Misteri Lukisan Tengkorak Bab 06 : Kejadian Masa Lalu

Mode Malam
6. Kejadian Masa Lalu. 

Tong Keng dan Kho Kit yang melayang masuk ke dalam halaman gedung, segera mereka sudah berada di kebun belakang bangunan itu, di sana selain terdapat aneka bunga dan gunung-gunungan, juga terlihat gardu yang indah.

Saat itu Ting Tong-ih dan si kakek sudah berlarian ke muka dan menyusup masuk ke balik gerombolan pepohonan di belakang gunung-gunungan.

Sementara Tong Keng dan Kho Kit masih termangu, terdengar seseorang berseru, "He, cepat kemari, cepat kemari!"

Terlihat seseorang berdandan pelayan sedang menggapai ke arah mereka sambil memberi tanda agar menyelinap ke balik pepohonan yang rimbun.

Tanpa membuang waktu lagi. Tong Keng dan Kho Kit segera menyusul di belakangnya, tak lama kemudian mereka sudah tiba di depan sebuah pintu berbentuk setengah rembulan, di luar pintu sudah siap empat orang lelaki kekar yang menggotong dua buah tandu besar dan lebar.

Terdengar Ting Tong-ih berseru dari balik tandu pertama, "Cepat, naik ke dalam!"

Kho Kit menyahut, bersama Tong Keng mereka segera menyusup ke dalam tandu yang satunya lagi, mereka berdua duduk saling berhimpitan, sedemikian rapatnya sehingga masing-masing dapat mendengar dengus napas rekannya.

Begitu mereka berdua masuk ke dalam, tandu-tandu itupun segera digotong orang dan mulai bergerak meninggalkan tempat itu.

Dari dalam tandu mereka dapat mendengar suara gaduh yang berasal dari luar sana, ada suara langkah manusia, suara derap kaki kuda, ada suara bentakan, ada suara orang berteriak sambil menyembunyikan diri, bahkan terdengar juga suara jeritan dan tangisan anak kecil.

Tiba-tiba laju tandu itu terhenti.

Dari luar sana segera terdengar suara seseorang menghardik keras, "He, siapa yang berada di dalam tandu? Ayo lekas buka, kami akan memeriksa!"

Seseorang segera menyahut dengan suara mendongkol, "Eh, memangnya kau tak bisa mengenali tandu ini berasal dari Kiok-hong-wan (Halaman seruni merah)? Tentu saja yang berada dalam tandu adalah para nona. Hehehe...”

Orang yang menghardik tadi segera berganti nada suaranya, dengan suara agak cabul bisiknya, "He, siapa saja yang ada di dalam?"

"Kami sedang membawa nona Bo-tan," sahut penggotong tandu itu cepat.

Tampaknya si penghadang terperanjat, lekas serunya, "Eh, kami tak tahu kalau tandu nona Bo-tan, maaf, maaf, silakan lewat, silakan lewat!"

Sambil berkata mereka segera menyingkir ke samping dan membiarkan kedua tandu itu lewat.

Tong Keng seperti orang bodoh, dia hanya termangu mengikuti semua pembicaraan itu tanpa mengerti apa sebenarnya yang telah terjadi. Lamat-lamat dia hanya mendengar dua orang penjaga yang ada di belakang sedang berbisik-bisik, "Ternyata nona Bo-tan, konon dia ... dia sangat akrab hubungannya dengan Lu-thayjin kita”

"Ssttt, jangan keras-keras kalau bicara, kau tahu bagaimana Lu-thayjin menghajar orang yang tak disukainya!"

Ketika Tong Keng mengintip dari balik tirai bambu, dia lihat prajurit yang bicara pertama tadi sedang menjulurkan lidahnya dan tak berani sembarangan bicara lagi. Tandu pun melanjutkan perjalanannya dan semakin jauh meninggalkan kawanan prajurit di belakang, akhirnya tibalah mereka di depan sebuah gedung bangunan yang sangat megah dan indah, pintu depan bangunan penuh dengan hiasan lentera, irama musik bergema lamat-lamat, suasana di tempat itu terasa lain daripada yang lain.

Walaupun Tong Keng selama ini selalu tinggal di dalam kota Song-si-tin, namun dia pun pernah menyaksikan sarang pelacur yang paling tersohor di karesidenan Cing-thian-sian ini, Kiok-hong-wan.

Mimpi pun dia tak menyangka baru saja kaki depannya melangkah keluar dari pintu penjara, kaki belakangnya sudah melangkah masuk ke sarang pelacuran.

Kedua tandu itu langsung digotong masuk ke dalam halaman gedung Kiok-hong-wan, ternyata sang germo maupun para pelayan rumah pelacur tak ada yang menghalangi.

Kedua buah tandu itu langsung digotong naik ke atas loteng hingga mencapai beranda bangunan lantai tiga, meskipun harus melalui jalanan yang naik, ternyata para penggotong tandu itu sama sekali tak terengah napasnya, wajah pun tak ada yang berubah menjadi merah, jelas mereka merupakan kawanan jago yang memiliki tenaga dalam cukup sempurna.

Sekilas Tong Keng dapat menebak apa yang sebenarnya telah terjadi, tampaknya kawanan manusia- ini berasal dari sebuah organisasi atau perkumpulan, biasanya mereka mempunyai pekerjaan yang berbeda, ada yang menjadi pedagang kaki lima, ada yang menjadi kuli, ada pula yang menjadi wanita panggilan.

Kali ini mereka bergabung menjadi satu karena berniat menyelamatkan Kwan-toako dari sekapan penjara, siapa tahu gara-gara berbelas kasihan, Kwan-toako harus mengalami nasib tragis di tangan manusia laknat.

Berpikir sampai di sini, tak kuasa lagi Tong Keng merasakan hawa amarahnya kembali meluap.

Kawanan pejabat anjing itu betul-betul biadab! Kawanan opas pun hanya penegak hukum yang pandai menindas kaum lemah! Mereka tidak pantas dan tak berhak menjalankan hukum negara!

Setibanya di beranda, kedua tandu itupun mulai berpisah, tandu yang berisi Ting Tong-ih berbelok ke sisi timur, dimana terdapat ruangan yang indah, megah dan berbau harum, sementara tandu yang berisi Tong Keng serta Kho Kit berbelok ke arah barat, dimana terdapat beberapa buah bilik kecil yang sederhana tapi sangat bersih.

Tandu itu langsung digotong masuk ke dalam kamar.

Setibanya di dalam kamar, Kho Kit menganggukkan kepala pada Tong Keng, kemudian ia melompat keluar dari dalam tandu.

Terlihat kedua orang lelaki penggotong tandu itu dengan wajah gelisah dan suara agak sesenggukan berbisik, "Benarkah ... Kwan-toako... dia...”

Dengan sedih Kho Kit menggelengkan kepalanya berulang kali, "Toako, dia ... dia sudah dibokong oleh bajingan laknat”

Seorang lelaki di antaranya dengan wajah sedih sambil menahan sesenggukan mendadak mencabut keluar goloknya, kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun berjalan keluar kamar.

Rekannya, seorang lelaki bercambang segera menarik tangannya sembari menghardik, "Mau apa kau?"

Sambil mengertak gigi menahan rasa benci, sahut lelaki yang pertama, "Malam nanti, pejabat anjing she Li itu bakal kemari mencari kesenangan, dia telah mencelakai Toako, aku akan menghadiahkan sebuah bacokan kepadanya!"

"Lo-liok, kau bukannya tidak tahu sampai dimana keampuhan ilmu silat yang dimiliki Li Ok-lay, Toako sendiri masih bukan tandingannya, jika kau melakukan perbuatan secara gegabah, bukan saja tak ada keuntungan yang bisa diraih, perbuatanmu justru bisa mencelakai banyak orang," hardik lelaki bercambang itu dengan wajah serius.

Orang yang disebut Lo-liok kontan tertawa dingin. "Lo-pat, jika merasa tak punya nyali, kau tak usah ikut!" jengeknya.

"Liok-ko, kau tak boleh sembarangan bertindak," lekas Kho Kit mencegah, "selama tak ada Toako, kita semua harus mentaati perintah enci Ting, apakah kau ingin melanggar peraturan perkumpulan? Malam nanti, yang akan datang kemari mencari kesenangan adalah anjing pejabat she Lu, Li Ok-lay sendiri belum tentu datang, bagaimana caramu turun tangan?"

Selesai mendengar perkataan itu, Lo-liok segera menundukkan kepala dengan mulut membungkam.

Kembali terdengar Kho Kit berkata, "Saudara ini adalah si nyali macan kumbang Tong Keng, dia adalah saudara senasib Toako semasa berada dalam penjara."

Tong Keng segera memberi hormat kepada kedua orang lelaki itu seraya berkata, "Terima kasih banyak atas budi pertolongan saudara berdua."

Begitu tahu Tong Keng adalah kawan senasib Kwan Hui-tok selama berada dalam penjara, sikap kedua orang itu segera berubah menjadi lebih hormat.

Sambil menjura ujar Lo-pat, "Aku she Ji, kau boleh memanggil aku Ji Lo-pat!"

Sementara Lo-liok juga berkata, "Saudara Tong, harap kau jangan menertawakan aku karena barusan kelewat emosi. Aku dari marga Ban, kau pun boleh memanggil aku sebagai Ban Lo-liok!"

"Engkoh berdua berjiwa ksatria dan amat setia kawan, sudah sewajarnya bila merasa sedih dan murka karena kematian Kwan-toako, aku orang she Tong hanya merasa semakin kagum atas kesetia kawanan kalian berdua, mana berani menertawakan," jawab Tong Keng cepat.

Sementara itu muncul dua orang dayang sambil membawa baskom berisi air, di ruang dalam mereka pun telah menyiapkan air panas, di dalam air dicampuri sedikit minyak wangi dan mempersilakan Tong Keng sekalian membersihkan badan.

Kelihatannya Ji Lo-pat dan Ban Lo-liok tidak terbiasa dilayani orang, lekas mereka berseru, "Lebih baik kami mandi sendiri di belakang sana."

Sambil berkata mereka segera meninggalkan ruangan itu dan meninggalkan Tong Keng berdua.

Waktu itu kedua orang dayang tadi sudah menghampiri Tong Keng dan membantunya melepaskan pakaian, lelaki ini menjadi kikuk, kelihatannya dia pun tidak biasa mandi dilayani orang, tapi untuk sesaat dia pun tak tahu apa yang harus diperbuat sehingga gerak-geriknya menjadi salah tingkah.

Menyaksikan hal itu, sambil tertawa Kho Kit segera berseru, "Lebih baik kalian keluar dulu!"

Kedua orang dayang itupun segera minta diri dan keluar ruangan.

Sepeninggal kedua orang dayang itu, Kho Kit baru memberi tanda kepada Tong Keng agar membersihkan badan.

Dengan cepat Tong Keng membersihkan badan dengan merendam diri dalam bak air, dia seakan ingin membersihkan seluruh kotoran yang menempel di tubuhnya selama berada dalam penjara. "Sebenarnya pelanggaran apa yang telah kau perbuatan hingga dijebloskan ke dalam penjara?" tanya Kho Kit kemudian, "beruntung kau bisa lolos dalam waktu singkat!"

Tong Keng tidak menjawab, dia hanya menghela napas panjang.

Melihat itu lekas Kho Kit bertanya, "Kenapa? Apakah aku salah bicara?"

"Tidak, saudara Kho tidak salah bicara," kembali Tong Keng menghela napas, "seandainya tak ada kalian yang telah menyelamatkan diriku, aku benar-benar tak tahu sampai kapan baru bisa menghirup udara bebas."

"Nah itulah dia, semestinya saudara Tong menanggapi kebebasan ini dengan gembira, mengapa kau malah menghela napas sedih?"

"Aku memang berhasil lolos, tapi rekan-rekan senasib yang ditangkap bersamaku dan dijebloskan ke penjara tanpa bersalah, ada yang sudah tewas secara mengenaskan, ada pula yang masih mendekam di sana”

Kho Kit termenung berpikir sejenak, kemudian sambil menepuk bahu Tong Keng, hiburnya, "Siapa tahu suatu hari nanti, ketika kita memiliki kekuatan yang cukup, kita dapat menegakkan kembali keadilan dan kebenaran dengan membebaskan kawan-kawanmu itu."

Tong Keng hanya tertawa getir, begitu banyak manusia yang disekap dalam penjara, dia sendiri pun tidak tahu mana yang benar-benar bersalah dan mana yang tidak bersalah, kendatipun mereka berhasil mendobrak penjara, apa yang bisa diperbuat dan bagaimana harus memilah?

Akhirnya sambil menepuk pula bahu Kho Kit, dia berkata, "Tempat kalian ini adalah...”

"Sarang pelacuran” jawab Kho Kit sambil tertawa. "Jadi kalian...”

"Pelayan kebersihan dalam rumah pelacuran ini!" jawab Kho Kit cepat.

Ketika melihat Tong Keng agak tertegun, sambil tertawa dia melanjutkan, "Sebenarnya tempat ini adalah markas sebuah perkumpulan, ada yang menyamar menjadi tukang tandu, ada yang menjadi tukang sapu, ada pula yang membaur dalam rumah pelacuran. Kami semua memang sengaja membaur dalam kehidupan masyarakat dengan tujuan agar bisa menyumbangkan sedikit tenaga untuk rakyat kecil yang tertindas, apalagi hidup di zaman edan seperti saat ini ... organisasi kami bernama Bu-su-bun (perguruan tanpa guru), sebab mereka semua tidak memiliki guru, yang dimiliki hanya seorang Toako yakni Kwan Hui-tok, Kwan-toako”

"Jadi hubunganmu dengan mereka ” tanya Tong Keng.

Kho Kit segera tertawa lebar. "Aku sendiri belum lama bergabung dengan Bu-su-bun, itupun berkat bimbingan Kwan- toako."

"Ooh, Kwan-toako pasti sangat baik terhadap kalian semua?"

"Bukan cuma sangat baik. Dari cerita saudara-saudara yang lain, konon seandainya tak ada Toako dan enci Ting, mungkin sejak lama mereka sudah mati disiksa kawanan pejabat korup itu, apalagi bisa belajar sedikit kepandaian."

"Lalu enci Ting itu ” tak tahan Tong Keng bertanya.

"Maksudmu Ting Tong-ih, enci Ting? Jangan kuatir, meski enci Ting adalah seorang wanita, namun dia lebih teguh dan ulet ketimbang lelaki, tak mungkin ada apa-apa dengan dirinya."

Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya, "Aku akan keluar sebentar untuk bebenah, lebih baik kau jangan sembarangan pergi, tempat ini penuh dengan aneka macam manusia, jadi hindari kesulitan yang tak perlu."

Tong Keng manggut-manggut dan Kho Kit pun pergi meninggalkan tempat itu.

Selesai membersihkan badan dan berganti pakaian, Tong Keng berdiri di tepi pagar loteng sambil menengok ke bawah, terasa angin berhembus semilir, matahari senja telah condong ke barat, pemandangan di sekitar situ terasa sangat indah dan nyawan.

Dari kejauhan dia pun dapat menyaksikan pintu gerbang kota yang dijaga sangat ketat, sedemikian kuatnya penjagaan di situ seakan mereka sedang bersiap menghadapi sebuah pertempuran besar.

Tong Keng sangat masgul, sementara pikirannya masih dicekam kekesalan, tiba-tiba dari arah pintu kamar terdengar suara desingan lirih, lekas ia berpaling, sekilas dia merasa seakan ada sebuah benda melintas.

Tong Keng mengira matanya sudah lamur hingga salah melihat, tapi dia pun merasa seakan benar-benar ada seseorang yang melintas dari tempat itu.

Tong Keng tertegun. Dari bawah loteng suara musik dan gelak tawa orang masih terdengar lamat-lamat.

Tiba-tiba satu ingatan melintas, ternyata selama ini kawanan jago gagah itu berdiam di dalam gedung yang penuh dengan aneka ragam manusia, tapi mereka masih bisa mempertahankan kebersihan hatinya, jelas hal ini bukan sesuatu yang mudah dilakukan.

Tapi dia sangat yakin kalau barusan telah menyaksikan ada seseorang melintas di depan kamarnya.

"Aneh benar," demikian ia berpikir, "sudah jelas ada orang lewat di depan kamarku, kenapa tak nampak ada manusia di situ?" Pikir punya pikir, akhirnya tak tahan dia menengok keluar kamar.

Benar saja, di situ tak ada seorang manusia pun.

Ketika menengok keluar, dia pun menyaksikan ruangan megah yang berada di bangunan sayap timur.

Sewaktu Tong Keng balik lagi ke kamar, cahaya matahari senja persis memancar ke dalam kamarnya dan menyinari selembar lukisan kuno yang menempel di atas dinding ruangannya.

Tiba-tiba ia teringat kepada Ting Tong-ih, Ting Tong-ih dengan mantel ungunya seolah berdiri lesu di hadapannya. Lekas Tong Keng mengucek matanya berulang kali, ternyata dia sedang melamun.

Diam-diam Tong Keng merasa heran, setiap kali membayangkan Ting Tong-ih, dia seolah tak tahan untuk mengendalikan diri dan ingin sekali membayangkan wajahnya terus-menerus.

Kecantikan Ting Tong-ih ibarat sekuntum bunga botan biru yang mekar di malam hari, dia pun bagaikan asap dupa wangi yang melayang tak menentu di udara. Sebenarnya hubungan apa yang terjalin antara gadis itu dengan Kwan-toako? Kini Kwan-toako sudah tewas, dia pasti amat bersedih, apa yang sedang ia lakukan sekarang? Dimanakah dia saat ini?

Ketika membayangkan sampai di sini, tak kuasa lagi Tong Keng mengayunkan langkahnya mendekati ruangan kamar di sebelah timur beranda.

Tong Keng sudah melewati tiga empat buah bilik, dari balik ruangan ia mendengar suara irama musik, suara orang tertawa, rayuan gombal dan desisan menggoda, kesemuanya itu membuat jantungnya berdebar keras. Ia tak tahu ruangan mana yang di tempati Ting Tong-ih. Sementara hatinya masih ragu, tiba-tiba terdengar sebuah pintu kamar dibuka orang.

Tong Keng merasa kurang baik bila disaat seperti ini kehadirannya diketahui orang, dengan perasaan gugup ia segera menempelkan punggungnya di dekat sebuah pintu.

Entah karena gugup atau karena menggunakan tenaga kelewat besar, tiba-tiba pintu yang menempel punggungnya terbuka dan tak ampun tubuhnya pun jatuh telentang ke dalam ruangan.

Begitu roboh terjungkal ke dalam kamar, Tong Keng sendiri pun merasa sangat kaget, la lihat kamar itu sangat inilah dengan perabot yang mewah dan bau harum semerbak yang menyegarkan hati, jelas kamar tidur seorang nona.

Sebenarnya dia ingin segera meninggalkan ruangan ilu, tapi baru saja akan melangkah keluar, mendadak terdengar suara dayang sedang membuka pintu di kamar seberang, terpaksa dia mengurungkan niatnya dan mundur kembali ke dalam.

Selang beberapa saat, dayang itu sudah berlalu, kembali Tong Keng bersiap meninggalkan ruangan, tiba-tiba ia mendengar suara isak tangis seseorang yang amat lirih berkumandang dari dalam kamar.

Suara isak tangis itu seakan sangat dikenal olehnya tapi juga terasa asing, digoda oleh rasa ingin tahu yang besar akhirnya dia melangkah masuk ke ruang dalam.

Bentuk ruangan itu aneh sekali, semakin berjalan ke dalam ternyata ruangannya semakin lebar, di belakang sebuah- sekat berwarna hitam berlapis pula sebuah tirai kain.

Tong Keng merasa kurang baik mengintip urusan pribadi orang lain, sebenarnya dia ingin berdehem untuk memberi tanda, tapi sebelum sempat dilakukan terdengar suara isak tangis itu semakin memilukan hati, disela isak tangisnya yang menusuk perasaan terdengar perempuan itu berseru, "Kwan- toako, kau telah mati, bagaimana mungkin aku bisa hidup sendirian? Kau sudah mati dan kini bisa pergi kemana pun secara bebas, sedang aku? Bukankah kau pernah berjanji, siapa pun di antara kita berdua tak boleh mati duluan ...?"

Hati Tong Keng bergetar keras, itulah suara Ting Tong-ih.

Terdengar Ting Tong-ih kembali berseru sambil menangis, "... kau tinggalkan permainan yang tersisa kepadaku, ini tidak adil namanya, aku tak mau mengurusinya lagi, kalau kau hidup, aku akan membantumu mengurusinya, kini kau telah mati, buat apa aku mesti bersusah payah? Kau seringkali berharap semua saudara bisa hidup lebih layak, lebih manusiawi, tapi kau ... kenapa kau harus mati? Kini kau sudah pergi, aku... aku pun ingin pergi bersamamu, Toako ... tunggulah aku ... tunggulah kedatanganku”

Ucapan itu begitu tegas dan bersungguh-sungguh, seakan gadis itu segera akan mengambil jalan pendek.

Tak terlukiskan rasa kaget Tong Keng setelah mendengar perkataan itu, tanpa berpikir panjang lagi segera ia menerjang masuk ke dalam ruangan.

Begitu masuk ke dalam kamar, ia saksikan Ting Tong-ih dengan memegang sebilah gunting tajam sedang mengarahkan ke tenggorokan sendiri.

"Nona Ting, jangan kau lakukan” teriak Tong Keng keras.

Karena terlalu keras dia menerjang masuk, tirai kain yang tergantung di situ segera melilit kepala berikut tubuhnya, padahal waktu itu dia sedang menerjang masuk dengan cepat, maka tak ampun lagi kain tirai itu tertarik hingga robek sebagian.

Tubuh dan tangan Tong Keng yang masih terbalut kain tirai menerjang ke hadapan Ting Tong-ih, untuk sesaat dia tak mampu merampas gunting yang berada di tangan gadis itu. Tampak Ting Tong-ih mengenakan pakaian dalam berwarna putih, rambutnya yang panjang terurai di bahu, walaupun sorot matanya memancarkan hawa amarah namun sikapnya tetap tenang dan hambar.

Menyaksikan kecantikan wajah si nona, sesaat Tong Keng agak tertegun, tapi kemudian serunya cepat, "Kau tak boleh mati, kau tak boleh mati, nona Ting”

Sambil berseru dia meronta sepenuh tenaga, dengan tenaga kasarnya yang besar bagai kerbau, rontaan itu seketika membuat kain tirai tercabik-cabik, tapi cabikan kain tirai justru menutupi kepala dan menyumbat mulutnya, membuat lelaki itu untuk sesaat tak mampu bicara.

Dengan susah payah akhirnya dia berhasil juga melepaskan diri dari jeratan kain tirai, baru akan berbicara, Ting Tong-ih sudah tak tahan lagi dan tertawa cekikikan.

Begitu dia tertawa, semua kepedihan yang menempel di wajahnya pun ikut sirna.

Menyaksikan wajahnya yang cantik, bibirnya yang merah dan mungil, kulit badannya yang putih bersih serta sepasang matanya yang jeli, sesaat Tong Keng berdiri termangu, dia menjadi lupa bahwa kain tirai masih membelenggu badannya.

"Mau apa kau datang kemari?" dengan wajah dingin Ting Tong-ih segera menegur.

"Bukankah kau ingin bunuh diri... ?" Tong Keng balik bertanya dengan wajah tertegun.

Ting Tong-ih kembali tak kuasa menahan rasa gelinya, sambil menggigit bibir serunya, "Ayo, cepat keluar!"

Dalam keadaan mengenaskan Tong Keng keluar dari lilitan kain tirai, serunya, "Maaf, tadi aku sangka kau...”

Sambil berkata dia langsung berjalan keluar dari kamar itu. "Tunggu sebentar," sekonyong-konyong Ting Tong-ih memanggilnya, "katakan, sejak kapan kau berkenalan dengan Kwan-toako? Dia... apakah kehidupannya di dalam sana cukup baik?"

Tong Keng kembali berpaling, dia tak tahu apakah sepasang mata Ting Tong-ih sedang berkaca-kaca oleh air mata atau tidak, tapi segera sahutnya, "Sejak kedatangan Kwan-toako di dalam penjara, bagi kami yang berada di dalam serasa kedatangan seorang bintang penolong, tahukah kau, dulu kepala sipir penjara maupun anak buahnya suka berbuat semaunya, apa yang ingin mereka lakukan segera dilakukan terhadap kami, suatu kali kepala sipir menggunakan alat siksaan yang paling kejam untuk mencabuti kuku jari Su-loya, tapi Toako segera mendobrak pintu penjara dan menyerbu ke arena penyiksaan, tahukah kau apa yang dia lakukan ... ?"

"Apa yang ia lakukan?" tanya Ting Tong-ih dengan mata berbinar.

Sambil menepuk paha sendiri dan tertawa tergelak Tong Keng melanjutkan ceritanya, "Dalam dua tiga kali tendangan Toako telah menghajar bajingan itu hingga darah bercucuran, kemudian dengan menggunakan alat siksa pencabut kuku itu dia mencabuti gigi para sipir hingga ompong semua! Selesai melakukan tindakan itu, coba terka apa yang dikatakan Toako? Toako bilang mereka senang menyiksa orang lain, selalu menyiksa orang sebagai bahan hiburan, kali ini biar mereka rasakan sendiri bagaimana nikmatnya disiksa orang! Toako mengucapkan perkataan itu dengan tenaga dalamnya, maka semua saudara yang berada dalam penjara dapat mendengarnya, maka tempik-sorak pun gegap gempita!"

"Bagus!" tanpa terasa Ting Tong-ih ikut bersorak.

Melihat Ting Tong-ih amat gembira, maka Tong Keng pun segera mengisahkan kembali semua kejadian lama yang pernah dilakukan Kwan Hui-tok semasa berada di dalam penjara. Setiap kali menceritakan sepak terjang Kwan Hui-tok, dia selalu menyebutnya sebagai Toako, seolah dia benar-benar telah menjadi salah satu saudara senasib seperjuangannya, begitu bersemangat ia berkisah hingga lupa diri.

Ting Tong-ih hanya mendengarkan dengan seksama, terkadang ia tertawa, terkadang melelehkan air mata.

Begitu asyik mereka, seakan dunia menjadi milik mereka berdua, kisah kepahlawanan sang jagoan memang selalu cemerlang, secemerlang sinar rembulan di angkasa.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Misteri Lukisan Tengkorak Bab 06 : Kejadian Masa Lalu"

Post a Comment

close