Panji Akbar Matahari Terbenam Bab 03 : Tiga pisau sakti

Mode Malam
BAB 3 Tiga pisau sakti

Dikota Wu Hu.

Di Huai Bei bila di rumah seseorang berani menggantungkan papan dengan huruf 'Huai Bei Shi Jia' berarti pemilik rumah itu sangat dihormati orang-orang, kalau tidak mempunyai ilmu hebat, mungkin dalam waktu dua jam papan itu akan diturunkan dan akan langsung dihancurkan oleh orang-orang.

Tapi ada sebuah papan yang ditulis dengan huruf emas itu, sekarang warna papan itu sudah pudar menjadi kekuningan. Papan itu sudah tergantung selama 20 tahun lamanya, tapi tidak ada seorangpun yang berani menurunkannya. Malah orang-orang merasa papan yang bertuliskan huruf 'Huai Bei Shi Jia' ini terlalu sedikit, maka orang-orangpun berkumpul dan memberikan sebuah papan yang bertuliskan 'Huai Bei Shi Jia Nomor Satu', papan itu tergantung di sebelah papan yang bertuliskan 'Huai Bei Shi Jia'.

Huai Bei Shi Jia adalah seorang pahlawan tua yang bernama Ding Dong Ting, gelar ini sudah berlangsung 40 tahun disandangnya, sekarang dia sudah tua, melihat papan itu dia selalu merasa puas.

Dia menggantung goloknya dan tinggal di rumah sejak lama, dan kedua putranya mengambil alih peran Huai Bei Shi Jia. Dan hidupnya sekarang malah lebih bersemangat!

Putra sulungnya dijuluki Hui Long Jin

Dao (Golok emas membelit naga) dia bernama Ding Jun Ai. Dia mewarisi ilmu dari ayahnya dan kesempurnaan ilmunya sudah mencapai 70-80%. Putra keduanya mendapat julukan Tu Long Shuang Dao (sepasang golok membunuh naga) dia bernama Ding Jun Qing, walaupun ilmu silatnya tidak setinggi kakaknya, tapi di daerah Huai Bei orang yang bersenjatakan golok jarang ada yang bisa melawannya. Ding Dong Ting sangat bangga kepada kedua putranya.

Hari itu tiba-tiba di bawah cahaya matahari terbenam, muncul 7 orang dengan wajah licik. Begitu dia menolehkan kepalanya untuk melihat, dia merasa orang-orang itu dalam waktu dekat akan menggoncangkan Huai Bei.

Dua orang pelayan Ding Dong Ting segera membalikkan badan dan berlari, yang satu memanggil dua bersaudara Ding, yang satu lagi lari ke dalam dan keluar membawa Jin Dao (Golok emas) milik tuan besarnya. Terlihat salah satu dari 7 orang yang berwajah mesum itu membawa sebuah panji dan berkata, "Apakah Anda adalah pahlawan tua Ding?"

Hati Ding Dong Ting seperti tertutup oleh bayangan hitam dan diapun mengangguk.

"Baiklah! Ini adalah panji bangsamu, benarkah?" Ding Dong Ting terdiam.

"Kami datang dari negara besar Jin, hari ini kami datang untuk mengunjungi pesilat tangguh bangsamu, kalau kalian bisa merebut panji Song ini, kami akan mengaku kalah."

"Kalau kalian ingin merebut panji mi, harus bertarung lebih dulu dengan kami, dan kalau kalian mati kami tidak akan bertanggung jawab. Dan kalau bangsa Song tidak tahu malu, bertarung dengan cara mengeroyok, bangsa Jin kami tidak akan mengijinkannya, maka aku berharap Huai Bei Di Yi Jia adalah seorang laki-laki sejati."

"Kalau kalian tidak berani bertarung, kalian harus berlutut di depan kami dan menginjak-injak panji Song ini. Pangeran kami sangat baik, beliau akan mengampuni nyawa kalian seperti melepaskan nyawa seekor anjing."

Kata-kata Xi Wu Hou belum selesai, tiba-tiba terdengar suara raungan, seseorang keluar dari balik pintu dan berteriak, "Hei tikus! Kami membunuh ayam tidak perlu menggunakan pisau pejagal sapi, kami tidak akan main keroyokan."

Satu orang lagi keluar dari dalam sambil berteriak, "Letakkan panji itu, biar aku yang memukul anjing Jin ini dan membuat  mereka berlutut sambil meminta ampun!"

Tadinya Ding Dong Ting ingin melarangnya tapi Ding Jun Qing masih muda dan dia sudah mengangkat sepasang goloknya.  Kakinya siap menendangXi Wu Hou.

Xi Wu Hou tertawa, dia memindahkan panji itu ke tangan kirinya, dia bertarung dengan tangan kanan. Walaupun golok Ding Jun Qing tampak tajam berkilau, tapi tidak bisa mengenai Xi Wu Hou, mereka bertarung satu lawan satu.

Ding Dong Ting takut kalau Ding Jun Qing tidak bisa mengalahkan Xi Wu Hou, maka dia membentak, "Ambil golokku!" Seorang pelayan memberikan sebuah golok kepada Ding Dong Ting dan diapun mengangkat goloknya dan berjalan ke arah mereka. Tiba-tiba dia merasa ada yang menghalangi langkahnya ternyata ada dua orang Mongolia didepannya. Dan kedua orang itu siap menubruknya!

Ding Dong Ting membentak dengan suara besar, golok emasnya sudah diangkat dan membacok ke arah dua orang Mongolia itu.

Ding Jun Ai melihat adiknya berada dalam bahaya dia segera mencabut golok emasnya, dan ingin membunuh Xi Wu Hou!

Keempat orang lainnya tetap diam di tempat, tidak mengeluarkan suara apapun untuk mencegah. Xi Wu Hou dengan satu tangan bertarung dengan Ding bersaudara, tapi tidak tampak siapa yang menang atau kalah.

Setelah bertarung sebanyak 20 jurus lebih, Xi Wu Hou melihat  Xia Hou Lie mengerutkan alisnya, hatinya bergetar. Dia melakukan tendangan berturut-turut, setelah itu dia mencabut sempoa besinya!

Dua bersaudara Ding melihat Xi Wu Hou mengeluarkan senjata yang telah membuat Xi Wu Hou terkenal, mereka segera berhati- hati dalam menyerang, mereka berdua bergabung dan menyerang Xi Wu Hou!

Sempoa besi di tangan Xi Wu Hou tampak berkilau, sempoa itu berhasil mematahkan serangan Ding bersaudara. Sempoa besi itu terus berbunyi membuat konsentrasi Ding bersaudara menjadi kacau. Ding Jun Ai yang lebih berpengalaman dia sadar bahwa bahaya sedang menghadang mereka, dia segera mengayunkan goloknya dan mundur, lalu dia membentak Ding Jun Qing, "Jangan dengar suara itu!"

Tapi suara sempoa besi itu telah membuat Ding Jun Qing pusing, tiba-tiba tampak kilauan sinar berwarna hitam, sepasang golok Ding Jun Qing telah dijepit oleh sempoa besi itu dan Xi Wu Hou menarik sempoa besinya, sepasang golok itu dijepit hingga patah, Xi Wu Hou segera memukul kepala Ding Jun Qing dengan sempoa besinya. Sempoa itu terbuat dari besi murni, dan pukulan itu telah memecahkan kepala Ding Jun Qing.

Ding Jun Ai melihat adiknya mati, dia merasa kaget dan juga marah, dia membentak, dengan jurus Du Pi Hua Shan (Memukul Hua Shan) dia siap membacok kepala Xi Wu Hou!

Ilmu silat Ding Jun Ai berada di bawah Xi Wu Hou, tapi kalau Ding Jun Ai bisa dengan tenang dan berhati-hati dalam menyerang, dalam 10 jurus dia tidak akan kalah. Tapi karena dia marah pikirannya tidak bisa berpikir dengan jernih. Xi Wu Hou mengangkat sempoa besinya, terlihat cahaya hitam berkilau, tampak 10 biji sempoa terbang keluar dan siap dilepaskan!

Ding Jun Ai sedang mengangkat tangannya, bagian dadanya'.sama sekali tidak terlindung. Melihat ada senjata rahasia terbang menyerangnya, telapak tangan kirinya berhasil menepis 3 biji sempoa, sedangkan 7 biji lainnya dengari cepat menancap ke jalan darah penting tubuhnya. Dia roboh dan langsung mati.

Ding Dong -Ting adalah pesilat terkenal, selama hidupnya dia selalu berkelana di dunia persilatan. Pendengarannya sangat tajam, matanyapun mengawasi ke sekelilingnya, dia melihat Ding Jun Ai dan Ding Jun Qing sudah mati. Matanya melotot seperti akan keluar. Golok emasnya seperti Huang He Jiang dan Yang Zi Jiang yang bisa menelan gunung serta daratan.

Dia mengejar dan ingin membunuh Hu Shang Ge dan Hu Shang Ke!

Kedua orang Mongolia itu memang ditakdirkan mempunyai tenaga besar dan mereka menguasai ilmu gulat yang biasanya memang dikuasai oleh para laki-laki Mongolia. Tapi pada saat menghadapi golok emas Ding Dong Tingmereka ketakutan!

Ding Dong Ting memainkan golok emasnya, membuat suara FU, FU, FU yang terus berbunyi pada saat golok emas itu dikibaskan beberapa kali. Kedua orang Mongolia itu tidak bisa menahan serangan Ding Dong Ting. Mereka sudah dua kali terbacok, kulit mereka telah tergores, darahpun mengalir. Kedua orang Mongolia itu berkulit tembaga dan bertulang besi, golok dan tombak biasa tidak bisa menembus daging mereka tapi kali ini mereka berhasil dilukai oleh Ding Dong Ting. Karena itu mereka menjadi takut, tidak tampak seperti pada awal pertarungan begitu garang.

Ding Dong Ting benar-benar kaget, Jin Dao nya yang kuat berhasil membacok tapi orang itu tidak mati, dan hal ini benar- benar tidak masuk akal. Dua orang Mongolia itu sudah terkena beberapa kali bacokannya tapi mereka hanya mengeluarkan sedikit darah dan seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Mereka bertiga terus bertahan dengan posisi seperti itu tapi Ding Dong Ting melihat kedua putranya sudah meninggal, hatinya merasa sangat sedih. Dua sudah mengeluarkan jurus yang sudah 30 tahun dipelajarinya yaitu 28 jurus golok emas keluarga Ding, tampak cahaya golok yang berkilau. Kedua orang Mongolia itu tampak sudah terkena bacokan Ding Dong Ting lagi. Sambil berteriak mereka mencoba untuk bertahan dan melindungi bagian tubuh terpenting mereka.

Pangeran Jin tampak mengerutkan alisnya, orang Qi Dan yang bernama Xia Hou Lie segera mengangguk.

Baru saja Xia Hou Lie mengangguk, La Ma (biksu), Ge La Tu seperti sebuah panji merah mengelilingi Ding Dong Ting.

Ding Dong Ting hanya melihat ada cahaya merah yang berkelebat, dan dia tidak tahu siapa yang menyerangnya. Segera golok emasnya menggulung dia membuat tembok pertahanan dari golok dan berbalik untuk membacok.

Sepasang tangan La Ma itu terbuka dan dia sudah mencengkram tangan Hu Shang Ke dan Hu Shang Ge, kemudian dia' menendang ke kiri dan ke kanan. Menendang dua orang Mongolia itu, supaya mereka keluar dari pertarungan seperti dua buah batu yang dilontarkan!

Golok Ding Dong Ting sudah berada di depan dada Ge LaTu!

Tangan Ge La Tu yang sedang digerakkan ke depan, tidak sempat menarik kembali tangannya, terpaksa dia memutar tubuhnya di tempat dia berdiri!

Perubahan terjadi begitu tiba-tiba, Ding Dong Ting bisa melihat lawannya adalah seorang La Ma dan goloknya hampir menancap di tubuhnya. Tapi karena tubuh Ge LaTu berputar, dengan baju biksu yang panjang, La Ma itu berhasil menggulung golok emas Ding Dong Ting, kemudian menariknya hingga terlepas dari pegangan Ding Dong Ting!

Ding Dong Ting sangat terkejut, selama dia berkelana di dunia persilatan, selama puluhan tahun ini, belum pernah dia melihat ilmu silat yang begini aneh!

Tapi Ding Dong Ting sangat berpengalaman, dia berdiri diam, dia tidak mau terbawa tarikan goloknya, malah mundur dari sana!

Dia sadar dengan kelihaian ilmu lawannya, dia harus rela melepaskan pegangan goloknya, kemudian dia akan mengambil senjata baru untuk bertarung lagi!

Karena Ding Dong Ting mundur, secara tidak sengaja dia berhasil menghindari jurus mematikan dari Ge La Tu yang sangat sulit dihindarkan—nama jurus ini adalah Hu Wei Jiao (Kaki dan Ekor harimau).

Pukulan Ge La Tu hanya berhasil separuh, dia tidak takut Pangeran Jin merasa tidak senang dengan kegagalannya, tiba-tiba dia bersalto, Ding Dong Ting cepat mundur lagi, dan seorang pelayan segera mengantarkan golok lain kepadanya.

Tiba-tiba mata La Ma ini membulat kemudian membesar, seperti mata seekor harimau yang sedang marah. Hatinya bergetar dan gerakan tubuhnya menjadi sedikit melambat.

Waktu itu tasbih terbuat dari kayu yang tergantung di leher Ge La Tu tiba-tiba berbunyi, Ge La Tu segera melepaskan 2 butir tasbih itu ke arah Ding Dong Ting. Ding Dong Ting sudah tidak sempat mengambil senjatanya, dia seperti sudah dihipnotis, butiran tasbih itu menuju ke arah biji matanya dan masuk ke dalam tengkorak kepalanya. Karena merasa sakit Ding Dong Ting berguling-guling di bawah sambil menutupi wajahnya.

Pangeran Jin merasa puas dan dia tertawa senang, dengan langkah besar Ge La Tu kembali ke sisi pangeran.

Kumis si tikus Xi Wu Hou bergerak-gerak, dengan dingin dia berkata, "Kami ikut Pangeran berkunjung ke daerah Huai Bei, siapa yang sangka disini tidak ada pesilat yang becus sama sekali, sehingga Pangeran Jin tidak perlu yang turun tangan, katanya kalian masih mempunyai seorang pendekar Huai Bei yang bernama Long Zhai Tian, kami ingin menemuinya, kalau kalian ingin membalas dendam, kami akan menunggu !kalian di sana."

0-0-0

Papan nama yang bertuliskan 'Huai Bei Di Yi Jia' diturunkan dan dirusak. Tuan 'Huai Bei Di Yi Jia' telah mandi darah di sana.

Ketujuh tamu tidak diundang itu sudah pergi, para pelayan dengan terburu-buru memapah Ding Dong Ting yang sudah sekarat.

Para pelayan itu tampak kebingungan karena tampaknya Ding Dong Ting tidak akan bisa hidup lebih lama lagi.

Waktu itu datanglah dua orang ke arah mereka." Yang satu mengenakan baju ketat berwarna hitam. Dia seorang pemuda gagah. Sedangkan yang satu lagi usianya sudah tua tapi wajahnya masih terlihat segar, rambutnya sudah memutih, sambil berjalan terdengar mereka sedang bertengkar mulut.

Begitu melihat ada 3 orang yang tergeletak di tanah dan para pelayan di sana sepertinya sedang gugup menghadapi semua ini. Akhirnya merekapun berhenti melangkah. Yang satu berkata, "Mengapa ada orang mati lagi? Mengapa para pendekar dan pahlawan Huai Bei semuanya dibunuh?"

Yang satu lagi berkata, "Di sini adalah tempat Huai Bei Di Yi Jia bukan Huai Bei Ying Xiong Jia (Rumah pahlawan Huai Bei),  mengapa kau tahu kalau dia adalah seorang pahlawan?"

"Huai Bei Di Yi Jia adalah Ding Dong Ting, semua orang sudah tahu kalau Ding Dong Ting adalah seorang pahlawan."

"Huai Bei Di Yi Jia belum tentu Huai Bei Di Yi Wu Lin Shi Jia (keluarga nomor satu di dunia persilatan) bukan?"

"Mungkin dia adalah orang Huai Bei yang pertama mempunyai keluarga, apalagi papan yang bertuliskan Huai Bei Di Yi Jia sudah diturunkan dan hancur, huruf Yi (angka 1 pada aksara Cina) mungkin juga keluarga San (angka 3 pada aksara Cina) atau bisa jadi keluarga Si (empat) dan seterusnya. "

"Sembarangan bicara saja."

"Aku sembar angan bicara? Bukankah kau juga sama?" "Kentut!"

"Bau!"

"Baiklah, kura-kura tua, kita sudah lama tidak berkelahi, tangan Wo Shi Shui sudah gatal."

"Akupun berpikir demikian, sudah dua hari kita tidak berkelahi, aku Shen Tai Gong sudah ingin menghajarmu!"

Para pelayan dan teman-teman Huai Bei Di Yi Shi Jia melihat ada dua orang yang datang dan mereka dengan sembarangan bicara, mengatakan keluarga kedua, ketiga, dan seterusnya, mereka mengira ada musuh datang lagi. Karena itu mereka segera mencabut senjata dan mengurung mereka berdua.

Wo Shi Shui dan Shen Tai Gong terkejut, salah satu dari mereka bertanya, "Ada apa mereka ini?"

Ding Dong Ting tampak sedang sekarat, tiba-tiba dia mendengar obrolan mereka berdua, salah satu dari mereka mengaku bernama Wo Shi Shui dan satu lagi mengaku Shen Tai Gong, kedua nama itu seperti bunyi guntur di telinganya, dia tergetar.

Dia berusaha mengumpulkan tenaga terakhirnya, kemudian dengan suara serak dia berteriak, "Berhenti. "

Para pelayan yang melihat tuan besar mereka memberikan perintah, mereka segera berhenti bergerak.

Orang yang muda itu mendengar dan berkata, "Orang itu belum mati."

Yang tua berkata, "Lebih baik kita ke sana untuk membantunya!"

Tubuh mereka bergerak dengan cepat dan dalam sekejap sudah berada di depan Ding Dong Ting, kemudian memapahnya bangun supaya bisa bicara. Para pelayan itu tidak tahu kapan mereka berdua bisa melewati mereka dan terlihat sedang memapah Ding Dong Ting.

Ding Dong Ting merasa ada aliran kekuatan dan tenaga yang masuk ke dalam tubuhnya, rasa sakitnya menjadi agak berkurang, dan dia bisa menarik bernafas lega, tapi Ding Dong Ting sadar hidupnya tidak akan lama lagi maka segera dia berkata, "Apakah Anda berdua adalah...orang yang terkenal di dunia persilatan...si Kail Sakti, Shen Tai Gong...dan Pen... Pendekar Wo Shi Shui?"

"Aku adalah Wo Shi Shui." "Ah! Ternyata kau adalah Lao Ding! Aku pernah bertemu sekali denganmu, siapa yang telah memukulmu sampai jadi seperti ini? Apa sebenarnya yang terjadi? Cepat katakan, aku akan membalaskan sakit hatimu!"

Ding Dong Ting merasa sangat senang, dengan suara serak dia menjawab, "Kalian berdua.. .harus.. .membalaskan.. .dendam... demi       ...       diriku...       aku...       dan...       anakku...  harus..

.merebut...merebut...merebut kembali...panji...panji 'Song'.. .harus merebut. ..kembali.. .nama.. .pende kar.. .Zhong Yuan.. .jagalah..

.keutuhan., .bangsa ...kita!"

Tangan Ding Dong Ting yang tadinya mencengkram tangan Shen Tai Gong terasa melonggar, dan akhirnya dia meninggal.

Dengan dingin Wo Shi Shui berkata kepada Shen Tai Gong, "Lao Shen, ada bisnis besar, apakah kau mau mengerjakannya?"

"Tentu saja aku mau mengerjakannya, sebelum mereka bertemu dengan Pendekar Long, kita mengejar mereka dulu." Wo Shi Shui bertanya kepada seorang pelayan, "Mereka berjalan ke arah mana?"

"Mereka berjalan ke arah barat, katanya mereka akan mencari Pendekar Long dan mereka akan melewati kota Xia Guan."

Seorang pelayan yang lebih tua berkata, "Anda berdua kalau ingin membalas dendam untuk tuan besar, lebih baik pergi ke kota Xia Guan untuk mencari Pejabat Ning "

"Kami sekarang tidak ada waktu untuk mengunjungi seorang pejabat," kata Wo Shi Shui dengan dingin.

Pelayan tua itu segera berkata, "Pendekar tidak mengenal Ning Zhi Qing? Pejabat Ning adalah teman baik tuan besarku, dia dan Pendekar Long juga bersaudara angkat, dia bekerja di kerajaan tapi senang berteman dengan orang-orang persilatan. Dia juga pemimpin dunia persilatan Huai Bei. Anjing-anjing Jin itu kalau pergi kekota Xia Guan, walaupun mereka tidak mencari Pejabat Ning, tapi Pejabat Ning pasti akan menghadang mereka. Pejabat Ning belum mendapatkan alamat Pendekar Long, kalau mereka sampai bertarung, Pejabat Ning akan kekurangan pembantu, aku takut...

Wo Shi Shui menatap Shen Tai Gong dan Shen Tai Gong menatap Wo Shi Shui, secara bersama-sama mereka bergerak dan lari ke arah barat.

0-0-0
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Panji Akbar Matahari Terbenam Bab 03 : Tiga pisau sakti"

Post a Comment

close