Misteri Lukisan Tengkorak Bab 23 : Lihat Pedang

Mode Malam
23. Lihat Pedang.

Begitu suara bentakan berkumandang, tangan kedua orang itu yang menekan bahu Leng-hiat segera ditarik kembali.

Leng-hiat sendiri pun segera menarik kembali tangannya yang memegangi tangan kedua orang itu.

Kakek itu seolah merasa ketakutan, tubuhnya mundur dengan sempoyongan, ketika Leng-hiat memayang tubuhnya, dengan gerakan cepat bagai sambaran petir kakek itu segera mengebaskan tangannya ke bahu Leng-hiat.

Sementara Leng-hiat masih tertegun, tampak kedua orang jago itu sudah berlutut ke tanah. Pakaian yang dikenakan mereka berdua sangat halus dan mahal harganya, selain keningnya menonjol tinggi, alis matanya tipis dengan wajah yang bersih, tapi sekarang mereka berlutut dengan sikap yang amat menaruh hormat, seakan-akan sedang menyembah malaikat yang datang dari langit.

Setelah memayang tubuh kakek itu, perlahan-lahan Leng- hiat berpaling, ia saksikan dari jalan raya di belakang sana muncul sebuah tandu, di depan dan belakang tandu itu berjajar delapan puluhan prajurit berseragam lengkap. Selain itu terdapat pula dua puluh orang pengawal berbaju sutera yang berdiri di sekeliling sebuah tandu berukir emas yang sangat indah.

Tiba-tiba tirai tandu itu disingkap, lalu muncul sebuah tangan dengan jari tengah mengenakan cincin berbatu zamrud sebesar buah kelengkeng.

Begitu tangan itu muncul dari balik tandu, serentak semua orang menundukkan kepalanya, seakan-akan bila ada yang melihat sekejap saja, hal itu sudah merupakan satu penghinaan bagi orang itu.

Sambil membusungkan dada dan mendongakkan kepala, Leng-hiat mengawasi tandu itu.

Akhirnya orang yang berada dalam tandu melangkah keluar, dia adalah seorang lelaki tinggi besar.

Jenggot hitamnya yang panjang dan lebat bergoyang dihembus angin, persis seperti sebuah sapu berwarna hitam, mukanya bagai kemala, cerah dan berkilat.

Sebilah pedang tersoreng di punggungnya, gagang pedang terbuat dari kemala hijau, jubahnya panjang berwarna tawar, sementara motip bunga jubahnya kelihatan seolah bergerak ketika tersampuk angin. Dengan langkah sangat lambat ia berjalan mendekat, langsung menuju ke hadapan Leng-hiat sebelum berhenti, kemudian setelah mengawasi wajahnya sekejap, ia berkata sambil tertawa lembut, "Ternyata tenaga dalam opas Leng benar-benar sangat hebat!"

Sebuah perkataan yang sangat aneh.

Leng-hiat belum pernah bersua dengannya tapi sekilas pandang orang itu dapat mengenali identitas si Darah dingin, meski hal ini tidak terhitung aneh, namun justru yang aneh adalah dia bukannya memuji ilmu pedang yang dimiliki Leng- hiat, sebaliknya malah mengagumi tenaga dalamnya.

Kenyataan tenaga dalam yang dimiliki Leng-hiat tidak terhitung kelewat bagus, bahkan boleh dibilang merupakan bagian terlemah ilmu silat yang dimilikinya.

"Li-thayjin!" balas Leng-hiat sambil menjura.

"Oya?" orang itu tertawa, "darimana kau tahu kalau aku bukan Ong-thayjin, Thio-thayjin, atau Tio-thayjin?"

Sambil menuding pedang yang berada di punggungnya, sahut Leng-hiat, "Siang-jiu-sin-kiam (sepasang tangan pedang sakti) Li-thayjin, sekalipun aku tidak mengenali pedangmu, paling tidak sudah lama mengagumi kehebatan penampilanmu."

Li Ok-lay mendongakkan kepalanya tertawa terbahak- bahak. "Hahaha, orang bilang Leng-hiat angkuh, dingin dan sabar, memandang enteng orang persilatan, tapi setelah bersua hari ini, terbukti manisnya mulut Leng-hiat jauh melebihi manisnya mulut para pejabat dalam istana!"

"Li-thayjin, tampaknya kau sedang bergembira hari ini?

Lagi berpesiar ke tempat berpemandangan indah?"

"Masakah dengan diikuti begini banyak pengawal aku sedang pergi berpesiar?" ujar Li Ok-lay tertawa, "kalau ingin berpesiar sih cukup ditemani seorang sahabat macam opas Leng, buat apa mesti membawa banyak pengikut?"

Leng-hiat tertawa hambar dan tidak menjawab lagi. Dengan pandangan seorang atasan terhadap bawahan, Li

Ok-lay memandang Leng-hiat sekejap, kemudian berkata, "Terus terang, kedatanganku kali ini adalah sedang melaksanakan tugas resmi."

Menurut aturan, Leng-hiat seharusnya bertanya sedang melaksanakan tugas apa dan apakah perlu dibantu, tapi si Darah dingin segera menukas, "Aaah, kebetulan aku pun sedang menjalankan tugas resmi, kalau begitu kita berpisah di sini."

"Opas Leng!"

Leng-hiat segera berhenti.

"Kebetulan tugas yang sedang kujalankan adalah menyampaikan sebuah persoalan yang diserahkan Cukat- sianseng kepadamu," tiba-tiba Li Ok-lay berkata.

"Paman tak pernah menyuruh aku menyelidiki masalah pajak rakyat."

"Kelihatannya opas Leng merasa sangat tidak puas dengan persoalan ini?" kata Li Ok-lay sambil tertawa.

Perlahan-lahan Leng-hiat membalikkan badannya. "Uang pajak lenyap dicuri orang, seharusnya sang pencuri yang dilacak dan ditangkap, masakah pihak rakyat yang harus menyetor uang pajak lagi!"

Air muka dua orang pemuda itu segera berubah hebat, tapi Li Ok-lay sendiri seakan tidak menganggap ucapan itu menyinggung perasaannya, ia menyahut,

"Untuk menangkap para pencuri, pihak atasan telah mengutus kelompok lain, sementara uang pajak harus segera dikirim ke kotaraja karena akan digunakan untuk membasmi kaum pemberontak, uang itu sangat dibutuhkan, bagaimana mungkin kami bisa menunda waktu pengiriman?"

"Aku sangat tidak setuju dengan cara kalian memaksa rakyat untuk menyetor uang lagi."

Li Ok-lay kembali mengayunkan tangannya mencegah kedua orang pemuda itu melolos pedangnya, kembali ia berkata sambil tersenyum, "Perintah ini turun dari atas, aku pun tak berani membangkang, sementara dalam hal kematian putraku, sebagai seorang opas yang biasa menangkap pembunuh, rasanya tak bisa berpeluk tangan."

"Menurut laporan, putra anda mati terbunuh karena saat itu sedang menyiksa tawanan dengan alat siksaan keji, kasus semacam ini aku tak sudi mencampurinya."

Li Ok-lay tertawa tergelak, suaranya nyaring dan jelas, sembari mengelus jenggotnya ia berkata lirih, "Tapi ... soal lukisan itu ... Yang mulia sudah memerintahkan Cukat- sianseng untuk mendapatkannya."

Hati Leng-hiat bergetar keras.

Sambil melangkah maju lebih ke depan Li Ok-lay mendesak lebih jauh, "Opas Leng, kau pasti tahu soal lukisan tengkorak bukan?"

"Lukisan itu...” Leng-hiat berseru tertahan.

"Ya, lukisan itu...” Li Ok-lay sengaja berlagak misterius, dia mundur lagi ke belakang sambil menatap lawannya tanpa berkedip.

Leng-hiat mulai meraba gagang pedangnya. Begitu jari tangannya menyentuh gagang pedang, sikapnya pun menjadi tenang kembali, setelah menarik napas panjang katanya, "Aku dengar perdana menteri Hu meminta putramu untuk membuatkan sebuah lukisan...” "Itulah lukisan tengkorak” tukas Li Ok-lay, "lukisan itu dinamakan juga lukisan selaksa tahun, sebetulnya hendak dipersembahkan kepada Baginda Raja, tapi sekarang putraku telah dibunuh sementara lukisan pun hilang tercuri, tentunya opas Leng tak bisa mengatakan kedatanganmu kali ini bukan lantaran peristiwa itu bukan!"

"Betul, kedatanganku memang lantaran peristiwa ini," akhirnya Leng-hiat mengangguk.

Li Ok-lay tersenyum.

"Lu Bun-chang telah berangkat ke kota Cing-thian untuk membuat persiapan, pihak yang mencuri uang pajak kali ini adalah perusahaan Sin-wi-piau-kiok serta orang-orang dari Bu- su-bun, pihak yang mengobrak-abrik penjara juga mereka, yang melarikan tawanan juga mereka, bahkan yang melakukan pembunuhan pun mereka, besar kemungkinan lukisan tengkorak berada di tangan mereka, opas Leng, kalau memang tujuan kita sama, kenapa tidak melakukan perjalanan secara bersama-sama?"

Dengan cepat Leng-hiat menggeleng, tukasnya, "Betul, kedatanganku kali ini memang karena masalah lukisan itu, menangkap si pencuri lukisan merupakan tugas yang sedang kuemban, tapi mengenai apa benar pihak Sin-wi-piau-kiok dan anggota Bu-su-bun yang melakukan pencurian lukisan itu, aku belum selesai melakukan pelacakan, jadi rasanya...”

"Katakan saja terus terang," sambung Li Ok-lay cepat, sikapnya masih sangat tenang.

"Rasanya kita tidak sepaham dan tak sejalan, jadi kurang baik untuk melakukan perjalanan bersama-sama," sambung Leng-hiat cepat.

Begitu perkataan itu diucapkan, kembali paras muka semua orang berubah hebat. "Bagus, sebuah perkataan yang amat bagus," kata Li Ok- lay sambil mengelus jenggotnya, "tidak sepaham, tidak sejalan maka kau tampik melakukan perjalanan bersama, perdana menteri Hu pernah berkata, 'banyak orang pernah mengucapkan perkataan semacam itu, tapi kini rasanya orang- orang semacam ini...”

Bicara sampai di situ ia tersenyum dan tidak melanjutkan lagi kata-katanya.

"Sepuluh tahun berselang, Cukat-sianseng pernah mengucapkan perkataan itu di hadapan Hu-thayjin, tapi nyatanya hingga kini dia masih segar bugar," ujar Leng-hiat ketus.

"Oya? Andaikata Cukat-sianseng tak pernah mengucapkan perkataan itu, mungkin sekarang dia sudah memegang kekuasaan keprajuritan dan memiliki jabatan jauh di atas."

"Sayangnya ada sementara orang sama sekali tak tertarik untuk memegang kekuasaan ketenteraan," sindir Leng-hiat sambil tertawa dingin.

"Benarkah begitu? Aku justru tahu kalau ada sekelompok manusia yang sangat tertarik untuk mencampuri urusan orang lain," kata Li Ok-lay sambil tertawa.

Setelah berhenti sejenak, kembali lanjutnya, "Menurut laporan anak buahku, berulang kali kau melindungi keselamatan orang-orang Sin-wi-piau-kiok dan Bu-su-bun, jelas perbuatan semacam ini merupakan pelanggaran besar, berkomplot dengan musuh untuk menjatuhkan pemerintah sah, hahaha ... tapi tentu saja aku percaya opas Leng amat setia pada pemerintah, aku akan melupakan semua isu yang beredar dan tak bakal melaporkan ke atasan, hahaha....

Bersekongkol dengan penjahat, membantu kaum pemberontak, jelas tuduhan ini termasuk satu pelanggaran yang amat besar”. Berubah paras muka Leng-hiat, segera tanyanya, "Apakah kasus ini sudah diputuskan?"

"Kasus apa?" tanya Li Ok-lay tertegun.

"Pencurian uang pajak, membunuh orang, mencuri lukisan

... apakah sudah diputuskan kalau perbuatan itu dilakukan oleh Sin-wi-piau-kiok serta orang-orang Bu-su-bun?"

"Tapi kenyataannya putraku tewas di tangan orang-orang Bu-su-bun, dua bersaudara Yan, Ni Jian-ciu bisa menjadi saksi, lalu pada saat bersamaan lukisan hilang dicuri, sedang uang pajak pun hilang sewaktu dikawal orang-orang Sin-wi-piau- kiok, piausu mereka bisa dijadikan saksi untuk membuktikan kebenaran ini."

Entah kenapa tiba-tiba Leng-hiat teringat akan sesuatu, persoalan itu melintas bagai bintang kejora, dia tahu hal ini merupakan kejadian yang sangat penting.

Ia tak punya kesempatan untuk berpikir lebih jauh, tanyanya, "Kau maksudkan Li Siau-hong?"

"Benar," agaknya Li Ok-lay sendiri pun dibuat tertegun, "piausu ini punya nyali, setia pada negara, demi kebenaran dia bahkan bersedia mengkhianati rekan sendiri. Demi keselamatan jiwanya, aku telah melindunginya secara khusus."

"Hmmm, apakah kasus ini telah disidangkan dan diputuskan secara hukum?" kembali Leng-hiat mendengus.

"Kalau itu sih belum," sekali lagi Li Ok-lay tertegun. "Kalau kasus ini belum disidangkan apalagi belum diputus

secara hukum, berarti orang-orang Sin-wi-piau-kiok dan Bu-

su-bun baru dianggap sebagai tersangka yang paling dicurigai. Aku membantu mereka karena tujuanku untuk membongkar kasus ini, jadi kau tak bisa mengatakan aku berkomplot dengan mereka." Li Ok-lay tertawa dingin. "Opas Leng!" katanya, "andaikata mereka benar-benar pelaku kejahatan itu, kau harus sadar, melanggar hukum bukan satu kejadian enteng, apalagi melindungi kaum penjahat dari jaring hukum, hmmm! Opas Leng, mereka toh bukan sanak bukan saudaramu, apalagi masa depanmu masih panjang dan terbuka, buat apa mesti menyerempet bahaya demi mereka?"

"Selama kasus ini belum disidangkan dan diputuskan secara hukum, berarti persoalan ini belum tersingkap secara tuntas, aku berhak untuk melacak dan melakukan penyelidikan, aku harus bisa mengungkap siapa pembunuh sebenarnya dan siapa yang menjadi korban fitnah."

Bicara sampai di sini, kedua orang itu sama-sama membungkam.

Lewat beberapa saat kemudian Li Ok-lay baru tertawa tergelak. "Hahaha, bagus, bagus! Punya nyali! Punya semangat!"

"Selama ada Li-thayjin memerintah kota ini, tentunya perdana menteri Hu tak perlu merasa kuatir bukan?"

Li Ok-lay tertawa misterius, katanya, "Opas Leng kelewat memandang tinggi kemampuanku. Hu-thayjin memang sudah memperhitungkan semua kejadian ini jauh hari sebelumnya, jelas beliau jauh lebih hebat ketimbang aku. Mungkin beliau pun sudah menyadari dalam usaha membasmi kaum pemberontak bakal menghadapi berbagai rintangan, karena itu perdana menteri telah mengutus ketiga orang andalannya, 'tua, menengah dan muda' untuk datang membantu menyingkirkan semua rintangan, kelihatannya kali ini kaum penyamun tak bisa lolos dari musibah!"

Leng-hiat menarik napas panjang, sepatah demi sepatah dia berkata, "Tua, menengah, muda?"

"Si Tua tak mau mati, si manusia menengah, si bambu hijau," berkilat sepasang mata Li Ok-lay. "Mereka bertiga?" bisik Leng-hiat sambil menggenggam gagang pedangnya makin kencang.

Li Ok-lay tidak tersenyum, tapi senyuman muncul dari balik matanya, senyum penuh kelicikan dan kebusukan.

"Tentu saja," katanya, "maksud kedatangan mereka bertiga adalah untuk membasmi kaum penyamun, mencari lukisan, mengantar uang pajak balik ke kotaraja, dengan opas Leng sama sekali tak ada hubungan apa-apa."

"Tentu saja. Kalau hanya bermaksud menghadapi diriku, kekuatan Li-thayjin ditambah Hok-hui-siang-siu (sepasang manusia hokki dan cerdik) dan ratusan orang saudara yang hadir di sini pun sudah lebih dari cukup, buat apa mesti mendatangkan kekuatan dari kotaraja."

"Bagus kalau opas Leng sudah mengetahui hal ini." "Cuma kalau untuk menangkap penyamun, mengantar

lukisan dan melindungi uang pajak saja sudah mesti

mendatangkan 'tua, menengah, muda', apakah hal ini bukan membesar-besarkan masalah kecil?"

"Lukisan itu merupakan benda yang akan dipersembahkan kepada Yang mulia, membasmi perampok yang berani mencuri uang pajak jelas merupakan satu hal penting, sebagai orang yang setia pada kerajaan, perdana menteri Hu tak ingin memandang enteng urusan ini, tentu saja beliau harus mengirim jago-jagonya."

Leng-hiat manggut-manggut, katanya kemudian, "Li- thayjin, bila tak ada pesan lain, aku mohon diri."

"Opas Leng," tiba-tiba Li Ok-lay berkata, "konon kau memiliki sebilah pedang yang dapat bergerak cepat, sudah lama aku ingin melihatnya, bersediakah kau mempertontonkan pedangmu kepadaku?" Leng-hiat melengak, sekalipun Li Ok-lay bukan atasannya langsung, namun bicara soal kedudukan, jelas dia memiliki posisi jauh di atasnya.

Seandainya dia bukan termasuk salah satu dari empat opas kenamaan yang memiliki lencana bebas kematian dan lencana melakukan pembunuhan, dengan posisi Li Ok-lay sekarang, dia dapat membunuhnya tanpa disidangkan.

Konon kehebatan ilmu silat Leng-hiat terletak pada pedangnya dan sekarang Li Ok-lay telah mengajukan satu permintaan, ingin menonton pedangnya.

Bila Leng-hiat sampai kehilangan pedang, dengan senjata apa dia akan menghadapi serangan lawan?

Sebaliknya bila Leng-hiat menampik untuk memperlihatkan pedangnya, berarti dia menunjukkan sikap bermusuhan, dalam gusarnya bisa saja Li Ok-lay akan menurunkan perintah membunuh, kalau sampai terjadi hal ini, apa pula yang harus dia lakukan?

Tiba-tiba Leng-hiat melolos pedangnya.

Li Hok dan Li Hui segera melompat ke depan menghadang di hadapan Li Ok-lay, mereka bersama-sama meraba gagang pedangnya.

Sementara Li Ok-lay sendiri masih tampil dengan senyum di kulum, paras mukanya sama sekali tak berubah.

Leng-hiat mengangkat pedangnya sejajar dada, ujung pedangnya kini sudah berada hanya satu kaki dari dada Li Ok- lay, katanya, "Silakan dinikmati!"

Perlahan sekali Li Ok-lay menggunakan kedua jari tangannya untuk menjepit ujung pedang, sementara matanya mengawasi senjata itu tanpa berkedip, ujarnya pula sambil tertawa, "Menonton pedang dengan cara begini apa tidak kelewat berbahaya?" Leng-hiat kembali menggetarkan tangannya, baru saja Li Hok dan Li Hui mencabut pedangnya, Leng-hiat telah menyodorkan gagang pedangnya ke tangan Li Ok-lay sembari berkata, "Bila Li-thayjin memang menyukainya, silakan diambil untuk dinikmati."

Dengan berbuat demikian, sama artinya Leng-hiat telah menyerahkan senjata andalannya ke tangan musuh.

Kali ini paras muka Li Ok-lay berubah hebat, sementara Li Hok dan Li Hui saling bertukar pandang sekejap, lalu dengan wajah tertegun menyimpan kembali senjata masing-masing.

Sambil memegang pedang itu, beberapa kali Li Ok-lay mengayunkan pedang itu di depan tubuh Leng-hiat, terdengar desingan angin tajam menderu. "Pedang bagus, pedang bagus!" pujinya kemudian.

Kini suasana dicekam dalam keheningan, yang terdengar hanya suara batuk kakek tua itu.

Dalam keadaan begini, asal Li Ok-lay melancarkan serangan atau menurunkan perintah penyerbuan, maka sulit bagi Leng-hiat untuk lolos dari bencana kematian.

Setelah memperhatikan beberapa saat pedang itu, akhirnya Li Ok-lay mengembalikan senjata itu ke tangan Leng-hiat seraya berkata, "Sudah kulihat pedangmu, ilmu pedang yang sangat bagus!"

Dia bukan memuji pedangnya tapi memuji ilmu pedangnya, hal ini membuat semua orang melengak.

Ketika Leng-hiat sudah menerima kembali senjatanya, Li Ok-lay baru berpaling seraya berseru, "Berangkat!"

Dia naik ke dalam tandu dan rombongan itupun melanjutkan perjalanannya.

Kelima jari tangan Leng-hiat yang menggenggam gagang pedang kelihatan memutih lantaran menggunakan tenaga kelewat besar, tatkala rombongan itu sudah pergi jauh, peluh membasahi seluruh tubuhnya.

Sudah cukup jauh rombongan itu melakukan perjalanan, Li Hok dan Li Hui yang mengiringi di samping tandu pun hanya saling berpandangan tanpa mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Sudah jelas barusan mereka telah memperoleh kesempatan emas untuk menghilangkan duri dalam kulit, tapi mengapa Li Ok-lay melepaskannya begitu saja?

Li Hok serta Li Hui adalah anak angkat Li Ok-lay, kepandaian silat yang mereka pun merupakan hasil didikan Li Ok-lay langsung, dalam istana keluarga Li, walaupun kungfu yang dimiliki Ni Jian-ciu terhitung paling tinggi, namun orang yang paling dipercayainya adalah Li Hok serta Li Hui, setelah itu baru giliran dua bersaudara Yan serta Gi Yang-si.

Tiba-tiba terdengar Li Ok-lay bertanya dari balik tandu, "Bukankah kalian merasa heran bukan? Kenapa aku melepaskan peluang emas begitu saja?"

Li Hok maupun Li Hui saling bertukar pandang sekejap, mereka tak menyangka Li Ok-lay bisa membaca suara hati mereka berdua.

"Sebenarnya aku pun ingin membunuhnya," kata Li Ok-lay sambil menghela napas panjang, "tapi sayang, ketika aku sedang memegang pedangnya tadi, tiba-tiba si kakek setan penyakitan yang ada di sisinya telah mengeluarkan cahaya tajam yang jauh lebih menakutkan daripada hawa pedang!"

Li Hok maupun Li Hui merasa amat terperanjat, mereka tidak menyangka kakek rudin yang mengenakan pakaian compang-camping itu ternyata mampu menciptakan tenaga ancaman yang begitu menakutkan.

"Sekalipun aku bisa membunuh Leng-hiat dalam sekali serangan, tapi aku tidak yakin bisa menghadapi serangan gabungan mereka berdua," kata Li Ok-lay lagi dengan perasaan kecewa, "aku tak pernah mau melakukan perbuatan yang tidak yakin pasti berhasil, aku harus menunggu kesempatan lain, menunggu sampai datangnya kesempatan dimana aku yakin pasti berhasil, kecuali... kecuali keadaan sudah terpaksa ... tentu saja aku berharap keadaan terpaksa tak pernah hadir dalam hidupku."

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya, "Padahal 'tua, menengah, muda' yang diutus kemari hanya bertanggung jawab dalam pengawalan lukisan tengkorak, atasan telah mengirim seseorang yang lain, dan orang itulah baru merupakan musuh bebuyutan dari empat opas."

Nada suara Li Ok-lay terdengar sedikit bergetar, jelas ia perasaannya sedang bergolak, "Kecuali mendapat perintah membunuh semua penjahat dan pemberontak, bila perlu orang itupun diberi wewenang untuk melenyapkan empat opas dari muka bumi."

"Raja opas?" seru Li Hok tertahan. "Li Hian-ih?" sambung Li Hui.

"Benar, orang itu adalah Raja opas Li Hian-ih. Menurut laporan, Raja opas Li sudah berada di seputar sini”

Nada suaranya makin lama semakin bertambah rendah dan lirih, sedemikian lirih sehingga hanya Li Hok dan Li Hui saja yang mendengar.

"Padahal aku tak ingin turun tangan waktu itu, karena orang yang kubawa kelewat banyak, aku kuatir ada yang membocorkan rahasia pembunuhan ini. Jika Leng-hiat mati di tanganku, bukan saja aku harus siap menerima teguran dari berbagai pihak, bahkan bisa memancing kecurigaan Cukat- sianseng terhadap tuan perdana menteri sehingga meningkatkan kewaspadaannya, tindakan semacam ini sama artinya dengan gara-gara urusan kecil masalah besar jadi terbengkalai." "Tapi bukankah mereka adalah orang-orang yang amat setia kepada Thayjin?" tanya Li Hok.

"Siapa saja yang mencurigakan, katakan saja Thayjin" sambung Li Hui, "kami berdua segera akan membereskan dulu manusia cecunguk itu!"

"Aku sendiri pun tidak tahu siapa pengkhianatnya, tapi jelas pasti ada mata-mata yang menyusup ke dalam rombongan kita. Bukankah kita pun telah menyusupkan orang-orang kita ke dalam kelompok Cukat-sianseng? Dengan kecerdasan dan kelihaian Cukat-sianseng, mustahil dia tidak melakukan hal serupa. Oleh sebab itu bila ingin melakukan sesuatu kita mesti lakukan secara diam-diam, kita bertiga saja yang melakukan, kalau tidak, meski berhasil melenyapkan salah satu anak buahnya, justru kita sendiri yang akan jatuh ke mulut harimau, kita bakal rugi besar."

Dengan kemampuan yang dimiliki Li Ok-lay beserta kedua orang kepercayaannya, tidak sulit bagi mereka untuk berbicara tanpa terdengar pihak keempat, sekalipun ada pihak keempat pun, belum tentu mereka berani mendengarkan.

Li Hok dan Li Hui merasa kagum bercampur hormat, serentak mereka berseru, "Baik!"

Dalam pikiran mereka berdua, saat ini persaingan politik sedang berlangsung gencar, tapi dengan dukungan Li-thayjin dan petunjuk perdana menteri Hu, masa depan mereka berdua bakal cemerlang, saat menduduki posisi tinggi pun tinggal menunggu waktu.

Sebaliknya dalam hati kecil Li Ok-lay sedang berkecamuk berbagai pertanyaan, siapakah setan penyakitan itu? Siapa sebenarnya setan penyakitan yang berilmu tinggi itu?

ooOOOoo
*** ***
Note 19 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Cersil Hari ini akan diupload pukul 20.00 WIB."

(Regards, Admin)

0 Response to "Misteri Lukisan Tengkorak Bab 23 : Lihat Pedang"

Post a Comment

close