Misteri Lukisan Tengkorak Bab 10 : Siang Hitam Malam Putih

Mode Malam
10. Siang Hitam Malam Putih.

"Bila aku menjadi kalian, aku tak bakal melarikan diri lagi," ujar Yan Yu-sim kalem, "sebab di depan sana sudah tak ada jalan lagi, sementara pasukan pengejar sudah tiba dari belakang, kalian tak bakal bisa lolos."

"Buat apa bersusah payah melarikan diri?" sambung Yan Yu-gi pula, "kenapa tidak menyerahkan diri saja, bukankah jauh lebih cerdik daripada membuang tenaga percuma?" Orang berkerudung yang berada di dalam ruang kereta mulai terbatuk-batuk.

Terdengar Yan Yu-sim kembali berkata, "Sekalipun kalian berhasil lolos dari sergapan kami berdua, di depan sana sudah ada Lo-hau-siau-gwe (auman harimau di tengah malam) Ni Jian-ciu yang sedang menanti kedatangan kalian, bayangkan sendiri, mampukah kalian menghadapi kesaktian Ni Jian-ciu?"

Jelas perkataan itu sengaja ditujukan kepada Ting Tong-ih yang masih berada di dalam kereta.

"Di samping itu, si Raja opas Li Hian-ih juga telah menanti di pintu kota," Yan Yu-gi menambahkan, "salah satu di antara empat opas kenamaan pun sudah tiba di kota, kasus pembunuhan ini sudah berkembang menjadi besar, apalagi yang kalian bunuh adalah putra kesayangan Li-thayjin, mana mungkin kalian mampu melarikan diri?"

Kelihatannya perkataan ini khusus ditujukan kepada lelaki berkerudung yang berada dalam kereta.

Perlahan-lahan orang berkerudung itu berjalan keluar dari ruang kereta, setiap mengayunkan langkahnya dia selalu

melakukan dengan sangat hati-hati, seakan-akan kuatir ada tujuh delapan belas ekor kalajengking yang siap menyengat kakinya dari balik semak.

Setelah berdiri tegap dan mengusap dadanya sebentar, ia baru menarik napas panjang sambil berkata, "Dua bersaudara Yan, kita adalah orang persilatan, apalagi peristiwa ini jelas merupakan permusuhan pribadi, aku mohon kalian sudi bermurah hati dengan melepaskan kami, budi kebaikan kalian pasti akan kubalas di kemudian hari."

"Kau anggap kami mampu memutuskan persoalan ini?" seru Yan Bu-gi, "Ko-piautauw, aku rasa kau tak perlu menyembunyikan identitasmu lagi, lepaskan kain kerudungmu dan ikut kami balik ke markas!" Begitu selesai mendengar perkataan itu, Tong Keng segera berseru tertahan.

Selama ini dia selalu merasa orang yang berulang kali membantunya memiliki perawakan tubuh serta gerak serangan yang sangat dikenalnya, ternyata orang itu tak lain adalah congpiauwtau dari perusahaan ekspedisi Sin-wi-piau- kiok, Ko Hong-liang, yang sudah lama lenyap dari peredaran.

Dalam pada itu manusia berkerudung itu sudah melepaskan kain kerudung wajahnya, di bawah cahaya rembulan muncullah selembar wajah tua yang kelihatan masih tampan dan gagah, sekulum senyuman getir menghias bibirnya.

"Ternyata aku tak mampu mengelabui kalian!" keluhnya.

"Bukan saja tak mampu mengelabui kami, siapa pun tak berhasil kau kelabui," kata Yan Yu-sim, "Li-thayjin dan opas sakti Li sudah memperhitungkan secara tepat kalau kau pasti akan muncul di saat kami menyerbu rumah pelacuran Kiok- hong-wan serta membasmi perguruan Bu-su-bun, ternyata perhitungan mereka tidak meleset, kau telah menampakkan diri."

Ko Hong-liang tidak bicara lagi, mendadak dari dadanya dia mencabut keluar sebatang sisir yang terbuat dari baja.

Semburan darah segar segera bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.

"Sakit sekali?" tanya Ting Tong-ih dengan kening berkerut. Sikapnya yang penuh perhatian persis seperti sikap seorang ibu terhadap anaknya, seperti juga seorang bocah perempuan yang menyayangi anjing kecilnya.

Terkesima dan termangu Tong Keng menyaksikan wajah nona itu.

"Sakit sekali!" sahut Ko Hong-liang sambil mendengus berat. Tapi setelah tertawa kembali ujarnya, "Sekalipun sakit sekali, sebagai seorang enghiong yang hidup dalam dunia persilatan, tidak sepantasnya aku menyinggung soal kesakitan."

Kembali sekulum senyuman menghiasi wajah Ting Tong-ih, wajahnya nampak lebih cerah, secerah bulan purnama, kewanitaannya pun kelihatan semakin menonjol dan menyebarkan daya pikat yang besar.

"Kalau sakit katakan saja sakit, siapa bilang tak boleh diucapkan?" katanya tertawa, "memangnya kalau sudah menjadi enghiong tak bakal merasa sakit?"

Kedua oang itu saling berbincang dengan amat santainya, seakan sama sekali tak pandang sebelah mata terhadap kehadiran Yan bersaudara.

Mencorong sinar buas dan marah dari balik mata Yan Yu- sim.

Sebelum dia melakukan sesuatu, terdengar Ko Hong-liang kembali berkata, "Sakit biarlah sakit, toh tak terlalu masalah. Bagaimana kalau yang besar aku serahkan kepadamu sedang yang kecil biar aku bereskan sendiri?"

Ting Tong-ih manggut-manggut, dengan gerakan yang indah dia mencabut tusuk konde emas dari rambutnya, dengan bibirnya dia gigit tusuk konde itu sementara tangannya membenahi rambutnya yang kusut dengan menggulungnya menjadi sebuah konde kecil, lalu menancapkan kembali tusuk konde itu di rambutnya.

Entah mengapa, gerakan tubuhnya yang sangat alami itu membuat Yan Yu-sim maupun Yan Yu-gi tak ingin mengganggunya, oleh sebab itu mereka pun tidak langsung melancarkan serangan. "Selesai sudah," kata Ting Tong-ih, kemudian katanya pula kepada Tong Keng dan Wan Hui, "kalian berdua boleh pergi lebih dulu."

Begitu selesai bicara, pedangnya sudah ditusukkan ke tenggorokan Yan Yu-sim dengan kecepatan luar biasa.

Golok besar di tangan Ko Hong-liang pun langsung membabat tubuh Yan Yu-gi diiringi deru angin tajam.

Niat dan tujuan dari Ting Tong-ih serta Ko Hong-liang jelas sekali, mereka berniat menghambat gerak maju dua bersaudara Yan tapi tidak berniat melakukan pertarungan, namun hasil pertarungan ini masih sukar diramalkan, mereka berharap Tong Keng dan Wan Hui bisa kabur terlebih dulu.

Wan Hui sangat memahami maksud kedua orang rekannya itu, sambil mengertak gigi dia segera melejit ke udara dan bergerak meninggalkan tempat itu, tapi Tong Keng enggan beranjak.

Karena Tong Keng tidak pergi, terpaksa Wan Hui balik kembali ke tempat asal.

"Tak ada gunanya kau tetap tinggal di sini" bujuknya kemudian, "bila ingin membalas dendam sakit hati, sekarang kau mesti menyelamatkan diri terlebih dulu!"

"Aku tahu," tukas Tong Keng ngotot, dia menggelengkan kepalanya berulang kali, "sayang aku tetap tak mau pergi!"

Wan Hui menghela napas panjang, akhirnya dia menjejakkan kakinya melompat naik ke atas punggung seekor kuda dan berlalu dari situ.

Padahal Tong Keng sendiri pun sadar, dengan kepandaian silat yang begitu cetek mustahil dia dapat membantu Ting Tong-ih maupun Ko Hong-liang, tetap tinggal di situ tak lebih hanya mengantar kematian dengan percuma, tapi orang macam dia memang termasuk jenis manusia aneh, dia tak sudi melarikan diri dengan membiarkan orang lain berjuang mati-matian demi membela keselamatan jiwanya.

Oleh sebab itu ia tetap tinggal di sana, dia sudah siap menghadapi kematian.

Ko Hong-liang adalah majikannya, kali ini dengan mempertaruhkan nyawa mendatangi sarang pelacuran Kiok- hong-wan demi menyelamatkan jiwanya, tentu saja dia tak mau kabur seorang diri. Sementara terhadap Ting Tong-ih, dia memiliki perasaan yang lebih aneh lagi, baginya bisa mati bersama gadis itu justru merupakan semacam kegembiraan, semacam kehormatan.

Dia sendiri pun tak habis mengerti kenapa bisa timbul pikiran semacam ini di dalam benaknya.

Ketika Wan Hui berlalu dari sana, situasi di tengah arena kembali terjadi perubahan besar.

Serangan pedang Ting Tong-ih yang dilancarkan secara tak terduga tiba-tiba berubah arah di tengah jalan, kini dia balik menusuk bahu Yan Yu-sim.

Dia melakukan hal itu karena masih belum yakin Yan Yu- sim sebenarnya teman atau musuh.

Dengan tenang Yan Yu-sim menatapnya tanpa berkedip, ketika serangan itu hampir mencapai bahunya, mendadak ia menyentilkan jari tengahnya ke atas, "Triiing!", mata pedang seketika tersentil hingga miring ke samping. Sambil merangsek maju ke depan bisiknya, "Cepat kabur dari sini, setelah sampai dalam hutan di belakang desa Pay-hu-cun, tunggu di situ."

"Kalau ingin membebaskan, bebaskan kami semua" kata Ting Tong-ih sambil mencibir.

Berkilat sepasang mata Yan Yu-sim, katanya lagi agak gusar, "Hanya kau seorang yang boleh pergi! Dengar baik- baik, aku hanya membebaskan kau seorang!" "Kenapa?"

Dengan sepasang matanya yang dingin menyeramkan Yan Yu-sim memandang sekejap seluruh tubuh gadis itu, kemudian baru katanya, "Dengan cepat kau akan segera tahu mengapa aku bersikap begitu baik kepadamu."

Sementara mereka berdua berbincang sambil bertarung, di pihak lain pertarungan antara Ko Hong-liang melawan Yan Yu- gi juga sudah diketahui siapa pemenangnya.

Di saat Ko Hong-liang melancarkan serangan golok yang pertama tadi, Yan Yu-gi dengan kecepatan luar biasa melancarkan pula serangkaian pukulan kilat.

Serangkaian pukulan berantai memaksa Ko Hong-liang mau tak mau harus menarik kembali goloknya untuk melindungi diri.

Belum selesai pukulan berantai yang pertama dilontarkan, pukulan berantai kedua sudah dipersiapkan, dengan susah payah Ko Liang-hong menerima empat-lima puluh jurus serangan itu, tapi pukulan berantai ketiga sudah dilancarkan lagi bagai hujan deras.

Gaya pukulan Yan Yu-gi sama sekali berbeda dengan gaya pukulan pada umumnya, jari tangannya tidak ditekuk, pergelangan tangannya tidak melengkung, lengannya tak bengkok, pinggulnya tak bergerak, semua pukulan dilancarkan dengan kaku dan lurus, itulah ilmu pukulan mayat hidup dari keluarga Yan yang sudah lama punah dari dunia persilatan.

Menanti rangkaian pukulan keempat mulai dilancarkan, Ko Hong-liang segera sadar, bila ia tidak melakukan perlawanan, maka selamanya dia tak akan memperoleh kesempatan untuk melancarkan serangan balasan.

Ko Hong-liang segera menarik napas panjang. Ketika menghimpun tenaga dalam, paras mukanya berubah menjadi merah padam, semburan darah kembali memancar keluar dari luka di dadanya.

Kemudian dia pun melolos goloknya.

Sebaliknya Yan Yu-gi tak berani ayal, dia pun menghimpun tenaganya untuk bersiap, tulang-belulang seluruh badannya gemerutuk menimbulkan suara keras, suaranya seperti sebuah boneka kayu yang tiba-tiba dipatahkan orang dan tersebar kemana-mana.

Tak lama kemudian seluruh tangannya telah berubah menjadi lembek bagai kapas, seperti seekor ular yang sedang melingkar, tangan itu membelit tubuh golok lawan.

Padahal mata golok itu luar biasa tajamnya, tapi ternyata tak mempan melukai lengan Yan Yu-gi yang sedang melilitnya dengan kuat itu.

Segera Ko Hong-liang melepaskan goloknya, kemudian mencabut rumput dari tanah dan menggunakan rumput yang dicabut itu untuk melancarkan bacokan maut.

Yan Yu-gi terkesiap, cepat dia menangkis dengan menggunakan sepasang tangannya yang sedang melilit golok itu, ternyata serangan "golok rumput' itu sama sekali tidak melalui sepasang tangannya dan tahu-tahu sudah mengancam dadanya.

Tergopoh-gopoh Yan Yu-gi menyedot napas panjang, seluruh tubuhnya ditekuk ke belakang untuk menghindari ancaman maut itu.

Kendatipun ia berhasil melepaskan diri dari serangan yang mematikan, tak urung sebuah luka memanjang mengucurkan darah segar muncul di dadanya.

Berhasil dengan serangan mautnya, Ko Hong-liang segera merebut kembali goloknya dan sekali lagi melancarkan bacokan. Dengan penuh rasa cemas Yan Yu-gi melompat mundur ke belakang.

Yan Yu-sim yang menyaksikan saudaranya tercecar, segera meninggalkan Ting Tong-ih dan segera menyongsong datangnya serangan Ko Hong-liang.

Tiba-tiba terdengar seseorang berkata, "Luar biasa, ternyata ilmu golok Po-ting-to-hoat memang bukan nama kosong."

Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali terdengar orang itu berkata lebih jauh, "Dulu Po-ting Ciat-gou melebur ilmu goloknya menjadi satu sehingga semua gerak serangan dapat disesuaikan dengan irama hatinya, dan sekarang meski kau pun bisa mengangkat yang enteng seolah benda berat, walaupun gerakan serangan sudah menyatu dengan perasaan, tapi sayang ”

Bicara sampai di sini ia melanjutkan lagi, hanya terdengar suara derap kaki kuda yang bergerak mendekat, di tengah suara derap kuda itu lamat-lamat terdengar suara lolongan serigala yang memilukan hati.

Berubah hebat paras muka Ko Hong-liang.

Ketika pertama kali menyerbu ke dalam sarang pelacuran Kiok-hong-wan untuk menolong orang, sorot matanya masih bersinar tajam dan penuh dengan tenaga dahsyat.

Kemudian setelah bertarung melawan Lu Bun-chang dan menderita luka, sorot matanya yang tajam tiba-tiba lenyap tak berbekas.

Ketika berhasil memukul mundur Yan Yu-gi barusan, sorot mata tajamnya kembali pulih, tapi begitu selesai mendengar ucapan yang terakhir, wajahnya seketika berubah menjadi tegang bahkan terlintas perasaan takut dan ngeri yang luar biasa. Begitu juga dengan Ting Tong-ih. Hanya saja bukan rasa ngeri dan takut yang menghiasi wajahnya, kini dia tampil dengan wajah pasrah, siapa pun dapat melihat kalau dia sudah tidak menaruh harapan apapun terhadap keselamatan jiwanya.

Sebetulnya siapakah yang telah datang?

Terdengar suara lolongan serigala yang memilukan hati itu bergema semakin mendekat diikuti suara derap kaki kuda yang makin mendekat....

Di atas seekor kuda, duduk seseorang.

Begitu melihat kemunculan kuda itu, tak kuasa lagi Tong Keng berteriak keras, "He, kemana perginya Wan Hui?"

Ternyata kuda yang ditunggangi orang itu adalah kuda yang ditumpangi Wan Hui untuk kabur tadi.

Kini kuda itu sudah balik kembali, cuma si penunggang sudah bukan Wan Hui.

Sesudah berteriak keras Tong Keng baru dapat melihat jelas raut muka si penunggang kuda itu.

Orang ini berambut hitam yang dibiarkan terurai di bahu, berparas dingin tanpa perasaan, tapi sekilas pandang orang akan sangka dia sedang kelelahan. Seluruh kerutan wajahnya seolah berkumpul menjadi satu tanpa meninggalkan kesan seolah dia adalah seseorang yang sudah tua, kerutan di wajahnya seperti kerutan bawaan dari panca inderanya.

Akhirnya suara derap kaki kuda telah berhenti, di pinggang orang itu tergantung tiga buah buli-buli, sekarang dia membuka satu di antaranya dan mulai meneguk arak yang ada di buli-buli itu.

Orang ini sangat dikenal wajahnya!

Tong Keng berusaha memutar otak mengingat siapa gerangan orang ini, tapi tidak teringat siapakah dia dan kapan pernah bersua dengannya, tapi dia yakin orang ini pasti sudah pernah dijumpainya.

Siapakah orang itu?

Begitu bersua dengan orang itu Ko Hong-liang pun segera menampilkan perasaan gusar tak terkira, langsung tegurnya, "Ternyata kau?"

"Betul, memang aku!" jawab orang itu. "Perkataanmu tadi belum selesai kau ucapkan." "Aku hanya bilang sayang."

"Apanya yang sayang?"

"Walaupun ilmu golokmu sudah mencapai puncaknya, sayang belum terlatih sempurna, kau memang bisa menggunakan daun dan bunga untuk melukai orang, tapi sayangnya kau masih tetap membutuhkan golok!"

Ko Hong-liang melengak, setelah menghela napas panjang sahutnya, "Betul, tanpa golok memang lebih unggul dari bergolok, untuk mencapai taraf itu aku masih membutuhkan waktu yang panjang, sayang usaha piaukiok kami membutuhkan perhatian dan waktu yang banyak sehingga tak ada kesempatan bagiku untuk melatih ilmu golok itu hingga sempurna."

"Oleh sebab itu gara-gara urusan kecil kau telah kehilangan yang besar, bukan saja usaha menjadi berantakan, nyawa pun kemungkinan besar ikut melayang."

Ko Hong-liang tertawa getir. "Perusahan Sin-wi-piau-kiok memang sudah hancur, tapi aku masih hidup hingga sekarang," katanya.

"Piaukiok sudah bubar, kau pun sudah saatnya untuk mampus." Ko Hong-liang tak kuasa menahan hawa amarahnya lagi, dengan sorot mata berkilat serunya, "jadi sekarang kau bekerja untuk pemerintah?"

"Aku hanya bekerja untuk Li-thayjin!" jawab orang berambut panjang itu singkat.

"Jadi kau hendak membunuhku?"

Orang berambut panjang itu menggelengkan kepalanya berulang kali, memandang lawannya seolah sedang memandang orang goblok yang sudah tiada harapan untuk ditolong lagi, katanya, "Ditinjau dari peristiwa ini, kau bersama seluruh anggota Piaukiok sudah sepantasnya bunuh diri, kalau seseorang sudah dipastikan harus mati ternyata belum mati juga, bukankah hal ini sama artinya telah membuang waktu bagi diri sendiri maupun orang lain?"

Ko Hong-liang tertawa pedih, sambil mengayunkan goloknya dia berseru, "Kalau ingin membunuhku, silakan!"

Baru saja dia mengayunkan goloknya, Yan Yu-sim telah menggelengkan kepala berulang kali, pancaran sinar matanya seolah sedang memandang seseorang yang hampir mati.

"Ah, teringat aku sekarang!" tiba-tiba Tong Keng berteriak keras, "aku sudah tahu siapakah kau!"

Teriakan itu kontan saja membuat Ko Hong-liang maupun orang berambut panjang itu berdiri kebingungan.

Sambil menuding orang itu, kembali Tong Keng berteriak, "Aku pernah berjumpa denganmu, sewaktu berada dalam penjara, kau bersama tiga orang yang lain dan Li-kongcu hendak menguliti badanku ... tapi waktu itu ... rambutmu...”

"Berwarna putih," sambung orang berambut panjang itu hambar.

"Betul," Tong Keng menegaskan, "waktu itu rambutmu berwarna putih keperak-perakan." Orang berambut panjang itu membalikkan badan menatap Tong Keng, lalu tanyanya, "Kapan terjadinya?"

"Pagi hari," sahut Tong Keng setelah berpikir sejenak. "Pagi hari berarti saat terang tanah," ujar orang itu

tertawa.

Tong Keng melongo, dia tak mengerti apa maksud jawaban itu.

Ko Hong-liang yang berada di sisinya segera menambahkan, "Saudara Tong, pernahkah kau dengar tentang seorang jago dalam dunia persilatan yang warna rambutnya dapat berubah sesuai dengan terbit tenggelamnya matahari?"

"Pernah," sahut Tong Keng cepat, "konon jago persilatan itu akan berambut hitam di malam hari dan berambut putih di siang hari, tapi aku dengar Cianpwe ini sudah lama mati."

Ko Hong-liang menghela napas panjang. "Jago persilatan itu bukan saja tidak mati, bahkan dengan bertambahnya usia, kepandaian silat yang dimilikipun bertambah maju, tapi sayang tabiat serta sepak terjangnya ikut berubah sangat aneh, orang yang berambut putih di pagi hari dan berambut hitam di waktu malam itu kini berada di sini "

"Jadi dia adalah ” dengan perasaan kaget Tong Keng

menengok ke arah orang berambut panjang itu.

"Dua puluh tahun berselang dia disebut orang Pek-hoat- huang-jin (manusia latah berambut putih), tapi sejak sepuluh tahun lalu tiba-tiba jejaknya hilang, sampai tujuh tahun yang lalu, tahu-tahu di dunia persilatan muncul seorang jago berambut hitam dan putih yang memiliki ilmu silat sangat tangguh, orang itu tak lain adalah 'Auman harimau di malam hari' Ni Jian-ciu."

"Jadi dia orangnya?" tanya Tong Keng termangu. "Sekarang ini sedang malam atau pagi hari?" tanya Ni Jian- ciu.

"Tentu saja tengah malam," jawab Tong Keng setelah memandang rembulan sekejap.

"Kalau begitu seharusnya rambutku sedang hitam saat ini." "Jadi kau ... kau benar-benar adalah si Manusia latah

berambut putih di masa lalu?"

"Ada apa?"

"Manusia latah berambut putih adalah seorang manusia yang sangat latah, sangat angkuh, bukan saja beraninya menganiaya yang kecil dan lemah, bahkan suka mengandalkan kekuasaan untuk menindas orang, aku dengar dahulu kau pernah bekerja ikut Coh Siang-giok si Raja pemusnah ... sekarang... kenapa sekarang...”

Akhirnya mimik muka Ni Jian-ciu menampilkan sedikit perubahan, tiba-tiba hardiknya nyaring, "Tutup mulutmu!"

Bagi orang lain, bentakan itu kedengarannya tidak terlampau keras, namun bagi pendengaran Tong Keng, dia merasakan hatinya bergetar keras, dadanya seolah dihantam martil yang amat berat, selain sakitnya bukan kepalang bahkan keempat anggota badannya jadi kesemutan.

Berada dalam keadaan seperti ini, siapa pun tak nanti bisa buka suara lagi.

Tapi Tong Keng terhitung seorang lelaki keras kepala yang berjiwa nekad, dia enggan menyerah begitu saja kepada orang lain, sambil menahan rasa sakit yang luar biasa kembali ujarnya, "Dulu aku sangat mengagumi Manusia latah berambut putih, bahkan menghormatinya lahir batin, kusangka dia adalah seorang lelaki sejati yang tak takut langit tak takut bumi, menghadapi musuh setangguh apapun tak pernah takut, siapa tahu...” Sekujur tubuh Ni Jian-ciu mulai bergetar keras, ada semacam kekuatan yang bergelora dalam tubuhnya.

Tiba-tiba saja rambut hitamnya bergelombang seperti senar rebab yang sedang digesek, menggulung dan berombak dengan sangat indahnya, bukan cuma itu, sorot matanya pun memancarkan sinar dingin yang menggidikkan hati, sinar liar dari seekor binatang buas, sedingin bongkahan salju abadi.

Tong Keng sama sekali tak menggubris, katanya lebih jauh, "Siapa tahu setelah berjumpa hari ini, aku betul-betul merasa sangat kecewa, ternyata dia telah berubah menjadi seekor ulat yang patut dikasihani, seekor anjing buduk yang bisanya mengebas ekor di belakang majikannya, ternyata nyalinya kecil, beraninya mengandalkan kekuatan pembesar anjing untuk menindas kaum lemah...!"

"Tong Keng!" Ko Hong-liang yang menyaksikan gelagat tidak beres segera menghardik.

Tong Keng tidak ambil peduli, sambil membusungkan dada dan memperkeras nada suaranya kembali dia berteriak, "Huuuh, apa itu Manusia latah berambut putih, mendingan mampus sedari dulu, sekarang berubah menjadi harimau mengaum di tengah malam, harimau apaan itu? Harimau ompong! Percuma memiliki kepandaian silat tangguh! Biarpun kau mampu membunuh aku dengan sekali pukulan, aku tak akan menganggapmu sebagai sesosok makhluk!"

Sementara dia masih berkoar-koar, seluruh badan Ni Jian- ciu telah bergetar keras, mulutnya memekik keras, badannya bergoyang bagai sebatang pohon yang akan tumbang, kemudian selangkah demi selangkah dia menghampiri Tong Keng, dalam beberapa kali langkah ia sudah berdiri di depan pemuda itu, namun Tong Keng sama sekali tak ambil peduli, mengedipkan mata pun tidak, dia masih mengejek dengan nada sinis. Tampaknya pekikan nyaring Ni Jian-ciu sangat menyayat tubuhnya, lambat-laun terlihat darah segar mulai bercucuran membasahi ujung bibirnya.

Rambut hitam Ni Jian-ciu sudah berdiri tegak bagai seekor landak, sepatah demi sepatah serunya, "Kuhajar kau sampai mampus!"

"Bagus, silakan hajar aku," ejek Tong Keng sambil memuntahkan darah segar, "sekalipun kau hajar sampai mampus, paling dua puluh tahun kemudian akan lahir lagi sebagai seorang Hohan, aku tetap akan menghajar hidung manusia she Ni sampai ringsek."

"Tong Keng!" Ting Tong-ih tak kuasa menahan diri, dia menjerit keras.

Ko Hong-liang tidak diam, dia pun segera menggeser badannya ke depan, maksudnya akan menghadang di antara Ni Jian-ciu dan Tong Keng serta berusaha menyelamatkan jiwanya.

Sayang Ni Jian-ciu sudah turun tangan. 
ooOOOoo
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Misteri Lukisan Tengkorak Bab 10 : Siang Hitam Malam Putih"

Post a Comment

close