Misteri Lukisan Tengkorak Bab 21 : Lotoa Loji

Mode Malam
21. Lotoa Loji.

Sampai dia berhasil menguasai ilmu tinggi, Yan Yu-sim belum pernah melupakan kisah pengalamannya di sungai A- kong, ia sadar bahwa dirinya sudah jatuh hati terhadap gadis itu.

Sampai belakangan ini, dalam suatu kesempatan yang tak terduga, ketika dia mengikuti Li Ok-lay Li-thayjin mengunjungi rumah pelacuran Kiok-hong-wan, baru diketahui kalau Lan Botan si bunga Botan biru ternyata adalah gadis yang diimpikan siang malam itu.

Tapi gadis itu sama sekali tak mengenali dirinya lagi.

Meskipun dalam hati kecilnya ia terkejut, namun perasaan itu tak diutarakan, sebab dia tahu Li-thayjin menganggap si bunga botan biru sebagai benda yang tak boleh dijamah siapa pun, namun Lu-thayjin pun kesemsem dengan kecantikannya.

Berbicara dari status serta kedudukannya, baik terhadap Li- thayjin maupun terhadap Lu-thayjin, dia sama sekali tak berani mengusiknya.

Kemudian dia pun mendapat kabar kalau Kwan Hui-tok sudah dijebloskan ke dalam penjara, padahal terhadap tokoh pahlawan yang sangat disanjung gadis itu, ia menaruh rasa benci yang luar biasa, maka berulang kali ia mempersembahkan siasat kepada Li Wang-tiong, membuat pembesar itu menaruh rasa benci yang besar terhadap Kwan Hui-tok dimana pada akhirnya ia berusaha menghabisi nyawanya.

Setelah Kwan Hui-tok tewas, Ting Tong-ih menyerbu ke dalam penjara, Yan Yu-sim pun tak tega menyaksikan gadis itu tertangkap, maka sambil berlagak turun tangan, diam-diam ia memberi petunjuk kepada Ting Tong-ih hingga berhasil melarikan diri.

Kembali Yan Yu-sim menatap gadis itu dengan luapan cinta yang membara, ujarnya setengah emosi, "Nona Ting, sejak peristiwa penyeberangan di sungai A-kong, aku selalu ... selalu merindukan dirimu, siang kubayangkan malam kuimpikan ... masih ingat, suatu kali dalam mimpiku, aku menyaksikan kau ... kau sangat baik kepadaku, sambil tidur aku tersenyum, akhirnya senyum dan tawaku membangunkan Loji dari tidurnya, Loji pun segera membangunkan aku, sungguh waktu itu aku tak ingin mendusin dari tidurku, sebab begitu bangun, kau akan lenyap dari pandanganku, lenyap tak berbekas, maka aku melanjutkan tidurku, aku berharap bisa mendapat impian indah lagi, sayangnya...”

Dengan sedih dan masgul ia menambahkan, "Sayang aku tak pernah memimpikan dirimu lagi."

Ting Tong-ih termenung beberapa saat lamanya, kemudian serunya cepat, "Bukankah aku ... aku sudah berada di hadapanmu sekarang?"

"Benar, kau memang berada di hadapanku”gumam Yan Yu- sim.

Ting Tong-ih berusaha keras menenangkan hatinya, kembali ia berkata, "Aku berada di hadapanmu, bukankah semuanya sudah bagus?"

"Kau sudah berada di hadapanku, semuanya sudah bagus... aah tidak, tidak mungkin!" seru Yan Yu-sim dengan mata melotot.

"Kenapa tidak mungkin?" diam-diam Ting Tong-ih mulai gelisah, "bukankah aku telah berada di hadapanmu? Semua ini kenyataan!"

"Kau tak mungkin bersikap baik terhadapku!" sambil menutupi wajah sendiri Yan Yu-sim nyaris sesenggukan.

"Kenapa aku tak mungkin bersikap baik kepadamu?

Bukankah aku sangat baik kepadamu?"

Perlahan-lahan Yan Yu-sim menurunkan kembali tangannya. "Kau... apakah kau akan bersikap sebaik dalam impianku itu?" "Bagaimana sih sikapku di dalam impianmu?" tanya Ting Tong-ih sambil tersenyum.

Tapi begitu melihat sorot mata Yan Yu-sim, ia segera mengerti apa yang terjadi. Bagaimanapun dia sudah bukan seorang gadis kecil yang tak berpengalaman, apalagi kehidupannya dalam rumah plesiran Kiok-hong-wan membuat perempuan ini semakin paham akan seluk-beluk hubungan laki perempuan.

Sebagai seorang wanita, dia bukannya tak punya rasa jengah, hanya saja sikapnya jauh berbeda dengan sikap wanita kebanyakan.

Terdengar Yan Yu-sim bergumam lagi, "Kau... benar-benar akan bersikap baik seperti dalam... dalam impianku?"

Ting Tong-ih manggut-manggut.

Tiba-tiba sorot mata Yan Yu-sim berubah tajam lagi, ia menyapu sekejap wajah Ko Hong-liang dan Tong Keng, kemudian serunya penuh emosi, "Tapi kau... kau pasti meminta kepadaku untuk membebaskan mereka bukan?"

Kembali Ting Tong-ih mengangguk, meski bola matanya sedang memandang ke arahnya, namun kerlingan matanya sangat menawan hati.

Yan Yu-sim menghela napas panjang. "Tapi... aku tak bisa membebaskan... tidak, aku tak bisa membebaskan mereka!"

"Cepatan sedikit, lihat, minyak lentera sudah hampir habis." Segera Yan Yu-sim menambah minyak pada lentera itu,

setelah cahaya api menjadi terang kembali, ia berpaling

memandang Ting Tong-ih, tapi dengan cepat ia tertegun setelah menyaksikan raut muka gadis itu.

Ternyata Ting Tong-ih sedang mengernyitkan sepasang alis matanya yang lembut dan melengkung itu, seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu. Seketika itu juga Yan Yu-sim merasa hatinya bergolak keras, sekalipun tubuh indah yang diimpikan siang malam masih jauh dari hadapannya, namun dia seperti sudah merasakan kelembutan dan hawa hangat tubuhnya, merasakan pula lelehan keringat serta getaran lirih badannya.

Untuk sesaat Yan Yu-sim tak kuasa menahan rangsangan birahi yang menggelora dalam hatinya.

Tiba-tiba Ting Tong-ih berbisik lagi, "Ada satu hal aku tak tahu harus memberitahukan kepadamu atau tidak."

"Ehmm?" untuk sesaat Yan Yu-sim tidak memperhatikan apa yang dikatakan gadis itu.

Perlahan Ting Tong-ih mendongakkan kepala, dengan sorot mata sendu, sayu dan penuh kepedihan ia berkata, "Selama hidup mengembara dalam dunia persilatan, pernahkah kau berpikir untuk menikah, mempunyai anak, membangun keluarga dan meneruskan sisa hidupmu dengan aman tenteram?"

Yan Yu-sim tertegun, selama puluhan tahun hidup berkelana dalam dunia persilatan, kini usianya sudah mendekati empat puluh tahun, cahaya golok bayangan pedang mana yang tak pernah dijumpai? Kesengsaraan, penderitaan mana yang belum pernah dialami? Tapi belum sekali pun ia memikirkan masa depannya, dia pun belum pernah membayangkan untuk hidup tenteram sambil mengasuh anak cucu.

Berkilat sepasang matanya setelah mendengar ucapan itu, tiba-tiba ia menggenggam tangan Ting Tong-ih, lalu bisiknya, "Nona Ting, kawinlah denganku...”

"Kau tidak malu mempersunting seorang wanita yang sudah bertubuh rongsok macam aku” kata Ting Tong-ih sambil menundukkan kepalanya. "Tidak, sama sekali tidak malu," tukas Yan Yu-sim sebelum gadis itu menyelesaikan perkataannya, "kenapa aku mesti malu? Kenapa aku mesti keberatan”

Sejujurnya dia memang tak ambil peduli tentang persoalan itu.

Ting Tong-ih bersandar di sisi dinding dengan perasaan lelah, karena tangannya digunakan untuk menahan kepala, ujung bajunya segera melorot ke bawah hingga batas ketiak, lengannya yang putih halus pun seketika muncul di depan mata, membuat siapa pun yang memandang menjadi terangsang, terpesona dibuatnya.

"Tapi ... kalau kita menikah, belum tentu kehidupan kita bisa dilalui dengan gembira dan tenteram”

"Kau merasa malu kawin denganku?" berubah paras muka Yan Yu-sim.

Ting Tong-ih tertawa. "Cepat bebaskan dulu totokan jalan darahku," pintanya.

Seandainya Ting Tong-ih mengumbar janji, bisa jadi secara bodoh Yan Yu-sim akan membebaskan jalan darahnya, seandainya Ting Tong-ih memancingnya disertai rayuan, bisa jadi Yan Yu-sim akan membebaskan jalan darahnya, tapi Ting Tong-ih tidak berbuat begitu, mula-mula dia membangkitkan dulu perasaan cinta Yan Yu-sim dengan ucapan kemudian memberikan pukulan secara diam-diam, setelah itu baru mengajukan permintaan, hal ini membuat Yan Yu-sim percaya bahwa permintaan yang diajukan gadis itu merupakan satu tindakan yang seharusnya dilakukan, membebaskan totokan jalan darahnya pun merupakan satu hal yang wajar.

Namun dia hanya membebaskan jalan darah kaku serta jalan darah di tangan kirinya, sementara sepasang kaki serta lengan kanannya masih tetap tak bisa digerakkan. Kemudian Yan Yu-sim menarik sesuatu benda yang berada di dasar buli-buli, Ting Tong-ih seketika merasakan belenggu di tubuhnya mengendor.

Ternyata kemampuan benda itu memang luar biasa hebatnya.

Ting Tong-ih merasakan tubuhnya yang terbelenggu sama sekali tidak meninggalkan bekas apa-apa, dia pun tidak merasa peredaran darahnya tersumbat ataupun merasa linu dan sakit, diam-diam ia terkejut bercampur keheranan.

Ketika berpaling memandang ke arah Ko Hong-liang dan Tong Keng, tampak kedua orang itu masih tetap tergeletak di tanah dalam keadaan tak sadarkan diri.

Perlahan-lahan ia membenahi rambutnya yang kusut, kemudian katanya, "Di depan mata saat ini terdapat sejumlah harta, asal kau bisa mendapatkannya maka kita berdua bisa segera kabur ke ujung dunia."

"Maksudmu...”

"Uang kawalan” bisik Ting Tong-ih sambil menggunakan dagunya menunjuk ke arah Ko Hong-liang dan Tong Keng yang tergeletak di tanah.

"Haah, tak heran, tak heran...” "Tak heran apa?"

"Tak heran Li-thayjin begitu panik dan ribut karena persoalan ini, tampaknya dia memang sengaja membesarkan masalah yang sebenarnya cuma urusan kecil, ternyata ... ternyata uang kawalan itu belum hilang!"

Ting Tong-ih tersenyum, dengan lagak kelelahan dia sengaja memicingkan sebelah matanya sambil bergumam, "Coba pikirkan lagi ... lima belas juta tahil emas murni, wouw.. jumlah yang menggiurkan” "Lima belas juta tahil emas murni...” Yan Yu-sim mulai bergumam.

"Lima belas juta tahil emas murni ... jumlah yang cukup bagi tiga generasi kita hidup makmur!"

Yan Yu-sim tertegun beberapa saat lamanya, kemudian katanya, "Ya, bisa membeli banyak gedung mewah, dapat menikmati hidangan lezat setiap hari, dapat memelihara banyak anak”

Kemudian dengan sorot mata berkilat serunya, "Cepat katakan! Uang kawalan itu berada dimana?"

Ting Tong-ih segera mencibirkan bibirnya. "Galak amat sih kamu ini, aku toh hanya bermaksud baik kepadamu, aku hanya ingin kau turut mengetahui rahasia ini, memangnya kau hendak memaksa aku buka suara?"

Yan Yu-sim segera menyadari kekasaran dan keberangasan diri, segera serunya, "Nona Ting, maafkan aku, tolong katakan dimana uang kawalan itu disimpan, asal bisa kudapatkan uang itu, kita bisa segera kabur ke ujung dunia."

"Soal ini...” Ting Tong-ih menggigit bibirnya yang basah. "Nona Ting, darimana kau mengetahui rahasia ini?" tiba-

tiba Yan Yu-sim bertanya lagi.

Ting Tong-ih tertawa. "Uang kawalan itu memang tak pernah hilang, Ko-kokcu memang sengaja menyembunyikannya untuk digunakan sendiri; aku adalah komplotannya, masa tidak tahu!"

"Aah, betul, betul, betul, aku memang goblok," seru Yan Yu-sim sambil memukul kepala sendiri, "kenapa tidak terpikir olehku ... lantas uang kawalan itu ...?”

"Bimbing aku lebih dulu," tukas Ting Tong-ih kemalas malasan. Segera Yan Yu-sim membimbing gadis itu bangkit dari lantai, ketika tangannya menyentuh kulit badan si nona yang halus, lembut dan harum baunya, Yan Yu-sim segera merasakan kepalanya pusing seperti orang mabuk.

"Sekarang bimbinglah aku ke pintu, ambil lampu," ujar Ting Tong-ih lagi.

Yan Yu-sim membimbing Ting Tong-ih menuju ke depan pintu, cahaya lentera segera menerangi suasana gelap di luar sana.

Ting Tong-ih segera menuding ke arah depan, mengikuti arah yang ditunjuk, Yan Yu-sim memandang ke muka, pada jarak dua puluhan depa di depan situ lamat-lamat ia menyaksikan ada cahaya api, di antara hembusan angin malam terendus bau ampas tahu yang sangat menyengat.

Karena tak melihat dengan jelas, Yan Yu-sim mengangkat lenteranya lebih ke atas. "Dimana?" tanyanya.

Ting Tong-ih mundur selangkah dengan bahu kiri bersandar pintu, sementara sepasang matanya mengawasi dengan tajam titik kelemahan di bawah ketiak Yan Yu-sim.

Titik kelemahan itu merupakan sebuah jalan darah kematian.

"Dipendam di situ!" ujar Ting Tong-ih lagi dengan tenang. Kembali Yan Yu-sim menggeser badannya, kini jalan darah

Coan-sim-hiat di bawah ketiaknya semakin terbuka.

"Aneh," gumamnya, "kenapa bisa secara kebetulan dipendam di sini?"

Diam-diam Ting Tong-ih menghimpun tenaga dalamnya ke jari tangan kanan, dengan berlagak seakan tak ada kejadian apa-apa jawabnya, "Kenapa tidak mungkin? Ko-kokcu dan Tong-piauthau justru berusaha keras kembali ke Cing-thian, apa lagi tujuannya kalau bukan untuk menggali harta kawalan itu?"

Yan Yu-sim menjulurkan kepalanya keluar, dengan nada tulus ujarnya sepatah demi sepatah, "Nona Ting, apapun yang kau ucapkan, aku selalu percaya kepadamu, biar mesti mati di tanganmu pun aku rela, aku bersedia."

Sebetulnya waktu itu Ting Tong-ih sudah siap turun tangan, hatinya bergetar keras setelah mendengar ucapan itu. Dia mencoba menengok ke arah orang itu, tampak Yan Yu-sim dengan memegang lentera sedang mengawasi luar pintu, sinar yang redup menyinari punggungnya yang bungkuk, meski kelihatan amat buruk, tapi entah mengapa dia malah tak tega turun tangan.

Sementara dia masih ragu, Yan Yu-sim sudah berpaling kembali, titik kelemahan yang terbuka pun kembali hilang.

Ting Tong-ih sadar, sekalipun berada di waktu biasa, belum tentu dia mampu menandingi orang ini, apalagi sekarang, selain sebagian jalan darahnya masih tertotok, dalam ruang lain pun masih terdapat Yan Yu-gi.

Tampak sepasang mata Yan Yu-sim berbinar-binar, dengan luapan rasa terima kasih katanya, "Terima kasih banyak nona Ting, terima kasih banyak, aku harus memberitahu kabar ini kepada Loji, aku harus memberitahu dia lebih dulu."

Ting Tong-ih tahu, apabila gembong iblis itu keluar, bisa jadi nona kecil si Ikan rebus tak bisa lolos dari nasib tragis, segera cegahnya, "Jangan, lebih baik hanya kita berdua yang mengetahui rahasia ini, apalagi bila dia sampai tahu, bukankah kita mesti membagi satu bagian kepadanya?"

Tertegun Yan Yu-sim setelah mendengar perkataan itu, menyusul kemudian ia mendongakkan kepala lagi, perlahan- lahan sorot matanya berubah dingin membeku. Ting Tong-ih tertawa paksa, katanya, "Aku berbuat begini demi...”

Yan Yu-sim menggeleng.

"Aku boleh saja berbohong kepada orang lain, tapi aku tak akan membohongi adik kandungku sendiri." Habis berkata tiba-tiba ia turun tangan. Ting Tong-ih hanya merasakan pandangannya kabur, tahu-tahu jalan darahnya sudah tertotok, sekalipun tak sampai kehilangan kesadaran.

Dengan cepat Yan Yu-sim menyambar pinggangnya dan berkata lembut, "Kau tak usah takut, setelah selesai kubicarakan masalah ini dengan Jite, kita gali emas murni itu dan hidup bersama dengan riang."

Seketika itu juga Ting Tong-ih merasa menyesal, rasa menyesal yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Gara- gara tak tega, dia bukan saja telah merusak seluruh rencananya bahkan bisa jadi akan mengorbankan nyawa Ko Hong-liang serta Tong Keng.

Pada saat itulah terdengar Yan Yu-sim berseru, "Loji, apakah kau sudah merasa agak baikan?"

"Aku ada di sini," mendadak seseorang menjawab dari belakang tubuhnya dengan nada dingin.

Dengan perasaan terkejut Yan Yu-sim berpaling, ternyata Yan Yu-gi sudah berdiri hanya lima langkah di belakang punggungnya.

"Loji" seru Yan Yu-sim girang, "ternyata uang pajak yang dikawal Sin-wi-piau-kiok tidak hilang, tapi dipendam di sebuah tempat di depan sana."

Dengan sinar mata setajam sembilu Yan Yu-gi menatap Ting Tong-ih sekejap, dengusnya ketus, "Kau jujur?"

Terpaksa Ting Tong-ih mengangguk. "Kalau begitu kita...” agak ragu Yan Yu-gi berpaling memandang wajah saudaranya. "Emas itu...”

Yan Yu-gi segera melakukan gerakan tangan seolah-olah sedang menyembelih manusia.

Melihat itu Yan Yu-sim tertawa aneh, Yan Yu-gi pun ikut tertawa aneh, mereka berdua mulai tertawa terbahak-bahak, menyusul kemudian tertawa terpingkal-pingkal hingga membungkukkan badan, tertawa hingga napasnya tersengal- sengal.

"Kita ... tak usah menahan ... rasa dongkol lagi” serunya gemetar.

"Lima belas juta tahil emas ... lebih dari cukup buat kita untuk hidup makmur”

Mereka mulai berangkulan, mulai berpelukan sambil tertawa keras.

"Lotoa!" seru Yan Yu-gi kemudian. "Ada apa?"

"Lima belas juta tahil emas bukan jumlah yang kecil "Tentu saja bukan jumlah yang kecil," sahut Yan Yu-sim sambil tergelak, "coba lihat, kau sudah mulai bingung saking gembiranya!"

"Sayangnya, kau tak punya kesempatan untuk menikmati uang itu," lanjut Yan Yu-gi.

Sementara Yan Yu-sim masih tertegun, sepasang lengan Yan Yu-gi yang sedang memeluk saudaranya itu menjepit lebih kuat lagi, kemudian bagaikan sepasang jepitan baja ia jepit sepasang lengan saudaranya, mengerahkan tenaga dan terdengarlah suara tulang lengan yang patah.

Bukan hanya patah, menyusul kemudian terdengar lagi suara gemerutukan nyaring, setiap bagian lengannya yang patah kembali hancur berkeping-keping. "Kau...” jerit Yan Yu-sim kesakitan, wajahnya berubah menjadi merah.

Menyusul kemudian terdengar lagi suara gemerutukan nyaring, tulang iganya mulai patah satu demi satu, lalu tulang dada, tulang pinggul ... semburan darah segar ikut muncrat keluar dari mulutnya.

Yan Yu-sim menjerit keras, ia menjerit bagai suara lolongan serigala menjelang maut, sekuat tenaga dia meronta.

Sungguh dahsyat tenaga rontaan itu, Yan Yu-gi muntah darah, tapi dia sama sekali tak berbicara, ilmu mayat hidupnya dikerahkan sepenuh tenaga untuk menghajar tubuh Yan Yu- sim.

"Pleetakk ... !", tulang punggung Yan Yu-sim patah jadi dua.

Kini Yan Yu-sim sudah tak sanggup mengendalikan tubuhnya lagi, ia terjatuh ke belakang.

Kembali Yan Yu-gi menjepit jalan darah Tay-yang-hiat di kening kiri kanannya sambil memuntir dengan kuat, "Pleetak...!", sekali lagi terdengar suara tulang patah.

Ternyata tulang tengkuk Yan Yu-sim sudah hancur berantakan.

Sekalipun sudah berada dalam kondisi parah, Yan Yu-sim tidak tinggal diam, dengan mengerahkan sisa tenaga yang dimilikinya dia melancarkan serangan terakhir.

Dengkulnya langsung menyodok ke lambung Yan Yu-gi. "Duuuk!", begitu sodokan bersarang telak, Yan Yu-gi

mundur dengan sempoyongan.

Yan Yu-sim berusaha meronta dengan sepenuh tenaga, tapi sayang dia sudah kehilangan tulang punggung, kepalanya sudah melengkung ke belakang nyaris menempel tanah, kemudian tulang lehernya ikut patah, maka sepasang matanya dapat melihat telapak kaki sendiri.

Sorot mata dan kulit wajahnya mendadak mengejang keras, mengejang aneh, sayang itupun tidak berlangsung lama, setelah menengok Ting Tong-ih untuk terakhir kalinya, batok kepala itupun menyentuh tanah, kaki tak mampu berdiri tegak dan seluruh badannya terjerembab mencium bumi.

Mungkin sesaat menjelang ajalnya dia masih ingin mengucapkan sesuatu, sayang dia sudah tak sanggup bicara lagi.

ooOOOoog
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Misteri Lukisan Tengkorak Bab 21 : Lotoa Loji"

Post a Comment

close