Misteri Lukisan Tengkorak Bab 07 : Antara Lelaki dan Wanita

Mode Malam
7. Antara Lelaki dan Wanita.

Dunia di luar kamar lambat-laun menjadi ramai, terdengar suara berisik orang berbicara, ramainya orang main judi serta suara gesekan rebab yang memilukan hati, bahkan ada orang yang mulai melantunkan lagu rakyat. Bila dibandingkan dengan suasana dalam kamar yang hening, seakan-akan seluruh keramaian itu termasuk dunia di luar kamar, sementara hanya gesekan rebab yang termasuk dunia dalam kamar itu.

Tong Keng bercerita terus-menerus sementara Ting Tong- ih hanya mendengarkan, suasana di dalam kamar pun menjadi gelap gulita, siapa pun tak ada yang bangkit berdiri untuk menyulut lentera.

Akhirnya setelah menghela napas panjang Ting Tong-ih berkata, "Aku benar-benar tidak habis mengerti, sudah jelas dia mampu melarikan diri, tapi kenyataan kenapa ia gagal kabur dari situ?"

Dengan termangu-mangu Tong Keng mengawasi nona yang berada di balik kegelapan, di situ hanya ada tiga benda yang bersinar, satu adalah cermin yang berada di hadapan gadis itu, kedua adalah pakaian biru yang digantung di belakang bangku dan ketiga adalah sorot matanya yang bening.

Selama hidup belum pernah Tong Keng menyaksikan gadis selembut dan seindah ini, dia pun belum pernah memperoleh kesempatan untuk berada di satu ruangan dengan gadis cantik, Tong Keng pun tidak menyangka kalau nona itu memiliki tubuh yang begitu indah, pinggang yang begitu ramping.

"Aku mengerti," ujarnya kemudian.

Ting Tong-ih segera berpaling, memandangnya dengan perasaan ingin tahu.

Setelah menarik napas panjang Tong Keng berkata, "Kwan- toako pernah bercerita kepada kami, katanya dalam sebuah pertarungan dia telah salah melukai penonton yang ada di tepi arena, karena merasa bersalah maka ia menyerahkan diri, sebab menurut perkiraannya, dengan kesalahan yang dilakukan paling pengadilan akan menjatuhkan hukuman tak sampai satu tahun”

"Tentang hal ini aku sudah tahu," Ting Tong-ih mengangguk, "bicara kepandaian silat yang dimiliki Toako, bila dia ingin pergi, tak seorang pun mampu menghalanginya."

"Enci Ting, tahukah kau kalau di kantor pengadilan telah kedatangan beberapa orang jago tangguh?"

"Walaupun kepandaian silat yang dimiliki dua bersaudara Yan terhitung cukup tangguh, mereka masih bukan tandingan Toako, sekalipun ditambah dengan sastrawan berkapak raksasa pun paling kekuatan mereka seimbang, rasanya belum terlampau menyulitkan dirinya."

"Menurut cerita Toako, mereka kedatangan seorang jago tangguh dari marga Ni” "Apa? Ni Jian-ciu?" walau berada di balik kegelapan, Tong Keng dapat melihat tubuh Ting Tong-ih bergetar keras lantaran kaget.

"Aku kurang jelas siapa nama orang she Ni itu, tapi menurut Toako, orang itu susah dihadapi. Bila dia sampai kabur dari penjara, maka orang she Ni itu pasti akan melacak jejaknya kemana-mana, dan kejadian itu pasti akan menyusahkan banyak saudaranya, bahkan Kwan-toako menambahkan, dia memang masuk penjara untuk menebus dosa, jadi sama sekali tak berniat melarikan diri, lagi pula selama berada dalam penjara, dia pun bisa banyak membantu mereka yang bernasib buruk!"

"Ai, Toako memang terlalu baik...” bisik gadis itu sedih.

"... Kemudian ketika Koan-loya tahu bila Kwan-toako ada di penjara, dia pun mengutus orang untuk mengundangnya keluar, tapi dia tak pernah mau, Li-thayjin pun mengutus orang untuk menghadiahkan baju indah dan hidangan lezat kepadanya, tapi semuanya ditolak mentah-mentah, tampaknya Li-thayjin sempat gusar karena penolakan itu.

Setelah itu beberapa kali dia mengutus orang untuk mengundang Toako, tapi setiap kali juga ditolak. Waktu itu semua orang heran dan bertanya kepadanya, kenapa ia enggan menghadap? Dengari santai Kwan-toako bilang, mereka menghendaki aku menjadi kaki tangannya, betul-betul mata anjing kelewat memandang rendah orang lain. Mungkin lama kelamaan Li-thayjin bosan sendiri hingga pada akhirnya jarang mengundang Toako, sementara Kwan-toako pun selalu membela saudara-saudara dalam penjara yang tertindas, siapa tahu...”

Tiba-tiba Ting Tong-ih menggenggam tangannya kencang- kencang, Tong Keng berdebar keras, ia merasa tangan gadis itu lembut bagai kapas, tapi kini terasa dingin dan berkeringat.

"Siapa tahu ” Tong Keng gelagapan. "Ooh, Kwan-toako” teriak Ting Tong-ih lirih, kemudian serunya, "lanjutkan ceritamu!"

Setelah menelan air ludah, Tong Keng melanjutkan, "Siapa tahu ... kemudian tampaknya Kwan-toako telah melakukan kesalahan terhadap Siauya dari Li-thayjin, sepertinya ... sepertinya dia enggan membantu Li Wan-tiong mengerjakan sesuatu ... maka secara diam-diam Li Wan-tiong memerintahkan kepala sipir Liong untuk mencampuri obat pemabuk ke dalam makanannya, ketika Kwan-toako tak sadarkan diri, mereka pun mengebirinya serta mencabuti otot kedua belah kakinya”

"Ooh, Toako, rupanya kami datang terlambat, rupanya kami datang terlambat!" keluh Ting Tong-ih sedih.

"Dan kejadian seterusnya ... kau sudah menyaksikan sendiri bukan?"

Ting Tong-ih tertawa pedih. "Kami sengaja mengutus orang untuk melakukan kekacauan di gedung Li Ok-lay, tujuannya tak lain adalah untuk memancing kedatangan Ni Jian-ciu ke situ hingga kami punya peluang menolong Toako dengan sepenuh tenaga, siapa tahu...” 

Bicara sampai di sini nona itu sesenggukan dan tidak melanjutkan kembali perkataannya.

Waktu itu suasana di dalam kamar telah berubah menjadi gelap gulita hingga susah melihat jari tangan sendiri. Tong Keng hanya merasakan kehadiran Ting Tong-ih dari dengus napasnya yang lembut serta bau harumnya yang semerbak.

Duduk saling berhadapan dalam kegelapan memang seringkah mendatangkan suasana yang menggelitik hati, tiba- tiba Tong Keng berpikir, "Kwan-toako belum lama tertimpa musibah, padahal dia serta enci Ting adalah tuan penolongku, masa baru saja ditinggal mati orang yang dicintainya, sekarang aku malah kesemsem pada gadis pujaannya, tergila- gila pada senyuman serta gerak-geriknya, seakan kecantikan enci Ting jauh lebih penting ketimbang mati hidup Toako."

Berpikir sampai di situ, ingin sekali dia menampar diri sendiri, "Tong Keng, wahai Tong Keng, sebetulnya kau ini manusia atau bukan?"

Tapi ingatan lain kembali melintas, "Aku merindukan dan memikirkan enci Ting dengan tulus hati dan bersungguh- sungguh, pikiran semacam inipun timbul tanpa bisa kucegah, memangnya berpikir pun merupakan dosa? Aku toh tak punya pikiran sesat, apa salahnya mengagumi dirinya? Kenapa aku harus mengendalikan perasaanku sendiri?"

Pikiran semacam ini ibarat baru saja menceburkan diri ke dalam bak air dingin, kemudian berendam dalam air hangat, sebentar dingin sebentar panas, kontan saja membuat pipinya memerah.

Masih untung mereka berada dalam kegelapan sehingga tidak kuatir Ting Tong-ih menyaksikan perubahan pipinya.

Tapi apa yang sedang dilakukan Ting Tong-ih di balik kegelapan? Apakah dia sedang melelehkan air mata? Atau terjerumus dalam lamunannya? Tong Keng ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Padahal Ting Tong-ih tidak sedang memikirkan apa-apa. Sehabis mendengar kisah yang menimpa Kwan Hui-tok, dia seolah-olah sudah menganggap dirinya mati, menjadi seseorang yang sama sekali tak ada hubungannya dengan peristiwa itu, seperti sedang melihat orang lain sedang mendandani tubuhnya, memasang hio, bersembahyang, Jibok, memaku peti matinya ... dia sama sekali tak bergeming.

Beberapa kali dia ingin bangkit berdiri untuk menyulut lentera, namun niat itu tak pernah dilakukan. Dalam suasana seperti ini, dia seakan tak ingin melihat adanya sinar, tak ingin melakukan tindakan atau gerakan apapun. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seseorang berteriak keras dari luar kamar, "Haya, Bo-tan, Lu-thayjin telah datang, kau sedang apa di dalam sana? Cepat pasang lentera dan menyambut kedatangannya."

Sementara Tong Keng bingung dan tak tahu apa yang hendak dilakukan, terdengar Ting Tong-ih telah berkata dengan suara hambar, "Lagi-lagi kedatangan seorang pembesar anjing!"

Dia segera mengambil pematik api dan memasang lentera, cahaya yang terang segera menyinari wajahnya yang cantik, seakan cahaya dari balik lorong yang menyinari sebuah patung bidadari.

"Aku ... apakah aku harus ” Tong Keng tergagap.

"Setelah pembesar anjing itu datang, sekeliling pintu pasti sudah dijaga ketat, sementara bersembunyilah dulu di dalam almari baju, kita bicara lagi sehabis kuusir dia dari sini."

Sebenarnya Tong Keng ingin berkata, "Kau tak usah mengusir tamumu gara-gara aku". Mendadak dia merasa dirinya seperti belum berhak mengucapkan perkataan semacam itu, maka hanya bibirnya yang bergerak dan segera ia menelan kembali ucapannya.

Ting Tong-ih tidak memandang lagi ke arahnya, dia berpaling ke arah lain sambil mengenakan pakaian berwarna biru di tubuhnya yang putih ramping dan sangat indah itu.

Mungkin lantaran dia adalah orang persilatan yang sudah terbiasa bergaul dalam dunia Kangouw, maka tak ada pantangan apapun baginya untuk melakukan segalanya.

Kebetulan waktu itu Tong Keng sedang berpaling memandang ke arahnya, saat itu Ting Tong-ih sedang mengenakan lengan baju kanannya sehingga dengan jelas kelihatan payudara kirinya yang menongol keluar, di bawah cahaya lentera, gumpalan daging itu kelihatan sangat kencang, bulat dan indah.

Untuk sesaat Tong Keng tertegun, segera ia berjalan menuju ke arah kiri, tapi baru beberapa langkah dia berbalik lagi ke arah kanan, gerak-geriknya macam orang kebingungan.

"He, mau apa kau?" Ting Tong-ih segera menegur. "Mencari lemari baru!"

"Itu di sana, bukankah lemari yang besar itu adalah lemari baju?" sahut Ting Tong-ih sambil menuding ke arah samping.

Seakan baru tersadar dari impian, segera Tong Keng berlari menuju ke lemari itu.

Kini Ting Tong-ih baru tersenyum, wajahnya yang memang cantik kelihatan semakin menawan hati.

Dalam pada itu germo yang ada di luar kamar kembali telah berteriak, "Bo-tan, Bo-tan ... cepat buka pintu, jangan bikin

Lu-toaya naik pitam”

Tiba-tiba terdengar suara orang terbatuk-batuk.

Germo memang merupakan jenis manusia yang paling tanggap, begitu mendengar suara batuk, dia pun segera berseru lagi, "Kalau sampai membuat Lu-toaya marah, kau bisa kehilangan rezeki”

Dengan amat santai Ting Tong-ih mengenakan baju birunya, kemudian ia memasang sebatang hio, memejamkan mata dan bersembahyang dulu, kemudian ia tancapkan hio itu ke tempat abu, seketika ruangan pun menjadi harum semerbak. Kemudian ia menuju ke depan cermin, menyisir rambutnya, melukis alis matanya dan berbedak.

"Kalau dia mau pergi, silakan saja pergi," katanya hambar. "Kau ” tampaknya germo itu menjadi panik. Sekali lagi terdengar suara orang berdehem, lalu terdengar seseorang berkata dengan santun, "Tidak mengapa, tidak mengapa, nona Bo-tan tak perlu tergesa-gesa, aku tidak marah, aku tidak marah”

"Lu... Lu-toaya, ternyata kau memang penyabar," terdengar germo itu berkata lagi sambil tertawa, "orang sabar biasanya disukai nona muda”

"Aku tidak perlu marah, juga tak perlu tergesa-gesa, hahaha, kenapa aku mesti tergesa-gesa” terdengar orang itu menyahut sambil tertawa tergelak.

Tong Keng mencoba mengintip dari celah lemari, waktu itu Ting Tong-ih sedang menyisir rambutnya. Entah kenapa begitu menyaksikan gadis cantik yang sedang duduk di bawah lentera itu, bukan saja semua amarahnya langsung hilang, bahkan semua penderitaan dan siksaan yang telah dialaminya selama berada dalam penjara seolah sudah memperoleh imbalan yang setimpal.

Tak lama kemudian terlihat seseorang berjalan masuk ke dalam ruangan didampingi si germo yang penuh senyuman.

Ting Tong-ih segera menyambut kedatangan orang itu sambil memberi hormat, "Lu-thayjin!"

Orang itu berwajah tampan dengan jenggot kuning yang panjang, sahutnya sambil tertawa, "Hahaha, selama berada di sini, tak ada urusan kepangkatan, jadi kau tak perlu menyebutku Thayjin apa segala."

"Tapi kedudukan Lu-thayjin berbeda, Siauli tak berani bertindak tak sopan, apalagi antara lelaki dan wanita ada bedanya. Tadi Thayjin bilang mau menunggu sebentar di luar pintu, kenapa tanpa pemberitahuan kau langsung masuk kemari? Apa maksudmu?"

Lu-thayjin kelihatan agak melengak, tapi belum sempat mengucapkan sesuatu, si germo segera menukas, "Haya, Bo- tan, Bo-tan ... kau ini memang nona yang tak tahu diri, kau salah makan obat rupanya, kenapa hari ini bersikap kurang sopan terhadap Toaloya?"

Segera Lu-thayjin mengulapkan tangannya mencegah si germo menegur Ting Tong-ih, sambil tertawa paksa katanya, "Maaf nona, rupanya memang aku yang bersikap kurang sopan, baik, baik, kalau begitu biar aku menunggu lagi di luar pintu."

Baru akan mengundurkan diri, dengan nada dingin Ting Tong-ih telah menukas, "Tidak perlu!"

Lu-thayjin pun mengedipkan matanya ke arah si germo, tampaknya germo itu memang tahu diri, segera ia mengundurkan diri dari dalam kamar sambil menutup kembali pintu kamar, ketika berada di luar sana, serunya lagi, "Silakan kalian berdua berbincang-bincang, akan kuperintahkan orang untuk menyiapkan arak dan hidangan."

"Hmmm, kau memang selalu mengandalkan manusia macam begini untuk mencari untung!" dengus nona itu dingin.

Sepeninggal sang germo, Lu-thayjin baru memegang bahu Ting Tong-ih dan menegur sambil tertawa, "Nona cantik, siapa sih yang telah membuat kau marah malam ini?"

Ting Tong-ih segera merendahkan bahunya menghindar, dengan begitu pegangan Lu-thayjin pun mengenai tempat kosong.

Perlu diketahui, jabatan Lu-thayjin dalam pemerintahan sangat tinggi, dia memegang kekuasaan yang besar, sedemikian besarnya kekuasaan yang dia miliki, bahkan keluarga Kaisar pun menaruh hormat kepadanya.

Tapi sekarang dia harus terbentur batunya oleh ulah gadis itu, kontan saja hatinya menjadi jengkel, baru akan mengumbar amarahnya, mendadak ia saksikan betapa murung dan sedihnya wajah Ting Tong-ih, setelah tertegun sesaat akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk mengumbar hawa amarah.

Setelah tertawa dingin berulang kali, katanya, "Aku tahu ”

Ting Tong-ih sama sekali tidak menggubris, dia malah duduk membelakangi pembesar itu dengan membiarkan rambutnya yang panjang terurai menutupi bahunya.

Tampaknya Lu-thayjin mulai sewot, mendadak ujarnya, "Bo-tan, jangan kau sangka semua perbuatanmu tidak kuketahui, terus terang selama ini aku hanya tak ingin mengungkapnya secara terbuka."

Ting Tong-ih menggebrak meja dengan keras, sambil bangkit berdiri dan membalikkan badan teriaknya, "Kalau memang kau mengetahui sesuatu, ayo katakan! Memangnya kau anggap aku takut kepadamu."

"Bo-tan," Lu-thayjin kembali memperlunak nada suaranya, "kita sudah berhubungan baik sejak lima tahun lalu, buat apa sih mesti ribut seperti ini?"

Ting Tong-ih membuang muka ke arah lain, sama sekali tidak menggubrisnya.

"Bo-tan!" kembali Lu-thayjin berbisik dengan nada penuh rasa sayang, "hampir setiap jengkal tubuhmu pernah kulihat, hampir setiap inci badanmu pernah kuraba, kenapa kau bersikap begitu kasar kepadaku? Buat apa mesti ribut denganku?"

"Lu-thayjin, jaga ucapanmu! Betul, ketika masih berada di sarang pelacuran kehidupanku sangat mengenaskan, aku memang pernah kau nodai setelah kau cekoki obat pemabuk, yang sudah lewat biarlah lewat, jika kau mengungkitnya lagi sekarang, jangan salahkan kalau segera kuusir kau dari sini."

"Tahukah kau, selama ini wajahmu siang malam terbayang dan kurindukan? Memang aneh, padahal selama ini kau selalu bersikap dingin kepadaku, bukannya aku tak pernah menjumpai gadis secantik dirimu, tapi aku tetap merindukan kau... dulu, seingatku kau tak pernah bersikap begitu kaku dan dingin seperti sekarang, mengapa malam ini kau menampikku? Selalu bersikap ketus kepadaku?"

"Malam ini aku tak senang bertemu denganmu," jawab Ting Tong-ih ketus.

"Kenapa?" Lu-thayjin mulai naik darah.

"Kalau tidak senang ya tidak senang, tak perlu bertanya kenapa."

"Hmmm, aku tahu mengapa kau tidak senang hati” dengus Lu-thayjin jengkel, lalu sepatah demi sepatah terusnya, "kau jengkel karena suami simpananmu yang sudah dikebiri hari ini mampus dijagai orang!"

"Kau...” dingin kaku wajah Ting Tong-ih.

"Kenapa denganku? Kau sangka aku tidak tahu? Hmmm, padahal kau pun tahu kalau kau adalah perempuan murahan, kaulah si perampok wanita Lan-lo-sat (iblis wanita berbaju biru) Ting Tong-ih, jangan sangka setelah aku memanggilmu Bo-tan lantas tidak tahu kalau kaulah si iblis wanita itu!"

Ting Tong-ih balas tertawa dingin. "Bagus, Lu Bun-chang, rupanya kau memang hebat! Mau apa kau sekarang, Lu- thayjin?" jengeknya gusar.

Lantaran malu Lu Bun-chang naik darah, serunya, "Aku selalu merahasiakan identitasmu karena aku ingin memberi kesempatan kepadamu, kesempatan agar kita berdua bisa berhubungan lagi seperti dulu, kau sangka ada orang yang bisa menjamin keselamatanmu? Hmmm, kau kira Li Ok-lay itu manusia macam apa? Orang goblok? Keliru besar! Dia justru sangat teliti dan hebat, pandai melihat situasi, pandai menyelidiki asal-usul orang. Tanpa perlindunganku, kau sangka dirimu masih bisa hidup hingga sekarang? Masa kau masih belum dapat memaklumi pengorbananku selama ini?"

Mula-mula Ting Tong-ih sedikit emosi, tapi dengan cepat ia dapat mengendalikan perasaannya.

"Darimana kau mengetahui semua ini?" tanyanya kemudian.

"Selama Ni Jian-ciu berada di sini, persoalan apa yang bisa mengelabuinya?"

"Ni ... Jian ... Ciu” pekik Ting Tong-ih sepatah demi sepatah, kemudian setelah tertawa pedih lanjurnya, "bila Ni Jian¬ ciu tahu rahasia ini, tak ada alasan bagi Li Ok-lay untuk tidak mengetahuinya."

Memanfaatkan kesempatan itu Lu Bun-chang maju ke depan, sambil menggenggam sepasang tangan gadis itu, katanya, "Kalau bukan lantaran aku, begitu Kwan Hui-tok mati, dia pasti sudah mengirim pasukan mengepung Kiok- hong-wan serta mengobrak-abrik kantor cabang perkumpulanmu ini!"

"Lalu mau apa kau datang kemari?" tanya Ting Tong-ih sambil tertawa ewa.

"Tentu saja datang untuk melindungi keselamatanmu," seru Lu Bun-chang jengkel.

"Terima kasih banyak atas perhatianmu, Lu-thayjin" kata Ting Tong-ih sambil menarik kembali tangannya, "sekarang kau sudah melindungi aku, jadi silakan pulang."

"Apa maksudmu?" tanya Lu Bun-chang gelisah. "Aku tidak bermaksud apa-apa."

"Kenapa kau begitu goblok? Apa untungnya berkorban demi Kwan Hui-tok yang sudah mampus?" Ting Tong-ih tertawa dingin. "Heran, bila kau memang orang baik, sudah seharusnya kau selamatkan jiwa Kwan-toako, bila kau menginginkan diriku, tidak seharusnya kau suruh orang membunuh Kwan- toako...”

"Tapi Kwan ... Kwan Hui-tok kelewat takabur, tindak-tanduk dan sepak terjangnya dalam penjara sudah keterlaluan, mana mungkin aku dapat melindungi jiwanya?"

"Tentu saja kau tak dapat melindunginya karena kau memang tak bermaksud melakukan hal itu, hmmm, sekarang dia sudah mati, aku pun sudah siap menyusulnya!"

"Buat apa kau berbuat bodoh?" Lu Bun-chang berusaha mengendalikan hawa amarahnya, "kau adalah kau, dan dia adalah dia, lagi pula lelaki yang kau miliki toh bukan cuma dia seorang, buat apa kau mesti mengorbankan diri? Sudah sekian lama kau hidup dalam keadaan begini, kenapa hanya gara- gara emosi sesaat ”

"Bukan karena emosi sesaat, mengerti kau?" tukas gadis itu.

Lu bun-chang sudah tak mampu mengendalikan diri lagi, segera teriaknya, "Kau sangka apa yang tidak kupahami?

Semua yang kau katakan sangat kupahami."

Tiba-tiba Ting Tong-ih mempertinggi nada suaranya, dengan wajah memerah teriaknya, "Betul, dia memang bukan hanya memiliki seorang wanita seperti aku dan aku pun bukan hanya memiliki seorang lelaki seperti dia, tapi setelah dia mati, aku pun tak ingin hidup, bila aku mati, dia pun tak akan hidup dengan hati senang”

Bagaikan seekor kucing betina yang sedang marah, teriaknya lagi, "Kau sudah mengerti belum? Kalau tidak mengerti, cepat enyah dari sini!"

Dada Lu Bun-chang naik turun menahan emosi, untuk sesaat dia tak tahu apa yang mesti dikatakan, tangannya gemetar, tubuhnya ikut gemetar, hawa amarahnya telah memuncak.

Pada saat itulah terdengar pintu kamar diketuk orang, kemudian terdengar si germo berseru dari luar, "Lu-thayjin, arak dan hidangan telah datang!"

Lu bun-chang sama sekali tidak menggubris, mendadak katanya kepada gadis itu, "Tahukah kau, siapa yang telah dikirim kemari gara-gara kasus ini?"

"Hmmm, aku hanya bisa menengok dari tempat ini, yang kulihat hanya sekelompok gagak yang terbang bergerombol, kelihatannya seperti sedang menyambut kedatangan tuan perdana menteri!"

"Betul, yang datang memang seorang tokoh penting," seru Lu Bun-chang sambil menatapnya tajam, "dia adalah Raja opas Li Hian-ih."

Berkilat sepasang mata Ting Tong-ih setelah mendengar nama itu, seakan seekor kucing yang tiba-tiba bertemu musuh tangguh.

Setelah berhenti sejenak, kembali Lu Bun-chang melanjutkan, "Raja opas memang sengaja diutus kemari untuk menangkap kalian pembunuh keji beserta begundalnya!"

Kemudian sambil mengelus jenggotnya ia menambahkan, "Setelah kedatangan Raja opas, tak lama kemudian empat opas yang paling kenamaan pun akan segera tiba di sini.

Hmmm, tunggu saja kedatangan mereka, biar ada sepuluh orang Kwan Hui-tok juga jangan harap bisa meloloskan diri, terlebih gadis macam kau!"

ooOOOoo
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Misteri Lukisan Tengkorak Bab 07 : Antara Lelaki dan Wanita"

Post a Comment

close