhen Mei dengan tangannya, karena takut kudanya akan menabrak gadis itu, maka dia segera menghentikan kudanya. Gadis itu dengan wajah cemberut berkata, "Anda sudah membayar, apakah Anda tidak berniat untuk mengambilnya walaupun setangkai?"

Fang Zhen Mei tertawa kecut, dia memberikan tanda bahwa dia tetap akan pergi, gadis itu dengan terburu-buru berkata, "Hei! Hei! Aku akan memberikan kepada Tuan sekuntum bunga, bagaimana? Apakah Tuan tega menolaknya?" setelah berkata seperti itu wajahnya menjadi merah, di bawah cahaya matahari dia benar- benar tampak sangat polos.

Fang Zhen Mei menarik nafas dan berkata, "Mana mungkin aku menolak bunga pemberian Nona?"

Gadis itu memberikan bunga dengan tangan kecilnya, bunga itu berwarna putih dan berputik merah. Pergelangan tangannya yang putih terpasang gelang giok dan Ma Nao (getah pohon pinus yang sudah membeku seperti batu) yang berwarna merah.

Sambil tertawa Fang Zhen Mei menerimanya, dia bersiap akan pergi, tapi gadis itu terburu-buru berkata lagi, "Tuan Muda tidak mau melihat dulu bunga pemberianku, bahkan Tuan Muda tidak mau mencium wanginya, malah mau pergi begitu saja!"

Fang Zhen Mei melihat gadis itu menunggu, kegelisahan hatinya membuat gadis itu tampak lebih cantik lagi. Dengan- rasa menyesal Fang Zhen Mei tertawa dan mencium bunga itu. Dia merasakan ada wangi yang menusuk penciumannya. Di dunia ini sepertinya tidak ada bunga yang lebih harum dibandingkan dengan harumnya bunga ini. Dia memuji, "Sangat harum...." Tiba-tiba wajahnya berubah warna, sepertinya harum itu bukan berasal dari harum bunga ini, melainkan dari sekelilingnya, terdengar suara BLUG, ternyata Fang Zhen Mei terjatuh dari kudanya.

Setelah Fang Zhen Mei terjatuh dari kudanya, tampak dari sebuah gang muncul 4 orang dengan gerakan secepat kilat mereka menghampiri Fang Zhen Mei, mereka berbaju abu, sebelum Fang Zhen Mei terjatuh kebawah, mereka telah menyambutnya, kemudian membopong dan membawanya ke sebuah kereta beratap. Gadis itu dengan cepat mengikuti mereka masuk. Kereta mulai berjalan. Empat ekor kuda terus berlari, hanya dalam waktu singkat sudah meninggalkan kota Xia Guan.

Pejalan kaki yang ada di sekitar sana hanya melihat kalau Fang Zhen Mei sudah tidak berada di atas kudanya. Di jalan itu hanya tampak seekor kuda tapi tidak ada penunggangnya, ada sekeranjang bunga, dan sekuntum bunga putih yang sangat harum. Zhu A Nu yang berada di dalam gang sebelah barat dan si Lincah yang berada di dalam kelenteng, setelah mencium bunga itu mereka mabuk selama 5 hari 5 malam. Setelah mereka sadar dari mulut tabib mereka baru tahu kalau nama bunga itu adalah Bai Ri Zui (Seratus hari mabuk). Bunga itu berasal dari Tibet, ditambah dengan olesan wangi-wangian, sekali mencium baunya pasti akan mabuk selama beberapa hari dan tidak ada penawarnya.

Coba tebak berapa hari Fang Zhen Mei akan tertidur?

0-0-0 Wo Shi Shui dan Shen Tai Gong sudah tidak bercerita tentang Fang Zhen Mei lagi, karena mata mereka sedang sibuk dan mulut mereka tidak ada waktu untuk bicara.

Ning Zhi Qiu dijuluki Long Jin Jian, berarti dia memiliki ilmu silat sangat lihai, tapi kalau dibandingkan dengan Long Zhai Tian, dia tidak ada apa-apanya.

Pedang Long Zhai Tian seperti naga yang sedang bermain. Shen Tai Gong baru mengerti mengapa Long Zhai Tian di Huai Bei dijuluki sebagai orang nomor satu.

Orang-orang dari garis hitam dan putih mengagumi Long Zhai Tian, Ding Dong Ting dari Huai Bei Di Yi Jia, Li Long Da dari kantor Biao Huai Yang, pejabat kota Xia Guan, Ning Zhi Qiu, Sempoa Emas Xin Wu Er, Tuan Sempoa Bao Xin Ding, memanggilnya dengan sebutan kakak tertua.

Ternyata ilmu pedang Long Zhai Tian benar-benar sangat tinggi sehingga membuat orang terkagum-kagum padanya.

Shen Tai Gong merasa kalau dia bertarung dengan Long Zhai Tian, paling-paling dalam 30 jurus dia sudah kalah.

Shen Tai Gong teringat pada kemampuan Wo Shi Shui, mungkin kalau Wo Shi Shui bisa bertahan sampai 50 jurus, tapi belum tentu bisa melewati 100 jurus.

Wo Shi Shui tampak merasa khawatir. Karena dia tahu walaupun Long Zhai Tian memiliki ilmu silat yang sangat tinggi dan memiliki ilmu pedang yang bagus, selain itu pengalamannya sangat banyak, tapi Wo Shi Shui tahu Long Zhai Tian tidak akan bisa bertahan lebih dari 500jurus Pangeran Jin.

Ilmu pedang Long Zhai Tian seperti pelangi, tapi tetap tidak bisa menahan serangan dari Pangeran Jin.

Dan Wo Shi Shui melihat Pangeran Jin tidak mempedulikan jurus pedang Long Zhai Tian.

Bertarung dengan pesilat tangguh seperti Long Zhai Tian, bagi Pangeran Jin tidak ada artinya, diam-diam Wo Shi Shui mengkhawatirkan keadaan Long Zhai Tian.

Wo Shi Shui takut, saat memasuki jurus ke-200, Long Zhai Tian mulai tampak terdesak.

Wo Shi Shui sedang berpikir, kalau Pangeran Jin bertarung dengan Fang Zhen Mei, siapa yang akan menang?

Di mana Fang Zhen Mei sekarang?

0-0-0

Sekarang Fang Zhen Mei berada di dalam sebuah kereta. Kereta itu sedang melaju meninggalkan kota Xia Guan.

Kusir kereta itu adalah seorang pak tua berbaju abu, wajahnya berbentuk seperti uang. Di dalam kereta ada 4 orang, selain gadis berbaju merah, masih ada 3 orang lainnya berbaju abu.

Orang berbaju abu pertama masih tampak muda, dia diam dan tidak banyak bicara. Orang berbaju abu kedua tampak lebih dewasa, wajahnya biasa-biasa saja. Orang berbaju abu ketiga, kurang lebih berusia 40-50 tahun, dia memelihara janggut panjang.

Orang berbaju abu ketiga mengeluarkan jempolnya, dia sedang memuji, "Adik kecil, kau sangat lihai, pendekar terkenal dari Jiang Nan pun setelah bertemu dengan Adik, masih bisa tertipu, dia benar-benar sangat bodoh."

Orang berbaju abu kedua ikut memuji, "Orang ini entah kapan pernah bertemu dengan putri kecil "

Orang berbaju abu pertama dan yang paling muda segera berkata, "Ehh!" Wajah laki-laki setengah baya itu segera memucat, dia menundukkan kepalanya dan berkata, "Adik keempat pantas mati, aku tidak sengaja memanggil nama adik kecil. "

Pemuda itu tampak melotot, nafsu membunuhnya terasa dan berkata, "Kau berani memanggilnya lagi!"

Laki-laki setengah baya itu segera menggelengkan kepalanya, "Aku tidak berani, tidak berani "

Mata pemuda itu sarat dengan nafsu membunuh, dia melihat setiap sudut kereta, kemudian dengan dingin berkata, "Sebelum berangkat, apa yang telah guru pesan kepada kita? Kalau kalian tidak berhati-hati dan tidak menjaga mulut, terpaksa aku akan memberikan hukuman pada kalian."

Laki-laki setengah baya dan laki-laki yang sudah dewasa itu secara bersamaan menjawab, "Siap!"

Mata pemuda itu berkilat tajam, dia melihat Fang Zhen Mei yang masih tergeletak di bawah, dengan pelan dia berkata, "Daripada kita khawatir dia akan melarikan diri, lebih baik kita bunuh saja dia sekarang, Adik ketiga lakukanlah!"

Laki-laki setengah baya itu segera memberi hormat dan membalikkan tubuh Fang Zhen Mei, dia sudah mengangkat telapaknya, tiba-tiba gadis berbaju merah itu membentak,

"Nanti dulu!"

Laki-laki setengah baya itu sepertinya takut kepada adik seperguruannya, dia tidak berani menyingkirkan tangannya, dia menolehkan kepalanya melihat pemuda itu, mata pemuda itu yang bersorot tajam, kemudian berubah menjadi tawa, dan bertanya, "Adik seperguruan, ada apa denganmu?"

Gadis berbaju merah itupun sepertinya takut kepada pemuda itu, dengan suara kecil dia berkata, "Kakak tertua, guru hanya menyuruh kita menangkap orang ini, tapi tidak menyuruh kita untuk membunuhnya, sekarang kita berhasil menangkapnya, meftgapa harus membunuhnya?. .Apalagi... aku.. .merasa.. .mera sa "

Dengan lembut kakak tertua itu tertawa, "Merasa menang tanpa harus menggunakan kekuatan?" sambil bicara dia melihat adik seperguruannya, gadis itu merasa ada hawa dingin yang menerpanya.

Wajah kakak tertuanya berubah seram, dia bertanya, "Adik, sebelum kita berangkat, guru yang menyuruhmu atau menyuruhku?"

Wajah adik seperguruannya tampak berubah, dia tidak bisa menjawab, kakak tertuanya membentak, "Kita telah berkelana di dunia persilatan dan yang paling kutakuti adalah orang seperti dirimu yang mempunyai hati lemah, Adik kau harus menjaga martabatmu, apakah hanya karena seorang yang tidak berdaya seperti ini. "

Tiba-tiba kereta yang sedang melaju berhenti, terdengar ada suara orang marah-marah, begitu tirai dibuka, masuk beberapa ekor a3ram jantan dan ayam betina. Tubuh kakak tertua itu dipenuhi dengan kotoran ayam, dia membentak, "Adik kedua, apa yang telah terjadi?"

Dari luar terdengar ada yang menjawab, "Ada musuh yang datang menyerang!"

Kemudian terdengar suara senjata beradu, bersamaan waktu itu masuk 3 orang ke dalam kereta. Mereka ternyata ingin menolong Fang Zhen Mei. Kakak tertua itu memutar tangannya dan ketiga orang yang masuk itu segera terlempar keluar kereta.

Adik ketiga dan keempat sudah mencabut golok dan pedangnya, mereka keluar dari kereta, tampak di jalan itu sudah ada orang yang berjumlah 20 orang lebih, adik ketiga membentak, "Siapa kalian?"

Laki-laki yang berwajah penuh janggut mengangkat goloknya dan membentak, "Anak buah Jenderal Yu Yun Wen dari negara Song, Zhang Zhen Que, anjing Jin, cepat lepaskan Fang Zhen Mei!"

Adik ketiga dan keempat sudah membuka tirainya, kakak tertua itu pelan-pelan berjalan keluar dari kereta, dengan wajah penuh tawa dia berkata, "Ternyata orang yang mengantar kematiannya sudah datang." Adik kedua, ketiga, dan keempat tertawa terbahak- bahak, kelakuan mereka benar-benar seperti orang gila.

Kata kakak tertua, "Apakah hanya dengan beberapa ekor ayam, kalian bisa merebut kembali orang yang kalian cari? Adik kedua, kemarilah, bunuh Fang Zhen Mei dan perlihatkan kepada anak buah Jenderal Yu!"

Adik kedua segera mencengkram baju Fang Zhen Mei dan siap membacok, Zhang Zhen Que membentak, dan keduapuluh orang itu langsung terbagi dua lalu menyerang ke arah kereta beratap itu!

Tapi kereta itu dijaga oleh golok panjang milik adik ketiga dan pedang panjang milik adik keempat, Tidak ada seorangpun yang sangup naik ke dalam kereta, dengan cepat Zhang Zhen Que mengeluarkan goloknya dan menyerang ke arah adik keempat.

Tapi pada saat itu kakak tertua sudah berada di depan adik keempatnya, pedang belum sempat dikeluarkan dari sarungnya, dia sudah memotong serangan Zhang Zhen Que.

Tampaknya Fang Zhen Mei akan segera mati di bawah pisau itu. Terdengar suara TING, sebuah pedang pendek menahan pisau yang siap menusuk Fang Zhen Mei. Pak tua itu tampak bengong dan berkata, "Putri kecil.. .Adik.. .kau. "

Si adik menarik kembali pedangnya dan berkata, "Maafkan aku, Kakakkedua."

Dia membalikkan tubuh dan melihat kakak tertua, saat itu dia berhasil membuat anak buah Jenderal Yu, yaitu Zhang Zhen Que turun dari kereta, tapi kedua matanya seperti sebilah pisau terus melihat ke arah adik terkecilnya.

Kata adik terkecil itu, "Kakak, aku mempunyai sebuah permintaan, apakah Kakak akan mengabulkannya?"

"Apakah kau memintaku supaya melepaskannya?"

"Aku tidak berani meminta itu, aku dengar orang ini sangat terkenal karena selalu membela kebenaran dan sangat dikagumi oleh kalangan persilatan, kita sudah berhasil menangkapnya dengan cara licik, lebih-lebih tidak boleh membunuhnya pada saat dia sedang tidak sadar, kalau tidak kita tidak akan bisa menahan amarah orang-orang persilatan. Karena itu aku hanya berharap lebih baik sekarang kita membawanya pulang, apa yang akan kita  lakukan kepadanya nanti, biarkan guru dan paman guru yang memutuskannya."

Kakak tertua dengan dingin berkata, "Apakah kau sudah lupa pada cerita tentang kekalahan Song Xiang Gong? Aku akan membunuhnya, apa hakmu mencegahku?"

Pada jaman Chun Qiu dulu, ada seorang raja baik dia bernama Song Xiang Gong, para prajuritnya yang berada di Hong Shui diserang oleh prajurit kerajaan Chu. Saat itu para prajurit Chu sedang menyeberang sungai dengan tujuan akan berperang dengan negara Song. Penasihat memberi petunjuk supaya Song Xiang Gong membawa prajuritnya menyerang tentara Chu, tapi Song Xiang Gong tidak setuju. Tidak lama kemudian para prajurit sudah mulai menaiki daratan, hanya saja belum seluruh pasukan Chu bergerak. Penasihat raja memberi nasihat lagi supaya prajurit Song mengambil kesempatan ini untuk menyerang tentara Chu, tapi Song Xiang Gong tetap tidak mengijinkan tentaranya bergerak.

Kata Song Xiang Gong, "Aku akan menunggu hingga semua prajurit Chu berkumpul, dan hatiku baru mengijinkan tentaraku melakukan serangan."

Pada peperangan itu tentara Song mengalami kekalahan fatal, Song Xiang Geng pun terluka.Terakhir dia meninggal karena luka itu. Tapi sebelum meninggal dia masih memberikan pendapatnya, kalau berperang jangan pada saat orang sedang tidak siap, tidak boleh menangkap orang yang sudah beruban. Walaupun sekarang sudah menjadi rakyat yang tidak mempunyai negara, tapi kita tetap tidak boleh menyerang musuh yang tidak siap!

Maksud kakak tertua adalah, apakah adiknya akan berperilaku sama seperti Song Xiang Gong yang akan menunggu Fang Zhen Mei sadar baru membunuhnya?

Gadis itu terdengar menarik nafas, "Kakak tertua, aku selalu menghormatimu, karena kau adalah seorangn pahlawan, tapi kalau—"

Wajah Da Shi Xiong (kakak tertua) tampak berubah, dia mengeluarkan sebuah plakat hitam milik perkumpulannya dan berkata, "Plakat ini mewakili perintah ketua perkumpulan, apakah kau berani melanggarnya?"

Xiao Shi Mei (adik seperguruan) segera berlutut, "Murid tidak berani." Matanya tampak berkaca-kaca, dan diapun lari ke dalam hutan. Dari jauh terdengar suara tangisannya, dan suara tangisannya semakin lama semakin menjauh.

Er Shi Di (adik kedua)nya dengan cepat memanggil, "Xiao Shi Mei, jangan pergi!"

Da Shi Xiong dengan dingin berkata, "Dia ingin bergabung dengan adik kelima, biarkan dia pergi. Er Shi Di (adik kedua), cepat bunuh Fang Zhen Mei!"

Er Shi Di dengan sikap hormat berkata, "Siap!"

Dua puluh orang lebih laki-laki masih berada di luar, mereka terus menyerang dan mencoba masuk ke dalam kereta. San Shi Di (adik ketiga) dan Si Shi Di (adik keempat) masih tampak tenang melayani mereka. Mereka berhasil membuat para lelaki itu mundur, tampak ada dua orang yang terluka. Zhang Zhen Que sangat marah, tangan kiri dan kanannya menyerang Da Shi Xiong!

Dengan cepat pedang Da Shi Xiong menahan serangan Zhang Zhen Que, dan menahan serangan goloknya, kemudian dia mendorong, membuat Zhang Zhen Que keluar dari kereta.

Pada saat yang sama Er Shi Di sudah membawa golok dan siap memenggal kepala Fang Zhen Mei.

Zhang Zhen Que marah dan gerakannya menjadi terburu-buru, tampak dia bersalto di udara dan sekali lagi dia memaksa masuk ke dalam kereta. Serangannya begitu cepat, sama sekali tidak terbayangkan dalam pikiran Da Shi Xiong. Lalu dengan cepat dia menghadang Zhang Zhen Que yang saat itu sedang melemparkan goloknya ke arah Da Shi Xiong!

Da Shi Xiong menahan golok itu dengan pedangnya, dia menggetarkan golok itu sehingga golok itu melayang jauh. Kesempatan ini dipergunakan oleh Zhang Zhen Que untuk masuk ke dalam kereta.

Wajah Da Shi Xiong memancarkan nafsu membunuh, dia memerintah, "Bunuh mereka semua! Jangan ada yang tersisa, jangan ada yang hidup----" pedangnya dikeluarkan dan menyerang punggung Zhan Zhen Que.

Karena pikiran Zhang Zhen Que dipenuhi dengan keinginan untuk menolong Fang Zhen Mei, dia lupa menahan serangan Da Shi Xiong, dan sepertinya dia akan mati oleh pedang Da Shi Xiong.

Golok Er Shi Di sudah berada di leher Fang Zhen Mei, tapi entah mengapa, leher Fang Zhen Mei tiba-tiba berubah menjadi jari.

Kedua jari itu adalah ibu5 jari dan jari telunjuk, telah menahan golok Er Shi Di.

Er Shi Di sangat terkejut, tapi dengan kekuatan apapun goloknya tidak bisa ditarik kembali. Karena jari Fang Zhen Mei dengan kuat sudah menjepit goloknya. Kekuatan Fang

Zhen Mei seperti Gunung Wu Zhi (lima jari), yang dalam legenda telah menindih Sun Wu Kong, sekalipun Sun Wu Kong bisa berubah wujud sebanyak 72 kali, tapi tetap tidak dapat melepaskan diri dari Gunung Wu Zhi.

Begitu jari Fang Zhen Mei dikencangkan, golok itu patah, kedua jarinya menyentil, potongan golok tampak melayang.

Golok yang terputus itu menembus kereta yang gelap dan tepat mengenai pedang Da Shi Xiong yang sudah berada di depan punggung Zhan Zhen Que. Akhirnya Zhan Zhen Que lolos dari bahaya!

Da Shi Xiong tidak ingin membunuh Zhan Zhen Que, dia hanya benci melihat keadaan di dalam kereta, melihat Er Shi Di yang matanya membelalak dan bengong melihat goloknya yang sudah terputus. Fang Zhen Mei yang saat itu masih berada di dalam kereta tampak tertawa, dia menggerak-gerakkan tubuhnya dan pelan-pelan berdiri, kemudian dia berkata pada Er Shi Di, "Maaf, karena aku terburu-buru ingin menolong seseorang, malah membuat golokmu terputus."

Er Shi Di melotot pada Fang Zhen Mei, seperti melihat setan.

0-0-0

Wo Shi Shui dan Shen Tai Gong melihat ilmu pedang Long Zhai Tian yang sedang digerakan, mereka merasa sedang melihat dewa yang sedang memainkan jurus pedang Fei Long

Zhai Tian (naga terbang bermain dilangit) milik Long Zhai Tian.

Jurus Kang Long You Hui (Naga menyesal), sejurus demi sejurus dikeluarkan sehingga membuat Shen Tai Gong, Wo Shi Shui, dan orang-orang yang menyaksikan pertarungan itu merasa pusing dan melupakan bahwa pertarungan itu adalah pertarungan yang menentukan hidup dan mati.

Keganasan pedang Long Zhai Tian bagi Pangeran Jin seperti bukan sebuah ancaman.

Sesudah lewat 200 jurus, tetap tidak tampak siapa yang menang atau kalah.

Wo Shi Shui semakin merasa khawatir, karena dia tahu kalau Long Zhai Tian terus seperti itu dengan usianya sekarang, malah akan menguntungkan Pangeran Jin.

Tiba-tiba dari atas ada yang membentak, dua bayangan dengan cepat berpisah, lalu dengan terburu-buru mundur ke pinggir, setelah itu baru bisa berdiri tegak.

0-0-0
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Panji Akbar Matahari Terbenam Bab 06 : Sekuntum bunga yang memabukan"

Post a Comment

close