Misteri Lukisan Tengkorak Bab 15 : Gua Gelap. Bukit Jui-bin-san

Mode Malam
15. Gua Gelap. Bukit Jui-bin-san.

Pantulan cahaya senja di bukit Jui-bin merupakan sebuah pemandangan alam yang sangat indah, tanah perbukitan yang sambung menyambung mempersatukan tujuh puluh lima buah puncak bukit menjadi sebuah gunung yang menawan, bukit bagian tengah yang mirip Pousat sedang duduk bersila dikelilingi banyak puncak tebing kecil di sekelilingnya, sebuah perpaduan alam yang menakjubkan.

Sejak dari punggung bukit hingga ke puncak gunung, banyak berserakan gua yang sambung menyambung, mulut gua gelap gulita susah untuk melihat jelas keadaan di dalamnya, konon di dalam gua-gua itu banyak terdapat harta karun yang tak ternilai harganya, tapi setiap kali ada yang berusaha menemukan harta karun itu, tak satu pun di antara mereka yang bisa kembali dalam keadaan selamat.

Leng-hiat pun mengetahui tentang bukit ini, juga tahu tentang gua-gua yang berserakan, tapi dia tak menguasai keadaan medan di seputar sana.

Justru yang sangat menguasai keadaan tempat itu adalah Tong Keng, sebab sejak kecil dia memang sering bermain di seputar tempat ini, Ko Hong-liang pun cukup menguasai keadaan seputar sana.

Sewaktu mereka tiba di bukit Jui-bin-san, waktu menunjukkan pagi hari, saat fajar baru saja akan menyingsing.

Semalam mereka menginap di bawah gunung, melakukan penjagaan secara bergilir, dalam keadaan begini mereka tak berani meneruskan perjalanan di tengah kegelapan, kuatir mendapat serangan di luar dugaan.

Ketika tiba di gunung Jui-bin-san, tepat saat sang surya memancarkan sinar keemasannya, suasana terang benderang dan sejauh mata memandang nampak langit amat bersih dan angin berhembus semilir.

Sambil menunjuk ke sebuah celah di antara bukit karang, seru Tong Keng tiba-tiba, "Bila kita melompat turun di antara celah bukit dan berjalan menerobos gua, maka dalam waktu singkat kita akan tiba di kota Cing-thian-tin"

Sambil berkata ia melompat turun duluan diikuti Leng-hiat di belakangnya, menyusul kemudian Ting Tong-ih dan Ko Hong-liang berjaga di paling belakang.

Gua karang itu sangat sempit dan terjal, suasana di situ gelap gulita hingga susah melihat kelima jari tangan sendiri, Tong Keng di depan dan Ko Hong-liang di belakang segera menyulut obor sebagai penerangan, tapi setiap beberapa langkah mereka harus melompat turun ke bawah sedalam beberapa kaki, permukaan tanah yang berbatu tajam amat sulit diinjak.

Lebih kurang setengah jam kemudian, setelah berbelok beberapa tikungan gua, tiba-tiba udara terasa segar sementara lorong pun bertambah lebar.

Di dalam gua itu terdapat aneka macam bebatuan berbentuk aneh, ketika tertimpa cahaya segera memantulkan sinar gemerlapan yang sangat indah.

Walaupun gua itu semakin melebar namun suasana amat hening, sedemikian sepinya hingga detak jantung setiap orang pun dapat terdengar sangat jelas.

Tiba-tiba Tong Keng menengadah ke atas.

Semua orang tertegun, mereka tak tahu apa yang hendak dilakukan pemuda itu, ternyata Tong Keng hanya bersin.

Suara bersin yang bergaung keras membuat suara itu memantul kemana-mana, tak tahan Ting Tong-ih berseru sambil tertawa, "Coba kau lihat, hampir dari setiap sudut gua terdengar suara pantulan bersinmu."

Kembali mereka berempat menelusir jalan berbatu yang amat curam, tiba-tiba Leng-hiat memanggil, "Ko-kokcu!"

"Ada apa?" tanya Ko Hong-liang.

"Dapatkah kau menceritakan kembali kisah kejadian yang menimpa perusahaan ekspedisi Sin-wi-piau-kiok hingga kehilangan barang kawalannya?"

Ko Hong-liang menghela napas panjang, sebelum ia sempat menjawab, Ting Tong-ih kembali berseru sambil tertawa, "Benar, lebih baik kau yang bercerita, ketimbang semua orang harus mendengarkan suara orang bersin”

Ko Hong-liang tertawa getir. "Kisah ceritaku mungkin jauh lebih tak sedap didengar ketimbang suara bersinnya," katanya, "aaai, di seputar Cing- thian-sian, perusahaan ekspedisi Sin-wi-piau-kiok terhitung punya nama, sekalipun berlokasi di sebuah kota kecil namun banyak teman persilatan yang memberi muka kepada kami dengan memberi berbagai order pengiriman

"Ko-kokcu tak perlu rendah hati," tukas Leng-hiat, "dulu, sewaktu Ko-lotoaya mendirikan perusahaan ekspedisi Sin-wi- piau-kiok, Cukat-sianseng pun pernah berkata kepada Sik Hong-sian, Sik-thayjin bahwa perusahaan ekspedisi ini mempunyai pamor yang hebat, hubungan antar majikan dengan anak buah lebih akrab dari saudara, bahkan tak pernah mau menerima pengawalan barang yang tak jelas asal-usulnya, bukan saja hasil kerja keras perusahaan sering didermakan kepada fakir miskin, banyak keluarga miskin yang ditampung dalam perusahaan, diberi pendidikan silat dan diajak bekerja dalam pengawalan barang."

Setelah berhenti sejenak, kembali lanjutnya, "Oleh sebab itu Cukat-sianseng pernah berkata kepada Sik-thayjin, dengan cara kerja Sin-wi-piau-kiok yang bersih dan mengutamakan norma hidup, asal bisa bertahan dua tiga puluh tahun, maka keberhasilannya pasti akan luar biasa."

"Ketika Sik-thayjin masih memangku jabatan, beliau memang sangat memperhatikan perusahaan kami," segera Ko Hong-liang menyambung, "waktu itu tak pernah ada peristiwa apapun yang menimpa perusahaan kami”

"Sik Hong-sian, Sik-thayjin akhirnya tewas dicelakai kaum durjana dan pembesar laknat," sambung Leng-hiat dengan nada sedih, "bukan hanya dirinya yang terbunuh, nyaris seluruh anggota keluarganya musnah dibantai, padahal berulang kali Cukat-sianseng telah memperingatkan agar untuk sementara waktu mengungsi lebih dulu daripada dicelakai orang jahat, ketika akhirnya dalam perjalanan menuju kota Si-ciu, Sik-thayjin dihadang orang jahat di tengah jalan dan mati terbunuh!"

Bicara sampai di sini nadanya menjadi sumbang karena dipengaruh emosi dan amarah.

Ko Hong-liang menghela napas panjang. "Sik-thayjin adalah seorang pembesar yang bersih, adil dan suka menegakkan kebenaran, sayang dia mati dibunuh pejabat laknat, konon orang yang membunuh Sik-thayjin adalah jago lihai yang berasal dari istana Cukat, apa betul?"

"Betul, salah satu di antara kawanan pembunuh itu adalah murid keponakan Cukat-sianseng, orang menyebutnya Cing- bwe-tiok (Bambu hijau), mereka sudah berbuat bejad, suka mengkhianati ajaran leluhur, mencelakai rakyat, bergabung dengan kaum laknat untuk berbuat jahat, orang tamak kekuasaan dan harta semacam ini sudah tidak pantas menjadi anggota istana Cukat lagi," kata Leng-hiat dengan nada dendam.

Ko Hong-liang memang kurang begitu paham terhadap pertikaian dan persaingan yang terjadi di kalangan atas, khususnya antara para pejabat berkuasa, maka dia hanya mengiakan dan kemudian berkata lebih jauh, "Semenjak memperoleh dukungan serta perlindungan dari Sik-thayjin, usaha ayahku berjalan lancar, wilayah jelajah perusahaan ekspedisi Sin-wi-piau-kiok pun kian hari kian bertambah luas, kemudian setelah ayah wafat, perusahaan ekspedisi ini diserahkan ke tanganku, berkat perlindungan ayah di alam baka, aku pun berhasil mengembangkan perusahaan ini dari yang semula hanya tiga kantor cabang menjadi sembilan kantor cabang, aaai ... tak nyana, setelah Sik-thayjin tewas dibunuh orang, segala sesuatu pun ikut berubah secara drastis

"Dulu ayahmu adalah salah satu orang yang paling mendapat perhatian Sik-thayjin, beliau sudah banyak berjasa bagi kehidupan rakyat kecil, sudah banyak melakukan perbuatan mulia, setelah Li Ok-lay Li-thayjin mendapat kuasa, tentu saja dia tak nanti akan mempergunakan kalian lagi."

Ko Hong-liang tertawa pedih.

"Sebagai seorang lelaki sejati, hidup merupakan tantangan dan setiap orang wajib menerima kenyataan, jadi masalah mau dipergunakan atau tidak, mau diperhatikan atau tidak, buat kami bukan masalah. Tapi dia sengaja memfitnah, mengadu domba, menjadikan orang sebagai kambing hitam dengan menuduh kami sebagai pemberontak, jelas dia mempunyai ambisi dan rencana busuk di balik semua tindakannya itu, berulang kali mereka membikin susah kami, dalam keadaan begini terpaksa aku menggabung kesembilan kantor cabang menjadi empat kantor cabang saja, aaai ... tak nyana akhirnya dari dua kantor cabang yang tersisa, kami harus kehilangan barang kawalan secara beruntun, karena tak sanggup mengembalikan barang kawalan, kantor kami pun akhirnya disegel, kini yang tersisa hanya sebuah kantor cabang serta kantor pusat di Cing-thian."

Sekali lagi Tong Keng bersin, bersin dengan suara keras.

Tiba-tiba Ko Hong-liang bertanya, "Saudara Leng, apakah kau hendak mengatakan sesuatu?"

"Aku rasa seandainya Cukat-sianseng berada di sini, dia pasti akan menasihatimu dengan sepatah kata," ucap Leng- hiat.

"Silakan saja diutarakan."

"Sin-wi-piau-kiok sudah berjuang mati-matian untuk mempertahankan diri, semangat dan perjuangan kalian memang sangat mengagumkan, tapi aku rasa kini sudah saatnya untuk dibubarkan."

"Benar," Ko Hong-liang menghela napas panjang, "dalam situasi kalut dan serba tak menentu seperti saat ini, menyelamatkan jiwa anggota memang merupakan tindakan paling bijak, sebab mempertahankan panji kebenaran dan keadilan dalam situasi seperti ini justru merupakan sebuah tindakan yang sangat bodoh."

"Bila kau membuka lembaran sejarah, maka akan kau jumpai banyak contoh kejadian seperti ini."

"Bukannya aku tak tahu akan hal ini, tapi Sin-wi-piau-kiok terdiri dari beratus jiwa, semua orang butuh nasi untuk hidup, jadi tak mungkin dibubarkan begitu saja tanpa persiapan matang, itulah sebabnya ... terjadilah peristiwa di Pak-han- sam-pei yang sangat menghebohkan itu."

"Bluuk!" tiba-tiba Leng-hiat dan Tong Keng terjerumus ke dalam kubangan air, Tong Keng segera berseru, "Hati-hati, di bawah ada kubangan!"

Kemudian terdengar Leng-hiat berkata lagi, "Silakan kau melanjutkan perkataanmu."

"Tahukah saudara Leng kalau pajak tanam di seputar tempat ini telah dinaikkan berlipat ganda?" tanya Ko Hong- liang kemudian.

Leng-hiat manggut-manggut.

"Ya, aku pun dengar iklim di seputar tempat ini sangat bersahabat sehingga hasil panen meningkat tajam, penghasilan rakyat pun berlipat ganda, itulah sebabnya pajak penghasilan mereka dinaikkan”

"Sialan!" umpat Ko Hong-liang sinis, "itu hanya alasan yang digunakan kawanan anjing pejabat itu untuk memberikan laporan ke atasan”

Mendadak teringat akan sesuatu, segera ia menambahkan, "Aku bukan sedang memaki dirimu!"

Kemudian setelah menarik napas panjang, lanjutnya, "Siapa bilang hasil panen mereka melimpah? Siapa bilang penghidupan mereka bertambah makmur? Wilayah seputar Kou-cu-kok tak pernah aman, perampok merajalela, awal tahun lalu sungai Huang-ho meluap sehingga menimbulkan bencana banjir yang parah, lalu terjadi kebakaran hutan yang luas di seputar hutan Ang-to-kan, ditambah lagi wabah penyakit yang menimbulkan banyak kematian, boleh dibilang semua bencana, semua musibah telah menimpa wilayah ini ... betul-betul sialan, betul-betul terkutuk!"

Mendadak ia seperti sadar akan sesuatu, kembali tambahnya, "Aku bukan mengatakan kau yang sialan, bukan kau yang terkutuk, tapi kawanan pejabat korup, pembesar laknat itulah yang bajingan bangsat terkutuk!"

Tampaknya Tong Keng pun tak kuasa menahan diri, serunya pula, "Hmmm, apa itu berkat perlindungan Kaisar, rakyat hidup makmur, panen berlimpah ruah, pajak dinaikkan karena penghasilan rakyat meningkat ... semuanya bohong, masih mendingan kalau hanya sebatas itu, tahukah kau bahwa sekarang berlaku juga pajak garam, pajak beras, mungkin sebentar lagi juga akan berlaku pajak kepala, setiap keluarga yang melahirkan bayi, mereka langsung dikenakan pajak sebesar tujuh delapan pikul beras tiap tahunnya, mereka yang membeli tiga stel pakaian tiap tahunnya juga mendapat tambahan pajak, he, permainan macam apakah ini!"

Hijau membesi wajah Leng-hiat mendengar penuturan itu, sorot matanya memancarkan sinar berapi namun mulurnya tetap membungkam, siapa pun tak ada yang tahu apa yang sedang dia pikirkan.

Setelah mengerling ke arah Leng-hiat sekejap, kembali Ko Hong-liang berkata, "Tahun ini dari wilayah Cing-thian saja telah berhasil dikumpulkan uang pajak sebesar lima belas juta tahil emas murni, mereka mengutus kami untuk mengawalnya menuju ke kotaraja” 

"Apakah selama ini uang pajak selalu ... selalu kalian yang mengawalnya menuju kotaraja?" tiba-tiba Leng-hiat menukas.

"Tentu saja bukan, selama ini urusan pengiriman pajak selalu dilakukan pasukan pemerintah, tapi sejak tahun lalu dengan alasan pasukan pemerintah sedang dikirim ke perbatasan hingga kekurangan tenaga, maka tanggung jawab pengiriman uang diserahkan kepada kami, ongkos pengawalannya memang ... memang tidak terhitung sedikit."

Setelah menghela napas panjang, katanya lebih jauh, "Dalam dua pengiriman sebelumnya, semua berjalan aman dan selamat, tak disangka dalam pengiriman kali ini telah terjadi musibah yang tak terduga, nama baik ayah, nama besar perusahaan ekspedisi akhirnya hancur dan musnah di tanganku!"

"Coba kau ceritakan kembali kisah pembegalan itu sejak awal," bujuk Leng-hiat sembari menepuk bahunya.

"Hari itu udara sangat panas, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 3 sore, tapi hawa panas masih terasa menyengat badan, waktu itu semua orang hanya berharap bisa segera melewati daerah tandus Pak-han-sam-pei, melampaui daerah berpasir putih yang panasnya bagai dipanggang di atas api, tiba-tiba dari belakang gundukan tanah muncul berpuluh lelaki berkerudung, mereka langsung menyerbu ke dalam rombongan sambil melancarkan serangan."

"Semuanya berkerudung?" tanya Leng-hiat.

"Betul, semuanya berkerudung," Ko Hong-liang manggut- manggut, "maka aku pun bertanya siapa mereka, namun orang-orang itu sama sekali tak menggubris, tanpa banyak bicara mereka langsung menyerbu sambil melakukan pembantaian. Dua orang yang menjadi pimpinan rombongan memiliki kungfu yang sangat tangguh, kebanyakan saudara kami tewas secara mengenaskan di tangan kedua orang ini”

Bicara sampai di sini ia nampak sedih bercampur gusar. "Senjata apa yang digunakan kedua orang itu?" tanya Leng-hiat tiba-tiba.

Ko Hong-liang berpikir sejenak kemudian sahutnya, "Kedua orang itu bertangan kosong, begitu menyerbu ke dalam rombongan kami, mereka segera merampas senjata. Senjata apapun yang berhasil dirampas segera akan menjadi senjata andalannya, kelihatannya mereka berdua sengaja merahasiakan aliran silat serta identitas yang sebenarnya, tiga kali aku bertarung melawan salah seorang di antara mereka, tapi aku segera sadar bahwa kepandaian silatku masih bukan tandingannya, jangan kan melakukan perlawanan, mengenali asal-usul jurus serangannya pun tak mampu, kalau diingat kembali sungguh memalukan."

"Pihak lawan kalau memang sengaja hendak merahasiakan identitasnya, tak aneh jika sulit bagimu untuk mengenalinya," ucap Leng-hiat, "tapi kalau dilihat bahwa tanpa menggunakan ilmu silat andalannya pun orang itu mampu bertarung di atas angin melawan Kokcu, dapat disimpulkan bahwa ilmu silatnya memang sangat tangguh. Lantas bagaimana dengan yang seorang lagi?"

"Kepandaian silat yang dimiliki orang ini jauh lebih hebat lagi," kata Ko Hong-liang dengan nada ngeri bercampur seram, "di tengah berlangsungnya pertempuran, dia kelihatan melambung dan menukik berulang kali, bukan saja dengan tangan kosong berhasil merampas senjata anak buahku, bahkan beberapa orang piausu tergeletak bersimbah darah, setiap kali selesai membunuh korbannya, dia selalu membesut hidungnya satu kali, sepak terjangnya betul-betul menakutkan."

"Orang itu bukan manusia, tapi setan, setan pembunuh berhati kejam!" sela Tong Keng dengan penuh emosi.

Leng-hiat menghela napas panjang, ujarnya, "Berada dalam keadaan seperti ini, tidak seharusnya kalian mengorbankan diri, sepantasnya kalian melarikan diri untuk menyelamatkan jiwa."

Ko Hong-liang ikut menghela napas panjang.

"Yang lebih aneh lagi," katanya, "selain kedua orang itu, kawanan begal lainnya memiliki kungfu yang tak seberapa hebat, sekalipun dia berhasil membunuh dua-tiga puluh orang anak buah kami, sebaliknya kami pun berhasil menjagal dua puluhan anak buahnya, kemudian datang lagi sekawanan manusia berkerudung, melihat situasi semakin gawat aku pun memutuskan untuk menarik diri dari arena pertarungan, sambil melepaskan tanda rahasia, kami berusaha menerjang keluar kepungan”

"Ehmm, dalam keadaan seperti itu, memang mustahil bagi kalian untuk melindungi uang pajak itu," Leng-hiat manggut- manggut.

"Perkataan saudara Leng memang benar. Tapi kami mengemban tugas, sudah sepantasnya kalau mati hidup bersama uang pajak itu, sayang kepandaian kami memang tak mampu mengungguli mereka, tak lama kemudian kereta barang kami berhasil direbut, salah seorang di antara jago misterius itu turut berlalu bersama kereta uang, sementara dua puluhan orang sisa kekuatan kami yang masih bertahan akhirnya ikut terbasmi oleh manusia berkerudung itu”

"Padahal kami sudah bertempur sengit sampai larut malam," imbuh Tong Keng dengan nada sedih, "dengan tubuh bermandikan keringat bercampur darah, kami bertarung terus”

Berbicara sampai di situ, dia seolah terbayang kembali keadaan pada saat itu, dia seakan melihat ceceran darah membasahi seluruh permukaan tanah, melihat mayat bergelimpangan.

Saat itu yang tersisa dari rombongan mereka tinggal Ko Hong-liang, Tong Keng, Lan-lotoa, Go Seng, Thio Gi-hong dan Li Siau-hong berenam, dengan napas tersengal dan tubuh berlumuran darah mereka hanya bisa mengawasi manusia berkerudung bersama belasan orang musuh lainnya.

Tak lama kemudian orang berkerudung itu memberi tanda, segenap kawanan jago itu membawa kabur kereta uang lainnya dan segera pergi meninggalkan tempat itu.

Dalam keadaan begini mereka hanya bisa berdiri melongo, terperangah. Mereka tak habis mengerti, kenapa kawanan musuh melepaskan mereka begitu saja.

Menyaksikan mayat anak buahnya yang berserakan di tengah genangan darah, Ko Hong-liang berusaha mengendalikan rasa pedih hatinya, dengan cepat ia membagi tugas kepada mereka yang masih tersisa, Tong Keng, Lan- lotoa dan Thio Gi-hong ditugaskan kembali ke markas besar, mengumpulkan kekuatan baru sambil menyelidiki peristiwa ini, Li Siau-hong dan Go Seng bertugas melaporkan kejadian ini kepada pihak berwenang, sedangkan Ko Hong-liang seorang diri melacak kawanan pembegal itu.

Sekalipun dua orang manusia berkerudung itu susah dihadapi, namun kungfu yang dimiliki para pembegal lainnya tidak seberapa hebat, sepantasnya kalau gerak-geriknya tak akan ketahuan.

Sebenarnya Tong Keng dan Go Seng sekalian berharap bisa mengikuti ketuanya menyerang kawanan musuh tangguh itu, tapi Ko Hong-liang dengan golok tersoreng segera menghardik, "Sekarang kita sedang tertimpa musibah, buat apa kalian ribut terus macam orang tak bisa berpikir, memangnya dengan kekuatan kita beberapa orang ini mampu melawan kekuatan musuh? Yang bisa kita lakukan sekarang hanya berusaha mencari jalan pemecahan, sedikit banyak dengan saling berpencar kita bisa membuyarkan konsentrasi lawan, jalan bersama malah tidak mendatangkan manfaat

apa-apa!" Sin-wi-piau-kiok sejak didirikan selalu hidup berjaya dimana-mana, belum pernah mereka mengalami badai topan sedahsyat ini, apalagi menderita kekalahan sedrastis ini.

Sekalipun beberapa orang jago yang tersisa merupakan jago-jago berjiwa besar, tak urung peristiwa ini membuat mereka gugup dan kacau balau.

Tiba-tiba terdengar Leng-hiat berseru tertahan.

Ko Hong-liang memandang Leng-hiat sekejap, kemudian lanjutnya lebih jauh, "Aku menguntit terus kepergian rombongan bandit itu hingga keluar wilayah Pak-han-sam-pei, dugaanku semula mereka akan keluar wilayah Kwan-cu-leng, siapa sangka tiba-tiba mereka berbalik arah dan kembali ke arah kota Cing-thian-sian, aku mulai curiga dan merasa bahwa urusan ini rada tak beres, maka pengintaian kulanjutkan, benar saja, ketika tiba di lembah Ui-tiap-cui-kok, aku berhasil menemukan satu kejadian yang sangat aneh!"

"Kejadian aneh apa?" timbrung Tong Keng cepat, dia seolah lupa kalau Ko Hong-liang sedang menceritakan kisah itu kepada Leng-hiat.

Mimik muka Ko Hong-liang kelihatan sangat aneh, seakan- akan dia sedang mengalami kembali peristiwa waktu itu.

"Begitu tiba di lembah itu, kujumpai sembilan belas orang bandit berkerudung yang masih tersisa itu sudah mati dalam keadaan mengenaskan, sebagian besar karena mati keracunan!"

"Haahh?" kembali Tong Keng berseru tertahan, "siapa yang telah meracuni mereka?"

Ko Hong-liang tertawa getir. "Sudah kuperiksa, tapi tidak berhasil menganalisa sesuatu apapun, bahkan tidak diketahui juga jenis racun yang digunakan, yang pasti panca indera mereka sudah membusuk karena keracunan." "Apakah kedua orang jago berkerudung itu sudah tak nampak di situ?" tiba-tiba Leng-hiat bertanya.

"Tidak ada, pasti merekalah yang telah meracuni orang- orang itu dengan tujuan menghilangkan saksi dan melenyapkan seluruh jejak mereka."

"Aaah, sayang, terlambat," Leng-hiat menggelengkan kepala berulang kali.

"Begitu menyaksikan mayat kawanan bandit yang mati keracunan, aku segera berseru tertahan, kemudian dengan tergopoh gopoh balik ke Pak-han-sam-pei”

"Aku tidak mengerti” gumam Tong Keng.

Sambil tertawa Ting Tong-ih segera memukul kepalanya satu kali sambil serunya, "Goblok! Ko-kokcu tiba-tiba teringat kenapa tidak membuka kerudung muka orang-orang itu untuk diperiksa identitasnya, siapa tahu dengan berbuat demikian maka kasus ini dapat segera terungkap, ketika opas Leng berseru tertahan setelah mendengar kisah Ko-kokcu tadi, tampaknya dia pun segera menyadari akan kesalahan itu."

Leng-hiat tertawa hambar. "Aku rasa setibanya di Pak-han- sam-pei, Ko-kokcu sudah terlambat selangkah dan tak sempat melihat apa-apa," katanya.

"Benar, aku memang datang terlambat" kata Ko Hong-liang sambil mendepakkan kakinya berulang kali, "di dataran berpasir Pak-han-sam-pei hanya tersisa mayat anggota Sin-wi- piau-kiok, sementara tubuh musuh sudah tak nampak lagi, bahkan sebuah senjata pun tidak ketinggalan."

"Lalu apa maksud mereka berbuat begitu," gumam Tong Keng lagi dengan termangu.

"Pembunuh memiliki kekuatan yang luar biasa," ucap Leng- hiat, "andaikata mereka ingin membunuh kalian, semestinya hal ini bisa dilakukan segampang membalikkan tangan, buat apa mereka malah melakukan pembantaian terhadap anak buah sendiri? Jelas perbuatan mereka mempunyai tujuan tertentu."

"Benar, waktu itupun aku berpendapat demikian," Ko Hong- liang manggut-manggut, "andaikata tujuan sang pembunuh hanya ingin mengangkangi uang kiriman, mereka tak usah menghancurkan mayat, bila tujuannya untuk melenyapkan saksi mata, sepantasnya kami pun ikut dibunuh semua, buat apa mesti repot-repot melakukan semuanya itu?"

"Jangan-jangan” bisik Leng-hiat setelah termenung sejenak, tiba-tiba ia menutup mulut dan tidak bicara lagi.

Ko Hong-liang menanti beberapa saat, ketika tidak melihat Leng-hiat melanjutkan perkataannya, dia pun berkata lagi, "Tindakan sang pembunuh yang melakukan semua itu sempat membuat pikiranku menduga-duga, kemudian lantaran kuatir terjadi sesuatu di kantor pusat, maka malam itu juga aku balik ke kota Cing-thian-tin, tapi aku harus berjalan sangat hati-hati karena kuatir banyak jebakan di sepanjang jalan, ketika mendekati fajar aku baru tiba di sekitar markas, hatiku baru lega ketika melihat keadaan di situ amat tenang. Siapa tahu aku lihat kantor pusat sudah disegel pemerintah, malah kusaksikan juga anak buahku diseret ke dalam penjara meski sudah berteriak tidak bersalah, sebetulnya aku ingin maju menolong, tapi ketika itu kudengar ada seorang petugas keamanan sedang memaki, katanya, bila kami gagal menangkap Kokcu kalian pun bakal tertimpa sial, mana mungkin kalian dibebaskan? Saat itulah aku baru tahu kalau akulah yang menjadi target mereka”

"Berada dalam keadaan seperti ini, bila kau menampilkan diri, sama artinya menjadi burung dalam sangkar, sama sekali tak akan bermanfaat apa-apa."

"Aku pun berpendapat demikian," ujar Ko Hong-liang sedih, "menang kalah bukan masalah, yang penting justru kebersihan nama, bila sekali mendapat nama jelek maka selama ribuan tahun hanya akan dicemooh orang, ambruknya perusahaan piaukiok bukan masalah serius, tapi uang sebesar belasan juta tahil emas bukan jumlah yang kecil, bila pihak pemerintah memeras rakyat kecil lagi, bagaimana mungkin rakyat bisa hidup tenteram?"

"Ketika uang pajak hilang dirampok orang, seharusnya pasukan pemerintah pergi mengejar kaum begal, kenapa malah menangkap orang-orang perusahaan ekspedisi?" kata Leng-hiat dengan wajah serius.

Ko Hong-liang segera berpaling ke arah Tong Keng, waktu itu dia sedang melacak jejak musuh hingga urusan yang terjadi dalam kantor perusahaan tidak sejelas Tong Keng.

Tong Keng segera menjawab, "Aku sendiri pun kurang jelas, ketika aku bersama Lan-lotoa dan saudara Thio balik ke kantor pusat dan memberitahukan kejadian ini kepada enso, paman Yong serta si ketapel cilik seketika mengirim orang untuk menyusul Kokcu, tak disangka saat itulah Li Siau-hong dengan membawa sepasukan prajurit telah menyerbu tiba, sambil menuding ke arah kami bertiga Li Siau-hong segera berseru, 'Mereka itulah orangnya’. Maka prajurit pun tanpa banyak bicara segera memborgol kami bertiga dan menggelandang pergi."

"Apa maksud Li Siau-hong berbuat begitu?" seru Ko Hong- liang dengan kening berkerut.

"Siapa sih Li Siau-hong itu?" tanya Leng-hiat pula.

"Dia adalah seorang anak muda, dulunya hanya kuli kasar, empat tahun lalu baru diangkat menjadi wakil piausu. Bocah ini cerdas dan rajin, semestinya masih bisa naik pangkat lagi."

"Aku rasa bocah itu rada aneh," kata Tong Keng sambil garuk-garuk kepala, kemudian lagi-lagi dia bersin, tampaknya menderita demam.

"Waktu itu Yong-jite ada di situ," kata Ko Hong-liang, "seharusnya dia yang tampil bicara." "Siapa itu Yong-jite?" kembali Leng-hiat menyela, "apakah dia punya julukan Mencari hingga sepatu baja jebol, Yong Seng, Yong-jihiap?"

Ko Hong-liang manggut-manggut. "Benar, Yong-jite sudah banyak membuat jasa besar bagi perusahaan Sin-wi-piau-kiok, kini dia menduduki jabatan sebagai wakil Congpiauthau."

Leng-hiat bungkam. Ia dapat menilai bahwa Ko Hong-liang adalah seseorang yang sangat menghargai kemampuan orang, selama orang itu berbakat dan bisa bekerja, dia selalu menghargai kemampuannya dengan menghadiahkan posisi yang bagus.

Sementara itu Tong Keng telah menjawab, "Gara-gara Yong-jisiok tampil ke depan melarang kawanan prajurit itu menggelandang kami, akhirnya dia dihajar dua bersaudara Yan hingga terluka parah dan roboh ke tanah, saudara lainnya yang berada di kantor serentak bersiap melancarkan serangan, tapi Lu Bun-chang segera berseru, 'Kami mendapat perintah dari Li-thayjin untuk menangkap tersangka perampokan, barang siapa berani menghalangi, kami akan menganggapnya ikut berkomplot dan bunuh tanpa ampun!', dalam keadaan begini paman Yong dengan napas tersengal segera memerintahkan semua orang agar mengurungkan niat bertempur, dia kuatir tindakan itu justru akan merusak reputasi perusahaan ekspedisi, akhirnya mereka pun hanya bisa mengawasi kawanan opas itu menggelandang kami."

"Bagaimana dengan nasib Go Seng, Lan-lotoa dan Thio Gi- hong saat ini?" tanya Ko Hong-liang.

"Lan-lotoa dan Thio Gi-hong secara beruntun mati tragis dalam penjara karena dikuliti hidup-hidup, sementara Go Seng dijebloskan dalam penjara bawah tanah, kondisinya pun tidak lebih bagus, hanya yang memuakkan adalah Li Siau-hong itu, setelah kejadian konon dia pernah muncul satu kali di kantor perusahaan, gayanya angkuh dan jumawa, setelah itu aku tak tahu bagaimana nasibnya." Kembali Tong Keng bersin berulang kali.

Menunggu sampai dia selesai bersin, Ko Hong-liang baru berkata lagi, "Malam itu aku tidak kembali ke markas, baru keesokan harinya kudengar berita yang mengatakan Sin-wi- piau-kiok telah menelan sendiri barang kawalannya, untuk menutupi perbuatan bejadnya mereka telah membunuh orang untuk menghilangkan saksi, berkat laporan dari salah seorang piausu, akhirnya baru terungkap kalau Sin-wi-piau-kiok memang berencana menggelapkan uang pajak jerih-payah rakyat jelata, di semua sudut tempat dipasang plakat yang melukiskan wajahku, dimana-mana perintah penangkapan disebar. Sadar kalau kami sudah difitnah, mustahil bisa membela diri, akhirnya dengan menyerempet bahaya aku masuk ke kota dengan harapan bisa bertemu langsung dengan Li-thayjin dan menjelaskan duduk perkaranya, aku sadar, dengan tuduhan semacam ini, bila sekali tertangkap maka jangan harap kau bisa hidup lagi!"

Bicara sampai di situ ia berpaling ke arah Ting Tong-ih, kemudian tambahnya. "Perkumpulan Bu-su-bun selalu membegal kaum kaya untuk menolong fakir miskin, sepak terjangnya gagah perkasa dan mengutamakan kebenaran serta keadilan, aku pun selalu mengagumi sepak terjang Kwan-tayhiap serta nona Ting. Anak buah kalian yang bernama Wan Hui dulunya adalan seorang piauthau kami, dari mulut dialah aku mendapat tahu bahwa kalian akan menyerbu penjara pada malam itu, karenanya aku pun selalu waspada."

Ting Tong-ih mengerling sekejap ke arah Leng-hiat, kemudian serunya, "Kau jangan memuji kami, jangan lupa Leng-suya berada di sini dan kita masih tetap menjadi tersangka, apalagi dosa kita bukan hanya maling ayam atau maling baju saja."

"Ucapan nona Ting kelewat serius," kata Leng-hiat hambar, "perkumpulan Bu-su-bun memang memiliki reputasi yang mengagumkan dalam dunia persilatan, bila kami empat bersaudara diharuskan memerangi maling budiman macam kalian, sudah sepantasnya bila kami berganti julukan, bukan empat opas tapi empat gembong iblis!"

Nama besar dan reputasi empat opas bisa tersohor di kolong langit bukan lantaran Leng-hiat, Tui-beng, Tiat-iiu dan Bu-cing berhasil memecahkan banyak kasus berat, yang lebih penting lagi adalah semua senak terjang dan perbuatan mereka tidak melanggar Hong dan ci. itulah sebabnya mereka sangat dihormati kalangan putih dan disegani kalangan hitam.

Dalam pada itu Tong Keng telah berseru "Tak heran kalau Kokcu bisa datang tepat waktu pada malam itu!"

Mendadak Leng-hiat bertanva, "Tadi kau bercerita tentang kematian tragis Lan-lotoa dan Thio Gi-hong lantaran dikuliti hidup-hidup, sebenarnya bagaimana ceritanya?"

Secara ringkas Tong Keng pun bercerita bagaimana Li Wan- tiong dengan dukungan dua bersaudara Yan dan Gi Eng-si menguliti para narapidana dengan tujuan membuat sulaman dari kulit manusia, selain itu diceritakan pula bagaimana perjuangan Kwan Hui-tok membela kaum tertindas hingga akhirnya mati mengenaskan.

Selesai mendengar penuturan itu, dengan wajah serius Leng-hiat berpikir sejenak, kemudian baru ujarnya, "Membunuh putra Li-thayjin jelas merupakan sebuah kasus pembunuhan besar! Li-thayjin merupakan salah satu di antara lima orang didikan perdana menteri Hu, dan lagi Li Wan-tiong pun tewas gara-gara sedang mempersiapkan hadiah ulang tahun sang perdana menteri, jelas masalahnya menjadi bertambah serius, mengenai Kwan Hui-tok, dengan kepandaian silat yang dimiliki, semestinya sulit orang lain membekuknya, tapi demi membela rakyat kecil yang tertindas dalam penjara, ia rela dijebloskan ke dalam neraka, pengorbanannya patut dikagumi. Kedatanganku kali ini sebenarnya juga sedang mengemban tugas membebaskan dia dari semua dosa, tak nyana jiwanya telanjur dicelakai oleh kaum durjana, aaai... sungguh...”

Mendadak obor yang berada di tangan Tong Keng maupun Ko Hong-liang padam.

Seketika itu juga seluruh gua berubah menjadi gelap gulita. ooOOOoo
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Misteri Lukisan Tengkorak Bab 15 : Gua Gelap. Bukit Jui-bin-san"

Post a Comment

close