Misteri Lukisan Tengkorak Bab 25 : Opas Ketiga

Mode Malam
25. Opas Ketiga.

Kali ini bukan hanya sang Suya saja, kedua orang opas itupun berdiri dengan wajah pucat pasi, badan gemetar keras dan mimik mukanya menunjukkan mau menangis tak bisa, mau tertawa pun sungkan.

Tentu saja mereka pernah mendengar tentang sepak terjang tokoh sakti ini, bukan saja ilmu silatnya tinggi, wataknya jujur, pemberani dan adil dalam setiap keputusannya, bahkan semua orang yang jatuh ke tangannya, baik dia perampok yang membunuh orang tanpa berkedip maupun tokoh persilatan yang termashur namanya, semuanya ditangkap hidup-hidup dan dikirim ke pengadilan untuk diadili, belum pernah ada orang bisa lolos dari cengkeramannya.

Perlu diketahui, bila seorang opas ingin membunuh orang maka hal ini lebih mudah dia lakukan ketimbang menangkap orang, apalagi jika tawanannya adalah seorang tokoh sakti dunia persilatan.

Terkadang mereka ditangkap di wilayah Tibet dan mesti dibawa ke propinsi Ouwlam, sepanjang ribuan li bukan saja harus mencegah tawanannya kabur, bahkan harus selalu waspada menghadapi sergapan komplotannya.

Tapi jika tertangkap oleh si Raja opas Li Hian-ih, biasanya semua tawanan akan menurut saja ketika digelandang dan dengan tenang menunggu keputusan hukuman.

Dalam hal yang satu ini, kecuali Raja opas Li Hian-ih, sekalipun empat opas ataupun Opas sakti, tak ada yang sanggup menandinginya.

Ong-suya mulai merintih, ia merasa dirinya seolah-olah telah bertemu setan pada hari ini.

Dia rela bertemu setan ketimbang bertemu seorang opas kenamaan, apalagi bertemu Raja opas.

"Tidak mungkin aku membebaskan dirimu," terdengar Raja opas Li Hian-ih berkata, "tapi aku bisa memberi satu kesempatan kepada kalian."

Mendengar ada secercah harapan hidup, segera Suya itu berseru, "Terima kasih Li-toaya, terima kasih Li-toaya ”

"Aku akan memberi kesempatan kepada kalian untuk menyerahkan diri," kata Raja opas Li Hian-ih lagi sambil tertawa. Paras muka Suya serta kedua orang opas itu berubah seketika.

Belum sempat mereka berkata, kembali Raja opas Li Hian- ih berkata lagi, "Kalian tak usah bermain akal-akalan, sebab bila kalian tidak segera menyerahkan diri, cepat atau lambat kalian bakal kutangkap dan sampai waktunya akan kulipat gandakan hukuman kalian."

"Baik, baik, kami pasti akan menyerahkan diri, kami pasti akan menyerahkan diri," segera Suya itu berseru.

"Kalian pun jangan harap mencari perlindungan dari para pejabat," Raja opas bicara lebih jauh, "terlebih bersekongkol dengan tidak diadakan pengadilan, kalau sampai aku tahu, semua pejabat yang terlibat akan kulibas semua!"

"Baik, baik. ” sahut Suya itu dengan badan gemetar keras,

wajahnya pucat melebihi kertas.

"Kenapa belum segera pergi?" tanya Raja opas.

Sambil mundur ke belakang, Suya itu membungkukkan badannya berulang kali seraya berseru, "Baik, segera pergi, segera pergi”

Bersama kedua orang petugas keamanan, mereka mundur sejauh tiga empat puluh langkah baru naik ke atas kudanya, mungkin lantaran kelewat gugup, baru naik Suya itu sudah terjatuh kembali ke bawah, segera kedua orang rekannya datang membantu.

Tak selang beberapa saat kemudian ketiga orang itu sudah lenyap dari pandangan.

"Menurut pandanganmu, mungkinkah mereka pergi menyerahkan diri?" tanya Leng-hiat kemudian sambil tertawa.

"Aku rasa tidak mungkin," sahut Raja opas.

"Lantas kenapa tidak kita bunuh saja orang-orang itu?" "Sudah kukatakan, kita tak punya wewenang untuk membunuh."

"Sekalipun tidak dibunuh, paling tidak seharusnya kita potong sebuah lengannya atau mengiris telinganya sebagai hukuman."

"Sama seperti yang kukatakan, kita pun tak punya wewenang untuk berbuat begitu."

Setelah tertawa, dia menepuk bahu Leng-hiat sambil memperingatkan, "Kau mesti lebih berhati-hati, seandainya kulihat kau melakukan pembunuhan atau melukai orang, sama saja, kau punya dosa."

Berkilat sepasang mata Leng-hiat. "Apakah membunuh manusia laknat yang telah melakukan kejahatan dan kebengisan pun dianggap berdosa?"

Raja opas menghela napas panjang. "Sesungguhnya bersalah atau tidak bersalah hanya bisa kita putuskan dalam hati, tak mungkin orang awam bisa memutuskan dengan sesuka hati, kita sebagai petugas hanya punya wewenang menangkap orang demi ditegakkannya hukum dan keadilan. Jika kuatir repot atau untuk menghemat waktu kita segera menghabisi orang itu, bukankah perbuatan kita yang melanggar hukum terlebih dahulu, mana mungkin orang lain mau mentaati peraturan?"

Leng-hiat membungkam.

Sementara itu kakek Seng-siu dan keluarganya telah menghampiri mereka untuk menyampaikan rasa terima kasihnya, Raja opas Li Hian-ih pun meninggalkan obat untuk mengobati luka lelaki desa itu, kemudian setelah bertanya arah jalan, mereka tinggalkan rumah pedesaan itu.

Di tengah jalan tiba-tiba Leng-hiat bertanya, "Maksud tujuan kedatanganmu adalah ”

"Untuk menangkap orang," jawab Raja opas. "Siapa yang akan kau tangkap?"

"Menangkap Kokcu dari perusahaan ekspedisi Sin-wi-piau- kiok, Ko Hong-liang, Tong Keng serta pentolan penyamun wanita dari Bu-su-bun, Ting Tong-ih."

"Kenapa mereka harus ditangkap?"

"Karena orang-orang Sin-wi-piau-kiok melarikan barang yang semestinya harus dikawal, sementara orang-orang Bu- su-bun merencanakan pemberontakan!"

"Aku tidak percaya kalau orang-orang Sin-wi-piau-kiok merampok barang kawalannya, sedangkan anggota Bu-su-bun pun tidak punya rencana untuk menjadi pemberontak!"

Mendadak Raja opas menghentikan langkahnya dan menatap Leng-hiat, katanya, "Sekalipun apa yang kau katakan benar, dan meski aku percaya dengan perkataanmu, tapi kenyataan Tong Keng dari Sin-wi-piau-kiok telah membunuh Li Wan-tiong, Ko Hong-liang dengan berkerudung muka telah menolong narapidana penting, apalagi melukai petugas negara, jelas dia telah melakukan kesalahan besar, selain itu Ting Tong-ih dengan mengajak anak buahnya telah menyerbu penjara, membunuh dan melukai para sipir dan petugas keamanan, perbuatan semacam inipun merupakan satu pelanggaran besar."

"Tapi siapa yang memaksa mereka melakukan perbuatan ini?" seru Leng-hiat sedikit emosi, "Li Wan-tiong kejam, dengan alat siksaan yang tak berperi kemanusiaan dia telah menguliti manusia hidup-hidup, mencelakai Kwan Hui-tok dengan cara licik sehingga berakibat Ting Tong-ih menyerbu ke penjara, Tong Keng melakukan pembunuhan dan memaksa Ko Hong-liang menyelamatkan mereka semua, jika perampokan uang pajak bukan dilakukan pihak Sin-wi-piau- kiok, bukankah perintah penangkapan yang diturunkan pihak pejabat memaksa mereka harus naik ke bukit Liang-san dan menjadi begal?" "Bila setiap orang menggunakan alasan itu untuk membela diri, darimana datangnya ketaatan rakyat terhadap hukum?

Darimana datangnya ketenteraman dan keamanan bagi negara?"

Leng-hiat tertawa dingin. "Lantas, apakah mereka harus menerima tuduhan itu? Harus menelan semua fitnahan dan tunduk pada hukum?"

Mendadak si Raja opas batuk sekeras-kerasnya.

Lama sekali Leng-hiat menatap rekannya, kemudian baru ia berkata, "Tahu aku sekarang"

"Tahu apa?"

"Tak mungkin kasus sekecil ini bisa menarik perhatian Li Hian-ih yang bernama besar dan tersohor di Seantero jagad, kau datang karena diutus perdana menteri Hu!"

Dengan susah payah Raja opas menarik napas, seakan- akan kalau ia berhenti berusaha maka napasnya seketika akan berhenti.

"Benar, aku memang diutus perdana menteri Hu untuk menangkap buronan, tapi apa salahnya? Mereka memang melanggar hukum, lagi pula sudah menjadi buronan, menjadi tugas dan tanggung jawabku untuk menangkap mereka dan menggelandangnya ke pengadilan!"

"Tugas dan tanggung jawab?" Leng-hiat tertawa dingin, "Perdana menteri Hu punya jabatan yang sangat tinggi dan kaya raya, orang yang menjual nyawa untuknya rata-rata kaya dan terhormat, apakah mereka boleh membunuh orang semaunya", membakar milik rakyat seenaknya? Apa gunanya kau bicara sok demi keadilan?"

Raja opas mengurut dada sambil mengatur pernapasan, untuk pertama kalinya api kemarahan memancar dari balik matanya. "Betul, perdana menteri Hu memang pejabat tinggi dalam kerajaan bahkan berambisi besar, tapi aku tak pernah membonceng kepopulerannya, aku pun tak pernah menerima sepeser uang pelicinnya, hingga detik ini aku tak pernah melakukan perbuatan yang dianggap mengingkari liangsim (hati nurani)!"

Dia membuka pakaiannya, memperlihatkan dada dan perutnya, di situ tampak bekas bacokan golok, tusukan pedang, luka senjata rahasia maupun luka bekas pukulan.

"Sekujur tubuhku dipenuhi luka, luka yang ini dibuat oleh si Tosu panjang umur dengan ilmu kebutan tulang besinya, yang ini karena pukulan martil emas milik Kim Gin-san dari Kiu-ciu, yang ini terluka oleh pukulan tenaga lunak jagoan keluarga Lui, dan ini terluka oleh senjata rahasia keluarga Tong, kemudian ada lagi luka oleh orang-orang kuil setan, jagoan dari negeri Hu-siang, tenggorokanku pernah terluka karena dipaksa minum racun empedu burung merak, Hok-teng-hong serta Bi-siang yang sangat ganas sewaktu menangkap menteri korup Koan Ciu-in, peduli terhadap siapa pun, aku akan menangkapnya satu per satu, aku berjuang dengan kemampuanku sendiri, berusaha dengan caraku sendiri, tak pernah aku membonceng kejayaan Hu-thayjin, bukan orang tak mau memberi kepadaku, karena aku memang tidak membutuhkannya!"

Dengan sepasang mata berkilat dia melanjutkan, "Aku sudah makan gaji negara, setiap tahun beberapa tahil perak sudah cukup bagi kebutuhanku, biaya yang kukeluarkan sepanjang memburu buronan pun selalu kuperhitungkan dengan pihak keuangan kantor kejaksaan, kecuali itu aku tak pernah meminta uang jasa apapun. Aku sebagai petugas penegak kebenaran harus memberi contoh yang benar kepada semua orang, bersikap adil, jujur dan tegas dalam mentaati peraturan, bukankah begitu?" Kemudian setelah tertawa gusar, terusnya, "Seandainya Ko Hong-liang, Ting Tong-ih dan Tong Keng tidak melanggar hukum, biarpun Hu-thayjin menurunkan perintah kepadaku, tak nanti aku pergi menangkap mereka! Kalau mereka memang tidak bersalah, kenapa mesti takut diadili?"

Leng-hiat tahu apa yang dia ucapkan memang merupakan perkataan yang sejujurnya.

Kecuali terhadap Cukat-sianseng, jarang sekali Leng-hiat menaruh rasa hormat kepada orang lain, tapi kini mau tak mau dia harus menaruh rasa hormat dan salutnya kepada orang ini.

Sebab dia tahu, semua perkataan Li Hian-ih memang benar dan merupakan kenyataan.

Sepanjang perjalanan Li Hian-ih banyak bergaul dengan orang, kendatipun ia menderita luka dalam yang cukup parah, meski harus terbatuk-batuk hebat, namun urusan dinas tetap dilaksanakan secara baik dan disiplin, pengejaran yang harus dilakukan ribuan li dilaksanakan tanpa mengeluh, gaji tahunan yang begitu sedikit digunakan secara hemat dan dipakai bilamana perlu saja.

Tapi ia tak pernah mengeluh, bahkan tak pernah mengandalkan posisi serta nama besarnya untuk ditukar dengan banyak kemudahan.

Dengan mata kepala sendiri ia saksikan Li Ok-lay mengutus orang untuk menyambut kedatangannya di pintu kota, penyambutan secara besar-besaran, tapi dia tak pernah menerima penyambutan itu, malah secara diam-diam menyelinap untuk melakukan perburuan.

Bagaimanapun Li Ok-lay adalah seorang pembesar negeri yang suka dengan segala penyambutan yang berlebihan, dia seakan tidak memahami tabiat Li Hian-ih, dia tetap menggelar upacara penyambutan secara besar-besaran. Besar kemungkinan hingga kini Li Ok-lay belum tahu kalau Li Hian-ih sudah melewati pintu gerbang itu dan menghindar untuk bertemu dengannya.

Hu Tiong-su sang perdana menteri tak pernah memberi posisi tinggi kepadanya, tidak pula memberi uang atau harta yang berlimpah, dia hanya diberi kekuasaan besar untuk menentukan mati hidup seseorang, diberi tugas dan tanggung jawab yang besar, tapi Li Hian-ih menyelesaikannya secara tuntas, bahkan tanpa mengeluh maupun menggerutu.

Malah dalam soal makan pun Li Hian-ih begitu perhitungan, tak mau ditraktir juga tak mau mentraktir orang, hidupnya sangat hemat.

Leng-hiat menarik napas panjang, katanya, "Jika kau berhasil menangkap mereka dan menggelandangnya ke kantor pengadilan, kemudian tutup mata terhadap keadaan mereka, tak ambil peduli kalau mereka difitnah orang, dapat dipastikan Ko Hong-liang, Ting Tong-ih serta Tong Keng akan mati konyol."

Raja opas mengernyitkan dahinya, untuk sesaat dia tak mampu menjawab, hanya terbatuk terus tiada hentinya. Batuknya kali ini jauh lebih hebat daripada batuknya semula, batuk terus sampai tumpah darah.

Dalam pada itu awan gelap telah menyelimuti seluruh angkasa, angin mulai berhembus kencang, kelihatannya hujan segera akan turun dengan derasnya.

"Aah, sebentar lagi akan turun hujan," gumam Raja opas.

Sekonyong-konyong dari arah depan sana muncul satu pasukan prajurit, ada yang menunggang kuda, ada yang berlarian, di tangan mereka selain membawa senjata tajam, ada pula yang membawa borgol kayu besar, ternyata mereka adalah sekelompok petugas keamanan. "Inilah akibat dari kau melepaskan orang," kata Leng-hiat cepat.

"Blaaam...!", suara guntur yang keras menggelegar memecah keheningan, suara gemuruh yang bercampur dengan helaan napas si Raja opas.

Leng-hiat sendiri pun merasa tenggorokannya seakan tersumbat, ia sadar perkataannya barusan kelewat keras dan kasar.

Dalam waktu singkat kawanan pasukan keamanan sudah bergerak mendekat, seorang opas yang berada paling depan sudah mulai menuding sambil mencaci maki, "He, bajingan sialan! Kalian berani amat membegal Suya kami? Cepat serahkan dirimu!"

"Aku adalah ” kata Raja opas.

"Maknya, kentut busukmu!" tukas seorang petugas keamanan nyaring, "cepat serahkan diri dan ikut kami balik ke kantor! Gara-gara urusan kalian, bisa jadi kami ikut basah kuyup karena kehujanan!"

Sambil mengumpat tiada hentinya, bersama beberapa orang petugas yang lain segera maju mendekat untuk melakukan penangkapan.

"Tampaknya kalau tidak memukul mundur mereka dengan kekerasan, percuma saja kita bersilat lidah!" kata Leng-hiat sambil tertawa dingin.

"Ya, rasanya memang hanya ada cara itu," sahut Raja opas sambil tertawa getir.

Sementara pembicaraan masih berlangsung, kawanan petugas keamanan itu sudah merangsek maju, hujan batu kerikil pun mulai berhamburan mengarah tubuh mereka berdua. Tiba-tiba Leng-hiat membungkukkan badan dengan tangan meraba gagang pedang, ia malah menerjang maju ke muka.

Gerakan tubuhnya sewaktu menyerbu ke depan, menerjang hujan, menerkam kawanan petugas keamanan itu persis seperti seekor macan tutul yang sedang kelaparan.

Diiringi bentakan gusar bercampur teriakan kaget, kawanan petugas keamanan itu menyambut terjangannya dengan bacokan senjata.

"Addduh!"

"Ampun!"

"Ahhhh!"

Teriakan demi teriakan berkumandang di angkasa, dimana tubuh Leng-hiat menerjang, kawanan petugas keamanan itu mencelat sejauh tujuh-delapan depa, terbanting ke atas tanah dengan keras dan tak mampu merangkak bangun lagi.

"Aaai, seranganmu kelewat berat," keluh Raja opas sambil menghela napas.

"Tapi serangan mereka semua tertuju ke bagian tubuhku yang mematikan, mereka menginginkan nyawaku!" sahut Leng-hiat sambil melanjutkan terjangannya.

Tiba-tiba Raja opas membentak keras, bentakan itu sedemikian kerasnya sehingga bukan saja membuat kawanan petugas keamanan itu tertegun, kuda-kuda pun ikut meringkik sambil mengangkat tinggi kedua kaki depannya, bahkan Leng- hiat sendiri pun ikut melengak hingga menghentikan gerakan tubuhnya.

Tatkala kawanan petugas keamanan itu menengok ke arahnya, tampak selapis asap tipis mengepul keluar dari seluruh tubuh kakek berpakaian rombeng itu, ketika butiran air hujan jatuh di atas kepala kakek itu, seakan tertahan oleh selapis jaring tak berwujud, air hujan itu tak mampu jatuh ke bawah.

Baru saja semua orang tersentak kaget, Raja opas sudah membentak sambil mengayunkan sepasang tangannya bergantian, butiran air hujan yang tertahan tadi segera menyebar dan menyambar ke tubuh kawanan petugas keamanan itu bagaikan serangan senjata rahasia.

Bagaimana mungkin kawanan petugas keamanan itu mampu menghindar dari serangan senjata rahasia yang begitu rapat? Ada yang tersambar matanya, ada yang tersambar wajahnya, orang mulai tunggang-langgang dibuatnya, jeritan kaget, teriakan ngeri bergema silih berganti, tak selang beberapa saat kemudian kawanan petugas itu sudah kocar- kacir dan melarikan diri terbirit-birit.

Menyaksikan kejadian itu Leng-hiat hanya bisa menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya, "Kawanan petugas itu betul-betul hanya sekelompok sampah, untung bukan lagi menghadapi pertempuran, coba kalau berada di medan laga, tak bisa dibayangkan bagaimana akibatnya ... mereka benar-benar sudah rusak karena kelewat dimanjakan komandannya."

Mereka berdua berjalan menuju ke dalam sebuah gardu, mengawasi hujan yang semakin deras di luar sana, perasaan mereka berdua terasa berat dan murung.

Tiba-tiba dari sudut gardu terlihat ada sebatang hio, meski sudah padam karena tertimpa air hujan, namun asap biru masih mengepul tipis.

Leng-hiat tahu baru saja Ting Tong-ih melewati tempat itu, entah mengapa tiba-tiba muncul satu perasaan aneh dalam hati kecilnya.

Terdengar Raja opas menghela napas panjang, katanya, "Orang bilang ketika kekacauan mulai melanda seluruh dunia, setan iblis pasti akan bermunculan, coba kau lihat semangat kawanan petugas keamanan itu, aaai! Mungkinkah kolong langit kembali akan kacau?"

Leng-hiat mendengus dingin. "Hmmm! Anak buah Li Ok-lay dan Lu Bun-chang merampok, membegal dan memperkosa dimana-mana, perbuatan mereka jauh lebih bejad ketimbang perbuatan kaum begal, bagaimana mungkin keadaan ini tidak membangkitkan keinginan rakyat untuk memberontak?"

Sekali lagi Raja opas terbatuk-batuk hebat, darah segar kembali dimuntahkan dari mulutnya.

Sampai lama kemudian baru ia berkata lagi, "Seandainya kolong langit akan kacau, mungkin aku ... aku sudah tak berkesempatan untuk melihatnya lagi."

Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Leng-hiat, seolah mendapat firasat jelek, serunya tak tertahan, "Jadi paru-parumu...”

"Aku sudah tak punya paru-paru," tukas Raja opas sambil menyeka darah di bibirnya, "kedua paru-paruku sudah membusuk dan rusak."

"Demi kesejahteraan negara kau mesti menjaga kesehatanmu baik-baik, kau harus beristirahat dulu."

Raja opas tertawa getir. "Seandainya kolong langit aman, tenteram dan penuh damai, biarpun harus beristirahat untuk selamanya pun aku tak akan banyak pikiran," katanya.

Agak terenyuh Leng-hiat mendengar perkataan itu, dia merasa Cukat-sianseng pun pernah berkeluh demikian sewaktu hujan di tengah malam.

Tanpa terasa dia pun membayangkan kembali bagaimana Cukat-sianseng mendidik mereka hingga dewasa, bukan saja telah mewariskan ilmu silat yang hebat, bahkan selalu mencukupi semua kebutuhan mereka sehingga dalam hal ini mereka tak pernah merisaukannya lagi. Bila dibandingkan dengan Raja opas yang mesti berjuang dari pangkat yang paling rendah, dari gaji yang sedikit, jelas perbedaan di antara mereka bagai langit dan bumi.

Timbul perasaan menghormat di hati kecilnya.

"Aaai, lagi-lagi ada yang datang!" mendadak Raja opas berbisik.

Di tengah hujan yang sangat deras terlihat seseorang berdandan petugas keamanan, dengan membawa sebilah golok, selangkah demi selangkah berjalan mendekat.

Langkah kaki orang itu tidak terlalu cepat, tapi dia seolah- olah tak akan menghentikan langkahnya sebelum tiba di tempat tujuan.

Orang itu masih sangat muda, air hujan membuat rambut dan wajahnya basah kuyup, membuat alis matanya yang tebal nyaris menempel di atas jidatnya.

Dia berjalan mendekat sambil memegang goloknya, sama sekali tak terlintas rasa jeri atau takut di wajahnya.

Dari dandanan yang dikenakan, Leng-hiat tahu orang ini hanya seorang opas kelas tiga dalam kantor pengadilan.

Dalam bidang opas pun terbagi dalam banyak jabatan, ada opas yang mempunyai kekuasaan sangat besar hingga dia memiliki wewenang untuk mendatangkan pasukan negara, tapi ada pula opas dengan jabatan sangat kecil, yang tugasnya hanya mengambilkan air teh atau mengantar makanan untuk petugas opas lainnya.

Tentu saja opas seperti Leng-hiat dan Li Hian-ih sudah bukan opas lagi, mereka sudah merupakan semacam simbol, semacam idola, semacam panutan bagi opas lain, begitu tinggi dan terhormat posisinya sehingga pembesar negeri pun harus menaruh hormat kepada mereka. Opas yang barusan muncul merupakan seorang opas dengan wewenang kecil, hingga patut dikasihani, biasanya mereka hanya kebagian tugas mengurusi orang-orang yang makan gratis di rumah makan, mengurusi orang mabuk yang membuat keributan atau urusan kecil yang sama sekali tak ada artinya, bukan saja mereka harus mengajukan izin setiap kali hendak membawa senjata, bahkan izin yang diajukan bersusah payah selama sepuluh hari hanya berlaku untuk satu hari saja.

Opas semacam inilah yang sekarang sedang berjalan menghampiri mereka berdua.

Opas itu menghentikan langkahnya setelah berada sepuluh langkah dari gardu itu, teriaknya, "Maaf saudara berdua, boleh aku mengajukan satu pertanyaan?"

Leng-hiat memandang ke arah Raja opas, sementara Raja opas pun balik memandang Leng-hiat.

Terdengar opas itu berteriak lagi, "Apakah kalian berdua yang telah menghalangi Ong-suya melaksanakan tugas dinasnya dua jam berselang?"

Leng-hiat memandang Raja opas sekejap, lalu menjawab, "Benar!"

"Kalian juga yang telah melukai dua belas orang petugas keamanan pada setengah jam berselang?" kembali opas itu bertanya.

Kali ini Raja opas yang memandang Leng-hiat sekejap sambil menjawab, "Benar!"

"Bagus!" dari sakunya opas muda itu mengeluarkan sebuah lencana, lalu sambil ditunjukkan serunya, "Kalian telah menghalangi petugas negara melaksanakan tugasnya bahkan melukai alat negara, aku akan menangkap kalian berdua." Setelah berhenti sejenak, lanjurnya, "Aku adalah Kwan Siau-ci, opas kelas empat dari kota Cing-thian, aku hendak menangkap kalian berdua."
*** ***
Note 26 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hari Minggu itu weekend tapi kalau cinta kita will never end"

(Regards, Admin)

0 Response to "Misteri Lukisan Tengkorak Bab 25 : Opas Ketiga"

Post a Comment

close